• Tidak ada hasil yang ditemukan

OLEH : PROF. DR. SADU WASISTIONO, MS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "OLEH : PROF. DR. SADU WASISTIONO, MS"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH : PROF. DR. SADU WASISTIONO, MS

(2)

A. PENDAHULUAN

Pemerintah adalah sebuah sistem.

Sistem adalah :

 himpunan komponen atau bagian-bagian;

 yang tersusun sedemikian rupa sehingga merupakan satu

kesatuan yang bulat dan utuh;

 antara komponen memiliki hubungan fungsional;  dibuat untuk mencapai satu tujuan tertentu.

* Sistem dapat dilihat secara hierarkhis maupun secara fungsional.

(3)

Secara hierarkhis ada tingkatan suprasistem, sistem, subsistem, sub-subsistem dst.Masing-masing sebenarnya juga merupakan sebuah sistem yang bulat dan utuh.

Subsistem yang lebih kecil dan lebih rendah tunduk pada prinsip-prinsip sistem yang lebih tinggi hierarkhinya.

Pada sistem pemerintahan di Indonesia, pemerintah nasional adalah sebuah suprasistem, yang dibawahnya ada sistem

pemerintahan provinsi, subsistem pemerintahan

kabupaten/kota serta sub-subsistem pemerintahan desa.

Masingmasing merupakan sebuah sistem yang bulat dan utuh. -Pemerintahan nasional adalah sebuah sistem;

- Pemerintahan provinsi adalah sebuah sistem;

- Pemerintahan kabupaten/ kota adalah sebuah sistem; - Pemerintahan desa adalah sebuah sistem.

(4)

SISTEM DILIHAT SECARA HIERARKHIS

Suprasistem

sistem sistem

subsistem subsistem subsistem subsistem

(5)

SISTEM DILIHAT SECARA FUNGSIONAL

Secara fungsional sistem terdiri dari komponen-komponen : a. Masukan (input); b. Proses (process); c. Keluaran (output); d. Nilaiguna (outcome); e. Dampak (impact); f. Manfaat (benefit); g. Unpanbalik (feedback);

h. Umpan kedepan (feedforward); i. Lingkungan (environment).

(6)

BAGAN SISTEM FUNGSIONAL

FEEDBACK

FEEDFORWARD

INPUT PROCESS OUTPUT OUT

(7)

Komponen Input dalam sebuah sistem dapat berupa uang, barang, orang, aturan, metode dlsb.

Komponen Process dalam sebuah sistem dapat berupa

pengubahan komponen input menjadi output yang dikehendaki.

Komponen Output berupa keluaran yang dikehendaki oleh sebuah sistem, wujudnya dapat berupa barang dan atau jasa.

Komponen Outcome dari sebuah sistem adalah nilaiguna yang dikehendaki, berkaitan dengan manfaat yang diperoleh

pengguna (users) dari sistem tersebut. Wujudnya dapat berupa kualitas dari keluaran.

Komponen Impact berupa dampak positif yang dikehendaki dari berprosesnya sistem, dengan memperhitungkan adanya dampak negatif.

(8)

Komponen Benefit berupa keuntungan yang diperoleh dari bekerjanya sebuah sistem, baik keuntungan langsung maupun tidak langsung, jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat diperhitungkan.

Komponen Feedback adalah umpan balik ke dalam sistem yang bertujuan memberikan masukan mengenai berprosesnya sistem tersebut untuk perbaikan mendatang.

Komponen Feedforward adalah umpan ke depan berupa

masukan dari sistem yang lebih kecil kepada sistem yang lebih tinggi atau lebih besar.

Environment adalah lingkungan dimana sistem tersebut berada. Ada hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara sistem dengan lingkungannya.

(9)

B. BERPIKIR SERBASISTEM DI PEMERINTAHAN

Pemerintah sebagai badan atau orang yang menjalankan pemerintahan, maupun pemerintahan sebagai fungsi dan kegiatan berpemerintahan adalah sebuah sistem.

Dilihat secara hierarkhis, sistem pemerintahan di Indonesia terdiri dari :

- suprasistem : berupa Pemerintah Nasional, yang terdiri dari lembaga tinggi negara dan lembaga negara lainnya.

- sistem : berupa pemerintahan Provinsi

-subsistem : berupa pemerintahan kabupaten/kota -sub-subsistem : berupa pemerintahan desa.

(10)

Dilihat secara fungsional, maka sistem pemerintahan terdiri : a. Input berupa : orang, uang, barang, peraturan perundang

-undangan, kebijakan, sistem dan prosedur, metode dlsb.

b. Proses berupa : pembuatan kebijakan, pembuatan perijinan, pembuatan layanan administrasi, proses penyediaan

pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, fasilitas umum, ketentraman dan ketertiban umum dlsb).

c. Output berupa : barang dan jasa publik seperti layanan pendidikan, layanan kesehatan, perijinan, layanan

administrasi, layanan ketentraman dan ketertiban umum, barang-barang publik yang disubsidi, dlsb.

(11)

Outcome berupa : nilai manfaat berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah maupun penyediaan barang -barang publik bagi kepentingan masyarakat luas,yang

seharusnya digambarkan melalui tingkat kepuasan masyarakat.

Impact berupa : dampak langsung maupun tidak langsung dari pembuatan kebijakan publik maupun penyediaan barang-barang publik oleh pemerintah, antara lain berupa terpenuhinya kebutuhan dasar, sehingga tercipta kestabilan nilai tukar rupiah, tingkat kejahatan yang menurun, dlsb.

Benefit berupa : keuntungan langsung maupun tidak langsung yang diperoleh karena bekerjanya sistem misalnya pertumbuhan ekonomi, kestabilan politik, kestabilan keamanan dlsb.

(12)

Feedback berupa : umpan balik pada internal sistem berupa kritik dari masyarakat, pikiran pembaca yang dimuat dalam

surat kabar, demonstrasi oleh masyarakat, diskusi-diskusi dalam rapat dinas dlsb.

Feedforward berupa : umpan kedepan berupa masukan dari

pemerintah desa, kabupaten/kota, provinsi kepada pemerintah pusat berjenjang ke bawah mengenai pelaksanaan kebijakan publik yang dibuat oleh masing-masing tingkatan

pemerintahan.

Environment berupa : lingkungan internal dan lingkungan

eksternal dari sebuah sistem pemerintahan pada masing-masing tingkatan.

(13)

C. HUBUNGAN SISTEMIK DALAM PRAKTEK

Indonesia adalah negara republik berbentuk

kesatuan (unitaris) yang berkedaulatan rakyat.

Dilihat secara hierarkhis, sistem pemerintahan di

Indonesia terdiri dari : - Sistem Pemerintahan

Nasional

- Subsistem Pemerintahan Propinsi

- Sub-subsistem Pemerintahan

Kabupaten/Kota

(14)

PERUBAHAN PARADIGMA PADA PEMERINTAHAN NASIONAL

Dengan adanya amandemen UUD 1945 (amandemen I sd IV),

telah terjadi perubahan paradigma dalam pembagian kekuasaan pemerintahan di tingkat nasional, dari paradigma pembagian kekuasaan (distribution of power) ke paradigma pemisahan

kekuasaan (separation of power) mengikuti model Trias Politica dari Montesqieu.

Pada UUD 1945 yang asli, kekuasaan pemerintahan terpusat pada tangan Presiden, karena Presiden merupakan satu-satunya

mandataris MPR. Terlebih lagi pada penjelasan UUD 1945 dikemukakan bahwa : “ Concentration of power and

(15)

Dari paradigma Presiden sebagai satu-satunya mandataris MPR, kemudian dikembangkan paradigma penguasa tunggal bagi

kepala wilayah (pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974), yang

berfungsi mengkoordinasikan semua instansi vertikal yang ada di daerah.

Bentuk koordinasinya diwadahi dalam MUSPIDA (Musyawarah Pimpinan Daerah).

(16)

MODEL PEMBERIAN MANDATARIS KEKUASAAN DARI RAKYAT KEPADA PRESIDEN MELALUI MPR (UUD 1945 ASLI)

RAKYAT

MPR

Mandataris

(17)

MODEL PEMBAGIAN KEKUASAAN

MENURUT UUD 1945 YANG ASLI

LEGISLATIF EKSEKTUTIF

YUDIKATIF AUDITIF

(DPR) (PRESIDEN)

(MA)

(BPK)

(18)

Pada UUD 1945 yang Asli dikemukakan bahwa Presiden

memegang kekuasaan membuat UU dengan

persetujuan DPR (pasal 5 ayat 1).

Presiden mengangkat duta besar.

Fungsi-fungsi peradilan berada di bawah Presiden.

Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi dan

rehabilitasi.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan diangkat oleh

Presiden.

(19)

MODEL PEMISAHAN KEKUASAAN

MENURUT UUD 1945 YANG DIAMANDEMEN

LEGISLATIF EKSEKTUTIF

YUDIKATIF AUDITIF

(DPR) (PRESIDEN)

(MA) (BPK)

(20)

Kekuasaan menyusun UU berada di tangan DPR,

dengan persetujuan Presiden (pasal 20 UUD 1945

Amandemen).

Kekuasaan kehakiman berada di bawah Mahkamah

Agung dan bebas dari pengaruh pemerintah.( lihat UU

Nomor 4 Tahun 2004, khususnya pasal 2).

Ketua BPK diangkat dari Presiden berdasarkan

rekomendasi DPR.

Dibangun Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan

(21)

MODEL PEMENCARAN KEKUASAAN

DALAM RANGKA DESENTRALISASI

PEM. PUSAT

LEGISLATIF EKSEKTUTIF YUDIKATIF AUDITIF (DPR) (PRESIDEN) (MA) (BPK)

DAERAH OTONOM

(22)

EKSEKTUTIF (PRESIDEN)

PEMERINTAHAN DAERAH

BADAN EKSEKUTIF BADAN LEGISLATIF DAERAH DAERAH

KOMUNITAS OTONOM LAINNYA

MODEL PEMENCARAN KEKUASAAN DALAM RANGKA

DESENTRALISASI MENURUT UU 22/1999

(23)

MODEL PEMENCARAN KEKUASAAN DALAM RANGKA

DESENTRALISASI MENURUT UU 32/2004

EKSEKTUTIF (PRESIDEN) UNSUR PENYELENGGARA PEMERINTAHAN DAERAH

KEPALA DAERAH DAN DPRD KOMUNITAS OTONOM LAINNYA

(24)

D. HUBUNGAN ANTARA PEMERINTAH DAERAH PROVINSI DENGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA

Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan daerah Kabupaten/Kota sebagai bagian dari daerah otonom adalah sebuah entitas otonom yang bersifat mandiri dan tidak saling membawahi.

Tetapi karena Gubernur mempunyai fungsi ganda (dual

function) sebagai Kepala Daerah Provinsi dan sebagai wakil

pemerintah pusat yang ada di wilayah provinsi, seringkali terjadi tumpang tindih dan kerancuan dalam pelaksanaan hubungan kerja antara pemerintahan daerah provinsi dengan

pemerintahan daerah kabupaten/kota.

Kerancuan terjadi karena Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat tidak memiliki organ-organ untuk menjalankan

(25)

Pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974 yang bersifat sentralistik, perangkat wilayah yang menjalankan asas dekonsentrasi ada sampai tingkat kecamatan. Sehingga hubungan kerja antar susunan instansi vertikal di daerah bersifat hierarkhis.

Dengan asas uniteritorial dan unipersonal, Kepala Daerah adalah juga Kepala Wilayah. Hubungan kerja antara Kepala

Daerah Provinsi dengan Kepala daerah Kabupaten /Kotamadya bersifat hierarkhis melalui posisinya sebagai Kepala Wilayah.

Sistem ini memberikan keuntungan adanya kesatuan komando dari pusat sampai ke daerah.

(26)

PRESIDEN Menteri MDN Kementerian Negara Ka. Kakanwil Gubernur KDH TK. I + DPRD Perangkat Wilayah + Perangkat Daerah Ka. Kakandep Kakandep Kec Bupati/ Walikota KDH TK. II + DPRD Perangkat Wilayah + Perangkat Daerah Camat Cadin Cadin

(27)

Pada masa UU Nomor 22 Tahun 1999, yang kemudian prinsipnya diteruskan melalui UU Nomor 32 Tahun 2004, asas dekonsentrasi dibatasi hanya sampai tingkat provinsi. Pada tingkat

kabupaten/kota lebih dominan melaksanakan asas desentralisasi.

Instansi vertikal yang ada sampai tingkat kecamatan, hanyalah instansi yang menjalankan kewenangan absolut serta instansi yang menjalankan urusan-urusan pemerintahan lainnya yang bersifat strategis (seperti statistik dasar oleh BPS).

(28)

PRESIDEN

MDN Menteri

(Kew.Concurrent)

Ka.

Kanwil GubernurSebagai Wkl Pem. Pusat KDH PROP. + DPRD Ka. Kandep KDH Kab/Kota + DPRD Ka. UPT Keterangan: = Garis Komando Menteri (Kew. Mutlak) SKPD Pengelola Dekonsentrasi SKPD Ka. UPT SPM SPM ?

(29)

Dalam menjalankan fungsinya sebagai Kepala Wilayah (Wakil Pemerintah Pusat di Daerah), Gubernur secara eksplisit hanya dibantu oleh Sekretaris daerah yang secara ex-officio

berkedudukan sebagai Sekretaris Wilayah. Oleh sebab itu, sebutannya yang lebih tepat adalah SEKWILDA.

Untuk menjalankan fungsinya sebagai wakil pemerintah pusat di Daerah, Gubernur menggunakan perangkat desentralisasi yang ada berupa SKPD, yang seringkali juga menggunakan dana APBD yang ada pada SKPD bersangkutan. Sehingga dalam prakteknya terjadi kerancuan sistem. Terjadi campur aduk antara

pelaksanaan asas dekonsentrasi, dengan asas tugas pembantuan dan asas desentralisasi.

Sebagai contoh dana BOS ( Bantuan Operasional Sekolah) untuk pendidikan dasar merupakan sebuah kerancuan sistem, karena urusan pendidikan dasar merupakan urusan kabupaten/ kota

(30)

Kerancuan sistem akan semakin menjadi manakala SPM akan diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan pada tahun anggaran 2009. Apabila tugas utama pemerintah pusat adalah menyiapkan Norma, Standar, Prosedur, Kriteria (NSPK), serta menjaga NSPK dilaksanakan, diperlukan pejabat pemerintah pusat yang berfungsi sebagai penyelia. Oleh karena itu

diperlukan pejabat-pejabat dekonsentrasi yang ada di bawah kendali Gubernur.

Pejabat-pejabat tersebut adalah pejabat fungsional, sehingga tidak perlu membangun struktur organisasi yang baru dan besar di provinsi.

(31)

Hubungan kerja antara pemerintahan daerah provinsi dengan pemerintahan daerah kabupaten/ kota dapat berbentuk :

a. Koordinasi; b. Fasilitasi;

c. Pembinaan Teknis Fungsional;

Hubungan kerja antara Gubernur sebagai wakil pemerintah

pusat di daerah dengan pemerintahan daerah dapat berbentuk: a. Koordinasi

b. Supervisi; c. Pengawasan;

(32)

E. HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH DESA

Desa merupakan sistem yang paling kecil dan paling bawah diantara keseluruhan sistem pemerintahan nasional.

Posisi desa sebagai kesatuan masyarakat hukum bersifat AMBIVALEN. Pada satu sisi, konstitusi (pasal 18 UUD 1945) mengatur bahwa otonomi desa bersifat PENGAKUAN dari

pemerintah pusat, pada sisi lain peraturan perundang-undangan mengarah pada bentuk OTONOMI PEMBERIAN. (lihat

Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 rekomendasi Nomor 7, UU Nomor 32 Tahun 2004 jo PP Nomor 72 Tahun 2005, dan

(33)

Pada posisi yang ambivalen, desa lebih banyak diposisikan sebagai obyek dari kekuasaan pemerintahan yang lebih tinggi (pemerintahan supradesa). Konsekuensinya, perkembangan desa selalu tertinggal dibandingkan daerah nonpedesaan.

KATA BIJAK MENGATAKAN BAHWA “KECEPATAN KARAVAN AKAN SANGAT DITENTUKAN OLEH GEROBAK YANG PALING LAMBAN JALANNYA”

KATA BIJAK LAINNYA MENGATAKAN BAHWA “ KEKUATAN

RANTAI TERLETAK PADA MATA RANTAINYA YANG TERLEMAH”

Dilihat dari sistem pemerintahan, desa merupakan”gerobak yang paling lambat” ataupun “mata rantai yang paling lemah”.

(34)

Referensi

Dokumen terkait

Bupati/wali kota mengusulkan secara tertulis I (satu) calon penjabat sekretaris daerah kabupaten/kota kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, paling lambat 5

Sekretaris Jendral Pengurus Pusat adalah ex officio Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), baik

Bahwa definisi satu Bahwa definisi satu Bahwa definisi satu Bahwa definisi satu- - - -satunya tentang seorang pemimpin satunya tentang seorang pemimpin satunya tentang

Sekretaris Jendral Pengurus Pusat adalah ex officio Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), baik

• Kompetisi adalah pencapaian tujuan oleh individu ataupun kelompok yang tergantung pada individu atau kelompok lain yg tidak dapat mencapai tujuan yang sama atau

generasi terakhir yang digunakan pada sektor privat dapat pula digunakan pada sektor pemerintah, dengan berbagai modifikasi... Manajemen Kolaborasi

 Dalam hal keuangan memang ada ambivalensi, pada satu sisi Pemerintah desa tidak secara resmi disebut sebagai lembaga pemerintah, tetapi pengelolaan keuangannya menggunakan sistem

Mukmin yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Kaltim ini mengatakan upaya mempercepat pelaksanaan Musyawarah Daerah musda Golkar, dilakukan oleh kelompok yang ingin menggunakan perahu