• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Stelsel Sanksi dalam Hukum Pidana di Indonesia a. Stelsel Sanksi di Indonesia

Perkembangan hukum pidana dewasa ini di Indonesia, terutama undang-undang pidana khusus atau perundang-undangan di luar KUHP, terdapat suatu kecenderungan penggunaan sistem dua jalur (double track system) dalam stelsel sanksinya yang berarti sanksi pidana dan sanksi tindakan diatur sekaligus (Sudarto, 2006: 63) sebagai suatu sanksi yang mempunyai kedudukan yang sejajar dan bersifat mandiri (Mahrus Ali, 2012: 194).

Kedua sanksi tersebut berbeda baik dari ide dasar, landasan filosofis, yang melatar belakanginya, dan tujuannya (Mahrus Ali, 2012:

193).

Sanksi pidana bersumber dari ide dasar, mengapa diadakan pemidanaan? Sedangkan sanksi tindakan bertolak dari ide dasar untuk apa diadakan pemidanaan? Sanksi pidana pada dasarnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut. Jika fokus sanksi pidana tertuju pada perbuatan salah seorang lewat pengenaan penderitaan (agar yang bersangkutan menjadi jera), maka fokus sanksi tindakan terarah pada upaya memberi pertolongan agar pelaku berubah. Dengan demikian, sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan (pengimbalan).

Ia merupakan penderitaan yang sengaja dibebankan kepada pelanggar. Sedangkan sanksi tindakan bersumber dari ide dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pelanggar.

Berdasarkan tujuannya, sanksi pidana bertujuan memberikan penderitaan istimewa kepada pelanggar supaya ia merasakan akibat perbuatannya, dan merupakan bentuk pernyataan pencelaan terhadap perbuatan si pelaku. Sedangkan sanksi tindakan tujuannya lebih bersifat mendidik. Jika ditinjau dari sudut teori-teori pemidanaan, maka sanksi tindakan merupakan sanksi yang tidak membalas. Ia ditujukan pada

(2)

commit to user

prevensi khusus, yakni melindungi masyarakat dari ancaman yang dapat merugikan kepentingannya.

Perbedaan orientasi dasar dari dua jenis sanksi tersebut sebenarnya memiliki kaitan pula dengan paham filsafat yang memayunginya, yakni filsafat indeterminisme sebagai sumber sanksi pidana dan filsafat determinisme sebagai sumber sanksi tindakan. Sebagaimana diketahui, asumsi dasar filsafat indeterminisme adalah sejatinya manusia memiliki kehendak bebas, termasuk ketika ia melakukan kejahatan. Karenanya sebagai konsekuensi pilihan bebasnya, maka setiap pemidanaan harus diarahkan pada pencelaan moral dan pengenaan penderitaan bagi pelaku.

Sementara itu, determinisme bertolak dari asumsi bahwa

keadaan hidup dan perilaku manusia, baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok masyarkat, ditentukan oleh faktor-faktor fisik, geografis, biologis, psikologis, sosiologis, ekonomis, dan keagamaan yang ada. “Perilaku jahat seseorang ataupun masyarakat ditentukan oleh berbagai faktor tersebut, dan karenanya setiap pemidanaan hanya dapat dibenarkan dengan maksud merehabilitasi pelaku, atau kejahatan sebenarnya merupakan manifestasi dari keadaan jiwa seseorang yang abnormal (Mahrus Ali, 2012: 205).

Dengan demikian, si pelaku tidak dapat dipersalahkan atas perbuatannya dan tidak dapat dikenakan pidana.

1) Pengertian Sanksi Pidana dan Jenis-jenisnya

Sanksi pidana diartikan sebagai suatu nestapa atau penderitaan yang ditimpakan kepada seseorang yang bersalah melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, dengan adanya sanksi tersebut diharapkan orang tidak akan melakukan tindak pidana (Mahrus Ali, 2012: 194). Jenis-jenis sanksi pidana diatur dalam Pasal 10 KUHP, terdiri atas:

1) Pidana Pokok:

(1) Pidana mati (2) Pidana penjara (3) Pidana kurungan (4) Pidana denda

(5) Pidana tutupan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1946)

(3)

commit to user 2) Pidana Tambahan:

(1) Pencabutan hak-hak tertentu.

(2) Perampasan barang-barang tertentu.

(3) Pengumuman putusan hakim.

Berdasarkan Pasal 69 Ayat (1) KUHP yang berbunyi:

“perbandingan beratnya pidana pokok yang tidak sejenis ditentukan menurut urutan-urutannya dalam Pasal 10 KUHP.” Penjatuhan salah satu jenis pidana pokok bersifat keharusan atau imperatif dan dapat berdiri sendiri (Adami Chazawi, 2002: 26-27).

Penjatuhan pidana tambahan sifatnya fakultatif (kecuali Pasal 250 bis, Pasal 261, dan Pasal 267 dimana pidana tambahan bersifat imperatif) dan dalam menjatuhkan jenis pidana tambahan tidak boleh berdiri sendiri tanpa menjatuhkan pidana pokok (kecuali Pasal 39 Ayat (3) dan Pasal 40 dimana jenis pidana tambahan dijatuhkan tidak bersama jenis pidana pokok, akan tetapi bersama tindakan) (Adami Chazawi, 2002: 26-27) oleh karena sifatnya merupakan tambahan dari pidana pokok. Akan tetapi, dalam beberapa hal atas prinsip tersebut terdapat pengecualian. Hal yang mendasari pengecualian tersebut, menurut R. Sianturi dalam bukunya yang berjudul Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya mengatakan bahwa dalam praktek perkembangan penerapan hukum pidana sehari-hari untuk menjatuhkan pidana tidak lagi semata-mata bertitik berat pada dapat dipidananya suatu tindakan, akan tetapi sudah bergeser kepada meletakkan titik berat pada dapat dipidananya terdakwa (E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, 2002: 456). Pengaturan pidana tambahan juga terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan lainnya, KUHP sendiri memang tidak membatasi pidana tambahan pada tiga bentuk saja.

