• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN KE 1 BUNGA DI KAKI GUNUNG KAWI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAGIAN KE 1 BUNGA DI KAKI GUNUNG KAWI"

Copied!
369
0
0

Teks penuh

(1)

Karya : SH Mintardja

Sumber : http://pelangisingosari.wordpress.com/ Convert edit oleh teman di web diatas

PDF Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/ http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

BAGIAN KE 1

BUNGA DI KAKI GUNUNG KAWI Jilid 16

(2)

BARULAH DI GARDU pertama kedua prajurit itu dapat

meyakinkan diri mereka. Dari pemimpin prajurit yang bertugas di regol, kedua prajurit itu mendapat beberapa penjelasan tentang kedatangan Mahisa Agni. Diberitahukannya pula bahwa Mahisa Agni datang bersama dua orang prajurit yang sudah mereka kenal dan yang mereka ketahui tugas-tugasnya pula.

“Maafkan kami,” berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran Tuan. Apabila demikian, marilah Tuan kami antarkan ke serambi belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa Tuan masih harus menunggu, sampai Tuan mendapatkan izin masuk ke istana. Hal itu adalah di luar wewenang kami.”

Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang. Maka jawabnya, “Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku, pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”

“Mungkin Tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”

“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi itu.”

“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”

“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,” desis Mahisa Agni perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah kembali.”

(3)

“Tuan,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas, “kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu Tuan. Mungkin Tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu siapakah Tuan.”

“Tidak,” sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian benar-benar sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu untuk menunggu.”

Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di Istana Tumapel.

Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Apakah Tuan ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang. Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat serambi belakang. Nanti kami akan memanggil Tuan apabila izin itu telah Tuan dapatkan.”

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan pulang saja ke Panawijen.”

Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir kegelapan malam.

Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti, apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan.

Dalam serba ketidaktentuan itu, mereka kemudian melihat tiga bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para

(4)

penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua. Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar. Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang

menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.

“Sial benar kita kali ini,” desis salah seorang daripada mereka, “kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang

menggelisahkan ini.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah cepatnya dengan kawannya yang lain.

Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai di regol pertama, maka dengan serta-merta terdengar emban tua itu bertanya, “Di manakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”

Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian prajurit yang membawa. Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat Tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”

“He,” suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”

“Kami telah mencobanya,” sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah jemu menunggu.”

“Oh,” desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir.

“Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,” perempuan itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya.

(5)

“Hem,” perempuan tua itu menarik nafas panjang. “Salahku,” keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya. Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”

Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar membayangkan kegelisahan hati.

Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit yang mengantarnya ke Panawijen, “Bagaimana?”

“Terserah kepada Bibi,” sahut keduanya.

Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”

Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata, “Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak itu telah pergi.”

Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebar-debar. Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?

Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban, apakah sebaiknya kami, salah seorang atau dua orang pergi

menyusulnya?”

Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil berkata, “Jangan.”

“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari, menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”

(6)

“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.” Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera beberapa di antara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”

Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama menunggu.”

“Lalu apakah yang akan Bibi kerjakan?”

Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.

“Biarlah aku mempertanggungjawabkannya,” katanya di dalam hati. Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua kesalahan dibebankan kepadanya daripada harus menyentuh anaknya itu.

“Kita menghadap Akuwu,” berkata emban itu kemudian. “Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang mengantarkannya ke Panawijen.

Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap akuwu dapat berbuat hal-hal di luar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.

(7)

Sementara itu akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes, sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri, betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan baik.

Sebagai seorang akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan

pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.

Dalam kesempatan inilah akuwu akan memanfaatkan

pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok, setelah akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungan itu.

Setaat kemudian Akuwu Tunggul Ametunglah yang menjadi gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun yang datang kepadanya.

(8)

“Gila!” gumamnya, “Apakah aku dibiarkan jemu menunggu di sini?”

Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup angin yang silir.

“Heh,” Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”

Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah mendekatinya.

“Ha,” Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah datang dan menunggu aku di ruang dalam.”

Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.

“He,” teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar mereka, “kenapa kalian datang kemari?”

Pelayan itu menjadi bingung. “Kenapa?” bentak Akuwu pula.

“Bibi dan Tuanku Putri minta aku membawa kemari.”

Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”

Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu

(9)

“Ampun Tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah duli Tuanku.”

Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya. “Apa?” ia bertanya.

“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”

“Ke ruang dalam,” berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.

“Hamba Tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata keliru.”

“He,” kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil membelalakkan matanya, “Apa yang keliru?”

Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan memancar api yang menyala dari dadanya.

Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi Akuwu itu membentak keras-keras, “Apa yang keliru he, apa?”

“Ampun Tuanku,” emban tua itu menyembah. Dicobanya mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas, “Hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke istana ini.”

“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,” potong Akuwu Tunggul Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang kau katakan itu keliru.”

Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata, “Ampun Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu di luar regol. Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”

(10)

Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara. Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun justru karena itu, maka akuwu itu seperti terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu.

Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.

Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan

menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan.

Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya, emban tua itu berkata, “Namun Tuanku, bukan salah anak muda itu. Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia tidak mendapat izin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”

Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru karena kemarahannya, “Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”

“Hamba, Tuanku”

“Hanya karena terlalu lama menunggu?” “Hamba, Tuanku.”

“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama menunggu di luar.”

(11)

“Gila!” teriak Akuwu, “Kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan? Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menunggu perintahku. Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu,

seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu bertahun-tahun dan selama hidupnya.”

Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.

“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan, kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan

waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku

menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara lain.”

“Bukan salahnya, Tuanku,” potong emban tua itu, “Bukan salah Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru. Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengizinkan anak itu, sehingga hamba berpesan demikian.”

“Itu adalah sangkamu saja bukan?” teriak Akuwu semakin keras, “tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak muda itu supaya ia menunggu?”

“Hamba, Tuanku. Itulah kesalahan hamba.”

“Tutup mulutmu!” teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “Sekali kau membuka mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”

Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.

Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan

(12)

berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun di malam hari, kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang. Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang

dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen apabila ia harus terlalu lama menunggu di luar regol. Ternyata anak muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu

membebankan kesalahan itu kepada dirinya.

Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi mengalir seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya

keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana, melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku sebagai seorang Akuwu.”

“Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaik-baiknya. Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa

menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan.”

“Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan

(13)

Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki kesalahan Mahisa Agni.”

Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi. Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan itu.

“Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang dapat memberinya sesuatu,” katanya di dalam hati, “bukankah selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu?”

Kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya. Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu dikejar oleh perasaan bersalah.

Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah. Kata-katanya masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat memberimu kesempatan lagi.”

Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya.

Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang bagaikan bara yang sedang menyala itu.

Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru berpaling. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah beberapa langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.

Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes di antara mereka, maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak

(14)

terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat.

Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu

sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.

Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan yang dapat aku berikan kepada kalian.”

Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba

menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan Tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah hamba menerima hukuman hamba dua lipat ganda, asal Tuanku sudi mempertimbangkan hukuman yang Tuanku berikan kepada Mahisa Agni.”

“Tutup mulutmu!” kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “Akulah Akuwu Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan kau. Kau dengar, he?”

Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya

menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan. Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara dan kakinya menghentak-hentak lantai.

“Besok sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat hukuman mati. Kau dengar?”

(15)

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen, sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel.

Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada di mana saja. Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat membangun bendungan di daerah itu.

Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula. Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul

Ametung dari Tumapel ini adalah kewajibanmu. Kewajiban itu harus selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari, kau dengar?”

Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam. Mereka sudah tahu benar sifat-sifat akuwunya, sehingga mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat

menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya.

Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka harus menyembah dan siap melakukannya.

Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya menundukkan wajahnya dalam-dalam pula.

(16)

Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keras-keras, “Ayo pergi! Apa yang kalian tunggu di sini? Pergi dari halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”

Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak, “Pergi! Pergi sebelum aku memaksamu pergi.”

Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua prajurit itu pun menyembah sambil berkata, “Hamba akan

menjalankan perintah Tuanku.”

Kemudian kepada emban tua, kedua prajurit itu berkata dengan bimbang, “Marilah Bibi, aku harus menjalankan perintah Tuanku Akuwu.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak dibebani oleh perasaan takut, cemas dan pedih. Apa yang harus dilakukan itu dihadapinya dengan penuh ketabahan seorang yang telah, mengendapkan hatinya.

Tetapi ketika emban tua itu bergerak sambil berbisik kepada Ken Dedes, “Sudahlah Nini. Tinggallah di sini. Semoga kau bahagia untuk seterusnya.”

Maka gadis itu pun tak dapat menahan perasaannya. Emban itu adalah pemomongnya. Pemomongnya sejak ia masih kanak-kanak. Pemomongnya yang seakan-akan telah menggantikan ibunya yang hampir-hampir belum pernah dikenalnya.

Emban itu adalah seorang perempuan tua yang sangat baik baginya. Yang mendukung pada saat ia masih seorang anak-anak, menyuapinya dan membelainya menjelang tidur. Melagukan

(17)

tembang yang sejuk dan bercerita tentang burung podang yang berdendang dipupus pisang dalam cerita Kirana pada masa yang baru saja silam.

Kini ia melihat perempuan itu mendapat bencana karena

usahanya untuk melapangkan jalannya menuju ke tempat yang tak pernah diimpikan di saat kanak-kanaknya, bahkan sampai saat terakhir sebelum ia berada di istana ini pun, Ken Dedes tidak pernah membayangkan bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang

permaisuri Akuwu Tumapel.

Karena itulah maka betapa perasaannya tidak rela melihat embannya harus meninggalkan istana, bahkan meninggalkan

Tumapel dalam buangan. Merantau dari satu tempat ke lain tempat. Berjalan terbungkuk-bungkuk karena umurnya yang telah menjadi semakin tua tanpa tempat untuk hinggap. Siang hari kepalanya akan dibakar oleh terik matahari, sedang di malam hari, kulitnya yang telah berkeriput akan digigit oleh dinginnya embun malam.

Ken Dedes yang dilanda oleh luapan keharuan itu tiba-tiba menangis sambil memeluk emban tua itu. Terdengarlah suaranya terbata-bata, “Bibi, aku ikut kau Bibi. Tak ada tempat yang paling baik bagiku daripada kelembutan pelukanmu.”

“Jangan putri,” jawab emban itu cepat-cepat, “jangan. Kau telah menemukan tempat berpijak yang mantap. Ayahmu adalah seorang yang baik dan tekun dalam pengabdiannya kepada yang Maha Agung serta kepada sesama. Kini karunia telah melimpah kepadanya, lewat putrinya yang tunggal.”

“Tidak. Tidak Bibi. Aku tidak dapat hidup dalam kesepian. Aku tidak dapat terpisah dari orang-orang yang baik kepadaku. Bibi dan Kakang Mahisa Agni. Kalau kalian berdua hidup dalam pembuangan, apakah aku dapat hidup tenteram di dalam istana ini.”

“Nini,” potong emban tua itu, “jangan seperti kanak-kanak lagi. Kau sudah dewasa. Pandanglah ke depan. Hari-hari yang

(18)

“Tidak Bibi, tidak,” Ken Dedes itu menangis semakin keras. Pelukannya pun menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu Akuwu Tumapel yang sedang marah, berdiri tegak di hadapan mereka seperti patung. Betapa keras hatinya, sekeras batu akik, namun ketika ia melihat Ken Dedes menangis memeluk emban tua yang dianggapnya berdosa itu pun hatinya menjadi luluh. Sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi Akuwu

Tumapel, ia hanya bergaul dengan para prajurit dan para pimpinan pemerintahan. Berlatih dalam olah keprajuritan, jaya kawijayan dan kanuragan. Berbicara tentang Tumapel dan apabila ia jemu

menghadapi suatu keadaan, maka segera ia membawa beberapa orangnya keluar istana, pergi berburu. Itulah sebabnya, maka Akuwu Tunggul Ametung jauh dari pengenalan watak seorang perempuan. Karena itu, ketika ia melihat seorang gadis menangis di hadapannya, maka ia menjadi bingung. Kemarahannya yang telah memuncak, tiba-tiba seperti dihanyutkan oleh arus air mata Ken Dedes.

Terdengar Tunggul Ametung itu menggeram perlahan-lahan. Gadis itu tidak boleh berduka. Gadis yang telah menjerat hatinya, bukan saja karena wajahnya dan tubuhnya, namun juga terasa seakan-akan gadis itu memiliki sesuatu yang dikaruniakan oleh Yang Maha Agung. Ketika seakan-akan ia melihat sinar yang memancar dari jantung gadis itu telah tebersit di hatinya, gadis ini adalah gadis pilihan untuk melaksanakan sesuatu maksud dari Yang Maha Agung bagi tanah tempat kelahirannya.

Dalam kebingungan itu, Akuwu masih mendengar emban Ken Dedes itu berkata, “Nini, jangan dihanyutkan oleh perasaan

kekanak-kanakan. Kau harus melihat kepentingan yang lebih besar. Kepentingan yang jauh lebih berharga dari perempuan tua ini.”

“Tidak, tidak,” Ken Dedes masih menangis. Ia seakan-akan sudah tidak dapat mendengar apapun lagi. Hatinya meronta melihat

peristiwa yang menggores perasaannya itu.

Emban tua itu pun menjadi bingung. Tangis momongannya telah menyentuh perasaan harunya pula. Ternyata gadis itu adalah gadis

(19)

yang dapat menghargai sikap orang lain kepadanya. Menghargai apa yang pernah dilakukannya. Namun karena itu, maka ia pun terdiam pula. Bahkan terasa sesuatu memanasi kerongkongannya.

Kembali ruangan itu menjadi sepi. Tangis Ken Dedeslah yang seolah-olah memenuhi ruangan. Tangis yang tulus, yang memancar dari dasar hatinya.

“Hem,” sekali lagi terdengar Tunggul Ametung menggeram perlahan-lahan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus menghibur Ken Dedes supaya ia tidak menangis lagi. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah berjalan mondar-mandir sambil berdesah berkali-kali.

Kedua prajurit yang duduk di belakang emban tua itu pun menjadi bingung. Sejak semula mereka telah ragu-ragu untuk melakukan perintah akuwu. Mereka sama sekali tidak dapat

mengerti, kenapa emban tua itu telah menyalahkan dirinya sendiri, dan bahkan dengan tabah dan tenang mendengarkan hukuman yang harus di jalankan. Apalagi kini ia melihat putri bakal permaisuri akuwu itu menangis memeluknya dan bahkan seolah-olah hukuman yang diberikan kepada perempuan tua itu harus diberikan kepada dirinya pula.

Orang-orang yang duduk di dalam ruangan itu, benar-benar telah dicengkam oleh kebingungan. Kebingungan menghadapi persoalan masing-masing. Persoalan yang berbeda-beda, namun mempunyai titik singgungan yang sama. Bahkan pelayan yang telah membawa mereka menghadap pun duduk dengan mulut ternganga sehingga ia menjadi kehilangan kesempatan untuk menanggapi peristiwa itu dengan kesadarannya.

Akuwu yang berjalan mondar-mandir masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia berhenti, berpaling memandangi Ken Dedes yang masih menangis, namun kemudian kembali ia menundukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi saat ini baginya terasa jauh lebih berat, daripada ia harus menghadapi musuh yang datang dengan prajurit segelar sepapan.

(20)

Kesepian yang tegang, tangis Ken Dedes dan desah nafas perempuan itu, terasa sangat menyesakkan nafas Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan kemudian kepalanya terasa menjadi pening, dan kemudian kehilangan akal untuk mengatasi keadaan.

