• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

73

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Permasalahan

Dengan ketatnya persaingan industri pembelajaran online, BINUS Center memiliki strategi jangka panjang untuk mengembangkan bisnisnya, tidak hanya bergerak di industri pendidikan yang berbasiskan IT, namun juga di dunia pendidikan secara umum, bahkan mencakup bahasa, kesehatan dan kuliner. Strategi jangka panjang ini juga mencakup membuka kelas sesuai dengan minat pangsa pasar.

Strategi ini tentunya memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah tidak tersedianya fleksibilitas waktu bagi para siswa untuk mengikuti kelas yang diminatinya. BINUS Center ditantang untuk dapat menyediakan kelas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswanya, terutama dalam hal waktu.

Untuk membantu menyelaraskan strategi bisnis BINUS Center, dapat dilakukan analisis melalui beberapa tahapan awal sebagai berikut:

1. Analisis lingkungan internal bisnis BINUS Center. 2. Analisis lingkungan eksternal bisnis BINUS Center. 3. Analisis lingkungan internal IS/IT BINUS Center. 4. Analisis lingkungan eksternal IS/IT BINUS Center.

Setelah melakukan tahapan-tahapan tersebut, BINUS Center diharapkan mampu membuat strateginya semakin kuat dan tanggap dalam menjawab

(2)

tantangan pasar yang semakin demanding, serta mampu mengembangkan pangsa pasar bisnisnya.

4.1.1 Analisis Internal Bisnis BINUS Center

Analisis yang dilakukan pada lingkungan internal bisnis BINUS Center merupakan analisis terhadap faktor-faktor yang berasal dari sisi internal yang dapat mempengaruhi kegiatan bisnis BINUS Center. Faktor-faktor tersebut dapat berupa kekuatan internal BINUS Center yang apabila dilakukan analisis secara mendalam dapat menjadi sebuah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh BINUS Center atau dapat berupa kelemahan internal yang harus segera diperbaiki agar tidak menjadi ancaman bagi kelangsungan bisnis BINUS Center. Analisis lingkungan bisnis internal BINUS Center dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats).

4.1.1.1 Analisis SWOT

Analisis SWOT dilakukan untuk membandingkan faktor internal dan eksternal dari BINUS Center. SWOT bertujuan untuk menyusun dan mendukung strategi bisnis perusahaan. Faktor-faktor yang dibandingkan tersebut terlebih dahulu diidentifikasi secara mendalam berdasarkan Strength (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), Threats (ancaman).

Berikut adalah uraian mengenai faktor kekuatan (Strength = S) dan faktor kelemahan (Weaknesses = W).

(3)

Tabel 4.1 Evaluasi Lingkungan Internal BINUS Center

No Faktor Strategi Internal

S-1 BINUS Center merupakan bagian dari BINUS Group S-2 Infrastruktur pendukung pembelajaran

S-3 Lokasi yang mudah dijangkau

S-4 Sumber daya manusia yang berkualitas S-5 Kurikulum berbasis kebutuhan industri W-1 Kurikulum yang monoton dan kurang update W-2 Jumlah peserta harus memenuhi kuota kelas

W-3 Kurang memiliki inovasi pada proses belajar mengajar W-4 Waktu training yang tidak fleksibel

Kekuatan (strength)

S-1 : BINUS Center merupakan bagian dari BINUS Group

BINUS Center merupakan salah satu institusi yang berada dibawah payung BINUS Group yang terdiri dari :

 BINUS International School

 BINUS University

BINUS Online Learning

 BINUS International

(4)

 BINUS Graduate Program

 BINUS Square

 BINUS Center

Hal tersebut dapat lebih membuat BINUS Center berinovasi dengan lebih maksimal dengan merealisasikan ide-ide bisnisnya yang dituangkan dalam bentuk produk atau layanan. Hal ini lebih dimungkinkan karena BINUS Center akan secara langsung didukung oleh IT Directorate. BINUS IT Directorate merupakan kekuatan utama dalam menciptakan dan menjalankan tiap-tiap aktivitas akademis pada BINUS Group terutama pada academic support process.

S-2 : Infrastruktur pendukung pembelajaran

Tersedianya infrastruktur yang baik dan solid sebagai pendukung BINUS Center dalam menjalani aktifitas bisnisnya, mulai dari dukungan hardware, software, dan jaringan yang baik, sehingga mampu menunjang peforma BINUS Center dalam industri learning center.

S-3 : Lokasi yang mudah dijangkau

BINUS Center memiliki beberapa cabang di lokasi yang strategis, antara lain di Bintaro, Grogol, Kelapa Gading, Kedoya, Raden Saleh, Syahdan, Gajah Mada dan beberapa lainnya di berbagai kota di Indonesia, yang menjadikannya mudah dijangkau oleh semua orang.

S-4 : Sumber daya manusia yang berkualitas

BINUS Center memiliki karyawan yang mampu mendukung kegiatan operasional sehari-hari. Tenaga pengajar di BINUS Center dipilih dan diseleksi berdasarkan kompetensi dan disesuaikan dengan kurikulum yang

(5)

dimiliki BINUS Center, sehingga proses tansfer ilmu/pengetahuan antara tenaga pengajar dan peserta pelatihan dapat berjalan tanpa hambatan yang berarti.

S-5 : Kurikulum berbasis kebutuhan industri

Kurikulum yang disediakan BINUS Center mencakup pada kebutuhan bisnis yang sedang menjadi tren atau sesuai kebutuhan dari dunia bisnis saat ini. Sehingga siswa BINUS Center dapat dengan mudah mengaplikasikan ilmunya yang didapat semasa pelatihan ke dalam dunia bisnis atau dunia kerja.

Kelemahan (Weakness)

W-1 : Kurikulum yang monoton dan kurang update

Hingga saat ini BINUS Center masih bertahan dengan layanan atau kurikulum yang berhubungan dengan teknologi informasi. Hal tersebut memang dulunya menjadi kelebihan yang dimiliki oleh BINUS Center. Tapi dengan perkembangan yang terus terjadi, hal tersebut tentunya harus mengalami perubahan dan menimbulkan permintaan di pasar. BINUS Center harus mampu mengembangkan layanannya agar tidak hanya bergerak di bidang teknologi informasi sehingga dapat menjawab tantangan ataupun permintaan yang ada.

W-2 : Jumlah kelas harus memenuhi kuota

Di BINUS Center, untuk membuka sebuah kelas, harusnya memenuhi kuota tertentu. Misalnya, jika ada siswa yang ingin mendaftar untuk kelas SAP, maka siswa tersebut harus menunggu BINUS Center untuk

(6)

mengumpulkan minimal 7 peserta lainnya. Barulah kelas SAP tersebut dapat dibuka. Jika kuota tidak terpenuhi, BINUS Center akan menginformasikan penundaan kelas atau bahkan cancellation. Penundaan kelas tersebut bisa saja dalam hitungan hari, minggu, bahkan hitungan bulan. Hal ini sangat merugikan calon siswa yang sudah melakukan pemesanan training dan akhirnya memberikan kekecewaan pada calon siswa tersebut. Dari sisi perusahaan juga mengalami kerugian, yaitu peluang yang terbuang (loss opportunity) yang dihasilkan dari kelas yang diundur dan dibatalkan yang pada akhirnya akan berpengaruh buruk pada sisi finansial.

W-3 : Kurang memiliki inovasi pada proses belajar mengajar

Inovasi terakhir BINUS Center adalah dengan melakukan e-registrasi pada tahun 2001. Inovasi tersebut dulunya memang membuat BINUS Center unggul disaat lembaga learning center lain masih melakukan registrasi secara manual. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, learning center lain juga telah menerapkan hal yang sama, sehingga inovasi BINUS Center tersebut dirasakan kurang besar manfaatnya oleh siswa atau calon siswanya. Inovasi tersebut telah bersifat umum karena telah banyak diadopsi, dan bahkan saat ini menjadi suatu hal yang tidak wajar apabila lembaga tersebut tidak menyediakan proses e-registrasi. Untuk itu, BINUS Center memerlukan suatu inovasi terbaru untuk memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif. Inovasi lainnya yang pernah dilakukan adalah hanya pada bagian finansial dan administratif saja. Tidak adanya

(7)

inovasi pada proses belajar mengajar ini mengakibatkan siswa atau calon siswa tidak bisa memilih alternatif belajar selain belajar tatap muka.

W-4 : Waktu training yang tidak fleksibel

Waktu training pada BINUS Center berdurasi 180 menit atau 3 jam. Waktu training tersebut dibagi menjadi 4 bagian perhari. Sampai saat ini calon siswa tidak dapat memilih waktu yang bebas berdasarkan waktu luangnya, melainkan ketersediaan ruangan, ketersediaan jumlah siswa terbanyak, ketersediaan waktu instruktur. Hal ini sangat merugikan calon siswa atau siswa apabila mereka tidak memiliki waktu luang yang banyak, dan BINUS Center belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut kecuali paket InHouse dengan harga yang sangat tinggi.

