• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 METODE. Metode dan Desain Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3 METODE. Metode dan Desain Penelitian"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

10  

3 METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kawasan hutan mangrove Cibako, Sancang terletak antara posisi 7°42' 32.15" - 7°45' 32.15" LS dan 107°42'34.15"- 107°52'18.10" Bujur Timur, dimana secara administrasi kawasan ini merupakan bagian pengelolaan Badan Konservesai Sumber daya Alam (BKSDA) Wilayah V Jawa Barat. Pada hutan mangroveini terdapat sungai Cibako yang terhubung dengan samudera Indonesia dan memiliki estuari, sehingga perairan tersebut sangat dipengaruhi oleh gerakan pasang surut Samudera Indonesia. Penelitian ini akan berlangsung selama empat bulan dengan frekuensi pengambilan contoh sebanyak 16 (enam belas) kali.

Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Lokasi/ stasiun penelitian terdiri dari 6 (enam) stasiun. Pada seluruh stasiun ini dilakukan pengukuran kualitas air, karakteristik habitat, dan distribusi ukuran, jenis, dan jumlah kepiting bakau. Pengukuran dan Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 16 kali dalam waktu (empat) bulan dengan survey dalam petak pengamatan berukuran 20 x 20 m dengan metode line plots transect (Bengen, 1997).

Pengambilan sampel kepiting dilakukan pada masing-masing stasiun penelitian dengan menggunakan alat tangkap bubu lipat sebanyak 8 unit, sehingga jumlah keseluruhan alat tangkap yang dibutuhkan sebanyak 48 unit.

Penentuan stasiun penelitian dibagi atas tiga zona pengamatan yang terdiri dari :

• Zona A , terletak di depan hutan mangrove, tepatnya di estuari Cisanggiri. Pada wilayah ini dipengaruhi oleh limpasan pasang air laut. Wilayah ini memiliki tingkat salinitas yang tinggi, kecerahan tinggi , substrat lumpur dan berpasir. Pada zona ini ditempatkan stasiun 1 yang berada di sebealah kiri sungai dan stasiun 2 di sebalah kanan sungai.

(2)

   

• Zona B, terletak di wilayah tengah hutan mangrove. Penenetuan lokasi di zona ini, karena Wilayah ini memiliki tingkat salinitas yang tinggi apabila terlewati gerakan pasang air laut, kecerahan rendah, substrat berlumpur, dan sedimentasi tinggi. Pada zona ini ditempatkan stasiun 3 yang berada di sebelah kiri sungai dan stasiun 4 berada di sebelah kanan sungai.

• Zona C, terletak di wilayah bagian belakang dari hutan mangrove yang berbatasan dengan wilayah darat. Wilayah ini memiliki kecerahan rendah, substrat berlumpur, dan sedimentasi tinggi. Pada zona ini ditempatkan stasiun 5, berada di sebealah kiri sungai dan stasiun 6, berada di sebelah kanan sungai.

Alat

Peralatan yang digunakan dalam penilitian ini yaitu alat tangkap, kualitas air, alat ukur dimensi yang menunjukkan ketilitian alat , dokumentasi, dan wadah penyimpanan sampel.

Tabel 1.Alat yang digunakan dalam penelitian dan kegunaannya.

No. Alat Kegunaan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Alat tangkap bubu lipat

Jangka sorong dengan ketelitian 0,05 mm Botol sampel

GPS (Global Pointing System) Hand Refraktometer pH Meter Termometer Pipa Paralon Cool box Meteran Kantung plastik Kamera dijital

Menangkap kepiting bakau Mengukur dimensi ukuran panjang Wadah sampel air

Mengukur letak geografis zona penelitian Mengukur parameter Salinitas

Mengukur pH Mengukur suhu air Mengambil sampel substrat

Menyimpan sampel air, substrat, dan serasah Mengukur Kedalaman air

Menyimpan kepiting bakau

Mendokumentasikan kegiatan penelitian Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampel kepiting, makrozoobentos, dan serasah untuk dilakukan pengamatan jenis dan kelimpahannya serta bahan pengawet untuk mengawetkan organisme yang diteliti pada selang waktu beberapa hari berikutnya.

Tabel 2.Bahan yang digunakan dalam penelitian dan kegunaannya.

