• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Bak 007 Baru Dari Diklat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku Bak 007 Baru Dari Diklat"

Copied!
247
0
0

Teks penuh

(1)

 

TENTARA NASIONAL INDONESIA Lampiran Peraturan Kasad MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT Nomor Perkasad / / / 2008

Tanggal 2008

BUKU PETUNJUK TEKNIK tentang

MENEMBAK DAN LATIHAN MENEMBAK SENJATA RINGAN (SENAPAN)

BAB I PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Kemampuan menembak merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap prajurit TNI AD untuk memenangkan pertempuran. Kemampuan ini tidak mudah untuk mendapatkannya kecuali dengan frekuensi latihan yang memadai dan dukungan sarana serta prasarana yang dapat menjamin kelancaran pelaksanaannya. Untuk kepentingan ini semua tentu melibatkan pelatih, peserta latihan maupun penyusun rencana latihan dalam suatu kegiatan dan berorientasi pada standar kemampuan menembak yang diharapkan serta harus dicapai oleh seorang prajurit TNI AD.

b. Untuk mencapai hasil menembak senjata ringan yang diharapkan, maka diperlukan teknik, prosedur dan urutan menembak yang benar, berlaku di jajaran TNI AD serta sesuai dengan teknik penyelenggaraan latihan maupun sasaran yang diharapkan.

c. Agar dapat mewujudkan prajurit TNI AD yang memiliki pengetahuan teknis menembak senjata ringan dan kemampuan menembak senjata ringan yang baik maka latihan menembak senapan dilaksanakan secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut serta dilakukan secara profesional. Untuk itu perlu diatur dalam Buku Petunjuk Teknik tentang Menembak dan latihan menembak Senjata Ringan (Senapan).

(2)

 

2. Maksud dan Tujuan.

a. Maksud. Untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang teknik menembak dan kegiatan yang perlu dilaksanakan oleh penyelenggaraan Latbakjatri senapan di satuan jajaran TNI AD.

b. Tujuan. Sebagai pedoman dalam latihan menembak senapan di satuan agar diperoleh keseragaman dalam pelaksanaan, sehingga mencapai tujuan dan sasaran latihan yang diharapkan.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut.

a. Ruang Lngkup. Buku Petunjuk Teknik ini mencakup tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknik dan latihan menembak senjata ringan senapan yang dibatasi pada teknik dan latihan menembak senapan.

b. Tata Urut.

1) Bab I Pendahuluan.

2) Bab II Ketentuan Umum.

3) Bab III Teknik Menembak Senjata Ringan (senapan). 4) Bab IV Teknik Latihan Menembak Senjata Ringan

(senapan).

5) Bab IV Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan. 6) Bab V Pengawasan dan Pengendalian.

7) Bab VI Penutup.

4. Landasan.

a. Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/58/III/2004 tanggal 9 Maret 2004 tentang Buku Petunjuk Induk tentang Infanteri.

(3)

 

b. Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/10/I/2003 tanggal 28 Januari 2003 tentang Buku Petunjuk Pembinaan tentang Pembinaan Latihan.

c. Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/11/I/2003 tanggal 28 Januari 2003 tentang Buku Petunjuk Administrasi tentang Penyelenggaraan Latihan.

d. Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/416/VII/1987 tanggal 17 juli 1987 tentang Buku Petunjuk Teknik tentang Latihan Menembak Senapan dan Pistol. e. Surat Keputusan Dankodiklatad Nomor Skep/139/V/2004 tanggal 19 Mei 2004 tentang Naskah Sementara Buku Petunjuk Administrasi tentang Penyusunan dan Penerbitan Doktrin/Buku Petunjuk Angkatan Darat.

f. Surat Keputusan Kasad Nomor Skep/14/I/2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Buku Petunjuk Teknik tentang Latihan Menembak Dalam Operasi Lawan Gerilya.

(4)

 

BAB II

KETENTUAN UMUM

6. Umum. Teknik menembak dan latihan menembak senjata ringan, merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh pelaku dan pelatih dijajaran TNI AD dalam rangka mencapai hasil latihan yang diharapkan.

7. Tujuan. Untuk memberikan pengetahuan teknik menembak bagi prajurit tentang kemampuan menembak senjata ringan (senapan) dan pelatih dalam menyelenggarakan latihan menembak senjata ringan (senapan).

8. Sasaran. Tercapainya kemampuan perorangan dalam menembak senjata ringan (senapan).

9. Macam, Jenis dan Metode.

a. Macam.

1) Tembak Dasar.

a) Tembak Koreksi Dasar Senapan. b) Tembak Pengelompokan.

c) Tembak Tepat lesan “ L” ( Lingkaran ). d) Tembak Tepat lesan Tempur.

2) Tembak Lanjutan.

a) Tembak Tempur Perorangan.

b) Tembak Tempur Kelompok.

c) Tembak Tempur Satuan.

b. Jenis. Senjata ringan. 1) M16 A1.

(5)

 

c. Metode. Metode menembak harus ada sinkronisasi dan integrasi antara penyajian pelajaran secara :

1) Teori.

2) Praktek dengan driil kering ( Dry shooting ) dan kegiatan menembak basah.

10. Peranan. Tercapainya kemampuan perorangan dalam menerapkan teknik dan latihan menembak senjata ringan (senapan).

11. Pengorganisasian.

STAF LAT

PASIPAMOPS PASIMIN LOG

TIM WAS-EV WADANLAT DANLAT PIMUM LAT KOORD MAT/TIH TUR LESAN PENILAI WAS JUR TIH PIBAK WAS TAK YAN MUNISI TIH DP TIH TB AKHIR DANSIMALAT

BAKES BAANG BAPAL BAKOM BAMAK

PENGATUR PIRINGAN RIK JA PELAKU PELAKU PELAKU : Garis Staf Keterangan : : Garis Komando

(6)

 

12. Tugas dan Tanggung Jawab.

a. Komandan Latihan.

1) Mengawasi dan mengendalikan semua kegiatan dan dukungan logistik agar semua kegiatan mencapai tujuan latihan.

2) Bertanggung jawab atas semua usaha, pekerjaan dan kegiatan penyelenggaraan latihan.

3) Bertanggung jawab kepada Pimpinan Umum Latihan

b. Wakil Komandan Latihan.

1) Membantu komandan di dalam mengawasi dan mengendalikan latihan.

2) Mewakili komandan apabila berhalangan. 3) Mengkoordinir staf latihan.

4) Bertanggung jawab kepada komandan latihan.

c. Pasipamops.

1) Membuat rencana pengamanan latihan.

2) Mengkoordinasikan personel Pamlat, Provost dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di daerah latihan.

3) Melaporkan keamanan lapangan tembak kepada komandan latihan.

4) Membuat rencana latihan.

5) Koordinasi dengan unsur terkait. 6) Menyusun laporan selesai latihan

7) Bertanggung jawab kepada Komandan latihan.

d. Pasiminlog.

1) Menyelenggaraan administrasi dibidang logistik. 2) Membuat laporan tentang administrasi dan logistik . 3) Koordinasi dengan unsur terkait.

(7)

 

e. Dansimalat.

1) Mengkoordinir pendukung latihan (Bakes, Baang, Bapal, Bakom dan Bamak).

2) Mengkoordinir urusan dan perlengkapan latihan.

3) Menyiapkan sarana dan prasarana latihan yang akan digunakan. 4) Bertanggung jawab kepada Komandan latihan.

f. Koordinator Materi / Pelatih.

1) Memimpin, mengkoordinir, mengawasi dan mengendalikan jalannya latihan.

2) Memberi resume pelajaran tentang latihan menembak. 3) Memberikan evalusi hasil latihan.

4) Membuat laporan.

5) Bertanggung jawab kepada Komandan latihan.

g. Pimpinan Penembakan.

1) Melaksanakan tugas sebagai pimpinan penembakan. 2) Memberikan aba-aba penembakan.

3) Memperhatikan keamanan penembakan. 4) Mengkoordinir pengawas lajur.

5) Bertanggung jawab kepada Koordinator materi.

h. Pengawas Petak.

1) Mengawasi petaknya masing-masing. 2) Membantu mengawasi lajur di petaknya..

3) Melaporkan kendala dan situasi di petaknya kepada pimpinan penembakan.

4) Memeriksa kesiapan pengawas lajurnya masing-masing.

5) Melaporkan kesiapan petaknya kepada pimpinan penembakan. 6) Bertanggung jawab kepada Koordinator materi.

i. Pengawas Lajur.

(8)

 

2) Mengawasi keamaman antar petembak.

3) Mengawasi penggunaan senjata dan munisi pada lajurnya. 4) Mengecek kamar saat mengosongkan senjata.

5) Melaporkan kesiapan lajurnya kepada pengawas petak. 6) Bertanggung jawab kepada pengawas petak.

j. Pengatur Piringan Pengaman. 1) Mengatur piringan pengaman.

2) Bertanggung jawab kepada Pimpinan penembakan.

k. Penilai.

1) Mencatat perkenaan dan menghitung jumlah nilai. 2) Menyiapkan blangko penilaian.

3) Melaksanakan penambahan/penggantian lesan. 4) Bertanggung jawab kepada koordinator.

l. Pelatih Petugas TB Akhir.

1) Menerima pelaku yang telah melaksanakan penembakan. 2) Melaksanakan tindakan keamanan / kosongkan senjata. 3) Menempatkan senjata pada rak yang telah disediakan. 4) Bertanggung jawab kepada koordinator.

m. Pelatih Petugas DP.

1) Menerima pelaku dilanjutkan dengan pengecekan personel dan materiil.

2) Melaksanakan tindakan keamanan / kosongkan senjata. 3) Melaporkan tentang kesiapan pelaku kepada koordinator. 4) Bertanggung jawab kepada koordinator.

n. Bintara Makan.

1) Menyiapkan makanan dan extrafooding.

2) Memelihara kebersihan makanan dan peralatan. 3) Bertanggung jawab kepada Dansimalat.

(9)

 

o. Bintara Kesehatan.

1) Mempersiapkan obat-obatan dan peralatan kesehatan.

2) Mengadakan pemeriksaan dan pertolongan pertama kepada peserta latihan yang terluka/sakit.

3) Melaksanakan evakuasi personel yang perlu mendapatkan perawatan lebih lanjut.

4) Koordinasi dengan instansi yang terkait. 5) Bertanggung jawab kepada Dansimalat.

p. Bintara Angkutan.

1) Mengatur dan menyiapkan kendaraan sesuai dengan jadwal kegiatan latihan.

2) Koordinasi dengan instansi yang terkait. 3) Bertanggung jawab kepada Dansimalat.

q. Bintara Komunikasi.

1) Mempersiapkan alat komunikasi yang digunakan dalam latihan. 2) Mengatur penggunaan alat komunikasi.

3) Koordinasi dengan instansi yang terkait. 4) Bertanggung jawab kepada Dansimalat.

r. Bintara Peralatan.

1) Menyiapkan senjata dan munisi yang akan digunakan. 2) Mempersiapkan alat-alat pembersih dan perbaikan senjata.

3) Mengatasi gangguan senjata.

4) Koordinasi dengan instansi yang terkait 5) Bertanggung jawab kepada Dansimalat.

s. Petugas Munisi.

1) Menyiapkan munisi yang akan digunakan.

2) Mencatat penggunaan jumlah munisi yang sebelum maupun setelah.

(10)

 

4) Menghitung dan mengumpulkan munisi sisa dan rusak.

5) Melaporkan kepada pimpinan apabila ada terjadi kendala dalam penggunaan munisi.

6) Bertanggung jawab kepada Koordinstor. t. Petugas Pemeriksa Senjata.

1) Memeriksa senjata sebelum dan setelah digunakan. 2) Melaksanakan tindakan keamanan kepada pelaku. 3) Memeriksa kamar senjata.

4) Mencatat kerusakan senjata.

5) Melaporkan kendala kepada pimpinan apabila terjadi kerusakan dalam Rikjat.

u. Pengatur Lesan.

1) Menyiapkan lesan yang akan digunakan. 2) Menghitung lesan yang akan digunakan.

3) Memeriksa lesan apakah ada yang rusak atau tidak.

4) Menginventarisir/memisahkan lesan yang akan digunakan. 5) Menyimpan lesan pada tempat yang telah ditentukan.

6) Memasang lesan pada saat sebelum pelaksanaan menembak. 7) Menghitung jumlah lesan yang telah digunakan.

8) Mencatat dan membuat laporan penggunaan lesan. v. Pelaku.

1) Melaksanakan seluruh kegiatan sesuai perintah pelatih. 2) Bertanggung jawab kepada Koordinator/pelatih.

13. Syarat Personel. Personel yang melaksanakan kegiatan latihan menembak senjata ringan baik sebagai penyelenggara maupun pelaku adalah personel yang mempunyai beberapa persyaratan antara lain :

a. Pelatih.

1) Pernah mengikuti kursus pelatih senjata ringan. 2) Pernah mengikuti penataran pelatih senjata ringan.

(11)

 

b. Pelaku.

1) Personel organik satuan jajaran TNI AD.

2) Siswa/pelajar/petatar yang mempelajari senjata ringan.

BAB III

TEKNIK MENEMBAK SENJATA RINGAN (SENAPAN)

14. Umum. Untuk mendukung dalam pelaksanaan menembak senjata ringan (senapan), perlu diberikan pembekalan tentang teknik-teknik menembak senjata ringan (senapan) sehingga prajurit yang akan melaksanakan menembak menjadi percaya diri akan kemampuannya. Hal-hal yang bersifat mendukung pelaksanaan latihan menembak diuraikan secara jelas dengan maksud untuk menghindari pembahasan secara tumpang tindih dengan petunjuk-petunjuk yang telah ada.

15. Teknik Pegangan Teguh. Pengetahuan tentang pegangan teguh harus diberikan oleh pelatih dengan cara demontrasi. Hal-hal yang perlu diberikan dalam latihan pegangan teguh adalah sebagai berikut :

a Cara Memegang Senjata.

1) Pegangan senjata jangan terlalu kuat. Bila pegangan senjata terlalu kuat maka otot-otot tangan kiri dan tangan kanan akan kaku, tekanan dasar popor pada bahu juga akan terlalu kuat, akibatnya akan timbul gemetar.

2) Memegang senjata jangan terlalu lemah. Bila terlalu lemah otot-otot tangan akan lemah, letak dasar popor pada bahu juga akan lemah, akibatnya senjata akan goyang.

3) Cara yang baik dalam pegangan senjata adalah pegangan pada senapan tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah.

(12)

 

Gambar - 1

Genggaman tangan kiri pada senjata

Gambar - 2

(13)

 

Gambar - 3

Genggaman tangan kiri pada senjata dilihat dari kanan belakang

4) Kedudukan senapan harus tegak lurus, tidak miring tidak goyang ke kiri / ke kanan agar perkenaan nantinya tidak terlalu tersebar. Hal ini bisa dikontrol dengan cara melihat kedudukan pejera, apakah miring atau tidak. Cara-cara memegang senjata tersebut di atas harus didemonstrasikan oleh pelatih, dan waktu siswa / pelaku melakukan / melaksanakan bisa dikontrol dengan memegang tangan para penembak dan melihat kedudukan senjata.

(14)

 

Gambar -4

Letak pejera tegak lurus. Perhatikan letak tangan kiri telapak tangan pada perimbangan senjata

Benar Salah

   

Gambar – 5

(15)

 

b. Cara meletakkan pipi pada popor. Pada prinsipnya cara meletakkan pipi pada popor hampir sama memegang senjata, artinya popor bukan sebagai sandaran untuk menahan kekuatan pipi, tetapi popor hanya sebagai tempat meletakkan / menempelkan pipi dan kedudukan pipi disesuaikan dengan konstruksi senjata (Gambar–6).

Gambar - 6

Penempatan pipi pada popor

c. Mengatur jarak antara mata dengan pisir. Setiap saat waktu menembak, letak pipi pada popor harus tetap, bila kedudukan pipi berubah-ubah akan membawa perubahan gambar bidik. Kedudukan mata disesuaikan dengan konstruksi alat bidik (pisir) dan popor, jarak antara mata dengan pisir harus tetap dipelihara sehingga gambar bidik akan tetap (Gambar-7)

Gambar - 7

(16)

 

d. Otot leher tidak kaku melainkan harus tetap santai sehingga tidak akan terjadi ketegangan yang mengakibatkan konsentrasi terbagi dua.

e. Kedudukan tangan kiri. Tangan kiri berfungsi sebagai sandaran senjata, kedudukannya harus kokoh. Letak (siku) tangan kiri harus benar-benar menunjang letak senjata, telapak tangan berada pada perimbangan senjata (Gambar- 4 & 5).

f. Tangan kanan sedikit rileks (santai), fungsi utamanya adalah untuk menarik picu dan membantu kedudukan senjata agar tidak mudah goyah / labil (Gambar –7 ).

g. Meletakan popor pada lekukan bahu depan. Harus diingat pada saat menjelang terjadinya letusan jangan sekali-kali mengencangkan urat bahu. Hal ini akan membuat geseran garis bidik walau hanya beberapa milli meter dan akan mengakibatkan penyebaran perkenaan (Gambar-7).

h. Dengan demikian cara pengangan teguh harus dapat menguasai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh letusan senjata, sebagai contoh :

1) Dapat menahan dan tidak merasakan sakit akibat tolak balik senjata.

2) Senjata tidak bergerak atau tidak berubah kedudukannya pada saat terjadi letusan.

3) Tidak menimbulkan kesulitan pada saat membidik karena gemetar akibat kekakuan seluruh atau sebagian otot-otot.

Catatan :

Ujung popor senapan pada lekukan bahu, penguncian popor dengan pipi, jarak mata, cara memegang pegangan pistol dan jari telunjuk menarik picu agar diperhatikan.

(17)

 

16. Teknik Pernafasan. Apabila prajurit bernafas dengan wajar pada waktu menembakkan senapannya, gerakan dadanya akan mengakibatkan senapan dan bidikannya bergoyang juga. Untuk menghilangkan hal ini, penembak harus belajar menarik nafas, mengeluarkan sebagian nafasnya, kemudian menahan nafasnya selama beberapa detik untuk membidik dan menembakan senjatanya. Apabila menahan nafas lebih dari 10“ (sepuluh) detik, sering terjadi penegangan otot dan pandangan menjadi kabur. Pentahapan teknik pernapasan dalam menembak :

a. Napas normal (memperhatikan sasaran).

b. Tarik nafas dan keluarkan lebih dalam dari biasanya (memulai membidik). c. Tahan nafas sampai terjadi letusan (membuat gambar bidik).

d. Napas normal.

