• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Kelembagaan Kabupaten Bungo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Aspek Kelembagaan Kabupaten Bungo"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dalam pembangunan prasarana bidang Cipta Karya, untuk mencapai hasil

yang optimal diperlukan kelembagaan yang dapat berfungsi sebagai motor

penggerak RPI2-JM Bidang Cipta Karya agar dapat dikelola dengan baik dan

dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kelembagaan dibagi dalam 3 komponen utama, yaitu organisasi, tata

laksana dan sumber daya manusia. Organisasi sebagai wadah untuk melakukan

tugas dan fungsi yang ditetapkan kepada lembaga; tata laksana merupakan

motor yang menggerakkan organisasi melalui mekanisme kerja yang

diciptakan; dan sumber daya manusia sebagai operator dari kedua komponen

tersebut. Dengan demikian untuk meningkatkan kinerja suatu lembaga,

penataan terhadap ketiga komponen harus dilaksanakan secara bersamaan dan

sebagai satu kesatuan.

10.1 Arahan Kebijakan Kelembagaan Bidang Cipta Karya

Beberapa kebijakan berikut merupakan landasan hukum dalam

pengembangan dan peningkatan kapasitas kelembagaan bidang Cipta Karya

pada pemerintahan kabupaten/kota.

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah

Dalam UU 23/2014 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah mengatur

dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan menjalankan otonomi

seluas-luasnya, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

pelayanan umum, dan daya saing daerah. Untuk membantu Kepala

Daerah dalam melaksanakan otonomi, maka dibentuklah organisasi

perangkat daerah yang ditetapkan melalui Pemerintah Daerah.

Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi

adalah adanya urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi

tersendiri. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya

mempertimbangkan faktor kemampuan keuangan, kebutuhan daerah,

cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan, jenis

(3)

kepadatan penduduk, potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang

akan ditangani, dan sarana dan prasarana penunjang tugas. Oleh karena itu,

kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah

tidak senantiasa sama atau seragam.

2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan

PP tersebut mencantumkan bahwa bidang pekerjaan umum merupakan

bidang wajib yang menjadi urusan pemerintah daerah, dan pemerintah

berkewajiban untuk melakukan pembinaan terhadap pemerintah

kabupaten/kota.

PP 38/2007 ini juga memberikan kewenangan yang lebih besar kepada

Pemerintah Kabupaten/Kota untuk melaksanakan pembangunan di Bidang

Cipta Karya. Hal ini dapat dilihat dari Pasal 7 Bab III, yang berbunyi:

“(1) Urusan wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) adalah

urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan

daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, berkaitan

dengan pelayanan dasar. (2) Urusan wajib sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) meliputi: antara lainnya adalah bidang pekerjaan umum”.

Dari pasal tersebut, ditetapkan bahwa bidang pekerjaan umum merupakan

bidang wajib yang menjadi urusan pemerintah daerah, sehingga penyusunan

RPI2-JM bidang Cipta Karya sebagai salah satu perangkat pembangunan

daerah perlu melibatkan Pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah

kabupaten/kota.

3. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 2007 tentang

Organisasi Daerah

Berdasarkan PP 41 tahun 2007, bidang PU meliputi bidang Bina Marga,

Pengairan, Cipta Karya dan Penataan Ruang. Bidang PU merupakan

perumpunan urusan yang diwadahi dalam bentuk dinas. Dinas ditetapkan

terdiri dari 1 sekretariat dan paling banyak 4 bidang, dengan sekretariat

terdiri dari 3 sub-bagian dan masing-masing bidang terdiri dari paling

(4)

Gambar. X.1.

Keorganisasian Pemerintah Kabupaten/Kota

4. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN

2015-2019

Dalam Buku I Bab II Perpres ini dijabarkan tentang upaya untuk

meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi diperlukan

adanya upaya penataan kelembagaan dan ketalalaksanaan, peningkatan

kualitas sumber daya manusia aparatur, pemanfaatan teknologi informasi

dan komunikasi, penyempurnaan sistem perencanaan dan penganggaran,

serta pengembangan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dan

aparaturnya.

