9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang diketahui, kepandaian, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memperkaya kehidupan kita dan bertujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan sehari-hari. (Jujun, 2009: 104)
Menurut Notoatmodjo (2007: 27), pengetahuan merupakan hasil
‘Tahu’ dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindak lanjuti, yang lantas melekang di benak seseorang.
Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengetahuan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Inilah yang disebut potensi untuk menindak lanjuti, dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. (Teza, 2017: 56).
Menurut Istiari (2009: 38), pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber seperti, media poster, kerabat dekat, media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, dan sebagainya. Pengetahuan dapat
10
membentuk keyakinan tertentu, sehingga seseorang berperilaku sesuai dengan keyakinannya tersebut.
Menurut Winkel (2004: 274), pengetahuan itu mencakup ingatan akan hal atau peristiwa yang pernah terjadi, dipelajari, disimpan dalam ingatan dan digali pada saat dibutuhkan.
Menurut Djaali (2007: 77), pengetahuan (knowledge) merupakan salah satu faktor kognitif yang merupakan kemampuan menghafal, mengingat sesuatu atau melakukan pengulangan suatu informasi yang sudah diresapi atau ditangkap. Ada dua macam pengetahuan yang dikemukakan oleh Plato, pengetahuan yang pertama adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman atau indra dan yang kedua adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal.
Tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang merupakan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan penggunaan kekuatan pikiran di mana pengetahuan tersebut selalu dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis.
Dengan demikian, pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan diperoleh melalui pancaindra manusia terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berpikir menjadi dasar manusia dan bersikap serta bertindak. Pengetahuan dikaitkan dengan segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses belajar.
2. Ciri-ciri Pengetahuan
Menurut Surajiyo (2007: 59), pengetahuan dicirikan dengan sebagai berikut:
a. Empiris, artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
b. Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur.
11
c. Objektif, artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi.
d. Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya dan peranan dari bagian-bagian itu.
e. Verifikasi, artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun.
3. Tingkatan Pengetahuan
Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dibandingkan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan karena didasari oleh kesadaran, rasa tertarik, adanya pertimbangan dan sikap positif. Menurut Notoatmodjo (2003: 123) ada tingkatan pengetahuan yang terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari yang telah diterima. Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini merupakan tingkatan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajarinya yaitu dengan menyebutkan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasi secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, dan menyebutkan terhadap objek yang telah dipelajari.
12 c. Aplikasi/Pengalaman
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun, merencanakan, meringkas, dan menyesuaikan rumusan yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.
4. Jenis-jenis Pengetahuan
Secara umum, pengetahuan dibedakan menjadi pengetahuan prailmiah (pengetahuan biasa) dan pengetahuan ilmiah. Untuk menjadi pengetahuan ilmiah, harus memenuhi syarat-syarat antara lain:
mempunyai objek tertentu, baik formal maupun non formal dan harus bersistem atau runtut, serta mempunyai model tertentu yang bersifat umum. ( Wiratha, 2006: 1)
13
Menurut Nurdin (2004: 140, pengetahuan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a. Pengetahuan biasa, adalah pengetahuan tentang hal-hal biasa, kejadian sehari-hari yang selanjutnya disebut pengetahuan.
b. Pengetahuan ilmiah, adalah pengetahuan yang mempunyai sistem dan metode tertentu yang selanjutnya disebut ilmu pengetahuan.
c. Pengetahuan filosofi, adalah semacam ilmu istimewa yang mencoba menjawab istilah-istilah yang tidak terjawab oleh ilmu biasa yang sering disebut sebagai filsafat.
d. Pengetahuan teologis, adalah pengetahuan tentang keagamaan, pengetahuan tentang pemberian dari Tuhan.
5. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (20003: 120), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
a. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang diperoleh dapat memperluas seseorang.
b. Pendidikan
Secara umum, orang yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada orang yang berpendidikan lebih rendah.
c. Keyakinan
Biasanya keyakinan diperoleh secara turun-temurun, baik keyakinan yang positif maupun yang negatif tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
d. Fasilitas
Fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah majalah, radio, koran, televisi, buku, dan lain-lain.
14 e. Sosial Budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.
Dengan demikian, pengetahuan seseorang terhadap norma- norma syariah khususnya terkait dengan kewajiban zakat, sangat mempengaruhi kesadaran seseorang untuk mengeluarkan zakat kepada mustahik. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik sikap seseorang terhadap kewajiban zakat, maka semakin tinggi pula kemungkinan seseorang untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan objek tersebut.
B. Zakat
1. Pengertian Zakat
Pengertian zakat secara umum adalah suatu kewajiban yang bersifat kemasyarakatan dan ibadah, di mana manusia akan merasakan keagungan dari tujuan ajaran Islam dalam bentuk mencintai dan tolong menolong antar sesama manusia. (Abdullah, 1982: 113)
Secara bahasa (etimologi) zakat berasal dari kata Zakka yang berarti berkembang, berkah, tumbuh, suci, dan baik (Asnaini, 2008: 23).
Dengan demikian, zakat yaitu membersihkan (menyucikan) diri dan hartanya sehingga pahalanya bertambah, hartanya tumbuh (berkembang) dan membawa berkah (Ali Hasan, 2008: 15).
Secara istilah (syara’) zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang tertentu dan dengan syarat-syarat yang ditentukan pula. (Makhalul, 2002: 67).
Menurut terminologi para fuqaha, zakat dimaksudkan sebagai penunaian, yakni penunaian hak yang wajib yang terdapat dalam harta.
Zakat juga dimaksudkan sebagai bagian harta tertentu dan yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang-orang fakir.
Zakat merupakan rukun Islam ketiga yang diwajibkan kepada seluruh orang muslim yang dianggap mampu atau kaya (aghniya’)
15
ketika memenuhi batas minimal (nishab) dan waktu satu tahun (haul) (Hadi, 2010: 1) dengan mengeluarkan sebagian harta untuk zakat dapat menyucikan orang yang mengeluarkan zakat karena perintah zakat bukan sekedar praktik ibadah yang memiliki dimensi spiritual tetapi juga sosial. Menurut Mursyid (2006: 2), zakat merupakan ibadah yang sangat berhubungan dengan harta benda, zakat wajib bagi orang yang mampu yaitu orang yang memiliki kekayaan berlebih terhadap kepentingan dirinya dan kepentingan orang-orang yang menjadi tanggungannya.
Senada dengan pengertian di atas, zakat dalam Undang-undang No. 38 Tahun1999 adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang Muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama yang diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya.
Sedangkan empat Mazhab memberikan definisi yang secara redaksional berbeda-beda mengenai makna zakat, berikut pengertian zakat menurut keempat mazhab antara lain:
a. Mazhab Syafii
Zakat ialah sebuah ungkapan untuk mengeluarkan harta atau tubuh sesuai dengan cara yang khusus.
b. Mazhab Maliki
Zakat ialah mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nishab kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Manakala kepemilikan itu penuh dan sudah mencapai haul (setahun) selain barang tambang dan pertanian.
c. Mazhab Hanafi
Zakat ialah menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus sesuai ketentuan syariat.
d. Mazhab Hambali
Zakat ialah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula.
16
Meskipun para ulama mengemukakannya dengan redaksi yang agak berbeda antara satu dan lainnya, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu pula. (Iqbal M, 2009: 20).
2. Dasar Hukum Zakat
Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam dan juga menjadi kewajiban bagi umat Islam dalam rangka pelaksanaan dua kalimat syahadat. Menurut Hasan, (2008: 11) dalam Al-Quran disebutkan, kata zakat dan shalat selalu digandengkan disebut sebanyak 82 kali. Ini menunjukkan hukum dasar zakat yang sangat kuat. Adapun dasar hukum diwajibkannya zakat terdapat dalam Al-Quran, Hadits, dan Ijma ulama, antara lain:
a. Al-Quran
Firman Allah SWT dalam Al-Quran dalam surat At-Taubah: 103:
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103) Maksud dari ayat di atas adalah ambillah sedekah dari harta orang-orang yang bertobat itu, yang dapat membersihkan mereka dari dosa dan kekikiran dan dapat mengangkat derajat mereka di sisi Allah. Doakanlah mereka dengan kebaikan dan hidayah, karena sesungguhnya doamu dapat menenangkan jiwa dan menentramkan
17
hati mereka. Allah Maha Mendengar doa dan Maha Mengetahui orang-orang yang ikhlas dalam bertaubat.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran dalam surat Al-Baqarah: 110
ُهوُدأَتَ ٍْيَْخ ْنأم ْمُك أسُفْ نَألِ اوُمِّدَقُ ت اَمَو ۚ َةاَكَّزلا اوُتآَو َة َلََّصلا اوُميأقَأَو ۚ ريْأصَب َنوُلَمْعَ ت اَأبِ َهَّللا َّنأإ أهَّللا َدْنأع
Artinya: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Segala kebajikan yang kamu berikan buat kebahagiaan dirimu, pastilah kamu mendapati balasannya di sisi Allah.
Bahwasanya Allah itu sangat melihat akan segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 110).
Maksud dari ayat di atas adalah Jagalah syiar agama kalian.
Kerjakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Segala apa yang kalian usahakan bagi diri kalian, berupa perbuatan-perbuatan baik dan sedekah, akan kalian dapatkan pahalanya di sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Mujadalah: 13
ٍتاَقَدَص ْمُكاَوَْنَ ْيَدَي َْيَْ ب اوُمِّدَقُ ت ْنَأ ْمُتْقَفْشَأَأ ْذأإَف ۚ
َْل اوُلَعْفَ ت َباَتَو
ُهَّللا ْمُكْيَلَع اوُميأقَأَف َة َلََّصلا
اوُتآَو َةاَكَّزلا اوُعيأطَأَو َهَّللا
ُهَلوُسَرَو ُهَّللاَو ۚ
ريْأبَخ
اَأبِ
َنوُلَمْعَ ت
Artinya: ”Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul- Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadalah:13).
Maksud dari ayat di atas adalah apakah kalian takut untuk selalu memberikan sedekah sebelum melakukan pembicaraan dengan Rasulullah? Apakah kalian tidak melakukannya padahal
18
Allah mengampuni kalian, maka lakukanlah terus salat dan membayar zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya Allah mengetahui amal perbuatan kalian dan akan selalu memberi balasan sesuai dengan hal itu.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran dalam surat Al-Baqarah: 277
ْمُهُرْجَأ ْمَُلَ َةاَكَّزلا اُوَ تآَو َة َلََّصلا اوُماَقَأَو أتاَألِاَّصلا اوُلأمَعَو اوُنَمآ َنيأذَّلا َّنأإ ْمأهْيَلَع رفْوَخ َلََو ْمأِّبَِّر َدْنأع َنوُنَزَْيَ ْمُه َلََو
Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman mengerjakan amal sholeh mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 277)
Maksud dari ayat di atas ialah sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah, menaati perintah-Nya dengan mengerjakan amal saleh, meninggalkan segala larangan-Nya, melaksanakan salat secara sempurna, memberikan zakat kepada orang yang berhak, bagi mereka pahala yang besar di sisi Tuhan.
Mereka tidak akan khawatir menghadapi segala sesuatu di masa depan. Dan tidak akan bersedih merenungi sesuatu yang tertinggal di masa lalu.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran dalam surat At- Taubat: 11
ُلِّصَفُ نَو ۚ أنيِّدلا أفِ ْمُكُناَوْخأإَف َةاَكَّزلا اُوَ تآَو َة َلََّصلا اوُماَقَأَو اوُباَت ْنأإَف َنوُمَلْعَ ي ٍمْوَقأل أتاَي ْلْا
Artinya: “Apabila mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudaramu yang seagama.” (QS. At- Taubat:11).
Maksud dari ayat di atas adalah apabila mereka bertobat dari kekufuran dan berpegang teguh kepada hukum-hukum Islam dengan mengerjakan salat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah
19
saudara-saudara kalian seagama. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan hak dan kewajiban kalian. Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan.
b. Ijma
Adapun dalil berupa ijma ialah adanya kesepakatan seluruh umat Islam di semua negara. Zakat diwajibkan di Madinah pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah, kewajiban ini terjadi setelah kewajiban puasa Ramadhan dan zakat fitrah. Bahkan para sahabat sepakat untuk membunuh orang-orang yang tidak membayar zakat, maka barang siapa yang mengingkari kefardhuannya berarti dia kafir. (Imam Muslim, 1993: 26-27).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa zakat merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan karena zakat merupakan sendi pokok dalam agama Islam. Zakat juga mempunyai banyak hikmah, antara lain menghindarkan diri dari sifat kikir dan serakah karena di dalam harta tersebut terdapat hak fakir miskin dan orang yang tidak mampu lainnya untuk diberikan. Dan kewajiban zakat ini telah disepakati oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, sehingga jika ada seseorang yang mengingkarinya maka ia dapat dianggap kafir.
