• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Penyajian Data Hasil Penelitian

1. Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS)

FISIP UNS berdiri bersama dengan Universitas Sebelas Maret pada tahun 1976 dengan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1976 Tentang Pendirian Universitas Negeri Surakarta, Sebelas Maret, pada tanggal 8 Maret 1976.

FISIP, dahulu bernama Fakultas Sosial Politik, merupakan satu dari sembilan fakultas yang berdiri pada waktu itu. Diantaranya adalah: (1) Fakultas Ilmu Pendidikan; (2) Fakultas Keguruan; (3) Fakultas Sastra Budaya; (4) Fakultas Sosial Politik; (5) Fakultas Hukum; (6) Fakultas Ekonomi; (7) Fakultas Kedokteran; (8) Fakultas Pertanian; (9) Fakultas Teknik

Saat pertama kali berdiri, FISIP UNS hanya mempunyai dua program studi, diantaranya Administrasi Publik dan Publisistik. Pada tahun 1982, berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 192 Tentang Susunan Organisasi Universitas Sebelas Maret, nama Fakultas Sosial Politik berubah menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret. Pada 14 Maret 1983, berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud Republik Indonesia Nomor 017/0/1983, terdapat perubahan nama program studi menjadi Ilmu Administrasi dan Ilmu Komunikasi.

Dengan Surat Keputusan Mendikbud Republik Indonesia Nomor 055/0/1983 tanggal 8 Desember 1983 tentang “Jenis dan Jumlah Fakultas di Lingkungan Universitas Sebelas Maret”, FISIP UNS menambah satu pelajaran baru, yaitu Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Dosen Program Studi (Prodi) di lingkungan Universitas Sebelas Maret dan berada di bawah tim MKDU Universitas Sebelas Maret.

commit to user

(2)

Pada tanggal 29 Mei 1986, FISIP UNS membuka program studi Sosiologi berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27/Dikti/Kep./1986.

Sosiologi mengawali perkuliahannya pada semester Juli-Desember 1986. Lalu dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66/Dikti/Kep./1998, pada tanggal 2 Maret 1998, Program Studi Sosiologi menjadi Jurusan Sosiologi yang merupakan Program Sarjana (S1) dan berada di bawah Dekan.

Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud RI Nomor 222/dikti/Kep./1996 Tentang Program Studi pada Program Sarjana di Lingkungan Universitas Sebelas Maret dilakukan penataan terhadap jenis dan jumlah program studi di berbagai bidang di UNS. Program Studi pada Jurusan Ilmu Administrasi dan Jurusan Ilmu Komunikasi masing-masing adalah Ilmu Administrasi Publik, Ilmu Komunikasi dan Sosiologi.

Juli 2013, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 257/E/O/2012 tentang Penyelenggaraan Program Studi Internasional (S-1) pada Universitas Sebelas Maret di Surakarta secara resmi berdirilah Jurusan Program Studi Hubungan Internasional di FISIP UNS.

Berdirinya program studi Hubungan Internasional menggenapi empat program studi di FISIP UNS. Yaitu Ilmu Administrasi Publik, Ilmu Komunikasi, Sosiologi, dan Hubungan Internasional.

Berdasarkan Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2014 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Sebelas Maret, nama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik diubah menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Pada awal berdirinya FISIP UNS, sistem penyelenggaraan pendidikan adalah Sistem Kenaikan Tingkat (5 tahun), dengan mencetak satu tahun akademik menjadi 2 (dua) semester. Setiap akhir semester yang kedua (akhir tahun akademik), mahasiswa dievaluasi untuk menentukan apakah mahasiswa dapat commit to user

(3)

mengulang. Mahasiswa yang dua kali berturut-turut tidak naik tingkat dikenai DO (drop out).

Lingkungan UNS pertama kalinya memberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) pada tahun 1979. Sistem ini diatur dalam SK Rektor UNS Nomor 073/PT40/C/79 tanggal 2 Januari Tentang Peraturan Sistem Kredit dan Sistem Kenaikan Tingkat Universitas Sebelas Maret. Keputusan Rektor tersebut mengatur:

a. Menetapkan program Strata Satu (S1) berdasarkan SK Mendikbud Nomor 0124/U/1979 bagi mahasiswa tahun akademik 1979/1980 yang tidak naik tingkat. Sistem ini dikenal dengan Sistem Kredit Strata 8 (delapan)

b. Meningkat tetap berlakunya SK Rektor UNS Nomor 073/PT40/C/79 tentang Sistem Kredit bagi mahasiswa Tingkat II ke atas. Sistem ini dikenal dengan Sistem Kredit Non Strata 10 Semester

Memang tidak mudah bagi FISIP UNS untuk pindah dari satu sistem (Sistem Kenaikan Tingkat) ke sistem yang lain (Sistem Kredit) tanpa masa transisi yang sulit. Berbagai kesulitan dihadapi oleh FISIP UNS seperti peningkatan daya tampung siswa, peningkatan produktivitas, peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga pengajar, peningkatan kurikulum, dan lain-lain.

Seiring dengan berjalannya waktu, dualisme dalam sistem penyelenggaraan pendidikan ini dapat diakhiri sambil memantapkan diri dalam proses Sistem Kredit seperti dalam SK Mendikbud Nomor 0124/U/1979, dan peraturan lain dari Dirjen Dikti. Upaya pemantapan itu dapat dilihat dengan dikeluarkannya secara berturut- turut:

a. SK Rektor UNS Nomor 150/PT40/Q/1980 tentang Peraturan Sistem Kredit untuk Program Strata Satu (S1) Universitas Negeri Surakarta, Sebelas Maret b. SK Rektor UNS Nomor 80/PT40/I/1983 tentang Peraturan Sistem Kredit

Semester untuk Program Strata Satu (S1) Universitas Sebelas Maret

c. SK Rektor UNS Nomor 03/PT40/I/1987 tentang Peraturan Sistem Kredit Semester Universitas Sebelas Maret

commit to user

(4)

SK terakhir kemudian diperbaiki dengan SK Nomor 71/PT40.H/I?1990 tanggal 11 April 1990 yang berlaku surut mulai tanggal 11 November 1989 dan diperbaiki dengan SK Rektor Nomor 177/PT40.H/I/1992. Terlebih lagi SK diterbitkan dengan dikeluarkannya SK Rektor Nomor 123/J27/PP/98 tanggal 12 Mei 1998. Dengan ditetapkannya Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka SK Rektor Nomor 177/PT40.H/I/1992 tentang Peraturan Sistem Kredit Semester Universitas Sebelas Maret dan Nomor 177/PT.40.H./I/1992 tentang Sistem Pembelajaran dan Evaluasi Program Strata I (S-1) di lingkungan Universitas Sebelas Maret dengan SK Rektor Nomor 475/J27/PP/2005 tanggal 11 Agustus 2005 tentang Peraturan Sistem Kredit Semester Universitas Sebelas Maret. Juncto Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 669/H27/PP/2007 tanggal 11 Oktober 2007 tentang Perbaikan Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 459/H27/PP/2007 Tentang Peraturan Sistem Kredit Semester Universitas Sebelas Maret. Terakhir terbit Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 553/H27/PP/2009 tentang Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dalam Semester Sistem Kredit Universitas Sebelas Maret.

