METODE PENELITIAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Analisis Univariat

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIA DI KECAMATAN KEMA, KABUPATEN MINAHASA UTARA

FACTORS RELATED TO MALARIA PREVALENCE IN KEMA SUB DISTRICT NORTH MINAHASA DISTRICT

Andreuw R. Sagay1,

Joy A M. Rattu

2

, Adrie A. Tarumingkeng

3

Bidang Minat Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Latar Belakang: Malaria merupakan penyakit menular dan mematikan yang sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis. Di Indonesia saat ini malaria masih menjadi masalah, rata-rata kasus diperkirakan 15 juta kasus klinis per tahun. Kasus malaria di Sulawesi Utara masih tinggi dengan nilai Annual Malaria Incidence (AMI) 2007 sebesar 13,9% dan tahun 2008 sebesar 13,7%. Kabupaten Minahasa Utara menduduki peringkat kelima daerah endemis malaria dari 15 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Untuk Kecamatan Kema pada tahun 2011 terdapat 730 kasus klinis malaria dan dalam pemeriksaan laboratorium dinyatakan 51 kasus positif dan tahun 2012 terdapat 265 kasus klinis malaria dan dalam pemeriksaan laboratorium dinyatakan 28 kasus positif. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara. Sampel penelitian ini berjumlah 82 responden, dengan 41 responden kelompok kasus, dan 41 responden kelompok kontrol dengan menggunakan teknik sampling nonprobabilitas yaitu purposive sampling. Faktor-faktor yang diteliti adalah tempat perkembangbiakan nyamuk, penggunaan kelambu, pemakaian obat anti nyamuk. Hasil Penelitian: Responden yang ada tempat perkembangbiakan nyamuk dengan jumlah 43 orang (52,44%), responden yang tidak ada tempat perkembangbiakan nyamuk sebanyak 39 orang (47,56%). Penggunaan kelambu pada saat tidur di malam hari yang paling banyak adalah responden yang tidak sering menggunakan kelambu yaitu sebanyak 43 orang (52,44%), responden yang sering menggunakan kelambu pada saat tidur dimalam hari sebanyak 39 orang (47,56%). Pemakaian obat anti nyamuk pada saat tidut dimalam hari yang paling banyak adalah responden yang sering memakai obat anti nyamuk yaitu sebanyak 44 orang (53,66%), responden yang tidak sering memakai obat anti nyamuk pada saat tidur dimalam sebanyak 38 orang (46,34%). Kesimpulan: Variabel yang berhubungan dengan kejadiaan malaria, yaitu tempat perkembangbiakan nyamuk dengan nilai (p = 0,000 ; OR 12.788 ; CI 4.470-36.580), penggunaan kelambu dengan nilai (p = 0.047 ; OR 2.447 ; CI 1.006-5.951), Pemakaian obat anti nyamuk dengan nilai (p = 0.002 ; OR 4.189 ; CI 1.660-10.568).

Kata Kunci : Malaria, Tempat Perkembangbiakan Nyamuk, Penggunaan Kelambu, Pemakaian Obat Anti Nyamuk

ABSTRACT

Background: Malaria is a contagious and deadly disease that is very dominant in the tropics and sub-tropics. In Indonesia today malaria is still a problem, the average case estimated 15 million clinical cases per year. Cases of malaria in North Sulawesi is still high with a value of Annual Malaria Incidence (AMI) in 2007 amounted to 13.9% and in 2008 by 13.7%. North Minahasa regency ranked fifth malaria-endemic areas of 15 districts / cities that exist in the province of North Sulawesi. For District Kema in 2011 there were 730 cases of clinical malaria and the laboratory examination revealed 51 positive cases and in 2012 there were 265 cases of clinical malaria and the laboratory examination revealed 28 positive cases. Methods: This study used a case-control design that aims to determine the factors associated with the incidence of malaria in sub Kema North Minahasa regency. Sample size was 82 respondents, with 41 respondents case group, and 41 respondents control group using a sampling technique nonprobabilitas is purposive sampling. The factors studied were a breeding ground for mosquitoes, use of bed nets, use of anti-mosquito. Results: Respondent existing mosquito breeding sites by the number of 43 people (52.44%), respondents were no mosquito breeding sites as many as 39 people (47.56%). The use of mosquito nets when sleeping at night is at most the respondents who do not often use the nets as many as 43 people (52.44%), respondents who frequently use mosquito nets when sleeping at night as many as 39 people (47.56%). Use anti mosquito when tidut at night is at most the respondents who frequently use anti mosquito that as many as 44 people (53.66%), respondents who do not often use anti mosquito during sleep at as many as 38 people (46.34 %). Conclusion: The variables associated with the occurrence of malaria, which is a breeding ground for mosquitoes with values (p = 0.000; OR 12 788; CI 4470-36580), the use of mosquito nets with values (p = 0.047; OR 2.447; CI 1006-5951), use of medicine resistant mosquitoes with values (p = 0.002; OR 4,189; CI 1660-10568). Keywords : Malaria, Breeding Place, use mosquito net, use medicine resistant mosquito

(2)

PENDAHULUAN

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goal (MDG’S) yang dideklarasikan oleh 189 negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000. Penyakit Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu yaitu protozoa. Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. (WHO, 2010)

Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat sosial ekonomi masyarakat yang rendah, serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat.(Riskesdas, 2010)

Penyakit malaria merupakan salah satu momok kesehatan masyarakat yang sangat penting di dunia yang di sekitar 100 negara berkembang di daerah tropis dan sub tropis seperti India, Ameika Selatan (kecuali Chili), Afghanistan, Srilanka, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Cina, Amerika Tengah, Meksiko, dan Afrika. Penyakit ini adalah penyebab utama terjadinya kematian di banyak negara berkembang terutama pada anak-anak dan ibu-ibu hamil sebagai kelompok utama yang mudah terinfeksi (CDC, 2004a). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41 % populasi dunia dapat terinfeksi malaria. Setiap tahun terdapat 300-500 juta penderita mengalami penyakit serius dan sekurang-kurangnya 1-2,7 juta diantaranya mati karena malaria. (Sembel, 2009)

Di Indonesia saat ini, malaria juga masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Rata-rata kasus malaria diperkirakan sebesar 15 juta kasus klinis per tahun. Penduduk yang terancam malaria adalah penduduk yang umumnya tinggal di daerah endemis malaria, diperkirakan jumlahnya 85,1 juta dengan tingkat endemisitas rendah, sedang, dan tinggi. Penyakit malaria 60 persennya menyerang usia produktif. Selanjutnya dalam penelitian Erdinal, dkk (2006), malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, banyak dijumpai di luar Pulau Jawa dan Bali terutama di daerah Indonesia

bagian timur. Pada beberapa daerah malaria masih sering menimbulkan Kejadian Luar- Biasa (KLB) selama periode 1998-2003 dengan jumlah penderita 27.000 dengan 368 kematian.

Eliminasi malaria di Indonesia mulai sejak tahun 2004 dan untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi antara lain : kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko, pengobatan yang tepat untuk subjek intervensi malaria dengan Artemisinin-based combination Therapy (ACT), penyemprotan rumah dengan insektisida, dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil. (Riskesdas, 2010)

Dalam penelitian Lambanaung, dkk (2008), kasus malaria di Sulawesi Utara masih tinggi dengan nilai Annual Malaria Incidence (AMI) 2007 sebesar 13,9% dan tahun 2008 sebesar 13,7%. Data Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2012 Kabupaten Minahasa Utara menduduki peringkat kelima daerah endemis malaria dari 15 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten Minahasa Utara adalah daerah Endemis untuk Malaria dari 124 desa/kelurahan yang ada di kabupaten Minahasa Utara, dilaporkan terdapat 40 desa endemis malaria. Karena itu kasus malaria merupakan salah satu penyakit menonjol di Kabupaten Minahasa Utara, dengan jumlah kasus 5925 yang terbagi dari penemuan penderita dengan mikroskopis 2957 kasus dan penemuan malaria dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) 2968 kasus, dan dari hasil tersebut ditemukan 231 kasus positif malaria dan semuanya diobati dengan Artesunat Combination Therapy (ACT). (Dinkes Minahasa Utara, 2011)

Wilayah kerja Puskesmas Kema tahun 2009 terdapat 168 kasus klinis dan diantara kasus klinis tersebut 55 dinyatakan positif malaria, dan terjadi kenaikan kasus pada tahun 2010 dimana didapatkan 109 dinyatakan positif malaria dari 324 kasus klinis, pada tahun 2011 terdapat 730 kasus klinis malaria dan dalam pemeriksaan laboratorium dinyatakan 51 kasus positif, dan pada tahun 2012 terdapat 265 kasus klinis malaria dan dalam pemeriksaan laboratorium dinyatakan 28 kasus positif, sebagian besar masyarakat penderita malaria telah diobati sesuai dengan protap yang ada. Berbagai upaya pemberantasan penyakit malaria di

(3)

Kecamatan Kema telah dilakukan sesuai program yang ada, misalnya melakukan upaya pencegahan dengan kegiatan pengendalian vektor dan tempat perkembangbiakan nyamuk, melakukan pengobatan pada penderita klinis maupun penderita dengan konfirmasi laboratorium, dan melibatkan sektor terkait serta peningkatan peran serta masyarakat, yang berupa program pembagian kelambu, pemakaian kawat kasa di ventilasi rumah penggunaan repellent dan obat anti nyamuk. Dari kegiatan yang telah dilakukan tersebut kasus malaria di Kecamatan Kema belum menunjukkan penurunan berarti. (Puskesmas Kema, 2011).

Berdasarkan keadaan - keadaan

tersebut maka penelitian ini adalah tentang fakor - faktor yang berhubungan

yakni tempat perkembangbiakan nyamuk, penggunaan kelambu, dan pemakaian obat nyamuk dengan kejadian malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Kema, Kabupaten Minahasa Utara.

Tujuan umum penelitian ini ialah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Kema Kabupaten Minahasa Utara.

Tujuan khusus penelitian ini adalah :

1. Mengetahui gambaran distribusi kasus dan kontrol malaria.

2. Menganalisis hubungan tempat perkembangbiakan nyamuk dengan kejadian malaria.

3. Menganalisis hubungan penggunaan kelambu dengan kejadian malaria.

4. Menganalisis hubungan pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian malaria. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan studi kasus kontrol (case control study), dengan menggunakan teknik sampling nonprobabilitas yaitu purposive sampling dalam hal ini pengambilan sampel berdasarkan penilaian peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas memenuhi persyaratan untuk dijadikan sampel. (Nasir dkk, 2011). Menurut Kuntoro (2009), metode ini membutuhkan seorang ahli dalam memilih kasus yang akan diteliti, sehingga untuk kelompok kasus adalah orang yang pernah dan sedang menderita dengan gejala

malaria klinis (demam, menggigil, secara berkala dan sakit kepala) sesuai hasil pemeriksaan sediaan darah adalah Plasmodium positif. Kelompok kontrol adalah orang tanpa adanya gejala malaria klinis (demam, menggigil, secara berkala dan sakit kepala), dan dalam pemeriksaan sediaan darah Plasmodium negatif dengan perbandingan kasus : kontrol yaitu 1 : 1. Subjek penelitian adalah anggota masayarakat yang datang berkunjung ke Puskesmas Kema dari Tahun 2011 sampai dengan tahun 2012, dengan kriteria inklusi: berada di tempat tinggal pada saat penelitian, bersedia menjadi subjek penelitian, bertempat tinggal di daerah penelitian, dapat berkomunikasi dengan baik, dan kriteria eksklusi: tidak bersedia menjadi subjek penelitian tidak bertempat tinggal tetap ≤ 2 minggu sebelum sakit, tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian malaria, sedangkan variabel independennya adalah :

 Adanya tempat perkembangbiakan nyamuk (TPN)

 Tidak adanya penggunaan kelambu

 Tidak adanya pemakaian obat anti nyamuk (OAN)

Menurut Notoatmodjo (2010), Data yang telah diperoleh dilakukan analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel yang diteliti baik kasus maupun kontrol dan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara variabel indenpenden (tempat perkembangbiakan nyamuk, penggunaan kelambu, pemakaian obat anti nyamuk) dengan kejadian malaria, dengan menggunakan ”Chi Square” dengan tingkat kemaknaan α = 0,05, dengan ketentuan hubungan dikatakan bermakna jika nila p < 0,05, dan tidak bermakna jika nilai p ≥ 0,05, serta melihat besarnya nilai Odds Ratio (OR).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis Univariat

1) Karakteristik Subjek penelitian berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan disajikan pada tabel 1.

(4)

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik subjek penelitian berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan di Kecamatan Kema Tahun 2013

No Variabel Kasus Kontrol Total

n % n % n % 1 Umur 15-24 10 24.39 3 7.32 13 15.85 25-34 12 29.27 6 14.63 18 21.95 35-44 14 34.15 5 12.19 19 23.17 45-54 4 9.76 15 36.59 19 23.17 ≥55 1 2.44 12 29.27 13 15.85 Jumlah 41 100 41 100 82 100 2 Jenis Kelamin Laki-laki 21 51.22 20 48.78 41 50 Perempuan 20 48.78 21 51.22 41 50 Jumlah 41 100 41 100 82 100 3 Pendidikan Tidak Sekolah 10 24.39 0 0 10 12.19 SD 14 34.14 11 26.83 25 30.49 SMP 9 21.95 13 12.19 22 26.83 SMA/K 7 17.07 16 39.02 23 28.05 PT 1 2.43 1 29.26 2 2.44 Jumlah 41 100 41 100 82 100 4 Pekerjaan Petani 5 12.19 7 17.07 12 14.63 Nelayan 1 2.44 4 9.56 5 6.09 PNS 1 2.44 5 12.19 6 7.32 Buruh 1 2.44 1 2.44 2 2.44 Wiraswasta 2 4.87 6 14.63 8 9.76 Swasta 2 4.87 2 4.88 4 4.88 IRT 24 58.54 16 39.02 40 48.78 Tidak ada 5 12.19 0 0 5 6.09 Jumlah 41 100 41 100 82 100

Berdasarkan distribusi frekuensi responden menurut golongan umur pada tabel diatas, yang paling banyak pada kelompok umur 35 – 44 tahun dan 45 – 54 tahun masing-masing yaitu 19 orang (23,17%), selanjutnya secara berturut responden berumur 25 - 34 tahun sebanyak 18 orang (21,95%), responden paling sedikit berumur 15 – 24 tahun dan umur ≥55 tahun masing-masing sebanyak 13 orang (15,85%). Subjek menurut jenis kelamin jumlah responden laki-laki dan perempuan sama

banyaknya yaitu 41 orang ( 50%). Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan yang paling banyak responden berpendidikan SD sebanyak 25 orang (30,49%), selanjutnya secara berturut yang berpendidikan SMA/K sebanyak 23 orang (28,05%), berpendidikan SMP sebanyak 22 orang (26,83%), tidak sekolah sebanyak 10 orang (12,19%) dan berpendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 2 orang (2,44%).

Karakteristik subjek penelitian berdasarkan pekerjaan yang paling banyak

(5)

adalah responden yang bekerja sebagai Ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 40 orang (48,78%), selanjutnya secara berturut-turut adalah pekerjaan sebagai Petani sebanyak 12 orang (14,63%), Wiraswasta sebanyak 8 orang (9.76%), PNS sebanyak 6 orang (7,32%), Nelayan dan Tidak bekerja masing-masing 5 orang (6,09%), Swasta sebanyak 4

orang (4,88%), dan responden dengan presentase terkecil adalah Buruh sebanyak 2 orang (2,44%).

2) Gambaran Karakteristik Subjek penelitian berdasarkan variabel penelitian disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik subjek penelitian berdasarkan variabel penelitian di Kecamatan Kema tahun 2013

No Variabel Kasus Kontrol Total

n % n % n % 1 Tempat Perkembangbiakan Nyamuk a. Ada 33 80.48 10 24.39 43 52.44 b. Tidak 8 19.51 31 75.61 39 47.56 Jumlah 41 100 41 100 82 100 2 Penggunaan Kelambu a. Tidak Sering 26 63.41 17 41.46 43 52.44 b. Sering 15 36.59 24 58.54 39 47.56 Jumlah 41 100 41 100 82 100 3 Pemakaian Obat Anti Nyamuk a. Tidak Sering 26 63.41 12 29.27 38 46.34 b. Sering 15 36.59 29 70.73 44 53.66 Jumlah 41 100 41 100 82 100

Berdasarkan distribusi tempat perkembangbiakan nyamuk responden untuk kelompok kasus dan kontrol diketahui bahwa paling banyak adalah responden yang ada tempat perkembangbiakan nyamuk dengan jumlah 43 orang (52,44%), sedangkan responden yang tidak ada tempat perkembangbiakan nyamuk sebanyak 39 orang (47,56%).

Hasil penelitian ini menunjukkan tentang penggunaan kelambu pada saat tidur di malam hari kelompok kasus dan kelompok kontrol yang paling banyak adalah responden yang tidak sering menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari yaitu sebanyak 43

orang (52,44%), sedangkan yang sering menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari sebanyak 39 orang (47,56%).

Karakteristik subjek penelitian ini tentang pemakaian obat anti nyamuk pada saat tidut dimalam hari kelompok kasus dan kelompok kontrol yang paling banyak adalah responden yang sering memakai obat anti nyamuk pada saat tidur malam hari yaitu sebanyak 44 orang (53,66%), sedangkan responden yang tidak sering memakai obat anti nyamuk pada saat tidur malam sebanyak 38 orang (46,34%).

(6)

Analisis Bivariat

Tabel 3. Hubungan antara variabel penelitian dengan kejadian malaria di Kecamatan Kema tahun 2013

No. Variabel OR P CI 95%

1 Tempat Perkembangbiakan

Nyamuk 12.788 0,000 4.470<OR<36.580

2 Penggunaan Kelambu 2.447 0,047 1.006<OR<5.951 3 Pemakaian Obat Anti Nyamuk 4.189 0.002 1.660<OR<10.568 Berdasarkan hasil perhitungan

dengan menggunakan SPSS versi 19 diperoleh nilai OR > 1 yaitu 12,788 (CI = 4,470-36,580) maka dapat dikatakan bahwa responden yang ada tempat perkembangbiakan nyamuk beresiko 12,788 kali menderita malaria dari pada responden yang tidak ada tempat perkembangbiakan nyamuk. Uji statistik menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,000 dengan (p < 0,05). Hasil tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tempat perkembangbiakan nyamuk dengan kejadian malaria pada responden yang berada di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.

Hasil penelitian untuk penggunaan kelambu diperoleh nilai OR > 1 yaitu 2,447 (CI = 1,006-5,951) maka dapat dikatakan bahwa responden yang tidak sering menggunakan kelambu 2,447 kali menderita malaria dari pada responden yang sering menggunakan kelambu. Uji statistik menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,047 dengan (p < 0,05). Hasil tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan kelambu dengan kejadian malaria pada responden yang berada di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.

Hasil penelitian untuk pemakaian obat anti nyamuk diperoleh nilai OR > 1 yaitu 4,189 (CI = 1,660-10,568) maka dapat dikatakan bahwa responden yang tidak sering memakai obat anti nyamuk 4,189 kali menderita malaria dari pada responden yang sering memakai obat anti nyamuk. Uji

statistik menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,002 dengan (p < 0,05). Hasil tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian malaria pada responden yang berada di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Responden dalam penelitian ini adalah 82 orang yang terdiri dari 41 orang responden yang pernah dan sedang menderita dengan gejala malaria klinis (demam, menggigil, secara berkala dan sakit kepala) sesuai hasil pemeriksaan sediaan darah adalah Plasmodium positif yaitu kelompok kasus dan 41 orang responden yang tanpa adanya gejala malaria klinis (demam, menggigil, secara berkala dan sakit kepala), dan dalam pemeriksaan sediaan darah Plasmodium negatif yaitu kelompok kontrol.

2. Terdapat hubungan yang bermakna antara tempat perkembangbiakan nyamuk dengan kejadian malaria di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara. 3. Terdapat hubungan bermakna antara

penggunaan kelambu dengan kejadian malaria di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.

4. Terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian malaria di Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.

(7)

Saran

1. Bagi Puskesmas Kema

Disarankan kepada seluruh petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Kema khususnya bagian promosi kesehatan dan bagian pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan agar dapat mensosialisasikan dan menerapkan kegiatan pencegahan dan penanggulangan penyakit malaria secara berkesinambungan kepada masyarakat yang ada di Kecamatan Kema, dan bagi tenaga kesehatan harus mengobati penderita malaria sampai tidak ditemukan gamet dalam darah.

2. Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat khususnya yang berada di Kecamatan Kema sangat diperlukan kesadaran terutama kebersihan lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekitar tempat tinggal, juga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penggunaan kelambu secara rutin, dan pemakaian obat nyamuk secara rutin pada saat tidur malam harus diterapkan secara terus menerus agar terhindar dari gigitan nyamuk sehingga tidak menyebabkan pertambahan kasus malaria

3. Bagi Mahasiswa

Menjadi penelitian pembanding apabila ingin melakukan penelitian yang sama dengan variabel atau lokasi yang berbeda dan dapat menjadi landasan penelitian untuk melakukan penelitian lanjutan untuk melihat faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria. DAFTAR PUSTAKA

Anonim Depkes, 2010. Riskesdas, Depkes RI, Jakarta.

Anonim Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara 2011, Profil Dinas Kesehatan Minahasa Utara.

Anonim Puskesmas Kema Kabupaten Minahasa Utara. Profil Puskesmas Kema 2012.

CDC. 2004a-g. Malaria: The impact of Malaria; The History of Malaria: Disease; Epidemiology; Scheme of the Life Cycle; Geographic Distribution; Control. Dalam http://www.cdc.gov/malaria/. Erdinal, Susanna D, dan Wulandari R A,

2006 Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Malaria (Studi Kasus di Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar). Artikel Publikasi, Tesis S2 Universitas Indonesia, Depok. Kuntoro, 2009. Dasar Filosofis Metodologi

Penelitian. Pustaka Melati, Surabaya.

Lambanaung, S, Kandou, G, Malinggas, J. 2008, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria (Studi Kasus Di Desa Mopolo Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan), Tesis S2 Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Nasir, A, Muhith, A, Ideputri, M. 2011, Metode Penelitian Kesehatan, Nuha Medika, Edisi Ke-1. Yogyakarta.

Notoatmodjo, S. 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Edisi Revisi. Jakarta.

Sembel, D, 2009. Entomologi Kedokteran, ANDI, Edisi Ke-1, Yogyakarta. WHO, 2010. Giuidelines for the Treatment

of Malaria , second edition , Geneva

Figur

Memperbarui...

Related subjects :