• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Belajar

Aunurrahman (2009) mengutip dari Burton menyatakan bahwa belajar sebagai perubahan tingkah laku pada manusia yang terjadi akibat adanya interaksi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Belajar didefinisikan sebagai proses menciptakan hubungan antara suatu pengetahuan yang telah diketahui dengan pengetahuan yang baru. Belajar adalah proses pada manusia yang dimulai sejak lahir. Sanjaya (2011) berpendapat bahwa belajar adalah kemampuan berpikir yang menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antar manusia dengan lingkungan, dimana yang diutamakan adalah kemampuan untuk memperoleh makna suatu hal atau peristiwa dengan sendirinya.

Menurut Bruner, belajar adalah suatu proses sosial aktif dimana peserta didik membangun ide-ide baru dan konsep berdasarkan pengetahuan mereka saat ini. Menurut paham konstruktivisme belajar merupakan hasil dari meta konstruksi individu. Bandura berpendapat bahwa belajar berawal dari proses mengamati panutan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar terjadi melalui konstruksi makna bukan melalui penerimaan pasif. Ketika siswa menemukan informasi baru, maka siswa akan melakukan fungsi asimilasi dan adaptasi (Gulo,2008).

Dari berbagai pendapat tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku secara individual yang dilakukan untuk memperoleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan dari hasil pengalaman maupun adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

Setiap individu akan berbeda pandangan tentang apa itu belajar dan pandangan seseorang tentang belajar, akan mempengaruhi tindakannya.

(2)

commit to user 2. Teori Belajar

Beberapa teori belajar telah dikemukakan oleh para ahli, namun setiap teori belajar memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu menggabungkan beberapa teori dalam pelaksanaannya agar saling melengkapi. Beberapa teori belajar yang mendukung model pembelajaran Learning Together dilengkapi Drill and Practice antara lain yaitu teori belajar Piaget, teori belajar Bruner dan teori belajar Vygotsky.

1) Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Teori perkembangan Piaget menyatakan bahwa melalui proses akomodasi dan asimilasi, individu akan mengkontruksi pengetahuan baru dari pengalaman mereka. Dengan kata lain, individu akan menggabungkan pengalaman baru yang mereka dapatkan ke dalam kerangka kerja yang sudah ada dalam pikiran mereka tanpa mengubah kerangka itu. Dengan kata lain teori inilah yang mendasari teori belajar konstruktivisme.

Piaget juga menyebutkan bahwa perkembangan kognitif anak melalui 3 proses yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Pada proses asimilasi anak mengumpulkan dan mengklasifikasikan informasi baru. Pengetahuan yang sudah dimiliki anak akan terangkum dalam suatu konsep. Ketika informasi baru ditambahkan maka informasi tersebut akan terangkai pada konsep yang sudah ada. Asimilasi hanya akan terjadi jika informasi yang terima tidak bertentangan dengan skema yang sudah ada. Pada proses akomodasi, siswa akan mengubah konsep yang sudah ada berdasarkan pengetahuan yang baru didapatkan. Kemudian, pada proses ekuilibrasi terjadi proses penyeimbangan berdasarkan pada proses asimilasi dan akomodasi. Untuk menyeimbangkan antara konsep yang sudah ada dengan pengetahuan yang baru didapatkan oleh siswa (Pritchard dan Wooldard, 2010 :12-13).

Dalam hal ini sesuai dengan tahapan model pembelajaran Learning Together dimana siswa aktif membangun pengetahuan dan pengalaman sendiri, guru sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi. Dalam Dahar (2011) Piaget juga membagi tahap-tahap perkembangan kognitif

(3)

commit to user

menjadi empat yaitu, Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun), tahap preoperasional (2-8 tahun), tahap operasional kongkret (umur 8-11 tahun), tahap operasional formal (umur 11-18 tahun). Dari tahapan ini anak SMA masuk pada tahap operasional formal dimana anak sudah mampu berpikir abstrak, tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda atau peristiwa konkret.

Penerapan model pembelajaran Learning Together dengan memperhatikan keterampilan generik sains pada pembelajaran materi stoikiometri, adalah dengan mengkonstruksi pengetahuan tentang konsep- konsep stoikiometri berdasarkan eksplorasi melalui sintak Learning Together dimana siswa diberikan waktu untuk berdiskusi dengan kelompoknya dan siswa diajak untuk saling bertukar ide serta pemahaman baru tentang materi yang diajarkan saat siswa “learning”dalam kelas. Dalam hal ini, siswa mampu membangun konsep yang baik dengan harapan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

2) Teori Belajar Bruner

Teori belajar Bruner disebut juga teori belajar penemuan.