2. Visi, Misi dan Tujuan FISIP UNS a. Visi

Adapun visi dari FISIP UNS adalah sebagai berikut:

Menjadi pusat pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pemberdayaan Sumber Daya Insani di bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Unggul Berdasarkan Nilai-nilai Luhur Budaya Nasional.Menjadi pusat pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pemberdayaan Sumber Daya Insani di bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Unggul Berdasarkan Nilai-nilai Luhur Budaya Nasional.

b. Misi

Untuk mencpai visi yang dimilikinya, FISIP UNS mempunyai misi sebagai

berikut: commit to user

(5)

1) Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang memenuhi standar kompetensi bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

2) Menyelenggarakan riset untuk mendukung pengembangan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang mampu memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

3) Menyelenggarakan kegiatan pengabdian pada masyarakat untuk meningkatkan kecerdasan dan kemandirian masyarakat.

c. Tujuan

Adapun berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh FISIP UNS, yaitu:

1) Menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memenuhi standar kompetensi bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

2) Menghasilkan riset dan karya-karya akademik yang mendukung pengembangan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang mampu memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3) Menghasilkan karya-karya pengabdian pada masyarakat untuk meningkatkan kecerdasan dan kemandirian masyarakat.

4) Meningkatkan kerjasama dalam dan luar negeri yang saling memberdayakan untuk menguatkan penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

3. Kebijakan Pembelajaran Daring di Universitas Sebelas Maret

Kasus pertama Virus corona (Sars-Cov-2) di Indonesia terjadi pada 2 Maret 2020. Pada 11 Maret 2020, satu orang pasien dinyatakan meninggal karena COVID-19, tak lama setelah itu, Status KLB kota Solo ditetapkan pada tanggal 13 Maret 2020 oleh Walikota Solo, FX Rudyatmo. Menanggapi hal itu, Universitas Sebelas Maret mengeluarkan surat edaran yang menyatakan untuk setiap kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring. Surat pertama, yaitu Surat Edaran Rektor, Nomor: 1480/UN27/HK/2020 tentang Kewaspadaan Dini, Kesiapsiagaan Serta

commit to user

(6)

Tindakan Antisipasi Pencegahan Penyebaran Infeksi Covid-19 di Lingkungan Universitas Sebelas Maret pada tanggal 14 Maret 2020.

Pada tanggal 16 Maret 2020, dikeluarkan Surat Edaran Rektor Nomor 10/UN27/SE/2020 tentang Penyesuaian Layanan Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Virus Corona (COVID-19). Surat edaran ini merupakan hasil tindak lanjut dari Surat Edaran dari Sesjen Kemendikbud Nomor 36603/A.A5/OT/2020, Surat Edaran Biro SDM Kemendikbud Nomor 36604/A3/KP/2020, dan Surat Edaran Rektor Nomor 1480/UN27/HK/2020. Pada surat ini dijelaskan bahwa pelaksanaan bekerja dari rumah (work from home) mulai berlaku tanggal 17 Maret 2020 sampai tanggal 28 Maret 2020.

Pada tanggal yang sama, dikeluarkan juga Surat Edaran Nomor 11/UN27/SE/2020 tentang Pelaksanaan dan Monitoring Perkuliahan Daring (online) Tanggal 16-27 Maret 2020. Dalam surat ini, terdapat peraturan bahwa metode perkuliahan dalam jaringan (daring) dilakukan secara asinkron (interaksi dosen mahasiswa tidak dilakukan dalam waktu yang sama). Kuliah daring dilakukan tanpa harus hadir di kampus. Platform yang dapat digunakan diantaranya adalah SPADA/Skype/Zoom/Google Meet atau platform lainnya. Pertemuan daring dapat direkam dan diunggah ke laman OCW atau SPADA. Ketentuan SKS yaitu 1 SKS kuliah daring, setara dengan 50 menit jam kegiatan. Presensi secara daring juga dapat dilakukan melalui OCW atau aplikasi yang sudah tersedia.

Pada tanggal 26 Maret 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 13/UN27/SE/2020 tentang Kebijakna Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas di Kampus Universitas Sebelas Maret mulai tanggal 26 Maret s.d. 30 April 2020.

Ditanggal yang sama, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 14/UN27/SE/2020 tentang Penyesuaian Perkuliahan, Pembimbingan, Ujian Tengah Semester, Ujian Tugas Akhir, Magang, Skripsi, Tesis, dan Disertasi di Universitas Sebelas Maret.

Ketentuannya adalah sebagai berikut:

1. Perkuliahan dan Pembimbingan Tugas Akhir/Skripsi/Tesis/Disertasi commit to user

(7)

- Kuliah teori secara daring (online) diperpanjang sampai tanggal 30 April 2020, dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan pandemic COVID-19. Proses pembelajaran dapat dilakukan dengan metode asinkron atau sinkron.

- Universitas Sebelas Maret, menyediakan platform daring (online) pada ocw.uns.ac.id dan spada.uns.ac.id untuk membantu aktivitas perkuliahan. Namun, tidak menutup kemungkinan menggunakan platform lain dengan pertimbangan kemudahan, kepraktisan dan keterjangkauan akses oleh dosen dan mahasiswa.

- Presensi perkuliahan dilakukan pada sistem ocw.uns.ac.id atau dengan metode lain yang dianggap sesuai.

- Pembimbingan Seminar Proposal, Seminar Hasil, Magang, Tugas Akhir, Skripsi, tesis, dan Disertasi dapat dilakukan dengan metode daring (online) seperti teleconference, e-mail atau lainnya.

- Pemantauan kegiatan perkuliahan dan pembimbingan diatas, dapat ditentukan metodenya secara daring (online) oleh fakultas/pascasarjana/sekolah vokasi, agar terdokumentasi untuk kepentingan presensi dan perhitungan beban kinerja.

2. Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Tugas Akhir, Magang, Skripsi, Tesis dan Disertasi

- Ujian Tengah Semester dilakukan secara daring (online) dan presensinya menggunakan sistem ocw.uns.ac.id atau sistem lainnya yang sesuai.

- Seminar Proposal, Seminar Hasil Ujian Magang, Ujian Tugas Akhir, Ujian Skripsi, Ujian Tesis dan Ujian Disertasi (termasuk tahapannya) dilakukan secara daring (online) seperti teleconference sesuai dengan kebutuhan.

- Berita acara kegiatan tersebut disertai dengan bukti, disahkan secara daring dengan format yang telah ditetapkan oleh fakultas /pascasarjana/sekolah vokasi. commit to user

(8)

- Pendaftaran Ujian Tugas Akhir, Magang, Skripsi, Tesis, dan Disertasi diatur dan disesuaikan oleh masing-masing fakultas/pascasarjana/sekolah vokasi dan disediakan sistem siakad.uns.ac.id yang disertai petunjuk teknis.

- Metode pelaksanaan ujian, evaluasi dan pemantauannya diatur lebih lanjut secara daring (online) oleh masing-masing fakultas/pascasarjana/sekolah vokasi dan unit, dengan mempertimbangkan aspek kekhususan, kepraktisan, dan kemudahan.

3. Kuliah Praktik dan Magang

- Pembelajaran mata kuliah praktik yang dapat diakomodasi secara daring, maka plelaksanaannya menggunakan metode daring (teleconference) sebagaimana yang tercantum pada poin B.

- Apabila mata kuliah prakti tersebut tidak dapat dilakukan secara daring, maka pelaksanaannya dijadwalkan pada bulan Juni-Agustus 2020 atau melihat perkembangan.

- Mahasiswa yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL), magang, atau kegiatan pembelajaran lainnya di perusahaan atau instalasi di luar UNS, harus mengikuti peraturan perusahaan/instansi dimana kegiatan tersebut dilakukan.

- Pelaksanaan PKL atau magang bagi Diploma 3 atau Diploma 4 dapat digantikan dengan pelatihan atau kegiatan lain yang sesuai dengan capaian pembelajaran (CP) PKL atau magang.

Pada tanggal 1 April 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 17/UN27/SE/20 tentang Bantuan Paket Data Internet Untuk Pembelajaran Daring Mahasiswa program Diploma, Sarjana, Magister dan Program Doktor Universitas Sebelas Maret. Dalam surat ini dijelaskan tentang kebijakan bantuan paket data internet bagi seluruh mahasiswa aktif jenjang program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor Semester Februari/Juli 2020 untuk mendukung proses pembelajaran

commit to user

(9)

daring. Bantuan paket data internet diberikan sebesar 10 GB per mahasiswa mulai bulan April sampai dengan diterbitkannya ketentuan yang baru.

Pada 3 April 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 20/UN27/SE/2020 tentang Prosedur Pelaksanaan Kuliah Daring (Online). Terdapat beberapa ketentuan pengaturan perkuliahan daring (online), sebagai berikut:

1. Perkuliahan daring dilakukan secara synchronous (langsung) atau asynchronous (tidak langsung).

2. Perkuliahan daring dilakukan sesuai dengan jadwal kuliah atau dengan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa.

3. Komponen perkuliahan mengikuti SN DIKTI dimana setiap SKS terdiri dari tatap muka secara daring, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.

4. Pelaksanaan kuliah dilakukan dengan cara sebagai berikut (contoh mata kuliah 2 SKS):

a. 30 menit pertama, mahasiswa mempelajari materi kuliah (PPT) atau sumber bahan beajar lain yang sudah dikirimkan ke SPADA, WAG, atau media lain dan membuat catatan yang diperlukan secara asynchronous.

b. 30-40 menit kedua, dosen menjelaskan dan membahas materi kuliah secara langsung dengan tatap muka (synchronous) dengan menggunakan media yang telah disepakati bersama antara dosen dan mahasiswa.

c. 30 menit ketiga, diskusi dilanjutkan secara asynchronous melalui SPADA, WAG, atau media lainnya.

5. Dosen memberikan sumber bahan belajar melalui tautan laman artikel dalam jurnal, catatan kuliah, buku, e-book, video, dan lainnya.

6. Format tugas terstruktur dan kegiatan mandiri diberikan secara proporsional sesuai dengan materi kuliah.

7. Prosedur pelaksanaan perkuliahan daring, penilaian dan BAP terdapat pada lampiran.

commit to user

(10)

Pada 20 April 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 25/UN27/SE/2020 tentang Kebijakan Rektor Tentang Langkah-langkah Penanganan Kegiatan Akademik Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020. Pada surat ini dijelaskan bahwa perkuliahan daring disemester genap tahun ajaran 2019/2020 dilaksanakan sampai dengan tanggal 22 Mei 2020.

Pada 29 April 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 30/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Di Kampus Universitas Sebelas Maret. Pada surat ini dijelaskan perpanjangan pembatasan aktivitas di kampus mulai tanggal 1 s.d. 29 Mei 2020. Perpanjangan ini dilanjutkan dari tanggal 30 Mei s.d. 15 Juni 2020, kebijakan ini dijelaskan pada Surat Edaran Nomor 37/UN27/SE/2020 yang dikeluarkan pada tanggal 29 Mei 2020. Lalu, pada 15 Juni 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 40/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Di Kampus Universitas Sebelas Maret.

Dijelaskan perpanjangan berlangsung dari tanggal 16 Juni s.d. 30 Juni 2020.

