Perencanaan
Pembangunan Indonesia
1945-2025
Perencanaan pembangunan sebagai bagian dari
manajemen pemerintahan yang mengemban tugas
spesifik untuk mrelakukan fungsi perencenaa dalam
rangka mewujudkan cita-citaa daan tujuan Indonesia
Merdeka harus didasarkan pada Kostitusi Negara
Indonesia Merdeka.
Tantangan utama yang dihadapi Indonesia pada kurun 1945-1949 adalah:
Keadaan ini memunculkan pelbagai masalah sosial seperti tidak tertanganinya kesehatan dan terbengkalainya
pendidikan masyarakat
Falsafah pembangunan nasional yang dianut bertolak dari
semangat Proklamasi dan amanat konstitusi yang
memandang pembangunan sebagai baagian dan kelanjutan
dari perjuangan kemerdekaan untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Maklumat Pemerintah tentang pembangunan
negara pada 18 Agustus 1945 menegaskan bahwa
pembangunan harus memperhatikan kehendak rakyat dan
dilaksanakan secara seksama dan tanggungjawab.
Pada pembebasan kehidupan bangsa dari berbagai kekurangan, kemiskinan dan keterbelakangan dalam
berbagai kehidupan, serta pengakuan keadulatan bangsa
Pada pembangunan perekonomian dengan semangat koperasi dan disusun sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Adapun tujuan pembangunan kurun 1945- 1949 adalah :
Tercapainya pengakuan dunia internasional secara penuh atas kedaulatan bangsa dan negara Indonesia di seluruh wilayah Nusantara
Terselenggaranya upaya-upaya mengatasi masalah pembangunan nasional
Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang dibentuk pada masa Kabinet Sjahrir III, berhasil menyusun “ Dasar-dasar Pokok Daripada Plan Mengatur Ekonomi Indonesia” yang berisi rancangan program pembangunan dengan tujuan untuk memperbesar dan menyebarkan kemakmuran rakyat secara merata dengan cara :
1. Mengintensifkan usaha produksi
2. Memajukan pertukaran internasional
3. Mencapai standar hidup yang lebih tinggi
4. Mempertinggi derajat kecakapan dan kecerdasan rakyat
a)
Peningkatan sektor perdagangan. Impor dibatasi pada
barang-barang yang penting. Mendorong ekspor hasil-hasil perkebunan, hutan dan tambang.
b)
Pembangunan dan rehabilitasi prasarana perhubungan dan rencana pembangunan berbagai industri tingkat pertama.
c)
Upaya penyebaran penduduk dengan cara memindahkan sekitar 20 juta penduduk Jawa ke Sumatera sselma 10 sampai 15 Tahun.
Dengan demikian diharapkan kemakmuran di Jaawa
berkembang dan terbuka kemakmuran baru di Sumatera.
Dasar politik ekonomi permerintah pasal 33 UUD 1945,
karena semua perusahaan vital harus dikuasai oleh negara.
Menteri Kemakmuran AK Gani pada masa Kabinet Sjahrir III berinisiatif membentuk Badan Perancang Ekonomi ( Planning Board ). Badan perancang ini bertugas membuat rencana pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi untuk jangka dua sampai tiga tahun. Tugas dan kewajiban paanitia pemikir ini adalah menyiapkaan bukti dan buah pikiran untuk menjadi rencana dan dasar pendirian Pemerintah Negara Republik Indonesia daalam menghadapi perundingan dengan Belanda dan penyelesaian soal-soal pembangunan negara.
Panitia Pemikir Siasat Ekonomi ini menghasilkan dokumen
perencanaan yang disebut “ Dasar-dasar Pokok Daripada
Plan Mengatur Ekonomi Indonesia ”. Rancangan ini berisi
program pembangunan dengaan tujuan memperbesar
dan menyebarkan kemakmuran rakyat secara merata. Ini
merupakan dokumen perencanaan pertama yang berhasil
disusun dalam sejarah perencanaan pembangunan di
Indonesia.
Kandungan Penetapan Presiden Nomor 3 tertanggal 12 April 1947 tentang panitia pemikir siasat ekonomi menunjukan gambaran mengenai sistem dan proses perencanaan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Perencanaan Pembangunan 1950-
1959
Sistem multipartai dan pemerintahan parlementer periode
1950-1959 diwarnai banyak silang pendapat antar
pimpinan partai. Ini menjadi kendala bagi
terselenggaranya pemerintahan yang stabil serta
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang
efektif. Dalam tempo 9 tahun telah jatuh bangun
sebanyak 7kali. Artinya umur rata-rata kabinet hanya
empat belas bulan.
Falsafah pembangunan periode 1950 – 1959 bertolak dari pancasila sebagai landasan bernegara dan pasal 38 UUD Sementara 1950 yang substansinya sama persis dengan Pasal 33 UUD 1945. Arah, Asas dan tujuan pembangunan mengandung semangat kebangsaan, kekeluargaan, dan kebersamaan yang menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dikuasai negara untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tujuan pembangunan adalah secara tuntas melepaskan diri dari sisa-sisa dominasi ekonomi kolonial dan berusaha mengembangkan lembaga sosial-politik.
Format Hubungan Kelembagaan Periode 1950-
1959 adalah sebagai berikut :
Pemilihan umum peertama berhasil diselenggarakan oleh
kabinet Burhanudin Harahap dengan pemilu anggota DPR
pada 29 September 1955 dan pemilu anggota
konstituante pada 15 Desember 1955. Namun, hasil-hasil
pemilu 1955 tersebut tidak dapat ditindaklanjuti sesuai
jadwal semula, karena pada 5 juli 1959 Presiden Soekarno
menerbitkan Dekrit Presiden yang intinya membubarkan
Konstituante dan menyatakan kembali ke UUD 1945.
Sebelum Biro Perancangan Negara terbentuk pada 1952, kegiatan perencanaan diselenggarakan oleh masing-masing kementerian bersifat ad hoc, tanpa koordinasi, dan tanpa dilandasi visi dan misi bersifaat nasional. Dalam situasi belum disusun sebuah rencana pembangunan ekonomi nasional.
Setelah Biro Perancangan Negara terbentuk, kegiatan perencanaan pembangunan mulai mencakup kegiatan perencanaan pembangunan.
Sesuai dengan amanat UUDS 1950, Rencana Urgensi Industri (1951-1955) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (1956- 1960) dilaksanakan melalui berbagai kebijakan dan mekanisme pelaksanaan Anggaran Belanja Negara (ABN). Ada beberapa kendala dalam beberapa pengelolaan anggaran belanja era 1950-1959. Satu diantaranya adalah sangat lambatnya otorisasi pemerintah daerah yang membuat waktu untuk melaksanakan proyek-proyek pembaangunan semakin singkat.
Perencanaan Pembangunan 1960-
1965
Perubahan drastis cara pandang tentang landasan falsafah peenyelenggaraan negara berdampak pada sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Selain menghadirkan persoalan baru, perubahan falsafah tersebut juga memunculkan kontroversi dan sikap pro kontra di tengah masyarakat. Sementara dibidang ekonomi terutama soal menyangkut keuangan negara. Kondisi perekonomian Indonesia cukup memprihatinkan pada tahun 1959-1960. dibidang budaya, sifat kegotongroyongan dan kekeluargaan teranam oleh paham liberal dan paham komunisme yang tidak sesuai dengan pancasila.
Kebijakan pembangunan sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama terbagi enam bidang, yakni mental / agama / kerohanian / penelitian; kesejahteraan;
pemerintahan dan keamanan / pertahanan; produksi;
distribusi dan perhubungan, serta keuangan dan
pembiayaan.
Setelah MPRS menetapkan Manipol-Usdek sebagai GBHN
pada 1960, Dapernas menyusun dan menjabarkan
Rancangan Dasar Pembangunan Nasional Semesta
Berencana 1961-1969 dalam berbagai kebijakan dan
program pembangunan. Untuk menyusun kebijakan,
program, dan proyek-proyek pembangunan diperlukan
sejumlah data tentang jumlah penduduk dan tingkat
pendapatan nasional.
Diperlukan beberapa sumber investasi dengan ketentuan :
Salah satu cara untuk memperbesar investasi adalah
dengan meningkatkan manfaat dan pengolahan kekayaan
melalui pengembangan proyek
Bab II Pasal 8 Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang ketentuan pelaksanaan RPNSB menerangkan bahwa “dalam rangka pelaksanaan RPNSB 1961-1969, hasil karya Dapernas Jilid IV sampai dengan Jilid XVII harus diperhatikan oleh pemerintah sebagai pedoman pelaksanaan manakala tidak bertentangan dengan ketetapan ini..
