• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahaya Iaten Komunisme di Indonesi.a

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bahaya Iaten Komunisme di Indonesi.a"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

Bahaya Iaten

Komunisme

di Indonesi.a

(2)

Judul Bahaya laten Komunisme di Indonesia

Jilid I

Perkembangan Gerakan

dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia (1913 - 1948)

Penerbit : Pusat Sejarah dan Tradisi 1\BRI Jakarta 1995 '

(3)

MIUKNEGAAA TIDAl< DIPERDAGANGKAN INPRES NO.6 TAHUN 1984 (1996/1997)

Bahaya Iaten

Komunisme

di Indo.nesia

Jilid I

Perkembangan Gerakan

dan Pengkhianatan Komunisme

di Indonesia

(1913 - 1948)

MARKAS BESAR ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA PUSAT SEJARAH DAN TRADISI ABRI

(4)

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG JUDULBUKU

HAK CIPTA PADA

PELAKSANA PENERBITAN CETAKAN I

CETAKAN II CETAKAN Ill ISBN

: BAHAYA LATEN KOMUNISME DIINDONESIA JILID I

: PUSAT SEJARAH DAN TRADISI ABRI : YAYASAN TELAPAK : 1991 : 1995 : 1996 : 979-95014-1-5 979-95014-2-3

(5)

****

PANGLIMA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN

PANGLIMA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

Sidang pembaca yang berbahagia;

Penerbitan buku sejarah dengan judul "BAHAYA LATEN KO-MUNISME Dl INDONESIA •• oleh Pusjarah ABRI, merupakan upaya terpuji dan patut mendapat dukungan dan penghargaan dari semua pi-hak. Upaya ini tidak hanya penting bagi keluarga besar bangsa dalam mengungkap hakikat gerakan dan pengkhianatan komunisme di Indo-nesia, namun sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kewaspadaan se-luruh generasi bangsa Indonesia terhadap bahaya Iaten komunisme.

Apabila dilihat secara sepintas, perkembangan komunisme dunia de-wasa ini memang cenderung menurun popularitasnya. Hal ini dapat dipantau dari berbagai perubahan yang terjadi di negara-negara kawasan Eropa Timur akhir-akhir ini. Namun jika diamati secara cermat, hal itu ha-nya merupakan perubahan yang bersifat tidak mendasar, yang semata-mata ditempuh dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup komunisme itu sendiri.

Buku "BAHAYA LATEN KOMUNISME DIINDONESIA" yang rencananya akan diterbitkan dalam 4 jilid ini, diharapkan dapat memberi-kan gambaran secara obyektif dan menyeluruh kepada para pem-bacanya, mengenai pasang surut dan sepak terjang golongan komunis di Indonesia dalam hal ini PKI ( Partai Komunis Indonesia ), dengan taktiknya yang menghalalkan segala cara, dalam usahanya menciptakan negara komunis di Indonesia, yang jelas bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

(6)

Dari ungkapan sejarah yang dikisahkan dalam buku ini, diharapkan ke-pada kita semua terutama prajurit ABRI, agar menjadi lebih arif dan was-pada, dalam menghadapi berbagai usaha kaum komunis untuk bangkit kembali, di dalam lingkungan kehidupan rakyat Indonesia.

Tidak berlebihan kiranya, jika saya berharap agar buku ini tidak hanya sekedar dijadikan bahan bacaan semata, namun hendaknya dapat digu-nakan sebagai bahan kajian dan sekaligus sumber acuan dalam mening· katkan kewaspadaan, guna menghadapi siasat licik sisa-sisa PKI dan sisa· sisa G. 30. S/PKI, agar mereka tidak muncul kembali di bumi Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Mpha Esa, senantiasa berkenan melindungi sertc memberkati perjuangan bangsa Indonesia dan mudah-mudahan buku in bermanfaat bagi kita semua, bagi kehidupan, kemajuan dan kesejahtera· an serta masa depan bangsa dan negara yang kita cintai.

Sekian dan terimakasih.

Jakarta, 18 Februari 1991

(7)

KATA PENGANTAR

Apabila kita menyimak pelbagai proses perubahan yang sedang menu· ju ke arah era informasi dewasa ini, maka nampak bahwa peta politik dunia mengalami perombakan struktur secara total. Terjalinnya hubung· an serasi antara dua negara adi kuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet serta berlangsungnya perombakan kehidupan politik pada negara·nega· ra sosialis memberikan warna baru pada percaturan politik dunia.

Bagi Indonesia, normalisasi hubungan diplomatik · dengan RRC dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa lain di kawasan Asia Tenggara · akhir-akhir ini, cenderung membentuk opini pada sebagian masyarakat bahwa bahaya Iaten komunis tidak perlu lagi dirisaukan. Opini seperti ini bagi ABRI sudah tentu tidak dapat dibenarkan; karena bagaimanapun, kapanpun dan di manapun ABRI bersama Rakyat dituntut untuk selalu memelihara dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ideologi dan ge· rakan yang mengancam kelangsungan hidup negara dan bangsa serta ideologi Pancasila.

Sikap waspada itu perlu dimiliki oleh setiap individu, dan dibina serta ditingkatkan demi terwujudnya ketahanan nasional yang mantap. De· ngan terwujudnya Ketahanan riasional yangtangguh, kitanya akan mam· pu meredam berbagai bentuk ancaman terhadap Pancasila dan Undang· Undang Dasar 1945. Dengan selalu berorientasi kepada kewaspadaan nasional dan ketahanan nasional maka kita akan lebih peka menghadapi timbulnya setiap gejolak serta mencegah kemungkinan terulangnya kern· bali per:istiwa kelam yang pernah menjadi mala petaka bangsa kita.

Salah satu tragedi akibat dari kekurangwaspadaan kita terhadap ideo· logi dan gerakan komunis adalah peristiwa pemberontakan yang kedua kalinya yang dilancarkan oleh PKI pada tahun 1965 atau dikenal dengan · G. 30. S/PKI. Oengan merenungkan dan mengambil hikmah serta pela· jaran dari rangkaian peristiwa pengkhianatan PKI sejak awal ke-merdekaan pada tahun 1945 dan Pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, yang kemudian terulang kembali pada tahun 1965, menyadarkan dan menuntut setiap anggota ABRI untuk tidak silau dan terpukau pada perubahan-perubahan yang temporer di negara-negara sosialis, bahkan menjadi lebih peka dan hati-hati dalam menanggapi pel· bagai perubahan.

(8)

Khusus bagi generasi muda yang tidak mengalami kedua peristiwa yang tragis tersebut, perlu memahami sejarah tingkah laku dan pengf<hianatan PKI dari masa pergerakan nasional hingga tahun 1965 agar lebih peka sehingga mampu mendeteksi setiap gejala munculnya bahaya Iaten komunisme.

Kehadiran buku Bahaya Laten Komunisme di Indonesia yang terdiri dari .empat jilid ini merupakan pelaksanaan Surat Perintah Pangab No : Sprin/53/1/1991 tanggal 17 Januari 1991 tentang perintah kepada Kapusjarah ABRI untuk menyusun naskah "Bahaya Laten Komunisme di Indonesia", yang bermaksud mengungkapkan pelbagai pola gerakan le-gal dan gerakan ilele-gal PKI dalam · mencapai tujuannya. Dengan mema-hami berbagai modus operandi dan sepak terjang PKI, yang

diungkapkan dalam buku ini, mudah-mudahan tingkat kepekaan anggo-ta ABRI terhadap bahaya Iaten komunis tidak akan pemah menurun.

Adapun uraian sub judul dari buku tersebut adalah sebagai berikut : Jilid I

Jilid II Jilid III Jilid IV Jilid

v

Perkembangan gerakan dan pengkhianatan komu-nisme di Indonesia (1913 - 1948)

Penumpasan pemberontakan PKI (1948) Konsolidasi dan infiltrasi PKI (1950-1959)

Pemberontakan G.30.S/PKI dan penumpasannya (.1959-1965)

Penumpasan Pemberontakan PKI dan sisa-sisanya Sudah barang tentu buku "Bahaya Laten Komunisme di Indonesia" ini masih banyak kekurangannya. Karena kami yakin tidak ada satupun karya dari tangan manusia yang lahir dalam keadaan sempuma maka tu-gas kita bersama untuk menyempumakannya. Mudah-mudahan buku ini akan memberikan banyak manfaat bagi - kita semua.

Jakarta,

3

O__.Jafluari 1991 KEPA SAT SEJARAH DAN _,~___,..IILT.RA~RI

(9)

DAFTAR lSI

Kata Sambutan Pangab Jend. TNI Try Sutrisno Kata Pengantar

BAB I. PENDAHULUAN . . . 1

BAB II. MASUKNYA KOMUNIS KE INDONESIA DAN KEGIATANNYA . . 5

1.

Awal Gerakan Komunis ... 5

2. PKI Sebagai Instrumen Komunis lnternasional .... 14

3.

Pergolakan PKI

1926/1927 ...

17

4. Gerakan PKI Ilegal ... 22

BAB III. USAHA-USAHA PEREBUTAN KEKUASAAN LOKAL . . . 29

1.

Peristiwa Serang . . . .. . . . 29

2. Peristiwa Tangerang ... 34

3.

Peristiwa Tiga Daerah ( Oktober- Desember

1945) ...

40

4. Peristiwa Bojonegoro ... 50

5.

Peristiwa Cirebon ... 55

BAB IV. GERAKAN LEGAL DAN GERAKAN ILEGAL . . . 63

1. Upaya Menguasai Pemuda . . . 63

2. Merebut Kekuatan Buruh ... 67

3. Konsolidasi Partai ... .73

4. Menyusun Kekuatan Bersenjata ... 85

BAB V. PEMBERONTAKAN PKI Dl MADIUN 1948 . . . 95

1.

"Pisau Hatta" Memotong Pengaruh Komunisme . 95 2. Menyiapkan Kekuatan Untuk Pemberontakan ... 108

3. Kup Berdarah

18

September

1948 ...

118

(10)
(11)

BABI

PENDAHULUAN

Komunisme adalah ideologi dan· gerakan yang bersifat internasional. Ideologi ini lahir dari dasar historismaterialisme yang secara diametral bertentangan dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan falsafah negara kita.

Banyak orang telah membahas dan menulis tentang komunisme tetapi belum banyak · yang memperhatikan tingkah laku dan gerakannva, khususnya di Indonesia. Sejarah telah mencatat, setiap penganut komumsme · adalah pembawa misi yang .perinanen, yaitu membentuk negara komunis dan masyarakat komunis. Misi ini dijabarkan dalam berbagai bentuk aksi, baik yang bersifat terbuka maupun yang bersifat tertutup, yang disesuaikan dengan situasi dan kon-disi masing-masing tempat, daerah, atau negara yang disebutkan sebagai tahap perjuangan. Karena organisasi komunis bersifat internasional,maka gerakannya pun bersifat internasional, serta dikendalikan secara interna-sional pula. Sesudah gagalnya Pemberontakan 1926/1927, organisasi komunis di Indonesia hancur dan bercerai-berai. Para tokoh dan kadernya tersebar .menyelamatkan diri dari tangkapan pemerintah Hindia Belanda.

Dengan hancurnya organisasi komunis ini, banyak orang berasumsi bahwa komunis telah lemah, tidak berbahaya dan akhirnya mati. Akan te-tapi k~nyataan menunjukkan lain. Kader-kader yang bercerai-berai itu melakukan "pekerjaan ilegal". Tiap-tiap individu mengaku sebagai pem-bawa misi untuk meneruskan gerakannya, dengan dalil tujuan mengha-lalkan segala cara.

Kebangkitan fasisme pada tahun 1935, menyebabkan terjadinya perubahan politik di Eropa. Menghadapi perubahan ini, pimpinan tertinggi komunis menghentikan permusuhannya dengan kapitalisme dan menyatakan perang terhadap fasisme. Perubahan sikap itu dilakukan pula oleh orang-orang komunis di Indonesia. Tanpa malu-malu mereka menerima bantuan dari pihak kapitalis yang ditandai dengan kerjasama Mr. Amir Sjarifuddin - van der Plas.

(12)

Oleh karena setiap kader komunis adalah "pembawa misi" ko-munisme, maka mereka tidak pernah mengakui hasil perjuangan kelom-pok lain. Keberhasilan pemimpin nasionalis memproklamasikan ke-merdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak pernah diakui oleh orang-orang komunis, bahkan mereka berusaha merongrongnya. Mereka menyatakan bahwa "revolusi Agustus adalah revolusinya borjuis nasional". Akan tetapi, karena kaum komunis tidak dapat membantah ke-nyataan tersebut, maka mereka melakukan aksi-aksi politik yang dilaksanakan dari jalan atas dan dari jalan bawah.

Mr. Amir Sjarifuddin adalah pelopor aksi dari jalan atas. Dengan mem-bina kerjasama dengan golongan sosialis, ia berhasil mengubah KNIP-eksekutif menjadi KNIP-legislatif pada bulan Oktober 1945. Dengan KNIP-legislatif kelompok komunis melakukan silent coup terhadap Sukarno-Hatta. Sekalipun enggan, Sukarno-Hatta terpaksa menyerah-kan kekuasaan pemerintahan kepada kelompok Sjahrir-Amir. Lawan po-litik berikutnya adalah kelompok Tan Malaka. Pada 1946 kelompok ini berhasil ditendang dari arena politik, akibat peristiwa kudeta tanggal 3 Juli 1946. Hanya menghadapi Angkatan Perang, Mr. Amir Sjarifuddin merasa kewalahan. Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soedirman yang semula dianggap sebagai anak bawang ternyata seorang politikus tangguh yang bersikap merendah. Angkatan Perang sulit dipengaruhi dan ditaklukkan, sekalipun Mr. Amir Sjarifuddin telah men-ciptakan pelbagai laskar tandingan. Orang-orang komunis sadar bahwa Angkatan Perang harus dibina secara sabar dan hati-hati.

Lawan selanjutnya adalah kawan seiringnya, yakni kelompok sosialis. Kelompok ini ditinggalkan begitu saja, tanpa peduli dengan jasa Sjahrir. Sampai tahun 1948 Mr. Amir Sjarifuddin berhasil mengkonsolidari PKI

dari jalan atas sampai ke tahap pembentukan Front Demokrasi Rakyat. Tahap aksi selanjutnya diserahkan kepada Musso "Sang Guru" yang baru pulang dari luar negeri. Dalam aksi-aksi dari jalan atas, orang-orang komunis seolah-olah mencapai kesepakatan untuk tidak menampakkan wajah aslinya. Mereka selalu nampak dengan wajah sosialis, wajah nasio-nalis bahkan Islam.

Aksi politik lainnya adalah aksi dari jalan bawah. Aksi ini dilakukan di daerah-daerah yang menjadi basis gerakan bawah tanahnya pada masa pendudukan Jepang. Di sini mereka mengobarkan semangat

(13)

tentangan klas. Para pejabat pemerintah serta merta "dicap" sebagai penindas, kaki tangan fasis. Dalam buku ini disajikan 5 kasus perebutan kekuasaan daerah yaitu Peristiwa Serang, Peristiwa Tanggerang, Peristi· wa Tiga Daerah, Peristiwa Cirebon dan Peristiwa Bojonegoro. Orang· orang komunis sebagai pembawa misi, berusaha merongrong "revolusinya kaum borjuis" dengan melakukan "revolusi·revolusi" lokal. Rakyat di beberapa daerah dihasut bahkan diintimidasi agar ikut melak· sanakan "revolusi komunis" yang pada hakekatnya merongrong kewiba· · waan dan kedaulatan negara RI. Perebutan-perebutan kekuasaan lokal dimaksudkan sebagai daerah yang dibebaskan untuk mengepung wila-yah RI. Aksi dar; jalan atas dan dari jalan bawah bermuara dalam Pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. ·

Dengan mengamati sejarah aksi-aksi PKI secara cermat, pastilah diperoleh pelajaran atau masukan tentarig aksi-aksi tatkala PKI bergerak secara Iaten sebagai gerakan bawah tanah, sampai kepada aksi memper-kuat diri dengan perebutan kekuasaan. Dengan demikian kita dapat me-ningkatkan kewaspadaan nasional kita dari bahaya komunisme yang de-wasa ini sedang bergerak secara Iaten.

(14)
(15)

BAB II

MASUKNYA KOMUNIS KE INDONESIA

_ DAN KEGIATANNYA

1. Awal Gerakan Komunis

. Ideologi komunis mastlk ke Indonesia pada tahun 1913, di· perkenalkan oleh Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet. Ia adalah bekas Ketua Sekretariat Buruh Nasional dan bekas pimpinan Partaj Revolusioner Sosialis di salah satu provinsi di negeri Belanda . ../ . Mula-mula ia bekerja di Surabaya sebagai staf redaksi warta

perda-gangan Soerabajasche Handelsblad milik sindikat

perusahaan-per-usahaan gula Jawa Timur. Tidak lama kemudian ia pindah ke Semarang bekerja sebagai sekretaris pada sebuah maskapai dagang.1 Kota Semarang pada saat itu menjadi pusat organisasi buruh kereta api Vereenigde van Spoor en Tramweg Personnel ( Serikat Personil

Kereta Api dan Trein ), yang telah berdiri sejak tahun 1908. Pada 1914 VSTP memerlukan propagandis-propagandis untuk me-nyebarluaskan paham yang dianut oleh organisasi buruh itu. Kesem-patan itu dimanfaatkan oleh Sneevliet. Ia diangkat sebagai propagan-dis bayaran2. Lewat jalan ini Sneevliet berkenalan dengan massa bu-ruh, dan menyebarluaskan ideologi pertentangan klas.

Pada bulan Juli 1914 itu Sneevliet bersama dengan P. Bersgma, J.A. v

Brandstedder, H.W. Dekker ( Sekretaris VSTP), mendirikan organisasi politik yang bersifat radikal, · Indische Social Democratische Vereeniging ( ISDV) atau Serikat SosiC;ll Demokrat India. ISDV

mener-bitkan surat kabar Het Vrije Woord ( Suara Kebebasan ). Terbitan

per-tama · surat kabar ini tercat~t tanggal 10 Oktober 1915. Melalui surat kabar ini Sneevliet dan kawan-kawannya melakukan propaganda un-tuk menyebg.rkan marxisme.

· 1. J.TH. Petrus- Blumberger, De Communistische Beweging in Neder/andsch Indie, { Haarlem )1935, hal. 2 ·

2. . Mona Lohanda, Vereniging .. va:n Spoor-en Tramweg Person eel in Nederlandsch lndie, Skripsi Sarjana Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta 1975, hat 43

(16)

/ Oleh karena anggota ISDV terbatas di kalangan orang-orang Belan-da, maka organisasi ini belum dapat menjamah dan mempengaruhi organisasi pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo. dan Sarekat Is-lam (SI). Usaha ISDV untuk mendekati rakyat juga gagal, karena ISDV ti-dak didukung oleh rakyat. Dengan menggunakan organisasi buruh di Semarang,ISDV mendekati Sarekat Islam yang dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto. SI adalah organisasi politik yang berdasarkan nasional-Islam, yang berwatak anti kolonialisme dan kapitalisme asing. Watak dan aktivitas Sarekat Islam ini supaya diamati secara cermat oleh Sneevliet, dan kawan-kawannya. Mereka bermaksud meng-exploitasi sentimen anti kolonialisme dan kapitalisme asing dari para

pengikut SI. ·

Sesudah terjadinya revolusi di Rusia pada tahun 1917, watak gerak-an ISDV semakin radikal dgerak-an tegas-tegas menjadi komunis. Pemim-pin-pemimpin ISDV mendekati dan mempengaruhi pemimpin-pe-mimpin Sarekat Islam Semarang yang juga menjadi anggota VSTP de-ngan ide-ide revolusioner model Rusia. Di sam ping itu pimpinan ISDV mengadakan propaganda di lingkungan Angkatan Perang. Sneevliet mempengaruhi serdadu Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Brands-tedder mendekati serdadu Angkatan Laut, pegawai negeri didekati oleh Baars dan· van Burink. Sneevliet melakukan berbagai aktivitas, ceramah-ceramah, kursus-kursus politik. Atas hasutannya berhasil dibentuk Raad van Matrozen en Mariniers (Dewan Kelasi dan Marinir), suatu organisasi di lingkungan anggota militer yang berhaluan radjkal -revolusioner. Aktivitas Sneevliet ini dibantu sepenuhnya oleh Brands-tedder yang menjadi Kepala dari Soerabajasche Marine Gebouw ( Ba-lai Angkatan Laut Surabaya ) dan redaktur koran Soldaten en

Mattrozenkrant ( koran Serdadu dan Kelasi ). Rata-rata isi koran ini

adalah ide-ide komunisme yang revolusioner dan ide-ide perjuangan klas. Berbagai pamflet juga diterbitkan dengan tujuan untuk me" lemahkan kepercayaan bawahan kepada atasannya dalam tubuh Ang-katan Darat dan AngAng-katan Laut. Pemerintah Hindia Belanda bertindak tegas. Pada bulan Desember 1918 Sneevliet diusir dari Hindia Belanda karena aktivitasnya dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban. Menyusul kemudian Brandstedder pada bulan September 1919.3

3. J. TH. Petrus Blumgerger, op cit ., Haarlem (1935); AK. Pringgo digdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta 1986, hal. 24

(17)

v' Sekalipun Sneevliet dan Brandstedder telah meninggalkan Hindia /Belanda ( Indonesia ) namun mereka berhasil menanamkan

pe-ngan.ihnya di lingkungan Angkatan Laut Surabaya, setidak-tidaknya telah terbentuk organisasi yang berhaluan komunis. Di lingkungan Sa-rekat Islam, ISDV berhasil mempengaruhi pimpinan SI Semarang, Semaun dan Darsono yang juga adalah anggota VSTP. Setelah berha- · sil memperoleh pancangan kaki, pada tanggal23 Mei 1920, di gedung Sarekat Islam. Semarang, ISDV mengubah namanya menjadi Per-serikatan . Komunis di Indie (PKI). Semaun dipilih sebagai ketuanya dan Darsono sebagai Wakil. Beberapa tokoh ISDV yang orang Belan-da diangkat sebagai penBelan-damping, antara lain Bersgma sebagai Sekre-taris, Dekker sebagai bendahara dan A Baars sebagai anggota. Organ (media massa) partai ditetapkan Soeara Ra'jat. Sekalipun Semaun dan Darsono telah menjadi pemimpin PKI, namun mereka tetap menjadi ketua Sarekat Islam Semarang, yang juga memimpin organ (media massa) SI, Sinar Hindia. Aktivitas SI Semarang dan PKI berjalan berdampingan. Sl Semarang mendirikan sekolah-sekolah SI, namun kepada murid-muridnya diajarkali lagu Internasionale, lagu komunis.

v Propaganda tentang komunisme diintensifkan dengan cara

menum-pang pada pertemuan-pertemuan SI. Aktivitas SI yang ditummenum-pangi oleh PKI ini pada mulanya masih diperbolehkan oleh Central Sarekat Islam ( CSI ) karena menurut Anggaran Dasar CSI, seseorang anggota SI diperbolehkan menjadi anggota organisasi lain. Dengan kata lain, SI ti-dak melarang adanya keanggotaan rangkap. Adanya sistem ke-anggotaan rangkap ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh PKI, untuk memecah belah SI dari dalam. Memecah belah organisasi dari dalam organisasi itu sendiri dalam dunia Komunis disebut taktik aksi di dalam atau blok di dalam (block within). Blok di dalam dilaksanakan dengan cara menginfiltrasikan kader atau anggota komunis untuk menjadi salah satu anggota organisasi yang menjadi sasarannya. Selanjutnya mereka beraksi mempengaruhi atau memecah belah organisasi itu. Taktik "blok di dalam" (block within) pertama kami dipraktekkan oleh PKI terhadap Sarekat Islam, yang pada saat itu · merupakan organisasi pergerakan nasional yang besar dan kuat.

Sementara itu persaingan antara SI dan PKI yang dibentuk pada 1920 semakin bertambah sengit, khususnya berebut pengaruh di ka-tangan organisasi buruh. Pada bulan Desember 1919 atas inisiatif to-koh-tokoh Sarekat Islam dibentuk federasi organisasi buruh yang

(18)

ber-8

nama Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) yang diketuai oleh Semaun pemimpin SI Semarang dan ketua VSTP, Surjopranoto seba-gai wakil ketua dah Agus Salim sebaseba-gai sekretaris: PPKB Alerupakan suatu federasi dari 22 organisasi buruh dengan.27 .000 anggota. Akti- · vitas organisasi ini terutama memperjuangkan kepentingan kaum bu-ruh dengan melakukan pelbagai pemogokan .karena peraturan perbu.: ruhan kolonial yang buruk. Dalam Kongres II (Juni 1921) Sarekat-Sa-rekat Sekerja PPKB. di Yogyakarta terjadi perpecahan. Semaun dan Bergsma bersama 14 Sarekat Sekerja memisahkan diri dan memben-tuk Revolutionnair-Socialistische Vakcentrale, yang dipelopori oleh VSTP pada bulan Juni 1921. Dalam persaihgan ini Surjopranoto dan Agus Salim berhasil menyelamatkan sebagian organisasi buruh dari · pengaruh komunis.

Sejak perpecahan itu corak gerakan buruh komunis semakin radi-kal. Pada bula April - Mei 1923, VSTP melakukan pemogokan besar. Akibatnya pehgawasan peinerintahan Hindia Belanda terhadap ge-rakan kaum buruh diperketat. Pemimpin pemogokan ditangkapi, se-hingga pemogokan tidak berhasil mencapai tuntutannya, yaitu perba-ikc.n gaji dan jam kerja. Untuk menghindari pengawasan yang ketat dari pemerintah, organisasi-organisas buruh komunis menerapkan sis-tern organisasi inti dan sel ( kern en eel ), yang terdiri atas 5-10 orang. Organisasi ini bersifat tertutup dan bergerak laksana bola salju, makin lama makin membesar.

(

-J Semen tara itu, para pengikut SI yang dengan terang-terangan telah menjadi PKI, mulai melancarkan kritik keras terhadap SI. Semaun Ke-tua PKI, yang juga KeKe-tua SI cabang Semarang, dalam pidatom;a di da-lam kongres PKI bulan Desember 1920 menuduh SI membela ke-pentingan kapital pribumi, karena SI didirikan oleh para·saudagar dan kaum industri; bukan oleh rakyat.4

-Berbagai kritik tajam dilontarkan terhadap SI dimaksudkan untuk inengurangi simpati rakyat terhadap SI. Bahkan ketua CSI Oemar Said Tjokroaminoto dituduh telah menggunakan dana SI untukke-. pentingan pribadiuntukke-. Setelah tuduhan itu tidak terbukti, mereka pura-pura minta maaf.- Jawaban SI terhadap berbagai kritik tersebut

(19)

disampaikan dalam kongres SI bulan Oktober 1921 di Surabaya. Da-lam kongres itu diputuskan bahwa SI harus melaksanakan disipliri par-taL SI memberlakukan larangan keanggotaan rangkap. Seseorang ha-rus memilih, tetap tinggal merijadi anggota SI atau memilih Or!=Janisasi lain, sebagai langkah pembersihan, anggota-anggota PKI dikeluarkan dari SI.

Keputusan kongres ini sudah barang tentu merupakan pukulan ke-ras terhadap PKI. Semaun melakukan kampanye menentang keputus-an itu dkeputus-an mencoba bertahkeputus-an sebagai keputus-anggota SI. Demikikeputus-an pula H. Misbach menuduh, bahwa disiplin partai hanyalah memecah belah persatuan yang dilakukan oleh Tjokroaminoto.

Akibat diberlakukannya tindakan disiplin partai, jumlah anggota SI merosot secara drastis. Adalah sebuah pengalaman pahit bagi SI seba-gai sebuah organisasi pergerakan yang besar namun bersikap "baik hati" memperkenankail anggotanya merangkap sebagai anggota orga -nisasi lain, kemudian beraksi di dalam tubuhnya. Pada bulan Maret 1923 PKI mengadakan kongres kilat di Bandung dan Sukabumi. Da-lam . kongres ini Darsono menganjurkan untuk membentuk SI tandingan di setiap cabang SI, dengan maksud untuk menarik anggota SI yang bersimpati pada Komunis. SI tandingan diberi nama SI-Merah, kemudian diubah menjadi Sarekat Rakyat, dengan status seba-gai organisasi di bawah naungan PKI. Sistem organisasi PKI di-tentukan dalam kongres tanggal 7 - 10 Juni 1924. Kongres ini meru-pakan propaganda besar-besaran komunisme. Di atas kursi pimpinan digantungkan potret-potret tokoh komunis, seperti Karl Marx, Lenin, Stalin, Sneevliet, dan simbol palu arit Pada pembukaan Xongres,

(/ Aliarcham, Ketua Pengurus Besar, menyatakan bahwa aliran

ke-bangsaan dari kaum terpelajar tidak akan dapat tumbuh karena aliran itu tidak berdiri atas dasar ekonomi. Demikian pula pergerakan kebangsaan yang berdasarkan keagamaan tidak akan dapat hidup ka-rena pergerakan itu hanya menjunjung kepentingan kaum modal bangsa Indonesia. Selanjutnya Darsono menyatakan bahwa revolusi yang diinginkan akan timbul bagaikan buah yang masak.

Kongres ini menghasilkan :

a. Peraturan Partai, yang berisi antara lain program perjuangan poli-tik, membentuksistem pemerintahan yang berdasarkan atas

(20)

soviet-soviet (soviet-soviet desa, soviet-soviet pabrik, soviet-soviet distrik). Program perjuang-an harus dijalperjuang-ankperjuang-an dengperjuang-an disiplin yperjuang-ang kuat dari perjuang-anggota. b. Diumumkan perubahan nama· partai yang semula Perserikatan

Komunist di Indie menjadi Partai Komunist Indonesia.

c. Memindahkan Markas Besar PKI dari Semarang ke Batavia (Jakarta).

d. Memilih pimpinan baru Alimin, Musso, Aliarcham, Sardjono, Winanta.

Sekretaris Budisutjitro

Komisaris Marsum

Organisasi Wanita Munasiyah.

e. Membentuk cabang-cabang di Padang, Semarang, Makassar dan Surabaya.

Sementara itu aktivitas agitasi dan propaganda PKI semakin meningkat. Beberapa tokoh santri yang telah menjadi PKI di-manfaatkan untuk kepentingan propaganda partai,s seperti Haji Misbach dari Solo, Haji Datuk · Batuah dari Sumatra Barat dan Haji Adnan dari Tegal. Haji Misbach menerbitkan majalah .Islam Bergerak,

sedangkan Haji Datuk Batuah menerbitkan surat kabar Djago ! Djago

( atinya Bangun! Bangun! ) dan Pemandangan Islam. lsi surat kabar -surat kabar komunis yang berbaju Islam ini pada umumnya meng-ungkapkan analogi antara Islam dan komunis dengan bahasa yang se-derhana. Kutipan tulisan H. Moh. Siradj yang dimuat dalam /slam

Bergerak tanggal 10 Pebruari 1923, disajikan di sini :

J

"Perkumpulan politik yang membela maksud kaum pekerja mis-kin itu sepenuhnya menyebutkan dirinya Partai Komunis. Agama kita Islam begitu juga harus membela kaum miskin dan memimpin keselamatan dunia akhirat.

Dan sebab itu jika Partai Islam itu juga menjadi Partai Komunis itulah sudah selayaknya benar".

5. Anhar Gonggong, "Pemanfaatan Islam oleh Komunis", Persepsi, No. 1, 1979, hal. 64

(21)

/Agitasi dan propaganda tidak semata•mata dilakukan dalam bentuk ceramah dan rapat-rapat terbuka, tetapi juga dalam diskusi-diskusi ./ yang diadakan secara teratur. Haji Batuah membentuk klub diskusi

International Debating Club. Ia bahkan mendatangi pondok-pondok pesantren untuk mempropagandakan kesejajaran ajaran Islam de-ngan komunisme.6

Beberapa surat kabar yang diterbitkan PKI

(22)

12

Selang tiga bulan sesudah Kongres Komintern IV, pada tanggal 27 -28 September 1924 pimpinan PKI mengadakan pertemuan. Mereka membahas berbagai kesulitari yang menimpa PKI. Di desa-desa lahir kelompok radikal. Mereka adalah anggota Sarekat Rakyat. Bahkan mereka n:telakukan aksi teror yang merugikan. Banyak kader PKI yang ditangkap akibat aksi teror yang tidak terarah. PKI juga mengakui ke-sulitan keuangan, akibat pengeluaran yang besar untuk meml;>iayai propaganda, sedang · · pemasukan uang iuran san gat merosot. Pengawasan yang ketat oleh pemerintah menyulitkan aktivitas PKI. Situasi demikian mewarnai organisasi PKI pada 1924. Pada kesem-patan ini Aliarcham tampail dengan kritik-kritiknya. Ia menginginkan aksi proletar murni sehingga dapat membantu mempersiapkan revolu-si. Darsono minta waktu 3 bulan untuk membahas masalah tersebut.

Pada tanggalll - 17 Desember 1923 PKI mengadakan kongres di Kotagede (Yogyakarta). Kongres dipimpin oleh Alimin. Pimpinan PKI menganjurkan suatu rencana untuk membubarkan Sarekat Rakyat, demi aksi proletar murni. Kepada kongres Aliarcham menyampaikan kritik sebagai berikut :

1. Sarekat Rakyat (SR) sangat kecil nilai revolusionernya. Mereka ma-sih berwatak borjuis kecil yang mama-sih dihinggapi oleh kepentingan ekonomis. Mereka sering mengambil jalan pintas dengan cara me-lakukan teror. PKI yang menerima akibatnya, yakni kader-kader PKI ditangkapi oleh pemerintah Hindia Belanda.

2. Aktivitas SR l:rukanlah pekerjaan illegal PKI.

3. PKI harus sadar bahwa cara pengorganisasian massa, menyimpang dari doktrin komunisme. Semua partai Komunis mengandalkan kekuatimnya pada proletariat bukan pada petani.

4. PKI harus mengubah cara kerja yang tidak benar dan memalukan itu yang pernah dilakukan sepanjang tahun 1923.

5. Partai harus bekerja dengan unsur pilihan, yang tidak_ mengenal ta-kut resiko. Membina disiplin secara rahasia dan membentuk watak

(23)

6. Partai harus bekerja pada gerakan buruh. Mengkonsentrasikan mo- . gok tidak untuk kepentingan ekonomi, tetapi urytuk. mempersiap-kan revolusi yang dipimpin oleh proletariat

7. Massa petani bukan kekuatan revolusi.

Alimin berkebaratan atas kritik tersebut dan menuduh Aliarcham tidak becus m~ngaplikasikan prinsip-prinsip dasar Mapdsme dan menggunakannya dalam kondisi Indonesia. Lawan-Iawan Ali-archam minta kepada Semaun untuk melaporkan hasil-hasil Kongres

Komintern IV. Kemudian Semaun menganjurkan agar PKI kembali ke garis Komintern, di mq.na partai komunis dibentuk dan di-organisasikan berdasarkan basis tempat kerja, tidak atas basis teritori-al. Karena prinsip tempat kerja.ini hanya bisa berjalan pada daerah ih-dustri, maka PKI harus bisa mengorganisasika~ dengan cara lain ..

'

Akhir dari perbedaan pendapat-pendapat dalam kongres ini adalah · komprorrii. Yang p.enting untuk dicatat dalam keputusan kongres ini

adalah:

I

1. Sarekat Rakyat (SR) tidak dibubarkan, tetapi harus dibina, tanpa menambah jumlah anggota dan diberikan kursus.

2. Perlu adanya kelompok inteligensia revolusioner.

3. Mempersiapkan pemberontakan, dengan mengkonsentrasikan pada pekerjaan untuk merangsang gairah revolusioner rakyat dan gairah untuk memperoleh kekuasaan.

4. Membentuk grup 10 orang di bawah pengawasan anggota PKI yang berpengalaman .

.J Dalam waktu 4 tahun ( Mei 1920 - Desetnber 1924 ) PKI berhasil

memperluas peng9ruhnya melalui cara legal dan ilegal, sepertitaktik

aksi di dalam (bloc within) dan propaganda yang intensif. Propaganda-propaganda PKI yang bertema pertentangan kelas mendapat lahan yang subur pada masyarakat kolonial yang bercirikan diskriminasi (so-sial, ekonomi, politik, warnakulit ). Oleh karena itu, sekalipun

(24)

Pemerin-tah Hindia Belanda telah melakukan upaya pengawasan secara ketat, namun tidak berhasil membendung aktivitas PKI.

2. PKI sebagai instrumen komunis internasional

14

Komintern (komunis internasional) adalah organisasi tertinggi bagi partai komunis di beberapa negara, dibentuk padal awal tahun 1919. Kongres pertama diselenggarakan pada bulan Maret 1919. Pada kongres ini tidak disinggung masalah-masalah kolonial, namun dihasilkan satu program perjuangan berskala internasional. Prinsip da-sar dari Komintern adalah : perang rakyat, diktatur proletariat, pemerintahan soviet dan aksi interriasional. Program dilaksanakan de-ngan kekuatan dan agitasi secara legal dan ilegal di negara kolonial maupun setengah kolonial. Bagi Komintern dunia komunis menghadapi 2 front yaitu di negara Barat dengan perjuangan klas yang bulat, sedang di negara-negara Timur dengan dasar pergerakan _pembebasan nasional.7 Dalam kongres ini Komintern menetapkan aturan dasar (statuta) organisasi. Setiap partai komunis harus mencan-tumka·n nama negara disusul dengan tulisan "Seksi Komunis Interna-sional" ( Contoh : Partai Komunis In~onesia, Seksi Komunis

Interna-sional ).

Organ tertinggi Komintern adalah Kongres tahunan, yang wajib dihadiri oleh semua partai seksi dan organisasi afiliasi. Di bawah kong-res adalah Komite Ekekutif yang biasa disebut EKKI ( Eksekutif Komi-te Komunis InKomi-ternasional ). EKKI inilah yang mengendalikan Komin-tern dalam periode antar Kongres. Komite Eksekutif bertugas membe-rikan petunjuk, perintah dan mengontrol aktivitas semua partai seksi dan organisasi afiliasi. Dalam Komite Eksekutif terdapat beberapa sek-si fungsek-sional: Seksek-si informal, Seksek-si Statistik, Seksek-si Agitasek-si dan Propa-ganda, Seksi Organisasi, Seksi untuk masalah-masalah Timur. Di sam-ping partai, Sarikat-sarikat buruh komunis merupakan seksi istimewa dalam Komintern, denga:n jumlah wakil yang diputuskan oleh Komite Eksekutif. Organisasi-organisasi pemuda adalah anggota organisasi fe-derasi pemuda internasional dan organisasi wanita berada di bawah pengawasan Komite Eksekutif.

(25)

Mengenai aksi-aksi ilegal, partai komunis diperkenankan melaku-kan aksi-aksi sekalipu.n melawan undang-undang. Komite Eksekutif wajib memberikan bantuan untuk persiapan pekerjaan ilegal dan mengontrol hasil atau pelaksanaannya.

Kongres II Komintern diadakan di Moskow pada tanggal 17 Juli- 7 Agustus 1920. Kongres pertama telah berhasil membahas masalah or-. ganisasi dan menerima da~ar-dasar Komintem. Kongres II ini lebih menekankan pentingnya makna propaganda. Perhatian besar di-tujukan pada upaya merevolusionerkan rakyat-rakyat Timur. Teori / Marxisme harus dipelajari dengan sistematika Lenin. Partai Komunis harus mampu mengaitkan pekerjaan legal dengan pekerjaan ilegal. Pekerjaan organisasi adalah membentuk sel-sel komunis dengan ber-bagai bentuk dan cara. Orang komunis wajib mendukung gerakan-revolusioner di negara-negj:lra jajahan, tidak hanya dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan yang terencana.

Pada Kongres II ini terjadi kemajuan, karena masalah-masalah kolonial dibahas secara khusus dalam sebuah komisi yang diberi nama Komisi Masalah-masalah Nasional dan Kolonial. Komisi dipimpin oleh Lenin dan Sneevliet sebagai sekretaris. Dalam komisi ini Sneevliet me-ngucapkan pidato tentang pengalamannya di Hindia Belanda. Di Hindia Be Ianda lahir pergerakan nasional bernama. Sari kat Islam, se-buah organisasi massa yang berjuang melawan kapitalisme asing. Ia mengusulkan agar para kader komunis di negara jajahan mengadakan kerjasama dengan pergerakan nasional, karena gerakan nasionalis ini, sekalipun bersifat demokratis borjuis namun didukung oleh massa yang luas yang terdiri dari petani. Ia menganjurkan agar kaum komu-nis bergabung dengan petani. Oleh karena itu petani perlu di-organisasi secara-revolusioner dalam soviet-soviet.B Kerjasama de-ngan kaum pergerakan nasional hanya bersifat sementara, di mana. · orang-orang komunis bebas melakukan kegiatannya. Usul Sneevliet ini didukung oleh Lenin dan menjadi thesis Lenin. Thesis ini mendapat tantangan dari tokoh Partai Komunis India M.N. Roy. Meriurut Roy go-longan pergerakan nasional bisa menggunakan petani untuk melawc;m komunis. Kerjasama harus dibatasi dengan petani yang tidak bertanah saja. Akhirnya Komintern menyetujui usul Sneevliet. Kerjasama

(26)

munis dengan pergerakan nasional yang dianggap borjuis dijadikan thesis Lenin. Karena jasanya ini Sneevliet dianakat sebagai Kepala Biro Komintern di Cina, selama 1 tahun. Di Cina ia menerapkan thesisnya dengan melakukan taktik "aks{di llalam" (block whit!n)-

ter-hadap Koumintang.

Kongres lll Komintern dibuka pada tanggal 22 Juni - 12 Juli 1921 dihadiri oleh 98 utusan partai komunis. Partai Komunis Indonesia mengirim Darsono sebagai wakilnya. Dalam kongres ini antara lain dibahas suatu thesis tentang struktur, metode dan aksi part~i-partai

komunis. Thesis ini menyatakan bahwa semua partai korriunis legal perlu mempersiapkan dan mengadakan gerakan rahasia sebagai sen-jata untuk perjuangan. Bagi setiap partai komunis. ilegal terbuka ke-mungkinan bekerja secara legal untuk sesuatu tujuan, seperti berpartisipasi dalam dunia politik, organisasi atau melaksanakan massa revolusioner yang besar. Pekerjaan legal dan pekerjaan ilegal -dilaksanakan dengan petunjuk dan bimbingim dari Partai sentral.

Kongres IV Komintern berlangsung dari 5 November sampai 5 De-sember 1922~ Dalam kongres ini Tan Malaka menyatakan dukungan terhadap Pan /slamisme, karena gerakan itu pada hakekatnya adalah

perjuangan melawan kapitalisme dan untuk kemerdekaan nasional. . Thesis ini ditenma· oleh Kongres.

Kongres V Komintern, Agustus 1924, mengeluarkan pernyataan : "bahwa tugas kongres adalah merumuskan secara konkrit aplikasi ke-bijaksanaan nasional Komintern di beberapa negara, khususnya di ne-gara-negara Timur dan jajahan, di mana perjuangan kemerdekaan te-lah berkembang·menjadi gerakan revolusioner. Pemecahan yang tepat dari masalah nasional akan membantu partai dalam mempengaruhi massa ·ke pihak kita". Di samping itu kongres· juga menekankan

perlun:y~ mengembahgkan organisasi buruh dan membolsewikkan

partai-partai komunis. Khusus mengenai masalah hubungan PKI-Sa-rekat Rakyat (SR) ditentang oleb Manuilsky yang merasa berkeberatan adanya hubungan ini. Menuru(pendapatnya,SR dengan watak dan se-mangat borjuis kecilnya bisa merupakan wabah bagi partai.9

9. Ruth T. Me. Vey, The Rise of Indonesian Communism, New York (1965) hal. 267

(27)

3. Pergolakan PKI 1926/1927

Pada 1924, yaitu pada kongres PKI di Kotagede Yogyakarta, ber· limgsung alih kepemimpinan partai dari pasangan Alimin-Musso kepa-da Aliarcham kepa-dan Sardjono. Hal ini terjadi, kareha pimpinan yang le-bih senior tidak bersedia memimpin PKI. Berbagai aksi pemogokan _ yang dilancarkan atas komando partai mengalami kegagalan,

sehing-ga pada tahun 1924 pemerintah Hindia Belanda memperketat pengawasan dan mempersempit ruang gerak para tokoh partai serta aktivitasnya. Pada tahun 1925 Darsono diusir' ke luar Indonesia, Aliarcham dibuang ke Digul, sedang Musso, Alimin dan Tan Malaka terpaksa menyingkir ke luar negeri. Sardjono bersama-sama dengan para pemimpin PKI yang masih bebas, seperti Budisutjitro, Sugono, Suprodjo, Marco dan lainnya pada tanggal 25 Desember 1925 mengadakan rapat di Prambanan untuk membahas situasi terakhir yang semakin. mengancam keberadaan PKI. Rapat memutuskan mengadakan pemberontakari untuk m~negakkan Negara Soviet Indonesia. Pemberontakan akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926.

Sekalipun pemerintah Hindia Belanda tidak mencium rencana ter-sebut; pada bulan Januari 1926 pemerintah mencoba menangkap Musso, Budisutjitro dan Sugono. Namun sebelum ditangkap tokoh-to-koh PKI itu berhasil melarikan diri ke Singapura. Di Singapura telah berkumpul beberapa tokoh PKI lain, yaitu Alimin, Subakat, Sanusi, Winanta. Alimin bersama tokoh-tokoh lain yang baru datang dari Indonesia, membicarakan keputusan Prambanan. Hasil pembicaraan itu tidak pernah dijelaskan. Mereka memutuskan mengutus Alimin menemui Tan Malaka di Manila. Pada bulan Pebruari 1926' Tan Malaka sudah menyampaikan pendapatnya secara konkrit menentang keputusan Prambanan yang akan dilaksanakan pada 18 Juni 1926. Menurut Tan Malaka keputusan Prambanan adalah suatu keputusan yang sudah terlanjur, dan benentangan dengan aturan Komintern.10

Ka-10. Komintern Asia Tenggara, ditugasi oleh Komintern untuk mengawasi partai komunis di Indonesia, Filipina, Birma (Myanmar), Malaka, Indo China, agar tidak menyimpang dari aturan dasar Komintern

(28)

18

rena itu harus diganti dengan massa-aksi yang terus menerus, pemo-gokan dan demonstrasi yang tak putus-putus. Tahap selanjutnya ada-lah merebut kekuasaan. Dalam merencanakan suatu pemberontakan, Tan Malaka memiliki konsep yang matang. Dalam brosurnya "Menudju Republik Indonesia" (Naar Republiek Indonesia} yang

ditulis pada 1924 ia memberikan berbagai petunjuk mengenai taktik dan strategi revolusi yang antara lain :

"Jika kita pelajari tempat mana yang sangat menguntungkan bagi kita untuk digempur, maka pilihan kita akan jatuh pada lembah Be-ngawan Solo. Memang di sini mempunyai harapan besar dapat merampas kekuasaan ekonomi dan politik dan bertahan daripada di Batavia dan di Priangan.

Di Iembah Bengawan Solo bertimbun-timbun buruh industri dan petani melarat yang akan mewujudkan tenaga-tenaga, bukarl saja untuk perampasan akan tetapi juga syarat-syarat teknis dan ekono-mi mempertahankan perampasan itu. Di Batavia atau Priangan ke-menangan politik atau militer akan sukar didapat dan di-pertahankan (daripada di lerribah Bengawasan Solo) karena sangat sedikit faktor-faktor teknis dan ekonomis yang tersedia di sana. Kemengan politik dan militer yang modern hanya dipertahankan jika kita memiliki syarat-syarat kekuasaan ekonomi. Bahkan kita nanti harus mengerahkan induk pasukan kita ke lembah Bengawan Solo, agar offensif revolusioner dapat menentukan strategi seluruh-nya.".11

Selanjutnya Tan Malaka mengingatkan bahwa, seluruh rakyat belum berada di bawah PKI, situasi revolusioner perlu dikembangkan, daR-anggota PKI belum cukup berdisiplin. Begitu pula tuntutan yang konkrit belum dirumuskan.

Penolakan Tan Malaka dibicarakan kembali oleh Alimin bersama pimpinan PKI yang· berada di Singapura. Akhirnya diputuskan untuk menolak thesis Tan Malaka. Alimin dan Musso diutus ke Moskow pada bulan Maret 1926. Pada bulan Maret 1926 Tan Malaka menerima pemberitahuan dari Alimin, bahwa thesisnya ditolak oleh partai. Sekali lagi·Tan Malaka meminta pimpinan partai untuk mendiskusikan

(29)

tusan Prambanan tersebut. Diskusi antara Tan Malaka, Subakat dan Suprodjo menghasilkan kesepakatan membatalkan keputusan itu. Hasil kesepakatan diskusi disampaikan oleh Suprodjo kepada Sardjono tetapi ditolak. Sardjono tetap pada pendiriannya, revolusi tetap akan dilaksanakan.

Ketika keputusan Prambanan · sedang didiskusikan oleh Tan Malaka di Singapura, Alimin dan Musso telah tiba di Moskow. Mereka me· nyampaikan rencana revolusi di Indonesia. Rencana itu didukung oleh Trostsky, tetapi ditolak oleh Stalin. Oleh karena itu Alimin dan Musso

~ ditahan selama 3 bulan untuk direindoktrinasi tentang teori perjuang· an revolusioner. Stalin memutuskan melarang rencana pemberontak-an diteruskpemberontak-an. Alimin dpemberontak-an Musso ditugasi membawa keputuspemberontak-an ini ke Indonesia. Musso menolak keputusan Stalin dan akan tetap melaksa-nakan pemberontakan. Sebelum Alimiri dan Musso tiba di Indonesia pergolakan sudah meletus. Perintah untuk memulai pemberontakan disampaikan seminggu sebelumnya oleh pimpinan PKI. Perintah-pe· rintah disampaikan lewat juru propaganda yang berjalan keliling.l2

Sementara itu di Jawa pemberontakan dimulai secara serentak di berbagai tempat sejak tanggal 12 November 1926. Di Jakarta, Jatinegara, Tangerang pemberontakan berlangsung dari tanggal 12 · 14 November, sedang di karesidenan Banten berlangsung dari tanggal 12 November sampai 5 Desember 1926, seperti di Labuharr, Menes, Caringin, Pandeglang. Di kabupaten Bandung berlangsung dari 12 · 18 November 1926 yakni di Rancaekek, Cimahi, Padalarang, dan Nagrek. Di friangan Timur terjadi di Ciamis, Tasikmalaya. Di Karesidenan Surakarta, khususnya di Kabupaten Boyolali pem· berontakan terjadi pada tanggal17 November sampai 23 November. Di daerah Kediri berlangsung dari 12 November 15 Desember. Pemberontakan meluas ke Banyumas, Pekalongan dan Kedu. Di Sumatera Barat pemberontakan dimulai pada awal Januari 1927 di Sawahlunto, Silungkang, Solok, Kota Lawas, Pariaman, Painan, dan Lubuk Sikaping, dan berlangsung sampai akhir Februari 1927.

Ketika berita tentang pemberontakan di Jawa diterima oleh Komintern, di luar dugaan Komintern memberikan dukungannya dan menganjurkan kepada kaum komunis sedunia untuk membantu PKI. Dukungan tersebut dikemukaka1_1 pada pernyataan sebagai berikut :

(30)

"Komintern menyambut baik, perjoangan revolusioner rakyat Indonesia dan memberikan dukungan penuh''.

Pelaksanaan pemberontakan PKI ini kurang terkoordinasi; sehingga mengalami kegagalan. Akibatnya pengawasan pemerintah Hindia Be-·tanda terhadap aktiv-itas politik pergerakan nasional sangat diperketat

serta. berpengaruh terhadap nasib para pemimpin PKI yang berada di luar negeri.

Pada bulan Desember 1926 Semaun dalam kondisi panik dan ·• frustrasi datang kepada Hatta, ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda. Keduanya sepakat untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi pada pergerakan dan kemudian menyusun suatu konven-si bersama· yang_ memuat pernyataan :

20

a. PI harus mengambil alih dan bertanggung jawab penuh atas ge-rakan rakyat Indonesia.

\

Senjata-senjata yang digunakan PKI yang dirampas pemerintah kolonial Belanda.

(31)

b. PKI harus mengakui pimpinan SI.

c. Percetakan yang di bawah pengawasan PKI harus diserahkan kepada PI.

Sikap menyerah Semaun kepada Hatta, oleh Komintern, dalam hal ini Komite Eksekutif (EKKI), dinilai sebagai kesalahan besar. Tindakan-nya dipandang sebagai likuidasi PKI. Konvensi ini dibatalkan setahun kemudian (Desember 1927). Nasib Semaun kemudian ditentukan oleh Mahkamah yang dibentuk oleh EKKI. Ia dijatuhi hukuman di-buang ke Asia Tengah. Demikian pula dengan nasib kawan-kawannya. Musso direedukasi : diharuskan masuk sekolah partai di Moskow, se-dangkail Alimin dijadikan petugas Komintern yang harus mengemba-ra dari negamengemba-ra ke negamengemba-ra dan kemudian ditempatkan di Cina. Darsono diharuskan "bertobat" mengakui segala kesalahannya kepada pemim-pin tertingginya, Stalin. Selanjutnya ia dibuang dan hidup terlunta-lun-ta di Jerman dan negeri Belanda.

Salah satukor.ba~ pemberontakan PKI tahun 1927 di Suinatera Barat.

(32)

Kegagalan pemberontakan yang dirancang dan dilaksanakan oleh PKI pada 1926/1927 ini mempunyai dampak yang merugikan bagi perjuangan pergerakan nasional. Pengawasan terhadap semua aktivi-tas partai-partai politik lebih diperketat. Ruang gerak para pemimpin nasionalis dipersempit, baik melalui undang-undang .maupun melalui pengawasan. Nasib perjuangan pergerakan kemerdekaan nasional mengalami masa yang paling suram. Di sini kita melihat bahwa PKl ha-nya berjuang untuk mencapai tujuan politikha-nya yaitu merebut kekua-saan urituk mendirikan pemerintahan komunis. Agitasi dan slogan-slo-gan revolusi yang menyesatkan dan menipu, menelan korban ribuan putra-putra Indonesia yang masih buta politik.

4. Gerakan PKI Ilegal

Sesudah pemberontakan gagal,pimpinan dan kader-kader Pl<l yang tinggal bercerai-berai menyelamatkan diri dari kejaran Polisi Peng-awasan Politik (PID). Dua tahun kemudian, pada 1928 terdapat tanda-tanda PKI mulai bangkit keinbali, sekalipun dengan jaringan yang amat terbatas. Mereka membentuk Sarekat Kaum Buruh Indonesia (SKBI). Aktivitas mereka dicurigai dan sebagian pilllpinan

SKBI

ditangkap. Pada tahun 1932 mereka mencoba bangkit dengan mem-perkuat organisasi sel, yang disebut komite persatuan.13 Komite ini. te-rus-menerus melancarkan tuntutan revolusioner. Pada bulan Juli 1932, komite ini mengeluarkan 18 pasal Program tuntutan antara lain:

. 1. Pembentukan pemerintahan buruh dan tanL

2. Segera bebaskan semua narapidana politik, dan tahanan. Hapuskan kamp konsentrasi Digul dan kembalikan pemimpin yang dibuang.

3. Bebas mengadakan aksi-aksi politik, mogok dan demontrasi bagi organisasi revolusioner. Kebebasan penuhbagi gerakan

bu-ruh dan tani. ·

13. Justus M. van der Kroef, The Communist Party of Indonesia, Vancouver (1965) hal. 22

(33)

Perkembangan gerakan bawah tanah komunis tidak dapat dilepaskan dari perkembangan komunis internasional. Di Eropa pada tahun 30-an muncul kekuat30-an dunia baru y30-ang dipelopori oleh Hitler di Jerm30-an dan Mussolini di Italia. Kedua gerakan ini bertumpu pada satu ideologi yakni fasisme.14

Bangkitnya fasisme baik di Jerman maupun di Italia menyadarkan Stalin bahwa fasisme lebih berbahaya daripada kapitalisme, terutama menjadi ancaman langsung terhadap negara Uni-Soviet. Untuk itu perlu digalang kerjasama dengan golongan kapitalis yang bersikap anti fasis. Akhirnya diputuskan untuk sementara menghentikan per-musuhan dengan kapitalis, selanjutnya menggalang kerjasama untuk melawan fasis. Perubahan sikap ini tercermin setelah terpilihnya Dimitrov sebagai pimpinan baru Komintern pada tahun 1935. Sikap Komintern ini dikenal sebagai garis Dimitrov.

Program 18 pasal PKI dalam bahasa Belanda

14. Fasisme adalah ideologi yang menekankan dasar dan paham otoriter dan tindakan politik totaliter serta menolak baik komunisme maupun kapitalisme

(34)

24

Untuk menjelaskan garis baru ini kepada partai komunis seluruh . dunia, Komintern mengirimkan sejumlah tokoh-tokoh lokal yang

bera-da di Moskow kembali ke negara masing-masing. Musso dikirirn ke Indonesia. Pada tahun itu juga Musso telah berada di sekitar Surabaya. Ia mengumpul_kan sisa-sisa kader komunis yang melakukan gerakan bawah tanah, antara lain Ngadmo (Armunanto}, Pemudji, Azis, Sukayat, Ojoko Sudjono, Achmad Sumadi, Sukindar, Sutrisno, Suhadi. · Musso membentuk Central Comite (CC) PKI baru pada 1935 (selan-jutnya disebut dalam buku ini sebagai PKI-35). Mr. Amir Sjarifuddin dan Tan Ling Ojie berhasil dibina oleh kelompok ini.

Pada tahun 1938, jaringan PKI-35 terbongkar. Achmad Sumadi, Sugono, Harjono, tertangkap dan dibuang ke Boven Oigul, Kelompok PKI-35 akhirnya terpecah belah. Pamudji, Sukayat, Abdul Azis dan Abdulrakhim meneru~kan kerjanya sampai 1943.

Sejak kedatangan Musso, sikap PKI mulai berubah, tidak lagi me-nyuarakan tuntutan-tuntutan radikal revolusioner. Ketika Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) terbentuk pada 1937, kader-kader PKI memasuki organisasi ini. Sekalipun Gerindo menganut azas koperasi dengqn pemerintah Hindia Belanda, namun sikap tegasnya memusuhi fasisme telah menarik perhatia:n kader PKI. Akhirnya lewat organisasi ini lahirlah perhatian kader PKI, antara lain Mt Amir Sjarifuddin, ang-gota Pengurus Gerindo, Wikana, pimpinan Pemuda Gerindo. Aktivitas lain yang juga digodok dalam Gerindo adalah D.N. Aidit, Anwar Kadir, Nungtjik A.R., Ir. Sa:kirman, Sidik Kertapati, Sudisman, Sudjoyono, Tjugito, dan Mr. Joesoeph.15 Melalui berbagai kursus, kader-kader PKI digemhkmg dalarn Gerindo, bahkan Gerindo diakui sebagai proyek · PKI.Generasi baru ini kemudian dipimpin Mr. Amir Sjarifuddin yang selanjutnya disebut kelompok Amir Sjarifuddin. Tetapi pada 1940 Mr . Amir Sjarifuddin ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda karena kegiatannya dalam -PKI ilegal. Ia disuruh memilih dibuang ke Oigul atau . bekerja sama dengan pihak Belanda. Untuk menyelamatkan partainya Mr Amir Sjarifuddin memutuskan memilih bekerja sama dengan· pihak Belanda. Kemudian ia diangkat sebagai pegawai Departemen. Urusan Ekonomi, di bawah

'

15. Soe Hok Gie, op. cit., haL 22

(35)

pimpinan van· Mook.16 Pada kesempatan ini Mr. Amir Sjarifuddin dihubungi oleh van der Plass, diberi uang sebesar F. 25.000 (gulden) agar menyusun jaringan bawah tanah anti fasis.

Sebelum itu telah diadakan pertemuan rahasia antara pemimpin pergerakan seperti dengan dr. Tjipto Mangunki..lsumo dengan kader-kader PKI, yang membahas perjuangan selanjutnya apabila Belanda kalah dari Jepang. Pertemuan pertama diadakan di Rawamangun, membahas petunjuk-petunjuk dr. Tjipto, yang menyatakan bahwa ha-nya rakyat Indonesia yang mampu melawan fasisme Jepang. Pertemuan dipimpin oleh Mr. Amir Sjarifuddin dan dihadiri oleh Pamudji (PKI-35), Subekti, Atmadji (sekretaris Gerindo), Suyoko, Armunanto (PKI-35), Widarta (Pemuda Rakyat Indonesia), H. Mustafa (Singapama), Liem Koen Hian (Surabaya) dan Oei Gee Hwat. Dari pertemuan ini dibentuk Gerakan Anti Fasis (Geraf).

Pertemuan kedua diadakan di Sukabumi di rumah dr. Tjipto Mangunkusumo, yang dihad~ri oleh dr. Tjipto selaku tuan rumah, Djokosuyono, yang kemudian menyusup menjadi cudanco tentara Peta di Madiun, dr. Ismail (Ismangil)17 yang kemudian menjadi eisei cudanco (komandan kompi kesehatan) pada tentara Peta Blitar, dan oleh Mr. Amir Sjarifuddin sendiri. Dalam pertemuan ini dibentuk susunan pimpinan Gerakan Anti Fasis (Geraf) yang terdiri dari : Pimpinan Sekretariat Penasehat Mr. Amir Sjarifuddin Pamudji Sukayat Armunanto (Ngadmo) Widarta dr. Tjipto Mangunkusumo.

Sesudah Jepang menduduki Indonesia, Mr. Amir Sjarifuddin mulai membuat jaring-jaring perlawanan.,Namun Jepang yang mengambil alih aparat kepolisian, berhasil memperoleh informasi tentang gerakan

16. A Brackman, Indonesia Communism a history, New York (1963) hal

34-35

17. dr. Ismangil, dihukum mati oleh Pengadilan Militer Jepang dituduh ·menjadi dalang pemberontakan Tentara Peta di Blitar yang dipimpin oleh

(36)

26

bawah tanah komunis. Berdasarkan dokumen terse but Jepang .berha-sil membongkar kegiatan kelompok Mr. Amir Sjarifuddin. Pada bulan Februari 1943 ia bersama 300 orang ditangkap. Mr. Amir Sjarifuddin, Pamudji, Sukayat, Abdulrachim, dan Abdul Azis divonis mati. Atas permintaan Sukarno-Hatta kepada Panglima Tentara-16, Letnan Jen-deral Nagano, hukuman terhadap Mr. Amir Sjarifuddin diubah menja-di 'hukuman seumur hidup. Rekannya yang lain tetap menja-dijatuhi hukum-an mati. Setelah Mr. Amir· Sjarifuddin terthukum-angkap hampir semua jaringannya terbongkar, kecuali jaringan Widarta. Widarta kemudian bersembunyi di daerah Pemalang, 18 mengambil alih kepemimpinan

PKI bersama K. Mijaya. Jaringan kelompok Mr. Amir Sjarifuddin yang masih selamat adalah jaringan yang dipimpin oleh Mr. Hindro-martono, seorang tokoh buruh dari Bojonegoro. Banyak penulis yang mengatakan bahwa kelompok Mr. Amfr Sjarifuddin telah hancur. Ter-nyata sisa-sisa kelompok ini mengadakan link -up dengan kader-kader PKI-35 di Surabaya. Hasilnya adalah terbent4knya kelompok pemuda yang kemudian menjadi tokoh Pemuda Republik Indonesia (PRI), se-perti Sumarsono, Krissubanu, · Roeslan Widjayasastra.

Oi Jawa Barat terbentuk kelompok gerakan bawah tanah yang me-namakan dirinya Gerakan Djojoboyo yang dipimpin oleh Mr. Moh. Joesoeph pemimpin Gerindo Bandung. Jaringan gerakannya terdapat di sekitar Cirebon dan Bandung. Ia tertangkap menjelang akhir masa

pendud~kan Jepang, ditahan di rumah tahanan Kempetai di Tanah Abang.

Oi samping kelompok-kelompok yang berada di dalam negeri, ter-dapat juga kelompok yang disebtit Kelompk Oigul. Kelompok ini terdi-ri atas tokoh-tokoh PKI ya:ng dibuang akibar pergolakan 1926/1927, dan Kelompok PKI-35 yang tertangkap pada 1937, sesudah Musso meninggalkan Indonesia. Generasi pertama antara lain Sardjono, dan Aliarcham, sedang generasi kedua an tara lain Achmad Sumadi, dan Ojokosudjono. Ketika Jepang menyerbu Irian, mereka diangkut oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Australia. Sebagian dari mereka kemu-dian bekerja pada Sekutu. Oi Brisbane, Ngadiman, Sabariman, dan Ojojosudjono membentuk Central Comite baru, Sardjono di Melbourne mendirikan PKI Sarekat Indonesia Baru (Sibar). Karena kegiatannya dianggap membahayakan oleh Sekutu, Sardjono dikirim ke Morotai dan ditempatkan di bagian Penerangan Sekutu.

(37)

Masih ada kelompok lain yaitu Kelompok Negeri Belanda. Tokoh-tokohnya adalah para mahasiswa seperti Abdulmadjid Djojodiningrat, Setiadjid, Maruto Darusman, dan Suripno. Tokoh lain yang merupa-kan otak dari generasi mahasiswa ini ialah Djayengpratomo, Gondopratomo, dan Jusuf Muda Dalam ketika negeri Belanda diduduki Jerman, mereka melakukan gerakan bawah tanah, seperti spionase, dan sabotase. Dalam melakukan gerakan ilegal di negeri Be-landa ini telah jatuh beberapa korban, seperti Sidartawan, Sundari, Irawan Sundono, dan Parsono.l9

(38)
(39)

BAa

III·

USAHA-USAHA PEREBUTAN KEKUASAAN

LdKAL

.

1. Peristiwa Serang

Peristiwa Serang adalah salah satu usaha dari sisa-sisa Pemberontak Komunis tahun 1926 di Banten dalam merebut kekuasaan lokal untuk mendirikan pemerintahan di daerah yang dibebaskan {liberated

zo--nes). Pembentukan pemerintahan lokal sebanyak-banyaknya merupa-kan strategi komunis guna memperoleh kekuatan da1am rangka mengepung RI yang1 bertujuan mendirikan pemerintah komunis. Oleh karena itu masa transisi antara akhir pemerintahan .:Jepang hingga memasuki awal kemerdekaan merupakan momentum yang tepat un-tuk melaksanakan strategi tersebut.

Kesenjangan sosial, seperti perbedaan kehidupan yang menyolok antara rakyat dan pamongpraja, dijadikan tema oleh orang-orang ko-munis untuk men en tang pemerintah.Selain itu kehidupan rakyat yang amat berat serta. konflik intern di antara pamongpraja dipertajam me-lalui agitasi serta propaganda yang dilakukan secara intensif.dan .ter-selubung. Kondisi masyarakat yang demikian memungkinkan-orang-orang komunis memperoleh dukungan untuk melakukan -pergolakan.

Oi samping itu keterlambatan berita Proklamasi Kemerdekaan Indo-nesia diterima di daerah-daerah menyebabkan perintah pengam-. bilalihan kekuasan dan pemerintahan yang lama tidak segera memperoleh tanggapcm. Begitu pula yang terjadi di daerah Banten. Keterlambatan tersebut mengakibatkan pembentukan badan-badan resmi negara yang diperintahkan oleh pemerintah pusat RI, menjadi tertunda.

Barulah pada tanggal 10 September 1945, Presiden Sukarno mengangkat secara resmi K.H. Achmad Khatib sebagai Residen Banten. Ia adalah seorang tokoh lokal yang pernah terlibat dalam pemberbntakan komunis tahun 1926 di daerah Banten. Selanjtitnya

(40)

ia mengalami masa pembuangan di Boven Digul selama 15 tahun dan bebas kembali setelah berakhirnya masa pemerintahan militer Jepang. Namun demikian K.H. Achmad Khatib memiliki pengaruh yang besar di kalangan masyarakat setempat. Sebagai putera Kyai Haji Wased, se-orang ulama berpengaruh, serta kegiatannya di pesantren telah men-. jadikan Kmen-.Hmen-. Achmad Khatib diterima oleh masyarakat Banten yang

terkenal fanatik dalam hal agama.

Setelah pengangkatan resmi tersebut, Residen Kyai Haji Achmad Khatib mengangkat orang-orang yang akan membantu tugasnya. Se-bagai wakil residen diangkat Zulkarnaen Surya Kertalegawa dan

diperintahkan pula kepada Raden Hilman Djajadiningrat (Bupati Se-rang); Djumhara (Bupati Pandeglang), Raden Hardiwinangun (Bupati Leb.ak) untuk tetap meneruskan tugasnya. Jabatan-jabatan dalam ba-dan KNI di setiap kabupaten, diserahkan kepada Ce Mamat (ternan

K.H. Achmad Khatib) untuk kabupaten Serang, Mohamad Ali, untuk kabupaten Pandeglang dan Raden Djaja Roekmantara untuk kabupa-ten Lebak.

Di samping itu dibentuk pula BKR Karesidenan Banten, di bawah pimpinan K.H. Syam'um. Anggotanya terdiri atas bekas anggota Peta dan pemuda-pemuda lainnya.

Ternyata tidak semua badan tersebut menjalankan fungsi sesuai de-ngan tugas dan kewajibannya. Salah satu ialah KNI di Kabupaten Se-rang di bawah pimpinan Ce Mamat1. Tokoh ini telah memanfaatkan KNI sebagai alat untuk menyebarkan ideologi komunisme di kalangan rakyat. Ce Mamat yang pada tahun 1920 pernah menjabat Ketua PKI Cabang Anyer ini mengemban suatu misi yaitu membentuk suatu De-wan Rakyat di daerah Banten. Misi tersebut berasal dari Chaerul Sa-leh, tokoh pemuda Asrama Menteng 31 di Jakarta yang disampaikan oleh Abdul Muluk 2 hari setelah kemerdekaan Indonesia. Ketika itu Ce Mamat berada di penjara Tanah Abang 3, Jakarta karena ditangkap Jepang sehubungan dengan keterlibatannya dalam

kegiat-an gerakkegiat-an Djojobojo. ~ ..

1. €e Mamat, Tokoh PKI 1926 dari Banten berhasil meloloskan diri dari tangkapan PID dan lari ke Malaya. Ia aktif dalam PARI. Pada masa pendudukan Jepang ia menjadi anggota bawah tanah Ojojobojo. Tahun 1944 Ce Mamat ter-tangkap dan ditahan di rumah tahanan Kempetai Tanah Abang. Setelah Prokla-masi ia dibebaskan oleh Abdul Muluk dari kelompok Asrama Menteng 31 Jakarta dan kembali ke Serang dengan mengemban misi untuk mengambil alih kekuasaan.

(41)

Kondisi yari.g dianggap tepat oleh Ce Mamat untuk merealisasikan misinya ialah, ketika massa rakyat menuntut pemecahan terhadap pamong praja yang masih banyak ditempatkan dalam pemerintah karesidenari di bawah K.H. Achmad Khatib. Kebencian rakyat terha-dap para pamong praja dikarenakan mereka dianggap sebagai kaki ta-ngan kolonialisme/iinperialisme serta kebanyakanmereka berasal dari luar daerah Banten, seperti dari Priangan, dan lain-lain. Suasana psikologis rakyat semacarri ini dimanfaatkan oleh Ce Mamat dengan melakukan pengambilalihan kekuasaan pada tanggal 17 Oktober 1945 dari tangan. K.H. Achmad Khatib. Tampaknya antara K.H. Achmad Khatib dan Ce Mamat terjadi perbedaan pendapat mengenai bentuk pemerintahan daerah. K.H. Achmad Khatib menghendaki penggantian piinpinan di atas seperti dirinya, sedangkan Ce Mamat menghendaki perombakan secara total.

Pada tanggal28 Oktober 1945 Ce Mamat membacakan maklumat-nya yang memaklumat-nyatakan bahwa seluruh karesidenan Banten diambil alih oleh Dewan Rakyat. Residen tidak dapat mengelakkan aksi daulat Ce. Mamat · untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah. K.H. Achmad Khatib tetap menjadi residen, akan tetapi program pemerin-tah dijalankan sesuai dengan konsep Ce Mamat. Setelah peng-ambilalihan kekuasaan di tingkat karesidenan berhasil, maka aksi daulat pun semakin meluas ke daerah-daerah Banten lainnya.

Pada malam hari tanggal 28 Oktober 1945 Bupati Serang R. Hilman Ojajadiningrat ditahan oleh para pemuda pengikut Ce Mamat. Berita ini baru diketahui keesokan harinya. Residen dan pimpinan BKR segera bertindak untuk membebaskan serta mencegah aksi-aksi dewan berikutnya.

Dalam kondisi politik yang kacau, Ce Mamat memaksakan ke-hendaknya kepada Residen, agar segera menyusun aparatur pe-merintah yang baru. Behim sampai tersusun ia sendiri menunjuk "wa-kil" rakyat guna menduduki jabatan-jabatan dalam pemerintahan. Un-tuk memperoleh simpati rakyat, maka seluruh aparatur pemerintahan diambil dari golongan ulama. Jabatan residen tetap dipangku oleh K.H. Achmad Khatib. K.H. Syam'un diangkat sebagai Bupati Pande-glang di samping jabatannya sebagai komandan TKR Banten, dan Haji Hasan sebagai bupati Lebak. Di samping itu dibentuk pula

(42)

MajelisUla-rna yang beifungsi sebagai suatu.badan penasehat $erta mengawasi tugas residen. Majelis ini beranggotakan 40 kyai yang beq)engaruh di karesidenan Banten.

Meskipun telah ada perubahan dalam · pejabat pemerintah daerah, tidak herarti bahwa masalah telah terselesaikan. Laskar Ce .Mamat yang berrtama Gulkut (Gulung Bulkut; Bulkut

=

pamong praja) masih terus melakukan pengacauan dan teror. Para anggota laskar ini keba-nyakan terdiri atas parajawara. Perampokan harta-henda milik pendu-duk, dan pembunuhan, terutama terhadap golongan pamong praja, merupakan sasarannya. Kepala Polisi Serang, Oscar Kusumaningrat, ditangkap kemudian dibawa ke penjara Serang. Selain untuk membia-yai kelangsungan hidup perjuangan Ce Mainat yang bermarkas di Ciomas, maka tindakan perampokan dan pembunuhan tersebut dilakukan sebagai balas dendam terhadap pamong praja yang dianggap memiliki kedudukan istimewa pada masa pendudukan Be-landa maupun Jepang. Dengan demikian sasaran teror ini memiliki motivasi politik yang mewamai gerakan aksi daulat tersebut.

Teror dan 15-eganasan Laskar Gulkut telah demikian meresahkan rakyat. TKR Resimen I Banten yang dipimpin oleh K.H. Syam'un, me-rencahakan suatu operasi penumpasan. Dengan dibantu oleh Ali Amangku dan Tb. Kaking, serbuan TKR berhasil memukul mundur pasukan Dewan Rakyat d_an merebut markasnya yang terletak di kan-tor Kawedanaan Ciomas. Perlawanan Laskar Gulkut berhasil di-patahkan dan sebagian besar anak buahnya ditahan, namun Ce Mamat berhasil meloloskan diri ke daerah Lebak.

Ce Mamat berusaha menyusun kern bali sisa-sisa · kekuatan Laskar Gulkut, dengan pusatnya di kota Rangkasbitung. Dalam waktu 1 bu" Ian, tepatnya bulan November 1945 Dewan Rakyat · berhasil menguasai seluruh kota Rangkasbitung. KNI Daerah Kabupaten itu dibubarkan. Aksi-aksi Ce .Mamat mendapat dukungan dari Kepala Desa Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, dania diangkatmenjadi Weda-na di distrik tersebut. Di sini laskar Dewan Rakyat berhasil melucuti anggota kepolisian setempat, dan menggantikannya dengan para jawara, sehingga polisi di Lebak dikenal dengan julukan " Polisi Jawara ".2 Pada bulan Nopember itu juga Dewan Rakyat Ce Mamat

2. Sri Himdajani Purwaningsih, Pergolakan Sosial-Politik Di Serang Pada fahun 1945 : Kasus Gerakan Aksi Daulat Ce Mamat, Skripsi untuk melengkapi syarat gelar sarjana FS-UI, Jurusan Sejarah, tahun 1984, hal. 89

(43)

-- melaksanakan kerjasama dengan Pemerintah Dewan· Rakyat · Tangerang yang dipimpin oleh K.H. Achmad Chairl.m. Mereka mengadakan rapat raksasa di lapangan Undojo, Tangerang.

Sementara itu aksi-aksi Dewan Rakyat terus · berlangsung. Bupati (resmi) Lebak, R. Hardiwinangun diculik dari rumahnya. Kejadian ini berlangsung ketika Presiden Sukamo dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta rombongan meninjau situasi daerah Karesidenan Banten pada tanggal· 9 Desember 1945. Bupati R. Hardiwinangun yang mengalami nasib malang ini diikat kemudian dibawa ke jembatan Sungai Cisiih. Ia ditembak m(iti di sini dan mayatnya dilemparkan ke sungai. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan oleh' penduduk di se-kitar tempat tersebut.

Terjadi pula peristiwa penyerbuan tangsi polisi di kota Se:ang yang ' difakukan oieh pasukan liar pimpinan Ce Mamat dari daerah Ciomas, kabupaten Bogor. Pasukan ini bergabung dengan kekuatan Dewan Rakyat dari Rangkasbitung. Penyerbuan ini merupakan puncak peristi- · wa di Karesidenan Banten, namun akhimya dapat diatasi oleh TKR. Daiam suatu operasi pembersihan, Ce Mamat berhasil mefofoskan dirj dan kemudian menggabungkan diri dengan Laskar Rakyat pimpinan Kiai Narya di Cipaku, Bogor. Dengan bantuan Laskas Gulkut dan Las-kar Ubel"ubel dari Tangerang tokoh ini pun memimpin suatu aksi daulat terhadap ~esiden Barnas dan Komandan Resimen TKR Husein Sastranegara. Dua: hari -kemudian Residen dan Kornandan Resimen berhasil dibebaskan oleh Pasukan Polisi Istimewa.

Aksi-aksi yang dilakukan Ce Mamat ini merupakan salah satu ben-tuk kegiatan komunis dalain upaya mencapai cita-citariya. palam me-lakukan strateginya, mula-mula mereka menghasut masyarakat se-tempat dengan pelbagai intimidasi serta menuduh pemerintah tidak representatif dan perlu diganti. Kemudian' aksi ditingkatkan denga_n · tindak kekerasan, seperti menculik dan membunuh tokoh-tokoh sipil dan militer yang dianggap sebagai penghalangnnya. Setelah berhasil, langkaH selanjutnya adalah melakukah pembubarali lembaga pe• merintahan dan menggantikannya dengan pemerintah Dewan Rakyat menurut versi komunis.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perhitungan nilai H’ dan E Stasiun 1 yang merupakan hulu Sungai Cikaro adalah 1,08 dan 0,98 (Gambar 5) pada stasiun 2 nilai H’ dan E pada adalah 0

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan bercerita

Sehinggaa, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui hubungan kepadatan bulu babi yang hidup dalam ekosistem terumbu karang pada kawasan intertidal di Pantai

Ketua : Dewan Koordinasi Guguslatih Bahasa dan Seni Racana Wijaya Gugusdepan Kota Semarang 14.111.. Diyamon

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A SMP N

(2013) The Impact of the Housing Benefit Reforms on the Social Rented Sector: A Study for the Northern Ireland Housing Executive and Department for Social Development.

Permasalahan yang dikaji adalah untuk mengetahui hubungan kombinasi serat ampas tebu dan serat bambu betung bermatriks polypropylene pada komposit terhadap

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh perendaman benih saga dengan air kelapa muda dengan waktu perendaman yang berbeda dapat disimpulkan bahwa, perendaman benih