Tabel 4.2 Evaluasi Lingkungan Eksternal BINUS Center

No Faktor Strategi Eksternal

O-1 Perkembangan teknologi

O-2 Kebutuhan tenaga profesional bidang IT/IS O-3 Pertumbuhan populasi pelajar

O-4 Online market

T-1 Persaingan industri learning center T-2 Produk pengganti pembelajaran

(8)

Peluang (opportunity)

O-1 : Perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi hingga saat ini sangatlah pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya teknologi–teknologi baru yang ditemukan yang dapat digunakan untuk mempermudah kegiatan bisnis sebuah perusahaan. Hal tersebut membuat peluang BINUS Center untuk melakukan inovasi semakin tinggi karena BINUS Center dapat memanfaatkan teknologi–teknologi baru tersebut untuk meningkatkan serta mengembangkan bisnis sesuai dengan visi misinya.. Sehingga pada akhirnya pangsa pasar yang dimiliki oleh BINUS Center dapat diperluas dengan dikembangkannya produk-produk baru yang diadaptasi dari teknologi yang sedang menjadi tren.

O-2 : Kebutuhan tenaga profesional bidang IT/IS

Kebutuhan akan tenaga profesional di bidang IT/IS yang tidak pernah padam menjadikan BINUS Center merupakan salah satu pilihan untuk mengembangkan skill di area terkait IT/IS. Hal tersebut tentu saja merupakan peluang BINUS Center untuk dapat memasarkan produknya pada segmentasi pasar yang telah ditetapkan, yaitu orang-orang yang ingin bergerak/berkarya di bidang IT/IS.

O-3 : Pertumbuhan populasi pelajar

Sementara ini, pangsa pasar BINUS Center adalah pelajar atau mahasiswa. Tidak hanya berasal dari lingkungan BINUS, tapi juga dari sekolah dan universitas lainnya. Pertumbuhan populasi pelajar dan ingin menuntut ilmu dari berbagai kalangan yang tidak pernah terputus tersebut memberikan peluang yang cukup baik bagi BINUS Center dalam menjalankan bisnisnya.

(9)

O-4 : Online market

Perkembangan teknologi yang pesat telah memaksa pergerakan bisnis ke arah online atau virtual. Hal tersebut dapat menjadi peluang yang cukup baik bagi BINUS Center dengan menyediakan layanan pendidikan yang berbasiskan online learning. Hal tersebut dirasa cukup baik karena BINUS Center dapat menghemat waktu dalam melakukan sosialisasi media online, karena masyarakat sudah mengerti dan teredukasi dengan online technology beserta perangkat-perangkatnya.

Ancaman (threat)

T-1 : Persaingan industri learning center

Industri learning center tidak sulit untuk dimasuki oleh pendatang baru. Ditambah lagi kompetisi dari para pesaing yang telah ada sebelumnya. Mereka menawarkan berbagai kelebihan dan inovasi-inovasi dibidang layanan maupun kurikulum yang mampu menarik minat pelajar. Hal tersebut tentunya memaksa BINUS Center harus lebih baik lagi jika ingin tetap bertahan di industri serupa.

T-2 : Produk pengganti pembelajaran

Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi, terdapat banyak produk pengganti pembelajaran yang dapat menggantikan beberapa bagian pada training center. Contoh, banyaknya sesi belajar sendiri yang didapat dari Internet. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kelangsungan training center akan menjadi dipertanyakan.

(10)

Setelah faktor internal dan eksternal BINUS Center diidentifikasi, selanjutnya dilakukan analisis pembobotan dan pemberian rating, baik dari segi internal (Internal Factor Analysis) dan juga segi eksternal (External Factor Analysis). Pada analisa EFAS dan IFAS tersebut, bobot diperoleh dari hasil analisa seberapa penting pengaruh faktor internal dan eksternal BINUS Center, sedangkan rating diperoleh dari hasil penilaian terhadap faktor-faktor tersebut. Penilaian terhadap bobot dan rating dilakukan bersama dengan Direktur BINUS Center dan 12 pihak management BINUS Center yang mempunyai peranan penting dalam pemilihan keputusan yang tepat dan telah memiliki pengalaman yang banyak di BINUS Center.

Tabel 4.3 Internal Factor Analysis (IFAS)

No Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor

Persen Jumlah

S-1 BINUS Center bagian dari BINUS Group 30% 0.15 4 0.6 S-2 Infrastruktur pendukung pembelajaran 25% 0.125 3 0.375

S-3 Lokasi yang mudah dijangkau 15% 0.075 4 0.3

S-4 Sumber daya manusia yang berkualitas 15% 0.075 3 0.225 S-5 Kurikulum berbasis kebutuhan industri 15% 0.075 4 0.3

Total Strength (kekuatan) 100% 0.5 1.80

W-1 Kurikulum yang monoton dan kurang update 25% 0.125 2 0.25 W-2 Jumlah peserta harus memenuhi kuota kelas 30% 0.15 1 0.15

W-3 Kurang memiliki inovasi pada proses belajar

mengajar 20% 0.1 2 0.2

W-4 Waktu training yang tidak fleksibel 25% 0.125 1 0.125

Total Weaknesses (kelemahan) 100% 0.5 0.73

(11)

Tabel 4.4 External Factor Analysis (EFAS)

No Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor

Persen Jumlah

O-1 Perkembangan teknologi 25% 0.125 4 0.5

O-2 Kebutuhan tenaga profesional bidang IT/IS 25% 0.125 4 0.5 O-3 Pertumbuhan populasi pelajar 25% 0.125 4 0.5

O-4 Online market 25% 0.125 3 0.375

Total Opportunities (peluang) 100% 0.5 1.88

T-1 Persaingan industri learning center 50% 0.25 1 0.25 T-2 Produk pengganti pembelajaran 50% 0.25 2 0.5

Total Threat (ancaman) 100% 0.5 0.75

Jumlah Total 1 2.63

Hasil penilaian dari setiap faktor pada tabel IFAS dan EFAS akan dilakukan perhitungan dari total setiap faktor lalu memetakannya ke dalam diagram SWOT sehingga akan diperoleh posisi BINUS Center dalam kuadran tertentu. Berdasarkan tabel IFAS dan EFAS, hasil perhitungannya adalah sebagai berikut :

Titik X = Total Strength – Total Weakness = 1,80 - 0,73

= 1,075

Titik Y = Total Opportunities – Total Threat = 1,88 – 0,75

(12)

STRENGTH WEAKNESS BINUS CENTER OPPORTUNITIES THREAT 1 2 1 2 1,13 1,075 -1 -2 -1 -2 0

Strategi Turnarround Strategi Agresif

Strategi Defensif Strategi Diversifikasi

Gambar 4.1 Diagram SWOT BINUS Center

Posisi BINUS Center terletak pada kuadran pertama yaitu strategi agresif yang menunjukkan bahwa posisi BINUS Center secara strategis cukup baik sehingga mampu meningkatkan bisnis secara maksimal dengan menggunakan kekuatan yang tersedia untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Berdasarkan pemetaan tersebut, dapat diperoleh sejumlah strategi dengan menggunakan matriks SWOT pada Gambar 4.2. Berdasarkan matriks SWOT diatas, BINUS Center berada dalam posisi yang mendukung strategi agresif yang sesuai dengan strategi SO (Strength - Opportunity). BINUS Center memiliki peluang untuk meningkatkan bisnisnya dengan merumuskan strategi-strategi bisnis yang mendukung kebijakan growth oriented strategy.

(13)

IFAS

EFAS

Strengths (S)

S - 1 BINUS Center bagian dari BINUS Group

S - 2 Infrastruktur pendukung pembelajaran

S - 3 Lokasi yang mudah dijangkau

S - 4 Sumber daya manusia yang berkualitas

S - 5 Kurikulum berbasis kebutuhan industri

Weakness (W)

W - 1 Kurikulum yang monoton dan kurang update

W - 2 Jumlah peserta harus memenuhi kuota kelas

W - 3 Kurang memiliki inovasi pada proses belajar mengajar

W - 4 Waktu training yang tidak fleksibel

Opportunities (O)

O - 1 Perkembangan teknologi

O - 2 Kebutuhan tenaga profesional bidang IT/SI

O - 3 Pertumbuhan populasi pelajar

O - 4 Online market

Strategi SO

1. Dengan memaksimalkan potensinya, BINUS Center dapat memperluas pangsa pasarnya dan tidak hanya terfokus di sekolah dan universitas (3, S-4, S-5, O-3).

