• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nour Wasilah Shopa Riska, Riza Adrianoor Saputra, dan Antar Sofyan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nour Wasilah Shopa Riska, Riza Adrianoor Saputra, dan Antar Sofyan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Adaptasi Pertumbuhan Setek Bunga Krisan (Chrysanthemum sp.) Menggunakan Naungan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan [Growth Adaptation of Chrysanthemum Cuttings (Chrysanthemum sp.)

Using Shade in Banjarbaru, South Kalimantan]

Nour Wasilah Shopa Riska, Riza Adrianoor Saputra, dan Antar Sofyan

Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Jln. Jend. A. Yani Km. 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia 70714

E-mail: [email protected]

Diterima: 8 Maret 2021; direvisi: 28 April 2021; disetujui: 25 Mei 2021

ABSTRAK. Banjarbaru merupakan salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang memiliki prospek yang baik sebagai daerah pengembangan komoditas krisan. Pertumbuhan tanaman krisan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya media tanam, ketersediaan air dan hara, iklim mikro, suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya matahari tertentu sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan cahaya yang optimal maka perlakuan naungan diperlukan selama fase pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh persentase kerapatan pada naungan terhadap pertumbuhan setek krisan varietas Puspita Nusantara. Penelitian dilaksanakan pada Bulan November sampai Desember 2020, bertempat di Kebun Percobaan Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan kerapatan paranet, yaitu n1 (paranet dengan kerapatan 75%), n2 (paranet dengan kerapatan 100%), n3 (paranet dengan kerapatan 125%), dan n4 (paranet dengan kerapatan 150%), yang terdiri atas lima kelompok sehingga terdapat 20 satuan percobaan, dan setiap satuan percobaan terdapat lima unit tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase naungan berpengaruh terhadap parameter jumlah daun, persentase setek hidup, dan tinggi tanaman yang tumbuh, tetapi tidak berpengaruh nyata pada saat awal muncul tunas. Perlakuan n2 berpengaruh paling baik terhadap persentase setek hidup (64%), jumlah daun (4,1 helai) serta tinggi tunas (4,26 cm).

Kata kunci: Krisan; Setek; Paranet; Iklim mikro

ABSTRACT. Banjarbaru as one of the areas in South Kalimantan has good prospects as a chrysanthemum development area. The growth of chrysanthemums is strongly influenced by several factors, such as planting media, availability of water and nutrients, microclimate, temperature, humidity, and a certain intensity of sunlight, so to meet the need for optimal light, shade treatment is required during the growth phase. This study aims to determine the effect of the percentage density in the shade on the growth of chrysanthemum cuttings of the Puspita Nusantara variety. The research was carried out from November to December 2020, at the Experimental Garden of the Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru. The method used in this research is a Randomized Block Design (RBD) with the treatment of n1 (shading net with a density of 75%), n2 (shading net with a density of 100%), n3 (shading net with a density of 125%), and n4 (shading net with a density of 150%), which consisted of five groups so that there were 20 experimental units, and each experimental unit contained five plant units. The results showed that the percentage of shade affected the parameters of the number of leaves, the percentage of live cuttings, and plant height that grew, but had no significant effect on the initial emergence of shoots. The n2 treatment had the best effect on the percentage of live cuttings (64%), the number of leaves (4.1 strands), and shoots height (4.26 cm).

Keywords: Chrysanthemum; Cuttings; Shade; Microclimate

Krisan (Chysanthemum sp.) merupakan tanaman bunga yang saat ini memiliki potensi pasar yang bagus pada industri tanaman hortikultura dan banyak digemari oleh masyarakat baik skala domestik maupun mancanegara. Berdasarkan fungsinya, tanaman krisan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu krisan bunga potong dan bunga pot. Tanaman krisan jenis potong banyak dipakai sebagai hiasan maupun menjadi bunga rangkai pada acara formal maupun nonformal seperti pembukaan suatu gedung perkantoran baru, pesta pernikahan, maupun pada acara wisuda, dan lain sebagainya. Lain halnya pada tanaman krisan jenis pot yang dapat digunakan menjadi dekorasi di area perhotelan, perkantoran, ruang tamu, maupun bagian halaman rumah (Ridwan, Hilman & Sayekti 2012).

Produksi bunga krisan pada tahun 2017 di Indonesia mencapai 480,68 juta tangkai dengan luas panen sebesar 1.163,55 ha, meningkat sebanyak 6,61%

dibandingkan tahun 2016 dengan jumlah dan luas panen masing-masing sebesar 433,100 juta tangkai dan 1.091,42 ha (Badan Pusat Statistik 2018). Peningkatan ini terjadi karena banyaknya permintaan bunga krisan pada setiap tahunnya, baik pada skala nasional maupun internasional sehingga lahan yang digunakan untuk budidayanya semakin luas diiringi dengan penggunaan teknologi budidaya yang semakin baik.

Tanaman krisan merupakan salah satu short plant day atau tanaman berhari pendek, yaitu pembungaannya dipengaruhi oleh panjang hari yang lebih pendek daripada panjang hari maksimum. Tanaman ini

(2)

daerah tropis hanya memiliki rata-rata panjang hari 12 jam/hari maka pada malam hari diperlukan penambahan cahaya minimal 2-4 jam. Kondisi tersebut diperlukan untuk mempertahankan fase vegetatif hingga pada masa generatif serta mendorong pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Widiastuti, Tohari & Sulistyaningsih 2004).

