• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MALPRAKTEK YANG MENGAKIBATKAN CACAT PERMANEN DAN PENGATURAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II MALPRAKTEK YANG MENGAKIBATKAN CACAT PERMANEN DAN PENGATURAN DI INDONESIA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

14

BAB II

MALPRAKTEK YANG MENGAKIBATKAN CACAT PERMANEN DAN PENGATURAN DI INDONESIA

1. Teori Tentang Malpraktek

Pengertian malpraktek menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah praktek dokter yang salah atau tidak tepat, menyalahi undang-undang atau pun juga kode etik kedokteran. Malpraktek kedokteran ialah sebuah masalah yang menyebabkan banyak sekali penafsiran yang berbeda, malpraktek menurut dokter, malpraktek artinya risiko medik, sedangkan menurut pasien atau korban adalah tindakan malpraktek kedokteran yang menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh atau rusaknya organ tubuh bahkan hingga menyebabkan kematian.1 Kemudian pengertian malpraktek secara medis yaitu kelalaian atau tindakan seorang dokter atau tenaga medis yang melakukan penanganan di bawah standar pelayanan medik.2 Malpraktek menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu malpraktek etik dan malpraktek yuridis:

Malpraktek etik adalah tenaga kesehatan yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan etika profesinya. Yang dimaksud dengan etik kedokteran ini memiliki dua sisi yang saling mempengaruhi, yaitu etik jabatan atau medical ethics, yang menyangkut masalah yang berhubungan dengan sikap para dokter terhadap

1 Indra Yudha Koswara, Malpraktik Kedokteran Perspektif Dokter dan Pasien Kajian Hukum dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Cetakan I, DEEPUBLISH, Yogyakarta, 2020, hal., 233.

2 Mudakir Iskandar Syah, Tuntutan Hukum Malapraktik Medis-Apa saja yang termasuk kategori malapraktik? Dan apa sanksi hukumnya?, Cetakan I, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2019, hal., 1-2.

(2)

15

sejawatnya, sikap dokter terhadap masyarakat. Sedangkan etik asuhan atau ethics of the medical care, merupakan etik kedokteran terkait dengan sikap, tindakan

dokter terhadap pasien. Pelanggaran terhadap kode etik kedokteran dikenal dengan istilah pelanggaran etikologal. Bentuk pelanggarannya sebagai berikut:3

a. Pelanggaran etik murni: 1. Menarik imbalan atau jasa yang tidak wajar dari keluarga sejawat dokter dan dokter gigi; 2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya (melanggar Pasal 19 Kodeki); 3. Memuji diri sendiri di hadapan pasien (melanggar Pasal 4 Kodeki).

b. Pelanggaran etikolegal antara lain: 1.) Pelayanan dokter di bawah standar; 2.) Menerbitkan surat keterangan yang tidak benar ada atau tidaknya penyakit pasien (melanggar Pasal 7 Kodeki sekaligus Pasal 267 KUHP); 3.) Membuka rahasia jabatan atau profesi dokter (melanggar Pasal 16 Kodeki dan Pasal 322 KUHP); 4. Tidak pernah mengikuti pendidikan atau pun pelatihan dalam memperkembangkan ilmu pengetahuan maupun teknologi; 5. Abortus provokatus;

6. Pelecehan seksual; 7. Tidak mau melakukan pertolongan darurat kepada penderita (melanggar Pasal 17 Kodeki dan Pasal 304 KUHP).

Sedangkan Malpraktek Yuridis, menurut Soedjatmiko, ia membedakan malpraktek yuridis dalam 3 bentuk yaitu: 4

Malpraktek Perdata (Civil Malpractice), Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice) dan malpraktek administrasi. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)

3 Riska Andi Fitriono, dkk., Penegakan Hukum Malpraktik Melalui Pendekatan Mediasi Penal, Yustisia, Vol., 5, No., 1, Januari-April 2016, hal., 89-90.

4 I Nyoman Agus Adi Priantara, dkk., Pertanggung Jawaban Pidana Rumah Sakit Bagi Dokter atau Tenaga Kesehatannya Melakukan Malpraktik, Jurnal Kertha Wicara, Vol., 9, No., 12, Tahun 2020, hal., 1-12.

(3)

16

terjadi apabila terdapat hal-hal seperti tidak dipenuhinya isi perjanjian (wanprestasi) di dalam transaksi theurapeutik (menentukan atau mencari terapi/pengobatan yang lebih cepat) oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) sehingga menimbulkan kerugian bagi pasien. Sedangkan bagi pasien untuk menuntut pergantian kerugian karena kelalaian seorang dokter maka pasien harus dapat membuktikannya dengan unsur- unsur berikut: adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien; dokter telah melanggar pelayanan medis yang telah digunakan; penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti kerugiannya; tindakan tersebut dapat disebabkan oleh tindakan di bawah standar pelayanan.

