29
Universitas Kristen Petra
3. METODE PENELITIAN
3.1. Gambaran Umum Perusahaan
3.1.1. Sejarah Singkat Ron’s Laboratory
Ron’s Laboratory sebagai salah satu produsen makanan yang bergerak dibidang ice cream gelato dibawah PT. Panca Rasa Kreasi. Ron’s Laboratory yang berdiri pada tahun 2013 di Jakarta dan sekarang memiliki cabang di Surabaya dan akan buka di Medan. Perusahaan ini didirikan oleh Ronald Prasanto yang juga seorang chef yang mendalami teknik molecular gastronomi. Yang akhirnya membuka usaha ini dimulai dari keinginannya untuk menggabungkan food dan sains.
Nama dari perusahaan ini Ron’s Laboratory yang memiliki arti Ron’s diambil dari nama pemilik dan laboratory yang menjelaskan konsep dari Ron’s dan bisa juga dilihat juga dari logo. Konsep dari Ron’s adalah seperti laboratorium. Yang diterapkan pada penampakan gerai yang mirip laboratorium dan para staff pun memakai jas lab, kaca mata, serta penutup mulut dan juga di Ron’s pembuat gelato dilakukan langsung setelah mendapat pemesanan. Pembuatannya pun menggunakan liquid nitrogen yang suhunya minus 197 derajat celcius yang gunanya untuk mendinginkan atau membekukan
Gambar: 3.1. Logo Perusahaan
30
Universitas Kristen Petra
Ron’s Laboratory memiliki tag line yaitu BE FEARLESS . Mengarah pada inovasi produk yang dilakukan oleh Ron’s. Ron’s dalam meluncurkan inovasi produk tidak pernah takut dan berani mencoba hal yang baru.
Gambar: 3.2. Tag Line
3.1.2. Visi dan Misi Perusahaan
Visi: -Menjadi suatu brand ice cream kreatif (menggabungkan food dan sains) yang berasal dari Indonesia
Misi: -Menciptakan enterprenuer muda sebanyak mungkin
-Memperkenalkan molecular gastronomi adalah zat kimia yang bisa diolah menjadi makanan dan tidak berbahaya bagi tubuh.
3.1.3. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi suatu organisasi, dengan adanya struktur organisasi dapat menciptakan bayangan kesuksesan dan bentuk bisnis dimasa mendatang dalam perusahaan. Kemudian dengan struktur organisasi terdapat pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas antar masing- masing karyawan, berikut merupakan struktur organisasi dari Ron’s Laboratory.
31
Universitas Kristen Petra
Gambar: 3.3. Struktur Organisasi Perusahaan Sumber: Data Primer Ron’s Laboratory
32
Universitas Kristen Petra
Adapun tugas dan tanggung jawab dari masing-masing divisi adalah sebagai berikiut:
1. Komisaris
- Mengawasi kerja Direktur, Operasional manager, Finance, HRD, audit, RnD, dan Maketing.
- Memantau naik turun sales dan meminta report (mengapa sales bisa sampai turun)
2. Direktur
- Mengatur cash flow dan manajemen asset - Mengawasi jalannya operasional
3. Operasional Manager (OM)
- Mengawasi operasional berjalan baik
- Driving sales dengan promo yang sudah dibicarakan dengan team marketing
- Memastikan semua SOP dijalankan dengan semaksimal mugkin 4. Area manager (AM)
- Mengkoordinir outlet berdasarkan wilayah - Memastikan outlet diareanya berjalan lancer
- Menjebatani antara outlet dengan operational manager 5. Assistant Manager (sering di sebut Store Manger (SM))
- Melaporkan ke Area Manager tentang forecast store.
6. Supervisor (SPV)
- Mengatur operasional
- Melaporkan laporan ke Store Manager untuk target penjualan mereka (yang telah ditentukan)
- Melakukan forecast store
7. Crew ft/pt (sering juga disebut para scientist) - Membuat gelato
- Melayani penjualan di store - Membersihkan store
33
Universitas Kristen Petra
8. Head of kitchen
- Bertanggung jawab terhadap seluruh proses produksi di kitchen - Menangani proses pengelolahan menu baru
- Bertanggung jawab memberikan instruksi sesuai standar kepada chef du party
- Bertanggung jawab pada kondisi barang yang diolah sebelum barang tersebut didistribusikan ke retail
9. Chef du party (sering disebut juga crew)
- Bertugas melaksanakan proses produksi setiap ada pemesanan dari retail - Menjaga kebersihan seluruh area produksi dan alat-alat produksi
- Bertanggung jawab pada stock barang-barang produksi 10. Driver
- Bertanggung jawab terhadap proses pendistribusian barang dari manufaktur ke retail
- Menjaga kebersihan alat angkut untuk pendistribusian barang - Bertanggung jawab pada pendistribusian N2 dari supplier ke retail 11. Finance
- Mengatur keuangan 12. Purchasing
- Bekerja sama dengan vendor,
- Dealing (mencari kesepakatan harga) sama vendor - Pemesan di saat stock barang menipis
- forecast barang untuk beberapa waktu kedepan 13. Book keeping
- Mencatat segala keluar masuk keuangan 14. HRD
- Rekrutment
- Akumulasi absensi - Pemberentian karyawan
34
Universitas Kristen Petra
15. Audit
- Menilai kinerja outlet
- Menghitung pemakaian barang setiap bulan - Menganalisa setiap masalah
16. Research and Development (RnD) - Research rasa baru
17. Marketing
- Membantu memperkenalkan produk ke konsumen
- Memberikan informasi mengenai promo atau event dan peluncuran produk baru yang dilakukan Ron’s Laboratory
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kausal karena bertujuan untuk memperoleh suatu kesimpulan dari hubungan sebab akibat antara variabel – variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Hubungan sebab akibat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap pengaruh experiential marketing dan customer satisfaction terhadap repurchase intention Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana dalam penelitian ini dapat memberikan gambaran pengaruh experiential marketing dan customer satisfaction terhadap repurchase intention pada Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya. Dan juga pendekatan kuantitatif menekankan pada keluasan informasi, sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas, sehingga data atau hasil riset dianggap merupakan representasi dari seluruh populasi” (Sugiyono, 2005, p.7).
3.3. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel 3.3.1. Populasi
Menurut Burhan Bungin (2006, p.99) Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala,
35
Universitas Kristen Petra
nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian Populasi adalah gabungan seluruh elemen, yang memiliki serangkaian karakteristik serupa, yang mencakup semesta untuk kepentingan masalah riset pemasaran (Maholtra 2005, p.86). Sedangkan Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yangditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. 2005 : 90). Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya yang pernah membeli dan mengkonsumsi produk, merasakan suasana , dan mendapatkan pelayanan di Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya.
3.3.2.Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono 2008, p56). Kesimpulan yang ditarik dari populasi dapat digeneralisasikan kepada seluruh populasi dengan kata lain kesimpulan yang dilakukan karena pengambilan sampel dimaksud adalah untuk mewakili seluruh populasi (Burhan Bungin, 2006, p.101) Sampel dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah membeli dan mengkonsumsi produk di Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya dalam tiga bulan terakhir lebih dari sekali. Dimana para konsumen tersebut telah berumur diatas 17 tahun yang menurut para peneliti dapat menjawab pertanyaan kuisioner dengan baik dan benar.
3.3.3.Teknik Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling.