Tangis Ken Dedeslah yang semakin lama menjadi kian surut. Gadis itu kemudian mencoba menenangkan hatinya, ketika dengan lembut pemomongnya berkata, “Jangan menangis putri. Kau bukan lagi seorang anak kecil yang hanya pandai menangis. Aku sekarang sudah tidak kuat lagi mendukungmu sambil berdendang kidung yang luruh supaya kau tertidur. Aku tidak lagi dapat membelai rambutmu sambil bercerita tentang seekor kancil yang cerdik. Cerita untukmu kini harus sudah berbeda, Nini. Cerita yang baik bagimu adalah cerita tentang Arjuna dan Sumbadra. Dan aku tidak akan mampu menceritakan kepadamu. Karena itu, jangan menangis. Angkatlah wajahmu. Pandang hari depan dengan penuh gairah untuk menyongsongnya.”

Tangis Ken Dedes kemudian benar-benar mereda. Gadis itu benar-benar mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak memandang hari depannya dalam lingkungan yang sempit. Peristiwa yang telah terjadi atasnya, benar-benar telah membentuknya menjadi dewasa. Karena itu tiba-tiba timbullah pikiran di dalam hatinya, “Akulah yang akan menemui Kakang Mahisa Agni.”

Pikiran itu kemudian membulat di dalam hatinya. Dengan tatag kemudian ia menyembah sambil berkata kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Ampun Tuanku, apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan perasaan hamba?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar suara Ken Dedes. Gadis itu kini sudah tidak menangis lagi, meskipun sekali-sekali tangannya masih sibuk mengusap air matanya.

“Berkatalah,” sahut Tunggul Ametung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepalanya itu masih terasa pening. Gadis itu sudah tidak menangis dengan sendirinya, sebelum ia dapat berbuat sesuatu untuk menenangkannya.

(21)

“Tuanku, yang pertama-tama hamba mohon maaf bagi Bibi Emban dan Kakang Mahisa Agni.”

Dahi Tunggul Ametung berkerut. Ia harus mempertimbangkan kembali keputusannya. Terasa dadanya bergetar. Untuk pertama kali ia mendapat tekanan dari seseorang dalam pertimbangannya untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun pada saat ia mengucapkan hukuman terhadap emban tua serta Mahisa Agni telah memerlukan suatu perjuangan di dalam dadanya, supaya ia sedikit dapat

mengendalikan dirinya, namun kini tekanan itu menjadi sangat sulit untuk dihindarkan. Hukuman yang sudah terlampau ringan itu masih harus dipertimbangkannya kembali.

Tetapi permohonan itu dilontarkan lewat mulut Ken Dedes. Apalagi permohonan ampun bagi seorang emban tua dan Mahisa Ani, bahkan apapun yang akan dimintanya, Akuwu itu pasti tidak akan kuasa menolaknya.

Tetapi ia adalah seorang Akuwu Tumapel. Di hadapannya duduk bersimpuh beberapa orang dan dua orang prajurit. Karena itu, maka bagaimanapun juga, namun ia masih harus tetap mempertahankan kewibawaan seorang akuwu.

Karena itu, maka untuk tidak melepaskan kekuasaan yang ada di tangannya, maka Akuwu itu berkata, “Kenapa kau mohon ampun untuk mereka itu Ken Dedes? Aku telah menjatuhkan hukuman atas mereka, karena mereka telah menghina Akuwu Tunggul Ametung. Apakah pertimbanganmu tentang itu?”

Sikap Ken Dedes pun kemudian benar-benar mengagumkan. Meskipun ia tetap dalam sikap yang sangat hormat, sambil

menyembah ia berkata, “Tuanku, kesalahan yang mereka lakukan sama sekali tidak mereka sengaja. Mereka sama sekali tidak ingin menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi keadaan telah

mendorong mereka, sehingga mereka mengabaikan perintah dan keinginan Akuwu. Kesalahan yang demikian menurut pendapat hamba, bukanlah kesalahan yang harus mendapat hukuman. Tetapi kesalahan yang demikian, adalah kesalahan yang terjadi bukan atas kehendak mereka sendiri.”

(22)

“Tidak!” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “Mereka tetap bersalah. Mahisa Agni telah menolak mewakili ayahmu dan telah menolak datang ke Tumapel beberapa waktu yang lampau. Bukankah itu suatu sikap yang menentang?”

“Tuanku,” jawab Ken Dedes, “Tuanku tidak dapat mengerti hubungan yang ada antara hamba dan Kakang Mahisa Agni. Hamba adalah saudara muda, sehingga memang kurang pantaslah apabila hamba memanggil Kakang Mahisa Agni. Menurut sopan santun keluarga, hambalah yang harus datang kepadanya.”

“Tetapi kedudukanmu dapat kau pergunakan sebagai alasan untuk memanggilnya. Kau adalah bakal permaisuri Tumapel.”

“Kedudukan itu datang kemudian. Tetapi susunan keluargaku itu sudah ada sejak aku lahir. Karena itu Tuanku, hamba mohon izin sekali untuk menemui Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba dapat bertemu, maka semuanya akan menjadi baik. Tidak ada sedikit pun geseran perasaan di antara kita. Hamba, Kakang Mahisa Agni dan Tuanku, sehingga Tuanku tidak perlu mempergunakan cara yang lain yang seolah-olah Tuanku mempergunakan kekuasaan Tuanku untuk kepentingan ini.”

Sekali lagi Tunggul Ametung itu berpikir. Ia tidak dapat menolak permohonan itu, tetapi ia harus bijaksana untuk meluluskannya. Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung, yang biasanya berbuat apa saja sesuka hatinya, bahkan selalu menuruti perasaannya yang meledak-ledak setiap saat, kini harus mempertimbangkan perbuatannya.

Akhirnya Akuwu itu pun menemukan jawaban pula, katanya, “Ken Dedes. Meskipun kau belum seorang permaisuri, namun kau sudah aku anggap memiliki kesempatan seperti seorang permaisuri. Seorang permaisuri dapat mengajukan beberapa permohonan yang akan dipertimbangkan oleh Akuwu. Kalau saat ini kau mohon aku mengampuni emban tua serta Mahisa Agni, maka aku pun akan melakukannya, namun aku mempunyai syarat untuk itu.”

(23)

Sekilas wajah Ken Dedes menjadi cerah mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau benar Akuwu mengampuni mereka, maka emban tua itu tidak akan pergi dari sisinya, dan Mahisa Agni pun tidak akan lenyap dari keluarganya.

Namun sesaat kemudian kening Ken Dedes berkerut kembali. Akuwu memberikan pengampunan, namun Akuwu mempunyai syarat untuk itu.

Tetapi Ken Dedes tidak bertanya, apakah syarat yang di

kehendaki oleh Tunggul Ametung. Ia menunggu sampai Akuwu itu mengatakannya.

Ternyata sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung

menyambung kata-katanya, “Ken Dedes. Syarat itu sama sekali tidak berarti. Aku ampuni kesalahan emban tua itu beserta Mahisa Agni, apabila Mahisa Agni bersedia datang menyelesaikan segala persoalan ini dan segera kita dapat memasuki suatu dunia baru tanpa kerikil-kerikil tajam dan batu-batu yang dapat menjadi hambatan-hambatan kecil bagi perasaan kita.”

Mendengar syarat yang diajukan oleh Tunggul Ametung itu Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia telah mendengar dari pemomongnya apa yang sebenarnya terjadi. Syarat itu sebenarnya sama sekali tidak terlampau berat. Syarat yang tidak berlebih-lebihan, bahkan hanyalah sekedar pelengkap dari pengampunan yang diberikan oleh Tunggul Ametung karena ia telah terlanjur menjatuhkan putusan untuk menghukum emban tua dan Mahisa Agni.

