• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis

1. Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan melibatkan penggunaan laporan keuangan, terutama neraca dan laporan laba rugi karena laporan keuangan menyajikan informasi mengenai suatu perusahaan. Informasi kinerja terutama disediakan dalam laporan laba rugi. Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data − data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis (Wild, 2005: 3).

Neraca merupakan suatu daftar aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu, biasanya pada akhir tahun. Laporan laba rugi merupakan suatu ikhtisar pendapatan dan beban selama periode waktu tertentu, misalnya setahun. Wild (2005 : 16) mengatakan bahwa analisis keuangan (financial analysis) merupakan penggunaan laporan keuangan untuk menganalisis posisi dan kinerja keuangan perusahaan, dan untuk menilai kinerja keuangan di masa depan.

Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan

(2)

dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.

2. Analisis Rasio

Analisis rasio merupakan salah satu alat penting yang digunakan dalam menganalisis laporan keuangan. Untuk melakukan analisis rasio ini, dihitung rasio keuangan dengan menggunakan laporan keuangan perusahaan.

Menurut Djarwanto (2004 : 123), “Yang dimaksud dengan “ratio”

dalam analisa laporan keuangan adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.”

a. Return On Assets (ROA)

Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola aktivanya sehingga menghasilkan pendapatan. ROA mengukur efektivitas dalam menghasilkan laba melalui aktiva perusahaan.

Rumus : ROA = Laba Bersih x 100%

Total Aktiva

(3)

b. Return On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) atau sering disebut rentabilitas modal sendiri dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri (Martono dan Harjito, 2001 : 60)

ROE membandingkan laba bersih setelah pajak dengan ekuitas.

Dimana rasio ini menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan laba berdasarkan ekuitas pemegang saham. Return On Equity (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang tersedia untuk memperoleh net income.

Brigham dan Daves (2004 : 240) mengemukakan bahwa ultimately, the most important, or ‘bottom line’, accounting ratio is the ratio of net income to common equity, which measures the return on common equity (ROE). Stockholders invest to get a return on their money, and thus ratio tells how well they are doing in an accounting sense. Rasio keuangan yang paling penting adalah rasio yang membandingkan laba bersih dengan ekuitas pemegang saham, yang disebut dengan tingkat pengembalian atas ekuitas. Pemegang saham berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan atas dana yang diinvestasikannya, dan rasio tingkat pengembalian atas ekuitas atau return on equity (ROE) mengindikasikan seberapa baik perusahaan dapat memberikan keuntungan bagi para pemegang saham secara akuntansi.

The return on equity (ROE) ratio measures the averages return on firm’s capital contributions from its owners (for a corporation, that means the contributions of common stockholders). It indicates how many dollars of income were produced for each dollar invested the common stockholders (Gallagher dan Andrew, 2003 : 102). Semakin tinggi ROE menggambarkan semakin baik manajemen perusahaan karena dari modal yang dikelola dapat menghasilkan pendapatan yang optimal.

(4)

Rumus : ROE = Laba Bersih Ekuitas

x 100%

c. Return On Investment (ROI)

Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat menghasilkan laba. Laba usaha berarti laba dari kegiatan utama perusahaan. Aktiva operasi adalah aktiva yang dipakai untuk menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain, aset yang dihitung disini hanya aset yang memberikan kontribusi terhadap pencapaian laba usaha.

Penyertaan yang biasanya menghasilkan pendapatan lain (di luar laba usaha) tidak dihitung. Demikian halnya dengan aktiva lain-lain. Aktiva lain-lain ada yang berupa aktiva belum selesai atau aktiva tidak operasional. Oleh karena itu juga tidak diikutsertakan dalam pengertian aktiva operasi. Perbedaan hasil perhitungan antara ROI dengan ROA akan diketahui sampai seberapa jauh tingkat aset penunjang atau tidak produktif dan hasil sampingan perusahaan.

Rumus : ROI = Laba Usaha x 100%

Aktiva Operasi

d. Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio DER dipergunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang terhadap total shareholders’ equity yang dimilki perusahaan . Semakin tinggi DER menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan juga semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hak pemgang saham (dalam

(5)

bentuk dividen). Tingginya DER selanjutnya akan mempengaruhi minat investor terhadap saham perusahaan tertentu, karena investor pasti lebih tertarik pada saham yang tidak menanggung terlalu banyak beban hutang.

Dengan kata lain, DER berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Rumus : DER = Total Hutang Total Modal Sendiri e. Book Value Per Share

Book value per share juga merupakan perbandingan antara nilai buku modal sendiri dengan jumlah lembar saham yang beredar. Semakin tinggi nilainya maka tuntutan terhadap besarnya harga pasar saham tersebutjuga semakin tinggi.

Rumus : BVPS = Total Stockholder Equity – Preffered Sock Jumlah Lembar Saham Biasa Yang Beredar

3. Saham

a. Pengertian Saham

Saham (stock atau share) dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan hukum dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan, sehingga para pemegang saham berhak menentukan arah kebijaksanaan perusahaan lewat

(6)

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham juga berhak memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Sebaliknya, pemegang saham pun turut menanggung risiko sebesar saham yang dimiliki apabila perusahaan tersebut bangkrut.

Menurut Brealey, Myers dan Marcus (2007 : 160) mengemukakan bahwa saham biasa merupakan investasi yang berisiko. Bisa dipahami investor tidak senang jika terikat pada perusahaan tertentu selamanya.

Maka perusahaan besar biasanya mengatur saham mereka terdaftar pada bursa saham, yang memungkinkan investor memperdagangkan saham yang ada di antara sesama mereka.

b. Jenis Saham

Beberapa jenis saham yang dikenal adalah : 1) Dari segi peralihan

• Saham atas tunjuk (bearer stocks)

Merupakan saham yang tidak mempunyai nama atau tidak tertulis nama pemilik dalam saham tersebut. Saham jenis ini mudah untuk dialihkan atau dijual kepada pihak lainnya.

• Saham atas nama (registered stocks)

Di dalam saham tertulis nama pemilik saham tersebut dan untuk dialihkan kepada pihak lain diperlukan syarat dan prosedur tertentu.

(7)

2) Dari segi hak tagih

• Saham biasa (common stocks)

Bagi pemilik saham ini hak untuk memperoleh dividend akan didahulukan lebih dulu kepada saham preferen.

Begitu pula dengan hak terhadap harta apabila perusahaan dilikuidasi.

• Saham preferen (preferrend stocks)

Merupakan saham yang memperoleh hak utama dalam dividend dan harta apabila pada saat perusahaan dilikuidasi.

c. Keuntungan dan Kerugian Saham

Pada dasarnya ada dua keuntungan yang diperoleh pemodal dengan membeli atau memiliki saham:

1) Dividend, yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.

2) Capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual.

Umumnya pemodal dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain.

Tetapi ada juga beberapa risiko yang akan dihadapi pemodal dengan kepemilikan saham, yaitu:

1) Tidak mendapat dividend

Perusahaan akan membagikan dividend jika operasi perusahaan mengalami keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak akan

(8)

membagikan dividend jika mengalami kerugian. Potensi keuntungan investor untuk mendapatkan dividend ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut.

2) Capital loss

Dalam aktivitas perdagangan saham tidak selalu investor mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya.

Ada kalanya investor harus menjual saham dengan harga jual lebih rendah dari harga beli, dinamakan capital loss. Dalam jual beli saham, terkadang untuk menghindari potensi kerugian yang membesar seiring menurunnya harga saham maka invetor rela menjual saham dengan harga rendah (cut loss).

3) Saham di-delist dari bursa (delisting)

Suatu saham perusahaan di-delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividend secara berturut-turut selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan pencatatan di bursa efek pada umumnya.

4. Harga Saham.

Harga saham merupakan indikator keberhasilan pengelolaan perusahaan. Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan memberikan suatu kepuasan bagi investor yang rasional. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan keuntungan yaitu berupa capital

(9)

gain dan citra yang lebih baik bagi perusahaan sehingga memudahkan manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan.

a. Hubungan Penilaian Harga Saham dengan Keputusan Investasi Saham

Investasi saham mencerminkan nilai perusahaan yang dapat dilihat pada nilai kekayaan bersih yang dimiliki perusahaan tersebut.

Kekayaan bersih adalah total aktiva dikurangi total hutang. Nilai nominal saham adalah jumlah yang tertera diatas lembar saham. Dalam proses penialaian saham perlu dibedakan antara nilai (value) dengan harga (price). Nilai adalah nilai intrinsik yang merupakan nilai nyata (true value) suatu saham yang ditentukan oleh beberapa faktor fundamental perusahaan, nilai intrinsik juga berarti nilai yang tercermin pada fakta, seperti aktiva, pendapatan, deviden prospek yang cerah, termasuk juga aspek manajemen.

b. Pendekatan Penilaian Harga Saham

Upaya untuk merumuskan bagaimana menghitung harga saham yang seharusnya (nilai intrinsik), dilakukan oleh setiap analis dengan tujuan untuk memperoleh tingkat pengembalian yang memuaskan.

Namun demikian, sulit bagi investor untuk terus menerus mengalahkan pasar dan memperoleh tingkat pengembalian di atas normal. Hal ini disebabkan karena adanya faktor faktor yang mempengaruhi harga saham. Sebenarnya faktor-faktor tersebut mudah diketahui, masalahnya adalah bagaimana menerapkan faktor-faktor tersebut kedalam suatu

(10)

model perhitungan yang dapat digunakan untuk memilih saham mana yang seharusnya dimasukkan ke dalam porto folio.

Seorang investor dalam membuat keputusan dalam berinvestasi atau untuk membeli saham tertentu, sebelumnya terlebih dahulu menganalisis saham tersebut. Hal ini untuk menentukan kualitas, prospek, dan tanggungan risiko saham. Sehubungan dengan uraian diatas, berikut beberapa pendekatan perhitungan harga saham yang seharusnya (nilai intrinsik), selanjutnya diikuti dengan berbagai model untuk penerapannya.

1) Analisis Fundamental

Analisis fundamental merupakan teknik analisis saham dengan menggunakan data historis, terutama data keuangan (misalnya laba, pembagian deviden, penjualan, dll) untuk menilai jenis saham tertentu. Secara singkat analisis fundamental bertitik tolak pada anggapan setiap investor adalah rasional. Oleh karena itu, para fundamentalis mempelajari hubungan antara harga saham yang memiliki nilai intrinsik yang akan diestimasi oleh investor. Hasil estimasi nilai intrinsik kemudian dibandingkan dengan harga pasar sekarang yang terjadi. Perbandingan yang dilakukan akan menunjukkan bahwa harga saham under value atau over value.

Nilai pasar lebih kecil dari pada nilai intrinsik menunjukkan bahwa harga saham dijual dengan harga yang lebih rendah

(11)

(under value), karena investor membayar saham tersebut lebih kecil dari harga yang seharusnya dibayar. Sebaliknya nilai pasar yang lebih besar dari nilai intrinsiknya menunjukkan bahwa saham tersebut dijual dengan harga yang lebih mahal (over value).

Analisis fundamental membandingkan antara nilai intrinsik suatu saham dengan dengan harga pasarnya guna menentukan apakah harga pasar saham tersebut sudah mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum. Nilai intrinsik suatu saham ditentukan oleh faktor-faktor fundamental yang mempengaruhinya. Ide dasar pendekatan ini adalah bahwa harga saham akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaannya.

Kinerja perusahaan itu sendiri dipengaruhi oleh kondisi industri dan perindustrian secara makro.

2) Analisis Teknikal

Analisis tehnikal adalah analisis pasar atau sekuritas yang memusatkan perhatian pada indeks saham, harga atau statistik pasar lainnya dalam menemukan pola yang mungkin dapat memprediksikan gambaran yang telah dibuat. Atau analisis yang menganggap bahwa saham adalah komoditas perdagangan yang pada gilirannya, permintaan dan penawarannya merupakan manifestasi kondisi psikologis dari pemodal (Kamarudin, Ahmad. 2004 : 79 ).

(12)

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Laporan keuangan seperti laporan laba rugi merupakan sumber informasi utama bilamana hendak melakukan analisis yang akurat mengenai harga saham. Nilai intrinsik suatu saham didasarkan atas pendapatan suatu saham yang dibayarkan dalam bentuk devidend income.

Perubahan deviden merupakan isyarat perubahan earning.

Perusahaan akan menaikkan deviden ketika manajemen percaya bahwa earning telah meningkat secara permanen. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa earning perusahaan naik maka perusahaan diharapkan membayarkan deviden lebih besar sebagai signal tentang prediksi membaiknya nilai perusahaan.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi penilaian terhadap harga saham baik itu yang bersifat fundamental maupun teknikal. Namun demikian secara sederhana variabilitas harga saham bergantung pada bagaimana earning dan dividend yang terjadi pada sebuah perusahaan.

