BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN
A.
A. PenPengertgertian Komian Komuniunikasi Tekasi Teraperapeutik utik Komuni
Komunikasi kasi dalam bidang dalam bidang keperakeperawatan merupakan watan merupakan proseproses s untuk menciptakanuntuk menciptakan hubungan
hubungan antara teantara tenaga kesehatnaga kesehatan dan pasien untuk menan dan pasien untuk mengenal kebutugenal kebutuhan pasien danhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting memecahkan masalah yang karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting memecahkan masalah yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proposional yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proposional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik terdapat mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik terdapat dua komonen penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya. Komunikasi dua komonen penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi untuk personal dengan titik tolak saling memberikan terapeutik termasuk komunikasi untuk personal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien.
pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien.
Menurut Purwanto komunikasi terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar Menurut Purwanto komunikasi terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar utnuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam artian wawancara digunakan pada utnuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam artian wawancara digunakan pada saa
saat t petpetugaugas s keskesehaehatan tan melmelakukakukan an penpengkajgkajian ian memmember ber penypenyuluhuluhan an keskesehatehatan an dandan perencaan perawatan.
perencaan perawatan.
B.
B. TujuTujuan an komkomunikunikasi asi teraterapeutpeutik ik
Menurut Purwanto tujuan dari komunikasi terapeutik : Menurut Purwanto tujuan dari komunikasi terapeutik : 1.
1. memembmbanantu tu papasisien en mememmpeperjrjelelas as dadan n memengngururanangi gi bebebaban n peperarasasaan an dadan n pipikikirarann mempertahakan kekuatan egonya.
mempertahakan kekuatan egonya. 2.
2. MembaMembantu menntu mengambil tgambil tindakaindakan yang efn yang efektif uektif untuk mntuk mengubah siengubah situasi tuasi yang adayang ada 3.
3. MeMengngululanang g kerkeragaguan uan memembmbantantu u dadalam lam penpengamgambibilalan n titindandakakan n yayang ng efefekektitif f dadann mempengaruhi orang lai lingkungan fisik dan dirinya. Dalam mencapai tujuan ini mempengaruhi orang lai lingkungan fisik dan dirinya. Dalam mencapai tujuan ini sering sekali perawat memenuhi kendala komunikasi yaitu :
sering sekali perawat memenuhi kendala komunikasi yaitu : a.
a. TiTingngkakah lh lakaku pu pererawawatat Dir
Dirumaumah h saksakit it pempemerierintantah h maumaupun pun swaswastasta, , perperawaawat t memmemeganegang g perperanananan penting;
penting; tingkah tingkah laku; laku; gerak-gerik gerak-gerik perawat perawat selalu selalu dinilai dinilai oleh oleh masyarakat.masyarakat. Bahkan sering juga surat kabar memuat beritaberita tentang perawat rumah Bahkan sering juga surat kabar memuat beritaberita tentang perawat rumah
sakit
sakit. . BertiBertindak yang ndak yang tidak sebenarnytidak sebenarnya. a. DipandDipandang oleh ang oleh klien perawat judes,klien perawat judes, jahat dan sebagainya.
jahat dan sebagainya. b.
b. Perawatan yang berorientasi Rumah sakitPerawatan yang berorientasi Rumah sakit Pelaks
Pelaksanaan perawatan difokuskan pada anaan perawatan difokuskan pada penyakpenyakit it yang yang diderididerita ta klien semata,klien semata, sedangkan psikososial kurang mendapat perhatian. Tujuan pelaksaan perawatan sedangkan psikososial kurang mendapat perhatian. Tujuan pelaksaan perawatan yang sebenarnya yaitu manusia seutuhnya yang meliputi bio, psiko dan sosial. yang sebenarnya yaitu manusia seutuhnya yang meliputi bio, psiko dan sosial.
i.
i. BiBio : o : KeKebubututuhahan dn dasasarar, m, makakan an miminunum, m, okoksisigegen dn dan an peperkrkemembabangnganan keturunan.
keturunan.
iiii.. PPssiikko o : : JJiiwwaa, , ppeerraawwaat t ssuuppaayya a ttuurruut t mmeemmbbaannttu u mmeemmeeccaahhkkaann masalah yang ada hubungnnya dengan jiwa
masalah yang ada hubungnnya dengan jiwa
iiiii.i. SoSossiaial l : : PePerrawawat at jjuguga a mmenengegettahahui ui kekebibiasasaaaan-n-kekebibiasasaaaan, n, adadatat istiadat dari klien di dalam masyarakat.
istiadat dari klien di dalam masyarakat. c.
c. PerPerawaawat t kurkurang tanggang tanggap terhaap terhadap kebutdap kebutuhauhan, n, kelkeluhanuhan-ke-keluhluhan, sertan, serta a kurkurangang me
mempmpererhathatikikan an apapa a yayang ng didirarasasakakan n ololeh eh klklieien n sesehihinggngga a memenghnghamambatbat hubungan baik.
hubungan baik.
Saya sudah hampir 20 tahun menjadi perawat di rumah sakit ini, walaupun gaji Saya sudah hampir 20 tahun menjadi perawat di rumah sakit ini, walaupun gaji saya kecil tapi saya dituntut untuk bekerja keras melayani para pasien sering kali saya saya kecil tapi saya dituntut untuk bekerja keras melayani para pasien sering kali saya mendapat cacian dari pasien karena saya terlambat memberikan pelayanan. Hal ini sering mendapat cacian dari pasien karena saya terlambat memberikan pelayanan. Hal ini sering terjadi kalau saya piket malam karena keterbatasan jumlah perawat yang piket kemudian terjadi kalau saya piket malam karena keterbatasan jumlah perawat yang piket kemudian permintaan
permintaan pelayanan pelayanan dari dari pasien pasien banyak banyak sehingga sehingga kami kami kewalahan kewalahan melayaninya melayaninya dandan berdampak pada keterlambatan pelayanan ujar suster T.
berdampak pada keterlambatan pelayanan ujar suster T.
