PENGEMBANGAN MODUL FISIKA SMA KELAS X MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
DISERTAI ASESMEN TEMAN SEJAWAT PADA POKOK BAHASAN DINAMIKA PARTIKEL
Hayatul Mu’awwanah, Mustika Wati, dan Sri Hartini. Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unlam Banjarmasin,
X using cooperative learning model accompenied peer assesment on the subject of particle dynamic is viable used in the learning.
Keyword: cooperative learning, module, peer assesment.
Kata kunci: asesmen teman sejawat, modul, model pembelajaran kooperatif
.
PENDAHULUAN
Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 40 ayat (2) menyebutkan bahwa pendidik dan kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Selanjutnya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pasal 19 ayat (1) menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
siswa dengan berbagai metode yang sesuai, sehingga menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Suasana kelas yang menyenangkan akan meningkatkan minat belajar.
Kebanyakan kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak sesuai dengan harapan di atas, termasuk di SMA Muhammadiyah I Banjarmasin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti selama Praktik Pengalaman Lapangan 2 (PPL 2) di SMA Muhammadiyah I Banjarmasin, tampak bahwa mata pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak disukai oleh siswa terlebih lagi pada siswa kelas X. Hal ini disebabkan karena mata pelajaran Fisika dianggap sebagai mata pelajaran paling sulit dan membosankan. Selama ini setiap mengikuti pembelajaran, siswa hanya mendapat ceramah dari guru sehingga siswa kurang aktif selama pembelajaran. Sistem penilaian berbasis kelas yang dilakukan oleh guru juga tidak dapat membuat siswa menerima umpan balik dengan segera, padahal umpat balik sangat penting untuk diterima secepatnya oleh siswa agar siswa dapat mengetahui kekurangannya dalam belajar. Oleh kerena itu diperlukan asesmen pendamping selain asesmen dari guru.
remidial. Selain itu, menurut guru mata pelajaran Fisika di SMA Muhammadiyah I Banjarmasin, selama ini belum ada modul yang digunakan siswa untuk membantu belajar fisika. Siswa hanya mencatat materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, perlu dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan dapat digunakan oleh siswa untuk belajar mandiri sehingga siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya, yaitu dengan pembelajaran yang didampingi oleh buku ajar berupa modul.
Menurut Depdiknas (2008: 8), tujuan pembelajaran menggunakan modul adalah untuk mengurangi keragaman kecepatan belajar peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri. Pelaksanaan pembelajaran modul lebih banyak melibatkan peran peserta didik secara individual dibandingkan dengan tutor. Tutor sebagai fasilitator kegiatan belajar, hanya membantu peserta didik memahami tujuan pembelajaran, pengorganisasian materi pembelajaran, melakukan evaluasi serta menyiapkan dokumen.
memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan pembelajaran satu sama lain. Idenya sederhana, setelah menerima pelajaran dari guru, anggota kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Siswa kemudian mengerjakan tugas yang diberikan sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dengan baik materi tersebut dan menyelesaikan tugasnya.
Model asesmen pendamping yang diperlukan pada pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem asesmen yang dapat memantau keseluruhan proses dan aspek-aspek belajar. Model asesmen yang digunakan hendaknya yang melibatkan dan berpusat pada siswa dan memenuhi fungsi perbaikan dan pemberdayaan siswa. Salah satu jenis penilaian yang berpusat pada siswa adalah asesmen teman sejawat. Liu dan Yuan dalam Utomo (2011) menyatakan bahwa diantara banyak metode penilaian alternatif yang dikembangkan akhir-akhir ini adalah peer assesment (asesmen teman sejawat). Asesmen teman sejawat adalah suatu teknik asesmen yang melibatkan siswa untuk mengevaluasi pekerjaan (kinerja) satu sama lain berkaitan dengan proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dikuasainya, yang didasarkan atas kriteria obyektif yang telah ditetapkan. Jadi, asesmen teman sejawat cocok untuk diterapkan pada pembelajaran kooperatif, tetapi penerapan asesmen teman sejawat ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan asesmen dari guru, tetapi sebagai penunjang dalam pembelajaran kooperatif.
Surabaya. Berdasarkan hasil penelitiannya diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas yang menggunakan modul pembelajaran dengan hasil belajar kelas yang tidak menggunakan modul pembelajaran. Dapat dikemukakan bahwa kelas yang menggunakan modul pembelajaran (kelas eksperimen) memiliki hasil belajar dengan nilai rata-rata 86,97 yang mana lebih baik daripada kelas yang tidak menggunakan modul pembelajaran (kelas kontrol) dengan nilai rata-rata 80,62.
Berdasarkan uraian di atas, modul siswa dapat digunakan sebagai alternatif untuk membantu siswa dalam belajar, karena modul dapat digunakan untuk belajar mandiri, sehingga siswa dapat menyesuaikan dengan cara dan kemampuan belajarnya. Kemudian, model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam belajar serta membuat siswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran. Jenis penilaian yang sesuai diterapkan dalam pembelajaran kooperatif adalah asesmen teman sejawat. Dalam asesmen teman sejawat, hasil kerja kelompok dinilai atau dievaluasi oleh kelompok lain, sehingga selain dapat mengevaluasi hasil kerja temannya, secara tidak langsung juga dapat mengevaluasi hasil kerjanya sendiri. Oleh karena itu peneliti akan mengembangkan modul Fisika SMA kelas X menggunakan model pembelajaran kooperatif disertai asesmen teman sejawat pada pokok bahasan dinamika partikel.
pokok bahasan dinamika partikel. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini untuk mendeskripsikan kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan modul yang dikembangkan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dimana produk yang dikembangkan adalah modul Fisika SMA kelas X menggunakan model pembelajaran kooperatif disertai asesmen teman sejawat. Langkah-langkah penelitian pengembangan ini mengikuti langkah-langkah yang terdapat dalam model ADDIE (analyze, design, develop, implement, evaluate). Penelitian dilakukan sebanyak 4 pertemuan dengan alokasi waktu 3 x 45 menit untuk tiap pertemuan. Rancangan penelitian saat uji coba kelas menggunakan one group pretest postest design, sebagaimana yang dinyatakan oleh Setyosari (2013), mengadakan pretest sebelum dilakukan pembelajaran menggunakan modul, kemudian melakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan modul yang dikembangkan, setelah itu mengadakan posttest.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah penilaian kelayakan modul yang dikembangkan. Data yang diperoleh meliputi hasil validasi modul; data hasil angket respon siswa; dan data tes hasil belajar siswa.
HASIL
Hasil Validasi Modul
Persentase Kevalidan 89,42 % Sangat Valid Reliabilitas 0,62 Derajat Reliabilitas Sedang
Hasil validasi media modul memperoleh persentase validasi sebesar 89,42% dengan kategori sangat valid dan koefisien reliabilitas 0,62 dengan derajat reliabilitas sedang.
Hasil Validasi Angket Respon Siswa
Validasi angket respon siswa dilakukan oleh dua orang validator untuk mengetahui kelayakan angket untuk digunakan kepada siswa. Validasi angket respon siswa meliputi aspek format instrumen, isi instrumen, konstruksi dan bahasa.
Tabel 3. Hasil validasi angket respon siswa Aspek Penilaian Rata-rata Kategori Format Instrumen 3,60 Sangat Baik
Isi Instrumen 3,80 Sangat Baik Konstruksi 3,50 Sangat Baik
Bahasa 3,42 Sangat Baik
Persentase Kevalidan 89,47% Sangat Valid Reliabilitas 0,47 Derajat Reliabilitas Sedang
Hasil validasi modul memperoleh persentase validasi sebesar 89,47% dengan kategori sangat valid dan koefisien reliabilitas 0,47 dengan derajat reliabilitas sedang.
Hasil Simulasi Produk
dikembangkan. Selain itu peneliti juga mengamati bagaimana peserta simulasi meggunakan modul. Adapun pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama yaitu 3 x 45 menit. Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan komentar dan saran dari peserta simulasi terhadap modul dan kegiatan pembelajaran yaitu untuk memperbaiki gambar yang disajikan dalam modul agar lebih menarik lagi dengan tujuan agar modul dan kegiatan belajar dapat diperbaiki.
Kepraktisan Modul
Kepraktisan modul diukur berdasarkan angket respon siswa yang disebarkan setelah pembelajaran menggunakan modul yang dikembangkan selesai. Responden terdiri atas 26 orang siswa kelas X-A SMA Muhammadiyah I Banjarmasin. Hasil analisis angket respon siswa dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil analisis angket respon siswa
Aspek Rerata Skor Kategori
Kemudahan Penggunaan 3,80 Baik
Manfaat 3,86 Baik
Efisiensi Waktu 4,04 Baik
Keseluruhan 3,90 Baik
Secara keseluruhan hasil analisis angket respon siswa tergadap modul yang dikembangkan berkategori baik.
Keefektifan Modul
pembelajaran Fisika menggunakan modul yang dikembangkan. Tes terbagi dua yaitu pretest dan posttest. Tes hasil belajar mengacu pada tujuan pembelajaran yang berbentuk soal essay sebanyak 11 soal. Efektivitas modul yang diukur berdasarkan hasil pretest dan posttest dihitung dengan menggunakan N-gain secara keseluruhan, dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Analisis hasil belajar siswa melalui pretest dan posttest
Interval Nilai Kategori Jumlah hasilbelajar siswa
Persentase
g > 0,7 Tinggi/SangatEfektif 3 11,54% 0,3 ≤ g ≤ 0,7 Sedang/Efektif 22 84,62% g < 3 Rendah/CukupEfektif 1 3,85%
PEMBAHASAN
Kevalidan ModulKevalidan Angket Respon Siswa
Validasi angket respon siswa dilakukan oleh dua orang validator, yaitu Ibu Mustika Wati, M.Sc. dan Ibu Sri Hartini, M.Sc. Berdasarkan Tabel 3, untuk hasil validasi rata-rata dari kedua validator, diperoleh rata-rata validasi untuk aspek format instrumen sebesar 3,60 dengan kategori sangat baik, untuk aspek isi instrumen sebesar 3,80 dengan kategori sangat baik, untuk aspek konstruksi sebesar 3,50 dengan kategori sangat baik, dan untuk aspek bahasa sebesar 3,42 dengan kategori sangat baik. Secara keseluruhan angket respon siswa memiliki persentase validitas sebesar 89,47% dengan tingkat validitas sangat valid dan koefisien reliabilitas sebesar 0,47 dengan derajat reliabilitas sedang.
Jadi, angket respon siswa layak digunakan dan reliabel. Arikunto (2010: 211) menyatakan sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Kepraktisan Modul
belajar mandiri, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa percakapan yang mengkondisikan seolah-olah pembacanya malakukan percakapan ketika membacanya.
Pada aspek manfaat diperoleh rerata skor 3,86 dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan materi yang disajikan dalam modul dapat membantu siswa belajar mandiri atau dengan sedikit bimbingan dari guru dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, lembar kerja yang terdapat dalam modul dapat digunakan untuk melatih pemahaman siswa, tugas dan pembahasan dalam modul dapat digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hal ini seperti yang diungkapkan Daryanto (2013: 9) bahwa modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar yang spesifik.
Pada aspek efisiensi waktu diperoleh rerata skor 4,04 dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa belajar dengan menggunakan modul yang dikembangkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi dan dapat digunakan untuk belajar sendiri diluar jam pelajaran sehingga waktu belajar menjadi lebih efisien. Hal ini sesuai dengan pernyataan Daryanto (2013: 9) bahwa modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mendiri, sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan masing-masing.
baik. Hasil ini menunjukkan praktikalitas modul, yaitu modul praktis digunakan oleh siswa.
Keefektifan Modul
Secara keseluruhan, seperti pada Tabel 6 terdapat 3 siswa atau 11,54% dari jumlah siswa keseluruhan yang hasil belajarnya berkategori tinggi atau sangat efektif, dimana hasil N-gain lebih dari 0,7. Kemudian ada 22 siswa dari 26 siswa atau 84,62% dari jumlah siswa keseluruhan yang hasil belajarnya berkategori sedang atau efektif, dimana hasil N-gain antara 0,3-0,7 dan ada 1 siswa atau 3,86% dari jumlah siswa keseluruhan yang hasil belajarnya rendah atau cukup efektif, dimana hasil N-gain kurang dari 0,3.
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanProduk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa modul Fisika SMA kelas X menggunakan model pembelajaran kooperatif disertai asesmen teman sejawat pada pokok bahasan dinamika partikel.
Berdasarkan pada hasil pengembangan dan uji coba, maka diperoleh simpulan bahwa: Modul Fisika SMA kelas X menggunakan model pembelajaran kooperatif disertai asesmen teman sejawat pada pokok bahasan dinamika partikel layak untuk digunakan. Hal ini didukung oleh: (1) kevalidan modul yang dikembangkan menurut validator adalah sangat valid atau dapat digunakan tanpa revisi. (2) kepraktisan modul yang diukur berdasarkan angket respon siswa berkategori praktis. (3) keefektifan modul berkategori efektif dilihat dari tingkat pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa yang telah ditetapkan dengan gain score dan diukur dengan menggunakan tes berupa pretest dan postest.
Saran
hasil ini dapat dijadikan bahan rujukan untuk membantu berkembangnya penelitian sejenis ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharisimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
Daryanto. 2013. Menyusun Modul Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Malang: Gavamedia.
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
Khirzin, Rizal dan Endryansyah. 2014. Pengembangan Modul Pembelajaran Lemari Pendingin Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif di SMK Negeri 5 Surabaya. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro Vol 03 No 02 Hal 63-73.
Prastowo, Andi. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.
Setyosari, Punaji. 2013. Metode Penelitian Pendidikan & Pengembangan. Jakarta: Erlangga.