JMI Vol. 44 No.
1,
Juli2022 METAL INDONESIA
Jou
rnal Homepage:
http://www.jurnalmetal.or.id/index.php/jmi p-issn: 0126-3463
e-issn: 2548-673X
STUDI KARAKTERISTIK PISAU SADAP KARET MANUAL PRODUKSI INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM) DI INDONESIA
A STUDY OF THE CHARACTERISTICS OF MANUAL RUBBER TAPPING KNIVES IKM PRODUCTION IN INDONESIA
Muhammad Fathurrohman1, Martin Doloksaribu1, Adhe Aries Priatna2
1Balai Besar Logam dan Mesin, Kementerian Perindustrian, Bandung
2Direktorat Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
E-mail: [email protected] Abstrak
Indonesia memiliki potensi menjadi negara produsen karet terbesar tidak hanya di Asia Tenggara namun di dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan upaya agar produksi karet terjadi secara optimum. Salah satu faktor penting dalam produksi karet adalah sistem eksploitasi. Sistem eksploitasi yang baik dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: tenaga penyadap yang terampil dan peralatan pisau sadap karet yang berkualitas. Indikator kualitas pisau sadap karet dapat ditentukan dari dimensi dan bentuk pisau sadap, serta pemilihan material logam. Namun, sampai saat ini belum ada standardisasi pisau sadap karet secara nasional. Studi karakteristik geometri, berat dan sifat mekanik pada 8 macam sampel pisau sadap produksi IKM sebagai representasi produk pisau sadap karet manual di Indonesia.
Parameter pengambilan data yang diuji adalah pengukuran geometri pisau sadap, pengukuran berat, pengujian sifat mekanik dengan uji kekerasan, serta uji komposisi kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan sebagai acuan indikator pada pisau sadap karet manual, yaitu: geometri pisau sadap karet, terutama panjang total dan sudut mata pisau yang membentuk alur/paritan, berat pisau, pemilihan material pada bilah pisau, serta nilai kekerasannya. Hasil kajian ini diharapkan menjadi salah satu bahan rujukan dalam merumuskan standar pisau sadap karet di Indonesia.
Kata kunci : pisau sadap karet, geometri, kekerasan, komposisi kimia, IKM Abstract
Indonesia has the potential to become the largest rubber producer in the world. Therefore, more efforts are needed in order to produce the rubber optimally. One of the important factors in rubber production is the exploitation system. A good exploitation system is affected by two factors: skilled tappers and rubber tapping knife quality. The quality indicator of a rubber tapping knife can be determined by the dimensions and shape of the tapping knife and the material selection. However, there is no national standard for rubber tapping knife yet. This research studied the characteristics of the geometry, weight, and mechanical properties of eight kinds of manual tapping knives produced by IKM in Indonesia. The parameters tested were tapping knife geometry, weight, mechanical properties with hardness, and chemical composition. The results showed that some references that can be used as indicators of the quality of manual rubber tapping knife are the geometry of the rubber tapping knife, especially the total length and the angle of the blade that formed tapping groove, the weight of the tapping knife, the material of the tapping knife, and the hardness value of the tapping knife. The results of this study can be used as a reference in formulating standards for rubber tapping knife in Indonesia.
Keywords: rubber tapping knife, geometry, hardness, chemical composition, IKM
METAL INDON
ES IA
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki potensi menjadi negara produsen karet terbesar tidak hanya di Asia Tenggara namun di dunia (Widyasari 2016).
Hal ini didukung oleh ketersediaan tenaga kerja dan lahan karet untuk perluasan perkebunan karet. Pada tahun 2017 luas areal tanaman perkebunan karet di Indonesia sebesar 3,659 juta Ha dan mengalami peningkatan pada tahun 2021 menjadi 3,692 juta Ha (Direktorat Jenderal Perkebunan 2021). Untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan upaya agar dapat memproduksi getah tanaman karet (lateks) secara optimal.
