• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Bagi Anak Nelayan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pendidikan Bagi Anak Nelayan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT SEKOLAH DASAR ditpsd.kemdikbud.go.id

Pendidikan Bagi Anak Nelayan

BUKU SAKU PENDIDIKAN

LAYANAN KHUSUS

SERI 5 :

(2)
(3)

Disusun oleh:

Tim Penyusun Direktorat Sekolah Dasar Ketua:

Adeb Davega Prasna, S.H., M.H

(4)

SERI 5: PENDIDIKAN BAGI ANAK NELAYAN Pengarah : Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd.

ISBN: 978-623-98588-7-2

Pembina : M. Aris Syarifuddin, S.T., M.M Ketua: Adeb Davega Prasna, S.H., M.H Anggota:

1. Ariaty Dano, M.Pd 2. Diah Asih S, SE, M.Pd.

3. Astika Purbasari, S.H.

4. Fadri Ari Sandi, M.P.A.

5. Roni Parulian Simamora, S.T.

6. Yono

7. Budi Setiawan, M.Pd

Desain dan Tata Letak: Azinar Ismail Diterbitkan oleh:

Direktorat Sekolah Dasar

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Gedung E Lantai 17-18 Komplek Kemendikbudristek, Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta 10270

Telp : (021) 5725635, Faks (021) 5725637 Laman : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/

Jumlah Halaman: 24 Halaman Cetakan 1, 2021

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis.

BUKU SAKU PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia- Nya, sehingga buku saku Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan ini dapat diselesaikan. Buku saku ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Direktorat Sekolah Dasar untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekolah dasar di Indonesia.

Pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan harus dikelola dengan baik agar kualitas peserta didik meningkat dan berkontribusi positif terhadap pembangunan nasional. Tata Kelola pendidikan yang baik merupakan salah satu dasar dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Faktor penentu dan penunjangnya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan teknologi, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, serta partisipasi pihak- pihak terkait.

Buku saku ini disusun bertujuan untuk lebih memahami daerah 3T dan mengetahui permasalahan dan potensi sumber daya di daerah nelayan, memotivasi pemerintah daerah dalam penanganan permasalahan dan pelayanan pendidikan di daerah nelayan, serta menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas di daerah nelayan.

Akhir kata saya sampaikan terima kasih kepada para penyusun buku saku ini dan berharap buku saku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat atas semua jerih payah yang telah dilakukan.

Direktur Sekolah Dasar

(6)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... 3 Daftar Isi ... 4 Pendahuluan ... 5 Alur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan 7 Identifikasi Permasalahan Sosial di Wilayah Nelayan ... 8 Permasalahan Pendidikan di Wilayah Nelayan ... 9 Identifikasi Kebutuhan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak

Nelayan ... 10 Identifikasi Potensi (Potensi Daerah dalam Mendukung

Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Bagi Anak Nelayan) ... 12 Strategi Pelaksanaan ... 13

Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan ... 13 Penentuan Kurikulum Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak

Nelayan ... 15 Penjadwalan Kegiatan Pendampingan Pendidikan Layanan

Khusus bagi Anak Nelayan ... 16 Prinsip Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak

Nelayan ... 16 Tugas dan Tanggung Jawab ... 18

Peran Sekolah dalam Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan ... 18 Peran Masyarakat dalam Pendidikan Layanan Khusus bagi

Anak Nelayan ... 19 Stake Holder Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

... 20 Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan ... 22 Daftar Pustaka ... 23

(7)

Pendahuluan

M

asyarakat pesisir ini terdiri atas nelayan, pedagang ikan, pembudi daya ikan dan hasil laut lainnya. Mereka kemudian secara komunal membentuk budaya khas yang secara umum sangat bergantung dengan sumber daya pesisir.

Anak nelayan yang dimaksud dalam buku ini adalah anak-anak nelayan dari masyarakat pesisir/ nelayan yang secara ekonomi tertinggal/lemah/mengalami kesulitan.

Karakteristik masyarakat nelayan secara sosial ekonomi dalah bahwa mereka memiliki mata pencaharian

utama dari sumber daya laut seperti sebagai nelayan tangkap, nelayan budi daya, pengusaha ikan, buruh nelayan, bahkan penambang pasir dan transportasi laut. Dengan kondisi seperti ini mereka hidup cukup keras karena ketidakpastian penghasilan dan perubahan perilaku alam.

Secara umum, masyarakat pesisir adalah kelompok yang relatif tertinggal dalam hal ekonomi, layanan pendidikan, maupun layanan kesehatan.

(8)

Beberapa permasalahan yang menyebabkan anak nelayan tertinggal dalam pendidikan, antara lain masalah sarana pendidikan yang minim, terbatasnya wawasan tentang pendidikan di kalangan orang tua, dan masalah yang paling mendasar adalah ketika anak-anak pesisir putus sekolah dan dilbatkan orang tua untuk mencari nafkah untuk menopang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sehinga pendidikan mereka terabaikan.

Hak Pendidikan Bagi Anak Nelayan

• Pasal 31 ayat (1) UUD 1945

“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”

• Pasal 13 ayat 1 UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak “setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua,

wali atau pihak lain manapun beranggung jawab atas pengasuhan dan berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, ketidakadilan, dan lain-lain”

• Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus (PLK)

“PLK adalah pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan yang tidak mampu dari segi ekonomi.”

(9)

Alur Pengelolaan

Pendidikan Layanan

Khusus bagi Anak Nelayan

Identifikasi Permasalahan

Pendidikan Anak Nelayan

Identifikasi Kebutuhan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Pembinaan dan Evaluasi

Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus

bagi Anak Nelayan

Perencanaan Pendampingan

Pendidikan Layanan Khusus

bagi Anak Nelayan Identifikasi

Permasalahan Sosial di Wilayah

Nelayan

• Alur Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Adapun alur pengelolaan afirmasi pendidikan bagi anak nelayan adalah sebagai berikut:

(10)

• Identifikasi Permasalahan Sosial di Wilayah Nelayan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Mitra Kemendikbud pada Tahun 2019 terdapat beberapa permasalahan sosial di wilayah nelayan sebagai berikut : a. Permasalahan Ekonomi

Anak nelayan tergolong dalam masyarakat kategori ekonomi lemah.

b. Sumber Daya Manusia

Faktor lingkungan dan gaya hidup para nelayan yang lebih mengutamakan mencari nafkah daripada pentingnya pendidikan membuat motivasi belajar anak nelayan kurang.

c. Sosial Budaya

Kurangnya pengetahuan pendidikan terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta budaya hidup komsumtif membuat kehidupan sosial budaya di wilayah nelayan berjalan tidak baik dan sering menimbulkan permasalahan

d. Kondisi Geografis

Wilayah pesisir yang beragam dan sulit terjangkau menyebabkan akses masyarakat terbatas, kurangnya infrastruktur, transportasi dan komunikasi. Keberadaan wilayah tersebut menjadi tidak terpantau oleh instansi terkait dan dengan demikian program-program dari dinas pendidikan tidak dapat menjangkaunya.

(11)

• Permasalahan Pendidikan di Wilayah Nelayan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Mitra Kemendikbud pada Tahun 2019 terdapat beberapa permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh anak nelayan sebagai berikut:

Anak tidak sekolah

Rendahnya motivasi anak

terhadap pendidikan

Anak merasa dikucilkan di

sekolah Anak kesulitan

akses administrasi kependudukan

untuk sekolah

Ketersediaan guru dan tenaga

pendidik yang belum mencukupi Jam sekolah

yang tidak sesuai dengan waktu

melaut

(12)

• Identifikasi Kebutuhan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Berdasarkan Permendikbud No.72 Tahun 2013, maka model pendidikan bagi anak anak nelayan dapat dilakukan melalui beberapa metode berikut :

• Satuan Pendidikan

 Model Pendidikan Formal. Anak di wilayah nelayan yang dapat menjangkau akses pendidikan formal dapat diidentifikasi untuk diupayakan kembali bersekolah dengan melakukan berbagai pendekatan, tentunya didukung oleh peran orang tua, dinas pendidikan setempat dengan penyesuaian kurikulum dan sistem pembelajaran yang memenuhi kebutuhan anak nelayan.

(13)

• Layanan Pendidikan

 Pendidikan kejar paket

Anak nelayan yang kesulitan menjangkau akses pendidikan formal perlu diidentifikasi untuk diberikan layanan pendidikan non formal berupa pendidikan kejar paket yang disesuaikan dengan kebutuhannya sebagai anak nelayan.

 Sekolah komunitas

Sekolah komunitas bagi anak nelayan merupakan sebuah konsep layanan pendidikan yang berbasis pada komunitas nelayan dimana komunitas ini secara bersama- sama turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka dengan

pemberdayaan setiap potensi yang dimiliki kelompok masyarakat pesisir tersebut. Dalam sekolah komunitas, peran serta masyarakat dengan segala potensinya lebih menonjol dalam upaya penuntasan pendidikan anak-anak mereka. Oleh karena itu konsep pendidikan berbasis komunitas pesisir ini lebih menekankan pada capaian hasil pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi aktivitas masyarakat nelayan dari pada kepatuhan terhadapan tuntutan formalitas pendidikan sekolah pada umumnya, seperti seragam, tempat belajar, jadwal ketat dan kaku, serta sarana- prasarana belajar yang baku dan sebagainya.

(14)

• Identifikasi Potensi (Potensi Daerah dalam Mendukung Pengelolaan Pendidikan Layanan Khusus Bagi Anak Nelayan)

Pendidikan anak nelayan akan sangat efektif jika memuat 2 unsur sebagai berikut:

1. Pendidikan karakter

Pendidikan karakter erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri ke arah hidup yang lebih baik.

2. Pendidikan kecakapan hidup (life skill)

Pendidikan kecakapan hidup (life skill) perlu diberikan kepada anak nelayan

untuk mampu bertahan dengan dukungan sumberdaya yang ada serta mendorong peningkatan kecakapan untuk dapat bersaing dalam dunia global yang semakin pesat, sehingga mereka mampu memiliki kecakapan dan keterampilan dalam dunia kerja maupun industri, khususnya di bidang perikanan dan kelautan.

(15)

• Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

- Tematik

Guru mengintegrasikan semua mata pelajaran menjadi topik yang memiliki kegunaan dan bersifat kontekstual.

- Penemuan dan eksplorasi Pembelajaran melalui penemuan oleh siswa menggunakan indra dan kognisi mereka untuk berkomunikasi, menunjukkan

empati, berpikir kritis, dan membangun kepercayaan diri.

Strategi

Pelaksanaan

(16)

- Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning)

Pembelajaran ini merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang melibatkan siswa dalam suatu kegiatan tertentu dalam menghasilkan sebuah produk. Para siswa terlibat aktrif mulai dari perencanaan, penyusunan rancangan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil kegiatan. Pelaporan ini berupa produk dan laporan proses pembuatannya. 

- Pembelajaran berpusat pada siswa

Dalam pembelajaran ini siswa lebih aktif melaksanakan kegiatan belajar, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator.

(17)

• Penentuan Kurikulum Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Diperlukan kurikulum pendidikan yang mendukung kegiatan kehidupan masyarakat pesisir dan relevan dengan kebutuhan pengembangan kualitas hidup yang berkelanjutan sebagai masyarakat nelayan. Dalam hal ini perlu dikembangkan kurikulum berbasis kelautan dengan tenaga pendidik yang memadai dengan dukungan semua elemen komunitas pesisir.

Kurikulum program afirmasi pendidikan anak nelayan dapat dikembangkan berdasarkan kurikulum Pendidikan nasional seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan kelautan dan perikanan sebagai muatan tambahan yang utama. Di samping itu diharapkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat untuk membentuk dan menentukan sendiri kurikulum sesuai dengan kearifan local (local wisdom) pada masing-masing daerah.

(18)

• Penjadwalan Kegiatan Pendampingan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Penjadwalan kegiatan ini ditetapkan oleh Dinas Kabupaten/Kota

dengan berkoordinasi dengan pihak terkait.

• Prinsip Pelaksanaan Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Anak Nelayan

Berbasis realitas sosial dan budaya setempat

Semua unsur-unsur pembelajaran bagi anak di wilayah nelayan seperti bahan ajar, sarana pembelajaran, kegiatan belajar, serta waktu dan tempat belajar harus disesuikan dengan realitas sosial dan potensi lokal yang ada di wilayah peserta didik.

Kontekstual

Materi pembelajaran harus sesuai dengan situasi dan kondisi sehari-hari di lingkungan nelayan.

Fleksibel

Desain dan waktu kegiatan pembelajaran dapat dimodifikasi atau diubah dengan disesuaikan dengan waktu melaut para masyarakat di wilayah nelayan.

(19)

Partisipatif dan Kolaboratif

Secara aktif melibatkan peserta didik ke dalam proses pembelajaran, bekerja sama dengan kemampuan bervariasi, serta menekankan pembelajaran kegiatan pemecahan masalah (problem solving).

Fungsional

Materi yang diajarkan bisa berdampak langsung terhadap kebutuhan peserta didik, supaya hasil belajar dapat lebih bermakna dalam meningkatkan keterampilan sesuai dengan persoalan dan konteks yang dihadapi peserta didik.

(20)

• Peran Sekolah dalam Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

Tugas dan

Tanggung Jawab

Melakukan pemetaan terhadap anak usia sekolah di wilayah nelayan

Memanifestasikan program afirmasi pendidikan ke dalam kurikulum pendidikan dan kegiatan sekolah

Membuat Strategi Pembelajaran yang sesuai bagi anak nelayan

Membuat program pendidikan berbasis karakter bagi anak-anak nelayan

(21)

• Peran Masyarakat dalam Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

a. LSM

Lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi sebagai mitra pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan afirmasi anak nelayan.

b. Tokoh masyarakat

Partisipasi tokoh masyarakat dalam pendidikan anak nelayan dapat dilakukan dalam bentuk penyelenggaraan, sosialisasi, advokasi, dan kegiatan lainnya yang mendukung perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan layanan khusus bagi anak nelayan.

c. Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Perusahaan memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribuasi di dunia pendidikan melalui program corporate social responsibility (CSR). Peran CSR dalam pelaksanaan afirmasi pendidikan bagi anak nelayan adalah dengan

mendukung peningkatan kualitas pembelajaran komunitas nelayan melalui program kemitraan dengan penekanan pada upaya pemberdayaan masyarakat.

(22)

• Stake Holder Pendidikan Layanan Khusus bagi Anak Nelayan

a) Dinas Pendidikan

Bertugas membuat kebijakan pendidikan afirmasi bagi anak nelayan miskin serta melakukan pemberdayaan potensi pendidikan anak nelayan miskin.

b) Dinas Sosial Kabupaten/Kota

Data dan informasi tentang anak nelayan dan keluarga nelayan miskin dapat digunakan dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan afirmasi bagi anak nelayan miskin.

c) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten/Kota

Bertugas memberikan konten pendidikan life skill terkait pengelolaan hasil laut bagi anak nelayan

miskin, seperti membuat kegiatan berbasis life skiil bagi anak-anak tentang pengelolaan ikan dan sumber daya laut.

(23)

d) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Bertugas melakukan monitoring kesehatan anak-anak di wilayah nelayan miskin. Dinas kesehatan harus rutin melakukan monitoring kesehatan secara berkala ke wilayah nelayan miskin.

e) Dinas Koperasi dan UMKM

Bertugas memberikan konten pendidikan life skill terkait pengelolaan ekonomi bagi masyarakat nelayan miskin, seperti membuat koperasi bagi nelayan dan membuat kegiatan berbasis life skiil bagi orang tua dan masyarakat tentang pengelolaan ekonomi.

f) Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota

Bertugas menyelenggarakan pendidikan agama bagi anak nelayan miskin, seperti membuat Taman Pendidikan Al-Qur’an.

(24)

P

embinaan dan Evaluasi Afirmasi Pendidikan Anak Nelayan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Pembinaan yang dilakukan dapat berupa pembinaan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, proses pembelajaran, dan kelembagaan.

Monitoring,

Evaluasi, dan

Pelaporan

(25)

DAFTAR PUSTAKA

• Chairunnisa, Connie. 2013. Manajemen Pendidikan. Jakarta:

Uhamka Press.

• Fattah, N., 1996. Landasan Manajemen Pendidikan.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

• Rossi, P. H., dan Freeman, H, E. 1995. Evaluation: A Systematic Approach. London: Sage Publications.

• Salusu. J. 1996. Pengambilan Keputusan Stratejik, untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta:

Grasindo, Gramedia Widiasarana.

• Sinamo, H. J., 1998. Menciptakan Visi Motivatif. Majalah Manajemen, Edisi IX. Agustus 1998 Jakarta: Rineka

• Suprihatiningrum, Jamil. 2007. Strategi Pembelajaran Teori & Aplikasi. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

• Tucker, M. S., dan Codding, J. B., 1998. Standards for Our Schools. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.

• Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

• Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Jakarta: Depdiknas.

• Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Jakarta: Depdiknas.

• Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 72 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan

(26)

Catatan:

(27)
(28)

Direktorat Sekolah Dasar

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Gedung E Lantai 17-18 Komplek Kemendikbudristek, Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta 10270

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran asupan energi dan zat gizi (karbohidrat, lemak total, asam lemak jenuh ( SFA/ Saturated Fatty

Guru meminta siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi yang dijelaskan dan mengajak siswa untuk lebih berani dalam membaca

Hasil penelitian menurut peneliti undang-undang nomor 28 Tahun 2014 tersebut belum terlaksana oleh pemilik atau pengelola tempat karaoke, hal tersebut dapat

Siswa sudah dapat memilih informasi dengan mempertimbangkan kredibilitas dari berbagai sumber informasi yang berkaitan dengan limbah cair tahu, sehingga siswa dapat

Manfaat Penelitian ini adalah memperoleh perbandingan daya efektif, torsi, konsumsi bahan bakar dan tekanan efektif rata-rata dengan bahan bakar campuran bioethanol

Gambar 2 menunjukkan bahwa MPA baik desa sangat rawan kebakaran, desa rawan kebakaran, dan desa tidak rawan kebakaran mempersepsikan kemarau panjang sebagai faktor alam

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang pernah dilakukan adalah pada penelitian ini terfokus pada persepsi dan perilaku Komunitas Madura Ampel terhadap keberadaan

Berdasarkan hasil pengujian di tiga lokasi diperoleh informasi berat buah semua aksesi tertinggi pada lokasi tanam Banyuwangi, yaitu genotipe 86H/MB1 dengan berat 2,35 kg,