• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Beberapa kasus terjadinya kecelakaan di tempat kerja sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Hal demikian bisa muncul karena adanya keterbatasan fasilitas keselamatan kerja, juga karena kelemahan pemahaman faktor-faktor prinsip yang perlu diterapkan perusahaan. Selain itu setiap upaya yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja hanya akan berhasil jika kedua pihak yaitu perusahaan dan karyawan melakukan kerjasama sinergis dan harmonis. Setiap pelaku harus bertekad dan berdisiplin memperkecil terjadinya kecelakaan kerja.

Menurut Mondy (2008) keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Sedangkan kesehatan kerja adalah kebebasan dari kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres emosi atau gangguan fisik.

K3 difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah

(2)

suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. K3 tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja (Poewanto, dkk. 2005)

2.1.1. Sebab-sebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan dalam melihat atau berjalan mencapai suatu yang jatuh di atas sebuah tangga. Hal tersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan atau buruh.

Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan, ventilasi yang memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan pekerja, pelindung mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti helm dan gudang yang kurang baik.

(3)

satu saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk tingkat efektivitas maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan peralatan keselamatan.

2.1.2. Faktor-Faktor Kecelakaan

Studi kasus menunjukkan hanya proporsi yang kecil dari pekerja sebuah industri terdapat kecelakaan yang cukup banyak. Pekerja pada industri mengatakan sebagai kecenderungan kecelakaan. Untuk mengukur kecenderungan kecelakaan harus menggunakan data dari situasi yang menunjukkan tingkat resiko yang ekivalen.

Begitupun, pelatihan yang diberikan kepada pekerja harus dianalisa, untuk seseorang yang berada di kelas pelatihan kecenderungan kecelakaan mungkin hanya sedikit yang diketahuinya. Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab ialah apakah ada hubungan yang signifikan antara kecenderungan terhadap kecelakaan yang kecil atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering dilakukan untuk seorang manager untuk salah satu faktor kecelakaan terhadap pekerja adalah dengan tidak membayar upahnya. Bagaimanapun jika banyak pabrik yang melakukan hal diatas akan menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan, dan tidak membayar upah pekerja akan membuat pekerja malas melakukan pekerjaannya dan terus membahayakan diri mereka ataupun pekerja yang lain. Ada kemungkinan bahwa kejadian secara acak dari sebuah kecelakaan dapat membuat faktor-faktor kecelakaan tersendiri (Poewanto, dkk. 2005).

2.1.3. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

(4)

beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja (Poewanto, dkk. 2005).

2.2. Alat Perlindungan Diri (APD)

2.2.1. Pengertian Alat Pelindung Diri (APD)

Menurut Tarwaka (2008) APD merupakan suatu perangkat yang

digunakan oleh pekerja demi melindungi dirinya dari potensi bahaya serta kecelakaan kerja yang kemungkinan dapat terjadi di tempat kerja. Penggunaan

APD oleh pekerja saat bekerja merupakan suatu upaya untuk menghindari paparan risiko bahaya di tempat kerja. Walaupun upaya ini berada pada tingkat pencegahan terakhir, namun penerapan alat pelindung diri ini sangat dianjurkan

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No: Per.08/MEN/VII/2010 Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat

APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja (Silaban, 2012)

APD digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja dari potensi bahaya yang ada apabila pengendalian engineering dan administrative

(5)

dengan bahaya. Sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja, APD haruslah enak dipakai, tidak mengganggu kerja dan memberikan perlindungan yang efektif terhadap bahaya. Pemakaian APD mempunyai

kelemahan antara lain kemampuan perlindungan yang tidak sempurna karena memakai APD yang tidak tepat, cara pemakaian APD yang salah, APD tidak

memenuhi syarat yang diperlukan (Nedved dalam Wibowo, 2010).

2.2.2. Pemakaian Alat Pelindung Diri

Salah satu sebab terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja, disebabkan oleh kurangnya kesadaran komikment pimpinan perusahaan dalam menciptakan kondisi lingkungan kerja yang aman dan sehat, menyediakan alat-alat kerja, ruang kerja yang tidak memadai dan mengandung bahaya resiko kecil, tidak tepatnya pemilihan mesin dengan rancangan bangunan yang sesuai dengan kondisi tenaga kerja Indonesia. Memasyarakatkan penggunaan alat pelindung diri dikalangan perusahaan akan menciptakan suatu keadaan dimana nilai-nilai bekerja dalam rangka mempertinggi derajat kesehatan seoptimal mungkin bagi pekerja. Meningkatkan derajat kesehatan para pekerja juga akan meningkatkan produktifitas kerja yang mempengaruhi kesejahteraan pekerja (Endayana, 2010).

Menurut Endayana (2010) beberapa keuntungan terhadap penggunaan APD diantaranya adalah:

1. Bagi Perusahaan

(6)

b. Penghematan biaya terhadap pengeluaran biaya pengobatan serta pemeliharan kesehatan kerja.

c. Menghindari hilangnya jam kerja akibat absenteisme tenaga kerja, sehingga dapat tercapainya produktivitas yang tinggi dengan efesiensi yang optimal.

2. Bagi Tenaga kerja

a. Menghindarkan diri dari resiko pekerjaan seperti penyakit-peyakit akibat kerja, atau kelelahan fisik serta mental.

b. Keuntungan bagi perusahaan sekaligus juga dapat membawa perbaikan kesejahteraan pekerjaan.

3. Bagi masyarakat dan pemerintah

a. Meningkatkan hasil produksi akan menjamin perekonomian negara serta jaminan yang memuaskan bagi masyarakat.

b. Menjamin kesejahteraan masyarakat pekerja mengandung makna melindungi sebagian penduduk Indonesia dan membantu usaha-usaha kesehatan pemerintah.

c. Kesejahteraan pekerja berarti dapat menjamin kesejahteraan keluarganya yang baik secara langsung akan membantu ke arah pembentukan masyarakat sejahtera.

(7)

2.2.3. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD)

Jenis dan fungsi alat pelindung diri menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 dalam Silaban (2012) adalah sebagai berikut:

1. Alat pelindung kepala

Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim. Jenis Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain.

2. Alat Pelindung Mata Dan Muka

Alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan di badan air, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam. Jenis Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles), goggles, tameng muka (face shield), masker selam, tameng muka dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face masker).

3. Alat Pelindung Telinga

(8)

pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (ear muff).

4. Alat Pelindung Pernapasan Beserta Perlengkapannya

Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas/ fume, dan sebagainya. Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari masker, respirator, katrit, kanister, dan lain sebagainya.

5. Alat Pelindung Tangan

Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik. Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan kimia.

6. Alat Pelindung Kaki

(9)

kerja yang basah atau licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau bahaya binatang dan lain-lain.

7. Pakaian Pelindung

Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur panas atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda-benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan (impact) dengan mesin, peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikro-organisme patogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur. Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (Vests), celemek (Apron/Coveralls), Jacket, dan pakaian pelindung yang menutupi sebagian atau seluruh bagian badan.

8. Alat Pelindung Jatuh Perorangan

Alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai potensi jatuh atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang diinginkan dalam keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar. Jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman (safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun (decender), alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan lain-lain.

9. Pelampung

(10)

(negative buoyant) atau melayang (neutral buoyant) di dalam air. Jenis pelampung terdiri dari jaket keselamatan (life jacket), rompi keselamatan ( life vest), rompi pengatur keterapungan (Bouyancy Control Device).

2.3. Faktor-Faktor Penggunaan APD

Faktor-faktor yang berhubungan penggunaan Alat Pelindung Diri dapat dihubungkan dengan berbagai teori yang ada terutama teori perlaku Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2012) yang menyebutkan bahwa perilaku kesehatan sebagai suatu respons seseorang terhadap stimulus berkaitan dengan sakit, penyakit, sistem kesehatan, makan dan minuman serta lingkungan. Selanjutnya Notoatmodjo (2012) menyebutkan banyak teori tentang perilaku. Dalam bidang perilaku kesehatan, teori Lawrence Green adalah salah satu teori perilaku kesehatan yang sering menjadi acuan dalam penelitian kesehatan.

Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2010) menyebutkan bahwa faktor perilaku yang dihubungan dengan teori Silaban (2012) tentang penggunaan Alat Pelindung Diri dapat dihubungkan dengan 3 faktor utama yaitu:

1. Faktor Pemudah (predisposising factor) yaitu faktor-faktor yang mempermudah terjadinya tingkah laku seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya. Dalam hal berhubungan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) menurut Silaban (2012) faktor pemudah tergantung dari pengetahuan dan sikap tenaga kerja terhadap alat pelindung diri (APD).

(11)

adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan. Sedangkan dihubungan dengan penggunaan alat pelindung diri menurut Silaban (2012) faktor pemungkin adalah adalah pelatihan dan ketersediaan alat pelindung diri (APD).

3. Faktor Penguat (reinforcing factor) yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Menurut Notoatmodjo (2012) untuk memperkuat perilaku seseorang diperlukan contoh dari para tokoh masyarakat. Sedangkan menurut Silaban untuk mendorong atau memperkuat agar tenaga kerja patuh menggunakan alat pelindung diri diperlukan adanya pengawasan APD oleh pengawasan perusahaan.

Untuk melengkapi teori yang berkaitan dengan penggunaan alat pelindung diri berdasarkan teori Lawrence Green yang dihubungankan dengan penggunaan alat pelindung diri pada tenaga kerja dapat dijelaskan dalam pengertian-pengertian sebagai berikut:

2.3.1. Pengetahuan

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2010) adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung telinga, dan sebagainya). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera pengelihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang berbeda-beda yaitu tergantung dari Tahu (Know), Memahami (Comprehension), Aplikasi (Application), Analisis (Analysis), Sintesis (Synthesis) dan Evaluasi (Evaluation).

