• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RENCANA STRATEGIS INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

3.1 ARAHAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA DAN ARAHAN

PENATAAN RUANG

3.1.1 Arahan Pembangunan Bidang Cipta Karya

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 menyebutkan bahwa infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dengan mendorong partisipasi masyarakat. Dalam rangka pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal dan lingkungan yang layak sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28H, pemerintah memfasilitasi penyediaan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah serta memberikan dukungan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman, seperti air minum, air limbah, persampahan dan drainase. Selanjutnya dalam RPJMN 2015-2019 dituangkan dalam Agenda Pembangunan Nasional terdapat 9 Agenda Prioritas (Nawacita) dan penjabaran tentang infrastruktur perumahan dan permukiman dijelaskan dalam

BAB

3

ARAHAN

KEBIJAKAN

DAN

RENCANA

STRATEGIS

INFRASTRUKTUR

BIDANG

(2)

prioritas ke-6 yaitu Meningkatkan Produktifitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional.

Dokumen RPJMN juga menetapkan sasaran pembangunan kawasan permukiman pada periode 2015-2019, yaitu:

1. Tercapainya Pengentasan Permukiman Kumuh Perkotaan Menjadi 0 Persen Melalui Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Seluas 38.431 Hektar dan Peningkatan Keswadayaan Masyarakat di 7.683 Kelurahan. 2. Tercapainya 100 persen pelayanan air minum bagi seluruh penduduk

Indonesia yang dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu optimalisasi dan pembangunan baru (supply side), peningkatan efisiensi layanan air minum (demand side), dan penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment).

3. Optimalisasi penyediaan layanan air minum dilakukan melalui (i) Fasilitasi SPAM PDAM yaitu bantuan program PDAM menuju 100% PDAM Sehat dan pengembangan jaringan SPAM MBR di 5.700 kawasan dan (ii) fasilitasi SPAM non-PDAM yaitu bantuan program non-PDAM menuju 100% pengelola non-PDAM sehat dan pengembangan jaringan SPAM MBR di 1.400 kawasan. Sedangkan pembangunan baru dilakukan melalui (i) pembangunan SPAM kawasan khusus yaitu SPAM kawasan kumuh perkotaan untuk 661.600 sambungan rumah (SR), SPAM kawasan nelayan untuk 66.200 SR, dan SPAM rawan air untuk 1.705.920 SR; (ii) pembangunan SPAM berbasis masyarakat untuk 9.665.920 SR; (iii) pembangunan SPAM perkotaan yaitu SPAM IKK untuk 9.991.200 SR dan SPAM Ibukota Pemekaran dan Perluasan Perkotaan untuk 4.268.800 SR; (iv) pembangunan SPAM Regional untuk 1.320.000 SR di 31 kawasan.

(3)

komersial dan fasilitas umum sekitar 10 persen setiap tahunnya.

5. Penciptaan lingkungan yang mendukung dilakukan melalui (i) penyusunan dokumen perencanaan air minum sebagai rujukan pembangunan air minum di seluruh kabupaten/kota yang mencakup Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM), rencana strategis penyediaan air minum daerah (Jakstrada) dan rencana tahunan penyediaan air minum; (ii) peningkatan pendataan air minum sebagai rujukan perencanaan dan penganggaran air minum di seluruh kabupaten/kota; (iii) fasilitasi pengembangan peraturan di daerah yang menjamin penyediaan layanan air minum di seluruh kabupaten/kota.

6. Meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak (air limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) menjadi 100 persen pada tingkat kebutuhan dasar yaitu (i) untuk sarana prasarana pengelolaan air limbah domestik dengan pembangunan dan peningkatan infrastruktur air limbah sistem terpusat skala kota, kawasan, dan komunal di 438 kota/kab (melayani 34 juta jiwa), serta peningkatan kualitas pengelolaan air limbah sistem setempat melalui peningkatan kualitas pengelolaan lumpur tinja perkotaan dan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di 409 kota/kab; (ii) untuk sarana prasarana pengelolaan persampahan dengan pembangunan TPA sanitary landfill di 341 kota/kab, penyediaan fasilitas 3R komunal di 334 kota/kab, fasilitas 3R terpusat di 112 kota/kab; (iii) untuk sarana prasarana drainase permukiman dalam pengurangan genangan seluas 22.500 Ha di kawasan permukiman termasuk 4.500 Ha di kawasan kumuh; serta (iv) kegiatan pembinaan, fasilitasi, pengawasan dan kampanye serta advokasi di 507 kota/kab seluruh Indonesia.

(4)

Dalam Renstra Ditjen Cipta karya 2016-2019 terdapat kebijakan dan strategi berupa program 100-0-100 seperti gambar 2.1 berikut

Gambar 3.1

Arahan Cipta Karya 2015-2019

Sumber : Renstra Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR 2016-2019

Untuk mencapai sasaran tersebut maka kebijakan pembangunan diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan air minum dan sanitasi yang memadai, melalui:

a. Menyediakan perangkat peraturan di tingkat Pusat dan/atau Daerah. b. Memastikan ketersediaan air baku air minum.

c. Meningkatkan prioritas pembangunan prasarana dan sarana permukiman.

d. Meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum,penanganan air limbah, dan pengelolaan persampahan.

e. Meningkatkan sistem perencanaan pembangunan air minum dan sanitasi. f. Meningkatkan cakupan pelayanan prasarana permukiman.

g. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnyaperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

h. Mengembangkan alternatif sumber pendanaan bagi pembangunan infrastruktur. i. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan swasta.

(5)

Adapun dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur keciptakaryaan, Ditjen Cipta Karya menggunakan tiga strategi pendekatan yaitu membangun sistem, memfasilitasi Pemerintah Dareah Provinsi, Kota dan Kabupaten, serta memberdayakan masyarakat melalui program-program pemberdayaan masyarakat. Dalam membangun sistem, Ditjen Cipta Karya memberikan dukungan pembangunan infrastruktur dengan memprioritaskan sistem infastruktur Provinsi/Kabupaten/Kota. Dalam hal fasilitasi Pemerintah Daerah, bentuk dukungan yang diberikan adalah fasilitasi kepada Pemerintah Daerah dalam penguatan kelembagaan, keuangan, termasuk pembinaan teknis terhadap tugas dekonsentrasi dan pembantuan. Untuk pemberdayaan masyarakat, bentuk dukungan yang diberikan adalah pembangunan infrastruktur keciptakaryaan melalui program-program pemberdayaan masyarakat.

Tabel 3.1

Pendekatan Pembangunan Bidang Cipta Karya

Pendekatan Strategi Pelaksanaan

Membangun Sistem 1. Pembangunan Infrastruktur Permukiman Skala Regional (TPA Regional atau SPAM Regional)

2. Pembangunan Infrastruktur Permukiman pada kawasan strategis (kawasan perbatasan, KSN, PKN, WPS) atau kawasan khusus (kawasan kumuh perkotaan, kawasan nelayan, kawasan rawan air/ perbatasan/pulau terluar) 3. Mendorong penyusunan Rencana Tata Bangunan dan

Lingkungan sebagai alat sinergisasi seluruh sektor dalam menata kawasan

Fasilitasi Pemda 1. Pendampingan penyusunan NSPK daerah antara lain Perda Bangunan Gedung, SK Kumuh, dsb.

2. Penyusunan Rencana Penanganan Kawasan/Induk Sektoral seperti Strategi Sanitasi Kota (SSK), Rencana Induk Sistem Pengembangan Air Minum (RISPAM), dan Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

3. Pembangunan Indrastruktur Permukiman Skala kawsan seperti fasilitasi PDAM, fasilitasi kota hijau dan kota pusaka, penanganan kumuh perkotaan, serta penataan bangunan dan lingkungan.

Pemberdayaan Masyarakat

1. Pembangunan Infrastruktur Permukiman Berbasis Masyarakat melalui kegiatan Pamsimas, Sanimas, dan P2KP.

(6)

3.1.2 Arahan Penataan Ruang

Pengembangan pusat-pusat kegiatan di Kabupaten Pasaman Barat terutama diarahkan kepada melayani kegiatan yang meliputi sistem jaringan prasarana, antara lain, mencakup sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, sistem persampahan dan sanitasi, serta sistem jaringan sumber daya air.

Rencana pengembangan pusat kegiatan di Kabupaten Pasaman Barat juga mengacu pada kriteria sebagaimana diatur Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten bahwa pusat kegiatan di wilayah kabupaten merupakan simpul pelayanan sosial ekonomi masyarakat di wilayah kabupaten, dapat terdiri atas :

a. PKN yang berada di wilayah kabupaten; b. PKW yang berada di wilayah kabupaten; c. PKL yang berada di wilayah kabupaten; d. PKSN yang berada di wilayah kabupaten; dan

e. Pusat-pusat lain di dalam wilayah kabupaten yang wewenang penentuannya ada pada pemerintah daerah kabupaten, yaitu : 1) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan 2) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)

Berdasarkan kriteria dan arahan kebijakan pengembangan yang telah dijelaskan, maka rencana struktur pusat kegiatan di Kabupaten Barat sampai tahun 2031 terdiri dari 1 (satu) wilayah PKWp, 1 (satu) wilayah PKLp, 2 (dua) wilayah PPK, dan 7 (tujuh) wilayah PPL seperti yang diperlihatkan pada Tabel 3.2 berikut ini.

Tabel 3.2.

Pusat Kegiatan Kabupaten Pasaman Barat Berdasarkan RTRW 2011-2031

PKWp PKLp PPK PPL

Simpang Empat Ujung Gading 1. Kinali 2. Air Bangis

1. Sasak 2. Simpang Tiga 3. Simpang Tiga Alin 4. Koto Dalam 5. Silaping 6. Parik 7. Talu

(7)

Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten merupakan perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama kabupaten dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun).

Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten berfungsi:

1. Sebagai acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam pemrograman pemanfaatan ruang;

2. Sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan program utama (besaran, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan);

3. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pertama; dan

4. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun berdasarkan: 1. Rencana struktur ruang dan pola ruang;

2. Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;

3. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan 4. Prioritas pengembangan wilayah kabupaten dan pentahapan rencana

pelaksanaan program sesuai dengan RPJPD.

Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun dengan kriteria:

1. Mendukung perwujudan struktur ruang, pola ruang, dan kawasan strategis kabupaten;

2. Mendukung program utama penataan ruang nasional dan provinsi;

3. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan;

4. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan

(8)

Ketentuan Zonasi dalam RTRW Kabupaten Pasaman Barat

Klasifikasi Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi

Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan

A. KAWASAN LINDUNG

A1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya - Kawasan Resapan Air Kawasan yang mempunyai kemampuan

tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang berguna sebagai sumber air.

 Dalam kawasan resapan air tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya;

 Permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat :

- Tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimum 20%, dan KLB maksimum 40%).

- Perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi.

- Dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.

A2. Kawasan Perlindungan Setempat

- Sempadan Sungai Kawasan sepanjang kiri-kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai

 Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;

 Dilarang mendirikan bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air;

- Sempadan Mata Air Kawasan sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk kelestarian fungsi mata air

 Dilarang mendirikan bangunan tanpa kecuali

- Ruang Terbuka Hijau area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam

 Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;

 Pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi;

(9)

Klasifikasi Ruang Deskripsi

Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan

 Kawasan ruang terbuka hijau tidak diperkenankan dialihfungsikan.

 Dalam kawasan ruang terbuka hijau masih diperkenankan dibangun fasilitas pelayanan sosial secara terbatas dan memenuhi ketentuan yang berlaku

 Untuk kawasan perkotaan minimal disediakan RTH seluas 30% dari total luas kota dan 30% dari DAS untuk wilayah kabupaten.

A3. Kawasan Suaka Alam - Kawasan Lindung

Geologi

Kawasan yang potensial terjadi bencana gempa atau longsor yang disebabkan oleh gerakan tanah, gerakan sesar & liquifaksi

 Pada kawasan cagar alam geologi tidak diperkenankan adanya kegiatan permukiman;

 Kegiatan permukiman yang sudah terlanjur terbangun pada kawasan rawan bencana geologi harus mengikuti peraturan bangunan (building code) yang sesuai dengan potensi bencana geologi yang mungkin timbul dan dibangun jalur evakuasi;

 kegiatan-kegiatan vital/strategis diarahkan untuk tidak dibangun pada kawasan rawan bencana;

 Pada kawasan bencana alam geologi budidaya permukiman dibatasi dan bangunan yang ada harus mengikuti ketentuan bangunan pada kawasan rawan bencana alam geologi;

 Pada kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah tidak diperkenankan adanya bangunan terkecuali bangunan yang terkait dengan sistem jaringan prasarana wilayah dan pengendali air;

A5. Kawasan Rawan Bencana

adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi

(10)

Klasifikasi Ruang Deskripsi

Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan

buruk bahaya tertentu. - Kawasan Rawan

Longsor

Kawasan yang potensial terjadinya perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng

 Dilarang membangun bangunan pada di bawah/diatas lereng dan pada lereng yang terjal (>40%)

 Dilarang memotong tebing jalan menjadi tegak

 Kawasan dengan kemiringan diatas 40% harus dikonservasi

 Areal aman/sempadan longsor minimal lebarnya sama dengan tinggi tegakan tebing

Penanganan longsor: pengelolaan tata air, turap, penghijauan

berdaya tahan

erosi/linciran

- Kawasan Rawan Gempa

Kawasan yang potensial terjadi gerakan pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba‐tiba.

 Dilarang membangun bangunan tanpa konstruksi anti gempa

 Boleh dilakukan kegiatan budidaya pertanian dalam arti luas

 Dilarang membangun bangunan diatas patahan/gawir sesar

 Pada jalur patahan dan peretmuan antar patahan tidak diperkenankan kegiatan permukiman terutama instalasi infrastruktur (Pembangkit listrik, gardu listrik, instalasi air minum, TPA). Bagi perumahan yang sudah ada harus direkonstruksi sehingga tahan gempa. Instalasi harus direlokasi.

 Pada kawasan rawan gempa-liquifaksi, struktur bangunan harus tahan gempa dengan konstruksi tiang pancang

- Kawasan Rawan Banjir Aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah disisi sungai.

 Dilarang membangun perumahan dan permukiman. Perumahan yang sudah ada didorong untuk direlokasi.

 B. KAWASAN BUDIDAYA

B9. Kawasan Permukiman Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang menudukung prikehidupan dan

 Peruntukan kawasan permukiman diperkenankan untuk dialihfungsikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

 Pada kawasan permukiman diperkenankan adanya sarana dan prasarana pendukung fasilitas permukiman sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku;

(11)

Klasifikasi Ruang Deskripsi

Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan

penghidupan berlaku;

 Kawasan permukiman harus dilengkapi dengan fasilitas sosial termasuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan;

 Dalam kawasan permukiman masih diperkenankan adanya kegiatan industri skala rumah tangga dan fasilitas sosial ekonomi lainnya dengan skala pelayanan lingkungan;

 Kawasan permukiman tidak diperkenankan dibangun di dalam kawasan lindung/konservasi dan lahan pertanian dengan irigasi teknis;

 Dalam kawasan permukiman tidak diperkenankan dikembangkan kegiatan yang mengganggu fungsi permukiman dan kelangsungan kehidupan sosial masyarakat.

 Pengembangan kawasan permukiman harus dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku di bidang perumahan dan permukiman;

 Pembangunan hunian dan kegiatan lainnya di kawasan permukiman harus sesuai dengan peraturan teknis dan peraturan lainnya yang berlaku ( KDB, KLB, sempadan bangunan, dan lain sebagainya)

 Pada kawasan permukiman perkotaan harus disediakan prasarana dan sarana dasar pendukung permukiman yang tersambung dengan sistem prasarana perkotaan yang sudah ada.

C.ZONASISTEMJARINGANPRASARANAKABUPATEN C6. Zona Sistem Jaringan

Sumber Daya Air

Areal sekitar sistem jaringan Sumber Daya Air (sungai, irigasi)

diatur pada ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perlindungan setempat

C7. Sistem Prasarana Lingkungan

Areal sekitar sistem prasarana lingkungan (Tempat Pengolahan Sampah terpadu)

 TPST tidak diperkenankan terletak berdekatan dengan kawasan permukiman;

 Lokasi TPST harus didukung oleh studi AMDAL yang telah disepakati oleh instansi yang berwenang;

 Pengelolaan sampah dalam TPST dilakukan dengan sistem sanitary landfill sesuai ketentuan peraturan yang berlaku;

(12)

Klasifikasi Ruang Deskripsi

Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan

(13)

Indikasi program utama dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten meliputi:

1. Usulan Program Utama

Usulan program utama adalah program-program pemanfaatan ruang yang diindikasikan memiliki bobot kepentingan utama atau diprioritaskan untuk mewujudkan struktur dan pola ruang wilayah kabupaten sesuai tujuan.

2. Lokasi

Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan dilaksanakan.

3. Besaran

Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing usulan program utama yang akan dilaksanakan.

4. Sumber Pendanaan

Sumber pendanaan dapat berasal dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten, dan/atau masyarakat.

5. Instansi Pelaksana

Instansi pelaksana adalah pelaksana program utama yang disesuaikan dengan kewenangan masing-masing pemerintahan, dan pihak swasta serta masyarakat.

6. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan

Usulan program utama direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 20 (dua puluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima) tahunan, sedangkan masing-masing program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi sesuai kebutuhan. Program utama 5 tahun pertama dapat dirinci ke dalam program utama tahunan. Penyusunan indikasi program utama disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu 5 tahunan RPJP Daerah Kabupaten.

(14)

A. Perwujudan Rencana Struktur Ruang

(1) Perwujudan Sistem Prasarana Lainnya

a. Perwujudan Sistem jaringan Sumber Daya Air  Perwujudan Wilayah Sungai (WS)

 Konservasi dan Penatagunaan air pada Daerah Aliran Sungai (DAS).  Penyusunan dan penetapa neraca penatagunaan sumberdaya air.

 Peningkatan dan pemeliharaan sumberdaya air yang berskala regional

guna menjaga kelestarian lingkungan dilakukan pada seluruh sungai yang berhulu di hutan lindung di bagian timur.

 Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi pemanfaatan sumber daya

air baku untuk keperluan air bersih untuk kawasan perkotaan.

 Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau serta sumber

air lainnya, antara lain embung/bendungan, waduk, dan bangunan penampung air lainnya untuk penyediaan air baku dan pertanian.

 Perwujudan Daerah Irigasi (DI)

 Pemeliharaan dan Pengembangan Daerah Irigasi Lintas Kabupaten yang

menjadi kewenangan pemerintah :  Daerah Irigasi Batang Tongar.  Daerah Irigasi Batahan

 Daerah Irigasi Batang Bayang

 Pemeliharaan dan Pengembangan Daerah Irigasi Lintas Kabupaten yang

menjadi kewenangan pemerintah :  Daerah Irigasi Kapar Ampu; dan  Daerah Irigasi Lubuk Gobing

 Pemeliharaan dan Pengembangan Daerah Irigasi yang menjadi

(15)

1. Daerah Irigasi air dingin; 2. Daerah Irigasi ampu kariang; 3. Daerah Irigasi ampu rimbi; 4. Daerah Irigasi aur kuning; 5. Daerah Irigasi bandarejo; 6. Daerah Irigasi banja anau; 7. Daerah Irigasi banja

sukomenanti;

8. Daerah Irigasi batang alin; 9. Daerah Irigasi batang ingu; 10. Daerah Irigasi batang kando; 11. Daerah Irigasi batang kariang; 12. Daerah Irigasi batang karumie; 13. Daerah Irigasi batang

kenaikan;

14. Daerah Irigasi batang kinali; 15. Daerah Irigasi batang lampang; 16. Daerah Irigasi batang

mandiangin;

17. Daerah Irigasi batang nango; 18. Daerah Irigasi batang paku; 19. Daerah Irigasi batang pinaga 20. Daerah Irigasi batang sarik; 21. Daerah Irigasi batang sopan; 22. Daerah Irigasi bandar rambah; 23. Daerah Irigasi batang bunut

alamanda;

24. Daerah Irigasi danau karuah; 25. Daerah Irigasi batang kinali

rantau panjang;

Daerah Irigasi bunga tanjung; 26. Daerah Irigasi bandar

partupangan;

27. Daerah Irigasi durian kapalo kambiang;

28. Daerah irigasi ladang rimbo; 29. Daerah Irigasi lubuk anai; 30. Daerah Irigasi lubuk barantai; 31. Daerah Irigasi lubuk subahan; 32. Daerah Irigasi pandulangan; 33. Daerah Irigasi pelita i sungai

abuk;

34. Daerah Irigasi punggai bawah; 35. Daerah Irigasi situak;

36. Daerah Irigasi talang kuning; 37. Daerah Irigasi tamiang ampalu; 38. Daerah Irigasi taming;

39. Daerah Irigasi tanjung durian; 40. Daerah Irigasi tinggiran; 41. Daerah Irigasi air talang; 42. Daerah Irigasi batang siau –

siau;

43. Daerah Irigasi batang talau hilir;

 Pembangunan dan Pengembangan Saluran Air Hujan/Drainase  Perwujudan Sistem pengendalian Banjir

(16)

 Pembangunan prasarana pengamanan abrasi pantai di sepanjang

pesisir pantai Aia Bangih – Sasak

b. Perwujudan Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan

Perwujudan Sistem Prasarana Lingkungan dilakukan melalui :

 Pewujudan Pengelolaan Persampahan

 Pengembangan dan Pembangunan Tempat Penampungan Sementara

(TPS) di seluruh kecamatan.

 Pengembangan dan Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)

dengan sistem sanitary landfill.  Perwujudan Sistem Jaringan Air Minum

 Penyusunan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM)

 Pembangunan dan Pengembangan Prasarana sistem Penyediaan Air

Minum (SPAM)

 Pemeliharaan Penyediaan Air Bersih (SPAM)

 Penguatan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Bersih (SPAM)

 Perwujudan sistem jaringan prasarana pengelolaan air limbah

 Pembangunan Prasarana Sistem Pembuangan Air Limbah

 Pembangunan dan Pengembangan sistem pengelolaan limbah domestik

dan non domestik menggunakan sistem setempat (on-site sanitation) dengan sistem terpusat untuk kawasan perkotaan dengan penduduk yang memiliki kepadatan tinggi

 Pengembangan dan Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja

(IPLT)

 Perwujudan sistem jaringan drainase

 Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase

 Pengelolaan, Pemeliharaan prasarana sistem drainase primer

(17)

 Pengelolaan, Pemeliharaan dan Pengembangan prasarana sistem

drainase sekunder

B. Perwujudan Rencana Pola Ruang

(1) Rencana Perwujudan Kawasan Permukiman

a. Perwujudan Kawasan Peruntukan Permukiman Perkotaan

Arahan kegiatan yang akan dilaksanakan pada program ini meliputi Pengembangan dan Rehabilitasi Kawasan andalan untuk Peruntukan Permukiman Perkotaan

Permukiman Perkotaan. Pembangunan kawasan permukiman di Simpang Ampek (Kecamatan Pasaman), Kinali dan Lembah Melintang perlu didekati dengan mitigasi gempa dan longsor. Prinsip dasar yang dalam pembangunan permukiman adalah :

1. Konstruksi bangunan harus tahan gempa (ringan & kompak dibangun pada tapak yang datar). Bangunan rumah panggung adalah yang paling cocok untuk kawasan yang rawan gempa, bahkan tsunami.

2. Tidak dibangun di sisi tebing untuk menghindari runtuhan tanah akibat longsor, baik longsor akibat gerusan air ataupun akibat gempa

3. Dihindari pembangunan perumahan pada areal/alur lahar gunung berapi

4. Bangunan penyelamat (escape building) sebagai rumah perlindungan bersama bila terjadi bencana alam. Pada saat normal (tidak terjadi bencana) bangunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bangunan sosial, baik untuk balai pertemuan, pesta kawin/adat, kegiatan agama, dll. Bangunan ini tentunya harus tahan gempa dan berada pada kawasan yang aman dan mudah dijangkau.

5. Permukiman seyogyanya harus didukung dengan infrastruktur dasar, seperti sistem transportasi, air bersih, listrik, telekomunikasi yang memadai, sanitasi lingkungan dan adanya pengelolaan sampah yang baik serta dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan dan perdagangan.

(18)

sedang dan 6 rumah sederhana. Komposisi tersebut sekaligus menggambarkan pemetakan kelompok tingkatan kepadatan rumah, yaitu kepadatan tinggi, sedang dan rendah.

Program pembangunan pada kawasan permukiman lainnya, yaitu di kecamatan- kecamatan Kabupaten Pasaman Barat disesuaikan dengan kondisi karakterisitik kawasannya.

b. Perwujudan Kawasan Peruntukan Permukiman Perdesaan

Arahan kegiatan yang akan dilaksanakan pada program ini meliputi Pengembangan dan Rehabilitasi Kawasan permukiman perdesaan.

Permukiman Perdesaan. Ciri permukiman perdesaan adalah tersebar secara mengelompok di sepanjang jalan utama dan sebagian lainnya berada pada kawasan yang mempunyai akses yang rendah. Program perwujudan permukiman perdesaan yang dilakukan adalah :

1. Identifikasi kebutuhan perumahan dan penyediaan perumahan perdesaan melalui bantuan pemerintah dan pembangunan perumahan swadaya.

2. Identifikasi kelompok permukiman perdesaan yang berada pada kawasan lindung dan budidaya. Bila terdapat permukiman (kelompok rumah) yang berada pada kawasan lindung, maka direkomendasikan jalan keluarnya, baik melalui pelepasan hak hutan atau relokasi.

3. Identifikasi bangunan fasilitas umum dan perumahan yang berada pada kawasan rawan bencana dan merekomendasikan mitigasi ataupun relokasi terhadap bangunan tersebut.

4. Identifikasi bangunan fasilitas umum dan perumahan yang tidak memenuhi konstruksi tahan gempa dan merekomendasikan rencana penanganannya secara teknis

5. Klasifikasi kelompok permukiman yang berada pada kawasan budidaya yang mempunyai akses tinggi, sedang dan rendah (remote area).

6. Identifikasi kelengkapan prasarana dan sarana permukiman pada masing-masing kelompok permukiman pada poin 2 dan rekomendasikan rencana pembangunannya.

(19)

pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya diarahkan pada lokasi KSK, dan diharapkan keterpaduan pembangunan dapat terwujud. Tabel 3.4 memaparkan identifikasi arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya, Tabel 3.5 memaparkan identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK), serta Tabel 3.6 memaparkan identifikasi indikasi program khusus untuk Bidang Cipta Karya.

Tabel 3.4

Arahan RTRW Kabupaten Pasaman Barat untuk Bidang Cipta Karya

Arahan Pola Ruang Arahan Struktur Ruang

Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya

Rencana pengembangan kawasan permukiman , meliputi :

a. Kawasan permukiman perkotaan

Meliputi : Simpang Ampek, Ujung Gading, Kinali, Sasak, Silaping, Simpang Tiga Alin, Parit dan Koto Dalam

b. Kawasan permukiman peDESAAN

Kawasan permukiman perdesaan dikembangkan mengikuti pola pengembangan kawasan agropolitan dan atau minapolitan.

Kawasan peruntukan lainnya, yang meliputi kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan. Antara lain :

a. kawasan kantor Komando Rayon Militer (Koramil)

Simpang Ampek di Kecamatan Pasaman;

b. kawasan kantor Kepolisian Resort (Polres)

Kabupaten Pasaman Barat; dan

c. kawasan kantor Kepolisian Sektor (Polsek),

meliputi:

4. Polsek Sungai Aur di Kecamatan Sungai Aur;

5. Polsek Lembah Malintang di Kecamatan

Lembah Melintang;

6. Polsek Gunung Tuleh di Kecamatan Gunung

Tuleh;

7. Polsek Talu di Kecamatan Talamau;

8. Polsek Pasaman di Kecamatan Pasaman;

9. Polsek Luhak Nan Duo di Kecamatan Luhak

i. Rencana Sumber-Sumber Air Baku

Pengembangannya melalui pengelolaan dan konservasi sungai, danau serta sumber air lainnya, antara lain embung/bendungan, waduk, dan bangunan penampung air lainnya untuk penyediaan air baku di seluruh kecamatan terutama untuk Kecamatan Ranah Batahan, Lembah Melintang, Talamau, Pasaman, Luhak Nan Duo dan Kecamatan Kinali yang merupakan kawasan pertanian tanaman pangan.

Peningkatan dan pemeliharaan sumberdaya air yang berskala regional guna menjaga kelestarian lingkungan dilakukan pada seluruh sungai yang berhulu di hutan lindung di bagian timur

ii. Rencana Pengembangan Jaringan Prasarana

Lingkungan

(1) Sistem jaringan Prasarana Air Minum

Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) akan dikembangkan di Kabupaten Pasaman Barat diarahkan pada pusat-pusat permukiman dengan memanfaatkan air permukaan terutama pada kawasan pusat kegiatan wilayah, kegiatan lokal dan pusat pelayanan kawasan, yaitu: a. PKWp Simpang Ampek;

b. PKLp Ujung Gading; dan

c. PPK Kinali dan Aia Bangih.

(2) Jaringan Prasarana Pengelolaan Air Limbah

Jaringan prasarana pengelolaan air limbah di kabupaten Pasaman Barat meliputi sistem pembuangan air limbah berupa kombinasi antara sistem saluran air limbah perkotaan dengan sistem drainase, sistem pengelolaan limbah domestik dan non domestik

menggunakan sistem setempat (on-site

(20)

Arahan Pola Ruang Arahan Struktur Ruang

Nan duo;

10. Polsek Sasak Ranah Pasisie di Kecamatan

Ranah Pasisie; dan

11. Polsek Kinali di Kecamatan Kinali.

penduduk yang memiliki kepadatan tinggi dan pengembangan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).

(3) Jaringan Prasarana Pengelolaan Persampahan

Jaringan prasarana pengelolaan persampahan di Kabupaten Pasaman Barat meliputi Pengembangan Tempat Penampungan Sementara (TPS) tersebar di seluruh kecamatan dan Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem sanitary landfill di Kecamatan Gunung Tuleh.

(4) Jaringan Prasarana Drainase

Pengembangan sistem prasarana drainase di kabupaten Pasaman Barat meliputi Saluran drainase primer merupakan drainase alamiah berupa sungai besar maupun sungai sungai kecil sedangkan Saluran drainase sekunder merupakan suatu jaringan sistem drainase yang terdapat pada suatu kawasan tertentu. Rencana pengembangan sistem drainase di kabupaten pasaman Barat, yaitu :

a. Saluran Drainase Primer meliputi sungai –

sungai yang terdapat di seluruh Kecamatan.

b. Saluran Drainase Sekunder meliputi drainase yang terdapat pada komplek pemukiman, perkantoran, kawasan komersial, industri dan lainnya.

Sumber: RTRW Kab. Pasaman Barat 2011-2031

Tabel 3.5

Identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) berdasarkan RTRW

Pertumbuhan Ekonomi di Kecamatan Pasaman

2. Kinali Pertumbuhan Ekonomi di Kecamatan Kinali

3. Aia Bangih

(ibukota Kecamatan Sei Beremas)

Pertumbuhan Ekonomi di Kecamatan Sei Beremas

(21)

Tabel 3.6

Identifikasi Indikasi Program RTRW Kabupaten/Kota terkait Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya

No Usulan Program Utama Lokasi

Merupakan

A PERWUJUDAN POLA RUANG

A1 Perwujudan Kawasan

Permukiman

.a Perwujudan Kawasan

peruntukan permukiman

b Perwujudan Kawasan

peruntukan permukiman

B PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG

B1 Perwujudan Sistem jaringan

Sumber Daya Air

a Perwujudan Wilayah Sungai

(WS)

Konservasi dan Penatagunaan air pada Daerah Aliran Sungai (DAS)

sumberdaya air yang berskala regional guna menjaga kelestarian lingkungan dilakukan pada seluruh sungai

(22)

No Usulan Program Utama Lokasi

yang berhulu di hutan lindung di bagian timur pemanfaatan sumber daya air baku untuk keperluan air bersih untuk kawasan perkotaan

dan konservasi sungai, danau serta sumber air lainnya, antara lain embung/bendungan, waduk, dan bangunan penampung air lainnya untuk penyediaan air baku dan pertanian

b Perwujudan Daerah Irigasi (DI)

Pemeliharaan dan

Pengembangan Daerah Irigasi Lintas Kabupaten yang menjadi kewenangan pemerintah

c Perwujudan Sistem

pengendalian Banjir

d Perwujudan Sistem

pengamanan Pantai Pembangunan prasarana pengamanan abrasi pantai di sepanjang pesisir pantai Aia Bangih - Sasak

B2 Perwujudan Sistem Prasarana

Lingkungan

a Pewujudan Pengelolaan

Persampahan Pengembangan dan Pembangunan Tempat

Seluruh Kecamatan Tidak APBN/ APBD

Prov. & Kab./

(23)

No Usulan Program Utama Lokasi (TPS) di seluruh kecamatan

Investor PU/ KLH Prov. &

Kab./ Swasta Pengembangan dan

Pembangunan Tempat Pemrosesan AkhPir (TPA)

dengan sistem sanitary landfill.

Kecamatan

b Perwujudan Sistem Jaringan Air

Minum

Penyusunan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM)

Sistem Penyediaan Air Bersih (SPAM)

c Pembangunan Prasarana

Sistem Pembuangan Air Limbah Pembangunan Prasarana Sistem Pembuangan Air Limbah

Kabupaten sistem terpusat untuk kawasan perkotaan dengan penduduk yang memiliki kepadatan tinggi

Kabupaten PasamanBarat

Tidak

Pengembangan dan

Pembangunan Instalasi

Pengolahan Lumpur Tinja

(IPLT)

d Perwujudan sistem jaringan

(24)

No Usulan Program Utama Lokasi

C PERWUJUDAN KAWASAN

STRATEGIS KABUPATEN

C1 Perwujudan Kawasan Strategis

Simpang Ampek

C2 Perwujudan Kawasan Strategis

Kinali

Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan Strategis dari sudut kepentingan Ekonomi

Kecamatan Kinali Ya APBN/ APBD

Prov. & Kab./ Strategis dari sudut kepentingan Ekonomi

Kecamatan Kinali Ya APBN/ APBD

Prov. & Kab./ Investor

Kemen PU/ Dis PU Prov. & Kab./ Swasta

C3 Perwujudan Kawasan Strategis

Aia Bangih

Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan Strategis dari sudut kepentingan Ekonomi Strategis dari sudut kepentingan Ekonomi

Sumber: RTRW Kab. Pasaman Barat 2011-2031

3.1.3 Arahan Wilayah Pengembangan Strategis

(25)

di seluruh Indonesia yaitu 6 WPS di Pulau Sumatera, 5 WPS di Kepulauan Bali-Nusa

WPS Pusat Pertumbuhan Terpadu Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api- Api; Metro Medan-Tebing Tinggi-Dumai-Makassar-Pare Pare- Mamuju WPS Pertumbuhan Terpadu Kemaritiman Ternate-Sofifi-Morotai; Ambon-Seram WPS Pusat Pertumbuhan Terpadu

Kemaritiman WPS Pusat Pertumbuhan Sedang

Berkembang

Sibolga-Padang-Bengkulu; Yogyakarta-Prigi-Blitar-Malang; Banjarmasin- Batulicin-Palangkaraya; Ketapang-Pontianak-Singkawang-Sambas; Gorontalo- Bolaang Mongondow;

Palu-Banggai; Sorong-Manokwari; Manokwari-Bintuni

WPS Konektivitas dan Pusat Pertumbuhan Wisata

Denpasar-Padang Bay

WPS Pusat Pertumbuhan Sedang Berkembang dan Hinterland

Sabang-Banda Aceh-Langsa

Sumber : Renstra Kementerian PU-PR 2015-2019

(26)

Gambar 3.2

WPS Pusat Pertumbuhan Sedang Berkembang Sibolga-Padang-Bengkulu

Sumber : BPIW Kementerian PUPR, 2016

3.1.4 Arahan Rencana Pembangunan Daerah

A. RPJMD Provinsi Sumatera Barat

(27)

Tabel 3.8

Strategi dan Arah Kebijakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2016 – 2021

Visi : Terwujudnya Sumatera Barat Yang Madani Dan Sejahtera

MISI 5 : Meningkatkan Infrastruktur dan Pembangunan yang Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Tujuan 1 : Meningkatkan penyediaan infrastruktur untuk pengembangan ekonomi dan pengembangan wilayah

Sasaran Strategi Arah dan kebijakan

5. Meningkatnya

1. Membenahi prasarana dan sarana umum di kawasan

pemukiman/perumahan dan lingkungan

2. Meningkatkan peran swasta dan masyarakat dalam penyediaan prasarana umum pada kawasan pemukiman/perumahan, lingkungan

1. Pembangunan, rehabilitasi sarana dan prasarana kawasan permukiman kumuh.

2. Pengembangan sistem pengelolaan air minum regional, tempat pembuangan akhir regional, dan drainase

3. Peningkatan kualitas dan penataan bangunan dan lingkungan

B. RPJMD Kabupaten Pasaman Barat

Dalam rangka peningkatan infrastruktur terkait keciptakaryaan, Kabupaten Pasaman Barat sudah menjadikannya dalam salah satu strategi sehingga dapat mewujudkan pembenahan prasarana dan sarana di kawasan pemukiman. Selain itu, dalam rangka penanggulangan kemiskinan, daerah tertinggal dan terisolir, Kabupaten Pasaman Barat juga menjadikan ini sebagai salah satu prioritas daerah dengan penanganan dari seluruh sektor salah satunya terkait sektor cipta karya. Strategi dan arah kebijakan yang terkait dengan Cipta Karya yang terdapat dalam RPJMD Kabupaten Pasaman Barat 2016-2021 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.9

Strategi dan Arah Kebijakan Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2016 – 2021

Visi : Mewujudkan Pasaman Barat Yang Beriman, Cerdas, Sehat, Bermartabat, Sejahtera, Serta Berwawasan Lingkungan

Misi 3 : Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan berbasis daya saing lokal, regional, dan global

Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan

1. Meningkatkan

sarana dan prasarana wilayah berbasis daya tampung dan daya dukung lingkungan untuk penunjang percepatan pembangunan ekonomi

3. Membenahi prasarana dan

sarana umum di kawasan pemukiman/perumahan dan lingkungan

3.Peningkatan sarana dan

prasarana dasar kawasan perumahan dan

(28)

Misi 4 : Menanggulangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan dasar, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi kreatif

Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan

1. Meningkatkan perumahan, air bersih, sanitasi, dan lingkungan hidup yang baik dan sehat

4. Meningkatnya percepatan

Sumber : RPJMD Kabupaten Pasaman Barat 2016-2021

3.2 RENCANA STRATEGIS INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA

3.2.1 Rencana Kawasan Permukiman/ Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan Daerah (RP4D) Kabupaten Pasaman Barat

A. Visi dan Misi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan

Visi dan misi pembangunan serta arahan kebijakan pengembangan perumahan dan permukiman di Kabupaten Pasaman Barat dapat dilihat pada Tabel 3.10

B. Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman

I. Rencana Penyediaan Perumahan dan Permukiman

Berdasarkan strategi pembangunan perumahan dan permukiman, rencana pengembangan perumahan di kawasan perencanaan adalah :

1) Pengembang perumahan disarankan menyediakan fasilitas sosial seperti : TK, SD, Pasar dan Sarana Ibadah.

(29)
(30)

Tabel 3.10

Arahan Visi dan Misi Serta Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Pasaman Barat

Kebijakan Kabupaten Konsep Pembangunan Perumahan & Permukiman Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan

Konsep pengembangan Perumahan dan Permukiman

1. Pengembangan sistem permukiman yang sesuai dengan karakter ruang kabupaten, sosial budaya masyarakat, daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana.

Strategi yang dilakukan antara lain :

a. mengembangkan permukiman di Kabupaten Pasaman Barat meliputi permukiman dengan kepadatan tinggi dan dan permukiman kepadatan sedang dan kepadatan rendah (sub urban);

b. mengembangkan permukiman kepadatan rendah pada di wilayah yang akan dipertahankan sebagai kawasan konservasi dan kawasan lindung serta kawasan perkebunan dan pertanian dan kawasan rawan bencana;

c. mendorong pembangunan secara vertikal terbatas di kawasan pusat kota untuk mengoptimalkan dan meningkatkan intensitas ruang di pusat kota dalam rangka menjamin keseimbangan antara ruang terbangun dan ruang terbuka hijau dengan tetap memperhatikan ketentuan bangunan tahan gempa;

d. membatasi pengembangan permukiman di ruang-ruang yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana di sepanjang pantai, kawasan lindung dan kawasan resapan air;

e. meremajakan kawasan permukiman kumuh di kawasan permukiman nelayan;

f. mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan permukiman yang sudah tertata;

g. mengembangkan perumahan yang mendukung pengembangan kawasan industri

2. Pengembangan kawasan permukiman untuk menyediakan perumahan

Visi Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Pasaman Barat :

“Terpenuhinya Permukiman Kabupaten Pasaman Barat yang Layak Huni, Sehat dan Aman yang didukung Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU), menuju Masyarakat Mandiri dan Madani”

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka arahan pembangunan perumahan permukiman ditujukan untuk melaksanakan 5 (lima) misi utama yaitu:

a. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman yang layak huni b. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman sehat dan aman

yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU).

c. Mewujudkan peningkatan kualitas permukiman kumuh dan di Kabupaten Pasaman Barat; dan

d. Mewujudkan penyediaan rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah

e. Pembangunan permukiman yang sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan kelestarian alam untuk memenuhi prinsip penataan ruang; daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

Tujuan :

1. Terwujudnya permukiman yang layak huni, sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) untuk mendukung peningkatan kualitas permukiman. ;

2. Terwujudnya Rencana Pembangunan Dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman secara terpadu sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana.

(31)

Kebijakan Kabupaten Konsep Pembangunan Perumahan & Permukiman Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan

dan fasilitasnya sesuai dengan jumlah penduduk kabupaten sampai akhir tahun perencanaan.

Strategi yang dilakukan antara lain :

a. membatasi perkembangan secara horizontal untuk pengembangan perumahan, perdagangan dan jasa di wilayah pusat kota Simpang Ampek;

b. mendorong pengembangan perumahan secara ekstensif ke arah ke permukiman perkotaan dan pedesaandengan intensitas yang disesuaikan dengan daya dukung lahan;

c. mengembangkan kawasan perumahan sesuai dengan kebutuhan penduduk sampai dengan akhir tahun perencanaan;

d. mengembangkan perumahan secara vertikal pada kawasan yang memiliki kepadatan penduduk lebih dari 400 jiwa/ha dengan tetap memperhatikan ketersediaan prasarana yang ada dan ketahanan terhadap gempa;

e. meremajakan dan merehabilitasi lingkungan yang menurun kualitasnya;

f. melestarikan kawasan dan bangunan cagar budaya.

yang sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan;

Kebijakan :

A. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman yang layak huni; sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

B. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU);

C. Peningkatan kualitas permukiman kumuh di Kabupaten Pasaman Barat;

D. Penyediaan rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Strategi :

a. Strategi untuk memenuhi perumahan dan kawasan permukiman yang layak huni meliputi :

1. Memenuhi persyaratan keselamatan bangunan; serta daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

2. Menjamin kesehatan meliputi pencahayaan, penghawaan dan sanitasi; dan

3. Memenuhi kecukupan luas minimum.

b. Strategi untuk memenuhi perumahan dan kawasan permukiman sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) meliputi :

1. Mengembangkan jaringan jalan menuju perumahan dan kawasan permukiman;

2. Mengembangkan sanitasi di perumahan dan kawasan permukiman;

(32)

Kebijakan Kabupaten Konsep Pembangunan Perumahan & Permukiman Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan

4. Mengembangkan persampahan di perumahan dan kawasan permukiman;

5. Memenuhi kebutuhan air minum di perumahan dan kawasan permukiman; dan

6. Memenuhi kebutuhan listrik di perumahan dan kawasan permukiman.

c. Strategi untuk meningkatkan kualitas permukiman kumuh di Kabupaten Pasaman Barat meliputi :

1. Melakukan perbaikan atau pemugaran permukiman kumuh dan permukiman liar meliputi rehabilitasi dan renovasi;

2. Melakukan peremajaan permukiman kumuh dan permukiman liar dengan membangun prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan kawasan permukiman baru yang lebih layak dan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

3. Mengembangkan lingkungan permukiman melalui pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan untuk perumahan formal dan non formal; dan Meningkatkan kualitas permukiman.

d. Strategi untuk menyediakan rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah meliputi :

1. Mendata masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki tempat tinggal dan penduduk yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan di sekitar sempadan pantai dan kawasan lainnya

2. Menyediakan lahan untuk pembangunan rumah susun;

3. Mengembangkan jaringan jalan menuju ke lokasi rumah susun dan jalan lingkungan;

4. Menyediakan kebutuhan air bersih dan listrik untuk masyarakat yang akan menghuni rumah susun; dan

5. Merelokasi penduduk di sekitar bantaran sungai dan sekitar sempadan pantai ke rumah susun yang telah disediakan

(33)

4) Bagi pengembang perumahan besar dengan luas pengembangan lahannya > 25 Ha, diharapkan mencari titik-titik lokasi sumber air. Dimana dalam pengelolaan sumber air tersebut dilakukan oleh PDAM Kabupaten Pasaman Barat dengan pengembang perumahan. Lokasi-lokasi sumber air tersebut yang berada di kawasan pengembangan perumahan, sebaiknya dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Fasilitas Umum (Fasum). Pengembangan kawasan perumahan khususnya perumahan kapling kecil diharuskan membangun dengan type 36 dan luas lahan minimal 90 m².

Bagi pengembang diwajibkan untuk membangun prasarana dasar berupa jalan dan drainase pada setiap kawasan perumahan yang di bangunnya. Lokasi permukiman perkotaan diarahkan keSimpang Ampek, Ujuang Gadiang, Kinali, Sasak, Silapiang, Simpang Tiga Alin, Parit dan Koto Dalam dengan luas 3.375 Ha (tiga ribu tiga ratus tujuh puluh lima hektar). Hal ini juga guna mengantisipasi banyaknya korban jika terjadi bencana tsunami sehingga perumahan diarahkan jauh dari daerah pantai. Dan pengembangan permukiman pedesaan diarahkan mengikiti pola pengembangan kawasan agropolitan yang terdapat di Kecamatan Lembah Malintang dan minapolitan yang terdapat di Kecamatan Sungai Beremas.

(34)

Tabel 3.11

Rencana Arahan Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Pasaman Barat

No Kecamatan

Luas Kecamatan

(Ha)

Kesesuaian Lahan Permukiman

(Ha)

%

1 Sungai Beremas 44.048 514,48 1,17

2 Ranah Batahan 35.488 473,75 1,33

3 Koto Balingka 34.078 241,01 0,71

4 Sungai Aur 42.016 419,5 1,00

5 Lembah Melintang 26.377 261,72 0,99

6 Gunung Tuleh 45.397 147,93 0,33

7 Talamau 32.424 0 0,00

8 Pasaman 50.893 724,61 1,42

9 Luhak Nan Duo 17.421 457,25 2,62

10 Sasak Ranah

Pasisia 12.371 0 0,00

11 Kinali 48.264 135,16 0,28

Jumlah 387.777 3.375 9,86

Sumber: RP4D Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2013

(35)
(36)

II. Rencana Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan dan Permukiman Pada Kawasan Kumuh

Rencana peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :

1. Rehabilitasi

Yaitu memperbaiki bangunan rumah yang lama yang tidak dihuni dan untuk dihuni lagi sebagai tempat tinggal, tanpa merubah dan menambah fisik dan luas ruangan yang telah ada dan menggunakan lahan-lahan yang tidak subur/produktif untuk perumahan.

2 Revitalisasi

Dimaksudkan untuk meningkatkan nilai kesejarahan rumah agar tidak hilang setelah adanya penggantian penghuni. Revitalisasi dilakukan pada kawasan permukiman yang mempunyai nilai strategis sehingga diharapkan akan memberikan nilai tambah secara ekonomi, sosial maupun estetika.

3. Peremajaan dan Relokasi

Peningkatan kualitas permukiman melalui peremajaan dimaksudkan untuk meremajakan suatu kawasan permukiman yang telah menjadi kumuh melalui penataan kembali (melakukan pembongkaran total) permukimannya agar diperoleh ruang luar yang diinginkan dan peningkatan fisik kondisi permukiman yang jauh lebih baik.

Program Peningkatan kualitas lingkungan yang dapat dilaksanakan antara lain: a. Program Peremajaan Kampung (Urban Housing Renewal)

b. Program Perbaikan Kampung (KIP/P2LPK), yang dikenakan pada lokasi permukiman kumuh yang tidak terlalu parah, pada desa-desa dengan kepadatan bangunan diatas 20 bangunan /Ha

c. Program Squatters (Kumuh Ilegal)

(37)

dilakukan relokasi pada kawasan permukiman baru yang sesuai dengan kemampuan mereka

d. Revitalisasi kawasan permukiman di sekitar kawasan rawan bencana

Pada tahap rencana peningkatan kualitas lingkungan perumahan ini ditujukan pada semua kelurahan di wilayah perencanaan, berupa rencana-rencana perbaikan infrastruktur yaitu :

1. Perbaikan/pembuatan jalan 2. Pangadaan air bersih

3. Perbaikan/pembuatan saluran sanitasi 4. Pangadaan tempat dan pengelolaan sampah 5. Pangadaan penerangan umum

6. Pengadaan dan perbaikan MCK

Rencana peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman di kawasan perencanaan merupakan upaya peningkatan infrastruktur.

Di Kabupaten Pasaman Barat ada beberapa lokasi yang perlu peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman yaitu perumahan kumuh yang tersebar di beberapa kecamatan. Bahkan telah ada Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pasaman Barat berdasarkan Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor No.188.45/838/BUP-PASBAR/2014. Untuk lebih jelasnya mengenai Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pasaman Barat berdasarkan Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor No.188.45/838/BUP-PASBAR/2014 dapat dilihat pada Tabel 3.12.

Tabel 3.12

Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2016

No Lokasi Luas (Ha)

Lingkup Adiminstrattif Jumlah Rumah Tangga Jorong Nagari Kecamatan

1 Kampung Mudiak

Simpang 3.00 Mudiak Simpang Kajai Talamau 292

2 Kampung Tanjuang

(38)

3 Kampung Baru 2.00 Rimbo Batu Kajai Talamau 152

4 Kampung Air Bayang 3.70 Koto Pinang Ujung Gading Lembah Melintang 277

5 Kampung Lambah 2.40 Pasar Lama Ujung Gading Lembah Melintang 60

6 Kampung Kaledek 4.30 Irian Ujung Gading Lembah Melintang 220

7 Ampung Botong 1.50 Bandar Rabi Jonggor Gunung Tuleh 103

8 Dusun II 3.00 Paraman Ampalu Rabi Jonggor Gunung Tuleh 128

9 Rantau Panjang 1.00 Sungai Magelang Rabi Jonggor Gunung Tuleh 40

10 Kampung Tangah 2.70 Sudirman Muaro Kiawai Gunung Tuleh 120

11 Pisang Hutan 8.00 Pisang Hutan Sasak Sasak ranah

20 Kampung Pantai

Indah 3.00 Maligi Sasak

24 Kampuang Kalijero 1.15 Mulyorejo Desa baru Ranah Batahan 70

25 Kampung Tempel 1.84 Mulyorejo Desa baru Ranah Batahan 120

26 Pasir Panjang 2.00 Sikilang Sungai Aua Sungai Aua 168

27 Kampung Aur 1.50 Sikilang Sungai Aua Sungai Aua 128

28 Koto Dalam 2.50 Koto Dalam Sungai Aua Sungai Aua 240

29 Pematang Sontang 3.00 Pematang

Sontang Sungai Aua Sungai Aua 232

30 Pasar Baru Barat 2.50 Pasar Baru Barat Aia Bangih Sungai Beremas 284

31 Kampung padang

Selatan 2.50

Kampung

padang Selatan Aia Bangih Sungai Beremas 192

32 Belakang Mesjid

Nurul Iman 1.50 Durian Hutan Pasaman Pasaman 86

33 Kawasan Belakang

(39)

34 Kawasan Simpang

Gersindo 1.00 Labuih Luruih Pasaman Pasaman 46

35 Kawasan Lubuak

Landua 4.50 Lubuak Landua Pasaman Pasaman 160

36 Belakang SD Batang

Umpai 2.00 Batang Umpai Pasaman Pasaman 68

37 Belakang Pasar

Batang Lingkin 2.00 Batang Lingkin Pasaman Pasaman 51

TOTAL 121.89

Sumber : Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor 188.45/838/BUP-PASBAR/2014

Selain itu kawasan yang perlu peningkatan adalah kawasan perumahan dan permukiman sepanjang pesisir pantai. Kawasan pesisir pantai wilayah Kabupaten Pasaman Barat sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kawasan permukiman beserta fasilitasnya mencapai 60% dari panjang pantai yang ada. Permukiman di sepanjang pantai dapat dikelompokan menjadi dua (2), yaitu: permukiman yang padat terdapat di Kecamatan Sungai Beremas, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie dan Kecamatan Kinali; dan permukiman yang kurang padat berada pada Kecamatan Koto Balingka, dan Kecamatan Lembah Malintang. Di kawasan permukiman sepanjang pesisir pantai ini belum dilengkapi dengan prasarana sarana dan utilitas penunjang perumahan dan permukiman yang layak seperti sanitasi, persampahan dan lain sebagainya.

Keterpaduan penanganan lingkungan kumuh mempunyai implikasi efisiensi dan efektifitas dalam pola pendanan, materi penanganan, lokasi kumuh, waktu penanganan yang tepat sesuai kebutuhan masyarakat. Pola penganan lingkungan kumuh yang serius dan terpadu di tawarkan dengan tiga modal utama yaitu:

1. Adanya kelembagaan yang baik

2. Keterbukaan dan partisipasi masyarakat yang makin menyatu

(40)
(41)

Penanganan kawasan kumuh dapat dilakukan dengan cara:

1. Melakukan pendekatan penataan kawasan kumuh dengan peningkatan mutu secara kualitatif

2. Peningkatan mutu hidup dan kualitas lingkungan perumahan melalui daya kreasi manusia dan daya dukung yang lestari

3. Peningkatan ekonomi agar lebih banyak peluang usaha dan kesempatan kerja

III. Rencana Penataan Perumahan dan Permukiman Pada Kawasan Lindung, Kawasan Rawan Bencana dan Kawasan Pertanian

Pada kawasan rawan bencana, pola pengelolaan kawasan dilakukan melalui pengaturan kegiatan manusia di kawasan rawan bencana alam untuk melindungi manusia dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia.Tujuan dari pengaturan kegiatan manusia di kawasan rawan bencana longsor adalah mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan serta menghindari berbagai usaha dan/atau kegiatan di kawasan rawan bencana.

Upaya-upaya yang harus diterapkan pada tahap pemanfaatan ruang sebagai upaya pencegahan bencana alam banjir di wilyah perencanaan adalah sebagai berikut:

(1) Membatasi Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Sekitar Kawasan Lindung

Berdasarkan arahan RTRW Kabupaten Pasaman Barat 2011-2031, arahan kawasan lindung di Kabupaten Pasaman Barat terdiri dari:

1. Cagar Alam 2. Kawasan Gambut 3. Kawasan Hutan Bakau 4. Kawasan Lindung

5. Kawasan Sempadan Pantai 6. Kawasan Sempadan Sungai

(42)

Tabel 3.13

Kawasan Lindung di Kabupaten Pasaman Barat

No Kawasan

1 Cagar Alam 8,31 KecamatanPasaman dan GunungTalamau 2 Kawasan

Gambut

11.853 Kecamatan Sungai Beremas, Koto Balingka, Lembah Melintang, Sungai Aua, Gunuang Tuleh, Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, Luhak Nan Duo dan Kinali

3 Kawasan Hutan Bakau

422 Kecamatan Sungai Beremas, Koto Balingka, Sungai Aua

4 Kawasan Hutan Lindung

7.922 Kecamatan Sungai Beremas, Ranah Batahan, Koto Balingka, Sungai Aua, Lembah Melintang, Gunuang Tuleh, Talamau, Pasaman, Luhak Nan Duo, Sasak Ranah Pasisie dan Kinali

5 Sempadan Pantai

377 Kecamatan Sungai Baremas, Sasak Ranah Pasisie, dan Kinali

6 Sempadan Sungai

112 seluruh aliran sungai yang ada di kabupaten, baik yang mengalir di kawasan permukiman maupun di luar kawasan permukiman, meliputi Batang Gasang, Batang Kinali, Mandiangin, Sialang, Bayur, Pasaman, Sikilang dan Aia Bangih

Sumber :RTRW Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2011 - 2031

Permukiman yangsudah terbangun di dalam kawasan lindungsebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankandengan ketentuan :

1. diperbolehkan dengan syarat tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimum 20%, dan KLB maksimum 40%);

2. diperbolehkan dengan syarat perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi; dan

3. diperbolehkan dengan syarat dalam kawasan lindung wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.

(2) Membatasi Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kawasan Bencana

a. Kawasan Rawan Tanah Longsor

(43)

kategori tanah dengan erosi tingkat tinggi meliputi di Kecamatan Gunung Tuleh, Talamau, Pasaman, Luhak Nan Duo dan Kinali.Khusus untuk Kecamatan Gunung Tuleh lebih disebabkan jenis batuan yang mempunyai porositas tinggi berupa batu gamping. Kawasan dengan erosi sedang adalah kawasan perbukitan yang berada di bagian utara dan timur wilayah Pasaman Barat yang meliputi Kecamatan Sungai Beremas, Ranah Batahan, Koto Balingka, Lembah Melintang, Sungai Aua, Gunung Tuleh, Talamau, Pasaman, Luhak Nan Duo dan Kinali.

b. Kawasan Rawan Gelombang Pasang

Sebagaimana diketahui bahwa sepanjang barat pantai Sumatera merupakan merupakan kawasan rawan gelombang pasang. Kawasan ini meliputi Kecamatan Sungai Beremas, koto Balingka, Sungai Aua, Sasak Ranah Pasisie, Luhak Nan Duo dan Kinali.

c. Kawasan Rawan Banjir

(44)

sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang memiliki potensial materialnya berupa pasir dan kerikil yang masih segar atau belum mengalami pelapukan. Kawasan yang teridentifikasi rawan terhadap banjir di Kabupaten Pasaman Barat yaitu Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kecamatan Pasaman, Kecamatan Luhak Nan Duo, Lembah Malintang (Simpang Sayur – Koto Balingka) tepatnya di Jorong Koto Sawah dan Gunung Tuleh.

d. Kawasan Bahaya Tsunami

Berdasarkan kriteria diatas, maka zona kerawanan tsunami meliputi kecamatan-kecamatan berikut.

 Zona Kerawanan tinggi, meliputi : Kecamatan Sei Beremas bagian timur, Kecamatan Koto Balingka, Kecamatan sungai Aua, Sasak ranah Pasisie, Luhak Nan Duo dan Kinali

 Zona Kerawanan menengah,meliputi :Kecamatan Sei Beremas, Koto Balingka, Sungai Aua, Sasak Ranah Pasisie dan Kinali.

 Zona kerawanan rendah,meliputi : Kecamatan Sei Beremas, Koto Balingka, Sungai Aua dan Kinali.

e. Bahaya Gempa

Gerakan Tanah; berdasarkan peta gerakan tanah, dimana intensitas gerakan dikelompokkan menjadi tiga zona kerentanan gerakan tanah, yaitu :

 Zona gerakan kerentanan gerakan tanah tinggi berada di bagian utara Kecamatan Ranah Batahan, Koto Balingka, Lembah Melintang, Sungai Aua, ssebagian besar Kecamatan Gunung Tuleh, seluruh kecamatan Talamau, bagian timur Kecamatan Pasaman, Luhak Nan Duo dan bagian utara Kecamatan Kinali.

 Zona gerakan kerentanan gerakan tanah sedang meliputi Kecamatan Sei Beremas, Ranah Batahan, Koto Balingka, Sungai Aua dan sebagian kecil Kecamatan Gunung Tuleh

(45)

f. Patahan

Di kebupaten Pasaman Barat terdapat patahan aktif dan patahan pasif. Patahan ini akan menimbulkan kerusakan bangunan di atasnya bila terjadi gempa. Untuk jalur patahan aktif minimal harus disediakan sempadan 200 meter kiri kanan patahan.Sedangkan areal yang juga tidak kalah berbayahanya adalah areal pertemuan antar patahan yang belum tersambung.Adapun kawasan yang dilalui oleh patahan aktif di bagian utara wilayah Kabupaten Pasaman Barat yang sebagian besar berada pada kawasan lindung atau yang harus di konservasi karena mempunyai kelerengan diatas 40%. Patahan diluar kawasan lindung terdapat di bagian barat Kecamatan Sei Beremas, dan itupun merupakan patahan pasif.

Perkembangan kawasan permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan rawan bencana alamharus dibatasi dan diterapkan peraturan bangunan (buildingcode) sesuai dengan potensi bahaya/ bencan aalam,serta dilengkapi jalur evakuasi;

(46)
(47)
(48)

3.2.2 Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM)

I. Rencana Sistem Pelayanan

A. Pengembangan Wilayah Pelayanan

Dalam mengembangkan sistem, disamping jumlah penduduk dan kepadatannya per wilayah pengembangan, keberadaan sumber air baku potensial juga memegang peranan penting. Pemanfatan sumber air baku yang lebih dekat dengan daerah pengembangan pelayanan akan membentuk sistem yang efisien, demikian pula pendekatan penentuan wilayah pengembangan pelayanan. Berbagai cara pendekatan digunakan untuk memprediksi perkembangan suatu daerah guna mengantisipasi arah pembangunan sarana prasarana wilayah agar pemanfaatan sumber daya yang tersedia lebih efisien.

Sistem eksisting telah terbentuk dengan pola yang kurang menguntungkan atau sudah perlu dibenahi, mengingat perkembangan wilayah kabupaten yang semakin pesat. Permasalahan menjadi lebih kompleks, mengingat daerah pelayanan PDAM Kabupaten Pasaman Barat, sekarang mencakup 11 (sebelas) wilayah administratif kecamatan.

Dari berbagai perbedaan dan kesamaan karakter daerah, dibuat parameter untuk menentukan zoning pengembangan daerah pelayanan air minum, dimana parameternya adalah :

1. Tingkat kepadatan penduduk

2. Posisi letak ketinggian rata-rata dari muka laut

3. Peruntukan pengembangan daerah perkotaan sesuai fungsi 4. Penyelarasan pemanfaatan sumber air baku potensial 5. Aksesibilitas terhadap sistem eksisting

(49)

Dalam mengembangkan sistem, disamping jumlah penduduk dan kepadatannya per wilayah pengembangan, keberadaan sumber air baku potensial juga memegang peranan penting. Pemanfatan sumber air baku yang lebih dekat dengan daerah pengembangan pelayanan akan membentuk sistem yang efisien, demikian pula pendekatan penentuan wilayah pengembangan pelayanan. Berbagai cara pendekatan digunakan untuk memprediksi perkembangan suatu daerah guna mengantisipasi arah pembangunan sarana prasarana wilayah agar pemanfaatan sumber daya yang tersedia lebih efisien.

B. Tingkat Pelayanan

Dalam menentukan tingkat pelayanan, digunakan kriteria sebagai berikut :

a. Diasumsikan bahwa target pelayanan adalah cakupan pelayanan air minum sebesar 80 % dari jumlah penduduk pada Tahun 2015 sesuai target MDGs (Millennium Development Goals) dengan jenis pelayanan sistem perpipaan.

b. Penentuan jenis pelayanan air minum dilaksanakan pertama-tama dengan melihat sumber air individual. Jika sumber air tersebut dapat dimanfaatkan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya (ketersediaannya sepanjang waktu), maka daerah tersebut dapat dilayani dengan sistem perpipaan. Bila terdapat beberapa daerah yang mempunyai kesulitan untuk mendapatkan sumber air individual, maka dilakukan pelayanan dengan sistem regional atau sistem air tanah dalam.

c. Kondisi air yang dapat dipergunakan tersebut harus memenuhi syarat-syarat minimal, yaitu :

 Tidak mengandung unsur-unsur yang dapat menyebabkan pemakai sakit atau bahkan meninggal.

 Tingkat keasaman, pH antara 6.5 – 9.  Tidak berasa/berbau dan jernih.

d. Tingkat konsumsi minimal untuk sistem non perpipaan sesuai standar yang berlaku yaitu sebesar 30 l/orang/hari.

(50)

II. Rencana Pengembangan SPAM

A. Rencana Tahap Pengembangan

Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut, dinilai penting mengevaluasi berbagai prasarana yang telah ada dan kemudian menetapkan berbagai program pengembangan dalam rangka menunjang peningkatan dinamika berbagai sektor. Salah satu prasarana yang vital adalah air minum.

Penyusunan Rencana Induk SPAM Kabupaten Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat didasarkan atas hasil pemilihan sistem SPAM. Penyusunan rencana pengembangan SPAM secara umum ada tiga tahap yaitu rencana induk pengembangan SPAM Jangka Pendek, Jangka Menengah dan Jangka Panjang.

a) Rencana Jangka Pendek

Rencana pengembangan jangka pendek periode waktu dua – tiga tahuan yaitu yaitu tahun 2012 sampai 2015. Rencana Induk pengembangan SPAM Jangka pendek dilakukan berbarengan dengan Penyusunan RI SPAM. Lokasi pelaksanaan pengembangan SPAM Jangka Pendek ditentukan berdasarkan studi RI SPAM yang dilaksanakan pada Tahun 2012.

b) Rencana jangka Menengah

(51)

c) Rencana Jangka Panjang

Rencana pengembangan jangka panjang periode waktu 10-15 tahun yaitu periode tahun 2015 sampai 2025/2030. Rencana Induk pengembangan SPAM Jangka panjang dilakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat 100 % dari kebutuhan air minum penduduk. Pada perencanaan ini akan dilakukan kegiatan keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi dan rencana pembiayaan dan pola investasi pengembangan SPAM.

B. Kebutuhan Air

(1) Kebutuhan Air Domestik

Kebutuhan air domestik merupakan kebutuhan air yang sangat ditentukan oleh pola konsumsi penduduk. Kebutuhan air domestrik digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dalam aktivitas atau kegiatan sehari-hari penduduk, misalnya mandi, mencuci, minum, memasak, dan sebagainya. Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan, kebutuhan air perkapita dan proyeksi waktu air akan digunakan. Kebutuhan air domestik terdiri atas sambungan langsung dan hidran umum. Kebutuhan air domestik dalam Sistem Penyediaan Air Minum Kabupaten Pasaman Barat dapat dilihat pada Tabel 3.14 di bawah ini.

Tabel 3.14

Kebutuhan Air Domestik Kabupaten Pasaman Barat

Gambar

Gambar 3.1 Arahan Cipta Karya 2015-2019
Tabel 3.1  Pendekatan Pembangunan Bidang Cipta Karya
Tabel 3.2.
Tabel 3.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sama halnya dengan Pengajar admin memiliki beberapa fitur yang dapat melakukan pembuatan tugas, pengumuman, dan materi tetapi admin memiliki wewenang untuk

Berdasarkan pernyataan diatas dapat kita lihat kembali bahwa anak-anak dengan gangguan autis mengalami kesulitan untuk membangun relasi dan bekerjasama dengan

Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan sentra industri pengrajin sepatu Krian menjadi salah satu desa wisata industri yang ada di Sidoarjo, sehingga untuk mendukung hal

Jika informasi mengenai peraturan lainnya yang berlaku belum tersedia di bagian lain dalam lembaran data keselamatan bahan ini, maka hal ini akan dijelaskan dalam bagian ini.

NO MAHASISWA TIM PENGUJI JUDUL TUGAS AKHIR WAKTU RUANG HARI/TGL KODE. Cindria Ayudita Pembimbing 1 :

Sales promotion kartu kredit yang memiliki cara pandang optimistis akan memandang suatu penolakkan yang diterima dari calon nasabahnya adalah karena calon nasabahnya

Dalam penyusunan ini, objek penelitian yang dipilih adalah Toko Bangunan MAKMUR REZEKI yang beralamat di JL.Cemara Raya No 6 Banyumanik Semarang. Adapun data yang

Sidang Dewan Yang Terhormat, Hadirin Para Sahabat Yang Berbahagia Terhadap 3 Rancangan Peraturan Daerah yang menjadi tugas dari Pansus 2 DPRD Kabupaten Sumbawa, dapat