A Vision serves to create a sense of purpose that encourages people to change their actions Michael Fairbanks -

Teks penuh

(1)

Merajut Mozaik Kebhinekaan,

Penyerbukan Silang Antar Budaya dan Nasionalisme

A Vision serves to create a sense of purpose that encourages people to change their actions – Michael Fairbanks -

“Indonesia adalah bangsa yang kaya hasil alam dan kebudayaan.” Demikian kira-kira kalimat doktrinal yang sering terdengar. Statemen anomin ini telah diucapkan secara turun-temurun untuk menggambarkan keunggulan Indonesia. Hal ini menjadi nilai tambah yang sering dibanggakan dibanding dengan bangsa lainnya.

Keunggulan terbesar bangsa ini memang terletak pada hasil alam dan manusianya. Dengan alamnya yang terbentang luas dari titik nol kilometer Sabang sampai ujung Merauke menyimpan banyak kekayaan yang sebagiannya sudah diekploitasi. Bentangan wilayah yang sangat besar ini terdiri dari lima pulau besar dan belasan ribu pulau-pulau kecil. Tak dipungkiri bahwa masing-masing wilayah ini mempunyai kandungan alam tersendiri yang khas. Misalkan Papua dikenal dengan emasnya, Aceh kaya dengan gasnya, Kalimantan kaya dengan minyaknya, dlsb.

Keunggulan kedua terletak pada manusianya yang berbudaya. Berada di peringkat empat besar negara berpenduduk terbanyak,dengan jumlah lebih dari 230 juta penduduk Indonesia tersebut tidak bisa disamaratan, kecuali jika dilihat dari segi kewarganegaraannya.

Keberagaman manusia Indonesia dapat dilihat dari banyak sisi. Perbedaan suku, etnik, ras, agama, budaya, adat, dan bahasa merupakan diantara keunikan Indonesia yang lumrah bahkan menjadi keharusan. Pengaruh dari banyak kerajaan di masa lalu, baik yang bernuansa Hindu, Budha, maupun Islam membawa suatu kepaduan yang harmoni. Seiring waktu kesemua akar kebudayaan ini secara otomatis membentuk sinkretisme dengan sendirinya. Ketika bangsa Indonesia harus menghadapi para penjajah, perbedaan budaya bukan sebagai halangan. Disinilah ujian bagi keragaman budaya Indonesia. Setiap etnik dan pemeluk agama harus meninggalkan embel-embel sempit

(2)

keegoisan, demi Nusantara. Mereka bersatu demi membela tanah air, membela kekayaan alam ibu pertiwi. Dengan membela Nusantara berarti ikut di dalamnya membela agama, ras, bahkan termasuk membela eksistensi kebudayaan itu sendiri. Mereka membawa satu bendera yang sama atas nama nasionalisme. Sampai kemudian ujian ini bisa dilewati dengan hasil tidak hanya mampu mengusir penjajah, namun juga mampu merajut mozaik kebhinekaan Indonesia.

Setelah mengecap kemerdekaan, bukan berarti perjuangan berakhir, tugas berat selanjutnya sudah menanti para founding father. Bangsa ini mau dikonsep seperti apa, diserahi kepada siapa, dijalankan bagaimana, dan berbagai persoalan besar lainnya. Inilah ujian selanjutnya mengingat yang berjasa dalam merebut kemerdekaan bukan hanya dari satu dua suku atau satu dua agama tertentu saja. Sebuah kekhawatiran besar mengambang disana. Namun kemudian kekhawatiran akan perpecahan ini tidak terbukti. Proses ini berjalan mulus, hampir tidak ada yang memberontak berkat kebijaksanaan budaya musyawarah. Sekali lagi keunikan budaya asli Indonesia membawa berkah. Indonesia kemudian melewati fase demi fase sampai di era globalisasi modern. Masa ini menuntut bahwa semua menjadi serba kompetitif dan serba instan. Dunia seolah menyempit dengan sendirinya. Sebagai konsekuensi logis, manusia yang mampu berkompetisi itulah yang akan menang dan bisa mempertahankan keeksisannya. Sementara itu untuk bisa terus berkompetisi maka jalan satu-satunya adalah dengan menciptakan kreatifitas baru di setiap lini kehidupan.

Keadaan ini tentunya membawa begitu banyak keuntungan. Di satu sisi, kecanggihan teknologi telah mengurangi banyak beban manusia. Disamping itu juga tidak menutup kemungkinan adanya efek negatif, salah satunya yang terlihat jelas adalah akan memupuk budaya individualis. Dengan banyaknya peran manusia yang tergantikan, maka seolah teknologi adalah pilihan dan solusi semua masalah. Padahal kecanggihan teknologi sekali waktu tidak mampu menggeser peran manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna yang punya kekhasan.

(3)

Zaman modern menuntut manusia untuk menghilangkan batas-batas kelokalannya. Penduduk dunia seolah sedang berada di sebuah kampung yang sama. Permasalahannya adalah bahwa di kampung yang sama dan begitu luas ini menyimpan banyak sekali kebudayaan yang merupakan sebuah kemestian. Di sudut kampung yang berbeda kita melihat mereka sudah sangat maju, di sudut yang lain kita melihat mereka adalah kaum yang berperadaban, di sudut lainnya kita menemukan mereka telah unggul. Sementara kita dituntut untuk bisa mengimbangi mereka sebagai sebuah konsekuensi dari kampung dunia yang besar ini. Lalu bagaimana caranya supaya kita sanggup berdiri sejajar, dan tidak jauh ketinggalan dengan kemajuan di sudut kampung global ini?

Disinilah upaya penyerbukan silang antar budaya (CrossCulturalFertilization) sebagai sebuah jalan keluar. Sebuah upaya untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling memberi keteladanan. Penyerbukan silang budaya merupakan sikap awal untuk kemudian bangkit mengejar ketertinggalan. Penyerbukan atau persilangan budaya merupakan proses untuk bisa mengimbangi dan bahkan mengungguli mereka yang sudah lebih dahulu unggul dan lebih baik. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap makhluk Tuhan mempunyai kelebihan. Sehingga semua anggapan bahwa kebenaran hanya terdapat pada satu suku, agama, atau komunitas tertentu saja harus dihilangkan.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Indonesia hari ini jika hanya mempunyai satu warna kebudayaan. Betapa nenek moyang kita dimasa lalu sudah memberi contoh bagaimana persilangan antar budaya telah membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan bertahan sampai hari ini. Tugas kita saat ini adalah melanjutkan dan mengembangkannya. Kita punya modal besar untuk melanjutkan persilangan antar budaya dan zaman telah menuntut bahwa hal ini mesti segera dilaksanakan.

Ada banyak keunggulan dan alasan mengapa konsep persilangan antar budaya harus segera diaplikasikan di Indonesia. Pertama, strategi penyerbukan antar budaya tidak akan mengkotak-kotakkan suatu komunitas berdasarkan jumlah (kuantitas). Semua kebudayaan akan dipandang sama dengan pertimbangan kualitas. Istilah mayoritas dan minoritas yang selama ini menjadi momok

(4)

adalah hal yang tidak akan ditemukan dalam ide persilangan antar budaya. Mayoritas dan minoritas punya hak yang sama, punya kesempatan yang sama, dan tentunya punya kelebihan masing-masing.

Betapa seringnya kita menilai sesuatu dari sudut pandang mayoritas dan minoritas. Lalu dengan mudahnya dan tanpa berpikir ulang kita akan menganggap bahwa yang mayoritas adalah mereka yang benar. Begitulah alam bawah sadar sebagian masyarakat kita telah terkonsep untuk melihat sesuatu dari segi banyaknya jumlah. Padahal inilah sumber berbagai kekacauan di Indonesia selama ini. Kasus main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat tertentu juga berangkat dari anggapan bahwa mereka yang sedikit adalah mereka yang salah. Lalu dengan seenaknya, kaum mayoritas yang menang jumlah berusaha untuk memusnahkan mereka yang sedikit.

Kedua, dalam penyerbukan silang antar budaya, maka kita akan terbuka untuk terus belajar dengan bercermin kepada budaya-budaya yang sudah ada. Kita akan terbuka untuk terus memperbaiki diri demi mencapai kesempunaan. Tidak hanya mengambil sisi-sisi baik dari budaya di sekitar, namun juga budaya yang ada di seluruh dunia. Tidak terbatas oleh ruang (lokalistis) dan waktu (temporer). Sebagai contoh kita bisa belajar dari budaya bangsa Jepang yang gigih dan pantang menyerah, kita bisa belajar dari budaya bangsa Israel yang cerdik dan pintar. Selain tentunya contoh-contoh dari budaya suku-suku tertentu di Indonesia yang masih belum tergali.

Kekayaan budaya lokal Indonesia, seperti ketabahan dan kesantunan dalam budaya Jawa, kelembutan dalam budaya suku Sunda, kesungguhan dan tekad pantang menyerah dalam budaya Batak, keinginan untuk merantau dalam budaya Madura, keuletan dalam berwirausaha dalam budaya suku Padang, kehidupan yang penuh nilai religiusitas dalam budaya suku Aceh, dan masih banyak lagi merupakan diantara yang mestinya bisa disilangkan atau ditularkan kepada suku-suku lainnya di Indonesia. Semua kita sadar bahwa masing-masing etnik ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ketika menemui kelebihan dalam budaya sendiri tugas kita adalah menularkannya. Sebaliknya, ketika

(5)

menemui kelemahan, maka keharusan kita adalah memperbaikinya, dengan tanpa sungkan bercermin dan berguru kepada budaya yang lain yang lebih baik. Ketiga, konsep penyerbukan antar budaya lebih dari sekedar multikulturalisme. Dalam konsep multikultural, budaya-budaya yang berbeda di lingkungan sekitar hanya sebatas diterima, dihargai, dan diakui sebagai sebuah kebudayaan yang sah. Sementara dalam konsep persilangan antar budaya, tidak hanya mengakui keberadaan budaya lain, tapi lebih dari itu yaitu berusaha untuk mengekploitasi lebih jauh. Kebudayaan lain tersebut akan ditimbang, dipilah, dan kemudian diadopsi sisi-sisi baiknya. Kita sepakat bahwa dalam setiap budaya mempunyai sisi positif dan sisi negatifnya. Maka disinilah perlunya konsep persilangan antar budaya untuk menimbang lebih jauh dan tanpa malu-malu untuk meniru sisi positif dalam komunitas lain.

Keempat, penyerbukan silang antar budaya bisa diterapkan dengan mudah oleh siapapun dan dimanapun. Seorang individu, sebuah keluarga, sekelompok manusia, sebuah institusi, bahkan sebuah negara bisa menerapkannya dengan tanpa syarat dan tidak menimbulkan efek negatif. Sebagai contoh, seorang profesor bisa belajar kepada mahasiswa tentang suatu informasi, demikan sebaliknya. Sebuah institusi pendidikan tradisional (pesantren) bisa belajar kepada institusi pendidikan modern tentang kemajuan dan kemampuan bersaing di ranah global. Sebaliknya institusi pendidikan modern bisa belajar bagaimana kedisiplinan dan kesederhanaan yang telah mengakar dalam sistem pendidikan pesantren.

Strategi penyerbukan silang antar budaya (Cross Cultural Fertilization) merupakan upaya untuk mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang berserak dalam setiap komunitas manusia. Bahwa semua manusia bisa saling mengisi, saling melengkapi, dan saling belajar antar sesama merupakan sifat dasar manusia. Sifat manusiawi ini adalah hal yang sering kita lakukan meskipun tanpa kita sadari. Dengan konsep inilah kita bisa terus hidup, bergerak, dan berkembang di dunia yang terus berubah ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :