• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kurban bersal dari kata Al-Udhhiyah dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kurban bersal dari kata Al-Udhhiyah dan"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang dilaksanakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kurban bersal dari kata Al-Udhhiyah dan Adh Dhahiyyah, adalah nama binatang sembelihan seperti unta, sapi, kambing yang diembelih pada hari raya kurbandan hari-hari tasrik sebagai taqarrub kepada Allah SWT.1perintah itu berupa penyembelihan anak yang sangat dicintai belahan jiwa nya sendiri. Atas dasar itu diharapkan pula keiklasan kedua anakdan bapak itu dijadikan suri tauladan dalam menghambakan diri kepada Allah dengan syarat-syarat khusus.2

Umat islam diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah kurban, sebagaimana firman Allah dalam surat al-kautsar ayat 1-3:



⬧

⧫❑⬧



⬧

◼⧫

⧫◆





⧫

◆❑➔

⧫



Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

1 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung : Al-Ma’arif, 1987, jilid 13, h. 155

2 E.Hasan saleh, kajian fiqh Nabawi dan fiqh kontemporer, (Jakarta:Rajawali Pers,2008),Ed. 1, hal 254

▸ Baca selengkapnya: jelaskan hikmat dan manfaat dari beribadah dan bersyukur kepada allah swt.

(2)

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus”.(Q.S Al-Kautsar : 1-3).3

Berdasar ayat diatas dapat dipahami bahwa adanya perintah dari Allah untuk melaksanakan ibadah kurban karena ibadah ini merupakan suatu ungkapan rasa syukur kepada Allah terhadap rezeki yang telah diberikan kepada hamba-Nya dengan mengurbankan hewan ternak yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

Ibadah kurban mempunyai hokum sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan), yang sangat dianjurkan bagi orang-orang yang sanggup dan memiliki kecukupan harta untuk melaksanakannya pada waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada Hari Raya Idul Adha dan pada hari-hari tasyirik.

Berkurban bertujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, juga sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikan. Selain itu juga bertujuan untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim dan sebagai suatu upaya memberikan kemudahan kepada fakir miskin pada hari raya.4

3 Sayyid Sabiq, op. cit., hal.157

4 Ibid

(3)

Berdasarkan firman Allah SWT:

→◆

⬧☺➔



◼⧫

⬧⬧◆



⬧◆





➔

➔☺

➔⬧◆

❑→◆







⧫







Artinya: Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya[405] yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan Kami taati". dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).

Dalam hadits Nabi SAW:

مسيو نينرقا نيحلما نيشبكب يحضي ناك م .ص ينلا نا هنع الله يض ر كلام نبا سنا نع ) ملسم هاور ( امهحح افص لع هلجو عضيو ربكيو

“Dari anas bin malik R.A bahwasanya Nabi Muhammad Saw, telah mengorbankan dua ekor kambing yang putih dan mempunyai dua tanduk dan beliau nama Allah seraya bertakbir lalu beliau meletakan kaki dileher kambing itu” (H.R Muslim)

Dari ayat dan hadis yang dikemukakan terang sudah bahwa ibadah kuraban merupakan ibadah yang penting dan merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan-nya, karena telah memperoleh kebaikan di dunia terutama pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik. Daging kurban dapat dinikmati oleh orang yang dinikmati oleh orang yang melaksanakannya beserta keluarganya. Disamping itu, fakir miskin juga tergolong karena mendapatkan bagian dari daging kurban sekaligus dapat menumbuhkan rasa kasih sayang

(4)

sesame manusia. Dan kelak mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah SAW bagi orang yang melaksanakann-nya.

Memyembelih hewan kurban seperti unta, kambing atau sapi sesudah sesudah shalat Idul Adha hingga hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah) hukumnya sunnah, tetapi menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu.

Dalam hal itu kurban kambing untuk satu orang. Dan jika unta atau sapi untuk tujuh oranng5

Pada umumnya, seluruh bagian hewan kurban dimanfaatkan. Di Indonesia biasanya dibentuk panitia dari masjid ataupun mushalla untuk melaksanakan pemotongan hewan kurban dan bagian dagingnya dibagiakan kepada masyarakat.

Panitia bertugas untuk mendata untuk masyarakat yang akan berkurban, membeli sapi/kambing jika masyarakat menyerahkan dalam bentuk uang, menyiapkan tempat dan tenaga pemotongan serta melakukan pembagian daging ke setiap peserta kurban dan dimasyarakat.

Dalam pelaksanaannya, sebagian warga yang tidak ikut dalamm struktur panitia biasanya juga ikut membantu karena memang kegiatan ini membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Praktik kepanitiaan bersifat terbuka biasanya terjadi dimasyarakat perdesaan, dimana kekeluargaan masih terasa dalam masyarakat.

5 Muhammad ibn Ismail al-khalani, Subul al-Salam,(Semarang: Toha Putra), Jilid III-IV,hal.89

(5)

Di Desa Kuala Mahato, panitia ditunjuk oleh kesepakatan masyarakat dan panitia hanya dua orang saja yang bertugas mendata masyarakat yang ikut kurban, membeli sapi atau kambing, menyiapkan tempat dan tenaga pemotongan serta membagi jatah serta kurban kepada masyarakat.

Disamping itu, setiap orang yang ikut kurban menunjukkan penyembelih atau dari pihak keluarga yang dipercaya dalam penyembelihan hewan kurban. Dan sebagian masyarakat juga berperan sebagai pekerja lainnya juga ikut menguliti, dan memotong hewan kurban. Hal ini dilakukan karena hewan kurban yang disembelih bukan satu atau dua ekor, bahkan lebih, dan supaya penyelengganya selesai dan dibagiakan kepada masyarakat pada hari itu juga.

Tapi dalam hal ini, bagian tukang penyembelih banyak mendapatkan bagian daging, dan panitia juga menyisihkan bagian daging dan tulang untuk pekerja yang ikut serta membantu pelaksanaan kurban. Dan penyembelih mendapat bagian dari kepala sapi/kerbau yang akan disembelih bahkan bias lebih.

Bedasarkan permasalahan diatas. Penulis tertarik melakukan penelitian mengenai penyelenggaran hewan kurban di Desa Kuala Mahato serta melihat pandangan hukum Islam terhadap pelaksanaan pembagian hewan kurban di Desa Kuala Mahato Kecamatan Tambusai Utara. Maka penulis tertarik membahas lebih lanjut dalam skripsi yang berjudul “ PEMBAGIAN HEWAN KURBAN DI DESA KUALA MAHATO DITINJAU DARI HUKUM ISLAM’’.

(6)

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana pembagian Hewan kurban di Desa Kuala Mahato kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu?

2. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap pembagian hewan kurban di Desa Kuala Mahato?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Dalam penulisan skripsi ini tujuan penuis adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana pembagian hewan kurban di Desa Kuala Mahato Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu

b. Untuk mengetahui pandangan Hukum Islam terhadap pembagian Hewan kurban yang ada di Desa Kuala Mahato.

2. Manfaat penulisan

a. Sebagai bahan untuk menambah, memperdalam dan memperluas keilmuan mengenai kurban dalam Islam.

b. Sebagai sumbangan pemikirandan kontribusi penulis terhadap pembaca dalam permasalahanyang teliti.

c. Dapat digunakansebagai tambahan referensi dan rujukan bagi peneliti selanjutnya.

d. Untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Hukum Islam (S.H) pada jurusan Ahwal al-Syakhsiyah Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi.

(7)

D. Penjelasan judul

Agar tidak terjadinya kekeliruan dalam memahami judul karya ilmiah ini, maka penulis akan menjelaskan arti dari judul diatas serta maksud keseluruhannya sebagai berikut:

Pembagaian : Proses, cara, pembuatan membagi atau membagikan: dalam setiap pekerjaan perlu adanya tugas yang akan diadakan Kurban : Dalam bahasa Arab disebut disebut Udhiyah yang berarti :

الله لا اب رقت قي رشتلا م ويو رحنلا م وي منغلاو رقبلاو لب لاا نم حب ذي امل مسا

“Suatu nama yang digunakan terhadap binatang unta, sapi dan kambing yang disembelih pada hari nahar dan hari tasyrik yang dilaksanakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah’’6

Menyembelih hewan ternak oleh umat Islam di hari Raya Idul Adha Hukum Islam :Islam adalah peraturan-peraturan dan ketentuan berupa

tuntutan, pilihan atau ketetapan yang berkenaan dengan kehidupan manusia berdasarkan kitab Quran dan Hadits ( Hukum Syarak )7

Kuala mahato :Suatu daerah yang terletak atau berada di Desa Kuala Mahato Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu.

6 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, ( Beirut : Dar al-Fikr, 1992),Jilid. 3, h.274

7 Apartemen pendidikan nasional, Kamus bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pusat Bahasa, 2008), hal.

559

(8)

E. Tinjauan Pustaka

1. Karya ilmiah yang ditulis oleh Abdul Alim A, NIM 1100.035 yang berjudul Tinjauan Pendapat Hanafiyah tentang Hukum Kurban, dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana Pedapat Hanafiyah tentang hukum kurban

b. Bagaimana kualitas hadis yang dipergunakannya sebagai dalil

2. Karya ilmiah yang ditulis oleh M.Najwan, NIM 1111.021 yang berjudul Penyelenggaran hewan Kurban di Jorong Lubuak Aua Kanagarian Canduang Koto Laweh Menurut Hukum Islam, dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana Penyelenggaraan Hewan kurban di Jorong Lubuak Aua Kanagarian Canduang Koto Laweh

b. Bagaimanakah bagian daging kurban untuk peserta kurban dan bagian penyelenggaraan kurban di Jorong Lubuak Aua Kanagarian Canduang Koto Laweh menurut Hukum Islam

F. Metode penelitian

Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metedologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi, metodologi penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan- peraturan yang terdapat dalam penelitian. Metodologi penelitian merupakan

(9)

epistimologi penelitian. Yaitu yang menyangkut bagaimana kita mengadakan penelitian.

Penentuan lokasi penelitian adalah sangat penting karena berhubungan dengan apa yang harus dicari sesuai dengan fokus yang akan ditentukan.

Penelitian ini dilakukan di Desa Kuala Mahato Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu.

1. Jenis penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) menggunakan data dalam bentuk kualitatif, dengan menggambarkan metode penelitian yang berusaha menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala, dan keadaan.

2. Lokasi penelitian

Lokasi atau daerah penelitian adalah di Desa Kuala Mahato Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu

3. Sumber data

Untuk mendapatkan data-data penelitian, maka penulis mencari dan mengumpulkan data dari:

a. Sumber data Primer

Sumber data primer dalam penelitian ini penulis dapatkan melalui penelitian langsung ke lapangan dengan key informant yaitu:

(10)

1. Hasil wawancara diperoleh dari Ulama dan datuk pucuk suku yang berada di desa Kuala Mahato

2. Hasil wawancara diperoleh dari panitia kurban yang berada di desa Kuala Mahato

b. Sumber Data Sekunder

Yaitu data yang penulis dari bahan-bahan perpustakaan yang berfungsi sebagai bahan pelengkapan dari data primer, buku-buku yang berkaitan dengan ini.

Karena..dalam..penelitian..ini..menggunakan,.pendekatan..kualitatif, maka teknik..yang..digunakan..adalah..teknik..snowball..sampling..yaitu..metode penarikan..sampel..secara..berantai,.dari..sampel .informasi..yang..pertama, begitu..seterusnya..sehingga..jumlah..informasi..yang..dihubungkan..semakin lama..semakin..besar.8

4. Metode pengumpulan data

Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa metode yaitu, sebagai berikut:

1. Observasi

8Joko Subagyo, Metodologi Penelitian Dalam Studi dan Praktek,(Jakarta:PT. Rineka Cipta,1997) hal 39

(11)

Yaitu pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang telitih, penulis mengumpulkan data dengan memperhatikan dan mengamati permasalahan langsung kelapangan.

2. Wawancara

Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan pertanyaan-pertanyaan secara lisan kepada respondens. Jenis wawancara yang digunakan adalah tanggung jawab yang terarah untuk mengumpulkandata-data yang relevan

5. Metode analisis data

Dalam analisis data, penulis menggunakan tiga metode yaitu, sebagai berikut:

a. Induktif

Yaitu berangkat dari fakta/peristiwa yang khusus, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.

a. Deduktif

Yaitu pembahasan yang bertitik tolak dari keterangan yang bersifat umum, kemudian mengarahkepada hal yangbersifat khusus.

b. Kompratif

(12)

Mencari pemecahan masalah melalui suatu analisis terhadap factor-faktor tertentu yang berhubungan dengan fenomena yang di selidikidan membandingkan antara satu faktor dengan faktor lain.

G. Sistematika Penelitian

Agar mempermudah pemahaman terhadap karya ilmiahini maka ditulis secara sistematis, yaitu dengan membagi pada empat bab dan setiap bab terdiri dari sub-sub bab

Dalam bab I terdapat pendahuluan yang merupakan informasi awal dengan memberitahukan sekaligus memasuki permasalahan pokokyang diuraikan pada bab selanjutnyaa. Pendahuluan ini dibagi beberapa sub yaitu: latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan pembahasan, penjelasan judul, metedologi pembahasan dan sistematika penulisan.

Pada bab II akan diuraikan akan diuraikan gambaran umum tentang kurban.

Sub babnya terdiri dari definisi kurban dan dasar hukum islam, syarat-syarat kurban, pelaksanaan kurban dalam islam, tata cara pelaksanaan kurban, hikmah kurban.

Bab III hasil penelitian yang beriskan tentang monografi di desa kuala mahato kecamatan Tambusai Utara, pembagian hewan kurban di desa Kuala Mahato dan tinjauan Hukum Islam terhadap pembagian hewan kurban di desa Kuala Mahato, Analisis penulis terhadap pelaksanaan pembagian hewan kurban di desa Kuala Mahato.

(13)

Bab IV penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Di sini akan menjelaskan bagaimana penyelesaian dari persoalan-persoalanyang dikemukakan dalam rumusan masalah berikutalasan-alasannya. Tidak lupa di ikut sertakan dengan saran-saran yang berguna dengan persoalan-persoalanyang akan dibahas.

BAB II

KURBAN DALAM HUKUM ISLAM A. Sejarah Singkat kurban

(14)

Jika dilihat dari sejarah, syariat ibadah kurban sudah ada semenjak nenek moyang manusia, yaitu nabi Adam AS sampai sekarang. Sejarah kurban dapat ditelusuri sepanjang perjalanannya dari masa kemasaberikutnya.

1. Masa Nabi Adam AS

Pada mulanya ibadah kurban ini telah dilakukan pada masa Nabi Adam, yaitu kurban yang dilaksanakan oleh anak Nabi Adam (Qobil dan Habil). Harta yang dimiliki yang dimiliki Qabil diperoleh dari bidang pertanian, sedangkan Habil dibidang peternakan. Ketika itu ada perintah, siapa yang memiliki harta yang banyak maka sebagian hartanya dikeluarkan untuk kurban.

Sebagai seorang petani Qabil mengeluarkan kurbannya dari hasil pertaniannya dan sebagai peternak Habil mengeluarkan hewan peliharaannya untuk kurban. Buah- buah yang dikurbankan Qabil maupun hewan ternak yang dikurbankan Habil, memiliki sifat yang berbeda. Habil memilih dan mengeluarkan hewan kurban dengan ikhlas.

Dipilih hewan yang gemuk dan sehat, dan dia taat kepada ayahnya. Lain halnya dengan Qabil, dia memilih buah-buahan yang jelek yang mulai membusuk.

Dalam pelaksanaanya kurban yang diterima adalah kurban yang dikeluarkan oleh Habil, sementara buah-buahan yang dikeluarkan oleh Qabil tetap utuh, seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 27:9

◆

◼⧫

⧫⧫



⧫◆

⬧



⧫▪⬧

⧫➔

→⬧



☺⧫◼

⬧◆

⬧⧫

9 M.Qurais Shihab, Tasir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati,2002)), jilid 9, h. 54

(15)





⧫⬧

◼

⧫⬧

☺

⬧⧫⧫





⧫✓☺



Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

2. Masa Nbi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim menghadap Allah meminta menganugrahkan anak yang shaleh, kemudian Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dengan kelahiran seorang anak (Ismail). Maka ketika anaknya sudah sampai umur sanggup berusaha untuk memenuhi kepentingannya ketika itulah nabi Ibrahim bermimpi Allah SWT memerintahkannya agar menyembelih putranya Ismail. Mimpi itu beliau yakini sebagai mimpi yang benar yang disampaikan Allah kepadanya. Oleh karenanya, mimpi itu disampaikan kepada Ismail dan Ismail sependapat dengan ayahnya, bahwa itu adalah mimpi yang benar, sehingga perintah Allah untuk menyembelih dirinya harus dilaksanakan. Pada saat kedua orang bapak anak itu akan melaksanakan perintah dengan penuh ketaatan dan ketundukan kepadanya, Allah menganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.10 Sebagai mana terungkap dalam surah As- Shaaffaat: 102-108.

10 Amiruddin, Kurban dan Idul Adha serta Problematikanya, (Yogyakarta:Rumah Tajdid, 2016),h.21

(16)

⬧⬧

◼⧫

➔⧫



⧫⬧

⧫



◆



◆☺



⧫

→⬧

⬧⧫

⧫⬧

⧫⬧

⧫⧫

➔

⧫

⧫⬧➔

⧫



◆





⧫



☺◼⬧

☺◼

⬧◆

✓



⧫◆



⧫⧫



⬧



⧫







⧫✓⬧☺







◆❑⚫

→⬧◼⧫

✓☺



⬧◆



→⧫



⧫⬧◆

◼⧫



⧫



Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;

insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). dan Kami panggillah dia:

"Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyat. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan

(17)

untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian.11

Ketulusam tampak dan beraninya untuk tetap melaksanakan kurban. Walaupun setan dan iblis selalu mengodanya, namun beliau melemparunya dengan batu-batu kecil, yang akhirnya termasuk dalam dalam prosesi pelaksanaan ibadah haji (lempar jumrah). Menyaksikan pengorbanan nabi Ibrahim, malaikat jibril kagum seraya mengucapkan takbir, sehingga sekarang tertradisikan takbiran tersebut dan dikumandangkan setelah sholat Ied Adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah.

Sejarah dimasa nabi Ibrahim yang menjelaskan begitu besar ketulusan, keberaniandan pengorbanannya atas perintah Allah SWT, sehingga ia sanggup mengorbankan atas perintah Allah SWT, hingga ia sanggup mengorbankan anak yang paling dicintainya.

3. Masa Rasulullah SAW

Bersamaan dengan perintah melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun pertama sesampainya Nabi Muhammad SAW di Madinah setelah hijrah, perintah untuk melaksanakan ibadah kurban disampaikan.12 Perintah ini diawali dengan diturunkan Allah SWT dalam surat Al-Kautsar ayat 1-3



⬧

⧫❑⬧



⬧

◼⧫

⧫◆

11 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahanya,(Bandung:CV Penerbit J-Art, 2004), h.449-450

12 Amiruddin, loc.cit.,

(18)





⧫

◆❑➔

⧫



Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang- orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.13

Dengan melaksanakan ibadah kurban, diharapkan kaum muslimin ingat serta meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Di samping itu, dengan melaksanakan kurban seluruh umat manusia, laki-laki dan perempuan, kaya maupun miskin, dewasa maupun anak-anak, dapat bergembira bersama sambil mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid selama hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik.

Itulah sejarah singkat terkait dengan ibadah kurban, yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS hingga sampai sekarang umat Islam melaksanakan ibadah kurban pada setiap tahunnya untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan.

B. Pengertian Dan Dasar Hukum Islam 1. Pengertian Kurban

Pada pembahasan awal, penulis akan memaparkan tentang pengertian kurban.

Pengertian kurban dapat dilihat dari segi bahasa dan istilah yang dikemukakan ole hulama fiqh. Di antranya ulama fiqh yang mengemukakan tentang pengertian kurban secara bahasa adalah sebagai berikut:

13 Departeman Agama Republik Indonesia, Alqurán dan Terjemahannya, (Bandung:CV Penerbit J-Art, 2004) h.602

(19)

a. Abu Luweis Ma’luf di dalam kamusnya al-Munjid,makna kurban secara bahasa sebagai berikut:

ةحيبذلا اهب ىىحضي ةاث ,راهنلا عافترا

Artinya: Siang yang telah naik kambing yang telah dikurbankan 14

b. Imam kamaluddin bin Abdul Wahid mendefinisikan kurban secara bahasa dengan:

ىحضلأا موي ىف حب ذي ام مسا ةغل يف ةيحضلأا

Artinya: Kurban menurut bahasa adalah nama terhadap binatang yang disembelihdan dilaksanakan pada hari raya Idul Adha”15

c. Menurut Wahbah al-Zuhaily kurban secara bahasa adalah:

يحضي امل مسا : ةعل ةيحضلأا يحضلأا ديع مايأ حبذيامل وا ,هب

Artinya: Kurban menurut bahasa adalah suatu nama bagi hewan yang dikurbankan atau hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha” 16

d. Menurut Ash-Shan’ani bahwa kurban secara bahasa adalah:

اهبو ,هيف اهحبذ عرش يذلا تقولا مسا

يحاضلأا موي مويلا ىمس

Artinya: Kurban suatu nama waktu yang disyari’atkan menyembelih hewan Kurban pada waktu tersebut, dinamai waktu itu dengan Idul Adha”.17

Dari berbagai macam pengertian kurban yang dikemukakan oleh beberapa ulama fiqh diatas, terdapat perbedaan dari segi cara mengungkapkan namun yang ditujukan adalah maksud yang sama. Maka dari berbagai definisi tersebut dapat penulis simpulkan sebuah pemahaman yang sederhana. Kurban secara istilah adalah

14 Abu Laweis Ma’aluf, Al-Munjid, (Beirut:Dar al-Fikr,t.th),cet. Ke-5, h.462

15 Imam Kamaluddin bin Abdul Wahid, Syarah Fath al-Qodir,(Beirut:Dar a-Fikr,t,th), jilid ke-9, h.504

16 Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh,(Beirut: Dar al-Fikr, 1989), jilid. Ke-3,h.

594

17 Ash-Shan’ani, Subul al-Salam, (Semarang: Toha Putra, 1989), jilid III-IV, h.89

(20)

menyembelih hewan tertentu seperti unta, sapi, kambing dan sejenisnyayang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Dasar Hukum Kurban

Dalam menjalankan suatu ibadah tentu harus mempunyai dasar atau landasan yang jelas. Begitu juga dengan ibadah kurban yang mempunyai landasan dalam pensyariatannya. Landasa hukum pensyariatan kurban adalah Al Quran, hadits dan ijma ulama.18

a. Al Quran

Allah Swt telah mensyariatkan kepada umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban, perintah tersebut terdapat dalam surat Al-Hajj 36 dan Al-Kautsar ayat 1-3 1) Surat Al-Hajj ayat 36

◆

➔

⬧



➔



⬧





⬧





◼⧫

◆❑

⬧⬧

⧫◆

❑

❑➔⬧



❑☺➔◆

⬧

▪⧫➔☺◆



⧫

⬧

➔⬧

⧫⬧



Artinya: Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada

18 Abu Malik Kamal bin As Sayid Salam, Shahih Fikih Sunnah, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2007), cet 2, h.611

(21)

padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menyebut-nyebutkan nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada para hambanya-Nya, bahwa Allah telah menciptaka untuk kepentingan mereka dan menjadikan termasuk syi’ar-Nya. Yang demikian itu agar mereka mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka dengan berkurban dan ikhlas dalam beramal.19

2) Surat Al-Kautsar ayat 1-3



⬧

⧫❑⬧



⬧

◼⧫

⧫◆





⧫

◆❑➔

⧫



Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu: dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang- orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Al-Mukhtar Ibnu Fulful, dari Anas Ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengagkat kepadalanya seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau Saw. Mengapa engkau tersenyum? “Maka beliau menjawab, sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca firmannya: Dengan menyebut nama Allah yang pemurah lagi maha penyayang . sesungguhnya kami telah

19 Bahrum Abu Bakar , dkk, Tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang , 1993), cet ke-2, h.198-199

(22)

memberikan kepadamu Al-Kautsar. Lalu beliau bersabda, “Tahukah kalian, apakah Al- Kautsar itu? Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”20 Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Ia adalah sungai yang diberikan oleh Rabb-ku Swt kepadaku disurga, padanya banyak kebaikan ,dimana pada hari kiamat kelak ummatku akan hilir mudik kesungai itu. Bejananya sebanyak bintang dilangit. Lalu ada seorang hamba dari mereka yang gemetaran, maka ku katakan, ‘Wahai Rabb-ku, Sesungguhnya dia termasuk ummatku.

Kemudian dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalanmu.” Demikianlah yang diriwayat oleh Imam Ahmad . hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim,Abu Dawud, dan an-Nasa’i.

Banyak dari ahli qira’ah yang menggunakannya sebagai dalil bahwa surah itu termasuk surah madaniyyah. Dan banyak pula ahli fiqih yang menyebutkan bahwa ‘basmalah’ termasuk dalam surah tersebut dan ia juga diturunkan bersamanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

جد رفزأ كسم ازإف ءاملا هيف يرجي ام ىلإ يديب تبرضف ولوللا مايخ هاتفاحرهنبانأ از إف ةنجلا تل

لجو زع الله هك اطعأ يزلا رثوكلا ازه :لاق ؟ليربج اي ازه ام : تلق

Artinya: Aku masuk kedalam surga, dan tiba-tiba aku melihat sungai yang kedua tepinya dipenuhi oleh kemah-kemah dari mutiara, lalu aku sentuhkan tanganku yang dialiri airnya, tiba-tiba ia adalah minyak kesturi yang harum baunya. Aku bertanya, “Hai jibril, apakah ini?” jibril menjawab, “Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan oleh Allah Swt. Kepadacmu.”

Firman Allah Swt

)رحناو كبرل لصف

( “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah. Maksudnya, sebagaimana kami telah memberikan kebaikan yang

20 Pdf, Tafsir Ibnu Kasir

(23)

banyak didunia dan akhirat.21 Diantaranya ialah sebuah sungai yang telah dijelaskan di depan. Oleh karena itu, tulus dan ikhlaslah dalam menjalankan sholat wajib dan sunnahmu serta dalam berkurban hanya untuk Rabb-mu. Ibadahilah Dia semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan berkurbanlah dengan menyebut namanya semata yang tiada sekutu baginya. Hal yang senada disebutkan didalam ayat lain melalui firman-Nya:

➔





➔◆

◆⧫◆

☺⧫◆



◆

⧫✓⬧➔







⬧

◆



⧫◆



⧫✓



Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al-An’am: 162-163).

Ibnu Abbas, Ata, Mujahid, Ikrimah dan Al-Hasan telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wanhar ialah menyembelih unta dan ternak lainnya sebagai kurban.

Hal yang semisal yang telah dikatakan oleh Qatadah, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ad-Dahhak, Ar-Rabi, Ata Al Khurrasani,Al-Hakam,Said ibnu Abu Khalid, dan lain- lainya yang hanya bukan dari kalangan ulama salaf. Hal ini berbeda keadaanya dengan apa yang dilakukan oleh orang yang menyebut namanya, Allah Swt berfirman:

◆

❑➔→⬧

☺

⬧







◼⧫

◆

⬧

21 Pdf,Tafsir Ibnu Kasir

(24)

Artinya: Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.(Al-An’am:121), sampai akhir ayat.22

Pendapat yang shahih adalah yang pertama, yaitu yang mengatakan, bahwa makna yang dimaksud dengan nahr ialah menyembelih hewan kurban. Karena itulah maka Rasulullah Saw. Sesuai salat Idul Adha segera menyembelih kurbannya, lalu bersabda:

نَم لَص َلَصى َنَت َكَسَن َو اَنَكُسُن دَقَف َباَصَأ نَم َو .َكُسُّنلا

كَسن َل بَق ة َل صل َلَف

َكُسُن ."ُهَل

َأَماَقَف َةَد رُب وُب

ُن ب را يَن اَي :َلاَقَف َلوُس َر

، اللَّ

ي ن إ ُتكسَن ي تاَش

ل بَق

، ة َل صلا ُت ف َرَع َو

نَأ

َم وَي لا م وَي ىَهَت شُي هي ف

َكُتاَش" :َلاَق .ُم ح للا ُةاَش

ن إَف :َلاَق ." م حَل ي د ن ع

اًقاَن ع َي ه ُّبَحَأ يلإ

ن م

، ن يَتاَش ُئ ز جُتَفَأ

، َكُئ ز جُت" :َلاَق؟ي نَع ئ زَجُت َلا َو

اًدَحَأ َكَد عَب

Artinya: Barang siapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih kurban seperti kami menyembelih kurban, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kurbannya. Dan barang siapa yang menyembelih kurban sebelum salat (hari raya) maka tiada kurban baginya.

Maka Abu Burdah Nayyar bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menyembelih kambingku sebelum salat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang semua orang menyukai daging padanya" Rasulullah Saw. menjawab: Kambingmu itu adalah daging kambing biasa (bukan kurban). Abu Burdah berkata, "Wahai

Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seekor anak kambing kacang yang lebih aku sukai daripada dua ekor kambing biasa, apakah itu cukup untuk kurbanku?"

22 Pdf, Tafsir Ibnu Kasir

(25)

Rasulullah Saw. menjawab: Cukup untukmu, tetapi tidak cukup untuk orang lain sesudahmu.23

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat

yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ialah jadikanlah salatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sembahan selain-Nya. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadap-Nya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang dikhususkan-Nya buatmu sebagai anugerah dari-Nya.

Pendapat yang dikemukakan oieh orang yang mengatakan ini amatlah baik. Dan pendapat ini telah dikatakan sebelumnya oleh Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi dan Ata dengan ungkapan yang semakna. Firman Allah Swt.

اَش َّنِإ ُرَتْبلأا َوُه َكَئِن

Artinya: sesungguh orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.

Maksudnya sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya.

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan dengan Al-As ibnu Wa-il.

23 Pdf, Tafsir Ibnu Kasir

(26)

Muhammad Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Ruman yang mengatakan bahwa dahulu Al-As ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah Saw, ia mengatakan, benarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah sebutanya.24

Syamir ibnu Atiyyah mengatakan bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Uqbah ibnu Abu Mu'it. Ibnu Abbas mengatakan pula, dan juga ikrimah, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Ka'bibnul Asyraf dan sejumlah orang-orang kafir Quraisy.25

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Yahya Al- Hassani, telah menceritakan kepada kami ibnu Abu Addi, dari daud, dari ikrimah, dari ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ka’b ibnul Asyraf dating ke Mekkah, maka orang- orang Quraisy berkata kepadanya, “Engkau adalah pemimpin mereka. Tidakkah engkau melihat lelaki yang terusir lagi terputus dari kaumnya itu (maksud Nabi Saw)?.

Dia mengira dirinya lebih baik dari pada kami, padahal kami adalah ahli (pelayan) jamaah haji, ahli sadanah (pelayanan Ka’bah) dan ahli siqayah (pelayan air minum zam-zam).” Maka Ka’b Ibnul Asraf berkata, “Kalian lebih baik dari padanya.”Maka turunlah firman Allah Swt : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.(Al-Kautsar:3).

24 Pdf, Tafsir Ibnu Kasir

25 Pdf,Tafsir Ibnu Kasir

(27)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan hadits ini shahih sanadnya.

Diriwayatkan pula dari Ata, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan abu lahab pergi menemui orang-orang yang musrikdan berkata kepada mereka, tadi malam Muhammad terputus (keturunannya).” Maka Allah Swt. Menurunkan firman-Nya sehubungan dengan peristiwa tersebut: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (Al-Kautsar:3).

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna : Sesungguhnya orang yang membencimu.(Al-Kautsar:3) yakni merupakan musuhmu. Pendapat ini lebih mencakup dan meliputi semua orang yang bersifat dan berkarakter demikian. Baik dari kalangan mereka yang telah disebutkan diatas maupun yang lainnya.

Ikrmah mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara. As-Saddi mengatakan bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka mereka mengatakan abtar (terputus keturunanya). Dan jika putra-putra Nabi Saw.

Semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, Muhammad telah terputus.”

Maka Allah Swt menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar:3).

Pendapat ini senada dengan apa yang telah kami sebutkan diatas yang mengatakan bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Maka orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutanya.

(28)

Yang dimaksud dengan nahar pada ayat kedua surat al-Kautsar diatas adalah menyembelih hewan kurban.26 Hari rata Idul Adha juga dinamai Id an-Nahr karena itu dianjurkan menyembelih hewan sebagai kurban.27

Maksud ayat kedua surat al-Kautsar diatas adalah sebagaimana telah diberikan nikmat yang banyak oleh Allah SWT pada ayat pertama, oleh karena itu, tulus ikhlaslah dalam menjalankan shalat wajid dan sunnah serta dalam berkurban hanya untuk Allah SWT28, yaitu hadyu (kambing dan unta) dan sembelelihan-sembelihan lain untuk Allah SWT, atas nama Allah SWT semata yang tidak memiliki sekutu.29

Dari landasan al-Quran di atas dapat dipahami bahwa adanya perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan ibadah kurban karena ibadah ini merupakan suatu ungkapan rasa syukur kepada Allah terhadap rezeki yang diberikan kepada hamba-Nya dengan mengurbankan hewan ternak yang dapat mendekat seorang hamba kepada-Nya.

b. Hadish

Dasar hukum pensyariatan ibadah kurban adalah berdasarkan hadith. Landasan kurban dalam hadith yang yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda:

اهنورقب ةمايقلا مموي يت أتل اهنإ مدلا قارهإ نم الله ىلإ بحأرحنلا موي لمع نم يمدا لمعام الله نم ععقيل ممدلا نإو ,اهف لظأواهراعشأو ىلع عقي نأ لبق ن اكمب

اسفن اهب ااوبيطف ضرلأا ى

26 Sayyid Sabiq,Fikih Sunnah, Penerjemah: Kamaludin A. Marzuki, (Bandung: Al-Ma’arif, 1987), jilid 13, h. 155

27 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah:Pesan, Kesan, dan Keselerasian Al-Quran, (Jakarta:

Lentera Hati, 2002), volume 15, h. 667

28 M. Abdul Ghafar, Tafsir Ibnu Kasir,(Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2012), jilid 10, cet ke-5, h. 245

29 Wahbah Al-Zuhailii, Tafsir al-Wasith, penerjemah : Muhtadi, dkk, (Jakarta : Gema Insani, 2013), jilid 3, h.893

(29)

Artinya: Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari Raya kurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan kurban itu kelak di hari kiamat akan dating beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kukunya sebelum darah kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) kurban itu.30

Dari landasan hadits diatas dapat dipahami bahwa kurban adalah amalan yang dicintai oleh Allh pada hari raya kurban (Idul Adha), karena pada hari kiamat kelak hewan kurban tersebut akan dating beserta tanduk, bulu-bulu dan kukunya. Disamping itu dalam hadits di atas juga dapat dipahami bahwa orang yang melaksanakan kurban adalah orang yang beruntung.

c. Ijma

Seluruh umat Islam sepakat bahwa berkurban adalah perbuatan yang disyariatkan Islam. Banyak hadits yang menyatakan bahwa berkurban adalah sebaik-baiknya perbuatan di sisi Allah SWT yang dilakukan seorang hamba pada harinya kurban.

Demikian juga bahwa hewan kurban itu akan dating pada hari kiamat kelak persis seperti kondisi ia disembelih di dunia. Lebih lanjut, dinyatakan bahwa kurban merupakan ajaran yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Ibrahim.31

30 Abdul Ghafar, Tafsir Ibnu Kasir, ( Pustaka Imam Asy-Syafi’I,2012),jilid 10, cet ke-5, h.155- 1556

31 Wahbah Al-Zuhaily,Fiqih Islam Wa Adilatuhu, Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani,dkk, (Jakarta: Gema Insani,2011), jilid 4,h. 255

(30)

Disamping itu, seluruh ulama sepakat bahwa kurban merupakan amaliyah yang disyariatkan. Mereka hanya berbeda dalam hal kedudukan hukum kurban ini sebagian mengatakan hukumnya wajib, sebagian mengatakan sunnah.32

C. Hukum Melaksanakan Kurban

Berbicara mengenai hukum kurban, terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqaha, apakah hukumya wajib atau sunnah.

a. Syafi’i dan Malik berpendapat bahwa hukumnya sunnah mu’akkad.33sebagaimana hadis dari Ummu Salamah bahwa Nabi SAW bersabda:

و هيلع الله ىلص يبنلا نأ ةملس ما نع لف يجضي نأ مك دحأ دارأو رشعلا تلخد اذإ لق ملس

يحضي يتح أيش هرفطأ نم لاو هرعشنم نذخأي

Artinya: Dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Apabila masuk sepuluh hari (awal bulan Dzulhijjah),lalu diantara kamu hendak berkurban, maka janganlah mengambil/memotong rambut, dan kukunya sedikitpun sampai benar-benar dia menyembelih (kurbannya)”(HR.Muslim).

b. Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum berkurban ada dua macam: wajib dan sunnah. Adapun yang wajib terdiri atas beberapa kondisi :

1. Kurban yang disebabkan nazar, seperti ucapan seseorang, “saya bernazar untuk berkurban karena Allah dengan seekor domba atau seekor unta”. Bekurban dalam kondisi ini wajib, baik yang mengucapkannya adalah seorang yang kaya ataupun seorang miskin.34

32 A. Rasyidi, Aserani Kurdi, Tuntunan Ringkas Ibadah Qurban, (Tanjung Tabalong: LPDT, 2007), cet ke-1, h.4

33 Muhammad Yasir Abd Muthalib,IRingkasan Kitab Al-Umm, (Jakarta:Pustaka Azzam, 2004), cet-1, h.737

34 Wahbah Al-Zuhaily, op. cit.,h.258

(31)

2. Hewan yang disengaja dibeli dengan tujuan dikurbankan, maka hukum kurabanya itu wajib. Alasannya jika seorang yang sebenarnya tidak wajib berkurban membeli seekor hewan untuk dikurbankan, maka merealisasikan tindakan tersebut hukumnya wajib.35

3. Kurban yang dituntut dari seorang kaya, bukan orang miskin, untuk melaksanakan pada hari raya Idul Adha. Kurban yang dimaksud bukan dalam rangka nadzar atau sengaja dibeli untuk disembelih, melainkan sebagai ekspresi dari rasa syukur terhadap nikmat kehidupan yang diberikan Allah SWT dan menghidupkan sunnah yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim.36

Adapun berkurban yang disunnahkan menurut Abu Hanifah kurban seseorang yang dalam perjalanan serta dari kurban seorang miskin yang tidak memiliki nadzar untuk berkurban atau membeli hewan untuk dikhususkan sebagai kurban.

D. Syarat-Syarat Kurban

Pada pembahasan ini penulis akan memaparkan tentang syarat-syarat kurban, baik itu orang yang akan berkurban maupun syarat hewan yang akan dikurbankan.