Standar pelayanan dalam profesi kedokteran, yaitu:5 a. Berbuat secara teliti atau seksama, artinya seorang dokter harus teliti dan cermat dalam melakukan penanganan; b. Sesuai standar medik, artinya tindakan seorang dokter atau tenaga medis harus mengikuti standar yang sesuai, misalnya dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan ilmu medik dan pengalamannya; c. Kemampuan rata-rata dibanding kategori keahlian yang sama. Seorang dokter dalam melakukan penanganan atau tindakan pengobatan harus memiliki kemampuan atau keahlian yang dimilikinya; c. Situasi dan kondisi yang sama. Dalam hal ini situasi dan kondisi seorang dokter dalam melakukan pengobatan harus sama, misalnya situasi dan kondisi di puskemas, berbeda dengan situasi dan kondisi penanganan yang ada di rumah sakit besar di perkotaan; d. Sarana upaya yang sebanding atau proporsional, seorang dokter harus menjaga keseimbangan antara tindakan-

5 M. Nurdin, Perlindungan Hukum Terhadap Pasien Atas Korban Malpraktek Kedokteran, Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Vol., 1, No., 1, Januari-Juni 2015, hal., 101.

(4)

17

tindakannya dalam penanganan serta tujuan yang ingin dicapai dari tindakannya tersebut; e. Dengan tujuan konkrit tindakan atau perbuatan medik, artinya tujuan konkrit dari tindakan atau perbuatan medik tersebut ialah kepentingan yang baik bagi kondisi pasien.

Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice) terjadi apabila pasien mengalami cacat atau meninggal dunia akibat tindakan dokter atau tenaga kesehatan yang kurang berhati-hati dalam penanganan, malpraktek pidana dapat terjadi karena:

a. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional), misalnya pada kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis, euthanasia (mengakhiri hidup seseorang secara sengaja), membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan pertolongan darurat pada pasien/penderita padahal diketahui bahwa tidak ada orang lain yang dapat menolong, dan memberikan surat keterangan dokter yang palsu.

b. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness) misalnya melakukan tindakan atau penanganan terhadap pasien dengan tidak sesuai pada standar profesi serta melakukan tindakan tanpa disertai persetujuan tindakan medis.

c. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi jika seorang pasien mengalami cacat atau kematian yang diakibatkan karena tindakan tenaga medis yang kurang hati-hati atau alpa misalnya dengan tertinggalnya alat operasi didalam rongga tubuh pasien saat penanganan.

Sedangkan Malpraktek Administrasi (Administrative Malpractice), dapat terjadi jika dokter atau tenaga medis lain melanggar pelanggaran yang ada di dalam hukum administrasi negara yang berlaku, misalnya menjalankan praktek dokter tanpa lisensi atau ijin praktek, melakukan tindakan atau perbuatan yang tidak sesuai

(5)

18

dengan lisensi atau ijin prakteknya, menjalankan praktek dengan izin yang sudah daluarsa atau sudah tidak berlaku, dan menjalankan praktek tanpa membuat catatan medis.

2. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Malpraktek

Seorang dokter dalam melaksanakan tugasnya pasti selalu berhubungan dengan tubuh dan nyawa pasiennya. Oleh sebab itu terdapat kemungkinan jika nyawa pasiennya tidak dapat diselamatkan atau kemungkinan lainnya adalah dapat mengalami luka berat, atau cacat.6 Dalam keadaan seperti ini, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan malpraktek, yaitu: a. Faktor ketahanan tubuh dan jiwa pasien b. Faktor adanya unsur kesalahan pada tindakan/penanganan seorang dokter.

Dalam hal ini, malpraktek terjadi dalam hal: kesalahan dalam praktek dokter yang dilakukan tidak tepat; terjadi karena menyalahi undang-undang; termasuk juga tindakan dokter yang melakukan pelanggaran pada kode etik.7

Pada Pasal 51 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran terdapat 5 kewajiban yang apabila dilanggar dapat menjadi suatu faktor penyebab kelalaian yang mengakibatkan malpraktik kedokteran: 1. Tidak memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, dan kebutuhan pasien. 2. Tidak memenuhi kewajiban merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan penanganan atau pemeriksaaan. 3. Tidak merahasiakan segala sesuatu tentang pasien bahkan setelah pasien itu meninggal dunia. 4. Tidak

6 M. Nurdin, Perlindungan Hukum Terhadap Pasien Atas Korban Malpraktek Kedokteran, Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Vol., 1, No., 1, Januari-Juni 2015, hal., 103.

7 Ibid., hal., 104.

(6)

19

melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. kecuali jika ada orang lain yang mampu menangani. 5. Tidak menambah ilmu pengetahuan dan tidak menambah perkembangan ilmu kedokteran.

3. Teori Malpraktek Yang Mengakibatkan Cacat Permanen

Cacat atau tidak berfungsinya sebagian dari anggota tubuh seseorang yang menderita akibat kelalaian ataupun kesalahan tenaga medis dalam bekerja. Cacat ini terdiri dari: a. Cacat tetap (permanen), yaitu peristiwa atau kondisi yang mengakibatkan penderitanya mengalami pembatasan atau gangguan fisik atau mental yang bersifat tetap. b. Cacat Sementara, yaitu kondisi yang mengakibatkan penderitanya menjadi tidak mampu bekerja atau melakukan sesuatu untuk sementara waktu, cacat sementara juga merupakan cacat yang dapat disembuhkan.

Jika merujuk pada undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional, terdapat 2 (dua) istilah cacat, yaitu cacat dan cacat total tetap. Cacat merupakan keadaan berkurangnya atau hilangnya fungsi tubuh atau hilangnya anggota badan yang secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan berkurang atau hilangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaannya.

Sementara, yang dimaksud cacat total tetap adalah cacat yang mengakibatkan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan, ketidakmampuan bekerja secara tetap atau total, dapat mengakibatkan timbulnya risiko ekonomis bagi penderitanya.8

8 Pamungkas Satya Putra, Aksesibilitas Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas Di Kabupaten Karawang, Mimbar Hukum, Vol., 31, No., 2, Juni 2019, hal., 210.

(7)

20

4. Aturan Hukum Serta Kode Etik Yang Mengatur Tentang Malpraktek Yang Mengakibatkan Cacat Permanen

Berikut ini merupakan aturan hukum serta kode etik yang mengatur tentang malpraktek diantaranya: 1.) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan: di dalam undang-undang nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menjelaskan ketentuan-ketentuan tentang kelalaian dalam menjalankan profesi.

Pada Pasal 29 “dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.” Pasal 58 ayat (1) “setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian (termasuk juga pembocoran rahasia kedokteran) akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.” Jika dalam penanganan, seorang tenaga kesehatan dengan sengaja tidak memberikan pertolongan kepada pasien dan mengakibatkan timbulnya kecacatan atau kematian maka pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah);

Dalam hal ini aturan yang terdapat dalam pasal 58 ayat (1) hanya menyebutkan bahwa jika dalam penangan seorang tenaga kesehatan dengan sengaja tidak memberikan pertolongan kepada pasien dan mengakibatkan timbulnya kecacatan, aturan ini juga tidak memberikan pengertian akan kecacatan secara permanen atau cacat sementara, sehingga penulis beranggapan bahwa aturan pada undang-undang ini belum bisa dipastikan menjadi aturan yang dapat mengatur

(8)

21

tentang kecacatan secara permanen; 2.) Kode etik kedokteran: di dalam kode etik kedokteran tidak menjelaskan malpraktek yang mengakibatkan kecacatan permanen, karena di dalam kode etik kedokteran ini lebih menjelaskan mengenai pedoman pelaksanaan akan profesi seorang dokter dalam bertindak atau pun dalam menangani seorang pasien, seperti pada Pasal 5 ayat (3) “dalam rangka menimbulkan dan/atau menjaga rasa percaya diri pasien, dokter seyogyanya dilarang berbohong kepada pasiennya yang menderita penyakit berat/parah, kecacatan atau gangguan kualitas hidup tetapi boleh menahan sebagian informasi yang dapat melemahkan psikis pasien dan/atau fisiknya.” Pasal 7 “seorang dokter wajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.”

Surat keterangan dokter ini berupa surat keterangan sakit atau sehat (fisik dan mental); surat keterangan kelahiran atau kematian; surat keterangan cacat (disabilitas); surat keterangan gangguan jiwa/demensia; surat keterangan untuk asuransi jiwa, untuk perkawinan, bepergian keluar negeri, telah imunisasi; surat keterangan pengidap (untuk rehabilitas) atau bebas narkotika/psikotropika; visum et repertum.: 3.) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga

Kesehatan: Ketentuan di dalam undang-undang nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan tidak mengatur tentang malpraktek yang berakibat cacat permanen, di dalam Pasal 77 hanya menjelaskan “setiap penerima pelayanan kesehatan yang dirugikan akibat kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dapat meminta ganti rugi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Pasal 78 “dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan

(9)

22

profesinya yang menyebabkan kerugian kepada penerima pelayanan kesehatan, perselisihan yang timbul akibat kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Sehingga berdasarkan ketentuan pasal tersebut, hanya menjelaskan kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan yang dapat dimintai ganti kerugian;

4.) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran: Undang- undang ini hanya menjelaskan jika setiap orang yang dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Displin Kedokteran Indonesia, ketentuan ini terdapat di Pasal 66 ayat (1) “setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada ketua majelis kehormatan displin kedokteran Indonesia.”;

selain itu pasien yang menderita cacat permanen akibat malpraktek bisa melakukan upaya hukum seperti: 1.) pelaporan kepada kepolisian, 2.) dapat mengajukan gugatan perdata, 3.) dan dapat mengajukan secara tertulis kepada ketua majelis kehormatan displin kedokteran Indonesia, yang dimana pengajuan secara tertulis kepada ketua majelis kehormatan ini dalam praktek jarang dilakukan.

5.) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP): Pasal 360 KUHP memberikan penjelasan terkait dengan kelalaian (kealpaan) seseorang yang dapat menyebabkan orang lain mengalami luka yang mengakibatkan kerugian bagi tubuh orang lain. Pasal 360 ayat (1) menyebutkan bahwa “barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat,

(10)

23

diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.” Pasal 360 ayat (2) “barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.”; 6.) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata):

Ketentuan tentang malpraktek yang dapat mengakibatkan cacat permanen juga diatur di dalam kitab undang-undang hukum perdata, tetapi di dalam KUHPerdata ini tidak menjelaskan malpraktek yang mengakibatkan cacat permnen hanya menjelaskan tentang perbuatan melanggar hukum akibat kelalaian, barang siapa yang melakukan kelalaian atas perbuatannya maka ia harus bertanggung jawab akan perbuatannya.

Penjelasan ini terdapat pada Pasal 1365 yang menjelaskan bahwa “tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian bagi orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.” Pasal 1366 menjelaskan “setiap orang bertanggung jawab, bukan hanya atas kerugian yang disebabkan kelalaian atau kesembronoannya.”

5. Analisis Malpraktek Yang Mengakibatkan Cacat Permanen

Malpraktek yang menyebabkan cacat permanen merupakan kesalahan, kegagalan atau kelalaian tenaga medis dalam menggunakan ketrampilannya yang dapat menyebabkan pasien mengalami luka, cedera, cacat maupun hingga

(11)

24

kematian. Merujuk pada ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Undang- Undang tentang kesehatan, kode etik kedokteran, tenaga kesehatan, praktek kedokteran, maupun dalam kitab undang-undang hukum pidana ataupun perdata tidak ditemukan aturan tentang malpraktek yang menyebabkan cacat permanen hanya aturan mengenai malpraktek atau kelalaian seorang tenaga medis dalam melakukan penanganan.

Seorang tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien memiliki batasan dalam memberikan penanganan, sehingga seorang dokter diperbolehkan untuk mengambil tindakan medis yang bukan kewenangan kompetensinya, namun seorang dokter harus terlebih dulu wajib memiliki STR dan SIP sebagaimana diatur dalam Pasal 29, Pasal 36 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, dokter tidak diperbolehkan mengambil tindakan medis yang bukan kompetensinya selama tidak memiliki sertifikat kompetensi atas pengakuan apa yang diperbolehnya pada masa proses Pendidikan serta mendapatkan pelatihan tambahan untuk mendapatkan kompetensi tersebut, serta melakukan proses rujukan apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien. Proses penyelesaian di lakukan terlebih dahulu ke MDKI untuk menentukan pelanggaran disiplin ilmu kedokteran dan meneruskan ke MKEK untuk menentukan pelanggaran etik dan pemberian sanksi etik, Pasal 29 Undang- undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Kesehatan, memberikan alternatif penyelesaian mediasi, dan apabila diduga melakukan tindak pidana diteruskan kepihak yang berwenang, termuat di Pasal 66 ayat (3) Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.

(12)

25

Malpraktek yang disebabkan oleh tenaga kesehatan karena kurang berhati- hati dalam penanganan dapat menyebabkan kecacatan bahkan hingga kematian bagi pasien. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Cacat, dalam Pasal 1 ayat (1) memberi pengertian bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam waktu yang lama sehingga dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar mengalami hambatan dan kesulitan untuk berperan penuh dan efektif kepada warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak setiap orang.

Menurut Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjabarkan berbagai jenis penyandang disabilitas meliputi: Penyandang disabilitas fisik:

terganggunya fungsi gerak misalnya amputasi, lumpuh layuh atau kaku;

penyandang disabilitas intelektual: terganggunya fungsi berpikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata; penyandang disabilitas mental: terganggunya fungsi berpikir, emosi, dan perilaku, penyandang disabilitas mental ini dibagi menjadi dua yaitu psikososial misalnya bipolar, depresi, dan yang kedua adalah disabilitas misalnya kemampuan interaksi sosial yang hiperaktif; dan/atau penyandang disabilitas sensorik: terganggunya salah satu fungsi dari panca indera.