Untuk mendukung penataan kelembagaan, secara beriringan telah

ditempuh upaya untuk memperkuat aspek ketatalaksanaan di lingkungan

instansi pemerintah, seperti perbaikan standar operasi dan prosedur (SOP)

dan penerapan e-government di berbagai instansi. Sejalan dengan

pengembangan manajemen kinerja di lingkungan instansi pemerintah,

seluruh instansi pusat dan daerah diharapkan secara bertahap dalam

memperbaiki sistem ketatalaksanaan dengan menyiapkan perangkat SOP,

mekanisme kerja yang lebih efisien dan efektif, dan mendukung upaya

(5)

5. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand

Design Reformasi Birokrasi 2010-2025

Tindak lanjut dari Peraturan Presiden ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengusulan, Penetapan,

dan Pembinaan Reformasi Birokrasi pada Pemerintah Daerah. Berdasarkan

peraturan menteri ini, reformasi birokrasi pada pemerintah daerah

dilaksanakan mulai tahun 2012, dengan dilakukan secara bertahap dan

berkelanjutan sesuai dengan kemampuan pemerintah daerah. Permen ini

memberikan panduan dan kejelasan mengenai mekanisme serta prosedur

dalam rangka pengusulan, penetapan, dan pembinaan pelaksanaan

reformasi birokrasi pemerintah daerah.

Upaya pembenahan birokrasi di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

telah dimulai sejak tahun 2005. Pembenahan yang dilakukan adalah

menyangkut 3 (tiga) pilar birokrasi, yaitu kelembagaan, ketatalaksanaan,

dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Untuk mendukung tercapainya good governance, maka perlu dilanjutkan

dan disesuaikan dengan program reformasi birokrasi pemerintah, yang

terdiri dari sembilan program, yaitu :

1. Program Manajemen Perubahan, meliputi: penyusunan strategi

manajemen perubahan dan strategi komunikasi K/L dan Pemda,

sosialisasi dan internalisasi manajemen perubahan dalam rangka

reformasi birokrasi;

2. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan, meliputi: penataan

berbagai peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan/diterbitkan

oleh K/L dan Pemda;

3. Program Penguatan dan Penataan Organisasi, meliputi: restrukturisasi

tugas dan fungsi unit kerja, serta penguatan unit kerja yang menangani

organisasi, tata laksana, pelayanan publik, kepegawaian dan diklat;

4. Penataan Tata laksana, meliputi: penyusunan SOP penyelenggaraan

(6)

5. Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur, meliputi: penataan sistem

rekrutmen pegawai, analisis dan evaluasi jabatan, penyusunan standar

kompetensi jabatan, asesmen individu berdasarkan kompetensi;

6. Penguatan Pengawasan, meliputi: penerapan Sistem Pengendalian

Intern Pemerintah (SPIP) dan Peningkatan peran Aparat Pengawasan

Intern Pemerintah (APIP);

7. Penguatan Akuntabilitas, meliputi: penguatan akuntabilitas kinerja

instansi pemerintah, pengembangan sistem manajemen kinerja

organisasi dan penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU);

8. Penguatan Pelayanan Publik, meliputi: penerapan standar pelayanan

pada unit kerja masing-masing, penerapan SPM pada Kab/Kota.

9. Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan.

Pola pikir Reformasi Birokrasi di Kementerian Pekerjaan Umum dapat

dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar. X.2.

(7)

6. Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan

Gender dalam Pembangunan Nasional

Di dalam Inpres ini dinyatakan bahwa pengarusutamaan gender ke dalam

seluruh proses pembangunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

kegiatan fungsional semua instansi dan lembaga pemerintah di tingkat

Pusat dan Daerah. Presiden menginstruksikan untuk melaksanakan

pengarusutamaan gender guna terselenggaranya perencanaan, penyusunan,

pelaksanaan, pemantauan, evaluasi atas kebijakan dan program

pembangunan nasional yang berperspektif gender sesuai dengan bidang

tugas dan fungsi, serta kewenangan masing-masing.

Terkait PUG, Kementerian PU dan Ditjen Cipta Karya pada umumnya telah

mulai menerapkan PUG dalam tiap program/kegiatan Cipta Karya. Untuk

itu perlu diperhatikan dalam pengembangan kelembagaan bidang Cipta

Karya untuk memasukkan prinsip-prinsip PUG, demikian pula di dalam

pengelolaan RPI2-JM Bidang Cipta Karya.

7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01 Tahun 2014

Tentang Standar Pelayanan Minimum

Peraturan Menteri PU ini menekankan tentang target pelayanan dasar

bidang PU yang menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Target

pelayanan dasar yang ditetapkan dalam Permen ini yaitu pada Pasal 7 ayat 1

point c, dapat dilihat sebagai bagian dari beban dan tanggungjawab

kelembagaan yang menangani bidang ke- PU-an, khususnya untuk sub

bidang Cipta Karya yang dituangkan di dalam dokumen RPI2-JM.

Dalam Permen ini juga disebutkan bahwa Gubernur bertanggung jawab

dalam koordinasi penyelenggaraan pelayanan dasar bidang PU, sedangkan

Bupati/Walikota bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan

dasar bidang PU. Koordinasi dan penyelenggaraan pelayanan dasar Bidang

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dilaksanakan oleh instansi yang

bertanggung jawab di Bidang PU dan Penataan Ruang baik provinsi maupun

(8)

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang

Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah

Peraturan menteri ini menjadi landasan petunjuk teknis dalam penataan

perangkat daerah. Berdasarkan Permen ini dasar hukum penetapan

perangkat daerah adalah Peraturan Daerah (Perda). Penjabaran tupoksi

masing-masing SKPD Provinsi ditetapkan dengan Pergub, dan SKPD

Kab/Kota dengan Perbup/Perwali.

9. Permendagri Nomor 57 tahun 2010 tentang Pedoman Standar

Pelayanan Perkotaan

Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi pemerintah daerah sebagai

dasar untuk memberikan pelayanan perkotaan bagi masyarakat. SPP adalah

standar pelayanan minimal kawasan perkotaan, yang sesuai dengan fungsi

kawasan perkotaan merupakan tempat permukiman perkotaan, termasuk di

dalamnya jenis pelayanan bidang Cipta Karya, seperti perumahan, air

minum, drainase, prasarana jalan lingkungan, persampahan, dan air limbah.

10. Kepmen PAN Nomor 75 tahun 2004 tentang Pedoman

Perhitungan Kebutuhan Pegawai Berdasarkan Beban Kerja

Dalam Rangka Penyusunan Formasi Pegawai Negeri Sipil

Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi setiap instansi pemerintah

dalam menghitung kebutuhan pegawai berdasarkan beban kerja dalam

rangka penyusunan formasi PNS. Dalam perhitungan kebutuhan pegawai,

aspek pokok yang harus diperhatikan adalah: beban kerja, standar

kemampuan rata-rata, dan waktu kerja. Dalam keputusan ini, Gubernur

melakukan pembinaan dan pengendalian pelayanan perkotaan, sedangkan

Bupati/Walikota melaksanakan dan memfasilitasi penyediaan pelayanan

perkotaan.

Berdasarkan peraturan-peraturan di atas, maka dimungkinkan untuk

mengeluarkan peraturan daerah untuk pemantapan dan pengembangan

perangkat daerah, khususnya untuk urusan pemerintahan bidang pekerjaan

(9)

Cipta Karya. Dengan adanya suatu kelembagaan yang definitif untuk

menangani urusan pemerintah pada bidang Cipta Karya maka diharapkan

dapat meningkatkan kinerja pelayanan kelembagaan.

10.2 Kondisi Kelembagaan Saat Ini

10.2.1. Kondisi Keorganisasian Bidang Cipta Karya Kabupaten

Bungo

Kelembagaan Pemerintah Daerah yang terkait langsung dalam

penyusunan Rencana Terpadu Program Investasi Infrastruktur Jangka

Menengah (RPI2JM) Bidang Cipta Karya adalah Bidang Cipta Karya Dinas

Pekerjaan Umum Kabupaten Bungo. Menurut Peraturan Daerah No. 01 Tahun

2011 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah. Peraturan

Daerah No. 01 Tahun 2011 memuat tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi

Dinas Pekerjaan Umum yang membawahkan Bidang Cipta Karya.

Berikut Susunan organisasi Dinas Pekerjaan Umum yang didalamnya

terdapat Bidang Cipta Karya yang secara khusus menangani urusan

keciptakaryaan di Kabupaten Bungo, yang terdiri dari:

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat, membawahkan:

1. Subbagian Umum dan Kepegawaian;

2. Subbagian Keuangan; dan

3. Subbagian Program

c. Bidang Pengairan, membawahkan:

1. Seksi Perencanaan Teknik dan Bina Manfaat;

2. Seksi Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Pengairan; dan

3. Seksi Pembangunan dan Rehabilitasi Jaringan Pengairan; dan

d. Bidang Bina Marga, membawahkan:

1. Seksi Pembangunan dan Peningkatan Jalan;

2. Seksi Pembangunan dan Pemeliharaan Jembatan; dan

3. Seksi Pemeliharaan Jalan.

e. Bidang Cipta Karya, membawahkan:

1. Seksi Penyehatan Lingkungan Pemukiman Perkotaan;

(10)

3. Seksi Penyehatan Lingkungan Pemukiman Perdesaan.

f. Bidang Tata Ruang, Perumahan, dan Bangunan Gedung,

membawahkan:

1. Seksi Tata Ruang;

2. Seksi Perumahan dan Bangunan Gedung; dan

3. Seksi Pengawasan/Pengendalian.

g. UPTD; dan

h. Kelompok Jabatan Fungsional

Dari Susunan organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bungo diatas

maka akan diuraikan khusus tentang Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan

Umum Kabupaten Bungo berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2011

tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

Bungo.

Bidang Cipta Karya dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, yang berada

dibawah dan bertanggun jawab kepada Kepala Dinas melalui Sekretaris. Bidang

Cipta Karya mempunyai tugas pokok melaksanakan teknis operasional dalam

pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan permukiman perkotaan,

pengembangan air bersih dan penyehatan lingkungan perdesaan.

Untuk melaksanakan tugas, Bidang Cipta Karya mempunyai tugas dan

fungsi:

a. Penyusunan rencana dan program kerja di bidang cipta karya;

b. Penyelenggaraan penataan administrasi pengelolaan dan pengendalian

didalam pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan permukiman

perkotaan, pengembangan air bersih, dan penyehatan lingkungan

permukiman perdesaan;

c. Penyusunan perencanaan teknis pengelolaan kegiatan penyehatan

lingkungan permukiman perkotaan, pengembangan air bersih, dan

penyehatan lingkungan permukiman perdesaan;

d. Penyelenggaraan bantuan teknis, penyuluhan dan sosialisasi terhadap

pelaksanaan kegiatan kegiatan penyehatan lingkungan permukiman

perkotaan, pengembangan air bersih, dan penyehatan lingkungan

(11)

e. Penyelenggaraan koordinasi, sinkronisasi dalam pelaksanaan tugas dan

fungsi dengan instansi/lembaga terkait dari masyarakat;

f. Pembuatan laporan tahunan kegiatan bidang tugas cipta karya;

g. Pemberian saran dan pertimbangan serta menyampaikan laporan hasil

telaahan dan analisa kepada atasan sesuai dengan bidang tugas dan

fungsinya;

h. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah dan petunjuk

atasan.

Bidang Cipta Karya, membawahkan:

a. Seksi Penyehatan Lingkungan Pemukiman Perkotaan;

b. Seksi Pengembangan Air Bersih; dan

c. Seksi Penyehatan Lingkungan Pemukiman Perdesaan.

Masing-masing seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada

dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Cipta Karya. Berikut

dijelaskan tentang tugas masing-masing seksi.

Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Perkotaan mempunyai tugas

pokok melaksanakan Pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana

Penyehatan Lingkungan Permukiman Perkotaan. Untuk melaksanakan tugas,

seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Perkotaan mempunyai tugas dan

fungsi:

a. Penyusun rencana dan program kerja di bidang penyehatan lingkungan

permukiman perkotaan;

b. Pelaksanaan survei, investigasi dan pengumpulan data untuk kegiatan

sarana dan prasarana drainase, air limbah dan persampahan perkotaan;

c. Penyusun, penyiapan program dan perencanaan teknis sarana dan

prasarana penyehatan lingkungan permukiman perkotaan untuk

menciptakan kualitas lingkungan permukiman yang serasi;

d. Penyelenggaraan penataan administrasi dalam pelaksanaan kegiatan

penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman

(12)

e. Pelaksanaan pengawasan teknis dan pengendalian pelaksanaan kegiatan

penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman

perkotaan;

f. Pelaksanaan bantuan teknis pengelolaan sarana dan prasarana

penyehatan lingkungan permukiman perkotaan;

g. Pelaksanaan koordinasi, sosialisasi dan sinkronisasi pelaksanaan

kegiatan penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan

permukiman perkotaan;

h. Pembuatan laporan tahunan kegiatan bidang tugas penyehatan

lingkungan permukiman perkotaan;

i. Pemberian saran dan pertimbangan serta menyampaikan laporan, hasil

telaah dan analisa kepada atasan sesuai dengan bidang tugas dan

fungsinya;

j. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah dan petunjuk

atasan.

Seksi Pengembangan Air Bersih mempunyai tugas pokok melaksanakan

program-program pengembangan air bersih. Untuk melaksanakan tugas, seksi

pengembangan air bersih mempunyai tugas dan fungsi:

a. Penyusun rencana dan program kerja di bidang pengembangan air

bersih;

b. Pengumpulan dan pengolahan data dalam perencanaan program

kegiatan bidang pengembangan air bersih;

c. Melaksanakan pemeliharaan, pembangunan, pengawasan dan

rehabilitasi pengelolaan sarana air bersih;

d. Pelaksanaan pemantauan dan pengendalian pembangunan sarana dan

prasarana air bersih;

e. Pembinaan dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia

dibidang air bersih;

f. Membuat laporan tahunan kegiatan di bidang tugas pengembangan air

(13)

g. Pemberiaan saran dan pertimbangan serta menyampaikan laporan, hasil

telaah dan analisa kepada atasan sesuai dengan bidang tugas dan

fungsinya;

h. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah dan petunjuk

atasan.

Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Perdesaan mempunyai tugas

pokok melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana

Penyehatan Lingkungan Permukiman Perdesaan. Untuk melaksanakan tugas,

seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Perdesaan mempunyai tugas dan

fungsi:

a. Penyusun rencana dan program kerja di bidang Penyehatan Lingkungan

Permukiman Perdesaan;

b. Pelaksanaan survey, investigasi, pengumpulan data untuk program

kegiatan sarana dan prasarana Penyehatan Lingkungan Permukiman

Perdesaan;

c. Penyusunan, penyiapan program dan perencanaan teknis sarana dan

prasarana Penyehatan Lingkungan Permukiman Perdesaan untuk

menciptakan kualitas lingkungan permukiman yang sehat dan serasi;

d. Penyelenggaraan penataan administrasi dalam pelaksanaan kegiatan

penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman

perdesaan;

e. Pelaksanaan pengawasan teknis dan pengendalian pelaksanaan kegiatan

penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman

perdesaan;

f. Pelaksanaan bantuan teknis pengelolaan sarana dan prasarana

penyehatan lingkungan permukiman perdesaan;

g. Pelaksanaan koordinasi, sosialisasi dan sinkronisasi pelaksanaan

kegiatan penanganan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan

permukiman perdesaan;

h. Pembuatan laporan tahunan kegiatan bidang tugas penyehatan

(14)

i. Pemberian saran dan pertimbangan serta menyampaikan laporan, hasil

telaah dan analisa kepada atasan sesuai dengan bidang tugas dan

fungsinya;

j. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah dan petunjuk

atasan.

10.2.2. Kondisi Ketatalaksanaan Bidang Cipta Karya Kabupaten

Bungo

Sebagaimana ditetapkan dalam Program RB, penataan tata laksana

merupakan salah satu prioritas program untuk peningkatan kapasitas

kelembagaan. Tata laksana organisasi yang perlu dikembangkan adalah

menciptakan hubungan kerja antar perangkat daerah dengan menumbuh

kembangkan rasa kebersamaan dan kemitraan dalam melaksanakan beban

kerja dan tanggung jawab bagi peningkatan produktifitas dan kinerja.

Secara internal, Cipta Karya keorganisasian urusan pemerintah bidang

Cipta Karya, perlu mengembangkan hubungan fungsional sesuai dengan

kompetensi dan kemandirian dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang

untuk masing-masing bidang/seksi. Selanjutnya juga perlu dikembangkan

hubungan kerja yang koordinatif baik antar bidang/seksi di dalam

keorganisasian urusan Cipta Karya, maupun untuk hubungan kerja lintas

dinas/bidang dalam rangka menghindari tumpang tindih atau duplikasi

program dan kegiatan secara substansial dan menjamin keselarasan program

dan kegiatan antar perangkat daerah.

Prinsip-prinsip hubungan kerja yang diuraikan di atas perlu dituangkan di

dalam Peraturan Daerah tentang keorganisasian Pemerintah Kabupaten/kota,

khususnya menyangkut tupoksi dari masing-masing instansi pemerintah

bidang Cipta Karya. Selain itu, guna memperjelas pelaksanaan tugas pada setiap

satuan kerja, perlu dilengkapi dengan tata laksana dan tata hubungan kerja

antar satuan kerja, serta Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk setiap

pelaksanaan tugas, yang dapat dijadikan pedoman bagi pegawai dalam

(15)

Tabel. X.1.

Hubungan Kerja Instansi Bidang Cipta Karya

N o.

Instansi Peran Instansi dalam Pembangunan Bidang CK Unit / Bagian

yang Menangani Pembangunan

Bidang CK

1 Bappeda 1. Mengkoordinasikan penyusunan program pembangunan Infrastuktur

Bidang Cipta Karya.

2. Mempersiapkan bahan penyusunan rencana pengembangan Infrastruktur Cipta Karya.

3. Melaksanakan evaluasi pembinaan dibidang Infrastruktur Cipta Karya.

Bidang

1. menghimpun, mempelajari seluruh ketentuan perundang-undangan, pedoman, petunjuk teknis dan kewenangan Daerah di bidang Cipta Karya.

2. merumuskan kebijakan teknis di bidang Cipta Karya.

3. menginventarisir seluruh permasalahan-permasalahan di bidang Cipta Karya dan memberikan alternatif pemecahan masalah.

4. menghimpun, mengolah seluruh data dan informasi di bidang Cipta Karya.

5. menyusun rencana teknis dan program di bidang Cipta Karya. 6. melakukan pembinaan dan bimbingan teknis dalam bidang Cipta

Karya.

7. melakukan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan pengembangan, peningkatan, perbaikan sarana dan prasarana Cipta Karya.

8. melaksanakan kebijakan di bidang Cipta Karya.

9. melakukan koordinasi dengan instansi terkait di bidang Cipta Karya. 10. melaksanakan pengawasan sarana dan prasarana kawasan terbangun

dan sistim manajemen konstruksi;

11. menyusun pembinaan, pengembangan, perumahan, permukiman, perbaikan dan peremajaan lingkungan perumahan kota/desa, lingkungan perumahan pusat desa pertumbuhan permukiman serta perumahan nelayan;

12. menyiapkan rencana teknis dan program pembangunan kawasan skala besar, perumahan dan permukiman baru, memberikan komendasi perizinan pembangunan perumahan;

13. menyusun penyediaan fasilitas hunian dan Cipta Karya;

14. menyusun rencana kebijakan tata ruang dan pengembangan wilayah dalam kabupaten maupun antar kabupaten/kota;

15. melaksanakan bimbingan, pembinaan dan evaluasi terhadap staf di lingkungan Bidang Cipta Karya

1. perumusan kebijakan teknis dibidang kebersihan;

2. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang dan kebersihan;

3. pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang kebersihan; dan

Bidang Kebersihan

4 PDAM 1. Pelayanan Umum / Jasa di bidang penyediaan air minum;

2. Menyelenggarakan kemanfaatan umum penggunaan air bersih; 3. Perencanaan program di bidang air minum;

4. Operator pelaksana pelayanan dan penyediaan air minum.

(16)

10.3 Analisis Kelembagaan

Permasalahan koordinasi dan sinkronisasi dalam perencanaan,

pembangunan dan pengoperasional infrastruktur kabupaten berkaitan dengan

pengorganisasian dinas/instansi terkait. Kejelasan pembagian tugas antara

dinas/instansi sampai pada tupoksi seksi diharapkan akan mempermudah

koordinasi dan sinkronisasi perencanaan, pembangunan dan pengoperasional

infrastruktur.

Permasalahan profesionalisme sangat berkaitan dengan kemampuan

aparatur pemerintah. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan, skill dan

pengalaman. Peningkatan profesionalisme, dapat dilakukan melalui

peningkatan pengetahuan melalui studi lanjut yang relevan, pendidikan dan

pelatihan teknis. Profesionalisme aparatur pemerintah berkaitan dengan tugas

dan fungsi tertentu dalam jabatan fungsional.

Dalam penyusunan RPI2-JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Bungo,

memiliki sejumlah kekuatan yang telah ditetapkan melalui tupoksi

masing-masing dinas/instansi sehingga memiliki kejelasan peran dan pembagian kerja.

Demikian halnya dengan struktur organisasi masing-masing dinas/instansi

telah memiliki struktur yang jelas serta terdapatnya Sumber Daya Manusia yang

memiliki komitmen, motivasi dan dedikasi dalam melaksanakan tugas.

Kelemahan yang dihadapi dalam penyusunan RPI2-JM ini antara lain adalah :

1. Lemahnya koordinasi dan sinkronisasi perencanaan teknis makro antara

Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum /Cipta Karya serta dengan dinas/instansi

teknis lainnya.

2. Belum memadainya Sumber Daya Manusia yang bertugas dalam

penyusunan RPI2-JM pada masing-masing dinas/instansi di Kabupaten

Bungo ditinjau dari segi kesesuaian dengan bidang ilmu serta kuantitas

untuk melaksanakan volume pekerjaan yang terus meningkat.

3. Terbatasnya sarana dan prasarana kantor. Peluang untuk menyusun dan

melaksanakan RPI2-JM Kabupaten Bungo sangat besar berkaitan dengan

RPI2-JM yang merupakan instrumen penting dalam penyediaan

(17)

10.4 Rencana Pengembangan Kelembagaan

Arah pengembangan kelembagaan dan aparatur pemerintah Kabupaten

Bungo dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) adalah

terwujudnya tata pemerintahan yang baik dan bersih (Good Governance

and Clean Government) adalah aparat yang memiliki profesionalisme yang

tinggi dan mampu memberikan pelayanan prima dan menghilangkan KKN,

yang dicapai dengan :

1. Pengembangan struktur kelembagaan dan aparatur daerah yang efektif dan

efisien.

2. Peningkatan kualitas aparatur dengan memperbaiki kesejahteraan dan

profesionalisme serta memperlakukan sistem karier berdasarkan prestasi

dengan prinsip pemberian penghargaan dan sangsi (Reward and

Punishments).

3. Peningkatan fungsi pelayanan birokrasi dan akuntabilitas secara

transparan, bersih dan bebas dari penyalahgunaan wewenang.

4. Penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik pada semua tingkat dan lini

pemerintahan disemua kegiatan.

Penjabaran lebih lanjut arah pengembangan kelembagaan dalam

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) diatas, dijabarkan dalam

Rencana Pembangunan Jangka Menengah melalui penyelenggaraan

pemerintahan daerah yang baik dan demokratis, meliputi :

1. Perluasan rentang kendali dalam pelimpahan wewenang pelayanan

masyarakat kepada pemerintahan kecamatan dan aparat desa.

2. Peningkatan kualitas dan kinerja Sumber Daya Manusia pada tingkat

birokrasi maupun pelayanan.

3. Memberlakukan peraturan perundang-undangan pokok kepegawaian dan

akuntabilitas kinerja aparat.

4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan aparat dalam perlindungan

masyarakat dan HAM.

5. Mendorong peningkatan sistem/tatanan pemerintahan yang baik kepada

pimpinan/pejabat di masing-masing unit kerja.

(18)

7. Menumbuh kembangkan peningkatan pengelolaan pendapatan daerah.

8. Peningkatan pengelolaan belanja daerah.

Dengan mengacu pada RPJP dan RPJM Kabupaten Bungo diatas, usulan

program dalam RPI2-JM Bidang Cipta Karya mencakup :

1. Optimalisasi pelaksanaan fungsi organisasi yang dikembangkan melalui :

a) Spesialisasi pekerjaan yang berkaitan dengan tugas dalam organisasi dan

dibagi dalam pekerjaan yang terpisah.

b) Departementalisasi yang berkaitan dengan dasar dalam mengelompokan

pekerjaan yang ada.

c) Rantai perintah yang berkaitan dengan sistem pertanggungjawaban yang

harus dilakukan.

d) Rentang kendali yang berkaitan dengan jumlah personil yang dapat

dikendalikan oleh pimpinan.

e) Sentralisasi dan desentralisasi, berkaitan dengan kewenangan dalam

pengambilan keputusan.

f) Serta formalisasi yang mencakup peraturan yang digunakan untuk

mengarahkan personil dan pimpinan.

2. Ketatalaksanaan penyelenggaraan RPI2-JM Bidang Cipta Karya :

Kebutuhan peraturan daerah yang dibutuhkan untuk mendukung

penyusunan dan pelaksanaan RPI2-JM Bidang Cipta Karya antara lain

berkaitan dengan pemantapan tugas dan fungsi masing-masing

dinas/instansi yang terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan RPI2-JM

Bidang Cipta Karya seiring dengan semakin bertambahnya atau berubahnya

peran setiap dinas/instansi. Peraturan baru dibutuhkan dalam

pembentukan organisasi non struktural untuk mendukung pelaksanaan

RPI2-JM dalam koordinasi vertikal, horizontal dan manajemen

pelaksanaan proyek.

3. Pengembangan Sumber Daya Manusia :

Program pengembangan Sumber Daya Manusia difokuskan pada aparatur

pada dinas/instansi yang secara langsung terlibat dalam pelaksanaan

RPI2-JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Bungo, baik secara kuantitatif maupun

(19)

dilakukan melalui pelatihan dan studi lanjut dalam bidang ilmu yang

relevan. Program dimaksud meliputi :

a. Perencanaan Kota.

b. Manajemen Proyek.

c. Manajemen Persampahan.

d. Amdal.

e. Perencanaan Teknis.

f. Air Bersih dan Peningkatan Lingkungan Pemukiman.

g. Keuangan Daerah.

h. Perencanaan Pembangunan.

i. Administrasi Keuangan.

4. Peningkatan sarana dan prasarana kerja yang meliputi :

a. Bangunan gedung yang difungsikan untuk kantor dan gudang.

b. Alat-alat kantor seperti komputer, printer, mesin fotocopy, alat penjilid

dan lain sebagainya.

c. Sarana transportasi untuk memperlancar pelaksanaan tugas seperti

kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat.

d. Sarana komunikasi seperti telepon, faximile, internet dan lain

sebagainya. Jumlah sarana dan prasarana kerja berkaitan dengan

volume kerja yang ada pada masing-masing dinas/instansi sesuai

Gambar

Gambar. X.1.
Gambar. X.2.Pola Pikir Penyusunan Reformasi Birokrasi PU 2010-2014 Cipta Karya
Tabel. X.1.Hubungan Kerja Instansi Bidang Cipta Karya

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui, baik simultan maupun parsial besarnya pengaruh indeks harga saham bursa global, yang terdiri

Informasi ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen INT (lampiran 2); (2) Kemampuan penguasaan materi termokimia yang dikumpulkan melalui instrumen kemampuan kimia (lampiran

Dalam penelitian ini, yang penulis maksud dengan pemberian motivasi kepala perpustakaan yaitu motivasi yang diberikan oleh kepala perpustakaan kepada tenaga perpustakaan untuk

layak merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungan hukum admi- nistrasi negara; Kedua, Asas-asas umum peme- rintahan yang layak berfungsi

Adapun yang membuatnya berbeda dengan lembaga formal setingkat lainnya adalah karena MTs Daruttauhid Malang ini merupakan MTs yang dinaungi oleh Lembaga Pendidikan Islam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Gambaran minat bekerja di industri (2) Gambaran prestasi praktik kerja lapangan(PKL) dan (3) hubungan antara minat bekerja

path smoothing membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghubungkan node awal dengan node tujuan, tetapi jalur yang dihasilkan adalah jalur yang

Hal ini sesuai dengan penelitian Yusnaena dan Alpha (2015) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, seperti yang