• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti suatu komunitas skateboarding terbesar sekaligus tertua di Salatiga, yaitu komunitas Divisi Tiang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti suatu komunitas skateboarding terbesar sekaligus tertua di Salatiga, yaitu komunitas Divisi Tiang"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

berinteraksi dengan manusia yang lain dan selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan berkelompok ini juga disebut dengan zoon politicon.

Istilah manusia sebagi zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles yang artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai insan politik atau dalam istilah yang lebih populer manusia sebagi zoon politicon,mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas seperti negara. Sebagai insan politik, manusia memiliki nilai-nilai yang bisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Argumen yang mendasari pernyataan ini adalah bahwa manusia sebagaimana binatang, hidupnya suka mengelompok. Hanya sifat mengelompok antara manusia dan binatang berbeda, hewan mengandalkan naluri sedangkan manusia berkelompok dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan akal pikirannya. Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerjasama. Selain itu juga adanya kepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam kelompok, antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas, nilai kebersamaan dan nilai berorganisasi (Priyanto dkk, 2008).

Perilaku berkelompok (perilaku kolektif) pada manusia karena terjadi melalui proses belajar menyebabkan munculnya beragam jenis, diantaranya: perilaku kerumunan (crowd), perilaku massa, gerakan sosial, perilaku dalam bencana, gerombolon, kericuhan (panics), desasdesus, keranjingan, gaya (fad), model (fashions), propaganda, pendapat umum, dan revolusi (Waluyo, 2007).

Komunitas merupakan hasil dari sebuah perilaku berkelompok, seperti yang dikemukakan, arti komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Jadi dalam suatu komunitas pasti terdapat minat yang sama. Misalnya dalam sebuah komunitas yang diteliti oleh peneliti yaitu komunitas skateboard, di situ para individu mempunyai minat yang sama, yaitu minat terhadap skateboard..

LATAR BELAKANG

Manusia selain sebagai makhluk individu, disebut juga sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan

(2)

Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti suatu komunitas skateboarding terbesar sekaligus tertua di Salatiga, yaitu komunitas Divisi Tiang Salatiga (DTS). Komunitas ini berdiri pada tahun 2004 dan diketuai oleh Bagus Jatmiko. Jika ditelusuri, kegiatan skateboarding in i telah menjadi salah satu budaya pop yang muncul di kota Salatiga. Storey (2009) mendefinisikan budaya pop sebagai budaya yang berasal dari rakyat, sebagaimana halnya budaya daerah yang merupakan budaya dari rakyat untuk rakyat. William dalam (Barker, 2004) juga menambahkan bahwa budaya pop cenderung muncul dan menjadi tren di kalangan masyarakat tertentu sehingga budaya ini disukai dan diminati banyak orang.

Mengacu pada salah satu karakteristik budaya pop yang sangat dinamis, budaya bermain skateboard yang menjadi kegiatan rutin dari DTS dapat terkikis oleh munculnya budaya-budaya pop yang baru. Namun demikian, di tengah munculnya budaya-budaya pop yang baru di kalangan masyarakat, DTS tetap dapat mempertahankan eksistensinya. Hal tersebut dapat dilihat dari usia DTS yang sudah mencapai 8 tahun, beberapa acara yang dilaksanakan seperti acara “Skate Day” yang merupakan acara kompetisi kecil skateboard dan berhasil secara rutin diselenggarakan sekali setiap tahun, acara “Skatelatiga” yang merupakan kompetisi skateboarding pertama dan terbesar di Salatiga yang melibatkan skater dari luar kota, serta acara bakti sosial di panti asuhan setempat. Serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas DTS secara rutin tersebut merupakan bukti bahwa skateboarding Salatiga yang dinaungi oleh komunitas DTS ini tetap dapat mempertahankan eksistensinya di kalangan masyarakat Salatiga meskipun banyak budaya pop lainnya juga bermunculan. Seperti komunitas sepeda BMX, Fix Gear, Mountain Bike, Inlander, komunitas Salatiga Indie Music, Salatiga Hip-hop Movement dan sebagainya.

Seperti halnya adalah komunitas Inlander, yakni komunitas para pencinta sepeda tua (pit kebo). Komunitas tersebut dulu eksis berkumpul seminggu sekali dan bahkan hampir rutin tiap hari. Hal tersebut dikemukakan oleh Puthut Setyoko yang merupakan salah satu ketua komunitas Inlander. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 3 Januari 2014 tersebut, beliau mengatakan bahwa komunitas tersebut sekarang bisa dikatakan sudah mati atau tidak eksis lagi karena sudah tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang diagendakan seperti pada awal terbentuknya kominitas Inlander tersebut.

Berdasarkan fenomena tersebut, dimana DTS merupakan salah satu komunitas indie pertama di salatiga yang masih aktif dan berkarya sehingga menarik minat peneliti untuk

(3)

mengamati dan meneliti pola komunikasi internal dan eksternal yang terjalin dalam komunitas skater DTS serta melihat kaitannya dengan eksistensi komunitas tersebut dengan masyarakat sekitar. Peneliti tertarik untuk meneliti pola komunikasi pada komunitas DTS karena komunitas tersebut dapat tetap eksis dikalangan komunitas indie lainnya dan masyarakat Salatiga. Dimana komunitas indie yang lain sudah mulai non aktif dan ditinggalkan para anggotanya.

