• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam

Oleh :

YUSNIA FITRIANA G000150146

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2019

brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk

provided by UMS Digital Library - Selamat datang di UMS Digital Library

(2)

i

HALAMAN PERSETUJUAN

KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN

PUBLIKASI ILMIAH

Oleh:

YUSNIA FITRIANA G000150146

Telah diperiksa dan disetujui untuk di uji oleh:

DosenPembimbing,

Dr. Mohamad Ali, S.Ag.,M.Pd.

NIDN. 0628117301

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN

OLEH:

YUSNIA FITRIANA G000150146

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Surakarta Pada hari

dan dinyatakan telah memenuhi syarat.

Dewan Penguji : 1.

Dr. Mohamad Ali, S.Ag.,M.Pd.

(Ketua Dewan Penguji) 2.

Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag.

(Anggota I Dewan Penguji) 3.

Ari Anshori, M.Ag.

(Anggota II Dewan Penguji) Dekan,

(Dr. Syamsul Hidayat, M.Ag.) NIDN. 0605096402

(4)

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam publikasi ilmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggung jawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 26 Oktober 2019 Penulis

YUSNIA FITRIANA G000150146

(5)

1

KECERDASAN MAKRIFAT DALAM PANDANGAN BUYA HAMKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP RUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN

ISLAM Abstrak

Buya Hamka adalah seorang pembawa paham pembaharuan dalam Islam. Beliau banyak melahirkan karya-karya untuk pendidikan Islam dan banyak berbicara tentang kebahagiaan dalam hidup. Hamka mengatakan bahwa puncak kebahagiaan adalah mengenal Allah atau makrifat Allah. Dalam dunia tasawuf dikenal istilah makrifat yang mana merupakan konsep dan tahap maqam yang lebih luas dikalangan sufi atau pemeluk agama Islam. Makrifat menjadi dasar untuk menuju ke dalam kecerdasan spiritual tahap berikutnya. Kemudian oleh Abdul Munir Mulkhan mengenalkan istilah Kecerdasan Makrifat. Kecerdasan Makrifat merupakan kemampuan seseorang dalam mengena Tuhan lebih mendalam menggunakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep kecerdasan makrifat yang digagas oleh Buya Hamka dan menjelaskan implikasinya terhadap rumusan tujuan pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengacu kepada penelitian kepustakaan atau (library research). Yang mengacu pada buku-buku, karya-karya literature yang berhubungan tentang Kecerdasan Makrifat. Pendekatan atau sudut pandang yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan filosofis dan historis. Pendekatan filosofis adalah pendekatan yang berusaha untuk menggali tentang konsep Kecerdasan Makrifat dalam pandangan Buya Hamka dan Implikasinya terhadap tujuan pendidikan Islam. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Konsep kecerdasan makrifat menurut Buya Hamka merupakan suatu kecerdasan yang didasarkan kepada hati. Dimana kecerdasan makrifat dikatakan sebagai pengukuran-pengukuran ilmu pengetahuan tentang Tuhan, dan dikatakan sebagai akhir perjalanan dari Ilmu pengetahuan. Adapun implikasi atau hubungan Kecerdasan Makrifat dengan rumusan Tujuan Pendidikan adalah dalam tujuan pendidikan Islam diharapkan peserta didik mampu mengenal Tuhan didasarkan pada hati sehingga ia mampu untuk mengamalkan perintah yang diberikan oleh Tuhan dan menjahui segala larangan- Nya.

.Kata Kunci: kecerdasan makrifat, pendidikan, tujuan pendidikan.

Abstract

Buya Hamka is a bearer of understanding renewal in Islam. He gave birth to many works for Islamic education and talked a lot about happiness in life. Hamka said that the peak of happiness is to know Allah or God's guidance. In the world of Sufism the term makrifat is known which is the concept and stage of a wider circle among Sufis or followers of Islam. Makrifat becomes the basis for going into the next stage of spiritual intelligence. Then by Abdul Munir Mulkhan introduced the term Makrifat Intelligence. Makrifat intelligence is a person's ability to experience God more deeply using the heart. This study aims to

(6)

2

understand the concept of macrifat intelligence that was conceived by Buya Hamka and explain its implications for the formulation of the objectives of Islamic education. This research is a qualitative research which refers to library research. Which refers to books, literary works related to the Makrifat Intelligence. The approach or point of view used by the author in conducting this research is a philosophical and historical approach. A philosophical approach is an approach that seeks to explore the concept of Makrifat Intelligence in Buya Hamka's view and its implications for the goals of Islamic education.The results of this study can be concluded that the concept of makrifat intelligence according to Buya Hamka is an intelligence based on the heart. Where makrifat intelligence is said to be the measurements of knowledge about God, and said to be the end of the journey of Science. The implications or relationship between the Makrifat Intelligence with the formulation of Educational Objectives is that in the objectives of Islamic education, students are expected to be able to know God based on the heart so that they are able to practice the commands given by God and know all His prohibitions.

Keywords: makrifat intelligence, education, education goals.

1. PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling cerdas, yang dilengkapi komposisi kecerdasan paling kompleks. Hal ini juga dibenarkan oleh para ahli berdasarkan temuannya, yang mengarahkan bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan kemampuan yang paling unggul dengan makhluk lain dan akan menjadi unggul apabila mampu menggunakan dengan optimal kelebihan yang diberikan kepadanya. William W Hwitt kemudian mengatakan bahwa dalam menggunakan kemampuan, seseorang dibedakan menjadi dua yaitu orang jenius dan tidak jenius dalam bidangnya.

Manusia terlahir dengan dibekali kecerdasan oleh Allah yang terdiri dari lima bagian utama kecerdasan, diantaranya Kecerdasan Ruhaniah (Spiritual Intelligence), Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence), Kecerdasan Sosial, Dan Yang Terakhir Adalah Kecerdasan Fisik (Bodily-Kinesthic Intelligence). Hal tersebut seperti yang terkandung dalam firman Allah:

“Kemudian Dia menyempurnakan nya dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,

(7)

3

penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S AS- Sajdah: 9).

Danar Zohar dan Ian Marshal mengartikan bahwa kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kemampuan untuk seseorang dapat menempatkan tindakan dan perilaku dalam hidup dalam konteks yang lebih luas lagi, kemampuan dalam menilai bahwa perilaku dan tindakan seseorang akan lebih bermakna dibandingkan orang lain.

Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tinggi yang dimiliki manusia, dalam Emotional Spiritual Quetient, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan. Kecerdasan spiritual akan membawa manusia kedalam tujuan hidup yang sesungguhnya. Ia akan mampu mengoptimalkan eksistensi intelektualnya dalam berpikir dan berperilaku dalam kehidupan.

Kecerdasan ruhaniah akan mengantarkan potensi yang dimiliki seseorang kepada kemuliaan akhlak nya. Kecerdasan ruhaniah juga memiliki fungsi indrawi, di dalam ruhani nya, yang mana dialah yang akan menentukan tentang rasa bersalah, baik-buruk, serta mengambil keputusan berdasarkan tanggung jawab moral yang ada pada dirinya. Kecerdasan spiritual atau ruhaniah tidak hanya mampu mengetahui nilai-nilai, tata susila, adat istiadat namun mampu menjaga kesetiaannya pada suara hati dari lubuk hatinya sendiri yang paling dalam (conscience).

Dalam dunia tasawuf, makrifat merupakan suatu hal yang penting. Makrifat yang lebih dikenal luas di kalangan sufi atau pemeluk Islam yang awam atau ulama yang merupakan konsep tahap atau maqam dalam tasawuf. Sebagai tahapan spiritual, makrifat menjadi dasar kemampuan spiritual pada tahap berikutnya, tetapi makrifat menjadi jalan dalam memperoleh pengetahuan guna untuk memahami kemampuan pada diri, masyarakat, dan alam. Kemampuan makrifat dihubungkan dengan semua tahap seorang sufi hingga ittihad (Kesatuan antara manusia dengan Tuhan) dan insan kamil atau manusia yang sempurna.

Fungsi makrifat salah satunya adalah tidak adanya jarak atau penghalang antara yang dilihat dan yang melihat, antara yang diketahui dengan yang mengetahui. Makrifat merupakan jalan dan keadaan dimana seseorang berada

(8)

4

dalam kemampuan melihat, tanpa batas formalitas dan tanpa simbolitas. Hal ini berkaitan dengan konsep insan kamil atau manusia yang sempurna yang dapat difungsikan secara sederhana yaitu kemampuan dalam melihat inti dari semua obyek yang dilihat.

Dalam pendidikan yang terpenting adalah tergalinya potensi diri pada siswa, serta tertanamnya akhlak yang baik di dalam diri siswa. Sehingga ia mendorong dirinya lebih mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan, akan mempengaruhi tingkat kecerdasan spiritual pada siswa.

