BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survei, dengan menggunakan desain penelitian epidemiologi yaitu cross sectional (sekat silang) yaitu penelitian yang mengamati subjek dengan pendekatan suatu saat atau subjek diobservasi hanya sekali saja pada saat penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan hubungan tingkat sosial ekonomi, pola asuh, dan status kesehatan dengan status gizi anak balita.
3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan I daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Terjun, pemilihan wilayah ini dilakukan karena penulis melihat daerah TPAS beresiko tinggi untuk terjadinya masalah kesehatan dimana lingkungan tersebut akan tercemar, sampah akan menghasilkan bau yang sangat mengganggu penciuman, daerah TPA sampah merupakan daerah rawan banjir, sehingga penduduk yang tinggal di daerah TPAS ini sudah beradaptasi dengan keadaan lingkungan. Hal ini akan mengakibatkan status kesehatan masyarakat menurun dan merupakan gambaran untuk status gizi balita.
3.2.2. Waktu Penelitian
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita berumur 0- 59 bulan yang termasuk ke dalam lingkungan I wilayah TPA sampah Terjun. Jumlah balita sebanyak 95 orang.
3.3.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi secara total sampling, yaitu semua populasi dijadikan sampel, yaitu 95 orang. Responden pada penelitian ini adalah ibu rumah tangga karena ibulah yang menyediakan pangan dan mengatur kebutuhan makanan di dalam keluarga serta yang mengasuh dan merawat balita.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data harus dilakukan dengan sistematis, terarah, dan sesuai dengan masalah penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data skunder yaitu:
3.4.1. Data Primer
Data diperoleh dari wawancara langsung dengan ibu yang mempunyai anak balita berpedoman pada kuesioner yaitu data sosial ekonomi, pola asuh, dan status kesehatan dengan status gizi anak balita
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder yang meliputi laporan dan data umum atau profil Kelurahan Paya Pasir Tahun 2015 yang diperoleh dari petugas kelurahan, data umum atau profil
Puskesmas Terjun Tahun 2015, serta referensi-referensi yang mendukung dalam penelitian ini.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
1. Tingkat Sosial Ekonomi adalah suatu kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang menggunakan indikator umur, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan dan penghasilan sebagai tolak ukur.
a. Umur ibu adalah masa hidup ibu dalam tahun dengan pembulatan ke bawah atau umur pada waktu ulang tahun terakhir.
b. Pendidikan ibu adalah tingkat pendidikan formal tertinggi yang telah dicapai oleh ibu.
c. Pengetahuan gizi ibu adalah tingkat kemampuan ibu dalam menyediakan pangan dan mengatur kebutuhan makanan di dalam keluarga serta yang mengasuh dan merawat balita.
d. Pekerjaan ibu: kegiatan rutin yang dilakukan ibu dalam upaya mendapatkan penghasilan (uang) untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Pendapatan keluarga: jumlah total penghasilan yang didapat oleh sebuah keluarga sebagai hasil dari seluruh usaha anggota keluarganya setiap bulan yang ditetapkan sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK).
f. Besar keluarga: banyaknya orang yang tinggal satu rumah dengan ibu balita dan menjadi tanggungan kepala keluarga.
2. Pola asuh adalah suatu tindakan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada anak balita mencakup :
a. Perhatian/dukungan ibu terhadap anak dalam praktek pemberian makanan adalah gambaran mengenai sikap ibu dalam memilih makanan, menyusun menu makanan, memberi makan, serta penyimpanan makanan.
b. Perawatan kesehatan adalah apa yang dilakukan oleh ibu untuk menjaga kesehatan anak dalam kebersihan dan lingkungan anak meliputi keadaan rumah, air bersih, pembuangan sampah dan perawatan balita dalam keadaan sakit meliputi praktek kesehatan di rumah dan pola pencarian pelayanan kesehatan (membawa anak berobat jika sakit, mempunyai persediaan obat di rumah, mendampingi anak selama sakit, anak ditimbang setiap bulan, imunisasi lengkap, sarana pelayanan kesehatan yang sering dikunjungi). 3. Status gizi adalah keadaan fisik anak balita yang ditentukan dengan melakukan
pengukuran antropometri berdasarkan indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dengan menggunakan standar WHO-Anthro 2005.
4. Status kesehatan: adalah keadaan kesehatan berhubungan dengan tingkat kesehatan.
3.6. Metode Pengukuran
Metode pengukuran dalam penelitian ini berdasarkan pada jawaban responden terhadap pertanyaan yang telah disediakan dan disesuaikan dengan skor yang ada. 1. Data sosial ekonomi
a. Umur ibu dikategorikan berdasarkan masa reproduksi wanita yang dibagi dalam 3 periode yaitu kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi
sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi bahwa resiko kehamilan rendah pada kurun reproduksi sehat dan meningkat lagi secara tajam pada kurun reproduksi tua. b. Pendidikan ibu dikategorikan rendah: jika tidak tamat, tamat SD dan SMP;
tinggi: jika tamat SMA dan perguruan tinggi.
c. Pengetahuan gizi ibu dinilai berdasarkan jawaban pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner mengenai gizi yang dihitung berdasarkan jumlah yang benar. Maka menurut Wawan & Dewi (2010), pengetahuan dikategorikan atas kurang: <50% dari seluruh jawaban benar; baik: ≥50% dari seluruh jawaban benar.
d. Pekerjaan ibu dikategorikan bekerja: jika ibu mempunyai aktifitas di luar rumah untuk menghasilkan uang. Tidak bekerja: jika ibu tidak mempunyai aktifitas di luar rumah untuk menghasilkan uang.
e. Pendapatan keluarga dikategorikan sesuai dengan ketetapan sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK). Kurang: pendapatan <Rp. 2.037.000,-, cukup: pendapatan ≥Rp. 2.037.000,-.
f. Besar keluarga diperoleh dengan menanyakan langsung kepada responden. Kategori besar: jika >4 orang, dan kecil: jika ≤ 4 orang.
2. Data status gizi
Status gizi diukur dengan menggunakan indikator BB/TB, kemudian diinterprestasikan berdasarkan standar WHO-Anthro 2005.
a. Gizi gemuk, bila nilai Z- Score > + 2 SD
b. Gizi normal, bila nilai Z- Score terletak antara ≥ - 2 SD sampai + 2 SD c. Gizi kurus, bila nilai Z- Score terletak anrtara < – 2 SD sampai ≥ - 3SD d. Gizi sangat kurus, bila nilai Z- Score < - 3 SD
Status gizi normal bila nilai Z- Score terletak ≥ - 2 SD, dan status gizi kurus bila nilai Z- Score terletak anrtara < – 2 SD.
2. Data pola asuh meliputi :
a. Perhatian/dukungan ibu terhadap anak dalam pemberian makanan, diukur berdasarkan jawaban dari kuesioner yang terdiri dari 13 pertayaan. Skor untuk option a = 2, b = 1 sehingga skor menjadi 26.
b. Praktek kesehatan, diukur berdasarkan jawaban dari kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan. Skor untuk option a = 2, b = 1 sehingga skor menjadi 24.
Hasil kuesioner tersebut di atas dapat dikategorikan menjadi : 1. Baik : apabila nilai yang diperoleh 40-50 (≥ 80%)
2. Kurang : apabila nilai yang diperoleh < 40 (< 80%)
3. Data status kesehatan anak balita diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, dengan kategori sehat dan tidak sehat. Jika pernah sakit, data yang diperlukan adalah: jenis penyakit yang diderita, frekuensi sakit (1 kali, 2 kali, dan ≥3 kali), serta lama sakit (1-3 hari, 4-7 hari, 8-14 hari, dan >14 hari) dalam tiga bulan terakhir.
3.7. Metode Analisis Data
1. Analisis univariat, yaitu dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif berupa distribusi dan persentase dari setiap variabel penelitian dengan menampilkan tabel frekuensi.
2. Analisis bivariat, yaitu dilakukan dua variabel penelitian yang berhubungan untuk mendapatkan informasi tentang hubungan variabel independen variabel dependen bermakna secara statistik, jenis data variabel independen dan dependen adalah katagori maka mengunakan uji statistik Chi-Square.
3. Analisis Multivariat, yaitu analisis lanjutan untuk melihat pengaruh antar variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1.Gambaran Lokasi Penelitian
Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir berada di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan, dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Utara : berbatasan dengan Lingkungan IX Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan
- Selatan : berbatasan dengan Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan
- Timur : berbatasan dengan Lingkungan II Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan
- Barat : berbatasan dengan Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir memiliki luas area sebesar 42 Ha. Jumlah penduduk di Lingkungan I sebanyak 1.593 jiwa dengan jumlah laki-laki sebanyak 772 jiwa dan perempuan sebanyak 821 jiwa. Jumlah kepala keluarga di Lingkungan I yaitu sebanyak 379 KK, dan jumlah balita 95 jiwa. Lingkungan I terdiri dari 125 rumah permanen, 164 rumah semi permanen dan 45 rumah kumuh.
Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir memiliki sarana kesehatan yang terdiri dari 1 praktek dokter, 1 praktek bidan dan 1 posyandu. Sarana perekonomian yang
ada di Lingkungan I terdiri dari 8 kedai sampah dan 2 tempat doorsmeer. Sarana ibadah yang ada di Lingkungan I hanya ada 1 musholla. Sarana pendidikan yang ada di Lingkungan I terdiri dari 1 gedung Sekolah Dasar dan 1 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sarana olah raga yang terdapat di Lingkungan I adalah lapangan bulu tangkis. Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir merupakan lingkungan yang paling dekat jaraknya dengan TPA sampah Kota Medan yaitu TPA Terjun. Jarak antara Lingkungan I dengan TPA Terjun yaitu ± 600 m. Beberapa rumah penduduk yang ada di Lingkungan I bahkan jaraknya ada yang <5 m. Rumah-rumah tersebut termasuk rumah yang non permanen atau bahkan termasuk rumah kumuh.
4.2. Analisis Univariat
Hasil dari analisis univariat adalah memberikan gambaran distribusi frekuensi tentang karakteristik balita (umur dan jenis kelamin), karakteristik responden (umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, besar keluarga, dan pengetahuan ibu), pola asuh (pemberian makanan, dan perawatan kesehatan), status kesehatan dan status gizi balita.
4.2.1. Karakteristik Balita
Karakteristik balita yang dikumpulkan datanya pada penelitian ini adalah umur balita dan jenis kelamin balita yang diperoleh saat dilakukan pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) balita. Balita yang menjadi sampel pada
penelitian ini sebanyak 95 orang. Distribusi balita berdasarkan umur, sebagian besar dalam kategori 37-59 bulan dengan jumlah 29 orang (30,5%) dan paling sedikit pada kategori 25-36 bulan sebesar 9 orang (9,5%). Distribusi umur balita dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Umur Frekuensi % 0-6 bulan 18 18,9 7-12 bulan 23 24,2 13-24 bulan 16 16,8 25-36 bulan 9 9,5 37-59 bulan 29 30,5 Total 95 100,0
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin balita, yang paling banyak berdasarkan status jenis kelamin laki-laki sebesar 37 orang (38,9%), sedangkan pada jenis kelamin perempuan berjumlah 58 orang (61,1%), dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Jenis Kelamin Frekuensi %
Laki-laki 37 38,9
Perempuan 58 61,1
4.2.2. Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang dikumpulkan datanya pada penelitian ini adalah karakteristik responden (umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, besar keluarga, dan pengetahuan ibu) yang diperoleh dari hasil wawancara melalui kuesioner yang sudah disusun sebelumnya. Karakteristik ini merupakan indikator penilaian untuk variabel sosial ekonomi.
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 95 orang. Gambaran karakteristik responden berdasarkan umur ibu, sebagian besar berada dalam kategori 20-35 tahun dengan jumlah 68 orang (71,6%), dan paling sedikit pada kategori 15-19 tahun sebesar 2 orang (2,1%). Distribusi umur responden dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Umur Ibu Frekuensi %
15-19 tahun 2 2,1
20-35 tahun 68 71,6
36-45 tahun 25 26,3
Total 95 100,0
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan ibu, yang paling banyak pada tingkatan pendidikan SMA sebanyak 40 orang (42,1%), paling sedikit pada tingkatan
pendidikan tidak pernah sekolah sebanyak 2 orang (2,1%) dan Perguruan Tinggi (PT) sebanyak 2 orang (2,1%), dapat dilihat lebih jelasnya pada tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pendidikan Ibu Frekuensi %
Tidak pernah sekolah 2 2,1
Tidak tamat SD 6 6,3 SD 15 15,8 SMP 30 31,6 SMA 40 42,1 PT 2 2,1 Total 95 100,0
Karakteristik responden selanjutnya adalah pekerjaan. Dari hasil wawancara yang dilakukan yang paling banyak adalah responden yang tidak bekerja sebanyak 54 orang (56,8%), dan yang bekerja sebanyak 41 orang (43,2%).
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pekerjaan Frekuensi %
Bekerja 41 43,2
Tidak bekerja 54 56,8
Total 95 100
Pekerjaan responden yang paling banyak adalah sebagai pembantu rumah tangga sebanyak 16 orang (16,8%), dan yang paling sedikit adalah PNS sebesar 1 orang (1,1%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Pekerjaan Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Jenis Pekerjaan Frekuensi %
Petani 4 4,2
Karyawan swasta 8 8,4
PNS 1 1,1
Pembantu rumah tangga 16 16,8
Pemulung 12 12,6
Total 41 100,0
Tingkat penghasilan keluarga diperoleh melalui wawancara yang dilakukan kepada responden, dikategorikan berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) Sumatera Utara tahun 2016 yaitu sebesar Rp.≤2,037,000 sebanyak 58 orang (61,1%), dan yang berpenghasilan Rp.>2,037,000 sebanyak 37 orang (38,9%). Data tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.7 sebagai berikut:
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penghasilan Keluarga di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Penghasilan Keluarga (Rp) Frekuensi %
Rp.>2,037,000 37 38,9
Rp.≤2,037,000 58 61,1
Total 95 100,0
Besar keluarga juga sangat berpengaruh dalam penilaian status gizi balita. Gambaran karakteristik responden berdasarkan besar keluarga sesuai dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara responden, dalam kategori besar (jumlah
anggota keluarga >4 orang) sebanyak 56 orang (58,9%), dan kategori kecil (jumlah anggota keluarga ≤ 4 orang) sebanyak 39 orang (41,1%) yang dapat dilihat pada Tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Besar Keluarga di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Besar Keluarga Frekuensi %
Kecil (≤ 4 orang) 39 41,1
Besar (>4 orang) 56 58,9
Total 95 100,0
Tingkat pengetahuan ibu dapat dinilai berdasarkan hasil jawaban responden pada lembar kuesioner, melalui 11 item pertanyaan. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 4.9 sebagai berikut:
Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Item Pertanyaan Pengetahuan Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
No Pertanyaan
Jawaban Bobot Skor
Benar Salah
n % n %
1. Menurut ibu, apakah balita perlu ditimbang
setiap bulan ? 51 53,7 44 46,3
2. Apakah guna KMS itu ? 44 46,3 51 53,7
3. Sampai usia berapakah anak ditimbang
4.
Menurut ibu, apakah susu yang keluar pertama kali perlu diberikan kepada bayi baru lahir?
39 41,1 56 58,9 5. Berapa lama sebaiknya bayi diberi ASI saja
tanpa makanan apapun? 45 47,4 50 52,6
6. Sampai usia berapa bayi sebaiknya diberi
ASI? 45 47,4 50 52,6
7. Termasuk contoh makanan halus adalah 44 46,3 51 53,7 8. Termasuk contoh makanan lembek adalah 41 43,2 54 56,8 9. Usia berapakah bayi boleh diberikan
makanan halus? 42 44,2 53 55,8
10. Usia berapakah bayi boleh diberikan
makanan lembek? 38 40,0 57 60,0
11. Usia berapakah bayi boleh diberikan
makanan orang dewasa? 56 58,9 39 41,1
Tabel 4.9 di atas, dapat diperoleh hasil, responden yang paling banyak menjawab salah yaitu usia bayi boleh diberikan makanan lembek sebesar 57 orang (60,0%), dan susu yang pertama kali perlu diberikan kepada bayi baru lahir sebesar 56 orang (58,9%) sedangkan responden yang paling banyak menjawab benar yaitu usia bayi boleh diberikan makanan orang dewasa sebesar 56 orang (58,9%). Dari hasil jawaban responden, tingkat pengetahuan ibu dalam kategori baik sebesar 41 orang (43,2%), dan kategori kurang sebesar 54 orang (56,8%), dapat dilihat pada tabel 4.10 di bawah ini:
Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Ibu di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pengetahuan Frekuensi %
Baik 41 43,2
Kurang 54 56,8
Total 95 100,0
4.2.3. Pola Asuh
Pola asuh adalah suatu tindakan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada anak balita mencakup pemberian makanan pada balita dan perawatan kesehatan. Perhatian/ dukungan ibu terhadap balita dalam praktek pemberian makanan diperoleh hasilnya melalui 13 item pertanyaan, dan perawatan kesehatan melalui 12 item pertanyaan. Dapat dilihat pada tabel 4.11 sebagai berikut:
Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Item Pertanyaan Pemberian Makanan Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
No Pertanyaan Pemberian Makanan Balita
Jawaban Bobot Skor
Benar Salah
n % n %
1. Bagaimana cara ibu dalam memilih menu
makanan untuk anak? 44 46,3 51 53,7
2. Berapa kali ibu memberi makan anak dalam
satu hari? 46 48,4 49 51,6
3. Bagaimana reaksi anak setiap kali makan? 38 40,0 57 60,0 4. Bagaimana situasi yang diciptakan ibu pada
saat makan? 46 48,4 49 51,6
5. Apakah makanan selalu dihabiskan oleh
Tabel 4.11. (Lanjutan)
No Pertanyaan Pemberian Makanan Balita
Jawaban Bobot Skor
Benar Salah
n % n %
6. Bila anak tidak mau makan, apa yang ibu
lakukan? 36 37,9 59 62,1
7. Apakah ibu selalu memberikan makanan
jajanan pada anak? 36 37,9 59 62,1
8. Adakah makanan pantangan anak? 39 41,1 56 58,9 9. Apakah ibu selalu menyiapkan makanan
untuk anak? 40 42,1 55 57,9
10.
Apakah ibu selalu mencuci tangan dahulu sebelum mengolah atau sebelum memasak bahan makanan?
39 41,1 56 58,9 11. Bagaimana cara ibu mencuci sayuran
sebelum dimasak? 37 38,9 58 61,1
12. Apakah alat makan dan memasak sebelum
dipakai selalu dalam keadaan bersih? 37 38,9 58 61,1 13. Apakah ibu mencuci buah-buahan sebelum
diberikan kepada anak untuk dimakan? 47 49,5 48 50,5 Tabel 4.11 di atas, dapat dilihat responden yang paling banyak menjawab salah yaitu bila anak tidak mau makan, apa yang dilakukan ibu dan apakah ibu selalu memberikan makanan jajanan pada anak sebesar 59 orang (62,1%), sedangkan responden yang paling banyak menjawab benar yaitu ibu mencuci buah-buahan sebelum diberikan kepada anak untuk dimakan sebesar 47 orang (49,5%). Pemberian makanan pada balita dengan kategori baik sebesar 45 orang (47,4%), dan kurang sebesar 50 orang (52,6%), dapat dilihat pada tabel 4.12 di bawah ini:
Tabel 4.12. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pemberian Makanan Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pemberian Makanan Balita Frekuensi %
Baik 45 47,4
Kurang 50 52,6
Total 95 100,0
Perawatan kesehatan diperoleh berdasarkan pertanyaan yang sudah disusun, dapat diperoleh hasilnya responden yang paling banyak menjawab benar yaitu bila anak sakit, apakah ada makanan pantangan sebesar 52 orang (54,7%), sedangkan responden yang paling banyak menjawab salah yaitu ibu selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan atau menyuapi anak sebesar 58 orang (61,1%), lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.13 di bawah ini:
Tabel 4.13. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Item Pertanyaan Perawatan Kesehatan di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
No
Pertanyaan Perawatan Kesehatan
Jawaban Bobot Skor
Benar Salah
n % N %
1. Berapa kali memandikan anak dalam satu
hari? 50 52,6 45 47,4
2. Apakah ibu selalu membersihkan gigi anak
setiap hari? 43 45,3 52 54,7
3. Apakah ibu selalu membersihkan kuku anak
4. Bila anak sedang bermain di luar rumah,
apakah anak selalu memakai alas kaki? 46 48,4 49 51,6 5. Apakah lingkungan sekitar rumah selalu
dibersihkan? 45 47,4 50 52,6
Tabel 4.13. (Lanjutan)
No Pertanyaan Perawatan Kesehatan
Jawaban Bobot Skor
Benar Salah
n % N %
6. Apakah ibu selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan atau menyuapi anak?
37 38,9 58 61,1 7. Jika anak minum susu botol, apakah ibu
selalu membersihkan botolnya setelah anak minum susu?
43 45,3 52 54,7 8. Setelah anak BAB, apakah ibu selalu
mencuci tangan pakai sabun? 38 40,0 57 60,0
9. Pernahkah anak ibu menderita sakit dalam 1
bulan terakhir ini? 47 49,5 48 50,5
10. Apakah ibu langsung membawa anak ibu ke pelayanan kesehatan terdekat jika anak sakit?
39 41,1 56 58,9 11. Apakah ibu mendampingi anak selama
sakit? 43 45,3 52 54,7
12. Jika anak ibu sakit, apakah anak ada
dipantangkan makanan tertentu? 52 54,7 43 45,3
Perawatan kesehatan dengan kategori baik sebesar 45 orang (47,4%), dan kurang sebesar 50 orang (52,6%), dapat dilihat pada tabel 4.14 di bawah ini:
Tabel 4.14. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perawatan Kesehatan di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Perawatan Kesehatan Frekuensi %
Baik 42 44,2
Kurang 53 55,8
Total 95 100,0
Distribusi frekuensi berdasarkan pola asuh (pemberian makanan dan perawatan kesehatan), diperoleh hasil dalam kategori baik sebesar 37 orang (38,9%) dan kategori kurang sebesar 58 orang (61,1%) dapat dilihat pada tabel 4.15 di bawah ini:
Tabel 4.15. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pola Asuh di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pola Asuh Frekuensi %
Baik 37 38,9
Kurang 58 61,1
Total 95 100,0
4.2.4. Status Kesehatan
Distribusi frekuensi berdasarkan status kesehatan menunjukkan bahwa 26 orang (27,4%) kategori sehat dan 69 orang (72,6%) dalam kategori tidak sehat, dapat dilihat pada tabel 4.16 sebagai berikut:
Tabel 4.16. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Kesehatan di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Status Kesehatan Frekuensi %
Sehat 26 27,4
Tidak Sehat 69 72,6
Total 95 100,0
4.2.5. Status Gizi Balita
Status gizi adalah keadaan fisik anak balita yang ditentukan dengan melakukan pengukuran antropometri berdasarkan indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dengan menggunakan standar WHO-Anthro Gambaran status gizi balita berdasarkan BB/TB dapat dilihat pada tabel 4.17 sebagai berikut:
Tabel 4.17. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gizi Balita Berdasarkan BB/TB di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Status Gizi Balita Frekuensi %
Normal 52 54,7
Kurus 43 45,3
Total 95 100,0
Status gizi balita pada tabel 4.17 menunjukkan bahwa status gizi balita dalam keadaan normal sejumlah 52 orang (54,7%) dan status gizi balita dalam keadaan kurus sejumlah 43 orang (45,3%). Gambaran status gizi balita berdasarkan BB/U,
diperoleh hasil dalam kategori baik sebesar 55 orang (57,9%), kurang sebesar 21 orang (22,1%), dan buruk sebesar 19 orang (20,0%), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.18:
Tabel 4.18. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Status Gizi Balita Frekuensi %
Baik 55 57,9
Kurang 21 22,1
Buruk 19 20,0
Total 95 100,0
Gambaran status gizi balita berdasarkan TB/U, diperoleh hasil yang paling banyak dalam kategori normal sebesar 65 orang (68,4%), sedangkan yang paling sedikit dalam kategori tinggi sebesar 2 orang (2,1%), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.19:
Tabel 4.19. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gizi Balita Berdasarkan TB/U di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Status Gizi Balita Frekuensi %
Tinggi 2 2,1
Normal 65 68,4
Pendek 15 15,8
Sangat pendek 13 13,7
4.2.6. Evaluasi Silang Umur Balita dengan Status Gizi Balita
Gambaran evaluasi silang antara umur balita dengan status gizi balita berdasarkan BB/TB dapat dilihat pada tabel 4.20 sebagai berikut:
Tabel 4.20. Tabulasi Silang Hubungan Umur Balita dengan Status Gizi Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Umur Balita
Status Gizi Balita
Total Kurus Normal n % N % n % 0-6 bulan 8 44,4 10 55,6 18 100 7-12 bulan 8 34,8 15 65,2 23 100 13-24 bulan 8 50,0 8 50,0 18 100 25-36 bulan 3 33,3 6 66,7 9 100 37-59 bulan 16 55,2 13 44,8 29 100
Berdasarkan tabel 4.20 menunjukkan bahwa pada tingkat umur 7-12 bulan lebih banyak yang status gizi normal sebesar 15 orang (65,2%), sedangkan yang lebih banyak status gizi kurus pada tingkat umur 37-59 bulan sebesar 16 orang (55,2%).
4.3. Analisis Bivariat
Hasil analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dan independen yang diteliti. Hasil analisis bivariat akan menunjukkan hubungan sosial ekonomi, pola asuh, dan status kesehatan dengan status gizi balita.
4.3.1. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Status Gizi Balita
Hasil analisis bivariat akan menunjukkan hubungan sosial ekonomi (pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, besar keluarga, dan pengetahuan ibu ) dapat dilihat pada tabel 4.21 sebagai berikut:
Tabel 4.21. Tabulasi Silang Hubungan Sosial Ekonomi dengan Status Gizi Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Variabel
Independen
Status gizi balita
Usia 0-59 Bulan Total
p value OR 95%CI Kurus Normal N % N % N % Pendidikan Rendah 39 66,1 20 33,9 59 100 <0,001 5,6 2,837-50,308 Tinggi 4 11,1 32 88,9 36 100 Pekerjaan Tidak bekerja 34 63 20 37 54 100 <0,001 6 2,402-15,213 Bekerja 9 22 32 78 41 100 Penghasilan Rp.≤2,037,000 39 67,2 19 32,8 58 100 <0,001 6,9 2,237-54,761 Rp.>2,037,000 4 10,8 33 89,2 37 100 Besar Keluarga
Besar jika ≥ 4 orang 32 57,1 24 42,9 56 100
0,010 3,4 1,414-8,146
Kecil jika < 4 orang 11 28,2 28 71,8 39 100
Pengetahuan
Kurang
Variabel
Independen
Status gizi balita
Usia 0-59 Bulan Total
p value OR 95%CI
Kurus Normal
N % N % N %
Baik
5 12,2 36 87,8 41 100
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 59 orang ibu balita yang berpendidikan rendah terdapat 39 (66,1%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 20 (33,9%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 36 orang ibu balita yang berpendidikan tinggi terdapat 4 orang (11,1%) yang memiliki status gizi kurus dan 32 orang (88,9%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= <0,001 artinya ada hubungan pendidikan dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR= 5,6 dengan 95% CI 2,837-50,308) artinya ibu balita yang berpendidikan rendah mempunyai peluang berisiko 5,6 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang berpendidikan tinggi.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 54 orang ibu balita yang tidak bekerja terdapat 34 orang (63%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 20 orang (37%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 41 orang ibu balita yang bekerja terdapat 9 orang (22%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 32 orang (78%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= <0,001 artinya ada hubungan pekerjaan dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 6 dengan 95% CI 2,402-15,231) artinya
ibu balita yang tidak bekerja mempunyai peluang berisiko 6 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang bekerja.
Berdasarkan hasil analisis tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 58 orang ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.≤2.037.000 terdapat 39 orang (67,2%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 19 orang (32,8%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 37 orang ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.>2.037.000 terdapat 4 orang (10,8%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 33 (89,2%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= <0,001 artinya ada hubungan penghasilan dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 6,9 dengan 95%CI 2,237-54,761) artinya ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.≤2.037.000 mempunyai peluang berisiko 6,9 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurang dibanding dengan ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.>2.037.000.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 56 orang ibu balita yang memiliki besar keluarga ≥4 orang terdapat 32 (57,1%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 24 (42,9%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 39 orang ibu balita yang memiliki besar keluarga < 4 orang terdapat 11 orang (28,2%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 28 (71,8%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,010 artinya ada hubungan besar keluarga dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR= 3,4 dengan 95%CI 1,414-8,146) artinya balita yang memiliki besar
keluarga ≥4 orang mempunyai peluang berisiko 3,4 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan balita yang memiliki besar keluarga <4 orang.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 54 orang ibu balita yang memiliki pengetahuan kurang terdapat 38 orang (70,4%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 16 orang (29,6%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 41 orang ibu balita yang memiliki pengetahuan baik terdapat 5 orang (12,2%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 36 (87,8%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,010 artinya ada hubungan pengetahuan dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 7,1 dengan 95% CI 4,676-51,516) artinya ibu balita yang berpengetahuan kurang mempunyai peluang berisiko 7,1 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang berpengetahuan baik.
4.3.2. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita
Hasil analisis bivariat akan menunjukkan hubungan pola asuh (pemberian makanan dan perawatan kesehatan) dengan status gizi balita dapat dilihat pada tabel 4.22 di bawah ini:
Tabel 4.22. Tabulasi Silang Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Pola Asuh
Status Gizi Balita
Total p value OR 95%CI Kurus Normal n % N % n % Kurang 34 58,6 24 41,4 58 100 0,002 4,4 1,765-11,003 Baik 9 24,3 28 75,7 37 100
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.22 menunjukkan bahwa dari 58 orang balita dengan pola asuh kurang terdapat 34 orang (58,6%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 24 orang (41,4%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 37 orang balita dengan pola asuh baik terdapat 9 orang (24,3%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 28 orang (75,7%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,002 artinya ada hubungan pola asuh dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR= 4,4 dengan 95% CI 1,765-11,003) artinya balita yang memiliki pola asuh kurang mempunyai peluang berisiko 4,4 kali lebih besar mengalami status gizi kurus dibanding dengan balita yang memiliki pola asuh baik.
4.3.3. Hubungan Status Kesehatan dengan Status Gizi Balita
Hasil analisis bivariat akan menunjukkan hubungan status kesehatan dengan status gizi balita yang dapat dilihat pada tabel 4.23 di bawah ini:
Tabel 4.23. Tabulasi Silang Hubungan Status Kesehatan dengan Status Gizi Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Status Kesehatan
Status Gizi Balita
Total p value OR 95%CI Kurus Normal n % N % n % Sehat 39 56,5 30 43,5 69 100 0,001 3,1 2,226-22,965 Tidak sehat 4 15,4 22 84,6 26 100
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 4.23 menunjukkan bahwa dari 69 orang balita yang tidak sehat terdapat 39 (56,5%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 30 (43,5%) balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 26 orang balita yang sehat terdapat 4 orang (15,4%) balita yang memiliki status gizi kurus dan 22 (84,6%) yang memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,001 artinya ada hubungan status kesehatan dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR= 3,1 dengan 95% CI 2,226-22,965) artinya balita yang tidak sehat mempunyai peluang berisiko 3,1 kali lebih besar mengalami status gizi kurus dibanding dengan balita yang sehat.
4.4.Analisis Multivariat
Berdasarkan hasil uji chi-square ada 7 (tujuh) variabel yaitu pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, besar keluarga, pengetahuan ibu, pola asuh, dan status kesehatan memiliki nilai p value < 0,25 sehingga ke tujuh variabel dapat
dilanjutkan ke analisis multivariat. Analisis multivariat merupakan analisis untuk mengetahui hubungan variabel independen yaitu sosial ekonomi (pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, besar keluarga, dan pengetahuan ibu), pola asuh, dan status kesehatan dengan variabel terikat status gizi balita, serta mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan.
Dari uji multivariat dengan menggunakan regresi logistik ganda diperoleh bahwa variabel independen yaitu pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, pengetahuan ibu, pola asuh, dan status kesehatan berhubungan dengan variabel dependen yaitu status gizi balita. Hasil uji dapat dilihat pada Tabel 4.24 berikut:
Tabel 4.24. Hubungan Status Ekonomi, Pola Asuh, dan Status Kesehatan dengan Status Gizi Balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016
Variabel independen B p value OR
95% CI for Exp (B) Lower Upper Pendidikan ibu 1,490 0,024 5,778 1,574 32,788 Pekerjaan ibu 1,303 0,018 4,187 1,767 48,381 Penghasilan keluarga 1,768 0,010 6,312 2,461 62,141 Pengetahuan ibu 2,827 0,005 8,220 2,084 34,414 Pola asuh 2,195 0,024 3,414 1,522 31,496 Status kesehatan 1,582 0,003 2,286 1,010 28,055 Constant 2,102 0,001 0,000
Hasil analisis uji regresi logistik berganda ini menunjukkan bahwa pendidikan dengan p value 0,024, pekerjaan ibu dengan p value 0,018, penghasilan keluarga dengan p value 0,010, pengetahuan ibu dengan p value 0,005, pola asuh dengan p
value 0,024, dan status kesehatan dengan p value 0,003 berhubungan dengan status gizi balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016. Menurut Hastono (2007), untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel terhadap variabel dependen dilihat dari OR.
Berdasarkan hasil regresi logistik berganda tersebut juga menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan berhubungan terhadap status gizi balita adalah variabel pengetahuan (p= 0,005;OR=8,2 95% CI 2,084-34,414) artinya ibu balita yang berpengetahuan kurang mempunyai peluang berisiko 8,2 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang berpengetahuan baik. Hal ini menunjukkan variabel tersebut memiliki hubungan yang paling signifikan terhadap status gizi balita di Daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Hubungan Pendidikan dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pendidikan dengan status gizi balita nilai p= <0,001. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 5,6 dengan 95% CI 2,837-50,308) artinya ibu balita yang berpendidikan yang rendah mempunyai peluang berisiko 5,6 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang berpendidikan tinggi. Hal ini didukung oleh penelitian Elfrida (2015) ada hubungan pendidikan ibu dengan status gizi pada balita BGM {p-value= 0,005}. Anak dengan ibu berpendidikan rendah memiliki angka mortalitas yang lebih tinggi dari pada anak dengan ibu berpendidikan tinggi. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin diperoleh dari gagasan tersebut (Elfrida, 2015).
Pendidikan tentang gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan status gizi yang baik. Tingkat pendidikan ibu banyak menentukan sikap dan tindak tanduknya dalam menghadapi berbagai masalah. Seorang ibu mempunyai peran yang penting dalam kesehatan dan pertumbuhan anak. Hal ini dapat ditunjukkan oleh kenyataan antara lain anak-anak dari ibu yang memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi
akan mendapatkan kesempatan hidup serta tumbuh lebih baik dan mudah menerima wawasan lebih luas mengenai gizi ((Miftakhul Jannah dan Siti Maesaroh, 2014).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 59 orang ibu balita yang berpendidikan rendah terdapat 66,1% balita yang memiliki status gizi kurus dan 33,9% balita yang memiliki status gizi baik. Sedangkan dari 36 orang ibu balita yang berpendidikan tinggi terdapat 11,1% yang memiliki status gizi kurus dan 88,9% yang memiliki status gizi normal. Hal ini berarti bahwa dengan pendidikan tinggi maka pengetahuan ibu tentang nutrisi untuk balita cenderung baik dan akan lebih muda menerima pesan atau informasi tentang kebutuhan gizi balita. Oleh karena pendidikan ibu sangat berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita.
Hasil penelitian Fardhiasih Dwi Astuti (2014) menunjukan adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan status gizi balita. Pengetahuan yang baik akan mempengaruhi pola konsumsi makanan sehingga akan terjadi status gizi yang baik. Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan formal maupun informal. Pendidikan formal dari ibu rumah tangga sering kali mempunyai manfaat yang positif dengan pengembangan pola konsumsi makanan dalam keluarga. Beberapa studi menunjukkan bahwa jika pendidikan dari ibu meningkat maka pengetahuan nutrisi dan praktek nutrisi bertambah baik. Ibu yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih makanan yang lebih baik dalam kualitas dan kuantitas dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi gizi dan kesehatan anak. Orang tua yang
memiliki pendidikan tinggi akan lebih mengerti tentang pemilihan pengolahan pangan serta pemberian makan yang sehat dan bergizi bagi keluarga terutama untuk anaknya. Didukung dengan hasil penelitian Mekides Wolde (2015) yang menunjukkan bahwa ada hubungan secara signifikan tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita (OR = 0,3; 95% CI, 0,2-0,8).
Menurut asumsi peneliti bahwa dengan pendidikan ibu yang mayoritas rendah maka akan mempengaruhi status gizi balita menjadi kurang karena banyak ibu balita yang tidak mengetahui atau tidak mengerti bagaimana kebutuhan gizi balita, rendahnya pendidikan ibu mempengaruhi kurangnya pengetahuan ibu balita dan ini juga dapat terjadi karena kurangnya informasi yang diperoleh ibu sehingga pemahaman ibu tentang status gizi balita masih kuang baik. Menurut Rikesdas (2013) semakin tinggi pendidikan orang semakin rendah prevalansi gizi buruk pada balita.
5.2. Hubungan Pekerjaan dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pekerjaan ibu dengan status gizi balita, dengan nilai p= <0,001. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 6 dengan 95% CI 2,402-15,231) artinya ibu balita yang tidak bekerja mempunyai peluang berisiko 6 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurang dibanding
dengan ibu balita yang bekerja. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Dian Handini (2013) harga p hitung adalah 0,009 untuk distribusi sampel berdasarkan BB/TB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita. Pemberian makan yang kurang pada anak dapat menyebabkan kurang gizi, selanjutnya berpengaruh buruk terhadap tumbuh kembang anak dan perkembangan otak. Salah satu dampak negatif yang dikhawatirkan timbul sebagai akibat dari keikutsertaan ibu-ibu pada kegiatan di luar rumah adalah keterlantaran anak terutama anak balita, padahal masa depan kesehatan anak dipengaruhi oleh pengasuhan dan keadaan gizi sejak usia bayi sampai anak berusia 5 tahun merupakan usia penting. Karena pada umur tersebut anak belum dapat melayani kebutuhan sendiri dan bergantung pada pengasuhnya. Oleh karena itu alangkah baiknya balita yang ditinggalkan dapat dipercayakan kepada pengasuh atau anggota keluarga yang lain untuk dirawat dan diberi konsumsi makanan yang baik.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rolavensi (2013) yang menyatakan bahwa ibu balita yang tidak bekerja berpeluang baik untuk berkunjung ke posyandu dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Padahal beberapa indikator perilaku sadar gizi sangat erat kaitannya dengan kunjungan ibu balita ke posyandu. Seseorang yang mempunyai pekerjaan dengan waktu yang cukup padat akan mempengaruhi ketidak hadiran dalam pelaksanaan penimbangan balita posyandu. Pekerjaan ibu balita merupakan salah satu faktor penghambat ibu balita memanfaatkan penimbangan balita di posyandu. Pada umumnya orang tua tidak mempunyai waktu luang,
sehingga semakin tinggi aktivitas pekerjaan orang tua semakin sulit datang ke posyandu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 orang ibu balita yang tidak bekerja terdapat 63% balita yang memiliki status gizi kurus dan 37% balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 41 orang ibu balita yang bekerja terdapat 22% balita yang memiliki status gizi kurus dan 78% yang memiliki status gizi normal. Hal ini berarti bahwa dengan pekerjaan ibu yang padat maka kesempatan ibu untuk membawa balita ke tempat pelayanan kesehatan seperti posyandu sangat kurang serta waktu ibu untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan balita juga berkurang sehingga masih banyak balita yang mengalami status gizi kurang. Ibu yang bekerja tidak dapat memberikan perhatian kepada anak balitanya apalagi mengurusnya sehingga ibu yang bekerja waktu untuk merawat anak menjadi berkurang (Joniansyah, 2011).
Bagi ibu yang bekerja, waktu yang diberikan kepada anak balitanya akan berkurang daripada ibu yang tidak bekerja. Ibu yang bekerja di luar rumah setiap hari umumnya tidak dapat mengawasi secara langsung pola makan sehari-hari anak balitanya. Makanan anak balita diserahkan kepada pengasuh anak, pembantu rumah tangga, keluarga ataupun tempat penitipan anak (Syukriawati, 2011).
5.3. Hubungan Penghasilan dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan penghasilan keluarga dengan status gizi balita nilai p= <0,001. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 6,9 dengan 95% CI 2,237-54,761) artinya ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.≤2,037,000 mempunyai peluang berisiko 6,9 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.>2,037,000. Hal ini sejalan dengan penelitian (Yuniman, 2013) yang menunjukkan bahwa ada hubungan sosial ekonomi dengan status gizi balita (p=0,012). Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 3,3 dengan 95% CI 0,714-2,110) artinya bahwa ibu balita yang memiliki penghasilan rendah mempunyai peluang berisiko 3,3 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurang dibanding dengan ibu balita yang memiliki penghasilan tinggi.
Status gizi anak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kebutuhan gizi yang baik dan perhatian orangtua terhadap anak. Dalam penelitian Irwan Dwi Febrianto (2012) mengemukakan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat penghasilan orangtua dengan status gizi anak. Besarnya sumbangan tingkat penghasilan orangtua adalah sebesar 42,105% dan nilai korelasi sebesar 0,649. Semakin tinggi tingkat penghasilan orangtua, maka semakin baik pula status gizi anak, sebaliknya semakin rendah tingkat penghasilan orangtua, semakin kurang baik pula status gizi anak. Hal ini didukung dengan penelitian Indrapal Ishwarji
Meshram (2015) adanya hubungan secara signifikan (P <0,01) tingkat pendapatan dengan status gizi balita.
Orangtua yang memiliki pendapatan yang memadai akan menunjang status gizi anak, karena orangtua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun skunder. Selain hal tersebut, orangtua yang memiliki tingkat penghasilan yang mapan dari segi pengahasilan akan memperhatikan kualitas asupan gizi anaknya, setiap kali memberi makanan akan mempertimbangkan yang terbaik bagi anaknya. Orangtua yang memiliki penghasilan yang rendah biasanya memberi asupan makanan seadanya tanpa mempertimbangkan kualitas gizi. Oleh sebab itu, untuk dapat melangsungkan hidupnya, manusia mutlak memerlakukan zat gizi yang baik.
Pada umumnya bila pendapatan keluarga meningkat maka kecukupan gizi keluarga akan meningkat. Namun, pendapatan tinggi tidak menjamin untuk mendapatkan gizi yang cukup, jadi kemampuan membeli makanan tidak menjamin untuk dapat memilih makanan yang baik. Hasil di atas sesuai dengan penelitian dari Andi Risma Marelda (2014) mengatakan tingginya pendapatan jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup bisa menyebabkan seseorang menjadi konsumtif dikarenakan pemilihan makanan bukan didasarkan dari aspek gizi melainkan dari aspek selera makan. Hal ini membuat sebagian besar orang yang berpenghasilan tinggi dan memiliki aktifitas yang padat membuat mereka tidak sempat menyiapkan makanan sendiri sehingga mereka sering membeli makanan yang siap saji saja sehingga status gizi anak tidak diperhatikan. Sedangkan balita dengan status gizi
kategori gemuk dengan tingkat pendapatan keluarga rendah 6,3%. Hal ini bisa terjadi karena faktor keturunan karena salah satu orang tua nya memiliki riwayat obesitas dan diikuti gaya hidup yang tidak sehat. Pada keluarga yang pendapatannya rendah, tentu rendah pula jumlah uang yang dibelanjakan untuk makanan itu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 58 orang ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.≤2,037,000 terdapat 67,2% balita yang memiliki status gizi kurus dan 32,8% balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 37 orang ibu balita yang memiliki penghasilan Rp.>2,037,000 terdapat 10,8% balita yang memiliki status gizi kurus dan 89,2% yang memiliki status gizi normal.
Pendapatan dianggap sebagai salah satu determinan utama dalam diet dan status gizi. Ada kecenderungan yang relevan terhadap hubungan pendapatan dan kecukupan gizi keluarga. Hukum ekonomi (hukum Engel) yang disebutkan bahwa mereka yang berpendapatan sangat rendah akan selalu membeli lebih banyak makanan sumber karbohidrat, tetapi jika pendapatannya naik maka makanan sumber karbohidrat yang dibeli akan menurun diganti dengan makanan sumber hewani dan produk sayuran. Besarnya pendapatan yang diperoleh setiap keluarga tergantung dari pekerjaan mereka sehari-hari. Pendapatan dalam satu keluarga akan mempengaruhi aktivitas keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehingga akan menentukan kesejahteraan keluarga termasuk dalam perilaku gizi seimbang (Yuliana, 2010).
Berdasarkan wawancara dengan responden, dapat disimpulkan bahwa responden dengan pendapatan keluarga yang rendah hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari saja serta lebih memilih makanan yang murah dengan variasi makanan yang lebih sedikit. Ini menandakan bahwa pendapatan keluarga berpengaruh pada status gizi balita karena menentukan kuantitas dan kualitas makanan. Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga maka akan semakin tinggi pemenuhan makanan bergizi serta lebih bervariasi seperti sayuran, buah-buahan, dan sebaiknya semakin rendah tingkat pendapatan keluarga maka akan semakin sedikit pemenuhan dan variasi makanan.
5.4. Hubungan Besar Keluarga dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan besar keluarga dengan status gizi balita, nilai p= 0,010. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 3,4 dengan 95% CI 1,414-8,146) artinya balita yang memiliki besar keluarga ≥4 orang mempunyai peluang berisiko 3,4 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurang dibanding dengan balita yang memiliki besar keluarga <4 orang. Hal ini didukung oleh penelitian Sutrisno (2001) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara besar keluarga dengan perilaku keluarga sadar gizi. Dan juga penelitian Mekides Wolde (2015) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara besar keluarga dengan status gizi balita (OR = 3,3; 95% CI, 1,4-7,9), serta penelitian Q.D. Badake (2014) ada hubungan yang signifikan antara ukuran rumah tangga dan status gizi (P = 0,047).
Hasil penelitian dari 56 orang ibu balita yang memiliki besar keluarga ≥4 orang terdapat 57,1% balita yang memiliki status gizi kurus dan 42,9% balita yang
memiliki status gizi normal, 39 orang ibu balita yang memiliki besar keluarga <4 orang terdapat 28,2% balita yang memiliki status gizi kurus dan 71,8% yang memiliki status gizi normal. Hal ini berarti bahwa jika anggota keluarga banyak seperti ≥4 orang maka kebutuhan keluarga akan terbatas jika sosial ekonominya rendah, dan hal ini sangat mempengaruhi status gizi balita dalam keluarga tidak terpenuhi sehingga masih banyak balita yang masih mengalami status gizi kurus.
Apabila besar keluarga semakin banyak, maka kebutuhan pangannya akan semakin banyak pula. Besar keluarga juga akan mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang tersedia dalam keluarga. Pada taraf ekonomi yang sama, pemenuhan kebutuhan makanan yang menjadi lebih mudah pada keluarga yang memiliki jumlah anggota yang lebih sedikit. Besar keluarga yang besar dibarengi dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga tersebut menderita kurang gizi umumnya pada keluarga yang mempunyai besar keluarga 7-8 orang (Suhardjo, 2010).
Hasil dari penelitian Moh. Firman Hamdani (2014) ada hubungan jumlah anak dalam keluarga dengan status gizi pada balita dengan nilai signifikan (p) = 0,000 < α (0,05), odds ratio/Exp(B) dengan nilai 3,992. Keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai lagi dengan kebutuhan anggota keluarga secara proporsional. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga dan juga mempengaruhi konsumsi zat gizi dalam suatu
keluarga. Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan banyak masalah. Kalau pendapatan keluarga hanya pas-pasan sedangkan anak banyak maka pemerataan dan kecukupan makanan di dalam keluarga kurang dapat dijamin ((Suhardjo, 2010).
Proporsi pangan untuk keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga 5 sampai 6 orang mampu mencukupi pangan keluarga yang jumlah anggota keluarganya kurang dari 4 orang, besar keluarga mempunyai pengaruh pada konsumsi pangan, kelaparan pada keluarga besar lebih mungkin terjadi dibandingkan pada keluarga kecil. Berdasarkan wawancara dengan responden, jumlah anggota keluarga di atas rata-rata memiliki balita gizi kurang lebih tinggi. Ini dikarenakan tingkat penghasilan yang rendah sehingga pemenuhan makanan semakin sedikit. Banyak responden mengatakan bahwa pendapatan yang rendah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Semakin banyak anggota keluarga, tentunya akan semakin bervariasi aktivitas, pekerjaan, dan seleranya, sehingga jumlah anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan.
5.5. Hubungan Pengetahuan dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan status gizi balita, dengan nilai p= <0,010. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 7,1 dengan 95% CI 4,676-51,516) artinya ibu balita yang berpengetahuan kurang
mempunyai peluang berisiko 7,1 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurang dibanding dengan ibu balita yang berpengetahuan baik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Husnul Khotimah (2011) bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan terhadap status gizi balita. Perhitungan besarnya peluang diperoleh nilai
Odd Ratio ( OR ) sebesar 9,8. Hasil perhitungan OR menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan di bawah rata-rata atau ≤14,5 lebih besar memiliki kemungkinan balita gizi buruk sebesar 9,8 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik atau di atas rata-rata atau >14,5. Tingkat pengetahuan menentukan perilaku konsumsi pangan, salah satunya melalui pendidikan gizi sehingga akan memperbaiki kebiasaan konsumsi pangan dirinya dan keluarganya (Suhardjo, 2010).
Berdasarkan hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan berhubungan terhadap status gizi balita adalah variabel pengetahuan p= 0,005;OR=8,2 95% CI 2,084-34,414) artinya ibu balita yang berpengetahuan kurang mempunyai peluang berisiko 8,2 kali lebih besar balita mengalami status gizi kurus dibanding dengan ibu balita yang berpengetahuan baik. Seseorang yang mempunyai pendidikan rendah belum tentu kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi dibandingkan dengan orang lain yang berpendidikan lebih tinggi. Karena sekalipun berpendidikan rendah kalau orang tersebut rajin mendengarkan informasi tentang gizi bukan mustahil pengetahuan gizinya akan lebih baik. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 orang ibu balita yang memiliki pengetahuan kurang terdapat 70,4% balita yang memiliki status gizi kurus dan 29,6% balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 41 orang ibu balita yang memiliki pengetahuan baik terdapat 12,2% balita yang memiliki status gizi kurus dan 87,8% yang memiliki status gizi normal. Pengetahuan ibu balita yang kurang baik ini dapat terjadi karena kurangnya informasi yang mereka peroleh dari tenaga kesehatan sehingga banyak diantara mereka yang memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang status gizi pada balita. Kurangya informasi ini dapat terjadi karena banyak ibu balita yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu mereka untuk berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu sangat kurang sehingga banyak diantara mereka yang tidak mengetahui informasi tentang kebutuhan gizi pada balita. Oleh karena itu kemudahan dalam memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan baru. Sumber informasi yang baik biasanya berasal dari tenaga kesehatan hal ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan berperan penting dalam memberikan informasi tentang bahaya status gizi balita.
Tingkat pengetahuan ibu bermakna dengan sikap positif terhadap perencanaan dan persiapan makan. Semakin tinggi pengetahuan ibu, maka semakin positif sikap ibu terhadap gizi makanan. Kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebab penting gangguan gizi. Faktor yang tidak kalah penting penyebab timbulnya masalah gizi adalah
kurangnya pengetahuan gizi masyarakat khususnya pada ibu yang sebagian besar pengasuh anak (Suhardjo, 2010).
5.6. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita
Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,002 artinya ada hubungan pola asuh dengan status gizi balita. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 4,4 dengan 95% CI 1,765-11,003) artinya balita yang memiliki pola asuh kurang mempunyai peluang berisiko 4,4 kali lebih besar mengalami status gizi kurus dibanding dengan balita yang memiliki pola asuh baik. Salah satu faktor yang berperan penting dalam status gizi balita adalah pola asuh (Mustapa, Sirajuddin, Salam, 2013).
Hasil uji statistik penelitian Siti Munawaroh (2015) diperoleh nilai pvalue
0,012 maka dapat disimpulkan ada hubungan pola asuh dengan status gizi balita. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Husin (2010) yaitu ada hubungan antara pola asuh ibu terhadap status gizi anak balita dalam hal praktek pemberian makanan, kebersihan lingkungan dan sanitasi. Hasil penelitian juga diperkuat dengan penelitian Sakti (2013) bahwa ada hubungan yang signifikan pada pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. Masa balita merupakan masa emas dimana bisa menjadi penentu masa depan. Masa balita merupakan periode perkembangan otak dan kecerdasan yang pesat.
Sebagai orang tua pengasuh harus mampu menjaga agar masa balita ini tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan balita menjadi terhambat pertumbuhan dan
perkembangannya (Wake, et al, 2007; Attorp, et al 2014). Kadang ibu kurang menyadari bahwa anak yang tidak dapat bertambah tinggi badannya perlu diwaspadai sebagai gangguan pertumbuhan dan anak yang pendek menggambarkan status gizi yang jelek. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya dari asupan nutrisi. Kasih sayang, perhatian dan kenyamanan juga membuat anak akan bisa tumbuh dengan baik. Anak sakit membutuhkan kasih sayang yang lebih. Jika ibunya acuh tak acuh maka anak merasa tidak diperhatikan sehingga akan merasa tidak aman. Bila ibu bekerja di luar rumah dan anak diasuh oleh orang lain hubungan dengan ibu menjadi kurang erat karena ibu tidak bisa mencurahkan waktu dengan sepenuhnya (Ventura & Birch, 2008; Attorp, et al 2014).
Hasil jawaban dari kuesioner pola asuh didapatkan sebagian besar ibu memberikan urusan makanan ke neneknya, terutama pada ibu yang bekerja di luar rumah. Tindakan ini seharusnya dihindari. Ibu sebagai pengatur rumah tangga terutama dalam menyediakan makanan anaknya seharusnya tetap meluangkan waktu walau sibuk. Ibu yang memahami makanan kesukaan anak dan kebiasaan makan anaknya. Jika diberikan ke orang lain, maka pola dan jenis makanan tidak akan bisa dipastikan mengandung unsur empat sehat lima sempurna. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulystyorini, (2010) bahwa pola asuh anak merupakan praktek pengasuhan yang diterapkan kepada anak balita dan pemeliharaan kesehatan. Pada waktu anak belum dapat dilepas sendiri maka segala kebutuhan anak tergantung kepada orang tuanya. Tahun pertama kehidupan anak merupakan dasar untuk menentukan
kebiasaan di tahun berikutnya termasuk kebiasaan makan. Oleh karena itu orang tua harus membiasakan pemberian makanan yang baik dan benar (Galloway, et al, 2005; Wake, et al, 2010).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 58 orang balita dengan pola asuh kurang terdapat 58,6% balita yang memiliki status gizi kurus dan 41,4% balita yang memiliki status gizi normal. Sedangkan dari 37 orang balita dengan pola asuh baik terdapat 24,3% balita yang memiliki status gizi kurus dan 75,7% yang memiliki status gizi normal. Hal ini berarti bahwa jika balita tidak mendapatkan pola asuh yang kurang sejak bayi maka balita cenderung mengalami sakit dan kurang mendapatkan status gizi yang normal. Demikian juga balita yang kurang mendapatkan asupan makanan yang baik kemungkinan balita tersebut mengalami status gizi yang kurus karena tidak terpenuhi kebutuhan gizi sehingga balita lebih mudah sakit akibat status gizi yang kurus. Jika pola makan balita baik maka balita tersebut cenderung mengalami status gizi normal, akan tetapi sebaliknya jika pola makan balita kurang maka balita tersebut cenderung mengalami gangguan pertumbuhan atau status gizi kurus. Oleh karena itu pola pemberian makanan sangat berpengaruh terhadap status gizi balita, jika balita mendapatkan asupan makanan yang baik maka kemungkinan balita juga akan memperoleh status gizi yang baik. Di samping itu, banyaknya beredar jenis makanan jajanan di lingkungan masyarakat, membuat anak-anak tidak selera makan dan lebih memilih makanan jajanan tersebut.
Hasil penelitian (Murni, 2013) menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola pemberian makanan secara signifikan dengan status gizi balita (p=0,031). Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 4,1 dengan 95% CI 2,111-8,117). Makin bertambah usia anak makin bertambah pula kebutuhan makanannya, secara kuantitas maupun kualitas. Untuk memenuhi kebutuhannya tidak cukup dari susu saja. Saat berumur 1-2 tahun perlu diperkenalkan pola makanan dewasa secara bertahap, di samping itu anak usia 1-2 tahun sudah menjalani masa penyapihan. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa ibu yang memberikan pola asuh baik dan status gizi kurus ada sebanyak 90,6%, sedangkan ibu yang mempunyai pola asuh kurang baik, ada 47,9% balita kurus. Hasil uji statistik diperoleh nilai pvalue 0,012 maka dapat disimpulkan ada hubungan pola asuh dengan status gizi balita.
5.7. Hubungan Status Kesehatan dengan Status Gizi Balita
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan status kesehatan dengan status gizi balita, nilai p= 0,001. Dari hasil analisis diperoleh juga nilai (OR = 3,1 dengan 95% CI 2,226-22,965) artinya balita yang tidak sehat mempunyai peluang berisiko 3,1 kali lebih besar mengalami status gizi kurus dibanding dengan balita yang sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 69 orang balita yang tidak sehat terdapat 56,5% balita yang memiliki status gizi kurus dan 43,5% balita yang