2. Mengintegrasikan layanan BINUS Center dengan BINUS Career memfasilitasi karir lulusannya (S-1, S-5, O-2).

3. Memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk menerapkan teknologi terbaru guna menciptakan layanan / produk yang menggapai pasar online (S-1, S-2, S-4, O-(S-1, O-4).

Strategi WO

1. Memanfaatkan

perkembangan teknologi untuk menghilangkan sistem kuota kelas (W-2, O-1, O-3)

2. Melakukan inovasi

terkait layanan dan produk / kurikulum yang ditawarkan ke dalam media online (W-1, W-2, W-3, O-1, O-3, O-4)

Threats (T) T - 1 Persaingan industri learning center T - 2 Produk pengganti pembelajaran Strategi ST 1. meningkatkan

kemampuan tenaga pengajar, fasilitas pendukung, dan kurikulum agar lebih mampu bersaing (S-2, S-4, S-5, T-1)

2. Membangun layanan

berbasiskan online sebagai inovasi produk yang ditawarkan BINUS Center (S-1, S-2, T-2)

Strategi WT

1. membuat materi

yang diminati bisnis dan didukung oleh teknologi yang dapat menjadi value

added sehingga dapat cepat

di-update dan diterima secara luas agar tidak dapat digantikan oleh

pembelajaran yang lain (W-1, W-3, T-(W-1, T-2)

(14)

1. Dengan memaksimalkan potensinya, BINUS Center dapat

memperluas pangsa pasarnya dan tidak hanya terfokus di sekolah

dan universitas.

Dengan fasilitas yang tersedia, BINUS Center dapat mengembangkan segmentasi pasarnya menjadi lebih luas. Hal itu juga dapat dicapai dengan mengembangkan jenis layanan dan produk baru yang tidak hanya dapat dinikmati oleh segmentasi pelanggannya yang berupa sekolah maupun universitas. BINUS Center dapat mengembangkan produknya hingga ke tingkat professional dengan memberikan modul-modul yang tepat dan trending. Secara bottom line, dengan meluasnya pangsa pasar (segmentasi), BINUS Center akan mendapatkan manfaat tangible dan intangible.

2. Mengintegrasikan layanan BINUS Center dengan BINUS Career

memfasilitasi karir lulusannya.

Setiap siswa yang telah menjadi bagian dari BINUS Center mendapatkan ID yang dapat digunakan untuk mengakses situs BINUS Center. Tetapi kemampuan jelajah yang diberikan situs tersebut sangat kurang, informasi yang diberikan seharusnya dapat dimaksimalkan dengan mengintegrasikan situs-situs yang tergabung dalam BINUS Group lainnya kedalam ID yang telah terdaftar sebagai siswa BINUS Center. Sehingga jika dilakukan integrasi, maka siswa yang memiliki ID memiliki akses ke informasi-informasi yang berharga, seperti informasi-informasi karir yang dimiliki oleh BINUS Career.

(15)

3. Memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk menerapkan teknologi

terbaru guna menciptakan layanan / produk yang menggapai pasar

online

BINUS Center merupakan bagian dari BINUS Group yang di dalamnya juga terdapat BINUS IT Directorate sebagai kekuatan utama BINUS dalam academic support process. Kemampuan BINUS Center untuk dapat membangun suatu layanan online sangat dimungkinkan dengan dukungan dari IT Directorate. BINUS Center memang belum memiliki fasilitas online learning. Jika BINUS Center ingin mengembangkan produknya ke arah online learning, maka akan muncul suatu pertanyaan, bagaimana membangun suatu layanan online yang sesuai atau sejalan dengan strategi bisnis BINUS Center. Lagipula konsep online learning bukan hanya sekedar memindahkan kurikulum yang sedang berjalan, ke dalam media online (Internet). Dibutuhkan desain kurikulum tersendiri dalam membuat layanan online learning. Online learning tersebut juga harus dapat mendukung strategi bisnis BINUS Center baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sehingga mampu memberikan manfaat yang tangible dan intangible bagi BINUS Center.

4.1.2 Analisis Eksternal Bisnis BINUS Center

Analisis lingkungan eksternal bisnis BINUS Center dilakukan dengan cara menganalisi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kegiatan bisnis BINUS Center yang hasilnya akan menciptakan sebuah peluang ataupun ancaman bagi

(16)

BINUS Center. Analisis lingkungan eksternal bisnis tersebut dilakukan dengan menggunakan analisis Porter’s Five Forces.

4.1.2.1

Analisis

Porter’s Five Forces

Analisis Porter’s Five Force digunakan menganalisa lima kekuatan yang mempengaruhi BINUS Center sebagai lembaga online learning yang berasal dari eksternal BINUS Center itu sendiri. Analisa ini bertujuan untuk melihat peta kekuatan bisnis yang dimiliki oleh BINUS Center di lingkungan eksternal untuk memperoleh sebuah peluang yang dapat dijadikan sebagai competitive advantage dari BINUS Center. Analisis Porter Five Force di BINUS Center adalah sebagai berikut :

(17)

Berikut adalah penjelasan dari analisis Porter Five Force pada BINUS Center.

1. Threat of new entrants

Perkembangan pendidikan di Indonesia yang cukup tinggi dan kebutuhan akan tenaga profesional yang berkualitas yang salah satunya dibuktikan dengan sertifikasi terhadap suatu skill atau ilmu membuat industri online learning menjadikannya memiliki banyak pesaing, baik yang sudah ada (exist) maupun berupa pendatang baru. Karena itu, entry barier dari industri online learning sangat rendah sedangkan exit barier-nya cukup tinggi. Saat ini yang menjadi pendatang baru di industri learning center adalah Grammacom, Maranatha training center, ex-AsLab BINUS yang mencoba berdiri sendiri. Oleh karena itu BINUS Center harus segera membuat inovasi atau competitive advantage yang tidak mudah diimitasi oleh para pendatang baru. Sehingga akan membuat entry barier menjadi tinggi.

2. Buyer Power

Pada industri pendidikan, khususnya online learning, buyer memiliki bargaining power yang cukup tinggi. Untuk itu, BINUS Center harus secara hati-hati dalam menentukan kenaikan biaya yang akan dikenakan kepada buyer. Hal itu dapat dilakukan apabila Threat of Subtitute berada dalam posisi rendah dan BINUS Center memiliki sesuatu teknologi atau inovasi yang membuatnya dapat menarik lebih banyak buyer dibandingkan kompetitornya. Saat ini Buyer dari BINUS Center adalah mahasiswa dan pelajar sekolah (sebanyak 80%) serta karyawan (sebanyak 20%).

(18)

3. Threat of subtitute

BINUS Center memiliki banyak subtitue product dengan berbagai variasi. Media online adalah salah satunya. BINUS Center perlu melakukan inovasi pada produk yang ditawarkannya untuk membuatnya lepas dari subtitute yang telah banyak beredar.

4. Supplier Power

Dalam menjalankan bisnisnya, tentu saja BINUS Center melakukan kerja sama dengan beberapa supplier untuk menyediakan kebutuhan sarana dan prasarana, baik yang sifatnya utama maupun pendukung yang akan digunakan dalam belajar mengajar. Supplier bagi BINUS Center antara lain : 1. Microsoft 2. SAP 3. Cisco 4. Zend PHP 5. Wordware

6. Instruktur (tenaga pengajar)

Bagi BINUS Center, supplier memiliki bargaining power yang cukup kuat dalam menentukan production cost bagi BINUS Center. Untuk itu BINUS Center harus mampu memiliki jaringan atau koneksi database supplier yang luas yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan keberlangsungan hubungan yang baik.

(19)

5. Rivalry

BINUS Center memiliki kondisi persaingan yang cukup tinggi karena banyak lembaga-lembaga pendidikan lain khususnya online learning. Pesaing bagi BINUS Center adalah Evo dan Monsoon. Umumnya pesaing memberikan penawaran-penawaran yang menarik bagi buyer serta variasi pilihan produk. Untuk itu BINUS Center harus melakukan strategi yang agresif dalam menciptakan inovasi baik dari segi produk maupun layanan. Sehingga diharapkan peta persaingan dapat berubah menjadi lebih baik bagi BINUS Center.

4.1.3 Analisis Internal IS/IT BINUS Center

Lingkungan internal IT/IS BINUS Center dapat dinilai dengan melakukan analisa Aplikasi Portofolio McFarlan. Analisis yang dilakukan mencakup seluruh sumber daya IT/SI yang dimiliki oleh BINUS Center, dapat berupa sistem aplikasi yang digunakan, teknologi, dan manajemen sistem informasi yang dimanfaatkan oleh BINUS Center untuk kebutuhan bisnis dan teknis perusahaan.