Zakat dan shalat dalam Al-Quran dan Hadits merupakan lambang keseluruhan dari semua ajaran Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa eratnya hubungan antara keduanya.
Keislaman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal tersebut (Al-Zuhayli, 2008: 57). Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang dekat dengan Tuhan berimplikasi pula pada kedekatannya dengan manusia, begitu pula sebaliknya (Muflih, 2006: 57).
Melaksanakan shalat merupakan lambang baiknya hubungan seseorang dengan Tuhannya, sedang zakat adalah lambang harmonisnya hubungan antara sesama manusia. Sehingga tidak mengherankan jika shalat dan zakat yang disyariatkan Allah merupakan pilar-pilar
20
berdirinya bangunan Islam. Jika keduanya hancur maka Islam pun sulit untuk tetap bertahan.
Di dalam sejarah Islam pernah terjadi, bahwa Abu Bakar pernah memerangi orang yang tidak mau menunaikan zakat. Beliau mengatakan dengan tegas: “Demi Allah akan aku perangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat” (Iqbal M, 2009 : 17).
Menurut Muhammad, (2002: 12) agama Islam memiliki berbagai kelebihan yang membuktikan bahwa ia benar-benar berasal dari sisi Allah dan merupakan risalah rabbaniyah terakhir yang abadi.
Untuk itu pembahasan tentang zakat jelas merupakan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Sehingga tidak perlu ditopang lagi dengan berbagai dalil karena sudah jelas dan ditegaskan oleh berbagai ayat Al- Quran.
Zakat merupakan ibadah yang bertalian dengan harta benda (Maaliyah) juga merupakan kewajiban sosial bagi para aghniya’
(hartawan) setelah kekayaan sudah memenuhi batas minimal (nishab) dan rentang waktu setahun (haul). Yang tentunya bertujuan untuk mewujudkan pemerataan keadilan dalam bidang ekonomi umat dan merupakan sumber dana potensial yang sangat strategis dalam upaya membangun kesejahteraan umat. Oleh karena itu dalam Al-Quran disebutkan agar zakat dihimpun dan kemudian disalurkan kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).
Dengan demikian, zakat mempunyai dimensi pemerataan karunia Allah SWT sebagai fungsi sosial ekonomi sebagai perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan umat, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan miskin, sarana membangun kedekatan yang kuat dengan yang lemah, mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, rukun, damai, dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir batin (Asnaini, 2008: 133).
21 3. Syarat Wajib Zakat
Zakat mempunyai beberapa syarat wajib dan syarat sah.
Menurut kesepakatan para ulama, bahwa syarat wajib zakat adalah sebagai berikut:
a. Merdeka
Yaitu zakat dikenakan kepada orang-orang yang bebas dan dapat bertindak bebas, menurut kesepakatan para ulama zakat tidak wajib atas hamba sahaya yang tidak mempunyai hak milik.
b. Muslim
Menurut Ijma' zakat tidak wajib atas orang kafir karen a zakat ini merupakan ibadah mahdah yang suci sedangkan orang kafir bukan orang suci maka tidak wajib mengeluarkan zakat.
c. Baligh dan berakal
Zakat tidak wajib diambil atas harta anak kecil dan orang orang gila sebab keduanya tidak termasuk ke dalam ketentuan orang yang wajib mengerjakan ibadah seperti sholat dan puasa.
d. Kepemilikan harta yang penuh
Harta yang akan dikeluarkan zakatnya haruslah murni harta pribadi dan tidak bercampur dengan harta milik orang lain. Jika dalam harta kita bercampur dengan harta milik orang lain sedangkan kita akan mengeluarkan zakat, maka harus dikeluarkan terlebih dahulu harta milik orang lain tersebut.
e. Mencapai nishab
Nishab adalah batasan antara apakah kekayaan itu wajib zakat atau tidak sesuai ketentuan syara' sebagai pertanda kayanya seseorang dan kadar-kadar yang mewajibkannya berzakat. Jika harta yang dimiliki seseorang telah mencapai nishab, maka kekayaan tersebut wajib zakat, jika belum mencapai nishab, maka tidak wajib zakat.
f. Mencapai haul
Menurut Al-Zuhayli, (2008: 98) Haul yaitu kekayaan yang dimiliki seseorang apabila sudah mencapai satu tahun hijriyah atau telah mencapai jangka waktu yang mewajibkan seseorang mengeluarkan
22
zakat. Sedangkan syarat sahnya adalah niat yang menyertai pelaksanaan zakat.
4. Hikmah Zakat
Meskipun zakat hakikatnya adalah kewajiban atas orang kaya untuk menunaikan hak fakir miskin dan lainnya, namun amat besar pula hikmah yang diperoleh para wajib zakat dari adanya kewajiban tersebut (Al-Zuhayli, 2008: 86):
a. Menyucikan jiwa orang yang berzakat dari sifat tamak dan kikir.
b. Membina dan mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam.
c. Mengembangkan tanggung jawab perseorangan terhadap kepentingan umum.
d. Membantu orang yang tidak mampu dan menutup kebutuhan orang yang berada dalam kesulitan dan penderitaan.
e. Menunjukkan rasa syukur atas nikmat kekayaan yang diberikan oleh Allah.
f. Mencegah jurang pemisah antara kaya dan miskin yang dapat menimbulkan masalah dan kejahatan.
5. Harta Yang Wajib Dizakati a. Emas dan Perak (Nuqud)
Para ulama fiqh telah sepakat bahwa emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya, apabila telah mencapai nishab dan telah berlalu satu tahun.
Syarat wajib zakatnya menurut Sudarsono, (1994: 79) : 1) Islam
2) Merdeka
3) Milik yang sempurna 4) Sampai nishab
5) Sampai haul (1 tahun)
23
Kewajiban zakat pada emas dan perak telah disebutkan dalam Al-Quran dalam surat At-Taubah ayat 34:
أساَّنلا َلاَوْمَأ َنوُلُكْأَيَل أناَبْهُّرلاَو أراَبْحَْلِا َنأم اًيْأثَك َّنأإ اوُنَمآ َنيأذَّلا اَهُّ يَأ اَي أهَّللا أليأبَس ْنَع َنوُّدُصَيَو ألأطاَبْلاأب َنيأذَّلاَو ۚ
َنوُزأنْكَي َبَهَّذلا
َةَّضأفْلاَو َلََو
اَهَ نوُقأفْنُ ي أليأبَس أفِ
أهَّللا ْمُهْرِّشَبَ ف ٍباَذَعأب
ٍميألَأ
Artinya: “... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)
Allah menjelaskan bahwa emas dan perak yang telah mencapai nisab itu wajib dikeluarkan zakatnya. Kadar zakat yang wajib dikeluarkan dari emas dan perak ialah seperempat puluh (2,5%). Dengan demikian, jika seseorang memiliki 200 dirham (mata uang dari perak) dan telah mencapai nishab masa haul, zakat yang wajib dikeluarkan darinya adalah 5 dirham. Sedangkan jika dia memiliki 20 mistqal (93,6 gram emas), zakat yang wajib dikeluarkan darinya adalah 0,5 mistqal. (Al-Zuhayli, 2008: 129).
b. Binatang Ternak
Hewan ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya setelah memenuhi persyaratan tertentu, ada tiga jenis yaitu unta, sapi, dan kambing atau domba. Adapun persyaratan utama kewajiban zakat pada hewan ternak adalah sebagai berikut:
1) Mencapai nishab, syarat ini berkaitan dengan jumlah minimal hewan yang dimiliki, yaitu 5 ekor untuk unta, 30 ekor untuk sapi, dan 40 ekor untuk kambing atau domba.
2) Telah melewati waktu satu tahun (haul).
3) Digembalakan di tempat penggembalaan umum.
4) Tidak dipergunakan untuk keperluan pribadi pemiliknya dan tidak pula dipekerjakan.
24
Zakat yang wajib dikeluarkan ditentukan berdasarkan jumlah ternak tersebut sebagaimana tergambar dalam tabel 1.1 (Gustian, 2006: 22-29) :
Tabel 3.1
Jenis Barang, Nisab, dan Zakatnya No. Jenis
Barang Nisab Zakat Keterangan
1. Ternak unta
5 - 9 ekor 10 - 14 ekor 15 - 19 ekor 20 - 24 ekor 25 - 35 ekor 36 - 45 ekor 45 - 60ekor 61- 75 ekor 76 - 90 ekor 91 - 120 ekor
1 kambing 2 kambing 3 kambing 4 kambing 1 unta 1 unta 1 unta 1 unta 1 unta 2 unta
Usia 2 tahun Usia 2 tahun Usia 2 tahun Usia 2 tahun Usia 1 tahun Usia 2 tahun Usia 2 tahun Usia 4 tahun Usia 2 tahun Usia 3 tahun 2. Ternak
kerbau
30 – 39 ekor 40 – 59 ekor 60 – 69 ekor 70 - 79ekor 80 - 89ekor
1 kerbau 2kerbau
2kerbau Usia 2 tahun
3. Ternak kambing
40 – 120 ekor 121 – 200 ekor 201 – 300 ekor
1 kambing betina 2 kambing betina 3 kambing betina
Usia 2 tahun
4. Ternak sapi
30 - 39 ekor 40 - 59 ekor 60 - 69ekor 70 - 79ekor 80 - 89 ekor
1 sapi jantan/betina 1 sapi betina 2 sapi jantan/betina 2 sapi
2 sapi
Usia 1 tahun Usia 2 tahun
25
c. Hasil Pertanian (Tumbuh-tumbuhan)
Mengenai zakat tumbuh-tumbuhan, Allah telah menetapkan dalam Al-Quran sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 267 :
َنأم ْمُكَل اَنْجَرْخَأ اَّأمَِو ْمُتْبَسَك اَم أتاَبِّيَط ْنأم اوُقأفْنَأ اوُنَمآ َنيأذَّلا اَهُّ يَأ اَي ۚ أضْرَْلِا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahanya yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu..” (QS: Al-Baqarah:267)
Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur- sayuran, buah-buahan, dan sebagainya. Jumhur ulama sepakat bahwa kadar yang wajib dikeluarkan dalam zakat tumbuh-tumbuhan adalah sepersepuluh (10%) jika tumbuh-tumbuhan tersebut disiram air hujan atau air dari aliran sungai. Ta[i jika air yang dipergunakannya dengan air irigasi (dengan membayar) dan sejenisnya maka cukup mengeluarkan zakat sebesar 5%.
d. Barang Tambang dan Temuan (Rikaz)
Barang tambang adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu bara dan lain sebagainya.
Barang temuan (Rikaz) adalah harta yang terpendam di dalam tanah dari zaman dahulu atau biasa disebut dengan harta karun. Termasuk di dalamnya harta atau barang yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.
e. Harta Perdagangan
Harta perdagangan adalah harta yang dimiliki dengan akad tukar dengan tujuan untuk memperoleh laba, dan harta yang dimilikinya harus merupakan hasil usahanya sendiri. Kalau harta
26
yang dimiliki itu harta merupakan harta warisan, maka para ulama bersepakat tidak menamakannya harta dagangan.
6. Orang Yang Berhak Menerima Zakat (Mustahiq)
Para ulama dan ahli hukum Islam ketika membahas mengenai orang- orang yang berhak menerima zakar selalu merujuk pada surat At- Taubah ayat 60 yang menjelaskan mengenai delapan kategori yang berhak menerima zakat yang ditegaskan dalam Al-Quran (Depag, 2000:
196) :
أفَِو ْمُهُ بوُلُ ق أةَفَّلَؤُمْلاَو اَهْ يَلَع َيْألأماَعْلاَو أيْأكاَسَمْلاَو أءاَرَقُفْلأل ُتاَقَدَّصلا اََّنَّأإ أليأبَّسلا أنْباَو أهَّللا أليأبَس أفَِو َيْأمأراَغْلاَو أباَقِّرلا ًةَضيأرَف ۚ
َنأم أهَّللا ُهَّللاَو ۚ رميألَع
رميأكَح
Artinya: “Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu hanyalah untuk orang- orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang di bujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang- orang yang berhutang, yang berada dijalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60).
Sebagaimana pendapat para ulama dan ahli hukum Islam yang merujuk pada Al-Quran mengenai orang-orang yang berhak menerima zakat adalah sebagai berikut:
a. Fakir
Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
b. Miskin
Miskin adalah orang yang memiliki pekerjaan tetapi penghasilannya tidak dapat dipakai untuk memenuhi hajat hidupnya.
c. Amil
Amil adalah orang yang mendapatkan amanah untuk pengumpulan dan pembagian zakat.