Tetapi bagi Ken Dedes dan pemomongnya, syarat itu benar-benar telah membebani perasaan mereka. Emban tua itu merasa, bahwa baginya sama sekali sudah tidak ada jalan lagi untuk dapat membawa Mahisa Agni ke Tumapel. Tidak ada gunanya lagi apabila ia datang dan dengan pengaruh seorang ibu, minta Mahisa Agni datang ke Tumapel menyelesaikan persoalan yang masih

menyangkut perasaan Akuwu Tunggul Ametung sebelum ia

mengambil keputusan untuk mengambil cara lain, cara yang kasar, dan cara yang tidak terpuji.

(24)

Tanpa dikehendakinya sendiri emban tua itu menggeleng lemah, sedang Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku minta syarat itu dipenuhi, seperti aku mencoba memenuhi permohonan pengampunan itu.”

Sejenak mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba untuk menemukan jawab atas persoalan yang membelit hati masing-masing.

Dalam keheningan itu maka tiba-tiba Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dengan takzimnya ia menyembah sambil berkata, “Tuanku. Biarlah hamba mencoba untuk memenuhi syarat yang Tuanku berikan. Hamba mohon izin, untuk pergi ke Panawijen menemui Kakang Mahisa Agni.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetap kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Bukan maksudku supaya kau menemui Mahisa Agni. Pembicaraan itu tidak hanya sekedar memuaskan perasaanmu saja, tetapi aku juga ingin mendengar dan mendapat ketenteraman dari pembicaraan itu.”

“Maka hamba Tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba ingin mencoba membawa Kakang Mahisa Agni kemari.”

Sekali lagi Akuwu itu berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak rela untuk melepaskan Ken Dedes itu pergi. Ken Dedes baginya seakan-akan barang yang paling berharga di muka bumi, sehingga apabila ia kehilangan gadis itu, maka hidupnya pasti akan menjadi

terlampau sunyi.

Karena itu Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sangat berkeberatan untuk mengizinkannya, tetapi sekali lagi ia tidak ingin menyakitkan hati gadis itu. Sehingga dengan demikian, Akuwu itu kembali dihadapkan pada keragu-raguan.

Namun Akuwu itu tidak dapat menduga, bahwa Ken Dedes sebenarnya telah membuat rencana sendiri pula untuk itu. Sejak Mahisa Agni menolak mewakili ayahnya untuk menemui Tunggul

(25)

Ametung, hatinya telah merasa kecewa. Apalagi kejadian-kejadian yang kemudian susul menyusul. Ken Dedes merasa bahwa Mahisa Agni marah kepadanya Tetapi Ken Dedes tidak dapat meraba dengan tepat, alasan yang telah menahan Mahisa Agni untuk memenuhi permintaannya. Ken Dedes hanya dapat menyangka, bahwa Mahisa Agni merasa bahwa ia telah melampauinya. Bahwa ia tidak minta pertimbangannya sebelum ia menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Ken Dedes kecewa atas sikap itu. Harga diri yang berlebihan. Seakan-akan Mahisa Agnilah yang berhak mengambil keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Akuwu Tunggul Ametung sepeninggal ayahnya. Bahkan setelah Mahisa Agni sampai di dalam istana, ia masih juga merajuk. Meninggalkan istana hanya karena merasa terlampau lama menunggu.

Di dalam hati Ken Dedes itu tumbuh juga keinginannya untuk menunjukkan kedewasaannya kepada kakaknya. Ia ingin

melepaskan kejengkelannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memiliki juga sesuatu yang memberinya wewenang untuk

mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bahkan Ken Dedes itu ingin menunjukkan beberapa kelebihan yang dimilikinya kini. Kesempatan yang tak akan datang lagi sepanjang hidupnya. Kalau kakaknya marah kepadanya, karena ia seakan-akan hanya menuruti kehendaknya sendiri, maka ia akan menunjukkan unsur-unsur yang telah memaksanya untuk mengambil sikap.

Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni dianggapnya masih saja

mengenangkan sahabatnya, Wiraprana. Ken Dedes merasa bahwa ia sama sekali tidak mengkhianati Wiraprana. Ia mencintai

Wiraprana sedalam-dalamnya. Bahkan pada saat Wiraprana itu terbunuh, ia rela seandainya ia mati sama sekali. Tetapi ketika saat-saat itu telah berlalu, maka apakah ia masih juga harus selalu dibayangi oleh duka hatinya itu? Seandainya Wiraprana itu kini sedang pergi merantau, maka beberapa puluh tahun lagi ia akan menunggunya dengan setia. Bahkan sampai matinya sekalipun. Tetapi Wiraprana itu sudah tidak akan kembali. Tidak akan, sampai kapan pun. Namun ia harus mempunyai alasan yang cukup untuk

(26)

memenuhi rencananya itu, dan Ken Dedes telah menemukan alasan itu.

Karena itu selagi Akuwu Tunggul Ametung bimbang hati untuk mengambil keputusan atas permohonan Ken Dedes itu, tiba-tiba ia mendengar gadis itu berkata, “Tuanku. Meskipun hamba akan mencoba untuk memanggil Kakang Mahisa Agni, namun hamba mohon agar Tuanku mengizinkan hamba datang ke Panawijen tidak sebagai seorang gadis pedesaan. Hamba mohon Tuanku

mengizinkan hamba datang ke Panawijen sebagai seorang calon permaisuri. Ada berbagai pertimbangan yang dapat hamba berikan. Di antaranya hamba takut kalau hamba akan bertemu dengan Kuda Sempana yang melarikan diri itu.”

Tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berpaling, bahkan kemudian memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Sesaat ia termenung, namun kemudian wajah Akuwu yang tegang itu mengendur.

Tunggul Ametung itu bahkan kemudian tersenyum, katanya, “Ken Dedes, apa yang kau minta itu justru telah ada di dalam kepalaku. Aku tidak ingin melepaskan kau sendiri, sedang aku tidak akan dapat mengantarmu ke Panawijen karena aku seorang

Akuwu.”

Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Di dalam hatinya ia berkata untuk yang pertama kali, “Kalau aku bukan seorang Akuwu.”

Namun ketika ia meneruskan berkatalah ia, “Ken Dedes, aku akan memenuhi permintaanmu. Kau akan datang ke Panawijen bukan saja sebagai seorang bakal permaisuri, tetapi kau akan datang sebagai seorang permaisuri. Prajurit pengawal akan mengantarmu di bawah pimpinan Witantra sendiri. Witantra akan membawa pasukannya seperti ia mengawal aku, dalam barisan kebesaran Tumapel.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban Akuwu itu atas permintaannya. Ternyata Akuwu memberikan lebih banyak dari yang diharapkan. Namun Ken Dedes menjadi berbesar hati

(27)

karenanya. Ia ingin menebus kejengkelannya atas Mahisa Agni. Ia ingin menunjukkan kepada Mahisa Agni, apa yang dapat dicapainya, apa yang tersedia untuknya, sehingga Mahisa Agni akan menyadari, bahwa kesempatan ini memang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan yang datang sepeninggal Wiraprana, bukan kesempatan yang memaksanya untuk berkhianat.

Karena itu maka Ken Dedes segera menyembah, “Ampun Tuanku, apabila berkenan di hati Tuanku, hamba mengucapkan beribu terima kasih untuk kemurahan Tuanku.”

“Itu adalah hakmu Ken Dedes, hakmu sebagai seorang permaisuri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi kini wajahnya kembali terhunjam ke lantai istana yang mengkilap. Ia menjadi sangat terharu atas kesempatan yang didapatnya kini. Namun karena itulah maka ia kembali terkenang kepada ayahnya. Katanya di dalam hati, “Seandainya ayah masih ada di Panawijen. Ayah akan ikut serta menikmati karunia yang besar ini. Tetapi ayah itu telah pergi, justru karena aku meninggalkannya, mendaki kesempatan yang

diperuntukkan kepadaku ini.”

Tiba-tiba air mata gadis itu berlinang. Ketika air matanya tetes satu-satu, Akuwu Tunggul Ametung terkejut. Kenapa Ken Dedes itu tiba-tiba menangis lagi? Tetapi Akuwu itu sama sekali tidak dapat mengerti perasaan haru yang mencengkam hati Ken Dedes, sehingga karena itu, maka kembali Akuwu itu menjadi gelisah.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi

gelisah. Meskipun alasannya berbeda, namun emban tua pemomong Ken Dedes itu pun tidak kalah gelisahnya. Kalau benar Ken Dedes akan datang dengan upacara kebesaran seorang permaisuri, alangkah pedihnya hati Mahisa Agni.

“Kasihan anak itu,” desah ibu Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mencegah Ken Dedes yang akan mendapat pengawalan menurut upacara

(28)

oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kuda Sempana. Bahkan mungkin Akuwu telah memperhitungkan bahwa mungkin sekali Kuda

Sempana telah bergabung dengan orang-orang yang tidak disukai, sehingga merupakan sekelompok kecil bencana yang dapat

menghadang di tengah jalan.

Dengan demikian, maka emban tua itu hanya dapat menekan perasaannya. Alangkah mahalnya tebusan bagi pengampunan ini. Kalau ia bukan ibu Mahisa Agni, maka ia akan dengan senang hati mengikuti upacara kebesaran momongannya, dalam iringan yang megah, berjalan ke Panawijen. Tetapi ia tahu benar, bahwa di Panawijen sebuah hati akan terpecah-belah. Hati itu adalah hati anaknya.

Ken Dedes sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan rapat-rapat di dalam hati Mahisa Agni. Menurut keluhan gadis itu yang telah didengarnya, Ken Dedes menganggap bahwa Mahisa Agni terlampau tinggi hati. Hanya karena ia tidak diajak berbincang mengenai lamaran Akuwu, maka Mahisa Agni, sebagai seorang saudara tua, merasa tersinggung.

“Bukan sekedar itu,” teriak emban itu di dalam hatinya, “bukan sekedar karena ia tersinggung. Betapa Mahisa Agni merelakan dirinya sendiri terhempas ke tepi, tetapi ia adalah seorang anak muda. Anak muda, bukan anak yang turun dari langit, sehingga dapat menjadikan dirinya luar biasa dalam ketahanan tubuh dan perasaannya. Ia adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Apalagi seorang ibu yang hina seperti aku ini.”

Namun kembali emban itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mampu mencegah Ken Dedes menunjukkan kesempatan yang telah memaksanya menerima lamaran Tunggul Ametung. Emban itu tahu benar bahwa Ken Dedes bermaksud mengatakan kepada Mahisa Agni, “Kakang, aku bukan orang gila yang dapat melepaskan kesempatan ini. Lihat, aku datang dengan upacara kebesaran. Aku harus menerima ini, dan kau pun harus bangga atas kesempatan yang diperoleh oleh adikmu ini. Panawijen

(29)

harus bangga, karena pilihan Akuwu jatuh kepada gadis dari Padukuhan ini.”

Tetapi emban itu tidak berkata sepatah kata pun. Yang kemudian didengarnya adalah kata-kata Ken Dedes parau, “Tuanku, Akuwu. Kalau Tuanku telah berkenan, maka biarlah hamba segera akan berangkat untuk mencoba memenuhi keinginan Tuanku. Hamba akan mencoba membawa Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba gagal, maka terserahlah kepada Tuanku untuk melakukan apa yang baik untuk Tuanku.”

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Tunggul Ametung. “Secepatnya Tuanku.”

“Baik. Besok aku akan mengadakan persiapan. Lusa kau sudah dapat pergi.”

“Terima kasih Tuanku. Hamba akan melakukan perintah Tuanku untuk seterusnya.”

Akuwu itu pun tersenyum pula. Ia telah melupakan segala persoalan-persoalan lain. Ia telah melupakan hukuman yang diucapkan. Ia telah melupakan Mahisa Agni yang pergi

meninggalkan istana hanya karena terlampau lama menunggu. Kini ia hanya berpikir tentang kesempatan yang akan diberikannya kepada Ken Dedes. Besok lusa.

Demikianlah maka sejenak kemudian Ken Dedes, emban tua dan para prajurit itu pun bermohon diri dari hadapan Akuwu Tunggul Ametung, setelah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan. Akuwu telah menyanggupi Ken Dedes untuk menyiapkan

pengawalan dalam waktu dua atau tiga hari. Namun secepat itu selesai, secepat itu pula Ken Dedes harus berangkat. Besok Akuwu akan memanggil Witantra dan mendengar pendapatnya. Seterusnya persiapan itu akan banyak tergantung pada Witantra itu sendiri.

Ketika ruangan itu telah sepi, Akuwu masih saja berjalan mondar-mandir. Ia menjadi riang tanpa disadarinya. Meskipun Mahisa Agni tidak menghadapnya malam ini, tetapi ia senang bahwa

(30)

Ken Dedes telah memajukan permohonan kepadanya. Permohonan tentang sesuatu yang segera dapat diberikannya. Bagi Akuwu Tunggul Ametung, hal itu telah merupakan suatu kepuasan tersendiri. Memberikan sesuatu kepada seorang gadis yang dicintainya.

“Apalagi permintaan-permintaan kecil itu, Ken Dedes,” katanya di dalam hati, “Tumapel ini adalah milikmu. Cahaya yang memancar dari pusat jantungmu adalah pertanda, bahwa kau seorang gadis yang akan mampu memberikan sesuatu kepada tanah ini.”

Tiba-tiba Akuwu itu berteriak memanggil pelayan yang menunggui pintu ruang itu. Dengan tergesa-gesa pelayan itu berjalan tersuruk-suruk, kemudian setelah ia melihat Akuwu di dalam biliknya, pelayan itu pun berjalan jongkok perlahan-lahan. Ketika ia sedang menyembah, ia hampir terloncat karena terkejut.

Didengarnya Akuwu itu membentaknya, “Cepat, panggil Daksina! Bawa kemari kakawin Barathayuda.”

“Hamba Tuanku,” sembah pelayan itu sambil bergeser surut. “Cepat!” teriak Akuwu itu pula.

Pelayan itu pun cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Dengan berlari-lari kecil ia pergi ke halaman belakang mencari Daksina.

Tetapi anak itu tidak berada di dalam rumahnya. Karena itu maka dengan gelisah pelayan itu bertanya kepada orang di rumahnya, “Di mana Daksina?”

“Kenapa? Ia baru keluar.” “Malam-malam begini?”

“Ya. Mungkin di gardu-gardu penjaga.” “Apa kerjanya?”

“Bercerita. Ia terlampau banyak membaca sehingga kepalanya menjadi penuh. Karena itu kadang-kadang ia memerlukan tempat penuangan cerita-cerita yang tersimpan di kepalanya.”

(31)

“Omong kosong!” sahut pelayan itu, “Daksina tahu betul kalau para peronda sering membawa jenang alot atau ketan serundeng. Nah, untuk itu ia melayap ke gardu-gardu.”

“Mungkin. Tetapi apakah ada sesuatu yang penting.” “Oh. Akuwu memanggilnya.”

Orang serumah itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Setiap kali Akuwu memerlukan anak itu harus ada. Meskipun demikian orang itu bertanya juga, “Malam-malam begini?”

“Ya.”

Orang itu segera menjadi gelisah, “Baiklah, aku akan mencarinya.”

“Aku juga harus mencarinya,” berkata pelayan itu, “sebelum Akuwu menjadi marah.”

Keduanya segera pergi untuk mencari Daksina. Ternyata benar dugaan mereka, Daksina berada di gardu belakang, menunggui para peronda sambil ikut serta menghabiskan bekal mereka. Ketan

serundeng. Tetapi para peronda itu senang juga apabila Daksina ada di antara mereka. Banyak sekali cerita yang dapat

disampaikannya kepada para peronda untuk mencegah kantuk. Ketika ia mendengar bahwa Akuwu memanggilnya, segera ia berlari. Untunglah bahwa lontar kakawin Barathayuda berada di rumahnya sehingga ia tidak perlu mencarinya di bilik perpustakaan. Dengan tergesa-gesa ia membawa lontar itu menghadap ke bilik Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi alangkah kecewanya ketika ia sampai di muka bilik, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sudah tertidur masih dalam pakaiannya. Bahkan pintunya pun masih juga terbuka.

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung. Kalau ia pergi, dan kemudian Akuwu itu terbangun, maka segera Akuwu itu akan teringat bahwa ia telah memerintahkan memanggilnya. Tetapi apakah kemudian ia harus menunggui Akuwu itu tidur?

(32)

Bagaimana kalau Akuwu itu kemudian tidak terbangun lagi sampai pagi?

Tetapi kemudian Daksina tidak berani meninggalkan bilik itu. Dengan terkantuk-kantuk ia duduk di muka pintu. Bahkan kemudian anak itu pun tertidur pula sambil memeluk lontarnya.

Di bilik lain, di sentong tengen, Ken Dedes masih duduk

berbincang dengan embannya. Ia kini sudah tidak dalam perawatan Nyai Puroni lagi. Perempuan yang banyak menyimpan perasaan iri terhadap gadis yang menurut pendapatnya sedang menyimpan wahyu di dalam tubuhnya.

“Bagaimana Bibi, menurut pendapatmu,” bertanya Ken Dedes kepada pemomongnya, “apakah kau tidak keberatan dengan rencanaku? Bukankah kau telah mengenal Kakang Agni seperti mengenal aku?”

Orang tua itu mengangguk. Tetapi wajahnya tampak menjadi semakin suram.

“Apakah kau mempunyai pendapat lain?”

Emban itu tidak segera menjawab. Kalau ada cara lain, maka ia akan mengusulkannya. Tetapi ia tidak segera menemukan. Ia tidak dapat minta Ken Dedes pergi sendiri, atau dengan seorang dua orang prajurit. Akuwu pasti tidak akan melepaskannya. Sebab adalah masuk akal apabila Kuda Sempana yang mendendamnya itu dapat berbuat hal-hal di luar perhitungan apabila anak muda itu tahu, bahwa Ken Dedes sedang berada di Panawijen.

Meskipun demikian emban tua itu berkata, “Nini, apakah kau perlu datang dengan segala macam kehormatan dan kebesaran itu?”

“Ya, Bibi, itu adalah satu kebanggaan bagiku, bagi Kakang Mahisa Agni dan bagi Panawijen. Dan kebanggaan ini harus membuka hati Kakang Mahisa Agni bahwa ia telah salah sangka selama ini. Ia tidak mendalami maksud Akuwu yang sebenarnya atas aku dan keluargaku.”

(33)

Emban tua itu menundukkan wajahnya. Kembali ia menyalahkan diri sendiri. Kalau ia mempunyai pengaruh sebagai seorang ibu atas Mahisa Agni dan membawa Mahisa Agni menghadap Akuwu

Tumapel, maka Mahisa Agni pasti tidak akan mengalami kepahitan yang lebih parah lagi.

Tetapi semuanya itu berada di luar kemampuannya. Mahisa Agni telah berhasil dibawanya ke Tumapel, tetapi belum lagi Mahisa Agni menghadap, apalagi menghadap Akuwu, bertemu dengan Ken Dedes saja pun belum.

Dalam pada itu terdengar Ken Dedes berkata, “Bibi, apabila benar Akuwu akan memperkenankan permohonanku, maka kau akan ikut serta. Bukankah kau telah rindu pula kepada padukuhan itu?”

Dada emban tua itu berdesir. Meskipun sebelumnya ia sudah menduga, bahwa ia pasti akan diminta untuk mengantarkan Ken Dedes itu pula. Tetapi gambaran-gambaran tentang anaknya, tentang Mahisa Agni telah sangat mempengaruhinya. Apakah ia harus menyaksikan betapa hati anaknya seperti diiris dengan sembilu. Apakah ia harus menyaksikan Mahisa Agni semakin parah ketika ia melihat Ken Dedes datang kepadanya dengan kebesaran seorang permaisuri? Apabila Mahisa Agni itu benar-benar kakak kandung Ken Dedes, maka kemarahan Mahisa Agni pasti akan sangat terbatas. Mungkin dugaan Ken Dedes benar, bahwa Mahisa Agni marah karena tersinggung perasaannya sebagai seorang saudara tua. Tetapi Mahisa Agni tidak sekedar tersinggung perasaannya. Tidak sekedar karena tidak diajaknya berbincang mengenai lamaran Tunggul Ametung. Tidak.

Ketika emban tua itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes mendesaknya sekali lagi, “Bagaimana Bibi, bukankah kau ingin juga melihat kampung halaman itu? Sungainya yang jernih, bendungan yang megung, sawah ladang yang hijau. Alangkah segarnya setelah aku sekian lama terkurung di dalam bilik yang sempit ini.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak, Nini.”

(34)

“He,” Ken Dedes benar-benar terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tak disangka-sangka, “kau tidak ingin ikut ke

Panawijen?”

Sekali lagi emban itu menjawab, “Tidak, Nini. Biarlah aku menunggumu di sini.”

“Bibi,” bertanya Ken Dedes dengan herannya, “kenapa Bibi tidak ingin turut ke Panawijen?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang suram tertunduk ke lantai. Alangkah berat hatinya mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia tidak ingin terpisah dari momongannya.

Momongan yang sejak kecil selalu dalam dukungannya. Sebenarnya sepotong hatinya ingin mengajaknya serta dalam satu arak-arakan yang meriah, mengunjungi kampung halaman yang sudah sejak bertahun-tahun didiaminya. Namun belahan hatinya yang lain menahannya. Ia tidak akan sampai hati menyaksikan anaknya, anaknya sendiri, meskipun tidak pernah dibelainya di saat-saat menjelang tidur, mengalami guncangan-guncangan perasaan.

Tetapi emban itu merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri saja. Ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes, sehingga dengan ragu-ragu dijawabnya saja dengan alasan-alasan yang dicari-carinya, “Nini, aku tidak dapat pergi ke Panawijen. Perjalanan itu akan memerlukan waktu. Aku akan terlampau lelah. Mungkin Nini akan mempergunakan tandu dalam perjalanan itu. Tetapi aku akan berjalan kaki. Aku sudah terlampau tua Nini.”

“Tidak bibi,” potong Ken Dedes, “apabila disediakan tandu untukku, maka Bibi akan berada di dalam tandu itu pula.”

“Ah,” sahut emban itu, “tandu itu akan terlampau berat.” “Aku akan minta disediakan tandu yang lain.”

Emban itu menggeleng, “Tidak Nini. Banyak yang memberati hatiku. Aku adalah seorang perempuan cengeng. Perempuan perasa. Mungkin aku tidak akan tahan lagi melihat padepokan yang sepi itu. Mungkin hatiku akan menjadi pedih.”

(35)

“Oh,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku juga pasti akan mengalami perasaan semacam itu bibi. Tetapi marilah kita melihat kenyataan. Kepahitan hidup adalah sesuatu yang sama sekali tidak kita ingini. Tetapi apabila hal itu datang kepada kita sebagai suatu kenyataan, kita tidak akan dapat memejamkan mata kita. Kita tidak harus lari daripadanya, mencari kepuasan-kepuasan lain yang mungkin akan menjerumuskan kita kepada kesulitan-kesulitan baru. Padepokan yang kosong itu jangan menjadi hantu bagi kita bibi. Marilah kita lihat, apakah kita masih mungkin untuk mengisinya kembali, menyegarkannya seperti masa-masa lampau, setidaknya mendekati masa-masa-masa-masa itu?”

Emban tua itu mengangkat wajahnya Ketika terpandang olehnya wajah gadis momongannya itu, maka emban tua itu tertunduk kembali. Dalam sekilat, teraba oleh orang tua itu, bahwa Ken Dedes sebenarnya tidak sedang menasihatinya. Tetapi gadis itu lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Gadis itu sedang mencoba memperteguh perasaannya sebelum ia sendiri melihat Panawijen. Sebelum ia melihat Padepokan ayahnya yang kini telah hampir-hampir menjadi kosong.

Emban itu tidak akan mengecewakan hati Ken Dedes atas nasihatnya yang lebih banyak diperuntukkan bagi diri gadis itu sendiri. Tetapi ia tidak dapat mempercayai dirinya, apakah hatinya yang telah lapuk karena umurnya itu masih akan mampu bertahan melihat hati yang terpecah belah.

Karena itu maka emban tua berkata, “Maafkan aku Nini. Aku terpaksa tidak dapat ikut serta ke Panawijen. Mudah-mudahan lain kali aku akan pergi. Baru kemarin aku melihat padukuhan itu. Baru kemarin hatiku menjadi sedih. Apakah besok atau lusa aku akan melukai hati ini kembali? Nini, biarlah aku agak memperpanjang umurku dengan melepaskan diri dari setiap kemungkinan yang dapat mendukakan hati.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Emban tua itu agaknya benar-benar tidak ingin pergi ke Panawijen, sehingga karena itu,

(36)

maka Ken Dedes tidak dapat memaksanya meskipun ia menjadi kecewa karenanya.

Meskipun demikian Ken Dedes itu tidak habis-habisnya dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang melingkar di dalam hatinya. Emban itu hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tetapi tiba-tiba kini ia mengelak ajakannya justru dalam kesempatan yang dapat dibanggakan.

“Apakah emban tua ini sependapat dengan Kakang Mahisa Agni,” pikir gadis itu. Tetapi ia tidak berani meyakinkan dirinya. Emban itu masih tetap terlampau baik kepadanya selama ini.

“Mungkin emban itu berkata dengan jujur. Hatinya sedih melihat Panawijen yang sepi,” berkata Ken Dedes pula di dalam hatinya. Bahkan kemudian ia sendiri menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan aku akan mengalami kesedihan seperti emban itu pula.”

Tetapi akhirnya Ken Dedes menemukan kemantapan, ia harus pergi. Bukan saja untuk meyakinkan Mahisa Agni bahwa sebenarnya maksud Tunggul Ametung cukup baik, tetapi juga untuk

membebaskan Mahisa Agni dan emban tua itu dari hukuman Akuwu Tunggul Ametung.

Ternyata kemudian Akuwu Tunggul Ametung memenuhi janjinya. Akuwu Tumapel itu telah memerintahkan kepada Witantra untuk mempersiapkan sebuah pengawalan yang cukup kuat dan megah bagi Ken Dedes yang akan pergi sendiri ke Panawijen untuk berbagai keperluan. Akuwu pun menyadari, bahwa Ken Dedes bukan saja ingin bertemu dengan Mahisa Agni, tetapi juga karena Ken Dedes telah merindukan kampung halamannya.

Dua hari diperlukan oleh Witantra untuk mempersiapkan diri beserta pasukannya. pasukan khusus pengawal Tunggul Ametung di bawah pimpinan Witantra sendiri. Di samping persiapan para

prajurit, telah dipersiapkannya pula sebuah tandu yang megah. Tandu yang akan dipergunakan oleh Ken Dedes.

Pada hari yang ditentukan, maka semua persiapan itu pun telah selesai. Witantra sendiri melihat semuanya dengan cermat. Sejak

(37)

para pelayan, yang akan memanggul tandu sampai para perwira prajurit yang akan menjadi paruh dari perjalanan ini.

Arak-arakan ini adalah arak-arakan yang terbesar yang pernah diadakan di Tumapel sejak ibunda Akuwu Tunggul Ametung

meninggal dunia. Tumapel sejak itu tak pernah dimeriahkan dengan sebuah arakan-arakan seperti ini. Sejak itu akuwu seakan-akan hidup dalam kemurungan. Sekali-sekali akuwu keluar juga dari istana. Tetapi tidak pernah dalam suatu bentuk arakan. Kalau akuwu ingin menikmati udara di luar istana, maka akuwu akan pergi berkuda dengan beberapa orang pengawal berburu ke hutan-hutan. Sekali-sekali akuwu sering pula melihat-lihat kotanya, Tumapel, namun selalu dalam sikap seorang prajurit.

Kini sejak seorang gadis Panawijen tinggal di dalam istana, maka seakan-akan Istana Tumapel menemukan kembali kesegarannya. Meskipun kebesaran Tumapel tidak pernah surut, namun

kebesarannya selama ini seolah-olah menjadi kering. Kini, gadis Panawijen itu seperti embun yang menetes di malam hari dan seperti gerimis yang jatuh di siang hari. Tumapel menjadi segar oleh kemeriahan.

Tiga hari kemudian sejak akuwu menjanjikan pengawalan itu kepada Ken Dedes, maka arak-arakan itu benar-benar telah terwujud. Di halaman dalam Akuwu Tunggul Ametung sendiri melepas arak-arakan itu.

Ken Dedes yang saat itu telah berada di dalam tandu menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah, “Hamba akan segera kembali, Tuanku.”

Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku telah memerintahkan kepada Witantra. Mereka harus segera kembali. Dan kau pun akan terbawa kembali pula.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah, “Tentu, Tuanku.”

Akuwu menganggukkan kepalanya. Ternyata anak Panawijen itu benar-benar telah memesonanya. Bahkan telah memesona segenap

(38)

rakyat Tumapel. Dalam pakaian yang indah, Ken Dedes benar-benar tampak bercahaya, seperti bintang pagi di tenggara.

Tetapi hati Ken Dedes itu berdesir ketika ia melihat emban pemomongnya berdiri di samping tandunya. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah kau benar-benar tidak dapat mengubah

pendirianmu, Bibi?”

Emban tua itu menarik nafas. Sambil menggeleng ia menjawab, “Maafkan, Tuan putri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Panggilan itu terasa janggal di telinganya apabila emban tua itulah yang mengucapkannya. Emban tua itu telah mengenalnya sejak kecil sebagai seorang gadis pedesaan. Bagaimana mungkin kini ia harus memanggilnya Tuan putri. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak berani menegurnya. Akuwu menghendaki panggilan itu bagi semua hamba Tumapel. Namun demikian pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati Ken Dedes masih belum dapat disingkirkannya. Apakah sebab yang sebenarnya emban itu tidak mau pergi bersamanya. Apakah ia berkata jujur, atau sekedar samudana.

Bahkan tiba-tiba Ken Dedes teringat kepada dukun tua yang merawatnya saat pertama kali ia masuk ke dalam istana ini. Jelas terbayang dan terungkapkan dalam kata dan perbuatan, dukun tua itu menjadi dengki atas karunia yang diterimanya. Apakah emban tua itu menjadi dengki pula.

“Tidak. Tidak mungkin,” terdengar suara di dalam dada Ken Dedes demikian tegasnya. Apalagi ketika kemudian ia melihat setitik-setitik air mata menetes dari mata yang cekung itu.

Ken Dedes menjadi terharu pula karenanya. Tetapi ia tidak pula dapat mengerti, apakah arti air mata itu?

Akhirnya arakan itu pun mulai bergerak. Emban tua, pemomong Ken Dedes, mencium momongannya pada punggung telapak tangannya. Terasa tangan itu menjadi basah.

(39)

“Selamat jalan Tuan putri. Hamba menunggu sampai Tuanku kembali.”

Ken Dedes mengangguk. Tetapi ia tidak dapat menjawab dengan kata-kata, karena tenggorokannya terasa tersumbat karenanya.

Ketika arak-arakan itu semakin lama menjadi semakin jauh, maka air mata emban tua itu pun mengalir semakin deras. Air mata yang menitikkan berbagai arti. Seperti bunga, maka air mata dapat berarti gembira, namun dapat pula berarti duka. Setitik air mata emban itu diperuntukkan bagi momongannya. Ia, emban tua itu, berbahagia dan bangga karenanya. Sedang setitik lainnya

diperuntukkannya bagi anaknya. Alangkah pedih hati anaknya itu. Akhirnya, ketika pangkal dari arak-arakan itu telah hilang di balik regol halaman dalam, maka emban tua itu pun segera menyadari keadaannya. Ketika ia berpaling, ternyata akuwu yang semula berdiri di atas tangga telah masuk pula ke dalam istana. Di sana-sini tinggal beberapa orang saja yang masih membenahi beberapa peralatan yang tinggal. Beberapa orang penjaga dilihatnya hilir mudik di muka regol halaman dalam itu.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan sambil menundukkan wajahnya, pergi ke biliknya di halaman belakang. Di situlah ia telah mendapatkan sebuah bilik tersendiri, sejak ia mengikuti Ken Dedes di Istana Tumapel. Dari muka bilik itu ia mendengar lamat-lamat suara Daksina berdendang. Ketika emban tua itu berpaling ke arah suara Daksina itu, dilihatnya anak itu duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Di tangannya tergenggam sepotong kayu watu dan sebilah pisau yang tajam. Anak itu ternyata lagi membuat sebuah patung ukiran.

“Seorang anak muda periang,” desis emban tua itu. Dalam pada itu dikenangnya anaknya yang murung. Mahisa Agni bukan

termasuk seorang anak muda periang seperti Daksina, meskipun bukan pula seorang pemurung. Namun tusukan perasaan yang dalam telah menjadikannya semakin kehilangan keriangannya.

(40)

“Pengaruh yang membentuknya menjadikannya demikian,” berkata emban itu di dalam hatinya, “Mahisa Agni berada di pengengeran sejak kanak-kanak. Ia harus selalu tekun belajar dan bekerja.”

Suara Daksina masih saja mengumandang di sela-sela gemeresik dedaunan di pagi yang bening. Seperti siul burung yang riang menyambar hari yang baru, suara Daksina terdengar semakin lama semakin segar.

Emban tua itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Betapa ia mencoba menyenangkan hatinya dengan mendengarkan dendang Daksina, namun wajah orang tua itu pun masih juga disaput oleh kesuraman hatinya.

Sementara itu iring-iringan yang membawa Ken Dedes menuju ke Panawijen telah menelusuri jalan-jalan kota. Berbondong-bondong penduduk Tumapel, tua muda keluar dari rumah masing-masing. Mereka telah mendengar bahwa hari itu Ken Dedes, seorang gadis dari padepokan di Panawijen akan keluar dari istana dalam sebuah iring-iringan kebesaran. Gadis yang bakal menjadi permaisuri Tumapel itu akan pergi mengunjungi kampung halamannya, Panawijen.

Setiap mata yang memandang gadis yang berada di atas tandu itu menjadi terpesona. Alangkah cantiknya gadis itu. Sama sekali tidak berkesan pada wajah yang cerah itu, bahwa Ken Dedes adalah seorang gadis pedesaan. Wajah itu benar-benar membayangkan seorang yang sangat pantas untuk menjadi seorang permaisuri. Demikianlah maka setiap mulut telah bergumam memuji keserasian tubuh gadis yang berada di atas tandu itu. Betapa bahagianya seorang gadis yang memiliki kecantikan yang hampir sempurna itu. Adalah sudah sewajarnya apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memilihnya untuk menjadi seorang permaisuri.

Apalagi kini gadis itu berada di dalam sebuah iringan kebesaran yang sudah cukup lama tidak dilihat oleh penduduk Tumapel. Sehingga dengan demikian, maka hampir setiap rumah menjadi

(41)

kosong karena penghuninya berlari-lari ke pinggir jalan untuk melihat wajah bakal permaisuri Akuwunya.

Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan mendapat sambutan yang sedemikian riuhnya dari penduduk Tumapel. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Ketika para penduduk ingin memandangi wajahnya yang cerah itu, maka Ken Dedes malahan berusaha bersembunyi dibalik tirai-tirai tandunya. Beberapa orang menjadi kecewa, namun beberapa orang lain yang sempat memandang wajah itu, memujinya tak kunjung habis.

Di muka sekali, di ujung iring-iringan itu, seorang yang tegap mendahului di atas punggung kuda bersama beberapa orang

prajurit. Orang itu adalah pemimpin pasukan pengawal. Witantra. Di sampingnya adalah dua orang perwira bawahannya. Sedang di belakangnya berkuda seorang anak muda, namun ia tidak mengenakan pakaian keprajuritan meskipun di lambungnya tergantung sebilah pedang. Anak muda itu adalah Mahendra. Ia telah dibawa oleh kakak seperguruannya. Tanpa sepengetahuan Akuwu dan Ken Dedes, Witantra telah mempunyai perhitungan tersendiri. Ia mengenal beberapa sifat Mahisa Agni yang keras. Karena itu ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila Mahisa Agni tidak dapat ditemukan di Panawijen, ia pasti telah berada di padang Karautan. Karena itu maka dibawanya Mahendra yang akan dapat menjadi penunjuk jalan menemui Mahisa Agni, dengan tidak usah mencari-cari.

Di belakang Mahendra, berkuda seorang prajurit muda.

Wajahnya riang namun garis-garis mulutnya menunjukkan kepicikan perhitungannya. Prajurit itu adalah Kebo Ijo. Ia mendapat tugas pula dari Witantra, kakak seperguruannya untuk mengawal panji-panji Tumapel yang berada di muka tandu Ken Dedes dibawa oleh seorang prajurit pula.

Ketika iring-iringan itu telah sampai ke batas kota, maka Kebo Ijo mempercepat jalan kudanya, mendekati Mahendra.

Referensi

Dokumen terkait

Dilihat dari analisis data dalam penelitian ini terbukti bahwa faktor hambatan penerimaan pajak bumi dan bangunan yang paling tinggi adalah dipengaruhi oleh aspek

Akuntansi sumber daya manusia dalam laporan keuangan disajikan dalam sisi aktiva pada pos investasi sumber daya manusia dan pada sisi ke+ajiban dan modal. Pada pos modal,

 Mengenal “apa” yang sedang disajikan, yakni mengenal dengan baik permasalahannya, memahami dan menguasai materi yang dikerjakan, ditunjang dengan literatur ilmiah

Tujuan kegiatan PPM ini adalah: (1) meningkatkan pengetahuan guru tentang pemanfaatan Microsoft PowerPoint, (2) meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran

Hal tersebut disebabkan karena penambahan P pada media tanam menjadi tidak dalam bentuk tersedia dalam tanah sehingga dengan interval defoliasi yang berbeda tidak

Proses pembuatan biodiesel menggunakan minyak jelantah dengan katalis asam meliputi proses transesterifikasi, recovery metanol, penghilangan katalis, pencucian, dan

Fermentasi dilakukan dengan pemberian urea yaitu sumber N non protein serta polikultur mikroba pada limbah pertanian atau dalam bentuk jerami, sehingga akan meningkatkan

“Pengaruh Suplementasi Mineral Organik (Zn dan Se) terhadap Pertambahan Bobot Badan, Konsumsi, dan Konversi Ransum pada Domba Lokal”.. Suparyanto,