4.1.3.1 Analisis Aplikasi Portofolio McFarlan

Analisis aplikasi Portfolio Mcfarlan dilakukan dengan cara menilai aplikasi yang dimiliki oleh BINUS Center pada saat ini yang akan diukur dengan memberikan beberapa pertanyaan, dimana setiap jawaban dari pertanyaan tersebut akan mempengaruhi posisi aplikasi BINUS Center berdasarkan Aplikasi Portfolio McFarlan. Apakah termasuk kategori high potential, strategic, key operational,

(20)

atau support, sesuai dengan kontribusi yang diberikan masing-masing aplikasi pada bisnis perusahaan.

Berikut daftar aplikasi yang dimiliki oleh BINUS Center pada saat ini : 1. Aplikasi sistem pendukung pelatihan.

2. Aplikasi sistem Back Office. 3. Aplikasi sistem keuangan. 4. Website BINUS Center.

Masing-masing aplikasi tersebut diberikan pertanyaan untuk menentukan kuadrannya.

1. Aplikasi sistem Pendukung latihan

Tabel 4.5 Pertanyaan Portfolio McFarlan Aplikasi Sistem Pendukung Pelatihan

Pertanyaan Ya/Tidak

a. Menciptakan competitive advantage bagi organisasi? Ya b. Memungkinkan tercapainya sasaran bisnis yang spesifik? Tidak c. Mengatasi kendala bisnis yang berhubungan dengan

pesaing?

Ya

d. Menghindari resiko bisnis di masa depan agar tidak timbul dalam waktu dekat?

Ya

e. Meningkatkan produktivitas bisnis dan mengurangi biaya? Ya f. Memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan? Ya g. Manfaatnya belum diketahui namun dapat menghasilkan

poin (a) dan (b) ?

(21)

2. Aplikasi sistem Back Office

Tabel 4.6 Pertanyaan Portfolio McFarlan Aplikasi Sistem Informasi Back

Office

Pertanyaan Ya/Tidak

a. Menciptakan competitive advantage bagi organisasi? Ya b. Memungkinkan tercapainya sasaran bisnis yang spesifik? Tidak c. Mengatasi kendala bisnis yang berhubungan dengan

pesaing?

Ya

d. Menghindari resiko bisnis di masa depan agar tidak timbul dalam waktu dekat?

Ya

e. Meningkatkan produktivitas bisnis dan mengurangi biaya? Ya f. Memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan? Ya g. Manfaatnya belum diketahui namun dapat menghasilkan

poin (a) dan (b) ?

Ya

3. Aplikasi sistem keuangan

Tabel 4.7 Pertanyaan Portfolio McFarlan Aplikasi Sistem Keuangan

Pertanyaan Ya/Tidak

a. Menciptakan competitive advantage bagi organisasi? Ya b. Memungkinkan tercapainya sasaran bisnis yang spesifik? Tidak c. Mengatasi kendala bisnis yang berhubungan dengan

pesaing?

Ya

(22)

dalam waktu dekat?

e. Meningkatkan produktivitas bisnis dan mengurangi biaya? Ya f. Memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan? Ya g. Manfaatnya belum diketahui namun dapat menghasilkan

poin (a) dan (b) ?

Ya

4. Website BINUS Center

Tabel 4.8 Pertanyaan Portfolio McFarlan Website BINUS Center

Pertanyaan Ya/Tidak

a. Menciptakan competitive advantage bagi organisasi? Tidak

b. Memungkinkan tercapainya sasaran bisnis yang spesifik? Tidak

c. Mengatasi kendala bisnis yang berhubungan dengan pesaing?

Tidak

d. Menghindari resiko bisnis di masa depan agar tidak timbul dalam waktu dekat?

Tidak

e. Meningkatkan produktivitas bisnis dan mengurangi biaya? Ya

f. Memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan? Ya

g. Manfaatnya belum diketahui namun dapat menghasilkan poin (a) dan (b) ?

(23)

Berdasarkan tabel pertanyaan portfolio McFarlan yang terdapat pada BINUS Center di atas maka portfolio aplikasi pada BINUS Center dapat digambarkan sebagai berikut :

Strategic High Potential

Key Operational Support

Aplikasi sistem Pendukung latihan

Aplikasi sistem Back Office Aplikasi sistem keuangan

Website BINUS Center

Gambar 4.4 Portfolio Aplikasi BINUS Center Saat ini

Berdasarkan analisa dengan menggunakan Portofolio McFarlan diatas, dapat digambarkan bahwa BINUS Center belum memiliki aplikasi yang bersifat strategis dalam mendukung perencanaan IS/IT perusahaan dan belum memiliki aplikasi yang bersifat high potential yang dapat meningkatkan keunggulan bersaing di masa mendatang dan ini merupakan suatu kekurangan BINUS Center. BINUS Center hanya memiliki aplikasi yang bersifat key operational yang menunjang kelangsungan bisnis perusahaan dan aplikasi yang bersifat support yang bertindak sebagai pendukung bagi kegiatan bisnis perusahaan. Spesifikasi

(24)

perangkat keras, piranti lunak, komponen jaringan komputer dan topologi jaringan BINUS Center disajikan pada data di bawah.

Perangkat Keras

Tabel 4.9 Perangkat Keras BINUS Center

Jenis Jumlah

Unit Spesifikasi

Server Back Office

1 OS: Windows Server 2008 Standard Processor: Intel Core2Quad

RAM: 4GB HDD: 2 TB

VGA Card: onboard Server

Training

1 OS: Windows Server 2008 Enterprise Processor: Intel Core-2-Quad

RAM: 8GB HDD: 2TeraBytes VGA Card: onboard Komputer

back office

20 Desktop PC

OS: Windows XP - Windows 7 Processor: Intel Core-2-Duo RAM: 2GB

HDD: 160GB

VGA Card: GeForce 7300GS Monitor: 17" Komputer training 40 Desktop PC: OS: Windows XP Processor: Intel I3 RAM: 4GB HDD: 500GB

VGA Card: GeForce series 1GB Monitor: LCD 19"

(25)

Komputer Front office

3 Desktop PC/Laptop: OS:

Processor: Intel Pentium 4 - 2,4GHz RAM: 1GB

HDD: 60GB

VGA Card: GeForce Serice 128MB Monitor: 17"

Perangkat telekomunikasi

PABX unit : Panasonic direct line : 15

extension : 10 Perangkat

pendukung

UPS ; APC 3KVA Rack Server:

Fax - Printer: HP LaserJet 3600, HP LaserJet BW printers

Piranti Lunak

Tabel 4.10 Piranti Lunak BINUS Center

Jenis Spesifikasi

programming C#, VB.Net, Java, PHP, SQL, Microsoft

Application

MS Word, Excel, PowerPoint, Access, Publisher, Outlook

Operating System Microsoft Windows Server 2003, Microsoft Windows Server 2008, Linux OS.

SAP SAP Fundamental, SAP Procurement, SAP HR, SAP FICO, SAP SD

Aplikasi lain-lain Custom, tergantung kebutuhan dari front office atau operasional BINUS Center

Jaringan Komputer

Tabel 4.11 Komponen Jaringan Komputer BINUS Center

Jenis Jumlah

Unit

(26)

Server 1 OS: Windows Server 2008 Enterprise Processor: Intel Core-2-Quad

RAM: 8GB HDD: 2TeraBytes VGA Card: onboard router 5 Cisco catalyst series

WiFi AP 1 D-Link DWL-7100AP TRI-MODE

DUALBAND 802.11A/B/G

(2.4/5GHZ) WIRELESS 108MBPS ACCESS POINT

Switch/HUB D-Link's DGS-6600 series - 48-port 10/100/1000M module

Topologi Jaringan BINUS Center

(27)

Penggunaan perangkat keras dan piranti lunak di BINUS Center masih dipergunakan untuk menunjang kegiatan bisnis dan operasional sehari-hari, baik itu berupa administrasi, maupun kegiatan belajar mengajar. Jika BINUS Center ingin mengembangkan layanannya dengan mengadakan online learning, maka akan dibutuhkan perangkat-perangkat tambahan dengan spesifikasi tertentu untuk menunjang kebutuhannya tersebut.

4.1.4 Analisa Lingkungan Eksternal IT/IS BINUS Center

Langkah terakhir dalam melakukan analisa terhadap BINUS Center adalah analisis lingkungan eksternal IS/IT. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan teknologi dalam organisasi dan mempelajari teknologi tersebut untuk dimanfaatkan dalam mendukung kebutuhan strategi bisnisnya untuk digunakan dalam jangka panjang.