27 d. Muallaf
Mualaf (orang yang perlu ditundukkan hatinya) adalah orang yang baru masuk Islam sehingga belum kuat imannya. Mereka diberi zakat agar niat mereka memasuki Islam menjadi lebih kuat.
e. Riqab (budak)
Riqab adalah para budak muslim yang telah membuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk membayar tebusan atas diri mereka, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting tulang mati-matian.
f. Gharim (orang yang mempunyai hutang)
Menurut Imam Hanafi, Gharim adalah orang yang betul-betul memiliki hutang dan tidak memiliki apa-apa selain hutangnya itu.
Sedangkan menurut Imam Malik gharim adalah orang yang benar- benar dililit hutang sehingga dia tidak dapat melunasi hutangnya.
Dan hutang itu tidak dipakai untuk melakukan perbuatan maksiat.
g. Fisabilillah
Fisabilillah adalah para pejuang yang membela agama Allah, membela tanah air dan ikut berperang di jalan Allah yang mana mereka tidak mendapat gaji dari pemerintah.
h. Ibnu Sabil (orang yang melakukan perjalanan)
Ibnu sabil adalah orang-orang yang bepergian untuk melaksanakan suatu hal yang baik dan tidak untuk bermaksiat.
7. Pengelolaan Zakat
Pengelolaan zakat menurut Undang-undang No.38 Tahun 1999 adalah sebuah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat (Gustian, 2006: 3). Aktivitas pengelolaan zakat yang telah diajarkan pada zaman Rasulullah SAW dikenal sebuah lembaga yang disebut Baitul Mal yang bertugas dan berfungsi mengelola keuangan negara yang pemasukannya bersumber dari dana zakat, infak, kharaj, jizyah, ghanimah, dan sebagainya.
28
Kegunaannya untuk mustahiq yang telah ditentukan yaitu kepentingan dakwah, pendidikan, kesejahteraan sosial, pembuatan infrastruktur dan sebagainya. Namun saat ini makna Baitul Mal mengalami penyempitan, hanya sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan dana zakat, infak, shadaqah dan wakaf yang dikenal sebagai organisasi pengelola zakat.
Keberadaan organisasi pengelola zakat di Indonesia telah diatur dalam perundang-undangan yakni UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, Keputusan Menteri Agama No. 581 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan UU No. 38 Tahun 1999 dan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji No. D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.
Menurut Gustian (2006: 11), peraturan bertujuan agar organisasi pengelola zakat dapat lebih profesional, amanah dan transparan sehingga dana yang dikelola dapat berdampak positif terhadap pemberdayaan dan kesejahteraan umat. Mengurus dana zakat memerlukan manajemen dan pengelolaan secara profesional agar potensi yang besar dapat memberi manfaat bagi kaum dhuafa. Maka bagian terpenting dalam proses manajemen pengelolaan zakat adalah tahap alokasi dan pendistribusian dana zakat karena proses inilah yang langsung bersentuhan dengan sasaran penerima zakat.
Manajemen suatu organisasi pengelola zakat yang baik dapat diukur dan dirumuskan dengan tiga kata kunci yang dinamakan Good Organization Governance, yaitu:
a. Amanah
Sifat amanah merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap amil zakat. Tanpa adanya sifat tersebut maka sistem akan hancur, sebagaimana sistem perekonomian Indonesia hancur disebabkan rendahnya moral dan tidak amanahnya pelaku ekonomi.
Terlebih dana yang dikelola adalah dana umat yang secara esensi milik mustahiq.
29 b. Profesional
Hanya dengan profesionalitas yang tinggilah maka dana yang dikelola akan menjadi efektif dan efisien.
c. Transparan
Dengan transparansi pengelolaan zakat, maka akan menciptakan suatu sistem kontrol yang baik karena melibatkan pihak intern organisasi dan pihak muzakki maupun masyarakat luas. Dengan transparansi maka rasa curiga dan ketidakpercayaan masyarakat akan dapat di minimalisir (Sholahuddin, 2006: 236).
Secara umum prinsip akuntansi sebuah lembaga amil harus memenuhi standar akuntansi pada umumnya, yakni:
a. Accountability
Yaitu pembukuan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dengan bukti yang sah.
b. Auditable
Yaitu pembukuan dapat dengan mudah dipahami oleh pihak pemakai laporan, mudah ditelusuri dan dapat dicocokkan.
c. Simplicity
Yaitu pembukuan disesuaikan dengan kepraktisan, sederhana dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga tanpa harus mengubah prinsip penyusunan laporan keuangan.
Menurut Ridwan (2004: 225), laporan keuangan sebuah lembaga pengelola zakat harus diterbitkan secara berkala, hal tersebut untuk meningkatkan kepercayaan muzakki maupun calon muzakki. Sehingga keyakinan dan kepercayaan muzakki terhadap citra lembaga tetap terjaga.
Zakat merupakan salah satu instrumen untuk mengentaskan kemiskinan, pemerataan pendapatan dan mempersempit kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Maka melalui lembaga zakat diharapkan kelompok lemah dan kekurangan tidak lagi merasa khawatir terhadap kelangsungan hidupnya, karena substansi zakat merupakan mekanisme yang menjamin terhadap kelangsungan hidup mereka di
30
tengah masyarakat, sehingga mereka merasa hidup di tengah masyarakat manusia yang beradab, kepedulian dan tradisi saling menolong (Gustian, 2006: 16).
Dengan demikian, maka amil dalam melaksanakan manajemen pengelolaan zakat harus dikelola secara optimal, profesional dan sesuai dengan tujuan zakat yaitu mengentaskan kemiskinan, oleh karena itu harus memiliki data-data yang lengkap berkaitan dengan nama-nama mustahik dan tingkat kesejahteraan hidupnya serta kebutuhannya.
C. Kepercayaan
1. Pengertian Kepercayaan
Menurut Amir (2005: 62-65), kepercayaan (trust atau belief) merupakan keyakinan bahwa tindakan orang lain atau suatu kelompok konsisten dengan kepercayaan mereka. Kepercayaan lahir dari suatu proses secara perlahan kemudian terakumulasi menjadi suatu bentuk kepercayaan, dengan kata lain kepercayaan adalah keyakinan kita bahwa di satu produk ada atribut tertentu. Keyakinan ini muncul dari persepsi yang berulang adanya pembelajaran dan pengalaman.
Kepercayaan pada dasarnya adalah kemauan suatu pihak untuk mengandalkan pihak lain, yaitu pihak yang mendapat kepercayaan.
Kepercayaan juga merupakan sekumpulan keyakinan spesifik terhadap Integritas (kejujuran pihak yang dipercaya), Benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), Competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan Predictability (konsistensi perilaku pihak yang dipercaya) (Wahab, 2010: 25).
