Bab VI ANALISA EKONOMI
74 BAB VI
ANALISA EKONOMI
Pada prarancangan pabrik pentaerythritol ini dilakukan evaluasi atau penilaian investasi dengan maksud untuk mengetahui apakah pabrik yang dirancang dapat menguntungkan atau tidak jika didirikan. Hal terpenting dari prarancangan ini adalah estimasi harga dari alat - alat, karena harga tersebut dipakai sebagai dasar untuk estimasi analisa ekonomi tentang kelayakan investasi modal dalam suatu kegiatan produksi suatu pabrik dengan meninjau kebutuhan modal investasi, besarnya laba yang diperoleh, lamanya modal investasi dapat dikembalikan, dan terjadinya titik impas.
Pada prarancangan pabrik pentaerythritol ini, kelayakan investasi modal dalam sebuah pabrik dapat diperkirakan dan dianalisa meliputi:
a. Profitability
b. Percent Return of Investment (ROI) c. Pay Out Time (POT)
d. Break Even Point (BEP) e. Shut Down Point (SDP) f. Discounted Cash Flow (DCF)
Untuk meninjau faktor - faktor di atas perlu dilakukan penaksiran terhadap beberapa faktor yaitu :
1. Penaksiran modal industri (Total Capital Investment), yang terdiri dari:
- Fixed Capital Investment (Modal tetap) - Working Capital (Modal Kerja)
2. Penentuan biaya produksi total (Production Costs), yang terdiri dari:
- Biaya pengeluaran (Manufacturing Costs) - Biaya pengeluaran umum (General Expense) 3. Total pendapatan penjualan produk pentaerythritol
Bab VI ANALISA EKONOMI
75 6.1 Penaksiran Harga Peralatan
Harga peralatan proses tiap alat tergantung pada kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Untuk mengetahui harga peralatan yang pasti setiap tahun sangat sulit sehingga diperlukan suatu metode atau cara untuk memperkirakan harga suatu alat dari data peralatan serupa tahun-tahun sebelumnya. Penentuan harga peralatan dilakukan dengan menggunakan data indeks harga pada Tabel 6.1.
Dengan asumsi kenaikan indeks linear, maka dapat diturunkan persamaan least square sehingga didapatkan persamaan berikut:
y = 20,519x – 40674
Dengan dimasukkan nilai x adalah tahun 2023 saat pabrik direncanakan berdiri, maka didapat indeks harga alat yaitu 835,937.
Harga alat dan yang lainnya diperkirakan pada tahun evaluasi (2023). Sedangkan harga alat pada tahun – tahun sebelumnya dilihat dari grafik pada referensi. Untuk mengestimasi harga alat tersebut pada masa yang akan datang digunakan persamaan:
Ey = Ex (𝑁𝑥𝑁𝑦)
dengan : Ey = Harga pembelian pada tahun y Ex = Harga pembelian pada tahun x Ny = Indeks harga pada tahun y Nx = Indeks harga pada tahun x
Bab VI ANALISA EKONOMI
76
Tabel 6.1 Indeks Harga Alat Untuk Tahun 2001-2011
No Tahun Indeks CEPCI
1 2001 394,3
2 2002 395,60
3 2003 402,00
4 2004 444,20
5 2005 468,20
6 2006 499,60
7 2007 525,40
8 2008 575,40
9 2009 521,90
10 2010 550,80
11 2011 585,70
(folk.NTNU.no, 2011)
Gambar 6.1 Grafik Linierisasi Indeks Harga Alat
6.2 Dasar Perhitungan
Kapasitas produksi = 40.000 ton/tahun Satu tahun operasi = 330 hari
Pabrik didirikan = 2023
y = 20,519x - 40674 R² = 0,9111 350
400 450 500 550 600 650
2000 2005 2010 2015
Indeks
Tahun
Grafik Linierisaasi Indeks Harga
Bab VI ANALISA EKONOMI
77
Harga bahan baku Formaldehid = US$ 360/ ton = US$ 0,36 /kg = Rp 5.222,18 /kg
(Shijiazhuang Xinlong Wei Chemical Co Ltd, diakses pada 22 Juli 2020) Harga bahan baku Asetaldehid = US$ 190/ ton = US$ 0,19 /kg
= Rp 2.756,15 /kg
(Celanese Chemical, diakses pada 22 Juli 2020) Harga bahan baku Natrium Hidoksida= US$ 300/ ton = US$ 0,3 /kg
= Rp 4.351,82 /kg
(PT. Asahimas Chemical, diakses pada 22 Juli 2020) Harga bahan baku Asam Format = US$ 430/ ton = US$ 0,43 /kg
= Rp 6.237,60 /kg
(PT. Sintas Kurama Perdana, diakses pada 22 Juli 2020) Harga produk Pentaerythritol = US$ 3200/ ton = US$ 3,2 /kg
= Rp 46.419,36 /kg
(www.alibaba.com, diakses pada 5 Juli 2020) 6.3 Penentuan Total Capital Investment (TCI)
Asumsi dan ketentuan yang digunakan dalam analisa ekonomi : 1. Pengoperasian pabrik dimulai tahun 2023. Proses yang dijalankan
adalah proses kontinyu.
2. Kapasitas produksi adalah 40.000 ton/tahun 3. Jumlah hari kerja adalah 330 hari/tahun
4. Shut down pabrik dilaksanakan selama 30 hari dalam satu tahun untuk perbaikan alat-alat pabrik.
5. Modal kerja yang diperhitungkan selama 1 bulan.
6. Umur alat – alat pabrik diperkirakan 10 tahun, kecuali alat-alat tertentu (umur pompa adalah 5 tahun).
7. Nilai rongsokan (Salvage Value) adalah 0% dari FCI.
8. Upah buruh asing US$ 23,75 (Rp 365.750,-) per manhour 9. Upah buruh lokal US$ 11,24 (Rp 163.000,-) per manhour
Bab VI ANALISA EKONOMI
78
10. Satu manhour asing = 2 manhour Indonesia
11. Situasi pasar, biaya dan lain - lain diperkirakan stabil selama pabrik beroperasi
12. Kurs rupiah yang dipakai 1 US$ = Rp 14.506,05 (www.bi.go.id)
6.4 Hasil Perhitungan
6.4.1 Fixed Capital Investment (FCI)
Tabel 6.2 Fixed Capital Investment (FCI)
No. Keterangan US$ Rp
1 Pembelian alat proses 12.754.045,00 181.630.361.237,82 2 Instalasi 4.434.948,15 63.158.096.568,59 3 Pemipaan 8.960.937,55 127.612.711.629,68 4 Instrumentasi 3.153.477,03 44.908.666.340,26
5 Isolasi 827.615,29 11.786.069.384,55
6 Listrik 1.568.514,20 22.337.210.701,27
7 Bangunan 3.175.281,02 45.219.177.071,66
8 Tanah 2.497.863,76 35.572.077.755,89
9 Utilitas 4.435.707,95 63.168.916.944,95
Physical Plant Cost 41.808.390,40 595.393.287.634,65 10 Engineering &construction 10.452.097,60 148.848.321.908,66 Direct Plant Cost 52.260.488,00 744.241.609.543,31 11 Contraction’s fee 2.613.024,40 37.212.080.477,17 12 Contingency 5.226.048,80 75.424.160.954,19 Fixed Capital Investment (FCI) 60.099.561,19 855.877.850.974,81
Bab VI ANALISA EKONOMI
79 6.4.2 Working Capital Investment (WCI)
Tabel 6.3 Working Capital Investment (WCI)
No Keterangan US$ Rp
1 Raw material inventory 2.287.352,58 32.574.188.045,40 2 In process inventory 551.889,82 7.859.462.958,94 3 Product inventory 1.103.779,64 15.718.925.917,87 4 Extended credit 11.514.581,13 163.979.149.826,97 5 Available cash 1.103.779,64 15.718.925.917,87 Working Capital Investment 16.561.382,82 235.850.652.667,05
6.4.3 Total Capital Investment (TCI)
TCI = FCI + WCI
= US$ 60.099.561,19+ US$ 16.561.382,82
= US$ 76.660.944,01
= Rp 1.091.728.503.641,85
6.4.4 Direct Manufacturing Cost (DMC)
Tabel 6.4 Direct Manufacturing Cost (DMC)
No Keterangan US$ Rp
1 Harga bahan baku 2.287.352,58 32.574.188.045,40
2 Gaji Pegawai 446.597,85 6.360.000.000
3 Supervision 134.821,99 1.920.000.000,00 4 Maintenance 4.206.969,28 59.911.449.568,24 5 Plant supplies 631.045,39 8.986.717.435,24 6 Royalties & patent 1.381.749,74 19.677.497.979,24 7 Utilitas 25.642.629,82 365.176.691.271,31 Direct Manufacturing Cost 34.731.166,55 503.601.916.462,43
Bab VI ANALISA EKONOMI
80 6.4.5 Indirect Manufacturing Cost (IMC)
Tabel 6.5 Indirecct Manufacturing Cost (IMC)
No Keterangan US$ Rp
1 Payroll overhead 89.319,57 1.272.000.000,00
2 Laboratorium 89.319,57 1.272.000.000,00
3 Plant overhead 401.938,07 5.724.000.000,00 4 Packaging and
transportasi 13.817.497,35 196.774.979.792,36 Indirect Manufacturing Cost 14.398.074,56 205.042.979.792,36
6.4.6 Fixed Manufacturing Cost (FMC)
Tabel 6.6 Fixed Manufacturing Cost (FMC)
No Keterangan US$ Rp
1 Depresiasi 12.019.912,24 171.175.570.194,96 2 Property taxes 1.201.991,22 17.117.557.019,50
3 Asuransi 23.452,27 333.983.800,00
Fixed Manufacturing Cost 13.245.355,73 188.627.111.014,46
6.4.7 Total Manufacturing Cost (TMC) TMC = DMC + IMC + FMC
= US$ 34.731.166,55+ US$ 14.398.074,56 + US$ 13.245.355,73
= US$ 62.374.596,95
= Rp 888.276.635.106,23 6.4.8 General Expense (GE)
Tabel 6.7 General Expense (GE)
No Keterangan US$ Rp
1 Administration 322.589,71 4.594.000.000,00 2 Sales expense 41.452.492,06 590.324.939.377,09 3 Research 4.145.249,21 59.032.493.937,71 4 Finance 2.279.727,65 32.465.601.405,49 General Expence 48.200.058,61 686.417.034.720,29
Bab VI ANALISA EKONOMI
81 6.4.9 Total Production Cost (TPC)
TPC = TMC + GE
= US$ 62.374.596,95 + US$ 48.200.058,61
= US$ 110.553.699,73
= Rp 1.574.395.237.839,59
6.4.10 Perhitungan Keuntungan Produksi (Profit)
Total Penjualan = harga produk x jumlah produksi
Sa = US$ 3,45 /kg x 40.000.000 kg/tahun
= US$ 138.174.973,52
= Rp 1.967.749.797.923,64
Keuntungan sebelum pajak = Pendapatan (Sa) – Biaya Produksi
= US$ 138.174.973,52 -US$ 110.553.699,73
= US$ 27.621.273,79
= Rp 393.354.560.084,05 /tahun Pajak Pendapatan = 20% dari keuntungan sebelum pajak
= 20% x US$ 27.621.273,79
= US$ 5.524.254,76
= Rp 78.670.912.016,81
Keuntungan sesudah pajak = keuntungan sebelum pajak – pajak
= US$ 27.621.273,79- US$ 5.524.254,76
= US$ 21.097.019,03
= Rp 314.683.648.067,24 6.5 Analisa Kelayakan
6.5.1 Percent Profit on Sales (POS)
POS adalah persentase keuntungan penjualan produk terhadap harga jual produk tersebut. Berikut ini adalah perhitungan POS pada Pabrik Pentaerythritol:
Bab VI ANALISA EKONOMI
82
POS = KeuntunganSa x 100%
- POS sebelum pajak = US$ 27.621.273,79
US$ 138.174.973,52 x 100%
= 19,99 % - POS sesudah pajak = US$ 21.097.019,03
US$ 138.174.973,52 x 100%
= 15,99 %
6.5.2 Rate of Return on Investment (ROROI)
Rate of Return on Investment (ROROI) adalah kecepatan tahunan pengembalian investasi (modal) dari keuntungan. Persamaan untuk menghitung ROROI adalah sebagai berikut :
ROROIb = 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 x 100%
ROROIa = 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 x 100%
dengan : ROROIb = ROROI sebelum pajak ROROIa = ROROI setelah pajak
Untuk industrial chemical product dengan high risk nilai ROROI minimal 44% sebelum pajak dan low risk 11% sebelum pajak (Aries-Newton, 1954).
