PENGARUH MOTIVASI DAN MENTAL KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI UNTUK BERWIRAUSAHA (Studi Kasus Pada Mahasiswa Akuntansi UPN “VETERAN” JATIM).

90 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 SKRIPSI

Diajukan Oleh :

Eko Priyambodo 0613010004/FE/EA

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

(2)

dan hidayah-Nya, sehingga tugas penyusunan skripsi dengan judul : “Pengaruh Motivasi Dan

Mental Kewirausahaan Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan

Nasional VETERAN Jatim Untuk Berwirausaha”, dapat terselesaikan dengan baik.

Adapun maksud penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi sebagian persyaratan

agar memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur di Surabaya.

Sejak adanya ide sampai tahap penyelesaian skripsi ini, peneliti menyadari sepenuhnya

bahwa banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti ingin

menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1.

Prof. Dr. Ir. H. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur.

2.

Bapak Dr. H. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3.

Bapak Drs. Saiful Anwar, Msi Selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional, Veteran Jawa Timur.

4.

Ibu Dr. Sri Trisnaningsih, SE, MSi, sebagai Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

5.

Bapak Drs. Ec. Sjarief Hidajat, MSi selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak

meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan, pengarahan, dorongan dan saran untuk

(3)

kemungkinkan sekali bahwa bentuk maupun isi skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu peneliti

mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang mengarah kepada kebaikan dan

kesempurnaan skripsi ini.

Sebagai penutup peneliti mengharapkan skripsi ini dapat memberikan seadanya yang

berguna bagi masyarakat, almamater, dan ilmu pengetahuan. Amin

Surabaya, Agustus 2010

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN

... x

ABSTRAKSI... xi

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hasil penelitian Terdahulu... 10

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Motivasi

2.2.2.1 Definisi Kewirausahaan ... 22

2.2.3 Minat ... 27

2.2.4 Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha ... 28

2.2.5 Pengaruh Mental Kewirausahaan Terhadap Minat

Berwirausaha... 30

(5)

Kerangka Pemikiran... 35

2.4 Hipotesis ... 36

BAB III : METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.1.1 Definisi Operasional ... 37

3.1.2 Teknik Pengukuran Variabel ... 38

3.1.3 Pengukuran Variabel ... 39

3.2 Tehnik Penentuan Populasi dan Sampel ... 41

3.3 Tehnik Pengumpulan Data

3.3.1 Jenis Data dan Sumber Data

3.3.1.1 Jenis Data... 43

3.3.2 Pengumpulan Data ... 44

3.4 Tehnik Analisis Data

3.4.1 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

3.4.1.1 Uji Validitas ... 45

3.4.1.2 Uji Reliabilitas ... 45

3.4.1.3 Uji Normalitas ... 46

3.4.2 Asumsi Klasik ... 46

3.5 Teknik Analisis ... 49

3.6 Uji Hipotesis

3.6.1 Uji Kesesuaian Model Regresi Linier Berganda (uji t) ... 50

3.6.2 Uji Kesesuaian Model Regresi Linier Berganda (uji f) ... 51

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMABAHASAN

4.1 Deskripsi Obyek Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat UPN “Veteran” Jawa Timur ... 53

4.1.2 Gambaran Umum Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Jawa

Timur... 56

4.1.3 Visi, Misi dan Tujuan UPN “Veteran” Jawa Timur ... 57

(6)

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian

4.2.1 Deskripsi Variabel Motivasi (X

1

)... 59

4.2.2 Deskripsi Variabel Mental Kewirausahaan (X

2

) ... 60

4.2.3 Deskripsi Variabel Minat Mahasiswa Untuk Berwirausaha ... 62

4.3 Analisis dan Pengujian Hipotesis

4.3.1 Uji Kualitas Data

4.3.1.1 Uji Validitas ... 63

4.3.1.2 Uji Reliabilitas ... 66

4.3.1.3 Uji Normalitas ... 68

4.4 Uji Asumsi Klasik

4.4.1 Uji Autokorelasi ... 70

4.4.2 Uji Multikolinieritas ... 70

4.4.3 Uji Heteroskedasitas ... 71

4.4.4 Koefisien Determinasi... 72

4.5 Uji Hipotesis

4.5.1 Uji Spesifikasi Model F ... 74

4.5.2 Uji t ... 75

4.6 Pembahasan Hasil Penelitian ... 77

4.7 Keterbatasan Penelitian... 79

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 80

5.2 Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(7)

3 Oleh :

EKO PRIYAMBODO

ABSTRAK

Pengaruh pendidikan kewirausahaan selama ini telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan hasrat, jiwa dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda. Terkait dengan pengaruh pendidikan kewirausahaan tersebut, diperlukan adanya pemahaman tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong lahirnya wirausaha – wirausaha muda yang potensial sementara mereka berada di bangku sekolah. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa keinginan berwirausaha para mahasiswa merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha – wirausaha masa depan.

Peneliti dalam pengambilan sampel menggunakan cara dipermudah (Convenience Sampling). Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya paling murah dan cepat dilakukan karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka temui. Meskipun tidak dapat diandalkan, cara ini bermanfaat, misalnya pada tahap awal penelitian eksploratif saat mencari petunjuk – petunjuk penelitian. Hasilnya dapat menunjukkan bukti – bukti yang cukup berlimpah, sehingga prosedur pengambilan sampel yang lebih canggih tidak diperlukan lagi.

Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 65 mahasiswa reguler pagi S1 jurusan Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur angkatan 2006 yang telah mengikuti mata kuliah kewirausahaan yang telah mengajukan bimbingan skripsi dan telah menempuh semua SKS yang wajib ditempuh dan tercatat sebagai mahasiswa yang masih aktif pada tahun ajaran 2009/2010. Sumber data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis menggunakan teknik analisis linier berganda dan diuji dengan uji F dan uji t.

Dari hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa kesesuaian model analisis regresi yang dihasilkan cocok untuk mengetahui pengaruh motivasi, dan mental kewirausahaan terhadap minat mahasiswa akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur angkatan 2006 untuk berwirausaha.

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Setiap lulusan Perguruan Tinggi sudah barang tentu mempunyai harapan dapat mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah didapat selama studi sebagai salah satu pilihan untuk berprofesi. Secara realitas ada tiga pilihan yang kemungkinan akan dialami lulusan Perguruan Tinggi setelah menyelesaikan studinya. Pertama, menjadi pegawai atau karyawan perusahaan swasta. Badan Usaha Milik Negara atau pegawai negeri. Kedua, kemungkinan menjadi pengangguran intelektual karena sulit atau sengitnya persaingan atau semakin berkurangnya lapangan kerja yang sesuai dengan latar belakang studinya karena banyaknya perusahaan yang bangkrut akibat krisis moneter seperti yang sekarang melanda Negara Indonesia. Ketiga, membuka usaha sendiri (berwirausaha) di bidang usaha yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapat selama studi di Perguruan Tinggi (Indarti dan Rostiani,2008).

(9)

Demikian juga pilihan menjadi pegawai pemerintah terasa semakin kecil peluangnya, karena banyaknya pesaing atau peserta yang mengikutinya sehingga kecil kemungkinannya. Apalagi pilihan kedua, yaitu menjadi pengangguran intelektual pasti tidak akan dipilih oleh lulusan Perguruan Tinggi, sebab resiko psikologis pribadi yang harus ditanggung oleh yang bersangkutan sangat besar. Oleh karena itu, pilihan untuk berwirausaha merupakan pilihan yang sangat tepat dan logis, sebab selain peluang lebih besar untuk berhasil, hal ini sesuai dengan program pemerintah dalam percepatan penciptaan pengusaha kecil dan menengah yang kuat dan bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi sedang digalakkan (Indarti dan Rostiani,2008).

(10)

infrastruktur. Disisi lain, devisa yang dihasilkan akan mampu meningkatkan kemandirian dan pertumbuhan perekonomian Negara. Apabila Indonesia mampu melahirkan wirausaha – wirausaha tangguh seperti diatas, bukan pengusaha yang besar karena fasilitas, kolusi, dan korupsi niscaya sebagian permasalahan ekonomi bahkan social dan politik dapat diatasi. Kehadiran pengusaha tangguh, baik sebagai pengusaha besar, sedang maupun kecil dalam pasar yang sehat akan mampu menciptakan nilai tambah barang dan jasa, meningkatkan daya saing, meningkatkan pertumbuhan dan kemandirian ekonomi nasional, meningkatkan produktivitas serta menciptakan efisiensi sumber daya alam (Indarti dan Rostiani,2008).

Dalam hubungannya dengan alasan dan pertimbangan di atas, mahasiswa sebagai salah satu golongan elit masyarakat yang diharapkan menjadi pemimpin – pemimpin bangsa masa depan, sudah sepantasnya menjadi pelopor dalam mengembangkan semangat kewirausahaan. Dengan bekal pendidikan tinggi yang diperoleh di bangku kuliah dan idelisme yang terbentuk, lulusan Perguruan Tinggi diharapkan mampu mengembangkan diri menjadi seorang wirausahawan dan bukan sebaliknya lulusan Perguruan Tinggi hanya bisa menunngu lowongan kerja bahkan menjadi pengangguran yang pada hakekatnya merupakan beban pembangunan (Indarti dan Rostiani,2008).

(11)

diperlukan adanya pemahaman tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong lahirnya wirausaha – wirausaha muda yang potensial sementara mereka berada di bangku sekolah. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa keinginan berwirausaha para mahasiswa merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha – wirausaha masa depan ( Indarti dan Rostiani,2008).

Menurut Bahaudin, seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan. Perbedaan seorang wiraswastawan dengan seorang wirausahawan adalah wirausahawan cenderung bermain dengan resiko dan tantangan. Artinya, wirausahawan lebih bermain dengan cara memanfaatkan peluang – peluang tersebut. Sedangkan wiraswastawan lebih cenderung kepada seseorang yang memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membuka suatu usaha tertentu. Seseorang wirausahawan bisa jadi merupakan wiraswastawan, namun wiraswastawan belum tentu wirausaha. Wirausahawan mungkin adalah seorang manajer yang mengelola suatu perusahaan yang bukan miliknya. Namun wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki sebuah usaha sendiri (Bahaudin, 2006 : 1).

(12)

kepada konsumen, dan pajak yang dibayarkan kepada pemerintah (Sisnuhadi dan Wijaya,2008).

Di Indonesia, kesadaran warga Negara untuk berwirausaha tumbuh dengan cepat. Sejumlah alasan seseorang untuk menjadi wirausaha, diantaranya adalah dorongan untuk mandiri, keadaan ekonomi yang memaksa mereka untuk berwirausaha, korban PHK, sulitnya mencari pekerjaan dan banyaknya pengangguran, faktor orang tua atau keluarga. (Sisnuhadi dan Wijaya,2008).

Pemerintah saat ini memberikan porsi yang cukup besar untuk pengembangan kewirausahaan, baik untuk menumbuhkan perekonomian suatu daerah tertentu, maupun mendorong universitas untuk memberikan bekal kepada para mahasiswanya supaya memiliki jiwa kewirausahaan, sehingga diharapkan setelah mahasiswa ini lulus, maka mereka tidak hanya berkonsentrasi menjadi tenaga kerja namun juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain karena mereka menjadi seorang wirausaha yang kemungkinan akan membutuhkan tenaga kerja untuk membantu kerja mereka (Sisnuhadi dan Wijaya,2008).

(13)

aktivitas itu semua, diharapkan dapat membuat para mahasiswa mendorong untuk menjadi wirausaha yang sesungguhnya setelah mereka diwisuda.

Masalah pengangguran khususnya pengangguran tamatan dari perguruan tinggi di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Data 15 tahun terakhir Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menunjukkan dari data tahun 1989-1995 laju peningkatan jumlah penganggur lulusan perguruan tinggi 22,73%. Setelah krisis tahun 1997 menunjukkan jumlah penganggur lulusan unversitas cenderung turun naik tetapi angka absolutnya tetap lebih tinggi dari penganggur diploma dan tahun 2000-2005 jumlah penganggur lulusan unversitas berkisar antara 245.000 sampai dengan 385.418 orang. Bahkan menurut Data Survei Angkatan Kerja Nasional per Februari 2007 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik menunjukkan pada Agustus 2006 penganggur dari kalangan terdidik ini mencapai 673.628 orang dan setengah tahun kemudian jumlah ini naik menjadi 740.206 (Asandimitra dan Widyastuti,2008).

Hal ini mencerminkan tidak adanya konsep pemerintah untuk mengelola dan memberdayakan potensi kolektif sumber daya manusia terdidik. Ada missing link antara proses pembelajaran dan kebijakan pengelolaan unversitas dengan proyeksi pemanfaatan output pendidikan tinggi bagi pembangunan masyarakat. Sehingga diperlukan perubahan pola pikir dari pencari kerja menjadi menjadi menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu sangat diperlukan pendidikan kewirausahaan sejak dini (Asandimitra dan Widyastuti,2008).

(14)

tinggi, kini mulai menyerap pendidikan kewirausahaan. Pendidikan ini diyakini mampu mendorong siswa untuk kreatif, inovatif dan komunikatif. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan sangat penting. Manfaat pentingnya pendidikan kewirausahaan sudah disadari Amerika Serikat yang terkandung dalam Resolusi No. 699 Tahun 2006 tentang perlunya pendidikan kewirausahaan bagi generasi muda. Menurut pendapat sosiolog McClelland (1971), suatu Negara bisa makmur bila memiliki 400.000 wirausahawan atau 0,18% dari jumlah penduduk (Asandimitra dan Widyastuti,2008).

Berdasarkan penelitian dan analisis yang penulis lakukan yang diaplikasikan dengan studi pendahuluan kuesioner pada mahasiswa akuntansi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim tentang minat mahasiswa terhadap kewirausahaan terjadi karena sejumlah aktivitas yang telah dilakukan pada mata kuliah ini, yaitu tentang teori – teori kewirausahaan, praktek lapangan kewirausahaan. Dengan melakukan aktivitas itu semua, diharapkan dapat membuat para mahasiswa mendorong untuk menjadi wirausaha yang sesungguhnya setelah mereka diwisuda.

(15)

Sehubungan dengan adanya latar belakang permasalahan di atas, maka penulis mencoba untuk mengamati dan mencermati motivasi dan mental kewirausahaan dan minat mahasiswa terhadap kewirausahaan, yang dituangkan dalam skripsi dengan judul : “PENGARUH MOTIVASI DAN MENTAL KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI UNTUK

BERWIRAUSAHA”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan permasalaan ini sebagai berikut:

a.Apakah Motivasi dan Mental Kewirausahaan berpengaruh terhadap Minat untuk Berwirausaha?

b.Diantara variabel Motivasi dan Mental Kewirausahaan manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap Minat untuk Berwirausaha?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1.Untuk menguji dan membuktikan secara empiris pengaruh motivasi dan mental kewirausahaan untuk Berwirausaha

(16)

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : a.Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam penelitian yang sama, sehingga hasil penelitian tersebut akan menjadi lebih sempurna. b.Bagi peneliti

Dapat dipakai sebagai tambahan pengetahuan yaitu dengan tujuan langsung pada perusahaan yang bersangkutan, sehingga dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh serta untuk mengetahui sampai seberapa jauh hubungan antara teori yang diterima dengan prakteknya.

c.Bagi UPN “VETERAN” Jawa Timur

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang

dapat dipakai sebagai bahan pengkajian dengan penelitian adalah sebagai

berikut :

1.Sri Wahyuni (2009)

“Pengaruh Pengalaman, Motivasi, dan Mental Kewirausahaan Terhadap

Keberhasilan Industri Kecil Sandal/ Sepatu Wedoro Waru Sidoarjo”

Rumusan Masalah :

- Apakah pengalaman, motivasi, dan mental kewirausahaan berpengaruh

keberhasilan industri kecil sandal/sepatu di Wedoro Waru Sidoarjo.

- Diantara variabel pengalaman, motivasi, dan mental kewirausahaan

manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap keberhasilan industri

kecil sandal/sepatu Wedoro Waru Sidoarjo.

Hipotesis :

- Diduga Pengalaman, Motivasi, dan Mental Kewirausahaan berpengaruh

terhadap keberhasilan industri kecil sandal/sepatu di Wedoro Waru

(18)

- Diduga Pengalaman merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya

terhadap keberhasilan industri kecil sandal/sepatu di Wedoro Waru

Sidoarjo?

Kesimpulan :

- Mental kewirausahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

keberhasilan industri kecil sandal/sepatu Wedoro, sedangkan pengalaman

dan motivasi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

keberhasilan industri kecil sandal/sepatu Wedoro.

