PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE BAMBOO DANCING DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKN DI KELAS
V SDN 03 MANANGGU KABUPATEN BOALEMO Nurhayati Tine
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo Email; [email protected]
Raihan Idrus Ibrahim
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo Email: [email protected]
Abdul Rahmat
Email: [email protected] Abstrak
Tujuan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran tipe bamboo dancing dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn di Kelas V SDN 03 Mananggu. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu, Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan tindakan, Tahap Pemantauan dan evaluasi, Tahap Analisis dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwahasil belajar siswa belum dapat meningkat pada siklus I,sehingga harus diperbaiki dan disempurnakan pada siklus berikutnya (Siklus II ). Penelitian tindakan pada siklus 1 hanya 13 orang atau 65% 7 meningkat pada siklus 2 dari 20 orang siswa, terdapat 17 orang siswa atau 85% mencapai kriteria tuntas dalam meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada materi pelajaran PKn atau dapat melebihi kriteria yang telah ditetapkan sebesar 80% sementara 4 orang atau 15% belum mencapai kriteria tuntas dalam hasil belajarnya. Berdasarkan hasil analisis dari dua siklus dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran tipe bambu duncing.
Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Tipe Bamboo dancing.
PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi siswanya secara efektif, karena keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya motivasi atau dorongan untuk belajar dari siswa itu sendiri. Dalam konteks ini terjadilah kontak belajar, di mana kondisi ini akan lebih mengikat siswa untuk menjaga keberadaan program dan partisipasinya dalam pembelajaran, tentu saja posisi guru harus menempatkan dirinya lebih sebagai fasilitator, pendorong, dan pendukung yang mampu menjadikan kegiatan belajar itu sebagai aktivitas yang
memecahkan persoalan akademik khususnya, dan persoalan kehidupan pada umumnya.
Hal ini juga terjadi pada pembelajaran Tahun Ajaran 2016/2017 menunjukkan bahwa pada kelas V di SDN 03 Mananggu permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PKn yaitu rendahnya motivasi belajar yang dicapai siswa, dari 20 siswa terdiri dari: 7 anak (35 %) motivasi belajar yang rendah. Sedangkan selebihnya 13 orang siswa (65%) dalam kategori kurangnya motivasi belajar.
Dari uraian di atas bahwa mata pelajaran PKn mempunyai nilai strategis
manusia yang unggul, handal, dan bermoral semenjak dini. Melalui model pembelajaran yang menarik, menantang, dan menyenangkan diharapkan pembelajaran PKn menjadi pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pembelajaran dengan tipe bamboo dancing
sangat baik untuk diajarkan berkenaan dengan informasi-informasi guna mempelajari materi pada saat proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran tipe bamboo dancing diharapkan terjadinya kesamaan serta pemerataan informasi dan topik yang dipelajari oleh siswa. Model pembelajaran bamboo dancing tentunya sangat bermanfaat dalam pembelajaran di kelas yang lebih bervariasi sehingga tidak menimbulkan rasa bosan kepada siswa. Sehubungan dengan permasalahan yang telah dikemukakan, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang diformulasikan dalam suatu judulpenelitian : “Penggunaan Model Pembelajaran Tipe
Bamboo dancing dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata pelajaran PKn di Kelas V SDN 03 Mananggu .
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: “Apakah penggunaan model pembelajaran tipe bamboo dancing dapat Meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn di Kelas V SDN 03 Mananggu? Tujuan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn di Kelas V SDN 03 Mananggu melalui penggunaan model pembelajaran tipe bamboo dancing.
Kata motivasi berasal dari bahasa Inggris ”motivation”, dan kata motivation
sebenarnya berasal dari bahasa latin yaitu ”movere”, kata movere dalam bahasa latin artinya ”to move” dalam bahasa Inggris
yang berarti menggerakkan atau mendorong dalam bahasa Indonesia. Sehingga motivasi berasal dari kata motif yang berarti suatu perangsang atau dorongan dari dalam (iner drive) yang
menyebabkan seseorang berbuat sesuatu. (Kusnadi, dkk)
Dalam kamus Bahasa Indonesia dikatakan bahwa motivasi adalah (1) hal memberi atau menjadi dorongan penyebab untuk berbuat, (2) pendorong untuk berbuat dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain motivasi adalah suatu usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. (KBBI, 2007:756)
Motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakan, mengerahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu. Proses timbulnya motivasi seseorang merupakan gabungan dari konsep kebutuhan, dorongan, tujuan dan imbalan. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Mc Cleland (Haling, 2004) bahwa ada tiga jenis kebutuhan dasar seperti kebutuhan akan kekuasaan, berkomunikasi, dan berprestasi. Selain itu ada pandangan beberapa ahli yang menekankan segi-segi tertentu pada motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut justru mengisyaratkan agar guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar PKn siswa.
Motivasi sangat penting dalam belajar, di mana setiap individu mempunyai kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Setiap kebutuhan atau keinginan perlu memperoleh pemenuhan. Dalam batas tertentu upaya memenuhi kebutuhan itu seringkali merupakan tujuan, jadi bila tujuan tercapai, maka kebutuhan atau keinginan terpenuhi. Sedangkan dorongan untuk ssmemenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan itu sendiri merupakan motivasi, sehingga agar belajar dapat mencapai hasil harus ada motivasi. (Ali, 2002:22-23)
Menurut pendapat Winkel motivasi belajar adalah keseluruhan penggerak psikis di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar demi tercapainya tujuan. Motivasi belajar
dapat diartikan sebagai dorongan atau kekuatan daya penggerak murid baik dari luar maupun dari dalam yang menimbulkan kegiatan belajar, yang mengarah pada kelangsungan belajar dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Kapasitas belajar seseorang berbeda dari kapasitas orang lain, di mana di satu pihak terdapat stimulus dan di pihak lain terdapat respon. Artinya dalam proses belajar, seseorang akan cenderung berperilaku tertentu guna memperoleh apa yang diinginkanya.(Siagian, 2005:106)
Menurut Dimyanti dan Mudiojono penting motivasi belajar bagi murid adalah, (1) menyadarkan dalam proses belajar mengajar, (2) menginformasikan tentang cara belajar yang baik kepada teman sebaya, agar ia lebih giat belajar lagi, (3) mengarahkan kegiatan belajar, (4) membesarkan semangat belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya istirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individudilatih untuk menggunakan kekuatan atau sedemikian rupa sehingga dapat berhasil dengan baik, Gagne dan Berliner (dalam Prayitno, 2002:10) menjelaskan pula teknik-teknik motivasi dalam belajar yakni : a) pemusatan perhatian siswa pada topik yang dipelajari; b) apa yang perlu dicapai oleh siswa; c) tujuan pembelajaran jangka pendek. Untuk itu siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar menampakkan minat yang besar dan perhatian yang penuh terhadap tugas-tugas belajar. Mereka memusatkan sebanyak mungkin energi fisik maupun psikis terhadap kegiatan tanpa mengenal perasaan bosan, apalagi mengeluh. Sebaliknya terjadi pada siswa memiliki motivasi rendah, mereka menampakkan keengganan cepat bosan dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar. Anderson (dalam Prayitno, 2002:10) berpendapat bahwa motivasi dalam belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi dan ketekunan.
Dengan demikian dapat dikatakan
belajar akan menunjukan hasil prestasi yang baik, dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Sehingga intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian hasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan akan makin berhasil pula pembelajaran itu.
Adapun unsur-unsur Ada beberapa unsur yang dapat mempengaruhi motivasi belajar : 1) cita-cita / aspirasi pembelajar, 2)kemampuan pembelajar, 3) kondisi pembelajar, 4) kondisi lingkungan belajar, 5) unsur-unsur dinamis belajar/pembeljaran, 6) upaya guru dalam membelajarkan pembelajar.(Uno, 2008:123) Keenam unsur ini dapat mempengaruhi kesuksesan dalam belajar.
Secara umum dapat dikatakan tujuan motivasi, adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan, kemauannya untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.Bagi seorang guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya, untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan, sesuai yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah. (Purwanto, 2000:73).
Motivasi merupakan jantungnya proses belajar. Begitu pentingnya motivasi dalam belajar, maka tugas guru yang pertama dan terpenting adalah membangun motivasi terhadap apa yang akan dipelajari siswa. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Dalam belajar kooperatif, setidak-tidaknya terdapat 14 teknik yang sering diterapkan di ruang kelas. Teknik-teknik ini sering kali dipertukarkan dengan metode-metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dibentuk dalam suatu kelompok kecil
mengoptimalkan keterlibatanya dan anggota kelompoknya sehingga tercapai tujuan dan sasaran belajarnya, karena dalam kegiatan belajar kelompok mereka siswa menjadi aktif saling menampilkan diri atau berada diantara teman sebayanya. Pembelajaran kooperatif membawa banyak keuntungan kepada cara belajar khususnya dalam pembelajaran akademik dan perkembangan sosial individu. pihak guru dan sekolah seharusnya juga mendapat manfaat dari pada pelaksanaanya.
Menurut Kagan (dalam Karuru, 2004: 120) pembelajaran kooperatif telah membawa banyak manfaat sebagai berikut: (a) Memperbaiki hubungan social, (b) Meningkatkan hasil capaian, (c) Meningkatkan kemahiran social, (d) Meningkatkan kemahiran kepemimpinan, (e) Meningkatkan tahap pemikiran tinggi, (f) Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri.
Tari bambu merupakan pengembangan dan modifikasi dari teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Suprijono (2013:98) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan metode bamboo dancing (tari bambu) serupa dengan metode inside outside circle. Pembelajaran ini biasanya diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau dapat pula guru bertanya jawab apa yang diketahui siswa mengenai topik itu. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.
Pada pembelajaran model bamboo duncing ini guru membagi kelas menjadi dua kelompok besar disesuaikan dengan keadaan-banyaknya siswa), dua kelompok besar tersebut berdiri berjajar saling berhadapan dengan kelompok lainnya yang juga dalam posisi berdiri sejajar. Dengan demikian di dalam setiap kelompok besar saling ber pasang-pasangan. Pasangan ini disebut pasangan awal. Setelahnya guru membagi tugas pada setiap pasangan untuk dikerjakan. Pada kegiatan itu guru
memberikan waktu yang cukup sesuai keadaan siswa untuk mengerjakan tugas yang diterima.Setelah mengerjakan tugas yang dibagikan guru, setiap siswa dari tiap-tiap kelompok besar bergeser mengikuti petunjuk guru sesuai arah jarum jam, melalui kegiatan ini setiap siswa dari tiap kelompok besar akan mendapatkan pasangan baru untuk berbagi informasi. Kegiatan ini berhenti ketika tiap-tiap siswa kembali ke pasangan awal.
Adapun menurut (Istarani, 2011:21) langkah-langkah yang digunakan guru dalam model Pembelajaran Bamboo Dancing agar pembelajaran lebih terarah adalah sebagai berikut:
1. Penulisan materi pelajaran di papan tulis serta guru mengadakan kegiatan tanya jawab dengan siswa sehubungan dengan materi pelajaran.
2. Membentuk kelompok masing-masing sesuai dengan kebutuhan dan jumlah siswa.
3. Kelompok besar yang telah dibentuk berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
4. Guru menganjurkan dua orang siswa yang berdiri sejajar mengerjakan soal dan tugas yan diberikan guru.
5. Setelah kegiatan ini dirasa cukup oleh guru maka siswa melakukan perputaran arah jarum jam, tujuannya agar jajaran ini bergeser. Melalui kegiatan ini maka masing-masing siswa akan mendapat pasangan yang baru dalam mengerjakan tugas dari guru dan berbagi informasi
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SDN 03 Mananggu. Penelitian ini diawali dengan observasi yang dilakukan pada minggu ketiga bulan September 2016, kemudian dilanjutkan dengan penelitian tindakan kelas siklus 1 dan siklus 2 yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2016.
Subjek penelitian adalah siswa Kelas V SDN 03 Mananggu, yang berjumlah 20 orang siswa terdiri dari: 7
orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Para siswa berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda dan mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda pula.Penelitian ini terdiri dari tiga variabel, yakni variabel input, variabel proses, dan variabel output yaitu :
1. Variabel input yaitu menyangkut perlakuan yang diberikan kepada siswa yang berhubungan dengan pelajaran yang diberikan berupa, sumber belajar yang digunakan, prosedur evaluasi dan alat-alat pendukung dan tempat berupa LKS, Gambar Koperasi.
2. Variabel proses, yaitu menyangkut proses pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang telah direncanakan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa melalui model pembelajaran tipe Bamboo dancing.
3. Variabel Ouput, yaitu menyangkut capaian motivasi belajar dengan memperhatikan nilai ketuntasan minimal siswa
Prosedur Penelitian Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan Tindakan, Pemantauan dan Evaluasi, Analisis dan Refleksi. Analisis data dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan yaitu dilakukan setiap akhir dari setiap siklus pencapaian tujuan tindakan yang dihipotesiskan diharapkan meningkat sejalan dengan kualitas pendidikan yang dikembangkan secara terus-menerus. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana, yaitu peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa kemudian dibagi dengan jumlah siswa kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan deskripsi data pada masing-masing siklus di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran cenderung mengalami perubahan pada Siklus I maupun Siklus II menunjukkan bahwa ada peningkatan pada motivasi belajar siswa khususnya pada pelajaran PKn Siswa
Pohuwato Tahun Pelajaran 2016/2017 motivasi belajar siswa ini, sangat erat hubungannya dengan kemampuan guru menerapkan model pembelajaran bambu duncing. Meskipun kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan dan telah bedampak pada peningkatan motivasi belajar siswa, masih perlu pengembangan lebih lanjut. Hal ini sesuai dengan analisis data hasil penilaian, dimana motivasi belajar siswa belum dapat ditingkatkan pada Siklus I sehingga harus diperbaiki dan disempurnakan pada Siklus berikutnya (Siklus II). Dengan kata lain, bahwa dalam pembelajaran materi pelajaran PKn dan materi selanjutnya diusahakan penerapan pembelajaran model bambu duncing lebih dioptimalkan terutama tahap-tahap pelaksanaannya agar dapat menuntaskan pada pelajaran IPS pada Siklus I tanpa melakukan pengulangan Siklus II.
Aspek penilaian pada siklus I tentang mptivasi belajar siswa yang meliputi perhatian, minat, konsentrasi dan ketekunan berdampak baik dalam meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran tipe bambu duncing. Hal ini berarti bahwa motivasi belajar siswa khususnya pada materi Pelajaran PKn meningkat namun belum memenuhi standar, sementara beberapa siswa belum mencapai kriteria KKM yang diharapkan. Perhatian, minat, konsentrasi dan ketekunan belum mencapai kriteria yang ditetapkan yakni 80%, kegiatan siswa belum memperoleh kategori baik sekali dan baik. Oleh karena itu pembelajaran harus dilajutkan pada siklus selanjutnya.
Sesuai dengan hasil pengamatan siklus 2, terlihat bahwa 4 aspek tentang 1) Kerjasama siswa bahwa terdapat 17 orang siswa (85%) yang menunjukkan rasa Kerjasama. 2) Waktu awal siswa menunjukkan terdapat 16 Orang siswa (60%) yang memiliki waktu yang memadai, terutama dalam motivasi belajar siswa. 3) Penguasaan materi siswa terdapat 18 orang siswa (90%) menunjukkan
Pemaparan presentase siswa terdapat 16 orang siswa (80%) menunjukkan pemaparan presentase yang baik dalam pemaparan presentase, hal lain yang teramati oleh peneliti adalah aspek lingkungan sekolah sangat memberi dampak dalam peningkatan motivasi belajar siswa, dimana lingkungan sekolah yang masih kurang nyaman, dang kurangnya guru tetap, fasilitas sekolah kurang memadai, serta partisipasi orang tua memperhatikan anak untuk belajar lebih giat dirumah sangat tidak mendorong motivasi anak, sehingga peneliti hanya mematok kriteria ketuntasan pada penelitian ini sebesar 80%.
Hasil evaluasi belajar siswa pada Siklus II untuk meningkatkan motivasi belajar siswa menunjukkan 17 Orang Siswa atau 85% memperoleh nilai tuntas dan 3 orang siswa atau 15% yang belum tuntas hasil pelajarannya dari KKM yang ditentukan 80% Artinya motivasi belajar siswa cenderung membaik, namun keterbatasan guru, fasilitas, sarana, lingkungan belajar dan sumber belajar serta kurang komitmen orang tua menjadi hal yang memberi dampak pada proses pembelajaran siswa di kelas.
Dengan demikian dari 20 orang siswa, terdapat 17 orang siswa atau 85% mencapai kriteria tuntas dalam meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada materi pelajaran PKn atau dapat melebihi kriteria yang telah ditetapkan sebesar 80% sementara 4 orang atau 15% belum mencapai kriteria tuntas dalam evaluasi belajarnya.
Berdasarkan temuan ini pula jelas bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi “Jika guru menerapkan model pembelajaran tipe Bambo Dancing, maka motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn Kelas V SDN 03 Mananggu tentu akan meningkat.” Dapat diterima.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, hasil analisis data
melalui penelitian dengan menggunakan model pembelajaran tipe bambu duncing menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa secara individu mengalami peningkatan. Motivasi belajar siswa ini, sangat erat hubungannya dengan kemampuan guru menerapkan model pembelajaran tipe
bambu duncing. Meskipun kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan dan telah berdampak pada peningkatan motivasi belajar siswa, masih perlu pengembangan lebih lanjut. Hal ini sesuai dengan analisis data hasil penilaian, dimana motivasi belajar siswa belum dapat meningkat pada siklus I,sehinnga harus diperbaiki dan disempurnakan pada siklus berikutnya (siklus II ).
Penelitian tindakan pada siklus 1 hanya 13 orang atau 65% 7 meningkat pada siklus 2 dari 20 orang siswa, terdapat 17 orang siswa atau 85% mencapai kriteria tuntas dalam meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada materi pelajaran PKn atau dapat melebihi kriteria yang telah ditetapkan sebesar 80% sementara 4 orang atau 15% belum mencapai kriteria tun tas dalam evaluasi belajarnya.Berdasarkan temuan ini pula jelas bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi “Jika guru menerapkan model pembelajaran tipe
Bambu Dancing, maka motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn Kelas V SDN 03 Mananggu tentu akan meningkat.” Dapat diterima.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:1). Penelitian tindakan kelas ini diharapkan menjadi acuan bagi guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran PKn. 2). Bagi peneliti dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam penerapan model pembelajaran tipe bambo dancing.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad, 2002. Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru, Algesindo,
Departemen Pendidikan Nasional, 2007.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Dimiyanti & Mujiyono, 2002. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Depdiknas, 14 Gitosudarmo, Indriyo & I Nyoman Sudita, 2000. Perilaku Keorganisasian, Yogyakarta: BPFE
Istarani. 2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan : Media Persada
Mulyana, 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik, dan Implementasi), Bandung : Remaja Rosda Karya Prayitno, Elida. 2002. Motivasi dalam Belajar, Jakarta : P2LTPTK
Purwanto, Ngalim. 2000. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : Gramedia
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta,
Sardiman A.M., 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta; Raj Grafindo Persada Sardiman, 2000. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
Siagian, Sondang P. 2005. Teori Motivasi dan Aplikasinya , Jakarta : Rineka Cipta Sugiyono, 2005. Penelitian Mixed Method,
Kualitatif dan Kuantitatif, Bandung. Alfabeta Suprijono, Agus. 2013. Cooperative
Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Surabaya: Pustaka Pelajar.
Uno, Hamzah dan Abdul Karim Rauf, 2008. Desai Pembelajaran, Gorontalo: Nurul Jannah