“Non probability sampling yaitu teknik sampling yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel”. Non probability sampling ini terdiri dari sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, snowball sampling (Sugiyono, 2010, p.121). Jenis non probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Menurut Sugiono (2010, p.122), “Purposive sampling adalah
36
Universitas Kristen Petra
teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”. Konsumen yang sudah beberapa kali datang ke Restoran tersebut. Dalam penelitian ini, responden yang diambil sebanyak 74 orang dalam penelitian ini. Hal ini disesuaikan dengan teori Green (1991), untuk mengetahui jumlah sampel untuk penelitian regresi, dapat menggunakan rumus 50+8n, dimana n adalah jumlah variabel. Dalam penelitian ini terdapat 3 variabel (Customer Relationship Management, Customer Satisfaction dan Customer Loyalty), maka dari itu dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut :
jumlah sampel = 50 + 8 (n)
= 50 + 8 (3)
= 50 + 24
= 74
Jadi jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 74 responden. Namun untuk mengantisipasi adanya kuisioner yang kurang valid dan tidak dapat digunakan dalam penelitian ini maka jumlah kuisioner di tambah sebesar 10% sehingga berjumlah 80 kuisioner.
3.4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Jenis data dibedakan berdasarkan sumber data. Menurut Bougi dan Sekaran (2010) data dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Data Primer
Data primer, adalah data yang diperoleh dengan survey lapangan yang menggunakan metode pengumpulan data original (Kuncoro, 2003, p.127).
Yang dimaksudkan data primer dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari responden melalui penyebaran kuisioner mengenai experiential marketing, customer satisfaction dan repurchase intention.
37
Universitas Kristen Petra
2. Data Sekunder
Data sekunder, adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data (Kuncoro, 2003, p.127).
Yang dimaksudkan data sekunder dalam penelitian ini data sekunder yang digunakan oleh penulis adalah buku-buku, internet, jurnal dan lain-lain.
3.5 . Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2012 : 308) ,”teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.” Senada dengan Sugiyono,Juliansyah Noor (2011:138) mengatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan cara pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Penulis melakukan pengumpulan data dengan cara penelitian di lapangan untuk mendapatkan data-data yang menunjang penelitian. Dimana penelitian ini mendatangi langsung tempat yang ingin dibahas guna memperoleh data-data yang berkaitan. Pengambilan data dilakukan dengan mengisi pertanyaan data-data primer dari responden mengenai experiential marketing, customer satisfaction dan repurchase intention yang dibuat dengan sedemikian rupa hingga responden di beri batas dalam menjawab beberapa alternative jawaban saja atau salah satu jawaban saja. Kuesioner ini nantinya akan disebarkan kepada konsumen di Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya dengan kriteria berusia 17 tahun keatas dan yang berkunjung lebih dari sekali dalam tiga bulan terakhir.
3.6. Skala Pengukuran
Pada format kuisioner nantinya dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian (A) bersifat umum yang berkaitan langsung dengan data pribadi responden, sedangkan bagian (B) merupakan pertanyaan mengenai experiential marketing, customer satisfaction, dan repurchase intention.
Pengukuran kuisioner ini menggunakan skala linkert yang berhubungan dengan penilaian seseorang. Peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan positif yang dapat dijawab sesuai dengan jawaban yang telah ditentukan. Jawaban kuisioner ini ada 5
38
Universitas Kristen Petra
macam yaitu:
Sangat Tidak Setuju (STS) = Skor 1 Tidak Setuju (TS) = Skor 2
Netral (N) = Skor 3
Setuju (S) = Skor 4
Sangat Setuju (SS) = Skor 5
3.7. Variabel dan Operational Variabel
Variabel penelitian adalah suatu atibut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012, p.58). Di dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diteliti yaitu:
1. Variabel Eksogen (X) yaitu variabel yang dimanipulasi oleh peneliti dan mempunyai efek yang diukur dan dibandingkan. (Malhotra, 2004, p.207).
Variabel eksogen ditunjukan dengan adanya anak panah yang berasal dari variabel tersebut menuju ke variabel endogen (Santoso, 2012, p.9). Variabel eksogen dalam penelitian ini diantaranya adalah :
a. Sense expereince(X1)
Adalah usaha penciptaan pengalaman yang berkaitan dengan panca indra melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa dan bau. Indikator dari sense experience adalah:
X1.1: Desain dan Layout Ron’s Laboratory Menarik. . X1.2: Ruangan Ron’s Laboratory bersih.
