• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI DWI PUTRI KHAYYIRAH C131 14 506 PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2018 PENGARUH ACTIVE DYNAMIC STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS PADA EKSTRAKURIKULER FUTSAL SMA NEGERI 2 JENEPONTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI DWI PUTRI KHAYYIRAH C131 14 506 PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2018 PENGARUH ACTIVE DYNAMIC STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS PADA EKSTRAKURIKULER FUTSAL SMA NEGERI 2 JENEPONTO"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH ACTIVE DYNAMIC STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS PADA

EKSTRAKURIKULER FUTSAL SMA NEGERI 2 JENEPONTO

SKRIPSI

DWI PUTRI KHAYYIRAH C131 14 506

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018

(2)

ii

PENGARUH ACTIVE DYNAMIC STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS PADA

EKSTRAKURIKULER FUTSAL SMA NEGERI 2 JENEPONTO

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Disusun dan diajukan oleh

DWI PUTRI KHAYYIRAH

Kepada

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018

(3)

iii

(4)
(5)

v

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Dwi Putri Khayyirah

NIM : C 131 14 506

Program Studi : Fisioterapi

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Mei 2018 Yang Menyatakan

(Dwi Putri Khayyirah)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T., karena dengan Anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Active Dynamic Stretching Terhadap Peningkatan Fleksibilitas Pada Ekstrakurikuler Futsal SMA Negeri 2 Jeneponto”.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan limpahan doa, bimbingan, arahan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menghaturkan ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Orang tua saya Drs. H. Andi Sappewali dan Dra. Hj. Andi Warni, atas kasih sayang, motivasi, doa dan kerja keras sehingga penulis dapat mengenyam pendidikan di universitas ini. Ucapan terimakasih saja mungkin tidak cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dua orang pahlawan dalam kehidupan saya.

2. Bapak A.Kadir Djuddin dan Mama Andi Nurmiaty yang senantiasa mendoakan, memberikan kasih sayang, cinta dan dukungan yang tak terhingga.

3. Saudara-saudaraku tercinta, kakak imma, kakak afdhal, kakak ito, kakak putra, kakak umi, adek dian, dan ponakan tercinta nayya dan airin yang banyak memberi semangat dan motivasi.

(7)

vii

4. Ketua Program Studi Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin, Bapak Dr. H. Djohan Aras, S.Ft, Physio, M.Pd, M.Kes yang selalu membimbing, menasehati dan memotivasi agar segera menyelesaikan skripsi bagi semua mahasiswanya.

5. Bapak Immanuel Maulang, S.Ft Physio, M.Kes, SP.F.OR selaku pembimbing I dan Bapak Aco Tang, S.St.Ft, S.KM, M.Kes selaku pembimbing II yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya, memberikan bimbingan yang tidak henti-hentinya demi kesempurnaan skripsi ini, motivasi dan doa yang semoga Allah SWT balas dengan pahala yang berlimpah. Aamiin.

6. Ibu Salki Sadmita, S.Ft, Physio, M.Kes selaku penguji I, dan Ibu Yusfina, S.Ft, Physio, M.Kes selaku penguji II yang telah memberikan masukan, kritik dan saran yang membangun untuk kebaikan penulis dan perbaikan skripsi ini.

7. Adik-adik ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Jeneponto , yang menjadi responden dan tempat berlangsungsnya peneletian ini.

8. Staff Dosen dan Administrasi Program Studi Fisioterapi FK UH, terutama Bapak Ahmad yang dengan sabarnya mengerjakan segala administrasi penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Mega dan kakak ―A‖ yang selalu setia menemani dalam penyusunan skripsi ini, mulai dari penyusunan proposal, penelitian hingga selesai skripsi ini.

10. Sohibku Fillah Murdah, Kiky dan Farnida yang tak henti-hentinya memberikan semangat dalam penyusunan skripsi ini.

(8)

11. Teman seperjuangan, Almarhumah A. Unmi Fyrnastiar yang juga telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.

12. Nur Annisah Talib, Nurul Fadilah, Nurul Audina, Nahla Amaliah dan Ratu yang telah membantu dalam pengerjaan proposal, mengolah data, dan tim konsumsi yang telah saya percayakan.

13. SC14TIC yang dengan segala kehebohannya selalu menjadi penyemangat dalam pengerjaan skripsi ini. Penulis berharap semoga gelar sarjana tak membuat kita lupa akan segala masa-masa perkuliah selama ini yang telah kita lalui.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi semua pihak. Aamiin.

Makassar, Mei 2018

Dwi Putri Khayyirah

(9)

ix

ABSTRAK

DWI PUTRI KHAYYIRAH, C13114506 ―Pengaruh Active Dynamic Stretching Terhadap Peningkatan Fleksibilitas Pada Ekstrakurikuler Futsal SMA Negeri 2 Jeneponto” (dibimbing oleh Immanuel Maulang dan Aco Tang).

Futsal merupakan olahraga yang menggunakan teknik passing, control, dribbling dan shooting yang membutuhkan fleksibilitas otot tungkai yang baik, sehingga ketika pertandingan dapat mencapai kinerja otot yang maksimal. Active dynamic stretching merupakan salah satu bentuk pemanasan yang digunakan untuk membantu meningkatkan fleksibilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan fleksibilitas pada pemain futsal setelah pemberian active dynamic stretching. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan design one group pre test-post test design. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah populasi pada penelitian ini seluruh pemain futsal ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Jeneponto dengan sampel berjumlah 23 orang laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi. Alat ukur yang digunakan adalah sit and reach test untuk mengetahui peningkatan fleksibilitas sampel sebelum dan sesudah 12 kali perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata sebelum diberikan latihan dynamic stretching adalah 5,96 dan setelah diberikan latihan dynamic stretching adalah 13,30 dengan nilai perubahan sebesar 7,348. Diperoleh nilai signifikan p=0,000 (p<0,05), dimana hal ini berarti hipotesis penelitian dapat diterima dan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan dynamic stretching.

Kata kunci : Fleksibilitas, dynamic stretching, pemain futsal.

(10)

x

ABSTRACT

DWI PUTRI KHAYYIRAH, C13114506 ―The effect of Active Dynamic Stretching on the flexibility improvement in Futsal Extracurricular Negeri 2 Jeneponto” (Supervised by Immanuel Maulang dan Aco Tang).

Futsal is a sport which uses passing, control, dribbling and shooting techniques, which require good leg muscle flexibility, in order to achieving maximum muscle performance at the game. Active dynamic stretching is one form of warming –up activities used in order to increase muscle flexibility. This study aimed to determine the flexibility improvement of the futsal players after giving active dynamic stretching treatment. This research used experimental method with one group pre test-post test design. The sampling technique is purposive sampling. The total population in this study is all the futsal players of SMA Negeri 2 Jeneponto. The sample is 23 boys who meet the inclusion criteria. The measuring instrument used in the research is the sit and reach test to determine the flexibility improvement of the samples before and after 12 treatments.

The results showed that the average before the dynamic stretching exercise treatment is 5.96 and after the dynamic stretching exercise treatment is 13.30 with a change value of 7.348. A significant value of p = 0,000 (p <0.05) was obtained, which means that the research hypothesis is acceptable. Thus, the conclusion can be drawn that there is a significant change before and after giving the dynamic stretching treatment.

Keywords: Flexibility, dynamic stretching, futsal players.