Undang-Undang Perlindungan Anak juga mengatur mengenai pidana tambahan selain pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu, dan pengumuman putuan hakim, yaitu pengumuman identitas pelaku. Undang-Undang Perlindungan Anak

(4)

commit to user

berlaku sebagai apa yang disebut adagium hukum sebagai lex specialis derogat legi generali dari ketentuan mengenai sanksi pidana tambahan di KUHP, di mana terdapat beberapa perubahan mengenai ketentuan untuk melaksanakan pidana tambahan. Hubungan antara KUHP dengan undang-undang yang memuat tindak pidana di luar KUHP diatur dalam dalam Pasal 103 KUHP yang berbunyi,

“Ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VIII buku ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain.” Dengan adanya asas ini, perubahan-perubahan mengenai ketentuan sanksi pidana tambahan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak mengesampingkan pasal- pasal pidana tambahan dalam KUHP.

2) Pengertian Sanksi Tindakan dan Jenis-jenisnya

Sanksi tindakan adalah suatu sanksi yang bersifat antisipatif bukan reaktif terhadap pelaku tindak pidana yang berbasis pada filsafat determinisme dalam ragam bentuk sanksi yang dinamis (open system) dan spesifikasi nonpenderitaan atau perampasan kemerdekaan, dengan tujuan untuk memulihkan keadaan tertentu bagi pelaku maupun korban baik perseorangan, badan hukum publik maupun perdata (Mahrus Ali, 2012: 202).

Sebenarnya ketentuan sanksi tindakan juga diatur dalam KUHP yaitu Pasal 44 Ayat (1) (“Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam timbulnya (gebrekkig ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.”) dan Pasal 45 berbunyi:

Dalam menuntut orang yang belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum umur enam belas tahun, Hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharaannya, tanpa pidana apa pun; atau memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada Pemerintah, tanpa pidana apa pun, yaitu jika

(5)

commit to user

perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut Pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517-519, 526, 531, 532, 536, dan 540 serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan salah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di atas, dan putusannya menjadi tetap; atau menjatuhkan pidana.

Akan tetapi, kedua pasal tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi karena ada peraturan khusus yang mengaturnya.

Selain itu juga diatur dalam peraturan perundang-undangan di luar KUHP, yaitu Pasal 8 Undang-Undang Darurat Tahun 1955, yang berupa perampasan perusahaan si terhukum di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (tiga tahun untuk kejahatan TPE dan dua tahun untuk pelanggaran TPE). Pasal 69 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menyatakan bahwa “Anak yang belum berusia 14 (empat belas) tahun hanya dapat dikenai tindakan.” Undang-Undang Perlindungan Anak juga mencantumkan Sanksi Tindakan yaitu berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik (Pasal 81 Ayat (7)) serta rehabilitasi dan pemasangan alat pendeteksi elektronik (Pasal 82 Ayat (6)). Adapun penjelasan mengenai kebiri dan alat pendeteksi elektronik adalah sebagai berikut:

a) Pengertian Kebiri

Sepanjang sejarah, praktek pengebirian sudah diberlakukan sebagai salah satu hukuman yang bersifat khusus. Sistem pengebirian memiliki dua metode yang pernah ada dalam pelaksanaannya, baik itu pengebirian bedah yang menghilangkan fungsi testis secara langsung melalui operasi dan pengebirian kimia dengan cara memberikan suntikan obat khusus (Ahmad Sandi, 2015: 48). Masing-masing metode memiliki efek fisik maupun psikologis yang berbeda, dengan demikian hukuman ini dapat dibenarkan dalam situasi tertentu.

(6)

commit to user

(1) Surgical Castration (Pengebirian Bedah)

Secara prosedur, pengebirian bedah adalah proses mengurangi atau bahkan menghilangkan gairah seksual baik pria maupun wanita. Namun, pada masa kelam Eropa pengebirian bedah dilakukan sebagai salah satu hukuman atas pelanggaran yang lebih terarah kepada aliran sesat atau ilmu hitam.

Pengebirian bedah pada wanita dicapai dengan cara menghilangkan sel telur pada ovarium atau disebut dengan oophorectomy. Selama proses operasi atau oophorectomy ini relatif memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Setelah operasi pun wanita membutuhkan waktu sekurangnya empat sampai enam minggu untuk pulih sebelum beraktifitas secara normal.

Sedangkan pada pria pengebirian bedah memiliki prosedur yang relatif sederhana dan biasanya dapat beraktifitas kembali secepat mungkin setelah operasi.

Pengebirian bedah memang dianggap sangat efektif dalam mencapai beberapa tujuan yang salah satunya adalah menurunkan gairah seksual kepada pelaku tindak pidana kekerasan seksual untuk mencegah timbulnya residivisme.

Pengebirian bedah membawa beberapa konsekuensi jangka panjang antara lain (Ahmad Sandi, 2015: 49-50):

(1) Seutuhnya mengalami kemandulan,

(2) Hilangnya kemampuan untuk mencapai ereksi atau kekuatan massa otot dan hilangnya hasrat,

(3) Sulit menjalin kontak seksual dengan lawan jenis,

(4) Bulu pada bagian muka dan kemaluan akan berhenti tumbuh, (5) Ketidakmampuan untuk memproduksi hormon testosteron, (6) Hilangnya simbolik kedewasaan dan kewanitaan,

(7) Infeksi jangka panjang.

Efek samping di atas merupakan hal yang umumnya terjadi bagi para tindak pidana yang menjalani kebiri bedah.