Gambar - 8 Teknik pernafasan

17. Teknik Membidik. Teknik membidik dapat dilakukan dengan menggunakan pisir “V”, pisir “U” maupun pisir “O”. Penempatan titik bidik menyesuaikan dengan lintasan peluru senjata yang digunakan. Penjelasan teknik membidik berikut gambar contoh membidik penggunaan pisir “O” (seperti pada senapan M.16 A.1/SS1).

K

K

o

o

n

n

t

t

r

r

o

o

l

l

P

P

e

e

r

r

n

n

a

a

p

p

a

a

s

s

a

a

n

n

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 Napas Dalam Tahan

Napas Normal Napas lepas Tarik napas

I

II

III

I

(18)

 

a. Lintasan peluru.

1) Senjata SS-1 (Gambar - 9).

2) Senjata M 16 A1 (Gambar - 10).

Keterangan : ( + ) berarti perkenaan diatas titik bidik,

+ 6,3 cm

( - ) berarti perkenaan dibawah titik bidik. b. Kedudukan mata.

1) Kedudukan mata yang dimaksud adalah kedudukan mata sipenembak terhadap pisir senapan. Penembak pada saat menempatkan mata tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh, disesuaikan dengan kedudukan mata pada pisir (sesuai konstruksi senjata), tanpa mengakibatkan ketegangan pada otot leher atau lengannya.

2) Pada latihan menembak cepat dan tepat, kedudukan mata harus selalu sama pada setiap tembakan. Kedudukan mata yang tetap mudah dipelajari dengan cara menempelkan ujung hidung pada bagian belakang kas senapan.

(19)

 

c. Penguncian popor senapan dengan menggunakan pipi. Penguncian popor senapan adalah suatu titik pertemuan yang kokoh antara pipi dengan popor senapan. Pelaksanaan penguncian popor senapan yang benar dapat dilihat dari hidung penembak yang menyentuh ringan pada bagian belakang atas kas senapan. Penguncian popor dengan menggunakan pipi memungkinkan seluruh kepala dapat mengikuti gerak ke belakang bersama-sama dengan senapan pada waktu senapan ditembakkan, sehingga memungkinkan pengalihan tembakan dengan cepat terhadap sasaran yang lain.

d. Garis bidik. Garis bidik adalah garis lurus dari mata sipenembak melalui titik tengah pisir ketitik tengah ujung (puncak) pejera (gambar 13). Bagian tengah pada puncak pejera (di depan) berada tepat di tengah lubang pisir ( di belakang). Apabila tepat pada tengah lubang pisir dibuat garis semu yang tegak, maka garis semu ini kelihatannya membelah pejera menjadi 2 bagian yang sama (gambar-14). Penyesuaian letak peralatan bidik yang tepat amat penting untuk ketepatan menembak terhadap sasaran pada jarak sedang dan jarak jauh. Apabila terjadi kesalahan penyesuaian peralatan bidik terhadap sasaran, maka makin besar jarak ke sasaran, akan makin besar pula jarak penyimpangan titik perkenaan dari titik bidik.

Contoh :

Suatu kesalahan di dalam menyesuikan letak pisir dan pejera, masih akan tetap mengenai suatu titik bidik pada jarak 50 m dan 75 m. Akan tetapi pada jarak 300 m, perkenaan terhadap titik bidik yang sama akan meleset sejauh 2 m lebih. Pengertian : - Jarak dekat : 0 – 100m

- Jarak sedang : 100 – 300 m - Jarak jauh : 300 m PEJERA PISIR MATA GARIS BIDIK Gambar - 11

(20)

 

Pejera Garis pandangan penembak kesasaran Mata penembak Garis semu   Sasaran titik bidik tengah bawah hitam Gambar - 12

Titik bidik yang benar dari penampang samping

e. Letak sasaran atau titik bidik pada sasaran terhadap pejera dan pisir yang telah disesuaikan. Letak titik bidik (sasaran) telah dipastikan benar, apabila tengah-tengah titik bidik (sasaran) tersebut berada di bagian atas pejera. Apabila ditarik garis semu tegak tepat di tengah lubang–pejera, maka garis semu ini akan membelah titik bidik (sasaran) dan pejera menjadi 2 bagian yang sama besarnya. Pada jarak penentuan dasar senapan (Zeroing), lesan yang dipasang pada jarak 25 m dari garis penembakan, cara meletakkan penyesuaian pisir dan pejera terhadap titik bidik sasaran lesannya.

f. Gambar Bidik. Adalah gambaran yang tampak pada penembak jika garis bidik diproyeksikan pada sasaran gambaran pada alat bidik yang benar didapatkan apabila pisir dan pejera telah disesuaikan letaknya dengan benar terhadap suatu sasaran / titik bidik.

Gambar Bidik pada jarak 25 M. Gambar Bidik pada jarak 100 M.

(21)

 

Gambar Bidik pada jarak 200 M. Gambar Bidik pada jarak 300 M.

Gambar – 13

1 0

Gambar bidik

f. Penyebab terjadinya kesalahan. Adalah mata penembak tidak dapat memfokus pada 2 (dua) objek yang mempunyai jarak berbeda di dalam waktu yang bersamaan, oleh karenanya :

1) Apabila mata penembak tersebut memfokus pada sasaran, maka pejera dan pisir akan kabur penampakannya.

2) Apabila mata penembak tersebut memfokuskan pada pejera, maka pisir dan bidik sasarannya akan kabur. Oleh karena itu penyebab ketidaktepatan perkenaan pada sasaran adalah:

a) Kesalahan penyesuaian pisir-pejera dan titik bidik sasaran tidak pada satu garis bidik.

b) Kesalahan meletakkan titik bidik sasaran, tidak pada satu garis bidik dengan pisir dan pejera. Dengan kesalah tersebut, seorang penembak akan mengenai sasaran beberapa cm meleset dari titik bidik, akan tetapi masih tetap dapat mengenai musuh. Sedangkan kesalahan menempatkan pisir dan pejera akan menyebabkan peluru tidak dapat mengenai sasaran lesan tubuh, meleset 1(satu) m atau lebih tergantung pada jarak sasaran. Oleh karena itu, penyesuaian letak pisir dan pejera lebih penting dari pada menempatkan titik bidik sasaran pada satu garis bidik.

(22)

 

g. Metoda penyesuaian letak alat bidik. Untuk meyakinkan penyesuaian letak alat bidik (pejera dan pisir terletak pada satu garis bidik) mata harus difokuskan pada pejera di waktu pelaksanaan penembakan. Namun demikian, sasaran tidak boleh diabaikan begitu saja, jadi penembak harus memfokuskan matanya antara pejera dan pisir.

1) Pertama. Ia harus memfokuskan matanya pada pejera dan menyesuaikan letak dengan pisir agar terletak pada 1 garis bidik.

2) Kedua. Ia harus memfokuskan matanya pada sasaran dan meletakkannya pada garis bidik, segaris dengan pejera dan pisir.

3) Ketiga. Pada waktu ia menekan picu, ia harus memfokuskan matanya pada pejera, guna meyakinkan letak pisir, pejera dan titik bidik sasarannya terletak pada satu garis bidik. Pada saat ini gambaran alat bidik harus terlihat.

h. Membersihkan dan menghitamkan peralatan bidik.

1) Seorang penembak senapan akan mengalami kesulitan di dalam membidik apabila alat bidiknya mengkilat atau kotor. Pejera atau pisir yang mengkilap akan membuat silau dan membuat penembak tersebut sulit melihat sesuatu di depan. Pejera atau pisir yang kotor dapat menyebabkan kesalahan di dalam penyesuaian letak alat bidik, dengan titik sasaran pada satu garis bidik. Oleh sebab itu di dalam latihan atau pertempuran, alat bidik haruslah bersih dan dihitamkan apabila dipandang perlu.

2) Menghitamkan peralatan bidik ada beberapa macam cara, yang dapat dilakukan umumnya menggunakan lampu karbit, sumbu diminyaki kemudian dibakar, geretan rokok, cerobong asap. Apabila senapan telah dilengkapi dengan alat bidik yang dilapisi dengan Promethium, pelaksanaan menghitamkan harus hati-hati. Api / asap jangan terlalu dekat dengan pejera. Apabila terlalu dekat, maka bulatan plastik pelindung pejera yang megandung unsur yang mudah terbakar akan mengelupas.

(23)

 

i. Ketepatan teknik membidik dengan box bidik.

1) Kedudukan senjata pada box bidik

a) Senjata diletakkan/dimasukkan pada coakan (lubang) yang tersedia dan tidak miring atau bergerak.

b) Kedudukan pisir dan pejera tidak perlu diadakan perubahan terlebih dahulu.

2) Penembak.

a) Sikap menembak tiarap dengan kedua kaki rapat. b) Senjata tidak boleh tersentuh oleh bagian-bagian tubuh. c) Tangan kiri rapat dengan siku di samping badan untuk membantu menahan berat badan pada tanah.

d) Siku tangan kanan rapat pada tanah, lengan kanan bergerak bebas untuk memberikan kode atau isyarat ke kiri / ke kanan, ke atas / ke bawah.

e) Tidak boleh bicara pada saat memberikan isyarat.

f) Tanda / isyarat yang diberikan oleh sipenembak kepada pembantu penembak adalah, sebagai berikut :

(1) Telapak tangan kanan terbuka menghadap ke kiri dan digerakkan ke kiri, artinya titik bidik harus diarahkan ke samping kiri.

(2) Telapak tangan terbuka menghadap ke kanan dan digerakkan ke kanan, artinya titik bidik harus diarahkan ke samping kanan.

(3) Telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan digerakkan ke bawah, artinya titik bidik harus diarahkan ke bawah.

(24)

 

(4) Telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan digerakkan ke atas, artinya titik bidik harus diarahkan ke atas.

(5) Telapak tangan mengepal dan diam, artinya titik bidik sudah pada tempatnya dan pembantu penembak harus segera memberi tanda titik pada lubang yang tersedia ditongkat bidik.

g) Penembak harus membuat pengelompokkan bidikan minimal 3 buah kelompok @ 5 titik bidik dengan besar kelompokkan maksimal berdiameter 1 ½ cm.

3) Pembantu penembak. Sikap pembantu penembak duduk di atas kotak bidik dengan jarak 15 m di depan penembak.

a) Tangan kanan memegang tongkat bidik dan diletakkan rapat pada kertas yang ditempatkan/ditempelkan pada kotak bidik. b) Tangan kiri memegang pensil yang telah diruncingkan.

c) Pandangan ke arah sipenembak, perhatikan isyarat dari sipenembak.

d) Menggerakkan tongkat bidik perlahan-lahan sesuai permintaan sipenembak.

e) Memberikan tanda titik dengan pensil pada lubang yang tersedia pada tongkat bidik apabila ada tanda/isyarat berhenti dari sipenembak.

f) Merubah kedudukan kotak bidik apabila terjadi penumpukan kelompok bidikan.

g) Berlaku jujur dan tidak membohongi penembak dengan maksud agar latihan cepat selesai.

(25)

 

Gambar – 14

dan perlengkapan drill kering membidik dengan menggunakan box bidik

Kotak bidik Kotak sandaran Alat bantu bidik 40 cm

40 cm 40 cm

Kertas dan pensil

Senjata

18. Teknik Pengendalian Tarikan Picu. Pengendalian tarikan picu adalah suatu kemampuan di dalam mengusahakan agar tekanan pada picu tidak mengganggu sama sekali garis bidikan (pejera, pisir dan titik bidik pada sasaran).

15 m Kedudukan penembak dan

(26)

 

a. Cara mengendalikan jari telunjuk penarik picu.

1) Penempatan jari telunjuk pada picu. Jari telunjuk penarik picu di tempatkan diantara ruas pertama dan ujung jari telunjuk. Titik pasti penempatan telunjuk penarik pada picu tergantung pada ukuran tangan penembak serta cara penembak memegang popor senapan. Perlu diperhatikan, bagian atas jari telunjuk tidak boleh menyentuh kas senapan.

Gambar – 15

2) Tahap gerakan picu. Gerakan picu ke belakang dibagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu:

a) Tenggang picu. Tenggang picu adalah gerakan permulaan pada picu, tanpa ada sedikit hambatan apa pun. Hambatan mulai terjadi pada saat tekanan picu dirasakan berat. b) Tekanan picu. Tekanan picu (biasanya 3 sampai 5 kg) adalah suatu gaya tekanan yang harus diberikan pada saat menarik picu (oleh telunjuk jari penarik picu) agar lepas dari pengunci dan kemudian memukul pena pemukul.

3) Cara mengendalikan tarikan picu. Di dalam proses menembak, picu harus secepatnya ditekan dan secara bertahap menambah gaya tekanan lurus ke belakang pada picu. Pengendalian tarikan picu adalah faktor yang penting didalam usaha mengenai sasaran jarak sedang dan sasaran jarak jauh dengan tepat. Pada proses menekan picu, penyesuaian letak alat bidik dan titik bidik pada sasaran harus tetap

(27)

 

terletak pada satu garis bidik. Namun demikian, keadaan ini sulit untuk dapat dipertahankan secara terus menerus. Oleh karena itu, seorang penembak senapan harus mampu mengendalikan diri untuk tidak menekan picu lebih lanjut apabila letak alat bidik dan titik bidik pada sasaran tidak terletak pada satu garis bidik. Selalu berupaya agar alat bidik dan titik bidik sasaran terletak pada satu garis bidik, maka penembak hanya sedikit tekanan pada picunya tanpa mengakibatkan goyangan sedikitpun pada senapannya.

b. Penekanan dalam pengendalian tarikan picu.

1) Jari telunjuk penarik picu. Bagian atas jari telunjuk penarik picu harus bebas tidak menyentuh senapan, agar gerakan kedepan dan kebelakang bebas usaha memanfaatkan picu. Apabila telunjuk penarik picu menyentuh kas senapan, maka tekanan pada picu akan sedikit miring dan lurus kebelakang. Keadaan seperti itu, akan tetap mengakibatkan goyangan pada kedudukan senapan, sehingga letak alat bidik dan titik sasaran tidak terletak pada satu garis bidik lagi (lihat gambar 18 & 19).

2) Jari tangan menggenggam pegangan pistol senapan. Pegangan pistol digenggam oleh tiga jari dan ibu jari dengan teguh tetapi tidak erat. Tujuannya adalah agar jari telunjuk dapat menekan picu dengan halus, dan bukan tangan menggenggam peganggan pistol yang melaksanakan remasan pada picu. Genggaman yang teguh ini harus senantiasa dipelihara pada setiap saat jari telunjuk menekan picu. Apabila cara memegang pegangan pistol senapan tidak teguh, genggaman tangan yang tidak teguh ini akan bergerak pada waktu berat tarikan picu mulai dirasakan akibatnya penyesuaian alat bidik dan titik bidikan pada sasaran tidak lagi segaris dan hal ini akan membawa berbagai kesalahan lainnya.

(28)

 

1) Kejutan. Kejutan adalah reaksi penembak terhadap akibat tolak balik dan ledakan peluru senapan. Hal ini dapat dilihat pada :

a) Gerakan kepala penembak.

b) Mata penembak yang tiba-tiba menutup (berkedip). c) Ketegangan pada tangan kiri penembak.

d) Gerakan bahu kebelakang. e) Kombinasi dari (1) sampai (4).

2) Dorongan. Dorongan adalah usaha penembak untuk mengatasi akibat tolak balik senapan sebelum letusan terjadi. Penembak ini melaksanakannya dengan menegangkan otot bahunya dan menggerakkan bahunya ke depan.

3) Tarikan. Tarikan adalah usaha penembak menembakan senapan dengan cara menekan picunya dengan cepat. Tarikan mengakibatkan garis bidiknya menjadi rusak, karena alat bidik dan titik bidik kepada sasaran tidak segaris lagi.

Gambar – 16

Cara memegang pegangan pistol senapan dan picu dilihat dari kanan bagian atas jari telunjuk tidak menyentuh kas senapan.

(29)

 

Gambar – 17

Cara memegang pegangan pistol senapan dan picu dilihat dari kiri. 4) Kombinasi dari ketiga kesalahan hal-hal tersebut akan mengakibatkan sasaran selalu tidak kena, terutama pada sasaran pada jarak sedang dan sasaran jarak jauh.

19. Teknik Sikap-Sikap Menembak. Sikap menembak merupakan faktor yang turut menentukan dalam ketepatan perkenaan. Oleh karena itu berbagai sikap menembak perlu dilatihkan kepada penembak, sesuai dengan penggunaannya nanti dalam pertempuran. Ketepatan dalam mengambil posisi tembak akan mempengaruhi ketenangan penembak dalam membidikkan senjatanya pada sasaran, sebab berbagai macam pengaruh dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengambil sikap tembak.

a. Persyaratan teknis dalam menggunakan sikap tembak adalah sebagai berikut:

1) Pegangan teguh yang sempurna.

2) Tidak memaksakan, sehingga tidak terjadi ketegangan otot. 3) Tidak membuat labil kedudukan sebagian anggota tubuh. 4) Memperkecil bidang sasaran terhadap tembakan musuh.

5) Dapat menguasai senjata dengan berbagai sikap yang digunakan.

(30)

 

b. Macam-macam sikap-sikap menembak antara lain :

1) Sikap berdiri.

a) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan.

b) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dengan jari telunjuk lurus.

c) Rapatkan ujung kaki kiri dengan kaki kanan dan pindahkan kaki kanan kekanan belakang seenak-enaknya dan keberatan badan terletak pada kedua kaki.

d) Tempatkan dasar popor pada lekukan pundak kanan dan siku kanan diangkat sehingga membentuk sudut 900. Bersamaan dengan gerakan tersebut, maka telapak tangan kiri ditempatkan di bawah pelindung tangan bagian bawah dengan seenak-enaknya atau telapak tangan kiri ditempatkan di bawah magasen dengan siku rapat pada badan.

e) Tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga dapat melihat ujung pejera melalui pisir (membidik). Jarak antara mata dengan pisir jangan berubah. Gerakan tersebut dapat dilakuan berulang-ulang (gambar – 20).

f) Gerakan kembali ke sikap sempurna.

(1) Turunkan senjata dan mengambil sikap depan senjata.

(2) Pindahkan kaki kanan kedepan rapat dengan kaki kiri.

(3) Putar badan 45° ke kiri dan kembali ke sikap sempurna.

(31)

 

Gambar – 18

Sikap berdiri

2) Sikap berlutut.

a) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan

b) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dan jari telunjuk lurus.

c) Rapatkan ujung kaki kiri dengan kaki kanan dan pindahkan kaki kiri kedepan seenak-enaknya.

d) Ambil sikap berlutut dengan lutut kaki kanan dan duduklah pada tumit seenak-enaknya.

