• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP MELALUI REORIENTASI PEMBELAJARAN DAN REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN PADA SMK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP MELALUI REORIENTASI PEMBELAJARAN DAN REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN PADA SMK."

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN PADA SMK

DISERTASI

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Oleh

Tasma Sucita

NIM 1004746

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “ IMPLEMENTASI

PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP MELALUI

REORIENTASI PEMBELAJARAN DAN REFORMASI PRAKTIK

PENDIDIKAN PADA SMK” ini dan seluruh isinya adalah benar-benar karya

saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan

cara-cara yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat

keilmuan. Atas pernyataan tersebut, saya siap menanggung resiko yang dijatuhkan

kepada saya apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap

etika keilmuan dalam karya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap karya

saya.

Bandung, 5 Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,

Tasma Sucita NIM. 1004746

(4)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia, taufik

dan hidayah-Nya sehingga laporan penelitian disertasi yang berjudul

“Implementasi Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan Pada SMK” ini dapat diselesaikan.

Penyusunan Disertasi ini diajukan sebagai bahan untuk memenuhi

sebagian dari syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pendidikan pada program

studi S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana Universitas

Pendidikan Indonesia. Isi dari laporan Disertasi ini tentu masih jauh dari

sempurna dan banyak kekurangan dan kelemahan baik dari segi penulisan,

substansi, pengumpulan data dan sumber referensi, maupun dalam melakukan

rekapitulasi data dan analisis data yang diperoleh dari lapangan masih sangat

terbatas, untuk itu penulis menerima kritik, saran, dan masukan- masukan yang

positif demi perbaikan dan penyempurnaan isi dari laporan penelitian disertasi ini.

Akhirnya dengan selesainya penyusunan laporan disertasi ini, semoga

dapat bermanfaat baik bagi penulis itu sendiri maupun bagi pembaca pada

umumnya. Atas bantuan dan partisipasi dari semua pihak dalam penyusunan

laporan disertasi ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan

yang setinggi- tingginya, semoga amal baik yang telah diberikan mendapat balasan

dari Allah SWT dengan berlipat ganda, amin.

Bandung, 5 Agustus 2015

Penulis,

(5)

tingginya kepada semua pihak atas kritik, saran dan masukan- masukan yang telah

disampaikan pada saat bimbingan, seminar, maupun diskusi baik secara formal

maupun informal sehingga laporan disertasi ini dapat diselesaikan dengan se

maksimal mungkin, khususnya kepada :

1. Yth. Bapak Prof. Dr. Mokhamad Syaom Barliana, M.Pd., MT. selaku Ketua

Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia, terima kasih atas informasi- informasi yang

telah disampaikan berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan penyelesaian

studi program doktor ini, dan sekaligus sebagai penguji internal.

2. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE, atas bimbingan, masukan

dan saran-saran selama proses penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian,

dan penyusunan laporan disertasi dan sekaligus selaku dosen pembimbing

akademik, dan sebagai anggota dari tim Dosen Pembimbing Disertasi.

3. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE, sebagai dosen promotor tim

pembimbing Disertasi atas saran-saran dan masukan-masukannya tentang

konsep dan arah penelitian yang berkaitan dengan topic penelitian disertasi

serta masukan tentang wawasan vokasional di dalam forum internasional dan

gambaran mengenai penggunaan software untuk teknis analisis dalam

pengolahan data penelitian.

4. Yth. Bapak Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd, juga sebagai dosen kopromotor

tim pembimbing Disertasi atas masukan-masukan dan saran-sarannya yang

berhubungan dengan penentukan variable penelitian, populasi dan sampel,

penyusunan instrumen penelitian, serta teknis pengambilan dan analisis data

yang berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan.

5. Yth. Bapak Prof. Dr. Soenarto, M.Sc., MA., sebagai penguji eksternal atas

saran-saran dan masukkan-masukkan yang sangat bermanfaat sehubungan

(6)

Wiguno, M.MPd. selaku Kepala SMKN 2 Tasikmalaya, dan Ibu Sugiaharti,

S.Pd., selaku Kepala SMK Prakarya Internasional, atas ijin kesempatannya

untuk melakukan penelitian pada SMK yang Bapak/Ibu pimpin.

7. Yth. Agus Muslihin, S.Pd., MT. , dan Drs. R. Uung Syarif Kurnia, MT., dari

SMKN 4 Bandung; Drs. Harudin, dari SMKN 1 Purwakarta; Drs. Jaya, dari

SMKN 1 Cirebon, Drs. Rya Moh Maryun, MM, dan Ade Heryanto, S.Pd., dari

SMKN 2 Tasikmalaya, Drs. H. Syarif, dan Dani Usman, S.Pd., MT., atas

bantuan dan informasi yang telah diberikan kepada peneliti selama melakukan

penelitian di SMK masing-masing.

8. Semua teman program studi S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah

Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2010 yaitu Ir. H.

Supandi, M.Des., Ir. Suryawati, M.Si., Drs. Elih Mulyana, M.Si, Wasimudin

Surya Saputra, ST., MT., Yana Aditia Gerhana, ST., M.Kom., dan Maman

Somantri, S.Pd., MT., atas kebersamaan selama mengikuti pendidikan di

program ini.

9. Buat istriku Wijayanti Sugiono, dan putra-putraku Alfira Tasyaliany, S.ST.,

Benido Tasyarahmanto, dan Chania Tasya Umaro, yang selalu saling

memberikan doa dan dukungan yang tak henti-hentinya.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Mudah- mudahan atas segala masukan, informasi, saran, dan kritik yang

telah diberikan kepada penulis dapat dijadikan sebagai amal sholeh dan mendapat

balasan dari Allah SWT dengan berlipat ganda, amin.

Bandung, 5 Agustus 2015

Penulis,

(7)
(8)

Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan pada SMK. Dibimbing oleh: Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE.; Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd.; Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE.

Penelitian ini bertujuan mengetahui pencapaian implementasi pola pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup melalui reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan yang dilaksanakan pada SMK. Penelitian dilakukan terhadap SMK yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan sampel empat SMK Negeri dan satu SMK Swasta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan pemecahan masalah deskriptif, asosiatif kausal, dan asosiatif resiprokal. Penelitian dilakukan terhadap pimpinan SMK, guru-guru mata pelajaran produktif, dan siswa kelas 3 (XII) yang me miliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dengan teknik random sampling. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan pada SMK yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sudah sesuai dengan tujuan pendidikan berorientasi kecakapan hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan capaian rata-rata pelaksanaan reorientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru produktif menunjukkan dukungan signifikan yang cukup baik, dan kontribusi reformasi praktik pendidikan terhadap pencapaian kompetensi lulusan mencapai taraf signifikansi cukup. Adapun capaian kompetensi yang dimiliki oleh siswa kelas 3 (XII) sebelum lulus berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lima SMK sampel menunjukkan angka rata-rata baik. Kompetensi dalam kategori baik yang telah dimiliki oleh lulusan SMK tersebut merupakan modal awal yang dapat dijadikan sebagai bekal kecakapan hidup untuk memasuki dunia kerja. Dengan hasil penelitian ini semoga dapat memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan khususnya mengenai sistem pelaksanaan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup di bidang vokasional.

(9)

Tasma Sucita, 2015. Implementation of Life Skills Oriented Education Through Learning Reorientation and School Reform on SMK. Supervised by: Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE.; Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd.; Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE.

This study aimed to achieving the implementation pattern of implementation of life skills education through a reorientation of learning and practice reforms implemented in vocational education. Research conducted on the CMS are in the region of West Java province with four samples SMK SMK and one private. The method used in this research is quantitative method with a problem-solving approach descriptive, associative causal and associative reciprocal. Research conducted on vocational leaders, teachers productive subjects, and students in grade 3 (XII) which has competence Power Installation Engineering expertise with random sampling techniques. Findings from this study indicate that the implementation study conducted at SMK in West Java Provincial Education Department is in conformity with the goal of life skills-oriented education. This can be evidenced by the achievement of an average implementation reorientation of learning undertaken by prolific teacher showed significant support is quite good, and the reform of educational practices contribute to the achievement of the competence of graduates achieve a significance level sufficient. The achievement of competencies possessed by students in grade 3 (XII) before graduating based on analysis of data obtained from five vocational samples showed average figures either. Competence in both categories that have been owned by the vocational graduates is the initial capital that can be used as a provision of life skills to enter the workforce. With the results of this study may be able to contribute to education, especially regarding the implementation of system-oriented education in the field of vocational life skills.

(10)

DAFTAR ISI

A.2 Konsep Dasar Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup …..….. 21

A.3 Pola Pelaksanaan Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup …… 31

(11)

C. Populasi dan Sampel Penelitian ………. 69

A.2 Deskripsi Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen ……… 91

A.3 Deskripsi Hasil Pengolahan Data Penelitian ……… 94

A.4 Deskripsi Uji Statistik Normalitas, Linieritas, Multikolinieritas, Korelasi, dan Regresi ……….. 128

B. Pembahasan Temuan Penelitian ……… 149

B.1 Pola Pelaksanaan Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup pada SMK ……….……… 149

B.2 Pemahaman dan peranan guru mata pelajaran produktif dalam me-nerapkan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup pada SMK .. 151

(12)
(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Penelitian

Perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia pada saat ini masih belum

meningkat secara signifikan. Berdasarkan data di dalam negeri diketahui bahwa

Ujian Nasional Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah belum mencerminkan

nilai yang sesungguhnya yang kalau ditafsirkan kemampuan penguasaan siswa

masih relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Informasi dari

dunia usaha juga muncul adanya keluhan bahwa lulusan memasuki dunia kerja

belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Hal ini menyebabkan adanya gejala

lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah banyak yang

menjadi pengangguran baik di pedesaan maupun di perkotaan disebabkan karena

sulitnya mendapat pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus

membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Pendidikan yang berjalan

selama ini masih bersifat verbalistik `dan berorientasi semata-mata kepada

penguasaan mata pelajaran. Berdasarkan pengamatan terhadap praktek pendidikan

sehari-hari khususnya pendidikan formal menunjukkan bahwa pendidikan

difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi

pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh

siswa. Proses pembelajaran tersebut seakan-akan pendidikan bertujuan hanya

untuk menguasai mata pelajaran saja, sedangkan keterkaitan antara materi ajar

dengan kehidupan sehari-hari dan materi ajar tersebut agar dapat digunakan untuk

memecahkan problema kehidupan kurang mendapat perhatian.

Pendidikan seperti terlepas dengan kehidupan sehari-hari dan seakan-akan

pendidikan hanya untuk dunia pendidikan saja atau pendidikan tidak terkait

dengan kehidupan keseharian dari peserta didik. Sehingga siswa tidak mengetahui

manfaat yang dipelajarinya dari mulai belajar sampai lulus tidak tahu bagaimana

menggunakan apa yang telah dipelajari untuk memecahkan problematik

(14)

Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masih banyak lulusan

sekolah kejuruan (SMK) yang mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan

baik di industri maupun berwirausaha, sehingga lulusan SMK juga memberikan

kontribusi yang cukup besar untuk tenaga pengangguan di Indonesia. Berdasarkan

data Badan Pusat Statistik (Kompas, 5 Nopember 2014) menjelaskan bahwa

sampai Agustus 2014 jumlah lulusan SMK yang menganggur mencapai 809.280

jiwa atau 11,24% dari jumlah total pengangguran terbuka di Indonesia yaitu 7,24

juta jiwa, sedangkan lulusan SLTA umum hanya mencapai 687.600 jiwa atau

9,55%. Berdasarkan data informasi dari BPS tersebut menunjukkan adanya

kemungkinan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah kejuruan

(SMK) masih belum berorientasi kepada pembelajaran kecapakan hidup.

Seyogyanya pendidikan harus dikembalikan kepada prinsip dasarnya yaitu

sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisme) dan pendidikan juga agar dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik supaya berani menghadapi

problema hidup yang dihadapi tanpa merasa tertekan, mempunyai kemauan dan

kemampuan, serta senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi.

Hasil pendidikan juga diharapkan agar mampu mendorong peserta didik untuk

memelihara diri sendiri dengan meningkatkan hubungan terhadap Tuhan yang

mahaesa, masyarakat, dan lingkungannya. Dengan demikian maka diperlukan

suatu model pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekali peserta

didik agar memiliki kecakapan hidup untuk menghadapi kehidupan yang secara

integratif dan spesifik guna mengatasi dan memecahkan problema kehidupan.

Bahkan sejak tahun 2004 Menteri Pendidikan Nasional (Fajar, 2004, hlm. 2)

menyampaikan sambutan pada upacara peringatan hari Pendidikan Nasional

tanggal 2 Mei 2004 mengatakan bahwa :

” Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan

belajar bagi masyarakat dan meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks), berakhlak mulia, berbudi luhur, serta memiliki kesehatan jasmani dan rohani. Pentingnya siswa diberikan orientasi pendidikan kecakapan hidup agar lembaga pendidikan mampu memberikan

(15)

pembelajaran harus dijaga agar tetap dalam suasana yang menyenangkan dan

mengasyikkan serta mencerdaskan.”

Terdapat lima aspek yang perlu dikedepankan tentang pengembangan

kecakapan hidup (Wadud, 2012), menjelaskan tentang: relevansi kemampuan

peserta didik, penyiapan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat

perkembangan peserta didik, proses pembelajaran dalam mencapai kompetensi,

ketersediaan fasilitas belajar yang memadai, dan kemampuan kecakapan yang

dimiliki peserta didik untuk kehidupannya. Berdasarkan pendapat tersebut maka

kegiatan pembelajaran harus dirancang agar memberikan dampak yang positif

bagi peserta didik dalam membantu memecahkan problematika kehidupannya.

Pendidikan tersebut harus dirancang dan berorientasi kepada kecakapan hidup

supaya peserta didik mampu mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya secara

proaktif dan reaktif agar mampu mengatasi atau mencari solusi sendiri dalam

memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

Tujuan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang

Otonomi Daerah adalah untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan

prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peranserta atau partisipasi masyarakat, dan

meningkatkan sumber-sumber dana dalam rangka penyelenggaraan pendidikan.

Begitu pula Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan

Keuangan Pusat dan Daerah yang membawa konsekuensi terhadap bidang-bidang

kewenangan daerah sehingga lebih otonom, termasuk di bidang pendidikan.

Kualitas pendidikan merupakan salah satu isu sentral pendidikan nasional

disamping isu-isu pemerataan, relevansi, dan efisiensi pengelolaan pendidikan.

Perubahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 menjadi Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diikuti dengan

pemberlakuan kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar yang bermutu.

Salah satu isu penting dalam penyelenggaraaan pendidikan di Indonesia saat ini

adalah peningkatan mutu pendidikan, namun yang terjadi justru kemerosotan

mutu pendidikan dasar, menengah, maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini

berlangsung akibat penyelenggaraan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada

(16)

saat ini kualitas pendidikan sepertinya agak dipaksakan dengan adanya KKM

pada pendidikan dasar dan menengah, serta IPK pada pendidikan tinggi yang

batas kelulusannya dinaikkan agar seolah-olah kualitasnya dari lulusan tersebut

lebih baik. Mutu pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal,

melainkan ada sejumlah variabel yang dianggap saling berhubungan/

mempengaruhi. Dengan demikian maka perlu adanya sebuah kajian yang

mendalam agar dapat mengidentifikasi temuan secara empirik hubungan langsung

atau tidak langsung dalam suatu rangkaian dari sistem pendidikan.

Suatu pembelajaran harus menghasilkan suatu pendidikan yang dikelola

secara sistematisasi dari proses diperolehnya suatu pengalaman diolah sehingga

menjadi pengetahuan. Berdasarkan hal tersebut maka filsosofi pendidikan dapat

diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta

didik dalam menghadapi problema hidup dan kehidupannya. Dengan pengalaman

belajar itu, diharapkan peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya,

sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema hidupnya. Pengalaman

belajar itu diharapkan juga dapat mengilhami peserta didik dalam menghadapi

problema hidup sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran tersebut

memunculkan suatu pertanyaan yaitu : apa tujuan pendidikan itu secara hakiki

bagi manusia ? Jawaban pertanyaan tersebut sangat sederhana, yaitu tujuan

pendidikan bagi setiap manusia adalah agar peserta didik mampu memecahkan

dan mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan yang dihadapinya. Harapan

dari jawaban pertanyaan tersebut yaitu agar peserta didik setelah selesai mengikuti

pendidikan harus mempunyai bekal kemampuan untuk menyelesaikan setiap

menemukan problema hidup yang akan dihadapinya. Apabila peserta didik belum

mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupannya, pertanda tujuan

pendidikan belum tercapai. Berdasarkan gambaran tersebut maka dalam

pelaksanaan pendidikan, peserta didik perlu dibekali dengan pendidikan

kecakapan hidup, yang secara umum lebih dikenal dengan istilah Pendidikan

(17)

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga

pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia

yang memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian, sehingga lulusannya dapat

mengembangkan kinerja apabila terjun dalam dunia kerja. Pendidikan SMK itu

sendiri bertujuan meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan

diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kejuruan,

serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan

sikap profesional. Apapun jenis pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan

tidak lain muara dari lulusannya agar mereka memiliki kemampuan, keterampilan

serta ahli di dalam bidang ilmu tertentu. Selanjutnya mampu dan terampil

diaplikasikan dalam dunia kerja. Oleh sebab itu, hakiki dari Sekolah Menengah

Kejuruan sangat berbeda dengan sekolah umum atau SMA.

Ada dua hal sebenarnya kelebihan dari Pendidikan Menengah Kejuruan ini,

pertama lulusan dari institusi ini dapat mengisi peluang kerja pada dunia usaha/industri, karena terkait dengan satu sertifikasi yang dimiliki oleh lulusannya

melalui Uji Kemampuan Kompetensi. Dengan sertifikasi tersebut mereka

mempunyai peluang untuk bekerja atau dengan pendidikan kewirausahaan

(interpreneurship) agar lulusan mampu untuk berwirausaha mandiri sehingga bisa menciptakan peluang lapangan pekerjaan minimal untuk dirinya. Kedua, lulusan

Pendidikan Menengah Kejuruan dapat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan

yang lebih tinggi, sepanjang lulusan tersebut memenuhi persyaratan, baik nilai

maupun program studi atau jurusan sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan.

Bahkan pada pengembangan Kurikulum SMK 2013 (2012, hlm. 55) telah

mencantumkan pada struktur kurikulum SMK Bidang Studi Keahlian Teknologi

dan Rekayasa pada kolom mata pelajaran untuk kelompok A poin 10 yaitu life & Carrier Skills (non mata pelajaran) yang alokasi waktunya 2 (dua) jam per

(18)

Menurut Hilman (2011, hlm. 28) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ke

depan akan berkembang sejalan dengan keinginan pemerintah memberikan

kesempatan kepada masyarakat untuk mendirikan sekolah sehingga ada kebijakan

rencana pemerintah untuk mengembangkan rasio SMK : SMA menjadi 70 : 30

pada tahun 2015. Apalagi dengan pola Otonomi Pendidikan termasuk manajemen

berbasis sekolah (MBS) yang diberlakukan seperti sekarang ini, maka masyarakat

juga memiliki tanggungjawab moral untuk memikirkan dan menumbuh

kembangkan pendidikan, sehingga lebih dikenal dengan Pendidikan Berbasiskan

Masyarakat (community based education) dan pendidikan berorientasi kawasan

atau lingkungan. Adanya kebijakan otonomi daerah tentang pendidikan dan

otonomi daerah tentang keuangan ini maka setiap daerah akan berlomba untuk

menggali dan mengembangkan potensi daerahnya masing-masing termasuk

mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber daya manusia. Program ini

diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan di berbagai sektor/

bidang di seluruh Indonesia.

Kendala dalam mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat

menurut Sagala (2004) antara lain adalah: sistem perencanaan, penganggaran dan

pertanggungjawaban keuangan yang dianut pemerintah masih dari atas ke bawah

(top down); kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan atau

kekuatan energi masyarakat; sikap Birokrat yang belum mampu membiasakan diri

bertindak sebagai pelayan; karakteristik kebutuhan belajar masyarakat yang

sangat beragam, sedangkan sistem perencanaan yang dianut masih turun dari atas

dan bersifat standar; sikap masyarakat dan juga pola pikir masyarakat dalam

memenuhi kebutuhan masih tertuju pada hal-hal yang bersifat kebutuhan badani /

kebendaan; budaya menunggu pada sebagian besar masyarakat kita; tokoh

panutan, yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang seyogyanya berperan sebagai

panutan sering berperilaku seperti birokrat; lembaga sosial masyarakat yang

(19)

prasarana belajar, dan tenaga kependidikan; dan egoisme sektoral, yaitu masih ada

keraguan di antara prosedur yang berbeda tentang kedudukan masyarakat dalam

institusi pendidikan berkaitan dengan pendidikan berbasis masyarakat yang masih

menonjolkan karakteristiknya masing- masing.

Berkaitan dengan data dan informasi daya serap dan tingkat pengangguran

yang diperoleh dari BPS Provinsi Jawa Barat (Lindawati, 2013, hlm. 3) tentang

penduduk angkatan kerja dan pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan

yang ada di Provinsi Jawa Barat tahun 2012 dapat dijelaskan seperti pada tabel

1.1.

Tabel 1.1 Penduduk Angkatan Kerja dan Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Jawa Barat

Pendidikan Bekerja Pengangguran Total TPT

(Jiwa) ( % ) (Jiwa) ( % ) (Jiwa) ( % )

<= SD 8.928.460 49,14 602.054 30,58 9.530.514 6,32

SMP 3.360.773 18,50 499.600 25,37 3.860.373 12,94

SMA Umum 2.735.322 15,05 411.890 20,90 3.147.212 13.09

SMA Kejuruan 1.656.635 9,12 281.345 14,29 1.937.980 14,52

Diploma I/II/III 454.309 0,003 61.577 3,13 515.886 11,94

Universitas 1.034.153 5,69 112.540 5,71 1.146.693 9.81

Total 18.169.652 100 1.969.006 100 20.138.658 9,78

Berdasarkan informasi dari tabel 1.2 menunjukkan bahwa lulusan pendidikan

SMA Kejuruan (SMK) mempunyai tingkat prosentase pengangguran yang paling

tinggi yaitu 15,52% atau jumlah jiwa hampir dua juta (1.937.980 jiwa). Kejadian

seperti ini dapat disebabkan karena reorientasi dari proses pembelajaran yang

dilakukan di sekolah belum mengarah kepada pendidikan yang berorientasi

kecakapan hidup. Pendidikan berorientasi kecakapan hidup pernah dicanangkan

oleh pemerintah khususnya departemen pendidikan nasional antara tahun 2003

sampai dengan tahun 2005 (Tim BBE, 2003). Pada program pendidikan

berorientasi kecakapan hidup tersebut dapat dilakukan melalui empat cara

(Zulkarnaini, 2008) yaitu: reorientasi pembelajaran, pengembangan budaya

(20)

Secara garis besar keempat cara tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu

reorientasi pembelajaran, dan reformasi praktik pendidikan (school reform) yang meliputi budaya sekolah (school climate), manajemen sekolah (school management), dan hubungan sekolah dengan masyarakat (networking).

Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup di

atas, maka peranan dari guru dalam pembelajaran sangat penting untuk

mensukseskan keberhasilan dari program tersebut. Pembelajaran menurut

Rahmawati (2012) dapat dijadikan sebagai jantung proses pendidikan suatu

institusi pendidikan bersifat kompleks dan dinamis dengan berbagai persepsi dan

sudut pandang yang melintasi garis waktu. Pada tingkatan mikro pencapaian

kualitas pembelajaran merupakan tanggung jawab profesional bagi seorang guru

melalui penciptaan pengalaman belajar. Sedangkan pada tingkatan makro,

pencapaian pembelajaran berkualitas dan lembaga pendidikan mempunyai

tanggung jawab dalam pembentukan tenaga pengajar yang berkualitas, sehingga

perkembangan intelektual, sikap, dan moral peserta didik sebagai anggota

masyarakat dapat terbina dengan baik. Adanya prosentase tingkat pengangguran

yang masih tinggi bagi lulusan SMK di Jawa Barat akan dapat diantisipasi apabila

ada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran baik secara

eksternal maupun internal. Menurut Razi (2004), kedua faktor tersebut dapat

dijelaskan yaitu secara eksternal meliputi: guru, materi, pola interaksi, media dan

teknologi, situasi belajar, dan sistem; secara internal diantaranya: karakteristik

siswa, gaya belajar, sikap dan kebiasaan belajar serta aktivitas yang dilakukan

dalam merespon strategi pembelajaran dari guru.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk

melaksanakan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan pada SMK”

(21)

Banyak permasalahan yang muncul sehubungan dengan topik penelitian ini

sehingga penulis mengidentifikasikan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Persoalan reorientasi model pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah (SMK)

dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup.

2. Permasalahan pemahaman guru dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan

berorientasi kecakapan hidup di sekolah.

3. Suasana lingkungan Sekolah (SMK) atau iklim sekolah dalam menunjang

kegiatan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.

4. Mengenai sistem manajemen sekolah dalam menunjang pelaksanaan

pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.

5. Dukungan jalinan kerja sama yang telah dilakukan antara sekolah (SMK)

dengan masyarakat (networking) dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup belum terjalin dengan baik.

6. Tinjauan tentang peranan yang telah dilakukan oleh sekolah (SMK) dalam

menciptakan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.

7. Sejauh mana suatu sekolah (SMK) belum memahami dan melaksanakan

pendidikan yang berorientasi kecapakan hidup dengan benar.

8. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh sekolah (SMK) dalam

menerapkan/mengimplementasikan pendidikan yang berorientasi kecakapan

hidup.

9. Usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan oleh sekolah (SMK) untuk

melaksanakan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup agar dapat

berjalan dengan maksimal.

Mengingat banyaknya permasalahan yang mungkin muncul berkaitan

dengan rencana penelitian di atas, maka diperlukan pembatasan agar penelitian ini

dapat terfokus dan jelas. Adapun pembatasan masalah yang berkaitan dengan

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Fokus penelitian ini adalah ingin mengetahui pola pelaksanaan pendidikan

berorientasi kecakapan hidup pada SMK yang ada di naungan Dinas

(22)

keahlian teknik ketenagalistrikan dengan kompetensi keahlian Teknik Instalasi

Tenaga Listrik.

2. Sekolah yang menjadi populasi penelitian ini yaitu SMK yang memiliki

program studi keahlian teknik ketenagalistrikan dengan kompetensi keahlian

Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang ada di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 4

(empat) zona. Zona 1 yaitu wilayah Bandung Raya meliputi Kota Bandung,

Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten

Bandung Barat. Zona 2 yaitu wilayah Pajajaran meliputi Kota/Kabupaten

Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta.

Zona 3 yaitu wilayah Pantura meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota

Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang,

Kabupaten Kerawang, dan Kabupaten/Kota Bekasi. Zona 4 yaitu wilayah

Priangan Timur meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota

Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pengandaran.

3. Sekolah yang dijadikan sampel penelitian ini adalah SMK yang ada di Provinsi

Jawa Barat yang mempunyai program studi keahlian teknik ketenagalistrikan

dengan kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang berjumlah

lima SMK yaitu dengan mengambil setiap zona satu buah SMK Negeri dan

satu buah SMK yang memiliki akreditasi A untuk dijadikan sebagai informasi

pembanding dari sampel SMK Swasta. Sampel penelitian untuk zona 1 yaitu

SMKN 4 Bandung (dengan sebutan istilah SMKN D), zona 2 yaitu SMKN 1

Purwakarta (dengan sebutan istilah SMKN T), zona 3 yaitu SMKN 1 Cirebon

(dengan sebutan istilah SMKN E), zona 4 yaitu SMKN 2 Tasikmalaya (dengan

sebutan istilan SMKN Z), dan dari SMK Swasta yaitu SMK Prakarya

Internasional 2 Bandung (dengan sebutan istilah SMKS D).

4. Pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang akan diteiliti

meliputi empat aspek yaitu reorientasi pembelajaran, iklim sekolah,

(23)

5. Subjek pengamatan/observasi terhadap pembelajaran di SMK lebih prioritas

untuk kelompok mata pelajaran produktif pada Kompetensi Keahlian Teknik

Instalasi Tenaga Listrik.

6. Siswa yang menjadi sampel penelitian adalah siswa kelas 3 (XII) dari program

studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dengan asumsi yang memiliki

kemampuan kompetensi yang paling lengkap dan akan memasuki dunia kerja.

Berdasarkan gambaran dari latar belakang penelitian, identifikasi

permasalahan, dan pembatasan masalah di atas maka penulis merumuskan

permasalahan utama dalam penelitian ini yaitu “bagaimanakah implementasi

pendidikan berorientasi kecakapan hidup pada suatu SMK melalui reorientasi

pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan?” Mengacu dari pertanyaan

masalah utama di atas maka penulis dapat merumuskan masalah secara rinci

dengan melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1. Pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup seperti apakah

yang telah dilakukan pada SMK yang memiliki program studi Kompetensi

Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik?

2. Bagaimanakah pemahaman dan peranan guru dalam menerapkan pendidikan

berorientasi kecakapan hidup yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan

pembelajaran di sekolah (SMK)?

3. Suasana lingkungan sekolah atau iklim sekolah yang bagaimana yang telah

diciptakan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang

berorientasi kecakapan hidup?

4. Sistem manajemen sekolah seperti apakah yang diciptakan oleh suatu SMK

dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi kecakapan

hidup?

(24)

6. Bagaimanakah deskripsi kompetensi yang dimiliki oleh siswa SMK Kelas 3

(XII) program studi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik sebelum mereka

lulus dan memasuki dunia kerja ?

7. Bagaimanakah relevansi pembelajaran yang dilaksanakan pada SMK yang

memiliki program studi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik terhadap

tujuan implementasi pola pendidikan berorientasi kecakapan hidup ?

C.Tujuan Penelitian

Setelah melakukan penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data dan

informasi yang berhubungan dengan permasalahan di atas. Secara umum tujuan

dari penelitian ini adalah “ ingin mengetahui tentang pola pelaksanaan pendidikan

berorientasi kecakapan hidup yang dilakukan oleh SMK dalam menunjang

kualitas sumber daya lulusan untuk memasuki dunia kerja”. Adapun secara khusus tujuan dari penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Mengetahui pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang

dilakukan pada SMK yang memiliki program studi kompetensi keahlian

Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

2. Mendapatkan gambaran tentang pemahaman dan peranan guru dalam

menerapkan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang berkaitan dengan

pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah (SMK).

3. Mengetahui suasana lingkungan sekolah atau iklim sekolah yang telah

diciptakan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang

berorientasi kecakapan hidup.

4. Mengetahui sistem manajemen sekolah seperti apakah yang diciptakan oleh

suatu SMK dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi

kecakapan hidup.

5. Mendapatkan gambaran tentang sistem jalinan kerja sama (networking) antara sekolah (SMK) dengan masyarakat (stake holder) yang telah dilakukan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran berorientasi kecakapan

(25)

6. Mendapatkan deskripsi tentang kompetensi yang dimiliki oleh siswa SMK

Program Studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik sebelum mereka lulus

dan memasuki dunia kerja.

7. Mengetahui relevansi pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada SMK yang

memiliki Program Studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik terhadap

tujuan dari implementasi pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup.

D. Manfaat/Signifikansi Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Semoga hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai

landasan kajian ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan pola

pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup ditinjau dari relevansi

peranan guru, lingkungan sekolah, manajemen sekolah, dan kerjasama

sekolah dengan stake holder.

b. Memberikan informasi tentang pola pelaksanaan pendidikan berorientasi

kecakapan hidup yang meliputi orientasi model pembelajaran dan reformasi

praktik pendidikan.

c. Berdasarkan orientasi pembelajaran tersebut maka sekolah dapat

menentu-kan jenis atau model pembelajaran seperti apakah yang dianggap paling

relevan sesuai dengan materi pembelajaran atau kompetensi yang akan

disampaikan dalam pembelajaran tersebut.

d. Berdasarkan reformasi praktik pendidikan maka sekolah dapat menciptakan

situasi dan kondisi sekolah seperti apakah yang paling menunjang dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran, disamping ada faktor manajemen

sekolah dan hubungan sinergi antara sekolah dengan masyarakat

(networking).

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan gambaran bagi pengelola sekolah (Kepala SMK dan

jajarannya) khususnya SMK yang memiliki Program Studi Keahlian Teknik

(26)

dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan dapat

meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan

yang berorientasi kecakapan hidup.

b. Memberikan masukan kepada penentu kebijakan (para birokrat seperti Kadis

Pendidikan Kab/Kota, Kadis Provinsi, dan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan, serta pejabat terkait) dalam mengambil suatu keputusan yang

berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya

agar lulusan SMK dibekali kecakapan hidup supaya dapat hidup mandiri

dan mampu menyelesaikan problematika kehidupan yang dihadapinya

sehari-hari.

c. Memberikan informasi agar orang tua siswa, masyarakat, dan dunia kerja

dapat berpartisipasi secara langsung dalam mendukung proses pembelajaran

yang berorietasi kecakapan hidup agar lulusannya mampu bekerja dan hidup

mandiri.

d. Dapat menjadi acuan bagi peneliti bidang sejenis berikutnya yang lebih

mendalam untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya

penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa

mendatang khususnya bidang pendidikan teknologi dan kejuruan.

E. Definisi Operasional

Berkaitan dengan metode penelitian di atas, maka ada beberapa variable

yang dapat penulis definisikan secara operasional sebagai berikut:

1. Implementasi: tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu, pejabat-pejabat, atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang

diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam

keputusan kebijakan.

2. Pendidikan Kecakapan Hidup: kecakapan yang dimiliki seseorang (individu) untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar

tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta

(27)

3. Reorientasi Pembelajaran: menyiasati kurikulum khususnya mengintegrasikan pendidikan berorientasi kecakapan hidup ke dalam mata pelajaran.

4. Reformasi Praktik Pendidikan: pembaharuan atau reformasi sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup

meliputi iklim sekolah, manajemen sekolah, dan hubungan sinergi antara

sekolah dengan masyarakat (networking).

5. SMK: sekolah menengah kejuruan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang

memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian, sehingga lulusannya

dapat mengembangkan kinerja apabila memasuki/terjun dalam dunia kerja.

Tujuan lembaga ini adalah meningkatkan kemampuan siswa agar dapat

mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan

kerja dan mengembangkan sikap professional.

F. Struktur Organisasi Disertasi

Struktur organisasi penulisan laporan hasil pelaksanaan penelitian dalam

disertasi ini terdiri dari lima bab, yaitu:

1. Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat/signifikansi penelitian, definisi

operasional, dan struktur organisasi disertasi.

2. Bab II Kajian Pustaka, yaitu menjelaskan tentang kajian terhadap berbagai teori dan pustaka yang terkait dengan penelitian ini meliputi: filosofi

kecakapan hidup, konsep dasar pendidikan berorientasi kecakapan hidup, pola

pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup, penilaian hasil

pembelajaran, menjelaskan tentang pendidikan sekolah menengah kejuruan,

standar kompetensi lulusan SMK, kerangka kualifikasi nasional Indonesia,

penelitian terdahulu, asumsi penelitian, dan dugaan sementara atau hipotesis

penelitian yang akan harus diuji berdasarkan data-data dan fakta-fakta yang

(28)

3. Bab III Metode Penelitian, membahas tentang desain penelitian dan justifikasi mengenai reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan,

partisipasi dan tempat penelitian, metode pengumpulan data penelitian,

pengembangan instrumen penelitian, teknik pengumpulan data penelitian, dan

teknik analisis analisis data penelitian.

4. Bab IV Temuan dan Pembahasan, menampilkan tentang visual hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan data-data atau fakta-fakta hasil penelitian yang

telah diolah dan dianalisis sesuai dengan disain penelitian. Hasil tampilan

visual tersebut kemudian dianalisis dan dibahas untuk menjawab tujuan

penelitian yang telah dirumuskan dan sekaligus sebagai uji hipotesis yang telah

disampaikan pada penelitian disertasi ini.

5. Bab V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi, yaitu menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan dari penelitian.

Simpulan ini harus menjawab pertanyaan penelitian atau rumusan masalah.

Sedangkan implikasi dan rekomendasi disampaikan berdasarkan temuan,

pembahasan, dan simpulan yang telah dideskripsikan di atas, yang ditunjukkan

kepada para pembuat kebijakan, pengguna hasil penelitian, dan peneliti

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dan dikembangkan sehubungan dengan

pelaksanaan penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kuantitatif. Prosess

penelitian kuantitatif yang dikembangkan dalam penelitian ini melalui

langkah-langkah atau prosedur seperti yang dijelaskan pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Alur proses penelitian kuantitatif

Penelitian dengan pendekatan metode kuantitatif dapat dibagi menjadi dua

(Sugiyono, 2014a), yaitu metode penelitan eksperimen dan metode penelitian

survei. Metode eksperimen merupakan metode penelitian untuk mencari pengaruh

perlakuan (treatment) dalam keadaan yang terkendali misalnya penelitian yang

dilakukan pada laboratorium. Menurut Creswell (2009) “experimental research

(30)

impact is assessed by providing a specific treatment to one group and with

holding it from another group and then determining how both groups score on an outcome”. Sedangkan metode survei adalah metode penelitian yang dilakukan

pada populasi besar maupun kecil dengan data yang dianalisis dalam penelitian

merupakan sampel dari populasi tersebut. Analisis tersebut biasanya untuk

menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel

sosiologis maupun psikologis yang digunakan dalam penelitian. Menurut

Kerlinger (1973) “Survey research studies large and small population (or

universes) by selecting and studying samples chosen from the population to

discover the relative incident distribution, and interrelations of socioligiccal and psychological variables”. Menurut Sugiyono (2014a) penelitian survei ini peneliti menanyakan kepada beberapa orang sebagai responden terhadap keyakinan,

pendapat, karakteristik dari suatu obyek dan perilaku baik yang telah lalu maupun

sekarang.

Berdasarkan gambaran di atas, maka metode penelitian yang digunakan

dalam penelitian disertasi ini adalah dengan menggunakan metode penelitian

survei. Bentuk-bentuk rumusan masalah berkaitan dengan proses penelitian

kuantitatif ini, Sugiyono (2014a) menjelaskan bahwa rumusan masalah penelitian

kuantitatif terdiri atas empat bentuk rumusan masalah yaitu rumusan masalah

deskriptif, komparatif, asosiatif, dan komparatif asosiatif. Penelitian dengan

rumusan masalah deskriptif yaitu penelitian yang tidak membuat perbandingan

variabel itu pada sampel lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel

lain. Penelitian dengan rumusan masalah komparatif adalah penelitian yang

membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih, pada dua atau lebih sampel

yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Penelitian dengan rumusan masalah

asosiatif merupakan penelitian yang menanyakan hubungan antara dua variabel

atau lebih. Peneltian dengan rumusan masalah asosiatif ini dibagi menjadi tiga

(31)

masalah komparatif-asosiatif yaitu menanyakan perbandingan korelasi antara dua

variabel atau lebih pada sampel atau populasi yang berbeda.

Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu

ada tujuh rumusan masalah yang digunakan. Tujuh rumusan masalah tersebut

dapat dijelaskan bahwa rumusan masalah pertama, dua, dan enam termasuk

rumusan masalah deskriptif; rumusan masalah tiga, empat, dan lima termasuk

rumusan masalah asosiatif kausal; dan rumusan masalah tujuh termasuk rumusan

masalah asosiatif reciprocal (interaktif).

A. Desain Penelitian

Konsep hubungan antara variabel reorientasi pembelajaran, reformasi

praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan yang diharapkan dari alumni SMK

yang memiliki Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dapat

dijelaskan pada gambar 3.2.

Gambar 3.2 Konsep hubungan reorientasi pembelajaran, reformasi praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan

Berdasarkan gambar 3.2 tersebut maka kecakapan hidup (life skill) yang akan dihasilkan untuk mendukung pencapaian kompetensi lulusan SMK yang

lebih sederhana yaitu merupakan irisan dari implementasi reorientasi

pembelajaran (X1) dengan reformasi praktik pendidikan (school reform) (X2).

Kompetensi lulusan SMK ini merupakan variabel prediktif (Y) yang menjadi

(32)

tingkat pencapaian implementasi pembelajaran berorientasi kecakapan hidup pada

suatu SMK yang memiliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik

yang berada di wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan deskripsi hubungan keterkaitan antara reorientasi

pembelajaran, reformasi praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan SMK, maka

paradigma hubungan antar ketiga variabel penelitian tersebut dapat dijelaskan

pada gambar 3.3.

Gambar 3.3 Paradigma keterkaitan antar variabel penelitian

Berdasarkan paradigma keterkaitan antar variabel yang digunakan dalam

penelitian ini seperti pada gambar 3.3 dapat dijelaskan bahwa hasil akhir keluaran

(output) penelitian ini adalah kompetensi lulusan SMK yang merupakan hasil impelementasi antara reorientasi pembelajaran yang didukung dengan reformasi

praktik pendidikan yang ada pada SMK tersebut. Kompetensi yang dicapai oleh

siswa SMK ini akan dianalisis dengan cara memetakan (mapping) terhadap

indikator-indikator kecakapan hidup. Dengan adanya pemetaan dari indikator

kecakapan hidup dengan kompetensi lulusan SMK, maka akan diketahui tentang

capaian implementasi pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup dari

tiap-tiap SMK.

Secara blok diagram deskripsi tentang pemetaan (mapping) keterkaitan

indikator-indikator antar variabel/subvariabel yang mendukung pencapaian

kompetensi lulusan SMK dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada gambar 3.4.

(33)

dari hasil implementasi reorientasi pembelajaran (X1) dan reformasi praktik

pendidikan (X2). Variabel reformasi praktik pendidikan (X2) ini terdiri atas tiga

subvariabel, yaitu suasana lingkungan sekolah (X21), manajemen sekolah (X22),

dan kerjasama sekolah dengan stake holder (X23).

Gambar 3.4 Pemetaan indikator-indikator variabel/subvariabel penelitian

Berdasarkan gambar 3.4 dapat dijelaskan bahwa reorientasi pembelajaran

yang dilaksanakan oleh guru dengan didukung reformasi praktik pendidikan yang

dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan (SMK), maka akan menghasilkan

kompetensi lulusan sesuai dengan tujuan pembelajaran dari sekolah tersebut.

Kompetensi lulusan terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kompetensi umum,

kompetensi kejuruan, dan kompetensi lapangan kerja. Tiap-tiap kelompok

kompetensi lulusan juga memiliki indikator-indikator yang harus dicapai,

sehingga indikator-indikator kompetensi lulusan ini dapat dipetakan dengan

indikator-indikator yang terdapat pada kecakapan hidup. Kecakapan hidup terbagi

menjadi tiga kelompok kecakapan, yaitu kecakapan umum (general skill),

kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan kejuruan (vocational skill).

(34)

indikator-indikator kecakapan hidup ini yang akan dijadikan sebagai keluaran (output) dan

proses pembelajaran yang dilakukan pada suatu sekolah (SMK).

Penjabaran indikator-indikator dari gambar 3.4 untuk tiap-tiap variabel/

subvariabel pendukung (independen) terhadap indikator-indikator kecakapan

hidup melalui indikator-indikator pencapaian kompetensi lulusan SMK dapat

dijelaskan pada tabel 3.1 sampai dengan tabel 3.5.

Tabel 3.1 Indikator-indikator variabel reorientasi pembelajaran (X1)

NO INDIKATOR DUKUNGAN REORIENTASI PEMBELAJARAN TERHADAP PENCAPAIAN KECAKAPAN HIDUP

1.1 Guru memahami mata pelajaran bukan sebagai tujuan tetapi dijadikan sebagai alat untuk menyiapkan kecakapan hidup bagi peserta didik dalam pembelajaran

1.2 Guru lebih mengaktifkan siswa daripada gurunya sendiri (mengubah

teaching ke learning)

1.3 Guru membuat RPP setiap materi ajar disesuaikan dengan kondisi dan potensi lingkungan dimana peserta didik akan bekerja stlh lulus

1.4 Guru menyiapkan media sesuai RPP setiap materi ajar sebelum melakukan pembelajaran

1.5 Guru memahami pembelajaran keterampilan proses berorientasi kecakapan hidup

1.6 Guru merancang setiap pembelajaran berorientasi kepada kompetensi keahlian peserta didik

1.7 Guru memahami tentang maksud pembelajaran terpadu antara teoritis dan praktis

1.8 Guru dalam melaksanakan pembelajaran selalu mengkaitkan pembelajaran kontekstual sesuai dengan kehidupan sehari-hari

1.9 Guru merancang dan menyiapkan alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan kompetensi yang diharapkan

1.10 Guru melaksanakan evaluasi pada setiap akhir dari proses pembelajaran

1.11 Guru menganalisis secara cermat pada setiap pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran yang berkaitan dengan prilaku, disiplin dan kejujuran peserta didik

Tabel 3.1 di atas, menjelaskan tentang rumusan indikator-indikator dari

(35)

yang melalui pencapaian indikator-indikator kompetensi lulusan SMK. Sedangkan

indikator-indikator dukungan reformasi praktik pendidikan (X2)terhadap

indikator-indikator kecakapan hidup melalui pencapaian indikator-indikator

kompetensi lulusan SMK (Y), dapat dibagi menjadi tiga kelompok subvariabel

yaitu suasana lingkungan sekolah (school climat), manajemen sekolah (school management), dan hubungan sekolah dengan stake holder (networking) dapat dijelaskan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Indikator-indikator subvariabel reformasi praktik pendidikan (X2)

SUBVARIABEL INDIKATOR DUKUNGAN REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN TERHADAP PENCAPAIAN

KECAKAPAN HIDUP

Suasana/ Iklim Sekolah

(X21)

21.1Suasana sekolah mendukung pengembangan disiplin diri siswa

21.2Suasana sekolah mendukung terciptanya sikap tanggung jawab kepada peserta didik

21.3Sekolah menyiapkan sarana untuk meningkat kan belajar siswa

21.4Sekolah membuat program untuk memotivasi belajar kepada peserta didik

21.5Sekolah menyiapkan fasilitas untuk mengembang kan rasa kebersamaan dan toleransi kepada peserta didik 21.6Sekolah membuat suatu program/ kegiatan untuk

mendukung rasa kebersamaan sehingga dapat menimbulkan sikap toleransi kepada peserta didik

Manajemen Sekolah

(X22)

22.1Pimpinan sekolah berusaha menciptakan suasana kemandirian bagi institusinya

22.2Pimpinan sekolah selalu melaksanakan transparansi setiap program dan kegiatan

22.3Pimpinan sekolah berusaha menjalin kerja sama dengan berbagai institusi terkait

22.4 Pimpinan sekolah melaksanakan akuntabilitas anggaran dan keuangan

22.5Pimpinan sekolah memikirkan sustainbilitas dari setiap program dan kegiatan untuk melaksanakan pembelajaran life skill

Hubungan Sekolah dengan Stake

Holder

23.1Sekolah melibatkan orang tua peserta didik dalam menentukan rencana pengembangan sekolah

(36)

(X23 ) pelaksanaan program pengembangan sekolah

23.3Sekolah selalu melibatkan stake holder dalam merancang kurikulum dengan melibatkan dunia usaha, industri, lembaga profesi terkait

23.4Sekolah selalu melibatkan stake holder dalam membuat program implementasi kurikulum dengan melibatkan dunia usaha, industri, lembaga profesi terkait

23.5Sekolah mengikutsertakan stake holder dalam kegiatan mencari sumber dana sebagai upaya untuk membantu pembiayaan sekolah

Tabel 3.3 Indikator-indikator dukungan bersama reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan (X1 ∩ X2)

a) Timbulnya sikap disiplin diri dari peserta didik/siswa dalam mengikuti setiap pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru b) Terciptanya sikap tanggung jawab setiap peserta didik dalam

mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas dari guru c) Terciptanya proses pembelajaran yang optimal dalam

mentransfer iptek dari guru kepada peserta didik/siswa sesuai dengan tujuan dari pembelajaran/kurikulum

d) Timbulnya semangat dan motivasi belajar tinggi dari setiap peserta didik/siswa dalam mengikuti pembelajaran dari guru e) Terciptanya jiwa dan semangat kebersamaan yang positif dari

setiap peserta didik/siswa dalam mengerjakan setiap tugas dan kewajiban yang diberikan gurunya dalam proses pembelajaran f) Timbul dan berkembangnya sikap toleransi dari setiap peserta

didik/siswa dalam mengikuti proses pembelajaran baik di kelas, bengkel, laboratrium, workshop, dan tempat lainnya sebagai implementasi dari iptek yang telah diperolehnya dari proses pembelajaran tersebut.

1. Pimpinan sekolah berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif

2. Pimpinan sekolah selalu melaksanakan transparansi program dalam pembelajaran

3. Pimpinan sekolah berusaha menjalin kerja sama dengan institusi terkait untuk meningkatkan pembelajaran

4. Pimpinan sekolah melaksanakan akuntabilitas anggaran dan keuangan untuk pembelajaran

5. Pimpinan sekolah memikirkan sustainbilitas setiap program dan kegiatan untuk melaksanakan pembelajaran kecakapan hidup

(37)

reorientasi pembelajaran dan hubungan sekolah dengan stake holder

(X1∩X23)

tua peserta didik dalam menciptakan proses pembelajaran b. Guru harus selalu berkonsultasi dengan orang tua siswa lewat

komite setiap ada proses pembelajaran yang membutuhkan keterlibatan orang tua siswa seperti LKS, dan lain-lain

c. Terjalinnya komunikasi yang baik antara guru pembimbing dengan pelaksanaan pembelajaran di dunia usaha, dunia industry, atau lembaga profesi terkait

d. Guru dan lembaga stake holder harus selalu berkomunikasi setiap ada perubahan berkaitan dengan pelaksanaan pembela-jaran baik kurikulum, materi pembelapembela-jaran, atau iptek terbaru e. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara guru, orang tua

siswa, dan lembaga profesi, dunia usaha, dan dunia industry dalam menciptakan proses pembelajaran yang baik.

Indikator-indikator dukungan bersama dari reorientasi pembelajaran dan

reformasi praktik pendidikan (X1∩X2) terhadap indikator-indikator kecakapan

hidup, akan dipetakan (mapping) melalui pencapaian indikator-indikator yang terdapat pada kompetensi lulusan SMK. Indikator-indikator Kompetensi lulusan

SMK ini dapat dijelaskan pada tabel 3.4 seperti berikut.

Tabel 3.4 Indikator-indikator kompetensi lulusan SMK program keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik

NO INDIKATOR-INDIKATOR KOMPETENSI LULUSAN SMK YANG DIPETAKAN TERHADAP KECAKAPAN HIDUP

1 Pemelukan agama

2 Pengembangan potensi diri

3 Sikap percaya diri dan tanggung jawab terhadap pekerjaan

4 Partisipasi terhadap aturan

5 Sikap tolerasi terhadap lingkungan global

6 Peka terhadap informasi

7 Kemampuan dalam mengambil keputusan

8 Kemampuan pengembangan budaya belajar

9 Bersikap kompetitif dan sportif dalam bekerja

10 Kemampuan menganalisis masalah hidup

11 Kemampuan memanfaatkan lingkungan

12 Kemampuan ekspresi diri

13 Kemampuan mengapresiasi dan berkreasi

14 Kemampuan menjaga kesehatan dan keamanan diri

15 Kemampuan berkomunikasi

(38)

17 Kemampuan menghargai perbedaan pendapat

18 Kemampuan membaca dan menulis naskah

19 Kemampuan bahasa Indonesia dan Inggris

20 Kemampuan berwirausaha

21 Memasang instalasi penerangan dan tenaga

22 Mengoperasikan sistem control

23 Merawat dan memperbaiki alat rumah tangga listrik

24 Memelihara panel hubung bagi listrik

25 Lapangan pekerjaan Industri Vendor/ Pembuat Biro Konsultan Teknik /Biro Jasa Instalatir

26 Pekerjaan Industri Pemakai/ Industri Manufaktur

Indikator-indikator yang dicapai pada kompetensi lulusan akan dipetakan

(mapping) terhadap indikator-indikator kecakapan hidup (life skill) yang meliputi kecakapan umum (general skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan vokasional (vocational skill). kecakapan umum ini dibagi dalam tiga bagian yaitu kecakapan kesadaran diri (self awareness skill), kecakapan berfikir

(thinking skill), dan kecakapan sosial (social skill). Adapun hubungan indikator-indikator kecakapan hidup dengan kecakapan hidup sebagai keluaran (output)

hasil penelitian dapat dijelaskan pada tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5 Indikator-indikator kecakapan hidup dan kecakapan hidup

INDIKATOR-INDIKATOR KECAKAPAN HIDUP

KECAKAPAN HIDUP

(OUTPUT)

Self Awareness Skill

1. Kesadaran sebagai Makhluk Tuhan

2. Kesadaran akan eksistensi diri

3. Kesadaran akan potensi diri

(39)

10.Kec. Bekerjasama

Akademik Skill :

11. Kec. Mengidentifikasi variabel

12. Kec. Menghubungkan variabel

13. Kec. Melaksanakan penelitian

Vokational Skill :

14. Sering juga disebut sebagai kecakapan

kejujuran

15.Terkait dengan pekerjaan tertentu

B. Partisipan dan Tempat Penelitian

Partisipan penelitian ini adalah civitas akademik Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) yang meliputi Pimpinan Sekolah (kepala sekolah/wakil kepala

sekolah yang terkait dengan bidang penelitian), guru-guru yang mengajar mata

pelajaran produktif, staf/karyawan sekolah, dan siswa SMK kelas 3 (kelas XII)

yang memilih program studi kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik.

Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada

di wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang terbagai ke dalam empat

zona. Adapun pembagian zona lokasi Penelitian pada Sekolah Menengah

Kejuruan yang memiliki Program Studi Keahlian Teknik Ketenagalistrikan

dengan Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang berada di

wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dapat dijelaskan sebagai berikut

(a) Zona 1 yaitu wilayah Bandung Raya meliputi Kota Bandung, Kabupaten

Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat. (b)

Zona 2 yaitu wilayah Pajajaran meliputi Kota/Kabupaten Bogor, Kabupaten

Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta. (c) Zona 3 yaitu

wilayah Pantura meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon,

(40)

Karawang, dan Kabupaten/Kota Bekasi. (d) Zona 4 yaitu wilayah Priangan Timur

meliputi Kabupaten Garut, Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis,

Kota Banjar, dan Kabupaten Pengandaran.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Menurut Sugiyono (2014a) populasi merupakan wilayah generalisasi yang

meliputi obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang

dipilih oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi

penelitian ini adalah SMK yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

yang memiliki program studi kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga

Listrik. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari data pokok Direktorat

Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (http://datapokok.ditpsmk.net/)

menjelaskan bahwa total SMK di Jawa Barat berjumlah 1.281 buah yang terdiri

dari SMK Negeri sebanyak 167 buah dan SMK Swasta 1.114 buah. Dari 1.281

SMK tersebut yang memiliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik

berjumlah 97 buah SMK yang terdiri dari 23 SMK Negeri dan 74 buah adalah

SMK Swasta (data selengkapnya terdapat pada lampiran N).

Teknik pengambilan sampel data dilakukan sistem wilayah (zona) dengan

cara cluster random sampling (Sugiyono, 2014b, hlm.122), karena pengambilan data sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata dari

populasi tersebut. Begitu pula anggota populasi diasumsikan homogen/relative

homogen. Dengan demikian sehingga sekolah-sekolah yang dijadikan sampel

penelitian sehubungan dengan pengambilan data penelitian yaitu berjumlah 5

(lima) SMK dengan perincian empat SMK Negeri sebagai perwakilan dari setiap

zona dan satu SMK Swasta (dengan akreditasi A) sebagai informasi pembanding.

Sampel dari zona 1 wilayah Bandung Raya yaitu SMK Negeri 4 Bandung (dengan

kode SMKN D) yang beralamat di Jln Kliningan nomor 6 Buah Batu Kota

Bandung 40264 telp/fax 022-7303736 http://smkn4 bdg.sch.id/; zona 2 wilayah

Pajajaran yaitu SMK Negeri 1 Purwakarta (dengan kode SMKN T) yang

beralamat di Jln Industri Km 4 Babakan Cikao telp/fax. 0264-200163 Kota

(41)

yaitu SMK Negeri 1 Cirebon (dengan kode SMKN E) yang beralamat di Jln

Perjuangan telp 0231-480202 Kota Cirebon 45132

http://www.smkn1-cirebon.sch.id/; zona 4 wilayah Priangan Timur yaitu SMK Negeri 2 Tasikmalaya

(dengan kode SMKN Z) yang beralamat di Jln Noenoeng Tisnasaputra

Kahuripan-Tawang telp. 0265-331839 Kota Tasikmalaya 46112 http://smkn2

kotatasik.sch.id/; dan sampel dari SMK Swasta yaitu SMK Prakarya Internasional

Bandung (dengan kode SMKS D) yang beralamat Jln Inhofftank No.146

Pelindung Hewan, Astananyar, Kota Bandung 40243 telp. 022-5208637

http://www.smk-pi.com/.

Adapun personil yang terlibat dalam sampel penelitian ini dapat dijelaskan

pada tabel 3.6 berikut.

Tabel 3.6 Daftar jumlah personil sampel penelitian

Nama Sekolah Pimpinan Sekolah

Guru MP Produktif

Siswa Kelas 3 (XII)

Jumlah

SMKN D (zona 1) 5 10 60 75

SMKN T (zona 2) 5 10 60 75

SMKN E (zona 3) 5 10 60 75

SMKN Z (zona 4) 5 10 60 75

SMKS D 3 8 34 45

T o t a l 23 48 274 345

Teknik sampling untuk pimpinan sekolah dan guru menggunakan pusposif

sampling, sedangkan untuk siswa dilakukan dengan sistem random

sampling. Sampel untuk pimpinan sekolah diambil masing-masing lima

orang untuk SMKN, kecuali untuk SMKS D berjumlah tiga orang karena

keterbatasan responden yang terdapat pada sekolah tersebut. Personil yang

terlibat dalam penelitian ini meliputi Kepala SMK, Wakil Kepala SMK,

Ketua Program Studi, dan Kepala Bengkel/Workshop, dan koordinator

Laboratorium. Guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini adalah guru

Gambar

Tabel 1.1 Penduduk Angkatan Kerja dan Pengangguran Terbuka (TPT)      Menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Jawa Barat
Gambar 3.1 Alur proses penelitian kuantitatif
Gambar 3.2  Konsep hubungan reorientasi pembelajaran, reformasi praktik
Gambar 3.3 Paradigma keterkaitan antar variabel penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian bahwa implementasi kebijakan SIAP dalam meningkatkan pelayanan publik pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat belum dapat di laksanakan dengan baik

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah ( 2010 ) Pedoman Pengelolaan Bursa Kerja Khusus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jawa Tengah. Depdiknas ( 2007 )

Materi yang akan diberikan kepada siswa program keahlian pemasaran juga tidak luput dari perencanaan pihak pengelola Pendidikan Kecakapan Hidup SMK NEGERI 2

Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup mengalami hambatan yang bervariasi, antara lain keterbatasan perangkat pembelajaran, materi belum sesuai dengan

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui kebijakan yang digunakan di SMK N 1 Trucuk dalam pelaksanakan pendidikan kecakapan hidup, (2) untuk mengetahui faktor yang

Conceptual Data Model Gambar 4.11 merupakan Conceptual Data Model pada Perancangan Sistem Informasi Penjadwalan Ujian Nasional SMA/SMK Surabaya pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa

Sebelum di berlakukannya otonomi daerah, dinas pendidikan provinsi jawa barat, secara administrasi masih bersifat vertikal dengan nama Kantor Wilayah Departemen Pendidikan

mengapresiasi kegiatan seni dan budaya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat memiliki program tahunan dalam bentuk Festival dan Lomba Seni Siswa SMK, hal ini