Dengan berjalannya waktu serta perkembangan zaman yang merubah pemikiran orang Eropa pada umumnya, hingga lahirlah beberapa pemikiran tentang human right yang menganggap

(7)

commit to user

bahwa pengebirian bedah adalah suatu hukuman yang dianggap keji dan tidak sesuai. Alasan tersebut didasari perkembangan medis yang menjadi dasar hukuman kebiri kimia atau injeksi antiandrogen timbul sebagai salah satu alternatif yang dirancang untuk tetap memberikan hukuman namun disesuaikan dengan keadaan.

(2) Chemical Castration (Pengebirian Kimia)

Kebiri kimia adalah “memasukkan bahan kimia antiandrogen ke dalam tubuh melalui suntikan atau pil yang diminum.” Antiandrogen ini berfungsi melemahkan hormon testosteron sehingga menyebabkan hasrat seksual orang yang mendapat suntikan atau minum pil yang mengandung antiandrogen tersebut berkurang atau bahkan hilang sama sekali (Supriyadi Widodo Eddiyono, dkk, 2016: 4).

“Several pharmacological agents can be used to achieve chemical castraction. These include medrocyprogesterone acetate (MPA), cyproterone acetat (CPA), and luteinizing- hormone-releasing-hormone (LHRH) agonists” (Matthew R.

Kutcher, 2010: 197). (Beberapa zat kimia dapat digunakan untuk mencapai pengebirian kimia. Hai ini termasuk medroksiprogesteron asetat (MPA), cyproterone asetat (CPA), dan luteinizing-hormon-releasing-hormon (LHRH) agonis).

Obat cyproteron asetat umumnya digunakan untuk pengebirian kimia di seluruh Eropa. Sedangkan medroksiprogesteron asetat (MPA, bahan dasar sekarang digunakan dalam DMPA) adalah obat yang digunakan di Amerika (Supriyadi Widodo Eddyono dkk, 2016: 9).

Menurut Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Wimpie Pangkahila, jika suntik kebiri dihentikan, dorongan seksual dan fungsi ereksi pelaku akan muncul lagi. Artinya, ketika masa

(8)

commit to user

hukuman selesai, pelaku bisa mengulangi kejahatannya jika pemicu yang mendorongnya melakukan kejahatan seksual tidak ditangani (Lidya Suryani Widayati, 2015: 3). Menurut Wimpie, bahwa selain menekan dorongan seksual dan menghilangkan kemampuan ereksi, antiandrogen menekan produksi sel spermatozoa sehingga membuat mandul. Pemberian antiandrogen juga mempercepat penuaan tubuh, mengurangi kerapatan massa tulang sehingga tulang keropos dan memperbesar risiko patah tulang. Obat ini juga mengurangi massa otot dan meningkatkan lemak yang menaikan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (Lidya Suryani Widayati, 2015: 4). Sekarang Indonesia juga mencantumkan kebri yang diatur dalam Pasal 81 Ayat (7) Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada Ayat (4) dan Ayat (5) dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.”

Berdasarkan kajian Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa tentang perbandingan pengaturan hukum kebiri di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Korea Selatan dan Jerman. Secara umum pengaturan kebiri dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu “mandatory”,

“discretionary”, dan “voluntary”. Perbedaannya terdapat dari bagaimana kebiri diterapkan dalam hukum pidana, dalam hal mandatory, maka kebiri dijatuhkan langsung ketika pidana terjadi, discreationary dijatuhkan dalam hal pidana dijatuhkan sebagai opsi, tidak ada kewajiban bagi hakim, sedangkan voluntary diberikan hanya dalam hal mendapatkan kesepakatan oleh seseorang yang akan dikebiri.

Perdebatan terhadap hukum kebiri terjadi di semua negara yang menerapkan hukuman ini, banyak kotroversi yang terjadi dari mulai efektifitas, biaya, hak asasi manusia, sampai dengan

(9)

commit to user

proses teknis yang melibatkan pengawasan, administrasi dan profesional. Hasil kajian tersebut ditemukan bahwa jumlah negara yang menempatkan hukum kebiri sebagai kewajiban merupakan minoritas, hanya sebagian kecil negara di AS dan Eropa hanya beberapa negara yang dapat dipastikan menjadikan kebiri sebagai hukuman wajib seperti polandia dan Moldova.

Sisanya disusul oleh negara yang memposisikan hukum kebiri sebagai discretonary (opsi/tambahan), di Asia, tipe ini yang diperkenalkan oleh Korea Selatan. Angka terbanyak, kebiri dijadikan sebagai voluntary, artinya membutuhkan kesepakatan dari pelaku, beberapa negara yang oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, seperti Australia, Inggris dan Jerman memposisikan kebiri mutlak harus mendapatkan persetujuan dari pelaku. Berikut perbandingannya (icjr.co.id/Hukum-Kebiri- Indonesia-Latah-atau-Tanpa-Solusi, diakses tanggal 5 September 2016):

(a) Australia

Di Australia pada dasarnya tidak ada yurisdiksi yang mengatur kebiri sebagai opsi dalam penghukuman, hanya saja pada akhir 2015, negara bagian New South Wales (NSW) mengatakan akan memperkenalkan hukum ini sebagai bagian pidana yang dapat dijatuhkan oleh hakim.

(i) Australia Barat

Asutralia barat dalam Dangerous Sexual Offenders Act 2006 (WA) (“DSO Act”) memperbolehkan Jaksa untuk membuat permintaan pada Hakim Agung Australia Barat untuk melanjutkan masa penahanan atau perintah pengawasan bagi pelaku. Hakim, berdasarkan laporan dari ahli psychiatrist boleh melakukan kedua perintah itu.

Perintah itu bisa termasuk pemberian pengobatan anti- libidinal, pengobatan bisa dilakukan sebelum bebas atau setelah bebas. Perintah ini hanya bisa dijatuhkan dalam hal pidana yang dijatuhakan pada pelaku adalah tujuh tahun ke atas untuk kejahatan seksual yang serius. Perintah ini bisa dilakukan dalam hal pelaku dalam pembinaan di Lapas, Pengadilan yang dapat meminta pelaku menjalankan pengobatan anti-libidinal, bukan Lapas.

Dalam hal pelaku tidak sepakat atau tidak lagi

(10)

commit to user

menjalankan pengobatan, maka pelaku dpat diperintahkan untuk kembali dipenjara.

(ii)New South Wales (NSW)

Pada akhir 2015, Menteri Hukum NSW mengatakan akan memperkenalkan hukum kebiri untuk pelaku kejahatan seksual pada anak, hal ini ditujukan untuk memberikan opsi penghukuman dijatuhkan oleh hakim, alasannya kejahatan yang dilakuakn residivis dalam hal kejahatan seksual anak mencapai 17%. Sampai awal 2016, hukum ini belum disahkan.

(iii)Jurisdiksi lain di Australia

Di Queensland, Kebiri hanya dijatuhkan dalam hal adanya laporan dari psychiatrist, dan hanya dijatuhkan apabila ada persetujuan dari pelaku kejahatan. Di Tasmania, kebiri dijalankan hanya dalam hal permintaan dari palaku kejahatan, sebagai sebuah rehabilitasi, dan tidak dapat disimpulkan sebagai bagian dari hukuman.

(b) Amerika Serikat (AS)

Beberapa yursdiksi di negara bagian di AS ada di tipe discritionary dan mandatory, dibeberapa negara bagian seperti Montana, Iowa, Wisconsin. Di negara Georgia dan Oregon telah dihapuskan. Beberapa negara juga memperkenalkan hukum ini, seperti di California, Florida dan Lousiana, persepsinya adalah karena Lapas telah kelebihan beban dan pelaku akan segera bebas, dengan anggapan bahwa kebiri lebih murah dari pada biaya terhadap pemenjaraan.

Alasan lain karena adanya dorongan publik dan bagian dari perang terhadap kejahatan.

(i) California

Dalam Pasal 645(a) KUHP California, pengadilan dapat memerintahkan seseorang, untuk mendapatkan pengobatan medroxy progesterone acetate (MPA) setelah mendapatkan pembebasan bersyarat. Apabila kejahatan terbukti dilakukan pertama kali untuk jenis pidana kekerasan seksual yang sudah ditentukan maka kebiri menjadi discretionary, sedangkan apabila kejahatan terbukti yang dilakukan kedua kali pada jenis kejahatan kekerasan seksual yang sudah ditentukan, maka pengobatan menjadi kewajiban. Pelaku juga bisa secara sukarela meminta pengobatan atau pun kebiri fisik permanen. Catatanya, kebiri hanya dilakukan dalam hal kejahatan pemerkosaan atau kejahatan seksual lainnya yang korban belum berusia 13 (tiga belas) tahun.

(ii) Florida

Tidak berbeda jauh dangan California, pengadilan dapat menjatuhakan perintah pengobatan medroxy

(11)

commit to user

progesterone acetate (MPA) dalam hal merupakan terbukti pertama kali melakukan kejahatan, dan dapat menjadi kewajiban untuk hakim memerintahkan pengobatan bila terjadi kejahatan kedua kali. Pengobatan juga harus ditentuan berapa lama untuk dijalani. Hukum Florida mensyaratkan bahwa pelaku yang menjalani pengobatan harus layak untuk mendapatkan pengobatan tersebut, tidak dijelaskan apa yang dimaksud “layak”.

Dalam hasil penelusuran peneliti, putusan pengadilan yang menjatuhkan kewajiban pengobatan sangat jarang dilakukan.

(iii) Louisiana

Hakim memerintahkan pengobatan dalam terbukti melakukan kejahatan kedua (mandatory), dengan kata lain, untuk kejahatan pertama, pengobatan menjadi opsional.

(c) Eropa

(i) Polandia

Pada 2010, Polandia menjadi negara Eropa pertama yang memperkenalkan kebiri sebagai hukum yang wajib dijatuhkan dalam kasus kekerasan seksual.

(ii) Rusia

Kebiri menjadi hukum positif pada tahun 2012, namun peneliti tidak dapat menemukan kejalasan yang pasti apakah kebiri menjadi hukum pasti yang dijatuhkan atau tidak. Tidak juga ditemukan jenis obat yang digunakan.

(iii) Moldova

Kebiri menjadi hukum positif pada 2012. Namun peneliti tidak dapat menemukan kejalasan yang pasti apakah kebiri menjadi hukum pasti yang dijatuhkan atau tidak. Tidak juga ditemukan jenis obat yang digunakan.

(iv) Jerman

Sampai 2014, Jerman memiliki hukum yang memperbolehkan adanya kebiri fisik bagi pelaku. Pada 1969 hukum jerman memperbolehkan adanya kebiri sepanjang ada kesepakatan oleh pelaku atau bersifat voluntary. Tidak ada hukum yang mewajibakan adanya kebiri, meskipun ada amandemen hukum pada 1998 tentang kebiri yang memperkuat posisi kebiri untuk kejahatan serius termasuk kejahatan seksual, namun tidak merubah posisi hukum kebiri sebagai hukum yang voluntary.

(v) Swiss

Pada 2013, proposal untuk memasukkan hukum kebiri sebagai hukuman terhadap kejahatan seksual

(12)

commit to user

berulang terhadap pemerkosan dan pelaku pedofil menjadi wacana di Swiss, proposal ini ditolak di akhir 2013.

Alasan utama kerena kebiri sudah menjadi pengobatan dengan sukarela dalam bertahun-tahun.

(vi) Inggris

Di Inggris, kebiri merupakan pengobatan yang dalam seluruh keadaan hanya dapat dijatuhkan dalam hal mendapatkan kesepakatan atau kesukarelaan dari pelaku.