Sehingga sering kali karena terlambat kami menerima cacian dari pasien dan Sehingga sering kali karena terlambat kami menerima cacian dari pasien dan takala kami menerangkan alasannya kenapa kami telat terus kami minta pengertaian dari takala kami menerangkan alasannya kenapa kami telat terus kami minta pengertaian dari pasiean
pasiean untuk untuk bersabar bersabar malah malah pasien pasien sering sering mensalah mensalah artikan artikan kata-kata kata-kata kami kami sehinggasehingga kami kadang mendapat julukan suster cerewet atau suster judes “ tambahnya. Hal inilah kami kadang mendapat julukan suster cerewet atau suster judes “ tambahnya. Hal inilah yang
yang serinsering g terjterjadi adi sehingsehingga ga dapat menghambat terjalidapat menghambat terjalinnya nnya komunikomunikasi kasi terapterapeutik yangeutik yang harmonis diantara perawat dan pasien.
harmonis diantara perawat dan pasien.
C.
C. ManfManfaat Kaat Komunomunikaikasi Tersi Terapeapeutik utik 1.
1. MendorMendorong dan mong dan menganjuenganjurkan kerrkan kerja samja sama antara antara perawaa perawat dg pasit dg pasien melen melalui hubunalui hubungangan perawat-klien
2.
2. MengiMengidentifdentifikasiikasi, mengung, mengungkapkan perkapkan perasaan, daasaan, dan mengkan mengkaji masaji masalah & melah & mengevalungevaluasiasi tindakan yg dilakukan oleh perawat
tindakan yg dilakukan oleh perawat
D.
D. MacaMacam-Mam-Macsm Komcsm Komuniunikasi Terkasi Terapeuapeutik tik Ko
Kommununikikasasi i mmererupupakakan an prprososes es kokommplplekeks s yyanang g mmeleliibabatktkan an peperrililakaku u dadann mem
memungkungkinkinkan an indindiviividu du untuntuk uk berberhubuhubungan ngan dendengan gan oraorang ng lailain n dan dan dunidunia a seksekitaitarnyrnya.a. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.
yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
yang dimanifestasikan secara terapeutik.
1.
1. KoKomumuninikakasi si VeVerbrbalal
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata ada
adalah lah alaalat t ataatau u simsimbol bol yanyang g dipdipakai akai untuntuk uk menmengeksgeksprepresiksikan an ide ide ataatau u perperasaasaan,an, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Se
Seriring ng jujuga ga ununtutuk k memenynyampampaiaikan kan ararti ti yayang ng tetersrsemembubunynyi, i, dadan n memengunguji ji miminanatt seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
tiap individu untuk berespon secara langsung.
Komunikasi Verbal yang efektif harus: Komunikasi Verbal yang efektif harus:
a.
a. JeJellas as dadan rn riingngkakass
Kom
Komuniunikaskasi i yanyang g efeefektiktif f harharus us sedsederherhanaana, , penpendek dek dan dan lanlangsugsung. ng. MakMakinin se
sedidikikit t katkata-a-kakata ta yayang ng didigugunaknakan an mamakikin n kekecicil l kekeniniunungkigkinanan n teteijijadiadinynyaa ker
kerancancuan. uan. KejeKejelaslasan an dapdapat at dicdicapaapai i dendengan gan berberbicbicara ara secsecara ara lamlambat bat dandan menguc
mengucapkannyapkannya a dengan jelas. dengan jelas. PenggunaPenggunaan an contoh bisa contoh bisa membmembuat uat penjelpenjelasanasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana,
kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.
b. Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami)
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan “Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru paru anda” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.
c. Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan keperawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.
d. Selaan dan kesempatan berbicara
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang
menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan.
Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.
e. Waktu dan Relevansi
Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.
f. Humor
Dugan (1989) dalam Purba (2003) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) dalam Purba (2006) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang
menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.
2. Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain- lain.
Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari : a. Lengkap
b. Ringkas
c. Pertimbangan d. Konkrit
e. Jelas f. Sopan g. Benar
Fungsi komunikasi tertulis adalah:
a. Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik, misalnya; persetujuan operasi.
b. Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan.
c. Dokumentasi historis, misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau.
d. Jaminan keamanan, umpamanya surat keterangan jalan.
e. Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat pengangkatan.
Keuntungan Komunikasi tertulis adalah: a. Adanya dokumen tertulis
b. Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman c. Dapat meyampaikan ide yang rumit
d. Memberikan analisa, evaluasi dan ringkasan e. menyebarkan informasi kepada khalayak ramai
f. Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan. g. Membentuk dasar kontrak atau perjanjian
h. Untuk penelitian dan bukti di pengadilan
Kerugian Komunikasi tertulis adalah:
a. Memakan waktu lama untuk membuatnya b. Memakan biaya yang mahal
c. Komunikasi tertulis cenderung lebih formal
d. Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran e. Susah untuk mendapatkan umpan balik segera
g. Bila penulisan kurang baik maka akan membingungkan Si pembaca.
3. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.
Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut: a. Kinesik
Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Perhatikan bahwa dalam pengalihan
informasi mengenai kesehatan, para penyuluh tidak saja menggunakan kata-kata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya, obat yang mujarab, cara memakai kondom, cara mengaduk obat, dan lain-lain.
b. Proksemik
Proksemik yaitn bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek.
c. Haptik
Haptik seringkali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi. Atas dasar itu maka ada ahli kumunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus dan mencubit. Haptik mengkomunikasikan relasi anda dengan seseorang.
d. Paralinguistik
Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal. Sebagai contoh,
orang-orang Muang Thai merupakan orang-orang yang rendah hati, mirip dengan orang-orang jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras. Mengeritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung tetapi dengan anekdot. Ini berbeda dengan orang Batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras.
e. Artifak
Kita memehami artifak dalam komunikasi komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material disekitar kita, lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan. Sepeda motor, mobil, kulkas, pakaian, televisi, komputer mungkin sekedar benda. Namun dalam situasi sosial tertentu benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain. Kita dapat menduga status sosial seseorang dan pakaian atau mobil yang mereka gunakan. Makin mahal mobil yang mereka pakai, maka makin tinggi status sosial orang itu.
f. Logo dan Warna
Kreasikan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupaka karya komunikasi bisnis, namun model keija m dapat ditirn dalam komunikasi kesehatan. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol da suatu karaya organisasi atau produk da suatu organisasi, terutama bagi organisasi swasta. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk, warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi.
g. Tampilan Fisik Tubuh
Acapkali anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara anda. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut, dan lain-lain).Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif, artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi, menikmati informasi, memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi. (Liliweri, 2007:108).
E. Prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers 1. Perawatan mengenal dirinya
2. Komunitas harus ditandai dengan sikap saling menerima, percaya, dan menghargai
3. Perawat harus memahami dan menghayati nilai yang dianut klien
4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan klien
5. Perawat harus menciptakan suasana yang nyaman
6. Perawat harus memotivasi klien
7. Perawat harus menguasai perasaannya sendiri
8. Memahami betul arti empati
9. Berpegang pada etika
10. Bertanggung jawab
11. Alturism
Prinsip komunikasi terapeutik menurut Suryani
1. Hubungan perawat dank lien saling menguntungkan
2. Perawat harus menghargai keunikan klien
3. Perawat harus mampu menjaga harga dirinya dan harga diri klien
4. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya (trust)
Prinsip kominikasi terapeutik menurut Purwanto
2. Tingkah laku professional
3. Membuka diri
4. Hubungan social dengan klien harus dihindari
5. Kerahasiaan klien harus dijaga
6. Kompetensi intelektual harus dikaji untuk menentukan pemahaman
7. Implementasi intervensi berdasarkan teori
8. Memelihara interaksi yang tidak menilai
9. Beri petunjuk klien untuk mengintrepetasikan kembali pengalaman secara rasional
10. Telusuri interaksi verbal klien melalui statement klarifikasi dan hindari
perubahan subyek atau topic jika perubahan isi topic merupakan sesuatu yang sangat menarik klien
Prinsip komunikasi terapeutik menurut DE VITO 1. Sikap kesejatian
M e ng h in d ar i m e mb u k a d i ri y a ng t e rl a lu d i ni s a mp a i d e ng a n anak menunjukkan kesiapan untuk berespon positif terhadap keterbukaan, sikapkepercayaan kita pada anak.
2. Sikap empati
Bentuk sikap dengan cara menempatkan diri kita pada posisi anak danorang tua.
3. Sikap hormat
B en tu k s ik ap y an g m en un j uk ka n a da n ya s ua tu k ep ed ul ia n a ta u perhatian, rasa suka dan menghargai klien. Misalnya : senyum pada saat y a n g t e p a t , m e l a k u k a n j a b a t t a n g a n a t a u s e n t u h a n y a n g l e m b u t dengan seizin komunikan.
B e n t u k s i k a p d e n g a n m e n g g u n a k a n t e r m i n o l o g i y a n g s p e s i f i k d a n bukan abstrak pada saat komunikasi.
F. Komponen Komunikasi
Komponen-komponen Komunikasi Ada 5 faktor yang berperan dalam berk omu nikasi . Kel ima fa kto r te rse but antara lain :
a. Komunikator (Pembawa berita)
Bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yangmenjadi sasarannya. Komunikator bisa juga berarti tempat berasalnya sumber pengertian yang dikomunikasikan.
b. Message (Pesan)
Merupakan berita yang disampaikan oleh komunikator melaluilambang-lambang, pembicaraan, gerakan dan sebagainya. Message bisa berupage ra ka n, sinar, suara lambaian tangan, kibaran bendera, atau tanda-tanda lain dengan interpretasi yang tepat akan memberikan arti dan makna tertentu. Dirumah sakit message bisa berupa nasehat perawat, hasil konsultasi pada status pasien, laporan, dan sebagainya.
c. Komunikan (Penerima berita)
Merupakan objek sasaran dari kegiatan komunikasi atau orang yangmenerima berita atau lambang. Bisa berupa pasien, individu, keluarga maupun masyarakat.
d . M e d i a
Sarana tersebut bisa meliputi, pendengaran (lambang berupa suara), penglihatan (lambang berupa gambar, sinar), penciuman (lambang berupa bau),rabaan (lambang yang berupa rangsangan rabaan).
e . F e e d b a c k
Merupakan arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya aruskomunikasi. Hal ini bisa juga dijadikan patokan sejauh mana pencapaian dari pesan yang telah disampaikan.
a. Tahap Prainteraksi
M en gu mp ul ka n d at a t en ta ng k li en d en ga n m em pe la ja ri s ta tu s a ta u bertanya kepada orangtua tentang masalah yang ada.
b. Tahap Perkenalan
Memberi salam dan senyum pada klien, melakukan validasi , mencari k e b e n a r a n d a t a y a n g a d a , m e n g o b s e r v a s i , m e m p e r k e n a l k a n n a m a d e n g a n tujuan, waktu dan menjelaskan kerahasiaan klien
c. Tahap Kerja
Memberi kesempatan pada klien untuk bertanya karena akanmemberitahu tentang hal yang kurang dimengerti dalam komunikasi, selain itu juga menanyakan keluhan utama.
d. Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara meliputi evaluasi proses dan hasil,memberikan re in f o r c eme n t p o siti f, t in d a k l an j u t , k o n tra k , d an me n g a k h ir i wawancara dengan cara yang baik
Wood mengatakan pada umumnya hubungan antar pribadi berkembang melalui tahap-tahap yaitu :
1. Tahap awal atau tahap orientasi pada tahap ini antara petugas dan pasien terjadi kontak dan pada tahap iini penampilan fisik begitu penting karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati. Kualitas-kualitas lain seperti sifat bersahabat kehangatan, keterbukaan dan dinamisme juga terungkap. Yang dapat dialkukan pada terapi ini menurut purwanto ialah pengenalan, mengidentifikasi masalah dan mengukur tingkat kecemasan diri pasien.
2. Tahap lanjutan adalah tahap pengenalan lebih jauh, menurut purwanto (1994: 25) dialkukan untuk meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada,
menurut De Vito (1997:24) komunikasi pada tahap ini mengikatkan pada diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap ini termasuk pada tahap persahabatan yang menghendaki agar kedua pihak harus merasa mempunyai kedudukan yang sama, dalam artian ada keseimbangan dan kesejajaran kedudukan.
Argyle dan Henderson dalam Liliweri (1997:55) mengemukakan, persahabatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu :
1. membagi pengalaman agar kedua pihak merasa sama-sama puas dan sukses
2. menunjukan hubungan emosional 3. membuat pihak lain menjadi senang
4. membantu sesama kalau dia berhalangan untuk suatu urusan
Purwanto (1994:26) mengatakan pada tahap komunikasi terapeutik ini harus (1) melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada (2) meningkatkan komunikasi (3) mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada. Secara psikologis komunikasi yang bersifat terapeutik akan membuat pasien lebih tenang, dan tidak gelisah.
Tahapan terminasi menurut purwanto (1994:26) pada tahap ini terjadi pengikatan antar pribadi yang lebih jauh, merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan perawatan yang didapat dan mempertahankan batas hubungan yang ditentukan, yang diukur antara lain mengantisipasi masalah yang akan timbul karena pada tahap ini merupakan tahap persiapan mental atas rencana pengobatan, melakukan peningkatan komunikasi untuk mengurangi ketergantungan pasien pada petugas. Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan antara petugas dengan klien.
Menurut Uripni (1993: 61) bahwa tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan, pada terminasi ini klien akan bertemu kembali pada
waktu yang telah ditentukan, sedangkan terminasi akhir terjadi jika klien selesai menjalani pengobatan.
Penjelasan Perawat-Klien Baru datang
Yang perlu dijelaskan oleh perawat kepada klien yang baru datang adalah meliputi :
1. Peraturan-peraturan rumah sakit 2. peraturan jam berkunjung
3. peraturan makan sehari 3 kali
4. makanan yang perlu dimakan (dietnya) atau bila ada keluarga yang membawa makanan sendiri
5. bel dimeja bila keperluan memanggil perawat 6. jam kunjungan dokter
7. bagi klien yang bisa jalan, perlu diberitahu tempat kamar mandi, WC dan sebagainya.
8. waktu jam mandi
9. Memperkenalkan teman klien sekamar (klien di bed sebelahnya).
Budi Pekerti Dalam Keperawatan
Budi pekerti keperawatan merupakan salah satu pendorong kekuatan (stimulus) bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya setiap hari. Karena dari budi pekertilah yang menentukan martabat/derajat tinggi rendahnya sifat manusia itu sendiri.
Kejujuran
Untuk keberhasilan suatu pekerjaan tergantung pada manusia yang jujur dalam menjalankannya. Lebih-lebih pekerjaan di rumah sakit, di mana hidup dan mati sering tergantung pada hal-hal yang remeh saja. Orang yang jujur dapat menjamin kekekalan persahabatan, keberesan pekerjaan dan kehormatan. Mempertebal kejujuran itu bukan suatu usaha yang mudah. Hal
ini memerlukan latihan intensif dari athun ke tahun yang sabar. Jujur serta bertanggung jawab dalam mengurus klien setiap hari. Dalam dunia keperawatan kejujuran itu mempunyai arti yang luas sekali. Jujur dalam kelakuan dan tindakan serta pembicaraan adalah penting untuk klien dan lingkungannya.
Kejujuran dalam keperawatan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) :
1. Jujur terhadap pekerjaan misalnya mengenai pengobatan, laporan-laporan yang berhubungan dengan keadaan pasien.
2. jujur terhadap lingkungan. Hal ini penting karena perawat dalam melaksanakan pekerjaannya setiap hari selalu berhubungan dengan orang banyak. Hendaknay jangan sekali-kali memiliki atau menggunakan barang orang lain secara tidak sah tanpa ijin pemiliknya. Kejujuran ini penting bagi perawat itu sendiri maupun bagi rumah sakit dan masyarakat umum.