Perkembangan teknologi yang pesat saat ini mendorong industri learning

center untuk menggunakan teknologi informasi terkini dalam mendukung proses

bisnisnya agar lebih cepat dan efesien. Saat ini yang sudah banyak dipergunakan adalah website pendaftaran online, e-learning, database repository modul pembelajaran, video learning, dan lainnya. Media-media tersebut dapat mendukung proses bisnis suatu learning center berjalan lebih cepat dan efisien.

BINUS Center-pun sudah sangat menyadari akan kebutuhannya untuk memanfaatkan media online sebagai media pembelajaran ditengah persaingan yang rata-rata telah memanfaatkan media online sebagai competitive advantage-nya. Saat ini BINUS Center hanya memiliki website yang hanya bersifat pemberi

(28)

informasi. Sebagai pembanding eksternal dalam industri learning center, pesaing BINUS Center memanfaatkan website dalam kapasitas yang lebih luas. Website tersebut digunakan selain untuk memberikan informasi, juga sebagai media learning yang berbasis web dan interactive video. Tentu saja hal tersebut sudah mendukung online learning, jadi siswa tidak perlu lagi terikat pada suatu jadwal dan tempat untuk dapat memperoleh pembelajaran.

BINUS Center dapat mengaplikasikan hal tersebut, tetapi tentu saja harus sesuai dengan strategi bisnis dan operasional yang ada pada BINUS Center. Dengan melakukan identifikasi dan analisa yang baik maka BINUS Center dapat membuat teknologi tersebut menjadi sesuai dengan kebutuhan BINUS Center dan dapat menjadikannya salah satu proprietary.

4.1.4.1 Analisa Kebutuhan IT/IS BINUS Center

BINUS Center bisa saja terus eksis dan berada di posisi aman dengan bersikap defensif dalam strategi bisnisnya dengan menjaga pelanggannya yang telah diraih hingga sekarang, tanpa perlu memperbesar segmentasinya. Akan tetapi berdasarkan analisa yang telah dilakukan, BINUS Center sadar dan merasa perlu melakukan suatu peningkatan terhadap produk dan layanannya sehingga dapat menjadi proprietary yang pada akhirnya dapat menjadi competitive advantage untuk dapat terus bersaing dan menjawab tantangan yang muncul di industri learning center.

Online learning adalah langkah awal yang ingin diambil oleh BINUS Center untuk menjawab tantangan sekaligus permintaan yang ada di industri learning center. Terinspirasi oleh media online sejenis youtube, yang merupakan

(29)

suatu layanan yang dianggap sebagai produk pengganti oleh BINUS Center, maka BINUS Center ingin membuat suatu layanan berbasis video untuk digunakan dalam hal pendidikan yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Hal tersebut juga didukung oleh IT Directorate sebagai kekuatan utama dari BINUS Group.

Kendala yang kemudian muncul dalam perumusan suatu produk dan layanan baru adalah, jika BINUS Center menggunakan konsep video online streaming dalam usahanya untuk memberikan pelayanan online learning bagi segmentasi pasar yang baru ataupun yang lama, maka tentu saja BINUS Center akan berhadapan langsung dengan media online sejenis youtube yang memiliki konten video dan juga trafik data yang lebih unggul. Konsep tersebut juga tidak mendukung interaktivitas, yang membuat siswa BINUS Center tidak dapat berinteraksi dengan instrukturnya.

Untuk itu BINUS Center diharapkan dapat membuat suatu layanan baru yang belum pernah dilakukan oleh pesaingnya (sesuai dengan analisis Porter), dengan memanfaatkan sumber daya yang ada pada BINUS Group, dalam hal ini adalah IT Directorate. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya yang muncul, dibandingkan jika BINUS Center membangun online learning project-nya dari awal. Terlebih lagi, online learning yang ingin dibangun BINUS Center bukanlah langkah akhir dari strategi bisnisnya. Melainkan dapat dimodifikasi dan dikembangkan mengikuti permintaan pasar sekaligus menentukan tren pasar.

Dengan memanfaatkan arsitektur dan infrastruktur yang ada pada BINUS Group, akan di-enhance dengan menambahkan framework IPTV yang langsung mendukung triple play (data, voice, dan video). Hal tersebut dapat membuat siswa BINUS Center bukan hanya menonton modul video training secara pasif, tapi

(30)

memungkinkan siswa BINUS Center berinteraksi dengan instruktur maupun komunitasnya secara virtual dan mendiskusikan bagian-bagian yang kurang dipahami. Selain itu, IPTV dapat dikembangkan berdasarkan jenis kontennya. Hal tersebut membuat BINUS Center dapat menjalankan strategi bisnis yang lebih bervariasi dan tentu saja sejalan dengan keinginkan BINUS Center, yaitu layanan yang tidak hanya berhenti pada online learning.

4.2 Metode Pengembangan Modul Pembelajaran

Dalam pengembangan model pembelajaran online berbasis IPTV, digunakan 2 (dua) metode pendekatan yaitu secara instruksional (ADDIE) yang mencakup materi pembelajaran online, dan secara sistem (SDLC) yang akan mencakup pengembangan sistem aplikasi.

ADDIE dan SDLC akan berjalan secara sekuensial dimulai dari penyusunan materi learning object dengan metode ADDIE dan diperkuat oleh metode SDLC yang akan membentuk permodelan antarmuka sistem sebagai wadah dari materi pembelajaran yang telah tersusun sebelumnya. Pembahasan metode ADDIE akan membahas tahapan Analyze dan Design, sedangkan metode SDLC dibatasi pada Planning, Analysis, Design.

4.2.1 ADDIE

4.2.1.1 Analyze

Untuk pengumpulan data, dilakukan dengan metode survei. Kuesioner disebarkan pada 100 (seratus) orang responden yang merupakan penghuni BINUS

(31)

Square yang dipilih secara acak. Survei ini bertujuan untuk menggali informasi dari responden tentang online learning, TV berbayar (Pay TV), dan IPTV.

Dari hasil survei, diketahui bahwa seluruh responden mengetahui tentang TV berbayar. Pengetahuan ini diasumsikan didapat dari pengalaman para responden dalam menggunakan layanan TV berbayar ini di luar BINUS Square. Namun, dari seluruh jumlah responden yang mengetahui tentang TV berbayar, hanya 86% yang pernah berlangganan dengan lama waktu berlangganan selama kurang dari 1 tahun sebanyak 22% dan 2 tahun sebanyak 64%. Dari segi harga, 17% responden mengeluarkan biaya antara Rp100.000,00 – Rp199.000,00 dan 64% responden antara Rp200.000,00 – Rp299.000,00. Hanya 5% responden yang mengeluarkan biaya antara Rp300.000,00 – Rp499.000,00. Dari 100 orang responden, 64% menghabiskan waktu selama 2 jam dalam sehari untuk menonton TV, sedangkan 36% sisanya menghabiskan waktu hingga 3 jam.

Saat istilah online learning muncul, sebanyak 83% responden telah mengetahui tentang istilah tersebut, namun hanya 31% responden yang pernah mengikuti kelas online training tersebut. Hal ini dapat disebut sebagai suatu ironi, dimana ternyata selama ini BINUS University telah menjalankan metode online learning melalui BINUS Maya. BINUS Maya dimaksudkan untuk menjadi suatu sistem dimana terjadi interaksi antar mahasiswa dalam forum diskusi, interaksi antara mahasiswa dengan dosen atau tenaga pengajar lainnya dalam sesi off-class, dan metode pengumpulan tugas melalui forum diskusi dan surat elektronik (e-mail).

Ketika pertanyaan berlanjut mengenai apakah mereka berminat jika ditawarkan online learning, 87% responden menjawab mau dan hanya 13%

(32)

sisanya yang tidak mau. Dilihat dari hasil ini, dapat diasumsikan adanya kemungkinan bahwa banyak dari mahasiswa BINUS University yang tidak tahu secara detail tentang layanan BINUS Maya dan apa saja manfaat yang dapat digali dari layanan tersebut. Pengenalan layanan BINUS Maya secara lebih komprehensif dan mendetail kepada para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru atau tingkat awal, mungkin dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk menjawab isu ini.

Berkaitan dengan modul pembelajaran, berikut ini disajikan diagram mengenai ekspektasi responden tentang modul pembelajaran online yang mereka anggap penting.

Gambar 4.6 Ekspektasi Modul Pembelajaran Online Berdasarkan Minat dan

Kebutuhan Responden 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Bahasa Informasi Kuliner Informasi Kesehatan Seminar Sangat Penting 83 0 4 0 Penting 4 14 14 55 Kurang Penting 0 38 45 4 Tidak Penting 0 35 24 28 Jumlah Responden

Ekspektasi Modul Pembelajaran Online

Berdasarkan Minat dan Kebutuhan Responden

(33)

Dari diagram di atas, dapat diketahui bahwa dari 87 orang responden, 95.4% menganggap modul Bahasa ini sangat penting dan 4.6% lainnya menganggap penting. Untuk modul Informasi Kuliner, 16.09% menganggap penting, 43.68% menganggap kurang penting, dan 40.23% lainnya menganggap tidak penting. Untuk modul Informasi Kesehatan, 4.6% menganggap sangat penting, 16.09% menganggap penting, 51.72% menganggap kurang penting, dan 27.59% lainnya menganggap tidak penting. Untuk modul Seminar, 63.22% menganggap penting, 4.6% menganggap kurang penting, dan 32.18% lainnya menganggap tidak penting.

Berkaitan dengan modul Bahasa yang diminati oleh para responden, berdasarkan hasil survey terdapat beberapa jenis bahasa yang diminati oleh para responden, yaitu bahasa Inggris, Korea, dan Mandarin. Dari ketiga modul Bahasa tersebut, bahasa Inggris menempati urutan prioritas tertinggi daripada modul Bahasa lainnya. Hal ini disebabkan tingkat kebutuhan para responden akan bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional, yang akan berguna bagi kehidupan mereka, bukan hanya saat mengikuti perkuliahan, namun juga sebagai bekal untuk menghadapi persaingan di dunia kerja nantinya. Persentase dari tiap bahasa tersebut disajikan pada diagram berikut.

(34)

Gambar 4.7 Jenis Modul Bahasa yang Diminati

Selain dari keempat modul di atas, ada beberapa modul tambahan lainnya yang juga diminati oleh responden, yaitu networking, programming, dan tutorial pembelajaran. Jumlah responden yang memilih modul tersebut disajikan pada diagram berikut.

Gambar 4.8 Jenis Modul Lainnya yang Diminati 68%

27%

5%

Jenis Modul Bahasa yang Diminati

Bahasa Inggris Bahasa Korea Bahasa Mandarin 0 5 10 15 20 25 30 35

Networking Programming Tutorial pembelajaran Jumlah Responden yang

Memilih 31 24 14

(35)

Dari sisi lamanya waktu yang dapat dialokasikan oleh para responden untuk mengikuti 1 modul pembelajaran melalui online learning, 63% dari 87 orang responden yang berminat untuk mengikuti online learning bersedia menyisihkan waktunya selama 2 jam, sedangkan 37% sisanya hanya bersedia menyisihkan waktunya selama 1 jam. Dari sisi biaya, 100% dari 87 orang responden tersebut bersedia mengalokasikan biaya sebesar Rp100.000,00 – Rp499.000,00 untuk mendapatkan 1 modul pembelajaran tersebut.

Ketika survei berlanjut dengan pertanyaan tentang IPTV, 57% dari 87 orang responden menjawab telah mengetahui atau mendengar mengenai istilah IPTV, sedangkan 43% sisanya tidak tahu. Setelah membaca uraian singkat mengenai IPTV yang tercantum dalam survei ini, 86% responden tersebut bersedia untuk mencoba dan memiliki fasilitas layanan IPTV tersebut di BINUS Square sedangkan 14% lainnya tidak bersedia.

Ketika survei berlanjut dengan pertanyaan tentang kebutuhan apa saja yang responden harapkan dapat terpenuhi dengan adanya fasilitas IPTV ini, dari 75 orang responden yang tersisa, untuk kategori fasilitas utama, Jaringan Internet mendapat peringkat tertinggi dengan jumlah responden yang memilih sebanyak 75 orang (100%), diikuti oleh Program TV (lokal, premium) dengan jumlah 47 orang (63%), dan online learning dengan jumlah 41 orang (55%). Data tersebut disajikan pada diagram berikut.

(36)

Gambar 4.9 Fasilitas Utama

Sedangkan untuk kategori fasilitas tambahan (lainnya), Game Online mendapat peringkat tertinggi dengan jumlah responden yang memilih sebanyak 49 orang (65%), diikuti oleh social network sebanyak 36 orang (48%), dan yang terakhir Komunikasi sebanyak 13 orang (17%). Data tersebut disajikan pada diagram berikut.

Gambar 4.10 Fasilitas Tambahan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Program TV (lokal, premium) Jaringan Internet Online Learning

Jumlah Responden yang

Memilih 47 75 41

Fasilitas Utama

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Game Online Social Network Komunikasi

Jumlah Responden yang

Memilih 49 36 13

(37)

Dari sisi harga, dari 75 orang responden yang tersisa, 97% responden bersedia mengeluarkan biaya dengan kisaran alokasi kurang dari Rp300.000,00, sedangkan 5% lainnya bersedia mengalokasikan biaya sebesar Rp400.001,00 – Rp500.000,00. Respon yang cukup positif ini dapat diasumsikan sebagai bentuk refleksi dari keingintahuan dari para responden tentang seperti apa manfaat dan pengalaman yang akan mereka dapat dan rasakan saat menggunakan layanan IPTV ini nantinya.

Fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi pendukung yang disediakan oleh BINUS Square pada saat ini adalah:

- Jaringan Internet nirkabel kecepatan tinggi di area BINUS Square yang dapat dinikmati oleh penghuni dan pengunjung.

- Akses tayangan televisi disediakan melalui fitur intranet TV yang didukung pengembangannya oleh BINUS IT Directorate.

Dalam integrasi sistem pembelajaran online menggunakan media IPTV sebagai media penyampaian materi pembelajaran, terdapat beberapa hal yang berpotensi menjadi penghalang, di antaranya yaitu sebagai berikut:

- Keterbatasan kapasitas jaringan untuk mengakses sumber daya yang ada pada saat bersamaan tanpa mengurangi kinerja arus informasi di dalam jaringan tersebut. Untuk mendapatkan kualitas streaming yang baik, diperlukan kecepatan koneksi data minimal 2-4MBps untuk setiap client. - Keterbatasan tingkat penerimaan dan pengenalan metode pembelajaran

secara online menggunakan teknologi IPTV, yaitu modernisasi paradigma pembelajaran konvensional dimana pembelajaran dilaksanakan bukan di dalam ruang kelas dan instruktur tersedia sesuai kebutuhan dari peserta.

(38)

- Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengambil modul online learning-on-demand.

4.2.1.1.1

Ketentuan Umum Materi Online Learning

Hasil survei lapangan, kuesioner penghuni BINUS Square, diskusi dan wawancara dengan pihak terkait menghasilkan beberapa ketentuan umum untuk menyusun materi online learning menggunakan teknologi IPTV. Ketentuan umum tersebut tersusun atas 3 (tiga) aspek, yaitu teknologi, metode pembelajaran, dan sudut pandang dari pengguna produk ini. Ketentuan umum dalam penyusunan materi Online Learning tersebut adalah sebagai berikut:

- Modul pembelajaran yang akan disusun adalah English for Business. Berdasarkan hasil kuesioner, sebagian besar penghuni BINUS Square membutuhkan materi pembelajaran Bahasa Inggris di dunia kerja untuk memperlengkapi kemampuan berbahasa Inggris di masa yang akan datang sehingga mereka lebih dari sekedar siap kerja, tapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang bersifat global.

- Materi online learning ini menargetkan peserta yang berada di tingkat pemula untuk diperlengkapi dengan kemampuan mendengarkan dan berbicara dalam bahasa Inggris.

- Pembentukan materi online learning dalam format modul, dimana perlu untuk mempermudah penyusunan, pengembangan sistem, dan pengaturan materi pembelajaran.

- Metode penyampaian instruksi pembelajaran secara online disampaikan melalui rekaman video yang bersifat instruksional dimana instruktur

(39)

menyampaikan pengetahuan dasar dari materi pembelajaran yang akan diberikan untuk meningkatkan interaksi antara peserta online learning dengan materi online learning. Hal ini perlu dilakukan untuk mempercepat proses penyerapan materi pembelajaran oleh user.

- Aplikasi pendukung pengembangan sistem pembelajaran online menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh BINUS.

- Diperlukan sistem terintegrasi yang memungkinkan terjadinya interaksi antara user dengan modul pembelajaran online untuk keperluan penilaian, pengujian, trial test.

- Ketersediaan interkoneksi jaringan komputer dengan alokasi minimal 2-4 MBps per koneksi untuk menikmati streaming video pembelajaran tanpa gangguan delay/buffering.

- Penyediaan perangkat Set-Top Box (STB) untuk setiap pengguna layanan IPTV dimana perangkat tersebut berfungsi sebagai pintu gerbang akses menuju materi berbayar yang terdiri dari materi video, pembelajaran, siaran langsung eksklusif.