(32)

 

e) Tempatkan dasar popor pada lekukan pundak kanan dan angkat siku kanan sehingga membentuk sudut ± 90°. Bersamaan dengan gerakan tersebut, tempatkan siku tangan kiri di atas lutut kaki kiri seenak-enaknya.

f) Tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga mata dapat melihat ujung pejera melalui pisir (membidik).

Gerakan tersebut dapat dilakukan berulang-ulang (gambar – 21) g) Gerakan kembali ke sikap sempurna.

(1) Turunkan senjata dan ambil sikap depan senjata.

(2) Ambil sikap berdiri dan pindahkan kaki kiri kebelakang, rapat dengan kaki kanan.

(3) Putar badan kekiri 45° dan kembali kesikap sempurna.

Gambar – 19 Sikap berlutut

(33)

 

Gambar – 20 Sikap berlutut tersandar

h) Ada 3 (tiga) variasi sikap berlutut, dengan perbedaan terletak pada letak telapak kaki.

1) Sikap berlutut rendah. Telapak kaki kanan pada bagian luar rata pada tanah (gambar – 21)

(34)

 

2) Sikap berlutut setengah dengan tali sepatu kanan rata dengan tanah (gambar – 22)

Gambar –22

3) Sikap berlutut tinggi. Telapak kaki tegak bertumpu pada ujung jari kaki (gambar – 23).

(35)

 

3) Sikap duduk.

a) Sikap duduk dengan kaki terbuka.

(1) Sikap sempurna dengan senapan disebelah badan. (2) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dan jari telunjuk lurus.

(3) Lepaskan tangan kanan dari pegangan pistol dan ambil sikap duduk dengan bantuan tangan kanan.

(4) Tempatkan kedua kaki seenak-enaknya, dan tangan kanan kembali memegang pegangan pistol.

(5) Tempatkan dasar popor pada lekukan pundak kanan seenak-enaknya. Tempat siku tangan kanan di atas sebelah dalam paha kanan, sedang siku tangan kiri ditempatkan di atas sebelah dalam paha kiri (ambil sikap menembak yang seenak-enaknya).

(6) Tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga mata melihat ujung pejera melalui pisir (membidik). Jika sikap tersebut belum dapat dilakukan, maka kedua paha dapat diangkat atau dengan bantuan tangan kiri, sampai sikap ini dapat dilakukan.

(7) Gerakan kembali ke sikap sempurna :

(a) Turunkan senjata dan ambil sikap depan senjata.

(b) Tarik kedua kaki ke belakang dan lepaskan pegangan pistol. Dengan bantuan tangan kanan ambillah sikap berdiri.

(c) Tangan kanan memegang pegangan pistol dan kaki kanan dirapatkan dengan kaki kiri.

(d) Putar badan kekiri 45° dan kembali kesikap sempurna.

(36)

 

Gambar – 24

Sikap duduk dengan kaki terbuka b) Sikap duduk bersila pendek.

(1) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah kanan badan.

(2) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dan jari telunjuk lurus.

(3) Lepaskan tangan kanan dari pegangan pistol dan ambil sikap duduk dengan bantuan tangan kanan.

(4) Kedua kaki dilipat (bersila) dan bersamaan dengan gerakan ini tangan kanan memegang pegangan pistol seperti semula.

(5) Tempatkan dasar popor pada pundak kanan seenak-enaknya dan siku tangan kanan di atas paha sedang siku tangan kiri di atas paha kiri.

(6) Tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga mata melihat ujung pejera melalui pisir (membidik). Jika sikap tersebut belum dapat dilakukan, maka kedua paha dapat diangkat atau dengan bantuan tangan kiri sampai sikap ini dapat dilakukan.

(37)

 

(7) Gerakan kembali kesikap sempurna.

(a) Turunkan senjata dan ambil sikap depan senjata.

(b) Buka kedua kaki kedepan dan tangan kanan menepuk tanah di samping kanan.

(c) Ambil sikap berdiri dengan bantuan tangan kanan dan pindahkan kaki kanan rapat dengan kaki kiri.

(d) Putar badan kekiri 45° dan kembali ke sikap sempurna.

Gambar – 25

Sikap duduk bersila pendek

c) Sikap duduk bersila panjang.

(1) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan. (2) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dan jari telunjuk lurus.

(38)

 

(3) Lepaskan tangan kanan dari pegangan pistol dan ambil sikap duduk dengan bantuan tangan kanan.

(4) Kedua kaki disilangkan pada pergelangan kaki dan sedikit ditarik ke belakang. Bersamaan dengan gerakan ini tangan kanan memegang pegangan pistol seperti semula. (5) Tempatkan dasar popor pada pundak kanan seenak-enak dan siku tangan kanan di atas paha kanan sedang siku tangan kiri di atas paha kiri.

(6) Tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga mata melihat ujung pejera melalui pisir (membidik). Jika sikap tersebut belum dapat dilakukan, maka kedua paha dapat diangkat atau dengan bantuan tangan kiri, sampai sikap ini dilakukan.

(7) Gerakan kembali ke sikap sempurna :

(a) Turunkan senjata dan ambil sikap depan sejata.

(b) Buka kedua kaki kedepan dan tangan kanan menepuk tanah disamping kanan.

(c) Ambilah sikap berdiri dengan bantuan tangan kanan dan pindahkan kaki kanan rapat dengan kaki kiri. Bersamaan dengan gerakan ini tangan kanan memegang pegangan pistol seperti semula.

(d) Putar badan kekiri 45 ° dan kembali kesikap sempurna.

(39)

 

Gambar – 26

Sikap duduk dengan kedua mata kaki bersilang

4) Sikap jongkok.

a) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan.

b) Depan senjata tangan kiri memegang perimbangan senjata dan tangan kanan pada hulu popor.

c) Rapatkan kaki kiri kepada kaki kanan sehingga menghadap serong kanan (30%) dari sasaran, buka kaki kanan ke samping seenaknya.

d) Mulai berjongkok dengan membengkokkan lutut dengan badan condong ke depan, setelah jongkok tangan kanan memegang pangkal popor dan tempatkan dasar popor pada lekukan pundak.

e) Jari telunjuk berada pada pelindung picu, tempatkan pangkal lengan kanan dan kiri pada kedua lutut kiri dan kanan. f) Gerakan kembali adalah kebalikannya

(40)

 

Gambar – 27 Sikap jongkok

 

5) Sikap tiarap.

a) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan.

b) Depan senjata dengan tangan kanan memegang pegangan pistol dan jari telunjuk lurus.

c) Lepaskan tangan kanan dari pegangan pistol, dan kaki kiri dipindahkan lurus ke depan satu langkah.

d) Badan dibungkukkan ke depan bersamaan dengan telapak tangan kanan diletakkan di tanah dan kedua lutut dibengkokkan. e) Lemparkan kedua kaki ke belakang dengan bantuan kekuatan tangan kanan dan dirapatkan pada tanah perlahan-lahan. f) Bukalah kedua kaki dan kedua sisi dalam telapak kaki rapat pada tanah.

g) Ambilah sikap menembak yang seenaknya, dengan menempatkan dasar popor pada lekukan pundak kanan dan kedua siku di tanah.

h) Usahakan siku tangan kiri tepat dibawah senjata. Bersamaan dengan gerakan tersebut tempatkan pipi kanan di atas popor sehingga mata dapat melihat ujung pejera melaui pisir.

(41)

 

i) Gerakan kembali ke sikap sempurna.

(1) Turunkan senjata dan ditarik ke belakang.

(2) Lepaskan tangan kanan dari pegangan pistol dan letakkan telapak tangan pada tanah.

(3) Bersamaan dengan gerakan ini kaki kanan ditarik kedepan, dan lutut kaki kanan diletakkan di tanah, dan kaki kiri diluruskan.

(4) Dengan kekuatan tangan kanan dan lutut kanan badan diangkat dan kaki kiri dipindahkan kedepan.

(5) Berdirilah dengan merapatkan kaki kanan pada kaki kiri dan bersamaan dengan gerakan ini tangan kanan memegang pegangan pistol seperti semula.

(6) Satu langkah ke belakang dan kembali ke sikap sempurna.

Gambar – 28

(42)

 

Gambar – 29

Sikap tiarap dengan kaki dibengkokkan

Gambar – 30 Sikap tiarap tersandar

(43)

 

Gambar – 31

Sikap tiarap dalam sumur tembak dengan senjata tersandar

j) Penekanan. Pada dasarnya sikap dalam sumur tembak adalah sama dengan sikap biasa. Yang perlu diperhatikan:

(1) Sandaran dibuat rata.

(2) Lengan bawah dan telapak tangan kiri bertumpu pada sandaran.

(3) Senjata terletak pada telapak tangan yang memegang pelindung tangan ( lade ), hal ini dimaksudkan agar senjata lebih mudah dialihkan arahnya.

6) Sikap serbuan.

a) Sikap sempurna dengan senapan di sebelah badan.

b) Depan senjata tangan kiri pada pelindung tangan dan tangan kanan pada hulu popor.

(44)

 

c) Berdiri menghadap sasaran, ajukan kaki kiri ke depan dengan jarak seenaknya dan mudah untuk digerakkan ke segala arah.

d) Bengkokkan lutut sedikit dan pinggang sedikit membungkuk agar enak untuk menembak.

e) Letakkan dasar popor di ketiak (di bawah bahu dan di atas pinggang).

f) Tangan kiri dekat cincin tali sandang depan, ibu jari disebelah atas dan jari lainnya melingkari pelindung tangan dari bawah.

g) Siku lurus, membidik dengan kedua mata terbuka, mengarahkan langsung ke sasaran.

h) Gerakan kembali adalah gerakan kebalikannya.

Gambar – 32 Sikap Serbuan

(45)

 

7) Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan di dalam setiap sikap menembak, untuk memiliki kemampuan dan ketangkasan dalam menggunakan senapan di samping harus banyak latihan, maka tiap prajurit dalam mengambil sikap menembak harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Letak senapan. Senapan harus tegak lurus (perhatikan pejera) tidak boleh miring karena akan menimbulkan penyimpangan dari yang diharapkan.

b) Tangan kiri. Letak tangan kiri harus mampu menahan berat senjata dengan tenang, untuk itu siku harus diletakkan dengan tersandar pada tanah atau rapat pada bagian badan seenak-enaknya (tidak goyang).

c) Dasar popor. Penempatan popor harus tepat pada lekukan pundak kanan, dan tidak dirubah-ubah.

d) Kepala. Cara menempatkan pipi kanan / mata juga harus dipehatikan, karena perubahan penempatan pipi akan merubah jarak antara mata dan pisir yang dapat menimbulkan penyimpangan.

e) Tangan kanan. Penempatan siku ditanah / dengan sudut tertentu dilakukan seenak-enaknya dan kokoh. Begitu juga pada waktu menarik picu,harus seirama NABITEPI.

f) Badan. Badan ditempatkan serong 30° dan peralatan tubuh supaya santai, sedang kaki ditempatkan terbuka dan rapat pada tanah (disesuaikan dengan medan). Dalam sikap tiarap, untuk mengatur pernapasan, kaki kanan dapat dibengkokkan sedikit.

20. Teknik Koreksi Dasar Senapan. Koreksi dasar senapan (zeroing) dilaksanakan sebelum digunakan menembak. Cara mengoreksi disesuaikan dengan buku petunjuk penggunaan senjata yang akan digunakan. Dalam buku ini hanya membahas 2 (dua) senjata yaitu M16 A1 dan SS-1.

(46)

 

a. Perubahan pisir.

1) Untuk senjata M.16 A1, perubahan pisir (arah samping) jarak 25 m adalah 7 mm setiap 1 klik.

2) Untuk senjata FNC / SS-1, perubahan pisir (arah samping) jarak 25 m adalah 5 mm setiap 1 klik.

b. Perubahan pejera.

1) Untuk senjata M.16 A1, perubahan pejera (naik dan turun) jarak 25 m adalah 7 mm setiap klik.

2) Untuk senjata FNC / SS-1, perubahan pejera (naik dan turun) jarak 25 m adalah 4 cm setiap 1 putaran (360º).

c. Penggunaan pisir pada dasar senapan.

1) Untuk senjata M.16 A1 menggunakan pisir yang tanpa huruf adalah pisir “S” digunakan untuk menembak sampai dengan jarak 300 m. 2) Untuk senjata FNC / SS-1 menggunakan pisir yang bertanda “250” digunakan untuk menembak sampai dengan jarak 300 m.

d. Teknik Koreksi.

1) Tembakan 3 butir peluru pada lesan dengan titik bidik tengah garis bawah hitam.

2) Buat segitiga melalui ketiga lubang perkenaan pada lesan.

(47)

 

3) Buat lingkaran dengan garis tengah 4 cm (sama besarnya dengan lingkaran yang ada). Bila segitiga lebih besar dari lingkaran maka jangan merubah alat bidik, namun bila segitiga itu masuk dalam lingkaran maka alat bidik (pisir dan pejera) bisa berubah, dengan jalan sebagai berikut :

a) Tarik garis datar dari titik berat segitiga (ke kiri / ke kanan) lesan dasar senapan tersebut untuk merubah klik pejera sesuai angka pada ujung garis tersebut dan ke arah tanda panah yang digambarkan.

b) Tarik garis tegak dari titik berat segitiga (ke atas / ke bawah) lesan dasar senapan tersebut untuk merubah klik pisir sesuai angka pada ujung garis tersebut dan ke arah tanda panah yang digambarkan.

4) Tembakan lagi 3 butir peluru dengan cara yang sama, diharapkan kelompok perkenaan sudah masuk di dalam lingkaran besar dasar senapan.

21. Teknik Pengelompokan.

a. Pengelompokan adalah sebuah seri penembakan (tidak lebih dari 3 seri) tembakan dalam titik bidik, pegangan dan operasional picu yang sama.

b. Tujuan dari pengelompokan. Pengelompokan adalah dasar dari semua jenis tembakan yang bagus. Untuk mengukur kemampuan petembak dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar menembak secara konsisten sehingga senjata dalam kondisi status dasar senapan.

c. Apa yang menyebabkan tembakan berkelompok. Faktor-faktor yang dapat menentukan hasil ukuran tembakan kelompok senjata, amunisi dan petembak.

d. Teori pengelompokan. Hasil ukur tembakan kelompok akan bertambah dan berkurang secara terukur langsung pada setiap tembakan.

(48)

 

1) Petembak dengan kapasitas nilai tembakan pengelompokan 250 mm.

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi tembakan pengelompokan di lapangan tembak :

a) Angin (berubah). b) Cahaya.

c) Kejelasan sasaran.

3) Mengukur hasil tembakan pengelompokan. Tentukan tembakan-tembakan yang cepat namun terpisah :

a) Ukur dari tengah kembali ke tengah. b) Tentukan perbedaan lebar yang besar.

22. Sarana dan Prasarana.

a. Lapangan Tembak. Lapangan tembak untuk senapan ringan harus mempunyai syarat keamanan untuk diguanakan latihan menembak, guna mencegah dampak yang mungkin timbul sebagai akibat latihan tersebut. Beberapa ketentuan yang dibutuhkan untuk lapangan tembak :

1) Tanggul penahan peluru. Tanggul penahan peluru ini mutlak diperlukan untuk menahan peluru yang ditembakan dan juga dapat mencegah peluru rikoset.

2) Radius keamanan. Adalah jarak dimana setiap orang aman bila berada diluar jarak ini. Radius keamanan digunakan sebagai jarak untuk keamanan pemindahan / penyingkiran terhadap suatu ledakan yang tidak terkendalikan atau suatu gangguan senjata yang tidak dapat diatasi.

3) Daerah medan bahaya. Daerah medan bahaya merupakan bagian dari lapangan tembak yang berbahaya, disebabkan oleh tembakan suatu jenis senjata yang digunakan, terdiri dari :

(49)

 

a) Daerah penembakan. Titik atau tempat dimana senjata ditembakan.

b) Daerah perkenaan ( daerah bahaya primer ). Merupakan daerah yang telah dibatasi, didalam daerah ini semua peluru mengenai permukaan medan.

c) Daerah A ( daerah bahaya sekunder ). Merupakan daerah yang letaknya tegak lurus dengan daerah perkenaan. Daerah ini diadakan untuk menampung pecahan bahan/material yang meledak dipinggiran kiri dan kanan dari daerah perkenaan.

d) Daerah B ( daerah bahaya sekunder ). Merupakan daerah yang berada dibagian depan daerah perkenaan. Daerah ini diadakan untuk menampung pecahan bahan/material yang meledak ditepi jauh dari daerah perkenaan.

e) Daerah keamanan tambahan. Daerah yang diperlukan untuk meyakinkan keamanan latihan dengan maksud untuk menampung peluru yang rekoset. Keluasannya disesuaikan dengan keadaan medan dan ketentuan daerah setempat ( + 5° kesamping kiri / kanan daerah perkenaan dan + 30° dari daerah penembakan/titik tembak ). Gambar - 34 5° 5° 30° 30° 5° 5°

(50)

 

b. Senjata. Senjata yang digunakan menembak kaliber 5,56 mm dalam kondisi baik dan sesuai standar TNI AD.

c. Munisi. Jenis munisi yang digunakan menembak kaliber 5,56 mm dalam kondisi baik dan sesuai dengan karakteristik senjata yang digunakan. d. Lesan. Lesan adalah sebuah gambar yang dibuat sedemikian rupa untuk mengarahkan bidikan penembak agar perkenaan dapat dikoreksi ketepatannya atau sebagai sarana untuk menilai kemampuan penembak dalam menempatkan titik perkenaan sesuai dengan yang diinginkan. Penggunaan lesan harus sesuai dengan kerucut tembakan senjata yang digunakan dalam menembak, dimana kerucut tembakan ini didapat dari hasil uji yang dilakukan oleh pabrik pembuat senjata. Kerucut tembakan adalah sejumlah peluru yang ditembakan dari suatu titik penembakan ke arah sasaran ( lesan ) dengan jarak tertentu yang di pasang tegak lurus dengan arah lintasan peluru maka kelompok perkenaannya akan membentuk lingkaran pada sasaran ( lesan ) tersebut. Gambar – 35. Kerucut tembakan.

9 8 7 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 1 9 8 7 6 5 4 6 5 4

Tabel kerucut tembakan JARAK TEMBAK (m)

Ø KERUCUT TEMBAKAN (cm) KETERANGAN

NO JENIS SENJATA 100 200 300 1. 2. M. 16 A1 SS - 1 16 15 32 30 48 45 Semakin besarnya Vo dan semakin banyak jumlah alur dan galangan akan semakin kecil diameter kerucut tembakan berarti semakin

tinggi ketepatannya.