Kata eksistensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Alwi, 2005:288) diartikan sebagai hal berada; keberadaan. Dalam penelitian ini kata eksistensi merujuk pada keberadaan DTS. Eksistensi disini juga berkaitan dengan strategi dan cara untuk bertahan dalam menghadapi arus budaya pop yang dinamis. Oleh karena itu eksistensi merupakan hal yang penting dalam sebuah komunitas, dimana pola komunikasi akan mempengaruhi sebuah komunitas agar komunitas tersebut terus aktif dan eksis.

RUMUSAN MASALAH

Dari gambaran latar belakang permasalahan di atas,peneliti merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut yaitu, Bagaimana pola komunikasi internal dan eksternal Divisi Tiang Salatiga serta bagaimana kaitan pola komunikasi Divisi Tiang Salatiga dengan eksistensi komunitas tersebut dalam masyarakat?

TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang pola komunikasi internal dan eksternal yang terjadi dalam Divisi Tiang Salatiga n dan juga mengetahui kaitan antara pola komunikasi dalam Divisi Tiang Salatiga dengan eksistensi komunitas tersebut dalam masyarakat.

KAJIAN TEORI

Bagian kedua dari laporan hasil penelitian ini merupakan pembahasan mengenai kajian teori-teori yang akan digunakan dalam menganalisis data hasil penelitian yang berjudul ”Pola Komunikasi Divisi Tiang Salatiga Penelitian Deskriptif Tentang Pola Komunikasi Internal dan Eksternal Komunitas Skateboard di Salatiga, Jawa Tengah dalam Mempertahankan Eksistensinya”. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut.

(4)

POLA KOMUNIKASI

Pola komunikasi merupakan model dari proses komunikasi, sehingga dengan adanya berbagai macam model komunikasi dan bagian dari proses komunikasi akan dapat ditemukan pola yang cocok dan mudah digunakan dalam berkomunikasi. Pola komunikasi identik dengan proses komunikasi, karena pola komunikasi merupakan bagian dari proses komunikasi. Proses komunikasi merupakan rangkaian dari aktivitas menyampaikan pesan sehingga diperoleh

feedback dari penerima pesan. Dari proses komunikasi, akan timbul pola,model, bentuk dan juga bagianbagian kecil yang berkaitan erat dengan proses komunikasi.

Di sini akan diuraikan proses komunikasi yang sudah masuk dalam kategori pola komunikasi yaitu; pola komunikasi komunikasi primer, pola komunikasi sekunder, pola komunikasi linear, dan pola komunikasi sirkular. Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagai media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Lambang verbal yaitu bahasa sebagai lambang verbal yaitu paling banyak dan paling sering digunakan, karena bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator. Lambang non verbal yaitu lambang yang digunakan dalam berkomunikasi yang bukan bahasa, merupakan isyarat dengan anggota tubuh antara lain mata, kepala, bibir, tangan. Selain itu gambar juga sebagai lambang komunikasi non verbal, sehingga dengan memadukan keduanya maka proses komunikasi dengan pola ini akan lebih efektif.

Pola komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama. Komunikator menggunakan media kedua ini karena yang menjadi sasaran komunikasi yang jauh tempatnya, atau banyak jumlahnya. Dalam proses komunikasi secara sekunder ini semakin lama akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih. Pola komunikasi ini didasari atas model sederhana yang dibuat Aristoteles, sehingga mempengaruhi Harold D. Lasswell, seorang sarjana politik Amerika yang kemudian membuat model komunikasi yang dikenal dengan formula Lasswell pada tahun 1984 (Wiryanto, 2005:17)

Pola Komunikasi Linear. Linear di sini mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada

(5)

komunikan sebagai titik terminal. Jadi dalam proses komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka, tetapi juga adakalanya komunikasi bermedia. Dalam proses komunikasi ini pesan yang disampaikan akan efektif apabila ada perencanaan sebelum melaksanakan komunikasi

Pola Komunikasi Sirkular. Sirkular secara harfiah berarti bulat, bundar atau keliling. Dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator, sebagai penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan komunikan.

Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berwujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media massa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:

Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada atasan.

Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.

Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:

a. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti: majalah

(6)

organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.

b. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi (Efendy, 2008:30)

FUNGSIONALISME STRUKTURAL

Teori fungsional tentang perubahan ini dicetuskan oleh (Parsons, 1975:64). Dalam teorinya Parsons menganalogikan perubahan sosial dalam masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi.

Fungsi dikaitkan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada memenuhi kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem. Ada empat persyaratan mutlak yang harus ada supaya masyarakat bisa berfungsi. Keempat persyaratan itu disebutnya AGIL. AGIL adalah singkatan dari Adaption, Goal attainment, Integration, dan Latency. Demi keberlangsungan hidupnya, maka masyarakat harus menjalankan fungsi-fungsi tersebut, yakni;

1.Adaptasi (adaptation): supaya masyarakat bisa bertahan dia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan dirinya.

2.Pencapain tujuan (goal attainment): sebuah sistem harus mampu menentukan dan berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu.

3.Integrasi (integration): masyarakat harus mengatur hubungan di antara komponen- komponennya supaya dia bisa berfungsi secara maksimal.

4. Latency atau pemeliharaan pola-pola yang sudah ada: setiap masyarakat harus mempertahankan, memperbaiki, dan membaharui baik motivasi individu-individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan mepertahankan motivasi-motivasi itu.