Adapun syarat-syarat dalam pelaksanaan kurban adalah sebagai berikut:

a. Ada orang yang berkurban (jelas siapa orangnya,walaupun tidak diharuskan hadir pada penyembelihan)

35 Ibid., h. 258-259

36 Ibid.,h. 259

(32)

b. Ada hewan kurban yang akan disembelih

c. Ada yang bersedia menyembelih hewan kurban tersebut

d. Pelaksanaan penyembelihan benar-benar dilakukan dan dengan cara sesuai yang disyariatkan

e. Waktu penyembelihan pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyriq.37

Terkait dengan syarat orang yang akan berkurban adalah sebagai berikut:

a. Beragama Islam

b. Dalam keadaan merdeka c. Cukup umur (sudah baligh) d. Berakal sehat

e. Adanya kemampuan diri untuk berkurban

Yang dimaksud dengan “punya kemampuan” adalah yang mempunyai kelebihan dalam keperluan sehari-hari, baik dirinya maupun keluarganya, terutama pada saat Idul Adha dan hari-hari tasyriq.38

Menurut mazhab Hanafi, yang dimaksud dengan kemampuan itua adalah adanya kelapangan, yaitu kelaapangan yang bersifat fitrah (alami). Orang yang akan berkurban itu hendaknya memiliki uang minimal 200 dirham, yaitu sebanyak nisab zakat atau memiliki barang yang senilai dengan nominal uang tersebut.39

37 Rasidi, Aserani Kurdi, op. cit., h. 9

38 Rasidi Aserani kurdi, op. cit., h.8

39 Wahbah Al-Zuhaily,op.cit., h. 255

(33)

Sementara itu, mazhab Maliki, orang disebut mampu itu adalah yang tidak membutuhkan uang yang ia gunakan membeli hewan kurban itu untuk kebutuhan pokok hidupnya pada tahun itu.40

Adapun menurut mazhab Syafi’I orang disebut mampu dalam hal ini adalah orang yang memiliki uang untuk membeli hewan kurban diluar kebutuhannya, dan kebutuhan orang-orang yang berada dibawah tanggungannya selama hari raya dan hari- hari tasyriq (selama waktu pelaksanaan kurban).

Sedangkan menurut mazhab Hambali, orang disebut mampu adalah yang bisa mendapatkan uang untuk membeli hewan kurban itu, sekalipun dengan berutang, asalkan orang itu yakin akan bisa melunasi dikemudia hari.41

Berdasarkan pendapat para imam mazhab diatas dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan mampu dalam hal berkurban ialah orang yang mempunyai kemampuan untuk mendapatkan hewan kurban.

Adapun syarat hewan kurban adalah sebagai berikut:

a. Macam hewan kurban

Tidak semua hewan bisa dijadikan kurban. Binatang-binatang yang bisa dijadikan kurban adalah binatang ternak seperti unta, sapi, domba, dan kambin.42 Firman Allah dalam surat al Hajj ayat 34:

→◆



➔

⧫

◆





◼⧫

⧫

⬧◆



40 Ibid., h.256

41 Ibid .,

42 Abu Malik Kamal bin Sayid Salim, op.cit., h.615

(34)

☺⧫

➔

⬧⬧

⬧

◼◆

⬧⬧

❑☺

◆

⧫✓☺



Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).

Para ulama telah sepakat bolehnya berkurban semua hewan ternak (bekaki empat)dan mereka berbeda pendapat tentang manakah yang afdhal43.

1) Imam Malik berpendapat bahwa binatang yang paling utama untuk kurban adalah domba, kemudian sapid an unta, karena Nabi Muhammad SAW sendiri dalam berbagai riwayat dengan memilih dua ekor domba jantan, sementara beliau tidak mungkin berkurban kecuali dengan hewan terbaiik. Demikian juga sekiranya Allah SWT mengetahui ada hewan lain yang lebih baik dari domba, niscaya Allh SWT akan mengganti Nabi Ismail dengannya.44

2) Mazhab Syafi’I dan Hambali menyatakan bahwa urutan hewan kurban yang paling utama adalah unta, kemudian sapi, lalu kambing.45 Hal itu melihat pada posisi hewan yang paling banyak dagingnya, sehingga lebih banyak manfaatnya bagi fakir miskin.46

43 Ibnu Rusyd, op.cit., h. 272

44 Wahbah Al-Zuhaily, op. cit., h. 272

45 Abu Malik Kamal bin Sayid Salim, op. cit., h.624

46 Wahbah Al-Zuhail, loc.cit.,

(35)

3) Menurut mazhab Hanafi, hewan kurban yang palin utama adalah yang paling banyak dan lebih lezat dagingnya.47

Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa hewan kurban yang paling utama adalah yang paling banyak daging, sehingga lebih bermanfaat untuk semua orang.

b. Sifat hewan kurban

Hewan untuk di kurbankan harus yang sehat, tidak cacat. Maka tidak sah dengan hewan yang pincang, sangat kurus, buta matanya, terputus telinganya atau ekornya, atau berpenyakit kudis.

Para ulama sepakat wajib menghindari hewan yang pincang, sakit dan terlalu kurus yang tidak ada sumsumnya48, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasulallah SAW:

بزاع نبء اربلل تلق :لاق زريف نيديبع تعمنس :لاق نمحرلا دبع ناميلنس تعمنس ةبعنش ننش دح ىلنص الله لونسر :لاقف ىحانضلأ ا نم ملنسو هيلع الله ىلنص الله ل ونسر هنع ىهن وا هرك ىننس دح و هنيلع الله ا :ىحاننننضلأا ىف رجت لا عبرا هدني نم رننننصقا يدني وا هدنيب اذنكف ملننننس

نيبلا ءاروعل

)هجام هاور( ىقنتلا ىتلا ةرشضكلاو اهعلظ نيبلا ء اجرعلاو , اهضرم نيبلا ةضرملاو ,اهروع

Artinya: Telah berbicara kepada kami Syu’bah aku mendengar Sulaiman Abdurrahman berkata: Aku mendengar Ubai bin Fairuz berkata: Aki berkata kepada Barra bin Azib bercerita kepadaku sebagaimana dibenci dan dilarang padanya Rasulullah Saw, dari sembelih berkata: “Rasulullah Saw dengan tangannya seperti ini dan tanganku lebih pendek dari tangannya” Ada empat perkara yang tidak boleh ditemukan pada hewan sembelihan, yang juling dan nyata julingnya, yang sakit dan nyata sakitnya, yang pincang dan nyata pincangnya dan yang tua yang tidak ada sumsumnya lagi. (HR.Ibnu Majah).

47 Ibid.,

48 Muhammad Bagir al-Habsyi, Fiqih Praktis Menurut Al-Quran, As-sunnah dan pendapat para ulma, (Bandung : Mizan, 1999), cet-1, h.450

(36)

Dari hadits diatas dipahami bahwa ada empat kriteria yang tidak boleh ada pada hewan kurban, yaitu:

1) Juling dan nyata julingnya 2) Sakit dan nyata sakitnya 3) Pincang dan nyata pincangnya 4) Tua yang tudak ada sumsumnya lagi

Dari empat kriteria diatas, ada juga sifat-sifat yang dimakruhkan pada hewan kurban menurut para ulama:

1) Menurut mazhab Hanafi, makruh hukumnya berkurban dengan hewan yang terbelah daun telinganya, yang dibelah daun telinganya sebagai tanda, yang dipotong sedikit sebagian atas daun telinganya. Selain itu, makruh hukumnya berkurban dengan hewan yang bulunya sudah yang diambil terlebih dahulu sebelum disembelih.49

2) Menurut mazhab Maliki, hewan yang makruh dikurban adalah yang mengandung sifat-sifat yang disebut diatas, mengandung cacat lainnyayang berkenaan dengan telinganya, yaitu yang terlahir tanpa daun telingadan terpotong sedikit bagian dari telinganyadan yang mengandung cacat yang berkaitan dengan tanduk.makruh juga hukumnya berkurban dengan hewan yang rontok beberapa giginya disebabkan usia yang sudah lanjut atau sebab-sebab lainnya.50

49 Wahbah Al-Zuhaily,op. cit.,h. 282

50 Ibid,

(37)

3) Menurut mazhab Syafi’I, makkruh berkurban dengan hewan yang disebutkan sifat- sifatnya pada hadits diatas, yaitu yang terbelah atau yang dilubangi daun telnganya, yaitu berdasarkan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab ini. Makruh juga berkurban dengan hewan yang tidak bertanduk, dan yang patah tanduknya. Hal ini dikarenakan kondisi yang demikian membuat hewan kurban itu terlihat jelek.

4) Menurut mazhab Hambali, makruh hukumnya berkurban dengan hewan yang terbelah atau berlubang telinganya, ataupun yang terpotong sedikit bagain telinganya.51

Secara umum, hewan ternak yang diajurkan menyembelihnya sebagai kurban adalah yang baik keseluruhan fisiknya, serta yang terbebas dari berbagai cacat yang tetap sah berkurban dengan keberadaanya.

Hadits lain yang menjelaskan tentang sifat hewan-hewan kurban

ءاقرخ لاو ةرب ادم لاو ةلب اقمب يحضن لا ناو ن ذلأاو نيعلا فرتشن نا الله لوسر انرما

Artinya: Rasulullah menyuruh kami memperhatikan mata dan telinga hewan kurban yang hendak dijadikan kurban, dan melarang kami berkurban dengan hewan yang terpotong ujung dan pinggir telinganya, yang pecah kupingnyadan jangan pula yang berlobang daun telinganya”(HR. Ahmad , At-Turmu-dzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ali).

Berdasarkan hadits diatas dapat dipahami bahwa Rasulullah melarang berkurban dengan hewan yang terpotong ujung dan pinggir telinganya, yang pecah kupingnya dan yang berlobang daun telinganya.52

c. Umur Hewan Kurban

51 Ibid, h. 282-283

52 A. Rasyidi, Aserani Kurdi, op.cit.,h. 14

(38)

Para ulama sepakat mengenai bolehnya berkuraban dengan unta, sapid an domba yang sudah mencai tsani 53. Sekurang-kurangya binatang yang akan dikurbankan itu telah berumur dua tahun dan masuk tahun yang ketiganya. Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

ناضلا نم ةعذج اوحب ذتف مكيلع رسعي نألاإ ,ةنسملاإ اوحب ذتلا

Artinya: “Janganlah kalian sembelih kecuali musinnah, dan jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka sembelihlah biri-biri yang berumur enam bulan sampai satu tahun (jadza’ah)” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Musinnah adalah hewan yang berumur dua tahun ke atas, baik unta, sapid an kambing.54 Adapun musinnah pada domba adalah yang telah berumur satu tahun dan masuk tahun kedua. Akan tetapi jika kesulitan mencari domba yang telah berumur musinnah, maka diperbolehkan jadza’ah(yang masih berumur enam bulan).55

Adapun usia hewan yang dibolehkan untuk kurban menurut pandangan para ulama adalah sebagai berikut:

1) Menurut mazhab Hanafi, untuk kambing adalah yang telah sempurna berusia satu tahun dan masuk tahun kedua, untuk sapi atau kerbau adalah yang sempurna berusia dua tahun dan masuk tahun ketiga, sementara untuk unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun dan masuk tahun keenam.56

2) Menurut mazhab Maliki, untuk kambing adalah yang telah sempurna berusia satu tahun menurut perhitungan tahu arab (qamariyah), untuk sapi atau kerbau adalah yang telah sempurna berusia tiga tahun dan sekadar masuk tahun keempat ,

53 Wahbah Al-Zuhaily, op.cit., h.275

54 Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, op. cit., h.618-619

55 Ibid., h. 620

56 Wahbah Al-Zuhaily, loc. Cit.,

(39)

sementara untuk unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun dan masuk tahun keenam.57

3) Menurut mazhab Syafi’i, syarat untuk unta adalah berusia enam tahun, sapi dan kambing berusia tiga tahun dan domba berusia dua tahun.58

4) Menurut mazhab Hambali, syarat untuk kambing adalah berusia sempurna satu tahun, untuk sapi berusia dua tahun, adapun unta berusia lima tahun.59

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa para ulama mazhab yang empat sepakat menetapkan usia untuk unta adalah lima tahun. Adapun untuk sapi mereka berselisih kedua dalam pendapat dimana menurut mazhab Hambali, Hanafi dan Syafi’i syaratnya adalah berusia dua tahun, sementara menurut mazhab Maliki tiga tahun. Mereka juga berselisih tentang umur untuk kambing dimana menurut mazhab selain Syafi’i syaratnya adalah sudah berusia satu tahun penuh, sementara menurut mazhab Syafi’i sudah berusia dua tahun penuh.

d. Jumlah Hewan Kurban

Pada pembahasan tentang jumlah hewan kurban, terdapat pendapat-pendapat kalangan para ulama, Imam Malik berpendapat seseorang boleh menyembelih kambing, sapi atau unta sebagai kurban untuk dirinya dan keluarga yang ia nafkahi menurut syariat. Sedangkan menurut Syafi’i, Abu Hanifahdan golongan ulama, seekor

57 Ibid.,

58Ibid., h.276

59 Ibid.,

Referensi

Dokumen terkait

• Untuk bongkar muat barang di Xanadu ini, setiap kali ada motor baru datang, jika kiriman yang datang masih belum jadi (berupa mesinnya saja, atau masih perlu

Aplikasi Pengendalian Mutu (Quality Control) Menggunakan Diagram Pareto dan Analisis Fishbone Dalam Mengurangi Kegagalan Produk Coco Fiber (Studi Kasus di CV. Tiga

menjadi ikan asap dan pada umumnya masih diolah dengan praktek yang sangat sederhana, tidak efisien, tidak higienis serta mutu dan daya awetnya rendah

suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan KPU Provinsi/KIP Aceh untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dan Keputusan KPU/KIP Kabupaten/Kota

Meski demikian, secara kritis bisa ditarik generalisasai bahwa aborsi dilakukan tidak hanya dikarenakan kehamilan di luar perkawinan (kehamilan pranikah, dilakukan

Dengan menerapkan perlakuan pembiusan secara bertahap dengan laju penurunan suhu 0.083 0 C/menit sampai suhu 15°C dan membiarkannya selama 10 menit, selanjutnya

Penelitian terhadap ROA sesuai dengan hipotesis yang diajukan yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan ROA (Return on Assets) bank sebelum dengan setelah