X1.3: Musik yang diputar sudah tepat dalam menemani konsumen saat menikmati gelato atau minuman.
X1.4: Cita rasa minuman yang disajikan sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.
X1.5: Penataan ruang Ron’s Laboratory selalu terlihat rapi
39
Universitas Kristen Petra
b. Feel experience (X2)
Adalah usaha penciptaan pengalaman dengan menyentuh emosional konsumen Indikator dari feel experience adalah:
X2.1: Pelayanan yang diberikan oleh karyawan Ron’s Laboratory cepat.
X2.2: Pelayanan yang diberikan oleh karyawan Ron’s Laboratory tepat.
X2.3: Saya merasa nyaman di dalam toko.
X2.4: Karyawan Ron’s Laboratory sopan X2.5: Karyawan Ron’s Laboratory ramah
X2.6: Karyawan Ron’s Laboratory tanggap dalam memberikan informasi
c. Think experience (X3)
Adalah usaha penciptaan pengalaman yang berkaitan dengan rangsangan kreatifitas dan rasional. Indikator dari think experience adalah :
X3.1: Menurut pengalaman saya karyawan Ron’s Laboratory menawarkan produk baru
X3.2: Menurut pengalaman saya karyawan Ron’s Laboratory menawarkan produk yang favourite
X3.3: Menurut pengalaman saya Ron’s Laboratory memberi kesempatan kepada saya untuk mengeluarkan ide dalam hal pembuatan gelato baru
X3.4: Menurut pengalaman saya harga yang ditawarkan dengan kualitas produk yang saya dapatkan sesuai
d. Relate experience (X4)
Gabungan dari keempat aspek Experiential Marketing, yaitu: sense, feel, think dan act. Pengalaman identitas sosial ditunjukkan melalui hubungan dengan orang lain, kelompok lain pada penciptaan persepsi positif dimata konsumen.
Indikator dari relate experience adalah :
X4.1: Menurut pengalaman saya Ron’s laboratory mampu mencerminkan gaya hidup yang berstatus social menengah atas
40
Universitas Kristen Petra
X4.2: Saya membeli produk dari Ron’s Laboratory atas rekomendasi dari orang lain X4.3: Saya akan merekomendasikan Ron’s Laboratory kepada orang lain
X4.4: Menurut pengalaman saya Ron’s Laboratory memberikan pengalaman yang baik
e. Act experience (X5)
Adalah usaha penciptaan pengalaman yang berkaitan dengan gaya hidup dan image yang dibentuk. Indikator dari act experience adalah :
X5.1: Saya mendapatkan tanggapan positif saat menceritakan Ron’s laboratory
X5.2: Menurut pengalaman saya image Ron’s laboratory dapat meningkatkan prestice X5.3: Ron’s Laboratory memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat
2. Variable Intervening
Variabel Intervening yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel eksogen dan dapat mempengaruhi variabel endogen. Customer satisfaction (Y1) merupakan variabel intervening dalam penelitian ini. Indikator yang digunakan dalam variabel ini adalah sebagai berikut:
Y.1.1: Sesuai dengan iklan dan promosi yang sedang dilakukan Saya merasa puas terhadap produk yang ditawarkan Ron’s Laboratory
Y.1.2: Secara keseluruhan saya merasa puas saat melakukan pembelian di Ron’s Laboratory
3. Variabel Endogen
Menurut Sugiyono (2012) variable endogen bisa disebut juga variabel terikat yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (p.59).
Variabel endogen dalam penelitian ini adalah repurchase intention yang merupakan respon positif atas tindakan masa lalu sehingga terjadi penguatan niat yang akan memungkinkan konsumen tersebut untuk melakukan pembelian secara berulang produk Ron’s Laboratory. Indikator yang digunakan dalam variabel ini adalah sebagai berikut:
Y.2.1: Saya berminat untuk membeli gelato di Ron’s Laboratory di kemudian hari
41
Universitas Kristen Petra
Y.2.2: Saya akan kembali untuk mencoba gelato varian baru di Ron’s Laboratory di kemudian hari
3.8. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh experiential marketing dan customer satisfaction terhadap repurchase intention konsumen Ron’s Laboratory Ciputra World Surabaya. Model analisis yang digunakan adalah SEM (Structural Equation Modeling).
3.8.1. GSCA (Generalized Structured Component Analysis)
Generalized structured component analysis (GSCA) dikembangkan oleh Heungsun Hwang, Hec Montreal dan Yoshino Takane pada tahun 2004. Tujuannya adalah menggantikan faktor dengan kombinasi linier dari indikator (variabel manifes) didalam analisis SEM. Pendekatan analisis ini menggunakan metode kuadrat terkecil (least square) didalam proses pendugaan parameter. GSCA dikembangkan untuk menghindari kekurangan dari PLS (Partial Least Square), yaitu dilengkapi dengan prosedur optimalisasi global, dan juga tetap mempertahankan prosedur optimalisasi lokal (seperti pada PLS) (Hwang and Takane, 2015). Metode GSCA juga dapat diterapkan pada hubungan antar variabel yang kompleks (bisa rekursif dan tidak rekursif), melibatkan higher-order komponen (faktor) dan perbandingan multi-group.
Tenenhaus (2008) mengatakan bahwa GSCA adalah metode baru SEM berbasis komponen, sangat penting dan dapat digunakan untuk perhitungan skor (bukan skala) dan juga dapat diterapkan pada sampel yang sangat kecil. Di samping itu, GCSA dapat digunakan pada model struktural yang melibatkan variabel dengan indikator reflektif dan atau normatif.
3.8.2. Langkah – Langkah GCSA
Ada 7 langkah dalam melakukan analisis data GSCA yaitu:
1. Merancang Model Structural (hubungan antar variabel laten) 2. Merancang Model Pengukuran
42
Universitas Kristen Petra
3. Mengkonstruksi diagram Jalur
4. Konversi Diagram Jalur ke Dalam Sistem Pemasaran 5. Pendugaan Parameter
6. Measure of Fit 7. Pengujian Hipotesis
Merancang Model Structural (hubungan antar variabel laten)
Perancangan model struvtural hubungan antar variabel laten pada GCSA didasarkan pada rumusan masalah atau hipotesis penelitian. Pada SEM perancangan model adalah berbasis teori, akan tetapi pada GSCA rujukan hubungan antar variabel bisa berupa :
a) Normatif finalitas (kitab suci).
b) Teori, kalau sudah ada.
c) Hasil penelitian empiris.
d) Analogi, hubungan antar variabel pada ilmu yang lain.
e) Normatif nonfinalitas, misal peraturan pemerintah, undang-undang, dan lain sebagainya.
f) Rasional.
Oleh karena itu, pada GSCA dimungkinkan melakukan eksplorasi hubungan antar variabel laten, sehingga sebagai dasar perancangan model struktural bisa rasional yang tertuang dalam premis-premis, sehingga hubungan antar variabel yang akan diuji adalah berupa proposisi.
Merancang Model Pengukuran
Jika pada SEM perancangan model pengukuran hanya merujuk pada definisi operasional variabel, sesuai dengan proses perancangan instrumen penelitian. Model indikator di dalam SEM semua bersifat refleksif, sehingga perancangan model pengukuran jarang dibicarakan
Di sisi lain, pada GSCA (seperti pada PLS) perancangan model pengukuran menjadi sangat penting, yaitu terkait dengan apakah indikator bersifat refleksif atau
43
Universitas Kristen Petra
formatif. Kesalahan dalam menentukan model pengukuran akan bersifat serius, yaitu memberikan hasil analisis yang bias.
Dasar yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk menentukan sifat indikator apakah refleksif atau formatif adalah : normative finalitas, teori, penelitian empiris sebelumnya, atau kalau belum ada adalah rasional. Pada tahap awal penerapan GSCA (seperti pada PLS), tampaknya rujukan berupa teori atau penelitian empiris sebelumnya masih jarang, atau bahkan belum ada. Olegh karena itu, dengan merujuk pada definisi konseptual dan definisi operasional variabel, diharapkan sekaligus dapat dilakukan identifikasi sifat indikatornya, bersifat refleksif atau formatif.
Mengkonstruksi diagram Jalur
Konversi Diagram Jalur ke Dalam Sistem Pemasaran
a) Spesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikatornya, disebut juga dengan meausrement model, mendefinisikan karakteristik variabel laten dengan indikatornya.
Model indikator refleksif dapat ditulis persamaannya sebagai berikut : x = 𝛬𝑥 + 𝜀𝑥
y = 𝛬𝑥 + 𝜀𝑦
dimana X dan Y adalah indikator untuk variabel laten eksogen () dan endgen ().
Sedangkan 𝛬𝑥 dan 𝛬𝑦 merupakan matriks loading yang emnggambarkan seperti koefisien regresi sederhana yang menghubungkan variabel laten dengan indikatornya.
Residual yang diukue dengan 𝜀𝑥 dan 𝜀𝑦 dapat di interprestasikan sebagai kesalahan pengukuran atau noise.
Model indikator formatif persamaannya dapat ditulis sebagai berikut : = 𝑋𝑖 + 𝜎𝑥
= 𝑌𝑖 + 𝜎𝑦
dimana , , X, Y sama dengan persamaan sebelumnya. 𝑥 dan 𝑦 adalah seperti
44
Universitas Kristen Petra
koefisien regresi berganda dari variabel laten terhadap indikator, sedangkan 𝜎𝑥 dan 𝜎𝑦 adalah residual dari regresi.
b) Spesifikasi hubungan antar variabel laten (structural model), yaitu menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan teori substantif penelitian. Tanpa kehilangan sifat umumnya, diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau variabel manifest di standardize-kan, sehingga konstanta =0 dan dapat dihilangkan dari model.
Model persamaanya dapat ditulis sebagai berikut : = 𝛽 + +
dimana menggambarkan vektor variabel endogen (dependen), adalah vektor variabel laten eksogen dan adalah vektor residual (unexplained variance). Oleh karena PLS didesain untuk model rekursif, maka hubungan antar variabel laten, berlaku bahwa setiap variabel laten dependen , atau sering disebut causal chain system dari variabel laten dapat dispesifikasikan sebagai berikut :
𝑖 = 𝑖 𝛽𝑗𝑖 𝑖 +𝑖𝛾𝑗𝑏𝑏+𝑗
dimana 𝛾𝑗𝑏(dalam bentuk matriks dilambangkan dengan ) adalah koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen () dengan eksogen (). Sedangkan 𝛽𝑗𝑖 (dalam bentuk matriks dilambangkan dengan 𝛽) adalah koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen () dengan endogen () :; untuk range indeks i dan b. Parameter
𝑗 adalah residual.
Pendugaan Parameter
Metode pendugaan parameter (estimasi) di dalam GSCA adalah metode kuadrat terkecil (least square methods). Pada GSCA model struktural dan model pengukuran diintegrasikan menjadi satu model, sehingga proses pendugaan parameter berorientasi pada meminimumkan residual model terintegrasi. Metode pendugaan parameter yang
45
Universitas Kristen Petra
digunakan yang mampu meminimumkan residual model secara terintegrasi adalah Alternating Least Square-ALS (Hwang, 2009).
Proses perhitungan pada ALS adalah kompleks, yaitu tidak sederhana seperti pada Ordinary Least - OLS. Oleh karena itu, didalam proses mendapatkan residual yang minimum dilakukan dengan cara iterasi. Dimana iterasi akan berhenti jika telah tercapai kondisi konvergen, misalnya selisih dugaan dengan tahap sebelumnya ≤ 0,001.
Pendugaan parameter dalam GSCA meliputi : a). Berdasarkan data sampel original
1) Weight dan Loading estimate adalah untuk mendapatkan data variabel laten, umumnya pendugaan parameter menggunakan pendekatan eigen value dan eigen vector.
2) Path coefficient estimate yaitu koefisien hubungan antar variabel laten, digunakan ALS.
b). Berdasarkan data resampling (sampel bootstrap)
1) Means dari Weight, Loading dan Path coefficient, yaitu dugaan parameter berupa rerata dari subsampel, digunakan metode resampling Bootstrap.
Measure of Fit
Pada analisis GSCA measure of fit dapat dilakukan pada model pengukuran, model struktural, dan model keseluruhan (overall model). Measure of fit pada model pengukuran bertujuan untuk memeriksa (menguji) apakah instrumen penelitian valid dan reliabel. Measure of fit pada model struktural bertujuan untuk mengetahui seberapa besar informasi yang dapat dijelaskan oleh model struktural (hubungan antar variabel katen) hasil analisis GSCA. Sedangkan measure of fit pada model keseluruhan (overall model) adalah ukuran goodness of fit gabungan antara model pengukuran dan model struktiral, hal ini dapat dilakukan pada overall model yang semua variabel memiliki indikatpr bersifat refleksif.
46
Universitas Kristen Petra
a) Measure of fit measurement model
Outer model, bilamanan indikatpr refleksif, maka diperlukan evaluasi beru[a kalibrasi instrumen, yaitu dengan pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen. Oleh karena itu, penerapan GSCA pada data hasil uji coba (try out) pada prinsipnya adalah suatu kegiatan kalibrasi instrumen penelitian, yaitu pelaksanaan uji validitas dan reliabilitas.
Dengan kata lain, GSCA dapat digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas intrumen penelitian, seperti halnya PLS dan SEM.
Discriminant validity
Validitas ini pada indikator refleksif berdasarkan pada nila AVE, yaitu membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setaip variabel laten dengan korelasi antar variabel laten lainnya dalam model, jika square root of average variance extracted (AVE) variabel laten lebvih besar dari korellasi dengan seluruh variabel laten lainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik.
𝐴𝑉𝐸 = ∑ ∑𝑖2
𝑖2 + 𝑖 𝑉𝑎𝑟 (𝜀𝑖 )
Internal concistensy reliability
Kelompok indikator yang mengukur sebuah variabel memiliki realiabilitas internal konsistensi yang baik jika memiliki alpha ≥ 0.6, walaupun bukan merupakan standar absolut.
Pada indikator formatif ukuran validitas dievaluasi berdasrakan pada subtantive content-nya, yaitu dengan melihat dari weight, jika signifikan ( p 0,05) berarti valid.
47
Universitas Kristen Petra
b) Measure of fit structural model
Goodness of Fit Model strukrural diukur menggunakan FIT, yaitu setara dengan R- square pada analisis regresi atau koefisien determinasi total pada analisis jalur atau 𝑄2 pada PLS.
FIT menunjukkan varian total dari semua variabel yang dapat dijelaskan oleh model struktural. Nilai FIT berkisar daro 0 sampai 1, semakin besar nilai inim, semakin besar proporsi varian variabel yang dapat dijelaskan oleh model. Jika nilai FIT =1 berarti model secara sempurna dapat menjelaskan fenomena yang diselidiki.
AFIT (Adjusted FIT) serupa dengan 𝑅2 adjusted pada analisis regresi. AFIT dapat digunakan untuk perbandingan model. Model dengan AFIT nilai terbesar dapat dipilih antara model yang lebih baik.
c) Measure of fit overall model
Overall Model adalah model di dalam GSCA yang me;ibatkan model struktural dan model pengukuran secara terintegrasi, jadi merupakan keseluruhan model. Beberapa pemeriksaan goodness- of-fit model overall disertai nilai cut-off diberikan pada tabel berikut :
Tabel: 3.1. Ukuran Goodness of fit Model Overall pada GSCA
Tabel tersebut dikembangkan dari GeSCA User’s manual : GFI dan SRMR (standardized root mean square residual), both are proportional to the difference between the sample convariancesand the covariances reproduced by the parameter estimates of generalized structured component analysis. The GFI values close to I and
Setara dengan RMSEA pada SEM
Goodness of SMFR fit
GFI
Cut - off
≤ 0.08
≥ 0.90
Keterangan
Mirip dengan 𝑅2dalam regresi
48
Universitas Kristen Petra
the SRMR values close to 0 may be taken as indicative of good fit. For example, SRMR
≤ .08 is indicative of an acceptable model fit.