4.2.1.2 Design

Dalam proses penyusunan modul pembelajaran online diperlukan pendekatan yang berbeda dari proses konvensional. Dari diskusi sebelumnya, didapati bahwa modul pembelajaran online ini sangat dipengaruhi oleh aspek metode pembelajaran dan aspek teknologi yang saling terkait satu dengan lainnya sehingga berpengaruh terhadap produk akhir (Lujara, 2010), berupa materi pembelajaran online. Proses penyusunan materi pembelajaran online ini dilakukan

(40)

dengan mendefinisikan tujuan pembelajaran dengan cara membagi dan mengelompokkan materi pembelajaran menjadi bagian kecil sehingga dapat dengan mudah dalam pengaturannya di dalam lingkungan pembelajaran online. Proses selanjutnya yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah faktor teknologi yang berperan dalam proses penyampaian materi kepada customers dan perangkat pendukung yang dibutuhkan dalam membangun sistem. Teknologi yang digunakan sangat berdampak kepada metode pembelajaran yang akan digunakan.

4.2.1.2.1 Materi Pembelajaran Saat Ini

Berdasarkan hasil dari tahap Analysis, telah diputuskan untuk menggunakan modul pembelajaran English for Business. Struktur pembelajaran yang diperoleh dari materi tersebut digambarkan pada Gambar 4.30 berikut ini.

Gambar 4.11 Struktur Materi Pembelajaran English for Business Unit 1 Discussion Texts Language Work Skills Case study Unit 2 Discussion Texts Language Work Skills Case study Unit 3 Discussion Texts Language Work Skills Case study Unit n Discussion Texts Language Work Skills Case study

(41)

Struktur modul pembelajaran yang ada pada saat ini terdiri dari beberapa Unit yang mewakili subyek yang akan dipelajari dalam tiap sesi pembelajaran. Unit yang disusun tersebut memiliki model struktur yang sama dengan materi yang berbeda. Setiap unit tersusun secara sistematis dengan untuk mempermudah penyerapan materi oleh peserta.

4.2.1.2.2

Proses Belajar Mengajar Saat Ini

Pada umumnya, proses pembelajaran instruksional terjadi di dalam ruang kelas dengan seorang instruktur menjelaskan materi yang akan disampaikan kepada peserta. Materi English for Business yang disampaikan setiap sesi akan melatih setiap peserta untuk mengembangkan kemampuan membaca artikel dalam bahasa Inggris dan menambah perbendaharaan kata-kata penting yang digunakan, kemampuan berbicara, mendengarkan, dan membuat catatan dalam bahasa Inggris melalui materi tambahan yang berasal dari media audio. Instruktur juga akan menjelaskan kesalahan penggunaan bahasa Inggris yang sering timbul sehingga setelah mengikuti sesi tersebut setiap peserta mampu lebih akurat dalam penggunaan bahasa Inggris.

Pada sesi ini juga setiap peserta didorong untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang mereka peroleh pada sesi tersebut dalam berbagai aktifitas bisnis, seperti presentasi, negosiasi, komunikasi melalui telepon, dan komunikasi di dalam lingkungan sosial. Terdapat studi kasus bisnis yang berkaitan dengan materi yang di sampaikan pada akhir sesi untuk dibahas oleh setiap peserta dimana setiap peserta diberi kesempatan untuk menggunakan kemampuan

(42)

menulis, berbahasa dan berkomunikasi untuk menjelaskan situasi bisnis dari studi kasus yang diberikan.

4.2.1.2.3

Permodelan Struktur Learning Object

Penyusunan model struktur pembelajaran untuk materi English for Business berdasarkan hasil analisis struktur pembelajaran yang sudah ada digabungkan dengan metode pembelajaran dan konsep Learning Object. Unit pembelajaran dibuat sedemikian rupa untuk dapat menampung dua komponen, yaitu Subject dan Activities. Perincian materi aktivitas pembelajaran untuk kelas English for Business disusun menjadi satuan materi dasar objek pembelajaran. Materi dasar objek pembelajaran dibentuk dari objek-objek pembelajaran seperti aset materi pembelajaran, overview, information, dan assessment/assignment. Terdapat dua objek Summary, Activities Summary merangkum aktivitas yang telah dikerjakan, dan Subject Summary merangkum seluruh sesi materi pembelajaran.

(43)

Subject

Activities

Information Object Text

Formative Assessment object Overview

Activities Summary

Summative Assessment Object Overview Overview Language work Discussion Summary Materi dasar objek pembelajaran

Gambar 4.12 Struktur Subjek Menurut Konsep Learning Object

Komponen Subject

Komponen utama yang menampung objek Overview dan Summary. Subject Overview tersusun dari komponen data yang menjelaskan Subject dari materi beserta atribut-atribut tambahan untuk memberikan gambaran singkat tentang apa yang akan dipelajari oleh peserta pembelajaran terkait dengan materi yang mereka terima. Atribut yang terdapat dalam komponen Subject adalah sebagai berikut:

(44)

- Subject form level: Identifikasi unik yang menyatakan tingkatan dari Subject

- Subject syllabus: Menjelaskan kompetensi umum dan tujuan materi pembelajaran kepada peserta atas apa yang akan mereka peroleh pada akhir sesi pembelajaran

- Indicative content: Memaparkan daftar materi dan poin penting dari sesi pembelajaran

- Summary Object: Memberikan referensi tambahan terkait dengan materi yang disampaikan pada sesi pembelajaran

Komponen Activities

Terdapat di dalam komponen Subject yang di dalamnya terdapat bagian Overview, Indicative Content yang terkandung di dalamnya, Assessment object, dan Summary object. Overview memberikan informasi detail dari aktivitas yang akan dikerjakan berkaitan dengan Subject yang sedang dibahas, Indicative Content memberikan daftar topik pembahasan dari Subject. Assessment object memberikan detail tentang tugas/penilaian yang akan dilakukan di dalam komponen Activities. Summary Object memberikan rangkuman dari aktivitas yang dikerjakan. Atribut dari komponen Activities adalah sebagai berikut:

- Activities number: Identifikasi unik dari setiap aktivitas. Setiap aktivitas diidentifikasikan oleh nomor aktivitas.

- Activities Title: Memberikan nama dari aktivitas yang bersangkutan. - Indicative Content: Materi yang terdapat di dalam komponen Activities,

termasuk di dalamnya adalah materi dasar objek pembelajaran, Assessment Object, dan Summary Object.

(45)

- Assessment Object: memberikan evaluasi secara keseluruhan, penilaian tugas pribadi dalam bentuk Case Study pada akhir aktivitas pembelajaran. - Summary Object: memberikan rangkuman pembahasan dari aktivitas yang

bersangkutan.

Penyusunan Materi Dasar Objek Pembelajaran (Topic)

Materi dasar dari LO tersusun dari 3 (tiga) objek utama, yaitu Overview, Information Object, dan Formative Assessment Object. Objek pembelajaran yang tersusun ini terdiri dari 3 (tiga) objek pembelajaran, yaitu Language Work, Text, dan Discussion.

Topic Overview Object

Objek Overview memberikan informasi yang terkait dengan materi aktivitas yang akan dijalankan, tujuan materi pembelajaran, dan Indicative Content dalam lingkup Information Objects. Atribut dari objek Overview adalah sebagai berikut:

- Topic Number: Identitas unik dari topik yang dibahas. Setiap topik pembahasan diidentifikasikan oleh nomor topik.

- Topic Title: Memberikan informasi judul topik.

- Topic Objective(s): Menjelaskan tujuan dari topik aktivitas pembelajaran. - Indicative Content: Merupakan representasi dari seperangkat informasi

dengan media pembelajaran tambahan untuk dipelajari oleh setiap peserta pembelajaran untuk memenuhi tujuan pembelajaran dari Subject yang terkait.

(46)

Overview Object

Topic Number Topic Title Topic Objectives

Indicative Content Information Object

Gambar 4.13 Struktur Topic Overview Object

Topic Information Object

Atribut dari Information Object (IO) terdiri dari Introduction, Concepts and Facts, Examples. Beberapa atribut dari Information Object merupakan domain specific dimana sangat tergantung terhadap konteks pembahasan materi pembelajaran, dan domain independent yang bersifat shareable dan reusable. Contoh komponen domain independent adalah objek purpose yang menjabarkan maksud dari dijalankannya aktivitas pembelajaran English for Business. Sedangkan komponen domain specific menjabarkan informasi umum dan batasan ruang lingkup seputar bahasan materi pembelajaran. Komponen domain specific untuk materi English for Business terdiri dari Language Work, Text, dan Discussion, dimana ketiga komponen ini saling mendukung dalam proses pembelajaran dan mendorong setiap peserta untuk secara aktif terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

(47)

Information Object

Introduction Concepts and Facts

Examples Language Work Text Discussion Formative Assessment Object Self Assessment Feedback Assignment Solution Purpose Description Domain Independent Domain Specific

Gambar 4.14 Struktur Information Object dan Formative Assessment Object

Domain Specific disusun sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan materi pembelajaran yang mendukung Subject yang sedang dibahas. Objek Language Works memberikan penjelasan konsep penggunaan bahasa Inggris yang mendukung konteks pembahasan untuk membantu peserta dalam menggunakan kosakata (vocabulary) yang tepat dalam berkomunikasi. Objek Text disediakan di dalam materi pembelajaran untuk mengasah kemampuan peserta dalam membaca(reading) dan mengambil kesimpulan dari bahan bacaan yang mereka peroleh. Objek Discussion disediakan untuk memicu peserta untuk dapat berdiskusi (listening dan speaking) dalam bahasa Inggris.

Objek Formative Assessment disusun untuk meningkatkan kemampuan setiap peserta dalam menggunakan setiap materi pembelajaran yang sudah

(48)

diterima. Mekanisme dalam Formative Assessment dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu Assessment dan Assignment. Materi penilaian dari objek Self-Assessment berupa pilihan ganda, mengisi area yang kosong dengan kata yang tepat, pertanyaan menjodohkan, dan tipe pertanyaan benar-salah. Terdapat mekanisme umpan balik terhadap setiap pertanyaan yang benar atau salah dengan pemberian skor. Objek Assignment bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam merepresentasikan materi pembelajaran yang sudah diterima untuk diaplikasikan dalam menyelesaikan sebuah masalah. Solusi dari objek Assignment ini bersifat opsional, bisa diberikan untuk membantu peserta jika diperlukan. Topic Summary Object

Objek Summary untuk lingkup Activities berupa rangkuman konsep penting penggunaan bahasa Inggris yang tepat untuk dapat diaplikasikan di dunia kerja, terdapat pada bagian akhir setiap aktivitas pembahasan materi pembelajaran.

Summary Object

Review

(49)

Komponen Summative Assessment Object

Objek Summative Assessment (SA) memberikan studi kasus untuk diselesaikan dengan menggunakan konsep yang sudah dipelajari dari komponen Activities. Atribut yang dimiliki oleh objek Summative Assessment terdiri dari: - Summative Assessment Number: Identitas unik dari Summative

Assessment.

- Summative Assessment Title: Memberikan nama dari Summative Assessment.

- Summative Assessment Objectives: Menjelaskan tujuan dari Summative Assessment.

- Indicative Content: Memberikan instruksi dalam penyelesaian sebuah permasalahan dalam bentuk Case Study pada akhir aktivitas pembelajaran.

Summative Assessment (SA) Object SA Number SA Title SA Objectives Indicative Content

(50)

Komponen Subject Summary Object

Komponen objek Summary pada lingkup Subject terdiri dari Reference yang berisi acuan materi pembelajaran yang bersumber dari buku-buku di luar buku utama (jika tersedia).

Summary Object

Reference

Gambar 4.17 Objek Summary pada Lingkup Subject

Secara singkat, penyusunan struktur model objek pembelajaran disajikan pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Permodelan Struktur Objek Pembelajaran

Objek Atribut

Subject - Subject Name: Nama dari materi yang akan dipelajari. - Subject form level: Identifikasi unik yang menyatakan

tingkatan dari Subject

- Subject syllabus: Menjelaskan kompetensi umum dan tujuan materi pembelajaran kepada peserta atas apa yang akan mereka peroleh pada akhir sesi

(51)

Objek Atribut

- Indicative content: Memaparkan daftar materi dan poin penting dari sesi pembelajaran

- Summary Object: Memberikan referensi tambahan terkait dengan materi yang disampaikan pada sesi pembelajaran

Activities - Activities number: Identifikasi unik dari setiap

aktivitas. Setiap aktivitas diidentifikasikan oleh nomor aktivitas.

- Activities Title: Memberikan nama dari aktivitas yang bersangkutan.

- Indicative Content: Materi yang terdapat di dalam komponen Activities, termasuk di dalamnya adalah materi dasar objek pembelajaran, Assessment Object, dan Summary Object.

- Assessment Object: memberikan evaluasi secara keseluruhan, penilaian tugas pribadi dalam bentuk Case Study pada akhir aktivitas pembelajaran. - Summary Object: memberikan rangkuman

pembahasan dari aktivitas yang bersangkutan.

Topic (materi dasar

objek pembelajaran

- Topic Number: Identitas unik dari topik yang dibahas. Setiap topik pembahasan diidentifikasikan oleh nomor

(52)

Objek Atribut

topik.

- Topic Title: Memberikan informasi judul topik. - Topic Objective(s): Menjelaskan tujuan dari topik

aktivitas pembelajaran.

- Indicative Content: Merupakan representasi dari seperangkat informasi dengan media

Information Object Adalah kumpulan dari Assets untuk membentuk komponen Concept and Facts, Examples

Assets Adalah elemen dasar pembelajaran untuk digabungkan menjadi bagian dari materi pembelajaran seperti Information Object, materi dasar objek pembelajaran, objek-objek pembelajaran lainnya jika dibutuhkan. Assets dapat berupa gambar, text, animasi, audio-video klip

Assessment/ Assignment Object

Dikategorikan menjadi formative/summative self-assessment dan formative/summative assignments. Formative assessment/assignment muncul pada akhir pembahasan Topic, sedangkan Summative

assessment/assignment muncul pada akhir pembahasan Activities.

Summary Object Activities Summary: berisi Review dari Activities Subject Summary: berisi Reference

(53)

G a m b ar 4. 1 8 Pe rm od el an S tr u k tur Ob je k P em b elajar an E n gli sh for B u sin ess

(54)

4.2.1.2.4 Penyusunan Model Struktur Objek Pembelajaran

English for Business

Penyusunan struktur objek pembelajaran mengacu pada silabus yang terdapat pada buku Market Leader: Elementary Business English Course Book. Terdapat 12 (dua belas) Unit pembelajaran (Subject), yaitu Introduction, Work and Leisure, Problems, Travel, Food and Entertaining, Sales, People, Markets, Companies, The Web, Cultures, Jobs (Cotton, Falvey, & Kent, 2006). Dalam penyusunan model struktur pembelajaran ini menggunakan materi dari Unit 1: Introductions. Pada unit ini terdapat 3 (tiga) objek Activities, yaitu Discussion dengan objek pembelajaran berfokus pada vocabulary, listening, dan speaking, Text dengan objek pembelajaran berupa reading dan writing, Language Work dengan objek pembelajaran berupa grammar. Jika setiap peserta pembelajaran menguasai materi pembelajaran yang disediakan oleh objek-objek pembelajaran mereka diharapkan untuk dapat memenuhi tujuan pembelajaran yang sudah ditargetkan.

4.2.1.2.5

Objek Pembelajaran English for Business

Elementary Level – Unit 1

Dalam penyusunan struktur objek pembelajaran objek informasi (IO) dan objek pembelajaran (LO) bisa tersusun lebih dari 1 (satu) disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan materi pembelajaran yang diberikan. Hal tersebut dapat memberikan nilai tambah ke dalam materi yang akan diberikan

Gambar

Tabel 4.4 External Factor Analysis (EFAS)
Gambar 4.1 Diagram SWOT BINUS Center
Gambar 4.3 Porter’s Five Forces BINUS Center
Gambar 4.9 Fasilitas Utama
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Menjembatani kebutuhan seluruh unit kerja Bank terkait dengan konsultasi maupun pemberian opini DPS atas produk dan/atau aktivitas perbankan lain yang dilakukan.  Membantu dan

Campuran jenis material pada ready mix concrete ini terdiri dari beberapa material khusus seperti penambahan Fly Ash sebagai bahan untuk memaksimalkan kinerja semen agar

Lebih lanjut tour operator atau biro perjalanan wisata adalah suatu perusahaan yang usaha kegiatannya merencanakan dan menyelenggarakan perjalanan orang-orang untuk

Pemanfataan potensi dan peluang untuk pengembangan biofuel yang memberikan nilai tambah (added value) masih terbatas hanya pada tanaman kelapa sawit, meskipun beragam

Oleh karena itu, dalam menjembatani hal tersebut kepala sekolah, guru atau waka humas TK Annur membuat buku laporan harian., buku laporan harian tersebut berisi

perubahan sudut polarisasi yang dihasilkan merupakan perubahan sudut polarisasi total antara trigliserida dan kolesterol sebagai penyusun dari minyak goreng,

Guru dan siswa melakukan diskusi kelas tentang hasil eksperimen Guru memberi apresiasi kepada siswa yang berkinerja baik Guru memberi penguatan materi dan kesimpulan akhir2.

Aktivitas enzim protease dari Bacillus licheniformis lebih tinggi jika dibanding dengan aktivitas enzim protease dari Bacillus mycoides yaitu 27,59 x 10 -2 U/ml,