Tanaman krisan dibudidayakan dengan pengairan yang cukup, namun tidak langsung terkena air hujan.

Suhu optimal untuk pertumbuhannya berkisar antara 17 sampai 30oC. Di Indonesia yang merupakan daerah tropis, suhu yang masih dapat diterima bunga krisan ialah 20-26oC pada siang hari dengan kelembaban udara mencapai 70-80%. Wilayah yang berkesesuaian untuk budidaya tanaman bunga krisan umumnya memiliki ketinggian 700-1.200 m dari permukaan laut (Lukito 2008).

Saat ini belum banyak penelitian terkait pengaruh naungan pada tanaman bunga krisan di Provinsi Kalimantan Selatan terutama di daerah Banjarbaru.

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi bunga krisan yang baik maka faktor-faktor yang memengaruhinya perlu diperhatikan. Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Banjarbaru (2019), rata- rata suhu di Banjarbaru adalah 27-34,7oC dengan curah hujan yang setiap tahunnya cukup tinggi serta kelembaban udara mencapai 82-94%. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman krisan karena suhu optimal yang dibutuhkan hanya berkisar antara 20-26oC. Untuk mendapatkan suhu yang dibutuhkan maka diperlukan modifikasi lingkungan.

Perlakuan modifikasi suhu lingkungan atau disebut juga modifikasi iklim mikro bertujuan agar tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik.

Komponen iklim mikro, yaitu suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya pada area tanaman berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil produksi (Noohadi &

Sudadi 2003). Untuk mendapatkan suhu lingkungan yang optimal, salah satunya dapat dilakukan dengan pemberian naungan pada fase pertumbuhannya. Pada tanaman krisan, perlakuan ini dapat meningkatkan hasil produksi bunganya.

Bahan yang banyak digunakan untuk naungan tanaman saat ini adalah paranet. Dengan bahan ini, tanaman bisa terlindungi dari sinar matahari yang berlebih sehingga pertumbuhan tanaman menjadi optimal terutama pada jenis tanaman C3 seperti tanaman krisan (Sukadi 2018). Pada tanaman lili Hujan Merah Muda (Zephyranthes rosea), aplikasi beberapa jenis naungan berpengaruh terhadap jumlah

Aplikasi naungan akan berpengaruh pada intensitas cahaya yang diterima tanaman. Pada tanaman anggrek, intensitas 55% menghasilkan pertumbuhan terbaik pada lebar daun, pembentukan tunas, dan produksi bunga, sedangkan panjang bunga tertinggi terdapat pada tanaman dengan intensitas 75% (Widiastoety & Bahar 1995). Widiastuti, Tohari & Sulistyaningsih (2004) menyatakan bahwa krisan merupakan tanaman yang berasal dari daerah subtropis dengan kebutuhan akan cahaya matahari berkisar 60-70% sehingga semua varietas krisan memerlukan naungan saat dibudidayakan di daerah tropis. Intensitas 75% merupakan kondisi mendekati optimum untuk pertumbuhan dan produksi tanaman krisan (Widiastuti, Tohari & Sulistyaningsih 2004).

Perbanyakan tanaman krisan dapat dilakukan dengan cara setek, yaitu pemisahan beberapa bagian tanaman seperti tunas, akar, daun, dan batang yang dapat menghasilkan akar dan tanamannya dapat berkembang dengan efektif. Sesuai dengan asalnya maka bahan tanam tersebut dinamakan setek batang, setek pucuk, dan sebagainya. Setek menjadi alternatif teknologi perbanyakan benih tanaman karena cara pelaksanaannya sederhana, tekniknya tidak rumit, hasil pertumbuhan cepat, serta tanaman yang tumbuh akan mewarisi karakter induk atau tetuanya (Subiakto 2009).

Berkaitan dengan hal tersebut, teknologi dalam modifikasi intensitas cahaya dengan pemberian naungan pada tanaman krisan asal setek ini diharapkan dapat memengaruhi pertumbuhannya. Dari hasil penelitian ini, diharapkan produksi tanaman krisan dengan menggunakan teknologi setek dalam rumah naungan dapat berkembang di Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh persentase naungan terhadap pertumbuhan setek tanaman bunga krisan varietas Puspita Nusantara, sedangkan hipotesis penelitian adalah perlakuan persentase naungan berpengaruh terhadap pertumbuhan setek tanaman bunga krisan.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan November sampai Desember 2020. Bertempat di Kebun Percobaan Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.

(3)

Bahan dan Alat

Penelitian ini menggunakan bahan berupa tanaman bunga krisan potong varietas Puspita Nusantara, tanah, sekam padi, Rootone-F, alkohol 70%, dan air, sedangkan alat yang digunakan, di antaranya polybag, sprayer, paranet, penggaris, higrometer, termometer, dan kamera.

Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan kerapatan naungan, yaitu: n1 = paranet dengan kerapatan 75%, n2 = paranet dengan kerapatan 100%, n3 = paranet dengan kerapatan 125%, dan n4 = paranet dengan kerapatan 150%, yang terdiri atas lima kelompok sehingga terdapat 20 satuan percobaan dan setiap satuan percobaan terdapat lima unit tanaman sehingga jumlah polybag sebanyak 100 unit.

Pelaksanaan

Sebelum dilaksanakan penelitian, dilakukan persiapan lahan yang meliputi pengukuran lahan, menentukan letak satuan percobaan, dan pembersihan lahan untuk pembuatan naungan. Pembuatan naungan dengan cara memasang atap paranet dengan menggunakan penyangga kayu yang dipaku agar kokoh dan tidak mudah roboh. Jenis kerapatan naungan yang digunakan, yaitu 75%, 100%, 125%, dan 150%. Untuk mendapatkan kerapatan 100, 125, dan 150%, digunakan paranet dengan kerapatan 25%

yang dibuat berlapis. Desain naungan pada penelitian ini ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Desain naungan paranet di lapangan. (1) paranet dan (2) satuan percobaan [Shading net design in the field). (1) paranet and (2) trial unit)]

Media tanam setek bunga krisan yang digunakan, yaitu tanah mineral yang dicampur dengan sekam padi, kapur dolomit, serta pupuk kandang sapi, perbandingan yang digunakan ialah 1:1:1 untuk polybag berukuran 10 cm x 20 cm (Hariyadi 2015).

Setelah itu, media tanam dimasukkan ke dalam polybag lalu dilakukan inkubasi selama 1 minggu.

Persiapan bahan setek, yaitu dengan memilih tanaman krisan yang produktif menghasilkan bunga juga sehat. Indukan tanaman krisan diperoleh dari BPTP Balitbangtan, Jawa Barat. Selanjutnya memilih pucuk tanaman krisan yang baik. Ciri-ciri pucuk tanaman krisan yang baik dan dapat dijadikan benih ialah mempunyai empat helai daun dewasa, berwarna hijau cerah, dan mempunyai diameter batang ± 4 mm (Kurniawati 2019). Langkah selanjutnya adalah pemotongan calon benih krisan dengan menggunakan cutter yang sebelumnya telah disterilkan dengan alkohol. Ukuran panjang pucuk yang dipotong ± 7 cm, kemudian memetik daun pada seluruh bagian pucuk yang bertujuan untuk mengurangi penguapan berlebih. Setelah itu, merendam pangkal setek tanaman krisan ke dalam larutan Rootone-F selama 5 menit.

Penanaman setek krisan 1/3 dari panjang ukuran pucuk di polybag selama 3 minggu setelah tanam (MST) (Kurniawati 2019). Jarak antar-polybag dalam perlakuan 50 cm x 100 cm, sedangkan jarak antarulangan 50 cm x 50 cm. Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman tanaman pada pagi serta sore hari menggunakan sprayer.

(4)

ini meliputi:

1. Suhu. Pengukuran suhu dilaksanakan pada pukul 09.00 WITA dan pada pukul 17.00 WITA menggunakan termometer yang diletakkan di tiang penyangga paranet sejak masa tanam hingga 21 hari setelah tanam (HST). Satuan yang digunakan dalam pengukuran suhu adalah derajat celcius (oC).

2. Kelembaban. Pengukuran kelembaban dilaksanakan pada pukul 09.00 WITA dan pada pukul 17.00 WITA menggunakan higrometer yang diletakkan di tiang penyangga paranet sejak masa tanam hingga 21 HST. Satuan yang digunakan dalam pengukuran kelembaban adalah persen (%).

3. Persentase setek hidup (SH). Kriteria setek krisan yang dapat hidup dan siap dipindahkan ke lapangan dapat dilihat setelah 2-3 minggu setelah dilakukannya penyetekan (21 HST), yaitu tunas akselir akarnya sudah tumbuh serta mempunyai 5-7 helai daun, tidak terserang hama dan penyakit (Kurniawati 2019). Persentase setek hidup dihasilkan dengan menghitung banyaknya tanaman yang hidup pada akhir pengamatan (21 HST) dibagi jumlah tanaman setek pada masing-masing kelompok, kemudian dipersentasekan. Total sampel yang diamati pada masing-masing perlakuan adalah sebanyak 25 sampel. Berikut rumus yang digunakan (Auri

& Dimara 2016):

Analisis Data

Data yang didapat dilakukan uji kehomogenan atau uji Bartlett. Data yang sudah homogen kemudian diteruskan pada uji ANOVA. Apabila perlakuan naungan memberikan pengaruh terhadap variabel yang diamati maka diteruskan pada uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Duncan 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Suhu dan Kelembaban Harian di dalam Rumah Naungan

Berdasarkan hasil pengamatan, dinamika suhu yang terjadi di Kota Banjarbaru selama masa penelitian cukup beragam di mana suhu terendah adalah 25oC, yaitu saat turun hujan selama 11 hari, sedangkan tertinggi mencapai 34oC. Suhu udara harian di pertanaman setek krisan tertinggi pada hari ke-8 dengan rerata 31,1oC, dan terendah pada hari ke-18 dengan rerata 27,4oC (Gambar 2).

Dinamika kelembaban yang terjadi di Kota Banjarbaru selama masa penelitian cukup beragam di mana kelembaban menjadi cukup tinggi hingga mencapai 95% saat turun hujan dan 70% selama 10 hari lainnya. Rata-rata kelembaban udara harian pada rumah naungan tertinggi pada hari ke-18 dengan rerata 90,3% dan terendah pada hari ke-5 dengan rerata 76,8% (Gambar 3).

Suhu maupun kelembaban pada saat masa penelitian mengalami dinamika yang signifikan disebabkan tingginya intensitas hujan yang turun sehingga menyebabkan suhu di sekitar tanaman turun hingga 27,4oC serta kelembaban di sekitar tanaman juga menjadi cukup tinggi hingga mencapai 90%.

Suhu dan kelembaban juga mengalami kenaikan menjadi 34oC dan 76,8% dipengaruhi oleh tingginya intensitas cahaya matahari. Menurut Andriani &

Karmila ( 2019), proses pertumbuhan suatu tanaman akan optimal pada suhu maupun kelembaban yang optimum bagi tanaman, adanya kenaikan maupun penurunan suhu dan kelembaban akan berpengaruh terhadap pertumbuhan serta perkembangan tanaman.

Tanaman krisan mampu tumbuh pada suhu dan kelembaban minimum 17oC dan 70%, sedangkan maksimum 30oC dan 80%. Jika suhu dan kelembaban berada di luar dari kisaran tersebut maka akan mengakibatkan terganggunya proses pertumbuhan tanaman krisan sehingga tanaman menjadi layu dan mati (Lukito 2008).

4. Waktu muncul tunas. Waktu muncul tunas dihitung dari waktu awal munculnya tunas terhadap sampel setek yang ditanam, yaitu, sebanyak 25 sampel pada setiap kelompok. Satuan yang digunakan dalam perhitungan waktu muncul tunas, yaitu HST.

5. Jumlah daun. Menghitung jumlah daun pada tanaman krisan dimulai pada munculnya daun bendera. Perhitungan jumlah daun dilakukan pada akhir pengamatan, yaitu 21 HST sebanyak 25 sampel tanaman pada setiap kelompok. Satuan yang digunakan dalam pengukuran jumlah daun adalah helai.

6. Tinggi tunas. Pengukuran tinggi tunas dengan menggunakan penggaris, dilakukan pada akhir pengamatan, yaitu 21 HST sebanyak 25 sampel tanaman pada setiap kelompok. Satuan yang

(5)

Gambar 2. Rata-rata suhu udara harian di dalam rumah naungan (Average daily air temperature in the shade house)

n1 = paranet dengan kerapatan 75%, n2 = paranet dengan kerapatan 100%, n3 = paranet dengan kerapatan 125%, n4 = paranet dengan kerapatan 150% naungan (n1= paranet with a density of 75%, n2 = paranet with a density of 100%, n3 = paranet with a density of 125%, n4 = paranet with a density of 150%)

Suhu (Temperature), oC

Pengamatan hari ke- (Days observation)

Gambar 3. Rata-rata kelembaban udara harian di dalam rumah naungan (Average daily humidity in the shade house)

n1 = paranet dengan kerapatan 75%, n2 = paranet dengan kerapatan 100%, n3 = paranet dengan kerapatan 125%, n4 = paranet dengan kerapatan 150%. (n1= paranet with a density of 75%, n2 = paranet with a density of 100%, n3 = paranet with a density of 125%, n4 = paranet with a density of 150%)

Kelembaban (Humidity), %

Pengamatan hari ke- (Days observation)

Intensitas cahaya matahari sangat berpengaruh terutama dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintetis, respirasi, pertumbuhan serta pembungaan, pembukaan dan penutupan stomata, perkecambahan, penyerapan hara, serta proses pertumbuhan tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu rendah

akan menghasilkan produk fotosintesis yang tidak maksimal, sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat berpengaruh terhadap aktivitas sel-sel stomata dalam mengurangi transpirasi sehingga mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan tanaman (Susilawati, Wardah & Irmasari 2016).

(6)

Gambar 4. (a) Persentase setek hidup, (b) waktu muncul tunas, (c) jumlah daun, dan (d) tinggi tunas pada setek dengan empat perlakuan kerapatan paranet. Keterangan: n

1

= paranet dengan kerapatan 75%, n

2

= paranet dengan kerapatan 100%, n

3

= paranet dengan kerapatan 125%, n

4

= paranet dengan kerapatan 150%. Garis di atas diagram batang adalah standard error dari perlakuan (n=5). Huruf yang sama di atas garis menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda berdasarkan uji DMRT pada level α 5% [(a) Percentage of live cuttings, (b) shoots emergence time, (c) number of leaves, and (d) shoot height on cuttings with four treatments of paranet density. Note:

n

1

= paranet with a density of 75%, n

2

= paranet with a density of 100%, n

3

= paranet with a density of 125%, n

4

= paranet with a density of 150%. The line above the bar chart is the standard error of the treatment (n=5). The same letter above the line indicates that the treatment has no different effect based on the DMRT test at the level of 5%)]

Tanaman krisan memerlukan naungan pada berbagai stadia pertumbuhannya (Kurniawati 2019). Pada benih perlakuan naungan merupakan salah satu upaya untuk memanipulasi lingkungan di sekitar tanaman sehingga persentase cahaya yang dibutuhkan tersedia secara optimal (Heryati &

Agustarini 2018).

Persentase setek hidup (Percentage of live cuttings Waktu muncul tunas (Shoot emergence time

Jumlah daun (Leaf number) Tinggi tunas (Shoot height)

Persentase Setek Hidup

Perlakuan kerapatan paranet berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap persentase setek hidup. Gambar 4a menunjukkan bahwa persentase setek hidup tertinggi, yaitu 64% didapat pada perlakuan n2, nilai ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan n1 (56%), perlakuan n4 (8%), dan perlakuan n3 (4%).

(7)

Persentase setek hidup tertinggi terdapat pada perlakuan n2 (64%), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan n1 (56%). Menurut Naharuddin (2017), pada benih tanaman beringin yang diberikan naungan 75% menghasilkan persentase hidup lebih baik daripada benih tanaman beringin yang tidak diberikan naungan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan benih tanaman sangat berpengaruh terhadap intensitas cahaya. Keberhasilan setek untuk hidup dipengaruhi oleh naungan yang sesuai, pengairan yang cukup, media tanamnya, dan jenis pemotongan setek (Benbya et al. 2018). Selain itu, konsentrasi dan dosis nutrisi yang diberikan pada tanaman seperti nitrogen, kalium, fosfor melalui pupuk organik cair urin sapi (Pratiwi 2019), zat pengatur tumbuh Indole Butyric Acid (IBA) (Suarmi, Made & Komang 2020), dan giberelin (Rifalasna, Sumarsono & Keistanto 2019) juga berperan dalam pertumbuhan setek tersebut.

Persentase setek hidup terendah terdapat pada perlakuan n3 (4%) dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan n4 (8%). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian naungan memengaruhi fase vegetatif tanaman bunga krisan. Hasil ini sesuai dengan pendapat Mansur (2009), bahwa naungan dengan kerapatan yang tinggi berdampak kurang baik pada semua parameter pertumbuhan vegetatif tanaman.

Menurut Apriani & Suhartanto (2015), lingkungan turut memengaruhi persentase setek untuk hidup.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pada saat hujan pangkal setek banyak mengalami kebusukan dan kematian dengan gejala berwarna cokelat dan dilanjutkan batang menjadi hampa. Hal ini disebabkan kurangnya intensitas cahaya matahari yang berperan dalam proses fotosintesis tanaman (Wiraatmaja 2017). Selain cahaya, faktor media tanam, suhu, kelembaban, dan curah hujan juga berperan penting dalam pertumbuhannya (Danu, Putri

& Sudrajat 2017).

Waktu Muncul Tunas

Saat tumbuh tunas tidak dipengaruhi secara nyata oleh kerapatan paranet. Pertumbuhan tunas pada setek tercepat 10,65 HST dan terlama 14,56 HST masing-masing pada perlakuan n1 dan n4, sedangkan perlakuan n2 dan n3 tunas tumbuh rata-rata pada hari ke 11,25 HST dan 12,03 HST (Gambar 4b).

Keberhasilan setek pucuk ditandai dengan tunas yang muncul, yaitu berupa daun, batang, maupun akar. Hasil penelitian menghasilkan bahwa semua perlakuan intensitas kerapatan naungan tidak berpengaruh secara nyata pada parameter saat awal muncul tunas. Tunas tumbuh tercepat dan terlama

masing-masing pada perlakuan n1 (10 HST) dan n4 (14 HST). Hal ini diduga disebabkan bahan setek yang digunakan umurnya seragam. Pada kondisi tersebut, cadangan makanan serta kandungan hormon seperti auksin yang ada pada bahan setek tersebut diduga cukup untuk kebutuhan pada awal pertumbuhannya.

Pertumbuhan tunas setek didukung pula oleh kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban di dalam naungan maupun di luar naungan, media tanam, serta cahaya dalam keadaan optimal (Hidayanto, Nurjanah

& Yossita 2003). Hal ini juga diperkuat oleh Sudomo et al. (2007) bahwa kandungan hormon auksin serta sitokinin yang ada pada bahan setek berpengaruh terhadap proses pembentukan akar, tunas, serta pertumbuhan tanaman.

Selain ditentukan oleh bahan setek yang baik, tingkat naungan pada lokasi pertumbuhan setek juga sangat penting, karena berpengaruh terhadap pada kecepatan tumbuh tunas berupa akar maupun daun (Apriani & Suhartanto 2015). Menurut Nurhayati (2000), proses fisiologi pada pertumbuhan dan perkembangan tunas menjadi seimbang, yaitu pada saat penyerapan air serta hara optimum. Proses tersebut terjadi di saat pemberian naungan dilakukan, yang ditandai dengan munculnya tunas yang tumbuh.

Menurut Totaan (2019), faktor umur pada tanaman yang digunakan sebagai sumber setek, jenis varietas serta kondisi lingkungan berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tunas baru.

Tinggi Tunas dan Jumlah Daun

Pada tinggi tunas yang tumbuh, nilainya dipengaruhi secara nyata (p<0,05) oleh persentase cahaya yang masuk. Pada persentase paranet 75 dan 100% (n1 dan n2), rata-rata tinggi tunas adalah 3,94 cm dan 4,26 cm, sedangkan pada perlakuan n3 dan n4, tinggi tanamannya lebih rendah secara nyata dibandingkan n1 dan n2, masing-masing 0,32 cm dan 0,48 cm. Pola pertumbuhan ini seiring dengan jumlah daun yang tumbuh pada tunas tersebut.

Jumlah daun yang tumbuh pada n1 dan n2 rata-rata adalah 3,44 dan 4,12 helai lebih tinggi secara nyata dibandingkan pada tunas setek yang tumbuh dengan kerapatan paranet yang lebih tinggi. Pada perlakuan n3 dan n4, jumlah daun masing-masing adalah 0,20 dan 0,28 helai (Gambar 4c).

Salah satu bagian tanaman, yaitu daun berperan dalam menerima sinar matahari serta melakukan proses fotosintesis. Fotosintat yang dihasilkan digunakan untuk mengembangkan jaringan serta memberikan energi ke tanaman. Dengan semakin tingginya fotosintat yang dihasilkan maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan

(8)

Mukarlina 2013).

Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan n2 dengan persentase naungan 100% dengan rerata 4,12 helai daun, berbanding terbalik dengan n3 dengan persentase naungan 125% dengan rerata 0,20 helai daun. Pada dasarnya antara jumlah daun juga tinggi tanaman saling berhubungan satu sama lain. Dibuktikan oleh keeratan hubungan yang sangat kuat (r=0,906), yang menghasilkan korelasi positif antara tinggi tunas dengan jumlah daun tanaman krisan pada penelitian ini. Kemampuan suatu tanaman memproduksi daun sangat berpengaruh oleh faktor gen serta lingkungan.

Semakin banyak jumlah daun yang diproduksi maka umur tanaman akan semakin bertambah (Fahrudin 2009).

Hasil penelitian Wu, Gong & Yang (2017) pada tanaman kacang kedelai, menghasilkan bahwa perlakuan naungan dengan persentase yang lebih tinggi berpengaruh secara signifikan pada parameter jumlah daun. Semakin tinggi taraf naungan maka jumlah daun yang dihasilkan semakin rendah dikarenakan cahaya matahari yang masuk sangat kurang, demikian juga dengan jumlah sel di daun yang terus menurun. Ditambahkan oleh Baiq (2010), jumlah daun pada tanaman kacang kedelai yang ternaungi oleh paranet berpengaruh negatif secara siginifikan dibanding tanaman yang tidak ternaungi (cahaya penuh).

Parameter tinggi tunas bunga krisan dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan naungan. Persentase naungan terbaik dengan tinggi tunas terbaik terdapat pada perlakuan persentase naungan 100% (n2), yaitu dengan rerata tinggi tunas 4,26 cm (Gambar 4d).

Menurut hasil penelitian Asriyanti, Wardah & Irmasari (2015), taraf naungan yang tinggi dapat menyebabkan terhambatnya proses pertumbuhan tanaman eboni dan tanaman menjadi tidak seimbang. Namun, pada tanaman herba Alopecurus pratensis yang ditanam di dataran rendah, penggunaan naungan menghasilkan respon yang beragam terhadap pertumbuhannya. Pada kerapatan naungan 50%, 75%, dan 100%, tanaman tersebut tumbuh dengan lebih baik pada kondisi kerapatan 75% (Semchenko et al. 2012)

Persentase naungan yang tinggi menghasilkan tinggi tunas yang kurang baik. Hal ini diduga disebabkan kebutuhan akan cahaya matahari sangat kurang tercukupi. Kurang optimalnya pertumbuhan tinggi tunas, selain disebabkan oleh tingginya persentase naungan juga karena volume curah hujan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat

matahari akan berpengaruh pada proses pertumbuhan tanaman.

Tinggi tanaman bertambah seiring dengan bertambahnya intensitas naungan yang diterima sampai batas tertentu, kemudian bila intensitasnya ditambah lagi maka tinggi tanaman akan menurun.

Pada nilai batas naungan tersebut, cahaya matahari untuk fotosintesis yang diterima tanaman dalam kapasitas optimal. Menurut Kesumawati, Hayati

& Thamrin (2012), dengan adanya naungan pada saat cahaya matahari bersinar penuh atau siang hari, intensitas yang digunakan tanaman hanya sebanyak 1%. Cahaya matahari yang diterimanya berpengaruh pada aktivitas stomata untuk menyerap CO2 sebagai bahan baku pada sintesis karbohidrat sehingga perlakuan naungan akan berpengaruh pada peningkatan hasil indeks luas daun serta tinggi tanaman. Nilai indeks tersebut akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanpa pemberian naungan (Suradinata, Rahman & Hamdani 2013). Pada tanaman kentang yang tidak diberi naungan, fotosintesis yang dihasilkan cukup rendah dikarenakan adanya fotorespirasi, yaitu hilangnya sebagian CO2 karena terhambatnya tingkat intensitas cahaya matahari.

KESIMPULAN DAN SARAN

Setek tanaman bunga krisan (Chrysanthemum sp.) varietas Puspita Nusantara mampu beradaptasi di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Perlakuan paranet dengan kerapatan 100% memberikan pengaruh terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan setek bunga krisan, yaitu 64% setek hidup, 4,12 helai daun, dan tunas setinggi 4,26 cm pada hari ke- 21 setelah tanam.

Disarankan perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan paranet yang memiliki kerapatan yang lebih rendah, waktu penelitian yang lebih panjang, serta dapat memperhatikan musim saat akan melaksanakan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

1. Andriani, V & Karmila, R 2019, ‘Pengaruh temperatur terhadap kecepatan pertumbuhan kacang tolo (Vigna sp.)’, Stigma, vol. 12, no. 1, pp. 49-53, accessed September 17, 2021, from <http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/stigma/

article/download/1861/2042>.

2. Apriani, P, Suhartanto, MR 2015, ‘Peningkatan mutu bibit torbangun (Plectranthus amboinicus Spreng.) dengan pemilihan asal stek dan pemberian auksin’, J. Hort. Indonesia, vol. 6, no. 2, pp. 109–115.

(9)

3. Asriyanti, A, Wardah, W & Irmasari, I 2015, ‘Pengaruh berbagai intensitas naungan terhadap pertumbuhan semai eboni (Diospyros celebica Bakh.)’, Warta Rimba, vol. 3, no.

2, pp. 103–110.

4. Auri, A & Dimara, P 2016, ‘Respon pertumbuhan stek Gyrinops verstegii terhadap pemberian berbagai tingkat konsentrasi hormon IBA (Indole Butyric Acid)’, Jurnal Silvikultur Tropika, vol. 7, no. 2, pp. 133–136.

5. Badan Pusat Statistik 2018, Statistik tanaman hias Indonesia 2017, diunduh 20 Desember 2019, <https://www.bps.go.id/

publication/2018/10/05/d1f1f00e73b215b4118fa9e0/statistik- tanaman-hias-indonesia-2017.html>.

6. Baiq, WA 2010, ‘Studi morfo-anatomi dan pertumbuhan kedelai (Glycine max (L) Merr.) pada kondisi cekaman intensitas cahaya rendah’, Skripsi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University, Bogor.

7. Benbya, AM, Alaoui, M, Gaboun, F, Delporte, F, Chlyah, O

& Cherkaoui, S 2018, ‘Vegetative propagation of Argania spinosa (L.) skeels cuttings: Effects of auxins and genotype’, International Journal of Environment, Agriculture and Biotechnology, vol. 3, no. 4, pp. 1369–1381. https://doi.

org/10.13128/ahsc-8131.

8. Danu, Putri, KP & Sudrajat, DJ 2017, ‘Pengaruh media dan zat pengatur tumbuh terhadap perbanyakan stek pucuk nyawai (Ficus variegata Blume)’, Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan, vol. 11, no. 1, pp. 15–23.

9. Duncan, DB 1995, ‘Multiple range and multiple F tests’, International Biometric Society Biometrics, pp. 1–42, <https://

doi.org/doi: 10.2307/3001478>.

10. Fahrudin, F 2009, ‘Budidaya caisim (Brassica juncea L.) menggunakan ekstrak teh dan pupuk kascing’, Skripsi Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

11. Hariyadi, BW 2015, ‘Efektifitas pemberian pupuk organik kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir)’, Skripsi, Universitas Merdeka Surabaya.

12. Haryanti, S 2010, ‘Pengaruh naungan yang berbeda terhadap jumlah stomata dan ukuran porus stomata daun Zephyranthes rosea Lindl’, Buletin Anatomi dan Fisiologi, vol. 18, no. 1, pp. 41–48.

13. Heryati, Y & Agustarini, R 2018, ‘Penggunaan beberapa macam media dan tingkat naungan untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kilemo (Litsea cubeba L. Persoon)’, Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan, vol. 6, no. 2, pp. 107–120.

https://doi.org/doi.org/10.20886/bptpth.2018.6.2.93-105 107.

14. Hidayanto, M, Nurjanah, S & Yossita, F 2003, ‘Pengaruh panjang stek akar dan konsentrasi’, Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, vol. 6, no. 2, pp.

154–160.

15. Kesumawati, E, Hayati, E & Thamrin, M 2012 ‘Pengaruh naungan dan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman stroberi (Fragaria sp.) di dataran rendah’, Jurnal Agrista Unsyiah, vol. 16, no. 1, pp. 14–21.

16. Kurniawati 2019, Budi daya tanaman krisan, Loka aksara, Tangerang.

17. Lukito 2008, Rekayasa pembungaan krisan dan bunga lain, Kanisius, Yogyakarta.

18. Lusiana, Linda, R & Mukarlina 2013, ‘Respon pertumbuhan stek batang sirih merah (Piper crocatum Ruiz dan Pav).

setelah direndam dalam urin sapi’, Protobiont, vol. 2, no. 3, pp. 157–160.

19. Mansur, U 2009, ‘Teknik penggunaan naungan paranet untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi vanili (Vanilla planifolia Andrews)’, Buletin Teknik Pertanian, vol. 14, no.

2, pp. 76–79.

20. Naharuddin, N 2017, ‘Komposisi dan struktur vegetasi dalam potensinya sebagai parameter hidrologi dan erosi’, Jurnal Hutan Tropis, vol. 5, no. 2, p. 134, <https://doi.org/10.20527/

jht.v5i2.4367>.

21. Noohadi & Sudadi 2003, ‘Kajian pemberian air dan mulsa terhadap iklim mikro pada tanaman cabai di tanah Entisol, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, vol. 4, no. 1, pp. 41-49.

22. Nurhayati, AD 2000, ‘Pengaruh bahan stek dan Rootone F terhadap pertumbuhan stek seuseureuhan (Piper aduncum Linn.)’, Skripsi Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

23. Pratiwi, YI, Fauziatun, N & Bambang, G 2019, ‘Peningkatan laju pertumbuhan awal stek batang tanaman anggur dengan limbah urine sapi’, Jurnal Hasil Pertanian, vol. 4, no. 2, pp.

137-143.

24. Ridwan, HK, Y, Hilman, Sayekti, AL 2012, ‘Sifat inovasi dan peluang adopsi teknologi pengelolaan tanaman terpadu krisan dalam Pengembangan Agribisnis Krisan di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta’, J. Hort., vol. 22, no. 1, p. 86, <

https://doi.org/10.21082/jhort.v22n1.2012.p85-93>.

25. Rifalasna, D, Sumarsono & Kristanto, BA 2019 ‘Pengaruh konsentrasi ZPT Giberelin dan lama penyinaran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium)’, J. Agro Complex, vol. 3, no.1, pp. 84-95,

<https://doi.org/10.1111/j.1365-2745.2011.01936>.

26. Semchenko, M, Lepik, M, Götzenberger, L & Zobel, K 2012, ‘Positive effect of shade on plant growth: Amelioration of stress or active regulation of growth rate?’, Journal of Ecology, vol. 100, no. 2, pp. 459–466. https://doi.org/10.111 1/j.1365-2745.2011.01936.

27. Setyowati, N 2011, ‘Pengaruh intensitas cahaya dan media tanam terhadap pertumbuhan bibit rosella’, J. Agrivigor, vol.

10, no. 2, pp. 218–227.

28. Subiakto, A 2009, Aplikasi koffco untuk produksi stek jenis pohon indigenous, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.

29. Sudomo, A, Pudjiono, S, Gadjah, U & Yogyakarta, M 2007,

‘Pengaruh jumlah mata tunas terhadap kemampuan hidup dan pertumbuhan stek empat jenis hibrid murbei’, Balai Litbang Hutan Tanaman, vol. 1, no. 1, pp. 1–11.

30. Semchenko, M, Lepik, M, Götzenberger, L & Zobel, K 2012, ‘Positive effect of shade on plant growth: Amelioration of stress or active regulation of growth rate?’, Journal of Ecology, vol. 100, no. 2, pp. 459–466. https://doi.org/10.111 1/j.1365-2745.2011.01936.

31. Suradinata, Y, Rahman, R & Hamdani, JS 2013, ‘Paclobutrazol application and shading levels effect to the growth and quality of begonia (Begonia rex-cultorum) Cultivar Marmaduke’, Asian Journal of Agriculture and Rural Development, vol.

3, no. 8, pp. 566–575.

32. Totaan, DE 2019, ‘Effects of stem cutting section and Indole – 3 – Butyric Acid on the vegetative propagation of Antidesma bunius (Linn) Spreng’, Departement of Forestry and Agroforestry, College Of Agriculture System and Technology Pampanga State Agricultural University, Philippines.

33. Widiastoety, D & Bahar, FA 1995, ‘Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium’, J. Hort, vol. 4, no. 5, pp. 72 – 75.

(10)

dan pertumbuhan tanaman krisan dalam pot’, Jurnal Ilmu Pertanian, vol. 11, no. 2, pp. 35–42.

35. Wiraatmaja, IW 2017, Suhu, energi cahaya matahari, dan air dalam hubungan dengan tanaman, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Unud, Denpasar.

soybean’, Scientific Reports, vol 7, no. 1, pp. 1–10. https://

doi.org/10.1038/s41598-017-10026-5.

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran ini menggunakan media autentik, gambar, video, dan online untuk memudahkan peserta mengidentifikasi komponen otomotif dalam bahasa Inggris.. Selain itu,

Oleh karena itu salah satu metode yang dapat digunakan untuk pengendalian bahan baku adalah metode EPQ (Economic Production Quantity) dimana metode EPQ dapat menentukan

Kadar protein lebih rendah dari SNI, disebabkan yogurt pada penelitian ini berbahan baku susu biji kecipir yang berkadar protein lebih rendah dari yogurt yang digunakan di

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian asam humat dan interaksi antara asam humat dan pupuk P nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, indeks kehijauan

Organisasi profesi guru di Indonesia adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), sedangkan dosen mempunyai organisasi profesi tersendiri yaitu ADI (Asosiasi Dosen Indonesia).

TYPE KENDARAAN KODE PARTS NAMA PARTS HARGA. BeAT 14520-KVY-902

Validitas tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yaitu validitas yang dilihat dari segi isi tes itu send iri sebagai alat pengukur

Pada saat kedua relai pada rangkaian driver bekerja, motor tidak berputar karena masing-masing kutub pada motor mendapat polaritas yang sama dari sumber