• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

22 4.1 Pelaksanaan Tindakan

4.1.1 Kondisi Awal

Penelitian ini berawal dari rendahnya hasil belajar membaca siswa SD Negeri 3 Mrisi kecamatan Tanggungharjo, kabupaten Grobogan. Data yang diperoleh guru dari analisis hasil belajar membaca pada tes formatif dengan Kompetensi Dasar:Menentukan kelipatan dan faktor bilangan, nilai tertinggi 80, nilai terendah 30, nilai rata-rata 60, dengan KKM mata pelajaran Matematika 70, siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) , hanya 4 (18,18 %).dari 22 siswa. Analisis nilai hasil tes formatif pra siklus/ kondisi awal dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1

Analisis Nilai Tes Formatif Pra Siklus

Nilai Frekuensi % Keterangan Nilai Rata-rata

< 70 11 18,18 Belum Tuntas 60

≥ 70 11 81,82 Tuntas

Jumlah 22 100

4.1.2 Siklus I

1) Rencana Tindakan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar membaca, peneliti memfokuskan pada permasalahan yang ada sebelum penerapan pembelajaran model STAD. Dalam hal ini peneliti menyusun strategi yang tepat agar siswa aktif mengikuti pembelajaran. Siklus I dilaksanakan dalam 3 pertemuan. Pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari Kamis, 17 November 2011 jam 07.15 sampai 08.35. Standar Kompetensi:Memahami penggunaan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah. Kompetensi Dasar: Menentukan kelipatan dan faktor bilangan. Indikator : (1) Kelipatan suatu bilangan, (2) Kelipatan persekutuan, (3) Kelipatan persekutuan terkecil. Langkah-langkah pembelajaran pada pertemuan ke-1,

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

(2)

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang kelipatan suatu bilangan, kelipatan persekutuan, dan kelipatan persekutuan terkecil, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

2) Pelaksanaan tindakan Pertemuaan ke-1

Sebelum proses belajar dimulai, guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, seperti alat peraga, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pembelajaran, dan alat peraga. Awal pembelajaran guru memberikan salam dan mengajak siswa untuk berdoa dilanjutkan dengan presensi kemudian pemberian apersepsi dan motivasi. Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi yang akan dipelajari yaitu tentang kelipatan bilangan. Siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran. Tetapi sebagian siswa dibelakang gaduh. Suasana tenang kembali setelah guru memberikan pengarahan dan nasehat. Dalam pembelajaran kooperatif model STAD ini sebagian besar siswa terlibat aktif, meskipun masih ada siswa yang belum mau karena masih merasa kesulitan, Dalam menyelesaikan lembar kerja sudah ada kerjasama antar anggota meskipun belum menyeluruh pada semua kelompok.

Refleksi pertemuan ke-1

Setelah proses pembelajaran selesai, peneliti bersama observer/teman sejawat mengadakan refleksi, dasar dari refleksi adalah pengamatan observer berupa catatan hasil temuan saat proses pembelajaran berlangsung. Guru bersama observer mendiskusikan hal-hal yang perlu ditingkatkan pada pembelajaran pertemuan ke-2. Hasil diskusi, pada pertemuan ke-2 adalah: anggota kelompok masih sama dengan pertemuan pertama, dengan harapan siswa sudah mengenal karakter masing-masing anggota. Guru perlu memberi pengertian pada siswa untuk bekerjasama dengan teman dalam kelompoknya, dalam menyelesaikan tugas karena kerjasama sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan. Dalam pembelajaran, hendaknya guru memberikan kesempatan kepada

(3)

semua siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Guru juga harus memberikan perhatian secara merata pada semua kelompok.

Pertemuan ke-2 1.Perencanaan

Proses pembelajaran difokuskan pada perbaikan pembelajaran pertemuan ke-1. Pelaksanaan pertemuan ke-2 pada hari Sabtu, 19 November 2011, jam 07.15 sampai jam 08.35. Kompetensi Dasar : Menentukan kelipatan dan faktor bilangan. Indikator: (1) Menentukan kelipatan suatu bilangan. (2) Menentukan kelipatan persekutuan dari dua bilangan,(3) Menentukan kelipatan persekutuan terkecil. Langkah-langkah pembelajaran

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang kelipatan suatu bilangan, kelipatan persekutuan, dan kelipatan persekutuan terkecil, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada pertemuan ke-2, guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan. Saat Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung, siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran, hal itu dapat dilihat dari keaktifan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, dan menyelesaikan tugas yang diberikan, tetapi ada beberapa siswa yang masih mengalami sedikit kesulitan.

Pada akhir pembelajaran peneliti memberi kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan guru.

Refleksi Pertemuan ke-2

Peneliti bersama observer mendidkusikan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada pertemuan ke-2, dari hasil observasi pelaksanaan tindakan, peneliti mengungkap beberapa hal yang terjadi dalam pembelajaran: Secara umum, pelaksanaan pembelajaran sudah baik, namun ada kekurangan yaitu masih ada siswa yang mengalami

(4)

kesulitan, guru belum sepenuhnya memberi bantuan pada siswa yang mengalami kesulitan dalam kerjasama kelompok. Guru hanya melibatkan kelompok siswa yang duduk di bangku depan saja dan tidak menyeluruh. Hasil catatan dari observer dijadikan pedoman untuk perbaikan pertemuan berikutnya.

Pertemuan ke-3 1.Perencanaan

Proses pembelajaran difokuskan pada perbaikan pembelajaran pertemuan ke-2 Pelaksanaan pertemuan ke-3 pada hari Senin, 21 November 2011, jam 07.15 sampai jam 08.35. Kompetensi Dasar : Menentukan kelipatan dan faktor bilangan. Indikator: (1) Menentukan kelipatan suatu bilangan. (2) Menentukan persekutuan dari dua bilangan, (3) Menentukan Kelipatan Persekutuan terkecil. Langkah-langkah pembelajaran:

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang kelipatan suatu bilangan, kelipatan persekutuan, dan kelipatan persekutuan terkecil, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada pertemuan ke-3, guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan. Saat Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung, siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran, hal itu dapat dilihat dari keaktifan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Refleksi Pertemuan ke-3

Peneliti bersama observer mendidkusikan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada pertemuan ke-3, dari hasil observasi pelaksanaan tindakan, peneliti mengungkap beberapa hal yang terjadi dalam pembelajaran: Secara umum, pelaksanaan pembelajaran sudah baik, namun ada kekurangan yaitu masih ada siswa yang mengalami kesulitan, guru belum sepenuhnya memberi bantuan pada siswa yang mengalami

(5)

kesulitan dalam kerjasama kelompok, perhatian guru kurang merata observer dijadikan pedoman untuk perbaikan

3) Hasil Tindakan

Siklus I dilaksanakan formatif dengan menera

Data hasil tes formatif : nilai tertinggi mencapai ketuntasan 10

(55%). Analisis hasil tes formatif siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2

Nilai Frekuensi

< 70 12

≥ 70 10

Jumlah 22

Tabel 4.2 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dengan sebelum diterapkannya

formatif siklus I disajikan dalam bentuk diagram, akan terlihat seperti gambar Diagram 4.

Gambar 4.1 Diagram Hasil Belajar Siklus

kerjasama kelompok, perhatian guru kurang merata. observer dijadikan pedoman untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

Siklus I dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Akhir pertemuan ke

formatif dengan menerapkanmodel STAD, yaitu materi Kelipatan Persekutuan Terkecil. formatif : nilai tertinggi 80, nilai terndah 40, nilai rata-rata 63

10 orang (45%), siswa yang belum mencapai ketuntasan 7 orang, %). Analisis hasil tes formatif siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2

Tabel 4.2

Analisis Nilai Tes Formatif Siklus I

% Keterangan Nilai Rata

45 Belum Tuntas

55 Tuntas

100

.2 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika

dengan sebelum diterapkannya model STAD dalam pembelajaran. Jika data hasil tes formatif siklus I disajikan dalam bentuk diagram, akan terlihat seperti gambar Diagram 4.

iagram Hasil Belajar Siklus I

55% 45%

Tuntas

Tidak tuntas Hasil catatan dari

a pertemuan. Akhir pertemuan ke-3 diadakan tes Kelipatan Persekutuan Terkecil.

63,63, siswa yang %), siswa yang belum mencapai ketuntasan 7 orang,

Nilai Rata-rata 63,63

matematika dibandingkan dalam pembelajaran. Jika data hasil tes formatif siklus I disajikan dalam bentuk diagram, akan terlihat seperti gambar Diagram 4.1

Tuntas

(6)

Hasil Lembar Kerja Kelompok

Pembelajaran pada siklus I siswa dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok beranggota 4 orang, kecuali dua kelompok beranggota 5 orang. Dari 5 kelom-pok, tidak ada yang melampaui KKM, tetapi 2 kelompok telah mencapai ketuntasan yaitu kelompok I (nilai 70), dan kelompok V (nilai 70), sedangkan kelompok yang belum mencapai ketuntasan pembelajaran adalah kelompok II (nilai 65 ), Kelompok III (nilai 60), kelompok IV (nilai 54). Hasil analisis observasi kinerja guru siklus I pertemuan ke-1 diperoleh kinerja 86%, hasil analisis kinerja guru pada pertemuan ke-2 meningkat menjadi 90%

Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan penerapan pembelajaran model STAD siklus I adalah 75%

4) Hasil Belajar Aspek Kognitif

Dengan penerapan pembelajaran model STAD, hasil belajar aspek kognitif siswa kelas IV, SD Negeri 3 Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan mengalami peningkatan. Meningkatnya hasil belajar, dapat dilihat dari hasil tes formatif kondisi awal, dan tes formatif siklus I .

5) Hasil Belajar Aspek Ketrampilan Sosial

Sebelum diterapkan pembelajaran model STAD, dalam pembelajaran matematika, siswa pasif, belum bisa diajak bekerjasama. Mereka cenderung bekerjasama hanya dengan teman tertentu. Setelah diterapkan pembelajaran model STAD, aspek ketrampilan sosial meningkat. Mereka sudah mulai bisa diajak bekerjasama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

6) Efektifitas cara pembelajaran menurut peseta didik

Siswa sangat senang dengan diterapkannya model STAD dalam pembelajaran. Menurut mereka Model STAD menyenangkan dan memudahkan mereka memahami materi pembelajaran matematika khususnya materi Kelipatan Persekutuan Terkecil.

7) Refleksi

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD telah mampu meningkatkan hasil belajar matematika. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari ketuntasan belajar yang dicapai siswa yakni 55% atau 10 siswa sudah memperoleh nilai lebih dari KKM, sedangkan 12 siswa (45%) masih belum mencapai ketuntasan. Jika dilihat dari indikator

(7)

kinerja, yaitu penelitian dianggap berhasil bila siswa yang mencapai ketuntasan ≥ 80%, maka hasil belajar pada siklus I ini dianggap belum berhasil, karena pencapaian ketuntasan hanya 55%. Untuk itu, peneliti akan melanjutkan pada siklus kedua.

4.1.3 Siklus 2

1) Rencana Tindakan

Pembelajaran siklus 2 difokuskan pada perbaikan kekurangan yang terjadi pada siklus 1.Siklus 2 dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan. Pada siklus 2 ini, kelompok siswa tidak berubah. Jumlah kelompok tetap seperti pada siklus 1, karena jumlah murid yang sulit dipecah bila anggota 4-5 orang, baik diperkecil maupun diperbesar anggotanya. Letak perbedaan hanya terdapat pada materi. Materi siklus 1 difokuskan pada Kelipatan Persekutuan Terkecil, sedangkan materi siklus 2 difokuskan pada Faktor Persekutuan Terbesar.

Pertemuan 1

Pertemuan ke-1, dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 November 2011 jam 07.15 sampai jam 08.35. Kompetensi Dasar: Menentukan kelipatan dan faktor bilangan.Indikator: (1) Menentukan faktor suatu bilangan, (2) Menentukan faktor persekutuan, (3) Menentukan faktor persektuan terbesar. Langkah-langkah pembelajaran pertemuan ke-1:

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang faktor bilangan, faktor persekutuan, dan faktor persekutuan terbesar, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

Pertemuan ke-2

Pertemuan ke-2 dilaksanakan pada hari Senin, 28 November 2011, jam 07.15 sampai jam 08.35. Kompetensi Dasar: Menentukan kelipatan dan faktor bilangan.Indikator: (1) Menentukan faktor suatu bilangan, (2) Menentukan faktor persekutuan, (3) Menentukan faktor persektuan terbesar. Langkah-langkah pembelajaran pertemuan ke-2:

(8)

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang faktor bilangan, faktor persekutuan, dan faktor persekutuan terbesar, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

Pertemuan ke-3

Pertemuan ke-3 dilaksanakan pada hari Rabu, 30 November 2011, jam 07.15 sampai jam 08.35. Kompetensi Dasar: Menentukan kelipatan dan faktor bilangan.Indikator: (1) Menentukan faktor suatu bilangan, (2) Menentukan faktor persekutuan, (3) Menentukan faktor persektuan terbesar. Langkah-langkah pembelajaran pertemuan ke-3:

Kegiatan Awal: (1) Memotivasi siswa, (2) Menjelaskan cara belajar dengan model STAD, (3) Menyampaikan tujuan pembelajaran, (5) Apersepsi.

Kegiatan inti: (1) Menyampaikan materi pembelajaran tentang faktor bilangan, faktor persekutuan, dan faktor persekutuan terbesar, (2) Mengelompokkan siswa, (3) Membimbing diskusi kelompok, (4) Presentasi Kelompok, (5) Pebahasan diskusi kelompok.

Kegiatan Akhir: (1) Menyimpulkan materi pembelajaran, (2) Menutup kegiatan pembelajaran.

2) Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pembelajaran siklus 2 sesuai dengan perencanaan, semua aspek observasi terlakasana dengan baik. Siswa tampak antusias dalam mengikuti pembelajaran, hal itu terlihat dari kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dan keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat.

Refleksi

Peneliti bersama observer / teman sejawat mengadakan diskusi tentang hasil pengamatan proses pembelajaran siklus 2 pertemuan ke-3. Pada pertemuan ke-3 siswa sudah dapat beradaptasi dengan cara belajar menggunakan model STAD, yang ditandai

(9)

dengan keaktivan dan kerjasama siswa dalam kelompok untuk menyelesaikan guru.

3) Hasil Tindakan

Hasil tes formatif siklus 2 nilai tertinggi

Siswa yang mencapai ketuntasan belajar 21 atau 95 mencapai ketuntasan 1 siswa atau 5

tabel 4.3

Nilai Frekuensi

< 70 1

≥ 70 21

Jumlah 22

Analisis data pada tabel 4.3 menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan hasil tes formatif pada siklus 1 atau setelah diadakan perbaikan pembelajaran. Apabila hasil tes formatif siklus 2 disajikan dalam bentuk diagram

gambar 4.2

Gambar 4.2 Diagram Hasil Belajar Siklus Hasil Lembar Kelompok

Pembelajaran siklus 2, siklus 1) masing-masing, kelom

kelompok mencapai ketuntasan belajar yaitu kelompok III (nilai 70), sedangkan 4 ivan dan kerjasama siswa dalam kelompok untuk menyelesaikan

Hasil tes formatif siklus 2 nilai tertinggi 100, nilai terendah 50. Nilai rata g mencapai ketuntasan belajar 21 atau 95%, sedangkan siswa

mencapai ketuntasan 1 siswa atau 5%. Analisis nilai hasil tes formatif dapat dilihat pada Tabel 4.3

Analisis Nilai Tes Formatif Siklus II

Frekuensi % Keterangan Nilai Rata

5 Belum Tuntas

95 Tuntas

100

Analisis data pada tabel 4.3 menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan hasil tes formatif pada siklus 1 atau setelah diadakan perbaikan pembelajaran. Apabila hasil tes formatif siklus 2 disajikan dalam bentuk diagram akan terlihat seperti

Diagram Hasil Belajar Siklus II Hasil Lembar Kelompok

Pembelajaran siklus 2, siswa dibagi menjadi 5 kelompok (masih sama dengan masing, kelompok beranggota 4-5 orang. Hasil lembar kerja siklus 2, kelompok mencapai ketuntasan belajar yaitu kelompok III (nilai 70), sedangkan 4

95% 5%

ivan dan kerjasama siswa dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas dari

. Nilai rata-rata 75,50. %, sedangkan siswa yang belum %. Analisis nilai hasil tes formatif dapat dilihat pada

Nilai Rata-rata 75,50

Analisis data pada tabel 4.3 menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan hasil tes formatif pada siklus 1 atau setelah diadakan perbaikan pembelajaran. akan terlihat seperti

siswa dibagi menjadi 5 kelompok (masih sama dengan orang. Hasil lembar kerja siklus 2, satu kelompok mencapai ketuntasan belajar yaitu kelompok III (nilai 70), sedangkan 4

Tuntas Tidak Tuntas

(10)

kelompok yang lain melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal yakni, kelompok I (nilai 83), kelompok II (nilai 79), kelompok II (nilai77), kelompok IV (nilai 74), kelompok V (nilai 78). Hasil analisis observasi kinerja guru siklus 2 hasil analisis kinerja guru pada pertemuan ke-2 meningkat menjadi 100%.

Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan penerapan model STAD siklus 2, adalah 80%

4) Hasil Belajar Aspek Kognitif

Dengan penerapan pembelajaran model STAD , hasil belajar aspek kognitif siswa kelasIV, SD Negeri 3 Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan mengalami peningkatan. Meningkatnya hasil belajar matematika, dapat dilihat dari hasil tes formatif siklus I dan tes formatif siklus 2. Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa siklus 1 adalah 55%. Pada siklus 2, mengalami peningkatan menjadi 95%.

5) Hasil Belajar Aspek Ketrampilan Sosial

Penerapan model STAD dalam pembelajaran matematika, berdampak pada aspek ketrampilan sosial. Mereka dapat bekerjasama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru, lebih berani mengemukakan pendapat saat diskusi.

6) Efektifitas cara pembelajaran menurut peseta didik

Berdasarkan hasil wawancara guru dengan siswa saat refleksi akhir pembelajaran, diketahui siswa senang menggunakan model STAD, mereka mengatakan bahwa: dengan Menerapkan model STAD mereka dapat menyelesaikan tugas dengan lebih mudah, sehingga mempengaruhi hasil belajar yang mereka capai.

7) Refleksi

Penerapan pembelajaran dengan model STAD telah mampu meningkatkan hasil belajar matematika. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari ketuntasan belajar yang dicapai siswa yakni 95,% atau 21 siswa memperoleh nilai lebih dari KKM, sedangkan 1 siswa masih belum mencapai ketuntasan, sehingga diperlukan remidiasi supaya dapat menyesuaikan dengan teman-temannya. Jika dilihat dari indikator kinerja, yaitu penelitian dianggap berhasil bila siswa yang mencapai ketuntasan ≥ 80%, maka penelitian ini dianggap sudah berhasil.

(11)

Hasil belajar siswa kelas IV diterapkan model STAD dalam

dilihat dari nilai rata-rata dan prosentase ketuntasan belajar setiap siklus. Analisis data antar siklus dapat dilihat pada tabel 4.4

No Kategori

1 Siswa tuntas 2 Siswa belum tuntas 3 Jumlah

4 Nilai maksimum 5 Nilai minimum 6 Nilai rata-rata

Analisis data antar siklus pada tabel 4.4 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, terlihat nilai rata

63,63 pada siklus 2 terjadi peningkatan

Prosentase ketuntasan siswa pada kondisi awal (pra siklus) adalah siklus I menigkat menjadi

peningkatan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada

Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% pra siklus 18,18%

Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa

Hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Mrisi mengalami peningkatan setelah model STAD dalam pembelajaran matematika, Peningkatan tersebut dapat rata dan prosentase ketuntasan belajar setiap siklus. Analisis data antar siklus dapat dilihat pada tabel 4.4

Tabel 4.4

Analisis Data Antar Siklus

Kondisi Awal Siklus I

Jumlah % Jumlah % Jumlah

4 18,18 10 45

Siswa belum tuntas 18 81,82 12 55

22 100 22 100

80 - 80

-30 - 40

-60 - 63,63 - 75

Analisis data antar siklus pada tabel 4.4 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, terlihat nilai rata-rata kondisi awal (pra siklus) 60 pada siklus I meningkat

s 2 terjadi peningkatan menjadi 75,50.

Prosentase ketuntasan siswa pada kondisi awal (pra siklus) adalah siklus I menigkat menjadi 45%, dan meningkat lagi pada siklus 2 menjadi 9 peningkatan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada gambar 4.3

Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

pra siklus siklus I siklus 2

18,18% 45% 95,00% 81,82% 55% 5,00% Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa

Tuntas Tidak Tuntas

mengalami peningkatan setelah , Peningkatan tersebut dapat rata dan prosentase ketuntasan belajar setiap siklus. Analisis data

Siklus 2 Jumlah % 26 95, 2 5 28 100 100 -50 -75,50

-Analisis data antar siklus pada tabel 4.4 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I meningkat menjadi Prosentase ketuntasan siswa pada kondisi awal (pra siklus) adalah 18,18%, pada

5%, dan meningkat lagi pada siklus 2 menjadi 95%. Grafik

Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa

Tuntas Tidak Tuntas

(12)

4.3 Pembahasan

Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa, setelah guru menerapkan pembelajaran model STAD pada mata pelajaran matematika. Prosentase ketuntasan siswa pada siklus I mencapai 45%, meningkat sebesar 26,82% dari kondisi awal (pra siklus). Pada siklus 2 prosentase ketuntasan belajar siswa mencapai 95% meningkat sebesar 50% dari siklus I. Nilai rata-rata pada siklus I adalah 63,63, pada siklus 2 meningkat menjadi 75,50. Peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas SD Negeri 3 Mrisi menunjukkan bahwa penerapan model STAD sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang memiliki keunggulan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Peningkatan hasil belajar matematika tersebut, menunjukkan bahwa pemahaman terhadap materi pembelajaran meningkat. Model pembelajaran STAD cocok diterapkan pada siswa kelas IV. Hal ini ditunjukkan dengan perhatian anak terhadap tugas yang diberikan guru.

Pembelajaran kooperatif model STAD menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Menurut Slavin dalam Lie (2005:57) pembelajaran STAD lebih menekankan kerjasama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerjasama dalam satu perencanaan kegiatan mengajar. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat bekerjasama secara sportifsatu sama lain dan bertanggung jawab baik kepada dirinya maupun pada anggota dalam satu kelompok.

Kualitas guru dalam mengajar terlihat lebih meningkat dibanding sebelum diadakan tindakan penelitian. Hal tesebut dapat dilihat dari penilaian kinerja guru, pada akhir siklus 2 yang mencapai 100 %. Kinerja guru yang baik perlu dipertahankan dan selalu ditingkatkan untuk tecapainya mutu pendidikan dengan selalu mengikuti perkembangan dan inovasi pendidikan baik melalui buku, internet dan aktif dalam Keguitan Kelompok Kerja Guru..

Gambar

Tabel  4.2  menunjukkan  adanya  peningkatan  hasil  belajar  dengan  sebelum  diterapkannya

Referensi

Dokumen terkait

pendeteksi/detektor, yang bekerja secara fisikokimia, pendeteksi/detektor, yang bekerja secara fisikokimia, piezoelektronik, optik, elektrokimia, dll., yang mengubah sinyal

Pilkada Karanganyar periode 2013-2018 salah satu pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Juliyatmono dan Rohadi (YURO) diterpa isu. Penelitian dengan metode kualitatif ini

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi banyak nikmat dan karunia pada penulis sehingga proses penulisan skripsi yang berjudul “Masa Transisi

permukiman. b) Pusat ini ditandai dengan adanya pampatan agung/persimpangan jalan (catus patha) sebagai simbol kultural secara spasial. c) Pola ruang desa adat yang berorientasi

Berikut posisi suara wanita jenis alto dalam garis paranada bertandakunci G serta visualisasinya dalam gambar papan piano:. Pono Banoe (2003:

383 manajemen CIMB Niaga pada umumnya adalah penyempurnaan produk yang berinovasi dan bervariatif agar minat menabung kembali, kemudian peningkatan layanan terhadap

Dari prosentase jawaban angket di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar PAI pada aspek akhlak dengan materi sifat-sifat terpuji siswa kelas VII-B sudah mulai naik