Pada tanggal 25 Juni 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 42/UN27/SE/2020 tentang Pelaksanaan Aktivitas Akademik Universitas Sebelas Maret Dalam Tatanan Normal Baru Pada Semester Gasal 2020/2021. Pada surat ini dijelaskan kebijakan pelonggaran pembatasan maksimal kegiatan kampus, terdapat beberapa ketentuan, diantaranya:

1. Perkuliahan, Kegiatan Akademik, Praktikum, dan Magang

a. Perkuliahan pada semester gasal tahun ajaran 2020/2021 (Agustus 2020 – Januari 2021) dijalankan dengan metode daring untuk mata kuliah teori dan mata kuliah praktik.

b. Dalam hal mata kuliah praktik tidak dapat dilakukan secara daring, maka mata kuliah praktik tersebut dilaksanakan mulai tengah semester (awal November 2020) dengan mematuhi protocol kesehatan secara ketat.

c. Dalam pelaksanaan kuliah daring, dosen membuat materi dan media pembelajaran dalam bentuk digital sesuai dengan arahan dari LPPMP. commit to user

(11)

d. Layanan kuliah daring menggunakan platform SPADA atau media lainnya dengan mencantumkan alamat media ke platform SPADA dan melakukan pencatatan presensi dosen dan mahasiswa pada siakad.uns.ac.id atau ocw.uns.ac.id.

e. Pelaksanaan praktik/magang industry perlu mendapatkan izin dari Dekan/Direktur sesuai kekhususan masing-masing fakultas dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di instansi, industry atau daerah tempat dilaksanakannya praktik/magang.

2. Penyelesaian Tugas Akhir

a. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir/skripsi/tesis/disertasi, diperbolehkan kembali ke kampus untuk bekerja di laboratorium dengan protokol kesehatan yang ketat sesuai rekomendasi satuan tugas COVID-19 dengan standar layanan yang diatur bersama antara Fakultas, Program Studi, dan Laboratorium tempat mahasiswa bekerja.

b. Kegiatan penyelesaian tugas akhir/skripsi/tesis/disertasi yang melibatkan survey dan observasi di luar kampus perlu mendapatkan izin dari Dekan/Direktur dan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerag di mana kegiatan tersebut berlangsung.

c. Kegiatan pembimbingan, konsultasi, ujian kerja praktik/magang industry, dan ujian akhir (tugas akhir, skripsi, tesis dan disertasi) dapat dilaksanakan secara luring, dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

3. Penelitian dan Pengabdian

a. Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang terkait dengan pendanaan tahun 2020 dari Kemenristek BRIN, PNPB UNS, Mandisi atau skema lainnya dapat dilaksanakan dengan izin Dekan/Direktur dan ketua LPPM dengan memenuhi protokol kesehatan yang ketat sesuai rekomendasi satuan tugas COVID-19.

b. Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sedapat mungkin dilaksanakan secara daring, apabila kegiatan penelitian dan commit to user

(12)

pengabdian kepada masyarakat tersebut melibatkan survey atau observasi di luar kampus dan tidak bisa dilaksanakan secara daring, maka perlu mendapatkan izin dari Dekan/Direktur dan Ketua LPPM serta Pemerintah Daerag di tempat kegiatan tersebut berlangsung.

4. Peningkatan Kapasitas Layanan dan Pembelajaran

a. Semua layanan akademik atau lainnya bagi dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa agar dilaksanakan secara daring, sehingga setiap fakultas dan unit harus menyiapkan helpdesk untuk keperluan tersebut.

b. Jam operasional di setiap fakultas atau unit mengikuti jam kerja yang berlaku di Universitas Sebelas Maret dengan personel yang ditugaskan untuk melayani hal-hal yang dilakuka secara daring.

Adapun pengaturan personelnya diserahkan kepada masing-masing fakultas/unit.

Pada 30 Juni 2020, dikeluarkan Surat Edaran Nomor 45/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Di Kampus Universitas Sebelas Maret. Dijelaskan bahwa perpanjangan dilakukan dari tanggal 1 s.d. 30 Juli 2020. Lalu, berdasarkan Surat Edaran Nomor 55/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktifitas di Kampus Universitas Sebelas Maret, perpanjangan dilakukan dari tanggal 1 s.d. 14 Agustus 2020. Perpanjangan dilanjutkan berdasarkan Surat Edaran Nomor 57/UN27/SE/2020 yang dikeluarkan pada tanggal 14 Agustus 2020, tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Di Kampus Universitas Sebelas Maret dari tanggal 16 s.d. 31 Agutsus 2020.

Pada tanggal 31 Agustus 2020 dikeluarkan Surat Edaran Nomor 60/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Permberlakuan Pembatasan Aktivitas Di Kampus Universitas Sebelas Maret, perpanjangan dilakukan dari tanggal 1 s.d. 15 September 2020. Perpanjangan dilanjutkan seiring dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 65/UN27/SE/2020 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas di Kampus Universitas Sebelas Maret dari tanggal 16 s.d. 30 September 2020.

commit to user

(13)

B. Pelaksanaan Penelitian 1. Penentuan Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program sarjana FISIP UNS Angkatan 2017-2019 dengan jumlah 285 mahasiswa. Alasan lain dipilihnya angkatan 2017-2019 adalah karena tiga angkatan ini merupakan angkatan pertama yang turut mengalami pembelajaran daring. Jumlah tersebut didapat sesuai dengan perhitungan sampel dari jumlah populasi.

2. Pelaksanaan Uji Coba

Dalam penelitian ini dilakukan uji coba terhadap skala/instrumen yang telah disusun oleh peneliti. Uji coba dilakukan dengan menyebar kuesioner yang telah dirancang kepada 49 mahasiswa Universitas Sebelas Maret diluar calon responden, namun memiliki kriteria yang sama dengan calon responden. Setelah dilakukan uji coba, maka dilakukan skoring dan kemudian dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen penelitian.

3. Uji Validitas dan Reliabilitas

Setelah dilakukan skoring terhadap data uji coba, maka uji validitas dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 16.0. Dengan jumlah responden 49, maka ditentukan koefisien korelasi minimal < 0,2795.

Terdapat tiga jenis skala dalam penelitian ini, yaitu; skala atribut inovasi, skala adopsi inovasi, dan skala saluran komunikasi. Skala difusi inovasi, dan adopsi inovasi masing-masing menggunakan skala Likert 5 poin. Adapun penyebarannya sebagai berikut:

a. Skala Atribut Inovasi

Skala atribut inovasi terdiri dari 23 aitem yang digunakan untuk mengukur atribut inovasi, begitu juga innovativeness. Dari 23 aitem, terdapat dua aitem yang tidak valid, yang memiliki koefisien korelasi dibawah 0,2795. Maka dari itu, kedua aitem yang tidak valid tersebut tidak dapat digunakan untuk penelitian ini. Aitem

commit to user

(14)

yang tidak valid berarti aitem tersebut gagal untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Uji reliabilitas juga dilakukan pada 23 aitem ini. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha, melalui aplikasi SPSS.

Hasil Uji Reliabilitas Skala Atribut Inovasi dan Innovativeness

Cronbach’s Alpha N of Items

0,901 23

Tabel 4 Uji reliabilitas atribut inovasi

Reliabilitas skala atribut inovasi dan innovativeness ditandai dengan alpha sebenar 0,901. Hal ini menandakan bahwa instrumen yang dibuat bersifat reliabel, karena memiliki koefisien lebih besar dari 0,7.

Karena peneliti memutuskan untuk tidak meneliti aitem yang tidak valid, maka otomatis koefisien alpha akan berubah. Dengan dihapusnya kedua aitem yang tidak valid tersebut, koefisien alpha naik menjadi 0,926. Kenaikan koefisien alpha ini menandakan bahwa instrumen/skala yang dibuat lebih reliabel.

Hasil Uji Reliabilitas Skala Atribut Inovasi dan Innovativeness (tanpa aitem tidak valid)

Cronbach’s Alpha N of Items

0,926 21

Tabel 5 Uji reliabilitas item valid atribut inovasi

commit to user

(15)

Variabel Dimensi Kode Aitem

Nomor Aitem

Koefisien Korelatif

Keterangan

Atribut Inovasi Keuntungan Relatif

KR1, KR2, KR3

1, 11,

6

0,666 0,615 0,462

Valid Valid Valid Kesesuaian KS1,

KS2, KS3, KS4, KS5

16, 18, 5, 22,

10

0,692 0,753 0,720 0,741 0,615

Valid Valid Valid Valid Valid Kerumitan KRUM1

KRUM2 KRUM3 KRUM4 KRUM5 KRUM6

17, 8, 21, 12, 3, 15

0,654 0,751 0,735 0,672 -0,101

0,753

Valid Valid Valid Valid Tidak Valid

Valid Kemungkinan

Dicoba

KC1 KC2

14, 4

0,609 0,283

Valid Valid Kemungkinan

Diamati

KD1 KD2 KD3

19 2 7

0,543 0,661 0,210

Valid Valid Tidak Valid Tabel 6 Uji validitas instrumen atribut inovasi

4. Pengumpulan Data Penelitian dan Skoring

Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dari tanggal 28 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021. Pengumpulan data ini menggunakan instrumen yang telah dirancang oleh peneliti. Terdapat 31 poin skala Likert dan 6 pertanyaan commit to user

(16)

multiple responses. Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan skoring terhadap jawaban responden.

C. Hasil Analisis Data Penelitian 1. Karakteristik Responden a) Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki Perempuan

Total

109 38.2

176 61.8

285 100.0

Tabel 7 Jenis kelamin responden

Didalam penelitian ini, dari 285 responden, terdapat 109 responden berjenis kelamin laki-laki dan 176 responden berjenis kelamin perempuan. Dalam persentase, terdapat 38.2% laki-laki, dan 61,2% responden perempuan.

b) Program Studi dan Angkatan

Program Studi

Frekuensi Persentase

Persentase Valid

Persentase Kumulatif

Valid Aministrasi Negara 90 31.6 31.6 31.6

Ilmu Komunikasi 77 27.0 27.0 58.6

Sosiologi 66 23.2 23.2 81.8

Hubungan Internasional 52 18.2 18.2 100.0

Total 285 100.0 100.0

Tabel 8 Program studi responden

Dari 285 responden terdapat 90 orang atau 31,6% responden berasal dari program studi Administrasi Publik, 77 orang atau 27% responden berasal dari program studi Ilmu Komunikasi, 66 orang atau 23,2% responden dari program studi Sosiologi,

commit to user

(17)

dan 52 orang atau 18,2% responden dari program studi Hubungan Internasional.

Untuk lebih jelasnya, terinci pada data berikut ini.

Tabel Silang Program Studi dan Angkatan

Program Studi

Angkatan

Total

2017 2018 2019

Prodi Aministrasi Publik 27 29 34 90

Ilmu Komunikasi 26 23 28 77

Sosiologi 21 20 25 66

Hubungan Internasional 17 15 20 52

Total 91 87 107 285

Tabel 9 Program studi dan angkatan responden

Didalam program studi Administrasi Publik, terdapat 27 orang responden dari angkatan 2017, 29 responden dari angkatan 2018, dan 34 responden dari angkatan 2019. Sedangkan didalam program studi Ilmu Komunikasi, terdapat 26 responden dari angkatan 2017, 23 responden dari angkatan 2018, dan 28 responden dari angkatan 2019. Program studi Sosiologi, terdapat 21 responden dari angkatan 2017, 20 responden dari angkatan 2018, dan 25 responden dari angkatan 19. Dan yang terakhir adalah program studi Hubungan Internasional, yaitu 17 responden dari angkatan 2017, 15 responden dari angkatan 2018, dan 20 responden dari angkatan 2019. Jumlah responden ini sesuai dengan jumlah responden yang telah ditentukan oleh peneliti.

2. Sumber Informasi Tentang Google Meet a) Sumber Informasi

commit to user

(18)

Tabel Distribusi Frekuensi Sumber Informasi

Sumber Informasi Jawaban Persentase

Kasus N Persentase

Sumber Informasia Teman Sejawat 193 31.1% 67.7%

Pengajar/Dosen 203 32.7% 71.2%

Kelompok/Komunit

as 98 15.8% 34.4%

Keluarga 18 2.9% 6.3%

Media Massa 109 17.6% 38.2%

Total 621 100.0% 217.9%

Tabel 10 Distribusi frekuensi sumber informasi

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa pengajar/dosen merupakan sumber informasi utama tentang Google Meet yaitu sebesar 32,7% dari jawaban, atau 71,2% dari seleuruh kasus. Persentase ini juga tidak jauh beda dengan teman sejawat, yaitu 31,1% dari total keseluruhan jawaban, 67,7% dari total kasus. Diikuti dengan kelompok/komunitas sekitar 15,8% dari seluruh jawaban, lalu media massa pada 17,6% dari seluruh jawaban dan yang terakhir keluarga sebesar 2,9%.

b) Sumber dari Kelompok

commit to user

(19)

Tabel Frekuensi Sumber Informasi Google Meet dari Kelompok Jawaban Persentase

Kasus N Persentase

Sumber Info dari Kelompoka

Kelas 217 47.7% 76.1%

Kelompok Belajar 100 22.0% 35.1%

Komunitas diluar

perkuliahan 79 17.4% 27.7%

Grup Medsos 59 13.0% 20.7%

Total 455 100.0% 159.6%

Tabel 11 Distribusi frekuensi sumber informasi dari kelompok

Dari tabel diatas kita bisa mengetahui bahwa, kelompok yang berperan penting menjadi penyebaran sumber informasi tentang Google Meet adalah kelas, yaitu 47,7% dari total jawaban, atau sekitar 76,1% kasus. Diikuti dengan kelompok belajar, yaitu sebesar 22% dari jawaban, lalu komunitas diluar perkuliahan sebesar 17,4% dari jawaban dan yang terakhir, grup medsos sebesar 13% dari jawaban.

c) Sumber dari Media

Tabel Frekuensi Sumber Informasi Google Meet Melalui Media Jawaban Persentase

Kasus N Persentase

Sumber Media Informasia

Internet 285 96.3% 100.0%

Televisi 9 3.0% 3.2%

Radio 1 .3% .4%

Surat Kabar 1 .3% .4%

Total 296 100.0% 103.9%

Tabel 12 Distribusi frekuensi sumber informasi media

Dari tabel diatas, dapat kita simpulkan bahwa media internet merupakan sumber informasi tentang Google Meet. 96,3% dari jawaban responden, jika dilihat dari commit to user

(20)

persentase kasus, semua responden menyatakan bahwa mereka menerima informasi tentang Google Meet dari internet. Sedangkan 3% dari jawaban menyatakan bahwa responden mendapatkan informasi tentang Google Meet dari televisi, dan masing- masing 0,3% menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang Google Meet dari radio dan juga surat kabar.

3. Atribut Inovasi dari Google Meet

a) Keuntungan Relatif (Relative Advantage) KR1

Menggunakan Google Meet untuk pembelajaran daring meningkatkan kualitas pekerjaan/studi saya (KR1)

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 4 1.4

3,53

Tidak Setuju 37 13.0

Netral 84 29.5

Setuju 124 43.5

Sangat Setuju 36 12.6

Total 285 100.0

Tabel 13 Distribusi frekuensi keuntungan relatif 1

Berdasarkan tabel diatas, sekitar 56,1% dari responden menjawab sangat setuju dan setuju bahwa Google Meet meningkatkan kualitas pekerjaan. Sedangkan 29,5%

menjawab netral, diikuti dengan 14,4% yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 3,53.

commit to user

(21)

KR2

Menggunakan Google Meet untuk pembelajaran daring meningkatkan efektivitas pekerjaan saya

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 3 1.1

3,56

Tidak Setuju 27 9.5

Netral 95 33.3

Setuju 127 44.6

Sangat Setuju 33 11.6

Total 285 100.0

Tabel 14 Distribusi frekuensi keuntungan relatif 2

Berdasarkan tabel diatas tentang keuntungan relatif yang ditawarkan Google Meet salah satunya yaitu meningkatkan efektivitas pekerjaan, jawaban responden pada ranah sangat setuju dan setuju yaitu 56,2%. Sedangkan pada ranah tidak setuju dan sangat tidak setuju terdapat 10,6% dari responden, lalu 33,3% responden menjawab netral. Rata-rata dari jawaban responden adalah 3,56

KR3

Menggunakan Google Meet dapat membantu saya mengerjakan pekerjaan saya lebih cepat

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 2 .7

3,55

Tidak Setuju 33 11.6

Netral 90 31.6

Setuju 125 43.9

Sangat Setuju 35 12.3

Total 285 100.0

Tabel 15 Distribusi frekuensi keuntungan relatif 3

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden terkait dengan salah satu keuntungan relatiif, jika Google Meet dapat membantu mempercepat pekerjaan. 56,2%

commit to user

(22)

responden menjawab pada ranah setuju bahwa Google Meet dapat membantu mempercepat penyelesaian pekerjaan responden, sedangkan 12,3% responden menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju. Lalu terdapat 31,6% responden yang menjawab netral. Rata-rata jawaban dari responden adalah 3,55.

b) Kesesuaian (Copatibility) KS1

Menurut saya penggunaan Google Meet untuk pembelajaran daring sesuai dengan apa yang saya butuhkan

Frekuensi Persentase Mean

Jawab

Tidak Setuju 14 4.9

3,83

Netral 68 23.9

Setuju 155 54.4

Sangat Setuju 48 16.8

Total 285 100.0

Tabel 16 Distribusi frekuensi kesesuaian 1

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden tentang kesesuaian Google Meet untuk kebutuhan responden. Terdapat 71,2% responden yang menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju. Diikuti dengan 23,9% yang menjawab netral, lalu 4,9%

responden menjawab tidak setuju. Sedangkan rata-rata jawaban responden adalah 3,83.

commit to user

(23)

KS2

Menurut saya penggunaan Google Meet sesuai dengan style bekerja saya

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 2 .7

3,45

Tidak Setuju 34 11.9

Netral 116 40.7

Setuju 100 35.1

Sangat Setuju 33 11.6

Total 285 100.0

Tabel 17 Distribusi frekuensi kesesuaian 2

Tabel diatas menjelaskan kesesuaian Google Meet dengan style bekerja para responden. Terdapat sekitar 46,7 % responden yang menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju. Sedangkan untuk responden yang menjawab netral, terdapat 40,7%, lalu pada ranah tidak setuju dan sangat tidak setuju terdapat 12,8% dari jumlah responden. Sedangkan untuk rata-rata adalah 3,45.

KS3

Menurut saya penggunaan Google Meet sesuai dengan kemampuan yang saya miliki

Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 6 2.1

4,08

Netral 35 12.3

Setuju 174 61.1

Sangat Setuju 70 24.6

Total 285 100.0

Tabel 18 Distribusi frekuensi kesesuaian 3

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden tentang kesesuaian Google Meet dengan kemampuan yang dimiliki. Terdapat 85,7% responden yang menjawab

commit to user

(24)

sangat setuju dan setuju. 12,3% responden menjawab netral, dan 2,1% menjawab tidak setuju. Rata-rata dari jawaban responden adalah 4,08.

KS4

Menurut saya penggunaan Google Meet untuk pembelajaran daring sesuai dengan cara bekerja yang saya sukai

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 1 .4

3,53

Tidak Setuju 34 11.9

Netral 96 33.7

Setuju 120 42.1

Sangat Setuju 34 11.9

Total 285 100.0

Tabel 19 Distribusi frekuensi kesesuaian 4

Pada tabel diatas dijelaskan tentang kesesuaian penggunaan Google Meet dengan cara bekerja yang disukai. 54% dari responden menjawab sangat setuju dan setuju akan pernyataan tersebut. Sedangkan 33,7% menjawab netral, diikuti dengan 12,3%

menjawab sangat tidak setuju, dan tidak setuju terhadap pernyataan yang ada.

Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 3,53.

KS5

Google Meet memfasilitasi kebutuhan berkomunikasi dengan teman dan pengajar

Frekuensi Persentase Mean

Valid Netral 12 4.2

4,36

Setuju 158 55.4

Sangat Setuju 115 40.4

Total 285 100.0

Tabel 20 Distribusi frekuensi kesesuaian 5 commit to user

(25)

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden tentanbg kesesuaian penggunaan Google Meet dengan membantu memfasilitasi komunikasi dengan teman dan pengajar. 95,8% responden menjawab sangat setuju, dan setuju terhadap pernyataan. Sisanya terdapat 4,2% responden yang menjawab netral. Rata-rata dari jawaban responden adalah 4,36.

c) Kerumitan (Complexity)

KRUM1

Fitur dalam aplikasi Google Meet mudah untuk dipahami Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 3 1.1

4,27

Netral 19 6.7

Setuju 161 56.5

Sangat Setuju 102 35.8

Total 285 100.0

Tabel 21 Distribusi frekuensi kerumitan 1

Tabel diatas berisi jawaban responden tentang mudah atau tidaknya fitur dalam Google Meet untuk dipahami. Terdapat 92,3% responden menjawab sangat setuju, dan setuju bahwa fitur didalam Google Meet mudah untuk dipahami, sedangkan 6,7% menjawab netral, dan 1,1% menjawab tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,27.

commit to user

(26)

KRUM2

Fasilitas dalam aplikasi Google Meet mudah digunakan

Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 4 1.4

4,30

Netral 18 6.3

Setuju 151 53.0

Sangat Setuju 112 39.3

Total 285 100.0

Tabel 22 Distribusi frekuensi kerumitan 2

Dari tabel diatas, kita dapat melihat jawaban responden tentang kemudahan aplikasi Google Meet untuk digunakan. Terdapat 92,3% responden menjawab pada ranah setuju dan sangat setuju, 6,3% menjawab netral, dan 1,4% responden menjawab tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,30.

KRUM3

Penggunaan aplikasi Google Meet mudah untuk dimengerti

Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 3 1.1

4,20

Netral 13 4.6

Setuju 191 67.0

Sangat Setuju 78 27.4

Total 285 100.0

Tabel 23 Distribusi frekuensi kerumitan 3

Tabel diatas memaparkan jawaban responden tentang kemudahan penggunaan aplikasi Google Meet untuk dimengerti. Terdapat 94,4% responden menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju terhadap pernyataan, 4,6% responden menjawab netral, dan 1,1% responden menjawab tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,20.

commit to user

(27)

KRUM4

Secara keseluruhan saya tidak menemukan kesulitan menggunakan Google Meet Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 17 6.0

4,05

Netral 27 9.5

Setuju 165 57.9

Sangat Setuju 76 26.7

Total 285 100.0

Tabel 24 Distribusi frekuensi kerumitan 4

Tabel diatas memaparkan jawaban responden tentang ada atau tidaknya kesulitan ditemukan dalam penggunaan Google Meet. Terdapat 84,6% responden menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju, sedangkan 9,5% responden menjawab netral, diikuti dengan 6% responden menjawab tidak setuju dengan pernyataan. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,05.

KRUM6

Prosedur penggunaan Google Meet mudah untuk dipahami

Frekuensi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 2 .7

4,34

Netral 14 4.9

Setuju 153 53.7

Sangat Setuju 116 40.7

Total 285 100.0

Tabel 25 Distribusi frekuensi kerumitan 5

Tabel diatas memaparkan jawaban responden tentang kemudahan untuk dipahaminya prosedur penggunaan Google Meet. 94,4% responden menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju terhadap pernyataan. 4,9% responden menjawab netral, dan 0,7% menjawab tidak setuju dengan pernyatan. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,34. commit to user

(28)

d) Kemungkinan Dicoba (Trialability) KC1

Saya memiliki kesempatan untuk mencoba Google Meet

Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 1 .4

4,41

Tidak Setuju 1 .4

Netral 9 3.2

Setuju 143 50.2

Sangat Setuju 131 46.0

Total 285 100.0

Tabel 26 Distribusi frekuensi kemungkinan dicoba 1

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden tentang kesempatan untuk mencoba Google Meet. Terdapat 96,2% responden yang menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju, 3,2% menjawab netral, dan 0,4% menjawab tidak setuju dengan pernyataan. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,41.

KC2

Saya mencoba terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengadopsi Google Meet

Frekeunsi Persentase Mean

Valid Tidak Setuju 13 4.6

3,95

Netral 49 17.2

Setuju 161 56.5

Sangat Setuju 62 21.8

Total 285 100.0

Tabel 27 Distribusi frekuensi kemungkinan dicoba 2

Tabel diatas menjelaskan jawaban responden tentang kesempatan untuk mencoba sebelum memutuskan untuk mengadopsi Google Meet. Terdapat 78,3% responden commit to user

(29)

yang menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju, 17,2% menjawab netral, dan 4,6% menjawab tidak setuju dengan pernyataan. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 3,95.

e) Kemungkinan Diamati (Observability) KD1

Saya bisa melihat keunggulan Google Meet dari aplikasi lain Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 2 .7

3,59

Tidak Setuju 18 6.3

Netral 107 37.5

Setuju 125 43.9

Sangat Setuju 33 11.6

Total 285 100.0

Tabel 28 Distribusi frekuensi kemungkinan diamati

Pada tabel diatas, kita dapat melihat bahwa terdapat 55,5% dari responden melihat keunggulan Google Meet dari aplikasi lain, sedangkan sebesar 37,5% dari responden menjawab netral, dan 7% menjawab pada ranah sangat tidak setuju dan tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 3,59.

KD2

Saya mengamati kemudahan yang ditawarkan oleh Google Meet Frekuensi Persentase Mean

Valid Sangat Tidak Setuju 1 .4

4,12

Tidak Setuju 5 1.8

Netral 25 8.8

Setuju 180 63.2

Sangat Setuju 74 26.0

Total commit to user 285 100.0

(30)

Tabel 29 Distribusi frekuensi kemungkinan diamati

Tabel diatas menjelaskan tentang kemungkinan diamatinya kemudahan yang ditawarkan oleh Google Meet. Dari seluruh responden, terdapat 89,2% yang menjawab pada ranah sangat setuju dan setuju, sedangkan 8,8% responden menjawab netral, lalu diikuti oleh 2,2% yang menjawab pada ranah sangat tidak setuju dan tidak setuju. Sedangkan rata-rata dari jawaban responden adalah 4,12.

D. PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk melihat proses difusi dan adopsi inovasi penggunaan Google Meet dalam pembelajaran daring. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Reguler FISIP UNS, berjumlah 995 mahasiswa. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan margin of error sebesar 5%, sehingga didapatkan 285 responden. Melalui penelitian ini, terdapat berbagai pokok bahasan, diantaranya adalah sebagai berikut:

Dari ketiga item yang digunakan untuk mengukur keuntungan relatif dari penggunaan Google Meet, rata-rata jawaban dari responden berada pada 3,50. Hal ini berarti menurut jawaban responden, Google Meet cukup memberikan keuntungan, baik dalam meningkatkan kualitas, efektivitas, dan mempercepat pelaksanaan pekerjaan.

Sementara untuk kesesuaian Google Meet untuk pembelajaran daring, rata- rata skor dari kelima aitem yang dilakukan pengukuran adalah 3.85. Ini menandakan bahwa rata-rata dari responden menyetujui bahwa Google Meet sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran daring. Google Meet dinilai sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh responden, begitu juga dengan style bekerja responden, sesuai dengan kemampuan yang dimilki responden, begitu juga dengan cara bekerja yang disukai oleh responden, dan yang memiliki rata-rata paling tinggi, sesuai untuk kebutuhan berkomunikasi dengan teman dan pengajar.

Cara yang dilakukan peneliti untuk mengukur kerumitan adalah dengan mencari tahu jika Google Meet menawarkan banyak kemudahan menggunakan commit to user

(31)

skala Likert 5 poin. Rata-rata dari kelima aitem yang dipakai untuk mengukur kerumitan adalah 4.23. Rata-rata ini menandakan bahwa menurut jawaban responden, Google Meet tidak rumit atau mudah untuk digunakan. Baik dari fasilitas, prosedur, penggunaan, responden menjawab Google Meet mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Dalam penggunaannya rata-rata dari kedua aitem untuk mengukur kemungkinan dicobanya penggunaan Google Meet adalah 4.18. Nilai ini menunjukkan bahwa, banyak dari responden yang mempunyai kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu. Angka kemungkinan dicoba yang lumayan tinggi ini, menyatakan bahwa pencobaan aplikasi Google Meet dapat dilakukan dengan mudah. Dengan memungkinkannya suatu inovasi untuk dicoba, maka membantu responden atau pengguna ketika hendak memutuskan untuk mengadopsi suatu inovasi atau tidaknya.

Dua aitem yang diukur adalah poin jika kelebihan dari Google Meet dapat diamati. Rata-rata dari kedua aitem ini adalah 3,85. Lebih dari 80% responden menyetujui bahwa kemudahan yang ditawarkan oleh Google Meet, dapat diamati.

Sumber informasi penyebaran Google Meet dibagi menjadi 3 indikator, yang pertama adalah individu, kedua adalah kelompok dan yang ketiga adalah media massa. Indikator individu dibagi menjadi dua, yaitu teman sejawat dan pengajar/dosen. Sementara untuk kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok/komunitas dan keluarga. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, sumber informasi yang paling banyak berpengaruh menyebarkan informasi adalah pengantar/dosen, yaitu sebesar 32,7%, diikuti dengan teman sejawat, sebanyak 31,1%. Media massa sebanyak 17,6%, dan juga kelompok/komunitas sebanyak 15,8%, dan yang terakhir adalah keluarga sebanyak 2,9%.

Berdasarkan sumber informasi dari kelompok, yang paling berpengaruh adalah kelas sebanyak 47,7%, kelompok belajar sebanyak 22%, komunitas diluar perkuliahan sebanyak 17,4% dan grup medsos sebanyak 13%. Sedangkan

commit to user

(32)

berdasarkan sumber informasi dari media diantaranya internet sebesar 96,3%, televisi 3%, radio dan surat kabar yang masing-masing berjumlah 0,3%.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

(PERIODE 1 JANUARI S.D 31 DESEMBER) (PERIODE 1 JANUARI S.D 31 DESEMBER) POSISI CETAK DATA TANGGAL 6 JANUARI 2015 POSISI CETAK DATA TANGGAL 6 JANUARI 2015.. Pusat Penelitian

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara, observasi, dan dokumentasi.Peneliti menggunakan metode observasi untuk memperoleh data

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Muhammad Saleh, jumlah Koperasi Syariah di tahun 2020 yang aktif yaitu ada 4 dan tidak aktif ada 1 di Banjarbaru. Usaha

Dari unggahan 15 September 2020 yang disampaikan ini. Dapat peneliti ketahui bahwa jenis komunikasi yang digunakan adalah komunikasi verbal dan non verbal berupa video

Untuk mengetahui manajemen usaha yang diterapkan pada Bisnis Usaha Pada Toko De Cassual di Banjarmasin dalam mempertahankan eksistensinya, peneliti melakukan

Penyajian data yang telah di kemukakan diketahui bahwa sebelum menggunakan media Realia pada mata pelajaran Bahasa Arab guru telah melakukan persiapan yaitu

setelah dilakukan analisis data dengan menggunakan uji t didapat bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara strategi resource based learning dan

Data hasil penelitian ini diperoleh melalui proses penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yaitu pada tanggal 5 September 2016 sampai tanggal 18 September 2016