Produksi karet yang optimal selain ditentukan oleh potensi genetik klon-klon tanaman karet, juga sangat ditentukan oleh sistem eksploitasinya. Sistem eksploitasi yang baik dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: tenaga penyadap yang terampil dan peralatan sadap yang berkualitas (Suhendry, Wijaya, dan Sayurandi 2018).
Peralatan sadap merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk mengambil getah dari tanaman karet yang terdiri dari: pisau sadap, talang getah, dan mangkok sadap (Riawan, Sayamar, dan Kausar 2015). Getah yang berwarna putih susu diperoleh dengan cara menoreh atau mengiris jaringan kulit pada tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) sampai mendekati lapisan kambium (Afiq dan Azura 2013). Getah tanaman karet dikenal dengan sebutan lateks (Purbaya et al. 2011).
Pisau sadap karet merupakan jenis pisau yang digunakan untuk mengiris jaringan kulit tanaman karet sehingga getah dapat keluar.
Pemilihan pisau sadap perlu memperhatikan beberapa faktor, seperti: umur tanaman, tebal- tipisnya kulit pohon, ketinggian panel sadap dan ketrampilan penyadapan (Susanto dan Hanif 2017).
Pisau sadap yang berkualitas akan menghasilkan irisan pohon karet yang baik, sehingga dapat meningkatkan produksi lateks secara optimal. Penentuan kualitas pisau sadap yang baik dipengaruhi oleh bentuk dan dimensi pisau sadap yang sesuai, serta pemilihan material logam yang tepat. Namun, sampai saat ini belum ada standar yang mengatur tentang spesifikasi pisau sadap karet yang sesuai untuk digunakan pada perkebunan karet di Indonesia. Padahal standardisasi produk pisau sadap akan menentukan kualitas pisau sadap tersebut. Hasil pengamatan di beberapa wilayah perkebunan
karet memperlihatkan bahwa pisau sadap memiliki bentuk, dimensi dan material yang sangat bervariasi (Wibowo 2018). Hal ini salah satunya disebabkan adanya perbedaan karakteristik tanaman karet di beberapa wilayah.
Sebagai contoh, tanaman karet di daerah Sumatera mayoritas memiliki karakteristik kulit yang cukup tebal, pohon tidak besar dan produksi di awal yang tinggi. Sedangkan di daerah Jawa karakteristik tanaman karet mayoritas memiliki kulit yang tebal, batang besar dan produksi ke belakang semakin tinggi (Andriyanto dan Tistama 2014).
Wibowo (2018) dalam penelitiannya memaparkan beberapa parameter untuk menentukan kualitas pisau sadap karet, yaitu:
umur ketajaman bilah pisau sadap, berat pisau sadap, sudut mata pisau yang membentuk alur/
paritan sadap, panjang tangkai, serta tebal gagang besi. Sedangkan Huang et al. (2011) pada penelitiannya menggunakan metode pengujian kekerasan dan perlakuan kimia untuk mengetahui dan menentukan kualitas pisau sadap karet. Pengujian kekerasan pada material secara umum dapat menentukan tingkat ketahanan material terhadap gesekan dan aus (Jamilah, Gumilar, dan Amalia 2019).
Pisau sadap karet manual merupakan jenis pisau sadap karet yang mayoritas digunakan pada perkebunan karet di Indonesia. Kualitas pisau sadap manual yang beragam dapat berpengaruh terhadap tingkat produksi karet nasional. Standar pisau sadap pernah diatur dalam SNI 05-4551-1998 Pisau Sadap Karet, namun saat ini standar tersebut sudah tidak berlaku lagi. Oleh karena itu, diperlukan rancangan standar pisau sadap karet yang baru untuk mengatur kriteria standar pisau sadap karet secara nasional.
Pada penelitian ini studi karakteristik geometri, berat, tingkat kekerasan, serta komposisi kimia dikerjakan pada pisau sadap karet manual produksi Industri Kecil Menengah (IKM). Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas pisau sadap karet manual hasil produksi IKM di Indonesia. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan rujukan dalam merumuskan standar pisau sadap karet manual di Indonesia.
METODOLOGI
Sampel pisau sadap karet yang akan diteliti adalah delapan macam pisau sadap manual produksi IKM sebagai representasi
produk pisau sadap karet manual di Indonesia.
Pisau sadap tersebut didapatkan dari lima produsen pisau sadap manual yang berasal dari daerah Pangkalan, Bandung, Klaten, Kampar, dan Koto Baru.
Data penelitian diperoleh dengan melakukan pengambilan data geometri, berat, sifat mekanik kekerasan, serta komposisi kimia pada sampel pisau sadap karet. Data geometri pisau sadap diambil menggunakan alat scanner 3D dan jangka sorong. Metode yang digunakan adalah dengan pemindaian data titik-titik (point cloud) dari sampel pisau sadap menggunakan alat scanner 3D. Beberapa sampel pisau sadap karet manual ditunjukkan pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Sampel pisau sadap karet manual Data point cloud yang telah diperoleh kemudian dirangkai menjadi satu bentuk data yang merupakan hasil penggabungan dari seluruh point cloud yang telah tersusun, sehingga membentuk satu model 3D yang merepresentasikan geometri pisau sadap karet.
Pengukuran dimensi pisau sadap dilakukan berdasarkan hasil pemodelan 3D tersebut. Selain pengukuran dimensi, pengukuran berat sampel juga dijadikan sebagai indikator kualitas pisau sadap karet manual. Penimbangan dilakukan menggunakan timbangan digital.
Pengujian sifat mekanik dikerjakan pada sampel pisau sadap karet menggunakan parameter uji keras dengan metode uji kekerasan vickers. Pengujian kekerasan pada bilah pisau sadap memiliki korelasi terhadap tingkat keausan pisau sadap saat dipakai untuk menyadap karet. Uji komposisi kimia menggunakan spektrometer juga dilakukan pada sampel untuk mengkonfirmasi jenis material yang dipakai pada sampel bilah pisau sadap karet.
Sebelum melakukan pengujian kekerasan dan komposisi kimia, preparasi sampel dilakukan terlebih dahulu dengan memotong bagian bilah pisau sadap karet. Pengujian kekerasan dan komposisi kimia dikerjakan pada bagian yang rata pada sampel bilah pisau sadap yang telah dipotong tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini diperoleh data geometri, berat, nilai kekerasan, serta komposisi kimia sampel pisau sadap karet manual. Data hasil tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut.
Geometri dan Berat
Berdasarkan pengamatan visual terhadap sampel pisau sadap karet, terdapat perbedaan yang bervariasi pada dimensi, bentuk dan material gagang sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2. Pengamatan secara visual pada 8 jenis sampel pisau sadap yang telah dilakukan pengujian menunjukkan material gagang pisau sadap yang terbuat dari kayu dan pipa besi. Berdasarkan kajian dari Wibowo (2018) tentang respon pemakaian dari penyadap, bahwa penggunaan material besi pada gagang pisau sadap terasa licin di tangan. Hal tersebut dapat mengurangi kenyamanan penyadap saat melakukan aktivitas penyadapan. Pemilihan material gagang pisau sadap juga berpengaruh signifikan terhadap berat total pisau sadap. Berat pisau sadap yang terlalu ringan atau berat dapat mengakibatkan irisan mengambang ataupun menebal pada proses penyadapan.
Gambar 2. Pengamatan visual sampel pisau sadap
Hasil pengukuran geometri dan berat pisau sadap disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel tersebut, berat sampel pisau sadap manual berada antara 120-280 gram. Menurut Wibowo (2018) berat pisau sadap ideal adalah sekitar 120-190 gram, sehingga sampel no. 3, 5, 6, 7, dan 8 memiliki berat di atas kriteria tersebut.
Penggunaan material besi pada gagang pisau berpengaruh besar terhadap penambahan berat total pisau sadap. Hal itu dapat diamati pada sampel Bandung (Besar), Kampar (Kecil), Kampar (Sedang), Kampar (Besar), dan Koto Baru yang semua gagangnya terbuat dari besi
atau pipa besi. Berat total sampel pisau sadap dengan gagang besi berada antara 220-280 gram.
Oleh karena itu, penggunaan material kayu lebih disarankan untuk gagang pisau sadap karet.
Variasi dimensi pisau sadap karet ditunjukkan pada pengukuran panjang total yang berkisar antara 220-370 mm dengan nilai rata- rata panjang total 290,78 mm. Beragamnya panjang pisau sadap tersebut disebabkan oleh kebutuhan tenaga penyadap saat proses penyadapan yang beragam, sesuai dengan tinggi panel sadap dan tinggi postur penyadap.
Pengukuran dimensi ketebalan bilah pisau sadap pada sampel berada di rentang 2,79-4,08 mm.
Ketebalan bilah pisau sadap tersebut sudah sesuai dengan kriteria minimal ketebalan 2 mm yang bertujuan untuk mengatasi munculnya vibrasi atau getaran saat proses penyadapan.
Sudut yang dibentuk pada pisau sadap karet manual diperlihatkan pada Gambar 3.
Berdasarkan Tabel 2, besaran sudut bukaan mata pisau sadap (paritan) berada di rentang 42°-56°
dengan rata-rata 50°. Jika mengacu pada kriteria besaran sudut paritan, maka besar sudut mata pisau yang membentuk alur/ paritan sadap adalah sekitar 45-50 derajat untuk tanaman yang baru buka sadap dan 60 derajat untuk tanaman
muda (Wibowo 2018). Sehingga, secara umum besar sudut paritan pada sampel pisau sadap karet sudah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Besar sudut paritan yang sesuai akan
menghasilkan produksi getah karet yang optimal.
Material dan Nilai Kekerasan
Hasil pengujian sifat mekanik dengan pengujian kekerasan vickers dan pengujian komposisi kimia ditunjukkan pada Tabel 3. Jika diamati dari hasil uji komposisi unsur karbon pada masing-masing sampel pisau sadap tersebut, persentase komposisi unsur karbon berada di rentang komposisi baja karbon menengah karena berada di antara 0,3% dan 0,8% unsur karbon (ASM Handbook 1990). Menurut Pujiyulianto et al. (2018) persentase komposisi unsur karbon berbanding lurus dengan tingkat ketahanan aus dan nilai kekerasan material. Nilai kekerasan yang lebih tinggi dapat meningkatkan umur pakai bilah pisau sadap (Doloksaribu dan Afrilinda 2014).
Gambar 3. Sudut pada pisau sadap karet manual: a. Sudut paritan, b. Sudut ujung pisau terhadap garis horizontal
Tabel 1. Geometri dan berat sampel pisau sadap karet manual
No. Nama Sampel
Berat Total (gram)
Material Gagang
Panjang Total (mm)
Lebar Total (mm)
Panjang Gagang (mm)
Lebar Gagang
(mm)
Lebar Bilah Pisau
(mm)
Tebal Bilah Pisau (mm)
Sudut Paritan
Sudut Ujung Pisau terhadap
Garis Horizontal 1 Pangkalan 180 kayu 309,28 63,00 180,80 26,71 22,44 4,08 42,25° 11,40°
2 Bandung (Sedang) 120 kayu 276,84 61,82 177,64 30,49 25,29 2,79 52,62° 14,42°
3 Bandung (Besar) 220 pipa besi 370,08 66,36 199,50 24,92 26,00 3,23 51,55° 28,50°
4 Klaten 140 kayu 268,31 60,07 147,16 28,97 23,92 3,32 46,61° 16,24°
5 Kampar (Kecil) 280 pipa besi 271,32 67,89 105,26 27,74 31,45 4,08 53,99° 9,18°
6 Kampar (Sedang) 220 pipa besi 296,93 66,18 123,49 21,24 29,72 3,09 53,36° 18,07°
7 Kampar (Besar) 260 pipa besi 312,66 78,47 125,60 20,91 31,08 3,73 55,98° 12,05°
8 Koto Baru 220 besi 220,80 64,37 116,66 20,53 20,85 3,64 47,07° 21,14°
Nilai Minimal 120 220,80 60,07 105,26 20,53 20,85 2,79 42,25° 9,18°
Nilai Maksimal 280 370,08 78,47 199,50 30,49 31,45 4,08 55,98° 28,50°
Rata-rata 205 290,78 66,02 147,01 25,19 26,34 3,50 50,49° 16,38°
Tabel 4. Nilai kekerasan dan komposisi kimia
Nilai kekerasan pada material baja karbon secara umum dipengaruhi oleh komposisi unsur karbon, mangan, dan kromium. Jika ditinjau pada Tabel 5, besaran nilai kekerasan sebanding dengan persentase unsur mangan pada material tersebut. Hal tersebut dikarenakan adanya komposisi unsur mangan minimal 0,6% yang dapat meningkatkan nilai kekerasan secara signifikan (Yafi 2016). Standar komposisi unsur paduan mangan untuk baja karbon menengah berada di antara 0,6-1,65% (ASM Handbook 1990). Persentase unsur karbon juga berperan penting terhadap peningkatan nilai kekerasan.
Hal itu bisa dilihat dari nilai kekerasan pada sampel No. 3. Walaupun persentase unsur mangan cukup tinggi, tetapi karena unsur karbonnya lebih rendah menyebabkan besaran nilai kekerasan yang lebih rendah. Komposisi unsur karbon dan mangan secara bersamaan berpengaruh terhadap peningkatan nilai kekerasan pada material pisau sadap karet.
Komposisi unsur silikon, sulfur, dan kromium tidak terlalu berpengaruh terhadap perbedaan nilai kekerasan pada 8 sampel pisau sadap. Tabel 6 menunjukkan bahwa persentase unsur silikon pada tiap-tiap sampel berada di kisaran 0,2%. Persentase unsur silikon yang hampir sama tersebut tidak berdampak terhadap perbedaan nilai kekerasan. Sedangkan komposisi unsur kromium pada masing-masing sampel pisau sadap menunjukkan hasil <1%.
Persentase unsur kromium tersebut belum mencapai batas minimal sekitar 2,5% agar dapat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan nilai kekerasan (Yafi 2016). Kehadiran sulfur pada material baja karbon merupakan unsur pengotor yang harus dikondisikan seminimal mungkin, yaitu: <0,05% (ASM Handbook 1990).
Hasil uji spektrometer menunjukkan bahwa kandungan unsur sulfur pada sampel pisau sadap karet berada di bawah 0,05%, sehingga masih berada dalam batas yang diizinkan.
Perbandingan nilai kekerasan masing- masing sampel pisau sadap karet digambarkan
pada Gambar 4. Pengujian kekerasan menunjukkan nilai kekerasan pada sampel pisau sadap berada pada rentang 550-639 HV, kecuali pada sampel No. 1, 2, dan 3 yang berada di antara 348-427 HV. Nilai kekerasan yang lebih rendah pada sampel Pangkalan, Bandung (Sedang) dan Bandung (Besar) disebabkan oleh komposisi unsur karbon atau mangan yang lebih rendah dibandingkan dengan komposisi unsur pada sampel pisau sadap yang lain. Nilai kekerasan antara 500-600 HV merupakan rentang nilai yang sesuai untuk bilah pisau sadap karet yang mana dengan nilai kekerasan yang cukup, maka material bilah pisau sadap akan memiliki tingkat ketahanan aus yang baik (S.
2018; Huang et al. 2011). Bhakat et al. (2004) dalam penelitiannya memaparkan bahwa peningkatan nilai kekerasan pada material baja karbon menengah dan tinggi memiliki korelasi terhadap peningkatan nilai ketahanan aus.
Keausan mata pisau sadap karet akan berpengaruh terhadap konsumsi kulit pohon karet yang secara normal baku tebal kulit yang diiris sekali menyadap tidak lebih dari 1,5 mm (Suhendry, Wijaya, dan Sayurandi 2018).
Gambar 4. Perbandingan nilai kekerasan KESIMPULAN
Studi karakteristik yang telah dilakukan pada sampel pisau sadap karet manual menunjukkan hasil yang bervariasi. Hasil pengamatan geometri menunjukkan panjang total pisau sadap yang beragam antara 220-370 mm, serta sudut bukaan mata pisau sadap antara 42°-56°. Perbedaan geometri tersebut dikarenakan kebutuhan yang beragam pada saat proses penyadapan. Berat pisau sadap juga bervariasi antara 120-280 gram dengan material gagang yang terbuat dari kayu dan besi. Berat sampel dengan material gagang kayu antara 120- 180 gram, sedangkan berat sampel pisau sadap dengan material gagang besi antara 220-280 gram. Penggunaan material gagang kayu lebih disarankan karena dapat mengurangi berat total
C Si Mn S Cr
1 Pangkalan 0,306 0,225 0,523 0,033 0,165 348 2 Bandung (Sedang) 0,758 0,196 0,528 0,006 0,277 379 3 Bandung (Besar) 0,401 0,223 0,841 0,004 0,851 427 4 Klaten 0,710 0,176 0,705 0,002 0,157 550 5 Kampar (Kecil) 0,492 0,243 0,752 0,006 0,762 620 6 Kampar (Sedang) 0,563 0,212 0,826 0,006 0,833 609 7 Kampar (Besar) 0,543 0,197 0,752 0,008 0,774 622 8 Koto Baru 0,529 0,206 0,739 0,006 0,908 639
No. Komposisi Unsur Nilai
Kekerasan Nama Sampel
pisau sadap secara signifikan, serta lebih nyaman saat dipakai untuk menyadap tanaman karet.
Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan bahwa material sampel bilah pisau sadap karet manual adalah baja karbon menengah dengan unsur paduan mangan pada kisaran 0,5-0,8%.
Nilai kekerasan bilah pisau sadap berada pada kisaran 348-639 HV. Namun, untuk kebutuhan pemakaian bilah pisau sadap karet nilai kekerasan sebaiknya pada kisaran 500-600 HV.
Berdasarkan hasil studi ini, dapat disimpulkan bahwa kualitas sampel pisau sadap karet manual produksi IKM di Indonesia cukup beragam.
Beberapa acuan yang dapat dijadikan indikator kualitas pisau sadap karet manual, yaitu:
geometri pisau sadap terutama panjang total dan sudut bukaan mata pahat, berat pisau sadap, material bilah pisau sadap, serta nilai kekerasan bilah pisau sadap. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan rujukan dalam merumuskan standar pisau sadap karet di Indonesia.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Deni Cahyadi, Robby Debriand Rumbara, dan Moch. Iqbal Zaelana Muttahar yang telah berkenan untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Afiq, M. M., dan A. R. Azura. 2013. “Effect of sago starch loadings on soil decomposition of Natural Rubber Latex (NRL) composite films mechanical properties.” International Biodeterioration and Biodegradation 85:
139–49.
https://doi.org/10.1016/j.ibiod.2013.06.0 16.
Andriyanto, Mochlisin, dan Radite Tistama.
2014. “Perkembangan dan Upaya Pengendalian Kering Alur Sadap (Kas) pada Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis).”
Warta Perkaretan 33 (2): 89–102.
https://doi.org/10.22302/PPK.WP.V33I2.
54.
ASM Handbook. 1990. Properties and Selection: Irons, Steels, and High- Performance Alloys. Materials Park, OH:
ASM International.
Bhakat, A. K., A. K. Mishra, N. S. Mishra, dan S. Jha. 2004. “Metallurgical life cycle assessment through prediction of wear for agricultural grade steel.” Wear 257 (3–4):
338–46.
https://doi.org/10.1016/j.wear.2004.01.00 3.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2021. “Luas Areal Kelapa Menurut Provinsi di Indonesia (2017-2021).”
Doloksaribu, Martin, dan Eva Afrilinda. 2014.
“Peningkatan Kualitas Dodos dengan Variasi Temperatur Austenisasi dan Media Quenching.” Metal Indonesia 36 (1): 1–7.
Huang, Hui, Ming Li, Zhende Cui, dan Jin Zhang. 2011. “Several measures to improve the mechanical properties of hand-pushing tapping knife.” Advanced Materials Research 287–290: 1424–27.
https://doi.org/10.4028/www.scientific.ne t/AMR.287-290.1424.
Jamilah, Sina, Gugum Gumilar, dan Dewi Amalia. 2019. “Analisis Kualitas Sekop Dari Hasil Produksi Industri Kecil Dan Menengah (IKM) Di Indonesia.” Metal
Indonesia 41 (2): 62.
https://doi.org/10.32423/jmi.2019.v41.64 -70.
Pujiyulianto, Eko, Sri Bimo Pratomo, dan Pawawoi. 2018. “Pengaruh Karbon terhadap Perubahan Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Baja Mangan Austenitik.”
Metal Indonesia 40 (1): 17–25.
Purbaya, Mili, Tuti Indah Sari, Chessa Ayu Saputri, dan Mutia Tama Fajriaty. 2011.
“Pengaruh Beberapa Jenis Bahan Penggumpal Lateks dan Hubungannya dengan Susut Bobot, Kadar Karet Kering dan Plastisitas.” In Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3, 351–57.
Palembang.
Riawan, Agus, Eri Sayamar, dan Kausar. 2015.
“Analisis Kearifan Lokal Tanaman Karet di Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi.” Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Pertanian 2 (1).
S., Aswathy M. 2018. “Development and Performance Evaluation of a Rubber Tapping Machine.” Kelappaji College of Agricultural Engineering and Technology, Tavanur.
Suhendry, Irwan, Andi Wijaya, dan Sayurandi Sayurandi. 2018. “Penggunaan Pisau Sadap Bi-Cut untuk menunjang Efektivitas dan Efisiensi pada Perkebunan Karet.” Warta Perkaretan 37 (2): 87–96.
https://doi.org/10.22302/ppk.wp.v37i2.57
6.
Susanto, Herdi, dan Hanif. 2017. “Rancang Bangun Alat Bantu Sadap Karet Dengan Pengaturan Kedalaman, Ketebalan dan Kemiringan Sudut Sadap” 1 (1): 1–9.
Wibowo, Suhermanto Agung. 2018. “Disain Pisau Sadap Manual untuk Mengoptimalkan Produksi Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis).” Jurnal Penelitian Karet 35 (2): 179–88.
https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v35i2.4 00.
Widyasari, Titik. 2016. “Karakterisasi Sosial Ekonomi dan Respon Masyarakat
terhadap Pengembangan Karet di Hutan Produksi Jawa Barat.” Jurnal Penelitian
Karet 34 (1): 89–106.
https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v34i1.2 34.
Yafi, Ali. 2016. “Pengaruh Kadar Kromium (Cr) terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro Baja Paduan Fe-Cr-Mn melalui Proses Peleburan.” Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.