• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFISIENSI BIAYA PADA MASING-MASING PAKET UPACARA NGABEN DI YAYASAN PENGAYOM UMAT HINDU (YPUH) KABUPATEN BULELENG, SINGARAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFISIENSI BIAYA PADA MASING-MASING PAKET UPACARA NGABEN DI YAYASAN PENGAYOM UMAT HINDU (YPUH) KABUPATEN BULELENG, SINGARAJA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

EFISIENSI BIAYA PADA MASING-MASING PAKET UPACARA NGABEN DI YAYASAN PENGAYOM UMAT HINDU (YPUH)

KABUPATEN BULELENG, SINGARAJA

1

Nyoman Adi Hanggara,

1

Anantawikrama Tungga Atmadja,

2

Ni Kadek Sinarwati

Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja,Indonesia

e-mail : {[email protected], [email protected], [email protected]} @undiksha.ac.id

Abstrak

Ngaben merupakan ritual kematian yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali yang pelaksanaannya membutuhkan biaya yang tinggi, sehingga dengan kondisi tersebut masyarakat Bali mencari suatu alternatif yaitu ngaben di krematorium. Ritual ngaben di krematorium ini difasilitasi oleh Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) dengan beberapa paket yang dapat dipilih oleh masyarakat. YPUH menggunakan Weda dan Lontar Yama Purwana Tattwa sebagai dasar dan teknik sederhana upacara ngaben yang dulunya boros biaya kini menjadi lebih efisien. Latar belakang inilah yang menjadikan ngaben di YPUH menarik untuk dikaji untuk mengetahui: 1).

Latar belakang masyarakat memilih ngaben di YPUH, 2). Metode yang digunakan YPUH dalam mencapai efisiensi biaya pada upacara ngaben, 3). Dampak yang ditimbulkan dari penyederhanaan biaya terhadap hakikat upacara ngaben.

Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang dititikberatkan pada deskripsi serta interpretasi perilaku manusia. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan, yakni: 1). Reduksi Data, 2). Penyajian Data, dan 3). Pemaknaan Data berdasarkan teori yang telah ditentukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Latar belakang masyarakat memilih ngaben di YPUH mayoritas didasari oleh faktor biaya dan didukung oleh faktor lain seperti Faktor Sosial Budaya, Faktor Struktur Sosial, Faktor Ekonomi, Faktor Tenaga dan Waktu, dan masyarakat Bali sebagai agen budaya. 2). Efisiensi biaya dalam upacara ngaben di YPUH menggunakan metode cost reduction dengan analisis aktivitas bernilai tambah dan aktivitas tidak bernilai tambah. 3). Pelaksanaan upacara ngaben yang disederhanakan tidak mempengaruhi hakikat ngaben karena sudah sesuai dengan Weda dan lontar-lontar kamoksan.

Kata kunci: Ngaben, krematorium, biaya ngaben, efisiensi biaya, penyederhanaan ngaben.

Abstract

Ngaben is a death ritual performed by Hindus in Bali that its implementation requires a high cost, so that with these conditions Balinese people looks for an alternative way that is Ngaben in crematorium. Ngaben ritual in crematorium was facilitated by YPUH by several packages available for the public. YPUH used Vedas and Lontar (manuscript) Yama Purwana Tattwa as basic and simple technique of Ngaben ceremony in which it was once lavishly ceremony has become more cost efficient. This background made Ngaben ceremony interesting to study to know: 1).

the background of people choosing Ngaben in YPUH, 2). the method used by YPUH in achieving cost efficiency in Ngaben ceremony, 3). the impact caused by the cost simplification to the nature of Ngaben ceremony.

(2)

This research was conducted using qualitative method by focusing on the description and interpretation of human behavior. This study was conducted in three stages, they were: 1). data reduction, 2). data presentation, and 3). the data interpretation based on the theory determined.

The result showed that: 1). the background of people choosing Ngaben in YPUH was mostly caused by cost factor and other factors such as socio-cultural factor, social structure factor, economic factor, energy and time factor, and Balinese people as cultural agent, 2). the cost efficiency in Ngaben ceremony in YPUH used cost reduction method by an analysis of value-added activity and no value-added activity. 3). The implementation of Ngaben ceremony simplified did not affect the nature of Ngaben because it was in accordance with Vedas and lontar-lontar kamoksan.

Key Word: Ngaben, crematorium, ngaben cost, cost efficiency, simplification of ngaben.

PENDAHULUAN

Upacara dalam rangka pelaksanaan ajaran Agama Hindu dapat digolongkan menjadi lima kelompok besar berdasarkan sasarana dalam pelaksanaannya yang disebut Panca Yadnya yaitu: 1). Dewa Yadnya adalah korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas ke hadapan Hang Widhi, 2).

Pitra yadnya adalah korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas kepada para leluhur dengan memujakan keselamatan mereka di akhirat, memelihara keturunan mereka dengan mengikuti segala tuntutannya, 3). Manusa yadnya adalah korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas demi keselamatan keturunan kita dan kesejahteraan manusia lain, 4). Rsi yadnya adalah korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas untuk kesejahteraan para rsi, 5). Butha yadnya adalah korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas kepada sekalian makhluk bawahan. (Pendit, 2001: 197)

Kelima kelompok upacara tersebut ritual upacara kematian yang termasuk dalam kelompok pitra yadnya merupakan jenis upacara yang wajib dilakukan oleh umat hindu sebagai wujud cinta bakti kepada orang tua atau leluhur.

Penyelenggaraan upacara setelah kematian menurut Agama Hindu di Bali, dapat dialkukan melalui upacara Ngaben atau Pelebon. Upacara ini adalah penyelesaian terhadap jasmani orang yang telah meninggal. Upacara ngaben disebut pula upacara pelebon atau atiwa-

tiwa dan hanya dapat dilakukan satu kali saja terhadap seseorang yang meninggal.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan unsur-unsur jasmani kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta yang ada di Bhuana Agung. (Win, 2010: 18)

Kenyataannya upacara ngaben selalu membutuhkan biaya yang besar, biaya ini terdiri atas biaya banten, wadah/bade, serta perawatan jenazah semenjak orang tersebut meninggal hingga proses kremasi. Pelaksanaan upacara ngaben di Bali sering kali rumit dan menimbulkan masalah sehingga sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa ritual ngaben hanya dapat dilaksanakan oleh masyarakat kaya secara harta saja.

Seiring berjalanya waktu, akhirnya tercetuslah gagasan ngaben masal yang memberi angin segar bagi umat Hindu di Bali. Biaya ngaben yang mulanya ratusan juta rupiah kini dapat dihemat dan dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Namun upacara ngaben secara masal ini masih memiliki kekurangan.

Dilihat dari segi waktu pelaksanaannya, ngaben masal biasanya hanya dilaksanakan pada jangka waktu tertentu saja misalnya beberapa tahun sekali sehingga sawa/mayat harus dikuburkan dalam jangka waktu yang cukup lama hingga ngaben masal diadakan. Selain itu urutan proses ngaben masal yang dilakukan mulai dari mempersiapkan banten serta sarana dan prasarana lainnya tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.

(3)

Beberapa tahun belakangan muncul alternatif pilihan pelaksanaan upacara ngaben, yaitu ngaben di krematorium yaitu sebuah tempat khusus untuk membakar mayat sehingga menjadi abu. Jika dibandingkan dengan Ngaben massal (Ngerit) yang juga bernuansa irit biaya, ngaben sistem krematorium ini punya kelebihan antara lain: 1) dapat dilaksanakan segera setelah wafat, kalau ngaben massal mesti menunggu jadwal karena kolektif (bisa tahunan), 2) lebih praktis karena semua kebutuhan ditangani penyelenggara (sejenis event organizer/EO) sehingga pihak keluarga tidak terlalu disibukkan dengan berbagai keperluan, 3) waktu pelaksanaannya lebih singkat sehingga tidak banyak mengganggu kegiatan ekonomi/menyita waktu kerja, 4) tidak banyak masyarakat/krama yang terlibat sehingga tidak mengganggu kegiatan ekonomi mikro masyarakat, 5) secara psikologis lebih memberi rasa puas karena mengabukan jenasah sesuai dengan konsep ngaben sedangkan ngaben massal umumnya membakar sekah sementara jazad masih terkubur, 6) lebih ekonomis karena waktunya lebih singkat dan massa yang terlibat tidak terlalu banyak, 7) konflik-konflik adat bisa ditekan karena tensi kegiatannya tidak terlalu tinggi. (Bali Post, “Ngaben Efisien dan Irit Biaya”, 20 Juli 2011 : 6)

Salah satu penyedia jasa ngaben di krematorium yang ada di Buleleng adalah Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Kabupaten Buleleng, Singaraja.

Yayasan ini didirikan untuk membantu umat hindu dalam hal tattwa dan penyederhanaan upakara-upacara.

Upacara yang disederhanakan tersebut menyebabkan biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan upacara ngaben akan lebih efisien. Menurut Taswan (2006) konsep efisiensi tertuju pada bagaimana penciptaan barang atau jasa dengan menggunakan biaya yang paling rendah yang mungkin dapat dicapai, serta mampu mengalokasikan sumber-sumber ekonomi pada penggunaan yang paling bernilai.

Merujuk pada hal tersebut diatas, maka efisiensi biaya dalam upacara ngaben yang dilaksanakan di Yaysan

Pengayom Umat Hindu (YPUH) Kabupaten Buleleng menarik untuk diangkat dalam penelitian ini. Berkaitan dengan hal tersebut, adapun beberapa permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini, antara lain:

1). Latar belakang masyarakat memilih ngaben di YPUH, 2). Metode yang digunakan YPUH dalam mencapai efisiensi biaya pada upacara ngaben, 3).

Dampak yang ditimbulkan dari penyederhanaan biaya terhadap hakikat upacara ngaben.

METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode kualitatif, menurut Alwasilah (2003), memiliki kelebihan adalah adanya fleksibilitas yang tinggi bagi peneliti ketika menentukan langkah-langkah penelitian.

Peneliti menggunakan dua sumber data dalam proses penggalian data, yaitu:

sumber primer dan sumber sekunder.

Data primer adalah data yang sangat diperlukan dalam melakukan penelitian atau istilah lain data yang utama (Hikmat, 2011). Data sekunder adalah keterangan yang diperoleh dari pihak kedua, baik berupa orang maupun catatan, seperti buku, laporan, bulletin, dan majalah yang sifatnya dokumentasi (Waluya, 2007:79).

Langkah-langkah yang digunakan peneliti untuk menggumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh diolah dengan metode analisis data yang dikemukakan oleh Suprayogo (2001), yaitu: 1) Reduksi Data, 2) Penyajian Data, dan 3) Pemaknaan Data. Setelah data mengenai proses efisiensi biaya pada masing-masing paket ngaben yang terdapat di YPUH telah dideskripsikan dengan jelas maka akan dapat ditarik kesimpulan yang didasarkan pada rumusan masalah penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Latar belakang masyarakat memilih ngaben di YPUH

Upacara Ngaben merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan Pitra

(4)

Yadnya. Pitra Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas yang ditujukan kepada Pitra yaitu roh-roh suci para leluhur, orang tua atau keluarga yang telah meninggal dan telah disucikan.

Ngaben merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan para keturunan sebagai wujud bhakti kepada yang telah mendahului mereka (Suadityawan, 2015).

Upacara Ngaben biasanya dilakukan secara besar-besaran, ini semua memerlukan waktu lama, tenaga kerja yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit dan bisa mengakibatkan Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian. Dengan penggunaan biaya yang tidak sedikit, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa ritual Ngaben hanya dapat dilaksanakan oleh masyarakat kaya secara harta saja (Pratiwi, 2015).

Suka Arjawa (dalam Suadityawan, 2015) dalam penelitannya menjelaskan upacara Ngaben yang dilakukan oleh masyarakat Hindu-Bali telah bergeser dibandingkan dengan ritual yang ada yakni Ngaben konvensional. Pergeseran terjadi karena situasi ketika menyelenggarakan Ngaben konvensional dilakukan serta perkembangan intelektual masyarakat Hindu di Bali. Akibatnya muncul pikiran-pikiran baru tentang pelaksanaan upacara. Dari konstruksi sosial dan intepretasi, maka tercipta sikap rasionalitas terhadap bagaimana upacara dilakukan. Muncullah ide Ngaben di krematorium. Cara ini tidak bergantung banyak pada desa atau banjar pakraman.

Fungsi desa sebagai pelaksana upacara digantikan oleh krematorium.

Melaksanakan upacara Ngaben di krematorium lebih efisien ekonomi, waktu untuk melakukan upacara serta untuk menghindari krisis saat melakukan kremasi (Suadityawan, 2015).

Mayoritas umat hindu yang melaksanakan Ngaben di YPUH dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, yang paling banyak adalah karena biaya yang murah dan waktu upacara yang singkat. Seperti pada kutipan wawancara dengan Ketut Oka yang pernah melaksanakan ngaben di YPUH berikut:

“….alasan tiange Ngaben di YPUH, kapertama masalah biaya ane kapertama, kedua tiang ngelah nyama braya masi akedik, ketiga tongos tiange masi cenik yen ngelaksanayang upacara Ngaben nenten mersidayang nika ring jumah duaning tongos tiange nak cupek…”

Artinya:

“….alasan saya Ngaben di YPUH, yang pertama masalah biaya yang pertama, kedua saya mempunyai sanak saudara Cuma sedikit, ketiga tempat (rumah) saya juga kecil sehingga kalau melaksanakan upacara Ngaben tidak bisa dilaksanakan di rumah karena tempat tinggal saya sempit….”

Alasan biaya menjadi faktor utama dalam mendorong masyarakat untuk melaksanakan Ngaben di Krematorium.

Namun selain faktor biaya masih ada faktor lain yang mendorong masyarakat melaksanakan Ngaben di Krematorium seperti yang dijelaskan Suadityawan (2015) bahwa ada 4 (empat) faktor yang mendorong masyarakat melaksanakan Ngaben di Krematorium yaitu:

1. Faktor Sosial Budaya

Sebagai sistem disposisi, upacara Ngaben berdasarkan jejak-jejak historisnya merupakan kecenderungan yang bersifat ajeg. Walaupun bersifat ajeg, upacara Ngaben dapat dilihat sebagai struktur yang bersifat lentur dan dapat diubah. Artinya, upacara Ngaben masih menyediakan ruang adaptasi bagi individu-individu masyarakat Hindu-Bali sesuai dengan kedudukan, status sosial dan status ekonominya di masyarakat. Upacara Ngaben di krematorium, misalnya, merupakan salah satu cara baru model pelaksanaan upacara Ngaben. Setelah melalui sosialisasi, upacara Ngaben di krematorium dapat diterima dimasyarakat Hindu-Bali dari berbagai ragam kedudukan, status sosial dan status ekonomi.

2. Faktor Struktur Sosial

Pada masa lalu, ketika masyarakat Hindu-Bali masih bersifat homogen dan

(5)

hidup sebagai petani secara komunal, mereka merancang dan melaksanakan berbagai macam upacara keagamaan termasuk upacara Ngaben secara bersama-sama dalam komunitas tertentu yang terwujud dalam sistem ngayah atau nguopin.

Adanya pengaruh global menyebabkan Bali mengalami perubahan dan budaya progresif berkembang, dimana lebih mengedepankan budaya material yang menimbulkan tuntutan untuk dapat bertindak efektif serta efisien, termasuk dalam hal menyiapkan dan menjalankan upacara keagamaannya, dalam hal ini upacara Ngaben.

Keluarga duka yang mengingikan pelaksanaan upacara Ngaben dilaksanakan dengan efektif dan efisien cenderung memilih upacara Ngaben di krematorium.

3. Faktor Ekonomi

Secara umum dalam pelaksanaan upacara Ngaben di krematorium kategori biaya yang dibutuhkan tidak berbeda dengan Ngaben konvensional, yaitu ke upakara dan konsumsi. Hanya saja, dalam pelaksanaan upacara Ngaben di krematorium, biaya upakara sudah pasti karena ada paket-paket yang disediakan oleh pihak yayasan dan pihak keluarga duka bisa memperhitungkan tamu yang akan diundang saat puncak acara serta jumlah konsumsi yang akan disuguhkan.

4. Faktor Tenaga dan Waktu

Dalam penyelenggaraan upacara Ngaben di krematorium, secara umum tenaga kerja juga tetap diperlukan.

Tenaga kerja yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Ngaben di krematorium disebut dengan kru.

Semua kru yang ada dikoordinir oleh ketua kru dari awal hingga akhir upacara Ngaben di krematorium. Ketua Kru bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan upacara Ngaben di krematorium.

Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara Ngaben di krematorium relatif cukup singkat jika dibandingkan dengan pelaksanaan upacara Ngaben konvensional.

Dari keempat faktor tersebut di atas, faktor lain yang muncul adalah masyarakat Bali sebagai agen budaya.

Pernyataan tersebut dijelaskan oleh Atmadja (2015) yang menyatakan bahwa alasan orang Bali sebagai agen budaya dalam memilih Ngaben di krematorium adalah sebagai berikut:

1. Ngaben di Krematorium = Ngaben Ter- McDonalisasi.

Ngaben sebagai bagian dari kebudayaan Bali tidak terlepas dari McDonalisasi atau secara lebih luas disebut teknologisasi. Pemikiran yang ter-McDonalisasi mengakibatkan orang Bali menggantikan sistem peNgabenan konvensional dengan peNgabenan gaya baru, yakni peNgabenan di krematorium. Ngaben di Krematorium dianggap sebagai ngaben ter- McDonalisasi karena didasari oleh adanaya asas Kalkulabilitas, asas Prediktabelitas, dan Teknologisasi.

2. Ngaben di Krematorium = Agen Hiperkomodifikasi

Produk yang dihasilkan lewat efisiensi pada peNgabenan di krematorium adalah barang (peralatan ritual, banten peNgabenan) dan jasa (pelayanan ritual Ngaben). Produk ini diperjual- belikan sehingga komodifikasi menjadi keniscayaan. Komodifikasi jasa keagamaan terlihat pada penggunaan, sulinggih (orang suci) sebagai pemimpin ritual Ngaben yang diberikan honorarium (daksina) secara standar.

Komodifikasi barang-barang keagamaan terlihat pada jual-beli peralatan ritual termasuk di dalamnya banten.

3. Mengatasi Kesulitan Investasi Modal Sosial

Alasan lain yang mendorong orang Bali memilih Ngaben di krematorium berkaitan dengan ciri Ngaben konvensional, yakni bersifat masal selalu melibatkan banyak orang.

Polanya ada dua yakni: pertama, maserah ke banjar/desa pakraman dan kedua, maserah ke dadia. Apapun bentuk pengerahan tenaga, apakah maserah ke banjar atau maserah ke dadia esensinya sama, yakni seseorang harus menanam modal

(6)

sosial dan ekonomi agar partisipasi anggota banjar dan anggota dadia terjalin secara optimal.

4. Mengatasi Kesulitan Karena Kasepekang dan Kanorayang

Kasepekang berarti seseorang diberhentikan sementara sebagai anggota desa pakraman. Sedangkan kanorayang berarti seseorang diberhentikan secara tetap sebagai anggota desa pakraman. Sanksi adat ini bisa berujung pada pelarangan menggunakan kuburan milik desa pakraman untuk penyelenggaraan ritual kematian, termasuk Ngaben, karena kuburan adalah milik desa pakraman (Windia dalam Atmadja, 2015). Dalam konteks inilah Ngaben memakai jasa krematorium adalah pilihan bagi mereka yang dianggap maladaptasi pada desa pakraman.

5. Mengatasi Kesulitan Miskin Modal Finansial

Pelaksanaan upacara Ngaben membutuhkan investasi modal finansial untuk pengadaan peralatan ritual, dana konsumsi, dan lain-lain. Jumlah dana ritual pengabenan bisa tems meningkat, tidak semata-mata karena bahan baku perlengkapan ritual Ngaben tunduk pada hukum pasar, tetapi meminjam gagasan dan bisa pula karena ritual Ngaben berbaur dengan nilai simbolik atau nilai tanda. Bertolak dari gagasan ini maka kepuasan bagi pengaben tidak lagi hanya terletak pada kemampuan mereka menunaikan kewajiban agama, tetapi bertumpu pula pada aspek kepenontonan.

6. Mengatasi Kesulitan Karena HIV/AIDS Orang tertular HIV/ADIS menimbulkan masalah baik pada saat dia masih hidup maupun ketika dia mati.

Misalnya, kasus di kota, Singaraja, yakni mayat terkena HIV/AIDS, enggan dirawat oleh angggota keluarga dan atau warga dadia- nya. Dengan demikian mayat tersebut tidak dibawa pulang ke rumahnya, tetapi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng, langsung dibawa ke krematorium dan langsung dibuatkan upacara Ngaben.

7. Pengaben Mengatasi Warga Mengambang di Desa Pakratnan

Urbanisasi merupakan suatu keniscayaan bagi masyarakat modern.

Gejala ini terlihat dari adanya kenyataan bahwa semakin banyak orang desa bermukim di kota, misalnya di kota Denpasar. Kondisi ini bisa melahirkan orang-orang Bali terjangkiti oleh mental kura-kura dalam perahu atau pura-pura tidak tahu tentang eksistensi desa pakraman yang terkadang menimbulkan masalah.

Metode Efisiensi Biaya yang Diterapkan Pada Paket Ngaben di Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Kabupaten Buleleng

Upacara Ngaben umumnya menghabiskan biaya yang cukup besar sehingga perlu dilakukan penyederhanaan upacara agar upacara ngaben yang dulunya membutuhkan biaya yang tinggi bisa diubah menjadi upacara ngaben yang efisien.

Salah satu alternatif yang dapat ditempuh utuk mengefisiensikan biaya ngaben adalah dengan ngaben di YPUH.

Efisiensi biaya yang dilakukan oleh yayasan ini sudah diperhitungkan secara matang agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan yayasan yaitu penyederhanaan upacara. Efisiensi biaya yang dilakukan oleh YPUH yaitu dengan cara menghilangkan proses upacara yang kurang berdaya guna dan menimbulkan biaya yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Pengeliminasian biaya tersebut didasarkan pada lontar Yama Purwana Tattwa yang merupakan lontar yang menjelaskan proses Ngaben dan banten yang digunakan. Namun apakah paket upacara Ngaben yang ditawarkan oleh YPUH sudah efisien jika dipandang dari sudut akuntansi.

Cost Efficiency adalah ukuran seberapa efisien suatu aktivitas mengkonsumsi sumber daya dalam menghasilkan keluaran (Mulyadi, 2003:42). Semakin kompleks aktivitas perusahaan semakin berpeluang besar terjadinya pemborosan, utamanya akibat dari aktivitas yang tak bernilai tambah (non value added activity) dan aktivitas yang bernilai tambah (value added activity) yang tidak efisien. Salah satu cara

(7)

untuk menekan biaya dari aktivitas- aktivitas yang tidak efisien yaitu dengan implementasi Cost reduction Program.

Cost reduction Program merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dengan cara menekan biaya perusahaan untuk mencapai tingkat tertentu (Mulyadi dalam Kristyanto, 2013).

Cost reduction memfokuskan pengurangan biaya pada penyebab timbulnya pemborosan yaitu kualitas.

Strategi cost reduction mampu mengurangi biaya dalam jumlah yang signifikan dan untuk jangka waktu panjang. Kunci keberhasilan penerapan Cost reduction Program yaitu dengan Activity Based Management. Activity Based Management adalah suatu sistem yang luas, pendekatan terintegrasi yang memfokuskan perhatian manajemen pada aktivitas dengan tujuan meningkatkan nilai pelanggan dan keuntungan (Ahmad, 2005). Efisiensi biaya dapat dilakukan dengan menetapkan aktivitas mana yang memberikan nilai tambah dan aktivitas mana yang tidak memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Aktivitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu, aktivitas bernilai tambah dan aktivitas yang tidak bernilai tambah. Pengelolaan aktivitas bisa dilakukan dengan empat cara (Hansen dan Mowen, 2004) yaitu:

Efisiensi pelaksanaan aktivitas bernilai tambah dapat dikendalikan dengan 1). Pemilihan aktivitas, pengurangan biaya dilakukan dengan melakukan pemilihan diantara berbagai jenis aktivitas yang berasal dari strategi bersaing, strategi yang berbeda akan menghasilkan aktivitas yang berbeda.

Setiap strategi memiliki berbagai aktivitas dan biaya sendiri. Jika semua strategi hasilnya sama maka strategi yang harus dipilih untuk biaya yang paling rendah. 2).

Pembagian aktivitas, pembagian aktivitas dapat meningkatkan efisiensi dari aktivitas yang diperlukan dengan menggunakan skala ekonomis sehingga dengan cara ini dapat menurunkan biaya per unit.

Efisiensi pelaksanaan aktivitas yang tidak bernilai tambah dapat dikendalikan dengan:

1. Pengurangan aktivitas, pengurangan biaya dilakukan dengan menurunkan

waktu dan sumber daya yang diperlukan oleh aktivitas. Pendekatan terhadap pengurangan biaya ini harus ditunjukan terutama pada peningkatan efisiensi dari aktivitas yang diperlukan atau strategi jangka pendek untuk memperbaiki aktivitas tidak bernilai tambah hingga aktivitas tersebut dapat dieliminasi, disini aktivitas tetap ada tetapi waktu yang digunakan dan sumber daya yang dibutuhkan ditekan atau dikurangi sedemikian rupa.

2. Penghapusan aktivitas, pengurangan biaya memfokuskan pada aktivitas tidak bernilai tambah, setelah aktivitas tidak memberikan nilai tambah diidentifikasi, pengukuran harus dilakukan untuk menghilangkan aktivitas tersebut dari organisasi.

Rangkaian upacara Ngaben secara konvensional sangat kompleks sehingga menyebabkan timbulnya biaya- biaya yang disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan. Biaya-biaya tersebut timbul dari adanya aktivitas yang bernilai tambah dan juga aktivitas yang tidak bernilai tambah.

Berikut adalah analisis aktivitas bernilai tambah dan tidak bernilai tambah pada upacara Ngaben secara Konvensional dibandingkan dengan ngaben di YPUH berdasarkan hasil pengamatan peneliti:

1. Analisis Aktivitas Bernilai Tambah yang kurang Efisien

Dari hasil pengamatan di lapangan, berikut adalah aktivitas bernilai tambah yang dinilai kurang efisien dalam upacara Ngaben Konvensional jika dibandingkan dengan upacara Ngaben di YPUH:

a. Mempersiapkan Sarana Upacara.

Persiapan Perlengkapan upacara pada ngaben konvensional menimbulkan pemborosan biaya dan waktu karena dipersiapkan secara pribadi sehingga membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang cukup banyak. Namun jika melaksanakan ngaben di YPUH, semua perlengkapan akan disiapkan oleh pihak YPUH, sehingga pemborosan biaya, tenaga, dan waktu dapat diminimalkan.

b. Mempersiapkan Sarana Upacara.

(8)

Selain persiapan perlengkapan, persiapan sarana upacara berupa banten dalam upacara ngaben konvensional dilaksanakan dengan membuat sendiri atau membeli ke griya. Jika membuat sendiri tentu ada biaya yang ditimbulkan akibat pembelian bahan banten dan juga memerlukan tenaga kerja. Jika membeli ke griya biasanya biaya yang dikenakan cukup tinggi, karena banyak banten yang diperlukan. Sebaliknya biaya-biaya yang berlebihan tersebut akan dikurangi oleh YPUH, karena semua banten disiapkan oleh YPUH, dan banten yang digunakan juga hanya menggunakan banten utama saja dan ditambah dengan beberapa banten pelengkap.

c. Nyiramang/Mabersih.

Pada umumnya upacara mabersih dilaksanakan di rumah duka dengan menggunakan pepaga kaki carang dadap, tikar sebagai alas nyiramang layon, Leluwur, eteh - eteh Paresikan, pengangge, base jeriji, kwangen, eteh eteh pengelelet dan yang lainnya menyebabkan aktivitas ini dianggap kurang efisien jika disiapkan secara pribadi. Namun jika melaksanakan upacara ngaben di YPUH peralatan- peralatan dalam proses mabersih akan disiapkan oleh YPUH, dan penggunaan pepaga dan tikar akan dihilangkan karena di YPUH sudah ada bak untuk proses nyiramang layon, sehingga biaya yang dikeluarkan bisa ditekan.

d. Pegesengan.

Aktivitas megeseng/kremasi dilakukan dengan menggunakan bantuan kompor mayat agar sawa lebih cepat menjadi abu sehingga akan menimbulkan biaya sewa kompor dan biaya bahan bakar kompor. Biaya yang ditimbulkan dari penyewaan kompor mayat tersebut akan dihilangkan karena pembakaran sawa di YPUH menggunakan krematorium milik YPUH, sehingga cukup membayar biaya bahan bakar.

2. Analisis Aktivitas Tidak Bernilai Tambah yang Menimbulkan Biaya Berikut ini dijelaskan aktivitas-aktivitas yang dianggap tidak bernilai tambah dalam upacara Ngaben Konvensional

jika dibandingkan dengan upacara Ngaben di YPUH:

a. Mempersiapkan Bade / Wadah dan Petulangan.

Dalam upacara ngaben secara konvensional diperlukan alat pengusung jenazah berupa bade dan tempat untuk membakar jenazah yaitu petulangan. Pembuatan bade dan petulangan membutuhkan biaya yang tinggi, semakin megah bade atau petulangan yang dibuat maka biaya yang dikeluarkan juga makin tinggi.

Berbeda dengan upacara ngaben di YPUH penggunaan petulangan digantikan dengan penggunaan kerematorium, dan penggunaan bade dihapuskan karena lokasi ngaben di YPUH berada dalam satu tempat.

b. Melaspas Bade/Wadah, Petulangan.

Upacara melaspas bade dan petulangan membutuhkan banten yang besar, sehingga biaya yang dikeluarkan juga besar. Karena penggunaan bade dan petulangan dihilangkan jika ngaben di YPUH, maka upacara melaspas bade dan petulangan juga dihilangkan sehingga biaya yang timbul bias dihapus.

c. Banten Bebangkit dan Menarikan Tari Baris.

Penggunaan Banten Bebangkit dan Tari Baris dalam upacara Ngaben tentu menyebabkan biaya tambahan berupa biaya untuk babi guling dan juga biaya untuk jasa penari. Biaya yang muncul tersebut dapat didireduksi dengan menghilangkan Tari Baris pengiring jenazah dan mengganti Banten Bebangkit dengan Pras Pengambean, atau udel kurenan.

d. Pengutangan Ke Setra.

Biaya-biaya yang timbul akibat aktivitas pengutangan ke setra yaitu biaya penggunaan bade, biaya pengusung bade, biaya jasa pecalang untu mengamankan jalannya pengutangan, biaya sekaha gong untuk mengiringi pengutangan. Jadi semakin banyak memerlukan orang akan semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan.

Namun biaya yang timbul tersebut akan dieliminasi jika melaksanakan Ngaben di YPUH karena lokasi upacara berada

(9)

dalam satu lokasi sehingga proses pengutangan tidak diperlukan lagi.

3. Analisis Efisiensi Biaya dalam Upacara Ngaben dari Implementasi Cost reduction

Dari hasil analisis biaya-biaya aktivitas yang pada upacara Ngaben, terlihat adanya biaya yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah yang menyebabkan upacara ngaben secara konvensional membutuhkan biaya yang besar. Sebagai pembanding peneliti menggunakan data dari hasil wawancara dengan Ketut Oka mengenai biaya yang dikeluarkan pada upacara ngaben secara konvensional berikut:

“….Ngaben pribadi daweg ring Banjar Tegal nika tiang ngelah meme, biayane akeh sajan daweg nika kanti telah 60 jutaan, nika ampun wenten sumbangan- sumbangan uli cucu, uli keponakan, uli misan-misan. Yen itung aji jinah nika barang-barange

ane merupa punia 112 juta telah….”

Artinya:

“….Ngaben pribadi di Banjar Tegal saat ibu saya (diaben), biayanya banyak sekali sampai habis 60 jutaan, itu sudah dibantu sumbangan dari cucu, dari keponakan, dari sepupu. Kalau dihitung dengan uang untuk barang-barang yang berupa sumbangan tersebut habis 112 juta….”

Berikut adalah hasil perubahan keseluruhan biaya pada upacara Ngaben secara konvensional dan upacara Ngaben di YPUH.

Tabel 1. Efisiensi Biaya pada Masing-masing Paket Ngaben di YPUH

A. Efisiensi Biaya pada Paket Umat Terdaftar

Biaya upacara Ngaben secara konvensional Rp. 112.000.000 Biaya upacara Ngaben di YPUH (Paket 3) Rp. 13.050.000

Biaya tidak bernilai tambah Rp. 98.950.000

Efisiensi biaya diperoleh = . 5 .

. . X 100 % = 88,3 %

B. Efisiensi Biaya pada Paket Umat Tidak Terdaftar

Biaya upacara Ngaben secara konvensional Rp. 112.000.000 Biaya upacara Ngaben di YPUH (Paket 3) Rp. 14.100.000

Biaya tidak bernilai tambah Rp. 97.900.000

Efisiensi biaya diperoleh = . .

. . X 100 % = 87,4 %

C. Efisiensi Biaya pada Paket Tamu Asing

Biaya upacara Ngaben secara konvensional Rp. 112.000.000 Biaya upacara Ngaben di YPUH (Paket 3) Rp. 16.850.000

Biaya tidak bernilai tambah Rp. 95.150.000

Efisiensi biaya diperoleh = 5. 5 .

. . X 100 % = 84,96 %

(10)

Dampak yang Ditimbulkan dari Penyederhanaan Biaya Terhadap Hakikat Upacara Ngaben.

Menurut Bahasa Bali kata Ngaben berarti membekali atau memberi bekal.

Bekal yang dimaksud adalah sesuatu yang berwujud material yang diwujudkan dalam upakara-upakara dan benda-benda materi lainnya, dan juga bekal immaterial yang berwujud Puja Mantra dari Ida Pedanda serta doa-doa dari sanak saudara. Dari kata ngaben yang berarti membekali ini mungkin timbul anggapan yang bersifat berlebihan, sehingga Ngaben itu harus secara besar-besaran sebagai bukti rasa terima kasih dan hormatnya kepada almarhum, dan terselip suatu anggapan yang keliru bahwa perlunya orang meninggal itu diberikan bekal sebanyak-banyaknya dalam perjalanannya kedunia sana.

Sebenarnya upacara ngaben tidak harus dilaksanakan secara mewah, cukup dilaksanakan sesuai dengan kemampuan asalkan upacara ngaben berjalan sesuai dengan tatwa. Ida Pedanda Made Gunung dalam tulisannya menjelaskan bahwa upacara ngaben dari sisi tattwa adalah sebuah prosesi pengembalian unsur Panca Maha Bhuta, yang bertujuan rokh bisa terlepas dari badan kasarnya. Maka dari itu marilah kita lakukan upacara tersebut dengan penuh keikhlasan, yang disesuaikan dengan kemampuan yang ada (satwika yadnya). Adapun tattwa yang dimaksudkan disini adalah sumber ajarannya. Jadi ngaben itu sendiri bersumber dari ajaran Veda dan lontar- lontar kamoksan seperti Yama Purwana Tattwa. Lontar inilah yang menjadi salah satu dasar melaksanakan ngaben yang sederhana seperti ngaben pada Yayasan Pengayom Umat Hindu (YPUH) Kabupaten Buleleng. Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa ngaben dilakukan sesuai dengan kemampuan baik secara sederhana, menengah dan utama, seperti berikut:

“Ssi tingkah angupakara sawa sang mati, agung, alit, nista, madya, utama, maka patuting wulah sang magama tirtha ring Bali rajia, kewala wang mati bener tan wnang mapendem, mangda

mgeseng juga, saika supacarania, prasida sang atma polih ring bhatara brahma, apitwi tan pabia, swasta ring sang hyang agni sida amanggih rahayu sang hyang atma.”

Artinya:

“Bila melakukan upacara kematian sesuai dengan kemampuan yang disebut sederhana, menengah dan utama. Agar tidak menyimpang dari petunjuk bagi umat yang beragama Hindu di pulau Bali.

Hanya orang yang mati wajar tidak boleh dikuburkan, agar dibakar saja (ngaben), disertai dengan upacara agar roh orang tersebut mendapat tempat disisi Dewa Brahma, walaupun tanpa biaya, dengan jalan upacara swasta gni, atma akan berhasil mendapatkan kebahagiaan yang abadi”

Nilai tattwa yang terkandung dalam lontar Yama Purwana Tattwa adalah Upacara Ngaben secara filosofis memiliki makna sebagai proses untuk mempercepat pengembalia nunsur-unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya atau ke sumbernya masing-masing. Upacara Ngaben juga mempunyai makna sebagai membantu perjalanan atman menuju Brahman. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan dari Ketua YPUH sebagai berikut:

“….tiang sering menyampaikan bahwa sorga – neraka itu ten dadi pegedenin bayu (tidak bisa dengan besar-besaran tenaga/biaya), tidak bisa dengan kekuatan besar–

kecilnya banten. Jadi kecil–

besarnya banten tidak menjadi tolok ukur….”

Dari kutipan dharma wacana tersebut terlihat jelas bahwa pelaksanaan upacara Ngaben secara besar-besaran tidak akan menjamin seseorang itu akan mendapatkan sorga ataupun neraka.

Jadi pelaksanaan upacara ngaben secara sederhana dan efisien tidak akan mengubah hakikat inti dari upacara ngaben itu sendiri asalkan sesuai dengan aturan-aturan dan pedoman yang tertulis

(11)

di Weda maupun di lontar-lontar kamoksan seperti Yama Purwana Tattwa yang sampai saat ini tetap relevan di pakai sebagai pedoman upacara pitra yadnya bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali.

Karena dapat memberikan gambaran ataupun tata cara upacara kematian bagi masyarakat Hindu, terutama membakar mayat. Berarti tanpa adanya sebuah sumber dan pedoman, maka umat tidak berani melaksanakan upacara tersebut.

Hal ini mesti diperkenalkan kepada umat Hindu, sehingga mampu meningkatkan sradha dan bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi- Nya.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Masyarakat memilih ngaben di Yayasan pengayom Umat Hindu (YPUH) Kabupaten Buleleng karena didasari oleh beberapa faktor yaitu faktor sosial budaya, faktor struktur sosial, faktor ekonomi, faktor tenaga dan waktu. Faktor lain yang muncul selain keempat faktor tersebut adalah masyarakat bali sebagai agen budaya. Alasan orang Bali sebagai agen budaya dalam memilih Ngaben di krematorium adalah Ngaben di Krematorium = Ngaben Ter-McDonalisasi, Ngaben di Krematorium = Agen Hiperkomodifikasi, Mengatasi Kesulitan Investasi Modal Sosial, Mengatasi Kesulitan Karena Kasepekang dan Kanorayang, Mengatasi Kesulitan Miskin Modal Finansial, Mengatasi Kesulitan Karena HIV/AIDS, Pengaben Mengatasi Warga Mengambang di Desa Pakratnan.

Efisiensi upacara ngaben yang dilaksanakan oleh YPUH menggunakan metode cost reduction program yang didukung oleh Activity Based Management yaitu proses pengurangan biaya dengan mengendalikan aktivitas bernilai tambah dan aktivitas tidak bernilai tambah dalam upacara ngaben. Aktivitas-aktivitas dalam upacara ngaben yang dianggap bernilai tambah namun kurang efisien yaitu mempersiapkan perlengkapan upacara, mempersiapkan sarana upacara, nyiramang / mabersih, pegesengan.

Kemudian, aktivitas-aktivitas yang dianggap tidak bernilai tambah yaitu

Mempersiapkan Bade / Wadah, Petulangan; Melaspas Bade / Wadah, Petulangan; Banten Bebangkit dan Menarikan Tari Baris; Pengutangan Ke Setra.

Upacara ngaben yang di sederhanakan dengan mengurangi biaya yang ditimbulkan dari aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah. Walaupun demikian pelaksanaan upacara ngaben secara sederhana dan efisien tidak akan mengubah hakikat inti dari upacara ngaben itu sendiri asalkan sesuai dengan aturan-aturan dan pedoman yang tertulis di Weda maupun di lontar-lontar kamoksan seperti Yama Purwana Tattwa yang sampai saat ini tetap relevan di pakai sebagai pedoman upacara pitra yadnya.

Saran

Penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena data yang diperoleh peneliti masih berfokus pada pihak yang setuju terhadap pelaksanaan upacara ngaben di krematorium sehingga perlu penggalian data lebih lanjut terhadap pihak yang tidak setuju terhadap upacara ngaben di krematorium.

Peneliti juga tidak memperoleh data keuangan mengenai laporan biaya secara rinci pada masing-masing paket ngaben di YPUH karena pihak YPUH menghitung biaya yang dikeluarkan secara global (keseluruhan) sehingga biaya yang dicatat hanya harga per paket ngaben. Sehingga, diharapkan untuk penelitian selanjutnya keterbatasan ini dapat diatasi dengan menggali informasi lebih mendalam untuk setiap komponen dalam paket ngaben.

Masyarakat diharapkan agar lebih bijak lagi dalam melaksanakan upacara ngaben di krematorium karena upacara ngaben merupakan salah satu budaya masyarakat Bali, dan jika budaya tersebut tidak dilestarikan maka dapat menyebabkan hilangnya budaya ngaben yang telah turun temurun dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Kamaruddin. 2005. Akuntansi Manajemen: Dasar-dasar Konsep Biaya dan Pengambilan

(12)

Keputusan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Alwasilah, A. Chaedar. 2003. Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Atmadja, Nengah Bawa, dkk. 2015.

[Ngaben+Mamukur] +

[Uparengga+Mantra] = [Dewa Pitara + Surga]. Singaraja: Pustaka Larasan bekerja sama dengan IBIKK BCCC Undiksha

Hansen, Don R dan Mowen, Maryanne M.

2004. Akuntansi Manajemen.

Jakarta: Erlangga.

Hikmat, Mahi M. 2011. Metode Penelitian:

Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi dan Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kristyanto, Andrias Dimas. 2013.

Implementasi Cost Reduction Program pada Usaha Kecil Menengah (Studi Kasus Pada Perusahaan Makanan ”57”

Salatiga). Skripsi. Salatiga:

Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Universitas Kristen Satya Wacana.

Pendit, Nyoman S. 2001. Nyepi:

Kebangkitan, Toleransi, dan Kerukunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Pratiwi, G. A. Made Firma. 2015.

Eksistensi Pelaporan Keuangan pada Upacara Ngaben Masal di Banjar Pakraman Banyuning Tengah dan Banyuning Barat, Desa pakraman Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Skripsi.

Singaraja: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pendidikan Ganesha.

Suadityawan, I Putu. 2015. Interaksi Sosial dalam Pelaksanaan Ritual Keagamaan Masyarakat Hindu-Bali (Studi Pada Ritual Ngaben Di Krematorium). Jurnal Ilmiah Sosiologi (SOROT). Universitas Udayana. Vol 1, No 3. Hal. 1 – 15.

Suprayogo, Imam. 2001. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung:

Remaja Rosda Karya.

Win, Bu. 2010. Mengenal Sepintas Seni Budaya Bali. Jakarta: Mitra Aksara Panaitan.

Referensi

Dokumen terkait

(WMO"# !/€.*•'•# C 1%-VJ MWt/ *v Area pendidikan ^> Area perkantoran Zonatenang Zona ramai design schematic Lantai 2 merupakan area privat ; kamar kamar pelatih pelatih

STRATEGI PELAKSANAAN KSANAAN TINDAKAN TINDAKAN KEPERAW KEPERAWA AT TAN AN HARGA DIRI RENDAH (SP 1).. HARGA DIRI RENDAH

Tabel 4.9 Perbandingan Umpan Dan Keluaran Evaporator Tahap Keempat 47 Tabel 4.10 Resume Neraca Massa Evaporator Multi Efek Tahap Kelima

matriks QSPM, Hasil analisis ini menunjukkan bahwa prioritas strategi yang ingin dijalankan oleh Pia Apple Pie adalah: (a) mempertahankan manajemen sumber daya pada

Model yang dirancang adalah berdasarkan identifikasi dari proses yang ada dalam kondisi nyata, dengan adanya model yang telah dirancang dapat diketahui berapa

1) Proses Pengembangan Media Pembelajaran Media Pembelajaran Berbasis Permainan Monopoli Pada Materi Perencanaan Pemasaran Kelas X Jurusan Pemasaran SMK Ketintang

Berdasarkan hasil dari identifikasi secara morfologi dan biokimia, menunjukkan bahwa isolat bakteri CS7 termasuk ke dalam genus Bacillus koloni bakteri berwarna

Atas rahmat dan kebesaran-Nya peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Hubungan Konflik Kerja Dengan Etos Kerja Pegawai di PDAM Kabupaten Malang”, sebagai syarat