Pendekatannya tentang psikologi adalah elektik. Konsep teori belajar dari Bruner adalah belajar menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendekatan Brunner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi (Rosser dalam Dahar, 2011). Asumsi pertama ialah perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Brunner yakin bahwa orang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif; perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga pada orang itu sendiri. Asumsi kedua ialah mengkonstruksi pengetahuan dengan menghubungkan informasi yang tersimpan sebelumnya.

Bruner beranggapan bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Dalam memecahkan masalah dan menghasilkan

(4)

commit to user

pengetahuan harus berusaha sendiri. Belajar penemuan akan menunjukkan beberapa kebaikan dari pengetahuan yang telah didapatkan. Pertama, pengetahuan itu akan bertahan lama atau lama diingat atau lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara- cara lain. Kedua, hasil dari belajar penemuan akan memberikan efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar yang lain. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berpikir secara bebas (Dahar, 2011).

Pembelajaran dengan metode Drill and Practice ditinjau dari fase menyusun suatu kondisi untuk latihan lebih lanjut dengan memperkenalkan masalah yang lebih komplek sejalan dengan teori Bruner yang merupakan proses penemuan, mengajak siswa untuk menemukan konsep melalui penyajian suatu permasalahan sains dan kemudian siswa diajak untuk memecahkan permasalahan sains tersebut. Pada pembelajaran tersebut siswa diajak langsung untuk menemukan konsep larutan penyangga melalui analisis ilustrasi suatu percobaan larutan penyangga.

3) Teori Belajar Vygotsky

Vygotsky berpendapat bahwa interaksi sosial merupakan aspek fundamental pertumbuhan kognitif dan intelektual yang baik. Ia mengatakan bahwa perkembangan budaya anak muncul dua kali. Pertama, pada tingkat sosial berhubungan dengan orang lain dan kedua, pada tingkat individu berhubungan dengan diri sendiri. Perkembangan ini berlaku untuk elementer memori, atensi, persepsi dan respon. Faktor sosial juga sangat berperan untuk mengembangkan konsep penalaran logis (Pritchard dan Woolard, 2010).

Menurut Vygotsky, proses pembelajaran terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka disebut zone of proximal development (ZPD), yakni daerah perkembangan seseorang saat ini. Gerakan sukses dan tepat waktu di zona nasional ini tergantung pada interaksi sosial (Pritchard dan Woolard, 2010).

Salah satu metode yang diusulkan Vygotsky adalah scaffolding.

Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada anak pada

(5)

commit to user

tahap-tahap awal pembelajaran dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab saat mereka mampu (Trianto, 2007). Ini berarti bahwa, dalam kegiatan belajar siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Pada metode Drill and Practice ditinjau dari fase memberikan bimbingan secara singkat dan memberikan latihan lanjutan sesuai dengan konsep scaffolding dimana harapannya siswa akan mencari tau jawaban dari permasalahan pada penerapan model pembelajaran Learning Together dari sintak siswa berdiskusi dalam kelompok heterogen. Pada model Learning Together siswa diajak memecahkan permasalahan secara diskusi kelompok untuk menemukan konsep-konsep stoikiometri. Dalam hal ini akan terjadi proses sosial saat pembelajaran melalui kegiatan diskusi. Dengan adanya proses sosial diharapkan dapat membantu siswa dalam belajar stoikiometri sehingga akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

3. Learning Together dan Drill and Practice

Model Learning Together merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh David dan Roger Johnson rekan-rekan mereka di University of Minnesota. Model pembelajaran Learning Together mungkin merupakan yang paling banyak digunakan dari semua model pembelajaran kooperatif dan telah dievaluasi dalam sejumlah besar penelitian. Model pembelajaran Learning Together melibatkan tanggung jawab individual yang cukup konsisten dalam menunjukkan pengaruh positif pada proses pembelajaran. Penekanan pada model ini adalah pada saat sintak siswa berdiskusi. Dimana dalam diskusi tersebut siswa akan bekerjasama dalam menyelesaikan tugas atau proyek yang diberikan dan membentuk konsep pengetahuan secara bersama-sama. Dan terbukti pada pembelajaran individual dari anggota tiap kelompok menghasilkan pembelajaran yang lebih baik dibandingkan metode individualistik.

(6)

commit to user

Metode Drill and Practice adalah kegiatan pembelajaran yang mengarahkan siswa melalui latihan-latihan untuk meningkatkan kecekatan/ketangkasan dan kefasihan/kelancaran adalah sebuah keterampilan.

Tujuan dari latihan yang dilakukan menurut Roestiyah N.K (2001: 125) agar siswa: a. Memiliki keterampilan motoris; b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam mencongak. Mengenal benda/bentuk dalam matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya; c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain.

Metode pembelajaran Drill and Practice merupakan teknik pengajaran yang dilakukan berulang kali untuk mendapatkan keterampilan, dibutuhkan untuk mengingat secara matematis. Metode ini digunakan untuk mengajarkan keahlian yang khusus, ini diikuti dengan pengajaran yang sistematis dengan harapan untuk mengingat (Richardson, 2006). Metode Drill and Practice biasanya digunakan dalam pembelajaran materi hitungan, bahasa asing dan peningkatan perbendaharaan kata-kata (vocabulary).

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menyisipkan metode Drill and Practice ke dalam model pembelajaran Learning Together. Model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan (Sujarwo, 2009). Pada dasarnya, model pembelajaran adalah suatu rangkaian pada proses pembelajaran yang sudah dirancang secara matang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran memiliki sintak yang dimana semua sintak harus dilaksanakan secara berurutan dan tidak boleh dilewati.

Sedangkan metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai metode, maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan metode mengajar sangat bergantung pada tujuan

(7)

commit to user

pembelajaran (Suryani, 2012). Metode memiliki ciri khas tersendiri dan memiliki fase-fase. Namun pada metode pembelajaran, fase tersebut tidak perlu dilakukan semua. Disini peneliti memasukkan fase Drill and Practice pada sintak Learning Together. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 memasukkan fase Drill and Practice pada sintak Learning Together Learning Together Drill and Practice

Guru menyajikan materi bahan ajar Mendemonstrasikan skill secara benar atau menyampaikan informasi tahap demi tahap

Membentuk kelompok secara heterogen masing-masing kelompok 4 atau 5 siswa.

Guru menentukan target pencapaian latihan yang harus dilaksanakan oleh siswa

Siswa dalam kelompok heterogen mengerjakan lembar kerja dimana setiap siswa wajib mengerjakan tugasnya

Guru membagikan lembar diskusi siswa sebagai latihan soal dan bahan diskusi kepada masing-masing kelompok untuk memperdalam pemahaman.

Siswa yang lebih dahulu selesai diskusi berkesempatan untuk

menyampaikan hasil diskusi terlebih dahulu

-

Guru memberikan kesimpulan dari hasil diskusi

Guru dan siswa akan membahas bersama hasil latihan yang sudah dicapai oleh siswa.

Memberikan latihan lanjut 4. Keterampilan Generik Sains

Keterampilan generik sains adalah suatu keterampilan yang merupakan hasil dari serangkaian proses pembelajaran yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam menyelesaikan masalah yang diawali dengan menganalisa masalah dan data pendukung untuk menyelesaikannya dan membutuhkan berpikir kritis dan kerjasama serta saling berkomunikasi sehingga menghasilkan penyelesaian sesuai yang diharapkan.. Keterampilan generik sains merupakan keterampilan yang bisa digunakan dalam mempelajari konsep dan memecahkan masalah sains. Ciri dari pembelajaran sains melalui keterampilan generik sains yaitu membekalkan keterampilan generik sains kepada peserta

(8)

commit to user

didik guna mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Brotosiswoyo dalam Muhammad Tawil dan Liliasari, 2014). Keterampilan generik sains dalam hal ini keterampilan generik kimia merupakan keterampilan berpikir dan bertindak berdasarkan pada pengetahuan kimia yang dimiliki (Liliasari, 2007).

Selama beberapa tahun telah dilakukan penelitian-penelitian mengenai keterampilan generik sains dalam bidang pendidikan.

Menurut Brotosiswoyo (dalam Sudarmin 2012) keterampilan generik sains dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam dikategorikan menjadi sembilan indikator, yaitu: (1) pengamatan langsung; (2) pengamatan tidak langsung; (3) kesadaran tentang skala besaran; (4) bahasa simbolik; (5) kerangka logika taat asaz dari hukum alam; (6) konsistensi logis; (7) hukum sebab akibat;

(8) pemodelan matematis dan (9) membangun konsep. Kesembilan keterampilan generik di atas adalah keterampilan dasar yang dapat dan perlu ditumbuhkan dalam belajar kimia. Pada setiap keterampilan tersebut mempunyai indikator masing-masing yang disebutkan oleh Brotosiswoyo (dalam Sudarmin, 2012) seperti yang disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Indikator Keterampilan Generik Sains No Keterampilan Generik

Sains Indikator

1. Pengamatan langsung a. Menggunakan sebanyak mungkin indera dalam mengamati percobaan/

fenomena alam

b. Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan atau fenomena alam

c. Mencari perbedaan dan persamaan 2. Pengamatan tidak

langsung

a. Menggunakan alat ukur sebagai alat bantu indera dalam mengamati percobaan/ gejala alam

b. Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan/ fenomena alam

c. Mencari perbedaan dan persamaan 3. Kesadaran tentang skala Menyadari obyek-obyek alam dan

kepekaan yang tinggi terhadap skala numerik sebagai besaran/ukuran skala mikroskopis ataupun makoskopis

(9)

commit to user

4. Bahasa simbolik a. Memahami simbol, lambang, dan istilah

b. Memahami makna kuantitatif satuan dan besaran dari persamaan

c. Menggunakan aturan matematis untuk memecahkan masalah/fenomena gejala alam

d. Membaca suatu grafik/diagram, tabel, serta tanda matematis

5. Kerangka logika taat asas (logical frame)

Mencoba hubungan logis antara dua aturan 6. Konsistensi logis a. Memahami aturan-aturan

b. Berargumentasi berdasarkan aturan c. Menjelaskan masalah berdasarkan

aturan

d. Menarik kesimpulan dari suatu gejala berdasarkan aturan/ hukum-hukum terdahulu

7. Hukum sebab akibat a. Menyatakan hubungan antar dua variabel atau lebih dalam suatu gejala alam tertentu

b. Memperkirakan penyebab gejala alam 8. Pemodelan matematika a. Mengungkapkan fenomena/ masalah

dalam bentuk sketsa gambar/grafik b. Mengungkap fenomena dalam bentuk

rumusan

c. Mengajukan alternatif penyelesaian masalah

9. Membangun konsep Menambah konsep baru

Sumber : Brotosiswoyo dalam Muhammad Tawil dan Liliasari, 2014

Pada penelitian ini peneliti menggunakan lima indikator dari keterampilan generik sains yaitu pengamatan tidak langsung, bahasa simbolik, konsistensi logis, hukum sebab akibat dan pemodelan matematika. Pemilihan indikator ini disesuaikan dengan materi stoikiometri dan pemilihan model serta metode pembelajaran. Dimana dengan diterapkannya model Learning Together dilengkapi Drill and Practice diharapkan akan meningkatkan 5 indikator keterampilan generik sains diatas.

(10)

commit to user 5. Prestasi Belajar

Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda “prestatie” kemudian dialih bahasakan ke bahasa Indonesia “prestasi”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008: 895) bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan,dsb. Prestasi besar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan atas suatu mata pelajaran, yang umumnya diukur dengan nilai tes atau angka sebagai apresiasi oleh guru. Prestasi belajar diperoleh setelah siswa mengikuti proses belajar mengajar. Dengan prestasi belajar dapat diketahui tingkat penguasaan materi pelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung atau seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Prestasi sebagai wujud kemampuan hasil belajar merupakan puncak dari proses belajar yang berlangsung. Menurut Sardirman (2004: 50) menyebutkan bahwa suatu hasil belajar atau pengajaran dikatakan benar–benar baik apabila memiliki ciri-ciri : a) Hasilnya tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh siswa. Apabila hasil itu tidak tahan lama dan lekas hilang maka hasil pengajaran itu dikatakan tidak efektif, b) Hasil itu merupakan pengetahuan asli atau otentik.

Menurut bloom dalam Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Informasi ranah kognitif dan psikomotorik diperoleh dari sistem penilaian sesuai dengan kompetensi dasar dari suatu mata pelajaran, sedangkan ranah afektif diperoleh melalui kuesioner, inventori dan, pengamatan. Hasil penilaian ranah kognitif dapat berupa nilai angka, untuk nilai angka dapat dinyatakan dalam rentang nol (0) sampai dengan seratus (100). Penilaian ranah afektif digunakan skala Likert yang dimodifikasi yaitu skor tertinggi empat (4) dan terendah satu (1), sedangkan penilaian ranah psikomotor digunakan tingkatan skor (misal:

5,4,3,2,1) ( Azwar, 2012: 104). Dengan demikian, prestasi belajar merupakan indikator keberhasilan proses pembelajaran. Dalam mengukur keberhasilan proses pembelajaran tidak dapat hanya dilihat dari prestasi belajar dalam ranah kognitif, melainkan perlu diperhatikan ranah yang lain meliputi sikap dan psikomotorik.

(11)

commit to user 6. Materi Stoikiometri

a. Pengertian Stoikiometri

Stoikiometri diambil dari bahasa Yunani yaitu dari Stoicheion yang berarti unsur dan Metron yang berarti mengukur. Stoikiometri mempelajari hubungan kuantitatif zat-zat dalam suatu reaksi. Pemaknaan lebih luas menjelaskan bahwa stoikiometri mempelajari aspek kuantitatif rumus dan reaksi kimia dimana hal tersebut diperoleh melalui pengukuran massa, volume, jumlah dan sebagainya yang terkait dengan atom, ion atau rumus kimia serta saling keterkaitannya dalam suatu mekanisme reaksi kimia (Sudarmo, 2013: 155).

b. Massa Atom Relatif (Ar) dan Massa Molekul Relatif (Mr)

Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur. Untuk mempermudah perhitungan massa atom, maka ditetapkan massa atom C-12 sebagai standar yaitu atom karbon yang massanya 12 sma.

1 satuan massa atom (sma) = 1/12 x massa 1 atom C-12

Massa atom yang didapat dari pengukuran merupakan perbandingan massa rata-rata 1 atom zat dengan 1/12 x massa 1 atom C-12. Massa atom relatif tidak mempunyai satuan, diberi lambang Ar dan dirumuskan :

Ar X = Massa rata-rata 1 atom.

Massa molekul ditentukan oleh massa atom-atom penyusunnya, yaitu merupakan jumlah dari massa seluruh atom yang menyusun molekul tersebut (Chang, 2005: 62). Massa molekul merupakan perbandingan massa rata-rata satu molekul atau satuan rumus suatu zat relatif (dibandingkan) terhadap 1/12 massa satu atom C-12. Massa molekul relatif diberi lambang Mr dan dirumuskan:

Mr AxBy =𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 (𝑥 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐴 + 𝑦 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐵) 1

2 𝑥 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 1 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐶 − 12 Sehingga dapat disederhanakan menjadi:

Mr AxBy = (x . Ar A + y . Ar B) keterangan:

AxBy = senyawa dengan rumus molekul maupun rumus empiris tertentu

(12)

commit to user x = angka indeks pada unsur A y = angka indeks pada unsur B Ar A = massa atom relatif unsur

A Ar B = massa atom relatif unsur B c. Konsep Mol

1) Definisi Mol

Satuan mol dinyatakan sebagai jumlah partikel (atom, molekul atau ion) dalam suatu zat. Para ahli sepakat bahwa satu mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12,0 gram C-12, yakni 6,02 x 1023 partikel. Jumlah partikel ini disebut sebagai Bilangan Avogadro (NA). Jadi definisi satu mol zat secara menyeluruh adalah banyaknya zat yang mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12,0 gram C-12.

Hubungan antara jumlah mol (n) dan jumlah partikel (X) dalam zat dapat dinyatakan sebagai berikut:

n = 𝑋

6,02 x 1023 partikel/mol atau

X = n x 6,02 x 1023 partikel/mol 2) Massa Molar Zat

Massa molar suatu zat adalah massa 1 mol zat (unsur atau senyawa) yang dinyatakan oleh massa atom relatif (Ar) atau massa rumus relatif (Mr) zat itu dalam satuan gram.

Perlu diperhatikan bahwa standar mol adalah 12 gram C-12 yang artinya massa 1 mol C-12 = 12 gram dan massa atom relatif (Ar) atau massa molekul relatif (Mr), merupakan perbandingan massa antara partikel zat itu dengan atom C-12.

Dapat disimpulkan bahwa massa 1 mol suatu zat sama dengan Ar atau Mr nya dalam satuan gram. Ar dan Mr dapat menyatakan massa (gram) dari 1 mol suatu zat. Massa 1 mol zat selanjutnya disebut massa molar yang dinyatakan dengan lambang mm dan satuannya gram mol-1.

(13)

commit to user

Dengan demikian hubungan jumlah mol (n) dengan massa zat (m) dapat ditulis sebagai berikut.

m = n x mm

Keterangan:

m = massa n = mol

mm = massa molar 3) Volume Molar

Menurut Avogadro, pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas dengan volume sama mengandung jumlah molekul yang sama pula. Hal ini juga berarti bahwa, pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas dengan jumlah molekul sama akan mempunyai volume yang sama pula. Oleh karena 1 mol setiap gas mempunyai jumlah molekul yang sama (yaitu 6,023 x 1023 molekul), maka pada suhu dan tekanan yang sama, 1 mol setiap gas mempunyai volume yang sama. Volume molar gas disebut volume 1 mol gas pada suhu dan tekanan tertentu dan dinyatakan dengan lambang Vm. Pada suhu dan tekanan yang sama, volume gas hanya tergantung pada jumlah mol. Jika volume molar gas pada suhu dan tekanan tertentu adalah Vm, maka volume n mol gas pada (T,P) adalah:

V = n x Vm Keterangan :

V = Volume gas (L) n = Jumlah mol gas (mol)

Vm = Volume molar gas pada berbagai keadaan (L/mol)

Keadaan standar dengn kondisi 0°C dan tekanan 1 atm dinyatakan dengan STP (Standar Temperatur and Pressure), volume molar gas adalah 22,414 L/mol. Sementara dengan keadaan kamar dengan kondisi suhu 25°C dan tekanan 1 atm yang dinyatakan dengan RTP (Room Temperature and Pressure) atau SATP (Standard Ambient Temperature

(14)

commit to user

and Pressure), volume molar gas adalah 24,790 L/mol (Atkins, 1990:

11).

4) Hukum Gas Ideal

Berdasarkan pengamatan, bila suatu gas dipanaskan maka akan terjadi pemuaian volume. Adanya pemuaian volume tersebut menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dari hukum- hukum yang berlaku pada gas. Untuk gas ideal dianggap bahwa pen yimpangan-penyimpangan tersebut tidak ada. Beberapa hukum yang berlaku pada gas ideal adalah sebagai berikut:

a) Hukum Boyle : pada suhu tetap dan jumlah mol tetap, maka P ~ 1/V b) Hukum Amonton : pada volume dan jumlah mol tetap, maka P ~ T c) Hukum Charles : pada tekanan dan jumlah mol tetap, maka V ~ T d) Hukum Avogadro : pada tekanan dan suhu tetap, maka V ~ n

Dari keempat hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa gas ideal berlaku persamaan :

P V = n R T Keterangan :

P = Tekanan gas (atm) V = Volume gas (L) n = Jumlah mol gas (mol)

R = Tetapan gas ideal (R = 8,314 J/mol K atau 0,082 Latm/molK) T = Suhu gas (t C + 273 K)

Persamaan diatas dikenal dengan persamaan gas ideal dengan nilai konstanta gas R yang sama untuk setiap jenis gas, yakni 0,082 Latm/molK atau 8,314 J/mol K (Atkins, 1990: 8). Persamaan tersebut menerangkan hubungan empat variabel (suhu, tekanan, volume dan jumlah mol gas) terhadap perilaku gas ideal, yaitu gas yang molekul- molekulnya dianggap tidak saling tarik- menarik, tidak saling tolak menolak dan volumenya dapat diabaikan terhadap volume wadahnya.

Dengan menggunakan persamaan gas ideal tersebut, maka dapat

(15)

commit to user

ditentukan volume, massa dan besaran lainnya pada berbagai keadaan (Sudarmo, 2013: 167).

5) Interkonversi mol-gram-volume

Mol merupakan satuan jumlah yang mudah diubah ke dalam satuan lain. Dengan demikian, satuan mol dapat digunakan sebagai sarana untuk mencari jumlah zat dalam satuan lain. Mol dapat difungsikan sebagai sentral (pusatnya), dalam arti untuk mengubah dari satuan yang satu ke dalam satuan yang lain dapat melewati satuan mol. Hubungan antara jumlah partikel, massa dan volume yang bergantung pada jumlah mol tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1. Skema Hubungan Jumlah Mol (n) dengan Massa (a), Jumlah Partikel (b) dan Volume Gas (V).

Jumlah Partikel (x)

n = 𝑥

𝐿 (𝐴𝑣𝑜𝑔𝑎𝑑𝑟𝑜

Massa (m) Mol (n) Molaritas

(M)

Volume (V) X = n x L

n

= 𝑚

𝐴𝑟/𝑀𝑟

M =𝑛 𝑣

n = M x V

V = n x Vm n = 𝑣

𝑉𝑚 m = n x

Ar/Mr

(16)

commit to user a. Stoikiometri Senyawa

Stoikiometri atau komposisi suatu senyawa dinyatakan oleh rumus kimianya.

1) Rumus Empiris

Rumus empiris atau rumus perbandingan suatu senyawa menyatakan perbandingan mol atom dari unsur penyusun senyawa tersebut. Rumus empiris menunjukkan perbandingan jumlah atom-atom yang terdapat dalam suatu senyawa. Perbandingan ini dinyatakan dalam bilangan bulat terkecil. Bilangan ini didapat dari analisis terhadap senyawa tersebut dan dinyatakan dalam mol atom-atom penyusunnya (Sudarmo, 2013: 170). Sebagai contoh meliputi senyawa H2O, HOCl, NaCl dan senyawa ionik lainnya.

2) Rumus Molekul

Setiap zat, baik unsur maupun senyawa memiliki rumus kimia masing-masing yang menyatakan komposisi atom yang menyusun partikel zat tersebut.

Rumus molekul adalah rumus yang menyatakan jumlah dari atom-atom unsur yang menyusun satu molekul pada suatu senyawa.

Rumus molekul suatu senyawa merupakan kelipatan bilangan bulat dari rumus empiris (Keenan et al, 1980: 64). Sebagai contoh meliputi C6H12O6 dan sebagainya. Konsep mol dapat digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu senyawa, baik rumus empiris maupun rumus molekul..

3) Kadar Zat

Kadar zat dalam suatu senyawa dapat ditentukan dengan rumus kimianya. Hubungan antara massa senyawa dengan massa unsur penyusunnya dapat dinyatakan sebagai berikut :

a) berat unsur dalam senyawa = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑥 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎

𝑀𝑟 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎

b) % unsur dalam senyawa/kadar = 𝑛.𝐴𝑟 𝑢𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑥 100 % 𝑀𝑟 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎 n adalah jumlah atom unsur dalam 1 molekul

(17)

commit to user 4) Pereaksi Pembatas

Bila dua zat direaksikan akan terdapat dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama kedua pereaksi tepat bereaksi dan kemungkinan kedua salah satu pereaksi habis sedangkan pereaksi yang lain tersisa.