(11)

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGAJUAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

DARTAR LAMPIRAN ...xvii

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN...xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

1. Tujuan Umum ... 3

2. Tujuan Khusus ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

1. Manfaat Teoritis ... 4

2. Manfaat Praktis ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

(12)

A. Tinjauan Umum tentang Pemain Futsal ... 5

1. Pengertian Futsal ... 5

2. Kebutuhan Latihan Fisik ... 5

3. Teknik-teknik dalam Futsal... 7

B. Tinjauan Umum tentang Fleksibilitas ... 9

1. Pengertian Fleksibilitas ... 9

2. Macam-macam Fleksibilitas ... 10

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fleksibilitas ... 11

4. Manfaat Fleksibilitas ... 13

5. Pengukuran Fleksibilitas ... 14

C. Tinjauan Umum Tentang Active Stretching ... 17

1. Pengertian Active Stretching ... 17

2. Fisiologi Stretching ... 17

3. Jenis-jenis Stretching ... 20

D. Tinjauan Umum Tentang Pengaruh Active Stretching Terhadap Respon Fleksibilitas ... 24

E. Kerangka Teori ... 26

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 27

A. Kerangka Konsep ... 27

B. Hipotesis Penelitian ... 27

BAB IV METODE PENELITIAN ... 28

A. Rencana Penelitan ... 28

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

1. Tempat Penelitian... 28

(13)

xiii

2. Waktu Penelitian ... 28

C. Populasi dan Sampel ... 29

1. Populasi ... 29

2. Sampel ... 29

D. Alur Penelitian ... 31

E. Variabel Penelitian ... 32

1. Identifikasi Variabel ... 32

2. Definisi Operasional Variabel ... 32

F. Prosedur Penelitian... 33

1. Tahap Persiapan ... 33

2. Tahap Pre-test... 33

3. Pemberian Program Active Stretching ... 34

G. Rencana Pengolahan dan Analisis Data ... 42

H. Masalah Etika ... 43

1. Informend Consent ... 43

2. Anonimity ... 43

3. Confidentiality ... 43

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... A. Hasil Penelitian ... 44

1. Karakteristik Responden ... 45

2. Uji Normalitas Data ... 47

3. Uji Hipotesis ... 48

B. Pembahasan ... 49

1. Karakteristik Responden ... 49

(14)

2. Distribusi Hasil Pre Test dan Post Test Fleksibilitas ... 49

3. Pengaruh Dynamic Stretching Terhadap Peningkatan Fleksibilitas .. 51

C. Keterbatasan Penelitian ... 54

BAB VI PENUTUP ... 54

A. Kesimpulan ... 54

B. Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 56

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

2.1 Pembebanan Latihan ... 7

2.2 Peregangan Statis ... 22

2.3 Peregangan balistik ... 23

2.4 Kerangka teori ... 26

3.1 Kerangka konsep ... 27

4.1 Rancangan penelitian ... 28

4.2 Alur penelitian ... 31

(16)

DAFTAR TABEL

2.1 Kategori Pengukuran Sit and Reach (cm) Usia 16-19 tahun ... 16 4.1 Gerakan Pada Dynamic Stretching ... 34 5.1 Karakteristik Sampel Penelitian ... 45 5.2 Distribusi Perubahan Nilai Fleksibilitas Sebelum dan Sesudah Pemberian

Dynamic Stretching ... 46 5.3 Hasil Uji Normalitas Data Fleksibilitas Sebelum dan Setelah Pemberian

Dynamic Stretching ... 46 5.4 Uji T Berpasangan (paired sample t-test) ... 47

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

1. Naskah Penjelasan Untuk Mendapatkan Persetujuan Dari Subyek

Penelitian... 60

2. Lembar Persetujuan Mengikuti Penelitian... 61

3. Formulir Identitas Responden ... .... 62

4. Blanko Hasil Pengukuran Fleksibilitas Pada Pemain Ekstrakurikuler Futsal SMA Negeri 2 Jeneponto... 63

5. Blanko Hasil Wawancara Pada Pemain Ekstrakurikuler Futsal SMA Negeri 2 Jeneponto... 64

6. Daftar Hadir Anggota Ekstrakurikuler Futsal SMA Negeri 2 Jeneponto.. 65

7. Hasil Olah Data SPSS... 67

8. Dokumentasi Penelitian... 70

9. Permohonan Izin Melakukan Penelitian... 73

10. Surat Keterangan Penelitian... 74

(18)

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Lambang/ Singkatan Arti dan Keterangan

GTO Golgi Tendon Otot

SMA Sekolah Menengah Atas

et all Dan Kawan-kawan

Cm Centi Meter

Kg Kilogram

IMT Indeks Massa Tubuh

SR Sit and Reach Test

BSSR Back Saver Sit and Reach Test

MTU Musculotendinous Unit

ROM Range of Motion

RGM Ruang Gerak Maksimal

MS Medula Spinalis

SPSS Statistical Product and Service

Solution

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Futsal merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak digemari dari berbagai lapisan masyarakat, baik anak-anak, remaja dan bahkan orang tua dengan melihat banyaknya berdiri komunitas futsal atau klub-klub futsal saat ini.

Permainan dalam futsal banyak didominasi permainan kaki ke kaki, atau lebih banyak menggunakan fungsi dari ekstremitas bawah. Ekstremitas bawah memegang peranan penting dalam permainan karena berguna untuk aktivitas berlari, mengontrol bola, mengoper atau bahkan melakukan tendangan kedalam gawang lawan. Gerakan tersebut membutuhkan peranan dari komponen fisik, yaitu kekuatan (strength), kelentukan (fleksibilitas), kecepatan (speed), dan daya tahan (endurance) dan keseimbangan (balance)..

Fleksibilitas memegang peranan yang penting dalam hampir setiap cabang olahraga, seperti bulutangkis, bola basket, renang, bola voli, sepak bola dan futsal.

Menurut Kisner (2007) bahwa fleksibilitas merupakan kemampuan satu atau lebih sendi untuk bergerak ROM penuh secara lancar, mudah, tanpa hambatan, serta bebas dari rasa sakit. Tuntutan tiap cabang olahraga terhadap fleksibilitas sangat berbeda-beda, biasanya atas dasar perbedaan teknik tiap cabang olahraga dan taktik bertanding yang digunakan. Manfaat yang diperoleh dari latihan fleksibilitas akan membantu otot untuk rileks, melakukan gerakan tanpa hambatan, bebas dari rasa sakit, dan mengurangi potensi cedera pada saat bermain.

(20)

2

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap penampilan fleksibilitas seseorang, misalnya, faktor anatomis, faktor cedera dan sebagainya. Namun fleksibilitas seseorang dapat ditingkatkan melalui latihan peregangan khusus (Putra, 2014). Latihan-latihan peregangan dapat dilakukan dalam berbagai cara tergantung pada tujuan yang ingin dicapai, kemampuan kita, dan keadaan atau kondisi latihan. Dalam rangkaian pemanasan, dikenal juga proses peregangan.

Peregangan atau stretching adalah sebuah proses yang dilakukan untuk meregangkan atau memanjangkan otot agar bekerja secara optimal dan menunjang aktivitas tubuh ketika berolahraga atau menjalankan aktivitas sehari-hari (Tollison, 2011). Active stretching merupakan pemanasan atau peregangan yang dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain serta dapat dilakukan dalam posisi berdiri atau duduk bahkan dengan tidur telentang maupun tengkurap. Dengan peregangan secara aktif dapat mempengaruhi fungsi sistem lokomotor. Perubahan dalam panjang otot dan tendon kemudian akan menyebabkan perubahan anatomi, biokimia dan fisiologis, yang akan mempengaruhi baik fungsi biomekanis sendi dan metabolisme jaringan lunak.

Sebelumnya sudah pernah dilakukan penelitian mengenai metode pelatihan peregangan aktif dan pasif terhadap kelentukan tongok ke depan, yaitu pada tahun 2004 oleh Semara Putra yang hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan peregangan aktif memberikan hasil yang lebih baik dari pada pelatihan peregangan pasif dalam meningkatkan kelentukan tongok ke depan. Sedangkan penelitian dari DRA. Tite Juliantine (2011). ―Studi Perbandingan Berbagai Macam Metode Latihan Peregangan Dalam Meningkatkan Kelentukan‖ menunjukkan bahwa

(21)

3

latihan peregangan pasif dalam metode PNF lebih meningkatkan kelentukan dibanding latihan peregangan aktif dalam metode statis dan dinamis.

Berdasarkan hasil observasi, penelitian ini mengambil sampel yang akan diteliti adalah pemain futsal pada ekstrakrikuler futsal SMA Negeri 2 Jeneponto.