Bahan Kegunaan 1 2 3 Kepiting bakau Formalin 4%

Makrozoobentos dan Serasah

objek peneltian

mengawetkan kepiting bakau

Objek peneltian sebagai makanan kepiting Metode Kerja

Vegetasi Mangrove

Data vegetasi mangrove dikelompokan pada masing-masing stasiun dalam petak pengamatanberukuran 10 x 10 m untuk kategori pohon (diameter >10 m), 5 x 5 m untuk kategori anakan/ belta (diameter = 2 – 10 cm),dan 1 x 1 m untuk kategori semai (diameter < 2 cm). Vegetasi mangrove pada tiap petak

(3)

  p j b p u k M p m a M s k k j f K s d p P d m h p d pengamatan jumlah indiv Substrat Penga berdiameter pengamatan untuk dihitu kategorinya. Makanan Serasah Pengu penampung masing pada analisis di la Makrozoo Pengu sedalam 15 kantung pla ke laborator jumlahnya . formalin 4% Kualitas A Pengu situ) dengan diukur deng pengamatan Pengumpu Penga digunakan b masing-mas hari. Sebelu potongan ik dilakukan pa n diidentifika vidunya untu mbilan sub 5 cm denga n 1 x 1 m. S ung persenta . Alami umpulan ser serasah dite a tegakan ma aboratorium obentos umpulan ma cm pada pe stik dan dit rium untuk . Sampel ya % untuk diko Air ukuran param n mengguna gan mengg n 20 x 20 m ulan Conto mbilan con bubu lipat b ing stasiun um penangka kan kembu ada petak pe asi, diukur uk tiap kateg bstrat dilaku an tinggi 15 Selanjutnya ase fraksi ka rasah dilaku empatkan p angrove yan untuk dihitu akrozoobento etak pengam tuangkan lar disaring da ang telah di leksi. meter suhu, akan water gunakan me oh Kepitin ntoh dilakuk berukuran 7 sebanyak 8 apan dilaksa ung, selar engamatan 2 Gambar 4. diameter ba gori ukan denga cm pada ma sampel sub ategori pasir ukan dengan ada petak p ng ada di tiap ung bobot ke os dilakuka matan 1 x 1 rutan formal an dianalsisi amati, selan pH, salinita quality che eteran. Peng ng Bakau kan dengan 70 x 50 x 8 unit. Pena anakan, alat atau cucut. 0 x 20 m Alat Tangk atangnya dan an menggun asing-masing bstrat di ana r, liat, dan lu n menempa pengamatan p stasiun, se eringnya an dengan m. Sampel lin 4%. Sam is klasifikasi njutnya diaw as dilakasan ecker, sedan gukuran dil n Penangka 30 cm yan angkapan dil tangkapan Penangkap ap Bubu n kemudian nakan pipa g stasiun dal alisis di labo umpur sesua atkan dua b 10 x 10 m, elanjutnya S penggalian l dimasukan mpel substra i jenis dan wetkan dalam nakan dilapa ngkan kedal lakukan pa apan kepitin ng ditempatk lakukan pad diberi umpa pan kepitin 12 n dihitung a paralon lam petak oratorium ai dengan buah jala , masing-Serasah di substart n kedalam at dibawa dihitung m larutan angan (in laman air da petak ng bakau kan pada da malam an berupa ng bakau

(4)

  U ( p d P P a 2 o k K d r Ukuran Param (carapace l puncak fron dari kedua s Pengelomp Penge Proses peng analisis Ave 2012. Anali objek yang kelompok la Ketersedia Untuk digunakan ru Keterang Xi = Rata Xj = Bob Seda rumus : Keterang Ni = K ∑Ni = Ju A = Lu G meter yang di length/ CL) nt sampai tep isi antero lat

pokkan ka lompokkan gelompokk erage linkag sis ini digun merupakan ainnya (Hair aan Makan k menganal umus : an : a-rata produksi ot serasah plot angkan untu an : Kelimpahan ma umlah individu uasan Areal p Gambar 3. S iukur adalah merupakan pi coxa, seda teral karapas An arakteristi kemiripan kan karakter ge clustering nakan apabil n jarak terde et al. 1998) nan Alami isa rata-rat

pada setiap tra t ke-i pada sela uk menganal akroozobentos makrozoobent pengambilan co Skema metod h panjang da panjang y angkan lebar s (Warner, 1 nalisis Data k Habitat antar stas ristik lingku gdengan ba la jarak anta ekat dari ob . i ta produksi ansek (g/ m2)

ang waktu terte lisa kelimpa

jenis-i (ind/ m tos jenis-i (ind ontoh (m)

   n i j X X A

i i N N de pengump an lebar kara yang diukur r karapas diu 977). siun digunak ungan anta antuan softw ara kelompok bjek kelomp i serasah p entu (g) ahan makroz m2) d) i X i

ulan data lap

apas. Panjang r secara ver ukur secara h kan cluster r stasiun di ware Excel S k terdapat k pok pertama pada setiap zoobentos d pangan g karapas rtikal dari horizontal analysis. igunakan Stat Versi kemiripan a dengan p stasiun digunakan

(5)

14  

Kerapatan Jenis Mangrove

Kerapatan Jenis mangrove diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

Ki = Kerapatan mangrove jenis-i (ind/ ha) ∑ni = Jumlah individu jenis-i (ind)

A = Luasan Areal pengambilan contoh (ha)

Distribusi Individu Kepiting Bakau Parameter Kualitas Air Antar Stasiun dan Antar Bulan

Distribusi individu kepiting bakau dan Parameter habitat diuji dengan menggunakan analisis varians (anova) atau uji F dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan bantuan SPSS versi 12. Selanjutnya dilakukan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk membandingkan nilai beda absolut dari dua perlakuan lebih besar dari nilai BNT maka dapat disimpulkan bahwa kedua perlakuan itu berbeda nyata pada taraf nyata α

Distribusi Ukuran Kepiting Bakau Masing-masing Jenis Antar Umur Bulan

Distribusi Jumlah rata-rata untuk jenis kepiting bakau (Scylla serrata, S.transquaberica, dan S.olivacea) antar umur bulan dilakukan uji analisis varian (anova) atau uji F dalam RAK dengan bantuan aplikasi SPSS versi 12. Untuk melihat perbedaan penyebarannya dilakukan uji lanjut BNT.

Hubungan Sebaran Jenis Kepiting Bakau Masing-Masing Kelas Ukuran Antar Bulan Pada Setiap Stasiun

Sebaran kelas ukuran masing-masing jenis kepiting bakau antar stasiun dan antar bulan dilakukan analisis faktorial koresponden (correspondence analysis). Berdasarkan hasil penelitian Nazar (2002) bahwa sebaran ukuran kepiting bakau di wilayah hutan mangrove Segara Anakan, dianalisis menggunakan faktorial koresponden pada ketiga jenis kepiting bakau, yaitu yang terbagi atas 3 kelompok kelas ukuran, yaitu: S. serrata berukuran kecil < 70 mm (SSk), ukuran sedang antara 70 – 100 mm (SSs), ukuran besar >100 mm

(SSb). S. tranquebarica berukuran kecil <60 mm (STk), ukuran sedang antara

60 – 80 mm (STs), ukuran besar > 80 mm (STb). S. olivacea berukuran kecil <

55 mm (SOk), ukuran sedang antara 55 – 65 mm (SOs), dan ukuran besar > 65

mm (SOb). A

i i n K

Gambar

Gambar 2.  Lokasi Penelitian (Sumber : BKSDA Wilayah V Jawa Barat)
Tabel 1.Alat yang digunakan dalam penelitian dan kegunaannya.

Referensi

Dokumen terkait

Menangkap makna terkait fungsi sosial dan unsur kebahasaan secara kontekstual lirik lagu terkait kehidupan remaja

Pemberian pupuk organik cair urin sapi untuk pertumbuhan tanaman bayam (Amaranthus tricolor L) sebanyak 10% dan setara dengan urea.. Saran- saran yang dapat digunakan sebagai

Guru meminta siswa menjelaskan alasan alat tubuh yang tersisa dapat dijadikan sebagai petunjuk terjadinya evolusi.. Kegiatan Akhir (waktu:

Guru memberi penjelasan pada pertemuan berikutnya, tiap kelompok wajib mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain memberi tanggapan atas presentasi yang disajikan..

Penyajian data dilakukan dengan mendeskripsikan hasil temuan dalam wawancara, melampirkan foto-foto hasil observasi sebagai bukti dari hasil temuan di lokasi penelitian,

Kapal sebagai mode transportasi bagi rakyat Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau, menjadikan kapal sebagai pilihan yang wajib untuk bepergian guna memenuhi kebutuhan sehari-hari

Pada kesempatan yang berbahagia ini pula kami selaku Pengurus Pemuda Peduli Dhuafa Gresik mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh

Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) adalah yang bertanggungjawab langsung dibawah Presiden. POLRI selalu berkaitan dengan pemerintahan karena salah satu fungsi