• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naning Yuniarti, Yetti Heryati, Tati Rostiwati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Naning Yuniarti, Yetti Heryati, Tati Rostiwati"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 1410-1939

J

URNAL

A

GRONOMI

Publikasi Nasional Ilmu Budidaya Pertanian

Volume 9, Nomor 1, Januari - Juni 2005

(2)

J

URNAL

A

GRONOMI

Publikasi Nasional Ilmu Budidaya Pertanian

Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan yang diangkat dari hasilhasil penelitian dan kajian analisis-kritis di bidang ilmu budidaya pertanian (teknologi benih, perbanyakan tanaman, pemu-liaan tanaman, perlindungan tanaman, produksi tanaman, panen dan pasca panen, bioteknologi tanaman, dan ilmu tanah). ISSN 1410-1939.

Ketua Penyunting

Zulkarnain

Wakil Ketua Penyunting

Sarman S.

Penyunting Pelaksana

Bambang Irawan Nerty Soverda

Wilma Yunita M. Syarif

Eliyanti

Pelaksana Tata Usaha

Husda Marwan Gusniwati

M. Zuhdi

Alamat Penyunting dan Tata Usaha: Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi 36361. Telpon/Faksimil (0741) 583051 atau (0741) 582781. Email: [email protected]

JURNAL AGRONOMI diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Jambi dan Perhimpunan Agrono-mi Indonesia (PERAGI) KoAgrono-misariat Jambi. Dekan: Zulkifli, Pembantu Dekan I: A. Rahman, Pembantu Dekan II: Sarman S., Pembantu Dekan III: Y.M.S. Rambe. Terbit pertama kali pada tahun 1996 dengan nama Buletin Agronomi Universitas Jambi.

Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan pada media lain, baik cetak mau-pun elektronik. Naskah tulisan diketik di atas kertas HVS ukuran A4 spasi ganda, panjang tulisan 10 – 20 halaman dengan format seperti tercantum pada halaman kulit dalam-belakang (“Pedoman Penulisan”). Nas -kah yang masuk akan dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, istilah dan tata cara lainnya tan-pa mengubah isi tulisan. Kontribusi penulisan sebesar Rp100.000,00 bagi pelanggan dan Rp150.000,00 ba-gi bukan pelanggan untuk setiap artikel yang dimuat, dan dapat dibayar setelah ada pemberitahuan pemuat-an tulispemuat-an. Penulis ypemuat-ang artikelnya dimuat akpemuat-an mendapatkpemuat-an lima eksemplar cetak lepas dpemuat-an satu eksem-plar nomor bukti pemuatan. Artikel yang tidak dimuat tidak akan dikembalikan.

(3)

J

URNAL

A

GRONOMI

Publikasi Nasional Ilmu Budidaya Pertanian

Volume 9, Nomor 1, Januari - Juni 2005

Daftar Isi

Korelasi Genetik antara Jumlah Berkas Pembuluh dengan Beberapa Karakter Penting pada Kedelai [Glycine max (L.) Merr.].

Yulia Alia 1 - 4

Mikropropagasi Kentang (Solanum tuberosum L.) cv. Granola: Pengaruh Periode Gelap pada Awal Kultur dan Pengaruh Konsentrasi Kinetin pada Kultur Lanjutan.

Zulkarnain, Budiyati Ichwan dan Rini Astuti 5 - 8

Hasil Tanaman Jagung pada Berbagai Dosis dan Cara Pemupukan N pada Lahan dengan Sistem Olah Tanah Minimum.

Nyimas Myrna E. F. 9 - 15

Pengkajian Penerapan Teknis Baku Budidaya Bibit Tebu Varietas PS 851 dan PS 951 pada Tingkat Kebun Bibit Datar.

Dudi Iskandar 17 - 21

Penampilan Beberapa Varietas Padi Gogo yang Ditanam di Antara Karet Muda.

Lutfi Izhar dan Mildaerizanti 23 - 26 Produksi Bibit Pisang Raja Nangka (Musa sp.) secara Kultur Jaringan dengan

Eksplan Anakan dan Bunga.

Rainiyati, A. Chozin, Sudarsono dan I. Mansyur 27 - 32

Pengaruh Pemberian Beberapa Kombinasi NAA dan BAP terhadap Kandungan Ajmalisin dalam Kultur Agregat Sel Catharanthus roseus (L.) G. Don.

Revis Asra 33 - 36

Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati terhadap Perkembangan Populasi Hama Sitophilus oryzae L. pada Simpanan Beras.

Aryunis, Wilma Yunita, Fitry Tafzi 37 - 42

Pemilihan Metoda dan Media Uji Perkecambahan Benih Tisuk (Hibiscus sp.).

Naning Yuniarti, Yetti Heryati, Tati Rostiwati 43 - 47 Bulian (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.) sebagai Salah Satu Komoditas

Unggulan di Propinsi Jambi.

Bambang Irawan 49 - 54

Endosperm Balance Number (EBN)-Hypothesissebagai Model Penduga Keberhasilan Hibridisasi pada Tanaman.

Eliyanti 55 - 58

(4)

ISSN 1410-1939

5

MIKROPROPAGASI KENTANG (

Solanum tuberosum

L.) cv. GRANOLA:

PENGARUH PERIODE GELAP PADA AWAL KULTUR DAN PENGARUH

KONSENTRASI KINETIN PADA KULTUR LANJUTAN

[MICROPROPAGATION OF POTATO (

Solanum tuberosum

L.) cv. GRANOLA:

THE EFFECT OF DARK PERIOD AT CULTURE INITIATION AND THE

EFFECT OF KINETIN CONCENTRATIONS DURING SUB-CULTURE]

Zulkarnain, Budiyati Ichwan dan Rini Astuti

1

Abstract

This study was aimed at investigating the growth and development of potato shoot explants as affected by dark various periods (0, 4, 7 and 10 days) at culture initiation, followed by culturing onto solid MS medium supple-mented with 0.5 µM IAA plus kinetin at various concentrations (0.1, 1.0, 2.0, 10 and 20 µM). Explants were obtained from adventitious shoot at approximately 5 cm long taken from tubers of potato cv. Granola obtained from Balai Benih Induk Kentang, Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi. Cultures were maintained at 25 ± 1 oC with light intensity of 50 µmol m-2 s-1 and photoperiod 16 hours, except those treated with dark pe-riod. The results showed that culture incubation at total dark condition for 7 days produced better shoot and root growth than other treatments. At 10 days incubation, all cultured explants died. In addition, 0.5 µM IAA + 0.5 µM kinetin produced the best shoot and root growth during sub-culture. All explants died when cultured on medium supplemented with 0.5 µM IAA plus kinetin at 2.0 µM or more.

Key words: tissue culture, growth regulator, plant hormone, light, potato, Solanum tuberosum.

Kata kunci: kultur jaringan, zat pengatur tumbuh, hormon tanaman, cahaya, kentang, Solanum tuberosum.

1 Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi 36361

Tel./Fax: (0741) 583051

PENDAHULUAN

Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah salah satu tanaman sayuran penting di Indonesia yang sudah lama dikenal masyarakat. Dengan mening-katnya kampanye diversifikasi pangan serta ber-kembangnya industri makanan ringan yang meng-gunakan kentang sebagai bahan pokok, semakin menjadikan tanaman ini sebagai komoditas hortikultura yang penting. Sebagai komoditas sayuran, kentang mengandung nilai gizi yang tinggi, yaitu mengandung senyawa-senyawa karbohidrat, protein, mineral (fosfor, besi dan kalsium), dan paling sedikit 12 vitamin esensial, termasuk vitamin B dan C dengan kadar yang cukup tinggi. Menurut Cahyono (1996), kandungan gizi setiap 100 g umbi yang dapat di-konsumsi adalah 347 kalori, 85,6 g karbohidrat, 0,3 g protein, 0,1 g lemak, 30 mg fosfor, 20 mg kalsium, 0,5 mg besi, dan 0,04 g vitamin B. Oleh sebab itu, kentang sangat berpotensi untuk menunjang program perbaikan gizi masyarakat Indonesia.

Produksi kentang Propinsi Jambi memperlihat-kan perkembangan yang menggembiramemperlihat-kan. Pada tahun 2000, produksi kentang di propinsi ini sebe-sar 14,23 ton ha-1, yang meningkat menjadi 20,4 ton ha-1 pada tahun 2001, dan 20,9 ton ha-1 pada tahun 2002 (Kantor Statistik Propinsi Jambi, 2003). Produksi ini diharapkan dapat dipertahan-kan (jika tidak ditingkatdipertahan-kan), sehingga setidak-tidaknya dapat memenuhi kebutuhan kentang bagi pasar lokal.

(5)

Jurnal Agronomi 9(1): 5-8

6

masalah serius bagi perbanyakan tanaman secara vegetatif konvensional menggunakan umbi (Goleniowski et al., 2003).

Suatu pendekatan yang dapat dilakukan untuk perbanyakan tanaman kentang unggul secara sehat adalah dengan memanfaatkan teknik mikropropa-gasi, yaitu pemanfaatan teknik kultur jaringan ta-naman untuk perbanyakan tata-naman. Aplikasi tek-nik ini pada upaya perbanyakan tanaman kentang sudah banyak dilaporkan (Alconero et al., 1975; Wang, 1977; Harisson, 1979; Duriat, 1987). Ke-unggulan perbanyakan tanaman kentang melalui mikropropagasi dibandingkan dengan metoda lain adalah dapat dihasilkan bibit bebas patogen. Hal ini dimungkin-kan karena cendawan dan bakteri dapat berkembang dengan cepat di dalam kondisi

in vitro, sehingga hanya tanaman yang benar-benar bersih (bebas cendawan dan/atau bakteri) yang di-pelihara. Bahkan, dengan menggunakan meristem sebagai bahan eksplan akan dapat diregenerasikan individu tanaman yang bebas dari infeksi virus (Alconero et al., 1975; Duriat, 1987). Hal yang tidak kalah pentingnya adalah, karena teknik ini menggunakan jaringan somatik (vegetatif) sebagai bahan tanam awal, maka tanaman yang diregene-rasikan akan memiliki si-fat-sifat yang sama seper-ti induknya. Dengan demikian, aplikasi teknik mi-kropropagasi pada tanaman kentang menawarkan keunggulan yang lebih banyak dibandingkan de-ngan teknik perbanyakan vegetatif konvensional menggunakan umbi.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian terhadap mikroprogasi tanaman kentang cv. Granola asal Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan fokus kajian pada pengaruh lama-nya periode gelap pada tahap inisiasi, dan pe-ngaruh zat pengatur tumbuh pada tahap kultur lanjutan.

BAHAN DAN METODA

Bahan tanaman. Tanaman induk berasal dari Balai Benih Induk Kentang, Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi. Umbi berukuran dia-meter lebih-kurang 5 cm dicuci bersih dan disteril-kan di dalam larutan NaOCl 1% selama 30 menit, lalu dikeringkan di atas kertas koran steril. Perke-cambahan umbi dilakukan di dalam kotak steril yang ditempatkan pada suhu 25 ± 1oC dan dalam keadaan gelap total. Tunas adventif yang tumbuh selanjutnya dipanen pada saat berukuran kira-kira 5 mm.

Medium kultur. Medium kultur yang diguna-kan adalah komposisi MS (Murashige dan Skoog,

1962) yang dilengkapi dengan vitamin, myo- inosi-tol serta sukrosa 30 g L-1. Kemasaman medium

di-tetapkan 5,8 ± 0,02 sebelum ditambahkan bahan

pemadat agar (Bacto agar, Difco, Fisher Scientific) sebanyak 8 g L-1, dan dipanaskan hingga larut. Larutan medium yang sudah homogen selanjutnya dituangkan ke dalam wadah kultur (bekas botol selai) sebanyak masing-masing 20 mL per wadah, lalu ditutup dengan aluminium foil. Medium selan-jutnya disterilkan di dalam otoklaf pada tekanan 1,06 kPa, suhu 121 oC, selama 30 menit.

Penanaman eksplan. Tunas adventif yang di-gunakan sebagai bahan eksplan direndam di dalam larutan NaOCl 1% selama 30 menit, lalu dibilas ti-ga kali denti-gan air steril. Kemudian tunas tersebut direndam lagi di dalam larutan NaOCl 0,5% sela-ma 30 menit sebelum dibilas tiga kali dengan air steril. Selanjutnya tunas tersebut dikeringkan di atas kertas tisu steril, dan jaringan pada permukaan luka potongan yang rusak akibat proses sterilisasi dipotong/dibuang. Eksplan ditanamkan pada per-mukaan medium dengan arah horizontal. Di dalam setiap wadah kultur ditanamkan tiga eksplan.

Pemeliharaan kultur. Kultur ditempatkan pa-da rakrak di pa-dalam ruang kultur. Suhu di pa-dalam ru-ang kultur diatur pada kisaran 25 ± 1 oC. Sesuai dengan perlakuan yang akan diuji, pada tahap inisiasi, kultur dihadapkan pada kondisi gelap total selama 2, 4, 7, dan 10 hari, sebelum dipindahkan ke kondisi cahaya dengan fotoperiodesitas 16 jam dan intensitas 50 µmol m-2 s-1 yang diperoleh dari lampu TL berwarna putih (Phillips Indonesia). Di bawah kondisi cahaya, kultur dipelihara selama empat minggu untuk melihat perkembangannya sebagai akibat perlakuan periode gelap.

Subkultur. Plantlet yang berasal dari perlaku-an lama periode gelap yperlaku-ang terbaik selperlaku-anjutnya di-pilih sebagai bahan tanaman untuk menguji penga-ruh berbagai tingkat konsentrasi kinetin. Sebagai bahan eksplan adalah setek mikro satu nodus yang dikulturkan pada medium yang sama seperti sebe-lumnya namun dilengkapi dengan IAA 0,5 µM dan kinetin 0,5, 1,0, 2,0, 10,0 dan 20,0 µM. Kultur se-lanjutnya dipelihara di dalam ruang kultur dengan suhu 25 ± 1 oC dan fotoperiodesitas 16 jam dengan intensitas cahaya 50 µmol m-2 s-1. Perkembangan kultur diamati selama empat minggu.

Rancangan percobaan dan analisis data.

(6)

Zulkarnain et al.: Mikropropagasi Kentang cv. Granola.

7 panjang akar. Data yang diperoleh dianalisis secara

statistik menggunakan sidik ragam dengan bantuan program Microsoft Excel (Microsoft Corporation, 2000).

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh periode gelap pada tahap inisiasi kultur

Dari empat perlakuan periode gelap yang diuji, hanya perlakuan 0, 4 dan 7 hari yang memperlihat-kan respon yang beragam. Sementara pada perlakuan periode gelap 10 hari semua eksplan yang dikulturkan mati (Tabel 1). Oleh karenanya, perlakuan periode gelap 10 hari tidak disertakan di dalam analisis statistik. Dari sidik ragam terungkap bahwa, perlakuan periode gelap pada masa awal kultur berpengaruh nyata terhadap jumlah eksplan yang membentuk tunas (P = 0,02), panjang tunas (P = 0,03) dan jumlah akar (P = 0,02), namun pengaruh tersebut tidak nyata terhadap panjang akar (P = 0,46)

Pola respon yang diperlihatkan oleh eksplan re-latif sama untuk semua peubah. Respon tertinggi dicapai pada perlakuan periode gelap 7 hari dan te-rendah pada perlakuan periode gelap 0 hari untuk peubah panjang tunas, jumlah akar dan panjang akar. Sedangkan untuk peubah jumlah eksplan yang membentuk tunas respon terendah diperlihatkan oleh perlakuan periode gelap 4 hari.

Tabel 1. Respon eksplan tunas umbi tanaman ken-tang cv. Granola yang diinkubasi pada berbagai periode gelap pada tahap inisiasi kultur.

Pentingnya periode gelap pada masa inisiasi kultur diperkirakan sebagai manifestasi dari modus kerja zat pengatur tumbuh, terutama auksin, yang aktif dalam keadaan tanpa cahaya (Salisbury dan Ross, 1992). Selain itu, dalam keadaan tanpa caha-ya, aktifitas senyawa fenol yang dikeluarkan oleh permukaan jaringan yang luka mengalami hambatan (Dodds dan Roberts, 1985), sehingga mengurangi atau bahkan mengeliminir pengaruh meracuni. Dengan demikian, inkubasi kultur dalam

keadaan gelap pada tahap inisiasi akan memberikan kesempatan kepada jaringan untuk tumbuh dan berkembang secara lebih baik. Akan tetapi, apabila periode gelap diberikan untuk jangka waktu yang lebih dari 7 hari, diperkirakan akan berakibat terjadinya gangguan pada sistem fisiologis jaringan, seperti hambatan fotosintesis, respirasi yang berlebihan, dan kemunduran dalam penyerapan air dan senyawa-senyawa kimia dari dalam medium. Sebagai akibatnya adalah terjadi kematian pada jaringan yang dikulturkan.

Pengaruh kinetin

Pada pengujian terhadap konsentrasi kinetin, hasil percobaan memperlihatkan bahwa dari semua konsentrasi kinetin yang diuji, respon eksplan hanya diperlihatkan pada perlakuan 0,5, 1,0 dan 2,0 µM. Sementara pada konsentrasi yang lebih tinggi, yakni 10,0 dan 20,0 µM semua eksplan mati (Tabel 2).

Tabel 2. Respon eksplan tunas umbi tanaman ken-tang cv. Granola terhadap berbagai kon-sentrasi kinetin yang dikombinasikan de-ngan 0,5 µM IAA.

(7)

Jurnal Agronomi 9(1): 5-8

8

Gambar 1. Pertumbuhan tunas adventif (A) dan akar adventif (B) dari eksplan yang di-beri perlakuan periode gelap selama 7 hari, dan plantlet yang diregenerasikan dari setek mikro yang dikulturkan pada medium dengan IAA 0,5 µM + kinetin 0,5 µM (C).

KESIMPULAN

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan terbaik dari eks-plan tunas umbi tanaman kentang cv. Granola pada

sistem in vitro menghendaki kehadiran 0,5 µM

IAA + 0,5 µM kinetin di dalam medium kultur, setelah sebelumnya eksplan tersebut dihadapkan pada periode gelap selama 7 hari.

DAFTAR PUSTAKA

Alconero, R., A. G. Santiago, F. Morales dan F. Rodriguez. 1975. Meristem tip culture and virus indexing of sweet potatoes. Phytopathology 65: 769-773.

Cahyono, B. 1996. Tanaman Kentang. CV Aneka, Solo. Dodds, J. H. dan L. W. Roberts. 1985. Experiments in

Plant Tissue Culture. Cambridge University Press, Cambridge.

Duriat, A. S. 1987. Heat treatment as a mean of eliminating Potato Leaf Roll Virus from seed of potato. Prosiding Mid Elevation Potato Seminar. Lembang: 47-54.

George, E. F. dan P. D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Exegetics Limited, England.

Goleniowski, M. E., C. Flamarique dan P. Bima. 2003. Micropropagation of oregano (Origanum vulgare x aplii) from meristem tips. In Vitro Cellular and Developmental Biology - Plant 39: 125-128.

Harisson, D. E. 1979. Meristem culture for eradication of viruses from potato seed. Prosiding Potato Virus Symposium and Seed-Potato Production Course. Baguio City, Phillipnes.

Hartmann, H. T., D. E. Kester dan F. T. Davis-Jr. 1990. Plant Propagation: Principles and Practices. Prentice-Hall International, Inc, Englewood Clifts, New Jersey.

Kantor-Statistik-Propinsi-Jambi. 2003. Jambi dalam Angka 2002. Kantor Statistik Propinsi Jambi, Jambi. Microsoft-Corporation. 2000. Microsoft Office 2000

Professional Edition. Microsoft Corporation, New York, USA.

Murashige, T. dan F. Skoog. 1962. A revised medium for rapid growth and bio assays with tobacco tissue cultures. Physiologia Plantarum 15: 473-497. Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1992. Plant Physiology

(4th edition). Wadsworth Publishing Company, Belmont, California.

Taji, A. M., W. A. Dodd dan R. R. Williams. 1997. Plant Tissue Culture Practice. University of New England, Armidale.

Gambar

Tabel 1. Respon eksplan tunas umbi tanaman ken-tang cv. Granola yang diinkubasi pada berbagai periode gelap pada tahap inisiasi kultur
Gambar 1. Pertumbuhan tunas adventif (A) dan akar adventif (B) dari eksplan yang di-beri perlakuan periode gelap selama 7 hari, dan plantlet yang diregenerasikan dari setek mikro yang dikulturkan pada medium dengan IAA 0,5 µM + kinetin 0,5 µM (C)

Referensi

Dokumen terkait

PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF PISANG BARANGAN ( Musa acuminata L.) DENGAN KONSENTRASI BAP DAN POSISI BONGGOL.. EKSPLAN YANG BEBEDA SECARA

odorata dari tunas orthotrop umur 4 dan 5 bulan setelah pemangkasan menghasilkan setek dengan persentase tumbuh, tinggi tunas, panjang akar, berat kering tunas dan akar

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa baik eksplan yang berasal dari tunas aksilar maupun tunas adventif yang ditanam pada media dasar MS dengan penambahan zat pengatur

Eksplan epikotil yang dikultur horisontal dapat membentuk tunas secara langsung di ruang terang pada media MS0, yaitu sebanyak 30% dapat membentuk 1–2 tunas/eksplan,

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa interaksi antara BA dengan media, mempengaruhi jumlah tunas adventif yang berkembang menjadi plantlet pada media ½ MS lebih banyak

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa baik eksplan yang berasal dari tunas aksilar maupun tunas adventif yang ditanam pada media dasar MS dengan penambahan zat pengatur

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa baik eksplan yang berasal dari tunas aksilar maupun tunas adventif yang ditanam pada media dasar MS dengan penambahan zat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi setek pucuk terbaik adalah tunas dari bibit umur 5 bulan dengan persen setek berakar, jumlah akar panjang akar dan berat kering