(12)

Pengetahuan adalah diperoleh setelah tenaga kerja memperoleh akses informasi K3 yang mudah dipahami oleh tenaga kerja. Untuk dapat meningkatkan pengetahuan tenaga kerja tentang penggunaan alat pelindung diri (APD), maka perusahaan dapat menyediakan informasi K3 melalui pelatihan, diskusi dan poster.

2.3.2. Sikap

Menurut Notoatmodjo (2010) sikap merupakan reaksi atau response yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Newcomb menyebutkan dalam Notoatmodjo (2010) sikap merupakan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Jadi, sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

2.3.3. Pelatihan

Menurut Silaban (2012) pelatihan adalah proses membantu orang lain untuk mendapatkan keahlian yang diperlukan guna untuk peningkatan kinerja dalam melaksanakan tugas tertentu. Pelatihan dapat memberikan seseorang pengetahuan teoritis dan praktis dasar yang diperlukan untuk dapat melakukan pekerjaan atau bidang usaha yang mereka pilih dengan baik. Pelatihan di semua tingkat harus ditekankan sebagai suatu alat untuk peningkatan kondisi kerja dan lingkungan kerja.

(13)

mengenalkan tenaga kerja tentang bahaya-bahaya di tempat kerja dan aturan serta kewajiban yang harus dilakukan untuk pencegahan kecelakaan, cidera dan penyakit akibat kerja.

2.3.4. Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD)

Ketersediaan alat pelindung diri (APD) merupakan cara terbaik untuk pencegahan terhadap bahaya keselamatan dan kesehatan kerja sebagai alternatif pengendalian terakhir atau keputusan terakhir yang diambil dalam pengendalian bahaya di tempat kerja. Dalam peraturan perundang-undangan tentang APD yaitu pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja pasal 14 sub c disebutkan bahwa pengurus perusahaan diwajibkan menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan menyediakan kepada orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut (Silaban, 2012)

Jenis APD yang dimaksud dalam pasal 3 Permenakertrans RI No: Per.08/ Men/2010 tentang Alat Pelindung Diri (APD) meliputi 9 jenis yaitu (a) Pelindung kepala (b) pelindung mata dan muka (c) pelindung telinga (d) pelindung pernapaasan beserta perlengkapannya (e) pelindung tangan (f) pelindung kaki (g) pakaian pelindung (h) alat pelindung jatuh perorangan, dan (i) pelampung.

2.3.5. Pengawasan

(14)

Teori Lawrence Gree Faktor Predisposisi Pengetahuan

Sikap Keyakinan

Karakteristik Pekerja Faktor Pendukung Pelatihan

Ketersediaan alat perlindungan diri Faktor Penguat/Pendorong Pengawasan

Kebijakan

Penggunaan Alat Perlindungan Diri APD) pengendaliannya, sehingga agar K3 dapat terlaksana dengan baik diperlukan pengawasan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

2.4. Kerangka Teori

Perilaku adalah hasil atau resultan antara stimulus (faktor eksternal) dengan respon (faktor internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut. Dalam bidang kesehatan ada teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian-penelitian kesehatan masyarakat. Teori tersebut adalah teori Lawrence Green. Adapun kerangka teori mengenai penggunaan APD dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.1. Kerangka Teori

(15)

Penggunaan APD Pengetahuan

Sikap

Pelatihan

Ketersediaan APD

Pengawasan

2.5. Kerangka Konsep

Berdasarkan teori yang dikemukakan Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) tentang perilaku kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan alat pelindung diri pada pekerja, maka peneliti menitikberatkan pada faktor pengetahuan, sikap, pelatihan, ketersediaan APD dan pengawasan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari variabel independen dan dependen yang tergambar pada skema dibawah ini :

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Teori
Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan kriteria diterima atau ditolaknya hipotesis maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa menerima hipotesis yang diajukan terbukti atau dengan kata lain variabel

Project : Embankment Rehabilitation and Dredging Work of West Banjir Canal and Upper Sunter Floodway of Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP/JEDI) – ICB Package

Sedangkan penelitian ini menggunakan variabel dependen manajemen laba dan variabel independen asimetri informasi serta sampel yang digunakan perusahaan perbankan

Untuk tujuan ini, baik Fakultas maupun Sekolah menyediakan sumber daya akademik maupuan sumber daya pendukung akademik (laboratorium, studio, perpustakaan), bukan

(2) Dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 50 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah dari NJOP yang

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Pengembangan media pembelajaran papan analisis

Pada bagian tubuh manakah saudara merasakan keluhan nyeri/panas/kejang/mati4. rasa/bengkak/kaku/pegal?.. 24 Pergelangan

Edukasi pada program acara Asyik Belajar Biologi dalam Mata Pelajaran. IPA