ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN METODE RGEC (RISK PROFILE, GOOD CORPORATE GOVERNANCE, EARNING, CAPITAL) PADA PT.BANK
MANDIRI (Persero) TBK. PERIODE 2012-2019
Tri Andi Wibowo / 27216422 Dr. Singgih Jatmiko, S.Si, M.Sc
Fakultas Ekonomi Jurusan Akntansi - Universitas Gunadarma Jl.Margonda Raya No.100, Pondok Cina, Depok 16424
ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank mandiri periode 2012-2019 ditinjau dari aspek Risk profile, Good Corporate Governance (GCG), Earnings, Capital, dan RGEC (Risk profile, GCG, Earnings, dan Capital) secara keseluruhan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan subjek penelitian berupa bank mandiri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012- 2019. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kesehatan bank dengan pendekatan Risiko (Risk-based Bank Rating) dengan cakupan penilaian meliputi faktor-faktor RGEC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesehatan bank mandiri periode 2012-2019 ditinjau dari aspek RGEC secara keseluruhan adalah sangat sehat dan kinerja bank berada pada peringkat komposit 1 (PK-1) dan pada tahun 2012-2019 Peringkat Komposit bank mandiri selalu diatas 86%. Dengan rincian, Nilai rata-rata NPL bank mandiri sebesar 2,49% dan menunjukkan kriteria sehat.
Nilai rata-rata LDR bank mandiri sebesar 86,61% dan menunjukkan kriteria cukup sehat. Nilai rata-rata GCG bank mandiri sebesar 1,5% dan menunjukkan kriteria sangat sehat. Nilai rata-rata ROA bank mandiri sebesar 2,85% dan menunjukkan kriteria sangat sehat. Nilai rata-rata NIM bank mandiri sebesar 5.75% dan menunjukkan kriteria sangat sehat. Nilai rata-rata BOPO bank mandiri sebesar 68,45% dan menunjukkan kriteria sangat sehat. Nilai rata-rata CAR bank mandiri sebesar 18,87% dan menunjukkan kriteria sangat sehat.
Kata Kunci : Tingkat Kesehatan Bank, Bank Mandiri, Metode RGEC
ABSTRACT
This study aims to determine the soundness level of the independent bank for the period 2012-2019 in terms of the overall Risk profile, Good Corporate Governance (GCG), Earnings, Capital, and RGEC (Risk profile, GCG, Earnings, and Capital) aspects.
This type of research is a descriptive study with research subjects in the form of independent banks listed on the Indonesia Stock Exchange in 2012-2019.
Data is obtained through documentation techniques. The data analysis technique used is bank health analysis with a Risk-based Bank Rating approach with the scope of the assessment covering the RGEC factors.
The results showed that the soundness level of the independent bank for the period 2012-2019 in terms of the RGEC aspect as a whole was very healthy and the bank's performance was in the composite rank 1 (PK-1) and in 2012-2019 the Composite Rating of the Mandiri bank was always above 86%. With details, the average NPL value of Bank Mandiri is 2.49% and shows healthy criteria. Bank Mandiri's average LDR value is 86.61% and indicates a fairly healthy criteria. Bank Mandiri's GCG average value is 1.5% and indicates very healthy criteria. The average value of Bank Mandiri's ROA is 2.85% and indicates very healthy criteria.
The average NIM value of Bank Mandiri is 5.75% and indicates very healthy criteria. The average value of BOPO for independent banks is 68.45% and indicates very healthy criteria. The average CAR value of Bank Mandiri is 18.87% and indicates very healthy criteria.
Keywords : Bank Soundness Level, Bank Mandiri, RGEC Method
PENDAHULUAN
Dalam perkembangan industri perbankan yang semakin membaik, bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank umum yang sebelumnya menggunakan sistem penilaian yang di atur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 yang dikenal dengan metode CAMELS yaitu terdiri dari Capital, Asset quality, Management, Earnings, Liquidity & Sensitivity to Market Risk, seiring perkembangan usaha dan kompleksitas usaha bank membuat penggunaan metode CAMELS kurang efektif dalam menilai kinerja bank karena metode CAMELS tidak memberikan suatu kesimpulan yang mengarahkan ke satu penilaian, antar faktor memberikan penilaian yang sifatnya berbeda. Untuk itu pada tanggal 25 Oktober 2011 Bank Indonesia mengeluarkan peraturan baru tentang
penilaian tingkat kesehatan dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-Based Bank Rating) yang meliputi empat faktor pengukuran, yaitu Profil Risiko (Risk Profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (Earnings), dan Permodalan (Capital) yang selanjutnya disingkat dengan RGEC.
RGEC merupakan metode penilaian kesehatan bank yang merujuk pada peraturan Bank Indonesia no.
13/1/PBI/2011 tentang penilaian kesehatan bank umum. Metode RGEC merupakan tata cara penilaian bank yang menggantikan tata cara penilaian bank sebelumnya yaitu CAMEL. Pasal 2 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/ 1 /PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, dengan cakupan penilaian terhadap faktor- faktor yang terdiri dari Profil Risiko (Risk Profile), Good Corporate
Governance (GCG), Rentabilitas (Earnings), dan Permodalan (Capital). Perubahan sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum dari metode CAMELS menjadi metode RGEC disebabkan krisis keuangan global yang tidak diimbangi dengan penerapan Manajemen Risiko yang memadai dapat menimbulkan berbagai permasalahan mendasar pada bank maupun terhadap sistem keuangan secara keseluruhan. Selain itu terjadinya kegagalan strategi dan praktik kecurangan yang
dilakukan manajemen puncak dan berlangsung tanpa terdeteksi dan menyebabkan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG).
Menurut Undang-undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk- bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Perbankan dalam menjalankan peranannya membutuhkan kepercayaan karena salah satu modal pokok perbankan adalah kepercayaan. Kepercayaan masyarakat dapat ditumbuhkan apabila bank dalam keadaan sehat seperti yang termaktub dalam UU No.
7 Tahun 1992 Tentang Perbankan Sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 Pasal 30 (2) : Kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga perbankan hanya dapat ditumbuhkan apabila lembaga perbankan dalam kegiatan usahanya selalu berada dalam keadaan sehat.
Oleh karena itu, dalam rangka
memperoleh kebenaran atas laporan yang disampaikan oleh bank, Bank Indonesia diberi wewenang untuk melakukan pemeriksaan bukubuku dan berkas-berkas yang ada pada bank.
Kesehatan bank sangat penting bagi pembentukan kepercayaan dalam dunia perbankan.
Menurut Mudrajad Kuncoro dan Suhardjo (2011: 495) Kepercayaan dan loyalitas nasabah terhadap bank merupakan faktor yang sangat membantu dan mempermudah pihak manajemen bank untuk menyusun strategi bisnis yang baik, sebaliknya para nasabah yang kurang kepercayaan kepada bank yang bersangkutan maka loyalitas pun juga sangat rendah, hal ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi bank yang bersangkutan karena para pemilik dana atau nasabah ini sewaktu-waktu dapat menarik dananya dan memindahkannya ke bank lain. Oleh karena itu bank dituntut untuk bisa mencapai dan mempertahankan tingkat kinerja yang baik dan optimal, karena tingkat kinerja bank yang baik dapat meningkatkan kepercayaan dan loyalitas nasabah maupun masyarakat luas untuk menggunakan produk, jasa dan aktivitas keuangan dari bank tersebut.
Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja bank (Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011).
Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup, menjaga kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan berdasarkan prinsip kehatihatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat memenuhi kewajibannya.
PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Adalah bank terbesar di Indonesia bila dilihat dari sector jumlah aset, pinjaman dan deposito (merdeka.com, 2013). Dibuktikan dengan laporan keuangan beberapa tahun terakhir, tercatat pada tahun 2013 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. memiliki jumlah aset sebesar 733 Triliun Rupiah, pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi 855 Triliun Rupiah, pada tahun 2015 terus meningkat sehingga mencapai angka 910 Triliun Rupiah, pada tahun 2016 tercatat sebesar 1.038 Triliun Rupiah, pada tahun 2017 tercatat sebesar 1.124 Triliun Rupiah, pada tahun 2018 tercatat sebesar 1.202 Triliun Rupiah, dan pada tahun 2019 tercatat sebesar 1.318 Triliun Rupiah. Selain memiliki jumlah aset terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga memiliki jaringan layanan yang luas. Karena merupakan salah satu bank umum terbesar di Indonesia, sehingga kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. merupakan salah satu tolak ukur penilaian masyarakat akan kinerja bank umum yang ada di Indonesia. Bank mandiri juga memiliki beberapa prestasi yaitu meraih penghargaan "Best Private Bank - Indonesia Domestik 2019"
dari Asian Private Banker ini merupakan ketiga kalinya bagi bank mandiri mendapatkannya sejak 2016. Lalu meraih penghargaan BI Award 2019 untuk kategori Bank Konvensional Pendukung Pengendalian Moneter Rupiah dan Valas Terbaik serta Bank
Pendukung Pendalaman Pasar Uang Terbaik. Lalu juga meraih “The Best Bank of CGC 2019” pada ajang 25th Infobank Awards 2020.
Peneliti mengambil objek penelitian pada bank mandiri, karena bank mandiri menjadi pelaku bisnis yang dominan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Hal ini terbukti dengan bank mandiri yang memiliki total aset, total modal, dan total kewajiban dalam jumlah yang besar. Peran bank mandiri yang besar dalam perekonomian Indonesia dan sebagai perusahaan yang dikelola langsung oleh pemerintah, diharapkan bank mandiri mampu bersaing dalam meningkatkan atau mempertahankan kinerjanya secara maksimal sehingga akan berpengaruh positif terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.
LANDASAN TEORI
Berdasarkan UU Indonesia.
10 Tahun 1998 Tentang perubahan atas UU Indonesia. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Pasal 1 (1) :
“Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya”.
Sedangkan Pengertian Bank dijelaskan pada pasal selanjutnya yaitu, Pasal 1 (2) : “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Secara umum fungsi utama dari bank adalah menghimpun dana
dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai Indonesia Intermediary. Menurut Sigit dan Totok (2014:9) secara spesifik bank dapat berfungsi sebagai:
1) Agent of Trust
Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan.
Masyarakat akan mau menitipkan dananya di bank karena adanya kepercayaan. Pihak bank juga akan menyalurkan dananya kepada debitur karena adanya unsur kepercayaan.
2) Agent of Development Kegiatan bank yang berupa menghimpun dan menyalurkan dana memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, kegiatan distribusi, serta kegiatan konsumsi barang dan jasa.
Kelancaran kegiatan investasi–
distribusi–konsumsi adalah kegiatan pembangunan perekonomian suatu masyarakat.
3) Agent of Services
Bank memberikan penawaran jasa perbankan lain, seperti jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank, dan penyelesaian tagihan.
Menurut Sigit dan Totok (2014:11-12) bank mempunyai peran penting dalam bidang keuangan, yaitu:
2) Pengalihan Aset (Indonesia
Transmutation)
Pengalihan aset adalah pengalihan dana atau aset dari unit surplus ke unit defisit di mana sumber dana yang diberikan kepada pihak peminjam berasal dari pemilik dana yaitu unit surplus yang jangka waktunya dapat diatur sesuai keinginan pemilik dana. Pada situasi
ini bank berperan sebagai pengalih aset yang likuid dari unit surplus (lender) kepada unit defisit (borrower).
2) Transaksi (Transaction) Bank memberikan berbagai kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi. Pada ekonomi modern, transaksi barang dan jasa tidak pernah terlepas dari transaksi keuangan. Produk-produk yang dikeluarkan bank berupa giro, tabungan, deposito, saham, dan sebagainya.
3) Likuiditas (Liquidity) Unit surplus dapat menempatkan dana yang dimilikinya dalam bentuk giro, tabungan, deposito, dan sebagainya. Produk tersebut masing-masing mempunyai tingkat likuiditas yang berbeda. Bagi kepentingan likuiditas para pemilik dana dapat menempatkan dana sesuai kebutuhan dan keinginannya, sehingga bank memberikan fasilitas pengelolaan likuiditas kepada pihak yang mengalami surplus likuiditas dan menyalurkannya kepada pihak yang mengalami kekurangan likuiditas.
4) Efisiensi (Efficiency) Peranan bank sebagai broker adalah menemukan peminjam dan pengguna modal tanpa mengubah produknya. Dalam hal ini bank hanya memperlancar dan mempertemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan. Adanya informasi yang tidak simetris antara peminjam dan investor menimbulkan masalah insentif. Peran bank menjadi penting untuk memecahkan masalah insentif tersebut.
Menurut Rivai dkk (2012: 2) jenis bank terdiri atas bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR).
3) Bank Umum
Bank Umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank umum dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Sementara itu yang dimaksud degan
“mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu”
antara lain melaksanakan kegiatan pembayaran jangka panjang, pembiayaan untuk mengembangkan koperasi, pengembangan pengusaha golongan lemah/kecil, pengembangan ekspor nonmigas, pengembangan pembayaran perumahan dan lain-lain.
2) Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.
Laporan Keuangan Bank adalah laporan keuangan yang disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan kinerja keuangan bank yang dicapai selama periode tertentu. Oleh karena itu laporan keuangan bank harus memenuhi syarat mutu dan kualitatif akuntansi perbankan. Laporan keuangan bank sama saja dengan laporan keuangan perusahaan. Neraca bank memperlihatkan gambaran posisi keuangan suatu bank pada saat tertentu. Laporan laba-rugi memperlihatkan hasil kegiatan attau operasional suatu bank selama satu periode tertenu. Laporan perubahan posisi keuangan memperlihatkan dari
mana saja sumber dana bank dan kemana saja dana disalurkan.
Menurut Taswan (2008: 39- 65) jenis laporan keuangan bank terdiri dari:
4) Laporan Keuangan Bulanan
Laporan bulanan bank umum yang disampaikan oleh bank kepada Bank Indonesia untuk posisi bulan Indonesia sampai dengan Desember akan diumumkan pada home page Bank Indonesia.
5) Laporan Keuangan Triwulan
Laporan keuangan triwulan disusun antara lain untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau hasil usaha bank serta informasi keuangan lainnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan
usaha bank.
6) Laporan Keuangan Tahunan
Laporan keuangan tahunan bank dimaksudkan untuk memberikan informasi berkala mengenai kondisi bank secara menyeluruh, termasuk perkembangan usaha dan kinerja bank. Seluruh informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi kondisi keuangan bank kepada publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan.
Faktor tingkat kesehatan bank yaitu RGEC : Pada PBI Indonesia.
13/1/PBI/2011 dan SE Indonesia. 13/
24/ DPNP tanggal 25 Oktober 2011 yang menjadi indikator adalah 1) Profil Risiko (Risk Profile), 2) Good Corporate Governance (GCG), 3) Rentabilitas (Earnings), dan 4) Permodalan (Capital).
1) Risk Profile
Penilaian faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam aktivitas operasional bank.
a. Risiko kredit
Risiko pinjaman tidak kembali sesuai dengan kontrak, seperti penundaan, pengurangan pembayaran suku bunga dan pinjaman pokonya, atau tidak membayar pinjamannya sama sekali.
Risiko kredit dihitung dengan menggunakan rasio Non Performing Loan atau risiko kredit yang menggunakan kredit bermasalah (kredit yang diberikan kurang lancar, diragukan dan macet) dibagi dengan total kredit (kredit yang diberikan lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, macet) dikali 100%.
Rumus :
b. Risiko Likuiditas
Risiko kekurangan likuiditas terjadi karena adanya rush–penarikan dana secara serentak yang dapat mengakibatkan kebangkrutan bank.
Risiko likuiditas dapat dihitung dengan rasio Loan to Deposit Indonesia. LDR dapat dihitung dengan cara total kredit (kredit yang diberikan lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, macet) dibagi dana pihak ketiga (Giro, tabungan, deposito berjangka) dikali 100%.
Rumus :
2) Good Corporate Governance (GCG)
Penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG yang berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai pelaksanaan GCG bagi bank umum dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha bank. Good Corporate Governance (GCG) ditinjau dari sisi pemenuhan prinsip- prinsip GCG. Good Corporate Governance dalam pengukurannya menggunakan metode Self Assesment karena berdasarkan SE BI Indonesia.
15/15/DPNP Tahun 2013 mewajibkan Self Assesment dalam mengukur GCG. Self assesment merupakan penilaian sendiri terhadap masing-masing bank atas persetujuan dewan direksi dengan mengacu pada peringkat komposit pada SE BI Indonesia. 15/15/DPNP Tahun 2013.
3) Earnings (Rentabilitas) Earnings adalah salah satu penilaian kesehatan bank dari sisi rentabilitas. Indikator penilaian rentabilitas adalah ROA (Return On Assets), NIM (Net Interest Margin), dan BOPO (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional).
a. ROA (Return On Assets) Menurut Mudrajat Kuncoro dan Suhardjono (2011: 506) ROA menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menghasilkan income dari pengelolaan aset yang dimilikinya.
Rumus :
b. NIM (Net Interest Margin)
ROA = Laba Sebelum Pajak : Rata-rata Total Aset x 100%
NPL = Kredit Bermasalah : Total Kredit x 100%
LDR = Total Kredit : Dana Pihak Ketiga x 100%
Net Interest Margin (NIM) adalah ukuran perbedaan antara pendapatan bunga yang dihasilkan oleh bank atau lembaga keuangan lain dan nilai bunga yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman mereka (misalnya, deposito), relatif terhadap jumlah mereka (bunga produktif ) aset.
Rumus :
c. BOPO (Beban
Operasional Terhadap Pendapatan Operasional) BOPO merupakan rasio biaya operasional per pendapatan operasional, yang menjadi proxy efisiensi operasional seperti yang biasa digunakan oleh Bank Indonesia.
Rumus :
4) Capital (Permodalan) Capital atau permodalan memiliki indikator antara lain rasio kecukupan modal dan kecukupan modal bank untuk mengantisipasi potensi kerugian sesuai profil Indonesia yang disertai dengan pengelolaan permodalan yang sangat kuat sesuai dengan karakteristik, skala usaha dan kompleksitas usaha bank. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Indonesia (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank.
Rumus :
Kerangka Penelitian
Penilaian tingkat kesehatan bank yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada Peraturan Bank Indonesia penilaian kesehatan bank umum ditentukan dalam Surat Edaran Indonesia. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 menyatakan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank dengan analisis RGEC yang terdiri dari: Profil Risiko (Risk Profile), penilaian faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam aktivitas operasional bank. Manajemen yang BOPO = Beban Operasional :
Pendapatan operasional x 100%
CAR = Modal : ATMR x 100%
NIM = Pendapatan Bunga Bersih : Rata-rata Aktiva Produktif x
100%
BANK
LAPORAN KEUANGAN
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK
METODE RGEC
Risk Profile
Good Corporate Governance
Earning Capital
Sangat Sehat/Sehat/Cukup Sehat/Kurang Sehat/Tidak Sehat
baik (Good Corporate Governance), penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG yang berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai Pelaksanaan GCG bagi Bank Umum dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha bank.
Rentabilitas (Earnings) merupakan salah satu penilaian kesehatan bank dari sisi rentabilitas dan Permodalan (Capital) merupakan penilaian atas faktor Permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan permodalan dan kecukupan pengelolaan permodalan, bank wajib mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai Kewajiban Penyediaan Modal Minimum bagi Bank Umum. Hasil perhitungan dari masing-masing indikator selanjutnya ditentukan peringkat komposit untuk menentukan bank sangat sehat/ sehat/
cukup sehat/ kurang sehat/ tidak sehat.
METODE PENELITIAN Objek penelitian ini adalah penilaian tingkat kesehatan bank mandiri dengan cakupan penilaian meliputi faktor-faktor sebagai berikut: Profil risiko (Risk profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital). Objek dari penelitian ini dapat diperoleh dari laporan keuangan publikasi bank mandiri yang terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan laporan tahunan bank pada periode 2010-2019.
Jenis data yang digunakan adalah data time series yaitu data informasi berdasarkan runtun waktu
berdasarkan suatu peristiwa. Sumber data yang digunakan berupa data sekunder, yakni data yang telah ada atau dikumpulkan oleh pihak lain.
Data yang diperoleh berupa Laporan Keuangan Tahunan perusahaan perbankan yaitu PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperoleh dari website resmi perusahaan yaitu
web Bank Mandiri
(www.bankmandiri.co.id) dan web Bursa Efek Indonesia (BEI) (www.idx.co.id) periode 2010-2019.
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis laporan keuangan dengan pendekatan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum metode RGEC. Penilaian yang dilakukan terhadap faktor-faktor RGEC dari PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. berdasarkan laporan keuangan perusahaan periode 2012- 2019. Setelah itu hasil perhitungan dari masing-masing indikator selanjutnya ditentukan peringkat komposit untuk menentukan bank sangat sehat/ sehat/ cukup sehat/
kurang sehat/ tidak sehat.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Risk Profile
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat Kesehatan bank mandiri ditinjau dari aspek risk profile pada penelitian ini dengan menggunakan 2 indikator yaitu faktor risiko kredit dengan menggunakan rumus NPL dan risiko likuiditas dengan rumus LDR.
a. NPL (Non Performing Loan) Rasio NPL dapat menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang diberikan oleh bank.
Rasio NPL diperoleh dari kredit bermasalah yaitu merupakan kredit kepada pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet dibagi dengan total kredit kepada pihak ketiga bukan bank.
Rasio NPL Bank Mandiri Tahun NPL Kriteria
2010 2,21% SEHAT 2011 2,18% SEHAT 2012 1,74% SANGAT SEHAT 2013 1,60% SANGAT SEHAT 2014 1,66% SANGAT SEHAT 2015 2,29% SEHAT 2016 3,96% CUKUP SEHAT 2017 3,45% CUKUP SEHAT 2018 2,79% SEHAT 2019 2,39% SEHAT
Nilai rata-rata rasio NPL bank mandiri selama tahun 2012-2019 adalah sebesar 2,5% dan menunjukkan kategori sehat.
b. LDR (Loan to Deposit Ratio)
Rasio LDR merupakan perbandingan antara total kredit dengan dana pihak ketiga bukan bank yang terdiri dari tabungan, giro dan deposito berjangka. Rasio LDR digunakan untuk mengukur perbandingan jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh masyarakat dengan
mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Rasio LDR Bank Mandiri
Nilai rata-rata rasio LDR bank mandiri selama tahun 2012-2019 adalah sebesar 86,6% dan menunjukkan kategori cukup sehat.
2. Good Corporate Governance Peraturan Bank Indonesia No.8/4/PBI/2006 sebagaimana telah diubah dengan PBINo.8/14/PBI/2006 dan Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI)Nomor 15/15/DPNP tanggal 29 April 2013 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum tentang Penerapan Tata Kelola Bank Umum, yang mewajibkan Bank untuk melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas penerapan Tata Kelola Bank.
Pemberian kriteria GCG dilakukan oleh bank secara self asssesment namun tetap dalam pengawasan Bank Indonesia.
Tahun LDR Kriteria 2010 65,44% SANGAT SEHAT 2011 71,65% SEHAT 2012 77,66% SEHAT 2013 82,97% SEHAT 2014 82,02% SEHAT 2015 87,05% CUKUP SEHAT 2016 85,41% CUKUP SEHAT 2017 87,16% CUKUP SEHAT 2018 96,69% CUKUP SEHAT 2019 93,93% CUKUP SEHAT
Rasio GCG Bank Mandiri
Hasil penilaian Good Corporate Governance (GCG) bank mandiri pada tahun 2012-2019 memiliki nilai rata-rata rasio sebesar 1,5% dan menunjukkan kategori sangat sehat.
Yang artinya pihak manajemen bank mandiri melakukan peningkatan kinerja agar pelaksanaan prinsip- prinsip GCG pada setiap tahunnya terlaksana dengan baik. Karena telah terjadi penurunan nilai komposit, Yang dimana jika semakin kecil nilai komposit maka kemampuan manajemen dalam melaksanakan prinsip-prinsip GCG semakin baik.
3. Earnings
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat Kesehatan bank mandiri ditinjau dari aspek earning pada penelitian ini dengan menggunakan tiga rasio yaitu ROA, NIM dan BOPO.
a. ROA
ROA (Return On Asset) merupakan rasio profitabilitas yang
mampu menunjukkan keberhasilan suatu bank dalam menghasilkan keuntungan atau laba dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki.
ROA diperoleh dari laba sebelum pajak dibagi dengan rata-rata total aset. Rata-rata total aset dalam satu periode diperoleh dari menjumlahkan nilai aset awal periode dengan nilai aset akhir periode dan kemudian dibagi dua.
Rasio ROA Bank Mandiri
Nilai rata-rata rasio ROA bank mandiri selama tahun 2012-2019 adalah diatas 2% yang menunjukkan laba sangat tinggi dan masuk dalam kategori sangat sehat.
b. NIM
NIM (Net Interest Margin) digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat rentabilitas bank yang diperoleh dari pendapatan bunga bersih atas aktiva-aktiva produktif atau aktiva yang menghasilkan bunga bersih. Rasio NIM diperoleh dari pendapatan bunga bersih dibagi rata- rata aset produktif.
Rasio NIM Bank Mandiri Tahun GCG Kriteria
2010 2 SEHAT
2011 2 SEHAT
2012 2 SEHAT
2013 2 SEHAT
2014 2 SEHAT
2015 2 SEHAT
2016 1 SANGAT
SEHAT
2017 1 SANGAT
SEHAT
2018 1 SANGAT
SEHAT
2019 1 SANGAT
SEHAT
Tahun ROA Kriteria 2010 3,50% SANGAT SEHAT 2011 3,37% SANGAT SEHAT 2012 3,55% SANGAT SEHAT 2013 3,66% SANGAT SEHAT 2014 3,57% SANGAT SEHAT 2015 3,15% SANGAT SEHAT
2016 1,95% SEHAT
2017 2,72% SANGAT SEHAT 2018 3,17% SANGAT SEHAT 2019 3,03% SANGAT SEHAT
Nilai rata-rata rasio NIM bank mandiri selama tahun 2012-2019 adalah diatas 5% yang menunjukkan margin bunga sangat tinggi dan masuk dalam kategori sangat sehat.
c. BOPO
BOPO merupakan rasio biaya operasional per pendapatan operasional yang menjadi proxy efisiensi operasional seperti yang digunakan oleh Bank Indonesia.
Rasio BOPO Bank Mandiri Tahun BOPO Kriteria
2010 66,43% SANGAT SEHAT 2011 67,22% SANGAT SEHAT 2012 63,93% SANGAT SEHAT 2013 62,41% SANGAT SEHAT 2014 64,98% SANGAT SEHAT 2015 69,67% SANGAT SEHAT 2016 80,94% SANGAT SEHAT 2017 71,78% SANGAT SEHAT 2018 66,48% SANGAT SEHAT 2019 67,44% SANGAT SEHAT
Nilai rata-rata rasio BOPO bank mandiri selama tahun 2012-2019 adalah dibawah 90% yang menunjukkan margin beban operasional sangat tinggi dan masuk dalam kategori sangat sehat.
4. Capital
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat kesehatan mandiri ditinjau dari aspek capital pada penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko. CAR merupakan rasio perbandingan antara Modal dengan Aset Tertimbang Menurut Risiko.
Rasio CAR Bank Mandiri
Hasil penilain Permodalan (Capital) bank mandiri selama tahun 2012- 2019 berada dalam kondisi sangat sehat. Hal ini dibuktikan dengan nilai CAR bank mandiri selama periode tersebut selalu diatas 12%. Nilai rata- rata CAR tersebut berada di atas standar minimal CAR yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 8%. Hal ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut bank mandiri telah mampu mengelola permodalan perusahaan dengan sangat baik.
2010 5,39% SANGAT SEHAT 2011 5,29% SANGAT SEHAT 2012 5,58% SANGAT SEHAT 2013 5,68% SANGAT SEHAT 2014 5,94% SANGAT SEHAT 2015 5,90% SANGAT SEHAT 2016 6,29% SANGAT SEHAT 2017 5,63% SANGAT SEHAT 2018 5,52% SANGAT SEHAT 2019 5,46% SANGAT SEHAT
Tahun CAR Kriteria 2010 13,36% SANGAT SEHAT 2011 15,34% SANGAT SEHAT 2012 15,48% SANGAT SEHAT 2013 14,93% SANGAT SEHAT 2014 16,60% SANGAT SEHAT 2015 18,60% SANGAT SEHAT 2016 21,36% SANGAT SEHAT 2017 21,64% SANGAT SEHAT 2018 20,96% SANGAT SEHAT 2019 21,39% SANGAT SEHAT
KESIMPULAN
Hasil analisis tingkat kesehatan bank mandiri berdasarkan metode RGEC selama tahun 2012-2019 menunjukkan bahwa kinerja bank berada pada Peringkat Komposit 1 (PK-1) yaitu terlihat dari keempat aspek yang diukur berupa Risk Profile, GCG, Earning, dan Capital secara keseluruhan berada dalam peringkat sangat sehat. Dengan rincian bahwa pada tahun 2012-2019 Peringkat Komposit bank mandiri selalu diatas 86%. Secara berturut- turut nilai rata-rata komposit per tahunnya bank mandiri periode 2012- 2019 adalah (94,28%), (91,42%), (94,28%), (88,57%), (85,71%), (88,57%), (91,42%), dan (91,42%).
Berdasarkan bahan perkuliahan analisis laporan keuangan, bobot peringkat komposit antara 86-100 persen masuk dalam peringkat komposit 1 (PK-1) dengan kriteria sangat sehat, sehingga penilaian tingkat kesehatan bank mandiri selama tahun 2012-2019 tersebut masuk dalam peringkat 1.
SARAN
Sebagai bank yang berstatus Badan Usaha Milik Negara sebaiknya
bank mandiri mampu
mempertahankan dan terus meningkatkan kesehatan bank pada tahun-tahun berikutnya. Tingkat kesehatan bank yang sangat sehat akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, nasabah, karyawan, pemegang saham, dan juga pihak lainnya terhadap bank. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambah periode penelitian dan menambah rasio keuangan yang
digunakan agar diperoleh perhitungan dan analisis yang lebih menyeluruh dan akurat dalam perhitungan kinerja bank dengan metode RGEC.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, I. (2012). Analisis Kinerja Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Hanafi, M.M., & Halim, A. (2014).
Analisis Laporan Keuangan.
Yogyakarta: STIM YKPN.
Hery S, M.Dzulkirom, Zahroh Z.A.
2016. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) (Studi Pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Yang Terdaftar Di Bei Tahun 2010-2014).
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB). Vol. 35 No. 2 Universitas Brawijaya.
Malang.
Hery. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Bumi Akasara.
Kartika Ratna Sari. 2017. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC Pada Bank
Umum BUMN Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015.
Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Kasmir. 2009. Dasar-dasar Perbankan. Edisi Revisi. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Khayatun N, Fani T, Awaluddin M.
2019. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Studi Kasus Pt.Bank Bni (Persero) Tbk ).
Jurnal Sekuritas. Vol. 3 No. 1 Universitas Pamulang.
Banten.
Kuncoro, M., & Suhardjono. (2011).
Manajemen Perbankan Teori dan Aplikasi. Yogyakrta:
BPFE.
Margahayu, Vike Cynthiasari. 2017.
Analisi Kinerja Perbankan dengan Pendekatan RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) untuk Mengetahui Tingkat Kesehatan Bank Studi Pada Bank Umum yang terdaftar di BEI Periode 2013- 2015. Jurnal Administrasi Bisnis, 48 (1): 181 187.
Nur Artyka. 2015. Penilaian Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Periode 2011-2013.
Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Peraturan Bank Indonesia No.13/1/PBI/2011 tanggal 5 Oktober 2011, tentang Penilaian Kesehatan Bank.
Jakarta: Bank Indonesia.
Ryan H, Sri M.R, Zahroh Z.A.. 2018.
Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode Risk Profile, Earnings And Capital (Studi Pada PT.
Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Periode 2013–2016). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB).
Vol. 57 No. 2 Universitas Brawijaya. Malang.
Surat Edaran Bank Indonesia No.
13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011, tentang Matriks Perhitungan Analisis Komponen Faktor Analisis RGEC untuk Bank Umum.
Jakarta: Bank Indonesia.
Surat Edaran Bank Indonesia No.
15/15/DPNP tanggal 29 April 2013, tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Jakarta:
Bank Indonesia.
Surat Edaran Bank Indonesia No.
9/12/DPNP/2007, Perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia.
Taswan. (2008). Akuntansi Perbankan : Transaksi dalam Valuta Rupiah. Yogyakarta:
UPP STIN YKPN.
Triandaru, S. & Budisantoso, T.
(2014). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.
Yogyakarta : Salemba Empat.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan tanggal 10 November 1998. Jakarta:
Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia.
Veithzal, R., dkk. (2012).
Commercial Bank
Management:Manajemen Perbankan dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Yeusy G, William A.A, Dantje K.
2016. Analisis Tingkat
Kesehatan Bank
Menggunakan Metode RGEC Pada PT. Bank Sulutgo Periode 2014-2016.
Yun F, Ririn M.S. 2019. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Penerapan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings Dan Capital) Pada PT.Bank Bengkulu.
Management Insight Vol. 14 No.1 : 73-91 Universitas Dehasen. Bengkulu.
Websites :
www.bankmandiri.co.id diakses pada tanggal 1 Juni 2020 pukul 08.10 WIB.
www.idx.co.id diakses pada tanggal 30 Mei 2020 pukul 09.25 WIB.