Kepercayaan merupakan penilaian atas kredibilitas pihak yang akan dipercaya atas kemampuan pihak yang dipercaya dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya sedangkan kepuasan adalah suatu ungkapan yang bernada positif yang berasal dari penilaian semua aspek hubungan kerja sama antara pihak satu dengan pihak lain.
31
Kepuasan tersebut berdasarkan sejauh mana manfaat sebuah produk/jasa yang dirasakan sesuai dengan yang diharapkan (Wahab, 2010: 26).
Menurut Patricia (2007: 144), kepercayaan adalah unsur penting dalam setiap hubungan. Kepercayaan dari para karyawan dapat menumbuhkan loyalitas dan mengurangi penggantian juga merupakan sumber daya penting yang harus dipelihara dalam setiap hubungan.
Tanpa ada kepercayaan maka tidak ada pengambilan risiko dan inovasi.
Dengan adanya kepercayaan, dari pelanggan maka dapat membangkitkan pengulangan bisnis.
Cara membangun kepercayaan adalah menjadi pemimpin yang mampu menyesuaikan diri, teguh pendiriannya, peduli, dapat dipercaya (jujur), bersama-sama menciptakan visi dan budaya, bersama-sama menciptakan nilai dan mencapai tujuan, menjadi pendengar yang baik, mendemonstrasikan keterampilan profesional, komitmen terhadap diri sendiri, kelompok dan organisasi. (Husaini, 2008: 452)
2. Dimensi Kepercayaan
Menurut Husaini (2008: 452), kunci membangun kepercayaan ada lima dimensi yaitu:
a. Integritas
Integritas adalah sifat-sifat yang jujur dan bermoral. Kejujuran adalah unsur yang menentukan dalam peristiwa komunikasi.
Kejujuran tidak saja menjadikan proses komunikasi menjadi efektif, tetapi juga mampu menciptakan pemahaman yang baik antara komunikan dan komunikator.
b. Kompetensi
Secara umum, kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang
32
menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
c. Konsistensi
Konsistensi ialah sifat kokoh atau teguh pendirian, meskipun berbagai ancaman menghadang. Orang yang konsisten dapat diramalkan tingkah lakunya, tidak mudah berubah-ubah perilakunya (sikap, pikiran dan perbuatannya), ucapan, dan janjinya dapat dipercaya, serta cocok antara kata dengan perbuatannya.
Ketidakkonsistenan antara ucapan dan perbuatan, janji dan buktinya, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan.
d. Kesetiaan
Kesetiaan adalah keinginan untuk selalu melindungi, menyelamatkan, mematuhi atau taat pada apa yang disuruh atau dimintanya dan penuh pengabdian. Orang yang setia tidak akan berkhianat atau selingkuh.
e. Keterbukaan
Keterbukaan ialah keadaan dimana setiap orang yang terkait dengan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambil keputusan dan kebijakan. Keterbukaan sama dengan polos, apa adanya, tidak bohong, tidak curang, dan jujur.
Kepercayaan terhadap lembaga zakat dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemauan muzaki untuk mengandalkan lembaga zakat dalam menyalurkan zakatnya kepada mustahiq zakat karena muzaki yakin lembaga tersebut profesional, amanah dan transparan. Di samping akan menumbuhkan rasa kepercayaan tinggi masyarakat terhadap lembaga zakat, dana zakat yang terkumpul juga akan lebih optimal dalam segi pemanfaatan.
Dengan demikian, masyarakat akan lebih berkomitmen terhadap lembaga amil zakat tersebut dan menjadikannya sebagai pilihan utama dalam berzakat dan mengajak orang lain untuk berzakat di lembaga amil zakat.
33 D. Minat
1. Pengertian Minat
Untuk bisa mengumpulkan dana zakat dari masyarakat, dibutuhkan adanya kesadaran berzakat dari setiap individu. Kesadaran itu akan muncul karena adanya minat masyarakat untuk membayarkan zakatnya dilembaga zakat yang ada, sebab tanpa adanya minat segala kegiatan yang dilakukan kurang efektif dan efisien.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara bahasa minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, dan keinginan. Sedangkan menurut istilah, minat ialah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Jadi minat adalah suatu gejala psikologis karena adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran serta perasaan senang terhadap objek yang menjadi sasaran. Artinya ada kemauan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu (Andi dan Siti, 2016: 34).
Minat merupakan keinginan yang tinggi dalam seseorang untuk melakukan sesuatu. Beberapa studi menjelaskan bahwa niat merupakan salah satu komponen penting dalam membentuk perilaku seseorang (Zainol dan Faridahwati, 2013). Menurut peneliti, minat adalah sebuah bentuk keinginan kuat seseorang yang dibentuk dari beberapa faktor untuk melakukan sesuatu. Minat mendorong seseorang untuk berperilaku dalam sekali, beberapa kali, atau secara konsisten.
Sedangkan arti minat membayar zakat adalah kesadaran membayar zakat mal sesuai dengan ketentuan syariat seperti nishab haul, serta cara mengeluarkannya secara benar (melalui amil) merupakan bentuk dan perwujudan kepatuhan muzaki terhadap perintah zakat. Bentuk dan perwujudan kepatuhan merupakan penggambaran dari perilaku muzaki dalam membayar zakat mal, yang banyak dipengaruhi oleh tingkat keyakinan, pemahaman, kecenderungan dan minat yang dimiliki oleh muzaki.
34 2. Unsur-unsur Minat
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdurrahman Abror, bahwa minat itu mengandung tiga unsur, yaitu :
a. Unsur Kognisi (mengenal)
Dalam pengertian bahwa minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut.
b. Unsur Emosi (perasaan)
Dengan arti bahwa dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai dengan perasaan tertentu (biasanya perasaan senang).
c. Unsur Konasi (kehendak)
Merupakan kelanjutan dari dua unsur di atas, yaitu mewujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan.
Dengan adanya unsur-unsur yang dikandung oleh minat tersebut maka minat dapat dianggap sebagai respon sadar, sebab kalau tidak demikian maka minat tidak akan berarti apa-apa.
3. Ciri-ciri Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka atau ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara dirinya dengan sesuatu diluar dirinya, semakin kuat atau semakin dekat hubungan itu, maka akan semakin besar minatnya (Slameto, 1988: 118).
Minat merupakan pernyataan psikis yang belum dapat diamati secara langsung, yang dapat diamati adalah dinamikanya atau manifestasinya dalam perbuatan atau tingkah laku seseorang. Menurut Tanunihardjo & Santoso (1988: 97), minat akan ditunjukkan oleh tindakan sebagai berikut:
a. Orang tersebut akan berusaha mendapatkan informasi yang lengkap.
b. Orang tersebut akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
c. Orang tersebut akan berusaha memperhatikan.
35
Dan individu dapat dikatakan menaruh minat terhadap suatu objek ditandai dengan:
a. Kecenderungan untuk memikirkan objek yang diminati.
b. Keinginan untuk memperhatikan objek yang diminati.
c. Rasa senang terhadap objek yang diminati.
d. Keinginan untuk mengetahui atau mengikuti objek yang diminati.
4. Macam-macam Minat
Menurut M. Abdul Rouf (2011: 15), macam-macam minat dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Berdasarkan timbulnya, minat dapat dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makan. Sedangkan minat kultural adalah minat yang timbul karena proses belajar.
b. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar atau asli. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut.
c. Berdasarkan cara mengungkapkan, minat dapat dibedakan menjadi empat yaitu:
1) Expressed interest
Minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subyek untuk menyatakan atau menuliskan semua kegiatan, baik yang disenangi maupun yang paling tidak disenangi.
2) Manifest interest
Minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan mengetahui hobinya.
36 3) Tested interest
Minat yang diungkapkan dengan cara menyimpulkan hasil jawaban tes obyektif yang ada.
4) Inventoried interest
Minat yang diungkapkan dengan cara menggunakan alat-alat yang sudah distandarkan, berisi pertanyaan-pertanyaan kepada subyek.
Semua minat mempunyai dua aspek, yaitu : Pertama, adalah Aspek kognitif. Kedua, adalah Aspek afektif. Aspek kognitif didasarkan pada konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan manusia. Sedangkan aspek afektif atau bakat emosional adalah aspek yang berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang penting misalnya orang tua, guru, dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut (Sukanto, 1985:
116-119).
5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Minat
Menurut Abdul Rahman Saleh (2009: 65) berpendapat ada tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya minat, yaitu:
a. Dorongan dari dalam individu
Yaitu rasa ingin tahu atau dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Dorongan ini dapat membuat seseorang berminat untuk mempelajari sesuatu. Faktor dorongan dari dalam adalah pengetahuan, kebutuhan, keinginan, dan kepuasan.
b. Motif sosial
Yaitu minat dalam upaya mengembangkan diri dari dan dalam ilmu pengetahuan yang mungkin diilhami oleh hasrat untuk mendapatkan kemampuan dalam bekerja atau adanya hasrat untuk memperoleh penghargaan dari keluarga atau teman.
37 c. Faktor emosional
Yaitu minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi. Misalnya, keberhasilan akan menimbulkan perasaan puas dan meningkatkan minat sedangkan kegagalan dapat menghilangkan minat seseorang.
6. Penentuan Minat
Karena pentingnya peran minat dalam kehidupan manusia, maka minat perlu sekali ditemukan dan dipupuk. Ada beberapa metode untuk menentukan minat seseorang antara lain (Andi, 2012: 65) :
a. Pengamatan kegiatan b. Pertanyaan
c. Membaca d. Keinginan
e. Laporan mengenai apa saja yang diminati
Sebagaimana terkandung dalam Al-Quran, berkaitan dengan minat terdapat pada surat pertama yang perintahnya adalah agar kita membaca. Bukan sekedar membaca buku atau secara tekstual, tetapi dalam semua aspek. Termasuk tuntunan membaca cakrawala dunia yang merupakan kebesaran-Nya serta membaca potensi diri sehingga kita dapat memahami apa yang sebenarnya menarik minat kita dalam kehidupan ini.
Terdapat firman Allah SWT dalam Surat Al-Alaq ayat 3-5 :
ُمَرْكَ ْلْا َكُّبَرَو ْأَرْقا ِمَلَقْلاِب َمَّلَع يِذَّلا(3)
ْمَلْعَي ْمَل اَم َناَسْنِ ْلْا َمَّلَع(4) (5)
Artinya: “Bacalah! Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui-Nya”
(QS. Al-Alaq: 3-5)
Jadi minat merupakan karunia terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua. Namun demikian bukan berarti kita hanya berpangku tangan dan minat tersebut dapat berkembang dengan sendirinya. Tetapi kita harus ada upaya mengembangkan anugerah Allah itu secara maksimal sehingga karunianya dapat berguna dengan baik pada diri dan lingkungan kita berada.
38
Ketidakpercayaan ataupun kurang percaya masyarakat terhadap lembaga amil zakat membuat sebagian masyarakat lebih memilih menunaikan ibadah zakat langsung kepada mustahiq zakat dari pada ke lembaga zakat. Oleh karena itu, pengelolaan zakat oleh suatu lembaga amil zakat yang lebih profesional, amanah dan transparan akan dapat menumbuhkan semangat masyarakat untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga tersebut.
Tingkat pemahaman masyarakat muslim mengenai keagamaan khususnya ibadah zakat berpengaruh kuat terhadap semua aspek kehidupan manusia, khususnya berdampak pada kesadaran masyarakat membayar zakat. Termasuk ajaran Islam mengenai pemerataan dan pendistribusian pendapatan yang memihak kepada rakyat miskin.
Pendapatan berpengaruh terhadap jumlah zakat yang harus dibayarkan oleh muzaki (Hikayah Azizi, 2008: 77).
Dengan demikian, pengetahuan zakat dan kepercayaan masyarakat merupakan faktor terpenting dalam menentukan perilaku masyarakat untuk menunaikan zakat di lembaga amil zakat. Pengelolaan dana zakat yang lebih profesional akan menjadikan lembaga amil zakat tersebut sebagai pilihan utama masyarakat dalam berzakat dan mengajak orang lain untuk menunaikan zakat.
E. Penelitian Terdahulu
Dalam studi literatur ini, penulis mencantumkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh beberapa pihak sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan materi yang ada dalam penelitian yang dibuat oleh penulis. Beberapa penelitian yang memiliki korelasi dengan penelitian ini adalah :
1. Asep Shalahudin. 2012 dengan judul “Persepsi Masyarakat dan Pengaruhnya Terhadap Minat Menabung pada Perbankan Syariah”.
Dari hasil penelitiannya bahwa persepsi masyarakat pedagang di pasar kue Plered terhadap perbankan syariah ada pada kategori kurang tahu, hal ini ditunjukkan oleh presentasi sebesar 47,36% artinya bahwa secara
39
umum pedagang kue kurang mengetahui terhadap eksistensi (keberadaan) perbankan syariah di Cirebon. Hasil penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi masyarakat pedagang di pasar kue Plered dengan minat menabung masyarakat pedagang kue tersebut pada perbankan syariah.
2. Fuadiy. 2012 dengan judul “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Muzakki Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani dalam Membayar Zakat Profesi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden termotivasi membayar zakat profesinya dikarenakan faktor: Pertama, wawasan yang baik tentang zakat. Kedua, solidaritas terhadap sesama. Ketiga, kepercayaan yang tinggi terhadap LPZ. Keempat, kebiasaan yang sudah lama dilakukan.
3. M. Abdul Rouf. 2015 dengan judul “Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Membayar Zakat di Rumah Zakat Cabang Semarang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel (kepercayaan, religiusitas, dan pendapatan) berpengaruh signifikan terhadap minat membayar zakat di Rumah Zakat Cabang Semarang.
4. Ayub Mursalin. 2014 dengan judul “Hubungan antara Tingkat Pemahaman dan Sikap Masyarakat Kota Jambi Terhadap Kewajiban Zakat dengan Kesadaran untuk Berzakat ke BAZDA”. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa tanpa adanya pemahaman dan sikap terhadap kewajiban zakat, kesadaran untuk berzakat seseorang adalah -4.548.
berarti hubungan antara kesadaran dan pemahaman adalah positif.
5. Teza Sintina, dkk. 2010 dengan judul “Pengaruh Pengetahuan dan Kepercayaan terhadap Minat Masyarakat Membayar Zakat di Sinergi Foundation Kota Bandung”. Hasil penelitian yang didapat bahwa pengetahuan dan kepercayaan secara bersama-sama mempengaruhi minat membayar zakat di Founder Kota Bandung.
6. Andi Triyawan dan Siti Aisyah. 2013 dengan judul : “Analisis Faktor- faktor yang Mempengaruhi Muzaki Membayar Zakat di BAZNAS Yogyakarta”. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa faktor
40
kepercayaan mempengaruhi minat muzaki untuk membayar zakat di BAZNAS Yogyakarta.
F. Kerangka Pemikiran
Pada hakikatnya pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003: 143). Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki, yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Inilah yang disebut potensi untuk menindaki. Menurut Notoatmodjo (2003: 122), dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Zakat merupakan salah satu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang zakat seseorang maka akan keluar dari dalam dirinya kesadaran untuk melakukan kewajiban yang diperintahkan yaitu membayar zakat. Pengetahuan seseorang terhadap norma-norma syariah khususnya terkait dengan kewajiban zakat, sangat mempengaruhi kesadaran seseorang untuk mengeluarkan zakat kepada mustahik zakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik sikap seseorang terhadap kewajiban zakat, maka semakin tinggi pula kemungkinan seseorang untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan objek tersebut.
Kepercayaan masyarakat (muzakki) kepada lembaga pengelola zakat akan mendorong masyarakat untuk menyalurkan dana zakat melalui lembaga pengelola zakat. Kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mempengaruhi minat seseorang untuk membayar zakat. Kepercayaan
41
merupakan faktor intrinsik yang timbul dalam sebuah kemauan muzakki untuk mengandalkan lembaga pengelola zakat sebagai wadah dalam menyalurkan zakat kepada mustahik. Muzaki meyakini bahwa lembaga tersebut merupakan lembaga pengelola zakat yang profesional, kredibel, dan transparan. Dengan rasa percaya yang tinggi terhadap lembaga pengelola zakat, maka keinginan muzaki untuk membayar zakat melalui lembaga pengelola zakat lebih tinggi.
1. Pengaruh pengetahuan terhadap minat membayar zakat di lembaga amil zakat
Pengetahuan merupakan hasil dari informasi yang kita dapat dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks perilaku konsumen, ketika konsumen mengetahui banyak informasi tentang suatu produk maka dapat menimbulkan konsumen tersebut untuk mengonsumsi produk tersebut baik barang maupun jasa. Pengetahuan ialah salah satu faktor yang mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan.
Jika seseorang memiliki pengetahuan tentang suatu produk, maka biasanya orang tersebut akan lebih berminat menggunakannya dibandingkan dengan yang tidak mengetahui. Begitu pula halnya dengan minat membayar zakat di lembaga amil zakat. Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang zakat lebih banyak, baik mengenai pengertian zakat, manfaat zakat, tempat sampai sistem pengelolaan zakat itu sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan memiliki pengaruh yang positif terhadap minat membayar zakat di lembaga amil zakat.
2. Pengaruh kepercayaan terhadap minat membayar zakat di lembaga amil zakat
Selain pengetahuan, kepercayaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membayar zakat. Kepercayaan pada dasarnya adalah kemauan suatu pihak untuk mengandalkan pihak lain, yaitu pihak yang mendapat kepercayaan. Kepercayaan juga
42
merupakan sekumpulan keyakinan spesifik terhadap Integritas (kejujuran pihak yang dipercaya), Benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai kepentingan yang mempercayai mereka), Competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang mempercayai), Predictability (konsistensi perilaku pihak yang dipercaya) (Andi & Aisyah, 2016).
Kepercayaan terhadap lembaga amil zakat dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemauan muzaki dalam mengandalkan lembaga zakat untuk menyalurkan zakatnya kepada mustahiq zakat karena muzaki yakin lembaga tersebut profesional, amanah, dan transparan. Di samping akan menumbuhkan rasa kepercayaan tinggi masyarakat terhadap lembaga zakat, dana zakat akan terkumpul juga akan lebih optimal dalam segi pemanfaatan. Dengan demikian, masyarakat akan lebih berkomitmen terhadap lembaga amil zakat tersebut, dan menjadikannya sebagai pilihan utama dalam berzakat.
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Pengetahuan
Zakat
Kepercayaan Masyarakat
Minat Membayar Zakat
43 G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang harus diuji secara empiris. Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi kebenarannya (Mudrajat, 2003: 48).
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran maka hipotesis penelitian dapat digunakan sebagai berikut :
1. Pengetahuan zakat berpengaruh positif signifikan terhadap minat membayar zakat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kab.
Kuningan.
2. Kepercayaan masyarakat berpengaruh positif signifikan terhadap minat membayar zakat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kab.
Kuningan.
3. Pengetahuan zakat dan kepercayaan masyarakat secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap minat membayar zakat di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kab. Kuningan.