Wakifatul Hisani, Andi Muhammad Israwan Mallawa

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH

(Arachis hypogaea L.) DENGAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DARI KULIT PISANG, CANGKANG TELUR SERTA LIMBAH

RUMPUT LAUT

Wakifatul Hisani, Andi Muhammad Israwan Mallawa wakifatulhisanisani@gmail.com

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

ABSTRAK

Penurunan produktivitas lahan dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya mempengaruhi hasil tanaman. Pertumbuhan dan produksi kacang tanah dapat ditingkatkan dengan melakukan pemupukan. pemberian pupuk tidak hanya menambah unsur hara tanaman namun sedikit banyak kondisi tanah mengalami perubahan. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian, kampus 2 Universitas Cokroaminoto Palopo Jln. Lamaranginang, Kelurahan Batupasi Kecamatan Wara Utara Kota Palopo. Penelitian ini bertujuan untuk, Mengetahui respon pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman kacang tanah, Mengetahui perkembangan terbaik pemberian POC kulit pisang,

cangkang telur dan rumput laut pada tanaman kacang tanah.Penelitian ini menggunakan Rancangan

Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari lima perlakuan yang diulang sebanyak lima kali. Sehingga dalam penelitian ini terdapat 25 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk organik cair dari kult pisang, cangkang telur serta limbah rumput laut berpengaruh sangat nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong basah, berat polong basah, berat polong kering dan berpengaruh tidak nyata terhadap umur berbunga tanaman.

Kata kunci: kacang tanah, POC kulit pisang, cangkang telur, limbah rumput laut

PENDAHULUAN

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman legum yang sudah dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Kacang tanah mempunyai nilai ekonomi tinggi karena kandungan gizinya terutama protein dan lemak yang tinggi, namun perkembangan luas panen dan produksi kacang tanah selama kurun waktu 5 tahun terakhir

(2008-2012) terus mengalami penurunan. Luas rata-rata panen turun 2,28 % pertahun sedangkan rata-rata produksi turun 1,02 % per tahun. Di lain pihak kebutuhan kacang tanah terus meningkat yaitu rata-rata 900.000 ton/tahun, produksi rata-rata 771.022 ton/tahun (85,67 %) dengan volume impor rata-rata 163.745

(2)

ton/tahun (Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi 2008 -2012).

Penurunan produktivitas lahan dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya mempengaruhi hasil tanaman. Pertumbuhan dan produksi kacang tanah dapat ditingkatkan dengan melakukan pemupukan. Menurut Rinsema (1986), pemberian pupuk tidak hanya menambah unsur hara tanaman namun sedikit banyak kondisi tanah mengalami perubahan. Sumarno (1986) menyatakan bahwa dosis pemupukan nitrogen dalam bentuk urea yang dibutuhkan kacang tanah antara 60-90 kg ha-1 serta dosis fosfat dalam bentuk SP36 antara 60-120 kg ha-1. Efektifitas pemupukan harus tetap dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang tanah.

Upaya peningkatan hasil kacang tanah telah banyak dilakukan, namun masih mengalami berbagaI masalah sehingga hasil yang dicapai masih rendah. Oleh karena itu diperlukan penggunaan teknologi budidaya kacang tanah yang handal sehingga kebutuhan akan kacang tanah dapat terpenuhi dengan kualitas hasil yang terjamin (Afa Laode, 1998). Salah satu teknologi budidaya yang dimaksud adalah pemupukan. Pemupukan

merupakan alternatif yang sering dilakukan untuk mendukung upaya peningkatan hasil kacang tanah terutama pada lahan kahat akan unsur hara.

Tumbuhnya kesadaran akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan pada sebagian kecil petani telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. Pertanian jenis ini mengandalkan kebutuhan hara melalui pupuk organik dan masukan-masukan alami lainnya (Simanungkalit et al. 2006). Permintaan pupuk kompos sebagai salah satu bentuk dari asupan organik bagi tanaman telah semakin meningkat. Konsumen khususnya di negara maju telah giat menghindari bahan makanan dengan asupan bahan anorganik seperti pupuk kimia. Permintaan pupuk organik yang semakin pesat merupakan salah satu peluang pemanfaatan Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Pisang, Cangkang Telur dan Rumput menjadi pupuk organik secara ekonomis. Menurut Machrodania dkk (2015), unsur hara N, P, K pada pupuk cair kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut yaitu hara N sebesar 0,89%; P sebesar

(3)

0,04%; K sebesar 1,82% sesuai yang dibutuhkan tanaman.

Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah: Mengetahui respon pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman kacang tanah. Mengetahui perkembangan terbaik pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut pada tanaman kacang tanah.

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian, kampus 2 Universitas Cokroaminoto Palopo Jln. Lamaranginang, Kelurahan Batupasi Kecamatan Wara Utara Kota Palopo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai September 2017.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit tanaman kacang tanah, EM4, gula pasir, air,

jeruk nipis, tanah, kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, meteran/penggaris, label, gelas ukur, gelas aqua bekas, timbangan, belender,

lesung, ember bertutup, pengaduk, penyaring, jergen, gunting, kertas, pulpen dan kamera.

Metode Percobaan

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari lima perlakuan yang diulang sebanyak lima kali. Sehingga dalam penelitian ini terdapat 25 unit percobaan. Adapun perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :

P0: Tanaman tanpa perlakuan/kontrol

P1: POC kulit pisang, cangkang telur

dan rumput laut 40 ml/200 ml Air/Tanaman.

P2: POC kulit pisang, cangkang telur

dan rumput laut 60 ml/200 ml Air/Tanaman.

P3: POC kulit pisang, cangkang telur

dan rumput laut 80 ml/200 ml Air/Tanaman.

P4: POC kulit pisang, cangkang telur

dan rumput laut 100 ml/200 ml Air/ Tanaman.

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah alanalisis sidik ragam beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Pengaplikasian POC Kulit Pisang, Cangkang Telur dan Rumput Laut.

Cara pengaplikasiannya adalah menyiramkan langsung pada akar

(4)

tanaman dengan menggunakan takaran yang sudah dibuat dari gelas akua bekas P1 sebanyak 40/200 ml

Air/Tanaman, P2 60/200 ml

Air/Tanaman, P3 80/200 ml

Air/Tanaman P4 100/200 ml

Air/Tanaman. Setiap pengaplikasian POC penulis membutuhkan 4200 ml atau setara dengan 4,2 liter POC. Pengaplikasian POC dilakukan 2 MST kemudian pengaplikasian selanjutnya akan dilakukan setip minggunya. Pada penelitian ini ada 12 kali pengaplikasian sehingga ditemukan 50400 ml atau setara dengan 50,4 liter POC yang akan digunakan hingga selesainya penelitian ini.

Parameter Pengamatan

Parameter yang diamati dalam waktu ± 3 bulan selama penelitian ini berlangsung adalah:

1. Tinggi tanaman (cm) 2. Jumlah daun (helai) 3. Jumlah polong (buah) 4. Umur berbunga (hari) 5. Bobot basah buah (gr) 6. Bobot kering buah (gr) HASIL PENELITIAN 1. Tinggi Tanaman (cm)

Berdasarkan hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% tinggi tanaman kacang tanah menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Gambar 1. Diagram tinggi tanaman kacang tanah terhadap pemberian POC kulit .pisang, cangkang telur dan rumput laut..

Berdasarkan gambar diagram diatas dapat dilihat perlakuan P4 (POC

kulit pisang, cangkang telur dan

rumput laut 100 ml/200 ml air/tanaman) menunjukkan hasil terbaik dengan rata-rata 29,70 cm dan 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 P0 P1 P2 P3 P4 22,96a 23,22ab 26,76bc 28,24c 29,70c T in ggi T an am an

(5)

berbeda nyata dengan perlakuan P0

dengan rata-rata 22,96 cm dan P1

dengan rata-rata 23,22 cm. sedangkan perlakuan yang terendah yaitu pada perlakuan P0 (tanpa pemberian POC

kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut).

2. Jumlah Daun (helai)

Berdasarkan hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% jumlah daun kacang tanah menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Gambar 2. Diagram jumlah daun kacang tanah terhadap pemberian POC kulit …pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Diagram diatas menunjukkan bahwa P4, (POC kulit pisang, cangkang

telur dan rumput laut 100 ml/200 ml air/tanaman) dengan rata-rata 253,41 helai daun merupakan hasil rata-rata yang paling terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan berbeda nyata dengan perlakuan PO dengan

rata-rata 98,00 helai dan P1 dengan

rata-rata 107,85 helai. Sedangkan perlakuan terendah terdapat pada perlakuan control (tanpa pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut).

3. Umur Berbunga (HST)

Berdasarkan hasil analisis umur berbunga tanaman kacang tanah memperlihatkan P0 (kontrol)

menunjukkan hasil yang paling cepat mengeluarkan bunga dengan rata-rata 25,93 HST, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan yang paling lambat mengeluarkan bunga terdapat pada perlakuan P4 (POC kulit pisang,

cangkang telur dan rumput laut 100 ml/200 ml air/tanaman) dengan rata-rata 29,73 HST. 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 P0 P1 P2 P3 P4 98,00a 107,85a 177,87ab 211,99b 253,41b Ju m lah Daun

(6)

Gambar 3. Diagram umur berbunga kacang tanah terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

4. Jumlah Polong (buah)

Berdasarkan hasil analisis jumlah polong kacang tanah

menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Gambar 4. Diagram jumlah polong kacang tanah terhadap pemberian POC kulit .pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Sesuai dengan gambar diagram jumlah polong tanaman kacang tanah di atas dapat dilihat pada perlakuan P4

(POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut 100 ml/200 ml air/tanaman) dengan rata-rata 56,73 polong, merupakan hasil terbaik diantara perlakuan lainnya dan berbeda nyata terhadap P0 dengan

rata-rata 18,67 polong dan P1 dengan

rata-rata 22,93 polong. Sedangkan

perlakuan terendah terdapat pada perlakuan PO (tanpa pemberian POC

kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut).

5. Berat Basah Polong

Berdasarkan hasil analisis berat basah kacang tanah menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

0 5 10 15 20 25 30 P0 P1 P2 P3 P4 25,93 28,40 28,40 28,40 29,73 Um u r B er b u n ga

konsentrasi POC kulit pisang, cangkang telur, rumput laut.

0 20.000 40.000 60.000 P0 P1 P2 P3 P4 18,67a 22,93a 36,47ab 39,13ab 56,73b Ju m lah P ol on g

(7)

Gambar 5. Diagram berat basah kacang tanah terhadap pemberian POC kulit .pisang, .cangkang telur dan rumput laut.

Berdasarkan gambar diagram jumlah berat basah polong tanaman dapat dilihat pada perlakuan P4 (POC

kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut 100 ml/200 ml air/tanaman) memperlihatkan hasil yang terbaik dengan rata-rata 96,80 gr, dan berbeda nyata terhadap perlakuan P0 dengan rata-rata 29,87 dan P1

dengan rata-rata 42,33. Sedangkan

perlakuan yang terendah terdapat pada P0 (tanpa pemberian POC kulit pisang,

cangkang telur dan rumput laut). 6. Berat Kering Polong

Berdasarkan hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% berat kering kacang tanah menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap pemberian POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut.

Gambar 6. Diagram berat basah kacang tanah terhadap pemberian POC kulit .pisang, .cangkang telur dan rumput laut.

Sesuai dengan diagram berat kering polong dapat dilihat pada

perlakuan P4 (POC kulit pisang,

cangkang telur dan rumput laut 100 0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 P0 P1 P2 P3 P4 29,87a 42,33ab 62,53abc 79,53bc 96,80c B er at B as ah

Konsentrasi POC kulit pisang, cangkang telur, dan rumput laut

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 P0 P1 P2 P3 P4 14,93a 17,67a 28,47ab 37,40ab 45,60b B er at K er in g

(8)

ml/200 ml air/tanaman) memperlihatkan hasil yang terbaik dengan rata-rata 45,60 gr, dan berbeda nyata terhadap P0 dengan rata-rata

14,93 gr dan P1 dengan rata-rata 17,67.

Sedangkan perlakuan yang terendah terdapat pada P0 (tanpa pemberian

POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut).

PEMBAHASAN

Perlakuan P4 dengan

konsentrasi 100 ml/200 ml air/tanaman memberikan hasil yang terbaik pada parameter tinggi tanaman dengan rata-rata 29,70 cm, jumlah daun dengan rata-rata 253,41 helai, jumlah polong dengan rata-rata 56,73 buah, berat basah polong dengan rata-rata 96,80 gr dan berat kering polong dengan rata-rata 45,60 gr. Sedangkan P0 (kontrol) memberikan hasil yang

terendah pada parameter tinggi tanaman dengan rata-rata 22,96 cm, jumlah daun dengan rata-rata 98,00 helai, jumlah polong dengan rata-rata 18,67 buah, berat basah polong dengan rata-rata 29,87 gr dan berat kering polong dengan rata-rata 14,93 gr.

Pemberian konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya sehingga lebih banyak memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk fase

pertumbuhan dan produksinya. Selain itu konsentrasi pupuk organik cair yang sesuai dengan kebutuhan tanaman diperlihatkan dengan pertumbuhan tanaman yang lebih besar atau lebih tinggi. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Zuyasna (2009), yang menjelaskan bahwa pemberian pupuk organik cair dalam jumlah yang optimum dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan vegetatif tanaman menjadi lebih baik. Adanya unsur N yang terkandung dalam POC, dimana unsur N berperan penting dalam pembentukan daun. Sesuai dengan pendapat Djamaan (2006), yang menyatakan bahwa aplikasi pupuk urea dengan kondisi lembab menjadikan nutrisi yang terkandung dalam urea, nitrogen (N) mudah diserap oleh akar tanaman yang dipergunakan untuk melakukan pertumbuhan vegetatif, diantaranya pertumbuhan dan pembentukan daun. Fospor juga sangat berperan penting dalam pembentukan buah seperti yang dinyatakan oleh Sianuturi (2008) bahwa fospor merangsang pembentukan bunga, buah dan biji

bahkan mampu mempercepat

pemasakan buah. Selain unsur fospor POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut juga memiliki kandungan

(9)

kalium yang cukup tinggi dimana unsur kalium juga sangat dibutuhkan untuk pengisian polong sesuai dengan pernyataan Meirina (2007), bahwa Berat basah polong yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh unsur K dan traslokasi yang baik saat pembentukan polong. Berat kering polong dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang terdapat pada POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut sehingga pada saat proses pengeringan, kacang tidak mengerut dan tidak terlalu mengurangi bobot kering kacang tanah.

Parameter umur berbunga memperlihatkan perlakuan P0 (kontrol)

yang memberikan hasil paling cepat dalam proses pembentukan bunga dengan rata-rata 25,93 HST. Sedangkan yang paling lambat dalam proses pembentukan bunga terdapat pada P4 konsentrasi 100 ml/200 ml

Air/Tanaman dengan rata-rata 29,73 HST. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan dimana curah hujan pada saat fase generatif sangat tinggi POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut yang diaplikasikan tercuci oleh air hujan sehingga kandungan fospor yang dibutuhkan tanaman untuk pembentukan bunga mengurang ataupun habis. Seperti yang dikemukakan Rohua (2010), status

hara tanah, faktor lingkungan seperti cuaca juga dapat mempengaruhi efektifitas pertumbuhan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut menunjukkan hasil yang sangat nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, berat basah, bobot kering. Sedangkan, untuk parameter umur berbunga konsentrasi POC kulit pisang, cangkang telur dan rumput laut menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Perlakuan P4

memberikan hasil yang terbaik pada parameter tinggi tanaman dengan rata 29,67, jumlah daun dengan rata-rata 253,41 helai, jumlah polong dengan rata-rata 56,73 buah, berat basah polong dengan rata-rata 96,80 gr

dan berat kering polong

memperlihatkan rata-rata 45,60 gr. Sedangkan pada umur berbunga yang memberikan hasil terbaik terdapat pada P0 dengan rata-rata 25,93 HST.

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto. 2007. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Penebar Swadaya. Jakarta.

Aditya, A.R. 2014. Peranan Ekstrak Kulit Telur, Daun Gamal dan Bonggol Pisang Sebagai Pupuk

(10)

Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai dan Populasi Aphis craccivora Pada Fase Vegetatif. Diakses dari:

http://repository.unhas.ac.id : pada 20 Oktober 2014.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. 2012 Konsumsi Kacang Tanah di Sumatera Utara Tahun 2007-2012 dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional. Sumatera Utara. Medan.

BPS. 2011. Data Panen, Produksi dan Produktivitas Kacang Tanah. BPS. Sumatera Utara. Medan. Chang., dan Raymond. 2005. Kimia

Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga: Jakarta

Dewati, R. 2008. Limbah Kulit Pisang Kepok Sebagai Bahan Baku Pembuatan Ethanol. Surabaya: UPN Veteran Jawa Timur. Direktorat Budidaya Aneka Kacang

dan Umbi. 2012. Pedoman Teknis Pengelolaan Kacang Tanah, Kacang Hijau, dan Aneka Kacang Tahun 2012. Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementrian Pertanian. Jakarta.hlm :14

Fachruddin., dan Lisdiana. 2000. Budidaya Kacang-kacangan. Kanisius, Yogyakarta.

Kasno, A. 2005. Profil dan

Perkembangan Teknik

Produksi Kacang Tanah di Indonesia.

Machrodania., Yuliani., dan Evie, R. 2005. Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Berbahan Baku

Kulit Pisang, Kulit Telur dan Gracillaria gigas terhadap

Pertumbuhan Tanaman

Kedelai var Anjasmoro. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.

Nasution, F.J., Mawarni., Lisa., dan Meiriani. 2014. Aplikasi Pupuk Organik Padat dan Cair Dari Kulit Pisang Kepok untuk Pertumbuhan dan Produksi Sawi (Brancissa juncea L.). Jurnal Online Agroteknologi. 2 (3): 1029-1037.

Rukmana., dan Rahmat. 1998. Kacang Tanah. Kanisius, Yogyakarta. Santi. 2008. Kajian Pemanfaatan

Limbah Nilam untuk Pupuk Cair Organik dengan Proses Fermentasi. Jurnal Teknik Kimia. 2 (2) : 335-340

Sinaga, D. 2010. Pembuatan Pupuk Cair dari Sampah Organik dengan Menggunakan Boisca sebagai Starter. Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :