REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN PADA SMK
DISERTASI
diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Oleh
Tasma Sucita
NIM 1004746
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “ IMPLEMENTASI
PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP MELALUI
REORIENTASI PEMBELAJARAN DAN REFORMASI PRAKTIK
PENDIDIKAN PADA SMK” ini dan seluruh isinya adalah benar-benar karya
saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan
cara-cara yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat
keilmuan. Atas pernyataan tersebut, saya siap menanggung resiko yang dijatuhkan
kepada saya apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap
etika keilmuan dalam karya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap karya
saya.
Bandung, 5 Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,
Tasma Sucita NIM. 1004746
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia, taufik
dan hidayah-Nya sehingga laporan penelitian disertasi yang berjudul
“Implementasi Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan Pada SMK” ini dapat diselesaikan.
Penyusunan Disertasi ini diajukan sebagai bahan untuk memenuhi
sebagian dari syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pendidikan pada program
studi S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia. Isi dari laporan Disertasi ini tentu masih jauh dari
sempurna dan banyak kekurangan dan kelemahan baik dari segi penulisan,
substansi, pengumpulan data dan sumber referensi, maupun dalam melakukan
rekapitulasi data dan analisis data yang diperoleh dari lapangan masih sangat
terbatas, untuk itu penulis menerima kritik, saran, dan masukan- masukan yang
positif demi perbaikan dan penyempurnaan isi dari laporan penelitian disertasi ini.
Akhirnya dengan selesainya penyusunan laporan disertasi ini, semoga
dapat bermanfaat baik bagi penulis itu sendiri maupun bagi pembaca pada
umumnya. Atas bantuan dan partisipasi dari semua pihak dalam penyusunan
laporan disertasi ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan
yang setinggi- tingginya, semoga amal baik yang telah diberikan mendapat balasan
dari Allah SWT dengan berlipat ganda, amin.
Bandung, 5 Agustus 2015
Penulis,
tingginya kepada semua pihak atas kritik, saran dan masukan- masukan yang telah
disampaikan pada saat bimbingan, seminar, maupun diskusi baik secara formal
maupun informal sehingga laporan disertasi ini dapat diselesaikan dengan se
maksimal mungkin, khususnya kepada :
1. Yth. Bapak Prof. Dr. Mokhamad Syaom Barliana, M.Pd., MT. selaku Ketua
Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia, terima kasih atas informasi- informasi yang
telah disampaikan berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan penyelesaian
studi program doktor ini, dan sekaligus sebagai penguji internal.
2. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE, atas bimbingan, masukan
dan saran-saran selama proses penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian,
dan penyusunan laporan disertasi dan sekaligus selaku dosen pembimbing
akademik, dan sebagai anggota dari tim Dosen Pembimbing Disertasi.
3. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE, sebagai dosen promotor tim
pembimbing Disertasi atas saran-saran dan masukan-masukannya tentang
konsep dan arah penelitian yang berkaitan dengan topic penelitian disertasi
serta masukan tentang wawasan vokasional di dalam forum internasional dan
gambaran mengenai penggunaan software untuk teknis analisis dalam
pengolahan data penelitian.
4. Yth. Bapak Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd, juga sebagai dosen kopromotor
tim pembimbing Disertasi atas masukan-masukan dan saran-sarannya yang
berhubungan dengan penentukan variable penelitian, populasi dan sampel,
penyusunan instrumen penelitian, serta teknis pengambilan dan analisis data
yang berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan.
5. Yth. Bapak Prof. Dr. Soenarto, M.Sc., MA., sebagai penguji eksternal atas
saran-saran dan masukkan-masukkan yang sangat bermanfaat sehubungan
Wiguno, M.MPd. selaku Kepala SMKN 2 Tasikmalaya, dan Ibu Sugiaharti,
S.Pd., selaku Kepala SMK Prakarya Internasional, atas ijin kesempatannya
untuk melakukan penelitian pada SMK yang Bapak/Ibu pimpin.
7. Yth. Agus Muslihin, S.Pd., MT. , dan Drs. R. Uung Syarif Kurnia, MT., dari
SMKN 4 Bandung; Drs. Harudin, dari SMKN 1 Purwakarta; Drs. Jaya, dari
SMKN 1 Cirebon, Drs. Rya Moh Maryun, MM, dan Ade Heryanto, S.Pd., dari
SMKN 2 Tasikmalaya, Drs. H. Syarif, dan Dani Usman, S.Pd., MT., atas
bantuan dan informasi yang telah diberikan kepada peneliti selama melakukan
penelitian di SMK masing-masing.
8. Semua teman program studi S3 Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2010 yaitu Ir. H.
Supandi, M.Des., Ir. Suryawati, M.Si., Drs. Elih Mulyana, M.Si, Wasimudin
Surya Saputra, ST., MT., Yana Aditia Gerhana, ST., M.Kom., dan Maman
Somantri, S.Pd., MT., atas kebersamaan selama mengikuti pendidikan di
program ini.
9. Buat istriku Wijayanti Sugiono, dan putra-putraku Alfira Tasyaliany, S.ST.,
Benido Tasyarahmanto, dan Chania Tasya Umaro, yang selalu saling
memberikan doa dan dukungan yang tak henti-hentinya.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Mudah- mudahan atas segala masukan, informasi, saran, dan kritik yang
telah diberikan kepada penulis dapat dijadikan sebagai amal sholeh dan mendapat
balasan dari Allah SWT dengan berlipat ganda, amin.
Bandung, 5 Agustus 2015
Penulis,
Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan pada SMK. Dibimbing oleh: Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE.; Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd.; Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pencapaian implementasi pola pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup melalui reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan yang dilaksanakan pada SMK. Penelitian dilakukan terhadap SMK yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan sampel empat SMK Negeri dan satu SMK Swasta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan pemecahan masalah deskriptif, asosiatif kausal, dan asosiatif resiprokal. Penelitian dilakukan terhadap pimpinan SMK, guru-guru mata pelajaran produktif, dan siswa kelas 3 (XII) yang me miliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dengan teknik random sampling. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan pada SMK yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sudah sesuai dengan tujuan pendidikan berorientasi kecakapan hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan capaian rata-rata pelaksanaan reorientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru produktif menunjukkan dukungan signifikan yang cukup baik, dan kontribusi reformasi praktik pendidikan terhadap pencapaian kompetensi lulusan mencapai taraf signifikansi cukup. Adapun capaian kompetensi yang dimiliki oleh siswa kelas 3 (XII) sebelum lulus berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lima SMK sampel menunjukkan angka rata-rata baik. Kompetensi dalam kategori baik yang telah dimiliki oleh lulusan SMK tersebut merupakan modal awal yang dapat dijadikan sebagai bekal kecakapan hidup untuk memasuki dunia kerja. Dengan hasil penelitian ini semoga dapat memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan khususnya mengenai sistem pelaksanaan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup di bidang vokasional.
Tasma Sucita, 2015. Implementation of Life Skills Oriented Education Through Learning Reorientation and School Reform on SMK. Supervised by: Prof. Dr. H. Sumarto, MSIE.; Prof. Dr. Janulis P. Purba, M.Pd.; Prof. Dr. H. Bachtiar Hasan, ST., MSIE.
This study aimed to achieving the implementation pattern of implementation of life skills education through a reorientation of learning and practice reforms implemented in vocational education. Research conducted on the CMS are in the region of West Java province with four samples SMK SMK and one private. The method used in this research is quantitative method with a problem-solving approach descriptive, associative causal and associative reciprocal. Research conducted on vocational leaders, teachers productive subjects, and students in grade 3 (XII) which has competence Power Installation Engineering expertise with random sampling techniques. Findings from this study indicate that the implementation study conducted at SMK in West Java Provincial Education Department is in conformity with the goal of life skills-oriented education. This can be evidenced by the achievement of an average implementation reorientation of learning undertaken by prolific teacher showed significant support is quite good, and the reform of educational practices contribute to the achievement of the competence of graduates achieve a significance level sufficient. The achievement of competencies possessed by students in grade 3 (XII) before graduating based on analysis of data obtained from five vocational samples showed average figures either. Competence in both categories that have been owned by the vocational graduates is the initial capital that can be used as a provision of life skills to enter the workforce. With the results of this study may be able to contribute to education, especially regarding the implementation of system-oriented education in the field of vocational life skills.
DAFTAR ISI
A.2 Konsep Dasar Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup …..….. 21
A.3 Pola Pelaksanaan Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup …… 31
C. Populasi dan Sampel Penelitian ………. 69
A.2 Deskripsi Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen ……… 91
A.3 Deskripsi Hasil Pengolahan Data Penelitian ……… 94
A.4 Deskripsi Uji Statistik Normalitas, Linieritas, Multikolinieritas, Korelasi, dan Regresi ……….. 128
B. Pembahasan Temuan Penelitian ……… 149
B.1 Pola Pelaksanaan Pendidikan Berorientasi Kecakapan hidup pada SMK ……….……… 149
B.2 Pemahaman dan peranan guru mata pelajaran produktif dalam me-nerapkan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup pada SMK .. 151
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Penelitian
Perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia pada saat ini masih belum
meningkat secara signifikan. Berdasarkan data di dalam negeri diketahui bahwa
Ujian Nasional Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah belum mencerminkan
nilai yang sesungguhnya yang kalau ditafsirkan kemampuan penguasaan siswa
masih relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Informasi dari
dunia usaha juga muncul adanya keluhan bahwa lulusan memasuki dunia kerja
belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Hal ini menyebabkan adanya gejala
lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah banyak yang
menjadi pengangguran baik di pedesaan maupun di perkotaan disebabkan karena
sulitnya mendapat pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus
membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Pendidikan yang berjalan
selama ini masih bersifat verbalistik `dan berorientasi semata-mata kepada
penguasaan mata pelajaran. Berdasarkan pengamatan terhadap praktek pendidikan
sehari-hari khususnya pendidikan formal menunjukkan bahwa pendidikan
difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi
pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh
siswa. Proses pembelajaran tersebut seakan-akan pendidikan bertujuan hanya
untuk menguasai mata pelajaran saja, sedangkan keterkaitan antara materi ajar
dengan kehidupan sehari-hari dan materi ajar tersebut agar dapat digunakan untuk
memecahkan problema kehidupan kurang mendapat perhatian.
Pendidikan seperti terlepas dengan kehidupan sehari-hari dan seakan-akan
pendidikan hanya untuk dunia pendidikan saja atau pendidikan tidak terkait
dengan kehidupan keseharian dari peserta didik. Sehingga siswa tidak mengetahui
manfaat yang dipelajarinya dari mulai belajar sampai lulus tidak tahu bagaimana
menggunakan apa yang telah dipelajari untuk memecahkan problematik
Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masih banyak lulusan
sekolah kejuruan (SMK) yang mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan
baik di industri maupun berwirausaha, sehingga lulusan SMK juga memberikan
kontribusi yang cukup besar untuk tenaga pengangguan di Indonesia. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (Kompas, 5 Nopember 2014) menjelaskan bahwa
sampai Agustus 2014 jumlah lulusan SMK yang menganggur mencapai 809.280
jiwa atau 11,24% dari jumlah total pengangguran terbuka di Indonesia yaitu 7,24
juta jiwa, sedangkan lulusan SLTA umum hanya mencapai 687.600 jiwa atau
9,55%. Berdasarkan data informasi dari BPS tersebut menunjukkan adanya
kemungkinan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah kejuruan
(SMK) masih belum berorientasi kepada pembelajaran kecapakan hidup.
Seyogyanya pendidikan harus dikembalikan kepada prinsip dasarnya yaitu
sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisme) dan pendidikan juga agar dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik supaya berani menghadapi
problema hidup yang dihadapi tanpa merasa tertekan, mempunyai kemauan dan
kemampuan, serta senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi.
Hasil pendidikan juga diharapkan agar mampu mendorong peserta didik untuk
memelihara diri sendiri dengan meningkatkan hubungan terhadap Tuhan yang
mahaesa, masyarakat, dan lingkungannya. Dengan demikian maka diperlukan
suatu model pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekali peserta
didik agar memiliki kecakapan hidup untuk menghadapi kehidupan yang secara
integratif dan spesifik guna mengatasi dan memecahkan problema kehidupan.
Bahkan sejak tahun 2004 Menteri Pendidikan Nasional (Fajar, 2004, hlm. 2)
menyampaikan sambutan pada upacara peringatan hari Pendidikan Nasional
tanggal 2 Mei 2004 mengatakan bahwa :
” Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan
belajar bagi masyarakat dan meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks), berakhlak mulia, berbudi luhur, serta memiliki kesehatan jasmani dan rohani. Pentingnya siswa diberikan orientasi pendidikan kecakapan hidup agar lembaga pendidikan mampu memberikan
pembelajaran harus dijaga agar tetap dalam suasana yang menyenangkan dan
mengasyikkan serta mencerdaskan.”
Terdapat lima aspek yang perlu dikedepankan tentang pengembangan
kecakapan hidup (Wadud, 2012), menjelaskan tentang: relevansi kemampuan
peserta didik, penyiapan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat
perkembangan peserta didik, proses pembelajaran dalam mencapai kompetensi,
ketersediaan fasilitas belajar yang memadai, dan kemampuan kecakapan yang
dimiliki peserta didik untuk kehidupannya. Berdasarkan pendapat tersebut maka
kegiatan pembelajaran harus dirancang agar memberikan dampak yang positif
bagi peserta didik dalam membantu memecahkan problematika kehidupannya.
Pendidikan tersebut harus dirancang dan berorientasi kepada kecakapan hidup
supaya peserta didik mampu mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya secara
proaktif dan reaktif agar mampu mengatasi atau mencari solusi sendiri dalam
memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.
Tujuan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
Otonomi Daerah adalah untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan
prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peranserta atau partisipasi masyarakat, dan
meningkatkan sumber-sumber dana dalam rangka penyelenggaraan pendidikan.
Begitu pula Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah yang membawa konsekuensi terhadap bidang-bidang
kewenangan daerah sehingga lebih otonom, termasuk di bidang pendidikan.
Kualitas pendidikan merupakan salah satu isu sentral pendidikan nasional
disamping isu-isu pemerataan, relevansi, dan efisiensi pengelolaan pendidikan.
Perubahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 menjadi Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diikuti dengan
pemberlakuan kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar yang bermutu.
Salah satu isu penting dalam penyelenggaraaan pendidikan di Indonesia saat ini
adalah peningkatan mutu pendidikan, namun yang terjadi justru kemerosotan
mutu pendidikan dasar, menengah, maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini
berlangsung akibat penyelenggaraan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada
saat ini kualitas pendidikan sepertinya agak dipaksakan dengan adanya KKM
pada pendidikan dasar dan menengah, serta IPK pada pendidikan tinggi yang
batas kelulusannya dinaikkan agar seolah-olah kualitasnya dari lulusan tersebut
lebih baik. Mutu pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal,
melainkan ada sejumlah variabel yang dianggap saling berhubungan/
mempengaruhi. Dengan demikian maka perlu adanya sebuah kajian yang
mendalam agar dapat mengidentifikasi temuan secara empirik hubungan langsung
atau tidak langsung dalam suatu rangkaian dari sistem pendidikan.
Suatu pembelajaran harus menghasilkan suatu pendidikan yang dikelola
secara sistematisasi dari proses diperolehnya suatu pengalaman diolah sehingga
menjadi pengetahuan. Berdasarkan hal tersebut maka filsosofi pendidikan dapat
diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta
didik dalam menghadapi problema hidup dan kehidupannya. Dengan pengalaman
belajar itu, diharapkan peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya,
sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema hidupnya. Pengalaman
belajar itu diharapkan juga dapat mengilhami peserta didik dalam menghadapi
problema hidup sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran tersebut
memunculkan suatu pertanyaan yaitu : apa tujuan pendidikan itu secara hakiki
bagi manusia ? Jawaban pertanyaan tersebut sangat sederhana, yaitu tujuan
pendidikan bagi setiap manusia adalah agar peserta didik mampu memecahkan
dan mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan yang dihadapinya. Harapan
dari jawaban pertanyaan tersebut yaitu agar peserta didik setelah selesai mengikuti
pendidikan harus mempunyai bekal kemampuan untuk menyelesaikan setiap
menemukan problema hidup yang akan dihadapinya. Apabila peserta didik belum
mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupannya, pertanda tujuan
pendidikan belum tercapai. Berdasarkan gambaran tersebut maka dalam
pelaksanaan pendidikan, peserta didik perlu dibekali dengan pendidikan
kecakapan hidup, yang secara umum lebih dikenal dengan istilah Pendidikan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia
yang memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian, sehingga lulusannya dapat
mengembangkan kinerja apabila terjun dalam dunia kerja. Pendidikan SMK itu
sendiri bertujuan meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan
diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kejuruan,
serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan
sikap profesional. Apapun jenis pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan
tidak lain muara dari lulusannya agar mereka memiliki kemampuan, keterampilan
serta ahli di dalam bidang ilmu tertentu. Selanjutnya mampu dan terampil
diaplikasikan dalam dunia kerja. Oleh sebab itu, hakiki dari Sekolah Menengah
Kejuruan sangat berbeda dengan sekolah umum atau SMA.
Ada dua hal sebenarnya kelebihan dari Pendidikan Menengah Kejuruan ini,
pertama lulusan dari institusi ini dapat mengisi peluang kerja pada dunia usaha/industri, karena terkait dengan satu sertifikasi yang dimiliki oleh lulusannya
melalui Uji Kemampuan Kompetensi. Dengan sertifikasi tersebut mereka
mempunyai peluang untuk bekerja atau dengan pendidikan kewirausahaan
(interpreneurship) agar lulusan mampu untuk berwirausaha mandiri sehingga bisa menciptakan peluang lapangan pekerjaan minimal untuk dirinya. Kedua, lulusan
Pendidikan Menengah Kejuruan dapat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi, sepanjang lulusan tersebut memenuhi persyaratan, baik nilai
maupun program studi atau jurusan sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan.
Bahkan pada pengembangan Kurikulum SMK 2013 (2012, hlm. 55) telah
mencantumkan pada struktur kurikulum SMK Bidang Studi Keahlian Teknologi
dan Rekayasa pada kolom mata pelajaran untuk kelompok A poin 10 yaitu life & Carrier Skills (non mata pelajaran) yang alokasi waktunya 2 (dua) jam per
Menurut Hilman (2011, hlm. 28) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ke
depan akan berkembang sejalan dengan keinginan pemerintah memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk mendirikan sekolah sehingga ada kebijakan
rencana pemerintah untuk mengembangkan rasio SMK : SMA menjadi 70 : 30
pada tahun 2015. Apalagi dengan pola Otonomi Pendidikan termasuk manajemen
berbasis sekolah (MBS) yang diberlakukan seperti sekarang ini, maka masyarakat
juga memiliki tanggungjawab moral untuk memikirkan dan menumbuh
kembangkan pendidikan, sehingga lebih dikenal dengan Pendidikan Berbasiskan
Masyarakat (community based education) dan pendidikan berorientasi kawasan
atau lingkungan. Adanya kebijakan otonomi daerah tentang pendidikan dan
otonomi daerah tentang keuangan ini maka setiap daerah akan berlomba untuk
menggali dan mengembangkan potensi daerahnya masing-masing termasuk
mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber daya manusia. Program ini
diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan di berbagai sektor/
bidang di seluruh Indonesia.
Kendala dalam mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat
menurut Sagala (2004) antara lain adalah: sistem perencanaan, penganggaran dan
pertanggungjawaban keuangan yang dianut pemerintah masih dari atas ke bawah
(top down); kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan atau
kekuatan energi masyarakat; sikap Birokrat yang belum mampu membiasakan diri
bertindak sebagai pelayan; karakteristik kebutuhan belajar masyarakat yang
sangat beragam, sedangkan sistem perencanaan yang dianut masih turun dari atas
dan bersifat standar; sikap masyarakat dan juga pola pikir masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan masih tertuju pada hal-hal yang bersifat kebutuhan badani /
kebendaan; budaya menunggu pada sebagian besar masyarakat kita; tokoh
panutan, yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang seyogyanya berperan sebagai
panutan sering berperilaku seperti birokrat; lembaga sosial masyarakat yang
prasarana belajar, dan tenaga kependidikan; dan egoisme sektoral, yaitu masih ada
keraguan di antara prosedur yang berbeda tentang kedudukan masyarakat dalam
institusi pendidikan berkaitan dengan pendidikan berbasis masyarakat yang masih
menonjolkan karakteristiknya masing- masing.
Berkaitan dengan data dan informasi daya serap dan tingkat pengangguran
yang diperoleh dari BPS Provinsi Jawa Barat (Lindawati, 2013, hlm. 3) tentang
penduduk angkatan kerja dan pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan
yang ada di Provinsi Jawa Barat tahun 2012 dapat dijelaskan seperti pada tabel
1.1.
Tabel 1.1 Penduduk Angkatan Kerja dan Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Tingkat Pendidikan di Provinsi Jawa Barat
Pendidikan Bekerja Pengangguran Total TPT
(Jiwa) ( % ) (Jiwa) ( % ) (Jiwa) ( % )
<= SD 8.928.460 49,14 602.054 30,58 9.530.514 6,32
SMP 3.360.773 18,50 499.600 25,37 3.860.373 12,94
SMA Umum 2.735.322 15,05 411.890 20,90 3.147.212 13.09
SMA Kejuruan 1.656.635 9,12 281.345 14,29 1.937.980 14,52
Diploma I/II/III 454.309 0,003 61.577 3,13 515.886 11,94
Universitas 1.034.153 5,69 112.540 5,71 1.146.693 9.81
Total 18.169.652 100 1.969.006 100 20.138.658 9,78
Berdasarkan informasi dari tabel 1.2 menunjukkan bahwa lulusan pendidikan
SMA Kejuruan (SMK) mempunyai tingkat prosentase pengangguran yang paling
tinggi yaitu 15,52% atau jumlah jiwa hampir dua juta (1.937.980 jiwa). Kejadian
seperti ini dapat disebabkan karena reorientasi dari proses pembelajaran yang
dilakukan di sekolah belum mengarah kepada pendidikan yang berorientasi
kecakapan hidup. Pendidikan berorientasi kecakapan hidup pernah dicanangkan
oleh pemerintah khususnya departemen pendidikan nasional antara tahun 2003
sampai dengan tahun 2005 (Tim BBE, 2003). Pada program pendidikan
berorientasi kecakapan hidup tersebut dapat dilakukan melalui empat cara
(Zulkarnaini, 2008) yaitu: reorientasi pembelajaran, pengembangan budaya
Secara garis besar keempat cara tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu
reorientasi pembelajaran, dan reformasi praktik pendidikan (school reform) yang meliputi budaya sekolah (school climate), manajemen sekolah (school management), dan hubungan sekolah dengan masyarakat (networking).
Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup di
atas, maka peranan dari guru dalam pembelajaran sangat penting untuk
mensukseskan keberhasilan dari program tersebut. Pembelajaran menurut
Rahmawati (2012) dapat dijadikan sebagai jantung proses pendidikan suatu
institusi pendidikan bersifat kompleks dan dinamis dengan berbagai persepsi dan
sudut pandang yang melintasi garis waktu. Pada tingkatan mikro pencapaian
kualitas pembelajaran merupakan tanggung jawab profesional bagi seorang guru
melalui penciptaan pengalaman belajar. Sedangkan pada tingkatan makro,
pencapaian pembelajaran berkualitas dan lembaga pendidikan mempunyai
tanggung jawab dalam pembentukan tenaga pengajar yang berkualitas, sehingga
perkembangan intelektual, sikap, dan moral peserta didik sebagai anggota
masyarakat dapat terbina dengan baik. Adanya prosentase tingkat pengangguran
yang masih tinggi bagi lulusan SMK di Jawa Barat akan dapat diantisipasi apabila
ada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran baik secara
eksternal maupun internal. Menurut Razi (2004), kedua faktor tersebut dapat
dijelaskan yaitu secara eksternal meliputi: guru, materi, pola interaksi, media dan
teknologi, situasi belajar, dan sistem; secara internal diantaranya: karakteristik
siswa, gaya belajar, sikap dan kebiasaan belajar serta aktivitas yang dilakukan
dalam merespon strategi pembelajaran dari guru.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk
melaksanakan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Melalui Reorientasi Pembelajaran dan Reformasi Praktik Pendidikan pada SMK”
Banyak permasalahan yang muncul sehubungan dengan topik penelitian ini
sehingga penulis mengidentifikasikan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Persoalan reorientasi model pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah (SMK)
dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup.
2. Permasalahan pemahaman guru dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan
berorientasi kecakapan hidup di sekolah.
3. Suasana lingkungan Sekolah (SMK) atau iklim sekolah dalam menunjang
kegiatan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.
4. Mengenai sistem manajemen sekolah dalam menunjang pelaksanaan
pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.
5. Dukungan jalinan kerja sama yang telah dilakukan antara sekolah (SMK)
dengan masyarakat (networking) dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup belum terjalin dengan baik.
6. Tinjauan tentang peranan yang telah dilakukan oleh sekolah (SMK) dalam
menciptakan pembelajaran yang berorientasi kecakapan hidup.
7. Sejauh mana suatu sekolah (SMK) belum memahami dan melaksanakan
pendidikan yang berorientasi kecapakan hidup dengan benar.
8. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh sekolah (SMK) dalam
menerapkan/mengimplementasikan pendidikan yang berorientasi kecakapan
hidup.
9. Usaha-usaha apa saja yang telah dilakukan oleh sekolah (SMK) untuk
melaksanakan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup agar dapat
berjalan dengan maksimal.
Mengingat banyaknya permasalahan yang mungkin muncul berkaitan
dengan rencana penelitian di atas, maka diperlukan pembatasan agar penelitian ini
dapat terfokus dan jelas. Adapun pembatasan masalah yang berkaitan dengan
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Fokus penelitian ini adalah ingin mengetahui pola pelaksanaan pendidikan
berorientasi kecakapan hidup pada SMK yang ada di naungan Dinas
keahlian teknik ketenagalistrikan dengan kompetensi keahlian Teknik Instalasi
Tenaga Listrik.
2. Sekolah yang menjadi populasi penelitian ini yaitu SMK yang memiliki
program studi keahlian teknik ketenagalistrikan dengan kompetensi keahlian
Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang ada di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 4
(empat) zona. Zona 1 yaitu wilayah Bandung Raya meliputi Kota Bandung,
Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten
Bandung Barat. Zona 2 yaitu wilayah Pajajaran meliputi Kota/Kabupaten
Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta.
Zona 3 yaitu wilayah Pantura meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota
Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang,
Kabupaten Kerawang, dan Kabupaten/Kota Bekasi. Zona 4 yaitu wilayah
Priangan Timur meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota
Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pengandaran.
3. Sekolah yang dijadikan sampel penelitian ini adalah SMK yang ada di Provinsi
Jawa Barat yang mempunyai program studi keahlian teknik ketenagalistrikan
dengan kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang berjumlah
lima SMK yaitu dengan mengambil setiap zona satu buah SMK Negeri dan
satu buah SMK yang memiliki akreditasi A untuk dijadikan sebagai informasi
pembanding dari sampel SMK Swasta. Sampel penelitian untuk zona 1 yaitu
SMKN 4 Bandung (dengan sebutan istilah SMKN D), zona 2 yaitu SMKN 1
Purwakarta (dengan sebutan istilah SMKN T), zona 3 yaitu SMKN 1 Cirebon
(dengan sebutan istilah SMKN E), zona 4 yaitu SMKN 2 Tasikmalaya (dengan
sebutan istilan SMKN Z), dan dari SMK Swasta yaitu SMK Prakarya
Internasional 2 Bandung (dengan sebutan istilah SMKS D).
4. Pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang akan diteiliti
meliputi empat aspek yaitu reorientasi pembelajaran, iklim sekolah,
5. Subjek pengamatan/observasi terhadap pembelajaran di SMK lebih prioritas
untuk kelompok mata pelajaran produktif pada Kompetensi Keahlian Teknik
Instalasi Tenaga Listrik.
6. Siswa yang menjadi sampel penelitian adalah siswa kelas 3 (XII) dari program
studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dengan asumsi yang memiliki
kemampuan kompetensi yang paling lengkap dan akan memasuki dunia kerja.
Berdasarkan gambaran dari latar belakang penelitian, identifikasi
permasalahan, dan pembatasan masalah di atas maka penulis merumuskan
permasalahan utama dalam penelitian ini yaitu “bagaimanakah implementasi
pendidikan berorientasi kecakapan hidup pada suatu SMK melalui reorientasi
pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan?” Mengacu dari pertanyaan
masalah utama di atas maka penulis dapat merumuskan masalah secara rinci
dengan melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup seperti apakah
yang telah dilakukan pada SMK yang memiliki program studi Kompetensi
Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik?
2. Bagaimanakah pemahaman dan peranan guru dalam menerapkan pendidikan
berorientasi kecakapan hidup yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran di sekolah (SMK)?
3. Suasana lingkungan sekolah atau iklim sekolah yang bagaimana yang telah
diciptakan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang
berorientasi kecakapan hidup?
4. Sistem manajemen sekolah seperti apakah yang diciptakan oleh suatu SMK
dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi kecakapan
hidup?
6. Bagaimanakah deskripsi kompetensi yang dimiliki oleh siswa SMK Kelas 3
(XII) program studi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik sebelum mereka
lulus dan memasuki dunia kerja ?
7. Bagaimanakah relevansi pembelajaran yang dilaksanakan pada SMK yang
memiliki program studi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik terhadap
tujuan implementasi pola pendidikan berorientasi kecakapan hidup ?
C.Tujuan Penelitian
Setelah melakukan penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data dan
informasi yang berhubungan dengan permasalahan di atas. Secara umum tujuan
dari penelitian ini adalah “ ingin mengetahui tentang pola pelaksanaan pendidikan
berorientasi kecakapan hidup yang dilakukan oleh SMK dalam menunjang
kualitas sumber daya lulusan untuk memasuki dunia kerja”. Adapun secara khusus tujuan dari penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Mengetahui pola pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang
dilakukan pada SMK yang memiliki program studi kompetensi keahlian
Teknik Instalasi Tenaga Listrik.
2. Mendapatkan gambaran tentang pemahaman dan peranan guru dalam
menerapkan pendidikan berorientasi kecakapan hidup yang berkaitan dengan
pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah (SMK).
3. Mengetahui suasana lingkungan sekolah atau iklim sekolah yang telah
diciptakan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran yang
berorientasi kecakapan hidup.
4. Mengetahui sistem manajemen sekolah seperti apakah yang diciptakan oleh
suatu SMK dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi
kecakapan hidup.
5. Mendapatkan gambaran tentang sistem jalinan kerja sama (networking) antara sekolah (SMK) dengan masyarakat (stake holder) yang telah dilakukan oleh suatu SMK dalam menunjang kegiatan pembelajaran berorientasi kecakapan
6. Mendapatkan deskripsi tentang kompetensi yang dimiliki oleh siswa SMK
Program Studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik sebelum mereka lulus
dan memasuki dunia kerja.
7. Mengetahui relevansi pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada SMK yang
memiliki Program Studi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik terhadap
tujuan dari implementasi pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup.
D. Manfaat/Signifikansi Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Semoga hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai
landasan kajian ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan pola
pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup ditinjau dari relevansi
peranan guru, lingkungan sekolah, manajemen sekolah, dan kerjasama
sekolah dengan stake holder.
b. Memberikan informasi tentang pola pelaksanaan pendidikan berorientasi
kecakapan hidup yang meliputi orientasi model pembelajaran dan reformasi
praktik pendidikan.
c. Berdasarkan orientasi pembelajaran tersebut maka sekolah dapat
menentu-kan jenis atau model pembelajaran seperti apakah yang dianggap paling
relevan sesuai dengan materi pembelajaran atau kompetensi yang akan
disampaikan dalam pembelajaran tersebut.
d. Berdasarkan reformasi praktik pendidikan maka sekolah dapat menciptakan
situasi dan kondisi sekolah seperti apakah yang paling menunjang dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran, disamping ada faktor manajemen
sekolah dan hubungan sinergi antara sekolah dengan masyarakat
(networking).
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan gambaran bagi pengelola sekolah (Kepala SMK dan
jajarannya) khususnya SMK yang memiliki Program Studi Keahlian Teknik
dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan dapat
meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan
yang berorientasi kecakapan hidup.
b. Memberikan masukan kepada penentu kebijakan (para birokrat seperti Kadis
Pendidikan Kab/Kota, Kadis Provinsi, dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, serta pejabat terkait) dalam mengambil suatu keputusan yang
berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya
agar lulusan SMK dibekali kecakapan hidup supaya dapat hidup mandiri
dan mampu menyelesaikan problematika kehidupan yang dihadapinya
sehari-hari.
c. Memberikan informasi agar orang tua siswa, masyarakat, dan dunia kerja
dapat berpartisipasi secara langsung dalam mendukung proses pembelajaran
yang berorietasi kecakapan hidup agar lulusannya mampu bekerja dan hidup
mandiri.
d. Dapat menjadi acuan bagi peneliti bidang sejenis berikutnya yang lebih
mendalam untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa
mendatang khususnya bidang pendidikan teknologi dan kejuruan.
E. Definisi Operasional
Berkaitan dengan metode penelitian di atas, maka ada beberapa variable
yang dapat penulis definisikan secara operasional sebagai berikut:
1. Implementasi: tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu, pejabat-pejabat, atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang
diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam
keputusan kebijakan.
2. Pendidikan Kecakapan Hidup: kecakapan yang dimiliki seseorang (individu) untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar
tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
3. Reorientasi Pembelajaran: menyiasati kurikulum khususnya mengintegrasikan pendidikan berorientasi kecakapan hidup ke dalam mata pelajaran.
4. Reformasi Praktik Pendidikan: pembaharuan atau reformasi sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup
meliputi iklim sekolah, manajemen sekolah, dan hubungan sinergi antara
sekolah dengan masyarakat (networking).
5. SMK: sekolah menengah kejuruan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang
memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian, sehingga lulusannya
dapat mengembangkan kinerja apabila memasuki/terjun dalam dunia kerja.
Tujuan lembaga ini adalah meningkatkan kemampuan siswa agar dapat
mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan
kerja dan mengembangkan sikap professional.
F. Struktur Organisasi Disertasi
Struktur organisasi penulisan laporan hasil pelaksanaan penelitian dalam
disertasi ini terdiri dari lima bab, yaitu:
1. Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat/signifikansi penelitian, definisi
operasional, dan struktur organisasi disertasi.
2. Bab II Kajian Pustaka, yaitu menjelaskan tentang kajian terhadap berbagai teori dan pustaka yang terkait dengan penelitian ini meliputi: filosofi
kecakapan hidup, konsep dasar pendidikan berorientasi kecakapan hidup, pola
pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup, penilaian hasil
pembelajaran, menjelaskan tentang pendidikan sekolah menengah kejuruan,
standar kompetensi lulusan SMK, kerangka kualifikasi nasional Indonesia,
penelitian terdahulu, asumsi penelitian, dan dugaan sementara atau hipotesis
penelitian yang akan harus diuji berdasarkan data-data dan fakta-fakta yang
3. Bab III Metode Penelitian, membahas tentang desain penelitian dan justifikasi mengenai reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan,
partisipasi dan tempat penelitian, metode pengumpulan data penelitian,
pengembangan instrumen penelitian, teknik pengumpulan data penelitian, dan
teknik analisis analisis data penelitian.
4. Bab IV Temuan dan Pembahasan, menampilkan tentang visual hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan data-data atau fakta-fakta hasil penelitian yang
telah diolah dan dianalisis sesuai dengan disain penelitian. Hasil tampilan
visual tersebut kemudian dianalisis dan dibahas untuk menjawab tujuan
penelitian yang telah dirumuskan dan sekaligus sebagai uji hipotesis yang telah
disampaikan pada penelitian disertasi ini.
5. Bab V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi, yaitu menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan dari penelitian.
Simpulan ini harus menjawab pertanyaan penelitian atau rumusan masalah.
Sedangkan implikasi dan rekomendasi disampaikan berdasarkan temuan,
pembahasan, dan simpulan yang telah dideskripsikan di atas, yang ditunjukkan
kepada para pembuat kebijakan, pengguna hasil penelitian, dan peneliti
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dan dikembangkan sehubungan dengan
pelaksanaan penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kuantitatif. Prosess
penelitian kuantitatif yang dikembangkan dalam penelitian ini melalui
langkah-langkah atau prosedur seperti yang dijelaskan pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Alur proses penelitian kuantitatif
Penelitian dengan pendekatan metode kuantitatif dapat dibagi menjadi dua
(Sugiyono, 2014a), yaitu metode penelitan eksperimen dan metode penelitian
survei. Metode eksperimen merupakan metode penelitian untuk mencari pengaruh
perlakuan (treatment) dalam keadaan yang terkendali misalnya penelitian yang
dilakukan pada laboratorium. Menurut Creswell (2009) “experimental research
impact is assessed by providing a specific treatment to one group and with
holding it from another group and then determining how both groups score on an outcome”. Sedangkan metode survei adalah metode penelitian yang dilakukan
pada populasi besar maupun kecil dengan data yang dianalisis dalam penelitian
merupakan sampel dari populasi tersebut. Analisis tersebut biasanya untuk
menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel
sosiologis maupun psikologis yang digunakan dalam penelitian. Menurut
Kerlinger (1973) “Survey research studies large and small population (or
universes) by selecting and studying samples chosen from the population to
discover the relative incident distribution, and interrelations of socioligiccal and psychological variables”. Menurut Sugiyono (2014a) penelitian survei ini peneliti menanyakan kepada beberapa orang sebagai responden terhadap keyakinan,
pendapat, karakteristik dari suatu obyek dan perilaku baik yang telah lalu maupun
sekarang.
Berdasarkan gambaran di atas, maka metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian disertasi ini adalah dengan menggunakan metode penelitian
survei. Bentuk-bentuk rumusan masalah berkaitan dengan proses penelitian
kuantitatif ini, Sugiyono (2014a) menjelaskan bahwa rumusan masalah penelitian
kuantitatif terdiri atas empat bentuk rumusan masalah yaitu rumusan masalah
deskriptif, komparatif, asosiatif, dan komparatif asosiatif. Penelitian dengan
rumusan masalah deskriptif yaitu penelitian yang tidak membuat perbandingan
variabel itu pada sampel lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel
lain. Penelitian dengan rumusan masalah komparatif adalah penelitian yang
membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih, pada dua atau lebih sampel
yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Penelitian dengan rumusan masalah
asosiatif merupakan penelitian yang menanyakan hubungan antara dua variabel
atau lebih. Peneltian dengan rumusan masalah asosiatif ini dibagi menjadi tiga
masalah komparatif-asosiatif yaitu menanyakan perbandingan korelasi antara dua
variabel atau lebih pada sampel atau populasi yang berbeda.
Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu
ada tujuh rumusan masalah yang digunakan. Tujuh rumusan masalah tersebut
dapat dijelaskan bahwa rumusan masalah pertama, dua, dan enam termasuk
rumusan masalah deskriptif; rumusan masalah tiga, empat, dan lima termasuk
rumusan masalah asosiatif kausal; dan rumusan masalah tujuh termasuk rumusan
masalah asosiatif reciprocal (interaktif).
A. Desain Penelitian
Konsep hubungan antara variabel reorientasi pembelajaran, reformasi
praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan yang diharapkan dari alumni SMK
yang memiliki Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik dapat
dijelaskan pada gambar 3.2.
Gambar 3.2 Konsep hubungan reorientasi pembelajaran, reformasi praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan
Berdasarkan gambar 3.2 tersebut maka kecakapan hidup (life skill) yang akan dihasilkan untuk mendukung pencapaian kompetensi lulusan SMK yang
lebih sederhana yaitu merupakan irisan dari implementasi reorientasi
pembelajaran (X1) dengan reformasi praktik pendidikan (school reform) (X2).
Kompetensi lulusan SMK ini merupakan variabel prediktif (Y) yang menjadi
tingkat pencapaian implementasi pembelajaran berorientasi kecakapan hidup pada
suatu SMK yang memiliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik
yang berada di wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan deskripsi hubungan keterkaitan antara reorientasi
pembelajaran, reformasi praktik pendidikan, dan kompetensi lulusan SMK, maka
paradigma hubungan antar ketiga variabel penelitian tersebut dapat dijelaskan
pada gambar 3.3.
Gambar 3.3 Paradigma keterkaitan antar variabel penelitian
Berdasarkan paradigma keterkaitan antar variabel yang digunakan dalam
penelitian ini seperti pada gambar 3.3 dapat dijelaskan bahwa hasil akhir keluaran
(output) penelitian ini adalah kompetensi lulusan SMK yang merupakan hasil impelementasi antara reorientasi pembelajaran yang didukung dengan reformasi
praktik pendidikan yang ada pada SMK tersebut. Kompetensi yang dicapai oleh
siswa SMK ini akan dianalisis dengan cara memetakan (mapping) terhadap
indikator-indikator kecakapan hidup. Dengan adanya pemetaan dari indikator
kecakapan hidup dengan kompetensi lulusan SMK, maka akan diketahui tentang
capaian implementasi pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan hidup dari
tiap-tiap SMK.
Secara blok diagram deskripsi tentang pemetaan (mapping) keterkaitan
indikator-indikator antar variabel/subvariabel yang mendukung pencapaian
kompetensi lulusan SMK dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada gambar 3.4.
dari hasil implementasi reorientasi pembelajaran (X1) dan reformasi praktik
pendidikan (X2). Variabel reformasi praktik pendidikan (X2) ini terdiri atas tiga
subvariabel, yaitu suasana lingkungan sekolah (X21), manajemen sekolah (X22),
dan kerjasama sekolah dengan stake holder (X23).
Gambar 3.4 Pemetaan indikator-indikator variabel/subvariabel penelitian
Berdasarkan gambar 3.4 dapat dijelaskan bahwa reorientasi pembelajaran
yang dilaksanakan oleh guru dengan didukung reformasi praktik pendidikan yang
dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan (SMK), maka akan menghasilkan
kompetensi lulusan sesuai dengan tujuan pembelajaran dari sekolah tersebut.
Kompetensi lulusan terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kompetensi umum,
kompetensi kejuruan, dan kompetensi lapangan kerja. Tiap-tiap kelompok
kompetensi lulusan juga memiliki indikator-indikator yang harus dicapai,
sehingga indikator-indikator kompetensi lulusan ini dapat dipetakan dengan
indikator-indikator yang terdapat pada kecakapan hidup. Kecakapan hidup terbagi
menjadi tiga kelompok kecakapan, yaitu kecakapan umum (general skill),
kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan kejuruan (vocational skill).
indikator-indikator kecakapan hidup ini yang akan dijadikan sebagai keluaran (output) dan
proses pembelajaran yang dilakukan pada suatu sekolah (SMK).
Penjabaran indikator-indikator dari gambar 3.4 untuk tiap-tiap variabel/
subvariabel pendukung (independen) terhadap indikator-indikator kecakapan
hidup melalui indikator-indikator pencapaian kompetensi lulusan SMK dapat
dijelaskan pada tabel 3.1 sampai dengan tabel 3.5.
Tabel 3.1 Indikator-indikator variabel reorientasi pembelajaran (X1)
NO INDIKATOR DUKUNGAN REORIENTASI PEMBELAJARAN TERHADAP PENCAPAIAN KECAKAPAN HIDUP
1.1 Guru memahami mata pelajaran bukan sebagai tujuan tetapi dijadikan sebagai alat untuk menyiapkan kecakapan hidup bagi peserta didik dalam pembelajaran
1.2 Guru lebih mengaktifkan siswa daripada gurunya sendiri (mengubah
teaching ke learning)
1.3 Guru membuat RPP setiap materi ajar disesuaikan dengan kondisi dan potensi lingkungan dimana peserta didik akan bekerja stlh lulus
1.4 Guru menyiapkan media sesuai RPP setiap materi ajar sebelum melakukan pembelajaran
1.5 Guru memahami pembelajaran keterampilan proses berorientasi kecakapan hidup
1.6 Guru merancang setiap pembelajaran berorientasi kepada kompetensi keahlian peserta didik
1.7 Guru memahami tentang maksud pembelajaran terpadu antara teoritis dan praktis
1.8 Guru dalam melaksanakan pembelajaran selalu mengkaitkan pembelajaran kontekstual sesuai dengan kehidupan sehari-hari
1.9 Guru merancang dan menyiapkan alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan kompetensi yang diharapkan
1.10 Guru melaksanakan evaluasi pada setiap akhir dari proses pembelajaran
1.11 Guru menganalisis secara cermat pada setiap pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran yang berkaitan dengan prilaku, disiplin dan kejujuran peserta didik
Tabel 3.1 di atas, menjelaskan tentang rumusan indikator-indikator dari
yang melalui pencapaian indikator-indikator kompetensi lulusan SMK. Sedangkan
indikator-indikator dukungan reformasi praktik pendidikan (X2)terhadap
indikator-indikator kecakapan hidup melalui pencapaian indikator-indikator
kompetensi lulusan SMK (Y), dapat dibagi menjadi tiga kelompok subvariabel
yaitu suasana lingkungan sekolah (school climat), manajemen sekolah (school management), dan hubungan sekolah dengan stake holder (networking) dapat dijelaskan pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Indikator-indikator subvariabel reformasi praktik pendidikan (X2)
SUBVARIABEL INDIKATOR DUKUNGAN REFORMASI PRAKTIK PENDIDIKAN TERHADAP PENCAPAIAN
KECAKAPAN HIDUP
Suasana/ Iklim Sekolah
(X21)
21.1Suasana sekolah mendukung pengembangan disiplin diri siswa
21.2Suasana sekolah mendukung terciptanya sikap tanggung jawab kepada peserta didik
21.3Sekolah menyiapkan sarana untuk meningkat kan belajar siswa
21.4Sekolah membuat program untuk memotivasi belajar kepada peserta didik
21.5Sekolah menyiapkan fasilitas untuk mengembang kan rasa kebersamaan dan toleransi kepada peserta didik 21.6Sekolah membuat suatu program/ kegiatan untuk
mendukung rasa kebersamaan sehingga dapat menimbulkan sikap toleransi kepada peserta didik
Manajemen Sekolah
(X22)
22.1Pimpinan sekolah berusaha menciptakan suasana kemandirian bagi institusinya
22.2Pimpinan sekolah selalu melaksanakan transparansi setiap program dan kegiatan
22.3Pimpinan sekolah berusaha menjalin kerja sama dengan berbagai institusi terkait
22.4 Pimpinan sekolah melaksanakan akuntabilitas anggaran dan keuangan
22.5Pimpinan sekolah memikirkan sustainbilitas dari setiap program dan kegiatan untuk melaksanakan pembelajaran life skill
Hubungan Sekolah dengan Stake
Holder
23.1Sekolah melibatkan orang tua peserta didik dalam menentukan rencana pengembangan sekolah
(X23 ) pelaksanaan program pengembangan sekolah
23.3Sekolah selalu melibatkan stake holder dalam merancang kurikulum dengan melibatkan dunia usaha, industri, lembaga profesi terkait
23.4Sekolah selalu melibatkan stake holder dalam membuat program implementasi kurikulum dengan melibatkan dunia usaha, industri, lembaga profesi terkait
23.5Sekolah mengikutsertakan stake holder dalam kegiatan mencari sumber dana sebagai upaya untuk membantu pembiayaan sekolah
Tabel 3.3 Indikator-indikator dukungan bersama reorientasi pembelajaran dan reformasi praktik pendidikan (X1 ∩ X2)
a) Timbulnya sikap disiplin diri dari peserta didik/siswa dalam mengikuti setiap pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru b) Terciptanya sikap tanggung jawab setiap peserta didik dalam
mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas dari guru c) Terciptanya proses pembelajaran yang optimal dalam
mentransfer iptek dari guru kepada peserta didik/siswa sesuai dengan tujuan dari pembelajaran/kurikulum
d) Timbulnya semangat dan motivasi belajar tinggi dari setiap peserta didik/siswa dalam mengikuti pembelajaran dari guru e) Terciptanya jiwa dan semangat kebersamaan yang positif dari
setiap peserta didik/siswa dalam mengerjakan setiap tugas dan kewajiban yang diberikan gurunya dalam proses pembelajaran f) Timbul dan berkembangnya sikap toleransi dari setiap peserta
didik/siswa dalam mengikuti proses pembelajaran baik di kelas, bengkel, laboratrium, workshop, dan tempat lainnya sebagai implementasi dari iptek yang telah diperolehnya dari proses pembelajaran tersebut.
1. Pimpinan sekolah berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif
2. Pimpinan sekolah selalu melaksanakan transparansi program dalam pembelajaran
3. Pimpinan sekolah berusaha menjalin kerja sama dengan institusi terkait untuk meningkatkan pembelajaran
4. Pimpinan sekolah melaksanakan akuntabilitas anggaran dan keuangan untuk pembelajaran
5. Pimpinan sekolah memikirkan sustainbilitas setiap program dan kegiatan untuk melaksanakan pembelajaran kecakapan hidup
reorientasi pembelajaran dan hubungan sekolah dengan stake holder
(X1∩X23)
tua peserta didik dalam menciptakan proses pembelajaran b. Guru harus selalu berkonsultasi dengan orang tua siswa lewat
komite setiap ada proses pembelajaran yang membutuhkan keterlibatan orang tua siswa seperti LKS, dan lain-lain
c. Terjalinnya komunikasi yang baik antara guru pembimbing dengan pelaksanaan pembelajaran di dunia usaha, dunia industry, atau lembaga profesi terkait
d. Guru dan lembaga stake holder harus selalu berkomunikasi setiap ada perubahan berkaitan dengan pelaksanaan pembela-jaran baik kurikulum, materi pembelapembela-jaran, atau iptek terbaru e. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara guru, orang tua
siswa, dan lembaga profesi, dunia usaha, dan dunia industry dalam menciptakan proses pembelajaran yang baik.
Indikator-indikator dukungan bersama dari reorientasi pembelajaran dan
reformasi praktik pendidikan (X1∩X2) terhadap indikator-indikator kecakapan
hidup, akan dipetakan (mapping) melalui pencapaian indikator-indikator yang terdapat pada kompetensi lulusan SMK. Indikator-indikator Kompetensi lulusan
SMK ini dapat dijelaskan pada tabel 3.4 seperti berikut.
Tabel 3.4 Indikator-indikator kompetensi lulusan SMK program keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik
NO INDIKATOR-INDIKATOR KOMPETENSI LULUSAN SMK YANG DIPETAKAN TERHADAP KECAKAPAN HIDUP
1 Pemelukan agama
2 Pengembangan potensi diri
3 Sikap percaya diri dan tanggung jawab terhadap pekerjaan
4 Partisipasi terhadap aturan
5 Sikap tolerasi terhadap lingkungan global
6 Peka terhadap informasi
7 Kemampuan dalam mengambil keputusan
8 Kemampuan pengembangan budaya belajar
9 Bersikap kompetitif dan sportif dalam bekerja
10 Kemampuan menganalisis masalah hidup
11 Kemampuan memanfaatkan lingkungan
12 Kemampuan ekspresi diri
13 Kemampuan mengapresiasi dan berkreasi
14 Kemampuan menjaga kesehatan dan keamanan diri
15 Kemampuan berkomunikasi
17 Kemampuan menghargai perbedaan pendapat
18 Kemampuan membaca dan menulis naskah
19 Kemampuan bahasa Indonesia dan Inggris
20 Kemampuan berwirausaha
21 Memasang instalasi penerangan dan tenaga
22 Mengoperasikan sistem control
23 Merawat dan memperbaiki alat rumah tangga listrik
24 Memelihara panel hubung bagi listrik
25 Lapangan pekerjaan Industri Vendor/ Pembuat Biro Konsultan Teknik /Biro Jasa Instalatir
26 Pekerjaan Industri Pemakai/ Industri Manufaktur
Indikator-indikator yang dicapai pada kompetensi lulusan akan dipetakan
(mapping) terhadap indikator-indikator kecakapan hidup (life skill) yang meliputi kecakapan umum (general skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan vokasional (vocational skill). kecakapan umum ini dibagi dalam tiga bagian yaitu kecakapan kesadaran diri (self awareness skill), kecakapan berfikir
(thinking skill), dan kecakapan sosial (social skill). Adapun hubungan indikator-indikator kecakapan hidup dengan kecakapan hidup sebagai keluaran (output)
hasil penelitian dapat dijelaskan pada tabel 3.5 berikut.
Tabel 3.5 Indikator-indikator kecakapan hidup dan kecakapan hidup
INDIKATOR-INDIKATOR KECAKAPAN HIDUP
KECAKAPAN HIDUP
(OUTPUT)
Self Awareness Skill
1. Kesadaran sebagai Makhluk Tuhan
2. Kesadaran akan eksistensi diri
3. Kesadaran akan potensi diri
10.Kec. Bekerjasama
Akademik Skill :
11. Kec. Mengidentifikasi variabel
12. Kec. Menghubungkan variabel
13. Kec. Melaksanakan penelitian
Vokational Skill :
14. Sering juga disebut sebagai kecakapan
kejujuran
15.Terkait dengan pekerjaan tertentu
B. Partisipan dan Tempat Penelitian
Partisipan penelitian ini adalah civitas akademik Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) yang meliputi Pimpinan Sekolah (kepala sekolah/wakil kepala
sekolah yang terkait dengan bidang penelitian), guru-guru yang mengajar mata
pelajaran produktif, staf/karyawan sekolah, dan siswa SMK kelas 3 (kelas XII)
yang memilih program studi kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik.
Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada
di wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang terbagai ke dalam empat
zona. Adapun pembagian zona lokasi Penelitian pada Sekolah Menengah
Kejuruan yang memiliki Program Studi Keahlian Teknik Ketenagalistrikan
dengan Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang berada di
wilayah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dapat dijelaskan sebagai berikut
(a) Zona 1 yaitu wilayah Bandung Raya meliputi Kota Bandung, Kabupaten
Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat. (b)
Zona 2 yaitu wilayah Pajajaran meliputi Kota/Kabupaten Bogor, Kabupaten
Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta. (c) Zona 3 yaitu
wilayah Pantura meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon,
Karawang, dan Kabupaten/Kota Bekasi. (d) Zona 4 yaitu wilayah Priangan Timur
meliputi Kabupaten Garut, Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis,
Kota Banjar, dan Kabupaten Pengandaran.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2014a) populasi merupakan wilayah generalisasi yang
meliputi obyek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang
dipilih oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi
penelitian ini adalah SMK yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
yang memiliki program studi kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga
Listrik. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari data pokok Direktorat
Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (http://datapokok.ditpsmk.net/)
menjelaskan bahwa total SMK di Jawa Barat berjumlah 1.281 buah yang terdiri
dari SMK Negeri sebanyak 167 buah dan SMK Swasta 1.114 buah. Dari 1.281
SMK tersebut yang memiliki kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik
berjumlah 97 buah SMK yang terdiri dari 23 SMK Negeri dan 74 buah adalah
SMK Swasta (data selengkapnya terdapat pada lampiran N).
Teknik pengambilan sampel data dilakukan sistem wilayah (zona) dengan
cara cluster random sampling (Sugiyono, 2014b, hlm.122), karena pengambilan data sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata dari
populasi tersebut. Begitu pula anggota populasi diasumsikan homogen/relative
homogen. Dengan demikian sehingga sekolah-sekolah yang dijadikan sampel
penelitian sehubungan dengan pengambilan data penelitian yaitu berjumlah 5
(lima) SMK dengan perincian empat SMK Negeri sebagai perwakilan dari setiap
zona dan satu SMK Swasta (dengan akreditasi A) sebagai informasi pembanding.
Sampel dari zona 1 wilayah Bandung Raya yaitu SMK Negeri 4 Bandung (dengan
kode SMKN D) yang beralamat di Jln Kliningan nomor 6 Buah Batu Kota
Bandung 40264 telp/fax 022-7303736 http://smkn4 bdg.sch.id/; zona 2 wilayah
Pajajaran yaitu SMK Negeri 1 Purwakarta (dengan kode SMKN T) yang
beralamat di Jln Industri Km 4 Babakan Cikao telp/fax. 0264-200163 Kota
yaitu SMK Negeri 1 Cirebon (dengan kode SMKN E) yang beralamat di Jln
Perjuangan telp 0231-480202 Kota Cirebon 45132
http://www.smkn1-cirebon.sch.id/; zona 4 wilayah Priangan Timur yaitu SMK Negeri 2 Tasikmalaya
(dengan kode SMKN Z) yang beralamat di Jln Noenoeng Tisnasaputra
Kahuripan-Tawang telp. 0265-331839 Kota Tasikmalaya 46112 http://smkn2
kotatasik.sch.id/; dan sampel dari SMK Swasta yaitu SMK Prakarya Internasional
Bandung (dengan kode SMKS D) yang beralamat Jln Inhofftank No.146
Pelindung Hewan, Astananyar, Kota Bandung 40243 telp. 022-5208637
http://www.smk-pi.com/.
Adapun personil yang terlibat dalam sampel penelitian ini dapat dijelaskan
pada tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6 Daftar jumlah personil sampel penelitian
Nama Sekolah Pimpinan Sekolah
Guru MP Produktif
Siswa Kelas 3 (XII)
Jumlah
SMKN D (zona 1) 5 10 60 75
SMKN T (zona 2) 5 10 60 75
SMKN E (zona 3) 5 10 60 75
SMKN Z (zona 4) 5 10 60 75
SMKS D 3 8 34 45
T o t a l 23 48 274 345
Teknik sampling untuk pimpinan sekolah dan guru menggunakan pusposif
sampling, sedangkan untuk siswa dilakukan dengan sistem random
sampling. Sampel untuk pimpinan sekolah diambil masing-masing lima
orang untuk SMKN, kecuali untuk SMKS D berjumlah tiga orang karena
keterbatasan responden yang terdapat pada sekolah tersebut. Personil yang
terlibat dalam penelitian ini meliputi Kepala SMK, Wakil Kepala SMK,
Ketua Program Studi, dan Kepala Bengkel/Workshop, dan koordinator
Laboratorium. Guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini adalah guru