Kecerdasan makrifat merupakan pemahaman yang mendalam tentang Tuhan.

Buya Hamka adalah seorang pembawa paham pembaharuan dalam Islam.

Beliau banyak melahirkan karya-karya untuk pendidikan Islam dan banyak berbicara tentang kebahagiaan dalam hidup. Hamka mengatakan bahwa puncak kebahagiaan adalah mengenal Allah atau disebut Makrifah Allah. Dalam proses menuju makrifat sebagai puncak kebahagiaan para pelaku tasawuf, Hamka menerapkan trilogi konsep ke arah makrifat yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.

Maka dari itu Kecerdasan Makrifat juga diartikan sebagai puncak kebahagiaan oleh para pelaku tasawuf.

Dalam mencapai Kecerdasan Makrifat dalam Islam, dalam pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai al-Qur’an dan hadits. Tertanamnya nilai-nilai yang terkandung dalam sumber hukum Islam tersebut akan membawa manusia ke dalam kebenaran yang hakiki. Jadi tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan syariat-syariat Islam untuk membentuk akidah dan akhlakul karimah didalam diri siswa.

Dari gagasan Kecerdasan Makrifat Abdul Munir Mulkhan, penulis ingin meneliti lebih mendalam tentang Kecerdasan Makrifat dalam sudut pandang Buya Hamka, untuk itu penulis mengambil judul: Kecerdasan Makrifat Dalam Pandangan Buya Hamka dan Implikasinya Terhadap RumusanTujuan Pendidikan Islam.

Penelitian ini dibatasi masalah-masalah yang berkaitan Kecerdasan Makrifat studi gagasan Buya Hamka. Agar penelitian ini terarah sesuai sasaran, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: 1)Bagaimana Konsep Kecerdasan Makrifat

(9)

5

menurut Buya Hamka? 2) Bagaimana Implikasi Kecerdasan Makrifat dalam Pandangan Buya Hamka terhadap Rumusan Tujuan Pendidikan?

Tujuan dari penelitian ini dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mengetahui Konsep Kecerdasan Makrifat menurut Buya Hamka. 2) Implikasi Kecerdasan Makrifat dalam Pandangan Buya Hamka terhadap Rumusan Tujuan Pendidikan

Manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Menjelaskan Konsep Kecerdasan Makrifat menurut Buya Hamka. 2)Implikasi Kecerdasan Makrifat dalam Pandangan Buya Hamka terhadap Rumusan Tujuan Pendidikan.

2. METODE

Metode penelitian adalah metode atau cara yang dilakukan penulis dalam mendapatkan data-data sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian dengan pengumpulan datanya menggunakan dari berbagai macam buku dan materi kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data atau informasi dengan menggunakan berbagai literatur kepustakaan, seperti buku, dokumen, majalah, kisah tokoh atau biografi, ensiklopedia, serta data-data yang berhubungan dengan penelitian. Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian literatur non empiric, karena data yang digunakan adalah data yang berasal dari literatur kepustakaan atau artikel yang berhubungan dan menggambarkan Kecerdasan Makrifat menurut pandangan Buya Hamka. Agar penelitian ini lebih komprehensif dan sistematis, maka ditulislah mengenai riwayat hidup beliau, tentang pemikiran-pemikiran beliau tentang makrifat, karya- karya yang beliau hasilkan dan pemikirannya dibandingkan dengan tokoh pendidikan yang lain.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kecerdasan makrifat pertama kali dipromosikan oleh Abdul Munir Mulkhan, kali ini penulis akan mengkaji mengenai konsep Kecerdasan Makrifat menurut gagasan Buya Hamka. Kecerdasan tidak luput dari fungsi akal yang terus

(10)

6

berkembang. Sedangkan Kecerdasan Makrifat merupakan kecerdasan yang berasal dari hati atau disebut dengan Qalb.

Fitrah Qalbu dalam diri dan jiwa manusia sangat memiliki peranan yang sangat penting. Ialah sebagai pusat atau sentral seorang manusia di bumi dan di langit yang menjabat sebagai pengganti Allah dalam memelihara, mengembangkan dan mengolah alam. Apabila seseorang telah sukses dalam mendidik, mengolah fitrah qalbu-nya, maka akan terbukalah segala esensi ciptaan Allah Ta’ala, rahasia-rahasia ketuhanan terbuka baginya, sehingga akan semakin mantap dan kokoh keimanannya. Sebagai bukti bahwa fitrah qalbu berfungsi dengan baik dan benar adalah tersingkapnya tabir kebenaran di atas kebenaran (mukasyafah), memandang nur ketuhanan yang mempesonakan (sifat jamal), nur keagungan-Nya yang sangat luas (sifat jalal) serta nur kesempurnaan-Nya yang tiada terbatas (sifat Kamal).

