• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

57

BAB V

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Analisi data dalam penelitian ini terdiri dari perhitungan nilai ekonomi dan

analisis regresi linier berganda. Perhitungan nilai ekonomi digunakan untuk

mengetahui nilai ekonomi wisata Pantai Goa Cemara dengan biaya perjalanan. Model

regresi linier berganda untuk mengetahui pendapatan perbulan (X1), biaya perjalanan

(X2), jarak tempuh (X3), fasilitas (X4), waktu luang (X5) dan usia (X6) terhadap

intensitas berkunjung ke objek wisata Pantai Goa Cemara (Y). Pengujian

menggunakan regresi meliputi: uji hipotesis secara serempak dan analisis koefisien

determinasi. Pengujian kualitas data dilakukan dengan uji asumsi klasik.

A. Nilai Ekonomi

Perhitungan nilai ekonomi objek wisata Pantai Goa Cemara dengan

menggunakan pendekatan biaya perjalanan (travel cost method) adalah sebagai berikut:

Nilai Ekonomi = Nilai rata-rata biaya perjalanan x jumlah pengunjung per satu tahun

1000

= 157.820 x 968.632

10000 = 152.869.502

(2)

58

Berdasarkan perhitungan diatas, total nilai ekonomi objek wisata Pantai Goa Cemara

adalah sebesar Rp 152.869.502,00 pertahun

B. Uji Asumsi Klasik Analisis Regresi

Uji asumsi klasik analisis regresi merupakan model regresi linier berganda

dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi pada regeresi linier OLS agar model

tersebut menjadi valid sebagai alat penduga.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi

normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang

terdistribusi normal atau mendekati normal. Salah satu cara untuk melihat normalitas

ialah dengan Normal P-P Plot, pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan

melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari residualnya. Jika titik-titik

menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik

histogramnya menunjukan pola distribusi normal, maka model regresi memenui

asumsi normalitas. Sedangkan, jika titik-titik tidak mengikuti arah garis diagonal atau

(3)

59 Gambar 5. 1

Hasil penguji normalitas

Uji normalitas juga dapat dilihat dari nilai sig.

Jika nilai sig > 5 % maka dapat disimpulkan bahwa residual menyebar

normal. Dan jika sig < 5 % maka dapat disimpulkan bahwa residual menyebar tidak

normal.

Dari hasil uji normalitas pada gambar 5.6. diketahui bahwa nilai statistik

0,764 atau nilai sig 0,200 atau 20 % > 5 %, sehingga dapat disimpulkan residual

(4)

60 Tabel 5. 1

Hasil Uji Normalitas

Kolmogorov-Smirnova Statistic Df Sig. Unstandardized Residual .069 100 .200 * 2. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi

ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedasitas atau tidak terjadi

Heteroskedasitas adalah dengan melihat bila P lebih dari 0,05 maka tidak terjadi

heteroskedasitas. Tabel 5. 2 Uji Heteroskedastisitas Variabel T Sig. LnPendapatan -1.347 .182 LnBiaya Perjalanan (Bp) -.184 .854 LnJarak Tempuh (Jt) 1.652 .102 Fasilitas .465 .643 LnWaktu luang (Wl) -.016 .987 LnUsia -.464 .644

(5)

61

Dari hasil pengujian pada Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa nilai signifikan semua

variabel > 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas

pada model regresi, sehingga model regresi, sehingga model regresi layak di pakai.

3. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas merupakan fenomena adanya korelasi yang sempurna antara

satu variabel bebas lain. Uji ini dilakukan dengan menggunakan VIF dengan kriteria,

jika nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF suatu variabel bebas > 10, maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas tersebut terjadi Multikolinearitas. Berdasarkan

hasil analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan, ternyata di peroleh nilai

VIF masing-masing variabel bebas sebagai berikut.

Tabel 5. 3 Uji Multikolinearitas

Variabel Kolinearitas Statistik VIF

Konstan

LnPendapatan Pendapatan Responden 2.155

LnBP Biaya Perjalanan 1.313

LnJT Jarak Tempuh 2.003

Fasilitas Fasilitas Prasarana 1.009

LnWL Waktu Luang 1.036

(6)

62

Berdasarkan Tabel 5.3 hasil uji multikolinearitas di atas dapat diketahui

bahwa nilai tolerance dari variabel independen menunjukan nilai lebih dari 0,10 dan nilai VIF dari variabel independen menunjukan nilai tidak lebih dari 10, oleh karena

itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antara variabel independen

dalam model regresi.

C. Analisis Statistik Permintaan Pengunjung Objek Wisata Pantai Goa Cemara

1. Uji F (Uji Serempak) untuk pengujian hipotesis serempak

Uji simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara

bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen.

Berikut ini hipotesa uji F:

Ho = semua variabel independent secara simultan tidak berpengaruh signifikan

terhadap intensitas pengunjung

Ha = semua variabel independent secara simultan berpengaruh signifikan

terhadap intensitas pengunjung

Kriteria pengujiannyaadalah sebagai berikut:

Jika nilai signifikasi > 0,05 maka Ho diterima atau variabel independen secara

simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Jika nilai

signifikasi <0,05 maka Ho ditolak atau variabel independent secara simultan

(7)

63 Tabel 5. 4 Hasil Uji F Model F Sig. 1 Regression 25.111 .000a Residual Total

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 5.4 diatas terdapat nilai signifikan

model regresi secara simultan sebesar 0,000, nilai ini lebih kecil dari significance

level 0,05 (5 %), yaitu 0,000. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara

simultan variabel independen yaitu jumlah pendapatan, biaya perjalanan, jarak

tempuh, fasilitas, waktu luang, dan usia secara signifikan terhadap dependen yaitu

intensitas pengunjung.

2. Uji t ( Uji Parsial)

Pengujian ini pada dasarnya bertujuan seberapa jauh pengaruh satu variabel

independen secara individual dalam menerapkan variabel dependen. Hal ini dapat

dilihat dari nilai signifikan t dari hasil perhitungan. Apabila nilai t < tingkat signifikan

(0,10) maka variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel

(8)

64

independen secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis linier berganda diperoleh

hasil sebagai berikut.

Tabel 5. 5 Uji T (Uji Parsial)

Variabel Koefisien

Konstanta 3,426

(3,649)

LnPendapatan (Pendapatan Responden) -0,072

(0,193)

LnBp (Biaya Perjalanan) 1,239

(0,299)

LnJt (Jarak Tempuh) -3,332***

(0,329)

Fasilitas (Fasilitas Prasarana) 0,585***

(0,186)

LnWl (Waktu Luang) -0,196

(0,204)

LnUsia (Usia Responden) -0,467

(0,372)

Keterangan: Dependen Intensitas Kunjungan; menunjukan koefisien Standar Error.

*Signifikan pada level 10%; ** Signifikan pada level 5% ; *** Signifikan pada level 1 %

Pada Tabel 5.5 diatas nilai koefisien konstanta menunjukan angka 3,426. Hal

ini dapat diartikan bahwa apabila semua variabel independen pendapatan, biaya

perjalanan, jarak tempuh, fasilitas, waktu luang dan usia dianggap konstan, maka

(9)

65

Berdasarkan hasil regresi diatas maka dapat diketahui bagaimana pengaruh

variabel independent pendapatan, biaya perjalanan, jarak tempuh, fasilitas, waktu

luang, dan usia terhadap variabel dependen intensitas pengunjung, ataupun penjelasan

estimasi tersebut adalah:

a. Berdasarkan hasil uji t (parsial) model regresi diperoleh nilai signifikan pada

level 1% yang artinya <0,10 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan antara variabel biaya perjalanan terhadap variabel

intensitas pengunjung.

b. Berdasarkan hasil uji t (parsial) model regresi diperoleh nilai signifikan pada

level 1% yang artinya <0,10 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan antara variabel jarak tempuh terhadap variabel

intensitas pengunjung.

c. Berdasarkan hasil uji t (parsial) model regresi diperoleh nilai signifikan pada

level 1% yang artinya <0,10 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan antara variabel fasilitas terhadap variabel intensitas

pengunjung.

Variabel pendapatan yang di terima responden setiap bulannya tidak

berpengaruh terhadap intensitas kunjungan objek wisata Pantai Goa Cemara dengan

nilai signifikan sebesar 0.710 dan nilai koefisien regresi sebesar -0.072. Variabel

waktu luang yang dimiliki responden setiap minggunya tidak berpengaruh terhadap

(10)

66

0.340 dan nilai koefisien regresi sebesar -0.196. Sedangkan variabel usia yang

dimiliki responden juga tidak berpengaruh terhadap intensitas kunjungan objek

wisata Pantai Goa Cemara dengan nilai signifikan sebesar 0.213 dan nilai koefisien

regresi sebesar -0.467.

3. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variabel-variabel independen terhadap

variabel dependen. Nilai koefisein determinasi yang ditujukan dengan nilai adjusted R2 dari model regresi digunakan untuk mengetahui besarnya variabilitas variabel dependen yang ada dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebasnya:

Tabel 5. 6

Uji Koefisien Determinasi (R2)

R R2 R2 Adjusted

0.803a 0.645 0.619

Berdasarkan hasil pengujian determinasi pada Tabel 5.6 diatas menunjukan

bahwa nilai adjusted R2 sebesar 0,645 yang berarti bahwa variabel dependen yaitu intensitas kunjungan yang dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam penelitian

ini sebesar 64,5% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar

(11)

67 D. Pembahasan Hasil Regresi Intensitas Pengunjung di Objek Wisata Pantai

Goa Cemara

Penelitian ini menggunakan data primer yang variabel dependennya dan

variabel independennya diolah menggunakan metode regresi linier berganda yang

bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pengunjung

di objek wisata Pantai Goa Cemara. Hasil regresi menunjukan bahwa variabel biaya

perjalanan, jarak tempuh, dan fasilitas mempengaruhi intensitas pengunjung.

Berdasarkan hasil dari penelitian dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa

untuk model umum variabel jumlah pendapatan, biaya perjalanan, jarak tempuh,

fasilitas, waktu luang dan usia dalam penelitian ini mampu menerangkan 80% variasi

intensitas pengunjung. Sedangkan sisanya sebesar 20 % dijelaskan oleh

variabel-variabel ataupun aspek-aspek lain di luar model. Dari keseluruhan variabel-variabel-variabel-variabel

independen yang diuji secara individual ternyata variabel biaya perjalanan yang

paling dominan mempengaruhi intensitas pengunjung dengan nilai signifikan 0,000.

Sedangkan variabel independen lainnya yang ikut mempengaruhi intensitas

pengunjung adalah variabel jarak tempuh dengan nilai signifikan 0,000 sedangkan

variabel fasilitas juga mempengaruhi intensitas pengunjung dengan nilai signifikan

0,002.

(12)

68

Variabel pendapatan yang di terima responden setiap bulannya tidak

berpengaruh terhadap intensitas kunjungan objek wisata Pantai Goa Cemara dengan

nilai signifikan sebesar 0.710 dan nilai koefisien regresi sebesar -0,072. Hal ini

dikarenakan sebagian besar pengunjung Objek Wisata Pantai Goa Cemara yaitu

masyarakat sekitar yang berpenghasilan rata-rata. Hal ini didukung dengan penelitian

yang ini didukung oleh Igunawati (2010) dengan hasil penelitiannya menunjukan

pendapatan tidak berpengaruh terhadap jumlah permintaan ke objek wisata Tirta

Waduk Cacaban Kabupaten Tegal.

2. Biaya Perjalanan

Variabel biaya perjalanan dari tempat tinggal menuju objek wisata Pantai Goa

Cemara memiliki pengaruh signifikan terhadap intensitas jumlah kunjungan objek

wisata Pantai Goa Cemara dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan nilai koefisien

regresi sebesar 1.239. Hal ini menunjukan bahwa jika terdapat kenaikan biaya

perjalanan sebesar seribu rupiah maka akan mampu menaikan pada intensitas

kunjungan sebesar 1,23 dengan asumsi variabel lain dalam keadaan konstan (cateris paribus). Semakin besar biaya perjalanan yang dikeluarkan maka jumlah kunjungan ke objek wisata Pantai Goa Cemara akan semakin bertambah . Hubungan yang positif

antara variabel biaya perjalanan dan intensitas kunjungan wisawatan mayoritas

pengunjung adalah warga sekitar yang jarak tempuh dari rumah ke Pantai Goa

Cemara dapat ditempuh kurang dari satu jam. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang

dilakukan oleh Djijono (2002).

(13)

69

Variabel jarak tempuh dari tempat tinggal menuju objek wisata Pantai Goa

Cemara memiliki pengaruh signifikan negatif dengan nilai signifikan 0,000 dan nilai

koefisien regresi sebesar -3.332. Hal ini menunjukan bahwa apabila terjadi kenaikan

jarak tempuh sebesar 1 % maka akan menurunkan intensitas kunjungan sebesar 3 kali

dengan asumsi variabel lain dalam keadaan konstan (cateris paribus). Semakin jauh jarak tempuh dari tempat tinggal ke objek wisata Pantai Goa Cemara maka intensitas

pengunjung juga akan semakin menurun. Hal ini dapat terjadi karena lokasi Objek

Wisata Pantai Goa Cemara berada di ujung selatan Propinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta. Dimana untuk mencapai Objek Wisata Pantai Goa Cemara memakan

waktu 2 jam dari pusat kota. Wisatawan yang mempunyai jarak tempuh yang jauh

akan berfikir ulang untuk kembali berkunjung karena jaraknya yang jauh serta akses

jalan yang cukup sulit serta kondisi jalan yang tidak semua bagus. Penelitian

sebelumnya yang meneliti dengan menggunakan variabel jarak tempuh yaitu Rahayu

(2016) dimana hasil penelitian menunjukan bahwa jarak tempuh mempunyai

pengaruh negatif terhadap kunjungan individu wisatawan kekebun teh Nglingo.

Menurut teori Mc. Intosh (1995) Jarak ekonomi berhubungan dengan waktu dan

biaya yang dikeluarkan dalam perjalanan dari tempat asal sampai ke tempat tujuan

dan kembali pulang. Semakin tinggi jarak ekonomi, semakin tinggi perlawanan untuk

tujuan tersebut, dan konsekuensinya permintaan semakin rendah, jika waktu dan

biaya perjalanan dapat dikurangi maka permintaan akan naik.

(14)

70

Fasilitas yang tersedia di objek wisata Pantai Goa cemara memiliki pengaruh

signifikan positif terhadap intensitas kunjungan wisatawan. Dengan signifikan 0,002

serta standar koefisien sebesar 0,585 dengan asumsi variabel lain dalam keadaan

konstan (cateris paribus). Ini menunjukan bahwa responden yang menjawab indah di fasilitas keindahan yang ada di Pantai Goa Cemara lebih banyak dibandingkan

responden yang menjawab tidak indah atau 1>0, 1 untuk indah dan 0 untuk tidak

indah. Hasil penelitian Mujianto (2012) juga menunjukkan hal yang serupa, sehingga

dapat disimpulkan bahwa Fasilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Intensitas Kunjungan Wisata di Pantai Depok.

Menurut Spillane (1987) fasilitas cenderung berorientasi pada daya tarik di

suatu lokasi karena fasilitas harus terletak dekat dengan pasarnya. Selama tinggal di

tempat tujuan wisata wisatawan memerlukan tidur, makan dan minum oleh karena itu

sangat dibutuhkan fasilitas. Wisatawan akan sangat memperhatikan fasilitas yang

tersedia pada obyek wisata yang bersangkutan. Fasilitas yang dimaksud antara lain

adalah fasilitas ibadah, restoran, taman bermain, hiburan, kamar kecil dan fasilitas

pendukung lainnya. Fasilitas merupakan unsure industri pariwisata yang sangat

penting. Berapa pun besarnya suatu daerah tujuan wisata, jika fasilitasnya tidak

memadai, maka keinginan wisatawan untuk mengunjungi tempat wisata tersebut akan

diurungkan. Seluruh fasilitas itu dibangun dengan tujuan menimbulkan rasa betah dan

nyaman kepada wisatawan untuk tinggal lebih lama di objek wisata tersebut dan

berniat untuk kembali lagi kesana dalam lain kesempatan.

(15)

71

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa waktu luang

tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas kunjungan. Yaitu dengan nilai

signifikan sebesar 0,340 dengan koefisien sebesar -0,196. Dapat disimpulkan bahwa

jika waktu luang atau waktu kosong yang dimiliki masyarakat atau wisatawan

bertambah , maka tidak akan menyebabkan peningkatan intensitas kunjungan

wisatawan hal ini dikarenakan sebagian besar responden menyatakan ketika

mempunyai waktu luang tidak selalu di habiskan dengan mengunjungi pantai. Masih

ada tempat wisata lain selain pantai yang perlu dikunjungi. Teori hubungan variabel

waktu luang terhadap intensitas kunjungan wisatawan adalah Waktu luang adalah

waktu yang dimiliki seseorang diluar jam kerja. Waktu luang berhubungan erat

dengan kesempatan seseorang mendapatkan waktu libur guna melakukan kegiatan

wisata atau berekreasi. Waktu luang berpengaruh terhadap keputusan pengunjung

untuk memilih tempat wisata berdasarkan waktu luang yang dimiliki (Sihotang,

2014).

6. Usia

Dari hasil olah data yang dilakukan diketahui bahwa variabel usia wisatawan

tidak berpengaruh signifikan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,213 dan jumlah

koefisien -0,467 terhadap variabel dependen yaitu intensitas pengunjung di Objek

Wisata Pantai Goa Cemara. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan

oleh Himayatullah (2003) dan Nugroho (2010). Menurut Majamudar, dkk (2011)

variabel demografi seringkali ditemukan tidak signifikan dalam penelitian dengan

Gambar

Tabel 5. 3  Uji Multikolinearitas
Tabel 5. 5  Uji T (Uji Parsial)

Referensi

Dokumen terkait

Semua entiti dan individu yang terlibat dalam pasaran modal serta rantaiannya yang diluluskan (“Entiti Pasaran Modal”) termasuk :.. • Bursa

Sesuai dengan Peraturan OJK, Perseroan telah menyediakan alternatif bagi pemegang saham untuk memberikan kuasa secara elektronik melalui sistem Electronic General

Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah

Register Akta Catatan Sipil adalah daftar yang membuat data outentik mengenai peristiwa penting meliputi kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengakuan anak

Menurut Pasal 1 Angka 1 UU ITE bahwa yang dimaksud dengan informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada

baru dicapai setelah 3 minggu proses pengomposan. Meningkatnya temperatur, menggambarkan aktivitas mikroba, yaitu sebagai hasil dari proses metabolisme

Penelitian ini berkaitan dengan analisis pendapatan nelayan tradisional telah dilakukan oleh Asmita Syahma (2016) dalam penelitiannya yang berjudul ANALISIS FAKTOR

Terkait dengan penyusunan juklak dan juknis tersebut, temuan empiris menunjukkan bahwa telah dibuat juklak dan juknis, masing-masing di tingkat Provinsi Jawa