- ROROIb = US$ 27.621.273,79
US$ 60.099.561,19 x 100%
= 45,96 % - ROROIa = US$ 21.097.019,03
US$ 60.099.561,19 x 100%
= 36,77 %
6.5.3 Pay Out Time (POT)
Pay Out Time merupakan jangka waktu pengembalian investasi (modal) berdasarkan keuntungan perusahaan dengan mempertimbangkan depresiasi. Berikut adalah persamaan untuk POT :
POT sebelum pajak = 𝐹𝐼𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠 + Depresiasi
Bab VI ANALISA EKONOMI
83
POT sesudah pajak = 𝐹𝐼𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠 + Depresiasi
Untuk industri kimia dengan high risk nilai POT maksimal 2 tahun dan low risk maksimal 5 tahun setelah pajak (Aries-Newton, 1954).
- POT sebelum pajak = US$ 60.099.561,19
US$ 27.621.273,79 + US$ 12.019.912,24
= 1,52 tahun
- POT sesudah pajak = US$ 60.099.561,19
US$ 21.097.019,03 + US$ 12.019.912,24
= 1,76 tahun
6.5.4 Break Even Point (BEP)
Break Even Point adalah titik impas, besarnya kapasitas produksi dapat menutupi biaya keseluruhan, dimana pabrik tidak mendapatkan keuntungan namun tidak menderita kerugian (Aries Newton, 1954). BEP merupakan titik perpotongan antara garis sales dengan total cost, yang menunjukkan kapasitas produksi dimana sales akan sama dengan total cost.
Pengoperasian pabrik di bawah kapasitas tersebut akan mengakibatkan kerugian dan pengoperasian pabrik diataskapasitas produksi tersebut, maka pabrik akan untung. BEP dinyatakan dengan persamaan :
BEP = Fa + 0,3 Ra
Sa − Va − 0,7 Ra x 100%
dengan : Fa = Fixed expense tahunan pada produksi maksimum Ra = Regulated expense tahunan pada produksi maksimum Sa = Sales pada produksi maksimum
Va = Variable expense tahunan pada produksi maksimum Perhitungan BEP :
1. Fixed Manufacturing Cost (Fa)
Depreciation = US$ 12.019.912,24 Property taxes = US$ 1.201.991,22 Insurance = US$ 23.452,27
Total = US$ 13.245.355,73
Bab VI ANALISA EKONOMI
84 2. Variable Cost (Va)
Raw material = US$ 2.287.352,58 Packaging + transport = US$ 13.817.497,35
Utilitas = US$ 25.642.629,82
Royalti = US$ 1.381.749,74
Total = US$ 43.129.229,48
3. Regulated Cost (Ra)
Labor = US$ 446.597,85 Payroll overhead = US$ 89.319,57 Supervisi = US$ 134.821,99 Laboratorium = US$ 89.319,57 General expense = US$ 48.179.102,78 Maintenance = US$ 4.206.969,28 Plant supplies = US$ 631.045,39 Plant overhead = US$ 401.938,07
Total = US 54.179.114,51
4. Penjualan (Sa) = US$ 54.179.114,51
BEP= US$ 13.245.355,73 + 0,3 US$ 54.179.114,51
US$ 138.174.973,52−US$ 43.129.229,48−0,7 US$ 54.170.980,42 x 100%
BEP= 51,64 %
6.5.5 Shut Down Point (SDP)
Shut down point adalah suatu titik dimana pabrik mengalami kerugian sebesar Fixed cost yang menyebabkan pabrik harus tutup ( Aries& Newton, 1955). Keadaan ini terjadi bila output turun sampai di bawah BEP dan pada kondisi di mana fixed cost dengan selisih antara total cost dan total sales.
SDP dinyatakan dengan persamaan berikut :
SDP = 𝑆𝑎 − 𝑉𝑎 − 0,7 𝑅𝑎0,3 Ra x 100%
SDP = 0,3 US$ 54.179.114,51
US$ 138.174.973,52 −US$ 𝟒𝟑.𝟏𝟐𝟗.𝟐𝟐𝟗,𝟒𝟖 −0,7 US$ 54.179.114,51 x 100%
Bab VI ANALISA EKONOMI
85 SDP = 28,46 %
6.5.6 Discounted Cash Flow (DCF)
Discounted Cash Flow adalah interest rate yang diperoleh ketika seluruh modal yang ada digunakan semuanya untuk proses produksi. DCF dari suatu pabrik dinilai menguntungkan jika melebihi satu setengah kali bunga pinjaman bank. DCF(i) dapat dihitung dengan metode Present Value Analysis.