3. Jujur dalam perkataan. Tidak membohong, melaporkan hal sebenarnyatentang keadaan klien kepada atasan secara benar. Tidak menceritakan kejengkelan orang lain ataupun mengadu
domba.
Kejujuran dalam menunaikan tugas bagi perawat sangat penting karena bertalian dengan keselamatan jiwa pasien. Mengisi status atau daftar mengenai pasien harus tepat dan yakin akan ketepatannya.
Menuliskan suhu klien tidak bisa dikira-kira begitu saja karena mengacaukan diagnosis nantinya tindakan demikian tidak jujur namanya. Jika menemukan kesalahan dalam mengambil tindakan atau dalam pelaksanaan tugas, hendaknya segera lapor kepada atasan atau kepala ruangan. Sehingga kesalahan itu dapat segera dibetulkan/diperbaiki atau sekurang-kurangnya bisa disederhanakan. Bila menemukan perawat tidak jujur dalam arti kata memalsukan laporan atau membuat laporan tidak betul sehingga fatal bagi pasien seharusnya tidak diberi tanggung jawab atau diskors sama sekali dari
tugas-tugasnya. Karena menjadi perawat tidak boleh sembrono dalam bertindak.
H. Teknik Komunikasi Terapeutik 1. Mendengarkan dg penuh perhatian 2. Menunjukkan penerimaan
3. Menanyakan pertanyaan yg berkaitan 4. Open-ended question
5. Mengulang ucapan klien dg kata-kata sendiri 6. Mengklarifikasi
7. Memfokuskan
8. Menyatakan hasil observasi 9. Menawarkan informasi
10. Diam ( memelihara ketenangan ) 11. Meringkas
12. Memberikan penghargaan 13. Menawarkan diri
14. Memberikan kesempatan pd klien utk memulai pembicaraan 15. Menganjurkan utk meneruskan pembicaraan
16. Menempatkan kejadian scr berurutan
17. Memberikan kesempatan pd klien utk menguraikan persepsi 18. Refleksi
19. Assertive (mengekspresikan pikiran & perasaan diri) 20. Humor
I. Proses Komunikasi terapeutik
Proses ini terdiri dari unsur komunikasi prinsip komunikasi dan tahapan komunikasi. Unsur komunikasi terdiri dari :
Sumber komunikasi yaitu pengirim pesan atau sering disebut komunikator yaitu orang yang menyampaikan atau menyiapkan pesan. Komunikator dalam makalah ini adalah para
perawat yang tugas utamanya ialah membantu pasien dalam mengatasi masalah sakit akut, sakit kronis, dan memberikan pertolongan pertama pada pasien dalam keadaan gawat darurat.
Komunikator memiliki peranan penting untuk menentukan keberhasilan dalam membentuk kesamaan persepsi dengan pihak lain dalam makalah ini ialah pasien. Kemampuan komunikator mencakup keahliaan atau kredibilitas daya tarik dan keterpercayaan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan menentukan keberhasilan dalam melakukan komunikasi (TAN, 1981:104).
Unsur komunikasi terapeutik selain komunikator, yaitu pesan merupakan salah satu unsur penting yang harus ada dalam proses komunikasi. Tanpa kehadiran pesan, proses komunikasi tidak terjadi. Komunikasi akan berhasil bila pesan yang disampaikan tepat, dapat dimengerti, dan dapat diterima komunikan.
Moore dalam Rakhmat (1993:297) mengemukakan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan oleh daya tarik pesan. Effendy (2000:41) mengatakan bahwa komunikasi akan berhasil bila pesan yang disampaikan memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Pesan harus direncanakan
2. Pesan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti kedua belah pihak 3. Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima
4. Pesan harus berisi hal-hal yang mudah difahami 5. Pesan yang disampaikan tidak samar-samar. Prinsip komunikasi terapeutik
Komunikasi interpersonal yang terapeutik mempunyai beberapa prinsip yang sama dengan komunikasi interpersonal De Vito yaitu keterbukaan, empati, sifat mendukung sikap positif dan kesetaraan.
J. Perbedaan Komunikasi Terapeutik dengan Komunikasi Sosial 1. Komunikasi terapeutik :
a. Terjadi antara nurse ‘n klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
b. Komunikasi ini umumnya lebih akrab, karena mempunyai tujuan, dan berfokus pd pasien yg membutuhkan bantuan
c. Nurse secara aktif mendengarkan & memberi respon kepada klien dg cara menunjukkan sikap mau menerima & mau memahaminya
2. Komunikasi Sosial :
a. Terjadi setiap hari antar-orang per orang
c. Lebih banyak terjadi dlm pekerjaan, aktifitas sosial, dll
d. Pembicara tidak mempunyai focus tertentu, hanya kebersamaan dan rasa senang e. Dapat direncanakan tetapi juga dapat tidak direncanakan
BAB III Role Play BAB III
B. Roleplay
Asslm...kami dari kelompok 10 akan menampilkan rolepaly mengenai komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat terhadap pasiennya.Roleplay ini akan dimainkan oleh : Pasien : Muhammad Riduan
Perawat : Monicha Edita Prima Keluarga Pasien : M. Reza Azmei Leader : Janiati
Pasien tiba di rumah sakit Medika tadi pagi sekitar jam 03:00 dan diinapkan sementara di ruangan Unit Gawat Darurat.Pagi ini pasien dipindahkan ke ruangan Melati no.7,pasien ini
bernama Bapak Riduan Burhanuddin,berumur 45 tahun.Dari pemeriksaan yang dilakukan pasien ini mengalami demam yang sangat tinggi dan timbul bercak-bercak merah di kulitnya. Pasien didiagnosa menderita DBD (Demam Berdarah ).Pasien ini masih mampu memberi respon
terhadap setiap stimulus yang diberikan kepadanya, baik berupa respon berbicara maupun gerak tubuhnya.Berikut ini kami akan menampilkan roleplaynya.
Perawat : “Assalammuala’ikum....”. (sambil tersenyum).
Keluarga : “Wa’alaikumsalam...”.
(Pasien diam dan terlihat lemah )
Perawat : “Perkenalkan nama saya suster Monika...(sambil tersenyum)”. “Saya akan membantu bapak selama berada di rumah sakit ini”.
“Oh...iya Pak untuk mempermudah dan memperlancar proses pengobatan Bapak disini, boleh saya tahu nama Bapak siapa...?”
(sambil tersenyum).
Pasien :( Pasien hanya diam....sambil meringis) Keluarga : “Namanya Pak Ridwan Burhanudin”.
(sambil tersenyum ramah...).
Pasien : ( Pasien tidak menjawab...)
Keluarga : “Bapak biasanya dipanggil Pak Ridwan...Sus...”.
Perawat : “Oh....Kalau begitu saya panggil Pak Ridwan saja ya...”. (sambil tersenyum ramah)....
Pasien : ( Pasien mengangguk...)
Perawat : “Hmm...Mas ini siapanya Pak Ridwan...?” Keluarga : “Oh saya anaknya Sus...”.
(sambil tersenyum...).
Perawat : “Hmm..Terima kasih atas informasinya Pak, dengan tahu siapa nama Bapak, Jadi saya enak memanggil Bapak...”.
“Pak, Bapak sekarang berada di Rumah Sakit Medika Ruangan Melati No.7, semoga bapak merasa nyaman selama disini....”.
(sambil tersenyum....). Pasien : (Pasien tersenyum....). Keluarga : “Iya, Sus...”.
(sambil tersenyum ramah...).
Perawat : “Permisi Pak, saya mau bertanya sebelum Bapak masuk rumah sakit apa keluhan-keluhan yang bapak rasakan...?” (Perawat mulai mengintrogasi....).
Pasien : “Saya sering menggigil, Panasnya tinggi...Sus...!”
(wajah pasien memelas dan berbicara dengan nada rendah )
Keluarga : “Iya. Sus....Kemarin. Panasnya sangat tinggi dan kulit Bapak mulai
timbul seperti bercak-bercak merah”. (wajah keluarga kelihatan khawatir). Perawat : “Oh....Sejak kapan bapak mulai demam panas..?” dan suka
menggigil...?” (perawat empati...). Pasien : “Tiga hari yang lalu...Sus...!”
(suara pasien parau...).
Keluarga : “Tapi, demam panasnya yang tinggi baru kemarin Sus....”. (keluarga kelihatan khawatir...).
Perawat : “Menurut Bapak apa yang menyebabkan Bapak suka menggigil dan upaya apa saja yang telah Bapak lakukan untuk mengurangi rasa menggigil Bapak itu”. (Perawat kelihatan serius...).
Pasien : “Saya merasa dingin...sekali Sus..., tapi tidak tahu apa sebabnya.” (Pasien merintih....).
Keluarga : “Selama di rumah, Bapak hanya meminum obat penurun panas biasa...Sus...”. (keluarga berusaha menjelaskan....).
Perawat : “Pak untuk mengetahui keluhan-keluhan yang bapak rasakan..., saya akan melakukan pengukuran suhu tubuh dan tekanan darah bapak....!” (Perawat menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan....).
Pasien : (Pasien hanya menganggukkan kepala...).
Perawat : “Bapak tenang saja ya pak, selama saya periksa....!”
(Perawat menyiapkan alat....).“Permisi ya... Pak saya mau mengukur suhu tubuh bapak dulu!” (sambil tersenyum ramah kepada pasien....). “Bapak mau melakukan sendiri atau saya bantu Pak....?” (Perawat sambil memegang alat....).
Pasien : “Maaf saya dibantu saja Sus...!”
(Pasien kelihatan lemah hampir tidak berdaya.... ).
Perawat : “Baiklah.... Pak”.(Perawat tersenyum...). (Beberapa menit kemudian...).
Perawat : “Hmm.... baiklah pak saya sudah melakukan pengukuran suhu tubuh Bapak”. “ Sekarang kita periksa tekanan darah Bapak ya!” (sambil mempersiapkan tensi...).
Pasien : “Baiklah ....Sus...”.
(Beberapa menit kemudian....).
Perawat : “Baiklah Pak ternyata suhu tubuh Bapak 40*C dan tekanan darah Bapak 70/60mmHg”. (Perawat menerangkan kepada keluarga dan pasien....). Keluarga : “Jadi, Bapak sakit apa ya...Sus...?”
“Jadi, bagaimana pengobatannya ...Sus...?” (keluarga kelihatan panik sekali....).
Perawat : “Mas tenang saja, karena saya belum konsultasi dengan dokternya, jadi saya belum tahu penyakitnya. (Perawat menenangkan pasien dan
keluarga....).
Pasien & Keluarga : “Terima kasih....Sus...”.
(Pasien dan keluarga menjawab serentak...) Keluarga : “Jadi apa yang harus kami lakukan Sus?”
(wajah keluarga memelas...).
Perawat : “Begini saja mas....,karena obatnya belum diambil, kita kompres Bapaknya dulu ya....untuk menurunkan panasnya....!” (Perawat mempersiapkan alat...).
“Maaf ....Pak saya kompres dulu ya....!”
(Perawat mengompres pasien...). “Mas....bisa tolong saya...?” “Selama saya pergi mas....kompres dulu ya....Bapaknya...!” “Seperti ini ya....mas kompresnya....!” (Perawat memperagakan cara mengompres kepada keluarga pasien....). “Coba mas....lakukan....!” (sambil tersenyum....). Keluarga : “Begini ya....Sus...?”
(Keluarga kelihatan sudah mengerti...).
Perawat : “Iya....Mas nanti kalau kompresnya sudah kering nanti celupkan lagi ya waslapnya...!” (Beberapa menit kemudian...). “Bagaimana keadaan Bapak setelah di kompres....?”
“Apa Bapak merasa lebih enakan...?” Pasien : “Masih sama....Sus....!”
(Pasien kelihatan lemah...).
Perawat : “Baiklah Pak...saya ukur lagi ya suhu tubuh Bapak...!” (Perawat mempersiapkan alat...).
Pasien : “Iya...Sus...!”
(Pasien kelihatan....pasrah....).
Perawat : “Oh...iya...Pak mau saya bantu lagi atau Bapak sendiri yang mengukurnya?” (sambil tersenyum...ramah...).
Perawat : “Baiklah...Pak saya ukur ya...!” (Beberapa menit kemudian....). “Pak....suhu tubuh Bapak belum ada perubahan”.”Mas....kompres terus Bapaknya seperti yang saya ajarkan tadi ya....!” “Maaf...Pak saya tinggal dulu ya....sekitar 1 jam lagi saya kembali”. ”Mas....tolong di jaga ya
Bapaknya....! ”Nanti saya lihat perubahan suhu tubuh Bapak dan tindakan apa yang tepat untuk Bapak”.
Pasien & keluarga : “Iya....Sus...”.
(Pasien dan keluarga menjawab serentak...). Perawat : “Saya permisi dulu ya....Pak....”.
“Sampai jumpa nanti...Assalammuala’ikum....”. (Sambil tersenyum...ramah).
BAB IV
STRATEGI PELAKSANAAN
PENGKAJIAN KEPEAWATAN KESEHATAN JIWA Ruang rawat :
I. IDENTITAS KLIEN
Nama/ Jenis Kelamin : Umur :
Tanggal masuk RS : No CM :
Alamat : Pendidikan :
Status Perkawinan : Pekerjaan :
Sumber Data : Suku :
Bentuk tubuh :
II. ALASAN MASUK
III. FAKTOR PRESDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?
( ) ya,tahun ( ) tidak 2. Pengobatan sebelumnya kemana :
3. Trauma
Usia Pelaku Korban Saksi Aniaya Fisik
Aniaya Seksual Penolakan
Kekerasan dalam keluarga Tindakan Kriminal
Jelaskan :
4 Adakah anggota keluarga yang mengalami ganguang jiwa? ( )ya ( ) tidak
Hubungan keluarga : Gejala:
Riwayat pengobatan:
5 Adakah pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan? (perceraian/perpisahan/konflik dsb)
IV FAKTOR PRESPITASI
V PRESEPSI DAN HARAPAN KLIEN DAN KELUARGA 1. PRESEPSI KLIEN ATAS MASALANYA
2. PRESEPSI KELUAGA TAS MASALAHNYA
3. HARAPAN KLIEN SEHUBUNGAN DENGAN PEMECAHAN MASALAH
4. HARAPAN KELUARGA SEHUBUNGAN DENGAN PEMECAHAN MASALAH
VI. KOPING DAN HARAPAN KLIEN/KELUARGA 1. Koping klien terhadap masalah yang dihadapi
2. Koping keluarga terhadap masalah klien
VII. PEMERIKAAN FISIK
2. Berat Badan kg TB Cm
3. Keluhan Fisik
VIII. KELUARGA GENOGRAM
1. POLA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
2. PRESEPSI PERAN DALAM KELUARGA
3. PRESEPSI GANGGUAN KELUARGA
IX. PSIKOSOSIAL 1. KONSEP DIRI Citra Tubuh Identitas Peran Ideal diri Harga diri 2. HUBUNGAN SOSIAL
Peran serta dalam kehdupan masyarakat/kelompok
Hambatan hubugan dengan orang lain
3. PENDIDIKAN DAN PERKEJAAN
4. GAYA HIDUP
5. BUDAYA
6. SPIRITUAL
Nilai dan keyakinan
Kegiatan Ibadah
X. STATUS MENTAL 1. penampilan
( ) tidak rapi ( ) penggunaan pakaian tidak sesuai ( ) cara berpakaian tidak seperti biasa Jelaskan :
2 Aktifitas motorik
( ) lesu ( ) tik ( ) gelisah ( )tremor ( )tegang ( )grimasem ( ) agitasi ( ) kompulsif
Jelaskan :
3 Alam perasaan
( ) sedih ( ) kuatir ( ) gembira berlebihan ( ) Ketakutan ( )putus asa Jelaskan :
4 EFEK
( ) labil ( ) datar ( ) tumpul ( ) tidak sesuai Jelaskan :
5 Interaksi selama wawancara
( ) bermusuhan ( )deensif ( ) curiga ( ) tidak kooperatif ( ) mudah tersinggung Jelaskan ;
6. Persepsin : halusinasi
( ) pengecapan ( ) pendengaran ( ) perabaan ( )pengelihatan Jelaskan :
7. Isi piker
( ) obsesi ( ) depersonalisasi ( ) pikiran magis ( ) phobia ( ) ide yang terkait ( ) hipokondria Waham
( ) agama ( ) nihilistis ( ) curiga ( ) control piker ( ) somatic ( ) sisip piker ( ) kebesaran ( ) siar piker Jelaskan :
8. Arus pikir
( ) sirkumstansial ( ) flight of idea ( ) perseverasi
( ) tangensial ( ) blocking ( ) kehilangan asosiasi Jelaskan :
( ) bingung ( ) stupor ( ) disorientasi orang
( ) sedasi ( ) disorientasi waktu ( ) disorientasi tempat Jelaskan :
10. Memori
( ) gangguan daya ingat jangka panjang ( ) gangguan daya ingat saat ini ( ) gangguan daya ingat jangka pendek ( ) konfabulasi
Jelaskan :
11. Tingkat konsentrasi dan berhitung
( ) mudah beralih ( ) tidak mampu berkonsentrasi ( ) tidak mampu berhitung
12. Kemampuan penilaian
( ) gangguan ringan ( ) gangguan bermakna Jelaskan :
13. Daya tilik diri
( ) mengingkari penyakit yang diderita ( ) menyalahkan hal-hal diluar dirinya Jelaskan :
XI. KEBUTUHAN PERENCANAAN PULANG 1. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
( ) makanan ya tidak ( ) transportasi ya tidak ( ) keamanan ya tidak ( ) tempat tinggal ya tidak ( ) perawatan kesehatan ya tidak ( ) uang ya tidak ( ) pakaian ya tidak
Jelaskan :
2. Kegiatan hidup sehari – hari
Bantuan Total Bantuan Minimal ( ) mandi ( ) kebersihan ( ) makan ( ) BAK / BAB ( ) ganti pakaian Jelaskan : b. Nutrisi
Apakah anda puas dengan pola makan anda : ( ) ya ( ) tidak Apakah anda makan memisahkan diri :
( ) ya, jelaskan ( ) tidak
Frekuensi makan sehari : x sehari frekuensi kudapan sehari : x sehari
Nafsu makan : ( ) meningkat ( ) menurun ( ) berlebihan ( ) sedikit – sedikit
Berat badan : ( ) meningkat ( ) menurun
Berat Badan Terendah : kg Berat Badan Tertinggi : kg
Jelaskan :
c. Tidur
Apakah ada masalah tidur :
Apakah merasa segar setelah bangun tidur : Apakah ada kebiasaan tidur siang :
Lama tidur siang : jam Apa yang menolong tidur :
Tidur malam : bangun jam : Apakah ada gangguan tidur :
( ) sulit untuk tidur ( ) bangun terlalu pagi ( ) sonambulisme
( ) terbangun saat tidur ( ) gelisah saat tidur ( ) berbicara saat tidur
Jelaskan :
3. Kemampuan klien dalam :
Mengantisipasi kebutuhan sendiri ( ) ya ( ) tidak Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri ( ) ya ( ) tidak Mengatur penggunaan obat ( ) ya ( ) tidak Melakukan pemeriksaan kesehatan ( ) ya ( ) tidak Jelaskan :
4. Klien memiliki system pendukung
Keluarga : ya tidak
Terapis : ya tidak
Teman sejawat : ya tidak
Kelompok social : ya tidak Jelaskan :
5. Apakah klien menikmati saat bekerja, kegiatan produktif atau hobi ? ( ) ya ( ) tidak
Jelaskan :
XII. ASPEK MEDIK Diagnosa Medik :
Terapi Medik :
XIII. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
FORMAT ANALISA DATA
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
NAMA MAHASISWA :
NAMA PASIEN / RUANG :
NO MEDREK : HARI/TANGGAL : HARI KE / PERTEMUAN KE : FASE : I. PROSES KEPERAWATAN
1.
KONDISI KLIEN(Gambarkan kondisi klien pada saat terakhir bertemu) DO:
DS :
2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN(Tuliskan diagnose keperawatan yang akan diatasi pada pertemuan ini berdasarkan data di atas, tulis diagnose ke berapa)
3.
TUJUAN KEPERAWATAN(Tuliskan tujuan khusus keperawatan. yang akan dicapai pada pertemuan ini sesuai dengan dignosa dan SP yang dimaksud)
4.
TINDAKAN KEPERAWATAN(Tuliskan tindakan keperawatan secara teroritis dari tujuan keperawatan di atas yang akan diselesaikan pada pertemuan ini)
II. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
(Penjabaran dari semua tindakan keperawatan, buat semua dalam bentuk kalimat langsung) 1. ORIENTASI
• Salam terapeutik
• Memperkenalkan diri
• Evaluasi / validasi kontrak (topic,waktu, tempat)
2. KERJA
(Penjabaran tindakan keperawatan yang akan dilakukan pada pertemuan dengan kalimat langsung)
3. TERMINASI
• Evaluasi perasaan klien setelah berbincang-bincang
• Tindak lanjut (dalam bentuk kalimat langsung)
(PR untuk klien) --- diingat/ditulis dengan melihat hasil evaluasi. Bila klien belum bisa menyebutkan/paham, beri PR untuk mengingat/memahami (topic berikutnya
masih ini). Bila klien sudah paham, beri PR berkaitan dengan topic yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya
BAB V PENUTUP