Dengan demikian lesan yang dibuat harus sesuai dengan data kerucut tembakan, antara lain :

(51)

 

1) Lesan ”C-1”. Lesan penentuan dasar senapan.

(52)

 

2) Lesan ”L”( lingkaran ).

a) Prinsip yang dipakai adalah bahwa lesan harus dapat menampung kerucut tembakan pada jarak tempur (300 m). Jadi ukuran minimal terutama lebarnya lesan akan berbeda sesuai jenis senjata yang digunakan.

b) Digunakan untuk tembak pengelompokan dan tembak tepat/nilai.

c) Berbentuk lingkaran dengan ukuran :

(1) Untuk Siswa. (Gambar – 37)

( L – 1) ( L – 1 ) 15 cm 7,5 cm 8 cm 9 8 7 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 10 9 8 7 6 5 4 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 1 9 8 7 6 5 4 6 5 4 16 cm M 16 A1 SS-1 ( L – 2 ) ( L – 2 ) 32 cm M 16 A1 9 9 8 7 1 9 8 7 6 5 4 6 5 4 4 5 6 8 7 9 5 4 9 8 7 6 30 cm 5 4 6 7 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 1 9 8 6 SS-1

(53)

 

( L – 3 ) M 16 A1 4 5 6 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 1 9 8 7 48 cm 4 5 6 8 7 9 45 cm 4 5 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 6 5 4 9 8 7 1 9 8 7 6 L – 3 ) ( SS-1

(2) Untuk Organik. (Gambar – 38)

Lesan L1 Lesan L2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 9 10 8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 5 cm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 cm 2 1 Lesan L3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 9 10 8 7 6 5 4 3 2 1

(54)

 

3) Lesan Tempur.

a) Prinsip yang dipakai adalah bahwa lesan harus dapat menampung kerucut tembakan pada jarak tempur (300 m). Jadi ukuran minimal terutama lebarnya lesan akan berbeda sesuai jenis senjata yang digunakan.

b) Digunakan untuk tembak tepat/nilai dan tembak tempur.

c) Berbentuk silhouette manusia dalam berbagai sikap (berdiri, jongkok, atau tiarap ) dengan ukuran :

Lesan tubuh ring Lesan tubuh Lesan ½ tubuh Lesan dada

V 5 4 3 2 Gambar - 39

4) Lesan Baksi Penunjukan Sasaran.

a) Bentuk. Lesan dibuat dengan bermacam-macam bentuk dan mudah dikenal oleh peserta latihan, baik dari bentuk yang umum maupun dari warnanya yang jelas.

(55)

 

b) Bahan. Dari triplek, kayu atau sejenisnya. Tiang dari bambu/kayu dengan tinggi maksimal 2 m. Tali plastik digunakan untuk menggantungkannya.

c) Warna lesan. Digunakan cat 4 warna yang berbeda satu sama lain, serta berbeda dengan warna latar belakang sasaran (berbeda dengan warna tanggul pengaman).

d) Contoh bentuk dan ukuran.

18 cm

Lingkaran Segi tiga Segi empat Palang

Gambar - 40

e. Skip.

1) Skip Lesan C. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 35 cm; Lebar : 25 cm dan tinggi dari tanah 30 cm.

Gambar - 41 18 cm 35 cm 25 cm 30 cm 18 cm 18 cm

(56)

 

2) Skip Lesan L. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 120 cm; Lebar : 120 cm dan tinggi dari tanah 60 cm.

Gambar - 42

60 cm 120 cm

120 cm

3) Skip Tubuh. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 120 cm; Lebar : 50 cm dan tinggi dari tanah 50 cm.

Gambar - 43

120 cm

50 cm

(57)

 

4) Skip ½ tubuh. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 60 cm; Lebar : 50 cm dan tinggi dari tanah 50 cm.

Gambar - 44

5) Skip Dada. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 40 cm; Lebar : 50 cm dan tinggi dari tanah 50 cm.

60 cm 50 cm 50 cm 40 cm 50 cm 50 cm Gambar - 45

(58)

 

6) Skip Merayap. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 120cm; Lebar : 50 cm dan merapat tanah.

N M

B A

Kawat jemuran yang tegang untuk jalannya skip Gambar - 46

a) Skip akan maju bila kawat A ditarik.

b) Batas gerak maju skip + 10 cm sebelum patok M.

7) Skip sasaran bergerak. Dibuat dari triplek atau bahan lain untuk menempel lesan dengan ukuran, panjang : 120cm; Lebar : 50 cm.

N M

B A

Gambar - 47

a) Skip akan maju bila kawat A ditarik.

(59)

 

8) Skip muncul dari bawah.

Karet Ban

A

B Gambar - 48

a) Bila kawat A ditarik maka skip akan berdiri.

b) Sementara itu karet yang dipasang dibelakang skip akan menegang.

9) Skip muncul dari samping.

A

Karet Ban Gambar - 49

a) Bila kawat A ditarik maka skip akan muncul dari samping. b) Sementara itu karet yang dipasang disamping akan menegang.

(60)

 

10) Skip jendela.

Gambar - 50

11) Skip tembak reaksi penunjukan sasaran.

Lingkaran Segi tiga Segi empat Palang 18 cm

18 cm

18 cm 18 cm

Cara pemasangan skip Baksi penunjukan sasaran.

Gambar - 51

f. Alkap lain. Alat dan perlengkapan lain yang mendukung pelaksanaan kegiatan menembak.

(61)

 

23. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penembakan senjata ringan antara lain :

a. Faktor Manusia. Adalah merupakan faktor sentral yang berpengaruh terhadap ketepatan tembakan. Dari padanya terdapat pula tiga hal yang sangat dominan yaitu mental, fisik dan keterampilan.

1) Mental. Titik perhatian dalam hal ini adalah kestabilan emosi. Kondisi kestabilan emosi seorang prajurit dapat berbeda di dalam situasi yang berbeda pula. Kestabilan emosi di dalam pertempuran sangat dipengaruhi kepercayaan diri untuk mampu menyelesaikan tugas. Hal ini dipengaruhi pula oleh tingkat kemampuannya menembak disamping faktor-faktor lain diluar persoalan teknik menembak. Oleh karenanya latihan yang intensif dan kondisi senjata dan munisi yang terawat sangat membantu dalam hal membentuk kepercayaan diri seorang prajurit. Setiap prajurit di dalam menjalankan tugas pertempuran selalu terancam bahaya, pertempuran modern memerlukan kecepatan dan setiap prajurit harus dapat meniadakan ancaman musuh dalam waktu yang cepat pula. Hal ini tidak berarti prajurit harus menembak dengan terburu-buru tetapi dengan tenang dan dapat memanfaatkan senjata dan lingkungannya untuk kepentingan dirinya. Dia tidak boleh gentar oleh desingan peluru dan serangan kawannya yang menjadi korban. Namun dia juga tidak boleh membabi buta menembak musuh. Akalnya dapat menuntun tindakannya untuk memanfaatkan segala aspek medan yang dihadapinya dan mempergunakan senjatanya dengan efektif.

2) Fisik. Menembak senapan sangat memerlukan dukungan fisik yang sangat memadai untuk mengatasi beban dan berat senapan serta mengatasi rintangan yang dijumpai di sepanjang perjalanannya menuju ke sasaran. Seorang penembak senapan profesional memerlukan pembinaan fisik yang memadai untuk mendapatkan kondisi yang prima untuk menopang berat senapan, membidik dan menekan picu dengan benar saat diperlukan. Untuk mendapatkan kondisi, kekuatan dan

(62)

 

daya tahan yang baik, pembinaan yang berlanjut, terarah dan terawasi perlu dilakukan. Kekuatan dan daya tahan yang dibutuhkan dapat dibina dengan berbagai cara, selanjutnya ikuti petunjuk pembinaan jasmani militer.

3) Keterampilan. Keterampilan adalah perpaduan antara mental, fisik dan kecerdasan untuk mengaplikasikan segala kegiatan di lapangan. Keterampilan dibina melalui penyajian materi yang direncanakan.

b. Faktor Senjata. Pemeliharaan senjata yang dilakukan secara rutin dan berlanjut sangat penting untuk mencegah gangguan terhadap kerja senjata.

1) Laras yang kotor akan mengakibatkan : a) Pengait kelongsong patah. b) Laras gembung.

c) Laras pecah. d) Kelongsong macet. e) Gangguan senjata.

2) Laras dan kamar berlemak menyebabkan tekanan gas membesar dan tolak balik yang keras. Hal ini menyebabkan jalannya peluru pertama akan tidak sesuai dengan perkiraan (kemungkinan tidak mengenai sasaran) di samping dapat pula menyebabkan laras gembung dan pena pemukul patah.

c. Faktor Munisi. Untuk menjamin ketepatan tembak, seyogyanya dipakai peluru/munisi dari lot yang sama dan dalam kondisi yang baik. Munisi dari lot yang berbeda kemungkinan akan berbeda pula kondisinya sehingga akan mempengaruhi kelompok perkenaan (dalam latihan). Di samping hal tersebut :

1) Peluru yang berlemak akan mengakibatkan hal yang sama dengan senjata yang berlemak.

(63)

 

2) Peluru basah akan menyebakan kesulitan pembakaran dan berpengaruh terhadap daya dorong pada pelor.

3) Peluru yang terkena terik matahari, munisinya akan berproses dan akan berakibat menyebarnya perkenaan.

4) Peluru kotor karena pasir atau debu akan menyebabkan kamar dan laras rusak yang akan mengakibatkan perkenaan tidak sesuai dengan perkiraan.

5) Peluru yang kadaluarsa dan cacat akan mengakibatkan macet atau lambat meletus.

d. Faktor Cuaca. Faktor ini dengan ketiga aspeknya sangat berpengaruh terhadap ketepatan perkenaan tembak. Aspek tersebut adalah:

1) Suhu. Teriknya matahari akan mempengaruhi daya tahan mata untuk membidik dan menyebabkan gambar sasaran menjadi kabur. Hal ini akan menyebabkan kesulitan bagi penembak, namun dengan pengalaman yang didapat dari latihan menembak yang berulang-ulang pada suhu udara yang berbeda-beda, penembak akan dapat memperkirakan jatuhnya peluru sesuai dengan yang dikehendakinya. Caranya sebagai berikut :

a) Setel pisir pejera pada jarak tembak 100 m (dari hasil penentuan dasar senapan)

b) Dengan sikap tiarap tersandar, tembakkan satu peluru pada lesan L-1 dalam kondisi suhu udara tertentu dengan titik bidik dasar hitam. Catat penyimpangan perkenaan peluru dari perkenaan. Penyimpangan ke atas ditulis ( + ) dan ke bawah ditulis ( - ).

(64)

 

d) Cari rata-rata penyimpangan. Data ini dapat dijadikan pedoman untuk mengatasi penyimpangan perkiraan akibat suhu tertentu tersebut pada jarak 100 m.

e) Untuk menentukan penyimpangan pada jarak lain (200, 300 dst) dapat dipergunakan metode yang sama.

2) Kelembaban udara. Di dalam udara dengan kadar kelembaban tinggi, peluru yang melayang akan lebih tertekan ke bawah. Makin jauh jarak terbang peluru (berarti makin jauh jarak tembak) akan makin besar penyimpangan antara titik perkenaan dengan titik bidiknya bila dibandingkan dengan penembakan dilakukan pada cuaca disaat penentuan dasar senapan. Standar perhitungan untuk koreksinya sampai saat ini belum ditemukan. Untuk mendapatkan titik perkenaan sesuai dengan yang diharapkan, pengalaman dalam latihan sangat membantu. Adakan penembakan pada bermacam-macam kondisi kelembaban udara dan catat hasilnya. Adakan uji coba kembali atas data yang tercatat, perbaiki bila perlu. Data yang ditemukan dapat dipedomani untuk penembakan pada kondisi cuaca yang sama. Caranya sebagai berikut :

a) Setel pisir pejera pada jarak 100 m (dari hasil penentuan dasar senapan).

b) Dengan sikap tiarap tersandar, tembakan satu butir peluru pada lesan L-1 dalam kondisi kelembaban udara tertentu dengan titik bidik tengah-tengah bawah hitam. Catat penyimpangan perkenaan peluru terhadap titik bidik dengan ketentuan penyimpangan ke atas ditulis (+) dan ke bawah (-).

c) Ulangi hal ini sampai tiga kali tembakan.

d) Cari rata-rata penyimpangan. Data ini dapat dipergunakan untuk mengatasi penyimpangan perkenaan akibat kelembaban udara tertentu tersebut pada jarak 100 m.

(65)

 

e) Untuk menentukan penyimpangan pada jarak lain (200, 300 dst ) dapat menggunakan metode yang sama.

f) Catat data pada buku penembak.

3) Angin.

a) Kondisi yang selalu membuat kesulitan pada penembak ialah angin. Angin mempunyai banyak pengaruh terhadap lintasan peluru.

b) Angin juga banyak berpengaruh pada penembak. Makin kuat angin, makin banyak kesulitan dalam memegang teguh senjata. Pengaruh penembak dapat diatasi dengan cara latihan dan penyiapan kondisi fisik yang baik.

c) Sebelum setiap penyesuaian bidikan diatur untuk mengatasi angin, perlu ditentukan arah dan kecepatannya terlebih dahulu. Cara yang biasa dipakai untuk menentukan arah dan kecepatan angin (dalam latihan) ialah dengan melihat bendera. Sudut diantara bendera dan tiangnya dibagi dengan angka 4, hasilnya sama dengan + Vo dalam mil/jam. Apabila tidak ada bendera, sehelai kertas atau rumput, kain atau beberapa macam barang ringan dijatuhkan dari pundak. Dengan menunjuk langsung tempat jatuhnya perkiraan kecepatan angin mil/jam dapat dihitung.

40° 60° 60 = 15 mil/jam 4 40 = 10 mil/jam 4

(66)

 

d) Apabila beberapa cara demikian tak dapat digunakan hal berikut ini akan membantu untuk menentukan kecepatan :

(1) Di bawah 3 mil/jam, angin hampir tak dapat dirasakan, tapi dapat ditentukan dengan gerakan asap.

(2) 3-5 mil/jam, angin dapat dirasakan pada muka. (3) 5-8 mil/jam, daun-daun di pohon bergerak terus. (4) 12-15 mil/jam, pohon-pohon kecil berayun-ayun.

e) Sebelum latihan menembak harus diketahui seberapa pengaruh angin dan harus dicatat. Penembak harus dapat menggolongkan beberapa jenis pengaruh angin. Cara yang biasa dipakai ialah dengan menggunakan jarum jam (gambar 53). Angin bergerak setengah akan mempengaruhi lintasan peluru kira-kira setengah dari pengaruh angin penuh dengan Vo yang sama. Kecepatan angin yang mengakibatkan perlu adanya koreksi dinamakan “angin berpengaruh”. Namun demikian sebutan angin “tak berpengaruh” juga masih mempunyai pengaruh tertentu terhadap peluru yang ditembakkan untuk jarak jauh, apabila tidak berembus langsung dari arah pukul 6 atau pukul 12. Angin semacam ini adalah angin yang paling sukar untuk diatasi.

(67)

 

Perhitungan angin menurut sistem jarum jam : - Jam 8, 9, 10 dan 2,3,4 adalah angin penuh. - Jam 12 dan 6 tidak ada perhitungan.

- Jam 11, 1, 5, 7 adalah angin setengah.

f) Cara mengoreksi pengaruh angin terhadap bidikan dan penyesuaian alat bidik, rumus dasarnya adalah sebagai berikut :

R (jarak dalam ratusan) x Vo (kecepatan angin) 10

R x Vo = untuk munisi kaliber 5,56 mm. 10

Contoh :

Jarak 300 m kecepatan angin 10 mil/jam (16, 093 km/jam) pengaruh penuh, munisi kaliber kecil.

Jawab : 3 x 10 = 3 klik 10

e. Faktor Medan. Yang dimaksud disini adalah permukaan medan yang dilintasi oleh anak peluru yang ditembakkan.

1) Medan yang terjal. Menembak dari bawah ke arah atas mengakibatkan peluru cenderung mengenai atas titik bidik, hal ini disebabkan karena makin keatas tekanan udara makin ringan. Oleh karenanya bidikan perlu diturunkan. Besarnya penurunan bidikan didapat dengan percobaan-percobaan dengan metode yang sama untuk mengatasi faktor cuaca.

2) Medan yang curam. Menembak dari atas ke bawah mengakibatkan peluru lebih cenderung turun kebawah dari titik bidik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tekanan udara yang semakin ke bawah semakin padat. Oleh karenanya bidikan perlu dinaikkan. Besarnya penaikan bidikan didapat dengan percobaan-percobaan dengan metode yang sama seperti pada mengatasi faktor cuaca.

(68)

 

3) Menembak dari ketinggian ke ketinggian. Lembah yang dilalui anak peluru cenderung menyebabkan lintasannya semakin cepat menurun karena kelembaban udara yang tinggi di atas lembah. Oleh karenanya menembak dari ketinggian ke ketinggian perlu menaikkan bidikan. Besarnya penaikkan di dapat dari pengalaman yang teruji dengan metode yang sama.

4) Medan terbuka dan datar. Sangat memungkinkan untuk mengontrol perkenaan sampai dengan jarak 300 m.

5) Medan tertutup. Menyebabkan sulit untuk membidik, penembak harus siap melakukan tembak cepat atau tembak reaksi.

6) Faktor gravitasi. Gravitasi adalah gaya tarik bumi terhadap benda-benda sifatnya selalu menuju ke pusat bumi, pada keadaan normal (menembak pada medan datar), pengaruh gravitasi ini sudah diperhitungkan oleh pabrik pembuat senjata dan cara mengatasinyapun telah ditentukan dengan pengaturan peralatan bidik (pisir dan pejera), dan seterusnya perhatikan tabel berikut :

100 150 200 250 300

Gambar - 54

Keterangan : (gambar tanpa kedar)

Sumbu laras. Lintasan peluru. 62 cm 40 cm 23 cm 13 cm 5,2 cm

Gambar

Gambar - 8  Teknik pernafasan
Gambar Bidik pada jarak 25 M.     Gambar Bidik pada jarak 100 M.
Gambar Bidik pada jarak 200 M.          Gambar Bidik pada jarak 300 M.
Tabel kerucut tembakan  JARAK TEMBAK (m)
+4

Referensi

Dokumen terkait