BPS PROVINSI JAWA TIMUR
No. 35/06/35/Th.XII, 2 Juni 2014
P
ERKEMBANGANI
NDEKSH
ARGAK
ONSUMEN/I
NFLASIJ
AWAT
IMURMEI
2014
I
NFLASI0,21
PERSEN Pada bulan Mei 2014 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,21 persen. Dari 8 kota
IHK di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 0,43 persen, diikuti Malang sebesar 0,37 persen, Madiun dan Surabaya masing-masing sebesar 0,17 persen, Probolinggo sebesar 0,12 persen, Sumenep sebesar 0,08 persen, Banyuwangi sebesar 0,06 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kediri sebesar 0,02 persen.
Dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok pengeluaran mengalami kenaikan
harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok kesehatan sebesar 0,86 persen, kelompok sandang sebesar 0,51 persen, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,42 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,31 persen, kelompok perumahan sebesar 0,26 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,04 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga/deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,39 persen.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah daging ayam ras,
telur ayam ras, angkutan udara, tarip kereta api, upah pembantu rumahtangga, tomat sayur, seragam anak sekolah, minyak goreng, pelembab dan cat tembok.
Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah cabai rawit, beras,
cabai merah, ikan mujair, buah pepaya, telepon seluler, wortel, daun bawang, daging sapi, dan kentang.
Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi
terjadi di Serang sebesar 0,42 persen, diikuti Semarang sebesar 0,25 persen, Bandung sebesar 0,19 persen, Surabaya sebesar 0,17 persen, dan inflasi terendah terjadi di Jakarta dan Yogyakarta masing-masing sebesar 0,05 persen.
Dari 82 kota IHK nasional 67 kota mengalami inflasi dan 15 kota mengalami deflasi, 5
kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar sebesar 1,61 persen, Bau Bau sebesar 1,40 persen, Singaraja sebesar 1,36 persen, Lhokseumawe sebesar 1,16 persen dan Bima sebesar 1,11 persen, sedangkan 5 kota yang mengalami deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 1,27 persen, diikuti Tanjung Pinang sebesar 0,62 persen, Bengkulu sebesar 0,59 persen, Singkawang sebesar 0,54 persen dan Bungo sebesar 0,51 persen.
Laju inflasi tahun kalender (Desember 2013-Mei 2014) Jawa Timur mencapai 1,80
persen sedangkan laju inflasi year on year (Mei 2014 terhadap Mei 2013) Jawa Timur sebesar 7,04 persen.
1. Inflasi Jawa Timur
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Dari hasil pemantauan harga pada bulan Mei 2014 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,21 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,30 pada bulan April 2014 menjadi 111,53 pada bulan Mei 2014. Perjalanan series data inflasi selama tahun 2003 sampai dengan 2014, pada bulan Mei terjadi inflasi sembilan kali, dan tiga kali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 1,19 persen, dan inflasi terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 0,02 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi pada tahun 2003 sebesar -0,27 persen dan deflasi terendah terjadi tahun 2005 sebesar -0,09 persen.
Gambar 1.
Series Data Inflasi Jawa Timur Bulan Mei Tahun 2003 – 2014
Inflasi Jawa Timur bulan Mei 2014 sebesar 0,21 persen, didorong oleh kenaikan indeks kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang memberikan sumbangan inflasi tertinggi sebesar 0,08 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dengan sebesar 0,07 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yang sebesar 0,05 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen, sedangkan kelompok pengeluaran yang menghambat inflasi pada bulan Mei 2014 adalah kelompok bahan makanan dengan sumbangan inflasi sebesar -0,07 persen. Komoditas utama pendorong inflasi dari kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang memberikan sumbangan inflasi tertinggi adalah angkutan udara dan tarip kereta api, karena selama bulan Mei 2014 terdapat
banyak hari libur maka terjadi peningkatan permintaan terhadap angkutan udara dan kereta api, tercatat angkutan udara mengalami inflasi sebesar 4,73 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,044 persen, dan tarip kereta api mengalami inflasi sebesar 9,99 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,035 persen.
Komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi yang berasal dari kelompok bahan makanan yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, tomat sayur dan minyak goreng, menjelang bulan suci ramadhan komoditas ini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan mulai minggu 3 dan minggu 4 bulan Mei 2014, walaupun secara kelompok bahan makanan pada bulan ini mengalami deflasi dan sebagai penghambat laju inflasi. Hal ini disebabkan karena terjadi penurunan harga yang sangat signifikan pasca panen raya pada komoditas utama kelompok bahan makanan seperti cabai rawit, beras, cabai merah, ikan mujair, buah pepaya, wortel, daun bawang, daging sapi dan kentang.
Tabel 1.
Andil dan Tingkat Inflasi, Inflasi Tahun Kalender dan Inflasi Year on Year Bulan Mei 2014 Menurut Kelompok Pengeluaran (Tahun Dasar 2012=100)
IHK Mei 2013 IHK Desember
2013
IHK Mei 2014 Andil Inflasi Mei 2014 Inflasi Mei 20141) Tingkat Inflasi Tahun Kalender 20142) Inflasi Year on Year3) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) UMUM 104.19 109.56 111.53 0.21 0.21 1.80 7.04 1 Bahan Makanan 109.30 115.95 115.95 -0.07 -0.39 0.00 6.08
2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok,
dan Tembakau 104.90 108.87 112.34 0.05 0.31 3.19 7.09
3 Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan
Bahan Bakar 104.04 107.03 109.48 0.07 0.26 2.29 5.23
4 Sandang 99.21 101.29 102.96 0.03 0.51 1.65 3.78
5 Kesehatan 102.92 104.81 108.07 0.04 0.86 3.11 5.00
6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga 102.46 104.54 105.49 0.00 0.04 0.91 2.96
7 Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 101.45 113.54 115.82 0.08 0.42 2.01 14.16
1) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2014 terhadap IHK bulan sebelumnya
2) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2014 terhadap IHK bulan Desember 2013
3) Persentase perubahan IHK bulan Mei 2014 terhadap IHK bulan Mei 2013
Kelompok Pengeluaran
(1)
Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,26 persen dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07 persen, dan komoditas utama sebagai penyumbang inflasi terbesar pada kelompok ini adalah upah pembantu rumahtangga mengalami inflasi sebesar 0,99 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen dan cat tembok mengalami inflasi sebesar 1,53 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,01 persen.
Kelompok kesehatan juga mengalami inflasi sebesar 0,86 persen dengan sumbangan inflasi sebesar 0,04 persen, komoditas utama penyumbang inflasi terbesar adalah pelembab.
Gambar 2.
Perkembangan Indeks Harga Konsumen menurut Kelompok Pengeluaran Januari 2013- Mei 2014 (2012=100) Jawa Timur
Perkembangan indeks harga konsumen tahun dasar 2012=100 pada gambar 2 di atas, terlihat bahwa indeks harga konsumen kelompok pengeluaran bahan makanan mulai Januari 2013 sampai dengan Mei 2014 berada di atas indeks harga konsumen umum, begitu juga dengan indeks harga konsumen kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan melampaui indek harga konsumen umum sejak bulan Juli 2013 sampai dengan Mei 2014. Kelompok pengeluaran bahan makanan dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan selama ini mendominasi terbentuknya inflasi di Jawa Timur.
Gambar 3.
Perkembangan Inflasi Kumulatif Jawa Timur Tahun 2003 - Mei 2014
Perkembangan inflasi kumulatif Jawa Timur dari tahun 2003 sampai dengan Bulan Mei 2014 dapat dilihat pada Gambar 3. Terlihat pergerakan inflasi pada trisemester pertama masih landai, kemudian mulai mengalami kenaikan pada trisemester kedua dan seterusnya. Dibandingkan tahun 2013 (2,29 persen), pada posisi bulan Mei kumulatif Jawa Timur masih lebih rendah (1,80 persen). Namun jika dibandingkan lima tahun kebelakang (2009-2012), inflasi kumulatif Jawa Timur Bulan Mei ini cukup tinggi.