Kementerian dan badan-badan usaha harus menyusun rencana pelaksanaan lebih rinci dengan “Tripola” yaitu :
1.
Pola proyek pembangunan
2.
Pola penjelasan proyek pembangunan
3.
Pola pembiayaan pelaksanaan pembangunan
Hasil-hasil pelaksanaan RPNSB Pertama tahun 1965 di subbidang pendidikan telah dibangun prasarana dan fasilitas fisik. Di subbidang agama/kerohanian antara lain dimasukkanya pendidikan agama dan budi pekerti, sementara terkain dengan keolahragaan adalah pembangunan stadion. Di subbidang penelitian berhasil dibangun pelbagai prasarana, sarana dan fasilitas pendukung kegiatan penelitian di semua sektor dan kegiatan.
Hasil-hasil pelaksanaan program bidang produksi antara lain adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan beberapa pabrik didirikan. Namun sarana produksi di sektor pertanian tidak tercapai.
“Keberhasilan” di subbidang distribusi dan perhubungan ditandai dengan panjang jalan aspal yang bertambah sekitar 10.802 kilometer menjadi 20849 km, namun panjang jalan tidak- beraspal justru “menyusut” 6.291 kilometer menjadi 62.389 km.
Perencanaan Pembangunan di
Indonesia 1966-1998
Tantangan pada era 1966-1968 adalah kemorosotan ekonomi dan rusaknya dasar-dasar sistem ekonomi dan politik dan budaya bangsa. Berbagai indiikator ekonomi menunjukkan kemerosotan ekonomi, seperti tingkat inflasi sangat tinggi pada 1965 dan pada 1966 akibat defisit anggaran belanja: defisit neraca pembayaran naik. Tantangan lain yang dihadapi adalah centang-perenang administrasi negara dan pemerrintahan.
Strategi untuk melaksanakan program stabilitasi dan
rehabilitasi adalah :
Sasaran Program stabilitasi dan rehabilitasi adalah :
Ketetapan MPRS RI No.XXIII/MPRS/1966 menggariskan
bahwa kredit luar negeri hanya dapat dibenarkan apabila
benar-benar merupakan bagian integral dari rencana
stabilisasi dan rehabilitasi secara keseluruhan. Besarnya
kredit Luar Negeri tergantung pada kemampuan untuk
membayar kembali dikemudian hari tanpa membebani
lagi rakyat dan mampu mengatasi kesulitan ekonomi dan
bisa membebaskan diri dari ketergantungan luar negeri.
Tugas Bappenas antara lain:
Penyusunan Repelita I belum didasarkan pada GBHN, karena MPRS tidak sempat menyusun GBHN. Penyusunan Repelita I didasarkan pada Instruksi Presidium Kabinet No. 15/EK/IN/3/1967.
Sasaran Pokok Kebijakan pembangunan terdiri atas :
1. Bidang ekonomi : menambah pendapatan nasional perkapita;
memperbesar hasil devisa; memperluas kesempatan kerja;
memperbaiki pendapatan riil perkapita
2. Bidang Spiritual : mencapai kemajuan dan keleluasaan lebih nyata dalam pengembangan jiwa dan bakat rakyat
3. Bidang Pertahan dan keamanan : melindungi rakyat, kemerdekaan bangsa dan keutuhan wilayah negara
Tahap stabilisasi dan rehabilitasi dilaksanakan melalui program pengendalian tingkat inflasi; program pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang; program rehabilitasi prasarana ekonomi;
dan program peningkatan ekspor
Penerapan prinsip-prinsip ekonomi yang rasional dengan
mengambil tindakan yang realistis dilakukan untuk
beberapa pencapaian yaitu :
Kinerja yang dicapai juga ditandai dengan kenaikan produksi beras dan sandang, rehabilitasi prasarana seperti irigasi, jalan, lapangan udara, serta rehabilitasi,perluasan dan penyelesaian pabrik-pabrik, serta usaha meningkatkan produksi kerajinan rakyat.
Untuk mendorong penanaman modal, baik dalam negeri
maupun asing, diterbitkan UU tentang PMA (1967) dan
PMDN (1968).
GBHN dalam era PJP-I (1969-1993) berisi grand design
atau “garis besar kebijakan” penyelenggaraan negara dan
pembangunan bangsa yang mendasari pola dasar
pembangunan nasional, Pola Umum Pembangunan Jangka
Panjang (PJP) 25 Tahun dan Pola Umum Pembangunan
Lima Tahunan.
Tantangan yang dihadapi dalam era PJP-I adalah bagaimana membangun landasan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang sendiri melalui pembangunan secara bertahap agar siap memasuki era tinggal landas dalam upaya menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila.
Tantangan pada Repelita I adalah terlaksanannya pembangunan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat banyak.
Repelita II adalah Perluasan kesempatan kerja
Repelita III adalah Perluasan kegiatan-kegiatan pembangunan yang ditujukan pada peningkatan kesejahteraan rakyat
Repelita IV adalah Peningkatan usaha-usaha untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat
Repelita V adalah Pemantapan, konsolidasi dan peningkatan pembangunan disetiap bidang kehidupan agar dalam Repelita VI Bangsa Indonesia siap untuk memasuki tahap awal tinggal landas.
PJP-I mencakup pembangunan dibidang ekonomi; agama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sosial
budaya; politik dan pertahan keamanan
Pembangunan Indonesi bertumpu pada sinergi pada tiga paradigma berupa keterpaduan pemikiran dan tindakan yang saling menunjang antara peemerataan pembangunan dan hasil- hasilnya menuju terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat di seluruh Tanah Air.
Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat
banyak khususnya pangan, sandang dan perumahan
Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan kesehatan
Pemerataan pembagian pendapatan
Pemerataan kesempatan kerja
Pemerataan kesempatan berusaha
Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam
pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita
Pemerataan pembangunan di seluruh tanah air
Pemerataan memperoleh peradilan
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan, diperlukan investasi dalam jumlah besar. Dengan berpedoman bahwa pelaksanaan pembangunan berlandaskan kemampuan sendiri, sumber-sumber pendanaan luar negeri diletakkan sebagai pelengkap. Adapun pertimbangan bahwa di satu pihak sumber penerimaan dalam negeri masih belum mencukupi sedangkan di lain pihak pelaksanaan pembangunan nasional dilaksanakanlebih luas, llebih cepat dan lebih merata, maka ditempuh kebijakan untuk menerima sumber daa luar negeri, baik berupa bantuan dan pinjaman luar negeri maupun penanaman modal asing.
Untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar dunia dilakukan serangkaian kebijakan devaluasi.
Sedangkan untuk mendukung upaya peningkatan ekspor
pemerintah menerapkan kebijakan kurs valuta aktif
mengambang dan terkendali.
Peran penting Bappenas bukan saja terlihat dari posisi,
tugas dan fungsinya, melainkan juga dari karya nyata
yang dihasilkan dengan menjabarkan GBHN ke dalam
Repelita serta penilaian kenierja yang dilaksanakan
sepanjang PJP-I
Sistem perencanaan pembangunan yang dikembangkan pada PJP-I meliputi Perencanaan Jangka Panjang 25 Tahun yang disusun dalam GBHN yang diwujudkan secara bertahap melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Repelita kemudian dijabarkan dalam Rencana Oprasional Tahunan (ROT) yang memuat berbagai program pembangunan sektor dan daerah lengkap dengan target fisik dan pembiayaan. Adapun pertimbangan pagu anggaran yang diberikan Bappenas dan proyek-proyek yang akan dilaksanakan adalah proyek dengan prioritas tinggi.
Untuk mencapai berbagai saran dan tujuan pembangunan nasional secara efesien dan efektif, dalam sistem pelaksanaan rencana pembangunan dikembangkan tata cara pengelolaan pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan.
Pengelolaan pelaksanaan program yang mendapatkan dukungan anggaran didasarkan pada ketetapan Presiden tentang pedoman pelaksanaan APBN yang terus disempurnakan. Langkah-langkah perbaikan meliputi sistem dan proses pengelolaan perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan dan pembiayaan, dan pemantauan serta pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan.
Melalui pembangunan kependudukan diupayakan agar penduduk Indonesia yang besar jumlahnya dapat benar-benar menjadi modal dasar bagi pembangunan. Upaya pengendalian jumlah penduduk selama PJP-I yang dilaksanakan melalui program Keluarga Berencana dan program terkait berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk secara bermakna.
Keberhasilan dalam melaksanaka program KB diakui dunia internasional dan menjadikan Indonesia sebagai model bagi pelaksanaan program keluarga berencana yang dinilai berhasil.
Falsafah pembangunan PJP II tetap Bersumber pada Pancasila.
Dalam falsafah pembangunan bangsa Indonesia yaitu
pembangunan sebagai pengamalan pancasila, manusialah yang merupakan pengamalan titik sentral dari segala upaya
pembangunan.
Manusia adalah sumbeer daya pembangunan yang merupakan sasaran paling utama yang akan dibangun kemampuannya
sebagai pelaksana dan penggerak pembangunan
PJP-II brtujuan mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin, dengan sasaran umum terciptanya
kualitas manusia dan masyarakat indonesia yang maju, mandiri dan sejahtera
o
Sistem Perencanaan Pembangunan era PJP-II, khususnya Repelita VI, pada dasarnya mirip PJP-I.
o
Penjabaran Tahunan Repelita VI dituangkan dalam rencana tahunan yang diakomodasi dalam RAPBN.
o
Proses perencanaan, penyusunan Repelita VI dan
perencanaan anggaran pembangunan dilakukan
Bappenas dengan memperhatikan aspirasi dan
mengundang partisipasi aktif masyarakat.
Hasil pelaksanaan Repelita VI, antara lain
terlihat dari kesejahteraan rakyat secara
keseluruhan bertambah baik dan beberapa
sasaran akhir Repelita VI telah terlampaui,
walaupun masih ada sejumlah sasaran yang
belum dapat dicapai
Krisis Multidimensi yang mengakhiri pemerintahan Orde Baru bermula dari guncangan nilai tukar mata uang beberapa negara dikawasan Asia Tenggara dan Asia Timur terhadap mata uang kuat dunia, terutama Dollar AS.
Landasan ekonomi yaang dianggap kuat ternyata tidak
berdaya menghadapi gejolak keuangan eksternal, serta
kesulitan makro dan mikro ekonomi. Salah satu kelemahan
Indoesia adalah besarnya beban utang luar negeri sektor
swasta yang tiidak dilindungi terhadap resiko fluktasi mata
uang. Sistem pengawasan perbankan yang lemah akibat
intervensi pemerintah yang kuat merupakan faktor lain
yang menyebabkan sistem keuangan domestik tidk
mampu menghadapi tekanan eksternal tersebut.
Perencanaan Pembangunan di Indonesia
1998-2004
Di Indonesia, krisis yang berkembang menjadi krisis ekonomi itu telah menguak berbagai kelemahan dalam ssistem dan struktur perekonomian nasional. Akibatnya, muncul berbagai kesenjagan yang di tandai dengan besarnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran.
Kelemahan Fundamental terletak pada diabaikannya perekonomian keerakyatan. Perkembangan yang ada cenderung menunjukan corak sangan monopolistik. Wabah KKN tampak tak terbendung dan tata kelola pemerintahan tidak tegak dengan baik.
Tantangan Lain yang dihadapi pada era 1998-2004 adalah berkembangnya kultur politik yang tidak mendukung berlangsungnya pelaksanaan fungsi berbagai lembaga pemerintahan, politik dan ekonomi secara demokratis.
Berkembangnya mekanisme hubungan pusan dan daerah cenderung perpola pada sentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan yang kurang sesuai dengan kondisi geografis dan demografis yaang justru membutuhkan sistem yang desentralistik. Selain itu, dihadapi pula tantangan dependensi sistem peradilan pada eksekutif.
Paradigma pembangunan periode 1998-2004
merupakan reformasi total secara terencana,
melembaga, dan berkesinambungan sebagai
koreksi terhadap seluruh penyimpangan yang
telah terjadi di bidang ekonomi, politik, dan
kelembagaan pemerintahan.
Perencanaan pembangunan periode 1998-2004 didasarkan pada GBHN 1999 yang dijabarkan menjadi Propenas. Penyusunan rencana pembangunan berdasarkan model Propenas digunakan pendekaan yang lebih menekankan skala prioritas dalam perumusan masalah dan penyelesiannya. Pendekatan ini sejalan denga keterbatasan pembiayaan dalam masa krisis. Selain itu, penyusunan Propenas dilaksanakan dengan mengembangkan sistem perencanaan yang mengakomodasi prinsip bottom up dan menghindari kekuasaan yang sentralistis dengan menampung semua aspirasi masyarakat sesuai dengan semangat demokratisasi dan desentralisasi yang berkembang saat itu.
UU No.25 / 2004 tentang SPPN merupakan sebuah produk hukum pentingsetelah terhapusnya GBHN akibat amandemen konstitusi, ia juga melengkapi dan memberi makna mengenai kinerja yang harus dicapai dari pengeluaran anggaran yang ditetapkan dalam UU No. 17/2003 tentang keuangan negara, disampping rangkaian kebijakan lain yang perlu di tempuh untuk mencapai tujuan NKRI sebagaimana ditetapkan dalam pembukaan UUD 1945.
UU SPPN juga melembagakan sistem dan proses penyusunan kebijakan pembangunan nasional dan daerah di negara hukum yang demokratis tidak hanya dengan memadukan perencanaan dari atas dan dari bawah, tetapi juga perencanaan tehnokratis (tehnical planning process) dan perencanaan partisipatif (socio- political planning process)
Sistem pelaksanaan pembangunan era 1998-2004 utamanya berisi taata cara pelaksanaan program pembangunan yang dibiayai APBN, pemantauan dan pengawasan pelaksanaannya, serta pengelolaan pengembangan dan pelaksanaan berbagai kebijakan yang direncanakan. Dalam tata cara pelaksanaan APBN termuat regulasi mengenai swakelola, lelang, dan penunjukan langsung yang menunjukan keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. Sistem pelaksanaan era reformasi ditandai dengan diterapkannya prinsip-prinsip clean government dan good governance berupa keterbukaan , partisipasi , dan akuntabilitas.
Kinerja yang ditunjukkan pada reformasi di berbagai bidang kehidupan :
Hasil fenomenal yang dicapai pemerintahan periode 1998-2004 adalah pelunasan seluruh hutang pemerintah, sekaligus mengakhiri hubungan kerja sama dengan IMF. Amandemen Konstitusi berhasil dituntaskan pada 2002 dan sistem perencanaan pembangunan nasional pada 2004 telah memiliki landasan hukum yang kuat sebagaimana tertuang dalam UU No.
25/2004 tentang sistem Perncanaan Pembangunan Nasional (SPPN).
Perencanaan Pembangunan di
Indonesia 2004-2025
Beberapa tantangan yang dihadapi selama era 2004-2009 sebagai berikut :
Paradigma pembangunan era 2004-2009 adalah pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan, keseimbangan antara
demokrasi politik dan ekonomi, pemantapan sistem
kelembagaan dan perwujudan tata kelola dan pemerintahan yang baik dan bersih.
Strategi pembangunan yang ditempuh adalahn : 1. menata kembali sistem kelembagaan
2. membangun negara di segala bidang untuk memenuhi hak dasar rakyat.
Agenda kebijakan pembangunan nasional adalah menciptakan negeri yang aman dan damai, adil dan demokratis dan rakyat yang sejahtera
Sejak proklamasi kemerdekaan Agustus 1945, negara dan bangsa Indonesia meletakkan perencanaan pembangunan sebagai bagian penting dalam sistem dan proses penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa. Peran dan fungsi perencanaan dinilai perlu dalam kondisi negeri yang relatif terbelakang. Kolonialisme masa silam dan globalisasi masa kini yang bergerak cepat sejak dekade akhir abad ke20 membawa berbagai tantangan dan ancaman sekaligus peluang. Karena itu dibutuhkan ketahanan di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan serta daya saing yang tinggi. Semuanya memerlukan perencanaan strategis yang konsisten dengan amanat perjuanagan bangsa dan sesuai dengan perkembangan lingkungan yang strategis pada tataran nasional.
Falsafah pembangunan adalah pemikiran mendasar yang dipilih dan disepakati bersama untuk dijadikan “pedo-man prilaku berpikir dan bertindak” dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa. Hal tersebut berlandaskan nilai-nilai dasar yang tersua dalam Pembukaan UUD 1945 disertai grand teori, paradigma atau pola pikir yang konsisten dengan falsafah bernegara dan pandangan hidup bangsa, serta kesepakatan untuk mencari, memahami dan mengambangkan solusi bersama yang dihadapi bangsa demi mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara.