• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN

MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR

KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk

Oleh

WILMAR AMONIO GULO

H24087068

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

(2)

RINGKASAN

Wilmar Amonio Gulo. H24087068. Analisis Economic Value Added (EVA) dan

Market Value Added (MVA) Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan

PT Sampoerna Agro Tbk. Dibawah bimbingan Wita Juwita Ermawati

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional, terutama sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2007, perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 3,30 juta kepala keluarga petani, serta memberikan sumbangan devisa sebanyak US$ 6,20 miliar (Herman, Agus dan Las, 2009).

Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan untuk investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. PT Sampoerna Agro Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang telah yang melakukan penjualan saham kepada masyarakat (investor). Hal ini bertujuan untuk menambah modal kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk. Untuk menarik investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih dahulu melakukan analisis kinerja keuangannya. agar modal yang diinvestasikan cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian (rate of return) yang menguntungkan dari investasi yang ditanamkannya.

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain : (1) Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode Economic Value

Added (EVA), (2) Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk

dengan metode Market Value Added (MVA). Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan dapat menambah pengetahuan para pembaca.

Nilai EVA pada tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun 2009. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan-perubahan nilai komponen-komponen EVA. Komponen-komponen EVA terdiri dari Net Operating After Tax (NOPAT)

dan Cost of Capital (COC). Nilai EVA pada tahun 2008 sebesar Rp 1.024.496.611.000 sedangkan pada tahun 2009 mengalami penurunan yang

signifikan menjadi – Rp 40.707.153.000. Nilai EVA pada tahun 2008 menghasilkan angka yang positif (EVA>0) karena nilai NOPAT lebih besar daripada nilai biaya modal perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah dapat menambahkan nilai ekonomis ke dalam perusahaan. Pada tahun 2009, nilai EVA menghasilkan angka yang negatif (EVA<0), dimana terjadi penurunan sebesar Rp 1.065.203.764.000. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses nilai tambah atau dengan kata lain perusahaan tidak mampu membayarkan kewajiban kepada para penyandang dana atau kreditur sebagaimana yang diharapkan.

Pada tahun 2009, MVA PT Sampoerna Agro mengalami peningkatan sebesar 379,42% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, nilai MVA yang dihasilkan positif. Hal ini menandakan perusahaan telah berhasil memelihara kepercayaan investor atas modal yang diberikan dengan meningkatkan nilai modal yang ditanamkan kepada investornya. Memasuki tahun 2009, nilai MVA yang

(3)

dicapai perusahaan meningkat signifikan. Harga saham yang terus mengalami peningkatan membuat nilai MVA terus meningkat. Walaupun pada tahun 2009 nilai ekuitasnya meningkat sebesar Rp 212.616.939.000 dibandingkan tahun 2008, namun peningkatan nilai pasar ekuitasnya masih lebih besar dari ekuitasnya sehingga nilai MVA positif.

Bagi perusahaan yang menghasilkan nilai EVA negatif pada tahun 2009 sebaiknya menjalankan strategi yang meningkatkan laba perusahaan tanpa menambah biaya modal dan menghilangkan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan berkurangnya nilai perusahaan.

(4)

ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN

MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

SARJANA EKONOMI

pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh :

WILMAR AMONIO GULO H24087068

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2010

(5)

Judul Skripsi : Analisis Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan PT Sampoerna Agro Tbk

Nama : Wilmar Amonio Gulo

NIM : H24087068

Menyetujui Dosen Pembimbing,

(Wita Juwita Ermawati, STP, MM)

NIP : 19750907 200501 2 001

Mengetahui Ketua Departemen,

(Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc)

NIP : 19610123 198601 1 002

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gunungsitoli pada tanggal 18 Maret 1986 sebagai anak dari Bapak Aliaro Gulo dan Ibu Lismawati Gea. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Penulis mengikuti pendidikan Taman kanak-kanak di TK. BNKP Gunungsitoli, Sumatera Utara, dan lulus pada tahun 1993. Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri No 075018, Gunungsitoli dan lulus pada tahun 1998. Pendidikan tingkat menengah pertama dapat diselesaikan penulis pada tahun 2001 pada SLTP Negeri 1 Gunungsitoli. Pendidikan tingkat atas dapat diselesaikan oleh penulis pada tahun 2004 pada SMU Negeri 1 Gunungsitoli. Pada tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor, pada Program Diploma III

Agroteknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2008, penulis melanjutkan pendidikan

Sarjana (S1), pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Selama menjadi mahasiswa, selain mengikuti perkuliahan di Institut Pertanian Bogor, penulis juga mengikuti kegiatan keorganisasian yaitu Komunitas Mahasiswa Kristen Ekstensi (KMKE) IPB dan Himpunan Profesi “Extension of Management” (EXOM), Institut Pertanian Bogor.

(7)

KATA PENGANTAR

Penelitian ini disusun dengan tujuan utama menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode EVA dan MVA. Penelitian ini

menyediakan konsep dan implementasi analisis kinerja keuangan.

Pada dasarnya setiap perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kekayaan dari pemegang sahamnya. Pengukuran kinerja keuangan perusahaan diperlukan untuk menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut.

Untuk mengukur kinerja perusahaan ini tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam penilaian kinerja ini antara lain yaitu harapan dari pihak-pihak yang menginvestasikan uangnya, dan karyawannya. Pada saat ini terdapat berbagai alat ukur kinerja yang kadang berbeda dari satu industri dengan industri yang lain. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa alat ukur tersebut benar-benar merupakan alat ukur yang dapat menilai keberhasilan perusahaan yang sebenarnya.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam pengukuran kinerja keuangan berdasarkan data akuntansi, maka timbullah pemikiran pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai (value based). Dengan value

based sebagai alat pengukur kinerja perusahaan, manajemen dituntut untuk

meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini hanya akan memaparkan pengukuran value added dengan menggunakan Economic Value Added dan

Market Value Added.

Dengan segala keterbatasan, saya menyadari bahwa penelitian ini masih perlu penyempurnaan. Masukan berupa kritik dan saran dari pembaca sangat ditunggu demi kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi para pembaca.

Bogor, November 2010

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Analisis Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA)

Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan PT Sampoerna Agro Tbk” ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis dalam penyusunan skripsi ini dibantu oleh berbagai pihak, baik secara moril maupun materiil. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada :

1. Kedua orangtua dan abang-adikku tersayang yang selalu memberikan semangat, inspirasi hidup, dukungan, dan doa yang tulus kepada penulis. 2. Ibu Wita Juwita Ermawati, STP, MM sebagai dosen pembimbing yang telah

banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi, dan pengarahan kepada penulis.

3. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM dan Ibu Yusrina Permanasari, ME atas kesediaannya menjadi dosen penguji dan memberikan saran dan kritik dalam penyempurnaan skripsi ini.

4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Program Sarjana Ekstensi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Departemen Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

5. Rekan-rekan satu bimbingan (Ani, Fajar, Gita, Pani, Ricky, Shandra, Rahma) untuk kerjasama dan motivasinya selama bimbingan dan konsultasi skripsi. 6. Teman-teman sekontrakan di Beta House yang selalu memberikan motivasi

dan bantuan dan dukungannya.

7. Teman-teman seperjuangan di Ekstensi Manajemen yang selalu bersama-sama mengukir kenangan indah selama mengikuti perkuliahan di IPB.

8. Teman-teman di KMKE (Komunitas Mahasiswa Kristen Ekstensi) terus setia dalam melayani Tuhan di mana saja.

(9)

9. Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan memberikan pahala atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 5 1.3. Tujuan Penelitian... 6 1.4. Manfaat Penelitian ... 6

1.4. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan Perusahaan ... 7

2.2. Analisa Laporan Keuangan ... 7

2.2.1. Neraca ... 8

2.2.2. Laporan Laba Rugi ... 8

2.3. Economy Value Added (EVA) ... 9

2.3.1. Kelebihan dan Kekurangan EVA ... 11

2.3.2. Laba Operasi Setelah Pajak (Net Operating Profit After Tax/NOPAT)... 14

2.3.3. Biaya Modal ... 14

2.3.4. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ... 15

2.3.5. Modal yang Diinvestasikan (Invested Capital/IC) ... 16

2.4. Market Value Added (MVA) ... 16

2.4.1. Perhitungan Market Value Added ... 17

2.4.2. Kelebihan dan Kekurangan Market Value Added (MVA)... 18

2.5. Harga Saham ... 18

2.6. Penelitian Terdahulu ... 21

III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 23

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 26

(11)

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 26

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 26

3.3.1. Metode Economic Value Added (EVA) ... 26

3.3.2. Metode Market Value Added (MVA) ... 29

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan ... 31

4.1.1. Sekilas tentang PT Sampoerna Agro Tbk ... 29

4.1.2. Visi dan Misi PT Sampoerna Agro Tbk... 35

4.1.3. Struktur Organisasi ... 36

4.2. Kinerja Keuangan Perusahaan ... 37

4.2.1. Economic Value Added (EVA) ... 37

4.2.2. EVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan ... 42

4.2.3. Market Value Added (MVA). ... 44

4.2.4. MVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan ... 45

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 48

2. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

(12)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Luas areal dan produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2000-2009…. 1

2. Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia

tahun 2003-2007 ………. 2

3. Biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, 2008 ……... 3 4. Langkah-langkah perhitungan EVA ... ... 29 5. Komposisi pemegang saham PT Sampoerna Agro Tahun 2009……. 35

6. Ringkasan laporan laba rugi konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 (dalam ribuan rupiah) …... 38 7. Ringkasan neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun

2008-2009 (dalam ribuan rupiah) ………... 39

8. Ringkasan perhitungan nilai Economic Value Added (EVA)

PT Sampoerna Agro Tbk periode 2008-2009 (ribuan rupiah)………. 40 9. Ringkasan perhitungan nilai Market Value Added (MVA)

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Kerangka pemikiran penelitian ... 25 2. Struktur kelompok usaha Sampoerna Agro ... 34

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Struktur organisasi PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2009 ... 53

2. Tingkat IHSG bulanan tahun 2008-2009 ... 54

3. Daftar harga saham PT Sampoerna Agro ... ... 55

4. Tingkat rata-rata suku bunga SBI bulanan tahun 2009-2009. ... ... 56

5. Neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 ... 57

6. Laporan laba rugi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 ... 59

7. Perhitungan Economic Value Added (EVA) ... 60

8. Perhitungan Market Value Added (MVA) ... 61

9. Perhitungan tingkat pengembalian saham kuartalan PT Sampoerna Agro Tbk ... 62

10. Perhitungan tingkat pengembalian pasar bulanan tahun 2008-2009 ... ... 63

11. Perhitungan hutang beban PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2008-2009 .. .. 64

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional, terutama sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2007, perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 3,30 juta kepala keluarga petani, serta memberikan sumbangan devisa sebanyak US$ 6,20 miliar (Herman, Fahmuddin Agus dan Las, 2009).

Indonesia memiliki luas areal kelapa sawit sebesar 6.425.061 ha dengan jumlah produksi 17.102.486 ton pada tahun 2007 (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2007). Selaras dengan perkembangan areal, produksi minyak sawit Indonesia juga meningkat tajam dari 721 ribu ton pada tahun 1980 menjadi 2,40 juta ton pada tahun 1990. Peningkatan produksi tersebut terus berlanjut hingga mencapai 7 juta ton pada tahun 2000 dan 17,40 juta ton pada tahun 2007. Secara nasional, produksi minyak sawit tumbuh rata-rata 12,50% per tahun selama 27 tahun terakhir. Pertumbuhan produksi paling pesat terjadi pada perkebunan rakyat dengan laju 37,80% per tahun, diikuti oleh perkebunan besar swasta dan perkebunan besar negara dengan laju masing-masing 14,80% dan 5,80% per tahun. Luas areal dan produksi kelapa sawit Indonesia pada tahun 2000-2009 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2000-2009 Tahun Luas Areal (Hektar) Produksi (Ton)

2000 4.158.077 7.000.508 2001 4.713.435 8.396.472 2002 5.067.058 9.622.345 2003 5.283.557 10.440.834 2004 5.284.723 10.830.389 2005 5.453.817 11.861.615 2006 6.594.914 17.350.848 2007 6.766.836 17.664.725 2008 7.363.847 17.539.788 2009 7.508.023 18.640.881

(16)

Pesatnya perkembangan areal dan produksi perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari potensi pengembangan, peluang pasar, harga minyak sawit, dan daya saing minyak sawit di pasar domestik maupun internasional (Direktorat Jenderal Perkebunan 2008). Pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia diperkirakan akan semakin pesat dengan adanya kebijakan di berbagai negara untuk mensubstitusi sebagian konsumsi minyak bumi dengan minyak nabati, karena tingginya harga minyak bumi dan emisi yang ditimbulkannya.

Meningkatnya jumlah produksi kelapa sawit di Indonesia mempunyai pengaruh yang besar terhadap perekonomian nasional. Disamping sebagai bahan baku industri dalam negeri, juga merupakan komoditas ekspor utama. Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2003-2007

Tahun

Minyak Sawit (CPO) Other Palm Oil Jumlah

Pertumbuhan (%) Volume (ton) Nilai (US$) Volume

(ton) Nilai (US$)

Volume (ton) Nilai (US$) 2003 2.891.100 1.062.215 3.494.300 1.392.411 6.386.400 2.454.626 0,83 2004 3.819.900 1.444.422 4.841.700 1.997.354 8.661.600 3.441.776 35,63 2005 4.565.700 1.593.295 5.810.600 2.162.988 10.376.200 3.756.283 19,79 2006 5.199.300 1.993.667 6.901.600 2.823.975 12.100.900 4.817.642 16,62 2007 5.701.300 3.738.652 6.174.100 4.129.988 11.875.400 7.868.640 -1.86 Sumber : BPS, Juli 2008

Dilihat dari perkembangan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia khususnya CPO setiap tahun jumlahnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, nilai ekspor kelapa sawit sebesar US$ 4.817.642 sedangkan pada tahun 2007 menjadi US$ 7.868.640 (BPS, 2008). Meningkatnya nilai ekspor kelapa sawit Indonesia merupakan suatu peluang untuk mengembangkan kelapa sawit khususnya produk olahannya, terutama untuk negara tujuan ekspor

Untuk memenuhi peningkatan permintaan pasar, dari sisi potensi sumber daya lahan, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Diperkirakan tersedia lahan sekitar 15,30 juta ha yang tersebar di seluruh Indonesia untuk perluasan lahan perkebunan (Mulyani dan Las, 2008),

Pengembangan satu unit usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan mineral dan lahan gambut dengan luas efektif kebun 6.000 ha dan satu unit

(17)

pabrik pengolahan kelapa sawit membutuhkan biaya investasi masing-masing Rp 256,86 miliar dan Rp 276,82 miliar untuk pola kemitraan serta Rp 265,72 miliar dan Rp 286,30 miliar untuk pola perkebunan besar (Tabel 3). Biaya investasi pada lahan gambut sedikit lebih tinggi dibandingkan pada lahan mineral, dan biaya investasi untuk pola perkebunan besar sedikit lebih tinggi daripada pola kemitraan. Hal ini terjadi karena pengelolaan lahan gambut membutuhkan saluran drainase, pemadatan jalan, serta pembuatan jembatan/ gorong-gorong yang lebih intensif daripada lahan mineral. Biaya investasi pada perkebunan besar lebih tinggi daripada pola kemitraan karena beban biaya overhead dan biaya untuk perumahan pada pola perkebunan besar lebih tinggi daripada pola kemitraan. Adapun biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, 2008. Jenis Lahan

Biaya Investasi Pola Kemitraan

( Rp Juta)

Biaya Investasi Pola Perkebunan Besar

(Rp Juta) Lahan Mineral

Investasi kebun inti 40.762 163.050

Investasi pabrik, kantor, perumahan dll 76.015 78.515

Biaya overhead 11.678 24.156

Investasi kebun plasma 128.402 -

Total Investasi 256.857 265.721

Lahan Gambut

Investasi kebun inti 44.839 179.355

Investasi pabrik, kantor, perumahan dll 78.415 80.915

Biaya overhead 12.325 26.027

Investasi kebun plasma 141.242 -

Total Investasi 276.821 286.297

Sumber : Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan No 24/Kpts/RC.ll0/02/2008 dan No 60/Kpts/RC.110/4/08; 2 Pahan (2006); 3Wahyono et al. (2004). Hasil penyesuaian karena inflasi dan pengolahan data dari berbagai sumber.

Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan untuk investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan, sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa utang maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity).

PT Sampoerna Agro Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang telah yang melakukan penjualan saham kepada masyarakat (investor). Hal ini bertujuan untuk

(18)

menambah modal kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk. Untuk menarik investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih dahulu melakukan analisis kinerja keuangannya agar modal yang diinvestasikan cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian

(rate of return) yang menguntungkan dari investasi yang ditanamkannya.

Bagi pihak manajemen perusahaan, penilaian kinerja ini akan sangat mempengaruhi dalam penyusunan rencana usaha perusahaan yang akan diambil untuk masa yang akan datang demi kelangsungan hidup perusahaan.

Untuk mengukur kinerja perusahaan ini tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam penilaian kinerja ini antara lain yaitu harapan dari pihak-pihak yang menginvestasikan uangnya, dan karyawannya. Para penyedia dana tentunya akan mengharapkan tingkat pengembalian yang besar untuk investasi yang ditanamkannya, sedangkan pihak karyawan menginginkan kinerja perusahaan agar kelangsungan hidup dari perusahaan dapat terjamin yang berarti bahwa kesejahteraan mereka juga akan ikut terjamin.

Metode konvensional yang telah banyak digunakan untuk menilai kinerja keuangan adalah dengan menggunakan rasio keuangan. Perhitungan rasio keuangan ini dapat dengan mudah dilakukan. Namun kelemahan metode ini tidak dapat mengukur kinerja perusahaan dari sisi nilai perusahaan. Rasio keuangan hanya mengukur profitabilitas, likuiditas dan

solvabilitas perusahaan (Sugiono, 2009). Untuk melengkapi metode analisis

kinerja keuangan kemudian berkembang metode analisis modifikasi baru, dimana metode ini dalam mengukur kinerja dapat secara tepat memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana (kreditur dan pemegang saham). Metode yang dimaksud adalah model Economic

Value Added atau EVA (konsep penilaian kinerja). Cara perhitungan

berdasarkan model EVA mulai muncul pada 1993, yang dipopulerkan pertama kali oleh sebuah perusahaan konsultan di AS yaitu Stern Steward

Management Services (SSMS). Dengan konsep ini akan diketahui berapa

sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan sehubungan dengan pemakaian modal usaha.

(19)

Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat perusahan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan. Hal ini merupakan keunggulan EVA dibandingkan dengan metode perhitungan yang lain. Selain itu keunggulan EVA yang lain adalah EVA dapat dipergunakan tanpa memerlukan data pembanding. Namun, EVA juga mempunyai kelemahan yaitu hanya mengukur hasil akhir saja. Penggunaan EVA tetap berguna untuk dijadikan acuan mengingat EVA memberikan pertimbangan dalam hal biaya modal sebagai kompensasi atas dana yang digunakan untuk membiayai investasi tersebut.

Menurut Sartono (2001), tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Selain memberi manfaat bagi pemegang saham, tujuan ini juga menjamin sumber daya perusahaan yang langka dialokasikan secara efisien dan memberi manfaat ekonomi. Kemakmuran pemegang saham dimaksimalkan dengan memaksimalkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor pemegang saham. Kenaikan ini disebut Market Value Added (MVA).

MVA merupakan hasil kumulatif dari kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang diantisipasi akan dilakukan. Sehingga peningkatan MVA adalah sebagai keberhasilan memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan alokasi sumber-sumber yang tepat. Dengan demikian MVA merupakan ukuran kinerja eksternal perusahaan.

1.2. Perumusan Masalah

Kebijakan PT Sampoerna Agro Tbk yang ingin menarik investor untuk menambah modal kerja perusahaan yang digunakan untuk perluasan usaha dan diversifikasi produk harus mampu menunjukkan kinerja keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih dahulu melakukan analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangannya. Investor akan tertarik untuk berinvestasi jika perusahaan mampu meningkatkan kesejahteraan bagi investor itu sendiri. Dari uraian sebelumnya, maka permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

(20)

1. Bagaimana kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk menurut metode

Economic Value Added (EVA)?

2. Bagaimana kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk menurut metode

Market Value Added (MVA)? 1.3. Tujuan Penelitian

1. Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode

Economic Value Added (EVA).

2. Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode

Market Value Added (MVA). 1.4. Manfaat Penelitian

1. PT Sampoerna Agro Tbk

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam meningkatkan kinerja menuju kondisi yang lebih baik sesuai dengan visi, misi dan tujuan perusahaan.

2. Pihak lain

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca dan dapat dijadikan perbandingan atau acuan dalam melakukan studi lebih lanjut.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini terbatas pada analisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk periode tahun 2008 -2009 dengan menggunakan

metode Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Periode tahun 2008-2009 dipakai dalam penelitian ini karena pada pertengahan tahun 2007, perseroan mulai tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja keuangan setelah dua tahun menjadi perusahaan publik sehingga didapat gambaran mengenai nilai kekayaan yang telah dicapai.

(21)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kinerja Keuangan Perusahaan

Menurut Lesmana dan Surjanto (2003) kinerja keuangan adalah analisis keuangan yang pada dasarnya dilakukan untuk melakukan evaluasi kinerja di masa yang lalu, dengan berbagai analisis, sehingga diperoleh posisi keuangan perusahaan yang mewakili realitas perusahaan dan potensi-potensi yang kinerjanya akan berlanjut.

Alat analisis yang biasa digunakan adalah analisis rasio yaitu perbandingan dari data keuangan perusahaan yang berhubungan sehingga dapat memperoleh gambaran tentang kinerja perusahaan. Analisis kinerja terbaru yang dikembangkan oleh lembaga konsultan Stern Streward & Co mulai digunakan yaitu analisis nilai tambah ekonomi (Economic Value

Added/EVA) yang sangat berguna dalam menilai kinerja keuangan suatu

perusahaan.

Pengukuran kinerja keuangan mempunyai arti yang penting bagi pengambilan keputusan baik bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan. Laporan keuangan merupakan alat yang dijadikan acuan penilaian untuk meramalkan kondisi keuangan, operasi dan hasil usaha perusahaan.

2.2. Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan memberikan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan, efisiensi penggunaan modal dan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan. Menurut Munawir (2002), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan dalam Ikatan Akuntan Indonesia (1994), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut :

(22)

a) Menyatakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

b) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu.

c) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen

atau pertanggungjawaban manajemen atas sumberdaya yang

dipercayakan padanya.

Kinerja keuangan perusahaan dapat dievaluasi dengan menggunakan laporan keuangan. Ada empat laporan keuangan dasar yang biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan yaitu: (1) neraca, (2) laporan laba rugi, (3) laporan ekuitas dan (4) laporan arus kas. Dalam penelitian ini, terdapat dua kelompok laporan keuangan yang akan digunakan, yaitu neraca dan laporan laba rugi.

2.2.1. Neraca

Menurut Brigham dan Houston (2006), neraca adalah laporan posisi keuangan pada suatu waktu tertentu. Neraca memberikan gambaran mengenai aktiva, kewajiban atau hutang dan ekuitas pemilik untuk periode waktu tertentu. Aktiva menggambarkan seluruh sumberdaya yang dimiliki perusahaan, sementara kewajiban dan ekuitas pemilik menunjukkan bagaimana seluruh sumberdaya perusahaan didanai.

2.2.2. Laporan Laba Rugi

Menurut Brigham dan Houston (2006), laporan laba rugi adalah laporan yang mengikhtisarkan pendapatan dan beban perusahaan selama periode akuntansi tertentu yang umumnya setiap kuartal atau satu tahun. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan bersih dari kegiatan operasi perusahaan selama periode tertentu. Laporan atas laba dan dividen per saham disajikan pada bagian bawah laporan.

(23)

2.3. Economic Value Added (EVA)

EVA merupakan suatu sistem keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua operating cost (biaya operasi) dan capital cost (biaya modal). Menurut Young dan O‟ byrne (2001), esensi dari EVA adalah pengemasan ulang dari manajemen keuangan yang dapat dipercaya dan prinsip keuangan yang sudah lama ada.

EVA adalah nilai tambah yang diberikan oleh manajemen kepada pemegang saham selama satu tahun tertentu (Brigham dan Houston, 2006). EVA membantu manajer memastikan bahwa perusahaannya dapat menambah nilai pemegang saham, sementara investor dapat menggunakan EVA untuk mengetahui saham mana yang akan meningkatkan nilainya.

EVA tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri dan tidak pula membuat suatu analisa kecenderungan dengan tahun-tahun sebelumnya. Konsep ini lebih menekankan pada penentuan besarnya cost of capital. Diperhitungkannya biaya modal atas ekuitas merupakan keunggulan pendekatan EVA dibanding pendekatan akuntansi tradisional dalam mengukur kinerja perusahaan.

EVA sangat bermanfaat apabila digunakan sebagai penilai kinerja perusahaan dimana fokus penilaian kinerjanya adalah pada penciptaan nilai. Secara sederhana, angka EVA diperoleh dari laba usaha dikurangi biaya-biaya atas modal yang diinvestasikan. Pendekatan EVA memasukkan semua unsur dalam laporan laba rugi dan neraca perusahaan (Utama, 1997).

Pada dasarnya pemodal akan tertarik untuk melakukan investasi pada saham di perusahaan yang menawarkan jumlah, stabilitas dan tingkat pertumbuhan dari pendapatan yang akan mereka terima. Para investor akan dengan cepat mengestimasi harga saham perusahaan di masa yang akan datang dan besarnya dividen yang akan diterima apabila para investor mengetahui dengan pasti laba yang akan mereka peroleh dari perusahaan. EVA sebagai indikator keberhasilan manajemen dalam memilih dan mengelola sumber-sumber dana di perusahaan tentunya juga akan berpengaruh positif terhadap return pemegang saham.

(24)

EVA memberikan tolak ukur yang baik tentang apakah perusahaan telah memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Oleh karena itu, jika manajer menfokuskan pada EVA, maka hal ini akan membantu memastikan bahwa mereka beroperasi dengan cara yang konsisten untuk memaksimalkan nilai perusahaan

Menurut Young dan O‟ byrne (2001), EVA sama dengan

Net Operating Profit After Tax (NOPAT) dikurangi biaya modal. NOPAT

merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak dan mengukur laba yang diperoleh dari operasi berjalan. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan oleh perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya modal (Weighted Average Cost of Capital/WACC). WACC sama dengan jumlah biaya dari setiap komponen modal-hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham-ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar. Modal yang diinvestasikan adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non interest

bearing liabilities) seperti hutang upah yang jatuh tempo dan pajak yang akan

jatuh tempo. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah ekuitas pemegang saham, seluruh hutang jangka pendek dan jangka panjang yang menanggung bunga, hutang dan kewajiban jangka panjang lainnya.

Jadi komponen EVA terdiri dari NOPAT (laba bersih setelah pajak) dan COC (biaya modal). COC merupakan perkalian antara WACC (biaya modal rata-rata tertimbang) dengan IC (modal yang diinvestasikan).

Dengan demikian EVA dapat dirumuskan sebagai berikut : EVA = NOPAT – COC

= NOPAT – (WACC x IC) ...(1) dimana NOPAT = Net Operating After Tax (laba bersih setelah pajak)

WACC = Weighted Average Cost of Capital (biaya modal rata-rata tertimbang)

IC = Jumlah modal yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai usahanya yang terdiri dari dan hutang dan modal sendiri

(25)

Dalam perhitungan tersebut terdapat laba yang dikurangi semua biaya operasional termasuk pajak tetapi tidak termasuk biaya bunga. Total modal disetor adalah jumlah nilai buku hutang dan modal yang terdapat pada neraca dan biaya modal adalah biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan (Gapenski dalam Trimurti, 2003).

Hasil perhitungan EVA akan bernilai lebih besar dari nol (positif), lebih kecil dari nol (negatif) dan sama dengan nol (Poeradisastra, 2001) yang berarti :

1. Kondisi EVA yang positif (EVA>0) mencerminkan tingkat kompensasi yang lebih tinggi daripada tingkat biaya modal. Ini berarti manajemen telah mampu menciptakan peningkatan nilai kekayaan perusahaan. Semakin positif EVA berarti semakin bagus kinerja perusahaan tersebut, artinya manajemen telah melakukan tugasnya dengan baik.

2. Kondisi EVA yang negatif (EVA<0) menunjukkan adanya penurunan nilai kekayaan karena laba yang tersedia tidak mampu memberikan kompensasi yang setimpal dengan investasi yang ditanam.

3. Kondisi EVA sama dengan nol (EVA=0) berarti laba yang tersedia impas untuk memenuhi harapan pemodal dan kinerja keuangan perusahaan tergolong sehat.

Jadi, bila nilai EVA tinggi, pemegang saham dapat menilai secara pasti bahwa perusahaan tersebut mampu memberdayakan modalnya dengan baik. Apabila nilai EVA suatu perusahaan meningkat, maka kinerja perusahaan semakin baik sehingga kesejahteraan para pemegang saham dapat ditingkatkan.

2.3.1. Kelebihan dan Kekurangan EVA

Banyak manfaat yang didapat dengan menggunakan EVA. Menurut Young dan O‟ byrne (2001), sebagai alat pengukur kinerja, EVA memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode yang lain, yaitu :

1. EVA memiliki peran penting sebagai suatu sistem yang berbasis pada value compensation dan membantu perusahaan dalam

(26)

mencapai tujuan utamanya, yaitu menciptakan nilai untuk pemegang saham

2. EVA menjembatani konflik yang terjadi antara manajer dengan perusahaan berkaitan dengan pemberian bonus. EVA menyediakan

insentif bagi manajer yang berperan mencari dan

mengimplementasikan investasi yang menciptakan nilai.

3. EVA merupakan alat komunikasi yang efektif dalam penciptaan nilai dengan melibatkan semua elemen di dalam organisasi untuk ikut berperan serta.

4. EVA merupakan kerangka kerja manajemen yang mencakup berbagai fungsi, seperti perencanaan strategis (strategic planning), pengukuran kinerja (performance measurement) serta komunikasi internal maupun eksternal.

Jadi, keuntungan perusahaan yang mengadopsi EVA adalah penggunaan EVA akan menghasilkan persepsi yang sama dalam membuat keputusan, khususnya keputusan jangka panjang dalam mengevaluasi kinerja unit-unit organisasi dan kinerja para manajer dalam mengukur potensi nilai yang dapat diciptakan pada tiap pilihan strategi.

Meskipun metode EVA umumnya memiliki kelebihan dalam mengukur kinerja keuangan, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan. Menurut Keys et al. dalam Widyakusuma (2007), secara umum ada beberapa keterbatasan dari metode EVA yaitu :

1. Perhitungan EVA terlalu kompleks.

2. EVA mudah untuk dimanipulasi, karena perhitungan EVA berdasarkan pada metode accrual accounting. Hal ini berarti EVA menjadi bias, karena metode accrual accounting menggunakan model estimasi, seperti tarif depresiasi, cadangan kerugian piutang dan tarif amortisasi.

3. EVA merupakan pengukuran kinerja jangka pendek. Komponen-komponen untuk menghitung EVA seperti income dan capital merupakan pengukuran kinerja jangka pendek. Pengukuran kinerja

(27)

jangka pendek lebih mudah untuk dimanipulasi sehingga akan mempengaruhi kinerja jangka panjang

4. EVA mendorong perusahaan untuk melakukan investasi dengan biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya memiliki risiko yang kecil, sehingga secara tidak langsung EVA mendorong perusahaan untuk menghindari risiko, padahal sebagian inovasi-inovasi dalam bisnis memiliki risiko yang sangat tinggi. 5. Pada kenyataannya EVA tidak mengukur economic value maupun

economic profit sebagaimana yang dikatakan Stern Stewart.

Meskipun economic value secara konsep hampir sama dengan economic profit, tetapi pada prakteknya keduanya berbeda.

6. Tidak adanya konsistensi dalam mendefenisikan EVA, NOPAT atau capital.

Menurut Utama (2002), untuk mendeteksi adanya kemungkinan bahwa EVA direkayasa dapat dilakukan dengan cara :

1. Membandingkan kebijakan amortisasi biaya riset dan pengembangan, iklan serta pelatihan pegawai antar waktu dan antar perusahaan.

2. Menilai anak perusahaan untuk mengetahui goodwill yang masih diakui ada nilainya atau tidak.

3. Menilai aktiva tidak berwujud masih ada nilainya atau tidak. Bila tidak, sebaiknya dikeluarkan karena dapat merusak keakuratan dari perhitungan EVA yang dihasilkan.

4. Melihat trend perubahan kewajiban pajak tangguhan serta membandingkan dengan perusahaan pada satu industri untuk mengevaluasi apakah angkanya wajar atau tidak.

5. Menganalisis trend dari biaya penghapusan piutang tak tertagih dan membandingkan dengan perusahaan yang berada di bawah satu industri.

6. Menggunakan rata-rata modal yang diinvestasikan selama satu tahun dan bukan hanya pada akhir tahun atau awal tahun.

(28)

2.3.2. Laba Operasi Setelah Pajak (Net Operating Profit After Tax/NOPAT)

Menurut pendekatan operasional, Net Operating Profit After Tax (NOPAT) merupakan laba yang diperoleh dari operasi perusahaan dikurangi pajak penghasilan. Sedangkan menurut pendekatan keuangan, NOPAT didapat dari laba bersih setelah pajak ditambah beban bunga. Perhitungan NOPAT tidak mengikutsertakan kegiatan operasional rutin perusahaan yang tidak ada keterangan jelas dalam catatan laporan keuangan (Tunggal, 2008).

2.3.3. Biaya Modal

Secara teoritis, investasi suatu perusahaan diasumsikan dibiayai oleh modal. Menurut Brigham, Gapenski dan Daves dalam Trimurti (2003), modal atau operational capital (modal operasional) sebuah perusahaan diartikan sebagai jumlah hutang dan ekuitas yang dipakai untuk membiayai operasional perusahaan atau aset operasional bersih perusahaan. Semua sumber dana yang digunakan perusahaan untuk investasi dikenakan suatu biaya disebut biaya modal dan biaya tersebut harus mencerminkan rata-rata tertimbang berbagai sumber dana yang digunakan.

Dalam teori keuangan dijelaskan bahwa setiap sumber dana, baik

hutang maupun modal sendiri (ekuitas) memiliki biaya modal (cost of capital). Hanya untuk modal sendiri biaya tersebut bersifat

implisit atau opporturnistic, sedangkan untuk hutang bersifat eksplisit karena memang benar-benar dikeluarkan oleh perusahaan dalam bentuk pembayaran bunga (Husnan, 2003).

Total biaya modal menunjukkan besarnya kompensasi atau pengembalian yang dituntut investor atas modal yang diinvestasikan di perusahaan. Besarnya kompensasi tergantung pada tingkat risiko perusahan yang bersangkutan. Semakin tinggi tingkat risiko, semakin tinggi tingkat pengembalian yang dituntut investor (Ruky, 1999).

(29)

2.3.4. Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Menurut Tunggal (2001), Weighted Average Cost of Capital (WACC) adalah jumlah biaya dari masing-masing komponen modal, misalnya pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang serta

cost of equity (modal saham) yang diberikan bobot sesuai dengan

proporsinya dalam struktur modal perusahaan. Pembobotan dilakukan karena setiap bentuk pembiayaan yang berbeda mengandung risiko yang berbeda bagi investor.

WACC merupakan tingkat pengembalian minimum dibobot berdasarkan proporsi masing-masing instrumen pembiayaan dalam struktur modal perusahaan yang dihasilkan untuk memenuhi ekspekstasi kreditur dan pemodal. Menurut Rousana (1997), WACC terdiri dari komponen biaya hutang dan biaya ekuitas.

Biaya hutang (Kd) merupakan rate yang harus dibayar perusahaan di dalam pasar sekarang untuk mendapatkan hutang jangka panjang yang baru. Biaya hutang terjadi akibat adanya penggunaan dana pinjaman. Hutang disini mencakup semua hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang yang didapat dari kelompok luar perusahaan. Perusahaan yang memiliki beberapa paket surat hutang dengan beban bunga yang beragam, cara yang tepat menghitung biaya hutangnya adalah secara tertimbang (weighted). Adanya pembayaran bunga oleh perusahaan akan mengurangi besarnya pendapatan kena pajak, maka Kd harus dikoreksi dengan faktor (1-T), dengan T adalah tingkat pajak yang dikenakan. Hal tersebut serupa dengan pernyataan Brigham dan Houston (2006) yang menyatakan bahwa adanya biaya bunga yang wajib dibayarkan dikurangi dengan penghematan pajak yang timbul. Bunga dalam perhitungan pajak ini bersifat tax deductible sehingga dikalikan dengan (1-T), dimana T adalah tarif pajak marjinal dari perusahaan.

Sedangkan biaya ekuitas (Ke) adalah biaya yang timbul akibat investor menyerahkan dananya berupa ekuitas kepada perusahaan. Mereka berhak untuk mendapatkan dividen di masa mendatang sekaligus berkedudukan sebagai pemilik parsial perusahaan tersebut.

(30)

Besarnya dividen tidak ditentukan pada saat investor menyerahkan dananya, tetapi bersifat tidak tentu tergantung pada kinerja perusahaan tersebut di masa yang akan datang. Hal ini sangat berbeda dengan modal hutang yang sudah memperhitungkan kepastian tingkat suku bunga yang disetujui. Untuk menghitung Ke, perlu pendekatan berdasarkan return yang diharapkan oleh pemegang saham. Untuk itu harus berdasarkan nilai pasar yang berlaku dan bukanlah nilai buku.

2.3.5. Modal yang Diinvestasikan (Invested Capital/IC)

Menurut Tunggal (2001), Invested Capital (IC) adalah jumlah seluruh pinjaman perusahaan di luar pinjaman jangka pendek tanpa bunga atau non interest bearing liabilities. Yang termasuk dalam non

interest bearing liabilities yaitu hutang dagang, biaya yang masih harus

dibayar, hutang pajak dan uang muka pelanggan.

Ada dua cara untuk menentukan IC, yaitu dengan pendekatan

operasional dan keuangan. Menurut pendekatan operasional, IC diperoleh dari penjumlahan aktiva dikurangi hutang dagang dan

hutang beban lainnya. Sedangkan menurut pendekatan keuangan, IC diperoleh dari penjumlahan interest bearing liabilities (pinjaman jangka pendek dan panjang) dengan ekuitas pemegang saham.

2.4. Market Value Added (MVA)

Market Value Added (MVA) merupakan perbedaan antara nilai

pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang telah diberikan (Brigham dan Houston, 2006). Menurut Taufik (2001), MVA merupakan perbedaan antara modal yang ditanamkan di perusahaan sepanjang waktu dari investasi modal, pinjaman dan laba ditahan dan uang yang bisa diambil sekarang. Dengan kata lain, MVA adalah hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan. MVA mencerminkan seberapa sukses investasi baru di masa datang (Ruky, 1999).

MVA juga menggambarkan berapa besar kemakmuran (wealth) yang dapat diciptakan atau dihilangkan untuk saat ini. Menurut Turangan (2003), MVA lebih menunjukkan suatu penilaian kinerja yang menyeluruh

(31)

bagi perusahaan seumur hidup perusahaan tersebut dan digunakan lebih kepada tujuan utama manajemen keuangan yaitu memaksimalkan kesejahteraan investor.

Menurut Husnan dan Pujiastuti (2004), kemakmuran pemegang saham dapat dimaksimumkan dengan memaksimumkan perbedaan antara

nilai pasar ekuitas dengan ekuitas (modal sendiri) yang diserahkan ke perusahaan oleh para pemegang saham (pemilik perusahaan). Dalam

Fardiansyah (2003), Market Value Added (MVA) dikenal sebagai present

value dari nilai EVA secara periodik di masa depan. Sartono (2001)

menyebutkan bahwa MVA merupakan kenaikan nilai pasar perusahaan dari modal perusahaan diatas modal yang disetor pemegang saham. Dalam hal ini MVA mengukur dampak tindakan manajerial sejak perusahaan berdiri.

2.4.1. Perhitungan Market Value Added (MVA)

Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2004), formula yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya MVA adalah :

MVA = Market Value of Stock – Equity Capital Supplied by

Shareholders... (2)

= (Jumlah saham beredar)(Harga saham) – Total modal sendiri Dalam hal ini, MVA sendiri mencerminkan nilai perusahaan (Yusbardini, 2004). MVA yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berkapasitas sebagai penghancur dari kesejahteraan (wealth destroyer), bukan pencipta kesejahteraan (wealth

creator), begitu juga sebaliknya. Semakin besar MVA maka semakin

berhasil pekerjaan manajemen dalam mengelola perusahaan.

Nilai Pasar (Market Value)

Young dan O‟Byrne (2001) menyatakan bahwa nilai pasar adalah nilai perusahaan yakni jumlah nilai pasar dari semua tuntutan modal terhadap perusahaan oleh pasar modal pada tangga tertentu. Lebih sederhana, itu adalah jumlah nilai pasar dari hutang dan ekuitas. Yang dimaksud dengan nilai perusahaan adalah nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar (Keown, et, al, 2004).

(32)

Modal yang ditanam (Equity Capital Supplied by Shareholders)

Secara konseptual, modal yang diinvestasikan perusahaan adalah

penjumlahan semua dana yang telah diinvestasikan didalamnya (Keown, et, al, 2004). Komponen ini sama dengan nilai buku dari total

ekuitas yang terdapat dalam laporan keuangan.

2.4.2. Kelebihan dan Kekurangan Market Value Added (MVA)

Young dan O‟Byrne dalam Turagan (2003), keuntungan dari penggunaan MVA adalah bahwa para manajer dapat dengan penuh keyakinan atau percaya diri memaksimalkan MVA saat ini sehingga kelebihan pengembalian (excess return) juga akan maksimal. Sementara itu terdapat beberapa kelemahan, yaitu :

1. MVA mengabaikan kesempatan biaya opportunitas dari modal yang diinvestasikan pada perusahaan.

2. MVA adalah sebuah indikator ”sekali bidik” yang mengukur perbedaan nilai pasar dan modal yang diinvestasikan pada periode tertentu.

2.5. Harga Saham

Bila suatu perusahaan akan menjual sahamnya kepada masyarakat umum, berarti perusahaan tersebut menjual sebagian dari kepemilikannya. Sebagai pemilik sebagian dari perusahaan, maka pemegang saham atau pemodal baru ini akan menanggung sebagian risiko sebagai pemilik dan juga nilai kepemilikannya dapat berubah setiap waktu sesuai dengan naik turunnya harga saham yang beredar di pasar modal. Saham merupakan penyertaan modal dalam pemilikan suatu perseroan terbatas atau disebut emiten. Pemilik saham merupakan pemilik sebagian dari perusahaan tersebut. Berkaitan dengan harga saham, Sunariyah (2003) menyatakan bahwa harga saham terdiri dari macam-macam nilai yang terdiri dari :

1. Nilai nominal yaitu harga saham perdana yang tercantum pada sertifikat badan usaha. Harga saham tersebut merupakan harga saham yang telah diotorisasi oleh rapat umum pemegang saham. Harga ini tidak berubah-ubah dari yang telah ditetapkan oleh rapat umum pemegang saham.

(33)

2. Nilai buku adalah harga saham yang berubah-ubah karena adanya kenaikan atau penurunan harga saham dan adanya laba ditahan. Nilai buku untuk setiap lembar saham dihitung dari pembagian jumlah nilai buku dengan jumlah lembar saham.

3. Nilai dasar berkaitan dengan harga saham setelah dilakukan penyesuaian karena aksi emiten. Nilai dasar ini merupakan harga perdana saham tersebut. Nilai dasar ini digunakan dalam perhitungan indeks harga saham sehingga akan terus berubah jika terjadi stock split dan sebagainya.

4. Nilai pasar adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price).

Keinginan utama investor adalah meminimalkan risiko dan meningkatkan perolehan (minimize risk and maximize return). Asumsi umum bahwa investor individu yang rasional adalah seorang yang tidak menyukai risiko (risk averse), sehingga investasi yang beresiko harus dapat menawarkan tingkat perolehan yang tinggi. Oleh karena itu, investor sangat membutuhkan informasi mengenai risiko dan pengembalian yang diinginkan. Terdapat dua metode untuk mengestimasi tingkat pengembalian yang disyaratkan oleh pemegang saham (Keown, et, al, 2004) yaitu :

1. Model pertumbuhan dividen

Pendekatan ini dipakai apabila pertumbuhan dividen dan pendapatan perusahaan akan tumbuh pada tingkat yang konstan. Rumusnya adalah :

………. (3)

Dimana Ks = Harga saham biasa

Di = Dividen tahun ke-i

Po = Nilai harga saham biasa

g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan

2. Penetapan harga aktiva modal (Capital Asset Pricing Model/CAPM)

CAPM merupakan pernyataan mengenai hubungan antara

(34)

berisiko. Risiko sistematis merupakan risiko yang terjadi karena faktor perubahan pasar secara keseluruhan.

Menurut Keown, et, al, (2004), CAPM memberikan dasar untuk menentukan harapan investor atau tingkat pengembalian hasil dari investasi saham biasa. Model ini tergantung pada tiga hal :

a) Tingkat bebas risiko.

b) Risiko sistematis dari pengembalian atas saham biasa dibandingkan dengan pengembalian atas pasar secara keseluruhan atau koefisien beta saham.

c) Premi risiko pasar yang setara dengan perbedaan tingkat pengembalian yang diharapkan atas surat berharga rata-rata dikurangi tingkat bebas risiko.

Capital Asset Pricing Model diajukan oleh William Sharpe,

Treynor, Mossin dan John Lintner merupakan kelanjutan dari teori portofolio modern dari Harry Markowitz. Model ini membantu kita dalam menghitung risiko yang tidak di diversifikasi, suatu portofolio yang dapat di diversifikasi dengan baik (Sjahrial, 2009).

Persamaannya adalah sebagai berikut :

E(Rj) = Rf + [E(Rm) – Rf] βj atau ... (4) Ki = Krf + (Km – Krf)βi ... (5) Keterangan :

E(Rj) = Ki = tingkat keuntungan yang disyaratkan pada saham i Rf = Krf = tingkat bunga beban risiko,

E(Rm) = Km = tingkat keuntungan indeks pasar yang diharapkan, βj = βi = Beta saham i (faktor risiko yang berlaku spesifik

untuk perusahaan)

Para peneliti telah memperlihatkan bahwa ukuran terbaik dari risiko sebuah sekuritas untuk portfolio yang besar adalah beta sekuritas.

Menurut Rodoni dan Ali (2010), beta didefinisikan sebagai alat ukur covariance suatu saham dengan portfolio pasar yang terdiversifikasi

dengan baik. Beta mengukur responsiveness dari sebuah sekuritas terhadap pergerakan portfolio pasar.

(35)

Menurut Sugiono (2009), hasil perhitungan beta akan bernilai bernilai lebih besar dari nol (positif), lebih kecil dari nol (negatif) dan sama dengan nol yang berarti :

1. Saham dengan koefisien beta > 1 umumnya lebih agresif dari pasar. Pada suatu kesempatan harganya dapat naik sedemikian cepat melebihi kenaikan pasar atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun pada saat pasar sedang turun, harganya akan turun lebih cepat dari pada pasar. Artinya, jika pasar sedang naik, saham tersebut akan mengalami kenaikan yang lebih tinggi daripada harga pasar.

2. Saham dengan koefisien beta < 1 umumnya bergerak lebih lambat daripada pasar. Artinya, jika pasar naik, saham tersebut juga akan naik, Namun kenaikan saham selalu lebih rendah daripada kenaikan pasar. Demikian juga sebaliknya.

3. Saham dengan koefisien beta = 1 umumnya mengikuti arus pasar. Artinya, jika pasar naik, saham tersebut akan mengalami kenaikan yang sama dengan yang dialami oleh pasar/indeks. Demikian juga sebaliknya.

2.6. Penelitian Terdahulu

Setyarini pada tahun 2003, melakukan penelitian berjudul “Analisa Penerapan Antara EVA dengan Rasio Keuangan dalam Menilai Kinerja Perusahaan ( Studi Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di BEJ )”. Hasil analisis data penelitian tersebut yaitu jika dilihat dari rasio keuangan, rata-rata kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun 1998-2000 memiliki angka rasio yang baik, sehingga mempunyai pertumbuhan yang cukup tinggi atau mempunyai prospek yang bagus pula baik pada saat ini dan di masa mendatang. Jika dilihat dari EVA, rata-rata kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun 1998-2000 hampir semua menunjukkan angka positif, yang berarti perusahaan telah berhasil menciptakan nilai ekonomis dan dapat memenuhi harapan investor.

Ningrum (2008), melakukan penelitian dengan judul ” Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi Go Public dengan Metode

(36)

PT Telkom, PT Indosat, PT Exelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan PT Mobile-8. Berdasarkan penelitian pada periode 2002-2007, menunjukkan dari lima perusahaan yang dianalisis, terdapat satu perusahaan yang konsisten dengan nilai EVA yang positif yaitu PT Telkom, sedangkan PT Indosat menjadi urutan kedua setelah PT Telkom karena dalam historis perusahaan, pada tahun 2003 dan 2004 memiliki kinerja yang baik. Tiga perusahaan yang lain PT Exelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan PT Mobile-8 kurang baik untuk berinvestasi karena memiliki nilai EVA yang negatif sehingga disimpulkan bahwa ketiga perusahaan tersebut belum dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Hal ini dikarenakan biaya modal yang lebih tinggi dari laba usaha yang dihasilkan.

(37)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), secara periodik wajib menyampaikan laporan keuangannya. Laporan keuangan tersebut dapat dijadikan acuan secara fundamental bagaimana kinerja perusahaan dan bagaimana perusahaan dapat menciptakan nilai bagi pemegang sahamnya. Perusahaan yang diteliti adalah perusahaan perkebunan

kelapa sawit yang telah terdaftar sebagai emiten BEI yaitu PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).

PT Sampoerna Agro sebagai perusahaan yang sedang berkembang membutuhkan dana yang berasal dari modal sendiri (ekuitas) maupun hutang (kewajiban) dalam melaksanakan aktifitas operasionalnya dan membangun bisnisnya. Dana tersebut bisa berupa pendanaan dari dalam perusahaan (internal financing) dan dari luar perusahaan (external financing). Struktur pendanaan perusahaan tersebut dapat mempengaruhi resiko dari hasil yang akan diperoleh perusahaan serta nilai perusahaan tersebut. Oleh karena itu perlu kiranya suatu perusahaan mengetahui struktur pendanaan yang optimal yang dapat membawa perusahaan untuk bisa terus berlangsung hidup dan mencapai tujuannya, yaitu memaksimalkan nilai perusahaan bagi para pemiliknya.

Untuk mendapatkan berbagai alternatif pendanaan tersebut, berbagai penilaian maupun analisis yang digunakan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan sangat dibutuhkan. Dalam menarik investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih dahulu melakukan analisis kinerja keuangan perusahaan sehingga akan memperoleh gambaran mengenai keadaan perusahaan.

Analisis laporan keuangan yang umum dan sering dipakai sebagai tolak ukur adalah kinerja keuangan tradisional, yaitu parameter akuntansi dasar berupa rasio-rasio keuangan yang dinilai dari sudut pandang perusahaan yang bersangkutan. Namun dalam hal ini, perlu diukur juga

(38)

kinerjanya yang tidak hanya berdasarkan perusahaan, namun juga para investor dalam hal ini shareholders.

Sehubungan dengan hal itu, diperlukan suatu konsep yang dapat mengukur seberapa besar kesejahteraan maupun kekayaan yang berhasil diciptakan perusahaan yang bersangkutan kepada investor atas modal yang telah diberikan, apakah nilai yang diciptakan sudah memberikan tingkat

pengembalian yang sesuai dengan harapan investornya.

Economic Value Added menggambarkan kemampuan perusahaan untuk

menciptakan nilai tambah ekonomis. Dengan mengetahui nilai EVA maka dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan dan membantu perusahaan meningkatkan kinerja sekarang dan masa yang akan datang.

Setelah mengetahui penciptaan kekayaan yang telah dilakukan perusahaan, perlu diketahui juga bagaimana nilai perusahaan berdasarkan seberapa besar perusahaan yang bersangkutan dapat meningkatkan atau mungkin menurunkan kekayaan pemegang saham (shareholder). MVA merupakan hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan untuk kemakmuran pemegang saham, dengan memaksimalkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor pemegang saham. Secara ringkas, kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

(39)

Batasan Penelitian

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Analisis laporan keuangan PT Sampoerna Agro Tbk

Kebutuhan pendanaan

Kewajiban Ekuitas

Evaluasi kinerja keuangan

Economic Value Added (EVA)

Nilai tambah perusahaan Nilai pasar perusahaan

Market Value Added (MVA)

Aktivitas perusahaan

Nilai kekayaan yang telah dicapai perusahaan

(40)

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Juni hingga Agustus 2010 dengan menggunakan data-data yang diperoleh dari website instansi publik yaitu : Bursa Efek Indonesia, Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek

Indonesia (PRPM BEI) dan Bank Indonesia. Penelitian ini tidak dilakukan di lokasi tertentu.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data sekunder yang digunakan antara lain: laporan keuangan PT Sampoerna Agro Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2009 beserta gambaran umum perusahaan, dividen dan harga saham perusahaan beserta tingkat suku bunga bulanan Sertifikat Bank Indonesia periode 2008-2009. Laporan keuangan yang digunakan adalah laporan laba rugi dan neraca tahunan perusahaan.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dari studi pustaka dan kajian literatur yang menunjang untuk digunakan dalam penelitian ini. Data-data tersebut diperoleh dari buku, koran, jurnal, laporan penelitian dan media elektronik.

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data dan informasi yang telah dikumpulkan, kemudian diolah baik secara manual maupun menggunakan bantuan komputer untuk dianalisis secara kuantitatif. Hasil analisis kuantitatif ini kemudian diinterpretasikan secara deskriptif. Adapun analisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk

tersebut menggunakan metode Economic Value Added (EVA) dan

Market Value Added (MVA).

3.3.1. Metode Economic Value Added (EVA)

Ada beberapa tahapan dalam menghitung EVA. EVA dihitung setelah semua komponen pembentuknya diketahui. Selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus perhitungan EVA.

(41)

Dalam menghitung Net Operating Profit After Tax (NOPAT) digunakan pendekatan keuangan dimana laba bersih atau Net Income dijumlahkan dengan Net Interest (biaya bunga). Dalam laporan keuangan, laba bersih merupakan laba yang sudah dikurangi dengan pajak penghasilan sedangkan biaya bunga adalah beban bunga perusahaan yang tercatat dalam laporan laba rugi tahunan, karena penelitan ini memakai data keuangan tahunan perusahaan.

Biaya hutang (Kd) dihitung dengan membagi antara biaya bunga yang terjadi pada tahun tersebut dengan total hutang. Hutang tersebut mencakup semua hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang yang didapat dari kelompok luar perusahaan. Pajak atas biaya modal pada penelitian ini dinotasikan dengan Kd* adalah berdasarkan peraturan kebijaksanaan yang diterapkan masing-masing perusahaan. Besar pajak yang dikenakan tercantum secara implisit dalam perhitungan laba bersih setelah pajak yang terdapat dalam laporan keuangan atau prospektus tahunan perusahaan dimana tarif yang dikenakan berbeda untuk tiap perusahaan.

Untuk menghitung biaya ekuitas dalam penelitian ini menggunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Alasan penggunaan model ini karena pemakaian rumus CAPM memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian (expected return). Adapun langkah-langkah dalam menghitung Biaya Ekuitas (Ke) menggunakan model CAPM sebagai berikut :

……… (6) Dimana Rit = tingkat pengembalian saham perusahaan tahun ke-t

Pit = harga saham per lembar tahun t Pit-I = harga saham per lembar sebelumnya Dt = Dividen pada bulan ke-t

(42)

……….. (7)

……….. (8)

Dimana Rmt = tingkat pengembalian pasar pada tahun ke-t

N = jumlah data

E(Rm) = tingkat pengembalian pasar yang diharapkan

……… (9) Dimana βi = Beta saham I

im = kovarian tingkat pengembalian saham I dengan tingkat pengembalian saham I dengan tingkat pengembalian pasar

= varian tingkat pengembalian pasar

4. Rf = Tingkat pengembalian bebas risiko

Tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia 5. COC = Rf + βi E(Rm – Rf) ……….. (10)

Rumus yang digunakan adalah penjumlahan antara tingkat risiko yang didapat dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan koefisien beta dari saham yang didapat dari pengembalian saham biasa relatif terhadap pasar secara keseluruhan dan beta tersebut dikalikan dengan premi risiko pasar (Keown, 2004).

Struktur modal perusahaan merupakan persentase yang seimbang dari masing-masing komponen hutang dan modal yang dimiliki perusahaan. Persentase komponen hutang dilambangkan dengan Wd, sedangkan persentase komponen modal yaitu We.

Perhitungan WACC dengan menggunakan penjumlahan hasil kali antara bobot tertimbang atas komponen hutang dan komponen modal ekuitas perusahaan dari keseluruhan struktur modal perusahaan dengan persentase masing-masing biaya hutang dan biaya ekuitas.

(43)

dalam mengelola usahanya dikurangi dengan non interest bearing

liabilities. Ringkasan perhitungan EVA dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Langkah-langkah perhitungan EVA

Tahapan Perhitungan Sumber

1. NOPAT NOPAT = Laba Bersih + Biaya Bunga Laba

Rugi 2. (Kd*) Kd* = Kd (1-T) Laba Rugi Neraca 3. (Ke) Ke = Rf + β (Rm – Rf) Diketahui 4. Struktur Modal Neraca

5. WACC WACC = [(Kd* Wd) + (Ke x We) ] Diketahui

6. IC IC = Asset – Non Interest Liabilities Neraca

7. COC COC = WACC × IC Diketahui

8. EVA EVA = NOPAT – COC Diketahui

Sumber : Utama, 1997

3.3.2. Metode Market Value Added (MVA)

Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dengan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan ini disebut nilai tambah pasar (Market Value Added) (Brigham dan Houston, 2001).

Manfaat dari MVA disamping untuk mengukur kinerja perusahaan adalah juga untuk mengukur nilai perusahan yang berhasil diciptakan. Nilai perusahaan dalam kaitannya dengan pasar modal akan tampak pada harga saham perusahaan yang bersangkutan.

Menurut Young dan O‟Byrne (2001), nilai Market Value Added dapat dihitung dengan rumus :

(44)

MVA = Nilai pasar ekuitas – Modal ekuitas yang diinvestasikan investor ………. (11) Nilai pasar ekuitas merupakan perkalian antara harga pasar saham perusahaan dengan jumlah saham yang beredar (shares

outstanding). Harga pasar yang digunakan adalah adalah harga pasar

tahunan yang didapat dari harga pasar saham yang tercantum pada akhir periode tahun tersebut. Sedangkan jumlah saham yang beredar merupakan jumlah saham yang ditawarkan perusahaan selama periode tahunan. Setelah semua komponen diketahui, maka MVA dapat diketahui nilainya.

Gambar

Tabel 2. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Tahun  2003-2007
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Analisis laporan keuangan PT Sampoerna Agro Tbk
Tabel  4. Langkah-langkah perhitungan EVA
Gambar 2. Struktur Kelompok Usaha Sampoerna Agro
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan fakta di atas dapat diketahui bahwa kinerja harga saham yang rendah dipastikan akan merugikan pemegang saham sehingga akan mempengaruhi market value added (MVA)

PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDED (EVA), MARKET VALUE ADDED (MVA), DAN BOARD INDEPENDENT TERHADAP KINERJA KEUANGAN.. PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR

Skripsi ini berjudul “Pengaruh Price Earning Ratio (PER), Economic Value Added (EVA), dan Market Value Added (MVA) terhadap Return Saham pada Perusahaan Pertambangan

biaya modal saham biasa”. Dengan adanya konsep EVA, maka para pimpinan perusahaan dapat menggunakannya untuk menilai kinerja perusahaan sekaligus menyajikan

Hasil penelitian tentang perbedaan kinerja keuangan dengan menggunakan metode EVA dan MVA seperti pada bab 4 yang telah dilakukan, diketahui bahwa dengan menggunakan pendekatan

Penelitian ini mencoba menerapkan konsep EVA dan MVA untuk mengukur kinerja perusahaan, untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kinerja perusahaan yang diukur oleh EVA

Penciptaan suatu nilai bagi para pemegang saham sesuai dengan konsep MVA yaitu memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham yang dilakukan dengan memaksimumkan

3 Nomor 1 Januari 2011 115 PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN MELALUI ECONOMIC VALUE ADDED EVA DAN MVA MARKET VALUE ADDED Erry Andaniwati UPN “Veteran” Jawa Timur ABSTRACT Performance