Pereaksi yang habis akan membatasi hasil reaksi yang didapat. Pereaksi yang membatasi reaksi ini disebut dengan pereaksi pembatas (Sudarmo, 2013: 180). Chang (2005: 77) menyatakan bahwa reaktan yang pertama kali habis digunakan pada reaksi kimia disebut pereaksi pembatas, sedangkan pereaksi yang terdapat dalam jumlah yang lebih besar daripada yang diperlukan untuk bereaksi dengan sejumlah tertentu pereaksi pembatas disebut pereaksi berlebih.

7. Penelitian Yang Relevan

Penelitian mengenai model Learning Together juga dilakukan oleh Rohmasari (2014). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penerapan model Learning Together dapat meningkatkan prestasi belajar pada materi hidrokarbon. Hal ini disebabkan karena model ini merupakan model kooperatif yang kegiatan kelompoknya lebih mudah diawasi dan dikendalikan. Okur Akçay, N. and Doymuş, K. (2014) dalam Journal of Turkish Science Education Volume 11 menyatakan bahwa model pembelajaran Learning Together dan pembelajaran kooperatif lain lebih efektif untuk meningkatkan prestasi akademik daripada metode pengajaran yang berpusat pada guru.

Sedangkan penelitian dalam jurnal yang ditulis Hande & Kommattil (2015) yang menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat menghasilkan peningkatan pengetahuan, keterampilan generik sains dan sikap.

Selain itu Mercer-mapstone & Kuchel (2016) juga menyebutkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan praktik secara langsung (presentasi, diskusi, pengisian lembar kerja individu/kelompook) dan berbasis bukti akan meningkatkan keterampilan generik sains khususnya keterampilan komunikasi.

Sementara itu, Nugroho (2014) melakukan penelitian mengenai penggunaan metode Drill and Practice. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pelaksanaan metode ini dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar pada

(18)

commit to user

materi hidrolisis garam. Menurut penelitian ini, peningkatan tersebut disebabkan karena metode Drill and Practice dapat membuat siswa menjadi lebih aktif berlatih, mengerjakan latihan-latihan, aktif berdiskusi, aktif bertanya jika ada yang kurang jelas, mendengarkan penjelasan dari guru. Disisi lain, hasil penelitian Masithoh (2007) juga menyatakan penerapan metode Drill and Practice dapat meningkatkan prestasi belajar pada materi stoikiometri. Hal ini disebabkan metode Drill and Practice dapat meminimalkan kesalahan yang dialami siswa, dan menjadikansiswa terampil dalam menyelesaikan soal-soal.

Sehingga dengan penggunaanmetode Drill and Practice dapat meningkatkan prestasi belajar stoikiometri siswa.

Sementara itu, efektifitas model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan kemampuan generik sains telah diteliti oleh Anwar (2014). Dalam penelitiannya, Anwar menyebutkan bahwa model pembelajaran kooperatif memiliki efek yang signifikan terhadap empat indikator kemampuan generik sains pada materi kinetika kimia. Hal ini dtunjukkan oleh dihasilkannya rata-rata skor yang lebih baik jika dibandingkan dengan model konvensional.

B. Kerangka Berpikir

Berdasarkan hasil observasi di kelas X MIA 4 SMA Al-Islam 1 Surakarta pada saat proses pembelajaran, guru cenderung masih menerapkan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) dan tidak terbiasa menerapkan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan peserta didik atau masih konvensional. Oleh karena itu, peserta didik tidak terbiasa dilatih untuk memecahkan atau menganalisis masalah sains terutama tentang kimia dan belum mengarahkan siswa agar mencoba untuk mengkonstruksi pengetahuannya sehingga konsep materi dapat ditemukan siswa. Hal ini menyebabkan rendahnya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik cenderung diam dan tidak ada yang mencoba untuk menjawab pertanyaan saat guru memberikan pertanyaan.

Hal-hal tersebut pun menyebabkan keterampilan generik sains siswa menjadi tidak terlatih, sehingga cenderung rendah.

(19)

commit to user

Kimia merupakan salah satu ilmu yang umumnya tidak disukai oleh para siswa. Menurut kebanyakan siswa, kimia adalah pelajaran yang identik dengan rumus-rumus dan perhitungan rumit. Konsep-konsep abstrak pada materi kimia menyebabkan siswa tidak terbiasa untuk membayangkan materi tersebut Tidak terkecuali materi stoikiometri. Materi ini dinilai sulit bagi siswa karena materi ini benar-benar sesuatu yang baru bagi siswa. Selain perhitungan dan logika matematika karaketristik materi ini adalah memerlukan pemahan konsep yang baik karena juga terdapat materi yang bersifat pemahaman dan hafalan. Menurut wawancara dengan guru mata pelajaran, materi ini termasuk materi yang sulit untuk siswa - siswa di SMA Al-Islam 1 Surakarta.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih model pembelajaran tipe Learning Together. Tipe ini merupakan tipe model cooperative learning yang paling sederhana dan diyakini cocok dengan situasi siswa yang merasa kesulitan dengan konsep materi dan cenderung lebih efisien jika belajar dalam kelompok. Model yang sederhana ini, bisa membuat siswa lebih faham kepada pelajaran. Learning Together adalah model dengan diskusi yang terdiri dari kelompok heterogen yang berisi empat sampai enam siswa secara heterogen kemudian diberi satu materi pembelajaran dan worksheet atau tugas diskusi dimana mereka harus belajar dan menyelesaikannyanya secara bersama-sama.

Sementara itu metode Drill and Practice efektif apabila diterapkan pada pembelajaran dengan materi-materi hitungan, bahasa asing dan peningkatan perbendaharaan kata-kata. Materi stoikiometri merupakan materi kimia pada kelas X yang berisikan tentang hafalan rumus-rumus, logika matematika dan teknik perhitungan. Sehingga metode pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah pada materi stoikiometri. Metode ini diharapkan efisien untuk diterapkan pada mata pelajaran kimia khususnya untuk materi pokok stoikiometri yang berisi soal-soal hitungan karena dapat merangsang siswa untuk lebih aktif berlatih menyelesaikan soal-soal, aktif berpikir dan aktif mengajukan permasalahan yang belum terselesaikan.

Keterampilan generik sains adalah keterampilan yang digunakan secara umum dalam berbagai kerja ilmiah. Keterampilan generik kimia berarti

(20)

commit to user

kemampuan bertindak berdasarkan pengetahuan kimia yang dimilikinya (Tawil dan Liliasari, 2014). Berdasarkan definisi tersebut, penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan konsep pemahaman siswa terhadap materi akan dapat membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan generik sains mereka.

Berdasarkan uraian diatas penerapan model Learning Together yang dilengkapi Drill and Practice diharapkan dapat meningkakan prestasi belajar dan kemampuan generik sains pada materi stoikiometri. Pola pemikiran yang sudah disebutkan diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2. Kerangka Berpikir Kondisi awal

Tindakan

Kondisi akhir

Diterapkannya model pembelajaran yang terlalu rumit dan tidak sesuai dengan kondisi kelas

Kualitas prestasi belajar

dan kemampuan generik sains siswa rendah

Penerapan model pembelajaran Learning Together dilengkapi dengan Drill and Practice

SIKLUS I Penerapan model pembelajaran Learning Together dilengkapi dengan Drill and Practice

SIKLUS II Penerapan model pembelajaran Learning Together dilengkapi dengan Drill and Practice untuk siswa belum tuntas

Penerapan model pembelajaran Learning Together dilengkapi dengan Drill and Practice diduga dapat meningkatkan prestasi belajar dan kemampuan generik sains

(21)

commit to user C. Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka yang sudah dipaparkan dan kerangka berpikir yang telah diuraikan, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut.

1. Penerapan model pembelajaran Learning Together yang dilengkapi Drill and Practice dapat meningkatkan kualitas keterampilan generik sains siswa pada materi stoikiometri.

2. Penerapan model pembelajaran Learning Together yang dilengkapi Drill and Practice dapat meningkatkan kualitas prestasi belajar siswa pada materi stoikiometri.

Referensi

Dokumen terkait

Bagi masyarakat khususnya Desa Sidoluhur untuk bisa meningkatkan potensi desa dengan baik agar tercapai taraf hidup yang lebih baik dengan adanya sistem

Ketegangan yang terjadi dalam Keluaran 32:1-6 itu juga terkait dengan sikap yang inkonsisten dalam penolakan icon Anak Lembu Emas atau dalam keberpihakannya pada

Hasil dari proses grayscaling yang didapat yaitu suatu sampel latih yang akan disimpan pada database dengan nilai pixel dan digunakan sebagai bahan referensi untuk

3.1 Model Antrian M/M/1 Dengan Pola Kedatangan Berkelompok Acak Model antrian ini para pelanggan datang secara berkelompok pada waktu yang sama dan mendapat pelayanan

Untuk menuju perpustakaan riset pustakawan juga harus memiliki pengetahuan dan wawasan agar bisa menjawab informasi yang dibutuhkan oleh pengguna atau

Embriogenesis dan Perkembangan Larva Ikan Patin Hasil Hibridisasi antara Betina Ikan Patin Siam Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 dengan Jantan Ikan Patin Jambal

Tip speed ratio TSR Gambar 4.9 Grafik hubungan koefisien daya dengan tip speed ratio pada kincir dengan pitch angle 300 Pola Grafik pada Gambar 4.7 sama seperti pola Grafik pada

Perencanaan juga memperjelas akibat dan berbagai tindakan yang mungkin dilakukan oleh para manajer dalam rangka menanggapi perubahan, walaupun perencanaan tidak dapat menghapus