Refleksi Ideologi Lokal Pura Peningal :
Cerminan Refleksi Ideologi Lokal di Masyarakat
Oleh
I Made Danu Tirta
Kementerian Agama Kabupaten Tabanan [email protected]
Abstrak
Ideologi lokal pada Pura Peningal terjerat dalam konstruksi fisik pura yang men-jaga sisi alamiahnya, meski berada di tengah kemajuan peradaban. Terbukti, sifat pura tetap terjaga secara regenerasi meski ada dukungan material terhadap pembaharuan pura. Artikel ini menganalisis ideologi lokal Pura Peningal dalam berbagai aspek, yang dapat dijadikan sebagai refleksi atas refleksi ideologi lokal dalam kehidupan masyarakat. Hasil dalam artikel ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, studi dokumen-tasi, studi literatur, dan disclaimer menggunakan teori fungsionalisme struktural (Talcott Parsons). Refleksi dalam aspek keagamaan ditunjukkan dengan bangkitnya konsistensi beragama dan integrasi sistem keagamaan. Refleksi pada aspek budaya dapat dilihat dari penciptaan potensi perlindungan yuridis budaya dan perlindungan kegelapan lingkun-gan yang diciptakan oleh budaya pemikiran manusia (Krama Pangempon). Refleksi da-lam aspek sosial, terlihat dari meningkatnya rasa kebersamaan dan semangat gotong royong di internal Pura Krama Pengempon Peningal. Kajian atas refleksi ideologi lokal Pura Peningal diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang kekhasan dan man-faat positif dari ideologi lokal yang berlaku dalam kehidupan beragama masyarakat. Kata kunci: Repleksi, Ideologi Lokal, Pura Peninggal
PENDAHULUAN
Pura Peningal merupakan Pura Khayangan Desa yang terletak di Desa Pakraman Gempinis, Desa Dalang, Selemadeg Timur, Tabanan. Eksistensi Pura Peningal sebagai wadah praktek religius agama Hindu, pada dasarnya harus memiliki tatanan yang rel-evan dengan kaidah mengenai keberadaan pura secara umum. Salah satu kaidah terse-but adalah mengenai ketepatan aspek fisik pada pura. Terkait kaidah fisik terseterse-but, maka maka Titib (2003: 101-103); Suendi (2005: 33); Parisadha Hindu Dharma Pusat (1993: 19) menggariskan bahwa, pura terdiri dari Tri Mandala yang kesemuanya dilingkari oleh tem-bok Panyengker, serta dilengkapi pula dengan Candi Bentar atau Gelung Agung sebagai pintu masuk menuju masing-masing Mandala. Secara lebih lanjut maka Titib menjelas-kan bahwa, konsep Tri Mandala yang terdapat dalam pura, merupamenjelas-kan wujud resapan terhadap konsepsi macrocosmos (Bhawana Agung) yang dalam hal ini memiliki tiga strukturalisasi ruang semesta (Tri Loka) yakni, Bhurloka (bumi); Bhuvahloka (langit); dan Svahloka (sorga). Sementara itu, kokohnya tembok Panyengker berfungsi untuk mem-berikan perlindungan secara fisik, pembatas antara kawasan internal dan eksternal pada pura, serta menjadi simbolisme dari pentingnya perlindungan terhadap asas kesucian dan kikhlasan bathin menuju Tuhan. Disisi lain, keberadaan Candi Bentar yang menjadi pintu masuk pertama pada pura, merupakan simbolisme dari pecahnya Gunung Kailasa sebagai tempat persemadian Dewa Siwa. Arca Dvarapala berwujud raksasa yang terdapat dihadapan Candi Bentar, merupakan simbolisme kekuatan penjaga pura. Sedangkan Kori
Agung bermotif Boma yang menjadi pintu masuk menuju halaman pura, memiliki fungsi simbolis sebagai pengusir sifat keraksasaan ketika hendak memasuki areal utama pura.
Namun realita dilapangan menunjukkan bahwa, konstruksi fisik Pura Peningal berbeda dengan tatanan kiadah sebagaimana disebutkan di atas. Pura Peningal tidak memiliki Candi Bentar yang umumnya menjadi pintu masuk serta ciri pembatas antara bagian terluar pura (Nista Mandala) dengan kawasan tengah pada sebuah pura (Madya Mandala). Disisi lain, pura ini juga tidak memiliki Kori Agung yang umumnya juga menja-di pintu masuk sekaligus pembatas antara bagian tengah pura, dengan struktur inti atau utama dari pura (Utama Mandala). Selain tidak memiliki Candi Bentar dan Kori Agung, maka tatanan fisik pada pura ini juga tidak mempergunakan patung yang umumnya dipercaya sebagai simbolisme penjaga pura. Bahkan konstruksui Palinggih notabene memakai sistem Bebaturan (susunan batu). Terjadinya hal tersebut, merupakan wujud implementasi dari pandangan masyarakat sekitar yang mempercayai bahwa, susunan fisik dari pembatas pura tidak boleh mempergunakan material sebagaimana yang diper-gunakan dalam pembangunan pura pada umumnya. Akan tetapi harus memperdiper-gunakan tanaman atau tumbuhan hidup (kealamian) baik sebagai Penyengker ataupun pintu ma-suk pura.
Kealamian Pura Peningal dapat dikatakan sebagai implementasi dari sebuah Id-iologi lokal. Mengingat masyarakat Pangempon selalu memandang bahwa, keunikan tersebut sebagai tradisi dan gagasan klasik yang dibuat oleh para pendahulu di Pura Pen-ingal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa, idiologi lokal telah menjadi tatanan yang mampu mendominasi realitas kepercayaan serta tindakan masyarakat Pengempon Pura Peningal. Hal ini selaras dengan pandangan Althusser (2008: xi) mengatakan bahwa, ti-dak ada jalan keluar untuk mundur dan menghindar dari jalan dan resiko dari sebuah ideologi. Dengan kata lain, semua terkena dampak ideologi yang tertanam dalam se-buah aspek kehidupan manusia. Kokohnya idiologi lokal kemudian memberikan pen-guatan sugesti pada masyarakat, untuk melakukan tindakan sebagaimana nilai idiologis yang telah dipercayai secara lokal dan meregenerasi di Pura Peningal.
Bukti nyata dari kuatnya pengaruh ideologi di Pura Peningal adalah kealamian pura yang bertahan secara meregenarasi, meskipun terdapat dukungan secara materi atau finansial yang sejatinya dapat menjadi pendorong kelengkapan aspek fisik se-bagaimana kaidah konstruksi fisik pura secara umum. Masyarakat memiliki kebulatan tekad, untuk mempertahankan kealamian tatanan fisik Pura Peningal, sebagai warisan leluhur yang memiliki karakteristik tersendiri khususnya dalam bidang kehidupan berag-ama (Gunawijaya, 2020).
Artikel ini fokus menganalisis tentang refleksi ideologi lokal Pura Peningal, se-bagai cerminan refleksi ideologi lokal dalam kehidupan masyarakat. Kuatnya kebersa-maan masyarakat Pangempon dalam mempertahankan ideologi lokal berupa kealamian pura, tentunya memberikan fungsi positif bagi eksistensi pura maupun Krama Pangem-pon sebagai masyarakat pendukung ideologi lokal tersebut. Sehingga mampu member-ikan gambaran tentang sisi positif pembertahanan ideologi lokal dalam kehidupan mas-yarakat beragama pada khsuusnya.
Analisis terhadap refleksi ideologi lokal Pura Peningal menggunakan teori fung-sionalisme struktural menurut Talcott Parsons (dalam Ritzer, 2008: 121) yang menyatakan bahwa suatu sistem memiliki empat fungsi penting untuk semua sistem tindakan atau
yang disingkat dengan fungsi AGIL yakni : 1) Adaftation (adaptasi): sebuah sistem ha-rus menanggulangi situasi eksternal yang gawat, sistem haha-rus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. 2) Goal attainment (pencapaian tujuan): sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utaman-ya. 3) Integration (integrasi): sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian-ba-gian yang menjadi komponenya, sistem juga mengelola antar hubungan ketiga fungsi lainnya (AGIL). 4) Latensy (pemeliharaan pola) : sebuah sistem harus saling melengkapi, memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Artikel ini bertujuan untuk menemukan refleksi ideologi lokal Pura Peningal yang tentunya tertuang dalam berbagai aspek. Apa saja aspek refleksi ideologi lokal Pura Pen-ingal, hal tersebut akan dijelaskan melalui pembahasan.
METODE
Metode yang dipergunakan dalam artikel ini dikumpulkan dengan teknik obser-vasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi. Lokasi penelitian bertempat di Pura Peningal Desa Pakraman Gempinis, Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Ka-bupaten Tabanan. Teknik analisis data yang diterapkan adalah : reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
PEMBAHASAN Refleksi Religius
Ideologi lokal Pura Peningal memberikan refleksi pada aspek religi masyarakat. Hal ini muncul dari esensi ideologi lokal Pura Peningal yang berkedudukan sebagai ide lokal, dan selanjutnya diposisikan sebagai wacana. Wacana inilah dipandang sebagai fakem khusus, yang terbentuk melalui pemikiran krtitis, serta menjadi dasar fundamental untuk menata kehidupan beragama di Pura Peningal. Ideologi sebagai wacana penting, selaras dengan asumsi religi sebagaimana pendapat Artadi (2003: 64-65) yang mendefinisikan religi sebagai cipta ilahi yang tertuang dalam bentuk wahyu serta ciptaan alam semesta. Refleksi religius merupakan bentuk pencapain tujuan dalam teori fungsonal strukrutal. Mengingat, sisi religius menjadi tujuan pokok terkait dengan kedudukan pura sebagai salah satu aspek religi. Oleh sebab itu, refleksi religius ideologi lokal Pura Peningal adalah sebagai berikut.
Konsistensi Beragama
Konsistensi beragama adalah salah satu refleksi religius ideologi lokal Pura Pen-ingal. Pentingnya kedudukan ideologi lokal, memberikan sebuah kekuatan dalam wu-jud ketaatan dalam beragama. Masyarakat Pangempon Pura Peningal selalu taat dalam menjalankan aspek ritual beragama yang berlaku di Pura Peningal, serta tidak terjadi pergeseran sistem ritual. Ketaatan beragama merupakan realisasi keyakinan dan mas-yarakat terhadap leluhur yang telah mewarisi realitas beragama di Pura Peningal, serta upaya pemeliharaan secara religius terhadap sisi kealamian pura (Suandra, wawancara 18 Agustus 2020). Ketaatan beragama tersebut selaras dengan pendapat Swarupa (da-lam Perni, 2016: 104) yang berasumsi bahwa, ketika pemikiran dan kepercayaan da(da-lam skup lokal selalu berkembang dan mendasarkan dirinya pada agama Hindu, pada nan-tinya hal tersebut akan memberikan sebuah proses pengulangan, yang secara langsung
menjadi mobilisator atau cara hidup bagi agama Hindu secara berkelanjutan.
Munculnya refleksi konsistensi beragama, menjadi wujud dorongan ideologi lokal yang menggembleng sisi mistis pemikiran umat. Jika dianalogikan, maka ideologi lokal Pura Peningal menjadi cambuk yang memberikan gertakan dan garis-garis tersendri bagi umat agar tidak lepas dari rambu-rambu beragama. Meminjam pendapat Atmadja (2015: 63) maka dapat dianalisis pula bahwa, masyarakat yang mempercayai keberadaan Pura Peningal, pada dasarnya juga merupakan manusia atau mahluk yang tergolong sebagai homo sapiens dan homo demens, atau insan yang memiliki sisi rasional sealigus memiliki kepercayaan yang besar terhadap segala hal yang bersifat irasional. Dalam artian, rasion-alitas dalam pelaksanaan praktek beragama Hindu secara berkelanjutan, dipacu oleh ide-ologi lokal melalui sisi mistis atau irasionalitas itu sendiri (Untara, 2020).
Sehingga ketika ideologi lokal tersebut selalu ditaati dan dijalankan, maka dida-lamnya juga menggandeng adanya ketaatan dan pelaksaan kehidupan beragama se-cara aktif dimasyarakat (Gunawijaya, 2020). Ketika ideologi lokal mampu memberikan sumbangsih dalam memupuk ketaatan beragama, maka secara langsung hal ini semakin mampuk kedudukan agama yang tidak saja sebagai sebuah kebutuhan, namun disisi lain juga telah terpatri menjadi sebuah pandangan hidup untuk menjalankan agama sesuai dengan ajaran dan tradisi agama itu sendiri (Perni, 2016: 104).
Integrasi Sistem Beragama
Refleksi ideologi lokal di Pura Peningal, juga mengintegrasikan sistem beragama secara lokal dengan tatanan beragama Hindu secara umum. Sistem beragama secara lo-kal dan umum, selalu berdampingan serta menjadi acuan kehidupan beragama di Pura Peningal. Hal ini dapat dilihat dari sistem Pujawali di Pura Peningal yang selalu dilaksank-an dalam skup Madya, namun tidak terlepas dari kaidah beragama secara umum (meng-gunakan prinsip Madyaning Nista, Madyaning Madya dan Madyaning Utama). Hal ini juga terjadi pada pandangan terhap aspek fisik pura. Masyarakat memiliki pandangan bahwa, konstruksi pura yang tersusun atas kealamian pada dasarnya dipandang memiliki kesa-maan fungsi sebagaimana konstruksi fisik pura pada umumnya (Astrawan, wawancara : 18 Agustus 2020). Pernyataan tersebut menunjukkan adanya minimalisasi perbedaan tata cara beragama Hindu. Perbedaan tersebut ditekan sehingga memunculkan adan-ya sebuah tujuan penting adan-yang tertuang dalam bentuk pelaksanaan kegiatan beragama secara utuh, damai dan maksimal. Dengan kata lain, ideologi lokal di Pura Peningal telah memposisikan agama sebagaimana pendapat Wirawan (2013: 90) yakni, agama tidak ha-nya dipergunkan sebagai candu-candu yang bersifat difrensiasi, namun disisi lain telah membawa manusia pada puncak peradaban, dan memposisikan semua jenis cara be-ragama sebagai kesaman dan kebutuhan manusia yang primer apabila dinbandingkan dengan aspek lainnya.
Integrasi sistem beragama didasari oleh kemanunggalan dari pada esensi agama itu sendiri. Sistem beragama pada dasarnya mengarah pada maksud dan tujuan yang sama (Suadnyana, 2020). Hal ini mendasari pemikiran dan tindakan masyarakat dalam menyatukan tatanan kehidupan beragama yang berbeda di Pura Peningal. Integrasi dari sistem beragama tersebut, selaras dengan hakikat agama manusia sebagaimana pendapat Turner (2003: 32) yang mengatakan bahwa, masing-masing agama, keyakinan ataupun kepercayaan yang dimiliki oleh manusia baik secara personal maupun kelom-pok, secara realitas memang tertuang dalam kazanah dan bentuk yang berbeda, akan tetapi tetap mendasarkan diri pada satu tema dan poros sentral dan dibangun diatas
dasar struktur elementer. Dengan kata lain, ideologi lokal di Pura Peningal mampu men-garahkan dan mengembalikan sebuah prinsip yang menyatakan bahwa agama dan prak-tek beragama pada dasarnya bersumber serta ditujukan kembali pada satu sumber ma-nunggal, yakni Tuhan.
Integrasi sistem beragama yang terjadi di Pura Peningal, tentunya berproses dan dapat dilihat dari berbagai sisi. Tatanan prilaku dari masyarakat, Pamedek, Pangempon, begitu juga dengan komponen ritual, menjadi salah satu kenampakan pokok tentang integrasi sistem beragama di Pura Peningal. Realitas yang menjadi bentuk dari integrasi tersebut pada nantinya akan bermuara pada munculnya sebuah ciri khas tertentu dalam kehidupan beragam di Pura Peningal. Sehingga hal ini selaras dengan analisis Aryanatha (2014: 1), yang mengatakan bahwa, ekspresi dari satu kesatuan pengalaman maupun gu-ratan cara beragama, sangat tampak dalam prilaku, tatanan beberapa sisi dalam kenam-pakan infrastruktur fisik, begitu juga upacara keagamaan yang nantinya memberikan se-buah corak tersendiri dalam kehidupan beragama Hindu di sese-buah wilayah.
Refleksi Budaya
Ideologi lokal Pura Peningal juga memberikan refleksi positif di bidang budaya. Kealamian Pura Peningal dan segala ciri khas didalamnya, menjadi wujud budaya yang selalu bertahan seiring tindakan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat pendukun-gnya. Hal ini senada dengan pandangan Huda (2017: 329) bahwa tindakan untuk men-guatkan kebudayaan lokal, secara langsung memberikan perlindungan terhadap asas pemikiran berdimensi kultural yang terselip didalamnya. Konservasi budaya, tergolong sebagai fungsi pemeliharaan pola dalam teori struktural fungsional. Sistem yang ada di Pura Peningal menjadi wujud budaya yang selalu dipelihara, serta melahirkan berbagai refleksi sebagai berikut.
Menciptakan Potensi Yuridis Perlindungan Budaya
Refleksi budaya dari Idoelogi lokal Pura Peningal salah satunya terwujud dalam po-tensi yuridis tentang perlindungan budaya. Ideologi lokal yang tertuang dalam aspek budaya fisik bersifat klasik di Pura Peningal, pada nantinya memiliki potensi besar se-bagai objek kebudayaan pokok yang wajib dan berhak dilindungi oleh kekuatan hukum (Darmawan, 2020). Ruang yuridis perlindungan budaya di Pura Peningal disadari oleh banyak pihak Pangempon pura. Kesadaran terhadap potensi perlindungan budaya, ter-pusat pada konstruksi fisik pura yang masih mengedepankan sistem Bebaturan bernuan-sa klasik, alami, serta mulai jarang ditemukan (Astrawan, wawancara : 18 Agustus 2020). Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya kesadaran potensi perlindungan budaya secara yuridis yang hendak dituangkan dalam bentuk cagar budaya. Mengingat benda dan wujud fisik bernuansa klasik di Pura Peningal, sesuai dengan konsep cagar budaya sebagaimana yang digariskan oleh Puguh (2017: 48) yang mengatakan bahwa, cagar budaya sebagai warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, struk-tur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu peng-etahuan, pendidikan, maupun agama.
Gambar 1. Konstruksi Bebaturan pada Palinggih
Warisan fisik yang menjadi bentuk ideologi lokal di Pura Peningal, salah satunya tertuang dalam bentuk gaya bangunan bernuansa megalitik. Sebagian besar dari budaya megalitik, tidak saja berkedudukan sebagai situs budaya fisik yang dapat dinikmati serta berkontrubusi dalam ruang kebudayaan semata. Dengan meminjam pendapat Sedyawa-ti (2012: 169), maka dapat pula dikatakan bahwa tradisi dan aspek kebendaan yang ber-nuansa megalitik cenderung memiliki manfaat dan pengaruh tertentu bagi kondisi dan pemahaman sosial disekeliling situs megalitik itu sendiri. Hal ini pula yang terjadi di Pura Peningal, sehingga pada dasarnya berhak dan berpotensi untuk mendapatkan status se-bagai kawasan cagar budaya, dengan tujuan pokok untuk melindungi aspek kebendaan megalitik di Pura Peningal, dan secara tidak langsung megajegkan pula berbagai bentuk tradisi dan kehidupan sosial yang mengacu pada pemaknaan aspek megalitik itu sendiri. Pencapaian status hukum sebagai cagar budaya merupakan hal penting bagi ke-beradaan Pura Peningal. Mengingat pembertahanan aspek klasik maupun natural yang ada di Pura Peningal, hanya berada pada lingkaran kesepakatan dan penghormatan tra-disi. Aspek klasik dan kunikan yang terdapat di Pura Peningal belum ditetapkan atau ter-tulis dalam sebuah legalitas hukum yang pasti. Sehingga hal ini memungkinkan adanya perubahan terhadap kondisi asli dari Pura Peningal, seiring dengan melemahnya kondisi kesepakatan masyarakat. Namun dengan adanya ikatan dari status hukum sebagai cagar budaya, maka berbagai potensi yang mengarah pada perubahan dari kondisi asli Pura Peningal dapat ditekan. Sebab, cagar budaya pada dasarnya bertujuan untuk memben-tengi sebuah objek cagar budaya, dengan berpegang pada legalitas dan kekuatan hu-kum sebagaimana terhimpun dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Melindungi Kealamian Lingkungan
Refleksi Budaya dari ideologi lokal Pura Peningal juga tertuang dalam bentuk tin-dakan perlindungan kealamian lingkungan (natural enveroment protection). Fenomena budaya di Pura Peningal notabene tertuang dalam kealamian pada fisik pura. Kondisi ini menggiring kehidupan sosial di lingkungan pura, secara bersama menciptakan lingkun-gan yang alami dan asri. Hal ini dapat dilihat dari besarnya kesadaran Pangempon, Pan-granceng, maupun umat Hindu untuk tetap menciptakan serta mempertahankan
berb-agai bentuk kondisi alami yang sudah tercipta dan tertata di Pura Peningal.
Perlindungan kealamian lingkungan berlaku di eksternal dan internal pura. Per-lindungan kealamian di eksternal pura, terlihat dari terjaganya kawasan hutan yang ada di lingkungan Pura Peningal (Suatri, wawancara : 18 Agustus 2020). Hutan dengan tipe hutan hujan tropis dengan berbagai jenis flora, masih dapat ditemui disekeliling Pura Peningal itu sendiri. Sementara itu perlindungan kealamian lingkungan di internal pura, berhasil membentuk sebuah cultural landscape. Ardiyansyah (2014: 68-69) mendefi-nisikan cultural landscape (selanjutnya disebut sebagai lansekap budaya), merupakan sebuah kenampakan lingkungan dalam aspek tertentu yang didesain oleh kebudayaan manusia. Definisi sebagaimana yang dilontarkan oleh Ardiyansyah diatas, selaras dengan kenampakan lingkungan di dalam Pura Peningal, yang tertata dari adanya ideologi lokal berbalut pemikiran dalam perspektif kebudayaan manusia, salah satunya dituangkan da-lam bentuk Panyengker yang ditata dari tumbuhan hidup.
Gambar 2. Penyengker (di belakang papan nama) dari Tumbuhan Hidup
Terciptanya cultural landscape di Pura Peningal terpantik dari sebuah ide dan inisi-tif budaya. Ide-ide kritis yang terinspirasi dari pemahaman ajaran agama dan aspek lainn-ya, kemudian disinergikan dalam satu kesatusan ide budalainn-ya, yang nantinya berguna ser-ta dijadikan landasan dalam membangun lingkungan pura yang kenser-tal dengan nuansa pemikiran budaya itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa, kealamian alam yang tersaji pada kenampakan lingkungan Pura Peningal, tersusun dari ide dan kreatifitas naturalisme dari tokoh sentral yang membangun keberadaan pura. Kondisi tersebut juga didukung oleh Ardiyansyah (2014: 69), yang memposisikan fenomena cultural landnscape muncul sebagai sutau bentuk tindak lanjut dari adanya interaksi antara komunitas manusia yang mempunya preferensi dan potensi untuk membangun sebuah produk budaya berdasar-kan faham tertentu, serta mengutamaberdasar-kan kondisi alamiah dari sebuah alam.
Fenomena cultural landscape di Pura Peningal, terjadi dengan beberapa kom-ponen dan proses. Komkom-ponen ini berintegrasi dan berproses secara apik, dalam men-ciptakan keutuhan cultural landnscape tersebut. Merujuk pada definisi mendasar dari cultural landnscape, maka komponen penyusun dalam realitas cultural landnscape terse-but, terdiri dari manusia, alam dan idea tau inspirasi budaya yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Meminjam pendapat Ardiyansyah (2014: 69), maka ketika komponen terbut terjadi secara berperoses sesuai dengan perannya masing-masing yakni, manusia se-bagai pelakunya, lingkungan alam sese-bagai medianya, budaya sese-bagai jiwanya, sehingga hasilnya adalah berupa kenampakan lingkungan manusia yang berbudaya.
Refleksi Sosial
Refleksi ideologi lokal Pura Peningal mengarah pada aspek sosial. Kebulatan tekad masyarakat untuk menjaga eksistensi Pura Peningal sebagai wadah beragama, meman-tik refleksi positif secara sosiologis (Gunawijaya, Hambatan Pembelajaran Agama Hindu Terhadap Siswa Tuna Netra di Panti Mahatmia, 2020). Refleksi tersebut notabene tertu-ang dalam integrasi sosial di internal masyarakat Hindu. Berpijak pada kondisi tersebut maka sangat beralasan apabila Abdullah (2009: 19) mengatakan bahwa, ide-ide utama yang terangkum dalam sebuah agama, pada satu sisi memiliki andil dalam pengem-balian sosiologis, yang secara langsung bermuara pada toleransi serta persatuan dalam bermasyarakat. Refleksi sosial menjadi wujud fungsi adaptasi dan integrasi dari ideologi lokal Pura Peningal. Mengingat, ideologi lokal mampu menyatukan dan menjadi wadah adaptasi bagi masyarakat Pangempon. Refleksi sosial ideologi lokal Pura Peningal dapat disimak melalui uraian berikut.
Meningkatkan Rasa Saling Memiliki
Refleksi sosial dari ideologi lokal Pura Peningal adalah meningkatnya rasa saling memiliki antar Pangempon pura. Ideologi lokal yang dipegang erat oleh masyarakat Pangempon, tidak serta merta memberikan adanya sebuah egosentrime ataupun upa-ya untuk menguasai. Pura dengan keunikan ini tidak vonis hanupa-ya sebagai milik Krama Pangempon Pura Peningal yang dalam hal ini adalah masyarakat Desa Gempinis, namun dipandang milik seluruh umat Hindu (Suandra, wawancara : 18 Agustus 2020). Durkheim (dalam Abdullah, 2009: 8) melihat hal seperti ini sebagai prinsip dan praktek beragama yang menyatukan kesucian dan penyatuan perbedaan kelompok.
Meminjam pendapat Atmadja (2015: 1) maka dapat dikatakan bahwa, rasa saling memiliki pada dasarnya muncul dari rasa kekeluargaan yang tinggi ketika secara bersama menjalankan sebuah aktivitas keagamaan. Sekat-sekat perbedaan yang menempel pada masing-masing personal beragama, pada dasarnya telah melebur dan menyatu menjadi sebuah rasa kekeluargaan. Sehingga hal inilah yang mendorong realitas sosial religius di Pura Peningal, menuju kebersamaan serta melepas berbagai bentuk status pembeda di masyarakat. Bahkan pihak-pihak yang memang memiliki status tertentu keberadaan Pura Peningal, mampu memberikan pelayanan dan keterbukaan yang lebih dari rasa kekeluargaan itu sendiri.
Semangat Gotong Royong
Gotong royong masyarakat meningkat, ditengah upaya perlindungan bersama terhadap eksistensi Pura Peningal. Masyarakat merasakan kemantapan secara religius, ketika mampu bertindak secara bersama melaksanakan pemujaan di Pura Peningal (As-trawan, wawancara : 18 Agustus 2020). Pernyataan tersebut senada dengan hasil anali-sis dari Goris (2013: 2) yang menemukan bahwa, masyarakat Bali memiliki kepercayaan yang besar akan adanya tindakan pelayanan, penghormatan, dan pengabdian yang tulus dari penduduk terhadap dewa-dewa, dan secara berkelanjutan mampu menggiring para penduduk tersebut untuk bersatu secara kokoh.
Persatuan dan kuatnya gotong royong yang terjadi pada Krama Pangempon, te-realisasi secara apik dalam aktivitas yang dijalankan oleh masing-masing struktur Mang-gala di Pura Peningal. Tugas dan fungsi masing-masing jajaran MangMang-gala, pada nantinya akan bersinergi dalam sebuah interaksi yang terjadi di lingkungan Pura Peningal. Dalam
satu fenomena ritual ataupun berbagai prosesi agama yang terjadi di Pura Peningal, akan tampak adanya saling aksi saling membutuhkan, saling membantu dan memberikan kelengkapan guna mencapai efektivitas pelaksanaan aktivitas beragama di Pura Penin-gal. Fenomena sosial religius seperti ini, nampaknya juga menjadi salah satu dasar bagi Ritzer (2013: 256), untuk memberikan sebuah argumentasi sosial yang mengatakan bah-wa, setiap masyarakat memiliki struktur tertentu yang pola kerjanya diantur oleh sebuah interaksi, serta implementasinya didasarkan oleh norma-norma serta mengarah pada tu-juan pokok berupa keseimbangan.
SIMPULAN
Ideologi lokal Pura Peningal yang tertuang dalam kealamian konstruksi fisik pura, memberikan refleksi dalam beberapa aspek. Refleksi dalam aspek religi ditunjukkan den-gan terbangunnya konsistensi beragama dan integrasi sistem beragama. Sementara itu, refleksi dalam aspek budaya dapat disimak dari terciptanya potensi yuridis yang mem-berikan perlindungan budaya dan melindingi kelamian lingkungan, yang diciptakan oleh budaya beripikir manusia (Krama Pangempon). Sedangkan refleksi dalam aspek so-sial, dapat dilihat dari meningkatkan rasa saling memiliki dan semangat gotong royong di internal Krama Pengempon Pura Peningal. Ideologi lokal Pura Peningal yang terim-plementasi dalam kealamian pura, menjadi spirit dan kebanggaan tersendiri bagi mas-yarakatnya, sehingga mempu melahirkan berbagai hal positif bagi masyarakat itu sendiri. Kealamian pura sebagai wujud ideologi lokal Pura Peningal, sangat potensial dikembang-kan sebagai objek studi agama dan budaya, yang mengedepandikembang-kan sisi teo-ekologis. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T. (2009). Di sekitar masalah agama dan kohesi kosial. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, XI (1), hlm. 1-23.
Althusser, Louis. 2008. Tentang Ideologi : Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Jakarta : Jalasurta.
Ardiyansyah, P. Pengelolaan lansekap budaya dalam kerangka warisan dunia : studi kasus management plan lansekap budaya Provinsi Bali. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, VIII (2), hlm. 68-73.
Artadi, I Ketut. 2003. Batas Kebudayaan Religi Dan Kebajikan : Ketika Religi Tampak Dalam Tata Lahir. Denpasar : Sinay.
Aryanatha, I Nengah. 2014. Ngaben Beya Tanem. Klungkung : Ashram Gandhi Puri. Atmadja, Nengah Bawa. 2015. Tajen Di Bali Perspektif Homo Complexus. Denpasar :
Pus-taka Larasan.
Darmawan, I. P. A., & Krishna, I. B. W. (2020). Konsep Ketuhanan dalam Suara Gamelan Menurut Lontar Aji Ghurnnita. Genta Hredaya, 3(1).
Gunawijaya, I. W. T. (2020). Konsep Teologi Hindu Dalam Geguritan Gunatama (Tattwa, Susila, dan Acara). Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 2(1).
Gunawijaya, I. W. T., & Srilaksmi, N. K. T. (2020). Hambatan Pembelajaran Agama Hin-du Terhadap Siswa Tuna Netra di Panti Mahatmia. Cetta: Jurnal Ilmu
Pendi-dikan, 3(3), 510-520.
Gunawijaya, I. W. T. (2019). Kelepasan dalam Pandangan Siwa Tattwa Purana. Jñānasid-dhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(1).
Goris, R. 2013. Sifat Religius Masyarakat Pedesaan di Bali. Denpasar : Udayana University Press.
Huda, K., Feriandi, Y. A. 2017. Pendidikan konservasi perspektif warisan budaya untuk membangun hostory for live. Arista, VI (2), hlm. 329-343.
Parisadha Hindu Dharma Pusat. 1993. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Ter-hadap Aspek-Aspek Agama Hindu. Denpasar : PHDI Pusat.
Perni, Ni Nyoman. 2016. Mandala Suci Wenara Wana Di Kawasan Wisata Padang Tegal Ubud Ginyar, Bali. Desertasi (tidak diterbitkan) Program Doktor. Denpasar : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Puguh, D. R. 2017. Melestarikan dan mengembangkan warisan budaya : kebijakan bu-daya semarangan dalam perspektif sejarah. Jurnal Sejarah Citra Lekha, II (1), hlm. 48-60.
Ritzer, George., Goodman, Douglas J. 2008. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana Pre-nada Media Grup..
Sedyawati, Edi. 2012. Budaya Indonesia : Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Suadnyana, I. B. P. E. (2020). Ajaran Agama Hindu Dalam Geguritan Kunjarakarna. Genta Hredaya, 3(1).
Suendi, I Nyoman. 2005. Arsitektur Tradisional Daerah Bali : Selayang Pandang. Solo : Pus-taka Cakra.
Titib, I Made. 2003. Teologi Dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita. Turner, Bryan S. 2003. Agama Dan Teori Sosial. Yogyakarta : IRCiSoD.
Wirawan. 2013. Kepemimpinan : Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Peneli-tian. Depok : Rajagrasindo Persada.
Wulandari, N. P. A. D., & Untara, I. M. G. S. (2020). Nilai-Nilai Filsafat Ketuhanan Dalam Teks Ādiparwa. Genta Hredaya, 4(1).