FCI + WC = C . [(1+𝑖)1 +(1+𝑖)1 2 + (1+𝑖)1 3+. . +(1+𝑖)1 𝑛] +𝑊𝐶 + 𝑆𝑉(1+𝑖)𝑛 dengan : FCI = Fixed Capital Investment
WC = Working Capital C = Annual Cash Flow
= profit after taxes + finance + depreciation SV = salvage value (dianggap = 0% FCI) Diperkirakan umur pabrik (n) = 10 tahun
FC = US$ 60.099.561,19
WC = US$ 16.561.382,82
SV = salvage value = nilai barang rongsokan = 0
Finance = US$ 2.258.771,82
C = laba setelah pajak + depresiasi + finance
= US$ 22.097.019,03 + US$ 12.019.912,24 + US$ 2.258.771,82
= US$ 36.375.703,09
Dilakukan trial and error, diperoleh nilai i = 0,466 = 46,63 %
Bab VI ANALISA EKONOMI
86
Tabel 6.8 Analisis Kelayakan
No Keterangan Perhitungan Batasan
1 Percent Profit on Sales (POS)
a. POS sebelum pajak 19,99 % b. POS sesudah pajak 15,99 % 2 Rate of Return on Investment (ROROI)
a. ROROI sebelum pajak 45,96 %
Min. 44% (high risk) dan min. 11%
(low risk) sebelum pajak
b. ROROI sesudah pajak 36,77 % 3 Pay Out Time (POT)
a. POT sebelum pajak 1,52 tahun
Max. 2 tahun (high risk) dan 5 tahun (low risk) sebelum pajak
b. POT sesudah pajak 1,76 tahun
4 Break Even point (BEP) 51,64 % 40% - 60%
5 Shut Down Point (SDP) 28,46 %
6 Discounted Cash Flow
(DCF) 46,63 %
11,5% (suku bunga kredit Bank
Mandiri)
Bab VI ANALISA EKONOMI
87
Gambar 6.2 Grafik Analisa Kelayakan Ekonomi 0,00E+00
2,00E+07 4,00E+07 6,00E+07 8,00E+07 1,00E+08 1,20E+08 1,40E+08 1,60E+08
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
NILAI (US$)
KAPASITAS PRODUKSI (%)
Fixed Cost (Fa) Variable Cost (Va) Total Cost (Ra)
Sales (Sa) SDP SDP Point
BEP
BEP = 51,64%
SDP = 28,46%
Sa+Fa
Va Ra
Sa
Fa
Bab VI ANALISA EKONOMI
88 6.6 Pembahasan
Hasil analisa ekonomi menunjukan nilai BEP berada pada range nilai yang diijinkan. Dari perhitungan yang dilakukan, nilai BEP dipengaruhi oleh harga jual produk yang besar dari harga bahan baku, sehingga jika selisihnya makin besar maka nilai BEP juga akan semakin rendah.
Sebaliknya nilai ROI akan semakin tinggi seiring penurunan nilai BEP. Jika dilihat dari nilai POT maka pabrik telah sesuai dengan batas toleransi yaitu kurang dari 5 tahun untuk resiko rendah.
6.7 Kesimpulan
Analisa yang dilakukan untuk mendapatkan beberapa parameter kelayakan ekonomi. antara lain :
1. Rate of Return on Investment (ROROI) sebelum pajak sebesar 45,96 %.
2. Pay Out Time (POT) sebelum pajak selama 1,52 tahun.
3. Break Event Point (BEP) sebesar 51,64 %.
4. Shut Down Point (SDP) sebesar 28,46 %.
5. Discounted Cash Flow (DCF) sebesar 46,64 %.
Dari parameter yang dianalisa didapatkan nilai yang memenuhi batasan untuk setiap parameternya. sehingga pabrik Pentaerythritol ini dapat dinyatakan layak didirikan secara ekonomi.