Dengan menggunakan sit and reach test pada tanggal 23 Februari 2018 di SMA Negeri 2 Jeneponto telah didapatkan hasil skor rata-rata <6 pada kategori kurang, sehingga peneliti tertarik untuk melakukkan penelitian tentang apakah ada pengaruh active dynamic stretching terhadap peningkatan fleksibilitas pada pemain futsal.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan berbagai latar belakang, pendapat, serta hasil observasi, menjadi landasan bagi peneliti untuk melakukan penelitian yaitu : Ada pengaruh active dynamic stretching terhadap peningkatan fleksibilitas di ekrakurikuler futsal di SMA Negeri 2 Jeneponto.

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh active dynamic stretching terhadap peningkatan fleksibilitas pemain futsal.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi fleksibilitas sebelum diberikan active dynamic stretching pada pemain futsal

(22)

b. Diketahuinya distribusi fleksibilitas setelah diberikan active dynamic stretching pada pemain futsal

c. Diketahuinya pengaruh fleksibilitas setelah diberikan active dynamic stretching pada pemain futsal.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan referensi dan bahan pembanding dalam kegiatan yang ada hubungannya dengan pelayanan kesehatan.

b. Diharapkan dapat digunakan sebagai informasi ilmiah dalam pembelajaran kasus tentang active dynamic stretching terhadap peningkatan fleksibilitas pemain futsal.

2. Manfaat Praktis

Menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan dan mengabdikan diri pada dunia kesehatan, khususnya di bidang Fisioterapi di masa yang akan datang.

(23)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Pemain Futsal

1. Pengertian Futsal

Futsal merupakan permainan olahraga yang hampir mirip dengan permainan sepakbola. Permainan futsal identik dengan sebutan olahraga sepakbola yang diminikan. Permainan futsal sudah terkenal dengan lapangan yang kecil dan dimainkan dengan jumlah pemain yang lebih sedikit yaitu 5 pemain berbeda dengan jumlah pemain sepakbola yaitu 11 pemain.

Perbedaan antara futsal dan sepakbola hanya terletak pada lamanya waktu bermain, sedangkan untuk teknik dasar tetap sama. Secara garis besar permainan futsal dan permainan sepkabola sama, yaitu permainan yang sama- sama menggunakan kaki dan kecuali kiper boleh menggunakan kaki dan tangan untuk menghindari terjadinya gol (Riyadi, 2013).

2. Kebutuhan Latihan Fisik

Menurut Satriya et all (2007)―latihan kondisi fisik (phsycal conditioning) memegang peranan yang sangat penting untuk mempertahankan atau meningkatkan derajat kesegaran jasmani (phsycal fitness).‖ Selain untuk meningkatkan derajat kesegaran jasmani, latihan kondisi fisik juga adalah program pokok dalam pembinaan atlet yang berorientasi pada prestasi. Adapun beberapa komponen fisik yang perlu dilatih agar menjadi dasar atau pondasi yang kuat, Satriya et all (2007) mengemukakan ada empat komponen fisik dasar, yaitu:

(24)

―kekuatan (strength), kelentukan (flexibility), kecepatan (speed) , dan daya tahan (endurance).‖

Latihan yang bermutu yaitu latihan yang diberikan oleh pelatih benar-benar bermanfaat dan sesuai kebutuhan atlet, koreksi yang tepat dan konstruktif selalu diberikan manakalah atlet melakukan kesalahan-kesalahan, pengawasan terhadap setiap gerakan dilakukan secara teliti, setiap kesalahan gerak segera diperbaiki.

Latihan yang bermutu tetapi tidak intensif seringkali lebih bermanfaat ketimbang latihan yang intensif akan tetapi tidak bermutu. Sering kali kebanyakan pelatih atau atlet lebih menekankan pada lamanya berlatih ketimbang pada mutu dan penambahan beban latihannya.

Menurut Sukadiyanto (2005), beban latihan harus mencapai atau melampaui sedikit di atas batas ambang rangsang. Sebab beban yang telalu berat akan mengakibatkan tidak mampu diadaptasi oleh tubuh, sedangkan bila terlalu ringan tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas, sehingga beban latihan harus memenuhi prinsip moderat. Untuk pembebanan dilakukan secara progresif dan diubah sesuai dengan tingkat perubahan yang terjadi pada olahragawan.

Apabila tubuh sudah mampu mengatasi beban latihan yang diberikan, maka beban berikutnya harus ditingkatkan secara bertahap.

(25)

7

Dari pembebanan yang terjadi seperti gambar 2.1. maka jika latihan terlalu ringan tingkat kelelahannya rendah/ sedikit, waktu pemulihannya singkat, dan efek latihannya (stimulus baru) sedikit dan terlalu awal. Apabila latihan terlalu berat maka tingkat kelelahan tinggi/ banyak membutuhkan pemulihan yang lama, sehingga efek latihannya rendah dan stimulus baru menjadi terlambat (Sidik, 2010).

3. Teknik-teknik dalam Futsal

Teknik dasar merupakan foundament atau langkah pertama dalam mencapai suatu target yang ingin dicapai. Dalam permainan olahraga khususnya futsal, untuk menciptakan hasil yang optimal (gol) disamping mempunyai (team work) yang bagus seorang pemain perlu mengetahui bagaimana prinsip mengumpan, menggiring, menguasai/menghentikan bola, dan menembak bola dengan baik. Teknik-teknik yang digunakan dalam futsal tidak jauh berbeda dengan permainan sepkabola namun karena faktor lapangan yang relatif kecil, waktu yang lebih singkat, dan permukaan lantai yang lebih rata menyebabkan

Sumber: Sidik (2010)

(26)

perbedaan-perbedaan penggunaan teknik. Adapun teknik yang digunakan dalam futsal menurut Riyadi (2013) sebagai berikut:

a. Teknik Dasar Mengumpan (Passing)

Passing merupakan salah satu teknik dasar permainan futsal yang sangat dibutuhkan oleh pemain. Di lapangan yang rata dan ukuran lapangan yang kecil dibutuhkan passing yang keras dan akurat karena bola yang meluncur sejajar dengan tumit pemain. Ini di sebabkan hampir sepanjang permainan futsal menggunakan passing. Untuk menguasai passing di perlukan penguasaan gerakan sehingga sasaran yang diinginkan tercapai.

b. Teknik Dasar Menahan Bola (Control)

Teknik dasar dalam keterampilan control (menahan bola) haruslah menggunakan telapak kaki (sole). Dengan permukaan lapangan yang rata, bola akan bergulir cepat sehingga para pemain harus dapat mengontrol dengan baik. Apabila menahan bola jauh dari kaki, lawan akan mudah merebut bola.

c. Teknik Dasar Menggiring Bola (Dribbling)

Teknik dribbling merupakan keterampilan penting dan mutlak harus dikuasai oleh setiap pemain futsal. Dribbling merupakan kemampuan yang dimiliki setiap pemain dalam menguasai bola sebelum diberikan kepada temannya untuk menciptakan peluang dalam mencetak gol

d. Teknik Dasar Menembak (Shooting)

Shooting merupakan teknik dasar yang harus dikuasai oleh setiap pemain.

Teknik ini merupakan cara untuk menciptakan gol. Ini disebabkan seluruh pemain memiliki kesempatan untuk menciptakan gol dan memenangkan

(27)

9

pertandingan atau permainan. Shooting dapat dibagi menjadi dua teknik, yaitu shooting menggunakan punggung kaki dan ujung sepatu atau ujung kaki.

B. Tinjauan Umum tentang Fleksibilitas

1. Pengertian Fleksibilitas

Fleksibilitas penting sekali dalam hampir semua cabang olahraga, terutama cabang-cabang olahraga yang banyak menuntut gerak sendi seperti senam, loncat indah, beberapa nomor atletik, permainan-permainan dengan bola, dan sebagainya. Demikian pula fleksibilitas penting bagi semua orang dari segala umur, terutama orang-orang tua, oleh karena kalau orang semakin tua, sendi, ligamen, dan tendonnya menjadi semakin kaku sehingga mengurangi fleksibilitasnya.

