• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 20142015 Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 20142015 Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial) SKRIPSI "

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/2015

Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun Oleh: Alfiah Indiyani NIM: 101114032

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/2015

Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun Oleh: Alfiah Indiyani NIM: 101114032

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Hidup tidak akan menghadiahkan barang sesuatupun kepada manusia tanpa

bekerja keras

Life is struggle

Hidup adalah perjuangan

Knowledge is power

Pengetahuan adalah kekuatan

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2. SMA Negeri 1 Bobotsari

3. Orangtuaku tercinta Bapak Imam Suryono dan Ibu Daryanti

4. Kakakku Teguh Supriyadi

(6)
(7)
(8)

vii

ABSTRAK

PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015

dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)

Alfiah Indiyani Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015. Masalah pertama yang diteliti adalah “Seberapa baikkah pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015?”. Masalah yang kedua adalah ”Berdasarkan hasil analisis capaian skor pemahaman pacaran sehat yang teridentifikasi masih rendah, topik-topik bimbingan pribadi-sosial apa saja yang relevan untuk meningkatkan/ mengembangkan pemahaman pacaran yang sehat?”.

Subjek penelitian adalah 174 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang disusun oleh penulis menggunakan aspek-aspek pacaran yang sehat berdasarkan buku Pacaran yang Sehat (Hirmaningsih, 1997). Kuesioner terdiri dari 38 pernyataan yang mencakup ketiga aspek pacaran yang sehat yaitu: (1) aspek fisik (2) aspek psikhis (3) aspek sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. Tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XI SMA negeri 1 Bobotsari digolongkan menjadi 5 kategori yaitu sangat kurang baik, kurang baik, cukup baik, baik, sangat baik.

(9)

viii

ABSTRACT

High School Student Understanding of Healthy Dating (A Descriptive Study to the Depth of Healthy Dating Understanding conducted to the Grade XI Students of SMA Negeri 1 Bobotsari in 2014/ 2015

Academic Year and Its Implications to Suggested Topics of Social-Personal Guidance Service) understanding of healthy dating items identified as low level, what personal-social guidance topics are relevant to improve/ develop a healthy understanding of courtship?

The subjects of this study are 174 grade XI students of SMA Negeri 1 Bobotsari. The research instrument used a questionnaire compiled by author using aspects of healthy dating based on the book Healthy dating (Hirmaningsih, 1997). The questionnaire consists of 38 statements that cover three aspects of healthy dating, these are: (1) physical aspects (2) psychological aspects (3) social aspects. The technique of data analysis used in to group the data based on the variable all of responden, present the data for each variable studied and calculating for answers issues. The level of understanding of a healthy dating to the student in class XI of SMA Negeri 1 Bobotsari classified to five levels. These are extremely not good, not good, good enough, good, very good.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah peneliti haturkan kepada Allah SWT, atas segala

rahmat, hidayah serta inayahNya yang tidak pernah berhenti mengalir sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi

Bimbingan dan Konseling. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun

berkat bantuan, perhatian, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh

karena penulis ucapkan banyak terimaksih kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memberikan ijin

untuk melakukan penelitian ini juga sekaligus sebagai dosen pembimbing

yang telah dengan sabar membimbing, mengarahkan serta memberi

masukan kepada peneliti dalam penulisan skripsi ini.

2. Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si, yang telah dengan setia menjadi dosen

pembimbing akademik selama enam semester.

3. Dosen Seminar Ag. Krisna Indah M, S.Pd., M.A yang telah membantu

saya membuat proposal yang baik.

4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah

membagikan ilmunya dengan sepenuh hati selama penulis menuntut ilmu

di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

5. Sukirno, S.Pd, M.Si, selaku Kepala SMA Negeri 1 Bobotsari yang telah

(11)

x

6. Guru BK SMA Negeri 1 Bobotsari Sri Adi Nur Hayati, S.Psi.,M.M, Arif

Setiawan,S.Pd, Eliatin, S.Pd, Yosi Indrias Sari, S.Pd yang telah

memberikan jam masuk kelas untuk melakukan penelitian.

7. Siswa kelas XI IPS 1, XI IPS 2, XI IPS 3, XI IPS 4, XI IPA 1, XI IPA 3,

dan XI IPA 4 SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015 atas

kesediaannya mengisi kuisioner dalam penelitian ini.

8. Orang tuaku tercinta Bapak Imam Suryono, S.Pd dan Ibu Daryanti atas

doa serta dukungan yang luar biasa, dan biaya yang dikeluarkan selama

menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

9. Kakak dan saudara-saudaraku, Teguh Supriyadi, S.Pd, Siswati, S.Pd,

Rizka Prihantono, Lisa Ariandini dan Hanim Mawar Andini yang telah

ikut membantu penulis dalam menyebarkan kuesioner dalam penelitian

ini.

10.Kekasihku Danang Agus Pratiknya, ST beserta kedua orang tua yang telah

memberikan semangat dan doa selalu untuk kelancaran dalam penelitian

ini.

11.Sahabatku Ermelinda Sri Novita Sari yang sudah 3 tahun ini hidup

bersama dalam 1 rumah kost, yang telah memberikan dukungan serta

masukan dalam penulisan skripsi ini.

12.Teman- teman di Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan

2010A, Desiana Dini Mardilla, Prisca Anindya Dewi, S.Pd, Mika Botti Br

(12)

xi

Anastasya Listyani, untuk kebersamaan, kerjasama dan sharing selama penulis menyelesaikan studi.

13.Mas Moko, selaku petugas yang membantu di sekretariat Program Studi

Bimbingan dan Konseling yang telah dengan sabar dan sepenuh hati

memberikan pelayanan dengan baik selama penulis menempuh studi di

Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu, masukan, saran dan kritik terhadap karya ini sangat diperlukan.

Penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

(13)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA... vi

ABSTRAK... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GRAFIK... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian... 4

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Defenisi Operasional Variabel Penelitian... 6

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pacaran... 1. Pengertian Pacaran... 7

(14)

xiii

3. Tahap-tahap Pacaran... 10

4. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pacaran yang Sehat... 12

5. Aspek-aspek Pacaran yang Sehat ... 16

B. Konsep Dasar Remaja ... 20

1. Pengertian Remaja dan Pacaran... 20

2. Karakteristik Remaja... 24

3. Tugas Perkembangan Remaja ... 25

C. Konsep Bimbingan Pribadi Sosial... 28

1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial ... 28

2. Bimbingan Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 29

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 31

B. Subjek Penelitian... 31

C. Metode Pengumpulan Data... 32

D. Validitas dan Reliabilitas Kuesioner ... 35

E. Analisis Data ... 39

F. Prosedur Pengumpulan Data ... 43

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 44

B. Pembahasan Hasil Penelitian... 50

C. Usulan Topik- topik Bimbingan Pribadi Sosial... 56

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 58

B. Keterbatasan ... 59

C. Saran ... 60

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 : Subjek Penelitian ... 32

Tabel 2 : Norma Skoring Inventori Pacaran yang Sehat... 33

Tabel 3 : Kisi-kisi Pacaran yang Sehat ... 34

Tabel 4 : Rincian Item Valid dan Gugur ... 37

Tabel 5 : Kriteria Guilford ... 38

Tabel 6 : Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 40

Tabel 7 : Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari ... 41

Tabel 8 : Kategorisasi Skor Butir Instrumen ... 42

Tabel 9 : Gambaran Umum Subjek Penelitian ………. 44

Tabel 10: Kategorisasi Tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat ... 46

Tabel 11 :Kategorisasi Skor Item pemahaman Pacaran yang Sehat ... 48

Tabel 12 : Item- item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori Rendah.. 49

(16)

xv

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 1: Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 46

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1: Kuesioner... 65

Lampiran 2: Tabulasi Data Penelitian... 71

Lampiran 3: Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 74

Lampiran 4: Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) ... 85

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke

masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya

setempat. Menurut Hurlock (1980), awal remaja berlangsung kira-kira dari usia

13-17 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan remaja yang digunakan oleh

Departemen Kesehatan adalah usia 10-15 dan belum menikah.

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, termasuk pengalaman

berinteraksi dengan lawan jenis sebagai bekal manusia untuk mengisi kehidupan

mereka kelak. Cinta dan seks merupakan salah satu problem terbesar dari kaum

remaja. Kehamilan usia muda, pengguguran kandungan, terputusnya sekolah,

perkawinan usia muda, perceraian, penyakit kelamin, penyalahgunaan obat,

merupakan akibat petualangan cinta dan seks yang salah di usia remaja.

Aktivitas pacaran yang dilakukan antara lain mulai berpegangan tangan,

mencium pipi, mencium kening, berciuman bibir (kissing), meraba-raba dada,

menggesekkan alat kelamin (petting) hingga berhubungan seks. Perilaku seks pranikah itu pun erat kaitannya dengan penggunaan narkoba di kalangan para

(19)

Perilaku seks pranikah itu cenderung dilakukan karena pengaruh teman

sebaya yang negatif. Selain itu, apabila remaja itu bertumbuh dan berkembang

dalam lingkungan keluarga yang kurang sensitif terhadap remaja. Selain itu,

lingkungan negatif juga akan membentuk remaja yang tidak memiliki proteksi

terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, remaja yang merasa

bebas dan tidak terkekang, ternyata lebih mudah jatuh pada perilaku antara, yaitu

merokok dan alkohol yang pada akhirnya akan berperilaku negatif seperti

mengonsumsi narkoba dan melakukan seks pranikah (BKKBN, 2013).

Kualitas pacaran remaja kita mengkhawatirkan. Pada tahun 2013, hampir

30% remaja sudah meraba-raba dalam berpacaran, dan itu pasti berlanjut ke

hubungan seksual (BKKBN, 2013). Sementara temuan terkait, menurut SKRRI

(2012), perilaku berpacaran remaja yang belum menikah, sebanyak 29,5% remaja

pria dan 6,2% remaja wanita pernah meraba atau merangsang pasangannya,

sebanyak 48,1% remaja laki-laki dan 29,3% remaja wanita pernah berciuman

bibir, sebanyak 79,6% remaja pria dan 71,6% remaja wanita pernah berpegangan

tangan dengan pasangannya. Umur berpacaran untuk pertama kali paling banyak

adalah 15-17 tahun, yakni pada 45,3% remaja pria dan 47,0% remaja wanita. Dari

seluruh usia yang disurvei yakni 10-24 tahun, cuma 14,8% yang mengaku belum

pernah pacaran sama sekali (SKRRI, 2012). Kemudian temuan lain melalui

penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti dalam (jurnal vol. 2 no.2. Agustus 2012) terungkap bahwa dari hasil sampel 15 siswa dan siswi didapatkan hasil 5 orang

(33,3%) pernah melakukan cium bibir, 4 orang (26,67%) melakukan cium leher, 3

(20)

kelamin dan hampir menjurus ke senggama, 2 orang (13,3%) hanya berpegangan

tangan, dan 1 orang (6,67%) siswa mengakui pernah melakukan senggama,

mereka melakukan perilaku tersebut paling banyak di rumah ketika sedang sepi.

Hal ini mereka lakukan atas dasar suka sama suka.

Data di atas menunjukkan bahwa usia remaja sangat rentan terhadap

pergaulan yang bebas seperti gaya berpacaran yang tidak sehat. Gaya pacaran

yang tidak sehat dipengaruhi oleh pemahaman pacaran sehat yang kurang baik.

Maka dari itu remaja perlu diberikan pemahaman mengenai pacaran yang sehat,

baik melalui bimbingan di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Bertolak dari penjelasan di atas, peranan guru Bimbingan dan Konseling

memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan masalah-masalah yang

berkaitan dengan tahapan perkembangan anak dan merupakan bagian penting dari

keseluruhan program pendidikan. Bimbingan merupakan kegiatan membantu

memberikan informasi dengan menyajikan pengetahuan yang dapat digunakan

untuk mengambil suatu keputusan. Tujuan bimbingan adalah mengarahkan,

menuntun individu ke tujuan secara mandiri, menjamin perkembangan dirinya

sendiri seoptimal mungkin mencakup seluruh aspek sesuai dengan bakat dan

minatnya. Bimbingan adalah salah satu cara untuk mencegah gaya berpacaran

pada remaja yang tidak sehat. Remaja perlu memahami mengenai bagaimana

pacaran yang sehat. Pacaran yang sehat menurut Rahman dan Hirmaningsih

(1997) memiliki 3 aspek. Ketiga aspek itu adalah aspek fisik, aspek psikis dan

(21)

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

tentang “Deskripsi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat pada pada siswa

kelas XI SMA N 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015 dan Implikasinya terhadap

usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam penelitian ini masalah

dirumuskan sebagai berikut:

1. Seberapa baikkah pemahaman siswa mengenai pacaran yang sehat

pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/

2015?

2. Berdasarkan hasil analisis capaian skor pengukuran pemahaman

pacaran sehat yang teridentifikasi masih rendah, topik-topik

bimbingan apa saja yang relevan untuk meningkatkan/

mengembangkan pemahaman pacaran yang sehat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui seberapa baik pemahaman mengenai pacaran yang sehat

pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/

2015.

2. Mengidentifikasi butir-butir pengukuran pemahaman pacaran sehat

yang masih rendah, yang implikatif diusulkan sebagai topik-topik

(22)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh Guru Bimbingan dan

Konseling untuk kajian keilmuan Bimbingan dan Konseling di

sekolah untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki mengenai

aktivitas berpacaran pada remaja.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi:

a. Guru Pembimbing

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru Bimbingan dan

Konseling untuk pengembangan program Bimbingan Konseling

tentang pacaran yang sehat.

b. Siswa

Siswa menjadi tahu tentang berpacaran yang sehat serta semakin

sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar dalam

mempersiapkan masa depannya.

c. Orang tua

Orang tua lebih mengawasi, menjaga serta memahami pola

pergaulan anaknya terutama dalam menjalin relasi dengan lawan

(23)

E. Definisi Operasional

1. Pemahaman pacaran yang sehat adalah Pengetahuan seseorang

terhadap suatu proses perkenalan dua individu yang berlawan jenis

dengan memahami aspek fisik, psikis dan sosial. Pacaran yang sehat

pada penelitian ini dikonstruk dari aspek-aspek: fisik, psikis dan sosial

sebagaimana dioperasionalkan lebih lanjut dalam instrument

penelitian ini.

2. Siswa SMA sebagai Remaja

Siswa SMA adalah mereka yang berusia sekitar 15-18 tahun yang

sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang sedang

mengalami tugas perkembangan membangun relasi dengan lawan

jenis. Dalam penelitian ini, diambil subjek siswa SMA kelas XI.

3. Bimbingan Pribadi-Sosial

Bimbingan Pribadi-Sosial adalah upaya untuk membantu individu

dalam memantapkan kepribadiannya juga mengembangkan

kemampuan dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan

dengan diri sendiri dan orang lain, yang didukung oleh penciptaan

(24)

7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab ini memuat uraian mengenai pacaran yang sehat, karakteristik remaja dan

bimbingan pribadi-sosial.

A. Pacaran

1. Pengertian Pacaran

Pacaran (courtship) adalah hubungan pranikah antara pria dan wanita yang dapat diterima oleh masyarakat (Bennet, dalam Dian, 2012).

Pacaran yang merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia

biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju

kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada

kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan

yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari

kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata

membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan.

Menurut Bennet (dalam Dian, 2012), pacaran memiliki variasi dalam

pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu

dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan,

pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang

eksklusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh agama

dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Konteks sosio-budaya

(25)

dalam Santrock, 2003). Nilai-nilai keyakinan religius dan tradisi

seringkali menentukan usia yang tepat untuk berpacaran dan besarnya

kebebasan yang diberikan dalam berpacaran. Menurut persepsi yang salah,

sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan

cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau

percumbuan.

Menurut Adimassana (2001), pacaran adalah proses hubungan

pemuda dan pemudi untuk serius menjajaki dan memikirkan kemungkinan

mereka dapat menikah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi

Ketiga, 2002), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan

mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah

bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Pacaran

merupakan salah satu pilihan kehidupan. Kapan seseorang akan

berkomitmen untuk berpacaran setiap orang itu berbeda. Pacaran

diharapkan dapat menjadikan motivasi, saling mendukung satu sama lain.

Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat

disimpulkan bahwa pacaran adalah proses perkenalan dua individu yang

berlainan jenis untuk mengenal satu-sama lain menuju ke jenjang yang

(26)

2. Pacaran yang Sehat

Pacaran yang baik adalah pacaran yang sehat. Menurut Rahman dan

Hirmaningsih (1997), pacaran yang sehat mencakup sehat secara fisik,

psikis dan juga sosial. Pacaran yang sehat berasal dari pergaulan yang

sehat, dan pacaran yang sehat akan membuahkan seks yang sehat pula (dr.

Boyke, 2008). Mardiya, Kepala Sub Bidang Advokasi Konseling dan

Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada

(BPMPDPKB) Kabupaten Kulon Progo mengungkapkan dalam artikelnya

bahwa pacaran sehat sendiri sering dimaknai sebagai suatu proses pacaran

dimana keadaan fisik, mental dan sosial dua remaja yang pacaran dalam

keadaan baik. Sehat secara fisik berarti tidak ada kekerasan dalam

berpacaran. Meskipun laki-laki secara fisik lebih kuat, bukan berarti bisa

dengan leluasa menindas kaum perempuan. Pada intinya dilarang kontak

dalam bentuk kekerasan fisik. Selain itu, menjaga kondisi tubuh diri dan

pasangan agar tetap sehat juga merupakan hal yang harus dilakukan dan

tentunya menguntungkan satu sama lain.

Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat

disimpulkan bahwa pacaran yang sehat adalah proses perkenalan dua insan

yang berbeda jenis kelaminnya dengan sehat secara fisik, psikis, sosial dan

seksual sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Berpacaran tidak terjadi kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun

(27)

3. Tahapan-tahapan Pacaran yang Sehat

Menurut Hardjana (2002), ada empat tahap dalam berpacaran,

adalah:

a. Tahap Perkenalan

Pada tahap ini, calon pasangan berusaha saling mengenal satu

sama lain. Bagi laki-laki dan perempuan yang sudah mengenal

sebelumnya, proses perkenalan ini akan berjalan lebih cepat. Namun

bagi orang yang belum kenal akan menempuh waktu yang cukup lama

dan dengan menempuh berbagai cara. Laki-laki dan perempuan saling

berkenalan. Saling berkenalan berarti saling mengetahui data-data,

mula-mula dari lahir dan kemudin batin. Perkenalan awal menjadi

dasar dikembangkannya perkenalan yang lebih mendalam.

b. Tahap Penjajakan

Tahap perkenalan dilanjutkan dengan tahap penjajakan. Pada

tahap ini calon pacar saling melihat tanda-tanda apakah mereka akan

melangkah lebih lanjut dalam hubungan. Dalam tahap penjajakan,

mereka berusaha saling mengenal kebiasaan hidup , sifat-sifat,

nilai-nilai hidup yang dipegang, pandangan atau visi tentang diri sendiri,

hidup, manusia, dunia serta masyarakat dan Tuhan. Dalam nilai hidup

terkandung cita-cita hidup, semangat dalam menjalaninya, serta

motivasi untuk segala perilaku dan hidupnya. Bersamaan dengan itu,

mereka saling menjajaki apakah mereka asaling tertarik dan ingin

(28)

c. Tahap Pendekatan

Pada tahap ini merupakan tahap penentuan pilihan calon pacar

sebelum sampai pada tahap selanjutnya. Maka dalam tahap ini sudah

terfokus pada satu calon pacar. Karena itu frekuensi hubungan dan

komunikasi sudah mulai meningkat. Gejala-gejala yang menyertai

pada tahap ini adalah adanya rasa saling merindu, ingin bertemu,

dekat, dan berada disamping masing-masing. Rasa-rasa itu

diungkapkan melalui komunikasi.

d. Tahap Kesepakatan

Pada tahap ini merupakan tahap dimana pasangan memiliki

kesediaan untuk saling mengucapkan dan saling menerima menjadi

pacar. Ini menandai bahwa hubungan mereka bukan lagi sekedar

teman biasa, tetapi sebagai pacar atau calon suami/ istri.

Berbeda menurut Murstein (dalam Agus, 2013) menjelaskan

perkembangan suatu hubungan pacaran, yaitu:

a. Ketertarikan (Acquaintance/ attraction)

Suatu hubungan pacaran biasanya dimulai dari adanya saling

(29)

b. Pertumbuhan (build up)

Tahap pertumbuhan ditandai dengan ketergantungan, keterbukaan,

(disclosure), pertukaran (social exchange).

c. Konsolidasi (Continuation/ consolidation)

Pada tahapan ini, suatu hubungan sudah lebih mantap. Komitmen dan

kesepakatan mengenai nilai sudah terbentuk.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pacaran yang Sehat

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pacaran yang

sehat, yang dapat mencegah remaja terhindar dari hubungan seksual

pranikah menurut (Herbert J. Miles dan Tim La Haye, dalam Esti Wuryani

D, 2008):

a. Usia saat memulai untuk berpacaran

Berpacaran adalah untuk anak-anak umur 15 tahun ke atas.

Sikap hati-hati dalam berpacaran tidak merupakan masalah bagi anak

laki-laki. Pada usia 15 tahun, banyak bagi anak laki-laki yang belum

tertarik pada perempuan atau justru tidak dapat berpacaran meskipun

mereka sudah tertarik. Berbeda dengan anak perempuan, anak

perempuan lebih matang daripada anak laki-laki secara fisik dan

sosial. Oleh karena itu, anak perempuan memulai berpacaran lebih

awal. Tetapi anak laki-laki seusia mereka sering kali belum minat atau

(30)

laki-laki usia di atasnya. Secara psikologis, anak perempuan lebih

cepat matang dibandingkan dengan anak laki-laki. Sehingga di usia

15 tahun, anak perempuan sudah lebih dahulu memiliki daya tarik

kepada anak laki-laki.

b. Keterbukaan kepada orang tua

Sikap keterbukaan anak terhadap kedua orang tua diperlukan

dalam hubungan berpacaran. Orang tua dapat membimbing dan

mengarahkan anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam hubungan

berpacaran yang tidak sehat. Komunikasi dua arah antara anak dengan

kedua orang tua sangat diperlukan dalam hubungan ini.

c. Batas-batas dalam berpacaran

Dalam berpacaran ada berkencan. Berikan persyaratan dulu

sebelum berkencan, misalnya lamanya berkencan. Orang tua

mengingatkan anak-anaknya agar mereka tidak terhanyut dalam

hubungan yang romantis terlalu lama. Remaja masih terlalu dini

karena keduanya belum matang dan belum tahu arti komitmen yang

sesungguhnya.

d. Tidak menunjukkan cinta yang bernafsu kepada publik.

Cinta sesungguhnya indah bagi kedua remaja dan orang tuanya,

tetapi menunjukkan cinta yang bernafsu kepada publik akan merusak

(31)

berpacaran di depan anak kecil. Usia anak-anak, rasa keingintahuan

mereka sangat tinggi, sehingga apa yang dilakukan orang dewasa di

depan mereka akan ditiru olehnya dan akan mengakibatkan si anak

menjadi dewasa secara psikologis sebelum waktunya.

e. Menghindari petting, belaian, dan ekspresi cinta kasih fisik lainnya yang dapat mengarah timbulnya gairah seksual.

Berpacaran yang sehat akan menghindari aktivitas petting.

Aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah

menikah. Namun, sebagian besar remaja yang nekat melakukan

petting dan berakhir dengan melakukan hubungan seks. Karena timbulnya gairah seksual lebih menyenangkan daripada kegiatan

lainnya, pasangan yang pernah menuruti hawa nafsunya untuk

berhubungan seks menjadi tidak puas dengan kegiatan kencan lainnya

yang biasa-biasa saja namun sebenarnya kegiatan itu yang lebih

bermanfaat, berharga dan penuh arti seperti mengerjakan tugas

sekolah bersama.

f. Waktu dalam berpacaran

Waktu dalam berkencan harus dibatasi. Orang tua memberikan

jam malam saat anaknya berkencan. Misalnya, waktu berkencan

dibatasi sampai dengan pukul 21.00. Saat berkencan di luar rumahpun,

orang tua perlu mengawasi serta memberikan batasan jam untuk anak

(32)

diberi teman sehingga remaja tidak hanya pergi berdua saja. Hal ini

yang perlu diwaspadai oleh remaja dalam berpacaran yaitu mengingat

waktu.

g. Mengembangkan filsafat keyakinan atau agama yang positif, berkaitan

dengan apa yang kita percayai tentang hidup, pacaran, pernikahan dan

seks.

Filsafat ini harus bersifat pribadi, artinya kita menyetujui dan

melaksanakannya, bukan sekedar tahu apa yang pernah kita baca atau

yang diajarkan kepada kita.

h. Menyusun beberapa peraturan dalam hal kelakuan berpacaran atau

berkencan, yang secara logis bersumber dari prinsip-prinsip tentang

kehidupan.

Peraturan-peraturan ini perlu bersifat umum dan khusus, serta

pribadi dan rahasia. Peraturan-peraturan itu dapat kita dapatkan dari

(33)

5. Aspek Pacaran yang Sehat

Aspek pacaran sehat menurut Rahman dan Hirmaningsih (1997)

meliputi tiga aspek yaitu:

a. Aspek Fisik

Pacaran yang sehat menimbulkan sehat secara fisik. Seperti:

menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan, menghindari

aktivitas-aktivitas yang menyebabkan gairah seksual, menghindari

kontak fisik yang menyebabkan terkena penyakit menular seksual,

penganiayaan atau kekerasan dalam berpacaran, kelelahan dan lain

sebagainya. Pada aspek fisik ini terdapat seksualitas di dalamnya

karena dalam aktivitas fisik dapat menjurus ke aktivitas seksualitas.

b. Aspek Psikis

Pacaran bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain. Untuk

usia remaja, pacaran identik dengan suatu kesenangan seperti dapat

saling mengekspresikan rasa sayang, cinta, dan saling mendukung.

Pacaran akan menjadi tidak sehat secara psikis apabila dalam

berpacaran terdapat paksaan, kecemburuan yang berlebihan, memiliki

rasa ingin memiliki yang tinggi (posesif), bukan menimbulkan kebahagiaan akan tetapi menimbulkan stress, tertekan, dan terpaksa.

Sehingga seseorang dapat dikatakan berpacaran sehat secara psikis

apabila dalam berpacaran mendukung perkembangan pribadi

(34)

dan nyaman serta dapat saling menghormati dan saling berbagi

tanggung jawab.

c. Aspek Sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan

dengan orang lain. Hidup di dalam masyarakat pasti memiliki

sejumlah aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku di dalam

masyarakat setempat maupun adat istiadat kebiasaan budaya yang ada

di dalam masyarakat. Pacaran yang sehat secara sosial mampu

mempertimbangkan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam

masyarakat (agama, budaya, dan lingkungan) tempat kita hidup dan

berinteraksi sosial. Manusia adalah makhluk sosial sehingga apapun

yang ia lakukan akan berpengaruh dan dipengaruhi oleh orang lain.

Ada hal-hal tertentu yang merupakan hak sosial dalam hidup

bermasyarakat. Contohnya saat berkunjung ke rumah pacar, kita perlu

memperhatikan batasan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat

setempat. Namun perlu kita sadari bahwa untuk norma sosial ini setiap

daerah tentu berbeda, maka dalam penerapan norma dalam berpacaran

perlu disesuaikan dengan dimana dia tinggal. Patokan norma dan

(35)

Sedangkan tidak jauh berbeda menurut Zulkarnain, Z (1999), aspek

pacaran sehat meliputi:

a. Sehat Fisik

Sehat secara fisik maksudnya dalam berpacaran menimbulkan

fisik menjadi sehat karena berpacaran yang sehat memperhatikan

kesehatan fisik. Pacaran yang sehat secara fisik menghindari

aktivitas-aktivitas fisik yang menyebabkan gairah seksual, menghindari tindak

kekerasan dalam berpacaran yang menimbulkan cedera secara fisik.

b. Sehat Emosional

Sehat emosional berarti hubungan dengan orang lain akan

terjalin dengan baik apabila ada rasa nyaman, saling pengertian dan

keterbukaan. Berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan

dorongan-dorongan baru yang dialami seperti perasaan cinta, rindu

dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis

dipengaruhi oleh pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual.

Secara psikologis, pada usia remaja perkembangan emosinya

menunjukkan sifat yang sensitive, emosinya lebih pada perasaan

negative dan tempramental. Sehingga pacaran sehat secara emosional

apabila remaja telah dapat menjaga keemosionalannya dalam

berhubungan dengan lawan jenis agar menimbulkan perasaan yang

(36)

c. Sehat Sosial

Sehat sosial berarti dalam berpacaran sesuai dengan

norma-norma dan aturan yang ada di masyarakat dimana seseorang tinggal.

Menurut Bandura (dalam George, 2009), tingkah laku seseorang

dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal. Lingkungan hidup

membentuk perilaku, namun perilaku juga membentuk lingkungan

(behavioristic). Selain itu, kepribadian sebagai hasil interaksi dari tiga

hal yaitu lingkungan, perilaku dan proses psikologi seseorang. Tidak

jauh berbeda, Chrissey (dalam Santrock, 2012) pacaran dalam konteks

sosio-budaya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pola

berpacaran. Nilai-nilai, keyakinan religius, dan tradisi seringkali

menentukan usia yang tepat untuk berpacaran.

d. Sehat Seksual

Sehat seksual dimaksudkan dalam berpacaran, secara biologis

remaja mengalami perkembangan dan kematangan secara seksual.

Tanpa disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual

seseorang. Kedekatan secara fisik dapat memicu keinginan untuk

melakukan kontak fisik. Jika diteruskan, bisa tidak terkontrol. Pacaran

yang sehat dapat menjaga diri dan saling menjaga satu sama lain

untuk tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah ke hubungan

seksual.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pacaran

(37)

tidak terjadi tumpang tindih maka aspek seksual dapat dikaitkan

dengan aspek fisik karena pada aspek fisik di dalamnya terdapat

aktivitas-aktivitas yang dapat menjurus ke dalam seksualitas.

Sehingga aspek seksualitas dapat disatukan dengan aspek fisik. Ketiga

aspek tersebut (fisik, psikis dan sosial) saling berkaitan karena pacaran

tidak dapat dikatakan sehat apabila salah satu aspek tersebut tidak

terpenuhi.

B. Remaja

1. Pengertian Remaja dan Pacaran

Menurut Hurlock (1980) remaja adalah mereka yang berada

pada usia 12-18 tahun.Hurlock (1980) membagi masa remaja menjadi

masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir

(16 atau 17 hingga 18 tahun). Hurlock (1980) membedakan masa

remaja awal dan akhir karena pada masa remaja awal, individu masih

menonjol karakteristik perkembangannya dengan masa kanak-kanak

akhir, sedangkan masa remaja akhir, individu telah mencapai transisi

perkembangan yang telah mendekati dewasa.

Anna Freud (dalam Hurlock, 1980) berpendapat bahwa pada

masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi

perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual,

dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan

cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses

(38)

Menurut Monks (2006), remaja adalah mereka yang berusia

12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja

berada pada rentang 12-23 tahun, masa remaja merupakan masa badai

dan tekanan (storm and stress).

Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau

pencarian identitas diri. Remaja adalah tahap umur yang datang

setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik

cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan

dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap,

perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja (Darajat, 1990).

Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi

condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam

kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan

dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa.

Biasanya remaja belum dianggap sebagai anggota masyarakat yang

perlu didengar dan dipertimbangkan pendapatnya serta dianggap

belum mampu sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya. Terlebih

dahulu, mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi

dalam kapasitas tertentu, serta mempunyai kemantapan emosi, sosial

dan kepribadian. Masa remaja merupakan masa dimana timbulnya

berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan

kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya pikir menjadi matang.

(39)

menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecamuk harapan dan

tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui

dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang

matang.

Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu

bersosialisasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi

merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada

dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek

efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga

perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang

khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai

integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya

merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.

(Hurlock, 1980).

Secara kognitif, menurut Piaget (dalam Santrock, 2003), pada

masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur

otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas

untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berfikir abstrak.

Remaja yang telah matang dalam kognisi dapat memahami bahwa

tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat mempengaruhi di masa

(40)

memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya

kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Remaja dalam berperilaku dipengaruhi oleh kognitif

(pengetahuannya) yang kemudian muncul afeksi (perasaan). Sehingga

dalam berperilaku, tidak cukup hanya kognisi saja, namun afeksi juga

ikut menentukan perilaku seseorang. Seperti pada perilaku pacaran

pada remaja. Remaja yang telah memiliki pengetahuan mengenai

pacaran yang sehat. Tentu perilaku yang muncul akan berbeda dengan

remaja yang belum memahami makna pacaran yang sehat. Karena

dalam bertingkahlaku, seseorang dipengaruhi oleh kognisi dan

afeksinya. Namun, pengetahuan (kognisi) dalam pacaran yang sehat saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan perasaan yang

muncul. Antara kognisi, afeksi dan behavioristic harus selaras agar remaja dalam berperilaku dapat sesuai dengan aspek-aspek yang ada

pada pacaran yang sehat sehingga remaja tidak terjerumus dalam

pergaulan pacaran yang kurang tepat atau gaya pacaran yang tidak

sehat.

Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat

disimpulkan bahwa masa remaja (adolescence) adalah masa

perkembangan transisi dari masa kanak-kanak menjadi dewasa

dimulai sejak usia 11 atau 12 tahun hingga 18 tahun. Pada masa

remaja terjadi perkembangan yang mencakup perubahan biologis,

(41)

2. Karakteristik Masa Remaja

Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock (1980) adalah:

a. Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa

kanak-kanak ke peralihan masa dewasa.

Pada masa periode peralihan ini bukan berarti terputus atau

berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih

pada sebuah peralihan dari tahap perkembangan satu ke tahap

perkembangan selanjutnya. Anak-anak harus meninggalkan

segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus

mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan

perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.

b. Masa remaja sebagai periode perubahan.

Pada masa ini, remaja mengalami lima perubahan, yaitu:

meningginya emosi yang tingkat intensitasnya bergantung pada

tingkat perunahan fisik dan psikologis yang terjadi; perubahan

tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial;

remaja merasa banyak ditimbuni masalah; terjadi perubahan

nilai-nilai pada masa kanak-kanak menjadi remaja dan remaja

menuntut kebebasan.

c. Masa remaja sebagai usia bermasalah.

Remaja tidak mampu untuk menyelesaikan

(42)

d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.

Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri

dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dna

perempuan.

e. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru,

karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.

f. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.

Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para

remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir

dewasa.

Jadi remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke

masa dewasa pada rentang usia 12-18 tahun yang terjadi proses

pematangan individu menuju ke masa dewasa awal.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Menurut Juntika (2013) tugas perkembangan remaja adalah

sebagai berikut:

a. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman

sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun dengan jenis

kelamin yang lain. Artinya para remaja memandang gadis-gadis

sebagai wanita dan laki-laki sebagai laki-laki, menjadi manusia

(43)

dengan orang lain dengan tujuan-tujuan bersama, dapat menahan

dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi dan belajar

memimpin orang lain tanpa dominasi.

b. Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin

masing-masing. Artinya, mempelajari dan menerima peranan

masing-masing sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau

norma-norma masyarakat.

c. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakan nya

seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.

d. Mencapai kepuasan emosional dari orang tua atau dewasa lainnnya.

Ia tidak kekanak-kanakan lagi, yang selau terikat kepada orang

tuanya. Ia membebaskan dirinya dari ketergantungannya terhadap

orang tua atau orang lain.

e. Mencapai kebebasan ekonomi. Ia merasa sanggup untuk hidup

berdasarkan usaha sendiri. Ini terutama sangat penting bagi

laki-laki. Akan tetapi, dewasa ini bagi kaum wanita tugas ini

berangsur-angsur menjadi sangat penting.

f. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan.

Artinya memilih satu jenis pekerjaan sesuai dengan bakatnya dan

(44)

g. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup

berumah tangga. Mengembangkan sikap yang positif terhadap

kehidupan keluarga dan memiliki anak. Bagi wanita hal ini harus

dilengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan sebagaimana

mengurus rumah tangga (home management) dan memelihara anak. h. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang

diperlukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat. Maksudnya

adalah bahwa untuk menjadi warga negara yang baik perlu

memiliki pengetahuan tentang hukum, pemerintahan, ekonomi,

politik, geografi, hakekat manusia dan lembaga-lembaga

kemasyarakatan.

i. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat

dipertanggungjawabkan. Artinya, ikut serta dalam

kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab,

menghormati serta mentaati nilai-nilai sosial yang berlaku dalam

lingkungannya baik regional maupun nasional.

j. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam

tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.

Norma-norma tersebut secara dasar dikembangkan dan direalisasikan

dalam menetapkan kedudukan manusia dalam hubungannya

dengan alam semesta dan dalam hubungannya dengan

manusia-manusia lain, membentuk suatu gambaran dunia dan memelihara

(45)

Sementara itu, Yusuf (2010) mengemukakan tugas-tugas

perkembangan remaja antara lain:

a. Menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif.

b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa

lainnya.

c. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.

d. Memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan.

e. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.

f. Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang perlu

bagi kompetensi sebagai warga Negara.

C. Bimbingan Pribadi-Sosial

1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial

Menurut Winkel dan Hastuti (2006), bimbingan Pribadi-Sosial

berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan

mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam mengatur

diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu

luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya; serta bimbingan dalam

membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan

(46)

Menurut Yusuf (2010), Bimbingan Pribadi-Sosial merupakan

bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah

pribadi-sosial. Masalah-masalah tersebut antara lain masalah hubungan

dengan sesama teman, dengan guru, dan staf sekolah, pemahaman sifat

dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan

masyarakat tempat mereka tinggal, dan penyelesaian konflik.

Ahmadi (2004) mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi-sosial

adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat

menghadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya,

mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, dan

kegiatan rekreatif yang bernilai guna serta berdaya upaya sendiri dalam

memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang

dialaminya.

Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat

disimpulkan bahwa bimbingan pribadi sosial merupakan upaya pemberian

bantuan kepada individu dalam memantapkan kepribadian dan

mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah

yang berkaitan dengan diri sendiri maupun orang lain.

2. Bimbingan Pemahaman Pacaran yang Sehat

Upaya pengembangan pemahaman pacaran yang sehat melalui

bimbingan yang diberikan oleh seorang yang professional dalam bidang

(47)

khususnya bagi siwa SMA Negeri 1 Bobotsari. Hal ini sejalan dengan

makna bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada

individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut

dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan

bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan peraturan serta norma

yang ada di keluarga maupun masyarakat tempat dia tinggal. Layanan

bimbingan yang memfokuskan pada pelayanan bimbingan pribadi-sosial

diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan pemahaman siswa

(48)

31

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, alat pengumpul

data, dan teknik analisis data yang digunakan.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu penelitian

yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat

penelitian dilakukan (Furchan, 2007). Metode ini digunakan untuk

memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi sekarang.

Sifat deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh

gambaran mengenai pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI

SMA N 1 Bobotsari.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas XI SMA N 1 Bobotsari

Tahun ajaran 2014/ 2015. Siswa kelas XI dipilih sebagai subjek penelitian

karena siswa-siswi kelas XI berumur 15-18 tahun yang memiliki tugas

perkembangan membentuk hubungan baru dengan teman sebaya lawan jenis.

SMA Negeri 1 Bobotsari dipilih sebagai tempat penelitian karena; Pertama,

SMA tersebut merupakan salah satu SMA favorit yang ada di kabupaten

Purbalingga, sehingga peneliti tertarik ingin mengetahui bagaimana tingkat

pemahaman siswa mengenai pacaran yang sehat pada SMA favorit. Kedua,

siswa SMA tersebut tergolong pada masa remaja akhir dengan usia rata-rata

(49)

relasi dengan lawan jenis, termasuk didalamnya mengalami masa

berpacaran. Ketiga, SMA tersebut merupakan sekolah dimana peneliti

menempuh jenjang pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Peneliti

merupakan alumni SMA Negeri 1 Bobotsari pada tahun 2009, sehingga

mampu memberikan pemahaman lebih mengenai latar belakang kehidupan

siswa SMA tersebut.

Tabel 1 Subjek Penelitian

Kelas Jumlah XI IPS 1 25 XI IPS 2 23 XI IPS 3 25 XI IPS 4 25 XI IPA 1 28 XI IPA 3 21 XI IPA 4 27 Jumlah 174

Penelitian ini melibatkan sejumlah 174 siswa yang terbagi di kelas XI.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner/ angket. Kuesioner yang disusun peneliti mengacu pada

prinsip-prinsip skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial

(Sugiyono, 2010). Pernyataan yang terdapat dalam Inventori Pemahaman

(50)

pernyataan negatif atau unfavourable. Pernyataan positif atau favourable

merupakan konsep keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut/variabel

yang diukur. Sedangkan pernyataan negatif atau unfavourable yaitu konsep keperilakuan yang tidak sesuai/ tidak mendukung atribut/ variabel yang

diukur.

Kuesioner ini dikonstruk berdasarkan aspek-aspek pacaran yang sehat

dari Rahman dan Hirmaningsih (1997). Butir-butir kuesioner ini memiliki 4

alternatif jawaban, yaitu STS: Sangat Tidak Setuju, TS: Tidak Setuju, S:

Setuju, SS: Sangat Setuju.

Penentuan skor untuk setiap jawaban dari item-item pernyataan adalah

sebagai berikut:

Tabel 2

Norma Skoring Inventori Pemahaman Pacaran yang Sehat

No

Pertanyaan bersifat positif Pertanyaan bersifat negative Pilihan Skor Pilihan Skor

(51)

Konstruk kuesioner ini dijabarkan dalam bentuk konstruk sebagai berikut:

Tabel 3

Kisi-kisi Kuesioner Pacaran yang Sehat

No Aspek Indikator Favourable Unfavourable ∑ 1. Fisik a. Menghindari

aktivitas-aktivitas yang

2. Psikis a. Menciptakan suasana hubungan yang sehat,

(52)

D. Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 1. Validitas

Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada

objek dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2010).

Menurut Masidjo (1995), validitas adalah taraf sampai dimana suatu alat

tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Jenis validitas yang

digunakan adalah validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang

mengukur relevansi item kuesioner dengan indikator keperilakuan dan

dengan tujuan ukur (Azwar, 2007). Untuk melakukan pengujian validitas

isi, dilakukan dengan cara konsultasi kepada ahli yang relevan. Validitas

isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi alat

ukur dengan analisis rasional dengan cara professional judgement (Azwar

2007). Menurut Ary, Jacobs, dan Razavieh (2007) validitas isi tidak dapat

dinyatakan dengan angka namun pengesahannya berdasarkan

pertimbangan yang diberikan oleh ahli (expert judgement). Dalam penelitian ini, instrumen penelitian dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek

yang akan diukur dan selanjutnya dikonsultasikan kepada dosen

pembimbing yaitu Dr. Gendon Barus, M.Si. Dosen memberikan penilaian

terhadap kesesuaian antara variable penelitian, indicator penelitian, dan

rumusan kalimat pernyataan atau item kuesioner.

Hasil dari konsultasi dan telaah yang dilakukan oleh dosen

pembimbing dilengkapi dengan pengujian empirik dengan cara

(53)

aspek dengan menggunakan aplikasi program komputer SPSS 22 for Window. Teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi

Spearman's rho. Rumus korelasi Spearman's rho adalah sebagai berikut :

Keterangan :

Kriteria uji validitas pada instrument penelitian ini berdasarkan

korelasi item total, biasanya digunakan batas ≥ 0, 30. Maka item yang

mencapai skor lebih dari 0, 30 dinyatakan valid, dan sebaliknya apabila

skor dibawah 0, 30 maka item tersebut dinyatakan tidak valid. Jika jumlah

item yang valid ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan,

maka dapat diturunkan sedikit batas kriteria 0, 30 menjadi 0, 25 (Azwar,

2009).

Pada tanggal 15-18 Juli 2014 dilakukan uji coba yang juga penelitian

terhadap instrumen (uji empirik) kepada siswa kelas XI SMA Negeri 1

Bobotsari yang berjumlah (N) 40 siswa untuk subjek uji coba yang

diambil secara simple random sampling pada tujuh kelas dan sejumlah (N) 174 siswa untuk subjek penelitian. Dari hasil pemeriksaan konsistensi

butir, diperoleh 26 butir item yang gugur dari 64 butir item, sehingga

terdapat 38 item yang dinyatakan valid. Rincian item yang gugur dapat

(54)

Tabel 4

Rincian Item yang Valid dan Gugur

No Aspek Indikator No Item 1. Fisik a. Menghindari

aktivitas-aktivitas yang 2. Psikis a. Menciptakan suasana

hubungan yang sehat,

(55)

2. Reliabilitas

Reliabilitas artinya tingkat kepercayaan hasil pengukuran.

Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi yaitu yang mampu

memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut sebagai reliabel (Azwar,

2009). Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner penelitian ini

menggunakan pendekatan koefisien Alpha Cronbach (α). Berikut ini rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (α)

α =

2[1-

]

Keterangan rumus:

S12 dan S22 : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2

Sx2 : varians skor skala

Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonsultasikan dengan kriteria

Guilford (Masidjo, 1995).

Tabel 5 Kriteria Guilford

No Koefisien Korelasi Kualifikasi

1 0,91 – 1,00 Sangat tinggi

2 0,71 – 0,90 Tinggi

3 0,41 – 0,70 Cukup

4 0,21 – 0,40 Rendah

5 negatif – 0,20 Sangat Rendah

Dari hasil uji coba kepada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari

pada tanggal 15-18 Juli 2014 dengan jumlah subjek (N) 40 siswa,

diperoleh perhitungan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0.769.

(56)

Berdasarkan peninjauan terhadap hasil perhitungan koefisien

reliabilitas pada kriteria Guilford, dapat disimpulkan bahwa koefisien

reliabilitas instrumen masuk dalam kriteria tinggi.

E. Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan

variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari

seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta

melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah (Sugiyono, 2010).

Berikut merupakan langkah-langkah teknik analisis data yang ditempuh

dalam penelitian ini:

1. Menentukan skor dan pengolahan data

Penentuan skor pada item kuesioner dilakukan dengan cara

memberikan nilai dari angka 1 sampai 4 berdasarkan norma skoring yang

berlaku dengan melihat sifat pernyataan favourable atau unfavourable,

selanjutnya memasukkannya ke dalam tabulasi data pada microsoft exel dan menghitung total jumlah skor subjek serta jumlah skor item. Tahap

selanjutnya adalah menganalisis data secara statistik dengan menggunakan

program aplikasi SPSS22. 2. Menentukan kategori

Pengkategorian tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat siswa kelas

XI SMA Negeri 1 Bobotsari disusun berdasarkan model distribusi normal.

Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam

(57)

berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2009). Kontinum jenjang pada

penelitian ini adalah dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi.

Norma kategorisasi disusun berdasar pada norma kategorisasi yang

disusun oleh Azwar (2009) yang mengelompokkan tingkat pemahaman

Pacaran yang Sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari ke dalam

lima kategori: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi dengan

norma kategorisasi sebagai berikut:

Tabel 6

Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat

Norma/Kriteria Skor Kategori Makna Kategori

µ+2 σ< X Sangat Tinggi

Skor maksimum teoritik : Skor tertinggi yang diperoleh subjek Penelitian berdasarkan perhitungan skala Skor minimum teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek

Penelitian menurut perhitungan skala

(58)

µ (mea[n teoritik) : Rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum

Kategori di atas diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan

baik tidaknya tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa SMA

Negeri 1 Bobotsari dengan jumlah item = 38, diperoleh unsur perhitungan

capaian skor subjek sebagai berikut:

Skor maksimum teoritik : 4 x 38 = 152

Skor minimum teoritik : 1 x 38 = 38

Luas jarak : 152 – 38 = 114

Standar deviasi (σ / sd) : 114 : 6 = 19

µ (mean teoritik) : (152+38) : 2 = 95

Hasil perhitungan analisis data skor subjek disajikan dalam norma

kategorisasi tingkat pemahanan pacaran yang sehat siswa kelas XI SMA

Negeri 1 Bobotsari sebagai berikut.

Tabel 7

Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari

Norma/Kriteria Skor Rentang Skor Kategori

µ+2σ< X X > 133 Sangat Baik

µ + 1 σ <X≤µ +2 σ 114 < X ≤ 133 Baik

µ -1 σ <X≤ µ + 1σ 76 <X≤ 114 Cukup Baik

µ - 2 σ <X≤ µ +1σ 57 <X≤ 76 Kurang Baik

X≤ µ-2 σ X≤ 57 Sangat Kurang Baik

Berdasarkan norma kategori pada tabel 6, ditetapkan pengelompokan

(59)

Negeri 1 Bobotsari dengan jumlah subjek= 174, diperoleh unsur

perhitungan skor item sebagai berikut:

Skor maksimum teoritik : 4 x 174 = 696

Skor minimum teoritik : 1 x 174 = 174

Luas Jarak : 696 – 174 = 522

Standar deviasi (σ / sd) : 522 : 6 = 87

µ (mean teoritik) : (696+174) : 2 = 435

Hasil perhitungan analisis data skor butir/item pemahaman pacaran

yang sehat disajikan dalam norma kategorisasi sebagai berikut:

Tabel 8

Norma Kategorisasi Skor Butir Instrumen Pacaran yang Sehat

Norma Skor Rentang Skor Kategori

µ +2 σ < X X > 609 Sangat Tinggi

µ + 1 σ <X≤ µ + 2 σ 522 < X ≤ 609 Tinggi

µ -1 σ <X≤ µ + 1 σ 348 <X≤ 522 Sedang

µ - 2 σ <X≤ µ -1 σ 261 <X≤ 348 Rendah

(60)

F. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti melakukan

tahap-tahap sebagai berikut:

1. Membuat kuesioner Pacaran yang Sehat.

2. Menentukan aspek-aspek sesuai dengan pacaran yang sehat menurut

Hirmaningsih (1997).

3. Membuat indikator yang disesuaikan dengan setiap aspek Pacaran yang

Sehat.

4. Membuat item yang sesuai dengan indikator setiap aspek.

5. Melakukan revisi kuesioner sesuai dengan masukan dosen pembimbing

(expert judgment).

6. Pengumpulan data uji coba validitas dan reliabilitas kuisioner.

7. Pengumpulan data penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan

kuesioner kepada siswa kelas XI sebanyak 7 kelas (N) 174) di SMA

Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015.

(61)

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan. Penyajian hasil

penelitian didasarkan pada rumusan masalah.

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Gambaran Umum Subjek Penelitian

Berdasarkan perolehan data penelitian, dan diolah sesuai dengan

prosedur penelitian, diperoleh gambaran umum subjek penelitian sebagai

berikut yang dapat dilihat di table 9.

Tabel 9

Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan

Jenis Kelamin, Usia dan Pernah atau Belum pernah Berpacaran

No KATEGORI JENIS KELAMIN Jumlah Dalam

persen

2. a. Pernah Berpacaran

(62)

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa:

a. Sebanyak 174 siswa terlibat dalam penelitian pemahaman

pacaran yang sehat. Berdasarkan jenis kelamin siswa dalam

kategori usia, jumlah siswa putri lebih banyak, yaitu 132 siswa

dan jumlah siswa putra sebanyak 42 siswa.

b. Kategori pernah berpacaran dan belum pernah berpacaran,

remaja putri lebih banyak, yaitu 102 dan remaja putra yang

pernah berpacaran sebanyak 31 siswa. Kemudian sebanyak 31

siswa putri yang belum pernah berpacaran dan 10 siswa putra

yang belum pernah berpacaran.

2. Tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat pada Siswa kelas XI SMA

Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015

Berdasarkan perolehan data penelitian yang dikumpulkan dengan

menggunakan alat kuesioner Pacaran yang Sehat, kemudian dilakukan

analisis data dengan menggunakan kriteria Azwar (2009) diketahui

tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri

(63)

Tabel 10

Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari

Rentang Skor Kategori Distribusi

Subjek Persentase

Dalam perspektif grafis, kategorisasi tingkat pemahaman pacaran yang

sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/

2015 tergambar sebagai berikut:

Grafik I. Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat siswa SMA Negeri 1 Bobotsari

Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat

(64)

Pengamatan pada tabel maupun grafik menunjukkan:

a. Terdapat 48 siswa (27, 5%), yang memiliki pemahaman pacaran

yang sehat sangat baik.

b. Terdapat 121 siswa (69, 5%), yang memiliki pemahaman pacaran

yang sehat baik.

c. Terdapat 5 siswa (3%), yang memiliki pemahaman pacaran yang

sehat cukup baik.

d. Tidak terdapat siswa (0%), yang memiliki pemahaman pacaran

yang sehat kurang baik.

e. Tidak terdapat siswa (0%), yang memiliki pemahaman pacaran

yang sehat sangat kurang baik.

Jadi, sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari

telah memiliki pemahaman pacaran yang sehat dalam kategori baik

dan hanya 3% saja dari jumlah subjek yang diteliti teridentifikasi

cukup dalam pemahaman pacaran yang sehat.

2. Hasil Analisis Capaian Skor Item tingkat Pemahaman Pacaran yang

Sehat

Berdasarkan data yang terkumpul dan melakukan analisis data

menggunakan kriteria Azwar (2009) didapat skor-skor item yang

masuk ke dalam kategorisasi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan

sangat rendah. Item-item dengan skor yang berada di kategori sedang

hingga sangat rendah adalah item-item yang akan digunakan sebagai

Gambar

Grafik 1: Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat ..................
Tabel 1 Subjek Penelitian
Tabel 2 Norma Skoring Inventori Pemahaman Pacaran yang Sehat
Tabel 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

But it is also vital for us to ask the question, “Whose voices are not being heard?” We need to identify categories of people affected by the conflict and to identify men and

Menindaklanjuti hasil evaluasi kualifikasi Pekerjaan Pelaksanaan Mentoring Program Pengembangan Tenaga Kerja Nasional di Sub Sektor Migas, bersama ini kami mengundang Saudara

Analisis Perbedaan Pendapatan Dan Efisiensi Usaha Tani Te mbakau Pola Kemitraan Dengan Usaha Tani Tembakau Pola Mandiri Di Kecamatan Mayang Kabupaten Jember; Yudha

Setelah melaksanakan kegiatan observasi dan orientasi di SMP N 39 Semarang praktikan mendapat pengetahuan dan pengalaman mengenai banyak hal yang berkaitan dengan

1. Mengetahui diskripsi pendidikan agama Islam , pembiasaaan sifat jujur dan penanaman sikap tanggung jawab peserta didik di SD Islam Al Hidayah Samir

1) Pendapatan dari usaha sarana papan diakui apabila ada perjanjian jual beli bangunan siap huni atau kavling siap bangun, dengan catatan bangunan siap huni telah selesai 100%

tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas

Penentuan shio dalam program sederhana ini dilakukan dengan pertama kali dengan menginput tanggal, bulan dan tahun kelahiran kemudian dilakuakn perhitungan dengan cara