Pada dasarnya harga saham dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, namun untuk melakukan penilaian harga saham dengan baik diperlukan data operasional perusahaan seperti laporan keuangan yang telah diaudit, performance perusahaan di masa yang akan datang dan kondisi ekonomi.

Harga saham di bursa ditentukan oleh kekuatan pasar, dalam arti tergantung pada kekuatan permintaan dan penawaran saham itu sendiri.

Pergerakan harga suatu saham dalam jangka pendek tidak dapat diterka secara pasti. Semakin banyak orang yang ingin membeli saham, maka

(13)

harga saham tersebut cenderung bergerak naik. Sebaliknya, semakin banyak orang yang ingin menjual maka harga saham tersebut cenderung akan bergerak turun.

Dalam melakukan analisa untuk menilai suatu saham terdapat 3 jenis informasi yaitu informasi yang bersifat fundamental, informasi yang bersifat teknis, dan informasi yang berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi, politik. Informasi yang bersifat fundamental yaitu kemampuan manajemen perusahaan, prospek perusahaan, prospek pemasukan, perkembangan teknologi, kemampuan menghasilkan keuntungan, manfaat terhadap perekonomian nasional, kebijakan pemerintah, hak-hak investor.

Informasi yang bersifat teknis misalnya perkembangan kurs, keadaan pasar, volume, frekuensi transaksi, dan kekuatan pasar.

Informasi yang berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi, politik misalnya terdiri dari tingkat inflasi, kebijakan moneter, musim, neraca pembayaran dan APBN, kondisi ekonomi, dan kondisi politik. Investor yang bijak senantiasa tidak terpaku hanya pada satu informasi saja. Hal ini dikarenakan bahwa harga saham boleh berfluktuasi karena faktor psikologis tetapi dasar dan titik awal suatu penilaian tetap pada kinerja perusahaan. Berarti dalam penilaian saham, investor perlu melihat kedua faktor tersebut, yaitu faktor psikologi dan performa perusahaan (Lubis, 2008 : 124).

(14)

5. Signalling Theory

Signalling Theory menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar perusahaan. Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi.

Menurut Jogiyanto (2000: 392), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar.

Pengumuman informasi akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa mendatang (good news) sehingga investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham, dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui perubahan dalam volume perdagangan saham. Dengan demikian hubungan antara publikasi informasi baik laporan keuangan, kondisi keuangan ataupun sosial politik terhadap fluktuasi volume perdagangan saham dapat dilihat dalam efisiensi pasar.

(15)

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Lenny Kielsan (2010) melakukan penelitian tentang pengaruh debt to equity ratio (DER), net profit margin (NPM), return on assets (ROA), dan return on equity (ROE) terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007. Variabel independen yang diteliti yaitu debt to equity ratio (DER), net profit margin (NPM), return on assets (ROA), dan return on equity (ROE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham, dan semua variabel independen berpengaruh secara simultan terhadap harga saham.

Ester Farida Irawati Harianja (2005) melakukan penelitian tentang analisis faktor fundamental terhadap harga saham dengan menggunakan rasio profitabilitas pada industri properti di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penelitian ini mengambil sampel 11 perusahaan properti yang terdaftar selama tahun 2004-2007 di BEI. Variabel independen yang diteliti yaitu return on asset (ROA), return on equity (ROE), basic earning power (BEP), earning per share (EPS). Berdasarkan analisis regresi linear berganda yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa secara simultan rasio profitabilitas memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham properti di BEI. Sacara parsial, hanya variabel earning per share (EPS) yang memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Variabel return on asset (ROA), return on equity (ROE), basic

(16)

earning power (BEP) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Sasongko dan Wulandari (2003) melakukan penelitian tentang pengaruh EVA dan rasio-rasio profitabilitas terhadap harga saham pada industri manufaktur di BEJ. Penelitian ini mengambil sampel 45 perusahaan manufaktur yang terdaftar selama tahun 2001-2002 di BEJ.

Variabel independen yang diteliti yaitu return on assets (ROA), earning per share (EPS), return on sales (ROS) dan basic earning power (BEP).

Untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari variabel-variabel tersebut digunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan hanya EPS yang berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan ROA, ROS, dan BEP tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Tabel 2.1

Tinjuan Penlitian Terdahulu No Nama Peneliti

(Tahun)

Judul Variabel Hasil

Penelitian 1 Lenny Kielsan

(2010)

Pengaruh Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin, Return On Asset, dan Return On Equity Terhadap Harga Saham Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

DER, NPM, ROA, ROE, dan Harga saham.

(2007)

Semua variabel independen tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham, dan semua

variabel independen berpengaruh secara simultan

terhadap harga saham.

(17)

Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2011

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual

Untuk pengambilan keputusan ekonomi, para pelaku bisnis membutuhkan informasi tentang kondisi dan return atau pendapatan dari perusahaan. Informasi tersebut mempunyai peranan yang sangat besar dalam keputusan investasi. Informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi, karena informasi ini menunjukkan prestasi perusahaan pada periode tersebut. Namun demikian, informasi keuangan diatas bukan informasi yang sifatnya absolut dalam pengambilan keputusan bagi investor. Untuk Pasar Modal di Indonesia pertimbangan

2 Ester Farida

Irawati Harianja (2005)

Analisis Faktor Fundamental

Terhadap Harga Saham Dengan Menggunakan

Rasio Profitabilitas Pada Industri Properti Di Bursa Efek Indonesia

Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Basic Earning Power (BEP), Earning Per Share (EPS), dan harga saham

Hanya EPS yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, dan semua

variabel independen berpengaruh secara simultan

terhadap harga saham.

3 Noer Sasongko

dan Nita Wulandari (2003)

Pengaruh EVA dan Rasio-Rasio Profitabilitas

Terhadap Harga Saham

ROA, ROE, ROS,EPS, BEP, dan Harga saham.

Hanya EPS yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

(18)

membeli dan menjual saham pada prakteknya masih banyak didasarkan pada informasi non akuntansi seperti dengan melihat daftar peringkat saham.

Media yang dapat digunakan untuk meneliti kondisi kinerja perusahaan, salah satunya adalah dengan meneliti laporan keuangan.

Laporan keuangan sendiri terdiri dari neraca, perhitungan rugi laba, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi.

Setiap kegiatan transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang dicatat dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan. Laporan keuangan disajikan untuk memberikan informasi mengenai keadaan dari perusahaan. Dengan demikian, laporan keuangan merupakan informasi historis dari proses kegiatan pencatatan keuangan perusahaan. Tetapi, guna melengkapi analisis untuk proyeksi masa depan perusahaan, informasi kualitatif dan informasi-informasi lain yang sejenis perlu ditambahkan.

Informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan banyak memberikan manfaat bagi pengguna apabila laporan tersebut dianalisis lebih lanjut sebelum dimanfaatkan sebagai alat bantu pembuatan keputusan bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan. Dari laporan keuangan perusahaan tersebut dapat diperoleh informasi mengenai kinerja perusahaan, aliran kas perusahaan, dan informasi lain yang berkaitan

(19)

dengan laporan keuangan. Oleh karena itu, analisis laporan keuangan sangat diperlukan untuk memahami informasi keuangan.

Salah satu cara menganalis laporan rasio yaitu dengan analisis rasio. Analisis rasio keuangan berguna untuk memprediksi keadaan keuangan perusahaan. Dengan rasio keuangan, investor dapat menilai kondisi dari hasil operasi perusahaan pada saat ini dan dimasa lalu, serta sebagai pedoman bagi investor untuk menilai dan memprediksi keadaan perusahaan pada masa lalu dan masa yang akan datang.

Rasio-rasio yang bermanfaat dapat menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau kinerja operasi, dan membantu menggambarkan kecenderungan dan pola perubahan tersebut, yang pada gilirannya dapat menunjukkan kepada analis risiko dan peluang bagi perusahaan yang sedang ditelaah.

Analisa rasio keuangan merupakan alternatif untuk menguji apakah informasi keuangan bermanfaat untuk melakukan klasifikasi atau prediksi terhadap pertumbuhan laba ataupun harga saham. Analisa laporan keuangan didasarkan pada data keuangan historis yang tujuan utamanya adalah memberi suatu indikasi kinerja perusahaan pada masa yang akan datang. Aspek kinerja masa mendatang perusahaan yang paling penting tergantung pada kebutuhan-kebutuhan laporan keuangan.

Dari beberapa teori dan penelitian-penelitian ini menunjukan bahwa perusahaan sering dinilai dengan tingkat dari analisis rasio keuangan, apabila dari tingkat analisis rasio keuangan perusahaan baik

(20)

maka dapat dianggap nilai dari perusahaan itu baik, tetapi jika analisis rasio keuangan menunjukkan kurang baik maka kinerja peusahaan juga dianggap kurang efektif. Kinerja dari perusahaan berbanding lurus dengan harga saham dari perusahaan tersebut. Hal ini berarti jika kinerja perusahaan baik maka kemungkinan harga saham dari perusahaan tersebut juga akan mengalami kenaikan.

Permasalahan ini dalam penelitian ini timbul karena jika ditelaah secara teori maka terdapat kejanggalan dari penelitian dan data rasio beberapa perusahaan yang ada. Apabila tingkat rasio keuangan tertentu mengalami kenaikan maka dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja perusahaan tersebut bagus, sehingga apabila kinerja perusahaan tersebut dinilai bagus, seharusnya investor berani menginvestasikan dananya untuk perusahaan tersebut, dan jika banyak investor cenderung ingin membeli saham perusahaan tersebut maka harga saham perusahaan tersebut akan mengalami tren yang meningkat, hal ini sesuai dengan hukum ekonomi bahwa apabila permintaan terhadap pasar naik maka harga juga akan mengalami kenaikan diluar faktor-faktor eksternal yang lain. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan apakah rasio-rasio keuangan yang terdiri dari Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Return On Investment (ROI), Debt to Equity Ratio (DER), Book Value (BV) Per Share baik secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap harga saham. Dari permasalahan yang terjadi dan latar belakang yang telah dipaparkan dalam

(21)

uraian sebelumnya membawa peneliti kearah pola pemikiran yang dapat digambarkan dalam kerangka konseptual.

Kerangka konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sugiyono, 2005 : 47). Maka, dari pengertian tersebut, kerangka konseptual dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

H1

H2

H3 H6

H4

H5

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual .

Return On Asset ( X1)

Return On Equity ( X2)

Return On Investment ( X3)

Debt to Equity Ratio ( X4)

Boov Value Per Share ( X5)

Harga Saham ( Y)

(22)

Dari kerangka konseptual di atas, dapat diketahui bahwa penelitian ini menguji pengaruh ROA, ROE, ROI, DER, dan BVPS sebagai variabel independen terhadap harga saham sebagai variabel dependen.

2. Hipotesis Penelitian

Menurut Rochaety (2009: 108), “hipotesis adalah pernyataan yang didefenisikan dengan baik mngenai karakteristik popolasi”. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta- fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1. H1: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Return On Investment (ROI), Debt to Equity Ratio (DER), Book Value (BV) Per Share berpengaruh secara parsial terhadap harga saham perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. H2: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Return On Investment (ROI), Debt to Equity Ratio (DER), Book Value (BV) Per Share berpengaruh secara simultan terhadap harga saham perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indon

Referensi

Dokumen terkait

Tes KGS berbentuk tes objektif (pilihan ganda) mencakup ketiga materi percobaan, yaitu: 1) sintesis dan karakterisasi natrium tiosulfat pentahidrat, 2)

Hasil pengujian apoptosis dengan metode pengecatan akridin-orange pada perlakuan dengan isolat 5 fraksi etil asetat ekstrak petroleum eter daun mahkota dewa (Phaleria..

Teknik penentuan sampel menggunakan teknik tidak acak (non probability sampling) yaitu teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota

Subjek berinisial AH dan berusia 22 tahun. AH berasal dari Kabupaten Semarang. Subjek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Orang tua subjek bekerja sebagai

perkembangannya mendorong semua elemen.. pendidikan untuk adaptif menyikapi berbagai tantangan dalam dunia pendidikan. TIK yang hanya semula sebagai alat bantu, dalam

Penerapan manajemen strategi dalam usaha kecil, khususnya industri kecil bertujuan untuk melakukan pengembangan usaha sehingga dapat melakukan efisiensi dan

Dari penelitian yang sudah dilakukan, peneliti bisa menemukan enam langkah yang dilakukan PKPU dalam membangun kemitraan dengan perusahaan yaitu:.. Service Excellent

• Dalam hal jumlah calon terpilih yang memperoleh suara terbanyak yang sama lebih dari 1 calon pada desa dengan TPS hanya 1, calon terpilih ditetapkan berdasarkan wilayah