2. Inflasi 8 Kota di Jawa Timur
Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, pada bulan Mei 2014, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 0,43 persen, diikuti Malang sebesar 0,37 persen, Madiun dan Surabaya masing-masing sebesar 0,17 persen, Probolinggo sebesar 0,12 persen, Sumenep sebesar 0,08 persen, Banyuwangi sebesar 0,06 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kediri sebesar 0,02 persen, sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar di Jawa Timur adalah daging ayam ras, telur ayam ras, angkutan udara, tarip kereta api, upah pembantu rumahtangga, tomat sayur, seragam anak sekolah, minyak goreng, pelembab dan cat tembok.
Gambar 4. Inflasi 8 Kota dan Jawa Timur Bulan Mei 2014
Gambar 5. Inflasi Kumulatif 8 Kota dan Jawa Timur ( Bulan Mei 2013 - Mei 2014)
Untuk kumulatif inflasi sampai dengan Bulan Mei 2014, Surabaya menduduki peringkat pertama dengan kumulatif inflasi sebesar 1,99 persen, diikuti Jember sebesar 1,76 persen, Malang sebesar 1,74 persen, Banyuwangi sebesar 1,61 persen, Madiun sebesar 1,55 persen, Kediri sebesar 1,14 persen, Probolinggo sebesar 1,12 persen dan kumulatif inflasi terendah terjadi pada Sumenep sebesar 1,11 persen, sebagaimana terlihat pada Gambar 5.
Gambar 6. Inflasi Year On Year 8 Kota dan Jawa Timur ( Bulan Mei 2013 - Mei 2014)
Dilihat dari inflasi year-on-year (Mei 2014 terhadap Mei 2013), Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 7,04 persen. Dari 8 kota, inflasi y-o-y tertinggi terjadi di Malang sebesar 7,63 persen, diikuti Probolinggo sebesar 7,53 persen, Banyuwangi sebesar 7,51 persen, Jember sebesar 7,43 persen, Kediri sebesar 6,92 persen, Madiun sebesar 6,84 persen, Surabaya sebesar 6,78 persen, dan inflasi kumulatif terendah terjadi di Sumenep sebesar 6,31 persen sebagaimana terlihat pada Gambar 6.
3. Inflasi 6 Ibukota Provinsi di Pulau Jawa
Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Serang sebesar 0,42 persen, diikuti Semarang sebesar 0,25 persen, Bandung sebesar 0,19 persen, Surabaya sebesar 0,17 persen, dan inflasi terendah terjadi di Jakarta dan Yogyakarta masing-masing sebesar 0,05 persen, sebagaimana terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Inflasi Ibukota Provinsi di Pulau Jawa dan Jawa Timur Bulan Mei 2014
Gambar 8. Inflasi Kumulatif Ibukota Provinsi di Pulau Jawa dan Jawa Timur (Mei 2013 – Mei 2014)
Sedangkan inflasi kumulatif tertinggi terjadi di Serang sebesar 2,58 persen, diikuti Surabaya sebesar 1,99 persen, Bandung sebesar 1,85 persen, Jakarta sebesar 1,83 persen, Semarang sebesar 1,65 persen dan inflasi terendah terjadi di Yogyakarta sebesar 1,39 persen, sebagaimana Gambar 8.
Gambar 9. Inflasi Year On Year Ibukota Provinsi di Pulau Jawa dan Jawa Timur (Mei 2013 – Mei 2014)
Inflasi y-o-y bulan Mei 2014 pada 6 ibukota provinsi di pulau Jawa, inflasi tertinggi terjadi di Serang sebesar 8,81 persen, diikuti oleh Jakarta sebesar 7,70 persen, Semarang sebesar 7,10 persen, Surabaya sebesar 6,78 persen, Bandung sebesar 6,68 persen, dan inflasi terendah terjadi di Yogyakarta sebesar 6,65 persen sebagaimana terlihat pada Gambar 9.