(7)

KERANGKA PIKIR

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif didefinisikan sebagai pendalaman sikap, perilaku dan pengalaman melalui beberapa metode seperti wawancara atau pertemuan kelompok tertentu (focus group). Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang datanya dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar, dan tidak menekankan pada angka statistika, sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhadjir (2000) bahwa metodologi kualitatif didasarkan pada upaya memberi penekanan pada segi memahami (verstehen) bukan mengukur. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam dan menekankan kedalaman informasi

UNIT AMATAN DAN UNIT ANALISA

Dalam penelitian ini peneliti menetapkan Komunitas Divisi Tiang Salatiga dan masyarakat sekitarnya sebagai unit amatan yang peneliti amati. Sedangkan unit analisa dari penelitian ini adalah pola komunikasi internal dan eksternal komunitas Divisi Tiang Salatiga dalam rangka mempertahankan eksistensinya.

Divisi Tiang Salatiga Teori Pola Komunikasi Eksistensi Pola Komunikasi Komunitas Teori Struktural Fungsional Tindakan Eksternal Internal

(8)

JENIS DAN SUMBER DATA

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer. Data primer adalah data yang secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Sementara data sekunder diambil dari dokumen atau rekaman peristiwa dari acara serta kegiatan yang berkaitan dengan Divisi tiang Salatiga.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data kualitatif bersifat luwes dan luas serta dapat disesuaikan dengan masalah yang ada di lapangan dan tujuan penelitian serta objek yang akan diteliti. Pada penelitian kualitatif, instrumen yang digunakan akan berbeda dengan instrument yang digunakan pada penelitian kuantitatif. Menurut Lofland & Lofland (dalam Moleong, 2007), sumber data yang diperoleh dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan serta tambahan seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian, pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi.

1. Pengamatan (Observasi)

Dengan pengamatan, diharapkan peneliti dapat memperoleh data-data mengenai hal yang berhubungan dengan pola komunikasi internal dan eksternal yang terjadi dalam Divisi Tiang Salatiga dan bagaimana kaitannya pola komunikasi tersebut dengan eksistensi komunitas Divisi Tiang Salatiga. Observasi dilakukan setiap sore hari saat para anggota melakukan latihan, selain itu juga pada acara-acara yang diselenggarakan oleh DTS.

2. Wawancara

Wawancara dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi yang tidak dapat diperoleh melalui observasi. Melalui wawancara, peneliti dapat mendapatkan informasi yang mendalam (in-depth information) karena beberapa hal, antara lain:

a. Peneliti dapat menjelaskan atau memparafrasekan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dimengerti oleh responden.

b. Peneliti dapat mengajukan pertanyaan susulan (follow-up question). c. Responden cenderung menjawab apabila diberikan pertanyaan. d. Responden dapat menceritakan sesuatu yang terjadi di masa lampau. 3. Dokumen

(9)

Peneliti mengambil data sekunder untuk melengkapi data primer yang ada, yaitu dengan menggunakan dokumen yang dalam penelitian ini merupakan rekaman peristiwa dari acara serta kegiatan yang berkaitan dengan Divisi tiang Salatiga. Seperti halnya dengan video kompetisi, video demo skateboard serta video latihan sehari-hari

TEKNIK ANALISA DATA

Data yang didapat peneliti dengan cara observasi, wawancara dan lewat dokumen dari DTS. Obeservasi dilakukan sore hari pukul 16.30 – 17.30 di Selasar Kartini tempat para anggota DTS berlatih skateboard. Pada tehnik pertama ini peneliti ikut membaur melihat bagaimana pola komunikasi dan kegiatan sehari-hari dari DTS, dengan begitu akan lebih memudahkan peneliti untuk mendapatkan data. Sementara itu tehnik wawancara dilakukan untuk meneliti lebih dalam tentang suatu hal, sebagai contoh peneliti melakukan wawancara kepada ketua DTS untuk mengetahui visi dan misi komunitas tersebut. Tehnik yang ketiga adalah dengan membaca dokumen dari DTS untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Peneliti mendapatkan dokumen tersebut baik dalam bentuk tulisan maupun gambar. Contohnya dokumen membantu peneliti mendapatkan informasi mengenai prestasi yang sudah diraih oleh DTS, para pengurus DTS sudah menyiapkan data prestasi yang tersimpan dalam bentuk file PDF. Dari data tersebut membuktikan bahwa DTS merupakan komunitas yang bisa menghasilkan banyak prestasi.

Wawancara dilakukan kepada pengurus, anggota, masyarakat sekitar selasar Kartini. Wawancara dilakukan pada sore dan malam hari. Data yang diperoleh dari wawancara antara lain seperti bagaimana cara mereka berkomunikasi dalam serta antar kelompok, kondisi sewaktu rapat acara, event yang dilaksanakan, kegiatan luar kota, adaptasi serta tuuan dari DTS itu sendiri.

Setelah data-data hasil wawancara dikumpulkan, kemudian peneliti mengklasifikasikan ke dalam 3 tahap, yaitu:

1.Komunikasi Internal 2.Komunikasi Eksternal 3.Eksistensi/Kebertahanan

Hasil data di lapangan akan dianalisis menggunakan teori pola komunikasi (primer, sekunder, linier dan sirkuler) dan teori strukrual fungsional. Sedangkan untuk observasi peneliti

(10)

menggunakan hal yang berkaitan dengan penelitian antara lain yaitu arah pembicaraan, gaya bicara, sikap tubuh, posisi duduk serta mengamati bagaimana cara mereka berkomunikasi

GAMBARAN OBYEK PENELITIAN

Divisi Tiang Salatiga adalah komunitas pemain skateboard di kota Salatiga. Komunitas ini berawal dari sekelompok anak-anak muda yang bermain skateboard di sore hari. Semula dipelopori oleh Alpha, Prima, Ook dan Jatmiko (yang kini berstatus sebagai ketua DTS) sejak tahun 1998. Namun karena bertambahnya jumlah skater di kota Salatiga dan agar berstruktur, maka didirikanlah DTS. DTS sendiri resmi berdiri pada tahun 2004. Jumlah anggota DTS awalnya sekitar 30 orang, jumlah itu tidak pasti karena ada beberapa orang yang cuma ikut gabung dan bermain skate namun beberapa waktu kemudian tidak muncul lagi. Anggota DTS berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa sampai siswa SMA dan SMP, bahkan menariknya ada beberapa warga asing (Amerika dan Australia) yang masih berumur 9 tahun. Salah satu dari mereka yang bernama Kurt pernah menjadi juara saat berpartisipasi turnamen di Pekalongan. Tempat latihan para skater DTS yaitu di jalan masuk SMPN 1 Salatiga. Mereka biasa bermain pada sore hari sekitar pukul 16.00-18.00. Namun seiring berjalannya waktu mereka mulai berpindah ke Selasar Kartini. DTS juga mempunyai program-program umtuk memajukan skateboarding di Salatiga, seperti event Go Skate Day yang selain merupakan acara Skate juga mencakup acara bakti sosial di panti asuhan setempat. Lalu Skatelatiga yang merupakan kompetisi skateboarding pertama dan terbesar di Salatiga, banyak skater-skater dari luar kota ikut dalam kompetisi tersebut. Ada juga arisan antar anggota DTS yang bertujuan agar memudahkan para anggota untuk dapat membeli peralatan skateboard yang notabene harganya tidak murah. Kendala utama dalam bermain skateboard di kota Salatiga adalah tidak adanya tempat untuk bermain (skate park).

Visi dan Misi Divisi Tiang Salatiga

Visi dari DTS adalah Memajukan perkembangan skateboarding di Salatiga dan mensosialisasikan skateboard kepada masyarakat Salatiga.

Misi DTS adalah sebagai berikut :

(11)

- Mensosialisasikan skateboarding kepada masyarakat awam, maupun pemerintah melalui media online nutsmagz.blogspot.com.

- Melatih bakat anak-anak muda Salatiga khusunya dalam skateboarding untuk melahirkan talenta muda yang berbakat dan berprestasi.

Struktur Organisasi Divisi Tiang Salatiga

Struktur Organisasi dalam DTS dapat dikatakan tidak terlalu formal, namun yang pasti dalam struktur tersebut terdiri dari penanggung jawab, ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris dan anggota. Berikut adalah struktur organisasi dari DTS :

Penanggung Jawab : Kurnia Bagus Jatmiko Ketua : Dimas Asmoro Adi Wakil ketua : Daniel Widhita Sekretaris : Anangga Rizka

Bendahara : Oscar Stephano A.D.C

Anggota : Sulistiyono, Agung K, Hooki Rio Maycenas, Dimas D, Nanda Mahendra, Endrik Bayu, Aldez, Andaru Dwika, Tete, Yunan W, Fergie Ferdiawan, Dian Ardiany, Christian Lilik Dwi, Saktiawan, Dany, Handy Atma, Adnan Humam,Widhiyanto, Bayu Aji, Ilham, Richard Nugroho, Amat WST, Bramantya P, Wido M, Fauzan Adi, Raditya Ichwan, Jay, Kukuh S, Gadhing S, Bima, Theo Yoga, Seto, Evan Haby, Gilang, Awan Giri, Muhammad Aliet

Kegiatan Divisi Tiang Salatiga

Pada hari – hari biasa khususnya pada sore hari, para anggota DTS sering bermain skate di sekitar Selasar Kartini. Kegiatan tersebut baru dilakukan kurang lebih setahun, sebelumnya mereka rutin bermain di depan SMPN 1 Salatiga. Para anggota DTS lebih memilih untuk pindah ke Selasar Kartini karena tempat tersebut dinilai lebih nyaman dan strategis dalam bermain, selain floor lebih halus dan tidak berlubang, di sana juga lebih mudah dalam menyimpan alat-alat obstacle. DTS juga pernah mengadakan arisan papan skateboard serta mendirikan skateshop bernama Kraztie yang bertujuan untuk mendukung kemajuan skateboard di kota Salatiga. Selain bermain skate para anggota DTS juga mengadakan kegiatan seperti kompetisi Skatelatiga #1 dan Skatelatiga #2 serta ajang Go Skate Day yang dilakukan rutin tiap tahun pada tanggal 21 juni.

(12)

PEMBAHASAN

POLA KOMUNIKASI DIVISI TIANG SALATIGA

Dibawah ini akan dibahas tentang pola komunikasi Divisi Tiang Salatiga yang berkaitan antara teori dan data di lapangan untuk mempermudah analisis masalah.

Secara struktur komunitas DTS merupakan organisasi informal dan fleksibel, hal itu membuat DTS mengaplikasi semua pola komunikasi yang ada, seperti pola komunikasi primer, pola komunikasi sekunder serta pola komunikasi sirkular.

Seperti yang diungkapkan Oscar sebagai bendahara DTS, “Karena organisasi kami ini menganut asas independent atau kemandirian, para anggota pasti saling membantu dan akrab satu sama lainnya“, (wawancara pada Kamis, 3 Juli 2014).

Pola Komunikasi Primer Divisi Tiang Salatiga

Para anggota komunitas ini saling berkomunikasi dengan komunikasi primer. Hal itu ditunjukan lewat cara berkomunikasi verbal dan non verbal baik di tempat latihan maupun di luar tempat tersebut.

“Kami selalu mengobrol sewaktu latihan, karena dengan begitu akan menimbulkan kedekatan antara satu sama lain”, ujar Anangga Rizka selaku sekretaris DTS. (wawancara pada Rabu, 2 Juli 2014).

Observasi membuktikan, pada saat para anggota berlatih sering melakukan obrolan maupun ejekan yang bersifat membangun sehabis melakukan trik.

Divisi Tiang Salatiga merupakan komunitas yang tidak formal, jadi obrolan simpel atau “guyonan” sering terjadi dalam interaksi mereka. Hasil observasi menunjukan bahwa para anggota DTS sering berkomunikasi secara langsung pada saat latihan, baik itu pada saat latihan maupun sesudah latihan. Semakin seringnya berkomunikasi secara langsung akan semakin mengakrabkan para anggota serta mempersempit jarak antara satu sama lain, mengingat jumlah anggota DTS yang cukup banyak.

Pola Komunikasi Sekunder Divisi Tiang Salatiga

Komunitas DTS menggunakan media seperti handphone dan laptop untuk saling berkomunikasi guna melakukan latihan atau rapat mengingat beberapa anggota juga ada yang berdomisili di luar kota.

(13)

“Kalau ada agenda pasti saya selalu diberitahu via sms atau bbm”, kata Hooki Rio selaku anggota DTS yang berdomisili di Semarang (wawancara pada Selasa, 1 Juli 2014).

Mengingat beberapa anggota DTS ada yang melanjutkan kuliah atau kerja di luar kota, media seperti handphone menjadi peran penting sebagai alat untuk menjalin komunikasi. Meskipun komunikasi tidak dilakukan tiap hari, namun pemberitahuan saat akan mengadakan rapat atau kegiatan pasti dilakukan lewat media handphone maupun laptop.

Hasil observasi menunjukan bahwa beberapa hari sebelum melakukan pengambilan gambar untuk foto dan video skateboard, anggota yang berasal dari luar kota diberitahu via bbm. Dengan begitu anggota bisa datang dan ikut serta dalam acara yang diagendakan tersebut.Pola komunikasi sekunder di sini yang menjadi komunikator adalah pengurus DTS telah menggunakan alat atau sarana dalam kasus ini adalah handphone untuk melakukan komunikasi dengan komunikan yang jauh tempatnya (anggota yang berada di luar kota). Dengan bantuan media tersebut pesan yang disampaikan komunikator terhadap komunikan bisa tersampaikan. Selain media handphone, DTS juga menggunakan media surat. Saat mereka diundang untuk tampil di Festival Mata Air (FMA), dari pihak pengundang memberikan surat kepada DTS agar ikut berpartisipasi dalam acara FMA.

Pola Komunikasi Linier Divisi Tiang Salatiga

Seperti pada komunitas DTS akan melaksanakan acara rutin tahunan Go Skateboarding Day, ketua akan memberikan mandat kepada masing-masing anggota untuk menjadi panitia dalam acara tersebut. titik terminal dalam proses komunikasi dan para anggota menjadi komunikan dalam proses komunikasi tersebut.

“Acara Go Skateboarding Day kemarin saya diberi mandat sebagai ketua acara dan sebagai anggota saya menerima hal tersebut karena itu adalah keputusan ketua”, ujar Amat sebagai anggota DTS yang menjadi ketua acara Go Skateboarding Day 21 Juli lalu (wawancara pada Kamis, 3 Juli 2014).

Dalam acara rutin Go Skateboarding Day pemilihan ketua acara memang dilakukan secara bergilir supaya setiap anggota bisa berlatih untuk tanggung jawab dalam melaksanakan sebuah acara. Hal tersebut memang sudah dilakukan turun-temurun sejak tahun 2009 silam.

(14)

Pada saat rapat pertemuan untuk membahas acara biasanya baik ketua maupun anggota DTS saling memberikan masukan dan saran untuk konsep acara yang akan dilaksanakan, jadi terjadi arus pesan serta umpan balik dari ketua maupun anggota DTS.

“Pada saat rapat akan buat acara, kami selalu terbuka bagi para anggota yang akan memberikan saran jadi tidak hanya dari ketua atau wakil ketua saja yang berperan”, komentar dari Dimas Asmoro sebagai ketua DTS (wawancara pada Selasa, 1 Juli 2014).

Dalam komunitas DTS keputusan ketua bukanlah keputusan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Seluruh anggota bisa menyampaikan idenya ataupan memberikan kritik dan saran bagi pendapat yang ada. Jadi hasil rapat adalah hasil pemikiran bersama bukan berdasarkan pada keputusan perorangan.

Hasil observasi menunjukan bahwa ketua memberikan agenda acara yang akan dilaksanakan. Selanjutnya ketua menjabarkan konsep acara sebelumnya dan menjelaskan bagaimana konsep acara yang akan dilakukan, lalu ide tersebut dilemparkan kepada seluruh anggota untuk disempurnakan atau disanggah. Sehingga para anggota juga bisa ikut mencurahkan idenya untuk membuat konsep acara yang akan dilakukan.

Komunikasi Internal Divisi Tiang Salatiga

Hasil obsevasi yang menunjukan pola komunikasi internal adalah sewaktu rapat yang diikuti oleh seluruh anggota beserta ketua dan pengurus. Dari data tersebut menunjukan bahwa DTS menerapkan pola komunikasi internal karena kegiatan tersebut merupakan rapat internal yang hanya diikuti oleh anggota beserta ketua dan pengurus DTS saja. Hasil observasi lainnya yakni sewaktu anggota DTS akan mengikuti kompetisi skateboard di luar kota hampir seluruh anggota yang bisa ikut meluangkan waktu untuk mendukung para anggota yang ikut dalam kompetisi tersebut. Dengan begitu akan lebih memunculkan semangat para anggota dalam berprestasi di kompetisi tersebut

“Kalo mau berangkat kompetisi luar kota, kita semua pasti support dengan cara ikut nganter dan menemani ke sana”, hal tersebut diungkapkan oleh Asmoro Dhimas sebagai ketua DTS (wawancara pada Selasa, 1 Juli 2014).

Aksi saling dukung para anggota yang ikut berlomba dalam kompetisi skateboard merupakan contoh komunikasi internal yang dilakukan oleh DTS. Dimana penyampaian pesan antara anggota yang terjadi untuk kepentingan DTS itu sendiri dan supaya bisa memenangkan

(15)

kompetisi skateboard yang diikuti. Komunikasi tersebut juga bisa dilakukan oleh siapa saja baik itu dari ketua ke anggota maupun sebaliknya, tergantung dari siapa yang akan turun dalam kompetisi. Komunikasi juga tidak hanya terjadi secara langsung, akan tetapi para anggota yang berada di luar kota juga ikut memberikan dukungan lewat media handphone (sms dan bbm). Jadi dengan begitu hubungan teori komunikasi internal dengan hasil penelitian menghasilkan sintesis.

Komunikasi Eksternal Divisi Tiang Salatiga

Hasil Observasi menunjukan bahwa DTS ikut menjalin hubungan dengan para skater dari kota Semarang. Ketua dan pengurus juga ikut membantu dalam pengambilan foto dan video di sana. Begitu juga para skater dari luar kota juga datang ke Salatiga dan ikut membantu proses filming dan pengambilan foto. Dengan menjalin relasi komunitas skateboard antar kota akan semakin menambah teman seklaigus pengalaman bagi para anggota DTS.

“Setiap tahun saat acara Go Skateboarding Day kami agendakan untuk mengunjungi beberapa panti asuhan terdekat untuk memberikan sumbangan berupa makanan dan pakaian” seperti yang diungkapkan oleh Anangga Riska sebagai sekretaris, (wawancara pada Rabu, 2 Juli 2014). Hasil observasi lainnya menunjukan bahwa DTS juga menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar Selasar Kartini, contohnya saat meminta ijin listrik dan menyelenggarakan acara dengan SDN 05 Salatiga, memberikan santunan kepada tukang parkir setempat serta bersikap ramah kepada masyarakat yang ikut menonton para anggota berlatih.

Dengan begitu antara teori pola komunikasi primer dengan hasil penelitian menghasilkan sintesis karena menurut hasil penelitian DTS menggunakan dengan efektif dan menerapkan pola komunikasi primer dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

Eksistensi Divisi Tiang Salatiga

Hasil observasi menunjukan DTS selalu melaksanakan kegiatan rutin tahunan bernama Go Skateboarding Day yang dilaksanakan pada setiap tanggal 21 Juni. Acara tersebut mulai diselenggarakan dari tahun 2008, dan sudah dilaksanakan sebanyak 7 kali. Pada acara tersebut juga mengundang komunitas lain untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Komunitas DTS juga melakukan regenerasi ketua acara Go Skateboarding Day untuk lebih melatih setiap anggota baru untuk semakin berpengalaman dalam berorganisasi. Selain itu mereka juga berpikiran bahwa regenerasi dalam organisasi itu penting dalam eksistensi sebuah organisasi

(16)

“Eksistensi dari DTS kami tunjukan dengan melaksanakan acara Go Skateboarding Day tiap tahun dengan konsep yang berbeda-beda”, hal itu disebutkan oleh Dhimas Asmoro sebagai ketua DTS, (wawancara pada Selasa, 1 Juli 2014).

“Acara Go Skateboarding Day sudah berjalan selama 7 tahun sejak 2008 dan pada setiap tahunnya anak-anak DTS selalu bergantian menjadi pengurus walaupun masih dibantu para tetua”, seperti yang dikatakan Oscar Stephano sebagai bendahara DTS (wawancara pada Selasa, 1 Juli 2014).

Hasil observasi lainnya yakni DTS turut tampil dalam acara yang diselenggarakan di Salatiga, seperti Festival Mata Air, Happy Melodic serta Pesta Budaya. Dari kegiatan tersebut dapat dilihat bahwa DTS eksis di berbagai acara yang diselenggarakan oleh komunitas ataupun instansi di luar DTS itu sendiri.