Secara umum terdapat istilah yang dapat merujuk pada penyebutan orang terhadap disabilitas yaitu: 1.) (ber) cacat; Kata cacat sebagai kata benda, jika dilihat pada KBBI, cacat memiliki banyak arti, yaitu kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutu yang kurang baik atau kurang sempurna (misalnya yang ada pada badan, benda, jiwa atau akhlak); lecet (kerusakan, noda) yang menyebabkan keadaannya menjadi kurang baik (kurang sempurna); cela; aib; tidak atau kurang sempurna.

(13)

26

Sedangkan kata bercacat adalah kata kerja, yang artinya: terdapat kekurangan; ada cacatnya; kurang lengkap; maupun tidak sempurna; 2.) Orang yang dalam kekurangan jasmani atau rohaninya; 3.) Orang yang memiliki gangguan atau hilangnya kemampuan untuk mempertahankan hidupnya; 4.) Tuna; kata “tuna”

berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti rusak atau rugi. Namun kata ini tidak digunakan untuk istilah seperti halnya kata cacat. Istilah ‘tuna’ yang berarti kurangnya suatu fungsi organ tubuh yang dialami oleh seseorang, yaitu: a) Tunadaksa: orang yang memiliki cacat tubuh; b) Tunagrahita: orang yang mengalami cacat pikiran, lemah daya tangkap, keterbelakangan mental; c) Tunalaras: orang yang sulit mengendalikan emosi; d) Tunanetra: orang yang tidak bisa melihat atau buta; e) Tunarungu: orang yang tidak bisa mendengar atau tuli; f) Tunawicara: orang yang tidak dapat berbicara atau bisu; 5.) Penderita Cacat; 6.) Penyandang Kelainan; 7.) Anak berkebutuhan khusus (anak luar biasa). Ada tiga faktor yang dapat diidentifikasi tentang sebab timbulnya anak yang berkebutuhan khusus yaitu: 1) Faktor internal pada diri anak, 2) Faktor ekternal dari lingkungan, 3) adanya faktor dari internal dan eksternal; 8.) Penyandang cacat; 9.) Difabel atau singkatan dari differently abled people, difabled; 10.) Penyandang disabilitas.

Malpraktek yang dilakukan oleh seorang tenaga medis merupakan kelalaian yang dapat merugikan pasiennya, disamping itu tenaga medis harus mengganti kerugian yang ditimbulkan, karena kaitannya dengan tanggung jawab seorang dokter dalam memberikan penanganan kepada pasiennya. Tanggung jawab muncul dari adanya aturan hukum yang memberikan kewajiban kepada subyek hukum dengan ancaman sanksi apabila kewajiban tersebut tidak dapat dilaksanakan.

(14)

27

Dengan demikian tanggung jawab dapat juga dikatakan sebagai tanggung jawab hukum, karena muncul dari aturan hukum atau undang-undang yang dimana sanksi tersebut merupakan sanksi yang ditetapkan oleh undang-undang, oleh karena itu perbuatan yang dilakukan subyek hukum yang dapat menimbulkan tanggung jawab merupakan tanggung jawab hukum. Konsep kewajiban hukum juga berkaitan dengan konsep tanggung jawab hukum, sehingga subyek hukum dalam kewajiban hukum dan tanggung jawab hukum adalah sama. Karena secara hukum seseorang bertanggung jawab atas perbuatan tertentu dan dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran atau kasus yang dilakukan. Terhadap sanksi tersebut seseorang harus bertanggung jawab.

Tanggung jawab hukum pada hukum perdata dilihat dari dua teori yaitu teori yang dapat menjadi sumber dari perbuatan malpraktek yaitu pelanggaran kontrak (wanprestasi) dan teori perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad).

Wanprestasi adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak memenuhi kewajibannya yang didasarkan pada suatu perjanjian atau kontrak. Pada dasarnya pertanggung jawaban perdata itu bertujuan untuk memperoleh ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh pasien akibat adanya wanprestasi dari tindakan dokter.9 Wanprestasi dalam suatu perjanjian, satu pihak berhak atas suatu prestasi dan pihak lain berkewajiban berprestasi. Dimana pihak yang berhak menuntut suatu prestasi dalam hal ini bisa dokter maupun pasien. Sebaliknya dokter atau pasien bisa sebagai pihak yang berkewajiban untuk memenuhi prestasi. Dan apabila prestasi ini tidak

9 Dhimas Panji Chondro Asmoro, Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Terhadap Pasien, Maksigama, Vol., 13, No., 2, November 2019, hal., 132.

(15)

28

sesuai dengan yang diperjanjikan maka bisa menuntut untuk dipenuhinya prestasi tersebut.

Tanggung jawab dokter karena wanprestasi diatur dalam ketentuan Pasal 1239 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa: “Tiap-tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, apabila siberutang tidak memenuhi kewajibannya, mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajiban memberikan penggantian biaya, rugi dan bunga”. Dalam hal itu, tanggung jawab karena wanprestasi timbul karena dokter tidak melaksanakan kewajibannya yang bersumber dari perjanjian, yaitu perjanjian terapeutik. Wanprestasi terjadi karena tindakan dokter dalam memberikan tindakan terhadap pasien tidak sesuai dengan yang terdapat dalam perjanjian terapeutik, seperti tidak melaksanakan apa yang dijanjikan, terlambat melakukan tindakan yang dijanjikan, salah dalam melaksanakan apa yang telah diperjanjikan dan melakukan sesuatu yang dilarang dilakukan dalam perjanjian.

Sedangkan dalam perbuatan melawan hukum, dalam hal ini yang berlaku adalah Pasal 1365 KUH Perdata (pasal 1401 BW) mengenai ketentuan perbuatan melanggar hukum. Untuk dapat mengajukan gugatan berdasarkan perbuatan melanggar hukum harus dipenuhi empat syarat seperti yang disebutkan dalam Pasal 1365 KUH Perdata/1401 BW. 1) Pasien harus mengalami suatu kerugian. 2) Ada kesalahan atau kelalaian (disamping perorangan; rumah Sakit juga bisa bertanggungjawab atas kesalahan atau kelalaian pegawainya). 3) Ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan. 4) Perbuatan itu melanggar hukum. Dalam hal ini tidak hanya norma kontrak yang dilanggar tetapi juga berlawanan dengan

(16)

29

norma umum yang berlaku dalam pergaulan masyarakat bahwa manusia harus saling memperlakukan dengan hati-hati, dalam hal ini tidak boleh saling melukai dan saling merugikan. Gugatan yang didasarkan atas perbuatan melanggar hukum, tindakan/perbuatan dokter harus dapat dipersalahkan menurut hukum. Karena ukuran yang dipergunakan untuk menentukan adanya kesalahan bukan lagi ukuran orang perseorangan sebagaimana halnya si pelaku tetapi didasarkan pada penilaian dari seorang dokter yang dianggap mempunyai kemampuan sesuai akal yang sehat.10 Dengan demikian apabila seorang dokter terbukti telah melakukan wanprestasi atau perbuatan yang melanggar hukum, maka bisa dituntut membayar ganti kerugian.

Kaitannya dengan malpraktek yang dapat mengakibatkan cacat permanen, penulis mengambil contoh kasus yang dialami oleh seorang laki-laki berusia 36 tahun yang terjadi di Atambua, karena adanya malpraktek yang dilakukan oleh seorang dokter yang menyebabkan dirinya mengalami cacat permanen, sehingga ia menuntut pertanggung jawaban kepada dokter yang menanganinya. Berdasarkan kasus tersebut tindakan dokter telah mengakibatkan kerugian bagi dirinya karena perbuatan dokter yang tidak sesuai dengan kompetensinya.

Menurut Pasal 62 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai dengan kewenangan yang didasarkan pada kompetensi yang dimilikinya.

Serta pada Pasal 68 ayat (1) undang-undang kesehatan berbunyi setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan harus

10 H. Yunanto., Pertanggung Jawaban Dokter Dalam Transaksi Terapeutik, Jurnal Law Reform, Vol., 6, No., 1, April 2011, hal., 111-112.

(17)

30

mendapat persetujuan. Sedangkan pada kasus ini, dirumuskan bahwa tulang tempurung kaki kiri pasien diamputasi oleh tenaga kesehatan dan dalam melakukan operasi tulang tersebut tidak menjelaskan atau meminta persetujuan kepada korban ataupun keluarga korban. Kemudian dirinya mengajukan gugatan dan menurut pertimbangan hakim, hakim menolak akan gugatan-gugatan yang diajukan oleh korban.

Menurut analisa penulis, contoh kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus malpraktek yang dapat menyebabkan pasiennya mengalami kecacatan dari sekian banyak kasus-kasus malpraktek yang terjadi di Indonesia. Seringkali dalam kasus tentang malpraktek, sebagai korban (pasien) kurang diberikan rasa keadilan bagi pihak korban, sehingga korban ingin menuntut kerugian ataupun tanggung jawab seorang dokter yang melakukan tindakan malpraktek tersebut. Tetapi dalam undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran tidak memuat ketentuan tentang malpraktek kedokteran. Kemudian ketentuan Pasal 66 Ayat (1) undang-undang praktik kedokteran terdapat kalimat yang hanya mengatur tentang kesalahan praktik kedokteran, yakni “Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada ketua majelis kehormatan disiplin edokteran Indonesia.” Pasal ini hanya memberikan penjelasan untuk melaporkan tindakan dokter yang menyebabkan kerugian, dan bukan dasar untuk menuntut tindakan yang dilakukan dokter.

Tindakan-tindakan malpraktek yang dilakukan oleh dokter bahkan hingga menyebabkan kecacatan dan kematian banyak sekali terjadi di Indonesia, hanya

(18)

31

saja tidak diselesaikan secara hukum, karena masyarakat hanya memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai ilmu kedokteran dan juga karena belum adanya pengaturan yang lebih khusus dan jelas dari tindakan-tindakan malpraktek terutama malpraktek yang dapat menyebabkan cacat permanen seorang pasien.

Seorang dokter pun harus memiliki STR dan SIP dalam prakteknya sebagaimana diatur dalam Pasal 29, Pasal 36 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, dokter tidak diperbolehkan mengambil tindakan medis yang bukan kompetensinya selama tidak memiliki sertifikat kompetensi atas pengakuan apa yang diperbolehnya pada masa proses Pendidikan serta mendapatkan pelatihan tambahan untuk mendapatkan kompetensi tersebut, serta melakukan proses rujukan apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien.

Kode etik kedokteran Pasal 10 juga menjelaskan bahwa setiap dokter wajib bersikap tulus iklas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian penyakit tersebut. Kemudian Pasal 7a “seorang dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya.” Dalam penjelasan pasal tersebut, seorang dokter harus menangani pasien sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan bidangnya. Dalam permasalahan tentang malpraktek yang dapat menyebabkan seorang pasien mengalami cacat permanen, perlu adanya tanggung jawab seorang tenaga kesehatan dalam menangani pasien agar pasien dapat diberikan kenyamanan akan kinerja seorang tenaga kesehatan, sehingga tenaga

(19)

32

kesehatan dapat bekerja sesuai dengan kompetensinya, sesuai dengan tanggung jawabnya dan tetap memperhatikan pada kode etik seorang tenaga kesehatan, sehingga seorang tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan yang baik dan benar, karena pada Pasal 5 ayat (1) dan (2) undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan, serta setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.

Seorang tenaga medis yang melakukan malpraktek yang dapat menyebabkan kecacatan bagi seorang pasien dapat dikenai sanksi, yaitu sanksi pidana, sanksi perdata, sanksi administrasi, dan sanksi moral (hukuman psikis yang diberikan sebagai hukuman tambahan), dimana sanksi-sanksi tersebut berupa pidana penjara, ganti rugi, teguran, denda atau pembekuan izin akibat kelalaian dan pelanggaran terhadap norma dan moralitas. Terhadap sanksi administrasi umumnya dikenakan kepada pelanggaran administrasi bersifat privat yang dijatuhkan oleh aparatur atau pejabat tata usaha negara, sanksi teguran merupakan teguran secara lisan dan tertulis.11

Berikut ini merupakan malpraktek yang biasa terjadi atau dilanggar dalam pelanggaran pidana yaitu:12 1. Pasal 322 KUHP, yaitu membocorkan rahasia kedokteran yang diadukan oleh penderita; 2. Pasal 359 KUHP, yaitu karena

11 Julius Roland Lajar, dkk., Akibat Hukum Malpraktek Yang Dilakukan Oleh Tenaga Medis, Jurnal Interprestasi Hukum, Vol., 1, No., 1, Agustus 2020, hal., 10.

12 Ngurah Nandha Rama Putra, dkk, Aspek Yuridis Pertanggung Jawaban Pidana Dokter Yang Melakukan Tindakan Malpraktek Medis, https://ojs.unud.ac.id. Article, diambil pada 4 April 2022, Pukul. 10.49 WIB.

(20)

33

kesalahan menyebabkan matinya seseorang; 3. Pasal 360 KUHP, yaitu karena kesalahannya menyebabkan sesorang menjadi luka berat dan luka sedemikian rupa sehingga menjadi sakit; 4. 361 KUHP, yaitu jika kejahatan dilakukan dalam melakukan suatu jabatan atau pekerjaan; 5. Pasal 386 KUHP, memberikan atau membuat obat palsu; 6. Pasal 531 KUHP, yaitu tidak memberikan pertolongan kepada orang yang berada dalam keadaan bahaya maut.

Dan jika dalam halnya seorang dokter melakukan pelanggaran terkait halnya dengan malpraktek dapat dikenai sanksi sesuai dengan Pasal 359 dan 360 KUHP apabila korban sampai mengalami kematian atau luka berat. Pasal 359 KUHP berbunyi “barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.”

Pasal 360 KUHP ayat (1) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun. Ayat (2) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman denda setinggi-tingginya Rp. 4.500.

Pada Pasal 360 KUHP ayat (1) dan (2) memiliki tujuan untuk melindungi korban dari tindakan malpraktek, tetapi peraturan tindak pidana tentang malpraktek terutama malpraktek yang menyebabkan cacat permanen dalam KUHP belum jelas mengatur kriteria dan jenis-jenis tindakan malpraktek yang ada dalam bidang

(21)

34

kedokteran, peraturan dalam KUHP hanya mengatur lebih kepada akibat dari perbuatan malpraktek tersebut.

Malpraktek dalam pelanggaran perdata, hubungannya dengan perlakuan dokter dalam hubungannya dengan pemberian prestasi yang dapat menimbulkan kerugian keperdataan, sanksi dalam pelanggaran ini adalah ganti rugi. Pada Pasal 1365 BW menentukan bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan melawan hukum serta menimbulkan kerugian harus mengganti kerugian tersebut. Kerugian yang timbul dari perbuatan melawan hukum dapat berupa ganti rugi baik secara materi ataupun immateri atau bisa pula keduanya. Berbeda halnya dengan ganti rugi dalam gugatan wanprestasi yang hanya menuntut ganti rugi berupa materi. Adapun bentuk ganti rugi yang dikenal dalam hukum perdata, yakni:13

a. Ganti rugi umum, yaitu yang berlaku untuk semua kasus termasuk karena perbuatan melawan hukum. Adapun ketentuan ganti rugi secara umum ini oleh BW diatur dalam Pasal 1243 - Pasal 1252 BW yang dapat berupa biaya ganti rugi serta bunga.

b. Ganti rugi khusus, yaitu ganti rugi yang hanya timbul dari perikatan-perikatan tertentu.

Malpraktek dalam pelanggaran administrasi terjadi jika dokter, tenaga kesehatan atau rumah sakit melakukan praktek dengan melanggar hukum administrasi negara seperti menjalankan praktek tanpa izin, melakukan praktek atau tindakan yang tidak sesuai dengan izin yang dimilikinya, atau izin yang dimilikinya sudah kadaluarsa dan ataupun menjalankan praktek tanpa membuat catatan medis

13 I Gusti Ayu Apsari Hadi, Perbuatan Melawan Hukum Dalam Pertanggung Jawaban Dokter Terhadap Tindakan Malpraktek Medis, Jurnal Yuridis, Vol., 5, No., 1, Juni 2018, hal. 110.

(22)

35

yang jelas. Sanksi dalam pelanggaran ini dapat dicabutnya izin praktek kedokteran secara sementara atau selama-lamanya.

Berdasarkan pada hal-hal tersebut, pada penulisan ini menurut pandangan penulis, bahwa aturan yang ada yang mengatur tentang malpraktek yang mengakibatkan pasien cacat secara permanen belum cukup untuk menjadi pedoman dalam menanggulangi adanya malpraktek di Indonesia terkhusus pada malpraktek yang mengakibatkan kecacatan secara permanen, walaupun ada satu aturan yang menjelaskan bahwa jika dalam penangan seorang tenaga kesehatan dengan sengaja tidak memberikan pertolongan kepada pasien dan mengakibatkan timbulnya kecacatan, menurut penulis aturan ini juga tidak memberikan pengertian akan kecacatan secara permanen atau cacat sementara, sehingga penulis beranggapan bahwa aturan pada undang-undang ini belum bisa dipastikan menjadi aturan yang dapat mengatur tentang kecacatan secara permanen. Padahal malpraktek yang mengakibatkan kecacatan secara permanen menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan para korban malpraktek yang mengakibatkan kecacatan permanen, salah satunya kesulitan dalam menjalani kegiatannya dilingkungan sekitarnya, berbeda jika dibandingkan dengan cacat yang hanya sementara, karena cacat sementara dapat disembuhkan sedangkan cacat permanen tidak bisa disembuhkan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menda- patkan nilai dan kecenderungan nilai tangkapan per unit upaya ( trend CPUE) baku selama sepuluh tahun terakhir, serta proporsi

Dalam upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani di daerah perdesaan, kebijakan pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi (high value commodity) seperti

Dalam rangka pelaksanaan tugas sebagai Satuan Kerja Kepatuhan Terintegrasi tersebut, Divisi Risiko dan Kepatuhan berkoordinasi dengan satuan fungsi kepatuhan pada Entitas

Pada bagian ini penata memasukan motif bersautan atau saling saut (merupakan motif tanya jawab dalam musik) antara instrumen yang berbahan dari kerawang

keabsahan data. Pelaksanaan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas 15 , yaitu : melakukan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh Inflasi, Capital Adequacy Ratio (CAR) , Non Performing Financing (NPF) terhadap profitabilitas

The result of the study indicated that the most possibility of side effects of the use of risperidone was agitation (19.51 %), with the most anti-psychotic combination of

 Peserta didik diarahkan untuk memahami persilangan monohybrid dengan memberikan penjelasan bahwa yang membedakan kedua bunga tersebut adalah 1 sifat yaitu warna,