• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMA SAPI PERAH ADAPTIF DAN EFISIEN DATARAN RENDAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERFORMA SAPI PERAH ADAPTIF DAN EFISIEN DATARAN RENDAH"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMA SAPI PERAH ADAPTIF DAN EFISIEN

DATARAN RENDAH

(Performance of Adaptive and Efficient Dairy Cattle in the Lowland Area)

L.PRAHARANI,E.JUARINI danHASTONO

Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRACT

A study wasconducted to evaluate production performance of adaptive and efficient dairy cattle raised in lowland area. Observation on production performance of 5 primiporous F1-OH dams (50% FH 50% PO) and 5 primiporous FH dams raised in lowland area. The average daily milk production and peak production on first lactation of FH adaptive lowland on research station (7.4 l/day/dam vs 6.2 l/day/dam) was higher than those of F1 OH dams. Compared to FH adaptive lowland, crossbred dams had not showed superiority in efficiency (2.06 vs 2.46) indicated by lower average daily milk production under similar amount and quality of feeding consumption. It was suggested to study the production performance of crossbred dams of FH x Bos indicus dairy type with appropriate sample size under good management.

Key Words: Milk Production, Dairy Cattle, Lowland

ABSTRAK

Suatu penelitian dilakukan dengan tujuan mengevaluasi performa produksi sapi perah adaptif dan efisien yang diperlihara di dataran rendah. Pengamatan performa produksi dilakukan terhadap 5 ekor sapi dara F1-OH (50% FH 50% PO) dan 5 ekor sapi dara FH dataran rendah. Hasil penelitian menujukkan rataan produksi susu harian (7,4 l/hari/induk vs 6.2 l/hari/induk) dan puncak produksi pada bulan pertama laktasi (11,2 dan 8,2 liter) sapi perah FH dataran rendah di Stasiun Percobaan Cicadas lebih tinggi dengan tertinggi sapi perah FH dataran rendah dibandingkan dengan F1 OH. Ternak F1 OH belum menunjukkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi (2,06 vs 2,46) dibandingkan FH adaptif. Perlu dilakukan penelitian lebih jauh sapi persilangan FH dan Bos indicus tipe perah dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan dalam manajemen pemeliharaan yang lebih baik.

Kata Kunci: Produksi Susu, Sapi Perah, Dataran Rendah

PENDAHULUAN

Usahaternak sapi perah di dataran rendah yang semakin berkembang memerlukan dukungan upaya peningkatan dan perbaikan di berbagai aspek termasuk pemuliaan ternak yaitu melalui pembentukan sapi perah yang cocok untuk kondisi dataran rendah. Salah satu strategi program pemuliaan dalam rangka menyediakan bibit unggul sapi perah yang cocok dengan kondisi dataran rendah dilakukan melalui persilangan antara sapi perah FH dengan sapi lokal. Persilangan antara bangsa sapi yang berbeda diharapkan menghasilkan efek heterosis dimana keturunan persilangan (F-1) memiliki performa lebih baik dibandingkan tetuanya sebagai akibat

kombinasi gen dari tetuanya serta pengaruh komplementaritas. Penggunaan darah Bos indicus dalam persilangan dengan sapi FH bertujuan memasukkan gen Bos indicus yang terkenal tahan terhadap kondisi tropis untuk mengatasi stress panas yang umumnya dapat menurunkan produktvitas sapi perah seperti

dalam rangkuman PRAHARANI dan

ASMARASARI (2007).

Penelitian persilangan sapi FH dengan beberapa bangsa Bos indicus telah banyak dilakukan di beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan yang menghasilkan beberapa genotypa baru dengan produksi dan reproduksi induk yang berbeda dipengaruhi oleh proporsi darah FH seperti yang dilaporkan dalam review. Dalam review tersebut

(2)

dilaporkan secara umum produksi susu meningkat seiring meningkatnya proporsi darah FH sampai dengan 75% FH dan sedikitnya 25% Bos indicus, dimana Bos indicus yang digunakan kebanyakan tipe perah seperti Hissar dan Sahiwal. Di Indonesia penelitian awal sapi perah persilangan yang pernah dilaporkan oleh menunjukkan bahwa produksi susu persilangan antara sapi FH dan Hissar (Bos indicus) di Sumatera Utara cukup baik.

Balai Penelitian Ternak telah melakukan persilangan sapi PO dengan FH sejak tahun 2004 bertujuan membentuk sapi perah (Ongole Holstein) yang cocok untuk dikembangkan di daerah dataran rendah atau panas. Dari hasil penelitian sapi F1 OH menunjukkan adanya produktivitas anak dan reproduktivitas dara yang baik akibat pengaruh heterosis dan kemampuan adaptasinya (SIREGAR et al., 2007). Sedangkan data produksi susu sapi persilangan F1 OH belum pernah dilaporkan.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi performa phenotipik dan efisiensi biologi sapi perah FH dataran rendah dan sapi persilangan F-1 OH. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan masukan bagi pengambil kebijakan dalam menentukan arah dan strategi pemuliaan sapi perah yang berkaitan dengan pembentukan rumpun sapi perah adaptif dan efisien yang dapat dikembangkan di daerah dataran rendah dan panas khususnya di luar pulau Jawa.

MATERI DAN METODE

Evaluasi penampilan produksi dan reproduksi serta efisiensi biologi ternak sapi perah FH yang telah beradaptasi di dataran rendah dengan sapi persilangan F1 OH (50% PO 50% FH) dilakukan di Instalasi Kandang Percobaan Sapi Perah, Balai Penelitian Ternak di Cicadas, Bogor. Pengamatan produktivitas dan efisiensi dilakukan terhadap 10 ekor sapi perah laktasi pertama yang terdiri dari 5 ekor sapi betina turunan pertama (F-1) hasil persilangan (50% FH 50% PO) beranak pertama dan 5 ekor sapi betina FH beranak pertama. Ternak diberikan pakan sama dalam jumlah dan kualitas dengan kandungan protein 1,2 – 16% dan TDN 66% sebanyak 3,5 kg/hari/ekor (1.2% dari bobot badan) untuk

ternak bunting/laktasi dan hijauan pakan berupa rumput unggul lebih dari 30 kg/ekor/hari (King grass/rumput Gajah = 10% dari bobot badan), yang tersedia sepanjang hari. Data yang akan dikumpulkan baik di lapangan maupun di kandang percobaan Cicadas adalah sifat produksi (kuantitas dan kualitas susu, ukuran tubuh, pertumbuhan anak), reproduksi (calving interval, days open, dewasa kelamin, umur pertama dikawinkan, S/C, lama kebuntingan), pemberian pakan (jenis, jumlah dan kualitas).

Efisiensi produksi yang dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

% efisiensi produksi =

Jumlah input yang digunakan selama produksi Jumlah output yang dihasilkan

Input yang dimaksud adalah jumlah pakan yang dikonsumsi. Sedangkan output adalah jumlah produksi susu yang dihasilkan per induk.

Semua data yang dikumpulkan dianalisa dengan menggunakan Proc. GLM (SAS, 2001). Produktivitas dan reproduktivitas antara sapi FH dari beberapa dataran rendah terpilih dan O-H akan dibandingkan dengan menggunakan uji P-DIFF.

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi susu

Performa prodksi sapi perah adaptif dan F1-OH seperti terdapat pada Tabel 1. Kualitas susu sapi FH dan F-OH berdasarkan rataan kandungan SNF (Solid non fat), lemak dan total solid tidak menunjukkan adanya perbedaan.

Produksi susu sapi persilangan F1-OH belum mampu melebihi sapi perah FH adaptif dataran rendah. Hasil ini hampir sama dengan penelitian BEE et al. (2006) dimana sapi FH melaporkan produksi susu harian sapi genotypa

Bos taurus 50, 62, 75 dan > 75% berturut-turut 6,0; 6,8; 7,0 dan 6,9 kg. DHILLON menghitung produksi susu harian sapi persilangan FH x Sahiwal yang memiliki genotypa Sahiwal, ¼ HF, ½ HF, 5/8 HF, dan ¾ HF masing-masing 4,52; 5,11; 6,40; 6,58 dan

(3)

Tabel 1. Performa produksi sapi perah FH dataran rendah dan F1-OH di Stasiun Cicadas Bangsa sapi Variabel

FH F1-OH

Jumlah ternak (ekor) 5 5

Kualitas susu (pengukuran) 2x 2x

SNF 7,60 7,45

Lemak 3,52 3,50

Total solid 11,16 11,03

Kondisi tubuh (1 – 5) 2,75 3

% Kebuntingan (IB satu kali) 80 60

% total kebuntingan (akhir kebuntingan, IB > 1 kali) 100 60

Lama kebuntingan (hari) 280 285,5

Postpartum estrus (hari) 78 92

Pakan konsentrat (kg/ekor/hari konsentrat) 3 3

Rataan berat badan (kg) 362,5 433

Puncak produksi (1 – 2 bulan), liter 11,2 8,2 Total rataan produksi susu (liter) 7,4 6,2 Rataan produksi susu (60 – 150 hari) l/hari/ekor 6,11 5,74 Total produksi susu (l/ekor) hari ke-150 1178 925 Efisiensi produksi (pakan/produksi susu) 2,46 2,06

5,98 kg, dimana produksi harian sapi genotype

½ HF, 5/8 HF, dan ¾ HF dilaporkan tidak berbeda nyata. Hal yang sama dilaporkan oleh ZAMBRANO et al. (2006) bahwa sapi genotipa ¼ FH dan ½ FH tidak berbeda produksi susunya pada kondisi tropis Venezuela.

Grafik produksi susu sapi FH dan F1-OH seperti ditampilkan dalam Gambar 1. Pada grafik produksi susu terlihat bahwa puncak produksi susu pada laktasi pertama antara bulan pertama dan kedua sapi FH lebih tinggi (26,8%) dibandingkan dengan sapi F1-OH

Gambar 1. Produksi susu FH vs OH laktasi I 0 2 4 6 8 10 12 1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100 109 118 127 136 145 Hari produksi Lite r FH OH

(4)

(11,2 vs 8,2 liter) yang terjadi masing-masing pada hari ke-23 dan hari ke-18 dengan tingkat penurunan produksi susu yang sama setelah hari ke-60. Rataan produksi susu setelah hari ke-60 laktasi antara sapi perah FH dan F1-OH tidak berbeda (6,11 vs 5,74 l/ekor/hari). Penurunan produksi susu sapi FH sejak puncak produksi pada hari ke-50 lebih cepat dibandingkan dengan sapi F1-OH dimana tingkat penurunannya secara perlahan pada hari ke-55. Sementara total produksi susu sampai pada hari ke-150 sapi FH lebih tinggi (21,5%) dibandingkan dengan sapi F1-OH (1178 vs 925 l/ekor).

Konformasi tubuh sangat berkaitan dengan efisiensi pakan dan dan energy balance yang dipengaruhi oleh manajemen pakannya. Kondisi tubuh sangat berpengaruh terhadap efisiensi reproduksi ternak. Skor tubuh mempengaruhi ketersediaan energi yang diperlukan dalam aktifitas reproduksi ternak (SENGER, 2000; WETTEMANN et al., 2003). Induk-induk dengan skor tubuh rendah lebih panjang jarak beranaknya dibandingkan dengan skor tubuh lebih dari 3 (sedang) karena estrus postpartum lebih panjang akibat dari lambatnya pertumbuhan folikel dalam siklus berahi (LENTSet al., 2000). Skor tubuh sedang menjadi nilai kritis terendah bagi ternak betina memiliki siklus berahi normal.

Skor kondisi tubuh sapi dara FH dan F1 OH relatif sama yaitu nilai 2,75 dan 3 dimana kondisi badan ternak dalam keadaan baik atau sedang (tidak gemuk/kurus). Meskipun sapi F1 OH cenderung lebih baik dibandingkan dengan sapi FH. Berdasarkan nilai skor kondisi tubuh diharapkan bahwa efisiensi reproduksi baik yang diukur melalui persentase estrus dan kebuntingan. Skor kondisi tubuh ternak sapi dalam penelitian ini mencerminkan pemberian pakan yang cukup baik secara kuantitas dan kualitasnya dimana dalam jumlah pemberian yang sama sapi perah F1-OH terlihat lebih efisien dalam penggunaan pakan.

Bobot badan sapi FH dan F1-OH seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 3 tidak memperlihatkan perbedaan, meskipun sapi F1-OH cenderung lebih berat dibandingkan dengan sapi FH (433 vs 362 kg). Perbedaan bobot badan ini ditunjukan juga melalui perbedaan kondisi tubuh sapi F1-OH cenderung lebih baik dibandingkan dengan sapi FH.

Performa reproduksi

Efisiensi reproduksi merupakan sifat ekonomi yang memiliki peranan penting dalam usaha ternak berkaitan dengan pemeliharaan ternak betina. Sifat reproduksi 3,4 – 10 kali lebih penting dari sifat produksi (MELTON, 1995). Performa reproduksi dapat diukur melalui persentase estrus, kebuntingan dan jumlah anak yang lahir. Efisiensi reproduksi sangat dipengaruhi oleh berat badan saat kawin, skor kondisi tubuh. Respon sinkronisasi estrus terhadap persentase estrus dan kebuntingan sangat dipengaruhi oleh genetik.

Secara umum, performa reproduksi sapi F1-OH lebih rendah dibandingkan dengan sapi FH murni dataran rendah ditandai dengan tingginya persentase kebuntingan diakhir penelitian semua ternak FH murni melahirkan (100%) sedangkan tiga ekor sapi F1-OH melahirkan (60%). Panjangnya estrus kembali setelah melahirkan sapi FH murni lebih pendek dibandingkan dengan sapi F1-OH, sehingga dapat mempengaruhi jarak waktu beranak. Efisiensi produksi

Perlu diingat bahwa semua ternak diberikan pakan terbatas yang sama jumlah dan kualitas baik hijauan dan konsentrat, sehingga perbedaan produktivitas dan reproduktivitas diantara kedua genotipa (sapi FH vs OH) disebabkan karena perbedaan genotipa. Efisiensi (biologi) ternak berdasarkan produktivitas (bobot badan, ukuran dan skor kondisi tubuh, produksi susu induk) sapi dara FH dan sapi F1 OH secara umum relatif sama. Tetapi efisiensi berdasarkan reproduktivitas (persentase kebuntingan) sapi F1 OH lebih rendah dibandingkan dengan sapi betina FH. Efisiensi berdasarkan produksi susu antara sapi F1-OH dan FH murni tidak berbeda, meskipun sedikit lebih rendah (2,06 vs 2,46). Sapi F1 OH belum menunjukkan adanya adaptabilitas ternak dan pengaruh heterosis maksimal.

Penelitian yang dilakukan oleh HOLLMAN

et al. (1990) di Venezuela menunjukkan adanya produktifitas yang lebih tinggi pada sapi 50% FH dan 50% pada daerah dataran rendah dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan sapi FH murni. Pemeliharaan pada dataran rendah dimana cekaman lingkungan

(5)

lebih besar, sapi persilangan lebih efisien dan menguntungan dibandingkan dengan sapi perah murni disebabkan oleh rendahnya biaya produksi. Demikian juga biaya variabel sapi perah murni FH lebih tinggi dibandingkan dengan sapi dwiguna persilangan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan sapi persilangan dwiguna di dataran rendah lebih menguntungkan dibandingkan pemeliharaan sapi FH murni di daerah dataran tinggi.

KESIMPULAN

Ternak sapi induk persilangan (F1) OH pada laktasi pertama secara umum belum menunjukkan keunggulan baik produktivitas dan kinerja reproduksi serta efisiensinya dalam menggunakan pakan dibandingkan dengan sapi induk FH adaptif dataran rendah sebagai akibat pengaruh heterosis dan daya adaptabilitas dengan estimasi heterosis efek.

Akurasi kesimpulan dalam penelitian ini masih perlu dipertimbangkan mengingat sedikitnya materi ternak penelitian, tetapi dapat dijadikan sebagai gambaran awal program persilangan sapi perah FH dengan PO dalam rangka membentuk sapi perah adaptif dataran rendah.

Penelitian lanjutan dengan jumlah ternak yang lebih banyak sangat disarankan untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih akurat melalui perbanyakan sapi OH, dan pengamatan laktasi kedua dan selanjutnya sapi F1-OH perlu dilakukan untuk melihat efisiensi produksinya. PERKIRAAN MANFAAT DAN DAMPAK

Penelitian ini memberikan manfaat berupa gambaran mengenai produktivitas sapi perah persilangan dibandingkan dengan sapi perah adaptif dataran rendah sehingga dapat digunakan sebagai masukan bagi upaya pembentukan rumpun sapi perah dataran rendah yang tepat. Dampak dari penelitian ini adalah penetuan langkah strategi pemuliaan dalam pembentukan rumpun sapi perah yang efisien dan adaptif dataran rendah, sehingga membuka peluang pengembangan peternakan sapi perah di daerah panas di luar pulau Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

ANGGRAENI, A., K.DIWYANTO, L. PRAHARANI, A. SALEH dan C. TALIB. 2001. Evaluasi mutu genetik sapi perah induk Fries Holland di daerah sentra produksi susu. Pros. Hasil Penelitian Bagian Proyek “Rekayasa Teknologi Pertanian/ARMP-II”. Puslitbang Peternakan, Bogor.

HOLMANN,F.,R.W.BLAKE,M.V.HAHN,R.BARKER, R.A. MILLIGAN, P.A. OLTENACU and T.L. STANTON. 1990. Comparative profitability of purebred and crossbred holstein herds in Venezuela. J. Dairy Sci. 73: 2190 – 2205. MC DOWEL, R.E., J.C. WILK and C.W. TALBOT.

1996. Economic Viability of crosses of Bos taurus and Bos indicus for dairying in warm climates. J. Dairy Sci. 79: 12% – 1303. SAS. 2001. SAS User’s Guide: Statistics. SAS Inst.,

Inc., Cary, NC.

SENGER, P.L. 2000. Pathway to pregnancy and parturition. 2nd Ed. Current conception Inc. Pullman , WA

SIREGAR,A.R.,C.TALIB,J.BESTARI,KUSWANDI dan HASTONO. 2006. Persilangan dan seleksi untuk mendapatkan bibit unggul sapi perah dataran rendah. Kumpulan Hasil Penelitian DIPA TA 2006. Balai Penelitian Ternak, Bogor. TALIB, C., A. ANGGRAENI, K. DIWYANTO dan E.

KURNIATIN. 2007. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas sapi perah FH di bawah managemen perusahaan komersial. Gakuryoku, J. Ilmiah Pertanian VII(1): 81 – 87.

TALIB, C., KUSWANDI, T. SUGIARTI, BASUKI and A.R.SIREGAR. 2004. Performance production of lactating Indonesian Holstein cows based on the month of lactating periods (Unpublished).

WETTEMANN R.P.,C.A.LENTS,N.H.CICCIOLI,F.J. WHITE and I. RUBIO. 2003. Nutritional and suckling-mediated anovulation in beef cows. J. Anim Sci. 81: E48 – E59.

ZAMBRANO, S., G. CONTRERAS, M. PIRELA, H. CAÑAS, T. OLSON and A. LANDAETA -HERNÁNDEZ. 2006. Milk yield and reproductive performance of crossbred Holstein x Criollo Limonero cows. Rev. Cient. (Maracaibo) 16(2).

Gambar

Tabel 1. Performa produksi sapi perah FH dataran rendah dan F1-OH di Stasiun Cicadas  Bangsa sapi  Variabel

Referensi

Dokumen terkait

dengan: I usahatani (Rp) TR total penerimaan (Rp) TCe total biaya ekspisit (Rp) Untuk mengetahui tujuan yang ketiga yaitu perbedaan pendapatan sistem pengolahan bahan

Puji syukur kepada Allah SWT atas berkat rahmat serta kehendak-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “PENGARUH SUKU BUNGA, KUALITAS LAYANAN,

Kebiasaan membolos yang sering dilakukan oleh siswa tentu akan berdampak negatif pada dirinya, misalnya dihukum, diskorsing, tidak dapat mengikuti ujian, bahkan bisa dikeluarkan

Selain itu juga terdapat jurnal penelitian tentang perbedaan konsep diri pada budaya dan pengaruhnya terhadap pembelian impulsif, yaitu bahwa konsep diri memiliki

CaCO3(s) → CaO(s) + CO2(g) …(1) Setelah proses kalsinasi, batu kapur didinginkan dalam furnance sampai suhu menunjukkan suhu ruang karena penurunan panas yang

Ketika di dalam koloni terdapat bunga yang akan mekar, nutrisi dari inang akan lebih banyak tersedot untuk bunga mekar tersebut daripada untuk kuncup baru.. Kematian

Sedangkan pada tanaman dengan dosis mikoriza dosis 6 gr, 8 gr, dan 10 gr jumlah daun tidak mengalami penurunan yang disebabkan adanya simbiosis dengan mikoriza sehingga

duration , seperti pada Gambar 4.10 berikut ini :.. Setelah memasukkan jenis-jenis pekerjaan dan durasi pekerjaan maka langkah selanjutnya adalah membuat constraint yang