• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INTERTEKSTUAL TEMA DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU MINANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS INTERTEKSTUAL TEMA DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU MINANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INTERTEKSTUAL TEMA DAN GAYA BAHASA

DALAM LIRIK LAGU MINANG

Ardia Mahyu1), Syofiani2), Romi Isnanda2)

1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendididkan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Bung Hatta E-mail : [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this research to describe about intertextual, theme, and language styleon 10 lyrics of Minang song with the theme were mom “ Mandeh”.

While, the theori that used in this research from Atmazaki‟s sugges (2007) about language style, Teeuw ( Nurgiyantoro : 2010) about intertextual. The kind of this research was qualitative research that result descriptive data. The thing of this research of was lyric of song Basabalah Mandeh by Jefri A, Pasan Mandeh by Nuskan Syarif, Aie Mato Mandeh by Syahrul Tarun Yusuf, Ampun Mandeh by Syahrul Tarun Yusuf, Jaso Mandeh by Nuskan Syarif, Manjapuik Rila Mandeh

by Dasri Syahira, Mandeh Tagolek Rabah by Wan Parau, Kasiah Jo Mandeh by Jhota R.G, Doa Mandeh by Faqri Gani, Mandeh Tampek Baibo by Wan Parau. Based on analysis the data show the theme that explain from the author about Mom “Mandeh”. However, although the theme same presentation the lyric were different, like Basabalah Mandeh by Jefri A explained struggle of mom and child that regret the mistake to her mom. Based on this research concluded that 10 lyric of song had same theme. However used different language style to explain the idea of a mother figure.

(2)

A. PENDAHULUAN

Secara umum ilmu sastra menunjuk keistimewaan, barangkali juga keanehan yang mungkin tidak dapat kita lihat pada banyak cabang ilmu pengetahuan lain yaitu objek penelitiannya. Ahadiat (2007:1) mengatakan teori sastra adalah bagian ilmu sastra yang menggambarkan pengertian-pengertian dasar sastra, unsur-unsur yang membangun karya sastra, dan perkembangan serta kerangka pemikiran para pakar tentang apa yang mereka namakan sastra.

Pengelompokan terhadap karya sastra sebenarnya sudah banyak dilakukan sejak lama. Aristoteles dalam (Ahadiat 2007:23) mengatakan ada tiga kriteria yang dapat menjadi patokan, dari segi sarana perwujudanya karya sastra terbagi menjadi prosa dan puisi; dari segi objek perwujudan karya sastra membicarakan manusia: dan dari segi ragam perwujudannya karya sastra terbagi kepada epik, lirik dan drama (tik).

Menurut Kladen (dalam Atmazaki, 2007:41) bahasa menjadi indah karena ada puisi didalamnya,

puisi disampaikan melalui kata-kata karena puisi adalah keindahan yang menjelma dalam kata-kata. Kata-kata bukanlah sebab keindahan dalam puisi tetapi adalah akibatnya. Puisi tidak menjadi indah karena kata-kata melainkan kata-kata menjadi indah karena puisi yang dikandung.

Berdasarkan uraian tersebut, maka lirik lagu termasuk dalam sastra puisi, perbedaannya hanya pada penyampaian saja. Lirik lagu merupakan sastra imajinatif yang mengandung nilai keindahan dalam kata dan irama yang disampaikan dengan cara dinyanyikan.

Lagu biasanya diciptakan berdasarkan pengalaman atau terisnpirasi dengan karya sebelumnya. Oleh karena itu, antara lagu yang baru akan berkaitan dengan lagu sebelumnya. Lagu Pop Minang memiliki sejarah yang panjang dan berkembang dari masa ke-masa sesuai dengan zamannya. Syair-syair dalam lagu Minang tidak jauh beda dengan aliran lagu nusantara lainya yang menceritakan soal percintaan, kesedihan, kebahagiaan, ajaran budi pekerti, cerita daerah, dan identitas

(3)

daerah-daerah yang ada di Minangkabau. Bagi rakyat Minangkabau lagu adalah sebuah pesan dengan makna yang berkias seperti pantun, meskipun dengan bertambahnya zaman makna kias dalam lagu Minang mulai terkikis hilang.

Lagu pop Minang biasanya banyak menceritakan dirinya sendiri dengan Tuhan, diri sendiri dengan keluarga, atau diri sendiri dengan orang lain. Salah satu yang menjadi fenomenal dalam lagu Minang yaitu lirik lagu yang mengandung sebuah cerita antara diri sendiri dengan keluarga, baik itu kepada ayah maupun ibu. Lagu tentang Ibu atau dalam bahasa Minang, lagu tentang

mandeh banyak dijumpai dalam setiap karya diantara lagu Minang tersebut yaitu; “Basabalah Mandeh” karya Jefri A yangdipopulerkan oleh Boy Shandy, “Pasan Mandeh” karya Nuskam Syarif yang dipopulerkan oleh Tiar Ramon, “Aie Mato

Mande” karya Syahrul Tarun Yusuf yang dipopulerkan oleh Zalmon,

“Ampun Mandeh” karya Syahrul Tarun Yusuf yang dipopulerkan oleh Ria Amelia, “Jaso Mandeh” karya Nuskan Syarif yang dipopulerkan

oleh Ratu Sikumbang, “Manjapuik

Rila Mandeh” karya Dasri Syahira yang dipopulerkan oleh Dasri Syahira, “Mandeh Tagolek Rabah” karya Wan Parau yang dipopulerkan oleh Wan Parau, “Kasiah Jo Mandeh ” karya Jotha R.G yang dipopulerkan oleh Vanny Vabiola,

“Doa Mandeh” karya Faqri Gani yang dipopulerkan oleh Fadly,

“Mandeh Tampek Baibo” karya Wan Parau yang dipopulerkan Putri.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah penelitian sastra yang berkaitan dengan lirik lagu Ibu atau Mandeh di dalam karya-karya masyarakat Minangkabau yang memiliki lirik yang mengandung pesan atau kiasan tentang diri sendiri dengan ibu atau

Mandeh. Adapun judul penelitian ini ialah Analisis Intertekstual Tema dan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu Minang.

B. KERANGKA TEORETIS 1. Hakikat Lagu

Lagu dapat diartikan sebagai puisi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:624), lagu adalah ragam suara yang berirama,

(4)

sedangkan lirik adalah karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (KBBI, 2005: 678).

Setiap lirik yang terkandung dalam puisi atau lagu memiliki kata-kata yang indah dan tersusun. Menurut Kladen (dalam Atmazaki, 2007:41) bahasa menjadi indah karena ada puisi didalamnya, puisi disampaikan melalui kata-kata karena puisi adalah keindahan yang menjelma dalam kata-kata. Kata-kata bukanlah sebab keindahan dalam puisi tetapi adalah akibatnya. Puisi tidak menjadi indah karena kata-kata melainkan kata-kata menjadi indah karena puisi yang dikandung.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa lagu berasal dari sebuah lirik, sedangkan lirik berasal dari perasaan pribadi yang disusun dalam bentuk puisi dengan kata-kata yang indah.

2. Pengertian Tema

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1164) tema adalah dasar cerita atau pokok pikiran yang dipakai sebagai dasar mengubah sajak. Tema disaring dari

motof-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menghadirkan peristiwa-peristiwa, konflik dan situasi tertentu.

Berdasarkan pendapat tersebut tema merupakan gagasan umum dan dasar pemikiran pada sebuah karya sastra.

3. Pengertian Gaya Bahasa Setiap karya sastra memiliki gagasan-gagasan yang akan disampaikan, gagasan-gagasan dari penulis tersebut disampaikan atau dijelaskan dengan penggunaan gaya bahasa. Tarigan (2009:4) mengatakan gaya bahasa adalah bahasa yang indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan sebuah cara dan identitas pembeda dalam menyampaikan gagasan-gagasan kepada khalayak dengan menggunakan bahasa yang indah.

(5)

4. Jenis-Jenis Gaya Bahasa Keraf (2009:130) berdasarkan langsung atau tidaknya makna, gaya bahasa dibagi menjadi (1) gaya bahasa retoris yang terdiri dari: aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis atau preterisio, apostrof, asindeton, polisindeton, kiasmus, ellipsis, eufemismus, litotes, hysteron presteron, pleonasme dan tautology, peripharsis, prolepsis, atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma, koreksi atau apanortasis, hiperbola, paradox, dan oksimoron dan (2) gaya bahasa kiasan yang terdiri dari: persamaan atau smile, metafora, alegori, parable, fable, personifikasi, atau

prosopopoeia, alusia, eponym, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomsia, hipalase, ironi, sinisme, sarkame, satire, innuendo, antifrasi, dan paronomasia.

5. Gaya Bahasa Kiasan

Menurut Keraf gaya bahasa terbagi atas beberapa antara lain:

1. Gaya Bahasa Perbandingan Menurut Keraf (2009: 138) mengatakan bahasa perbandingan

atau smile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya adalah ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu , ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu , yaitu kata-kata : seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.

Contoh:

Kikirnya seperti kepiting batu Bibirnya seperti delima merekah Matanya seperti bintang timur

2. Gaya Bahasa Metafora

Menurut Tarigan (2009:15) metafora adalah perbandingan yang implisit jadi tanpa kata seperti atau

sebagai diantara dua hal yang berbeda. Metafora sejenis gaya bahasa gaya bahasa perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan: yang satu adalah kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek, dan yang satu lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi, dan menggantikan yang belakangan itu menjadi yang terdahulu tadi. Contoh: Koran

(6)

3. Gaya Bahasa Personifikasi Menurut Tarigan (2009:17) Personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang melakukan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Contoh: hujan memandikan tanaman. Selanjutnya, Keraf (2009:140), mengatakan bahwa

personifikasi atau prosopopoeia

adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Contoh: Matahari baru saja kembali ke peraduanya, ketika kami tiba disana.

4. Gaya Bahasa Sinekdok

Menurut Tarigan (2009:123) sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya, atau sebaliknya. Contoh: pasanglah

telinga baik-baik menghadapi masalah ini.

5. Gaya Bahasa Allegori

Menurut Tarigan (2009:24) alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang, merupakan

metafora yang diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah objek-objek atau gagasan yang diperlambangkan. Jadi alegori adalah gaya bahasa yang menggunakan beberapa kiasan secara berturut-turut untuk mengiaskan hal lain atau kejadian lain.

6. Gaya Bahasa Metonomia

Menurut Tarigan (2009:121) metonomia (berasal dari bahasa Yunani meta „bertukar‟ + onym „name‟) adalah sejenis gaya bahasa yang menggunakan nama suatu barang bagi sesuatu yang lain berkaitan erat dengannya. Contoh:

terkadang lidah lebih tajam dari pada pedang.

1. Gaya Bahasa Retoris a. Gaya Bahasa Pleonasme

Menurut Tarigan (2009:28) pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Seperti

menurut sepanjang adat, saling tolong menolong. Sedangkan Keraf (2009: 133) menjelaskan bahwa pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih

(7)

banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Contohnya: saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.

b. Gaya Bahasa Tautologi

Menurut Keraf (2009: 133) tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Contohnya: saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.

c. Gaya Bahasa Paralelisme Menurut Keraf (2009: 135) paralelisme adalah mengulang isi kalimat yang maksud tujuannya serupa. Kalimat yang berikut hanya dalam satu kata berlainan dari kalimat yang didahuluinya. Contoh:

segala kulihat segala membayang.

d. Gaya Bahasa Hiperbola

Menurut Tarigan (2009: 55) hiperbola merupakan sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan

maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Contoh: kurus kering tiada daya kekurangan pangan buat penganti kelaparan.

e. Gaya Bahasa Paradoks

Menurut Keraf (2009: 136) paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya. Contoh: musuh sering merupakan kawan yang akrab.

f. Gaya Bahasa Kiamus

Menurut Tarigan (2009:180) kiamus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus pula merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat. Contoh: yang kaya merasa dirinya

miskin, sedangkan yang miskin justru meras dirinya kaya.

(8)

g. Kajian Intertekstual

Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (lengkapnya teks kesastraan) yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan tertentu untuk menemukan adanya hubungan–hubungan unsure intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa dan lain-lain, diantara teks-teks yang dikaji. Tujuan kajian inteksteks itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu. Teeuw (dalam Nurgiyantoro 2010 :50).

Unsur budaya termasuk konvensi dan tradisi dimasyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya.

Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang

kemudian disebut sebagai hipogram „hypogram’ (Riffaterre, dalam Nurgiyantoro 2010: 51). Istilah hipogram, barangkali dapat di Indonesiakan menjadi latar, yaitu dasar, walau mungkin tidak secara eksplisit, bagi penulisan karya lain. Wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi, sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpanan dan pemberontakan konvensi, pemutar balikan esensi dan amanat teks-teks sebelumnya (Teeuw dalam Nurgiyantoro 2010: 51).

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa intertekstual merupakan asal-muasal pemikiran manusia dalam menciptakan sebuah karya sastra. Setiap karya sastra memiliki makna dan sejarah terciptanya yang dipengaruhi oleh budaya setempat. Dalam penelitian ini, yang berjudul

Analisis Intertekstual Tema dan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu Minang, intertekstual dapat disimpulkan bahwa setiap lagu seperti karya lagu Pop Minang mengandung makna beserta sejarah terciptanya pemikiran, gagasan, dan

(9)

ide yang dipengaruhi oleh budaya Minangkabau itu sendiri.

C. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif. Menurut Moleong (2005:6) mengatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain.

Berdasarkan instrumen penelitian tersebut, maka metode pengumpulan data penelitian ini adalah:

1. membaca, memahami dan mengumpulkan data dalam lirik lagu.

2. menentukan tema yang terdapat dalam lirik lagu.

3. menandai kata yang menggunakan gaya bahasa pada lirik lagu.

4. mencatat gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu.

5. melihat hubungan tema dan gaya bahasa dengan kajian intertekstual dalam lirik Untuk pengumpulan data dibantu menggunakan tabel 3.1.

D. PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menggunakan kajian intertekstual hasil analisis data mengenai unsur yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya, unsur yang berhubungan adalah tema dalam lirik lagu tentang orang tua perempuan, ibu atau mandeh dalam bahasa minang yang terdapat dalam lirik lagu lirik lagu“Basabalah Mandeh,

Pasan Mandeh, Aie Mato Mande, Ampun Mandeh, aso Mandeh, Manjapuik Rila Mandeh, Mandeh Tagolek Rabah, Kasiah Jo Mandeh, Do’a Mandeh, Mandeh Tampek Baibo”. Paparan yang disajikan menurut tema dalam lirik lagu yang disertai pula dengan analisisnya.

a. Penentuan Hipogram dan Teks Transformasi

Dari hubungan lirik lagu dalam intertekstual, tentu saja mempunyai hipogram dan teks transformasinya. Dalam hal ini lirik lagu Basabalah Mandeh karya Jefry. A merupakan hipogram dari lirik lagu

Pasan Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf, lirik lagu Aia Mato Mandeh

(10)

Ampun Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf, lirik lagu Jaso mandeh karya Nuskan Syarif, lirik lagu Manjapauik Rila Mandeh karya Dasri Syahira, lirik lagu Mandeh Tagolek Rabah karya Wan Parau, lirik lagu Kasiah Jo Mandeh

karya Jotha R.G, lirik lagu Doa Mandehkarya Faqri Gani, dan lirik lagu

Mandeh Tampek Baibokarya Wan Parau.

Sementara itu lagu Mandeh tampek Baibo karya Wan Parau, lirik lagu Doa Mandehkarya Faqri Gani, lirik lagu Kasiah Jo Mandeh karya Jotha R.G, lirik lagu Mandeh Tagolek Rabah

karya Wan Parau,lirik lagu Manjapauik Rila Mandeh karya Dasri Syahira, lirik lagu Jaso mandeh karya Nuskan Syarif, lirik lagu Ampun Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf, lirik lagu Aia Mato Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf, dan lirik lagu Pasan Mandeh karya Syahrul

Tarun Yusuf merupakan teks

transformasi lirik lagu Basabalah Mandeh karya Jefry. A. hipogram dan teks transformasi tersebut dapat dilihat dari bukti berikut ini.

Tahun Album dikeluarkan:

Basabalah Mandeh Karya Jefry. A : tahun 2005

Pasan Mandeh karya Syahrul Tarun

Yusuf : tahun 2006

Aia Mato Mandeh karya Syahrul Tarun

Yusuf : tahun 2007

Ampun Mandeh karya Syahrul Tarun

Yusuf : tahun 2010

Jaso mandeh karya Nuskan Syarif : tahun 2010

Manjapauik Rila Mandeh karya Dasri

Syahira : tahun 2010

Mandeh Tagolek Rabah karya Wan

Parau : tahun 2012

Kasiah Jo Mandeh karya Jotha R.G : tahun 2013

Doa Mandehkarya Faqri Gani : tahun 2013

Mandeh Tampek Baibokarya Wan Parau : tahun 2013

b. Pembahasan

Tema Lirik Lagu Mandeh Dekade tahun 2000-2007

Tema lirik lagu Mandeh

dekade tahun 2000-2007 karya Jefry. A, dan Syahrul Tarun Yusuf sama- sama bercerita mengenai kesedihan dan penderitaan sosok ibu atau

Mandeh yang berada dalam kesulitan hidup dan ditinggalkan oleh kepala keluarga untuk hidup bersama orang lain.Namun terdapat perbedaan dari segi penyajian dan lirik lagunya. Jefry. A dalam lagunya Basabalah Mandeh bercerita tentang ibu dan anak yang memperjuangkan kehidupannya untuk lebih baik setelah ditinggalkan kepala keluarga, sedangkan Syahrul Tarun Yusuf dalam lagunya Aia Mato Mandeh

menceritakan tentang kesedihan yang mendalam seorang istri yang ditinggalkan suaminya kemudian

(11)

menikah dengan perempuan lain dan dalam Lagunya Pasan Mandeh, Syahrul Tarun Yusuf bercerita tentang pesan seorang ibu kepada anaknya untuk tegar menghadapi kehidupan.

Masing-masing lirik lagu memiliki gagasan mengenai kehidupan seorang ibu dan anak setelah ditinggalkan kepala keluarga dan pesan seorang ibu kepada anaknya. Hal ini dapat dilihat dalam penggalan lirik lagu Basabalah Mandeh karya Jefry. A yaitu “ hujan jo paneh nan mandeh hadang, sadang mularaik ayah bajalan,

sedangkan penggalan lirik lagu Aia Mato Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf yaitu “ tinggalah mandeh baurai aia mato, sampai hati ayah bajalan, larek diladang urang, parak kito lah rimbo”.Sementara itu, dalam lagunya Pasan Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf yaitu “ nan bak pasan mandeh usah takuik nak diombak gadang”.

Tema Lirik Lagu Mandeh Dekade tahun 2010-2013

Tema lirik lagu Mandeh

dekade tahun 2010-2013Syahrul

Tarun Yusuf, Nuskan Syarif, Dasri Syahira, Wan Parau, Jotha R.G dan Faqri Gani sama- sama bercerita mengenai kecintaan, jasa seorang ibu, kerinduan, kesedihan dan permohonan maaf seorang anak kepada ibunya.Namun, terdapat perbedaan dari segi penyajian dan lirik lagunya. Syahrul Tarun Yusuf dalam lagunya Ampun Mandeh

bercerita tentang permohonan maaf seorang anak yang menyesal atas kesalahan kepada ibunya. Nuskan Syarif dalam lagunya Jaso Mandeh

bercerita tentang jasa seorang ibu yang tidak bisa dibalas oleh apapun. Dasri Syahira dalam lagunya

Manjapuik Rila Mandeh bercerita tentang permohonan maaf seorang anak kepada ibu atas kesalahannya dan kesulitan hidup yang ia perjuangkan. Wan Parau dalam lagunya Mandeh Tagolek Rabah

bercerita tentang kesedihan seorang anak terhadap penderitaan dan kesakitan seorang ibu yang semakin parah. Jotha R. G dalam lagunya

Kasiah Jo Mandeh bercerita tentang seorang anak yang harus merantau meninggalkan ibunya dalam kesulitan hidup. Faqri Gani dalam

(12)

lagunya Doa Mandeh bercerita tentang kerinduan seorang anak yang jauh dirantau. Wan Parau dalam lagunya Mandeh Tampek Baibo

bercerita tentang seorang anak yang melewati setiap masa dihidupnya dengan serang ibu saja.

Masing- masing lagu tersebut menyampaikan gagasan mengenai kehidupan ibu dan anak yang hidup dirantau orang serta permohonan maaf atas kesalahan kepada sosok ibu. Hal ini dapat dilihat dalam penggalan lirik lagu Ampun Mandeh

karya Syahrul Tarun Yusuf yaitu “

ampunkan denai yo mandeh”,

penggalan lirik lagu Jaso Mandeh

karya Nuskan Syarid yaitu “jaso mandeh indak katabaleh bialah babungkah perak jo ameh,penggalan lirik lagu Manjapuik Rila Mandeh

karya Dasri Syahira yaitu “mandeh

maafkan denai, den japuik rila kamandeh surang”, penggalan lirik lagu Mandeh Tagolek Rabah karya Wan Parau yaitu “ sakiknyo mandeh batambah parah”, penggalan lirik lagu Kasiah Jo Mandeh karya Jotha R.G yaitu “ den tinggakan kampuang halaman, den tinggakan mandeh nan kanduang”, penggalan lirik lagu Doa

Mandeh karya Faqri Gani yaitu “ oh

mandeh den tahan rindu nan jo taragak” dan penggalan lagu

Mandeh Tampek Baibo karya Wan Parau yaitu “ hanyo jo mandeh,

hanyo jo mandeh tampek baibo”.

c. Gaya Bahasa

Berdasarkan analisis data pada lirik lagu Kasiah Jo Mandehkarya Jotha R.G ditemukan 1 paralelisme 4 hiperbola, dan 2 personifikasi. Lirik lagu Jaso Mandeh karya Nuskan Syarif ditemukan 4 hiperbola, 1 personifikasi, dan 1 perbandingan. Lirik lagu Ampun Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf ditemukan 1 hiperbola, dan 2 personifikasi. Lirik lagu Pasan Mandeh karya Nuskan Syarif ditemukan 6 hiperbola, 1 perbandingan, dan 2 personifikasi. Lirik lagu Mandeh Tampek Baibo

karya Wan Parau ditemukan 1 perbandingan. Lirik lagu Do’a

Mandehkarya Faqri Gani ditemukan 4 personifikasi. Lirik lagu Mandeh Tagolek Rabah karya Wan Parau ditemukan 3 hiperbola dan 1 personifikasi. Lirik lagu Manjapuik Rila Mandeh karya Dasri Syahira

(13)

ditemukan 3 personifikasi, dan 5 hiperbola. Lirik lagu Basabalah Mandeh karya Jefri .A ditemukan 4 personifikasi, dan 1 hiperbola. Lirik lagu Aie Mato Mandeh karya Syahrul Tarun Yusuf ditemukan 3 hiperbola, dan 2 personifikasi.

E. PENUTUP a. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan pada bab IV, dapat disimpulkan analisis terdapat persamaan dan perbedaan tema serta gaya bahasa di dalam Minang yang menceritakan tentang ibu “Mandeh”. Hal ini dapat dilihat

pada uraian berikut (1) tema dan gaya bahasa pada lirik lagu Ibu“Mandeh” dari masing-masing penyanyi dan dekade yang berbeda, tema yang terdapat pada sepuluh lirik lagu menceritakan Ibu“Mandeh”. Namun terdapat perbedaan dari segi penyajian dan lirik lagunya. Seperti lirik lagu “Basabalah Mandeh” karya Jefri A yang menceritakan kesedihan seorang anak yang meninggalkan ibunya dalam kesusuahan hidup. (2) Gaya bahasa yang terdapat pada

sepuluh lirik lagu ditemukan perbandingan, metafora, personifikasi, sinekdoke, dan hiperbola. Seperti dalam lirik lagu “Basabalah Mandeh” karya Jefri A ditemukan gaya bahasa hiperbola “hujan jo paneh nan mandeh hadang”menggambarkan seolah-olah lirik lagu ini mengatakan ibu

“Mandeh” melawan hujan dan panas untuk menyambung hidup. (3) hubungan tema dan gaya bahasa pada sepuluh lirik lagu ini dapat dilihat pada dekade tahun dikeluarkan. Pada dekade tahun 2000-2007 seperti lagu Jefry A dalam lagunya Basabalah Mandeh

bercerita tentang ibu dan anak yang memperjuangkan kehidupannya untuk lebih baik setelah ditinggalkan kepala keluarga. Dekade tahun 2010-2013 seperti Syahrul Tarun Yusuf dalam lagunya Ampun Mandeh bercerita tentang permohonan maaf seorang anak yang menyesal atas kesalahan kepada ibunya.

Pemakaian bahasa kiasan atau gaya bahasa yang paling dominan digunakan pada sepuluh lirik lagu tentang Ibu “Mandeh”

(14)

adalah gaya bahasa hiperbola yang menyatakan makna yang berlebih-lebihan dengan membesarkan suatu hal dan paling sedikit ditemukan adalah gaya bahasa paralelisme.

b. Saran

Dari kesimpulan disarankan hal-hal sebagai berikut, (1) Guru dan siswa, sebagai penambah pengetahuan terhadap pemahaman tema dan gaya bahasa, khususnya dalam pembelajaran sastra disekolah. (2) peneliti lain, sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian yang sama dengan objek dan subjek yang berbeda.

UCAPAN TERIMAKSIH

Ucapan terimkasih disampaikan peneliti kepada Ibu Dra. Hj. Syofiani, M.Pd. sebagai pembimbing satu dan Bapak Romi Isnanda, S.Pd., M.Pd. sebagai pembimbing dua yang telah memberikan arahan, bimbingan, saran, motivasi, dan membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahadiat, Endut. 2007. Teori dan Apresiasi Kesastraan. Padang: Bung Hatta University Press.

Atmazaki. 2007. Ilmu Sastra : dan Teori Terapan. Padang UNP Press.

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Keraf, Gorys. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Moleong, J. Lexy 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi.

Yogyakarta: Gajah Mada Universitiy Press

Tarigan, Henry Guntur. 2009.

Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung : Angkasa.

Semi , .

Referensi

Dokumen terkait

pengguna menganggap melakukan pembelian melalui sosial media lebih beresiko karena tidak adanya garansi mengenai suatu produk yang ditawarkan, kasus kasus penipuan

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui total biaya perencanaan bahan dan upah kerja serta total biaya pelaksanaan bahan dan upah pada rangkaian pekerjaan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan pada usahatani cabai merah per hektar per satu kali musim tanam di Desa

Pengorganisasian (organizing) adalah pembagian kerja yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar pekerjaan yang efektif di

Dewasa ini dunia pendidikan mengalami kemajuan pesat yang ditandai dengan perhatian khusus terhadap bidang pengujian nilai-nilai pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum

skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan tafsiran Suyanto dan Sartinem (2009: 227). Pengkonversian skor menjadi pernyataan penilaian ini da- pat dilihat

Persentil ke 25 berada pada posiis nilai antara pertama dan kedua dengan selisih 0,75. Nilai pada posisi pertama adalah 43 dan nilai pada posisi kedua

(Ekspresi Petualangan Kami dari Masa Ke Masa dalan