• Tidak ada hasil yang ditemukan

parasitologi Hymenolepis diminuta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "parasitologi Hymenolepis diminuta"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PARASITOLOGI MAKALAH PARASITOLOGI

““Hymenolepis diminutaHymenolepis diminuta””

PENYUSUN : PENYUSUN :

NURUL INSANA ILHAM ( PO714251161046 ) NURUL INSANA ILHAM ( PO714251161046 )

NURUL

NURUL MUTIA MUTIA ( PO7( PO714251161047 14251161047 ))

DOSEN MATA KULIAH : DOSEN MATA KULIAH :

 ALFRIDA MONICA S. S.Si, M.Kes  ALFRIDA MONICA S. S.Si, M.Kes

PROGRAM STUDI DIV FARMASI PROGRAM STUDI DIV FARMASI POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

TAHUN 2017 TAHUN 2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke- hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Hymenolepis diminuta “ dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Parasitologi Studi D IV Farmasi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, terutama Dosen Pengajar yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada kami.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan atau belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan guna penyempurnaan makalah ini kedepannya sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca semuanya.

Sekian dan terima kasih

Makassar, 8 Juni 2017

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang

Parasit yang termasuk golongan cestoda dikenal sebagai cacing pita. Badannya terdiri atas rangkaian segmen atau proglotid. Diantara skoleks dan segmen satu ada bagian yang sempit yang disebut leher. Bagian parasit ini mengandung sel-sel germinal yang berbentuk strobilla. Skoleks adalah utama untuk pergerakandan untuk berpegangan pada jaringan hospes, dan dilengkapi dengan lekuk, batil isap atau kait-kait.

Sistem saraf terdiri atas serat (saraf) longitudinal dibagian lateral tiap segmen. Organ utama untuk osmoregulasi ialah sel api yang berhubungan dengan serangkaian sauluran pengumpul (collecting tubules).

Semua cacing pita yang penting untuk kedokteran adalah hermafrodit dan tiap segmen mengandung seperangkat alat reproduksi. Alat reproduksi  jantan terdiri atas sejumlah testis yang tersebar diseluruh proglotid. Alat

reproduksi betina terdiri atas satu ovarium yang berlobus atau tidak berlobus dan terletak dibagian posterior segmen.

Cestoda mengambil makanan melalui kulit karena tidak ada alat pencernaan. Benda berkapur (calcaerous corpuscles) adalah benda khas dalam parenkim semua cestoda. Benda-benda ini memberikan gambaran dalam Taenia taeniaeformis. ( Nieland dan von Brand, 1969 ).

Cestoda merupakan cacing berbentuk pipih seperti pita dan di sebut cacing pita. Cacing ini tubuhnya berwarna putih dan tertutup kutikula. di bawah kutikula terdapat otot sirkuler, longitudinal, dan transversal. Tidak memiliki rongga tubuh. Cacing pita termasuk subkelas cestoda kelas cestoidea, filum  platyhelminthes. Cacing dewasanya, menempati saluran usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata. Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih dorsovenral, tidak mempunyai alat cerna atau saluran vaskular dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang bila dewasa

(4)

berisi alat reproduksi jantan dan betina. Ujung bagian antarior berubah menjadi sebuah alat perekat disebut skoleks, yang dilengkapi dengan alat isap dan kait-kait.

Spesies yang termasuk ke dalam cestoda usus antara lain Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta, Dipylidium caninum, Taenia saginata, dan Taenia solium.

B. Maksud dan Tujuan

 Adapun maksud dan tujuan penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui hospes, morfologi, siklus hidup, patologi klinik, diagnosis, pengibatan, pencegahan, epidemiologi dan istilah-istilah yang tidak lazim dalam cestoda usus Hymenolepis diminuta.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

 A. Cestoda

Cacing pita termasuk subkelas CESTODA, kelas CESTOIDEA, filum PLATYHELMINTES. Cacing dewasanya menempati saluran usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata. Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih dorsoventral, tidak mempunyai alat pencernaan atau saluran vaskular dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebu proglotid yang bila dewasa berisi alat reproduktif  jantan dan betina. Ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat,

disebut skoleks, yang dilengkapi dengan alat isap dan kait -kait. Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusia umumnya adalah : Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan Taenia solium.

Manusia merupakan hospes cestoda ini dalam bentuk :

 A. Cacing dewasa, untuk spesies Diphyllobothrium latum, Taenia saginata, Taenia solium, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta, Dipylidium caninum.

B. Larva, untuk spesies Diphyllobothrium sp, Taenia solium, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Multiceps.

Sifat-sifat umum dari cestoda antara lain: 1. Badan cacing dewasa terdiri atas :

a. Skoleks, yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat, dilengkapi dengan batil isap atau dengan lekuk isap.

b. Leher, yaitu tempat pertumbuhan badan.

c. Strobila, yaitu badan yang terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotid. Tiap proglotid dewasa mempunyai susunan alat kelamin  jantan dan betina yang lengkap sehingga disebut hermafrodit.

(6)

2. Telur dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus. 3. Embrio di dalam telur disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang

tumbuh menjadi bentuk infektif dalam hospes perantara.

Ciri-ciri cestoda usus yaitu :

1. Bentuk tubuh pipih, terdiri dari kepala(soclex) dilengkapi dengan sucker dan tubuh (proglotid).

2. Panjang antara 2-3m. 3. Bersifat hermaprodit.

4. Hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan. 5. Sistem ekskresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir dengan

sel api.

6. Sistem saraf sama seperti planaria dan cacing hati, tetapi kurang berkembang.

B. Hymenolepsis diminuta

Cacing ini juga merupakan cacing cosmoploitan yang terutama berparasit pada tikus rumah, tetapi banyak kasus dilaporkan menginfeksi pada orang. Ukuran lebih besar daripada V. nana, yaitu sampai 90 cm. Sebagai hospes intermedier adalah beberapa spesies arthropoda, misalnya  jenis kumbang (Tribolium spp) adalah hospes intermedier yang sangat

berperan terhadap infeksi pada tikus dan manusia.

1. Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum : Platyhelminthes Class : Cestoda Ordo : Cyclophyllidea Family : Hymenolepididae Genus : Hymenolepis

(7)

2. Morfologi

a. Telur

 – Bentuk relatif lebih bulat daripada telur Hymenolepis nana.  – Ukuran 60 x 79 mikron

 – Dinding telur agak tebal, pada kutub-kutub menebal  – Tidak memiliki filamen dari kutub-kutubnya

 – Berisi embrio heksakan (embrio dengan 3 pasang kait)

b. Dewasa

 – Panjang badan dapat mencapai 30 – 60 cm, lebar 3 – 5 mm.  – Terbagi atas kepala (skolek), leher dan proglotid-proglotid.  – Skolek memiliki 4 batil isap tanpa rostelum.

 – Proglotid terdiri atas proglotid immature  –  mature  –  dan gravid, kurang lebih 800 – 1000 segmen.

Gambar Hymenolepis diminuta

(8)

Gambar telur Hymenolepis diminuta

Gambar sistiserkoid Hymenolepis diminuta

Cacing dewasa berukuran 20-60 cm mempunyai 800-1000 buah proglotid. Skoleks kecil bulat, mempunyai 4 batil isap, dan rosteum tanpa kait-kait. Proglotid matang berukuran 0,8 x 2,5 mm. Proglotid gravid mengandung uterus yang berbentu kantong dan berisi kelompok-kelompok telur. Apabila proglotid gravid lepas dari strobila, menjadi hancur dan telurnya keluar bersama tinja. Telurnya agak bulat berukuran 60-79 mikron, mempunyai lapisan luar yang jernih dan lapisan yang dalam yang mengeliilingi onkosfer dengan penebalan pada 2 kutub, tetapi tanpa filamen. Onkosfer mempunyai 6 buah kait.

(9)

Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. Hospes perantaranya adalah serangga berupa pinjal dan kumbang tepung. Dalam pinjal, telur berubah menjadi larva sistiserkoid. Bila serangga dengan sistiserkoid tertelan oleh hospes definitif maka larva menjadi cacing dewasa di rongga usus halus.

3. Siklus Hidup

Cacing dewasa berada di usus halus manusia akan mengalami perkembangbiakan dari proglotid immature menjadi mature selanjutnya menjadi proglotid gravid yang mengandung banyak telur cacing pada uterusnya. Proglotid gravid akan melepaskan diri dan bila pecah maka keluarlah telur cacing yang bisa dikeluarkan bersama feses manusia. Telur yang berisi embrio tersebut memerlukan hospes perantara, yaitu pinjal. Dalam usus pinjal, telur menetas menjadi larva dan berkembang menjadi sistiserkoid dalam rongga tubuh. Apabila pinjal secara kebetulan termakan oleh manusia atau tikus selanjutnya di usus halus sistiserkoid pecah dan keluarlah skolek yang selanjutnya akan melekat pada mukosa usus. Skolek akan berkembang lebih lanjut menghasilkan proglotid immature, mature dan gravid. Proglotid gravid akan terlepas dari strobila dan bila pecah akan mengeluarkan telur yang dikeluarkan bersama feses.

(10)

Telur ditemukan pada tinja hospes definitif. Cacing ini memerlukan hospes perantara I yaitu larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa. Didalam serangga ini embrio yang keluar dari telurnya berkembang menjadi sistiserkoid. Bila dimakan oleh hospes definitif, sistiserkoid akan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dalam waktu kira-kira 18-20 hari.

4. Epidemiologi dan Distribusi Geografis

Penyebaran cacing ini kosmopolit, tetapi lebih suka daerah beriklim panas daripada dingin termasuk Indonesia. Hospes definitif mendapat infeksi bila hospes perantara yang mengandung parasit tertelan secara kebetulan.

5. Patologi dan Gejala Klinis

Parasit ini tidak menimbulkan gejala , infeksi biasanya terjadi secara kebetulan saja. Manusia secara kebetulan mendapat infeksi karena makanan atau tangan yang terkontaminasi dengan serangga yang mengandung parasit. Infeksi pada manusia adalah ringan dan jangka waktu hidup cestoda pada manusia pendek. Infeksi percobaan pada manusia dewasa hanya berlangsung selama 5-7 minggu.

6. Pencegahan dan Pengendalian

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari kontak dengan hospes perantara yang memungkinkan terjadinya kontaminasi. Selalu mencuci tangan sebelum makan juga dapat mengurangi infeksi karena kontaminan yang menempel pada tangan akan mati ketika mencuci tangan. Obat yang efektif adalah antabrine.

7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telurnya dalam tinja. Sekali-sekali cacing dapat keluar secara spontan secara purgasi.

(11)

Pemeriksaan dapat dilakukan secara langsung atau dengan cara tak langsung (konsentrasi).

Hymenolepis diminuta

Habitat : Usus halus

Nama penyakit : Hymenolepiasis diminuta

Hospes : Definitif : Manusia, tikus, mencit Perantara : Pinjal, kumbang tepung Morfologi

Telur : Ukuran 70-80µm (lebih besar dari H.nana). Bentuk bulat, kulit sangat tebal bagian luar tipis degan garis siang dan bagian dalam sangat tebal berisi filamen.

Berisi embrio bulat dengan 6 kait yang tersusun seperti kipas.

Cacing dewasa : P = 10-60cm L = 3-5cm

Terdapat 800-900 segmen Skoleks : Bentuk seperti gada

Rostelum mengalami kemunduran dan tidak berkait. Dilengkapi 4 alat isap berukuran kecil.

(12)

Progolotig : Bentuk matur segmen mirip dengan segmen matur H.nana 0,8 X 2,5 mm. Segmen

garnula terdapat uterus berbentuk kantung yang dipenuhi oleh telur.

Gejala klinis : Infeksi biasanya dapat ditoleransi dengan baik oleh hospes dengan sedikit gejala bila ada. Jika terjadi berupa kelainan ringan seperti tidak enak di perut atau diare ringan.

Diagnosa lab : Pemeriksaan tinja : telur

Pencegahan : Program pengendalian tikus menghindari menelan ectoparasit yang berasal dari kumbang pada biji-bijian.

Ciri-ciri Hymenolepsis diminuta:

1. Skoleks 4 batil isap tanpa kait

2. Telur penebalan polar tanpa filamen

3. Segmen ovarium yang matang : dua lobus 4. Testis : 3 globulus terpisah

(13)

Istilah

Proglotid : bagian tubuh cacing pita yang masing-masing mengandung sistem organ termasuk organ reproduksi.

Hermafrodit : individu yang memiliki dua alat atau organ kelamin yaitu  jantan dan betina, berfungsi penuh.

 Asimtomatik : suatu penyakit ketika pasien tidak menyadari gejala apapun.

(14)

BAB III PENUTUP

 A. Kesimpulan

Hymenolepis diminuta memiliki panjang 20-60 cm dan mempunyai 1.000 proglotid, telurnya sferis dan berhialin, diameternya 72-86 ɰ dan seperti Hymenolepis nana memiliki 2 lapis membran, lapisan dalam mempunyai penebalan polar tetapi tidak memiliki filamen. Telur dalam tinja tertelan oleh artropoda, biasanya tikus atau suatu kumbang. Pada artropoda telur berkembang menjadi sistiserkoid, jika artropoda yang infektif ini tertelan oleh binatang atau manusia, cacing berkembang menjadi bentuk yang matang dalam usus. Infeksi sering asimtomatik dan diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja .

B. Saran

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari embaca demi kesempurnaan makalah ini.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Prianto, Juni L., P.U., Tjahaya dan Darwanto, 1994,  Atlas Parasitologi Kedokteran, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Brown, Harold W., 1979, Dasar Parasitologi Klinis Edisi III , PT Gramedia, Jakarta

Gandahusada, Srisasi,dkk, 2004, Parasitologi Kedokteran Edisi III  , Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Devi Chandra http://newsparasit.blogspot.co.id/2014/11/hymenolepis-diminuta.html diakses pada hari selasa, 6 juni 2017 pukul 12.30

Triyaniuc https://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/echinococus-granulosus-diphyllobothrium-latum/ diakses pada kamis, 8 juni 2017 pukul 16.50

(16)

Pilihan Ganda

1. Obat yang efektif untuk pencegahan dan pengendalian Hymenolepis diminuta adalah. . .

a. Antabrine b.  Antalgin

c. Cotrimoxazole d. Parasetamol

2. Hospes perantara dari parasit Hymenolepis diminuta adalah. . . . a. Manusia

b. Tikus dan mencit

c. Pinjal dan kumbang tepung d. Sapi dan babi

3. Pada cacing dewasa morfologi Hymenolepis diminuta terbagi atas . . . . a. Kepala, leher, dan ekor

b. Kepala (skolek), leher dan proglotid-proglotid c. Kepala, badan, dan ekor 

d. Proglotid dan kepala Esai

1. Tuliskan klasifikasi dari Hymenolepis diminuta Kingdom : Animalia Phylum : Platyhelminthes Class : Cestoda Ordo : Cyclophyllidea Family : Hymenolepididae Genus : Hymenolepis

Species : Hymenolepis diminuta

2. Jelaskan secara singkat siklus hidup dari Hymenolepis diminuta

Telur ditemukan pada tinja hospes definitif. Cacing ini memerlukan hospes perantara I yaitu larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa. Didalam serangga ini embrio yang keluar dari telurnya berkembang

(17)

menjadi sistiserkoid. Bila dimakan oleh hospes definitif, sistiserkoid akan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dalam waktu kira-kira 18-20 hari.

Gambar

Gambar skoleks Hymenolepis diminuta
Gambar telur Hymenolepis diminuta

Referensi

Dokumen terkait