(vii) Scandinavia

Baik Denmark dan Swedia menempatkan hukum kebiri sebagai pengobatan yang hanya dapat dilakukan dengan voluntary atau kesukarelaan. Denmark sudah memperkenalkan metode ini sejak 1970 dan 1980 an.

(d) Asia

(i) Korea Selatan

Korea Selatan menjadi negara pertama asia yang memperkenalkan kebiri kimiawi pada 2011. Tidak ditemukan secara spesifik posisi hukum kebiri dalam pemidanaan, tapi dari beberapa temuan, dikatakan bahwa kebiri dijatuhkan sebagai opsi bersifat pengobatan oleh hakim atau bersifat discretionary.

(ii) India

India dikabarkan sebagai negara berikutnya yang mempertimbangkan penggunaan kebiri kimiawi dikarenakan tingginya angka pemerkosaan, sampai dengan kajian ini dibuat, tidak ditemukan kebiri sebagai hukum positif di India.

Negara-negara tersebut, meskipun telah memasukkan pasal hukuman atau tindakan/perawatan kebiri dalam hukum pidana mereka, namun dalam banyak kajian ternyata sulit menerapkannya karena harus melakukan dianogsa terlebih dahulu sebelum menerapkannya, sebab tidak semua pelaku harus dikebiri, tetapi harus dicek serta didiagnosa dahulu kesehatannya dan implikasi medisnya. Kebijakan ini mendapat kritik yang luar biasa, bukan dari tenaga medis saja tapi juga dari ahli hukum. Rata-rata negara di atas dalam menjatuhkan hukuman kebiri kimia membutuhkan kesepakatan dengan pelaku. Hal ini berbeda dengan sanksi tindakan kebiri kimia dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Di mana tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik

(13)

commit to user

yang diputus bersama-sama dengan pidana pokok. Tindakan tersebut dikenakan untuk jangka waktu paling lama dua tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok di bawah pengawasan secara berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum, sosial, dan kesehatan. Selain itu, Penjelasan dari undang-undang ini juga tidak menyebutkan adanya persetujuan dari pelaku yang akan mendapat tindakan kebiri kimia.

b) Pengertian Alat Pendeteksi Elektronik

Di Indonesia, terkait pemasangan alat pendeteksi elektronik, sebelumnya tidak satupun peraturan perundang-undangan di Indonesia yang mengenal istilah “alat pendeteksi elektronik”, bahkan penjelasannya tidak ditemukan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini. Penjelasan Pasal 81 Ayat (7) Undang- Undang Perlindungan Anak hanya menyebutkan, bahwa

“Pemasangan alat pendeteksi elektronik dalam ketentuan ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mantan narapidana.”

b. Pidana dan Pemidanaan 1) Pengertian Pidana

Pidana berasal dari kata straf (Belanda), yang adakalanya disebut dengan istilah hukuman. Menurut Adami Chazawi, “pidana didefinisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana” (Adami Chazawi, 2002: 24).

Sudarto memberikan pengertian “pidana sebagai penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu” (Sudarto, 2006: 110). Sedangkan menurut Roeslan Saleh dalam Mahrus Ali (2012: 186) mengartikan

(14)

commit to user

“pidana sebagai reaksi atas delik, dan ini berujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pelaku delik itu.”

Berdasarkan pengertian pidana di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur dan ciri-ciri, yaitu (Mahrus Ali, 2012: 186):

a) Pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan.

b) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang).

c) Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.

d) Pidana itu merupakan pernyataan pencelaan oleh negara atas diri seseorang karena telah melanggar hukum.

Pidana dalam hukum pidana adalah suatu alat dan bukan tujuan dari hukum pidana, yang apabila dilaksanakan tiada lain adalah berupa penderitaan atau rasa tidak enak bagi yang bersangkutan disebut terpidana. Mencantumkan pidana pada setiap larangan dalam hukum pidana (strafbaar feit: tindak pidana) disamping bertujuan untuk kepastian hukum dan dalam rangka membatasi kekuasaan negara juga bertujuan untuk mencegah (preventif) bagi orang yang berniat untuk melanggar hukum pidana.

2) Pengertian Pemidanaan

Pemidanaan merupakan pemberian sanksi pidana kepada pelaku tindak pidana yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Pemidanaan ini mempunyai tujuan untuk melindungi masyarakat dari perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana (Th. Kussunaryatun dkk, 2016:

88). Menurut Sir John Salmond, “The ends of criminal justice are four in number, and in respect to the purposes served by the them punishmment can be divided as” (ujung peradilan pidana adalah empat, dan sehubungan dengan tujuan yang dilayani oleh mereka pemidanaan dapat dibagi sebagai berikut) (Diyah Ayu Hardiyani, 2016: 21):

(15)

commit to user a) Deterrent

Salah satu metode primitif pemidanaan percaya pada kenyataan bahwa jika hukuman berat yang dijatuhkan pada pelaku akan menghalangi dia membentuk mengulangi kejahatan itu.

Mereka yang melakukan kejahatan diasumsikan berasal dari kepuasan mental atau perasaan kehikmatan dalam bertindak. Untuk menetralisir kecenderungan ini, hukum menimbulkan penderitaan pada pelaku sehingga tidak lagi menarik baginya untuk melaksanakan kejahatan. Kenikmatan dan rasa sakit adalah dua perasaan fisik atau sensasi alam telah diberikan kepada umat manusia, untuk memungkinkannya melakukan hal-hal tertentu atau untuk membatalkan hal yang salah sebelum dilakukan olehnya.

b) Retributive

Teori ini menggarisbawahi ide balas demdam dan balas dendam bukan kesejahteraan sosial dan keamanan. Hukuman pelaku memberikan beberapa hiburan baik kepada korban atau anggota keluarga dari korban kejahatan, yang telah menderita dari tindakan pelaku dan mencegah pembalasan dari korban kepada pelaku atau keluarganya. J. M. Finnis berpendapat mendukung retributism dengan menyebutkan sebagai keseimbangan keadilan dalam distribusi keuntungan dan kerugian dengan menahan kehendaknya. Retributivists percaya bahwa pertimbangan di bawah perlindungan sosial dapat melayani tujuan minimal hukuman.

