APRESIASI
“HADIS IMAM BUKHARI”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas UAS Ulumul Hadis
Disusun Oleh :
Nur Duroh Maslakhah (21102030004)
KELAS PMI A
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA 2021
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Hadis Imam Bukhari” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya yang kita nantikan syafaatnya di yaummul akhir nanti AAMIIN AAMIIN YA RABBAL ALAMIN.
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Ulumul Hadis. Dalam menyelesaikan karya tulis ini penulis berusaha untuk melakukan yang terbaik tetapi penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan karya tulis ini masih banyak kekurangan oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan karya tulis ini di hari yang akan datang.
Dengan terselesaikannya karya tulis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pembuatan karya tulis ini yang telah memberikan dorongan, semangat dan masukan. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan masyarkat pada umumnya, serta mendapatkan ridha dari Allah SWT AAMIIN.
Bantul, 20 Desember 2021
Penulis
A. PENDAHULUAN
Pada masa Rasululla SAW. masih hidup, zaman khulafaur rasyidin dan sebagian besar zaman Umayyah hingga akhir abad pertama hijriah, hadis-hadis nabi hanya tersebar melalui mulut ke mulut (secara lisan). Ketika itu umat Islam belum mempunyai inisiatif untuk menghimpun hadis nabi yang masih berserakan hingga mereka merasa cukup dengan menyimpan dalam hafalan saja dan memang diakui oleh sejarah bahwa kekuatan hafalan para sahabat dan tabi’in benar-benar sangat kuat hafalannya.
Hadis nabi tersebar hingga ke berbagai wilayah yang dibawa oleh para tabi’in ke seluruh penjuru dunia. Para sahabat juga mulai berkurang jumlahnya karena meninggal dunia. Sementara itu, usaha penelusuran terhadap hadis-hadis nabi makin bertambah banyak. Tidak perlu diragukan lagi bahwa hadis merupakan sumber agama Islam yang kedua setelah al-qur’an. Mengingat begitu pentingnya hadis maka studi atau kajian terhadap hadis akan terus dilakukan, bukan hanya saja oleh umat Islam tetapi juga oleh siapapun yang ingin belajar tentang hadis. Berbeda dengan ayat-ayat al- qur’an yang semuanya dapat diterima, hadis tidak semuanya dapat dijadikan sebagai acuan atau hujjah. Hadis ada yang dapat dipakai dan ada juga yang tidak dipakai, hadis juga memiliki tingkatan dari sinilah letak perlunya meneliti hadis. Agar dapat meneliti hadis secara baik diperlukan beberapa pengetahuan, kaidah maupun metodenya. Atas dasar inilah, para ulama khususnya yang menekuni hadis telah berusaha merumuskan kaidah maupun metode dalam studi hadis. Buah dari kerja keras para perawi untuk menghasilkan kaidah hadis yang baik patut diapresiasikan terutama untuk meneliti para periwayat yang menjadi mata rantai dalam periwayatan hadis.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa al-qur’an merupakan sumber utama (primer) akan tetapi dalam kenyataannya ada beberapa perkara atau persoalan yang sedikit sekali membicarakan al-qur’an karena pada hakikatnya al-qur’an membahas secara universal sehingga jalan keluarnya untuk memperjelas suatu perkara atau permasalahan diperlukannya hadis (as-sunnah) dari sinilah peran hadis sebagai tabyin atau penjelas dari al-qur’an bahkan menjadi sumber hukum sekunder.
Pengumpulan dan pembukuan hadis terus berlanjut. Pada masa keemasan pembukuan hadis banyak karya ulama dalam bidang tersebut muncul dan menjadi rujukan pada masa berikutnya bahkan muncul para ulama yang kritis terkemuka hingga lahirlah kitab Kutub as-Sittah. Kitab ini juga telah dikenal luas oleh kalangan kaum muslimin dan juga telah mandapatkan perhatian ulama dan seluruh penjuru dunia.
Karena hadis tersebut memiliki kualitas yang tinggi dan kepribadian periwatnya yang baik bahkan kitab ini menjadi pegangan utama bagi ulma fiqih, mujtahid, sastrawan, psikolog, sosiolog, dan penulis bidang lainnya. Pada karya tulis ini akan dijelaskan bagaimana perjalanan Imam Bukhari dalam penyusunan hadis karena Imam Bukhari adalah imam hadis yang riwayatannya telah dipercaya yang paling shohih karena kegigihan, semangat mengumpulkan dan mengkaji dalam pengumpulan hadis bahkan rela melakukan perjalanan yang jauh hanya untuk memastikan kebenaran dari hadis yang pernah ia dengar bahkan berguru kepada ulama-ulama yang terkemuka.
B. PEMBAHASAN
1. Biografi Imam Bukhari
Lahir di kota Bukhara pada hari ke-13 bulan Syawal 194 H (21 Juli 810), pada siang hari setelah sholat jum’at. Memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Ju’fi bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardzibah al-Jufi al-Bukhari. Ayahnya bernama Syakh Ismail yang terkenal dengan nama Abu Hasan, seorang ulama hadis yang masyhur di Bukhara yang pernah menjadi murid Imam Malik Imam Darul Hijrah dan beliau juga merupakan sahabat dari Hammad bun Ziyad dan Ibnu Mubarak tabi’in yang terkenal dan diterima riwayatnya dikalangan ulama hadis. Imam Bukhari lahir di lingkungan yang prnduduknya rata-rata beragama Islam. Ayahnya dikenal sebagai orang yang berilmu, ahli wara’ dan selalu menjaga ketakwaan.
Ayahnya meninggal dunia ketika Imam Bukhari belum beranjak dewasa. Ibunya yang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga setelah ayahnya wafat. Ibunya adalah orang yang taat beribadah. Imam Bukhari kecil dimasukkan ke surau (kuttab) untuk belajar tentang berbagai macam ilmu agama dan menghafalkan al-qur’an dari sinilah Imam Bukhari menghafalkan hadis. Pada 210 H beliau melaksanakan ibadah haji dan ini merupakan perjalanan pertamnya keluar kota Bukhara, saat itu beliau berumur 16 tahun serta ia telah mengafalakan kitab-kitab karangan Ibnu Mubarak ahli mantik (logika). Setelah musim haji beliau ditinggal ibunya disini beliau belajar karena Mekkah adalah kota pusatnya ilmu keislaman. Setelah belajar di Mekkah ia tetap melanjutkan studinya di Madinah karena kota ini dijadikan kota untuk belajar hadis.
Imam Bukhari mulai mengenal hadis sejak umur 10 tahun atau sekitar tahun 204 atau 205 H. Selain belajar di Mekkah dan Madinah beliau juga belajar di Balkh, Naisabur, Rayy, Bagdad, Bashrah, Kuffah, Mesir, Syam, Tashkent, Samarkand, Damaskus, Hims, Yaman, dan Aljazair. Setelah sekian lama belajar di berbagai tempat untuk mengumpulkan hadis. Dimanapun ilmu dan hadis ada, maka ia akan mencari hingga bertemu gurunya walaupun tempatnya jauh tetap beliau kunjungi, beliau pernah mengatakan “aku menulis hadis dari 1.080 guru yang semuanya adalah ahli hadis dan berpendirian bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan.” Beliau juga mampu membedakan dan menghukumi mana hadis yang shohih dan hadis palsu, memeriksa dengan teliti hingga jalur periwayatannya, membangdingkan berbagai jalur periwayatan dan juga dapat menyimpulkan masalah yang terkandung di dalam hadis. Imam Bukhari wafat di Khartand pada malam idul fitri tanggal 1Syawal 256 H (31 Agustus 870 M) ketika usia 62 tahun kurang 13 hari.
