2. LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Modal Sosial
Pengertian modal sosial menurut beberapa pandangan yaitu:
Menurut Flap (1988, 1991, 1994 dalam Lin 2007), modal sosial termasuk dalam mobilitas sumber daya sosial. Terdapat tiga elemen modal sosial, yaitu: 1) Jumlah orang dalam jaringan sosial yang mempersiapkan atau obligasi untuk membantu anda ketka ada sesuatu yang harus di lakukan, 2) kekuatan dari indikasi relasi yang siap untuk membantu, 3) sumber daya dari beberapa orang.
Berdasarkan Loury (1977; 1987 dalam Coleman 2011), modal sosial adalah sekumpulan sumber yang melekat pada relasi keluarga dan organisasi sosial komunitas yang bermanfaat untuk perkembangan kognitif.
Bank Dunia (1985 dalam Doh dan Zolnik 2011), mendefinisikan modal sosial sebagai norma-norma dan hubungan sosial yang melekat dalam struktur sosial yang memungkinkan orang untuk saling berkoordinasi demi mencapai tujuan yang diinginkan.
Definisi lain menurut Coleman (2011), mendefinisikan modal sosial menurut fungsinya yaitu modal sosial bukan entitas tunggal tetapi entitas berbeda yang memiliki dua karakteristik umum. Pertama, modal sosial terdiri atas beberapa aspek struktur sosial. Kedua, modal sosial memudahkan tindakan individu-individu yang ada dalam struktur tersebut.
2.2 Dimensi Modal Sosial
Menurut Lesser (2000, dalam Boari dan Presutti, 2004) modal sosial dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut di bawah ini:
1. Trust (kepercayaan)
Trust (kepercayaan) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan sosial yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung sehingga tidak menimbulkan kerugian diantara kedua belah pihak (Putnam, 1993, 1995 dan 2002 dalam Hasbullah, 2006, p. 11). Menurut Fukuyama (1995, 2002 dalam
Hasbullah, 2006, p. 11), trust merupakan sikap saling mempercayai di masyarakat serta saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial. Kepercayaan merupakan kondisi yang diperlukan dalam modal sosial, dimana hal ini kurang mungkin terjadi tanpa interaksi sosial yang lama (Anderson dan Jack, 2002 dalam Shi; Shepherd;
Schmids, 2015).
2. Norma sosial
Norma sosial penting untuk menjelaskan bagaimana masyarakat menjalankan fungsinya. Norma yang stabil atau yang berubah secara perlahan-lahan merupakan komponen penting dari mekanisme pengaturan diri masyarakat yang stabil. Norma-norma sosial diciptakan secara sengaja dalam pengertian bahwa orang-orang yang memprakarsai atau ikut mempertahankan suatu norma merasa diuntungkan oleh kepatuhannya pada norma dan merugi karena melanggar norma (Coleman, 2011).
3. Jaringan
Menurut Knack dan Keefer (1997 dalam Boari dan Presutti, 2004), jaringan merupakan hal terpenting dalam mengembangkan saluran komunikasi yang handal dan efektif dalam melintasi batas-batas organisasi.
Porter (1998 dalam Boari dan Presutti, 2004) juga mengatakan hal yang sama dimana jaringan sosial adalah faktor yang penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi baru. Menurut Lin (2001 dalam Boari dan Presutti, 2001), terdapat tiga jenis jaringan, yaitu sebagai berikut:
a. Jaringan bisnis. Jaringan bisnis dapat berupa klien, dan Supplier serta pesaing. Hal ini dikarenakan mereka melakukan aktivitas bisnis bersama kita.
b. Informasi. Informasi dapat berupa pameran, meeting, rapat dan dokumen paten.
c. Penelitian. Penelitian dapat berupa laboratorium penelitian pemerintah, dan organisasi untuk transfer teknologi.
Coleman (2011) mengelompokkan modal sosial menjadi obligations, expectations and trustworthiness of structures (kewajiban, ekspetasi dan
kepercayaan), information channels (potensi informasi), norms and effective sanctions (norma dan sanksi efektif), social structure that facilities social capital (relasi wewenang), dengan keterangan sebagai berikut:
1. Kewajiban, ekspektasi dan kepercayaan struktur
Kewajiban, ekspektasi dan kepercayaan struktur dapat dilihat pada saat seseorang (A) melakukan sesuatu untuk orang lain (B), orang tersebut percaya bahwa orang yang dibantu akan membalasnya di masa depan, inilah yang disebut dengan ekspektasi. Hal ini juga menimbulkan kewajiban di pihak B untuk memelihara kepercayaan tersebut (Coleman, 2011).
2. Potensi Informasi
Bentuk modal sosial yang penting adalah potensi informasi yang melekat pada relasi-relasi sosial. Informasi penting untuk mendasari tindakan. Dalam mendapatkan informasi, alat yang digunakan adalah relasi sosial yang dipertahankan untuk tujuan-tujuan lain (Coleman, 2011).
3. Norma dan Sanksi Efektif
Norma sosial penting untuk menjelaskan bagaimana masyarakat menjalankan fungsinya. Norma yang stabil atau berubah secara perlahan- lahan merupakan komponen penting dari mekanisme pengaturan diri masyarakat yang stabil. Norma-norma sosial diciptakan secara sengaja dalam pengertian bahwa orang-orang yang memprakarsi atau ikut mempertahankan suatu norma merasa diuntungkan oleh kepatuhannya pada norma dan mengalami kerugian jika melanggar norma (Coleman, 2011).
Dimensi lain diungkapkan oleh Nahapiet dan Ghosal (1998, p.251), yaitu:
1. Dimensi Struktural
Dimensi struktural dari modal sosial dapat mempengaruhi perkembangan modal intelektual melalui berbagai aspek yang mempengaruhi akses ke pihak lain untuk bertukar pengetahuan dan berpartisipasi dalam kegiatan.
Hubungan simetris yang kuat sering dikaitkan dengan pengembangan hubungan afektif (baik positif maupun negatif), motivasi pengaruh individu untuk terlibat dalam interaksi sosial sehingga dengan demikian
dapat bertukar pengetahuan (Krackhardt, 1992; Lawler & Yoon, 1996 dalam Nahapiet Ghosal, 1988). Dimensi struktural di bagi menjadi tiga:
a. Network Ties
Proposisi teori modal sosial yang mendasar adalah ikatan jaringan yang menyediakan akses ke sumber daya. Modal sosial merupakan sumber informasi yang berharga dan bermanfaat (yaitu "siapa yang kau kenal" mempengaruhi "apa yang kau tahu"). Coleman (1988 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) mencatat bahwa informasi penting dalam menyediakan dasar bagi tindakan tetapi dalam mengumpulkan informasi tersebut tidaklah mudah. Menurut Burt (1992 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) ada tiga manfaat dari informasi pada ikatan jaringan: 1) “akses” merujuk kepada yang menerima informasi berharga dan mengetahui siapa yang dapat menggunakan itu, dan mengidentifikasi peran jaringan dalam menyediakan proses penyaringan dan distribusi informasi efisien untuk anggota jaringan tersebut. 2) “waktu” informasi mengalir mengacu pada kemampuan kontak pribadi untuk memberikan informasi lebih cepat daripada orang-orang yang tanpa memiliki kontak. 3) “arahan” proses-proses memberikan informasi mengenai kesempatan yang tersedia untuk orang-orang atau aktor dalam jaringan, maka mempengaruhi kesempatan untuk menggabungkan dan pertukaran pengetahuan.
Network ties terbagi menjadi dua yaitu strong ties dan weak ties.
Strong ties merupakan hubungan yang kuat dalam berbagai pengetahuan yang terjadi seperti hubungan keluarga dan rekan kerja yang dekat. Sedangkan weak ties merupakan hubungan yang lemah dalam berbagai pengetahuan yang terjadi seperti teman dari teman yang biasanya mencari sumber-sumber informasi yang baru (Lesser, 2000).
b. Network Configuration
Ikatan jaringan menyediakan saluran untuk transmisi informasi.
Semua konfigurasi ikatan ini merupakan aspek modal sosial yang penting dan dapat mempengaruhi pengembangan modal intelektual.