Makrifat dan keyakinan yang tidak tertanam kuat didalam hati, maka apa yang didengar dan yang diucapkan tidak akan bermanfaat. Karena ilmu adalah apa keluar dari mulut dan didengar oleh telinga. Jika hati sudah percaya dan yakin terhadap ilmu yang didapat maka akan timbul cahaya petunjuk dari Allah yang disebut dengan Hudan.

Makrifat lebih dikenal sebagai tahap atau maqam akhir dari perjalanan spiritual sufi. Para sufi menyebut bahwa makrifat sebagai suatu pengetahuan yang dengannya, seorang sufi dapat mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubarinya dapat melihat Tuhan. Makrifat, pada prinsipnya merupakan sebuah intuisi bawah sadar manusia yang diperolehnya dari ketajaman mata hati setelah menjalani tahapan dan latihan kerohanian secara optimal. Melalui tahapan yang panjang inilah, Allah dengan rahmat dan karunia-Nya memberikan makrifat tersebut kepada mereka yang sanggup untuk menerimanya.

Makrifat menurut Buya Hamka menjadi bagian terpenting dalam nilai-nilai ketuhanan atau ilahiah karena makrifat merupakan tingkatan yang paling tinggi dalam pendekatan yang dilakukan oleh manusia dalam mengenal Tuhan. Seorang yang yakin bahwa ia selalu diawasi dan dipmpin oleh Tuhan. Ia akan selalu menjaga serta memelihara dirinya dalam ketaatan, dan selalu beramal saleh.

(11)

7

Pokok segala Makrifat ialah ilham yang diberikan Allah Ta’ala kepada kemanusiaan, dari alam yang tinggi kepada alam yang rendah. Untuk mencapai dan menembus hambatan kemajuannya yang ditimbulkan oleh kegelapan jasmani.

Sedikitnya makan, perbanyak bangun malam dan buat hubungan dengan jiwa pengatur jalannya falak, yaitu alam malaikat, dan dari sana terus membuat hubungan langsung dengan Maha Pencipta: Cahaya dari segala cahaya.

Hamka mengatakan ujung dari sebuah perjalanan pencarian Ilmu Pengetahuan adalah Makrifat. Sedangkan ilmu ialah usaha untuk mengetahui sesuatu jenis barang, tetapi makrifat adalah usaha untuk mengetahui sebab dan nilai dari suatu barang tersebut. Beliau menjelaskan bahwa ilmu yang tidak akan ada didalam hati dan jiwa seseorang apabila ilmu yang didapatkan tidak dipraktekkan atau tidak diamalkan secara langsung. Melalui praktek terus menerus dan kemudian akan menjadi kebiasaan maka ilmu yang lain akan senantiasa selalu menarik kita untuk selalu belajar lagi dan belajar lagi.

Buya Hamka mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan makrifat disebut dengan ‘Arif. Seseorang yang pengetahuan tentang syariat agamanya sudah mencapai jalan Thariqat akan mencapai tujuan akhir yang disebut Hakikat.

Beliau juga mengatakan Bahwa kecerdasan makrifat adalah kemampuan seseorang dalam memahami berbagai macam ilmu pengetahuan. Tidak hanya pengetahuan umum tetapi juga pengetahuan tentang Filsafat dan Agama, serta kemampuan dalam memahami ilmu logika, keindahan dan cinta atau mahabbah.

al-Ghazali menjelaskan bahwa Alam seluruhnya ini adalah makhluk dan ayat (bukti) tentang kekuasaan dan kebesaran-Nya. Apabila telah Tajalli (jelas) dalam hati Makrifat akan hakikat ke-Tuhanan itu, dan sifat-sifat serta af’al (perbuatannya) dan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian Dunia dan Akhirat, itulah yang dikatakan surga. Dan oleh Ahli Haqq, itulah sebab-sebab yang memantaskan buat masuk ke dalam surga. Bertambah meluas dan mendalam Makrifat manusia dengan itu, bertambah pulalah surga yang akan didapatkannya. Kecerdasan Makrifat didalam diri seseorang tertanam pengetahuan tentang Tuhan, yang akan membawa manusia sebagai ihsan kamil yang sesungguhnya.

(12)

8

Dalam mencapai Kecerdasan Makrifat, Hamka mengatakan bahwa ada tingkatan yang dicapai oleh seseorang dalam mencapai Kecerdasan Makrifat.

Yang pertama Tingkatan yang paling Tinggi, dimana pada tingkatan ini seseorang yang berhubungan dekat dengan Allah tanpa batas, seseorang yang sudah mencapai pada tingkatan ini adalah mereka para Rasul dan para Nabi. Tingkatan yang Kedua ialah tingkatan dimana seseorang berhubungan dengan Allah dari Jarak jauh dan tidak berdinding. Dan tingkatan yang Ketiga, seseorang berhubungan jauh dari Allah tetapi masih ada dinding pembatas, pada tingkatan ini seseorang belum memiliki iman yang sepenuhnya karena pada tahap ini seseorang masih ikut-ikutan saja dalam hal keimanan, belum tertanam sepenuhnya didalam hati dan jiwanya keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka dari itu, Kecerdasan Makrifat dapat diartikan sebagai pencapaian yang paling tinggi para sufi dalam mengenal Tuhan. Dalam mencapai tahap ini memerlukan tahap-tahap yang tertentu. Seseorang yang sudah memiliki Kecerdasan Makrifat adalah mereka yang tidak pernah meninggalkan syari’at agama Islam yang telah diperintahkan oleh Allah Swt.. Inilah yang membuat seorang akan selalu terikat kepada Tuhan, dan selalu berhubungan dengan Tuhan.

Kecerdasan Makrifat merupakan panggilan dari hati lewat tafakur untuk menghayati ektase-ektase yang ditimbukan oleh kegiatan zikir, sesuai dengan tanda-tanda pengungkapan yang berurutan. langkah awal yang dilakukan para sudi dalam mencapai kecerdasan makrifat yang pertama adalah perenungan terhadap tindakan-tindakan dan karunia-karunia Tuhan yang diberikan kepada dirinya, sebab dia merasa bahwa syukurnya kepada Tuhan tidak sesuai dengan karunia yang sudah diberikan Tuhan kepada dirinya. Kemudian di dalam penghayatan tanpa adanya penyatuan yang tidak terarah itu (lenyap) dan akalnya mendut dihadapan kebesaran, kekuasaan pesona, dan keagungan Tuhan. Yang terakhir ketika seorang sufi tetap seperti dia sebelumnya dihadapan sesuatu yang dihadapi sebelumnya. Dan inilah yang merupakan perenungan terhadap Tuhan dan tindakan-tindakannya, dan bukan merenungkan dirinya sendiri dan segala tindakannya.

(13)

9

Dari pemaparan diatas, temuan dari penelitian ini adalah Pertama, konsep kecerdasan makrifat menurut Buya Hamka merupakan suatu kemampuan untuk mengenal Tuhan yang didasarkan kepada hati. Dimana kecerdasan makrifat dikatakan sebagai pengukuran-pengukuran ilmu pengetahuan tentang Tuhan, dan dikatakan sebagai akhir perjalanan dari Ilmu pengetahuan. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tentang Tuhan, akan menentukan tingkat kecerdasan spiritual tentang Tuhan. Kecerdasan tidak selalu digambarkan dalam intellegensi otak, tetapi kecerdasan juga bisa melibatkan hati, pemahaman, dan juga kebijaksanaan.

Kedua, Kecerdasan Makrifat dikategorikan sebagai proses pembebasan diri dari sifat-sifat yang tercela, dan usaha didalam dirinya untuk melakukan sifat-sifat terpuji, kemudian barulah kita sebagai manusia dapat menghayati Tuhan didalam hati, walaupun mata tidak melihat tetapi didalam hatinya itu ada Tuhan. Proses Takhalli merupakan sebuah usaha pembebasan diri dari sifat-sifat tercela.

Ketiga, tujuan dari kecerdasan makrifat adalah menggunakan akal yang sejatinya dengan mengenal Tuhan kemudian mengamalkan perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah. Mengenal Tuhan dapat diusahakan dengan meyakini dan mempelajari satu-satu Zat-Nya yaitu satu sifat-Nya, satu sifat-Nya, cukup pada-Nya segala sifat kesempurnaan, tidak ada pada-Nya segala kekurangan.

4. PENUTUP

Dari pemaparan yang telah dijelaskan penulis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa: Konsep kecerdasan makrifat menurut Buya Hamka merupakan suatu kecerdasan yang didasarkan kepada hati. Dimana kecerdasan makrifat dikatakan sebagai pengukuran-pengukuran ilmu pengetahuan tentang Tuhan, dan dikatakan sebagai akhir perjalanan dari Ilmu pengetahuan. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tentang Tuhan, akan menentukan tingkat kecerdasan spiritual tentang Tuhan. Kecerdasan tidak selalu digambarkan dalam intellegensi otak, tetapi kecerdasan juga bisa melibatkan hati, pemahaman, dan juga kebijaksanaan, Implikasi Kecerdasan Makrifat dalam pandangan Buya Hamka

(14)

10

terhadap rumusan Tujuan Pendidikan Islam, Kecerdasan Makrifat adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam mengenal Tuhan didasarkan pada hati. Dalam tujuan pendidikan Islam diharapkan peserta didik mampu mengenal Tuhan didasarkan pada hati sehingga ia mampu untuk mengamalkan perintah yang diberikan oleh Tuhan dan menjahui segala larangan-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Ace. 2018. “Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Terhadap Kondisi Saat Ini”, Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 7 No. 2

Ali, Mohammad. Membedah Tujuan Pendidikan Muhammadiyah. Sekolah Dasar Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

Al-Qur’an dan Terjemah & Asbabun Nuzul. 2009. Surakarta: CV. Al-Hanan.

Atmaja Prawira, Purwa. 2016. Psikologi Pendidikan dalam Prespektif Baru.

Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: DPKRI.

Diah, H.M.. 2000. Penelitian Kualitatif Dalam Penerapan, Terj. Pekan baru:

Depdiknas Pusat Bahasa. Balai Bahasa.

Efendi, Agus . 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21, Jakarta: Alfabeta.

Ginanjar Agustian, Ary. 2007. ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga Publishing.

Hamdani B. Dz. 2001. Pendidikan Ketuhanan dalam Islam. Surakarta:

Muhammadiyah University Press.

Hamdani. 2011. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: CV Pustaka Setia.

Hamka. 2015. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit.

Hamka. 1974. Kenang-kenangan Hidup. Jakarta: Bulan Bintang.

Hamka, Rusyi. 2018. Pribadi dan Martabat Buya Hamka. Jakarta: PT Mizan Publika, 2018.

Hamka. 2016. Perkembangan dan Pemurnian Tasawuf. Jakarta: Republika Penerbit.

(15)

11

Hamka. 2015. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit.

Imam Barnadib, Sutari. 1995. Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: Andi Offset.

Hamka, Irfan. Ayah... 2013. Jakarta: Republika Penerbit.

Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers.

Kusnan. 2011. Konsep Kecerdasan Makrifat Menurut Abdul Munir Mulkhan Dan Penerapannya Dalam Pendidikan Islam [Tesis Magister]. Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Mardalis. 1995. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara.

Masaong, Kadim, Arfan A. Tilome. 2014. Kepemimpinan Pendidikan Berbasis Multiple Intelligence. Bandung: Alfabeta.

Masykur Ag, Moch., Abdul Halim Fathani. 2008. Mathematical Intelligence:

Cara Cerdas Melatih Otak dan Menanggulangi Kesulitan Belajar.

Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group.

Miftahur Rohman, Hairudin. 2018. “Konsep Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Nilai-Nilai Sosial Kultural. Jurnal Pendidikan Islam, Volume 9, No. I

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana partai politik (parpol) pengusung dan pendukung kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati OKU dalam Pemilukada serentak 2015 memanfaatkan jejaring sosial

4.6 Distribusi Frekuensi Pengukuran Infeksi Bakteri pada Organ Reproduksi Sebelum Pemakaian Pembalut Wanita Herbal di Lokalisasi Kelurahan Sukosari Kecamatan Bawen Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example

Hasil penelitian ini bahwa perbuatan (catcalling) berpotensi adanya tindak pidana yang telah memenuhi unsur-unsur dari tindak pidana, perbuatan ini dikategorikan

Jenis dan Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan untuk analisis dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang berasal dari laporan keuangan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian yang dilakukan bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari

Asas Rujukan ini adalah bertujuan untuk menaiktaraf SISMAPS versi lama ke Versi 2.0 yang dapat digunakan sebagai alat sokongan bagi aktiviti pentadbiran dan pengurusan JPBDS

Islam melalui lembaga musyawarah sejak awal adalah demokrasi politik antara lain berupa kemerdekaan atau kebebasan, kesederajatan di muka hukum dan