- Variabel pengalaman tidak mempunyai pengaruh yang dominan terhadap

keberhasilan industri sandal/sepatu Wedoro. Akan tetapi mental

kewirausahaan yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keberhasilan

industri sandal/sepatu Wedoro.

2.Nurul Indarti dan Rokhima Rostiani (2008)

“Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia,

Jepang, Dan Norwegia”

Rumusan Masalah :

- Apakah faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri, faktor

lingkungan, dan faktor demografis : gender, umur, latar belakang

pendidikan ?

- Diantara variabel faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan efikasi

(19)

pendidikan manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap faktor

penentu intensi kewirausahaan?

Hipotesis :

- Diduga faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri, faktor

lingkungan, dan faktor demografis : gender, umur, latar belakang

pendidikan berpengaruh terhadap faktor penentu intensi kewirausahaan.

- Diduga faktor kepribadian : kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri

merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap faktor

penentu intensi kewirausahaan.

Kesimpulan :

- Tingkat kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, dan kesiapan instrument

mahasiswa Indonesia signifikan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa

Jepang dan Norwegia.

3. Sisnuhadi dan Petra Surya Mega Wijaya (2008)

“Karakteristik Kewirausahaan dan Pengaruhnya Terhadap Keinginan

Berwirausaha”.

Rumusan Masalah :

- Apakah pengalaman masa lalu, jiwa kemandirian, semangat bersaing, suka

tantangan, berorientasi pada masa depan, dan motivasi berpengaruh

terhadap keinginan berwirausaha.

- Diantara variabel pengalaman masa lalu, jiwa kemandirian, semangat

(20)

manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap keinginan

berwirausaha.

Hipotesis :

- Diduga pengalaman masa lalu, jiwa kemaandirian, semangat bersaing,suka

tantangan, berorientasi pada masa depan, dan motivasi berpengaruh

terhadap keinginan untuk berwirausaha?

- Diduga pengalaman masa lau merupakan variabel yang paling dominan

pengaruhnya terhadap keinginan untuk berwirausaha?

Kesimpulan :

- Karakteristik kewirausahaan yang dimiliki oleh para mahasiswa Universitas

Kristen Duta Wacana adalah (1). Belajar dari pengalaman masa lalu, (2).

Jiwa kemandirian, (3). Semangat bersaing, (4). Suka tantangan, (5).

Berorientasi pada masa depan, (6). Motivasi.

- Dari enam karakteristik yang dimiliki oleh para mahasiswa Universitas

Kristen Duta Wacana tersebut yang memiliki pengaruh pada minat untuk

berwirausaha adalah Suka Tantangan.

4. Nadia Asandimitra dan Widyastuti (2008)

“Analisis Penentu Minat Berwirausaha Mahasiswa”

Rumusan Masalah :

- Apakah pemahaman dan pengalaman : karakteristik demografi seperti

umur, gender, dan pengalaman kerja berpengaruh terhadap minat mahasiswa

(21)

- Diantara variabel pemahaman dan pengalaman : karakteristik demografi

seperti umur, gender, dan pengalaman kerja manakah yang paling dominan

berpengaruh terhadap minat mahasiswa UNESA untuk berwirausaha

Hipotesis :

- Diduga pemahaman dan pengalaman : karakteristik demografi seperti umur,

gender, dan pengalaman kerja berpengaruh terhadap keinginan untuk

berwirausaha ?

- Diduga pemahaman merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya

terhadap keinginan untuk berwirausaha ?

Kesimpulan :

- Minat berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri

Surabaya cukup tinggi tetapi masih tetap perlu dikembangkan.

- Melibatkan mahasiswa ke dalam beberapa aktivitas workshop, pelatihan dan

magang kewirausahaan.

5. Helmi Yuli Yanto (2009)

“Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Mahasiswa, Untuk Mengikuti

Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA)”.

Rumusan Masalah :

- Apakah motivasi karier, motivasi ekonomi, motivasi kualitas berpengaruh

terhadap minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansi

(22)

- Diantara variabel motivasi karier, motivasi ekonomi, motivasi kualitas

manakah yang paling dominan berpengaruh terhadap minatý asiswa

untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansi (PPA).

Hipotesis :

Diduga motivasi karier, motivasi ekonomi, motivasi kualitas berpengaruh

terhadap minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansi

(PPA).

Kesimpulan :

Bahwa diduga motivasi karier, motivasi ekonomi, motivasi kualitas

berpengaruh terhadap minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi

akuntansi (PPA) telah terbukti kebenarannya.

2.2 Landasan Teori

Dalam bab ini disajikan beberapa teori atau konsep yang

merupakan dasar utama dari kerangka pikir dalam usaha pencarian cara

ilmiah untuk pemecahan masalah yang diajukan dalam penelitian.

2.2.1 Motivasi

2.2.1.1. Pengertian Motivasi

Kata motivasi berasal dari akar data “motive” atau “motiwum”

yang berarti ‘a moving cause’ yang berhubungan dengan ‘inner drive,

impulse, intension’. Kata “motive” atau motif ini bila berkembang

(23)

digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang menggerakkan itu terwujud dalam

tindakan, menurut Eviriyanti (2007) di penelitian (Wahyuni 2009 :18).

Istilah motivasi (Motivation) berasal dari perkataan bahasa latin,

yakni Movere, yang berarti “menggerakkan”. Ada macam – macam

rumusan untuk motivasi, yaitu :

Motivasi merupakan hasil sejumlah proses, yang bersifat internal

atau eksternal bagi seseorang individu, yang menyebabkan timbulnya

sikap entusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan –

kegiatan tertentu menurut Gray 1984 : 69 di penelitian (Winardi,2001 : 2).

Setelah kita mengikuti uraian tentang salah satu macam rumusan

tentang konsep motivasi, maka ingin kami menyampaikan pandangan

berikut. Kami berpendapat bahwa motivasi adalah : “Suatu kekuatan

potensial yang ada dalam diri seorang manusia, yang dapat

dikembangkannya sendiri, atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan

luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter, dan non moneter,

yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau negatif, hal

mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang

bersangkutan (Winardi,2001: 6).

Menurut (Martoyo,1990:138) Motivasi atau “motivation” berarti:

pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan.

Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah “faktor yang mendorong

orang untuk bertindak dengan cara tertentu” di dalam penelitian

(24)

Dilihat dari segi etika, motif didefinisikan sebagai pikiran – pikiran

dan perasaan – perasaan yang menjadi penyebab seseorang melakukan

suatu tindakan. Motivasi disini berarti dorongan yang menggerakkan serta

mengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan apa

yang dikehendakinya, tertuju kepada tujuan yang diinginkannya, menurut

Evriyanti (2007) di penelitian (Wahyuni, 2009 : 18).

Motivasi adalah kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau

dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar. Motivasi jelas

datang dari berbagai macam sumber. Motivasi dapat digerakkan oleh

kebutuhan (yang kompleks) seseorang, ataupun dorongan dari seorang

motivator yang memberi pengaruh motivasi kepada orang lain, menurut

Evriyanti (2007) di dalam penelitian (Wahyuni, 2009 : 18).

Demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah

“kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan dan

memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan,

memberi ataupun mengurangi ketidakseimbangan” di dalam penelitian

(Yanto,2009 : 24).

Karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan adanya

kebutuhan dan kepuasan serta ketidakseimbangan tersebut. Rangsangan

terhadap hal semacam di ataslah yang akan menumbuhkan motivasi, dan

motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan moto dan

dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian

(25)

2.2.1.2. Perkembangan Teori Motivasi

Perkembangan ini dapat dikatakan timbul karena semakin disadari

bahwa manusia adalah makhluk yang sangat kompleks, termasuk dilihat

dari sudut kebutuhannya. Artinya, konsep dasar yang terkandung pada

hedonisme tidak hilang sama sekali akan tetapi telah dilengkapi dengan

berbagai pandangan lain (Siagian,2004 : 142).

Karena itulah dapat dikatakan bahwa bagaimanapun motivasi

didefinisikan, terdapat tiga komponen utamanya, yaitu : kebutuhan,

dorongan, dan tujuan. Kebutuhan, yang merupakan segi pertama dari

motivasi, timbul dalam diri seseorang apabila ia merasa adanya

kekurangan dalam dirinya. Dorongan, sebagai segi kedua motivasi,

berorientasi pada tindakan tertentu yang sadar dilakukan oleh seseorang.