Retributism tradisional mengandalkan menghukum nilai intrinsik dari pelanggaran dan dengan demikian menggunakan metode- metode yang sangat keras. Teori ini didasarkan pada prinsip yang sama seperti teori jera, teori Utilitarian.

Kant berpendapat dalam sebuah bagian yang terkenal bahwa Hukuman Yudisial tidak pernah dapat digunakan hanya sebagai sarana untuk mempromosikan beberapa baik lainnya untuk untuk kejahatan dirinya sendiri dan masyarakat sipil, tetapi harus dalam semua kasus dikenakan kepadanya hanya dengan alasan bahwa pelaku telah melakukan kejahatan, karena manusia tidak pernah dapat dimanipulasi hanya sebagai sarana untuk keperluan orang lain.

c) Preventive

Teori ini bertujuan untuk mencegah kejahatan ketimbang membalasnya. Melihat hukuman dari perspektif yang lebih manusiawi ini terletak pada kenyataan bahwa kebutuhan hukuman untuk kejahatan timbul dari kebutuhan sosial belaka yaitu saat mengirim penjahat ke penjara, masyarakat pada gilirannya mencoba untuk mencegah pelaku dari melakukan kejahatan yang lainnya dan dengan demikian melindungi masyarakat dari setiap elemen anti-sosial.

Teori pencegahan dapat dijelaskan dalam konteks penjara sebagai pemisah penjahat dari masyarakat dan dengan demikian

(16)

commit to user

mencegah kejahatan lebih lanjut oleh pelaku itu dan juga dengan menempatkan pembatasan tertentu pada pidana itu yang akan mencegah penjahat dari melakukan pelanggaran di masa depan.

Pendukung teori ini juga dapat mengambil hukuman mati untuk menjadi bagian dari teori ini. Sebuah program rehabilitasi yang serius dan rajin akan berhasil dalam mengubah presentase yang tinggi bagi penjahat dari kehidupan kejahatan. Namun demikian, banyak alasan mengapa program rehabilitasi yang tidak umum berlaku di penjara. Sebagian politisi dan penguasa yang tinggi dalam masyarakat tidak percaya pada rehabilitasi sebagai tujuan yang diinginkan. Ide rehabilitasi dianggap mollycoddling. Apa yang mereka inginkan adalah retribusi, balas dendam, hukuman dan penderitaan. Jadi salah satu yang dengan mudah mengatakan bahwa teori preventif meskipun bertujuan mencegah kejahatan terjadi di masa depan tetapi masih memiliki beberapa aspek yang dipertanyakan oleh penologists karena mengandung teknik yang cukup jelas di alam. Masalah utama dengan jenis teori ini adalah bahwa mereka membuat penjahat lebih keras daripada mengubah untuk menjadi individu yang lebih baik.

d) Reformative

Yang paling baru dan paling manusiawi dari semua teori didasarkan pada prinsip reformatif pelanggar hukum melalui perawatan individu. Tidak ingin penjahat diperlakukan tidak manusiawi, teori ini mengedepankan sifat perubahan masyarakat modern di mana ia saat melihat fakta bahwa semua teori-teori lain telah gagal untuk mengedepankan teori stabil tersebut, yang akan mencegah terjadinya kejahatan lebih lanjut.

Reformasi dalam arti penjeraan tersirat bahwa melalui dihukum pelaku diakui kesalahannya dan berharap untuk berubah.

Kutukan formal dan mengesankan oleh masyarakat yang terlibat dalam hukuman dianggap sarana penting membawa pengakuan itu.

Demikian pula, orang lain mungkin akan dibawa ke kesadaran bahwa kejahatan adalah salah melalui hukuman lain dan karena itu reformasi sebelum mereka melakukan kejahatan. Akan tetapi, meskipun ini memang merupakan salah satu aspek rehabilitasi teori ini biasanya berhubugan dengan pengobatan pelaku.

Teori ini bertujuan merehabilitasi pelaku dengan norma- norma masyarakat yaitu menjadi anggota taat hukum. Teori ini mengutuk semua jenis hukuma fisik. Ini bertujuan mengubah pelaku sedemikian rupa bahwa narapidana dalam lembaga pemasyarakatan dapat menjalani hidup seperti warga biasa. Penjara atau rumah pemasyarakatan seperti yang disebut manusiawi memperlakukan para narapidana dan membebaskan mereka setelah mereka merasa bahwa mereka cocok untuk mencampur dengan anggota masyarakat lainnya. Reformasi umumnya berlaku baik melalui percobaan atau pembebasan bersyarat sebagai langkah

(17)

commit to user

untuk mereformasi penjahat. Ini terlihat pada pengasingan para penjahat dari masyarakat sebagai upaya untuk mereformasi mereka dan untuk mencegah orang dari pengucilan sosial.

Alasan pemidanaan dapat digolongkan dalam tiga golongan pemidanaan pokok, yaitu (Edi Setiadi dan Rena Yulia, 2010: 15-17):

a) Teori pembalasan/teori absolut

Teori pembalasan membenarkan pemidanaan karena seseorang telah melakukan suatu tindak pidana. Terhadap pelaku tindak pidana mutlak harus diadakan pembalasan berupa pidana.

Tidak dipersoalkan akibat dari pemidanaan bagi terpidana. Bahan pertimbangan untuk pemidanaan hanyalah masa lampau, maksudnya masa terjadinya tindak pidana itu, masa yang akan datang yang bermaksud untuk memperbaiki pelaku tidak dipersoalkan. Teori pembalasan terbagi lima, yaitu:

(1) Pembalasan berdasarkan tuntutan mutlak dari ethica (moralphilosophie)

(2) Pembalasan berlanjut (dialektis)

(3) Pembalasan demi keindahan atau kepuasan (aesthetisch) (4) Pembalasan sesuai dengan ajaran Tuhan (agama)

(5) Pembalasan sebagai kehendak manusia b) Teori tujuan/teori relatif

Teori tujuan membenarkan pemidanaan berdasarkan tujuan pemidanaan yaitu untuk perlindungan masyarakat atau pencegahan terjadinya kejahatan. Diancamkannya suatu pidana dan dijatuhkannya suatu pidana, dimaksudkan untuk menakut-nakuti calon penjahat atau penjahat yang bersangkutan, untuk memperbaiki penjahat, untuk menyingkirkan penjahat, menjamin ketertiban hukum atau prevensi umum. Teori tujuan mempersoalkan akibat-akibat dari pemidanaan kepada penjahat atau kepada kepentingan masyarakat dan untuk masa mendatang.

c) Teori gabungan

Teori gabungan mendasarkan pemidanaan kepada perpaduan teori pembalasan dengan teori tujuan. Oleh karena itu tidak saja hanya mempertimbangkan masa lalu (seperti yang terdapat dalam teori pembalasan), tetapi juga harus bersamaan mempertimbangkan masa datang (seperti yang dimaksudkan pada teori tujuan). Dengan demikian penjatuhan suatu pidana harus memberikan rasa kepuasan baik bagi hakim maupun kepada penjahat itu sendiri disamping masyarakat. Jadi harus ada keseimbangan antara pidana yang dijatuhkan dengan kejahatan yang telah dilakukan.

(18)

commit to user

2. Perlindungan Hukum terhadap Kekerasan Seksual pada Anak a. Pengertian Anak

Anak merupakan potensi sumber daya insan bagi pembangunan Nasional karena itu perlu pembinaan dan pengembangannya dimulai sedini mungkin agar dapat berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara. Bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.

Pengertian anak dari aspek hukum yaitu anak dipandang sebagai subyek hukum. Ada pun menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, ketentuan batas kedewasaan merupakan tolak ukur pengertian anak, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Anak menurut ketentuan umum Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak disebutkan bahwa anak adalah “seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin.”

2) Anak menurut ketentuan umum Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia disebutkan bahwa anak adalah “setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.”

3) Anak menurut ketentuan umum Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah

“seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

4) Anak menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, terdapat tiga pengertian, yaitu:

anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Anak yang berkonflik dengan hukum selanjutnya disebut anak adalah “anak yang telah berumur

(19)

commit to user

12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.” Anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut anak korban adalah

“anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.” Anak yang menjadi saksi tindak pidana yang selanjutnya disebut anak saksi adalah “anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.”

Berdasarkan perbedaan pengertian anak di atas, ternyata hukum positif Indonesia terdapat pluralisme dalam menentukan kriteria batasan umur terhadap seorang anak. Dalam hal ini, penulis mengambil pengertian anak sesuai dengan pengertian anak menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

b. Hak-Hak Anak

Anak tetaplah anak, dengan segala ketidak mandirian yang ada.

Mereka sangatlah membutuhkan perlindungan dengan kasih sayang dari orang dewasa disekitarnya. Anak mempunyai berbagai hak yang harus diimplementasikan dalam kehidupan mereka. Berdasarkan Pasal 1 angka 12 UU Perlindungan Anak pengertian hak anak adalah “bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, dan pemerintah daerah agar anak terlindungi dari kekerasan dan penyalahgunaan. Hak anak bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka secara penuh.”

Perlindungan hukum terhadap hak-hak anak dalam hukum positif Indonesia, dapat ditemui pada berbagai peraturan perundang-undangan, seperti yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 pada tanggal 25 Agustus 1990, yang merupakan ratifikasi dari konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-Hak Anak (Convention

(20)

commit to user

on the Rights of the Child), Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, dan UU Perlindungan Anak.

Pasal 2 UU Perlindungan Anak menyatakan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak, yaitu:

1) non diskriminasi;

2) kepentingan yang terbaik bagi anak;

3) hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan 4) penghargaan terhadap anak.

Pasal 13 Ayat (1) UU Perlindungan Anak menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

1) diskriminasi;

2) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

3) penelantaran;

4) kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

5) ketidakadilan; dan 6) perlakuan salah lainnya.

c. Perlindungan Anak

Pasal 1 angka 2 UU Perlindungan Anak menyatakan pengertian

“perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” Menurut Pasal 59 UU Perlindungan Anak, bentuk perlindungan hukum pada anak adalah sebagai berikut:

Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan brtanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang

(21)

commit to user

diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

Menurut Pasal 64 Ayat (1) UU Perlindungan Anak, “Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 meliputi anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.” Pasal 64 Ayat (2) UU Perlindungan Anak menyatakan “perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilaksanakan melalui:”

1) perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak;

2) penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;

3) penyediaan sarana dan prasarana khusus;

4) penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak;

5) pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadaan dengan hukum;

6) pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga; dan

7) perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi.

Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum dimaksudkan untuk melindungi dan mengayomi anak yang sedang berhadapan dengan hukum agar dapat menyonsong masa depannya yang masih panjang, serta memberi kesempatan kepada anak agar melalui pembinaan akan diperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang lebih baik, mandiri, bertanggung jawab, dan berguna bagi bangsa dan negara.

Menurut Pasal 64 Ayat (3) UU Perlindungan Anak, “Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilaksanakan melalui:”

(22)

commit to user

1) upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga;

2) upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi;

3) pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental, maupun sosial; dan

4) pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara.

Bentuk perlindungan terhadap korban kejahatan dapat diberikan dalam berbagai cara, tergantung pada penderitaan/kerugian yang diderita oleh korban. Perlindungan tersebut diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, atas dasar inisiatif dari aparat penegak hukum, dan/atau permohonan yang disampaikan oleh korban.

d. Pengertian Kekerasan Seksual pada Anak

Kekerasan seksual terhadap anak adalah semua bentuk perlakuan yang merendahkan martabat anak dan menimbulkan trauma yang berkepanjangan. Bentuk perlakuan tersebut adalah digerayangi, diperkosa, dicabuli, dan digauli. Adapun kekerasan yang ditonjolkan merupakan pembuktian bahwa pelaku memiliki kekuatan fisik lebih.

Kekuatan lain selain kekuatan fisik dijadikan alat untuk memperlancar usaha-usaha jahatnya. (Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, 2001: 32).

Kekerasan seksual pada anak adalah “apabila seseorang menggunakan anak untuk mendapatkan kenikmatan atau kepuasan seksual.” Tidak terbatas pada hubungan seks saja, tindakan-tindakan berikut juga

termasuk kekerasan seksual pada anak

(http://www.parenting.co.id/article/mode/kenali.Kekerasan.seksual.pada.

anak/001/003/687, diakses tanggal 24 Agustus 2016):

1) Menyentuh tubuh anak secara seksual, baik si anak memakai pakaian atau tidak.

2) Segala bentuk penetrasi seks, termasuk penetrasi ke mulut anak menggunakan benda atau anggota tubuh.

3) Membuat/memaksa anak terlibat dalam aktivitas seksual.

4) Secara sengaja melakukan aktivitas seksual dihadapan anak, atau tidak melindungi dan mencegah anak menyaksikan aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.

(23)

commit to user

5) Membuat, mendistribusikan dan menamilkan gambar atau film yang mengandung adegan anak-anak dalam pose atau tindakan tidak senonoh.

6) Memperlihatkan kepada anak gambar, foto atau film yang menampilkan aktivitas seksual.

Menurut Lyness dalam Sri Maslihah (2006: 25), kekerasan seksual pada anak meliputi “tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan sekual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya.”

e. Kategori Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi dua dalam kategori berdasar identitas pelaku, yaitu (Sri Maslihah, 2006: 25-33):

1) Familial Abuse

Termasuk dalam familial abuse adalah incest, yaitu “kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi bagian dalam keluarga inti.” Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak. Menurut Mayer dalam Ivo Noviana (2015: 6):

menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan mengaitkan dengan kekerasan pada anak, yaitu kategori pertama, penganiayaan (sexual molestation), hal ini meliputi interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism, semua hal yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual. Kategori kedua, perkosaan (sexual assault), berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin, masturbasi, stimulasi oral pada penis (fellatio), dan stimulasi oral pada klitoris (cunnilingus). Kategori terakhir yang paling fatal disebut perkosaan secara paksa (forcible rape), meliputi kontak seksual.

Rasa takut, kekerasan, dan ancaman menjadi sulit bagi korban.

(24)

commit to user 2) Extra Familial Abuse

Kekerasan seksual adalah “kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban.” Pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal sang anak, kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan, sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak di rumahnya.

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan:

Skema kerangaka pemikiran di atas memberikan gambaran mengenai alur berpikir dalam menggambarkan, menelaah, menjabarkan, dan menemukan jawaban atas permasalahan hukum mengenai kekerasan seksual pada anak.

Stelsel sanksi yang berlaku di Indonesia ada dua yakni sanksi pidana dan sanksi tindakan. Dimana untuk melindungi anak dari pelaku kekerasan seksual

Kekerasan Seksual Pada Anak

Stelsel Sanksi

Sanksi Pidana Sanksi Tindakan

UU Nomor 23 Tahun 2002 jo. UU Nomor 35 Tahun 2014

Undang-Undang Perlindungan Anak

Kebiri kimia Pemasangan alat pendeteksi elektronik

Kesesuaian dengan tujuan pemidanaan di Indonesia

(25)

commit to user

pada anak dibutuhkan sanksi yang tidak hanya menjerakan pelaku tetapi juga memberikan upaya pencegahan. UU Nomor 23 Tahun 2002 jo. UU Nomor 35 Tahun 2014 hanya memuat sanksi pidana saja. Oleh karena itu, disahkan Undang-Undang Perlindungan Anak yang menerapkan sanksi pidana dan sanksi tindakan. Kemudian, penulis akan mengkaji lebih lanjut mengenai kesesuaian antara tindakan kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dengan tujuan pemidanaan di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, kelimpahan rahmat dan karunia Nya sehingga dapat menyelesaukan tesis tentang “ Pengaruh Kompensasi dan

Setiap penilaian kelas kesesuaian lahan dapat secara langsung dikaitkan dengan potensi produksi kelapa sawit yang ingin dicapai (Lubis, 2008).. 10 2.4

Dengan demikian dimensi kemanusiaan dalam bidang konsumsi adalah bahwa manusia kaya karena kekayaan yang dimilikinya tidak mempunyai hak lebih atas manusia yang lain, sebaliknya

Melalui identi- fikasi awal hambatan melaluipembelajaran bersama dengan guru PAUD Gugus 11 Arjowinangun untuk menemukenali faktor kegagalan pemahaman pada K13 PAUD dari

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Pelingkupan No Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Lingkungan Pengelolaan Lingkungan yang Sudah Direncanakan Komponen Rona Lingkungan Terkena

Setelah dilakukan testing terhadap penggunaan aplikasi toko online berbasis mobile android, dapat kesimpulan bahwa sistem yang dibuat telah sesuai dengan tujuan dari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kecemasan sebelum dan sesudah diberi perlakuan dzikir Asmaul Husna pada anak Panti Asuhan Darussalam Demak yang