• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Anto (2011) melakukan penelitian tentang memperkenalkan Islamic Human Development Index (I-HDI) untuk pembangunan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Islamic Human Development Index (I-HDI) akan mempertimbangkan dimensi Maqashid Syariah dalam mengukur bagaimana performa dan atau tingkat ekonomi di suatu negara berkembang yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, yang mana indikator Maqashid Syariah akan menciptakan pengukuran yang lebih komprehensif dan akurat.

Rama & Burhan (2019) melakukan penelitian tentang pembangunan Islamic Human Development Index (I-HDI). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan data sekunder dikumpulkan dari 33 provinsi di Indonesia Yang mencakup 16 indikator. Periode indikator berkisar dari 2012 hingga 2016. Kecuali indikator pengumpulan zakāh, semua data sekunder dari indikator yang ditargetkan diambil dari laporan tahunan yang diterbitkan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa peringkat komposisi antara IHDI dan HDI sedikit berbeda. Namun, kedua indeks memiliki korelasi positif statistik yang mengkonfirmasi asumsi bahwa I- HDI dapat berfungsi sebagai prediktor untuk peringkat HDI. Temuan ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki kinerja yang buruk dalam skor keseluruhan I-HDI.

Rochmah & Sukmana (2019) melakukan penelitian tentang Islamic Human Development Index (I-HDI) Dalam Perspektif Maqāṣid Syarī’ah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data sekunder, yaitu berupa data statistik sosial ekonomi yang diambil dari Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rentang waktu pengamatan selama 2 tahun yaitu dari tahun 2015-2016, dengan objek penelitian adalah Kota Yogyakarta. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan model

(2)

interaktif Miles Huberman yang dilakukan melalui tiga prosedur, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil pencapaian pembangunan manusia di Kota Yogyakarta yang diukur dengan perhitungan I-HDI melalui perspektif maqāṣid syarī‟ah pada tahun 2015- 2016 sudah mencerminkan adanya penerapan nilai maqāṣid syarī‟ah pada masing- masing indeks komponen meskipun belum tercapai sepenuhnya.

Rahmatullah (2018) melakukan penelitian tentang Islamic Human Development Index di Kawasan Eksplorasi Tambang Batu Bara di Batu Kajang Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Batu Sopang yang dijadikan kawasan eksplorasi tambang batu bara oleh setidaknya 129 perusahaan yang telah berlangsung kurang lebih 35 tahun. Hasil penelitian ini adalah 1) Index al-Maal secara signifikan mempengaruhi tingginya nilai I-HDI. 2) Hasil perhitungan I- HDI menunjukkan bahwa Kecamatan Batu Sopang masuk dalam kategori status pembangunan tinggi, jika diukur menurut skala internasional. 3) Jika diukur berdasarkan kesejahteraan materi dan nonmateri, maka kesejahteraan materi mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada kesejahteraan non-materi. 4) Pencapaian I-HDI yang tinggi tidak dapat memastikan tidak adanya dampak negatif dari kegiatan eksplorasi tambang batu bara, dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya pencemaran terhadap lingkungan masyarakat sekitar.

Rafsanjani (2014) meneliti mengenai hasil pengukuran I-HDI.

Penelitiannya menggunakan waktu pengamatan selama 3 tahun yaitu selama tahun 2010 – 2012, dan yang menjadi objek penelitian adalah 33 provinsi di Indonesia. Hasil pencapaian pembangunan 33 provinsi di Indonesia Yang di ukur dengan perhitungan I-HDI menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia Masuk dalam kategori pencapaian pembangunan menengah bawah (jika diukur dengan menggunakan skala internasional). Hasil perhitungan juga menunjukkan disparitas yang sangat jauh antara peringkat I-HDI tertinggi dengan peringkat I-HDI terendah. Sementara itu, beberapa perbandingan yang di dapat antara hasil perhitungan HDI dan I-HDI diantaranya yaitu: 1) Menurut hasil penelitiannya sebaran nilai I-HDI lebih bervariatif dari pada HDI, 2) nilai

(3)

I-HDI menunjukkan disparitas antar provinsi lebih besar dari pada HDI, 3) terjadi perbedaan rangking dari 33 provinsi antara HDI dan I-HDI, 4) terakhir terjadi perbedaan status pembangunan antara HDI dan I-HDI.

Berdasarkan hasil ringkasan dari beberapa penelitian terdahulu maka terdapat perbedaan dan persamaan yang dijadikan peneliti sebagai gambaran serta acuan untuk menganalisis arah penelitian selanjutnya. Dalam menganalisis hasil penelitian ini peneliti juga mengukur I-HDI berdasarkan konsep yang dibangun dari indikator-indikator yang ditawarkan oleh Anto dalam jurnalnya yang diambil dari konsep Maqāṣid syariah dengan objek Indonesia Dan Brunei Darussalam. Perbedaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yakni terletak pada waktu penelitiannya yaitu tahun 2015-2020 dan objek nya yaitu menggunakan 2 negara yaitu Indonesia dan Brunei Darussalam.

B. Landasan Teori 1. Maqashid syariah

Menurut Imam al-Syatibi, Allah menurunkan syariah (aturan hukum) tidak lain selain untuk mengambil kemaslahatan dan menghindari kemadaratan (jalbil mashalih wa dar’ul mafasid). Dalam bahasa yang lebih mudah, aturan-aturan hukum yang Allah tentukan hanyalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri (alSyatibi dalam Hafid, 2013: 44).

Al-Syatibi kemudian membagi maslahat ini kepada tiga bagian penting yaitu dharuriyyat(primer), hajiyyat(sekunder) dan tahsiniyyat(tersier). Maqashid atau maslahat dharuriyyat adalah sesuatu yang mesti adanya demi terwujudnya kemaslahatan agama dan dunia.

Apabila hal ini tidak ada, maka akan menimbulkan kerusakan bahkan hilangnya hidup dan kehidupan seperti makan, minum, shalat, shaum dan ibadah-ibadah lainnya, yang termasuk maslahat atau maqashid dharuriyyat ini ada lima, yaitu: agama (ad-dien), jiwa (an- nafs),keturunan (an-nasl), harta (al-maal) dan aql (al-‘aql) (al-Syatibi dalam Hafid,2013: 45).

(4)

Cara untuk menjaga yang lima tadi dapat ditempuh dengan dua cara yaitu, pertama dari segi adanya (min nahiyyati al-wujud) yaitu dengan cara menjaga dan memelihara hal-hal yang dapat melanggengkan keberadaanya, dan kedua, dari segi tidak ada (min nahiyyati al-‘adam) yaitu dengan cara mencegah hal-hal yang menyebabkan ketiadaanya. Pembebanan hukum syariat pada makhluk melekat dengan maqashid-nya. Maqashid syariah tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu:daruriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat.

2. Pembangunan Manusia

Pembangunan dapat didefinisikan sebagai suatu proses diperluasnya pilihan untuk penduduk. Menurut UNDP (1990), pembangunan manusia adalah suatu proses perluasan pilihan bagi penduduk untuk membangun hidupnya yang dianggap berharga. UNDP mendefinisikan pembangunan manusia sebagai proses memperluas kesempatan dan kebebasan masyarakat untuk menentukan pilihannya dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan upaya memperbaiki tingkat penghargaan terhadap eksistensi masing-masing masyarakat sebagai manusia (Septiarini &

Herianingrum, 2017).

Konsep pembangunan manusia memiliki pengertian yang lebih luas dari pada konsep pembangunan ekonomi yang lebih menekankan pada pertumbuhan (growth), kesejahteraan masyarakat (social welfare), atau pengembangan sumber daya manusia (human resource development). Pembangunan manusia memiliki empat unsur yang meliputi produktivitas (productivity), pemerataan (equity), kesinambungan (sustainability) dan pemberdayaan (empowerment).

Komponen pengukuran dalam HDI terdiri dari tiga, yaitu: 1. Indeks Harapan hidup Dengan memasukkan informasi mengenai angka kelahiran dan kematian per tahun, variabel tersebut diharapkan akan mencerminkan rata-rata lama hidup sekaligus hidup sehat masyarakat.

2. Indeks Hidup Layak Standar hidup layak diukur menggunakan

(5)

PDRB per kapita yang dianggap menggambarkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. 3. Indeks Pendidikan mencakup dua indikator yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Populasi yang digunakan adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas karena pada kenyataannya penduduk usia tersebut sudah ada yang berhenti sekolah.

Kedua indikator pendidikan ini dimunculkan dengan harapan dapat mencerminkan tingkat pengetahuan

Dengan penggunaan 3 dimensi kualitas hidup, HDI dapat dinyatakan sebagai indikator holistik yang paling banyak digunakan untuk mengukur status komparatif pembangunan sosio-ekonomi.

Angka Pembangunan Manusia berkisar antara 0 hingga 100. Semakin mendekati 100, maka hal tersebut merupakan indikasi pembangunan manusia yang semakin baik. Berdasarkan nilai HDI, UNDP membagi status pembangunan manusia suatu negara atau wilayah ke dalam tiga golongan, yaitu: HDI < 50 (rendah), 50 ≤ HDI < 80 (sedang/menengah), HDI ≥ 80 (tinggi).

3. Pengukuran Capaian HDI

Dalam perkembangannya HDI telah beberapa kali mengalami penyempurnaan terkait dengan metode perhitungan maupun indikator penyusunannya. Secara umum, HDI disusun dari empat indikator yang menggambarkan tiga dimensi pembangunan manusia yang paling mendasar.

Dimensi peluang hidup diukur dengan indikator angka harapan hidup penduduk pada saat lahir (life expectancy at age 0- atau E0). Dimensi pengetahuan diukur dengan dua indikator diantaranya ialah angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah penduduk berusia kerja (mean years of schooling) standar kehidupan layak yang diukur melalui indikator pendapatan perkapita riil yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli (Purchasing Power Parity/PPP) di wilayah yang bersangkutan. Faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap IPM adalah rasio ketergantungan, Jika rasio ketergantungan

(6)

tinggi maka IPM rendah karena banyaknya beban yang harus ditanggung oleh usia produktif untuk menanggung usia tidak produktif (Bhakti et al., 2017).

Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur salah satu aspek penting yang berkaitan dengan kualitas dari hasil pembangunan, yaitu derajat perkembangan manusia (Tambunan, 2003:167). Sehingga hal ini yang mendasari diciptakannya model baru untuk mengukur perkembangan ekonomi dalam perspektif Islam yang disebut Indeks Pembangunan Manusia Islam (I-HDI). Islamic Human Development Index (IHDI) bertujuan untuk mengukur pembangunan manusia yang mencakup kesejahteraan materi maupun non materi dengan lima dimensi Maqashid Syari’ah. I-HDI adalah indeks gabungan dari Maqashid Shariah yang pada dasarnya berkaitan dengan dorongan kesejahteraan manusia melalui pelestarian diri, kekayaan, kecerdasan, iman dan keturunan (Rama & Burhan, 2019).

4. Islamic Human Development Index

Pada sub bab berikut ini akan di bahas mengenai landasan teori tentang Islamic Human Development Index. Rumus I-HDI.

Pembahasan meliputi pengertian I-HDI dan konsep pengukuran I- HDI. Pengertian I-HDI merupakan alat yang digunakan untuk mengukur pembangunan manusia dalam perspektif Islam. I-HDI mengukur pencapaian tingkat kesejahteraan manusia dengan terpenuhinya kebutuhan dasar agar manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat (mencapai falah). Anto (2009) merumuskan bahwa I-HDI dihitung berdasarkan pada data yang mencerminkan lima dimensi maqashid syari’ah, yaitu:

1. Indikator ad-diin yaitu angka kriminalitas;

2. Indikator an-nafs yakni angka harapan hidup;

(7)

3. Indikator al-aql yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah;

4. Indikator an-nasl yaitu data kelahiran total dan data kematian bayi; dan Angka Harapan Hidup saat Lahir (AHH) Angka Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

5. Indikator al-maal merupakan gabungan dari indikator kepemilikan harta oleh individu dan indikator distribusi pendapatan.

Pengeluaran perkapita riil yang disesuaikan mewakili indikator kepemilikan harta oleh individu, sedangkan indeks gini dan indeks kedalaman kemiskinan mewakili indikator distribusi pendapatan.

Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Jika salah satu dari kebutuhan dasar di atas tidak terpenuhi atau terpenuhi dengan tidak seimbang niscaya kebahagiaan hidup juga tidak tercapai dengan sempurna (P3EI: 2012,5- 6).

(8)

C. Kerangka Berpikir

I-HDI dihitung berdasarkan data yang menggambarkan kelima dimensi tersebut. Pada dimensi agama (ad-dien) indikator yang digunakan yaitu data angka kriminalitas, pada dimensi jiwa (an-nafs) indikator yang dipakai yaitu data angka harapan hidup, dimensi intelektual (al-‘aql) digunakan dua indikator yaitu data angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, untuk dimensi keturunan (an- nasl) digunakan dua indikator yaitu data angka kelahiran total dan angka kematian bayi, untuk dimensi harta (al-maal) maka digunakan dua indikator yaitu indikator kepemilikan harta oleh individu dan indikator distribusi pendapatan. Pada indikator kepemilikan atas harta data yang dipakai yaitu pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan, untuk

Al-Qur’an dan hadist

Maqashid Syariah

Hifdzu An-Nasf Hifdzu Al-‘Aql Hifdzu An-Nasl

Angka Melek Huruf Rata-rata Lama Sekolah

Index Al-‘Aql

Islamic Human Development Index

(I-HDI) Index An-

Nasf

Index Al- Maal Index An-

Nasl Index Ad-

Dien

Angka Kelahiran Total

Angka Kematian

Pengeluaran perkapita Indeks Gini

Indeks kemiskinan 1. Angka

Harapan Hidup 1. Angka

Kriminalita s

Hifdzu Al- Maal Hifdzu Ad-

Dien

(9)

indikator distribusi pendapatan digunakan data indeks gini dan indeks kedalaman kemiskinan.

Referensi

Dokumen terkait

Penambangan batubara khususnya di Kalimantan akan dimulai dengan cara tambang terbuka yang memakai alat kerja bersifat mobil..  Penyebaran Batu

Hasil dari penelitian ini diantaranya biaya produksi memberikan kontribusi terhadap harga jual pada industri produk batu mamer Politeknik Aceh Selatan, pengeluaran biaya

Hal ini dilakukan juga oleh penelitian eksplorasi lagu daerah yang menggunakan Gabor Filter sebagai pencari fitur lagu, penerapannya dilakukan dengan pola dari nada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Modal Kabupaten/Kota Kalimantan

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Nurhadi.et dalam penelitiannya yang berjudul, “Rancang Bangun Mesin Penetas Telur Otomatis Berbasis Mikrokontroler

Tahap kegiatan selanjutnya adalah batubara dari tambang dimuatkan oleh alat gali muat ke dalam alat angkut untuk kemudian dikumpulkan di tempat stockpile tambang yang terletak ± 3

Aggregate adalah butiran mineral yang merupakan hasil disintegrasi alami batu-batuan atau juga berupa hasil mesin pemecah batu dengan memecah batu alami. Agregat

Penelitian yang ditulis oleh Shella Puspita Mayasari, dkk yang berjudul “ Identifikasi Opsi Adaptasi Perubahan Iklim Bagi Petani Apel di Kota batu” berkesimpulan