Pola Komunikasi yang Berkaitan dengan Eksistensi Divisi Tiang Salatiga

Pola komunikasi yang berkaitan dengan eksistensi adalah segala pola komunikasi khususnya internal dan eksternal yang terjadi dalam komunitas DTS yang berhubungan dengan eksistensi DTS itu sendiri.

Hasil Observasi menunjukan bahwa DTS ikut berpartisipasi dalam acara komunitas lain. Seperti contohnya ikut andil dalam Festival Mata Air (FMA) yang diprakarsai oleh komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK). Selain ikut tampil, sebagian anggota DTS juga menjabat sebagai panitia sejak acara FMA II pada tahun 2008 hingga FMA VI tahun 2014 belum lama ini. “Sejak FMA II anak-anak DTS selalu melibatkan diri, baik sebagai penampil juga sebagai panitia”, seperti yang diungkapkan oleh Anangga Riska sebagai sekretaris (wawancara pada Rabu, 2 Juli 2014).

Pada acara FMA ketua dan pengurus DTS ikut berpartisipasi menjadi panitia penyelenggara bersama TUK dan beberapa komunitas lain. Selain itu, ketua dan pengurus DTS juga mengajak para anggota untuk ikut tampil dalam acara tersebut. Jadi selain ikut berpartisipasi dalam menyelenggarakan FMA yang merupakan acara komunitas lain, DTS juga menggunakan ajang tersebut untuk menunjukan eksistensinya baik di kalangan komunitas lain maupun masyarakat Salatiga. Jadi pola komunikasi internal yang diterapkan DTS yaitu mengajak segenap anggota untuk tampil dalam acara FMA, sementara yang menjadi contoh pola komunikasi eksternal adalah dengan ikut serta membantu menyelenggarakan acara FMA bersama komunitas

(17)

lain seperti TUK dan eksistensi itu dibuktikan dari ikut tampilnya DTS sejak acara FMA II, dengan begitu masyarakat akan lebih mengenal apa itu DTS..

DTS DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONALISME

Dalam kasus ini DTS merupakan sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan dengan lainnya, baik itu dengan masyarakat sekitar maupun komunitas lainnya. Untuk tetap bertahan DTS mempunyai kebutuhan fungsional yang harus dipenuhi agar bisa tetap menjaga eksistensinya dalam sebuah sistem khususnya di lingkungan masyarakat sekitar dan komunitas lainnya.

Adaptation

Pada tahun 2012 DTS mulai berlatih di Selasar Kartini, pada tahun-tahun sebelumnya mereka menggunakan area yg bertempat di depan SMPN1, jadi komunikasi dengan pihak SMPN1 juga lebih memiliki porsi lebih banyak. Begitu juga di tempat baru ini yang notabene lebih dekat dengan SDN 05 Salatiga, DTS menjadi lebih sering melakukan interaksi kepada sekolah tersebut, mulai dari ijin minta listrik sampai ijin saat menyelenggarakan acara di Selasar Kartini. Selain itu juga dengan memberikan santunan kepada tukang parkir setempat dan juga berhubungan baik dengan pedagang kaki lima sekitar.

“Adaptasi sangat penting agar kita bisa diterima dan terus berkembang di lingkungan, hal tersebut bisa mulai dari hal-hal kecil seperti bersikap ramah orang-orang setempat yang datang menonton, ungkap Awan Giri sebagai anggota (wawancara pada Senin, 1 September 2014).

Goal attainment

Visi dari DTS yaitu memajukan perkembangan skateboarding di Salatiga dan mensosialisasikan skateboard kepada masyarakat Salatiga. Visi tersebut merupakan patokan dalam segala kegiatan yang akan dilakukan oleh DTS. Contohnya adalah acara GoSkateboarding Day yang diadakan setiap tahun.

(18)

“GoSkateboarding Day merupakan acara tahunan yang pasti diadakan, karena kegiatan tersebut memang sesuai dengan tujuan atau visi dari DTS”, Bagus Jatmiko selaku pengurus DTS (wawancara pada Senin, 1 September 2014).

Integration

Untuk menjaga komponen dalam suatu komunitas tetap bekerja dengan baik, harus dilakukan komunikasi yang baik antar komponen. Jadi semua komponen tersebut dapat berfungsi secara maksimal. Contohnya sewaktu DTS akan membuat pamflet acara Skatelatiga II, konsep acara haruslah padu dengan pamflet yang akan disebarkan. Disitu para panitia acara memberikan masukan kepada bagian publikasi untuk membuat desain yang sesuai dengan tema acara. Dengan begitu kinerja dari masing-masing komponen khususnya dari panitia acara Skatelatiga II dan bagian publikasi menjadi maksimal.

“Tiap divisi atau bagian harus saling berkomunikasi supaya terjalin kinerja yang maksimal dalam melakukan tugasnya”, ujar Dhimas Asmoro sebagai ketua DTS, (wawancara pada Selasa, 2 September 2014).

Latency

Regenerasi telah dilakukan DTS, hal tersebut dibuktikan dari banyaknya anggota baru yang ikut serta berlatih bersama. Meskipun beberapa anggota DTS yang sudah bekerja dan berada diluar kota sudah jarang ikut berkumpul ataupun bermain skate namun seiring dengan datangnya para anggota baru membawa semangat baru bagi para anggota yang masih aktif. “Anggota baru biasanya diajak tukar pikiran dan ngobrol biasa, jadi sedikit banyak mereka akan tahu tujuan dari DTS”, kata Daniel Widhita selaku wakil ketua DTS (wawancara pada Selasa, 2 September 2014).

DTS merupakan komunitas nonformal, jadi tidak perlu formulir pendaftaran untuk masuk sebagai anggota, mereka tinggal ikut bermain dan hadir di setiap rapat maupun acara saja sudah cukup disebut sebagai anggota karena lama-kelamaan akan timbul rasa memiliki dengan sendirinya. Untuk tetap memberikan nilai-nilai awal dari tujuan DTS, para anggota lama melakukan komunikasi dan bertukar pikiran, selebihnya mereka memberikan informasi tentang kegiatan apa yang biasa dilakukan oleh para anggota DTS lainnya. Dengan begitu para anggota

(19)

baru akan mengerti tujuan awal dan kegiatan apa yang harus diadakan berkaitan dari tujuan awal DTS tersebut

KESIMPULAN

Komunitas DTS dari segi komunikasi baik itu internal dan eksternal sudah menjalankannya dengan baik. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian yang sudah dijabarkan di atas, baik itu komunikasi terhadap sesama anggota maupun dengan komunitas lain serta masyarakat sekitar. Berkaitan dengan teori fungsional struktural dimana DTS menganut keempat persyaratan mutlak yang harus ada supaya masyarakat atau khususnya komunitas bisa berfungsi. Keempat persyaratan itu disebutnya AGIL (Adaption, Goal attainment, Integration, dan Latency). Faktor-faktor yang telah disebutkan diatas merupakan alasan mengapa DTS tetap dapat mempertahankan eksistensinya selama 10 tahun.

SARAN

Sejauh ini regenenerasi yang dilakukan oleh DTS sudah cukup baik, namun akan lebih baik lagi dengan semakin menambah anggota baru demi mendukung DTS itu sendiri. Dengan banyaknya anggota baru khususnya yang berusia muda akan menambah semangat baru yang otomatis akan membuat olahraga “skateboarding” kembali menjadi olahraga yang “digandrungi” seperti beberapa tahun yang lalu. Selain itu dengan menambah beberapa anggota baru akan memperbanyak ide-ide segar dalam kelompok serta menambah poin positif bagi pertumbuhan komunikasi DTS dan juga semakin banyak anggota akan semakin memperkuat eksistensi DTS. Salah satu faktor penunjang sebuah komunitas adalah fasilitas. DTS memang sudah mempunyai fasilitas atau alat pendukung seperti box, rail, down rail, stairs, banks, quarter pipe. Namun akan lebih baik lagi jika ada sebuah ‘Skatepark’ yakni tempat bermain di mana tak hanya “skateboard”, namun juga sepeda BMX serta sepatu roda (inline skate). Tempat tersebut berisi fasilitas-fasilitas DTS seperti yang disebutkan di atas, akan tetapi “Skatepark” lebih komplit dan sudah terpasang secara paten dan terstruktur. Dengan adanya “Skatepark” akan lebih mengakomodasi para anggota DTS untuk berlatih dan juga membuat komunitas lain seperti sepeda BMX dan “fix gear” dan sepatu roda (inline skate) bisa berlatih bersama. Dibangunnya “Skatepark” juga akan menarik kalangan masyarakat baik pelajar maupun mahasiswa untuk

(20)

bermain “skateboard”, dengan begitu akan menjaring anggota-anggota baru yang akan semakin memperkuat eksistensi DTS.

DAFTAR PUSTAKA

Abhiyoga, Girindra P. 2011. Pola Komunikasi Pendidikan Alternatif Berbasis Komunitas Pada Kelompok Belajar Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga. Salatiga: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana.

Alwi, H. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (3 ed.). Jakarta: Balai Pustaka.

Effendy, Onong Uchjana. 2008. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hidayat, Syarifudin. 2011. Metodologi Penelitian. Bandung : Mandar Maju.

Kertajaya, Hermawan. (2008). Arti Komunitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Muhadjir, H Noeng.2000. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV. Yogyakarta : Rake Sarasin. Mulyana, Deddy. 2002. Buku Ilmu Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moleong, J Lexy. 2007. Buku Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.

Nugroho, Erwin Kristanto Tri 2013. Pola Komunikasi Dan Peran Pangsara (Paguyuban Pendengar Radio Salatiga dan Sekitarnya) terhadap Radio Komunitas Di Kota Salatiga. Salatiga: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana.

Parsons, Talcott. 1975. The Present Status of "Structural-Functional" Theory in Sociology." In Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory New York: The Free Press. Storey, John. 2009. Cultural Theory and Populer: Culture An Introduction Fifth Edition. New York: Routledge.

Ritzer, George 2004. Teori Sosiologi. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Waluya, Bagja. 2007. Sosiologi: Menyelami Fenomena Soisal Di Masyarakat Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: PT. Setia Purna Inves

Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.

http://eprints.undip.ac.id/19649/1/TEORI_KOMUNIKASI_&_STUDI_KOMUNIKASI_DI_IN DONESIA.pdf

http://jurnal-kommas.com/docs/JURNAL%20Octa.pdf

Referensi

Dokumen terkait