PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/2015
Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Disusun Oleh: Alfiah Indiyani NIM: 101114032
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
i
PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/2015
Dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Disusun Oleh: Alfiah Indiyani NIM: 101114032
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Hidup tidak akan menghadiahkan barang sesuatupun kepada manusia tanpa
bekerja keras
Life is struggle
Hidup adalah perjuangan
Knowledge is power
Pengetahuan adalah kekuatan
Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2. SMA Negeri 1 Bobotsari
3. Orangtuaku tercinta Bapak Imam Suryono dan Ibu Daryanti
4. Kakakku Teguh Supriyadi
vii
ABSTRAK
PEMAHAMAN SISWA SMA MENGENAI PACARAN YANG SEHAT (Studi Deskriptif Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015
dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial)
Alfiah Indiyani Universitas Sanata Dharma
2014
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015. Masalah pertama yang diteliti adalah “Seberapa baikkah pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015?”. Masalah yang kedua adalah ”Berdasarkan hasil analisis capaian skor pemahaman pacaran sehat yang teridentifikasi masih rendah, topik-topik bimbingan pribadi-sosial apa saja yang relevan untuk meningkatkan/ mengembangkan pemahaman pacaran yang sehat?”.
Subjek penelitian adalah 174 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang disusun oleh penulis menggunakan aspek-aspek pacaran yang sehat berdasarkan buku Pacaran yang Sehat (Hirmaningsih, 1997). Kuesioner terdiri dari 38 pernyataan yang mencakup ketiga aspek pacaran yang sehat yaitu: (1) aspek fisik (2) aspek psikhis (3) aspek sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. Tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XI SMA negeri 1 Bobotsari digolongkan menjadi 5 kategori yaitu sangat kurang baik, kurang baik, cukup baik, baik, sangat baik.
viii
ABSTRACT
High School Student Understanding of Healthy Dating (A Descriptive Study to the Depth of Healthy Dating Understanding conducted to the Grade XI Students of SMA Negeri 1 Bobotsari in 2014/ 2015
Academic Year and Its Implications to Suggested Topics of Social-Personal Guidance Service) understanding of healthy dating items identified as low level, what personal-social guidance topics are relevant to improve/ develop a healthy understanding of courtship?
The subjects of this study are 174 grade XI students of SMA Negeri 1 Bobotsari. The research instrument used a questionnaire compiled by author using aspects of healthy dating based on the book Healthy dating (Hirmaningsih, 1997). The questionnaire consists of 38 statements that cover three aspects of healthy dating, these are: (1) physical aspects (2) psychological aspects (3) social aspects. The technique of data analysis used in to group the data based on the variable all of responden, present the data for each variable studied and calculating for answers issues. The level of understanding of a healthy dating to the student in class XI of SMA Negeri 1 Bobotsari classified to five levels. These are extremely not good, not good, good enough, good, very good.
ix
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah peneliti haturkan kepada Allah SWT, atas segala
rahmat, hidayah serta inayahNya yang tidak pernah berhenti mengalir sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi
Bimbingan dan Konseling. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun
berkat bantuan, perhatian, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh
karena penulis ucapkan banyak terimaksih kepada:
1. Dr. Gendon Barus, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memberikan ijin
untuk melakukan penelitian ini juga sekaligus sebagai dosen pembimbing
yang telah dengan sabar membimbing, mengarahkan serta memberi
masukan kepada peneliti dalam penulisan skripsi ini.
2. Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si, yang telah dengan setia menjadi dosen
pembimbing akademik selama enam semester.
3. Dosen Seminar Ag. Krisna Indah M, S.Pd., M.A yang telah membantu
saya membuat proposal yang baik.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah
membagikan ilmunya dengan sepenuh hati selama penulis menuntut ilmu
di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
5. Sukirno, S.Pd, M.Si, selaku Kepala SMA Negeri 1 Bobotsari yang telah
x
6. Guru BK SMA Negeri 1 Bobotsari Sri Adi Nur Hayati, S.Psi.,M.M, Arif
Setiawan,S.Pd, Eliatin, S.Pd, Yosi Indrias Sari, S.Pd yang telah
memberikan jam masuk kelas untuk melakukan penelitian.
7. Siswa kelas XI IPS 1, XI IPS 2, XI IPS 3, XI IPS 4, XI IPA 1, XI IPA 3,
dan XI IPA 4 SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015 atas
kesediaannya mengisi kuisioner dalam penelitian ini.
8. Orang tuaku tercinta Bapak Imam Suryono, S.Pd dan Ibu Daryanti atas
doa serta dukungan yang luar biasa, dan biaya yang dikeluarkan selama
menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.
9. Kakak dan saudara-saudaraku, Teguh Supriyadi, S.Pd, Siswati, S.Pd,
Rizka Prihantono, Lisa Ariandini dan Hanim Mawar Andini yang telah
ikut membantu penulis dalam menyebarkan kuesioner dalam penelitian
ini.
10.Kekasihku Danang Agus Pratiknya, ST beserta kedua orang tua yang telah
memberikan semangat dan doa selalu untuk kelancaran dalam penelitian
ini.
11.Sahabatku Ermelinda Sri Novita Sari yang sudah 3 tahun ini hidup
bersama dalam 1 rumah kost, yang telah memberikan dukungan serta
masukan dalam penulisan skripsi ini.
12.Teman- teman di Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan
2010A, Desiana Dini Mardilla, Prisca Anindya Dewi, S.Pd, Mika Botti Br
xi
Anastasya Listyani, untuk kebersamaan, kerjasama dan sharing selama penulis menyelesaikan studi.
13.Mas Moko, selaku petugas yang membantu di sekretariat Program Studi
Bimbingan dan Konseling yang telah dengan sabar dan sepenuh hati
memberikan pelayanan dengan baik selama penulis menempuh studi di
Universitas Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu, masukan, saran dan kritik terhadap karya ini sangat diperlukan.
Penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA... vi
ABSTRAK... vii
ABSTRACT... viii
KATA PENGANTAR... ix
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GRAFIK... xv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian... 4
D. Manfaat Penelitian... 5
E. Defenisi Operasional Variabel Penelitian... 6
BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pacaran... 1. Pengertian Pacaran... 7
xiii
3. Tahap-tahap Pacaran... 10
4. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pacaran yang Sehat... 12
5. Aspek-aspek Pacaran yang Sehat ... 16
B. Konsep Dasar Remaja ... 20
1. Pengertian Remaja dan Pacaran... 20
2. Karakteristik Remaja... 24
3. Tugas Perkembangan Remaja ... 25
C. Konsep Bimbingan Pribadi Sosial... 28
1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial ... 28
2. Bimbingan Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 29
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 31
B. Subjek Penelitian... 31
C. Metode Pengumpulan Data... 32
D. Validitas dan Reliabilitas Kuesioner ... 35
E. Analisis Data ... 39
F. Prosedur Pengumpulan Data ... 43
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 44
B. Pembahasan Hasil Penelitian... 50
C. Usulan Topik- topik Bimbingan Pribadi Sosial... 56
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 58
B. Keterbatasan ... 59
C. Saran ... 60
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 : Subjek Penelitian ... 32
Tabel 2 : Norma Skoring Inventori Pacaran yang Sehat... 33
Tabel 3 : Kisi-kisi Pacaran yang Sehat ... 34
Tabel 4 : Rincian Item Valid dan Gugur ... 37
Tabel 5 : Kriteria Guilford ... 38
Tabel 6 : Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 40
Tabel 7 : Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Pada Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari ... 41
Tabel 8 : Kategorisasi Skor Butir Instrumen ... 42
Tabel 9 : Gambaran Umum Subjek Penelitian ………. 44
Tabel 10: Kategorisasi Tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat ... 46
Tabel 11 :Kategorisasi Skor Item pemahaman Pacaran yang Sehat ... 48
Tabel 12 : Item- item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori Rendah.. 49
xv
DAFTAR GRAFIK
Halaman
Grafik 1: Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat ... 46
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1: Kuesioner... 65
Lampiran 2: Tabulasi Data Penelitian... 71
Lampiran 3: Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 74
Lampiran 4: Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) ... 85
1
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dipaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.
A. Latar Belakang Masalah
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya
setempat. Menurut Hurlock (1980), awal remaja berlangsung kira-kira dari usia
13-17 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan remaja yang digunakan oleh
Departemen Kesehatan adalah usia 10-15 dan belum menikah.
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, termasuk pengalaman
berinteraksi dengan lawan jenis sebagai bekal manusia untuk mengisi kehidupan
mereka kelak. Cinta dan seks merupakan salah satu problem terbesar dari kaum
remaja. Kehamilan usia muda, pengguguran kandungan, terputusnya sekolah,
perkawinan usia muda, perceraian, penyakit kelamin, penyalahgunaan obat,
merupakan akibat petualangan cinta dan seks yang salah di usia remaja.
Aktivitas pacaran yang dilakukan antara lain mulai berpegangan tangan,
mencium pipi, mencium kening, berciuman bibir (kissing), meraba-raba dada,
menggesekkan alat kelamin (petting) hingga berhubungan seks. Perilaku seks pranikah itu pun erat kaitannya dengan penggunaan narkoba di kalangan para
Perilaku seks pranikah itu cenderung dilakukan karena pengaruh teman
sebaya yang negatif. Selain itu, apabila remaja itu bertumbuh dan berkembang
dalam lingkungan keluarga yang kurang sensitif terhadap remaja. Selain itu,
lingkungan negatif juga akan membentuk remaja yang tidak memiliki proteksi
terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, remaja yang merasa
bebas dan tidak terkekang, ternyata lebih mudah jatuh pada perilaku antara, yaitu
merokok dan alkohol yang pada akhirnya akan berperilaku negatif seperti
mengonsumsi narkoba dan melakukan seks pranikah (BKKBN, 2013).
Kualitas pacaran remaja kita mengkhawatirkan. Pada tahun 2013, hampir
30% remaja sudah meraba-raba dalam berpacaran, dan itu pasti berlanjut ke
hubungan seksual (BKKBN, 2013). Sementara temuan terkait, menurut SKRRI
(2012), perilaku berpacaran remaja yang belum menikah, sebanyak 29,5% remaja
pria dan 6,2% remaja wanita pernah meraba atau merangsang pasangannya,
sebanyak 48,1% remaja laki-laki dan 29,3% remaja wanita pernah berciuman
bibir, sebanyak 79,6% remaja pria dan 71,6% remaja wanita pernah berpegangan
tangan dengan pasangannya. Umur berpacaran untuk pertama kali paling banyak
adalah 15-17 tahun, yakni pada 45,3% remaja pria dan 47,0% remaja wanita. Dari
seluruh usia yang disurvei yakni 10-24 tahun, cuma 14,8% yang mengaku belum
pernah pacaran sama sekali (SKRRI, 2012). Kemudian temuan lain melalui
penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti dalam (jurnal vol. 2 no.2. Agustus 2012) terungkap bahwa dari hasil sampel 15 siswa dan siswi didapatkan hasil 5 orang
(33,3%) pernah melakukan cium bibir, 4 orang (26,67%) melakukan cium leher, 3
kelamin dan hampir menjurus ke senggama, 2 orang (13,3%) hanya berpegangan
tangan, dan 1 orang (6,67%) siswa mengakui pernah melakukan senggama,
mereka melakukan perilaku tersebut paling banyak di rumah ketika sedang sepi.
Hal ini mereka lakukan atas dasar suka sama suka.
Data di atas menunjukkan bahwa usia remaja sangat rentan terhadap
pergaulan yang bebas seperti gaya berpacaran yang tidak sehat. Gaya pacaran
yang tidak sehat dipengaruhi oleh pemahaman pacaran sehat yang kurang baik.
Maka dari itu remaja perlu diberikan pemahaman mengenai pacaran yang sehat,
baik melalui bimbingan di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Bertolak dari penjelasan di atas, peranan guru Bimbingan dan Konseling
memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan masalah-masalah yang
berkaitan dengan tahapan perkembangan anak dan merupakan bagian penting dari
keseluruhan program pendidikan. Bimbingan merupakan kegiatan membantu
memberikan informasi dengan menyajikan pengetahuan yang dapat digunakan
untuk mengambil suatu keputusan. Tujuan bimbingan adalah mengarahkan,
menuntun individu ke tujuan secara mandiri, menjamin perkembangan dirinya
sendiri seoptimal mungkin mencakup seluruh aspek sesuai dengan bakat dan
minatnya. Bimbingan adalah salah satu cara untuk mencegah gaya berpacaran
pada remaja yang tidak sehat. Remaja perlu memahami mengenai bagaimana
pacaran yang sehat. Pacaran yang sehat menurut Rahman dan Hirmaningsih
(1997) memiliki 3 aspek. Ketiga aspek itu adalah aspek fisik, aspek psikis dan
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
tentang “Deskripsi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat pada pada siswa
kelas XI SMA N 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/ 2015 dan Implikasinya terhadap
usulan Topik-topik Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam penelitian ini masalah
dirumuskan sebagai berikut:
1. Seberapa baikkah pemahaman siswa mengenai pacaran yang sehat
pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/
2015?
2. Berdasarkan hasil analisis capaian skor pengukuran pemahaman
pacaran sehat yang teridentifikasi masih rendah, topik-topik
bimbingan apa saja yang relevan untuk meningkatkan/
mengembangkan pemahaman pacaran yang sehat?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui seberapa baik pemahaman mengenai pacaran yang sehat
pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/
2015.
2. Mengidentifikasi butir-butir pengukuran pemahaman pacaran sehat
yang masih rendah, yang implikatif diusulkan sebagai topik-topik
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh Guru Bimbingan dan
Konseling untuk kajian keilmuan Bimbingan dan Konseling di
sekolah untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki mengenai
aktivitas berpacaran pada remaja.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
a. Guru Pembimbing
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru Bimbingan dan
Konseling untuk pengembangan program Bimbingan Konseling
tentang pacaran yang sehat.
b. Siswa
Siswa menjadi tahu tentang berpacaran yang sehat serta semakin
sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar dalam
mempersiapkan masa depannya.
c. Orang tua
Orang tua lebih mengawasi, menjaga serta memahami pola
pergaulan anaknya terutama dalam menjalin relasi dengan lawan
E. Definisi Operasional
1. Pemahaman pacaran yang sehat adalah Pengetahuan seseorang
terhadap suatu proses perkenalan dua individu yang berlawan jenis
dengan memahami aspek fisik, psikis dan sosial. Pacaran yang sehat
pada penelitian ini dikonstruk dari aspek-aspek: fisik, psikis dan sosial
sebagaimana dioperasionalkan lebih lanjut dalam instrument
penelitian ini.
2. Siswa SMA sebagai Remaja
Siswa SMA adalah mereka yang berusia sekitar 15-18 tahun yang
sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang sedang
mengalami tugas perkembangan membangun relasi dengan lawan
jenis. Dalam penelitian ini, diambil subjek siswa SMA kelas XI.
3. Bimbingan Pribadi-Sosial
Bimbingan Pribadi-Sosial adalah upaya untuk membantu individu
dalam memantapkan kepribadiannya juga mengembangkan
kemampuan dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan
dengan diri sendiri dan orang lain, yang didukung oleh penciptaan
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bab ini memuat uraian mengenai pacaran yang sehat, karakteristik remaja dan
bimbingan pribadi-sosial.
A. Pacaran
1. Pengertian Pacaran
Pacaran (courtship) adalah hubungan pranikah antara pria dan wanita yang dapat diterima oleh masyarakat (Bennet, dalam Dian, 2012).
Pacaran yang merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia
biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju
kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada
kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan
yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari
kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata
membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan.
Menurut Bennet (dalam Dian, 2012), pacaran memiliki variasi dalam
pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu
dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan,
pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang
eksklusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh agama
dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Konteks sosio-budaya
dalam Santrock, 2003). Nilai-nilai keyakinan religius dan tradisi
seringkali menentukan usia yang tepat untuk berpacaran dan besarnya
kebebasan yang diberikan dalam berpacaran. Menurut persepsi yang salah,
sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan
cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau
percumbuan.
Menurut Adimassana (2001), pacaran adalah proses hubungan
pemuda dan pemudi untuk serius menjajaki dan memikirkan kemungkinan
mereka dapat menikah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi
Ketiga, 2002), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan
mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah
bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Pacaran
merupakan salah satu pilihan kehidupan. Kapan seseorang akan
berkomitmen untuk berpacaran setiap orang itu berbeda. Pacaran
diharapkan dapat menjadikan motivasi, saling mendukung satu sama lain.
Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa pacaran adalah proses perkenalan dua individu yang
berlainan jenis untuk mengenal satu-sama lain menuju ke jenjang yang
2. Pacaran yang Sehat
Pacaran yang baik adalah pacaran yang sehat. Menurut Rahman dan
Hirmaningsih (1997), pacaran yang sehat mencakup sehat secara fisik,
psikis dan juga sosial. Pacaran yang sehat berasal dari pergaulan yang
sehat, dan pacaran yang sehat akan membuahkan seks yang sehat pula (dr.
Boyke, 2008). Mardiya, Kepala Sub Bidang Advokasi Konseling dan
Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada
(BPMPDPKB) Kabupaten Kulon Progo mengungkapkan dalam artikelnya
bahwa pacaran sehat sendiri sering dimaknai sebagai suatu proses pacaran
dimana keadaan fisik, mental dan sosial dua remaja yang pacaran dalam
keadaan baik. Sehat secara fisik berarti tidak ada kekerasan dalam
berpacaran. Meskipun laki-laki secara fisik lebih kuat, bukan berarti bisa
dengan leluasa menindas kaum perempuan. Pada intinya dilarang kontak
dalam bentuk kekerasan fisik. Selain itu, menjaga kondisi tubuh diri dan
pasangan agar tetap sehat juga merupakan hal yang harus dilakukan dan
tentunya menguntungkan satu sama lain.
Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa pacaran yang sehat adalah proses perkenalan dua insan
yang berbeda jenis kelaminnya dengan sehat secara fisik, psikis, sosial dan
seksual sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Berpacaran tidak terjadi kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun
3. Tahapan-tahapan Pacaran yang Sehat
Menurut Hardjana (2002), ada empat tahap dalam berpacaran,
adalah:
a. Tahap Perkenalan
Pada tahap ini, calon pasangan berusaha saling mengenal satu
sama lain. Bagi laki-laki dan perempuan yang sudah mengenal
sebelumnya, proses perkenalan ini akan berjalan lebih cepat. Namun
bagi orang yang belum kenal akan menempuh waktu yang cukup lama
dan dengan menempuh berbagai cara. Laki-laki dan perempuan saling
berkenalan. Saling berkenalan berarti saling mengetahui data-data,
mula-mula dari lahir dan kemudin batin. Perkenalan awal menjadi
dasar dikembangkannya perkenalan yang lebih mendalam.
b. Tahap Penjajakan
Tahap perkenalan dilanjutkan dengan tahap penjajakan. Pada
tahap ini calon pacar saling melihat tanda-tanda apakah mereka akan
melangkah lebih lanjut dalam hubungan. Dalam tahap penjajakan,
mereka berusaha saling mengenal kebiasaan hidup , sifat-sifat,
nilai-nilai hidup yang dipegang, pandangan atau visi tentang diri sendiri,
hidup, manusia, dunia serta masyarakat dan Tuhan. Dalam nilai hidup
terkandung cita-cita hidup, semangat dalam menjalaninya, serta
motivasi untuk segala perilaku dan hidupnya. Bersamaan dengan itu,
mereka saling menjajaki apakah mereka asaling tertarik dan ingin
c. Tahap Pendekatan
Pada tahap ini merupakan tahap penentuan pilihan calon pacar
sebelum sampai pada tahap selanjutnya. Maka dalam tahap ini sudah
terfokus pada satu calon pacar. Karena itu frekuensi hubungan dan
komunikasi sudah mulai meningkat. Gejala-gejala yang menyertai
pada tahap ini adalah adanya rasa saling merindu, ingin bertemu,
dekat, dan berada disamping masing-masing. Rasa-rasa itu
diungkapkan melalui komunikasi.
d. Tahap Kesepakatan
Pada tahap ini merupakan tahap dimana pasangan memiliki
kesediaan untuk saling mengucapkan dan saling menerima menjadi
pacar. Ini menandai bahwa hubungan mereka bukan lagi sekedar
teman biasa, tetapi sebagai pacar atau calon suami/ istri.
Berbeda menurut Murstein (dalam Agus, 2013) menjelaskan
perkembangan suatu hubungan pacaran, yaitu:
a. Ketertarikan (Acquaintance/ attraction)
Suatu hubungan pacaran biasanya dimulai dari adanya saling
b. Pertumbuhan (build up)
Tahap pertumbuhan ditandai dengan ketergantungan, keterbukaan,
(disclosure), pertukaran (social exchange).
c. Konsolidasi (Continuation/ consolidation)
Pada tahapan ini, suatu hubungan sudah lebih mantap. Komitmen dan
kesepakatan mengenai nilai sudah terbentuk.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pacaran yang Sehat
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pacaran yang
sehat, yang dapat mencegah remaja terhindar dari hubungan seksual
pranikah menurut (Herbert J. Miles dan Tim La Haye, dalam Esti Wuryani
D, 2008):
a. Usia saat memulai untuk berpacaran
Berpacaran adalah untuk anak-anak umur 15 tahun ke atas.
Sikap hati-hati dalam berpacaran tidak merupakan masalah bagi anak
laki-laki. Pada usia 15 tahun, banyak bagi anak laki-laki yang belum
tertarik pada perempuan atau justru tidak dapat berpacaran meskipun
mereka sudah tertarik. Berbeda dengan anak perempuan, anak
perempuan lebih matang daripada anak laki-laki secara fisik dan
sosial. Oleh karena itu, anak perempuan memulai berpacaran lebih
awal. Tetapi anak laki-laki seusia mereka sering kali belum minat atau
laki-laki usia di atasnya. Secara psikologis, anak perempuan lebih
cepat matang dibandingkan dengan anak laki-laki. Sehingga di usia
15 tahun, anak perempuan sudah lebih dahulu memiliki daya tarik
kepada anak laki-laki.
b. Keterbukaan kepada orang tua
Sikap keterbukaan anak terhadap kedua orang tua diperlukan
dalam hubungan berpacaran. Orang tua dapat membimbing dan
mengarahkan anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam hubungan
berpacaran yang tidak sehat. Komunikasi dua arah antara anak dengan
kedua orang tua sangat diperlukan dalam hubungan ini.
c. Batas-batas dalam berpacaran
Dalam berpacaran ada berkencan. Berikan persyaratan dulu
sebelum berkencan, misalnya lamanya berkencan. Orang tua
mengingatkan anak-anaknya agar mereka tidak terhanyut dalam
hubungan yang romantis terlalu lama. Remaja masih terlalu dini
karena keduanya belum matang dan belum tahu arti komitmen yang
sesungguhnya.
d. Tidak menunjukkan cinta yang bernafsu kepada publik.
Cinta sesungguhnya indah bagi kedua remaja dan orang tuanya,
tetapi menunjukkan cinta yang bernafsu kepada publik akan merusak
berpacaran di depan anak kecil. Usia anak-anak, rasa keingintahuan
mereka sangat tinggi, sehingga apa yang dilakukan orang dewasa di
depan mereka akan ditiru olehnya dan akan mengakibatkan si anak
menjadi dewasa secara psikologis sebelum waktunya.
e. Menghindari petting, belaian, dan ekspresi cinta kasih fisik lainnya yang dapat mengarah timbulnya gairah seksual.
Berpacaran yang sehat akan menghindari aktivitas petting.
Aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah
menikah. Namun, sebagian besar remaja yang nekat melakukan
petting dan berakhir dengan melakukan hubungan seks. Karena timbulnya gairah seksual lebih menyenangkan daripada kegiatan
lainnya, pasangan yang pernah menuruti hawa nafsunya untuk
berhubungan seks menjadi tidak puas dengan kegiatan kencan lainnya
yang biasa-biasa saja namun sebenarnya kegiatan itu yang lebih
bermanfaat, berharga dan penuh arti seperti mengerjakan tugas
sekolah bersama.
f. Waktu dalam berpacaran
Waktu dalam berkencan harus dibatasi. Orang tua memberikan
jam malam saat anaknya berkencan. Misalnya, waktu berkencan
dibatasi sampai dengan pukul 21.00. Saat berkencan di luar rumahpun,
orang tua perlu mengawasi serta memberikan batasan jam untuk anak
diberi teman sehingga remaja tidak hanya pergi berdua saja. Hal ini
yang perlu diwaspadai oleh remaja dalam berpacaran yaitu mengingat
waktu.
g. Mengembangkan filsafat keyakinan atau agama yang positif, berkaitan
dengan apa yang kita percayai tentang hidup, pacaran, pernikahan dan
seks.
Filsafat ini harus bersifat pribadi, artinya kita menyetujui dan
melaksanakannya, bukan sekedar tahu apa yang pernah kita baca atau
yang diajarkan kepada kita.
h. Menyusun beberapa peraturan dalam hal kelakuan berpacaran atau
berkencan, yang secara logis bersumber dari prinsip-prinsip tentang
kehidupan.
Peraturan-peraturan ini perlu bersifat umum dan khusus, serta
pribadi dan rahasia. Peraturan-peraturan itu dapat kita dapatkan dari
5. Aspek Pacaran yang Sehat
Aspek pacaran sehat menurut Rahman dan Hirmaningsih (1997)
meliputi tiga aspek yaitu:
a. Aspek Fisik
Pacaran yang sehat menimbulkan sehat secara fisik. Seperti:
menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan, menghindari
aktivitas-aktivitas yang menyebabkan gairah seksual, menghindari
kontak fisik yang menyebabkan terkena penyakit menular seksual,
penganiayaan atau kekerasan dalam berpacaran, kelelahan dan lain
sebagainya. Pada aspek fisik ini terdapat seksualitas di dalamnya
karena dalam aktivitas fisik dapat menjurus ke aktivitas seksualitas.
b. Aspek Psikis
Pacaran bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain. Untuk
usia remaja, pacaran identik dengan suatu kesenangan seperti dapat
saling mengekspresikan rasa sayang, cinta, dan saling mendukung.
Pacaran akan menjadi tidak sehat secara psikis apabila dalam
berpacaran terdapat paksaan, kecemburuan yang berlebihan, memiliki
rasa ingin memiliki yang tinggi (posesif), bukan menimbulkan kebahagiaan akan tetapi menimbulkan stress, tertekan, dan terpaksa.
Sehingga seseorang dapat dikatakan berpacaran sehat secara psikis
apabila dalam berpacaran mendukung perkembangan pribadi
dan nyaman serta dapat saling menghormati dan saling berbagi
tanggung jawab.
c. Aspek Sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan
dengan orang lain. Hidup di dalam masyarakat pasti memiliki
sejumlah aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku di dalam
masyarakat setempat maupun adat istiadat kebiasaan budaya yang ada
di dalam masyarakat. Pacaran yang sehat secara sosial mampu
mempertimbangkan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat (agama, budaya, dan lingkungan) tempat kita hidup dan
berinteraksi sosial. Manusia adalah makhluk sosial sehingga apapun
yang ia lakukan akan berpengaruh dan dipengaruhi oleh orang lain.
Ada hal-hal tertentu yang merupakan hak sosial dalam hidup
bermasyarakat. Contohnya saat berkunjung ke rumah pacar, kita perlu
memperhatikan batasan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat
setempat. Namun perlu kita sadari bahwa untuk norma sosial ini setiap
daerah tentu berbeda, maka dalam penerapan norma dalam berpacaran
perlu disesuaikan dengan dimana dia tinggal. Patokan norma dan
Sedangkan tidak jauh berbeda menurut Zulkarnain, Z (1999), aspek
pacaran sehat meliputi:
a. Sehat Fisik
Sehat secara fisik maksudnya dalam berpacaran menimbulkan
fisik menjadi sehat karena berpacaran yang sehat memperhatikan
kesehatan fisik. Pacaran yang sehat secara fisik menghindari
aktivitas-aktivitas fisik yang menyebabkan gairah seksual, menghindari tindak
kekerasan dalam berpacaran yang menimbulkan cedera secara fisik.
b. Sehat Emosional
Sehat emosional berarti hubungan dengan orang lain akan
terjalin dengan baik apabila ada rasa nyaman, saling pengertian dan
keterbukaan. Berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan
dorongan-dorongan baru yang dialami seperti perasaan cinta, rindu
dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis
dipengaruhi oleh pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual.
Secara psikologis, pada usia remaja perkembangan emosinya
menunjukkan sifat yang sensitive, emosinya lebih pada perasaan
negative dan tempramental. Sehingga pacaran sehat secara emosional
apabila remaja telah dapat menjaga keemosionalannya dalam
berhubungan dengan lawan jenis agar menimbulkan perasaan yang
c. Sehat Sosial
Sehat sosial berarti dalam berpacaran sesuai dengan
norma-norma dan aturan yang ada di masyarakat dimana seseorang tinggal.
Menurut Bandura (dalam George, 2009), tingkah laku seseorang
dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal. Lingkungan hidup
membentuk perilaku, namun perilaku juga membentuk lingkungan
(behavioristic). Selain itu, kepribadian sebagai hasil interaksi dari tiga
hal yaitu lingkungan, perilaku dan proses psikologi seseorang. Tidak
jauh berbeda, Chrissey (dalam Santrock, 2012) pacaran dalam konteks
sosio-budaya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pola
berpacaran. Nilai-nilai, keyakinan religius, dan tradisi seringkali
menentukan usia yang tepat untuk berpacaran.
d. Sehat Seksual
Sehat seksual dimaksudkan dalam berpacaran, secara biologis
remaja mengalami perkembangan dan kematangan secara seksual.
Tanpa disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual
seseorang. Kedekatan secara fisik dapat memicu keinginan untuk
melakukan kontak fisik. Jika diteruskan, bisa tidak terkontrol. Pacaran
yang sehat dapat menjaga diri dan saling menjaga satu sama lain
untuk tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah ke hubungan
seksual.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pacaran
tidak terjadi tumpang tindih maka aspek seksual dapat dikaitkan
dengan aspek fisik karena pada aspek fisik di dalamnya terdapat
aktivitas-aktivitas yang dapat menjurus ke dalam seksualitas.
Sehingga aspek seksualitas dapat disatukan dengan aspek fisik. Ketiga
aspek tersebut (fisik, psikis dan sosial) saling berkaitan karena pacaran
tidak dapat dikatakan sehat apabila salah satu aspek tersebut tidak
terpenuhi.
B. Remaja
1. Pengertian Remaja dan Pacaran
Menurut Hurlock (1980) remaja adalah mereka yang berada
pada usia 12-18 tahun.Hurlock (1980) membagi masa remaja menjadi
masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir
(16 atau 17 hingga 18 tahun). Hurlock (1980) membedakan masa
remaja awal dan akhir karena pada masa remaja awal, individu masih
menonjol karakteristik perkembangannya dengan masa kanak-kanak
akhir, sedangkan masa remaja akhir, individu telah mencapai transisi
perkembangan yang telah mendekati dewasa.
Anna Freud (dalam Hurlock, 1980) berpendapat bahwa pada
masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual,
dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan
cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses
Menurut Monks (2006), remaja adalah mereka yang berusia
12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja
berada pada rentang 12-23 tahun, masa remaja merupakan masa badai
dan tekanan (storm and stress).
Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau
pencarian identitas diri. Remaja adalah tahap umur yang datang
setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik
cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan
dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap,
perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja (Darajat, 1990).
Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi
condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam
kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan
dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa.
Biasanya remaja belum dianggap sebagai anggota masyarakat yang
perlu didengar dan dipertimbangkan pendapatnya serta dianggap
belum mampu sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya. Terlebih
dahulu, mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam kapasitas tertentu, serta mempunyai kemantapan emosi, sosial
dan kepribadian. Masa remaja merupakan masa dimana timbulnya
berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan
kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya pikir menjadi matang.
menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecamuk harapan dan
tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui
dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang
matang.
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu
bersosialisasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi
merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada
dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek
efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga
perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang
khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai
integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya
merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
(Hurlock, 1980).
Secara kognitif, menurut Piaget (dalam Santrock, 2003), pada
masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur
otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas
untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berfikir abstrak.
Remaja yang telah matang dalam kognisi dapat memahami bahwa
tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat mempengaruhi di masa
memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya
kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Remaja dalam berperilaku dipengaruhi oleh kognitif
(pengetahuannya) yang kemudian muncul afeksi (perasaan). Sehingga
dalam berperilaku, tidak cukup hanya kognisi saja, namun afeksi juga
ikut menentukan perilaku seseorang. Seperti pada perilaku pacaran
pada remaja. Remaja yang telah memiliki pengetahuan mengenai
pacaran yang sehat. Tentu perilaku yang muncul akan berbeda dengan
remaja yang belum memahami makna pacaran yang sehat. Karena
dalam bertingkahlaku, seseorang dipengaruhi oleh kognisi dan
afeksinya. Namun, pengetahuan (kognisi) dalam pacaran yang sehat saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan perasaan yang
muncul. Antara kognisi, afeksi dan behavioristic harus selaras agar remaja dalam berperilaku dapat sesuai dengan aspek-aspek yang ada
pada pacaran yang sehat sehingga remaja tidak terjerumus dalam
pergaulan pacaran yang kurang tepat atau gaya pacaran yang tidak
sehat.
Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa masa remaja (adolescence) adalah masa
perkembangan transisi dari masa kanak-kanak menjadi dewasa
dimulai sejak usia 11 atau 12 tahun hingga 18 tahun. Pada masa
remaja terjadi perkembangan yang mencakup perubahan biologis,
2. Karakteristik Masa Remaja
Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock (1980) adalah:
a. Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa
kanak-kanak ke peralihan masa dewasa.
Pada masa periode peralihan ini bukan berarti terputus atau
berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih
pada sebuah peralihan dari tahap perkembangan satu ke tahap
perkembangan selanjutnya. Anak-anak harus meninggalkan
segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus
mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan
perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.
b. Masa remaja sebagai periode perubahan.
Pada masa ini, remaja mengalami lima perubahan, yaitu:
meningginya emosi yang tingkat intensitasnya bergantung pada
tingkat perunahan fisik dan psikologis yang terjadi; perubahan
tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial;
remaja merasa banyak ditimbuni masalah; terjadi perubahan
nilai-nilai pada masa kanak-kanak menjadi remaja dan remaja
menuntut kebebasan.
c. Masa remaja sebagai usia bermasalah.
Remaja tidak mampu untuk menyelesaikan
d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri
dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dna
perempuan.
e. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru,
karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.
f. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para
remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir
dewasa.
Jadi remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke
masa dewasa pada rentang usia 12-18 tahun yang terjadi proses
pematangan individu menuju ke masa dewasa awal.
3. Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Juntika (2013) tugas perkembangan remaja adalah
sebagai berikut:
a. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman
sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun dengan jenis
kelamin yang lain. Artinya para remaja memandang gadis-gadis
sebagai wanita dan laki-laki sebagai laki-laki, menjadi manusia
dengan orang lain dengan tujuan-tujuan bersama, dapat menahan
dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi dan belajar
memimpin orang lain tanpa dominasi.
b. Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin
masing-masing. Artinya, mempelajari dan menerima peranan
masing-masing sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau
norma-norma masyarakat.
c. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakan nya
seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.
d. Mencapai kepuasan emosional dari orang tua atau dewasa lainnnya.
Ia tidak kekanak-kanakan lagi, yang selau terikat kepada orang
tuanya. Ia membebaskan dirinya dari ketergantungannya terhadap
orang tua atau orang lain.
e. Mencapai kebebasan ekonomi. Ia merasa sanggup untuk hidup
berdasarkan usaha sendiri. Ini terutama sangat penting bagi
laki-laki. Akan tetapi, dewasa ini bagi kaum wanita tugas ini
berangsur-angsur menjadi sangat penting.
f. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan.
Artinya memilih satu jenis pekerjaan sesuai dengan bakatnya dan
g. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup
berumah tangga. Mengembangkan sikap yang positif terhadap
kehidupan keluarga dan memiliki anak. Bagi wanita hal ini harus
dilengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan sebagaimana
mengurus rumah tangga (home management) dan memelihara anak. h. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang
diperlukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat. Maksudnya
adalah bahwa untuk menjadi warga negara yang baik perlu
memiliki pengetahuan tentang hukum, pemerintahan, ekonomi,
politik, geografi, hakekat manusia dan lembaga-lembaga
kemasyarakatan.
i. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat
dipertanggungjawabkan. Artinya, ikut serta dalam
kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab,
menghormati serta mentaati nilai-nilai sosial yang berlaku dalam
lingkungannya baik regional maupun nasional.
j. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam
tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.
Norma-norma tersebut secara dasar dikembangkan dan direalisasikan
dalam menetapkan kedudukan manusia dalam hubungannya
dengan alam semesta dan dalam hubungannya dengan
manusia-manusia lain, membentuk suatu gambaran dunia dan memelihara
Sementara itu, Yusuf (2010) mengemukakan tugas-tugas
perkembangan remaja antara lain:
a. Menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif.
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa
lainnya.
c. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
d. Memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan.
e. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
f. Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang perlu
bagi kompetensi sebagai warga Negara.
C. Bimbingan Pribadi-Sosial
1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial
Menurut Winkel dan Hastuti (2006), bimbingan Pribadi-Sosial
berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan
mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam mengatur
diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu
luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya; serta bimbingan dalam
membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan
Menurut Yusuf (2010), Bimbingan Pribadi-Sosial merupakan
bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah
pribadi-sosial. Masalah-masalah tersebut antara lain masalah hubungan
dengan sesama teman, dengan guru, dan staf sekolah, pemahaman sifat
dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan
masyarakat tempat mereka tinggal, dan penyelesaian konflik.
Ahmadi (2004) mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi-sosial
adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat
menghadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya,
mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, dan
kegiatan rekreatif yang bernilai guna serta berdaya upaya sendiri dalam
memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang
dialaminya.
Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa bimbingan pribadi sosial merupakan upaya pemberian
bantuan kepada individu dalam memantapkan kepribadian dan
mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah
yang berkaitan dengan diri sendiri maupun orang lain.
2. Bimbingan Pemahaman Pacaran yang Sehat
Upaya pengembangan pemahaman pacaran yang sehat melalui
bimbingan yang diberikan oleh seorang yang professional dalam bidang
khususnya bagi siwa SMA Negeri 1 Bobotsari. Hal ini sejalan dengan
makna bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada
individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu tersebut
dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan
bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan peraturan serta norma
yang ada di keluarga maupun masyarakat tempat dia tinggal. Layanan
bimbingan yang memfokuskan pada pelayanan bimbingan pribadi-sosial
diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan pemahaman siswa
31
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, alat pengumpul
data, dan teknik analisis data yang digunakan.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu penelitian
yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat
penelitian dilakukan (Furchan, 2007). Metode ini digunakan untuk
memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi sekarang.
Sifat deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh
gambaran mengenai pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI
SMA N 1 Bobotsari.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas XI SMA N 1 Bobotsari
Tahun ajaran 2014/ 2015. Siswa kelas XI dipilih sebagai subjek penelitian
karena siswa-siswi kelas XI berumur 15-18 tahun yang memiliki tugas
perkembangan membentuk hubungan baru dengan teman sebaya lawan jenis.
SMA Negeri 1 Bobotsari dipilih sebagai tempat penelitian karena; Pertama,
SMA tersebut merupakan salah satu SMA favorit yang ada di kabupaten
Purbalingga, sehingga peneliti tertarik ingin mengetahui bagaimana tingkat
pemahaman siswa mengenai pacaran yang sehat pada SMA favorit. Kedua,
siswa SMA tersebut tergolong pada masa remaja akhir dengan usia rata-rata
relasi dengan lawan jenis, termasuk didalamnya mengalami masa
berpacaran. Ketiga, SMA tersebut merupakan sekolah dimana peneliti
menempuh jenjang pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Peneliti
merupakan alumni SMA Negeri 1 Bobotsari pada tahun 2009, sehingga
mampu memberikan pemahaman lebih mengenai latar belakang kehidupan
siswa SMA tersebut.
Tabel 1 Subjek Penelitian
Kelas Jumlah XI IPS 1 25 XI IPS 2 23 XI IPS 3 25 XI IPS 4 25 XI IPA 1 28 XI IPA 3 21 XI IPA 4 27 Jumlah 174
Penelitian ini melibatkan sejumlah 174 siswa yang terbagi di kelas XI.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner/ angket. Kuesioner yang disusun peneliti mengacu pada
prinsip-prinsip skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial
(Sugiyono, 2010). Pernyataan yang terdapat dalam Inventori Pemahaman
pernyataan negatif atau unfavourable. Pernyataan positif atau favourable
merupakan konsep keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut/variabel
yang diukur. Sedangkan pernyataan negatif atau unfavourable yaitu konsep keperilakuan yang tidak sesuai/ tidak mendukung atribut/ variabel yang
diukur.
Kuesioner ini dikonstruk berdasarkan aspek-aspek pacaran yang sehat
dari Rahman dan Hirmaningsih (1997). Butir-butir kuesioner ini memiliki 4
alternatif jawaban, yaitu STS: Sangat Tidak Setuju, TS: Tidak Setuju, S:
Setuju, SS: Sangat Setuju.
Penentuan skor untuk setiap jawaban dari item-item pernyataan adalah
sebagai berikut:
Tabel 2
Norma Skoring Inventori Pemahaman Pacaran yang Sehat
No
Pertanyaan bersifat positif Pertanyaan bersifat negative Pilihan Skor Pilihan Skor
Konstruk kuesioner ini dijabarkan dalam bentuk konstruk sebagai berikut:
Tabel 3
Kisi-kisi Kuesioner Pacaran yang Sehat
No Aspek Indikator Favourable Unfavourable ∑ 1. Fisik a. Menghindari
aktivitas-aktivitas yang
2. Psikis a. Menciptakan suasana hubungan yang sehat,
D. Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 1. Validitas
Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada
objek dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2010).
Menurut Masidjo (1995), validitas adalah taraf sampai dimana suatu alat
tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Jenis validitas yang
digunakan adalah validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang
mengukur relevansi item kuesioner dengan indikator keperilakuan dan
dengan tujuan ukur (Azwar, 2007). Untuk melakukan pengujian validitas
isi, dilakukan dengan cara konsultasi kepada ahli yang relevan. Validitas
isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi alat
ukur dengan analisis rasional dengan cara professional judgement (Azwar
2007). Menurut Ary, Jacobs, dan Razavieh (2007) validitas isi tidak dapat
dinyatakan dengan angka namun pengesahannya berdasarkan
pertimbangan yang diberikan oleh ahli (expert judgement). Dalam penelitian ini, instrumen penelitian dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek
yang akan diukur dan selanjutnya dikonsultasikan kepada dosen
pembimbing yaitu Dr. Gendon Barus, M.Si. Dosen memberikan penilaian
terhadap kesesuaian antara variable penelitian, indicator penelitian, dan
rumusan kalimat pernyataan atau item kuesioner.
Hasil dari konsultasi dan telaah yang dilakukan oleh dosen
pembimbing dilengkapi dengan pengujian empirik dengan cara
aspek dengan menggunakan aplikasi program komputer SPSS 22 for Window. Teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi
Spearman's rho. Rumus korelasi Spearman's rho adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Kriteria uji validitas pada instrument penelitian ini berdasarkan
korelasi item total, biasanya digunakan batas ≥ 0, 30. Maka item yang
mencapai skor lebih dari 0, 30 dinyatakan valid, dan sebaliknya apabila
skor dibawah 0, 30 maka item tersebut dinyatakan tidak valid. Jika jumlah
item yang valid ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan,
maka dapat diturunkan sedikit batas kriteria 0, 30 menjadi 0, 25 (Azwar,
2009).
Pada tanggal 15-18 Juli 2014 dilakukan uji coba yang juga penelitian
terhadap instrumen (uji empirik) kepada siswa kelas XI SMA Negeri 1
Bobotsari yang berjumlah (N) 40 siswa untuk subjek uji coba yang
diambil secara simple random sampling pada tujuh kelas dan sejumlah (N) 174 siswa untuk subjek penelitian. Dari hasil pemeriksaan konsistensi
butir, diperoleh 26 butir item yang gugur dari 64 butir item, sehingga
terdapat 38 item yang dinyatakan valid. Rincian item yang gugur dapat
Tabel 4
Rincian Item yang Valid dan Gugur
No Aspek Indikator No Item 1. Fisik a. Menghindari
aktivitas-aktivitas yang 2. Psikis a. Menciptakan suasana
hubungan yang sehat,
2. Reliabilitas
Reliabilitas artinya tingkat kepercayaan hasil pengukuran.
Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi yaitu yang mampu
memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut sebagai reliabel (Azwar,
2009). Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner penelitian ini
menggunakan pendekatan koefisien Alpha Cronbach (α). Berikut ini rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (α)
α =
2[1-
]
Keterangan rumus:
S12 dan S22 : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2
Sx2 : varians skor skala
Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonsultasikan dengan kriteria
Guilford (Masidjo, 1995).
Tabel 5 Kriteria Guilford
No Koefisien Korelasi Kualifikasi
1 0,91 – 1,00 Sangat tinggi
2 0,71 – 0,90 Tinggi
3 0,41 – 0,70 Cukup
4 0,21 – 0,40 Rendah
5 negatif – 0,20 Sangat Rendah
Dari hasil uji coba kepada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari
pada tanggal 15-18 Juli 2014 dengan jumlah subjek (N) 40 siswa,
diperoleh perhitungan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0.769.
Berdasarkan peninjauan terhadap hasil perhitungan koefisien
reliabilitas pada kriteria Guilford, dapat disimpulkan bahwa koefisien
reliabilitas instrumen masuk dalam kriteria tinggi.
E. Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan
variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari
seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, serta
melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah (Sugiyono, 2010).
Berikut merupakan langkah-langkah teknik analisis data yang ditempuh
dalam penelitian ini:
1. Menentukan skor dan pengolahan data
Penentuan skor pada item kuesioner dilakukan dengan cara
memberikan nilai dari angka 1 sampai 4 berdasarkan norma skoring yang
berlaku dengan melihat sifat pernyataan favourable atau unfavourable,
selanjutnya memasukkannya ke dalam tabulasi data pada microsoft exel dan menghitung total jumlah skor subjek serta jumlah skor item. Tahap
selanjutnya adalah menganalisis data secara statistik dengan menggunakan
program aplikasi SPSS22. 2. Menentukan kategori
Pengkategorian tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat siswa kelas
XI SMA Negeri 1 Bobotsari disusun berdasarkan model distribusi normal.
Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam
berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2009). Kontinum jenjang pada
penelitian ini adalah dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi.
Norma kategorisasi disusun berdasar pada norma kategorisasi yang
disusun oleh Azwar (2009) yang mengelompokkan tingkat pemahaman
Pacaran yang Sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari ke dalam
lima kategori: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi dengan
norma kategorisasi sebagai berikut:
Tabel 6
Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat
Norma/Kriteria Skor Kategori Makna Kategori
µ+2 σ< X Sangat Tinggi
Skor maksimum teoritik : Skor tertinggi yang diperoleh subjek Penelitian berdasarkan perhitungan skala Skor minimum teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek
Penelitian menurut perhitungan skala
µ (mea[n teoritik) : Rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum
Kategori di atas diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan
baik tidaknya tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa SMA
Negeri 1 Bobotsari dengan jumlah item = 38, diperoleh unsur perhitungan
capaian skor subjek sebagai berikut:
Skor maksimum teoritik : 4 x 38 = 152
Skor minimum teoritik : 1 x 38 = 38
Luas jarak : 152 – 38 = 114
Standar deviasi (σ / sd) : 114 : 6 = 19
µ (mean teoritik) : (152+38) : 2 = 95
Hasil perhitungan analisis data skor subjek disajikan dalam norma
kategorisasi tingkat pemahanan pacaran yang sehat siswa kelas XI SMA
Negeri 1 Bobotsari sebagai berikut.
Tabel 7
Norma Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari
Norma/Kriteria Skor Rentang Skor Kategori
µ+2σ< X X > 133 Sangat Baik
µ + 1 σ <X≤µ +2 σ 114 < X ≤ 133 Baik
µ -1 σ <X≤ µ + 1σ 76 <X≤ 114 Cukup Baik
µ - 2 σ <X≤ µ +1σ 57 <X≤ 76 Kurang Baik
X≤ µ-2 σ X≤ 57 Sangat Kurang Baik
Berdasarkan norma kategori pada tabel 6, ditetapkan pengelompokan
Negeri 1 Bobotsari dengan jumlah subjek= 174, diperoleh unsur
perhitungan skor item sebagai berikut:
Skor maksimum teoritik : 4 x 174 = 696
Skor minimum teoritik : 1 x 174 = 174
Luas Jarak : 696 – 174 = 522
Standar deviasi (σ / sd) : 522 : 6 = 87
µ (mean teoritik) : (696+174) : 2 = 435
Hasil perhitungan analisis data skor butir/item pemahaman pacaran
yang sehat disajikan dalam norma kategorisasi sebagai berikut:
Tabel 8
Norma Kategorisasi Skor Butir Instrumen Pacaran yang Sehat
Norma Skor Rentang Skor Kategori
µ +2 σ < X X > 609 Sangat Tinggi
µ + 1 σ <X≤ µ + 2 σ 522 < X ≤ 609 Tinggi
µ -1 σ <X≤ µ + 1 σ 348 <X≤ 522 Sedang
µ - 2 σ <X≤ µ -1 σ 261 <X≤ 348 Rendah
F. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti melakukan
tahap-tahap sebagai berikut:
1. Membuat kuesioner Pacaran yang Sehat.
2. Menentukan aspek-aspek sesuai dengan pacaran yang sehat menurut
Hirmaningsih (1997).
3. Membuat indikator yang disesuaikan dengan setiap aspek Pacaran yang
Sehat.
4. Membuat item yang sesuai dengan indikator setiap aspek.
5. Melakukan revisi kuesioner sesuai dengan masukan dosen pembimbing
(expert judgment).
6. Pengumpulan data uji coba validitas dan reliabilitas kuisioner.
7. Pengumpulan data penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan
kuesioner kepada siswa kelas XI sebanyak 7 kelas (N) 174) di SMA
Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015.
44 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan. Penyajian hasil
penelitian didasarkan pada rumusan masalah.
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Gambaran Umum Subjek Penelitian
Berdasarkan perolehan data penelitian, dan diolah sesuai dengan
prosedur penelitian, diperoleh gambaran umum subjek penelitian sebagai
berikut yang dapat dilihat di table 9.
Tabel 9
Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan
Jenis Kelamin, Usia dan Pernah atau Belum pernah Berpacaran
No KATEGORI JENIS KELAMIN Jumlah Dalam
persen
2. a. Pernah Berpacaran
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa:
a. Sebanyak 174 siswa terlibat dalam penelitian pemahaman
pacaran yang sehat. Berdasarkan jenis kelamin siswa dalam
kategori usia, jumlah siswa putri lebih banyak, yaitu 132 siswa
dan jumlah siswa putra sebanyak 42 siswa.
b. Kategori pernah berpacaran dan belum pernah berpacaran,
remaja putri lebih banyak, yaitu 102 dan remaja putra yang
pernah berpacaran sebanyak 31 siswa. Kemudian sebanyak 31
siswa putri yang belum pernah berpacaran dan 10 siswa putra
yang belum pernah berpacaran.
2. Tingkat pemahaman Pacaran yang Sehat pada Siswa kelas XI SMA
Negeri 1 Bobotsari Tahun Ajaran 2014/ 2015
Berdasarkan perolehan data penelitian yang dikumpulkan dengan
menggunakan alat kuesioner Pacaran yang Sehat, kemudian dilakukan
analisis data dengan menggunakan kriteria Azwar (2009) diketahui
tingkat pemahaman pacaran yang sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri
Tabel 10
Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari
Rentang Skor Kategori Distribusi
Subjek Persentase
Dalam perspektif grafis, kategorisasi tingkat pemahaman pacaran yang
sehat pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari tahun ajaran 2014/
2015 tergambar sebagai berikut:
Grafik I. Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat siswa SMA Negeri 1 Bobotsari
Kategorisasi Tingkat Pemahaman Pacaran yang Sehat
Pengamatan pada tabel maupun grafik menunjukkan:
a. Terdapat 48 siswa (27, 5%), yang memiliki pemahaman pacaran
yang sehat sangat baik.
b. Terdapat 121 siswa (69, 5%), yang memiliki pemahaman pacaran
yang sehat baik.
c. Terdapat 5 siswa (3%), yang memiliki pemahaman pacaran yang
sehat cukup baik.
d. Tidak terdapat siswa (0%), yang memiliki pemahaman pacaran
yang sehat kurang baik.
e. Tidak terdapat siswa (0%), yang memiliki pemahaman pacaran
yang sehat sangat kurang baik.
Jadi, sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bobotsari
telah memiliki pemahaman pacaran yang sehat dalam kategori baik
dan hanya 3% saja dari jumlah subjek yang diteliti teridentifikasi
cukup dalam pemahaman pacaran yang sehat.
2. Hasil Analisis Capaian Skor Item tingkat Pemahaman Pacaran yang
Sehat
Berdasarkan data yang terkumpul dan melakukan analisis data
menggunakan kriteria Azwar (2009) didapat skor-skor item yang
masuk ke dalam kategorisasi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan
sangat rendah. Item-item dengan skor yang berada di kategori sedang
hingga sangat rendah adalah item-item yang akan digunakan sebagai