Fleksibilitas merupakan kemampuan tubuh mengulur diri seluas-luasnya yang ditunjang oleh luasnya gerakan pada sendi. Kemampuan untuk menggerakkan tubuh seluas-luasnya berhubungan erat dengan kemampuan gerakan kelompok otot besar dan kapasitas kinerjanya. Kemampuan ini terkait pula dengan kemampuan peregangan otot dan jaringan sekeliling sendi.

Fleksibilitas berkaitan erat dengan jaringan lunak seperti ligament, tendon, dan otot, disamping struktur tulang itu sendiri. Dalam hal ini, luas gerak sendi yang baik akan memberikan suatu gerakan yang cepat dan lincah. Ketika jaringan tersebut tidak terulur (stretch) maka ekstensibilitasnya akan menurun, dan kandungan air dari diskus cartilogenious yang ada pada beberapa sendi juga mempengaruhi mobilitas sendi-sendi tersebut.

(28)

Fleksibilitas menurut H. Subardjah (2012) dalam Ilyas (2016), adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan gerak dengan ruang gerak seluas- luasnya dalam persendian. Faktor utamanya yaitu bentuk persendian, elastisitas otot, dan ligamen. Sedangkan Sukadiyanto (2010) menjelaskan bahwa fleksibilitas adalah luas gerak satu persendian atau beberapa persendian. Ada dua macam fleksibilitas, yaitu fleksibilitas statis dan fleksibilitas dinamis. Pada fleksibilitas statis ditentukan dari luas gerak satu persendian, sedangkan fleksibilitas dinamis adalah ukuran luas gerak pada satu persendian atau beberapa persendian yang dilakukan pada saat badan melakukan aktivitas gerak dengan kecepatan yang tinggi.

2. Macam-macam Fleksibilitas a. Fleksibilitas Statis

Fleksibilitas statis ditentukan oleh ukuran dari luas gerak (range of motion) satu atau beberapa persendian. Pada fleksibilitas yang statis posisi badan tetap dalam keadaan diam tidak melakukan aktivitas gerak. Sebagai contoh fleksibilitas statis adalah gerakan mencium lutut. Fleksibilitas statis merupakan mobilisasi pasif ROM ketika otot dan jaringan ikat sendi dapat diulur secara pasif (Kisner, 2007).

b. Fleksibilitas Dinamis

Fleksibilitas dinamis adalah kemampuan seseorang bergerak dalam speed yang tinggi. flekdibilitas dinamis dikatakan sebagai mobilisasi aktif ROM , ketika otot berkontraksi secara aktif umtuk gerakan persendian, segmen, dan keseluruhan tubuh. Contohnya yakni pada olahraga cabang senam.

(29)

11

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fleksibilitas

Fleksibilitas merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan kualitas dan penguasaan suatu keterampilan cabang olahraga. Fleksibilitas dibutuhkan hampir untuk semua cabang olahraga dan untuk kebutuhan gerak sehari-hari karena fleksibilitas merupakan fungsi seluruh persendian yang terdapat pada tubuh. Oleh karena itu perlu diketahui dan dipahami mengenai faktor-faktor apa saja yang membatasi kemampuan fungsinya.

Menurut Frankl (1999) dalam Ilyas (2016), bahwa terdapat beberapa faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi fleksibilitas,yaitu:

a. Faktor Internal

1) Sendi. Sendi dalam tubuh manusia dikelilingi oleh membran sinovoal dan tulang rawan artikular yang berfungsi melindungi dan memelihara sendi dan permukaan sendi. Meningkatkan luas gerak sendi dengan mobilitas tertentu dapat meningkatkan fleksibilitas.

2) Ligamen. Ligament terdiri dari dua jaringan yang berbeda yakni putih dan kuning. Jaringan ikat putih tidak melar, tetapi sangat kuat sehingga bahkan jika tulang patah, jaringan ini akan tetap di tempatnya. Sedangkan jaringan kuning merupakan jaringan yang elastis sehingga dapat ditarik jauh namun bisa kembali ke posisi semula.

3) Tendon. Tendon tidak elastis bahkan kurang elastis. Tendon dikategorikan sebagai jaringan ikat yang mendukung, mengelilingi, dan mengikat serat-serat otot.

(30)

4) Jaringan aeloar. Merupakan jaringan yang permeable dan secara luas di distribusikan ke seluruh tubuh. Jaringan ini bertugas sebagai pengikat untuk semua jaaringan lain.

5) Jaringan otot. Jaringan otot terbuat dari bahan elastis yang diatur dalam bundle dari serat paaralel.

6) Reseptor peregangan. Reseptor ini memiliki dua bagian, yaitu muscle spindle dan golgi tendon organ (GTO).

b. Faktor Eksternal.

1) Ukuran tubuh. Orang dengan jumlah lemak tinggi (obesitas) akan menurun fleksibilitasnya karena luas gerak sendinya menjadi terbatas

2) Aktivitas. Orang yang aktivitasnya banyak diam akan berpengaruh pada fleksibilitasnya. Hal ini terjadi karena jaringan lunak dan sendi menyusut sehingga kehilangan daya regang otot, dimana jika seseorang tidak aktif maka otot-otot dipertahankan pada posisi memendek dalam waktu yang lama.

3) Cedera. Akibat adanya cedera pada sendi, otot, dan tulang, maka seseorang akan takut menggerakkan anggota gerak karena nyeri sehingga akan berpengaruh terhadap fleksibilitasnya.

4) Usia. Pengaruh usia terhadap fleksibilitas digambarkan seperti kurva, dimana diawali pada usia anak-anak yang semakin meningkat fleksibilitasnya namun sudah remaja mulai menurun karena gaya hidup yang tidak lagi aktif seperti usia anak-anak,

(31)

13

apalagi pada usia dewasa yang mana telah mulai muncul masalah- masalah degeneratif.

5) Jenis kelamin. Secara umum wanita lebih fleksibel daripada laki- laki. Hal ini dikarenakan faktor hormonal, dimana laki-laki memiliki hormone testosterone yang memicu pertumbuhan dan pemendekan otot. Sedangkan perempuan memiliki hormone estrogen yang dapat meningkatkan panjang otot dan kelemahan sendi.

6) Pengalaman. Seseorang yang memilliki pengalaman berolahraga membutuhkan gerak dinamis yang besar akan memiliki jangkauan gerak yang lebih baik daripada seseorang dengan gaya hidup biasa saja.

4. Manfaat Fleksibilitas

Meningkatkan dan memelihara berbagai gerak yang baik pada sendi dapat meningkatkan kualitas hidup adalah manfaat dari fleksibelnya sebuah otot. Fleksibilitas yang baik dapat membuat otot dan sendi menjadi lebih sehat. Meningkatkan elastisitas otot dan jaringan ikat di sekitar sendi memungkinkan kebebasan bergerak yang lebih besar dan kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam berbagai jenis olahraga dan aktifitas rekreasional (Powers, 2004).

Program latihan peregangan secara teratur dapat meningkatkan peregangan sirkulasi bagi otot yang diregangkan, mencegah nyeri punggung bawah dan masalah tulang belakang lainnya, meningkatkan mempertahankan keselarasan posisi yang yang baik, meningkatkan gerakan

(32)

tubuh yang tepat dan membantu untuk mengembangkan dan memelihara keterampilan motorik (Powers, 2004).

Ketika seorang atlet mempunyai fleksibilitas yang baik, akan menampilkan gerakan yang lebih baik pula, karena gerak sendinya semakin luas. Semakin fleksibel seorang atlet, semakin banyak di kurangi resiko cedera yang akan terjadi. Pendapat Harsono (1988) dalam (Ilyas, 2016) yang mengatakan bahwa perbaikan dalam fleksibilitas otot akan dapat mengurangi terjadinya cedera pada otot-otot, membantu dalam mengembangkan kecepatan, kordinasi, kelincahan, membantu perkembangan prestasi, menghemat pengeluaran tenaga pada waktu melaksanakan gerakan dan memperbaiki sikap tubuh.

5. Pengukuran Fleksibilitas

Untuk mengukur fleksibilitas menggunakan alat pemeriksaan Sit and Reach Test (SR). Menurut Lopez et al (2009) cara manual tersebut terbagi menjadi dua cara pengukurannya, yakni : Sit and Reach Test (SR), dan Back Saver Sit and Reach Test (BSSR). Dalam penelitiannya, Lopez et al (2009) mengukur fleksibilitas tubuh dengan membandingkan alat ukur menggunakan dua pengukuran tersebut. Lopez et al (2009) juga menyarankan para praktisi sebaiknya menggunakan SR untuk mengukur fleksibilitas tubuh dikarenakan pemeriksaan ini lebih mudah dalam memahami protokol serta pemeriksaan ini dianjurkan bagi pria maupun wanita usia sekitar 23-39 tahun. Penelitian yang dilakukan Lopez et al (2009) juga didukung oleh Mayorga-Vega et al (2015), dia menyatakan dalam penelitiannya (Meta-Analysis) bahwa validitas untuk pengukuran

(33)

15

fleksibilitas tubuh SR lebih baik dibandingkan dengan pengukuran yang lainnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lopez et al (2009) dan Mayorga-Vega et al (2015) penulis meyakini bahwa pengukuran fleksibilitas akan lebih baik bila menggunakan Sit and Reach Test (SR) maka dari itu penulis akan menggunakan SR sebagai alat ukur dalam penelitian ini.

a. Pengertian Sit and Reach test

Metode sit and reach test (SR) merupakan metode pengukuran fleksibilitas otot tungkai yang menggunakan beberapa media berupa kotak terbuat dari papan atau metal yang tingginya 30 cm. Tes ini memiliki validitas tinggi karena terdapat tabel yang berkaitan dengan hasil level fitness yang potensial dan memiliki korelasi yang tinggi.

Gambar 2.2 Sit and Reach Test (http://www.topendsports.com).

b. Metode pengukuran sit and reach test

1) Tujuan : untuk mengukur fleksibilitas tubuh ke depan 2) Alat : bangku SR, alat tulis

3) Pelaksanaan :

a) Responden duduk di lantai yang rata tanpa menggunakan alas kaki, kemudian kaki menempel pada bagian bawah alat SR

(34)

dengn lutut lurus, ujung jari dari kedua tangan menyentuh ujung bangku

b) Pelan-pelan responden mulai membungkukkan badan dengan posisi yangan lurus, ujung jari harus selalu menempel pada bangku SR

c) Responden hanya diperbolehkan melakukan satu kali dorongan maksimal, dan tidak diperbolehkan melakukan dorongan yang berulang-ulang dalam satu kali tes

d) Setelah responden berhenti mendorong, segera catat hasilnya e) Tes dilakukan sebanyak tiga kali, dan hasil terbaik dari test

yang akan di pilih.

Tabel 2.1 Kategori Pengukuran Sit and Reach Test (cm) untuk Usia 16-19 Tahun.

Fleksibilitas (cm) Nilai

Laki-laki Perempuan

>14 >15 Sangat Baik

11-13 12-14 Baik

7-10 7-11 Sedang

4-6 4-6 Kurang

<3 <3 Sangat Kurang

Sumber: David et al ( 2005).

(35)

17

C. Tinjauan Umum tentang Active Stretching

1. Pengertian Active Stretching

Active stretching adalah suatu metode penguluran atau stretching yang biasa dilakukan pada otot-otot postural sebagai suatu latihan fleksibilitas yang dilakukan secara aktif oleh klien atau pasien (Evan, 2010). Dalam penerapan prosedur active stretching pasien menunjukkan suatu kontraksi isotonik dari otot yang mengalami pemendekan, secara aktif otot memanjang. Kontraksi isotonik yang dilakukan saat active stretching dari otot yang mengalani pemendekan akan menghasilkan otot memanjang secara maksimal tanpa perlawanan. Adanya kontraksi isotonik akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari spindel otot untuk segera mengulur panjang otot yang maksimal. Golgi tendon organ akan terlibat dan menghambat ketegangan otot, bila otot sudah mengulur maksimal sehinga otot dapat dengan mudah dipanjangkan dan meningkatkan fleksibilitas otot (Rahmiati, 2013).

Stretching atau peregangan otot biasanya merupakan bagian dari pemanasan dan pendinginan bagi orang-orang yang berolahraga. Stretching dapat meningkatkan rentang gerak, fleksibilitas, sirkulasi, dan keberhasilan dari seluruh latihan Anda. Jenis olahraga yang berbeda membutuhkan jenis stretching yang berbeda juga.

2. Fisiologi Stretching

Secara akut peregangan dapat menyebabkan peningkatan dari compliance otot yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena adanya sifat viscoelastic dari serabut otot sehingga apabila diberikan suatu gaya maka serabut tersebut akan memanjang dan apabila gaya tersebut dihilangkan panjang dari otot tersebut akan

(36)

berkurang seiring waktu. Selain itu, stretching mempengaruhi sistem refleks pada otot, yang mengontrol efek neural, meliputi refleks regang, refleks regang terbalik dan persepsi dan control rasa nyeri oleh Pacinian corpuscles. Ketiga refleks ini aktif ketika melakukan teknik peregangan, menyebabkan kontraksi secara refleks dari musculotendinous unit (MTU), menyebabkan persepsi nyeri. Hal ini menyebabkan teraktivasinya Golgi Tendon Organ (GTO) yang memiliki efek inhibisi terhadap kontraksi dan Pacinian corpuscles. Kedua refleks ini menyebabkan relaksasi pada MTU dan berkurangnya persepsi nyeri (Schwellnus, 2009).

Stretching yang diberikan pada otot maka akan memiliki pengaruh yang pertama yang akan terjadi pada komponen elastin (aktin dan miosin) dan tegangan dalam otot meningkat dengan tajam, sarkomer memanjang dan bila dilakukan terus menerus, otot akan beradaptasi dan hal ini hanya bertahan sementara untuk mendapatkan panjang otot yang diinginkan respon mekanik otot terhadap peregangan bergantung pada myofibril dan sarkomer otot. Setiap otot tersusun atas beberapa serabut otot. Satu serabut otot terdiri atas beberapa myofibril.

Serabut myofibril tersusun dari beberapa sarkomer yang terletak sejajar dengan serabut otot. Sarkomer merupakan unit kontraktil dari myofibril dan terdiri atas filamen aktin dan miosin yang saling tumpang tindih. Sarkomer memberikan kemampuan pada otot untuk berkontraksi dan relaksasi, serta mempunyai kemampuan elastisitas jika diregangkan. Ketika otot secara pasif diregang, maka pemanjangan awal terjadi pada rangkaian komponen elastis (sarkomer) dan tension meningkat secara drastis. Kemudian, ketika gaya regangan dilepaskan, maka setiap sarkomer akan kembali ke posisi resting length. Kecendrungan otot

(37)

19

untuk kembali ke posisi resting length setelah peregangan disebut dengan elastisitas. Respon neurophysiological otot terhadap peregangan bergantung pada struktur muscle spindle (MS) dan Golgi Tendon Organ (GTO). MS merupakan organ sensoris utama pada otot yang fungsi utamanya sebagai penerima dan menyampaikan informasi tentang perubahan dari panjang otot, serta kecepatan perubahan panjang yang terjadi pada otot atau yang biasa disebut sebagai stretch reseptor. Ketika otot diregang dengan sangat cepat, maka MS akan terulur kemudian akan menyampaikan informasi mengenai perubahan panjang otot yang terjadi ke medula spinalis dan sistem saraf pusat. Hal ini dinamakan dengan stretch reflex. Tetapi jika peregangan dilakukan secara lambat pada otot, maka GTO terstimulasi dan menginhibisi ketegangan pada otot sehingga memberikan pemanjangan pada komponen elastik otot yang parallel (Ilyas, 2016).

Signal dari GTO dihantarkan ke medula spinalis untuk menyebabkan efek rileks pada otot bersangkutan. Efek inhibis dari GTO menyebabkan rileksasi seluruh otot secara tiba-tiba. Efek inhibisi terjadi pada waktu kontraksi atau regangan yang kuat pada suatu tendon. Keadaan ini menyebabkan suatu refleks seketika yang menghambat kontraksi otot serta tegangan dengan cepat akan berkurang. Pengurangan tegangan ini berfungsi sebagai suatu mekanisme protektif untuk mencegah terjadinya robek pada otot atau lepasnya tendon dari perlekatan tulang. GTO memiliki fungsi sebagai proprioceptor lain yang punya pengaruh dalam gerak stretch reflex. GTO terletak di dekat sambungan antara perut otot dan tendon yang memiliki fungsi sebagai penghambat terjadinya kontraksi otot. GTO melindungi otot dari kontraksi yang berlebihan dan saat GTO terstimulasi maka otot akan rileks (Ilyas, 2016).

(38)

3. Jenis-jenis Active Stretching a. Dynamic stretching

Dynamic stretching atau Peregangan dinamis adalah gerakan peregangan yang dilakukan dengan melibatkan otot-otot dan persendian, gerakan peregangan ini dilakukan secara perlahan dan terkontrol dengan pangkal gerakannya adalah pangkal persendian. Peregangan dinamis, dilakukan dengan melakukan gerakan-gerakan meregangkan. Dengan tujuan untuk mencapai pergerakan persendian seluas mungkin, melampaui batas kemampuan yang dimiliki. Latihan ini terkendala oleh adanya stretch reflect (reflek regang). Stretch reflect yang terdapat pada metode peregangan dinamis ini, disebabkan karena terjadinya regangan mendadak pada otot yang sedang bekerja. Sehingga dapat mengakibatkan terangsangnya reseptor anulospiral. Ada beberapa jenis gerakan pada dynamic stretching (Kovacs, 2009):

1) Toe walk 2) Heel walk 3) Side ankle walk 4) Walking squad stretch 5) Straigh leg march 6) Straigh leg bound 7) Linear walking lunge 8) Lateral lunge

9) High knee run

10) Knee to shoulder lateral walk

(39)

21

11) A-walk, skip, run progression 12) B-walk, skip, run progression 13) 10-yard movement squence 14) Low squat walk

15) Squat jump sprint 16) Triple jump sprint 17) Sumo squat walk 18) Hamstring handwalk 19) Spider crawl

20) Upper body handwalk

Bagi pemain olahraga atau atlet latihan pemanasan dalam hal ini Dynamic Stretching sebelum latihan atau pertandingan merupakan hal yang penting bagi mereka. Banyak manfaat yang didapatkan dengan melakukan Dynamic stretching diawal latihan atau pertandingan yaitu sebagai latihan untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas bagi olahraga yang membutuhkan kemampuan eksplosif bagi pemainnya. Selain itu, latihan stretching dianggap sebagai elemen penting dari kebugaran dan pengkondisian program yang dirancang untuk mempromosikan kesehatan dan mengurangi resiko cedera dan re-injury (Colby, 2012)

b. Static Stretching

Latihan peregangan statis merupakan perbaikan terhadap latihan peregangan dinamis. Pada metode ini, tidak terjadi stretch reflect (reflek regang) seperti pada metode peregangan dinamis. Pergerakan sendi untuk memperluas ruang geraknya bisa dilakukan secara maksimal dan kontinu

(40)

(terus menerus) sesuai kemampuannya, kemudian dipertahankan untuk beberapa waktu dan diulang beberapa kali sesuai instruksi dari pelatih.

Static Stretching atau peregangan statis adalah gerakan meregangkan otot-otot yang dilakukan secara perlahan-lahan hingga terjadi ketegangan dan mencapai rasa nyeri akibat tarikan otot yang diregangkan. Dalam (Lutan, 2005) Peregangan statis umumnya dipandang paling sesuai untuk diterapkan dalam situasi pendidikan jasmani. Keuntunganya meliputi keuntungan yang diperoleh untuk meningkatkan RGM (ruang gerak maksimal) dan mudah untuk dilaksanakan dan tidak banyak memakan waktu.

Menurut Suharjana (2004) latihan static stretching adalah bentuk latihan yang dilakukan sendiri, dimana pelaku mengambil sikap sedemikian rupa sehingga meregangkan suatu kelompok otot tertentu.

Gambar 2.5. Peregangan Statis Sumber: (Ikal, 2017).

(41)

23

c. Ballistic Stretching

Ballistic stretching biasa dilakukan dengan menggerak-gerakkan tubuh atau anggota tubuh secara ritmis dengan gerakan memutar, memantul- mantul anggota tubuh sehingga otot-otot terasa teregangkan (Lutan, 2000).

Menurut Bowers dan Fox yang dikutip dalam Sukadiyanto (2011) peregangan balistik bentuknya senam calisthenics, yaitu bentuk peregangan pasif yang dilakukan dengan cara gerakan yang aktif. Ciri-ciri gerakannya seperti di pantul-pantulkan. Peregangan balistik mengandung anggukan atau pergerakan yang aktif untuk pergerakkan yang terbatas. Para atlet tidak boleh menahan gerakan pada posisi terakhir.

Gambar 2.11 Peregangan Balistik Sumber:(stretchify, 2013).

Metode ini tepat untuk mengembangkan fleksibilitas pada gerakan- gerakan yang terstruktur dan dinamis, sehingga merupakan dasar pada saat

(42)

pertandingan maupun pada cabang olahraga tertentu seperti ballet atau karate. Secara subyektif peregangan balistik dapat mengurangi rasa bosan dibanding pemakaian metode perengangan lainnya.

D. Tinjauan Umum tentang Pengaruh Active stretching Terhadap Respon

Fleksibilitas

Menurut M.Irfan & Natalia (2008) bahwa saat dilakukan stretching/

perenggangan, maka jaringan otot membutuhkan durasi 15-30 detik untuk terjadi efek panjang otot yang maksimal. Perenggangan yang dilakukan dengan intensif tanpa terputus-putus dalam waktu 2-3 menit sudah cukup membuat keringat keluar yang menandakan bahwa meningkatnya suhu tubuh seorang atlet untuk siap dalam melakukan latihan berikutnya.

Ketika otot diregang, maka pemanjangan awal terjadi pada rangkaian komponen elastis (sarkomer) dan tension meningkat secara drastis. Kemudian, ketika gaya regangan dilepaskan maka setiap sarkomer akan kembali ke posisi resting length. Pada gerakan stretching yang dilakukan berulang terjadi perubahan dari tingkat eksitabilitas neuron akibat paparan yang memanjang dari masukan aferen. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan toleransi terhadap manuver peregangan yang dilakukan (Schwellnus, 2009).

Titin merupakan molekul berbentuk filamen, menjaga filamen miosin dan aktin tetap berada di tempat. Molekul titin yang elastis ini berfungsi sebagai kerangka yang menahan filamen miosin dan aktin agar tetap berada di tempatnya sehingga perangkat kontraksi sarkomer ini dapat bekerja. Salah satu ujung titin

(43)

25

bersifat elastis dan terikat pada lempeng Z, bekerja sebagai pegas dan mengubah panjang sarkomer saat berkontraksi dan relaksasi (Hall, 2014).

Fleksibilitas adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya terutama otot, ligament disekitar sendi. Fleksibilitas tungkai dihasilkan oleh otot tungkai pada kaki dan paha digunakan untuk menggerakkan mengayun dari belakang ke depan dengan tujuan menendang bola dan fleksibilitas sangat penting bagi atlet saat melakukan gerakan secara maksimal, hal ini bermanfaat dalam pencapaian hasil prestasi, juga bermanfaat untuk pencegahan cidera traumatic (Usmanto, 2011).

(44)

E. Kerangka Teori

Futsal

Control Dribling Shooting

Passing

Strength

Dynamic Stretching Balance

↑ Titin filamen

Fleksibilitas Speed Endurance

Kontraksi akhir otot yang berulang

GTO inhibisi otot

↑ Sarkomer

↑ Suhu otot

↓Kekakuan sendi

↑ Fleksibilitas Stretching

Static Stretching Ballistic

Stretch muscle spindle

↑Kinerja otot ↑Metabolisme

(Gambar 2.12 Kerangka Teori)

(45)

27

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Active Dynamic Stretching Variabel Independen

↑ Sarkomer

↑ Titin Filamen Variabel Antara

Fleksibilitas Variabel Dependen

1. Umur 2. IMT

3. Jenis Kelamin 4. Riwayat Cedera

Variabel Kontrol

1. Aktivitas lain 2. Motivasi

Variabel Perancu

(Gambar 3.1 Kerangka Konsep)

B. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Ada pengaruh pemberian active dynamic stretching terhadap peningkatan fleksibilitas pada pemain futsal.

2. Terdapat perubahan fleksibilitas antara sebelum dan setelah diberikan active dynamic stretching pada pemain futsal

(46)

28

Pre-test Treatment Post-test

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan desain pre- experimental. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode one-group pretest posttest design, yaitu sebuah rancangan yang digunakan dengan cara memberikan perlakukan pada jangka waktu tertentu serta mengukurnya dengan tes sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) perlakuan diberikan. Pada paradigma ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan sehingga hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Jeneponto 2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada 10 April 2018 hingga 4 Mei 2018.

P1 X P2

Gambar 4.1. Rancangan Penelitian

(47)

29

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemain futsal pada ektrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Jeneponto berjumlah 24 orang.

2. Sampel

Metode pemilihan sampel yang digunakan adalah jenis purposive sampling yaitu teknik menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Adapun metode yang digunakan untuk penentuan jumlah sampel dengan menggunakan rumus penarikan sampel melalui rumus slovin sebagai berikut :

Keterangan : n : ukuran sampel N : ukuran populasi e : batas toleransi (0,05)

Sehingga didapatkan jumlah sampel sebagai berikut :

))

Didapatkan hasil n = 23. Jadi, besar sampel minimal yang diperlukan adalah 23. Sampel dalam penelitian ini di peroleh sebanyak 23 responden yang berasal

(48)

dari jumlah populasi yang dipilih menggunakan formula teknik purposive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ada sebagai berikut:

a. Kriteria Inklusi

1) Siswa SMA Negeri 2 Jeneponto yang mengikuti ekstrakurikuler futsal

2) Aktif mengikuti latihan 3) Usia 15-19 tahun

4) Bersedia menjadi responden penelitian dengan menandatangani informed consent

5) Jenis kelamin laki-laki b. Kriteria Ekslusi

1) Memiliki IMT obesitas

2) Riwayat cedera pada ekstremitas inferior c. Kriteria Drop Out

1) Tidak hadir dalam mengikuti tes, baik pre test, post test atau kedua-duanya.

(49)

31

D. Alur Penelitian

Studi Pendahuluan

Memilih dan Merumuskan Masalah

Observasi Masalah

Izin Penelitian

Pengambilan Data Awal

Penentuan Populasi dan Sampel

Menyusun Instrumen

Pretest (Sit and Reach Test)

Memberikan Perlakuan (Active Dynamic Stretching) Posttest (Sit and Reach Test)

Pengolahan dan Analisis Data

Laporan Penelitian

Gambar 4.2 Alur Penelitian

(50)

E. Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel

1) Variabel Dependen

Variabel dependent dalam penelitian ini adalah fleksibilitas.

2) Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah active dynamic stretching.

2. Definis Operasional Variabel

1) Active stretching adalah suatu metode penguluran yang dilakukan pada otot-otot ekstremitas inferior sebagai suatu latihan fleksibilitas yang dilakukan secara aktif diberikan pada pemain futsal selama 4 minggu. Adapun jenis gerakan yang akan dilaksanakan sebanyak 20 gerakan yang diadaptasi dari buku berjudul ―Dynamic Stretching‖

yang ditulis oleh Kovacs (2009) dengan rincian dosis serta teknik pelaksanaan yang dirincikan pada prosedur penelitian.

2) Fleksibilitas adalah kemampuan suatu jaringan otot untuk memanjang semaksimal mungkin sehingga tubuh dapat bergerak dengan lingkup gerak sendi yang normal tanpa disertai rasa nyeri yang diukur dengan alat ukur Sit and Reach. Hasil yang digunakan adalah hasil yang terjauh dari ketiga pengukuran.

(51)

33

Tabel 2.1 Kategori Pengukuran Sit and Reach Test (cm) untuk Usia 16-19 Tahun.

Fleksibilitas (cm) Laki-laki

Nilai

>14 Sangat Baik

11-13 Baik

7-10 Sedang

4-6 Kurang

<3 Sangat Kurang

Sumber: David et al ( 2005).

F. Prosedur Penelitian

1. Tahap persiapan :

a. Mengurus surat izin penelitian.

b. Melakukan persetujuan sebelum tindakan.

c. Melakukan Sosialisasi tentang penelitian yang akan dilaksanakan kepada subyek dan instansi penelitian.

d. Menyiapkan instrumen penelitian.

2. Tahap pre-test

a. Instrumen pengukuran

1) Penggaris dalam satuan cm 2) Box Sit and Reach

3) Alat tulis 4) Formulir tes b. Prosedur Pengukuran

(52)

1) Subyek duduk dilantai sambil meluruskan kakinya tanpa menggunakan sepatu.

2) Kepala, punggung atas dan bawah harus menempel di dinding.

3) Telapak tangan menghadap ke bawah dan subyek menggerakkan tangannya kedepan sejauh mungkin di atas garis ukur.

4) Jika lutut subyek menekuk atau menggunakan momentum untuk meningkatkan jarak tempuh, maka pengukuran dinyatakan gagal dan harus di ulang.

5) Ulangi pemeriksaan ini tiga kali berturut-turut.

6) Hasil yang digunakan adalah hasil yang terjauh dari ketiga pengukuran.

3. Pemberian Active Stretching

Dynamic stretching merupakan latihan yang ditujukan untuk membuat otot menjadi elastis dan ruang gerak sendi akan semakin baik. Ada beberapa jenis gerakan pada dynamic stretching (Kovacs, 2009):

No Teknik Jarak/Repetisi

(1 yard = 0.9144 meter)

Langkah-Langkah 1. Toe Walk 10 Yard/1 x Repetisi 1. Naikkan tumit dan

seimbangkan pada kedua kaki Anda.

2. Melangkah kedepan dengan kaki kiri Anda, kemudian ulangi proses dengan kaki kanan.

Gerakan ini akan mengaktifkan kontraksi otot betis.

(53)

35

2. Heel Walk 10 Yard/1 x Repetisi 1. Angkat jari-jari kaki Anda dari tanah.

2. Melangkah kedepan dengan kaki kiri Anda dan mendorong berat badan Anda ke tumit, sambil mengarahkan jari-jari kaki ke langit. Gerakan ini akan mengaktifkan tibialis anterior (otot yang membentang di depan kaki Anda dari lutut ke area pergelangan kaki).

Kemudian langkah kedepan dengan kaki kanan Anda dan ulangi prosesnya.

Lanjutkan kaki bergantian.

3. Side Ankle Walk 10 Yard/1 x Repetisi 1. Balikkan kaki Anda

sehingga Anda

menyeimbangkan di sisi luar kedua kaki.

2. Melangkah kedepan dengan kaki kanan Anda dan posisikan berat badan Anda di bagian luar kaki kanan Anda, yang akan menghasilkan lengkungan kaki kanan Anda dari tanah. Kemudian langkah maju dengan kaki kiri Anda dan ulangi prosesnya.

Lanjutkan kaki bergantian.

(54)

4. Walking Quad Stretch

10 Yard/1 x Repetisi 1. Tekuk lutut kiri dan ambil kaki kiri di belakang Anda dengan tangan kiri. Tahan posisi ini selama kurang lebih dua detik.

2. Lepaskan kaki kiri Anda, biarkan kaki kiri melangkah maju dan ulangi proses dengan kaki kanan Anda.

5. linear walking lunge

20 Yard/1 x Repetisi 1. Melangkah maju dengan kaki kanan dan tekuk kaki belakang sampai lutut sekitar 1 hingga 3 inci dari tanah, tepat di bawah pinggul kiri, dan lutut kanan berada pada sudut 90 derajat. Lutut kanan Anda harus tepat di atas pergelangan kaki kanan Anda.

2. Dorong keluar dengan kaki

kiri Anda untuk

membawanya ke depan.

6. straight-leg bound 20 Yard/1 x Repetisi 1. Angkat dan rentangkan kaki kiri Anda di depan tubuh Anda, menjaga inti Anda kuat dan bahu ditarik sambil mempertahankan posisi tubuh bagian atas yang tegak. Biarkan tubuh Anda bersandar ke

(55)

37

belakang sedikit dan lengan kanan Anda untuk membungkuk 90 derajat.

2. Ketika pinggul Anda diperpanjang antara 30 dan 50 derajat, paksa mendorong bola kaki kiri Anda kembali ke tanah melalui kontraksi ekstensor pinggul.

7. straight-leg march 10 Yard/1 x Repetisi 1. kaki kanan Anda lurus di depan Anda untuk menyentuh jari-jari Anda.

Cobalah untuk tidak menekuk lutut Anda.

Berfokuslah untuk mempertahankan postur tubuh yang lurus dan jagalah bahu Anda agar tidak membungkuk.

2. Turunkan kaki kanan ke tanah dan ulangi pada kaki kiri

8. lateral lunge 10 Yard/1 x Repetisi 1. Langkah ke sisi kanan dengan kaki kanan Anda, menjaga kaki menghadap ke depan. Perlahan-lahan menurunkan berat badan Anda kembali ke pinggul dan. Pertahankan posisi ini selama kurang lebih dua detik, pastikan bahwa

(56)

tulang belakang Anda tegak dan bahu Anda kembali dengan postur yang baik.

2. Bawalah kaki kiri Anda di bawah pusat Anda dan ulangi gerakan ini di sisi kiri

9. high-knee run 20 Yard/1 x Repetisi Mulailah berlari dengan mengangkat kaki kanan, tekuk lutut sedikit dan tarik kaki ke atas (dorsofleksi). Biarkan ibu jari tangan kiri (membentuk sudut siku kira-kira 90 derajat pada lengan). Tingkatkan fleksi knee sambil mempertahankan posisi tubuh bagian atas yang tegak.

Lakukan pada sisi yang lain.

10. knee to shoulder lateral walk—

frogger

10 Yard/1 x Repetisi 1. Lenturkan pinggul kiri Anda saat mulai naik, putar ke luar untuk mengangkat lutut ke arah ketiak Anda 2. Saat kaki kiri Anda turun,

lakukan gerakan yang sama di sisi kanan Anda.

11. a-walk, skip, run progression

10 Yard/1 x Repetisi 1. Langkah maju dengan kaki kiri Anda, biarkan siku kanan Anda menekuk kira- kira 90 derajat dan lengan kiri Anda bergerak

(57)

39

mundur. Tekankan posisi lutut dan kaki ke atas sebagai persiapan untuk mendorong kaki kiri dengan agresif dan kuat ke tanah di bawah pinggul.

Menunjuk ujung jari kaki mempertahankan sudut shin positif untuk membantu posisi pinggul ke depan.

2. Menggerakkan kaki kiri dengan paksa ke tanah, menggunakan ekstensi pinggul yang efisien.

12. b-walk, skip, run progression

20 Yard/1 x Repetisi 1. Bersandar ke depan dan tekuk lutut kiri Anda untuk mengangkat tumit ke atas dan sedikit di depan tubuh Anda ke tinggi yang sama atau lebih besar dari lutut kanan Anda.

2. Segera percepat paha kiri

ke bawah sambil

meluruskan kaki dan menarik paha ke belakang di bawah pinggul kiri dengan gerakan mencakar.

Selama gerakan ini, jagalah kaki Anda dorsiflexed (ujung kaki menunjuk ke langit).

(58)

13. 10-yard movement sequence

10 Yard/1 x Repetisi 1. Lakukan lari linear.

2. Lakukan Shuffle Lateral ke arah sisi kanan Anda.

3. Lakukan Shuffle Lateral ke arah sisi kiri Anda.

4. Backpedal

6. Lakukan Carioca ke sisi kanan Anda.

7. Lakukan Carioca ke sisi kiri Anda.

14. low squat walk 10 Yard/1 x Repetisi 1. Sambil mempertahankan jongkok rendah dan pusat gravitasi rendah, ambil langkah kecil di depan tubuh Anda dengan kaki kanan Anda.

2. Ulangi dengan kaki kiri Anda. Lanjutkan kaki bergantian.

15. squat jump sprint 10 Yard/1 x Repetisi 1. Lakukan lompatan jongkok dengan membungkuk di pinggul; ketika pinggul Anda sejajar dengan lutut Anda (sejajar dengan tanah), meledaklah.

2. Di bagian atas lompatan, fokus pada perlambatan pendaratan. Ketika Anda

mendarat, segera

mendorong kaki Anda ke depan ke posisi percepatan dan berlari ke depan.

(59)

41

16. triple jump sprint 20 Yard/1 x Repetisi 1. Lakukan tiga lompatan satu kaki (bolak kaki) ke depan, dengan fokus pada tinggi dan kedalaman selama setiap lompatan.

2. Setelah lompatan ketiga, mendarat di kaki yang berlawanan dengan yang Anda mulai lompat, dorong ke posisi percepatan dan lari 10 meter.

17. sumo squat walk 10 Yard/1 x Repetisi Lakukan posisi ―sumo‖

kemudian melangkah ke depan dengan kaki kanan dan bergantian pada kaki kiri dengan langkah yang sama 18. hamstring

handwalk—

inchworm

10 Yard/1 x Repetisi 1. Pada gambar 1-2 mempertahankan agar punggung dan kaki lurus, perlahan langkahkan kaki sedekat mungkin ke tangan Anda tanpa membiarkan lutut menekuk. Anda akan merasakan regangan di paha belakang dan punggung bawah Anda.

2. Setelah Anda mendekatkan kaki sedekat mungkin ke tangan Anda, gerakkan tangan Anda sejauh

(60)

mungkin ke posisi semula.

19. spiderman crawl 10 Yard/1 x Repetisi Dari posisi berdiri, ambil langkah kecil ke depan dengan kaki kiri sekitar 45 derajat. Tekuk pinggang dan lutut untuk merangkak ke depan, mempertahankan tulang belakang yang netral dan menggerakkan tangan ke depan ke arah kaki kiri / lutut.

Pandangan tetap lurus ke depan.

20. upper body handwalk

10 Yard/1 x Repetisi Pada gambar 1-3 yaitu mempertahankan posisi push- up yang baik, gerakkan tangan Anda ke kiri. Ulangi ke kanan Anda.

G. Rencana Pengolahan dan Analisis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yaitu hasil pengukuran peningkatan fleksibilitas. Kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) paket SPSS 23.0 for windows, serta disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Data yang dikumpulkan diuji normalitas data menggunakan Shapiro Wilk Test. Setelah diketahui sebaran data pretest dan posttest yang berdistribusi normal, maka akan

(61)

43

digunakan uji t berpasangan dan apabila distribusi data tidak normal maka digunakan uji Wilcoxon.

H. Masalah Etika

1. Informend Consent

Lembar persetujuan akan diberikan kepada responden. Jika sampel bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan dan sampel yang menolak tidak akan dipaksa dan tetap menghormati haknya.

2. Anonimity

Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi hanya memberi kode tertentu pada setiap responden.

3. Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti dan hanya sekelompok data yang dilaporkan dalam hasil penelitian.

(62)

44

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lapangan SMA Negeri 2 Jeneponto, dengan populasi penelitian adalah semua anggota ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 2 Jeneponto. Berdasarkan populasi tersebut, diperoleh jumlah sampel sebanyak 23 orang responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang ditentukan oleh peneliti.

Penelitian ini dimulai dengan observasi dan penentuan sempel, sampel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dilibatkan ke dalam penelitian. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti menginformasikan tujuan penelitian untuk memperoleh persetujuan sampel. Setelah dilakukan pengisian informed concern, maka pada responden dilakukan pengukuran awal berupa pengukuran tinggi badan, berat badan dan nilai fleksibilias ekstremitas bawah. Adapun gambaran umum tentang responden akan disajikan sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait