ANALISA PENELITIAN
4.1 ANALISA PENENTUAN KADAR ASPAL OPTIMUM
Dalam bab ini berisikan tahapan-tahapan pengujian campuran aspal beton tipe XI dengan menggunakan pasir alam biasa dan juga campuran aspal beton dengan penambahan dari pasir alam biasa dengan pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan. Langkah pertama adalah melakukan analisa agregat yang mana meliputi analisa ayakan (hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.1). Dari hasil analisa ayakan ini didapat persentase agregat dengan cara grafis, analisa berat jenis dan penyerapan untuk agregat kasar dan agregat halus (lihat lampiran 2), Sand Equivalent Test (lihat lampiran 4), Impact Test (lihat lampiran 5), Fiakiness Test (lihat lampiran 6), test abrasi dengan mesin Los Angeles (lihat lampiran 7), Soundness Test (lihat lampiran 8). Dari hasil analisa ayakan ini didapat persentase agregat dengan cara grafis.
Tabel 4.1 Hasil Analisa Ayakan
No.
Saringan
3A"
3/8"
4 8 30 50 200
% Jumlah Yang Lolos F.I
100 23,34
1,3 0,96
0,9 0,86 0,85
F.n
100 99,82 12,79 1,23
0,9 0,85 0.81
F.in
100 99,94 94,61 68,9 31,68 20,35 7,46
F.IV 100 100 100 96,37 81,48 36,74 5.13
Pasir Besi 100 99,99 97,77 92,5 74,68 49,16 8,54
3]
no.sanngan
no.200 no.50 no.30 no.8 no. 4
1001 | r =Hf
l Fl =25%
| F I I = 2 5 %
IF III =30%
JFIV=17%
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
BatasSpesfikasi Gnadasi Carnxran
Gambar4.1 Grafik pereertase ayegat tiap Fraksi
Dari analisa ayakan yang telah dilakukan terhadap limbah pasir besi didapatkan bahwa limbah pasir besi mempunyai gradasi yang memenuhi syarat sebagai agregat halus yaitu lolos saringan No. 8. Setelah itu dibuat grafik analisa ayakan untuk mendapat persentase tiap-tiap fraksi.
Dari grafik diatas didapat persentase masing-masing agregat yaitu F I sebesar 32 %, F II 23 %, F III 25 %, F IV 17 %, dan filler 3%. Adapun untuk pengujian aspal digunakan hasil penelitian yang terdahulu dari Laboratorium Perkerasan dan Bahan Jalan Universitas Kristen Petra.
Setelah itu dilakukan percobaan untuk mencari persentase aspal optimum dengan cara membuat sampel dengan variasi kadar aspal 5%, 5.5%, 6%, 6.5%, 7% dan 7.5%. Dari hasil pengujian tersebut didapat stabilitas dan
TRIAL MIX SERIES COMPACTION BLOWS TEMP. COMPACTING
AVG. BULK SP. GR. TOTAL AGG. (U) AVG. EFF. SP. GR. TOTAL AGG. (V)
A/C TYPE X 2*75 140"C 2,776 2,811
HOT MIX DESIGN DATA MARSHALL DATA
PEN. GRADE SP. GR. AC. (T)
ABSORBED AC. KGS/100 KGS (R)
: 60-70 : 1.033 : 0,798
DATE AMP LOCATION
:- :-
: Lab. PETRA
No
1 2 3
4 5 6
7 8 9
THICKNESS (mm)
A
64,330 64,600 64,667
64,100 63,667 64,000
63,667 64,200 63,1
%ACBYW.OFMIX
%AC B
5 5 5
5,5 5,5 5,5
6 6 6
% EFF.AC B' B-(100-B) R
100 4,218 4,218 4,218
4,723 4,723 4,723
5,227 5,227 5,227
WEIGHT (gr) IN AIR
C
1180,5 1180,6 1183,1
1189,1 1184,4 1185,6
1185,1 1184,9 1185,8
In water D
689,3 690,3 691,5
694,6 697,2 689,7
689,9 694,1 693,4
SSD E
1182,1 1185,2 1183,6
1190 1184,7 1186,7
1185,7 1186,7 1186,5
BULK VOL. CC
F E - D
492,8 494,9 492,1
495,4 487,5 497
495,8 492,6 493,1
BULK DENSITY
G C/F
2,40 2,39 2,40
2,40 2,43 2,39
2,39 2,41 2,41
MAX. THEO DENSITY
H 100 B/r + fioo-B)/v
2,59 2,59 2,59
2,57 2,57 2,57
2,55 2,55 2,55
VOLUME % OF TOTAL EFF. AC
I B" *G/T
^ 9 , 7 8 9,74 9,82
10,97 11,11 10,91
12,10 12,17 12,17
AGG J
(100-B)G
T 79,39 79,06 79,68
79,12 80,06 78,63
78,36 78,85 78,83
AIRV.
K
(H-G)100
H 7,62 8,00 7,28 7,63 6,66 5,52 7,23 6,47 6,28 5,69 5,71 5,89
% V.M.A
L l + K
17,40 17,74 17,10 17,42 17,63 16,63 18,14 17,47 18,37 17,86 17,88 18,04
% VOIDS FILLED
M
56,22 54,90 57,41 56,18 62,23 66,79 60,12 63,05 65,83 68,16 68,06 67,35
STABILITY READING
N
437 475 465 459,05
473 430 452 467,99
469 490 475 478,2
ADJUST 0
879,50 945,20 924,42 916,37 954,51 997,80 915,31 955,87 976,42 987,53 1012,26
992,07
FLOW (mm) P
3,15 2,86 3,03 3,01 3,35 3,28 3,05 3,23 3,23 3,41 3,52 3,39
MQ (kN/mm)
Q 0 102*P
2,74 3,24 2,99 2,99 2,79 2,98 2,94 2,91 2,96 2,84 2,82 2,87
A G G R E G A T E
a. F l b. FN c. Fill d. FIV e. Filler
% 25 25 30 17 3
BJ (AV DRY) 2,6815
2,687 2,88 2,88
BJ (APP) 2,8095
2,845 3,06 2,95
ABSORB 1.7 2,066 2,395 0,87
to
Tabel 4.3 Perhltungan Marshall untuk aspal optimum
TRIAL MIX SERIES COMPACTION BLOWS TEMP. COMPACTING
AVG. BULK SP. GR. TOTAL AGG. (U) AVG. EFF. SP. GR. TOTAL AGG. (V)
A/C TYPE X 2*75 140'C 2,776 2,811
HOT MIX DESIGN DATA MARSHALL DATA
PEN, GRADE SP. GR. AC. (T)
ABSORBED AC. KGS/100 KGS (R)
: 60-70 : 1.033 : 0,796
DATE AMP LOCATION
:- :-
: Lab. PETRA
No
10 11 12
13 14 15
16 17 18
THICKNESS (mm)
A
63,800 63,600 63,400
63,330 63,500 63,100
62,700 63,100 63,600
% A C B Y W , 0 F M I X
%AC B
6,5 6,5 6,5
7 7 7
7,5 7,5 7,5
% EFF.AC B' B-OOO-B) R
100 5,731 5,731 5,731
6,235 6,235 6,235
6,740 6,740 6,740
WEIGHT (gr) IN AIR
C
1184,3 1182,2 1186,5
1188,3 1186,1 1188,8
1185,8 1185,1 1185,3
In water D
696,1 691,3 692,4
691,1 693,6 692,3
690,5 692,5 691,3
SSD E
1186,5 1183,9 1187,9
1189 1186,7 1191,2
1185,9 1186,1 1186
BULK VOL. CC
F E - D
490,4 492,6 495,5
497,9 493,1 498.9
495,4 493,6 494,7
BULK DENSITY
G C/F
2,42 2,40 2,40
2,39 2,41 2,38
2,39 2,40 2,40
MAX. THEO DENSITY
H 100
B/T+(10O-B)/V
2,53 2,53 2,53 .
2,51 2,51 2,51
2,49 2,49 2,49
VOLUME % OF TOTAL EFF. AC
I B'*GAT
13,40 13,32 13,29
14,41 14,52 14,38
15,62 15,67 15,63
AGG J
(100-BJG
T 78,73 78,24 78,06
77,38 77,99 77,25
77,17 77,41 77,25
AIRV.
K
(H-GJ100
H 4,53 5,13 5,34 5,00 4,88 4,14 5,03 4,68 3,83 3,54 3,74 3,70
% V.M.A
L l + K
17,93 18,44 18,62 18,33 19,29 18,66 19,42 19,12 19,45 19,20 19,37 19,34
% VOIDS FILLED
M
74,73 72,20 71,33 72,75 74,68 77,83 74,08 75,53 80,29 81,57 80,70 80,86
STABILITY READING
N
480 491 476 482,04
471 509 490 489,81
439 411 479 442,97
ADJUST 0
989,84 1027,63 1005,94 1007,803
997,98 1074,68 1043,27 1038,643
945,2 875,6 1002,43
941,08
FLOW (mm)
P
3,48 3,39 3,51 3,46 3,71 3,47 3,67 3,62 3,68 3,49 3,85 3,67
MQ (kN/mm)
Q O 102*P
2,79 2,97 2,81 2,86 2,64 3,04 2,79 2,82 2,52 2,46 2,55 2,51
AGGREGATE a. Fl
b. FN c. Fill d. F IV e. Filler
% 25 25 30 17 3
BJ (AV DRY) 2,6815
2,687 2,88 2,88
BJ (APP) 2,8095
2,845 3,06 2,95
ABSORB 1.7 2,066 2,395 0,87
w
kelelehan dari benda uji (tabel 4.1). Hasil yang diperoleh akan diolah dalam tabel Marshall (tabel 4.2), dan didapat nilai-nilai stabilitas, kelelehan, persentase air void, persentase void filled dan Marshall Qoutient yang kemudian digambarkan dalam bentuk grafik (gambar 4.1 sampai gambar 4.5).
2 900
"8 850
800 750 700
Batas bawah 750 Kg
4,5 5,5 6,5 7,5 8
% aspal
Gambar 4.1 Hubungan persentase aspal dengan stabilitas
Gambar 4.1 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan stabilitas yang sudah A\-adjust dari tabel Marshall. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu harus lebih besar dari 750 kg. Dari hasil ini yang memenuhi batasan mulai dari persentase aspal 5.5% sampai 7.5%.
Gambar 4.2 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan kelelehan (flow) dalam milimeter. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 2 mm sampai
35 4 mm. Hasil yang diperoleh dari percobaan memenuhi semua yaitu masih dalam batasan 2 mm sampai 4 mm.
Batas atas 4 mm Batas bawah 2 mm
7,5 8
% aspal
Gambar 4.2 Hubungan persentase aspal dengan flow
9,000 8,000 7,000 J
I 6,000
>
™ 5,000 4,000 3,000 + 2,000
4,5
— Batas atas 5 % _ Batas bawah 3 %
5,5 6,5 7,5 8
% aspal
Gambar 4.3 Hubungan persentase aspal dengan air void
Gambar 4.3 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan persentase air void. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal bet on untuk lalu lintas berat yaitu antara 3% sampai 5%. Hasil yang memenuhi untuk percobaan ini yaitu 6.5% dan 7% kadar aspal dengan nilai 4.837 untuk 6.5% dan 4.415 untuk 7%.
90 85 80 -a 75
0)
£ 70
• o
'5 65
>
^ 60 55 50 45
• Jf
— Batas atas 82 %
— Batas bawah 75
4,5 5,5 6 6,5
% aspal
7,5 8
Gambar 4.4 Hubungan persentase aspal dengan void filled
Gambar 4.4 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan persentase void filled. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 75% sampai 82%.
Untuk hasil percobaan yang memenuhi batasan yaitu 6.6% sampai 7.2%
kadar aspal.
Gambar 4.5 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7,5%) dengan persentase indeks perendaman. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu minimum 75%.
37 Untuk hasil percobaan yang memenuhi syarat yaitu 5,5% sampai 7,3%
kadar aspal.
80 79 78 77 76 75 74 73 72 71
• • • _ •
5,5
Batas Bawah Indeks Perendaman 75%
7,5 8 6 6,5 7
% Aspal
Gambar 4.5 Hubungan Persentase Aspal Dengan Indeks perendaman
Gambar 4.6 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan perbandingan antara stabilitas dan kelelehan yang disebut Marshall Quotient.
— Batas atas 350 kg/mm
Batas bawah 200 kg/mm
% as pal
Gambar 4.6 Hubungan persentase aspal dengan Marshall Quotient
20 19 18 17
<
f 16
* 15 14 13 12
• r ? *
— Batas bawah
% VMA 14 %
4,5 5,5 6,5 7,5 8
% as pal
Gambar 4.7 Hubungan persentase aspal dengan VMA
Gambar 4.7 menunjukkan hubungan antara persentase aspal (5% sampai 7.5%) dengan persentase rongga dalam agregat. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu 14%.
Hasil gambar 4.1, 4.2, 4.3, 4.4, 4.5, dan 4.6 yang memenuhi batasan dibandingkan terhadap persentase aspal dan diperoleh persentase aspal yang memenuhi untuk semua batasan yang digambarkan dalam gambar 4.8.
39
6,94 7.5
• • - - - * x
X X X * X
!
• • • • m II
• • • • * •
•Stabiiitas
•Flow Air Void
•Void Filled
•indeks Perendaman
5,5 6,5 7,5
% Aspal
Gambar 4.8 Hasil persentase aspai yang memenuhi syarat
Dari gambar tersebut diperoleh persentase aspal yang memenuhi semua batasannya yaitu antara 6.94% sampai 7.5%. Dari hasil diatas dipilih persentase aspal 7.23% untuk penelitian selanjutnya yaitu penambahan pasir alam biasa dengan pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan.
4.2 ANALISA PENCAMPURAN LIMBAH PASIR BESI PADA AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN ASPAL BETON TYPE XI
Setelah didapat persentase aspal optimum yaitu 7.23%, dibuat sampel Marshall, dimana pasir alam biasa digantikan dengan pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan sebesar 5% sampai 10% dengan mengurangi persentase agregat halus yaitu F4.
Penambahan dilakukan pada F4 (pasir) dengan bahan campuran berupa pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan. Persentase F4 yang semula
17% dikurangi dengan persentase bahan campuran yang akan diuji yaitu 5%
sampai 10%. Dengan penambahan ini maka komposisi agregatnya menjadi F I = 25%, F II = 25%, F III = 30%, F IV = 12% sampai 7% tergantung persentase penambahan pasir besinya. Komposisi agregat sesudah penambahan dapat dilihat pada lampiran II. Kemudian dibuat benda uji dari masing-masing komposisi dan dilakukan uji Marshall. Hasilnya yang sudah disesuaikan dengan alat Marshall dapat dilihat pada tabel 4.4. Hasil penelitian ini kemudian dibuat lagi dalam bentuk grafik seperti pada percobaan untuk memperoleh persentase aspal optimum tetapi kali ini persentase aspalnya tetap sedangkan untuk sumbu absisnya diganti sebagai persentase pasir besi yang dipakai. Hasilnya berupa gambar grafik hubungan antara persentase limbah pasir besi yang dipakai terhadap nilai stabilitas,flow, % air void, % void filled, dan Marshall Quotient.
Tabel 4.4 Perhitungan Marshall untuk penggantlan limbah pasir besi terhadap F4
TRIAL MIX SERIES COMPACTION BLOWS TEMP. COMPACTING
AVG. BULK SP. GR. TOTAL AGG. (U) AVG. EFF. SP. GR. TOTAL AGG. (V)
A/C TYPE IX 2*75 140"C 2,776 2,811
HOT MIX DESIGN DATA MARSHALL DATA
PEN. GRADE SP. GR. AC. (T)
ABSORBED AC. KGS/100 KGS (R)
I 60-70 : 1.033 : 0,796
DATE AMP LOCATION
:-
>
: Lab. PETRA
%
FILLER
5 5 5
6 6 6
7 7 7
THICKNESS (mm)
A
64,870 64,830 64,300
64,570 64,330 64,830
64,230 64,230 64,2
%ACBYW.OFMIX
%AC B
7,23 7,23 7,23
7,23 7,23 7,23
7,23 7,23 7,23
% EFF.AC
rr
B-(100-B) R 100
6,490 6,490 6,490
6,490 6,490 6,490
S.49C 6,490 6,490
WEIGHT (gr) IN AIR
C
1183,4 1183,2 1182,3
1189,2 1186,5 1188,7
1188,9 1182,9 1182,7
In water D
682,5 680,9 685,6
689,7 686,1 690,6
690,5 688,9 689,1
SSD E
1184,1 1184 1182,9
1189,4 1186 1190
1189,6 1183,7 1183,8
BULK VOL. CC
F E - D
501,6 503,1 497,3
499,7 499,9 499,4
499,1 494,8 494,7
BULK DENSITY
G C/F
2,36 2,35 2,38
2,38 2,37 2,38
2,38 2,39 2,39
MAX. THEO DENSITY
H 100
BIT * (100-B)/V
2,50 2,50 2,50
2,50 2,50 2,50
2,50 2,50 2,50
VOLUME % OF TOTAL EFF. AC
I B'*G/r
14,82 14,78 14,94
14,95 14,91 14,96
14,97 15,02 15,02
AGG J
(100-B)G
T 78,84 78.59 79,45
79,53 79,32 79,55
79,61 79,89 79,90
AIRV.
K
(H-GJ100
H 5,63 5,92 4,90 5,48 4,80 5,06 4,78 4,88 4,71 4,37 4,37 4,48
% V.M.A
L l + K
20,45 20,70 19,83 20,33 19,75 19,97 19,74 19,82 19,68 19,39 19,39 19,48
% VOIDS FILLED
M
72,49 71,39 75,31 73,07 75,69 74,68 75,76 75,38 76,06 77,47 77,49 77,01
STABILITY READING
N
419 452 435 435,33
482 435 411 442,67
502 435 465 467,33
ADJUST 0
827,54 894,82 873,65 865,34 959,70 873,65 813,65 882,33 1011,07 876,13 936,55 941,25
FLOW (mm)
P
3,05 3,56 2,79 3,13 3,17 3,42 2,83 3.14 2,96 3,61 3,22 3,26
MQ (kN/mm)
Q O 102*P
2,66 2,46 3,07 2,73 2,97 2,50 2,82 2,76 3,35 2,38 2,85 2,86
A G G R E G A T E
a. Ft b. FN c. Fill d. FIV e. Pasir Besi
% 25 25 30 17
BJ(AVDRY) 2,6815
2,687 2,88 2,88 5,28
BJ (APP) 2,8095
2,845 3,06 2,95 5,51
ABSORB 1.7 2,066 2,395 0,87 0,78
TRIAL MIX SERIES COMPACTION BLOWS TEMP. COMPACTING
AVG. BULK SP. GR. TOTAL AGG. (U) AVG. EFF. SP. GR. TOTAL AGG. (V)
A/C TYPE X 2*75 140"C 2,776 2,811
HOT MIX DESIGN DATA MARSHALL DATA
PEN. GRADE SP. GR.AC. (T)
ABSORBED AC. KGS/100 KGS (R)
: 60-70 : 1.033 : 0,796
DATE AMP LOCATION
:- :-
: Lab. PETRA
%
Pasir Besi
8 5 8
9 9 9
10 10 10
THICKNESS (mm)
A
64,470 64,400 64,370
64,170 64,400 64,330
64,570 64,370 64,4
%ACBYW.OFMIX
%AC B
7,23 7,23 7,23
7,23 7,23 7,23
7,23 7,23 7,23
% EFF.AC B' B-(100-B) R
100 6,490 5.-^93 6,490
6,490 6,490 6,490
6,490 6,490 6,490
WEIGHT (gr) IN AIR
C
1182,1 1186,2 1180,6
1191,2 1197,4 1185,2
1181,9 1183,1 1179,5
In water D
689,6 690,5 690,1
693,8 697,1 694,3
693,8 696,4 688,1
SSD E
1183,1 1188 1181,6
1191,8 1198 1185,3
1182,5 1193,4 1180
BULK VOL. CC
F E - D
493,5 497,5 491,5
496 500,9
491
438,7 497 491,9
BULK DENSITY
G C/F
2,40 2,38 2,40
2,39 2,39 2,41
2,42 2,40 2,40
MAX. THEO DENSITY
H 100
B/T+(100-B)/V
2,50 2,50 2,50 .
2,50 2,50 2,50
2,50 2,50 2,50
VOLUME % OF TOTAL EFF. AC
I B'*G/T
15,05 14,98 15,09
15,03 15,02 15,17
15,20 15,08 15,07
AGG J
(10O-B)G
T 80,05 79,68 80.27
79,94 79,89 80,67
80,82 80,23 80,13
AIRV.
K
{H-GJ100
H 4,18 4,62 3,91 4,24 4,32 4,38 3,44 4,04 3,26 3,97 4,08 3,77
% V.M.A
L l + K
19,23 19,60 19,01 J 19,28 19,34 19,39 18,61 19,12 18,45 19,05 19,15 18,88
% VOIDS FILLED
M
78,26 76,42 79,41 78,03 77,69 77,44 81,51 78,88 82,35 79,16 78,69 80,07
STABILITY READING
N
534 492 461 529 593 564 543 568,33
448 506 492 482,67
ADJUST 0
1066,39 985,32 1123,51 1058,41 1197,86 1129,52 1100,60 1142,66 892,01 1017,37
985,32 964,90
FLOW (mm)
P
3,13 3,55 3,27 3,32 3,44 3,11 3,51 3,35 3,06 3,26 3,49 3,28
MQ (kN/mm)
Q 0 102*P
3,34 2,72 3,37 3,14 3,41 3,56 3,07 3,35 2,84 3,06 2,77 2,89
AGGREGATE a. F l
b. FN c. FIN d. FIV e. Pasir Besi
% 25 25 30 17
BJ (AV DRY) 2,6815
2,687 2,88 2,88 5,28
BJ (APP) 2,8095
2,845 3,06 2,95 5,51
ABSORB 1,7 2,066 2,395 0,87
0,78
6
43
IAJV
1 •t'V) 1100 inFin O)
i 1000
(A
3 950
-Q o n n .
sta 5 ?
Ann
750 700
+ jS
> / •
•
%*^
•
•
•
•
•
•
s
••
I
:
7 8
% Pasir Besi
10
-Batas bawah stabilitas 750 kg
Gambar 4.9 Hubungan persentase pasir besi dengan stabilitas
Gambar 4.9 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5% sampai 10%) dengan stabilitas yang sudah di-adjust dari tabel Marshall. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu harus lebih besar dari 750 kg, dan dapat dilihat bahwa nilai yang dihasilkan dari percobaan ini semua memenuhi persyaratan Gambar 4.10 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5%
sampai 10%) dengan kelelehan {flow) dalam milimeter. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 2 mm sampai 4 mm, dan untuk semua percobaan memenuhi persyaratan.
4,5 4,0
. 3'5
•E 3,0
K
2,0
1,5
" m _ \ t—*—!
o •
8
Bat as atas flow 4 mm
Batas bawah flow 2 mm
10
% Pasir Besi
Gam bar 4.10 Hubungan persentase pasir besi dengan flow
Gambar 4.11 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5% sampai 10%) dengan persentase air void. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 3%>
sampai 5%>. Dari hasil percobaan untuk test ini dapat dilihat bahwa makin bertambah persentase pasir besi makin kecil air voidnya.
Gambar 4.12 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5%> sampai 10%) dengan persentase void filled. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 75%o sampai 82%. Dari hasil yang didapat menunjukkan untuk syarat void filled semuanya memenuhi.
8 3
2 J , . , , , 10
45
— Batas atas air void 5 %
— Batas bawah air void 3 %
% Pasir Besi
Gambar 4.11 Hubungan persentase pasir besi dengan air void
1
87 86 85 84 83 82 81 80 79 78 77 76 75 74 73 72 71
*
• — Batas atas void filled 8 2 %
— Batas bawah void filled 7 5 %
6 8 9 10 11
% Pasir Besi
Gambar 4.12 Hubungan Persentase Pasir Besi Dengan Void Filled
Gambar 4.13 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5% sampai 10%) dengan persentase indeks perendaman. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu minimum 75%. Dari hasil yang didapat yang memenuhi syarat yaitu persentase pasir besi antara 7% hingga 10%.
— Batas baw ah Indeks Perendaman 75%
% Pasir Besi
Gambar 4.13 Hubungan Persentase Pasir Besi Dengan Indeks Perendaman
450
400
350 E E o) 300
a
S 250
200
150
•
<> * ^ — — »
„ — « - _
10
— Batas atas MQ 350 kg/mm
_ Batas bawah MQ 200 kg/mm
5 6 7 8 9
% Pasir Besi
Gambar 4.14 Hubungan persentase pasir besi dengan Marshall Quotient
Gambar 4.14 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5% sampai 10%) dengan perbandingan antara stabilitas dan kelelehan yang disebut Marshall Quotient. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu antara 200 kg dan 350 kg, dimana hasil yang diperoleh dari penambahan pasir alam biasa
47
21 i 20
19 18
| 17
^ 16 15 14 13 12
rirxit
— Batas bawah
% VMA 14 %
10 11
% Pasir Besi
Gam bar 4.15 Hubungan persentase pasir besi dengan VMA
dengan pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan kesemuanya memenuhi syarat.
Gambar 4.15 menunjukkan hubungan antara persentase pasir besi yang dipakai (5% sampai 10%) dengan persentase rongga dalam agregat. Batasan yang dipakai dari peraturan lapis aspal beton untuk lalu lintas berat yaitu 14%, dimana hasil yang diperoleh dari penambahan campuran pasir besi kesemuanya memenuhi syarat
ANALISA HASIL PENAMBAHAN AGREGAT HALUS (PASIR) DENGAN LIMBAH PASIR BESI PADA ASPAL BETON TYPE XI DENGAN METODE MARSHALL
Pada penelitian ini digunakan pasir besi hasil pengolahan ulang besi tulangan (5% sampai 10%) dengan menggantikan agregat halus yaitu F4.
Hasil pengujian Marshall untuk penambahan pasir ini dapat dilihat pada tabel 4.2. Sedangkan untuk hasil pengujian tanpa filler dapat dilihat di
tabel 4.3. Dengan membandingkan hasil dari kedua tabel diatas dapat dilihat bahwa penambahan pasir alam biasa dengan pasir besi ternyata mempunyai hasil yang lebih baik. Dari hasil tabel 4.2 dan table 4.3 dapat dilihat bahwa pada penambahan pasir alam biasa dengan pasir besi paling optimum terjadi pada penambahan pasir besi sebesar 9% untuk penambahan F4. Hasil ini dilihat berdasar pada nilai Marshall test yang terbesar.