Dorongan dapat bersumber dari dalam diri seseorang dan dapat pula

bersumber dari luar diri orang tersebut. Tujuan, sebagai segi ke tiga dari

motivasi. Dalam teori motivasi, tujuan adalah segala sesuatu yang

menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan. Dengan perkataan

lain, mencapai tujuan berarti mengembalikan keseimbangan dalam diri

(26)

2.2.1.3. Teori Motivasi

Teori motivasi pertama kali dikemukakan oleh Maslow (1934). Ia

mengemukakan tentang hierarki kebutuhan yang mendasari motivasi.

Menurutnya, kebutuhan bertingkat sesuai dengan tingkatan pemuasannya,

yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan sosial,

kebutuhan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Suryana (2006 :

52).

Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tetentu. Suatu

kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga mencapai tingkat

intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang cukup mendorong

seseorang untuk bertindak menurut (Sunarto,2003:132) di penelitian

(Yanto,2009 : 24).

Model motivasi Kebutuhan – Tujuan dimulai dengan perasaan

kebutuhan individu. Kebutuhan ini kemudian ditransformasikan menjadi

perilaku yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan.

Tujuan dari perilaku tujuan adalah untuk mengurangi kebutuhan yang

dirasakan. Secara teoritis, perilaku mendukung tujuan dan perilaku tujuan

berkelanjutan sampai kebutuhan yang dirasakan telah sangat berkurang

(Wiratmo,1996 : 204)

Model Ekspektasi Motivasi Vroom, pada kenyataan proses

motivasi adalah situasi yang lebih rumit dibandingkan yang digambarkan

(27)

mengatasi beberapa kerumitan tambahan. Disamping itu, model ekspektasi

Vroom mengungkapkan isu kekuatan motivasi. Kekuatan motivasi adalah

tingkatan keinginan individu untuk menjalankan suatu perilaku. Ketika

keinginan meningkat atau menurun, kekuatan motivasi dikatakan

berfluktuasi. Menurut model motivasi Vroom ini kekuatan motivasi

ditetukan oleh (1). nilai dari hasil menjalankan suatu suatu perilaku yang

dirasakan dan, (2). kemungkinan yang dirasakan bahwa perilaku yang

dijalankan oleh individudan menyebabkan diperolehnya hasil. Ketika

kedua faktor tersebut meningkat, kekuatan motivasi atau keinginan

individu untuk menjalankan perilaku akan meningkat. Pada umumnya,

individu cenderung untuk menjalankan perilaku – perilaku yang

memaksimumkan balas jasa pribadi dalam jangka panjang (Wiratmo,1996

: 205).

Model Motivasi Porter – Lawler ini telah mengembangkan suatu

model motivasi yang menggambarkan uraian proses motivasi yang lebih

lengkap dibandingkan model kebutuhan – tujuan atau model ekspektasi

Vroom. Model motivasi Porter – Lawler ini konsisten dengan dua model

sebelumnya di mana model ini menerima premis bahwa (1) kebutuhan

yang dirasakan akan menyebabkan perilaku kemanusiaan; dan (2) usaha

yang dilakukan untuk mencapai suatu tugas ditentukan oleh nilai balas jasa

yang dirasakan yang dihasilkan dari suatu tugas dan probabilitas bahwa

(28)

Teori Federick Herzberg mengembangkan teori motivasi dua faktor

yang membedakan, yaitu: faktor yang menyebabkan ketidakpuasan atau

dissatisfier dan faktor yang menyebabkan kepuasan atau satisfier.

Keberadaan dissatisfier tidaklah cukup, sebaliknya satisfier harus ada

secara aktif untuk memotivasi suatu pembelian. Teori motivasi Herzberg

memiliki dua implikasi. Pertama, penjual harus berusaha sebaik – baiknya

untuk menghindari dissatisfier. Walaupun hal itu tidak menyebabkan

lakunya sebuah produk, hal itu bisa dengan mudah menyebabkan produk

tidak terjual. Kedua, produsen harus mengidentifikasi satisfier atau

motivator terutama pembelian di pasar dan kemudian menyediakan faktor

satisfier itu di dalam penelitian (Yanto,2009 : 26).

2.2.2 Mental Kewirausahaan

Mental kewirausahaan adalah jiwa atau mental yang dimiliki oleh

para wirausahawan. Dalam perusahaan, wirausaha adalah seorang inisiator

atau organisator penting. Menurut Dusselman (1989:16), seseorang yang

memiliki jiwa kewirausahaan ditandai oleh pola – pola tingkah laku

sebagai berikut :

1. Inovasi, yaitu usaha untuk menciptakan, menemukan, dan menerima ide

– ide baru.

2. Keberanian untuk menghadapi risiko, yaitu usaha untuk menimbang

dan menerima risiko dalam mengambil keputusan dan menghadapi

(29)

3. Kemampuan manajerial, yaitu usaha yang dilakukan untuk

melaksanakan fungsi – fungsi manajemen, meliputi :

a. Perencanaan

b. Koordinasi

c. Menjaga kelancaran usaha

d. Mengawasi dan mengevaluasi usaha

4. Kepemimpinan, yaitu usaha memotivasi, melaksanakan, dan

mengarahkan tujuan usaha. (Suryana,2006 : 50).

2.2.2.1 Definisi Kewirausahaan

Para wirausahawan adalah individu – individu yang berorientasi

kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam

mengejar tujuannya. Menurut Meridith (2002 : 5) profil dari wirausaha

mempunyai ciri – ciri dan sifat mental sebagai berikut: percaya diri,

berorientasi tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan,

keorisinilan dan berorientasi ke masa depan.

Beberapa ciri – ciri kewirausahaan yang dikemukakan oleh para

ahli seperti yang dikemukakan oleh Musselman (1989 : 155), Sumanto

(1989), dan Meridith (1989 : 5) dalam bentuk sebagai berikut:

a. Memiliki keinginan kuat untuk berdiri sendiri.

b. Memiliki kemauan untuk mengambil resiko

(30)

d. Mampu memotivasi diri sendiri

e. Memiliki semangat untuk bersaing

f. Memiliki orientasi terhadap kerja keras

g. Memiliki kepercayaan diri yang besar

h. Memiliki dorongan untuk berprestasi

i. Tingkat energi yang tinggi

j. Tegas

k. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri (Suryana,2006 : 26).

Para wirausaha memiliki pandangan hidup sehat. Mereka

merupakan individu – individu yang matang yang telah mengembangkan

suatu cara menilai pengalaman – pengalaman secara sehat. Saran – saran

berikut ini akan membantu anda untuk mengembangkan sikap dan mental

yang baik:

 Para wirausaha adalah orang – orang yang mengetahui bagaimana

menentukan kepuasan dalam pekerjaan dan bangga akan prestasinya.

Tunjukkan sikap mental yang positif terhadap pekerjaan anda, karena

sikap inilah yang akan ikut menentukan keberhasilan anda.

 Otak anda merupakan alat yang berdaya luar biasa. Menyediakan waktu

beberapa saat setiap hari untuk renungan pikiran anda yang akan

memungkinkan anda terarah pada kegiatan – kegiatan yang berarti.

 Kebanyakan orang membatasi pikiran – pikirannya pada problem dan

(31)

meluaskan pikiran – pikiran anda dan cobalah berpikir yang “besar –

besar”. Orang – orang yang dapat melihat “gambaran besar” adalah

orang yang bersifat wirausaha dan merupakan calon – calon pemimpin

bisnis maupun masyarakat.

 Rasa humor ikut mengembangkan sikap mental yang sehat. Terlalu

serius dapat merugikan pekerjaan anda dan tidak sehat. Menunjukkan

rasa humor berpengaruh pada orang lain dengan jalan menyebarkan

optimism dan suasana santai.

 Pikiran anda haruslah terorganisasi dengan baik sekali dan mampu

memfokuskan pada berbagai problem. Anda haruslah mampu

memindahkan perhatian anda dari satu problem ke problem lain dengan

upaya yang minim.