Sebagai contoh, tiga hal yang dibutuhkan oleh struktur jaringan yaitu kepadatan, konektivitas dan hirarki adalah semua fitur yang terkait dengan fleksibilitas dan kemudahan pertukaran informasi yang dampaknya terhadap tingkat aksesibilitas yang mereka berikan kepada anggota jaringan (Nahapiet dan Ghoshal, 1998, p. 252).
c. Appropriable Organization
Modal sosial yang dikembangkan dalam satu konteks seperti ikatan, norma, dan kepercayaan, sering (tetapi tidak selalu) dapat dipindahkan dari satu pengaturan sosial lain, dengan demikian mempengaruhi pola pertukaran sosial. Contohnya, transfer kepercayaan dari keluarga dan afiliasi keagamaan ke dalam situasi kerja (Fukuyama, 1995 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988), pengembangan hubungan pribadi ke pertukaran bisnis (Coleman, 1990 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988), dan agregasi modal sosial individu menjadi organisasi (Burt, 1992 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988). Hal ini menunjukkan bahwa organisasi-organisasi yang diciptakan untuk satu tujuan dapat menyediakan sumber daya berharga untuk keperluan lain yang berbeda (Nohria, 1992; Putnam, 1993, 1995, dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988). Organisasi sosial dapat memberikan potensi jaringan berupa akses kepada orang-orang dan sumber daya mereka, termasuk informasi dan pengetahuan. Selain itu, melalui dimensi relasional dan kognitif, organisasi dapat memastikan motivasi dan kemampuan untuk pertukaran dan kombinasi.
2. Dimensi Kognitif
Dimensi ini merupakan sumber-sumber yang menyediakan representasi bersama, interpretasi, dan sistem makna antara pihak (Cicourel, 1973, Nahapiet dan Ghoshal, 1988). Terdapat dua cara untuk melihat dimensi ini, yaitu:
a. Shared language and codes
Bahasa mempengaruhi kondisi untuk kombinasi dan pertukaran.
Bahasa memiliki fungsi langsung dan penting dalam hubungan
sosial. Bahasa adalah sarana seseorang dalam membahas dan bertukar informasi, mengajukan pertanyaan, dan melakukan bisnis di masyarakat. Bahasa mempengaruhi persepsi kita (Berger &
Luckman, 1966; Pondy & Mitroff, 1979, dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988). Kode mengatur data sensoris dalam kategori persepsi dan memberikan kerangka acuan untuk mengamati dan menafsirkan lingkungan kita. Apabila dapat mengenali kode komunikasi dalam kelompok tertentu maka merupakan aset berharga bagi perusahaan (Arrow, 1974; Kogut & Zander, 1992;
Monteverde, 1995; Prescott & Visscher, 1980 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988).
b. Shared Narrative
Orr (1990 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) menunjukkan bagaimana narasi dalam bentuk cerita, yang tampaknya tidak signifikan, memfasilitasi pertukaran praktek dan pengalaman yang diam-diam antara teknisi, sehingga memungkinkan penemuan dan pengembangan praktek. Munculnya berbagi narasi dalam komunitas memungkinkan penciptaan dan transfer baru interpretasi dari acara yang dilakukan dengan cara yang memfasilitasi kombinasi berbagai bentuk pengetahuan.
3. Dimensi Relasional
Dimensi struktural memiliki dampak langsung yang utama pada kondisi aksesibilitas dimensi kognitif melalui pengaruhnya pada kemampuan aksesibilitas dan kombinasi, dan dimensi relasional modal sosial mempengaruhi tiga kondisi untuk pertukaran dan kombinasi dalam banyak cara. Sedangkan, dimensi relasional adalah akses kepada pihak untuk mengantisipasi nilai melalui pertukaran dan kombinasi, serta motivasi pihak untuk terlibat dalam penciptaan pengetahuan melalui pertukaran dan kombinasi (Nahapiet dan Ghoshal, 1988).
a. Trust
Misztal (1996, dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) mendefinisikan
kepercayaan sebagai keyakinan bahwa hasil seseorang yang ditujukan dengan tindakan akan sesuai dari sudut pandang. Penelitian menunjukkan bahwa dimana apabila ada tingkat kepercayaan yang tinggi, orang lebih bersedia mengambil risiko (Nahapiet, 1996; Cincin
& Van de Ven, 1992 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988). Ada interaksi dua arah antara kepercayaan dan kerjasama. Kepercayaan melumasi kerjasama dan kerjasama itu sendiri akan melahirkan kepercayaan.
Dakhli dan De Clercq (2004 dalam Doh dan Zolnik, 2011) mengkategorikan dua kategori trust yaitu: generalized trust dan institutional trust. Generalized trust berkaitan dengan berapa banyak orang yang mempercayai satu sama lain dari segi kepercayaan interpersonal dan dapat diasumsikan untuk mengurangi ketidakpastian dan memfasilitasi interaksi dan komunikasi (Sako, 1992; Beugelsdijik dan van Schaik, 2005). Institutional trust berkaitan dengan berapa banyak orang percaya pada organisasi dan akan memungkinkan untuk kedua belah pihak akan bekerja sama dan mengharapkan timbal balik (Rousseau et al. 1998, Dahli dan De Clercq, 2004).
b. Norms
Norma-norma kerjasama dapat membangun fondasi yang kuat untuk pembentukan modal intelektual. Starbuck (1992, dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) mencatat pentingnya norma-norma sosial keterbukaan dan kerja sama tim sebagai fitur kunci dari pengetahuan intensif perusahaan. Norma menyoroti pentingnya penekanan pada kerjasama daripada kompetisi, pada pengungkapan informasi secara terbuka, dan membangun loyalitas kepada perusahaan sebagai dasar- dasar penting dari keberhasilan perusahaan. Norma tidak dapat dipisahkan dari jaringan dan kepercayaan. Norma muncul dari pertukaran yang saling menguntungkan (Blau, 1963, Fukuyama, 1999 dalam Lawang, 2005, p. 70). Norma bersifat resiprokal yang artinya isi norma menyangkut hak dan kewajiban kedua belah pihak yang dapat menjamin keuntungan yang diperoleh dari suatu kegiatan tertentu.
Norma keadilan akan muncul jika jaringan yang terbina lama dan
menjamin keuntungan kedua belah pihak secara merata (Blau, 1963 dalam Lawang, 2005, p. 70).
c. Obligations and Expectations
Kewajiban mewakili komitmen atau tugas untuk melakukan beberapa kegiatan di masa depan (Nahapiet dan Ghoshal, 1988).
d. Identification
Identifikasi adalah proses dimana individu melihat diri mereka sebagai satu kesatuan dengan orang lain atau sekelompok orang.
Kramer et al. (1996 dalam Nahapiet dan Ghoshal, 1988) menemukan bahwa identifikasi dengan kelompok atau kolektif meningkatkan kekhawatiran kolektif proses dan hasil, sehingga meningkatkan kemungkinan akan kesempatan untuk pertukaran yang diakui.
Ketiga dimensi diatas memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain (Tsai dan Ghosal, 2007, p.465) yaitu:
1. Hubungan antar dimensi struktural dan relasional
Dimensi struktural dari modal sosial diwujudkan sebagai ikatan interaksi sosial yang mungkin menstimulasi trust dan dipandang trustworthiness yang mempresentasikan hubungan rasional dari modal sosial. Penelitian terdahulu dari Gabbaro, Gulati, dan Granovetter menjelaskan bahwa saling percaya berkembang dari interaksi sosial. Frekuensi dan kedekatan dalam interaksi sosial menyebabkan individual untuk mengenal satu sama lain, berbagi informasi penting, serta menciptakan cara pandang yang sama (Gabbaro, Gulati, dan Granovetter dalam Tsai dan Ghosal, 2007, p.465)
2. Hubungan antara dimensi relasional dan dimensi kognitif
Nilai dan visi bersama merupakan perwujudan utama dari dimensi kognitif modal sosial yang juga mendukung peningkatan hubungan rasa saling percaya. Hubungan rasa saling percaya mengindikasikan bahwa nilai dan visi bersama telah membawa dan menjadikan aktor dalam lingkungan sosial menjadi satu (Barber dalam Tsai dan Ghosal, 2007, p.466). Melalui nilai dan visi bersama, anggota dalam organisasi cenderung untuk percaya satu sama lain dengan harapan mereka bekerja untuk tujuan yang sama dan
tidak akan saling menjatuhkan demi tujuan pribadi.
3. Hubungan antara dimensi kognitif dan dimensi struktural
Modal sosial bertumpu pada premis yaitu interaksi sosial memainkan peranan penting baik dalam membentuk tujuan dan nilai bersama, serta membagikan tujuan dan nilai tersebut ke seluruh anggota organisasi. Van Maanen dan Schein dalam Tsai dan Ghosal (2007, p.467) menggarisbawahi pentingnya interaksi sosial secara formal dalam membantu anggota organisasi untuk memahami nilai-nilai organisasi. Melalui proses interaksi sosial, individu akan menyadari serta mengadopsi bahasa, kode, nilai serta praktek dalam organisasinya.
2.3 Modal Manusia dan Modal Sosial
Perkembangan ekonomi pendidikan paling penting dan paling orisinal pada tiga puluh tahun yang lalu telah memunculkan ide bahwa konsep modal fisik, sebagaimana yang diwujudkan dalam peralatan, mesin, dan alat produksi lainnya, dapat diperluas dengan memasukkan modal manusia (Schultz, 1961;
Becker, 1964 dalam Coleman, 2011). Sebagaimana modal fisik yang diciptakan dengan mengubah materi untuk membentuk alat yang memudahkan produksi, modal manusia diciptakan dengan mengubah orang dengan memberi mereka keterampilan dan kemampuan yang memampukan mereka bertindak dengan cara- cara baru.
Modal sosial, pada gilirannya, tercipta ketika relasi antara orang mengalami perubahan sesuai dengan cara-cara yang memudahkan tindakan.
Modal fisik berwujud, diwujudkan dalam bentuk materi yang jelas: modal manusia tidak berwujud, diwujudkan dalam keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari oleh individu; modal sosial juga tidak berwujud, karena duwujudkan dalam relasi diantara orang-orang. Modal fisik dan modal manusia memudahkan aktivitas produktif, dan juga modal sosial. Misalnya, kelompok yang anggota- anggotanya menunjukkan kredibilitas dan memberikan kepercayaan luas satu sama lain akan mampu mengerjakan lebih banyak daripada kelompok sebanding yang tidak memiliki kredibilitas dan kepercayaan tersebut (Coleman, 201, p.421).
Perbedaan antara modal manusia dengan modal sosial dapat ditunjukkan
melalui diagram seperti pada gambar di bawah, yang menampilkan relasi tiga orang (A, B, dan C). Modal manusia terletak di titik pertemuan sedangkan modal sosial terletak di garis penghubung titik-titik tersebut. Modal sosial dan modal manusia seringkali saling melengkapi. Misalnya, jika B adalah seorang anak dan A adalah orang dewasa yang menjadi orang tua B, maka ketika A meningkatkan perkembangan kognitif B, harus ada modal di titik pertemuan dan garis penghubung tersebut. A harus memiliki modal manusia dan modal sosial pada relasi antara A dan B (Coleman, 2011, p.421).
Gambar 2.1 Hubungan modal manusia dan modal sosial (Coleman, 2011, p.421)
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya dan telah dipublikasikan. Penelitian terdahulu berguna untuk mengetahui hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang topik yang sama yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti. Topik yang dibahas adalah mengenai modal sosial.
Penelitian terdahulu yang pertama merupakan penelitian dari Christina Boari dan Manuela Presutti (2004) yang berjudul Social Capital and Entrepreneurship Inside an Italian Cluster: an Empirical Investigation. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran konteks lokal dalam pengembangan jaringan sosial start-up, menurut perspektif sosiologi kewirausahaan, yang menganggap modal sosial sebagai faktor utama keberhasilan untuk pertumbuhan perusahaan muda. Hasil analisis menunjukkan bahwa insiden yang kuat dari faktor lokal hanya sebagian dapat membantu start-up. Dampak yang kuat dari konteks lokal memiliki pengaruh positif pada dimensi relasional dan kognitif
modal sosial yang membawa keuntungan langsung mengurangi biaya kontrol dan mengembangkan kepercayaan dalam hubungan bisnis. Namun, konteks lokal memiliki dampak negatif pada dimensi struktural modal sosial, menghambat transfer pengetahuan, nilai informasi dan ide baru.
Penelitian terdahulu yang ketiga berjudul “Social Capital And Value Creation: The Role Of Intrafirm Networks“ merupakan penelitian dari Tsai dan Ghosal (2007). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara dimensi struktural, relasional, dan kognitif modal sosial dan pola pertukaran sumber daya dan inovasi produk dalam perusahaan. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik regresi, landasan teori diperkuat dengan studi literatur. Hasil dari penelitian, interaksi sosial merupakan perwujudan dari dimensi struktural modal sosial dan kepercayaan merupakan perwujudan dari dimensi relasional, yang secara signifikan terkait dengan pertukaran sumberdaya dan berdampak pada inovasi produk.
Penelitian terdahulu yang kedua berjudul “Social Capital and Entrepreneurship: An Exploratory Analysis” merupakan penelitian dari Doh dan Zolnik (2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara modal sosial dan kewirausahaan dengan indikator: kepercayaan (umum dan kelembagaan), kegiatan-kegiatan asosiasi aktif keanggotaan dan norma-norma.
Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisis regresi, landasan teori diperkuat dengan studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara modal sosial dan kewirausahaan.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Peneliti dan Judul
Penelitian Tujuan Penelitian Metode
Penelitian Hasil Penelitian Boari, Presutti :
Social Capital and
Entrepreneurship Inside an Italian Cluster : an Empirical Investigation (2004).
Menjelaskan peran konteks lokal dalam pengembangan jaringan sosial start- up, menurut perspektif sosiologi kewirausahaan, yang menganggap modal sosial sebagai faktor utama keberhasilan untuk pertumbuhan perusahaan muda.
Kualitatif dan kuantitatif, wawancara dengan tatap muka pada 48 perusahaan
Dampak yang kuat dari konteks lokal, pada kenyataannya, memiliki pengaruh positif pada dimensi relasional dan kognitif modal sosial yang membawa keuntungan langsung mengurangi
biaya kontrol dan
mengembangkan kepercayaan dalam hubungan bisnis. Namun, konteks sosial memiliki dampak negatif pada dimensi struktural modal sosial, menghambat transfer pengetahuan, nilai informasi dan ide baru.
Tsai, Ghosal (2007), Social Capital And Value Creation:
The Role Of Intrafirm Networks
Meneliti hubungan baik antara dimensi struktural,
relasional, dan kognitif modal sosial dan antara dimensi itu dan pola sumber daya dan produk inovasi dalam perusahaan
Kuantitatif dengan teknik regresi, landasan teori diperkuat dengan studi literatur
Interaksi sosial merupakan perwujudan dari dimensi struktural modal sosial dan kepercayaan merupakan perwujudan dari dimensi
relasional, yang secara signifikan terkait dengan pertukaran sumberdaya dan berdampak pada inovasi produk.
Doh, Zolnik (2011) Social Capital and Entrepreneurship : an Exploratory Analysis
Mengeksplorasi hubungan antara modal sosial dan kewirausahaan dengan indikator;
kepercayaan (umum dan kelembagaan);
kegiatan asosiasi aktif keanggotaan;
dan norma-norma
Kuantitatif dengan teknik regresi, landasan teori diperkuat dengan studi literatur
Adanya hubungan positif antara modal sosial dan kewirausahaan
2.5 Kerangka Berpikir
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Sumber: Nahapiet dan Ghosal (1998)
Penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan perilaku penerapan modal sosial pada PT. Indotrans Sejahtera. Terdapat tiga dimensi yang akan diteliti yaitu dimensi struktural, dimensi relasional, dan dimensi kognitif.
Dimensi struktural terdiri dari network ties dan network configuration. Dimensi relasional terdiri dari trust dan norms. Sedangkan dimensi kognitif terdiri dari shared language and codes.