Tabel: 3.2. Kriteria SRMR
Tabel 3.2 Kriteria SRMR
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis (𝛽, 𝛾, ) dilakukan dengan metode resampling Bootstrap.
Statistik uji yang digunakan adalah statistik t atau uji t, dengan hipotesis statistik sebagai berikut :
Hipotesis statistik untuk outer model adalah : 𝐻0 : 𝑖 = 0 lawan
𝐻𝑖 : 𝑖 ≠ 0
Sedangkan hipotesis statistik untuk inner model : pengaruh variabel laten eksogen terhadap endogen adalah :
𝐻0 : 𝛾𝑖 = 0 lawan 𝐻𝑖 : 𝛾𝑖 ≠ 0
Sedangkan hipotesis statistik untuk inner model : pengaruh variabel laten endogen terhadap endogen adalah :
𝐻0 : 𝛽𝑖 = 0 lawan 𝐻𝑖 : 𝛽𝑖 ≠ 0
Close fit (model sangat sesuai) SRMR
0.05 0.05 – 0.08
Keterangan
Good fit (model sesuai) 0.08 – 0.1 Marginal fit (model cukup sesuai)
0.1 Poor fit (model tidak sesuai)
49
Universitas Kristen Petra
Sampel bootstrap disarankan sebesar 100, hal ini didasarkan beberapa kajian yang ada pada berbagai literature, bahwa dengan sampel bootstrap 100 sudah dihasilkan penduga parameter yang bersifat stabil. Sedangkan besar sampel pada masing-masing sampel bootstrap disarankan lebih kecil atau sama dengan sampel orisinal, hal ini akan menghasilkan penduga parameter yang bersifat stabil.
Resampling yang dilakukan akan menjamin indepensi antar data yang akan dianalisis, sehingga asumsi tentang antar data saling bebas terpenuhi. Dengan demikian metode ini mengakomodir digunakannya nonprobability sampling atau penelitian sensus. Di samping itu itu, dengan sampel bootstrap 1000 maka Dalil Limit Pusat terpenuhi. Dalil ini, secara definisi bebas, berbunyi bilamana sampel semakin besar (banyak pendapat > 30) maka statistik yang diperoleh akan mendekati sitribusi normal.
Dengan demikian tidak diperlukan lagi asumsi normalitas data, walaupun di dalam Dalil Limit Pusat yang berdistribusi normal adalah statistiknya dan bukan datanya. Hal ini sering diperluas dengan istilah statistik bebas sebaran (ditribusi).
Terdapat beberapa metode resampling, sebelum bootstrap dikembangkan ada metode resampling yang telah dikembangkan, yaitu metode jacknife. Keduanya adalah sama-sama metode resampling, yang kedudukannya adalah sama. Resampling dilakukan secara random dengan menggunakan bilangan random, sehingga pengulangan running kemungkinannya sangat besar akan menghasilkan output yang berbeda. Data dan model yang sama dianalisis pada waktu yang sama dengan komputer yang berbeda, sudah hampir dapat dipastikan hasilnya berbeda. Demikian juga, data dan model yang sama dianalisis dengan komputer yang sama, pada waktu yang berbeda juga hampir dapat dipastikan menghasilkan output yang berbeda.
3.8.3. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data secara deskriptif yang memuat tentang jawaban-jawaban responden. Statistik deskriptif digunakan untuk secara dingkat menyimpulkan hasil dari survey yang telah didapat selama penelitian.