Kebanyakan orang membiarkan keadaan luar mengendalikan sikap

mereka, sedang para wirausaha menggunakan sikap mereka untuk

mengendalikan keadaan. Sikap mental positif memudahkan anda untuk

memfakuskan pada kegiatan – kegiatan dan kejadian – kejadian dan atas

hasil – hasil yang ingin anda capai malahan pengalaman – pengalaman

negative mempunyai segi – segi yang positif terhadap suatu peristiwa dan

mencari hikmah dari setiap pengalaman (Meredith,2002)

Sikap mental positif dapat dikembangkan setelah jangka waktu

yang lama. Faktor – faktor yang berikut ini berguna bagi wirausaha dalam

(32)

 Pusatkan perhatian anda sedemikian rupa dan gunakanlah pikiran anda

secara produktif.

 Pilihannya sasaran – sasaran positif dalam pekerjaan anda.

 Bergaulah dengan orang – orang yang berfikir dan bertindak secara

wirausaha.

Cara berpikir, cara dan ciri – ciri dari orang yang di sekitar anda mungkin

berimbas pada diri anda :

 Jauhilah pikiran dan ide – ide negatif.

 Sadarlah bahwa andalah yang mengendalikan pikira anda dan

gunakanlah pikiran anda secara produktif.

 Anda haruslah selalu awas terhadap peluang – peluang untuk

meningkatkan situasi anda, baik dalam keidupan pribadi, kehidupan

kerja maupun dalam kehidupan masyarakat.

 Jangan takut meninggalkan suatu ide, jika tidak menghasilkan yang

benar. Lebih baik mengubah arah dari pada mengajar suatu ide yang

tidak akan berhasil sevara memuaskan.

 Lingkungan anda akan mempengaruhi prestasi anda. Jika lingkungan

anda tidak memenuhi kebutuhan – kebutuhan anda, ubahlah lingkungan

itu, atau pindah ke ligkungan lain yang lebih positif dan memungkinkan

(33)

 Percayalah pada diri anda dan bakat – bakat anda. Sukses akan datang

kepada mereka yang percaya pada kemampuan mereka dan

menggunakan kemampuan itu sepenuhnya.

 Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan. Pusatkan pikiran

anda pada problem tertentu. Sekali anda mencapai keputusan, ambillah

tindakan untuk memecahkan persoalan itu. Agar konflik – konflik

mental diselesaikan secepat mungkin.

Dalam hubungan dengan yang terakhir ini, riset mutakhir telat.

Menunjukkan bahwa ciri pokok dari wirausaha yang berhasil adalah

kemampuan mereka untuk mengambil keputusan dalam suasana stress.

Mengelola dalam situasi stress yang terus – menerus menhendaki keadaan

fisik dan mental yang baik. Telah banyak yang ditulis mengenai hal ini.

Yang penting dalam menangani stress meliputi: tiap hari dalam makan dan

minum, tidur, dan istirahat yang cukup, tidak merokok, memisahkan yang

penting dari yang “mendesak” dan dari yang “lain – lain” yang harus

dibuat dan lalu menangani hal – hal yang penting dulu dengan mengambil

tindakan tidak hanya berhenti pada rasa cemas. Caranya, dengan

menyiapkan rencana – rencana darurat untuk menangani sekitarnya terjadi

yang paling buruk yang tebaik ataupun yang harus diingat adalah

menyediakan cukup waktu dan kemudian berusaha untuk bekerja sesuai

(34)

Kewirausahaan berkembang melalui 3 proses, yaitu:

a. Tahap imitasi dan duplikasi,

b. Tahap duplikasi dan pengembangan, dan

c. Tahap menciptakan sendiri barang dan jasa baru yang berbeda

(Suryana,2008 : 64).

2.2.3 Minat

Minat menurut Widyastuti (2004) dalam penelitian

(Yanto,2009:26) adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan

setelah melihat, mengamati, dan membandingkan serta

mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya. Minat adalah

kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.

Demikian, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan pada minat ini, yaitu (Yanto,2009 : 27) :

1. Minat dianggap sebagai perantara faktor – faktor motivasional yang

mempunyai dampak pada suatu perilaku.

2. Minat menunjukkan seberapa keras seseorang berani mencoba

melakukan sesuatu.

3. Minat menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan

(35)

2.2.4. Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha

Menurut Robbins (2001 :166) motivasi merupakan kesediaan

untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan – tujuan

organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi

sesuatu kebutuhan individual sedangkan minat adalah sebagai keinginan

untuk memperlihatkan atau melakukan sesuatu (Yanto,2009 : 27).

Salah satu hasil usaha para ilmuwan yang mendalami teori

motivasi ialah dikembangkannya apa yang dikenal dengan teori harapan.

Teori harapan, inti teori ini terletak pada pendapat yang mengatakan

bahwa kuatnya kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu

tergantung pada kekuatan harapan, bahwa tindakan tersebut akan diikuti

oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik dari hasil itu bagi orang yang

bersangkutan (Siagian,2004 : 179).

Teori ini mengandung tiga variabel, yaitu daya tarik, hubungan

antara prestasi kerja dengan imbalan serta hubungan (kaitan) antara usaha

dan prestasi kerja. Yang dimaksud dengan daya tarik ialah sampai sejauh

mana seseorang merasa pentingnya hasil atau imbalan yang diperoleh

dalam penyelesaian tugasnya. Yang dimaksud dengan kaitan antara

prestasi kerja dan imbalan ialah tingkat keyakinan seseorang tentang

hubungan antara tingkat prestasi kerjanya dengan pencapaian hasil

(36)

adalah persepsi seseorang tentang kemungkinan bahwa usaha tertentu akan

menjurus kepada prestasi kerja (Siagian,2004 : 179 - 180).

Pendalaman teori harapan akan menunjukkan hal – hal sebagai berikut

(Siagian,2004 : 180) :

1. Kuatnya motivasi eseorang berprestasi (usahanya) tergantung pada

pandangannya tentang betapa kuatnya keyakinan yang terdapat dalam

dirinya bahwa ia akan dapat mencapai apa yang diusahakan untuk

dicapai.

2. Jika tujuan ini tercapai (prestasi kerja), timbul pertanyaan apakah ia

akan memperoleh imbalan yang memadai dan, apabila imbalan itu

diberikan oleh organisasi, apakah imbalan itu akan memuaskan

tujuannya atau kepentingannya.

Minat adalah suatu keinginan setelah melihat, mengamati, dan

membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang

diinginkannya. Minat juga bisa diartikan dengan kecenderungan hati yang

tinggi terhadap sesuatu. Selanjutnya kamus umum bahasa Indonesia

mendefinisikan minat sebagai keinginan untuk memperlihatkan atau

melakukan sesuatu (Yanto,2009:26).

Kewirausahaan adalah kemampuan kreatifitas dan inovatif yang

dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju

sukses. Para wirausahawan adalah individu – individu yang berorientasi

kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam

(37)

Berdasarkan paparan diatas bisa disimpulkan bahwa pengaruh

motivasi terhadap minat berwirausaha adalah suatu dorongan untuk

memperlihatkan atau melakukan sesuatu yang diinginkan yang

berorientasi kepada kemampuan kreatifitas, inovatif, dan berani

mengambil resiko dalam mencapai tujuannya.

2.2.5 Pengaruh Mental Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha

Proses kreatif dan inovatif hanya dilakukan oleh orang – orang

yang memiliki kepribadian kreatif dan inovatif, yaitu orang yang memiliki

jiwa, sikap, dan perilaku kewirausahaan (Suryana, 2006 : 3). Dalam

perusahaan, wirausaha adalah seorang inisiator atau organisator penting.

Menurut Dusselman (1989:16), seseorang yang memiliki jiwa

kewirausahaan ditandai oleh pola – pola tingkah laku sebagai berikut :

1. Inovasi, yaitu usaha untuk menciptakan, menemukan, dan menerima ide

– ide baru.

2. Keberanian untuk menghadapi risiko, yaitu usaha untuk menimbang

dan menerima risiko dalam mengambil keputusan dan menghadapi

ketidak pastian.

3. Kemampuan manajerial, yaitu usaha yang dilakukan untuk

melaksanakan fungsi – fungsi manajemen, meliputi :

a. Perencanaan

b. Koordinasi

(38)

d. Mengawasi dan mengevaluasi usaha

4. Kepemimpinan, yaitu usaha memotivasi, melaksanakan, dan

mengarahkan tujuan usaha. (Suryana,2006 : 50).

Berbagai metode dan konsep pembentukan kewirausahaan

diperkenalkan pada masyarakat dunia dan ini diajarkan sebagai mata

kuliah di berbagai universitas terkenal dunia. Berbagai macam pola dan

metode pula dilakukan oleh lembaga – lembaga di Indonesia untuk

memajukan kewirausahaan di negeri ini, dari lembaga pemerintah maupun

swasta berlomba dalam mencanangkan program kewirausahaan.

Contohnya : perguruan tinggi, diberlakukannya mata kuliah

kewirausahaan sebagai matakuliah wajib yang diikuti oleh mahasiswa dan

dimulai tahun 1997; Depnaker, dengan program yang dikenal “Tenaga

Kerja Pemuda Mandiri” dimulai pada tahun 1994; Departemen

Pendidikan, program pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan

tinggi telah berjalan sejak tahun 1997. Secara umum program ini bertujuan

antara lain untuk “Menumbuh kembangkan budaya kewirausahaan

didalam lingkungan perguruan tinggi untuk mendorong terciptanya

wirausaha baru”. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, program

pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi dirancang

meliputi lima kegiatan yang saling terkait sebagai wahana diwujudkannya

wirausaha baru lulusan perguruan tinggi, yaitu (Mudjiarto dan Wahid,

(39)

1. Kuliah Kewirausahaan

mahasiswa pemula dalam wirausaha, keikutsertaan dalam

kewirausahaan akan merupakan inisiasi penumbuhan dan pemahaman

jiwa wirausaha.

2. Magang Kewirausahaan

pada kegiatan ini, mahasiswa dapat mempelajari kewirausahaan secara

nyata dimitra industri/pengusaha.

3. Kuliah Kerja Nyata

kegiatan dilaksanakan untuk mendalami kewirausahaan sambil berperan

serta membantu mitra usaha rumah tangga, baik dalam proses produksi

maupun dalam pemasaran dan penjualan.

4. Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja

kegiatan ini dilaksanakan untuk membantu masyarakat pengusaha kecil

dan menengah serta alumni dalam berwirausaha dan memperoleh akses

pasar dan modal.

5. Inkubator Wirausaha Baru

kegiatan ini merupakan ajang terakhir pembentukan jiwa

kewirausahaan mahasiswa dan lulusan baru, sebelum terjun kedalam

kedunia nyata berwirausaha sebagai wirausaha mandiri.

6. Monitoring dan Evaluasi

kegiatan ini merupakan pengkajian dan penelitian evaluasi program

(40)

dievaluasi melalui ukuran yang telah ditetapkan. Tiga tahap kegiatan

monitoring dan evaluasi yang dilakukan :

a. Tahap Pembentukan jati diri usaha

merupakan tahap untuk melihat jati diri wirausaha baru didalam

menekuni serta keseriusan usaha yang dijalankan, apaka dalam kurun

waktu 1 – 2 tahun usaha yang dilakukan ada tanda – tanda

perkembangan? Atau dalam kurun waktu tersebut telah berganti jenis

usaha? Atau tidak ada usaha?.

b. Tahap Pertumbuhan Usaha

dalam tahap ini melihat perkembangan usaha, apakah dalam kurun

waktu 3 – 5 tahun perkembangan usahanya tumbuh berdasarkan

rencana usaha awal yang dibuat? Apakah pertubuhan usaha awal

menggunakan 100% modal sendiri dari hasil usaha yang ditanamkan

kembali? Atau ada sebagian modal pinjaman? Atau juga sebagian

besar berasal dari pinjaman? Kondisi – kondisi tersebut dimonitoring

dan dievaluasi yang merupakan dasar penelitian keberhasilan

program.

c. Tahap Pendewasaan Usaha

pendewasaan usaha merupakan tahap kematangan didalam usaha

yang ditekuninya. Dalam kurun waktu 6 – 10 tahun pada tahap

pendewasaan ini seorang wirausaha mempunyai suatu kematangan

usaha yang ditunjukkan dengan pendelegasian wewenang atas

(41)

usahanya, dan ia mulai mencari peluang usaha yang lain dan

membuka usaha yang baru dengan sumber dana berasal dari laba

usaha yang pertama (Mudjiarto dan Wahid, 2006: 21).

Minat adalah suatu keinginan setelah melihat, mengamati, dan

membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang

diinginkannya. Minat juga bisa diartikan dengan kecenderungan hati yang

tinggi terhadap sesuatu. Selanjutnya kamus umum bahasa Indonesia

mendefinisikan minat sebagai keinginan untuk memperlihatkan atau

melakukan sesuatu (Yanto,2009:26).

Kewirausahaan adalah kemampuan kreatifitas dan inovatif yang

dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju

sukses. Para wirausahawan adalah individu – individu yang berorientasi

kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam

mengejar tujuannya (Suryana, 2006 : 2).

Berdasarkan paparan diatas bisa disimpulkan bahwa pengaruh

mental kewirausahaan terhadap minat berwirausaha adalah orang yang

memliki kepribadian kreatif dan inovatif dengan keinginan yang kuat

(42)

2.3 Kerangka Pikir

Penelitian ini dilakukan pada dasarnya merupakan pengembangan

terhadap teori – teori dan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.

Adapun premis yang digunakan oleh penulis sebagai acuan dalam

melakukan penelitian dapat diikhtisarkan sebagai berikut :

Premis 1

Adanya Pengaruh Motivasi Terhadap Minat Mahasiswa, untuk

Mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) (Yanto,2009).

Premis 2

Adanya Pengaruh Pengalaman, Motivasi, Dan Mental

Kewirausahaan Terhadap Keberhasilan Industri Kecil

(43)

Kerangka Konseptual

Regresi Linier Berganda

2.4 Hipotesis

1. Diduga Motivasi dan Mental Kewirausahaan berpengaruh terhadap

Minat Untuk Berwirausaha?

2. Diduga Motivasi merupakan variabel yang paling dominan

pengaruhnya terhadap Minat Untuk Berwirausaha?

Motivasi 

(X1) 

Mental Kewirausahaan 

(X2) 

Minat Untuk Berwirausaha 

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.1.1 Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu definisi sebuah ide dalam istilah yang

dapat diukur dengan mengurangi tingkat abstraksinya melalui

penggambaran dimensi dan elemennya.

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Variabel bebas (independent variabel)

Variabel bebas adalah tipe variabel yang menjelaskan atau

mempengaruhi variabel lain atau variabel yang diduga sebagai sebab

dari variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas

adalah motivasi dan mental kewirausahaan, yang terdiri dari :

1. Motivasi (X1), yaitu:

Merupakan kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau

dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar yang muncul,

terarah, dan mempertahankan untuk berbuat atau berperilaku sesuai

(45)

2. Mental Kewirausahaan (X2), yaitu:

Merupakan jiwa seseorang yang memiliki kemampuan

sebagai innovator, dan mempunyai kemampuan naluriah.

b. Variabel terikat (dependent variabel)

Variabel terikat adalah tipe variabel yang dijelaskan atau

dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel yang diduga sebagai

akibat dari variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel

dependen adalah minat untuk berwirausaha (Y). Minat berwirausaha

adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dengan kemampuan

kreatifitas, inovatif dan berani mengambil resiko dalam mengejar

tujuannya.

3.1.2 Teknik Pengukuran Variabel

Dalam penelitian ini, skala pengukuran yang digunakan adalah

skala interval. Sedangkan teknik pengukurannya dengan menggunakan

semantik deferensial yang mempunyai skala point 1 sampai dengan 7.

Skala yang akan memberikan petunjuk kepada responden untuk

memberikan penilaian terhadap sejumlah pertanyaan terlampir sebagai

penelitian yang akan diteliti dan diukur dengan tujuh skala yang

(46)

Sangat tidak setuju sekali Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 sangat tidak setuju sekali berarti kurang bagus, tetapi apabila

responden cenderung memilih poin 7 sangat setuju sekali maka dinilai sudah

sangat bagus.

3.1.3 Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel (kualifikasi) variabel yang sangat diperlukan

dan teknik untuk melakukan pengukuran variabel dikenal dengan teknik

penyusunan skala. Pada hakekatnya teknik penyusunan skala adalah

sebuah teknik untuk mencantumkan bobot terhadap suatu objek

psikologikal. Teknik penyusunan skala digunakan untuk mengukur

variabel konseptual dan di dalam teknik penyusunan skala yang di ukur

adalah indikator dari variabel tersebut (Sumarsono, 2004 : 17).

Adapun rincian pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

a. Motivasi (X1)

Variabel ini diukur dengan menggunakan instrument yang diadopsi dari

Yanto (2006) dan dikembangkan oleh peneliti, dengan 5 item pertanyaan.