2. Metodologi Pengambilan Hadis
Dalam pengambilan hadis Imam Bukhari memakai metodologi yang sangat disiplin baik ditinjau dari segi sanadnya dan mattanya. Yang paling menonjol dalam metodologi pengambilan hadis ialah mendatangi secara langsung ke para mursyidnya walaupun dengan jarak tempuh yang tidak sedikit hanya demi memastikan apakah hadis yang ia dengar itu adalah shohih atau tidak maka dari inilah keshohihan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menjadi shohih bahkan kebanyakan hadis yang diriwayatkan oleh beliau berstatus shohih. Diantara persyaratan yang beliau gunakan untuk memastikan bahwa hadis shohih yaitu sebagai berikut :
1) Perawi harus ‘adil, dhabit, tsiqah, tidak mudallis (berdusta) 2) Sanadnya bersambung (muttashil), tidak mursal, munqathi’ dan
mu’dhal
3) Mattan hadis tidak janggal dan tidak cacat 3. Metode Penulisan
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mencakup berbagai persoalan fiqih disamping masalah aqidah dan akhlak. Beliau menyusun kitabnya berdasarkan bab-bab fiqih dan menjelaskan hadis yang ditulisnya beliau menggunakan dua cara yaitu :
1) Mencari persesuaian antar hadis = dijelaskan oleh makna hadis yang lain dan adaakalanya juga ditafsirkan sendiri olehnya sesuai dengan kaidah bahasan dan ushul fiqih, adakalanya juga lafadz suatu hadis ditafsirkan dengan lafadz hadis yang lain 2) Mengemukakan penjelasan umum dari hadis = menjelaskan
suatu hadis yang bersifat umum tetapi maksudnya khusus untuk kaum tertentu begitu juga sebaliknya, yang biasa digunakan oleh Imam Bukhari missal, apabila sanadnya atas Rasulullah – sahabat – tabi’ – tabi’in – A – B – Bukhari, maka Imam Bukhari benar-benar bertemu dengan dan menerima hadis dari A secara langsung demikian seterunya hingga Rasulullah
4. Kualiatas Keshahihan Bukhari
Para ulama hadis dan fiqih telah sepakat bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menjadi standar hadis pasa urutan yang pertama. Hadis yang diriwayatkan oleh beliau merupakan saringan dari berbagai macaam hadis setiap menulis beliau selalu melaksanakan shalat istikharah beliau pernah mengatakaan “tidaklah aku menulis suatu hadis dalam kitab shohih kecuali aku mandi sebelumnya dan aku shalat dua rakaat terlebih dahulu.” Berikut adalah kitab-kitab syarahnya banyak yaitu sebagai berikut :
1) At-tanqieh karangan Badruddin az-Zarkasyi 2) At-tausyiah karangan Jalaluddin as-sayuthi 3) Umdatul qaari karangan Badruddin al-aini 4) Fathul baari karangan Syihabuddin al-asqalani
5) Al-Kawakibud daraarie karangan Muhammad bin Yusuf al- kirmani
C. PENUTUP
Kitab shahih bukhari adalah kitab yang disusun langsung oleh Imam Bukhari dengan penelitian dan pengumpulan hadis yang menggunakan disiplin ilmu menurut ulumul hadis yang telah beliau pelajari dan metode yang dipakai memberikan syarat yang cukup ketat kepada penyampai hadis, mendatangi penyampai hadis, pengelompokan bab perbab dalam kitabnya. Bahkan beliau rela mengunjungi mursyidnya untuk mengetahui kebenaran hadis. Padahal jika kita telaah pada zaman itu belum ada pesawat bisa dikatakan beliau melakukan perjalanan cukup jauh hanya untuk
memastikan keshahihan suatu hadis hal ini yang patut kita aprsiasikan dan sebagai bahan contoh dalam kehidupan kita bahwa ketika kita menimba ilmu tak peduli berapapun usia kita belajarnya hingga ke liang lahat dan jangan mudah menyerah dalam menuntut ilmu contohlah seperti Imam Bukhari yang tidak mudah menyerah.
DAFTAR PUSTAKA
Muslim, T. S. (2020). Shahih Muslim. STUDI KITAB HADIS: Dari Muwaththa’Imam Malik Hingga Mustadrak Al Hakim, 54
Bukhari, I. (1986). Sahih Bukhari
Suardi, I. (2020). KITAB SHAHIH BUKHARI DAN MUSLIM. JOURNAL ATTANMIYAH, 3(5)
Al-Bukhari, M. (1978). Sahih al-bukhari. Dar Ul-Hadith
Karimin, K. (2020). METODOLOGI PENULISAN DAN KUALITAS KITAB HADITS (IMAM BUKHARI, IMAM MUSLIM, IMAM ABU DAUD). AL-QIRAAH, 14(1), 28-44