(47)

Sangat tidak setuju sekali Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 maka motivasi dinilai kurang bagus, tetapi apabila responden

cenderung memilih poin 7 maka motivasi dinilai sudah sangat bagus.

b. Mental Kewirausahaan (X2)

Variabel ini diukur dengan menggunakan instrument yang diadopsi dari

Yanto (2006) dan dikembangkan oleh peneliti, dengan 5 item pertanyaan.

Teknik pengukuran variabel menggunakan semantic differential.

Sangat tidak setuju sekali Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 maka mental kewirausahaan dinilai kurang bagus, tetapi apabila

responden cenderung memilih poin 7 maka mental kewirausahaan dinilai sudah

sangat bagus.

1 2 3 4 5 6 7

(48)

c. Minat untuk Berwirausaha (Y)

Variabel ini diukur dengan menggunakan instrument yang diadopsi dari

Yanto (2006) dan dikembangkan oleh peneliti, dengan 5 item pertanyaan.

Teknik pengukuran variabel menggunakan semantic differential.

Sangat tidak setuju sekali Sangat setuju sekali

Penilaian diatas berdasarkan asumsi bahwa apabila responden cenderung

memilih poin 1 sangat tidak setuju sekali maka minat untuk berwirausaha dinilai

kurang bagus, tetapi apabila responden cenderung memilih poin 7 sangat setuju

sekali maka minat untuk berwirausaha dinilai sudah sangat bagus.

3.2 Teknik Penentuan Populasi dan Sampel

Obyek pada penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi yang ada di

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim angkatan 2006 dan

data yang diperoleh adalah dari biro admik.

a. Populasi

Adalah kelompok subyek atau obyek yang memiliki ciri – ciri atau

karakteristik yang berbeda dengan kelompok subyek atau obyek yang

lain, dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil

penelitian (Sumarsono, 2004 : 44).

(49)

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi

angkatan 2006 sebanyak 182 orang yang telah mengikuti mata kuliah

kewirausahaan dan praktek kewirausahaan (sumber : biro admik).

b. Sampel

Adalah bagian dari sebuah populasi, yang mempunyai ciri dan

karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itu sebuah

sampel harus representatif dari sebuah populasi (Sumarsono,2004 :

44). Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik non

probability sampling atau non acak. Pengambilan sampel secara non

acak adalah dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu

memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel

karena misalnya ada bagian tertentu secara sengaja tidak dimasukkan

dalam pemilihan untuk mewakili populasi (Umar, 1997 : 83). Peneliti

dalam pengambilan sampel menggunakan cara dipermudah

(Convenience Sampling). Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan,

tetapi biasanya paling murah dan cepat dilakukan karena peneliti

memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka temui.

Meskipun tidak dapat diandalkan, cara ini bermanfaat, misalnya pada

tahap awal penelitian eksploratif saat mencari petunjuk – petunjuk

penelitian. Hasilnya dapat menunjukkan bukti – bukti yang cukup

berlimpah, sehingga prosedur pengambilan sampel yang lebih

(50)

n = N 1 + Ne2 n = 182

1 + 182 (10%)2

n = 65

Keterangan :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Persentase kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir.

Jadi sampel yang minimal yang diperoleh 65 Orang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

3.3.1 Jenis dan Sumber data

3.3.1.1 Jenis Data

Data yang akan digunakan untuk mendukung

analisis dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini

adalah Data primer. Data primer dapat didefinisikan

sebagai sumber data yang langsung memberikan data

kepada peneliti. Pengumpulan data primer dilakukan

melalui survei lapangan dan wawancara mendalam

(51)

3.3.1.2 Sumber Data

Sumber data dalam peneliti ini berupa :

a. Sumber data intern data primer dan sekunder yang

diperoleh dari Biro Admik Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jatim.

b. Sumber data ektern yaitu berupa buku atau literature yang

diperlukan untuk penelitian.

3.3.2 Pengumpulan Data

a. Wawancara

Pengumpulan data dengan mengadakan wawancara secara langsung

dengan mahasiswa akuntansi angkatan 2006 degan cara Tanya jawab

antara peneliti dengan responden (Nazir,2005 : 194).

b. Kuesioner

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan

pertanyaan tentang fakta – fakta atau masalah yang ingin dipecahkan

kepada responden untuk dijawab (Nazir, 2005 : 203).

c. Kepustakaan

Kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan buku – buku, literature,

serta tulisan ilmiah yang digunakan sebagai landasan teori yang

(52)

3.4 Teknik Analisis data

3.4.1 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

3.4.1.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alat

pengukur itu (kuesioner) mengukur apa yang diinginkan. Valid atau

tidaknya alat ukur tersebut dapat diuji dengan mengkorelasikan antara skor

yang diperoleh pada masing – masing butir pertanyaan dengan skor total

yang diperoleh dari penjumlahan semua skor pertanyaan. Apabila korelasi

antara skor total dengan skor masing – masing pertanyaan signifikan

(ditunjukkan dengan taraf signifikan < 0,05), maka dapat dikatakan bahwa

alat pengukur tersebut mempunyai validitas (Sumarsono, 2004 : 31).

3.4.1.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah untuk mengukur suatu kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner

dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan

adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2005: 41).

Perhitungan keandalan butir dalam penelitian ini menggunakan fasilitas

yang diberikan oleh SPSS untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik

Cronbach Alpha , yaitu suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel

(53)

3.4.1.3 Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data

mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data

tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan berbagai

metode diantaranya adalah metode Kolmogrov Smirnov (Sumarsono,2004

: 40) yang merupakan pedoman dalam mengambil keputusan apakah

sebuah distribusi data mengikuti distribusi normal, berikut ini adalah

pedomannya :

1. Jika nilai signifikan (nilai probabilitasnya) lebih kecil dari 5 %,

maka distribusi adalah tidak normal.

2. Jika nilai signifikan (nilai probabilitasnya) lebih besar dari 5 %,

maka distribusi adalah normal (Sumarsono,2004 : 43).

3.4.1 Asumsi Klasik

Persamaan regresi harus bersifat BLUE (Best Linier Unbiased

Estimator), artinya pengambilan keputusan melalui uji f dan uji t tidak

boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus

(54)

Tiga asumsi dasar yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linier

berganda yaitu :

1. Tidak boleh ada autokorelasi

2. Tidak boleh ada multikolinieritas

3. Tidak boleh ada heterokedastisitas

Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar,

maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga

pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias.

1. Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara data observasi

yang diurutkan berdasarkan waktu (data time series) atau data yang

diambil pada waktu tertentu (Gujarati,1995 : 201).

Autokorelasi menunjukkan model regresi linier ada korelasi antara

kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1

(sebelumnya). Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas

dari autokorelasi. Adanya autokorelasi dalam regresi dapat diketahui

dengan menilai besaran (Durbin Watson), tidak terjadi autokorelasi jika

nilai Durbin Watson berada antara -2 hingga +2 (Santoso, 2001 : 219).

(55)

2. Multikolinieritas

Sebelum melakukan analisis regresi berganda, perlu diperiksa

beberapa aspek, salah satunya adalah tidak terdapat multikolinieritas atas

data dari variabel – variabel independen, maksudnya, “tidak adanya

korelasi yang sempurna atau korelasi yang tidak sempurna tetapi relatif

tinggi pada variabel – variabel bebas”. Multikolinieritas sempurna akan

mengakibatkan koefisien regresi tidak dapat ditentukan, serta standart

deviasi akan menjadi tak terhingga. Jika multikolinieritas kurang

sempurna, maka koefisien regresi meskipun sehingga akan mempunyai

standar deviasi yang besar, yang berarti pula koefisien – koefisiennya tidak

dapat ditaksir dengan mudah.

Beberapa cara untuk memeriksa multikolinieritas, yaitu:

 Korelasi yang tinggi memberikan petunjuk adanya kolinieritas,

tetapi tidak sebaliknya. Kolinieritas dapat saja terjadi walaupun korelasi

dalam keadaan rendah.

 Dianjurkan untuk melihat koefisien korelasi parsial. Jika R2 sangat

tinggi tetapi masing – masing r2 parsialnya rendah, berarti variabel –

variabel bebas mempunyai korelasi yang tinggi dan paling tidak satu

diantaranya berlebihan. Tetapi, dapat saja R2 tinggi dan masing – masing

r2 juga tinggi sehingga tak ada jaminan terjadinya multikolinieritas (Umar,

(56)

3. Heteroskedastisitas

Salah satu syarat lain regresi linier adalah tidak terjadi

heteroskedastisitas. Yang diharapkan adalah terjadinya homoskedastisitas.

Penting untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi telah terjadi

“ketidaksamaan varian dari residual” atas suatu pengamatan ke

pengamatan lainnya. Jika yang terjadi variannya tetap, maka disebut

berada pada kondisi homoskedastitas (Umar,2003 : 155).

3.5 Teknik Analisis

Data yang diperoleh kemudian disusun kembali, dikelompokkan

dengan tujuan analisis. Setelah dikelompokkan kemudian diolah sesuai

dengan diagram kerangka pikir. Analisis regresi dihasilkan dengan cara

memasukkan input data variabel kedalam fungsi regresi. Analisis regresi

linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas

terhadap satu variabel terikat. Berdasarkan pernyataan diatas, maka model

persamaan yang digunakan adalah :

Regresi Linier Berganda :

Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + e ……… (Anonim,2009 :

(57)

Keterangan :

Y = Minat mahasiswa akuntansi untuk berwirausaha

β0 = Konstanta

X1 = Motivasi

X2 = Mental Kewirausahaan

β1 – β2 = koefisien regresi

e = kesalahan baku

3.6 Uji Hipotesis

3.6.1 Uji kesesuaian model regresi linier berganda (Uji t)

Uji t digunakan untuk menguji sesuatu atau tindakannya model

regresi yang dihasilkan untuk melihat pengaruh dari motivasi (X1), dan

mental kewirausahaan (X2) terhadap variabel minat mahasiswa akuntansi

untuk berwirausaha (Y).

Adapun langkah – langkah pengujiannya sebagai berikut (Anonim,2009 :

L-21) :

a. Hipotesis statistik :

H0 : βj = 0 (tidak terdapat pengaruh X1, X2, atau X3 terhadap Y)

H1 : βj ≠ 0 (terdapat pengaruh X1, X2, atau X3 terhadap Y)

(58)

b. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 0,05 dengan

derajat bebas [n-k], dimana n : jumlah pengamatan, dan k : jumlah

variabel.

c. Dengan nilai t hitung :

t

hit

=

b

j

se(

b

j)

Keterangan :

t

hit = t hasil perhitungan

b

j =

koefisien regresi

se

= Standart error

3.6.2 Uji kesesuaian model regresi linier berganda (Uji F)

Untuk pengujian hipotesis penelitian pengaruh simultan variabel

X1 bersama X2 terhadap Y digunakan uji F dengan prosedur sebagai

berikut :

a. Ho : β1= β2= … = βj≠ 0 (X1, X2, X3 bersama Xj tidak

berpengaruh terhadap Y)

Ha : salah satu dari βj ≠ 0 (X1, X2, X3 bersama Xj

(59)

b. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 0,05

dengan derajat bebas [n-k], dimana n : jumlah pengamatan,

dan k : jumlah variabel.

c. Dengan F hitung sebesar :

Fhit = R2 /(k – 1)

(1 – R2) /(n – k)

Keterangan :

Fhit = F hasil perhitungan

R2 = koefisien regresi

k = jumlahn variabel

(60)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Deskripsi Obyek Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat UPN “Veteran” Jawa Timur

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur merupakan

salah satu lembaga pendidikan swasta di Indonesia yang didirikan oleh

pejuang kemerdekaan RI pada tanggal 5 Juli 1959, dengan nama Akademi

Administrasi Perusahaan “Veteran” (AAPV) Surabaya.

Mulai tanggal 1 April 1966 oleh Kementrian Transmigrasi, Urusan

Veteran dan Demobilisasi disatukan dalam Perguruan Tinggi Pembangunan

Nasional (PTPN) “Veteran” Cabang Jawa Timur melakukan pemekaran

menjadi tiga Fakultas yaitu Ekonomi, Pertanian dan Teknik Kimia.

Berdasarkan Surat Keputusan Kementrian Transmigrasi, Urusan Veteran

dan Demobilisasi No.062/KPTS/MENTRANVED/68 status PTPN

“Veteran” Cabang Jawa Timur menjadi Perguruan Tinggi Kedinasan di

bawah Departemen Pertahanan Keamanan RI berlangsung pada tahun 1976,

yang selanjutnyapada tanggal 31 Juni 1978 terjadi perubahan nama menjadi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Cabang Jawa Timur.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor :

KEP/01/11/1993 tanggal 27 Februari 1993 tentang Penataan UPN “Veteran”

(61)

menjadi mandiri dan dipimpin oleh seorang Rektor sehingga namanya

berubah menjadi UPN “Veteran” Jawa Timur.

Berdasarkan Keputusan Bersama Mendikbud dan Menhankam Nomor

: Kep/0307/U/1994-10/XI/1994 tanggal 29 November 1994 tentang

Peningkatan Pengabdian Universitas Pembangunan Nasional melalui

Pelaksanaan Keterkaitan dan Kesepadanan telah dialihkan statusnya dari

Perguruan Tinggi Kedinasan menjadi Perguruan Tinggi Swasta. UPN

“Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1993 memiliki 5 Fakultas dengan 16

Program Studi (Progdi), yang telah terakreditasi BAN-PT.

Sesuai dengan Intruksi Menteri Pertahanan dan Keamanan Nomor :

Inst/01/II/1996 tanggal 6 Februari 1996 tentang pelaksanaan Pelimpahan

Wewenang dan Tanggung Jawab pembinaan Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” telah diserahkan pembinaannya kepada Yayasan

Kejuangan Panglima Besar Sudirman (YKPBS) yang berkedudukan di

bawah Departemen Pertahanan Jl. Wachid Hasyim No. 7 Jakarta, yang juga

membina SMU Unggulan Taruna Nusantara di Magelang.

Berdasarkan SK Dirjen Dikti Nomor : 390/DIKTI/KEP/1999 telah

dibuka Program Magister Manajemen Agribisnis (MMA) dan disusul

kemudian dengan program Magister Manajemen Ekonomi (MM) dan

Magister Akuntansi (MAk) dengan ijin penyelenggaraan No.

2307/JD/T/2001 tanggal 4 Juli 2001. Mulai TA 2003/2004 menambah satu

program studi baru, yaitu Teknik Informatika dibawah Fakultas Teknologi

(62)

program studi Ilmu Hukum dengan ijin operasinal Nomor : 183/D/T/2007

tanggal 30 Januari 2007.

Saat ini UPN “Veteran” Jawa Timur telah memiliki lima (5) Fakultas

dan Program Pascasarjana dengan delapan belas (18) Program Studi/Jurusan

sebagai berikut :

1. Fakultas Ekonomi, dengan 3 program studi, sebagai berikut:

a. Ekonomi Pembangunan (Akreditasi B).

b. Manajemen (Akreditasi B).

c. Akuntansi (Akreditasi A).

2. Fakultas Pertanian, dengan 2 program studi, sebagai berikut:

a. Agriteknologi (Akreditasi B).

b. Agribisnis (Akreditasi B).

3. Fakultas Teknologi, dengan 2 program studi, sebagai berikut:

a. Teknik Kimia (Akreditasi B).

b. Teknik Industri (Akreditasi A).

c. Teknik Pangan (Akreditasi A).

d. Teknik Informatika (Akreditasi B).

4. Fakultas Ilmu Sosial Politik, dengan 3 program studi, sebagai

berikut:

a. Administrasi Publik (Akreditasi B).

b. Administrasi Bisnis (Akreditasi A).

Figur

Tabel 4.1.
Tabel 4 1 . View in document p.65
Tabel 4.2.
Tabel 4 2 . View in document p.66
Tabel 4.3.
Tabel 4 3 . View in document p.67
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.68
Tabel 4.5.
Tabel 4 5 . View in document p.69
Tabel 4.6.
Tabel 4 6 . View in document p.71
Tabel 4.7.
Tabel 4 7 . View in document p.72
Tabel 4.10.
Tabel 4 10 . View in document p.73
Tabel 4.11.
Tabel 4 11 . View in document p.74
Tabel 4.12.
Tabel 4 12 . View in document p.76
Tabel 4.13.
Tabel 4 13 . View in document p.77
Tabel 4.22
Tabel 4 22 . View in document p.79
Tabel 4.16.
Tabel 4 16 . View in document p.81
Tabel 4.18.
Tabel 4 18 . View in document p.83

Referensi

Memperbarui...